Anda di halaman 1dari 12

Distribusi Perbekalan Farmasi

KELOMPOK II :
1. ANGGI ERINA
2. DELLA PUTRI
3. FEBRY DWI
4. ILHAM FATHUR
5. KHUSNUL KHOTIMAH
6. MUTIYA CHOLISOH
A. Definisi Distribusi Perbekalan Farmasi
1. definisi distribusi
Arti kata distribusi sama dengan penyaluran. Menurut wikipedia, secara umum distribusi
merupakan suatu aspek yang penting. Distribusi jug diartikan sebagai suatu kegiatan pemasaran
yang berguna untuk melancarkan penyaluran barang dari seorang produsen kepada konsumen.

2. definisi saluran distribusi


Definisi saluran distribusi menurut David A. Ravzon
◦ Saluran merupakan suatu jalur tang dilalui arus barang dari produsen ke perantara akhirnya sampai
pemakai.
3. Perbekalan farmasi
Yang dimaksud perbekalan farmasi menurut undang-undang kesehatan adalah perbekalan farmasi yang meliputi :
a. Obat yang terdiri dari :
1) Obat bebas
2) Obat bebas terbatas
3) Obat wajib apotek (OWA)
4) Obat keras
5) Obat narkotika
6) Obat psikotropika
b. Bahan Baku Obat
c. Obat Tradisional dan Bahan Obat Tradisional
d. Alat-Alat Kesehatan
e. Kometika
B. SALURAN DISTRIBUSI PERBEKALAN
FARMASI
1.saluran Distribusi Obat Bebas
Secara umum bentuk saluran distribusi saluran obat bebas,yaitu :
◦ PRODUSEN – AGEN – PEDAGANG BESAR – PENGECER – KONSUMEN
2. Saluran Distribusi Obat Bebas Terbatas
Secara umum bentuk saluran distribusi obat bebas terbatas,yaitu :
◦ PRODUSEN – AGEN – PEDAGANG BESAR – PENGECER – KONSUMEN
3. Saluran Distribusi Obat Keras
◦ PRODUSEN – AGEN – PEDAGANG BESAR – PENGECER – KONSUMEN
Secara khusus bentuk saluran distribusi obat keras yaitu
◦ INDUSTRI FARMASI – PEDAGANG FARMASI SEBAGAI AGEN FARMASI LAIN – PBF – APOTIK – PASIEN
4. Saluran Distribusi Narkotika
a. Bentuk saluran distribusi untuk obat narkotik
secara umum bentuk saluran distribusi obat narkotika dapat digunkan saluran sebagai berikut
5. Saluran distribusi psikotropika dan prekursor.
Secara umum bentuk saluran distribusi obat keras dapat dilakukan dengan bentuk saluran distribusi yaang ada.
• Produsen – agen – pedagang besar – pengecer – konsumen.
Secara khusus bentuk saluran distribusi obat keras, yaitu;
• Industri farmasi – pedagang farmasi sebagai agen farmasi lain – pedagang besar farmasi – apotek – pasien.
6. Saluran distribusi obat tradisional.
• Industri obat tradisional – agen – pengecer – konsumen.
Saluran distribusi alat kesehatan.
Industri alkes – agen PBF – PBF – apotek – konsumen.
7. Saluran distribusi kosmetika.
• Produsen – agen – pedagang besar – pegecer – konsumen.
C. Peranan Apoteker dalam Distribusi
Perbekalan Farmasi
Peranan apotek dalam pendistribusian perbekalan farmasi adalah syarat
mutlak bahwa setiap obat yang beredar harus aman (safety), bermutu
(quality) dan bermanfaat (efficacy).
D. Hal – hal yang Harus Diperhatikan
dalam Distribusi Perbekalan Farmasi
1. Sediaan farmasi hanya dapat diedarkan setelah mendapatkan izin edar.
2. Pemerintah berwenang mencabut izin dan memerintahkan penarikan sediaan farmasi dari
peredaran yang terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan, kemanfaatan, dapat
disita dan dimusnahkan sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
3. Peredaran sediaan farmasi terdiri dari penyaluran dan penyerahan.
4. Peredaran sediaan farmasi dilaksanakan dengan memperhatikan upaya pemeliharaan mutu
sediaan farmasi.
Penyaluran sediaan farmasi hanya dapat
dilakukan oleh
1. Badan usaha yang telah memiliki izin sebagai penyalur dari menteri sesuai dengan peraturan
perundang – undangan yang berlaku untuk menyalurkan sediaan farmasi yang berupa bahan
obat, obat dan alat kesehatan.
2. Badan usaha yang telah memiliki izin sebagai penyalur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang – undangan yang berlaku untuk menyalurkan sediaan farmasi yang berupa obat
tradisional dan kosmetika
3. Pabrik farmasi dapat menyalurkan hasil produksinya langsung ke pedagang besar farmasi ,
apotek, toko obat dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
E. Distributor Perbekalan Farmasi
1. Industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk
melakukan kegiatan pembuatan obat atau badan obat.
2. Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin
untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan bahan obat dalam jumlah besar sesuai
ketentuan peraturan perundang undangan
PBF Cabang adalah cabang PBF yang telah memiliki pengakuan untuk pengadaan,
penyimpanan, penyaluran obat atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan
perundang – undangan
Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh distributor :
1. Cara distribusi obat yang baik, yang selanjutnya disingkat CDOB adalah cara distribusi/
penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan untuk memastikan mutu sepanjang
jalur distribusi/penyaluran sesuai persyaratan dan tujuan penggunaannya
2. PBF dan PBF cabang hanya dapat mengadakan, menyimpan dan menyalurkanobat dan/atau
bahan obat yang memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh Menteri.
3. PBF hanya dapat melaksanakan pengadaan obat dari industri farmasi dan/atau sesama PBF
4. PBF hanya dapat melaksanakan pengadaan bahan obat dari industri farmasi, sesama PBF
dan/atau melalui importansi.
5. PBF cabang hanya dapat melaksanakan pengadaan obat dan/atau bahan obat dar PBF pusat.
6. Setiap PBF dan PBF cabang dilarang menjual obat tau bahan obat secara eceran.
7. Setiap PBF dan PBF cabang dilarang menerima dan/atau melayani resep dokter.
Fasilitas Pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat meliputi :

1. Apotek
2. Instalasi farmasi rumah sakit
3. Puskesmas
4. Klinik
5. Toko obat
F. Distribusi Golongan Narkotika
Narkotika hanya dapat disalurkan oleh industri farmasi, pedagang bresar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah
sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang.

Industri farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika kepada :

1. Pedagang besar farmasi tertentu

2. Apotek

3. Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu.

4. Rumah sakit

Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika kepada :

1. Pedagang besar farmasi tertentu lainnya.

2. Apotek

3. Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu.

4. Rumah sakit

5. Lembaga ilmu pengetahuan