Anda di halaman 1dari 28

JOURNAL READING

Theory of Mind Deficit versus Faulty


Procedural Memory in
Autism Spectrum Disorders
Oleh:
Citranggana Prajnya Dewi (H1A212014)

Pembimbing:
dr. Dian W. Vietara, Sp.KJ (K)
Gangguan autistik ditandai oleh adanya gangguan pada interaksi sosial
timbal balik, keterampilan komunikasi yang terlambat dan menyimpang,
dan adanya suatu perilaku atau aktivitas yang berulang dan terbatas.

Gangguan autistik diyakini terjadi pada sekitar 5 kasus per 10.000 anak
(0,05 persen). Berdasarkan definisi, onset gangguan autistik adalah
sebelum usia tiga tahun, meskipun pada beberapa kasus gangguan ini
tidak dikenali hingga anak berusia lebih tua.

Pada gangguan autistik, adanya gangguan pada “teori pikiran” atau


theory of mind membuat individu tersebut tidak dapat
menginterpretasikan perilaku sosial orang lain dan tidak menghasilkan
suatu timbal-balik sosial.
Identitas Jurnal

 Judul : Theory of Mind Deficit versus Faulty Procedural


Memory in Autism Spectrum Disorders
 Penulis : Miguel Angel Romero-Munguia
 Penerbit : Hindawi Publishing Corporation; Autism Research
and Treatment
 Tahun terbit : 2013
 Volume : 2013
 Halaman : 9 halaman
 Jenis Jurnal : Review Article
Tujuan Penulisan

 Memahami gangguan autistik dan theory of mind pada anak


dan remaja
 Memahami faktor-faktor yang berperan dalam gangguan
autistik
 Memahami intervensi theory of mind pada anak dan remaja
serta mengetahui contoh penerapan intervensi tersebut
Abstrak

 Individu dengan autism spectrum disorders (ASD) memiliki


gangguan dalam interaksi sosial, kapasitas komunikasi dan
fleksibilitas perilaku. Tiga teori kognitif utama (defisit theory of
mind, koheren sentral yang lemah, dan disfungsi eksekutif)
diduga dapat menjelaskan gangguan tersebut.
 Selain defisit theory of mind, teori ketidakseimbangan mnesik
dan gangguan memori prosedural yang terjadi pada tahap
perkembangan awal diduga merupakan teori lain dalam
menentukan gangguan pada ASD.
 Tulisan ini membahas efek dari gangguan memori prosedural
yang menyebabkan defisit pada beberapa kemampuan kognitif,
sehingga menyebabkan performa yang kurang baik pada
kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan theory of mind.
Pendahuluan
Defisit theory of mind menjadi dasar adanya gangguan pada interaksi sosial dan
kapasitas komunikasi; teori koheren sentral yang lemah menjelaskan adanya
kemampuan luar biasa pada beberapa individu autistik dan teori disfungsi
eksekutif menjelaskan adanya gangguan pada fleksibilitas perilaku.

Teori emphatizing-systemizing pada ASD: perilaku analisis atau membangun hal


secara sistematis secara berlebihan, namun kurang dari segi empati. Empati
dalam hal ini didefinisikan sebagai keadaan untuk menyimpulkan suatu keadaan
mental (theory of mind) dan memberikan respon emosional yang sesuai terhadap
hal tersebut.

Teori ketidakseimbangan mnesik: pada ASD terdapat memori prosedural yang


salah dengan adanya memori deklaratif yang tersimpan. Memori prosedural
didefinisikan sebagai alur perilaku pada tingkat tidak sadar, sedangkan memori
deklaratif didefinisikan sebagai informasi yang merupakan subjek tehadap
refleksi verbal.
Uji False Belief

 Kemampuan untuk mengenali keadaan mental (pikiran dan


perasaan) merupakan salah satu dari dua bagian penting
dari empati  theory of mind.

 Defisit theory of mind pada gangguan autistik awalnya diuji


melalui uji false of belief, dimana anak-anak diminta untuk
menonton sebuah cerita tentang dua boneka bernama Sally
dan Anne.
Peneliti menyimpulkan
bahwa defisit theory of
mind tidak bergantung
pada kemampuan
intelektual, berdasarkan
Penelitian ini data hasil pengukuran
menunjukkan bahwa dengan British Picture
Anak dikatakan lulus 85% anak dengan Vocabulary Test dimana
ujian tersebut jika tumbuh kembang anak dengan gangguan
menjawab Sally akan normal mampu lulus uji autistik memiliki rerata
mencari di keranjang tersebut, sedangkan verbal mental age (VMA)
(false belief). 80% anak dengan 5 tahun 5 bulan,
gangguan autistik gagal sedangkan anak tanpa
dalam uji ini. gangguan tumbuh
kembang dalam
kelompok kontrol
memiliki rerata umur
kronologis 4 tahun 5
bulan
Bahasa sebagai Indeks Umur
Mental
 Teori deklaratif/prosedural berasumsi bahwa tata bahasa
disimpan dalam memori prosedural, sedangkan kosa kata
disimpan dalam memori deklaratif.

 Teori ketidakseimbangan mnesik  individu dengan


gangguan autistik dapat mengulang banyak kata, ucapan,
dan kalimat dari memori individu masing-masing, tanpa
mampu menciptakan ekspresi yang sesuai dengan
perkataan tersebut (echolalia)  memori deklaratif meliputi
informasi yang diingat kembali dalam keadaan sadar,
sedangkan memori prosedural meliputi alur perilaku dalam
keadaan alam bawah sadar.
Cont.

 Defisit lain pada komunikasi juga dapat disebabkan oleh


kurangnya aplikasi simultan dari pengetahuan prosedural
dan tidak hanya gangguan memori prosedural.

 Jika terdapat gangguan bahasa pada individu dengan ASD


meskipun memiliki beberapa kosa kata yang diingat dengan
baik, maka beberapa perintah yang melibatkan theory of
mind tidak dapat dilakukan dengan baik karena kesulitan
dalam berbahasa.
Perkembangan Tipikal versus
Perkembangan pada ASD
Cont.
 Peserta dinyatakan lulus dalam uji tersebut jika menjawab permen (false
belief)  anak berusia 3 tahun tidak mampu dalam menetapkan nilai
kebenaran yang bertentangan meskipun memiliki kemampuan untuk
menciptakan theory of mind.
 Defisit yang sama ditemukan pada individu dengan gangguan autistik
(usia kronologis 13.6 tahun, LMA 6.2 tahun) dan diinterpretasikan sebagai
kesulitan dalam menciptakan suatu theory of mind.
 Kesulitan dalam melakukan uji false belief dapat disebabkan oleh
gangguan penalaran kondisi kontrafaktual
 Penalaran terhadap suatu kondisi kontrafaktual dan dapat menarik
kesimpulan dari kondisi tersebut merupakan salah satu pemikiran yang
disebut dengan intervensi analogi, yang berhubungan dengan memori
prosedural karena dapat dilakukan tanpa kesadaran seseorang saat
melakukan tindakan tersebut.
 Pada individu dengan ASD, diduga bahwa kemampuan intervensi
analogis dapat mempengaruhi hasil kegiatan dan uji false belief.
Disfungsi Eksekutif

Kemampuan berbahasa
diasosiasikan dengan performa
Individu dengan ASD dibagi
keseluruhan pada uji false belief.
menjadi dua kelompok: individu Kelompok pertama mendapatkan
Pada salah satu studi terhadap
ASD dengan atau tanpa gangguan nilai VIQ lebih rendah (rerata =
disfungsi eksekutif pada ASD,
berbahasa autistik, dengan usia 75,69) dibandingkan dengan
Verbal Intellectual Quotient (VIQ)
kronologis 11.79 versus 12.38 kelompok kedua (rerata = 92,30).
didapatkan berdasarkan performa
tahun
pada tiga bidang (informasi,
persamaan, dan kosa kata)
Cont.
 Defisit yang signifikan terhadap kegiatan theory of mind hanya
didapatkan pada kelompok ASD dengan VIQ paling rendah jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol, dan pada kelompok ASD
dengan VIQ paling tinggi tidak didapatkan defisit tersebut.
 Namun, kedua kelompok memiliki defisit yang lebih signifikan
pada uji fungsi eksekutif (Tower of Hanoi; Wisconsin Card Sorting
Test) dibandingkan dengan kelompok kontrol.
 Pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa disfungsi eksekutif
dan defisit theory of mind tidak saling mempengaruhi, namun
keduanya dapat memiliki faktor penyebab yang serupa.
Uji Theory of Mind dan False
Belief
 Beberapa individu dengan ASD mampu melakukan dan melewati uji
false belief, sehingga saat ini para peneliti telah menciptakan beberapa
tes yang lebih sulit seperti uji strange stories, test of faux pas detection,
eyes task, dan Cambridge mindreading face-voice battery untuk
menunjukkan defisit theory of mind pada subjek dengan ASD.
a. Strange Stories Test
 Terdiri atas cerita dimana karakter akan mengatakan beberapa hal
yang belum tentu benar, dan peserta diminta untuk memberi
jawaban terhadap pertanyaan seperti “Apakah benar, yang dikatakan
oleh si X? Mengapa X mengatakan hal tersebut?”
 Hasil studi menunjukkan bahwa kelompok ASD yang melalui uji false
belief (usia kronologis 17,7 tahun: VIQ 95,8) memiliki pembenaran
mental yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok
kontrol.
 Strange stories membutuhkan aktivasi dari rantai perilaku emosional
seperti pada rantai perilaku (mirror neurons)
 Strange stories membuat individu normal untuk berusaha
memahami perasaan dari karakter utama tersebut dengan
mengaktivasi rantai perilaku emosional  anak dengan ASD tidak
mengerti maksud dari perilaku orang lain karena rantai perilaku tidak
teraktivasi
b. Uji Faux Pas Detection

 Uji lain terkait theory of mind adalah uji faux pas detection, yang
mengevaluasi kemampuan individu dalam mengenali ketika pembicara
mengatakan sesuatu yang belum tentu ingin didengar oleh sang
pendengar.
 Hasil dari uji ini melaporkan bahwa anak dengan ASD (usia kronolgis
144 bulan, LMA 159,0 bulan) tidak menujukkan hasil yang baik pada tes
ini.
 Penemuan ini dapat disebabkan oleh kegagalan rantai perilaku
emosional.
c. Eye Task
 Eye task (uji membaca pikiran melalui mata)
terdiri dari menunjukkan beberapa foto regio
mata kepada peserta, dan peserta diminta
untuk menentukkan perasaan atau status
mental individu berdasarkan informasi yang
didapatkan pada foto mata tersebut.
 Berdasarkan studi yang dilakukan, anak
dengan gangguan autistik (usia kronologis
83.7 bulan, IQ 82.2) memiliki kesulitan
dalam mengidentifikasi emosi seseorang
melalui foto mata saja, dan pemahaman
yang lebih baik ketika diminta untuk
mengidentifikasi empat emosi dasar melalui
foto regio wajah bagian bawah.
d. Cambridge Mindreading Face-Voice

Cambridge
mindreading face- Beberapa uji yang
voice merupakan menggunakan
Seperti yang telah
suatu media yang cuplikan film, seperti
diperkirakan
menggunakan uji situasi canggung,
sebelumnya, kelompok
beberapa konsep film untuk menilai
individu dengan ASD
emosi melalui video kognisi sosial, dan uji
menunjukkan hasil
atau audio agar “reading the mind in
yang lebih rendah
memicu peserta untuk film” telah diciptakan
pada kegiatan uji
menunjukkan untuk menilai
menggunakan film
kemampuan mereka kemampuan theory of
dibandingkan dengan
dalam mengenali mind pada anak dan
kelompok kontrol
emosi atau perasaan dewasa dengan ASD
yang tergambar dalam pada kegiatan sosial
wajah serta suara.
Theory of mind dapat dibagi menjadi afektif (intervensi emosi) dan theory of
mind kognitif (intervensi kepercayaan); hal tersebut harus terintegrasi
dengan empati (keinginan untuk menciptakan theory of mind) dan
penularan emosional untuk menciptakan theory of mind yang afektif.

Theory of mind yang afektif dapat berdasarkan pengelompokkan perseptual


dan rantai perilaku emosional, sedangkan theory of mind kognitif dapat
didasari oleh intervensi analogi.

Pada teori ketidakseimbangan mnesik, empati dapat menjadi dorongan


untuk menunjukkan pengetahuan prosedural; perilaku spontanitas dapat
menunjukkan pengetahuan prosedural yang lebih baik
Penelitian Pendukung

 Bergeer et al (2015) melakukan sebuah penelitian intervensi theory of


mind mini, yang merupakan suatu intervensi manual pada 97 anak
dengan ASD berusia 7-12 tahun yang dilakukan setiap minggu pada
kelompok yang terdiri atas lima hingga enam anak, dan berada dalam
jarak usia 3 tahun pada masing-masing kelompok.

 Intervensi ini terdiri atas delapan sesi yang berdurasi masing-masing


sekitar satu jam. Secara umum, semua sesi pertemuan meliputi struktur
yang sama; diskusi mengenai tugas yang diberikan untuk dikerjakan di
rumah, permainan dan latihan terkait tema yang disiapkan pada sesi
tersebut, anak-anak menceritakan kembali sesi tersebut kepada orang
tua dan penjelasan mengenai tugas untuk dikerjakan di rumah
berikutnya.
Sesi 1: Peserta akan belajar untuk
Sesi 2: peserta diajarkan untuk
melihat situasi dan orang disekitarnya
mengetahui hal-hal yang dapat disukai
dan cara mngadaptasi perilaku mereka
atau tidak disukai dapat berbeda antar
terhadap situasi tersebut. Pada sesi ini
individu. Peserta diminta untuk
dilakukan dua permainan yang
menentukan kegiatan untuk kelompok
memberikan peserta untuk berlatih
tersebut, membahas cerita pendek,
melihat sesama secara seksama.
dan belajar untuk melihat objek dari
Tugas yang diberikan untuk di rumah
perspektif yang berbeda. Tugas rumah
meliputi menjawab pertanyaan
meliputi menggambar objek yang
mengenai nama peserta dan
sama dengan sudut yang berbeda.
pembimbing sesi.

Sesi 4: mengajarkan perasaan Sesi 3: Pada sesi ini dibacakan


senang, sedih, marah dan cemas yang sebuah cerita dan peserta akan
disertai contoh ekspresi wajah, ditanya mengenai niat, pemikirian,
gerakan tubuh, dan contoh pada perasaan dan apakah mereka dapat
kehidupan sehari-hari. Suatu kolase mempridiksi perilaku selanjutnya.
dibuat berdasarkan empat perasaan Tugas rumah meliputi membaca
tersebut dan peserta diminta untuk
cerita bersama orang tua dan
melakukan kegiatan role-play. Tugas
rumah meliputi mengobservasi emosi menjawab pertanyaan mengenai
tersebut di lingkungan masing-masing. niat, pemikiran, dan perasaan.
Sesi 5: mempelajari emosi yang lebih
kompleks, seperti rasa bersalah, kecewa Sesi 6: peserta mengikuti sebuah
dan malu. Setelah menceritakan permainan, yang memfokuskan kepada
pengalaman pribadi masing-masing, perbedaan kenyataan dan pura-pura, dan
peserta akan bermain sebuah board mengetahui perspektif dari orang lain.
game, dan peserta akan menjawab Permainan direkam dan ditunjukkan
pertanyaan mengenai emosi. Pada tugas kepada anak dan orang tua masing-
rumah, peserta distimulasi untuk masing. Pada tugas rumah, anak diminta
mengobservasi emosi yang lebih untuk melakukan wawancara pada orang
kompleks pada lingkungan masing- tua mengenai minat
masing.

Sesi 7: dibacakan suatu cerita mengenai


seorang tokoh utama yang perlu
Sesi 8: peserta diminta untuk
menempatkan diri pada posisi orang lain
menampilkan sebuah drama tentang sesi
(first order belief theory of mind). Pada
jalan-jalan sebuah keluarga ke kebun
tugas rumah, peserta diminta untuk
binatang
menjawab pertanyaan second-order
belief mengenai cerita tersebut
Cont.

 Hasil intervensi pada penelitian tersebut meliputi adanya efek


positif pada pemahaman theory of mind, meningkatkan
pemahaman konsep sosial dan perilaku terkait theory of mind
pada anak dengan ASD namun efek minimal ditemukan pada
kemampuan anak dalam penalaran emosi atau masalah theory
of mind yang lebih kompleks.
 Penemuan yang konsisten dari penelitian sebelumnya
menyatakan bahwa pada anak dengan ASD menunjukkan
adanya perbaikan pada beberapa bidang spesifik yang diajarkan,
namun gagal ketika menerapkan pada situasi lain secara umum.
Kesimpulan

 Gangguan pada memori prosedural menyebabkan defisit pada beberapa


kemampuan kognitif seperti spontanitas, intervensi analogis, rantai
perilaku emosional, dan pengelompokkan perseptual
 Seluruh defisit tersebut dapat menilai defisit theory of mind yang diukur
melalui uji false belief (intervensi analogis), strange stories test dan uji
faux pas detection (intervensi analogis, rantai perilaku emosional), the
eyes task, dan uji Cambridge mindreading face-voice (pengelompokkan
perseptual)
 Meskipun beberapa penelitian lain penting untuk dilakukan agar
memastikan hipotesis pada gangguan memori prosedural, sulit untuk
dapat menjelaskan beberapa karakterisitik pada individu dengan ASD
seperti desakan pada suatu persamaan, perilaku idiosinkratik, terpaku
pada ketertarikan tertentu, reaksi abnormal terhadap stimulus sensoris,
dan beberapa kemampuan yang terisolasi lainnya
Daftar Pustaka

 Munguia MAR. 2013. Theory of Mind Deficit versus Faulty Procedural Memory in
Autism Spectrum Disorders. Autism Research and Treatment. Vol. 2013. [online].
Available from: www.hindawi.com [Accessed on: 5 Oktober 2017]
 Sadock BJ dan Sadock VA. 2010. Gangguan Perkembangan Pervasif dalam Kaplan
& Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
 Begeer S, et al. 2015. Effects and Moderators of a Short Theory of Mind
Intervention for Children with Autism Spectrum Disorder: A Randomized
Controlled Trial. Autism Research. Vol. 8. [online]. Available from: www.ara.vu.nl
[Accessed on: 4 Oktober 2017]
 Hoddenbach E, et al. 2012. Individual differences in the efficacy of a short theory
of mind intervention for children with autism spectrum disorder: a randomized
controlled trial. BioMed Central. Vol. 13 (206). [online]. Available from:
www.ncbi.nlm.nih.gov [Accessed on: 4 Oktober 2017]
Terima Kasih