Anda di halaman 1dari 75

LBM 5 KGD

CALLISTA AZARIA P
30101507409
SOMNOLEN DAN TAMPAK PUCAT

Somnolen :
Kesadaran memerlukan interaksi yang terus-menerus dan efektif
antara hemisfer otak dan formasio retikularis di batang otak.
Kesadaran dapat digambarkan sebagai kondisi awas-waspada
dalam kesiagaan yang terus menerus terhadap keadaan
lingkungan atau rentetan pikiran kita. Hal ini berarti bahwa
seseorang menyadari seluruh asupan dari panca indera dan
mampu bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan
baik dari luar maupun dari dalam tubuh.

Gangguan kesadaran disebabkan oleh berbagai faktor etiologi,


baik yang bersifat intrakranial maupun ekstrakranial / sistemik.
Penjelasan singkat tentang faktor etiologi gangguan kesadaran
adalah sebagai berikut:
a. Gangguan sirkulasi darah di otak (serebrum, serebellum, atau batang
otak)
- Perdarahan, trombosis maupun emboli
- Mengingat insidensi stroke cukup tinggi maka kecurigaan terhadap stroke
pada setiap kejadian gangguan kesadaran perlu digarisbawahi.

b. Infeksi: ensefalomeningitis (meningitis, ensefalitis,


serebritis/abses otak)
- Mengingat infeksi (bakteri, virus, jamur) merupakan penyakit yang
sering dijumpai di Indonesia maka pada setiap gangguan kesadaran
yang disertai suhu tubuh meninggi perlu dicurigai adanya
ensefalomeningitis.
c. Trauma kepala
- Trauma kepala paling sering disebabkan oleh kecelakaan lalu-lintas.
d. Epilepsi
- Gangguan kesadaran terjadi pada kasus epilepsi umum dan status
epileptikus
e. Gangguan metabolisme
- Di Indonesia, penyakit hepar, gagal ginjal, dan diabetes melitus
sering dijumpai. d. Neoplasma
- Neoplasma otak, baik primer maupun metastatik, sering di jumpai
di Indonesia.
- Neoplasma lebih sering dijumpai pada golongan usia dewasa dan
lanjut.
- Kesadaran menurun umumnya timbul berangsur-angsur namun
progresif/ tidak akut.
f. Gangguan elektrolit dan endokrin
- Gangguan ini sering kali tidak menunjukkan “identitas”nya
secara jelas; dengan demikian memerlukan perhatian yang
khusus agar tidak terlupakan dalam setiap pencarian
penyebab gangguan kesadaran.
g. Intoksikasi
- Intoksikasi dapat disebabkan oleh obat, racun (percobaan bunuh
diri), makanan tertentu dan bahan kimia lainnya.
Pucat :
Jika pucat baru saja terjadi (akut) pikirkan kemungkinan terjadinya
anemis aplastik, leukemiaakut, atau anemia hemolitik akut. Namun
jika pucatnya sudah berlangsung lama dapatdipikirkan kemungkinan
penyakit anemia defisiensi, thalassemia, anemia hemolitik
autoimun(AIHA),bahkan mungkin malaria.

Etio :
• Kulit putih yang normal
• Kurang terdedah kepada cahaya matahari (lebih baik tampak
pucat daripada berjemur di bawah sinar matahari)
• Anemia (kehilangan darah, gizi buruk, penyakit kronis)
• Syok
• Radang dingin
• Penyakit kronik termasuklah infeksi Chronic diseases including
infection dan kanker
• Benda tajam seperti pisau atau peluru menembus paru-
parudapat menyayat jaringan paru-paru atau
arterimenyebabkan darah berkumpul di ruang
pleuramengakibatkan pecahnya membran serosa
yang melapisi atau menutupi thorax dan paru-
parupecahnya membran ini memungkinkan
masuknya darah ke dalam rongga pleurasetiap sisi
toraks dapat menahan 30-40% dari volume darah
seseoranghipovolemia (kehilangan darah)tidak
adekuatnya pengangkutan oksigen ke
jaringanhipokasia jaringantermasuk otak
(gangguan perfusi serebral)penurunan kesadaran.

Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. 1996. Jakarta:EGC.


• Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan
oleh trauma thorax. merupakan akibat dari oleh karena
pulmonary ventilation/perfusion mismatch (contoh
kontusio, hematoma, kolaps alveolus)dan perubahan
dalam tekanan intrathorax (contoh : tension
pneumothorax, pneumothorax terbuka). Hiperkarbia
lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi
akibat perubahan tekanan intrathorax atau penurunan
tingkat kesadaran. Asidosis metabolik disebabkan oleh
hipoperfusi dari jaringan (syok).

Syamsu Hidayat,R Dan Wim De Jong, Buku Ajar Bedah,


Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta,tahun 1995.
AKRAL DINGIN
Pada keadaan darurat atau pada kondisi gawat seperti syok yang
dialami pasien, tubuhakan mengkompensasikan darah fokus pada
organ-organ vital, sehingga pasokan darah di perifer berkurang.
Darah yang membawa panas tubuh juga mengakibatkan bagian
ekstremitas jadi dingin karena pembuluh darah akan menyempit
dan akibatnya muka menjadi pucat.
Luka pada rongga thorak dan isinya dapat membatasi kemampuan
jantung untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk
pertukaran udara dan oksigen darah. Bahaya utama berhubungan
dengan luka dada biasanya berupa perdarahan dalam dan tusukan
terhadap organ.

Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan oleh trauma


thorax. Hipoksia jaringan : akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan
oksigen kejaringan oleh karena hipovolemia ( kehilangan darah ),
pulmonary ventilation( contoh kontusio, hematoma, kolaps alveolus )
dan perubahan dalam tekanan intra tthorax ( contoh : tension
pneumothorax, pneumothorax terbuka ).

Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi


akibat perubahan tekanan intra thorax atau penurunan tingkat
kesadaran. Asidosis metabolik disebabkan oleh hipoperfusi dari
jaringan ( syok ).
Edema regio nasal

peningkatan tekanan hidrosatik :


tekanan hidrostatik merupakan tekanan cairan yang mengalir di
dalam pembuluh darah. Peningkatan tekanan hidrostatik seperti
pada gagal jantung dan penyakit liver akan menyebabkan adanya
hambatan terhadap pada cairan yang mengalir di dalam pembuluh
darah, sehingga cairan cenderung untuk berpindah ke ruang
interstitial.

obstruksi limfatik :
hambatan pada aliran cairan limfa seperti pada tumor ganas
stadium lanjut, juga dapat menyebabkan cairan cenderung
berpindah ke ruang interstitial
penurunan tekanan onkotik plasma :
tekanan onkotik merupakan tekanan yang mempertahankan
cairan tetap di pembuluh darah, tekanan ini dipengaruhi oleh
albumin. Penurunan tekanan onkotik akibat gangguan
pembentukan albumin seperti pada penyakit liver atau kebocoran
albumin seperti pada gagal ginjal akan menyebabkan cairan
cenderung untuk berpindah ke ruang interstitial.

peradangan :
pada peradangan baik akut maupun kronis dapat menyebabkan
pelebaran pada celah antar sel sehingga cairan akan lebih banyak
terkumpul di ruang interstitial
Nyeri Regio Maxilla
Fraktur Lefort I (Guerin’s/ Transversal)
• Merupakan Jenis fraktur maksilofasial yang sering terjadi
• Fraktur le fort I meliputi fraktur bagian horizontal antara maxilla
dan palatum/ arcus alveolar kompleks, menyebabkan
terpisahnya prosesus alveolaris dan palatum durum
• Garis fraktur berjalan ke belakang melalui lamina pterigoid
• Fraktur bisa unilatelar atau bilateral
Fraktur Lefort II (Faktur Piramidal)

• Berjalan melalui tulang hidung dan diteruskan di tulang


lakrimalis, dasar orbita, pinggir infraorbita, dan menyeberang
ke bagian atas dari sinus maksila juga ke arah lamina pterigoid
sampai ke arah fossa pterigopalatina.
• Tanda : edema wajah, perdarahan subkojungtiva, maloklusi,
keluar cairan cerebrospinal.
Fraktur Lefort III

• Garis fraktur melalui sutura nasofrontal diteruskan sepanjang


ethmoid junction melalui fissure orbitalis superior melintang
ke arah dinding lateral ke orbita, sutura zigomatico-frontal dan
sutura temporo zigomaticum.
Mulut Tidak Bisa Menutup

Salah satu tanda dari fraktur mandibula


Manifestasi klinis perdarahan saluran cerna bawah :

Hematokezia : Darah segar yang keluar melalui anus dan


merupakan manifestasi tersering dari perdarahan saluran cerna
bawah. Menunjukan perdarahan kolon sebelah kiri

Melena : Tinja yang berwarna hitam dengan bau yang khas.


Melena timbul bilamana hemoglobin dikonversi menjadi
hematin atau hematokrom o/ bakteri setelah 14 jam.
Menunjukan perdarahan di saluran cerna bag. Atas usus halus
atau kolon sebelah kanandengan perlambatan mobilitas.

Darah samar : Ada perdarahan ringan namun tidak sampai


merubah warna tinja.
Nyeri tekan
Untuk teknik palpasi identifikasi kelembutan, kekakuan dan spasme
hal ini dimungkinkan diakibatkan karena adanya massa atau akumulasi
darah ataupun cairan. biasanya ditemukan defans muscular, nyeri tekan,
nyeri lepas.

Bising usus melemah


Untuk auskultasi selain suara bising usus yang diperiksa di ke
empat kuadran dimana adanya ekstravasasi darah menyebabkan
hilangnya bunyi bising usus

Ampula
Rectal tusi (colok dubur) dilakukan pada obstrusi usus dengan disertai
paralysis akan ditemukan ampula melebar. Pada obstruksi kolaps karena
tidak terdapat gas di usus besar.
Gejala/tanda dari trauma abdomen sangat tergantung dari organ
mana yang terkena, bila yang terkena organ-organ solid (hati dan lien)
maka akan tampak gejala perdarahan secara umum seperti pucat,
anemis bahkan sampai dengan tanda-tanda syok hemoragic.

Gejala perdarahan di intra peritoneal akan ditemukan klien mengeluh


nyeri dari mulai nyeri ringan sampai dengan nyeri hebat, nyeri tekan dan
kadang nyeri lepas, defans muskular (kaku otot), bising usus menurun,
dan pada klien yang kurus akan tampak perut membesar, dari hasil
perkusi ditemukan bunyi pekak.
ICS 10 ~ organ yang terkena
DD
Open Pneumothorax

Luka mengisap /
sucking chest
wound, > 2/3
diameter trakhea
Open Pneumothorax
Open Pneumothorax

Water Sealed
Drainage
Tension Pneumothorax
• Mekanisme ventil : udara masuk ke rongga
pleura ttp tidak dpt keluar
• Paru kuncup, paru sebelahnya tertekan
• Mediastinum terdorong : jantung dan
pembuluh darah besar terdorong; trakhea
terdorong  sesak, shock, trakhea terdorong
ke sisi sehat, pelebaran vena leher
• Perlu penanganan segera  keluarkan udara
dari rongga pleura
Tension Pneumothorax
Tension Pneumothorax

Needle thoracocentesis
Sela iga 2 midclavicula
Tension Pneumothorax
Tension Pneumothorax
Tension Pneumothorax
Massive Hemothorax

• Terjadi perdarahan
hebat yg
menyebabkan
problem B (reathing)
dan problem C
(irculation)
• Pada fase pra-RS tidak
banyak yg dpt
dilakukan  infus
• Pisau jangan dicabut
Hemothorax Masif
• Tulang iga patah lebih dari 2 tempat pada 2 iga atau lebih
• Ada segmen dada yg tertinggal pd pernapasan
• Pd ekspirasi menonjol dan pd inspirasi masuk kedalam (paradoksal)
• Disertai kontusio paru
• Luka tajam
• Darah terkumpul pd rongga perikardium 
kontraksi jantung terganggu
• Menyebabkan syok
• Vena leher melebar dan bunyi jantung
terdengar jauh
• Dilakukan perikardiosentesis
ANATOMI ABDOMEN
ILEUS
ILEUS PARALITIK VS ILEUS
OBSTRUKTIF
Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan
bebas ?
Jika ada obstruksi maka lakukan :
• Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
• Suction / hisap (jika alat tersedia)
• Guedel airway / nasopharyngeal airway
• Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral
Breathing
Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas.
Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan :
• Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)
• Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada
• Pernafasan buatan
Berikan oksigen jika ada
.Penilaian ulang ABC harus dilakukan lagi jika kondisi pasien tidak stabil
Circulation
Menilai sirkulasi / peredaran darah.
Nilai:
-Nadi
-Akral dingin
-Capillary refill
-Perdarahan Internal (thorax, abdomen, pelvis, tulang panjang)
-Perdarahan Eksternal
Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan :
• Hentikan perdarahan eksternal
• Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)
• Berikan infus cairan
Disability
Menilai kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons
terhadap nyeri atau
sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur Glasgow Coma
Scale
AWAKE = A
RESPONS BICARA (verbal) = V
RESPONS NYERI = P
TAK ADA RESPONS = U
Cara ini cukup jelas dan cepat.
Exposure
• Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua
cedera yang mengancam nyawa.
• Log rollmelihat punggung
• Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang, maka
imobilisasi in-line harus dikerjakan.
TRAUMA
BRAIN
INJURY
MANAGEME
NT
pemeriksaan penunjang

• Trauma abdomen  lihat hemodinamiknya, stabil?


• Stabil  boleh dilakukan pemeriksaan apa saja (CT-
scan)
• Tdk stabil  USG FAST (Focused Assessment
Sonography in Trauma)
• Untuk menentukan adanya trauma intraabdomen,
diletakan pada :
• Pericardiac, perihepatic, perisplenic, pelvic  jika
didapatkan lesi anecoic perdarahan intraabdomen
ABDOMINAL AND PELVIC TRAUMA (MANAGEMENT)
KELAS I Kelas II Kelas III Kelas IV
Kehilangan Darah (mL) Sampai 750 750-1500 1500-2000 >2000

Kehilangan Darah (% Sampai 15% 15%-30% 30%-40% >40%


volume darah)

Denyut Nadi <100 >100 >120 >140


Tekanan Darah Normal Normal Menurun Menurun
Tekanan nadi Normal atau Menurun Menurun Menurun
Naik
(mm Hg)
Frekuensi Pernafasan 14-20 20-30 30-40 >35

Produksi Urin >30 20-30 5-15 Tidak berarti

(Ml/jam)
CNS/ Status Sedikit cemas Agak cemas Cemas, Bingung,lesu

Mental bingung (lethargic)


Penggantian Cairan Kristaloid Kristaloid Kristaloid dan Kristaloid dan
darah darah
(Hukum 3:1)
5 indikasi umum
transfusi darah:
• Kehilangan darah akut, >25% total volume darah hilang dan
perdarahan masih terus terjadi.
• Anemia berat
• Syok septik (jika cairan IV tidak mampu mengatasi gangguan
sirkulasi darah dan sebagai tambahan dari pemberian
antibiotik)
• Memberikan plasma dan trombosit sebagai tambahan faktor
pembekuan, karena komponen darah spesifik yang lain tidak
ada
• Transfusi tukar pada neonatus dengan ikterus berat.
Rumus kebutuhan Whole blood
6 x (Hb normal-Hb pasien) x BB
NILAI NORMAL HB
Komplikasi