P. 1
Buku 2 Prioritas Industri Berbasis Agro KARET

Buku 2 Prioritas Industri Berbasis Agro KARET

|Views: 128|Likes:
Dipublikasikan oleh Fatma Yanti

More info:

Published by: Fatma Yanti on Jul 30, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2015

pdf

text

original

Buku II

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN PETA PANDUAN (Road Map) 2009 PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO
Tahun 2010 - 2014 



PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

KATA PENGANTAR
Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2010-2014 di bidang perekonomian menargetkan pertumbuhan ekonomi ratarata 7 %, tingkat pengangguran menjadi berkisar 5 6%, tingkat kemiskinan diharapkan menjadi 8 -10%, dan diperlukan investasi sekitar Rp. 2.000 triliun tiap tahun. Untuk itu, sektor industri diharapkan menjadi penggerak utama (prime mover) mampu berkontribusi lebih dari 26% terhadap PDB pada tahun 2014, dan mampu tumbuh minimal 1,5% lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang tangguh pada tahun 2025, menghadapi tantangan dan kendala yang ada, serta merevitalisasi industri nasional, maka telah diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT telah tersusun 35 Road Map (peta panduan) pengembangan klaster industri prioritas untuk periode 5 (lima) tahun ke depan (2010-2014) sebagai penjabaran Perpres 28/2008, yang disajikan dalam 6 (enam) buku, yaitu: 1. Buku I, Kelompok Klaster Industri Basis Industri Manufaktur (8 Klaster indutri), yaitu: 1) Klaster Industri Baja, 2) Klaster Industri Semen, 3) Klaster Industri Petrokimia, 4) Klaster Industri Keramik, 5) Klaster Industri Mesin Listrik & Peralatan Listrik, 6) Klaster Industri Mesin Peralatan Umum, 7) Klaster Industri Tekstil dan Produk Tekstil, 8) Klaster Industri Alas Kaki.

KATA PENGANTAR 

2. Buku II, Kelompok Klaster Industri Berbasis Agro (12 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Pengolahan Kelapa Sawit, 2) Klaster Industri Karet dan Barang Karet, 3) Klaster Industri Kakao, 4) Klaster Industri Pengolahan Kelapa, 5) Klaster Industri Pengolahan Kopi, 6) Klaster Industri Gula, 7) Klaster Industri Hasil Tembakau, 8) Klaster Industri Pengolahan Buah, 9) Klaster Industri Furniture, 10) Klaster Industri Pengolahan Ikan, 11) Klaster Industri Kertas, 12) Klaster Industri Pengolahan Susu. 3. Buku III, Kelompok Klaster Industri Alat Angkut (4 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Kendaraan Bermotor, 2) Klaster Industri Perkapalan, 3) Klaster Industri Kedirgantaraan, 4) Klaster Industri Perkeretaapian. 4. Buku IV, Kelompok Klaster Industri Elektronika dan Telematika (3 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Elektronika, 2) Klaster Industri Telekomunikasi, 3) Klaster Industri Komputer dan Peralatannya. 5. Buku V, Kelompok Klaster Industri Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu (3 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Perangkat Lunak dan Konten Multimedia, 2) Klaster Industri Fashion, 3) Klaster Industri Kerajinan dan Barang seni. 6. Buku VI, Kelompok Klaster Industri Kecil dan Menengah Tertentu (5 Klaster Industri), yaitu: 1) Klaster Industri Batu Mulia dan Perhiasan, 2) Klaster Industri Garam, 3) Klaster Industri Gerabah dan Keramik Hias, 4) Klaster Industri Minyak Atsiri, 5) Klaster Industri Makanan Ringan. Diharapkan dengan telah terbitnya 35 Road Map tersebut pengembangan industri ke depan dapat dilaksanakan secara lebih fokus dan dapat menjadi: 

v

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

1. Pedoman operasional Pelaku klaster industri, dan aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. 2. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor, antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). 3. Informasi dalam menggalang partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Kepada semua pihak yang berkepentingan dan ikut bertanggung-jawab terhadap kemajuan industri diharapkan dapat mendukung pelaksanaan peta panduan (Road Map) ini secara konsekuen dan konsisten, sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Semoga Allah SWT meridhoi dan mengabulkan cita-cita luhur kita bersama menuju Indonesia yang lebih baik.

Jakarta,

November 2009

MENTERI PERINDUSTRIAN RI

MOHAMAD S. HIDAYAT

KATA PENGANTAR

v

v

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

....... PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO ........ LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET ............................................. 1 9 27 35 57 65 DAFTAR ISI v .................. vii PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT .......................................................... PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET .................. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 9 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT ............... LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO ........ iii DAFTAR ISI ...............DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .

........ 147 v PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .......................... 89 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI ............................. 125 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA ......... 109 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA .....................................2014 ................ 101 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI .............PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA .. 133 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HASIL TEMBAKAU ....... 81 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA ...............

.................. 177 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH ...................... 211 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN .............................................. 203 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE .... 237 DAFTAR ISI x ....LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT .... 185 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE ... 155 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH ......... 229 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN .......................

... 255 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS ................................. 281 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU ......2014 ................. 289 x PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 ................ 263 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU ...PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS ..........................

industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. industri berbasis agro. industri elektronika dan telematika. Menimbang : a. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  .PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri alat angkut. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

b. c. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Bahwa industri pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri pengolahan kelapa sawit. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. 3.2014 . Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri pengolahan kelapa sawit. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. 7. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330).Nomor 108. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 8. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. 4.

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 9.2014 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Tugas. 10. 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 11.Tahun 2009 Nomor 47. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 12. Fungsi.

Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri pengolahan kelapa sawit Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Kimia Dasar Organik yang Bersumber dari Hasil Pertanian (KBLI 24115). 2. Pemerintah Daerah. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. strategi dan kebijakan. Industri Minyak Goreng dari Minyak Kelapa Sawit (KBLI 15144). Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Swasta. b. 3. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan kelapa sawit untuk periode 5 (lima) tahun. Industri pengolahan kelapa sawit adalah industri yang terdiri dari: a.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT.

Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. c. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.2014 .  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pedoman bagi Pelaku klaster Industri pengolahan kelapa sawit. dan d.4. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri pengolahan kelapa sawit ataupun sektor lain yang terkait. baik pengusaha maupun institusi lainnya. b. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri pengolahan kelapa sawit dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1).

Gubernur seluruh Indonesia. 2. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 3. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. Wakil Presiden RI. Presiden RI. 5. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 4.2014 .  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 6.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  .

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Ruang Lingkup Industri Pengolahan Kelapa Sawit Komoditi kelapa sawit merupakan salah satu andalan komoditi pertanian Indonesia yang pertumbuhannya sangat cepat dan mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional. d) perluasan lapangan kerja. Pemanfaatan CPO sebagai bahan baku industri dapat memberikan efek berganda meliputi: a) Pertumbuhan sub sektor ekonomi lainnya. Mengingat potensi minyak sawit Indonesia saat ini dan ditambah dengan perkiraan produksi CPO tahun 2010 yang akan mencapai 20 juta ton maka sudah selayaknya diversifikasi produk turunan CPO ditingkatkan. c) Proses alih teknologi.BAB I PENDAHULUAN A. f) Peningkatan penerimaan pajak. Penggunaan CPO untuk industri hilirnya di Indonesia saat ini masih relatif rendah yaitu baru sekitar 35% dari total produksi. maka akan memberikan nilai tambah lebih besar lagi bagi negara karena harga relatif mahal dan stabil. Hingga saat ini terdapat sekitar 23 jenis produk turunan CPO yang telah diproduksi di Indonesia. Salah satu hasil olahan kelapa sawit adalah minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). e) Perolehan devisa. b) Pengembangan wilayah industri. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Dengan pengolahan CPO ini menjadi berbagai produk turunan.

SDM. dengan kontribusinya yang cukup besar dalam menghasilkan devisa dan penyerapan tenaga kerja. perlu didukung oleh seluruh pemangku kepentingan mulai dari budidaya tanaman.2014  . Kelompok Industri Hulu Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi nasional.Industri Nasional menetapkan bahwa industri berbasis CPO sebagai prioritas yang pengembangannya dapat dilakukan dengan pendekatan klaster. Perkembangan industri pengolahan CPO dan turunannya di Indonesia adalah selaras dengan pertumbuhan areal perkebunan dan produksi kelapa sawit sebagai sumber bahan baku. Upaya ini perlu didukung pula oleh lembaga terkait seperti Litbang. penyedia mesin dan peralatan serta Perbankan/ Permodalan. Pengembangan turunan minyak sawit dimasa yang akan datang mempunyai prospek yang sangat baik. volume dan nilai ekspor melalui pengembangan industri hilir CPO dan mengisi kekosongan kapasitas produksi industri hilir yang telah ada (existing industry) maka perlu disusun roadmap pengembangan klaster industri CPO. dalam rangka mewujudkan upaya peningkatan produksi CPO serta ekspor produk turunan CPO baik dalam jenis. Perkebunan kelapa sawit menghasilkan buah kelapa sawit / tandan buah segar (hulu) kemudian diolah menjadi minyak sawit mentah (hilir perkebunan sawit dan hulu PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pengelompokan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 1. Oleh karena itu. proses produksi dan pemasaran. Dalam rangka pengembangannya. B.

glycerol) 3. shortening.bagi industri yang berbasiskan CPO). fatty amines. baik untuk pangsa pasar dalam negeri maupun pangsa pasar ekspor. Kelompok Industri Antara Dari minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) dapat diproduksi berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun non pangan. 2. Cocoa Butter Substitute (CBS). fatty alcohol. margarine. methyl esther. vegetable LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Namun baru sekitar 23 jenis produk hilir (pangan dan non pangan) yang sudah diproduksi secara komersial di Indonesia. yakni sekitar 20% dari CPO yang dihasilkan. oleokimia dasar (fatty acid. stearin. Disamping menghasilkan produk CPO. Diantara kelompok industri antara sawit termasuk didalamnya industri olein. Produksi PKO meningkat seiring dengan meningkatnya produk CPO. Jenis industri hilir kelapa sawit spektrumnya sangat luas. vanaspati. hingga lebih dari 100 produk hilir yang telah dapat dihasilkan pada skala industri. Beberapa produk hilir turunan CPO dan PKO yang telah diproduksi diantaranya untuk kategori pangan: minyak goreng. Kelompok Industri Hilir Dari produk antara sawit dapat diproduksi berbagai jenis produk yang sebagian besar adalah produk yang memiliki pangsa pasar potensial. Pengembangan industri hilir sawit perlu dilakukan mengingat nilai tambah produk hilir sawit yang tinggi. minyak salad. pengolahan tandan buah segar (TBS) juga menghasilkan produk PKO (Palm Kernel Oil).

biodiesel.ghee. fat powder. dan oleokimia turunan lainnya. food emulsifier. Adapun untuk kategori non pangan diantaranya adalah: surfaktan.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . dan es krim.

Jangka Panjang (2015-2025) 1. Terintegrasinya industri turunan kelapa sawit di Kaltim. Memperluas pengembangan produk akhir. 4. Pemantapan industri berwawasan lingkungan. 5. Kalbar. Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau. Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia. Kalteng dan Papua. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . 3. 2. Jangka Menengah (2010 -2014) 1. Penguasaan pasar. B. Iklim usaha dan investasi yang kondusif.BAB II SASARAN A. 2.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Diversifikasi produk turunan CPO. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 1. Indikator Pencapaian Terintegrasinya industri pengolahan CPO dan turunannya. yang ditandai dengan: • • Meningkatnya investasi baru dan perluasan usaha industri berbasis CPO. Terpenuhinya pemenuhan kebutuhan dalam negeri akan produk-produk oleokimia dasar dan turunannya. mampu meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai dengan membangun visi dan misi yang selaras sehingga mampu meningkatkan produktivitas. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . Visi Industri Pengolahan Kelapa Sawit Pengembangan industri CPO melalui pendekatan klaster. B. Adanya klaster industri berbasis CPO diharapkan memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai (value chain) dari industri hulunya. 2. efisiensi dan jenis sumber daya yang digunakan dalam industri.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. dan memfokuskan pada penggunaan sumber-sumber daya terbarukan (green product). Arah Pengembangan Pengembangan industri turunan CPO untuk peningkatan nilai tambah.

• • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Kerjasama penelitian dan pengembangan antara dunia usaha dengan lembaga penelitian /perguruan tinggi. Pembentukan Dewan Sawit Nasional yang merupakan gabungan dari seluruh pemangku kepentingan di bidang industri sawit. Sosialisasi dan mobilisasi pembentukan klaster CPO kepada pemerintah setempat dan pelaku usaha di daerah yang telah ditetapkan untuk dikembangkan menjadi lokasi pengembangan klaster industri berbasis CPO diantaranya melalui pembentukan Working Group Industri CPO di daerah tersebut.• Meningkatnya kapasitas industri oleokimia dasar dan turunannya. Pembuatan Pilot Plant pengembangan industri turunan CPO. Tahapan Implementasi Beberapa langkah yang telah dilakuakn berkaitan dengan pengembangan klaster industri CPO: • Tahap diagnostik yaitu mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan klaster serta menyusun strategi pengembangan prioritas yang diarahkan pada industri oleokimia dan industri surfaktan.2014 . C.

P e n a ta a n K e le m b a g a a n. M o n ito r in g d a n e va lu a si. M o n ito r in g d a n e va lu a si. tr a d isio n a l m a u p u n n o n tr a d isio n a l. P e n in g ka ta n fu n g si ke le m b a g a a n .TA H A P A N P E N C A P A IA N P R O G R A M K LA S TE R IN D U S TR I B E R B A S IS C P O 2006 2007 2008 2009 K la ste r in g S o sia lisa si d a n P e r sia p a n Id e n tifika si p e r m a sa la h a n in ti/a n g g o ta kla ste r . Id e n tifika si ke g ia ta n in te r d a n a n ta r kla ste r. In fr a str u ktu r P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . K e r ja sa m a in te r d a n a n ta r kla ste r. lis e n s i t e k n o lo g i p ro d u k h ilir . ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. lis e n s i t e k n o lo g i p ro d u k h ilir . P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . P e n in g ka ta n fu n g si ke le m b a g a a n . P e n g e m b a n g a n fa silita s p e la b u h a n . K e r ja sa m a a n ta r p e m a n g ku ke p e n tin g a n . B a h a n B a ku P e r b a ika n m u tu tb s sa w it P e r b a ika n m u tu tb s sa w it  Gambar III.1. K e r ja sa m a in te r d a n a n ta r kla ste r. In ve sta si P r o m o si in ve sta si D N & L N P e n yu su n a n p r o fil d a n p e lu a n g in ve sta si P e n in g ka ta n in ve sta si d i b id a n g in d u str i b e r b a sis C PO P e n in g ka ta n in ve sta si d i b id a n g in d u str i b e r b a sis C PO P a sa r M e m b a n g u n ke m itr a a n d e n g a n p e ta n i/p r o d u se n ke la p a sa w it M e n g e m b a n g ka n a kse s p a sa r e ksp o r . M e n g e m b a n g ka n m e r e k lo ka l d i p a sa r in te r n a sio n a l Iklim U sa h a P e n g e n a a n p a ja k E ksp o r C PO P e la ksa n a a n h a r m o n isa si ta r if C P O P e n g h ila n g a n p e ra t u ra n p e ru n d a n g -u n d a n g a n y a n g m engham bat pengem bangan in d u s t ri SD M D ikla t P e la tih a n d a r i m u la i o n fa r m s/d o ff fa r m D ikla t P e la tih a n M a n a je m e n M u tu D ikla t P e la tih a n D ive r sifika si P r o d u k D ikla t P e la tih a n E ksp o r Im p o r LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 K e r ja sa m a R & D P r o d u k H ilir P e n g e m b a n g a n in d ig e n o u s te kn o lo g i P e r b a ika n m u tu tb s sa w it P e r b a ika n m u tu tb s sa w it T e kn o lo g i P e n g e m b a n g a n p ilo t p ro je c t (s c a le u p ) d a ri s u m b e r in d ig e n o u s t e k n o lo g i . P e n g e m b a n g a n p ilo t p ro je c t (s c a le u p ) d a ri s u m b e r in d ig e n o u s t e k n o lo g i . ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. ta n g ki tim b u n dan pem bangunan in fr a str u ktu r. Tahapan Pencapaian Program Klaster Industri Berbasis CPO .

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Kebijakan industri. Pengembangan infrastruktur. Mengembangkan industri bahan penolong. insentif mendukung pengembangan LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  . perguruan tinggi dan industri. Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian. Meningkatkan kualitas SDM melalui penyusunan dan penerapan SKKNI industri kimia berbasis kelapa sawit. • • • • • • • Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannya. peran lembaga terkait dalam • • • • • • Promosi investasi. Meningkatkan kualitas produk sesuai SNI. Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan. Mendorong pemasaran. Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan. Mengembangkan industri mesin peralatan. Mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) Menjalin kerjasama di antara industri CPO dan turunannya dengan industri/institusi pendukung/terkait. industri pelumas dan biodiesel.

Pemenuhan pasar di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor. Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri kimia berbasis kelapa sawit. B. Rencana Aksi Jangka Panjang (2015-2025) • • • • • Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi.• • Penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri. Mendorong kegiatan penelitian pasar (market research) guna mencari orientasi dan sasaran pasar yang baru dan bernilai tambah tinggi. Pemberian insentif bagi pelaku R&D pengembangan produk turunan kelapa sawit. Terbentuknya Badan Otorita Pengembangan Investasi.2014 . Penyediaan fasilitas promosi dan pemasaran. Keamanan. Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk kimia turunan kelapa sawit yang terintegrasi. Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R & D. Penerapan manajemen penanganan Dampak Keselamatan. • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Penguatan linkage antara industri kecil menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi. Pengembangan teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan.

Sabun. o Mendorong peran lembaga keuangan dalam penyediaan layanan kredit dan permodalan dengan suku bunga rendah. o Meningkatkan kualitas produk sesuai SNI. o Kebijakan insentif mendukung pengembangan industri. o Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian. o Pengembangan teknologi proses yang efisien dan berwawasan lingkungan. Kemasan. o Peningkatan kegiatan riset teknologi industri dan rekayasa produk kimia turunan kelapa sawit yang terintegrasi. Kalbar. Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3L) di lingkungan industri kimia berbasis kelapa sawit. Farmasi. Karbon Aktif. o Pemberian insentif bagi pelaku R&D pengembangan produk turunan kelapa sawit. o Pemantapan industri berwawasan lingkungan. Tinta. o Terintegrasinya industri turunan kelapa sawit di Kaltim. industri pelumas dan biodiesel. o Pemenuhan pasar di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor. o Pengembangan infrastruktur. Keamanan. o Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia o Penguasaan pasar.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Industri Pendukung CPO.  9 . o Iklim usaha dan investasi yang kondusif Sasaran Jangka Panjang 2015 –2025 o Memperluas pengembangan produk akhir. o Penghapusan Perda yang menghambat pengembangan industri. Makanan Industri Inti Oleokimia. o Mengembangkan industri mesin peralatan. o Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan. o Mendorong peran lembaga terkait dalam pemasaran. o Mendorong kegiatan penelitian pasar (marker research) guna mencari orientasi dan sasaran pasar yang baru dan berniali tambah tinggi. PKO. Plasticizer. Pelumas. Produk Perawatan Tubuh. Minyak goreng . o Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannya. o Terbentuknya Badan Otorita Pengembangan Investasi. ekspansi ekspor. Kalteng dan Papua Strategi Sektor : Diversifikasi produk kearah oleokimia dan turunannya. o Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R & D. o Mengembangkan industri bahan penolong. o Penyediaan fasilitas promosi dan pemasaran. o Penerapan manajemen penanganan Damapak Keselamatan. o Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan. bio diesel. meningkatnya jaminan pasokan CPO untuk industri dalam negeri. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009 Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( 2010 – 2014) o Menjalin kerjasama di antara industri CPO dan turunannya dengan industri/institusi pendukung/terkait. Bahan Kimia. Cat. Mesin & Peralatan Industri Terkait Pembersih. Bleaching Earth. Kosmetik. Margarine Sasaran Jangka Menengah 2010 –2014 o Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau. Shortening. o Meningkatkan kualitas SDM melalui penyusunan dan penerapan SKKNI industri kimai berbasis kelapa sawit. Surfactant. o Penguatan linkage antara industri kecil menengah dengan industri besar dalam rangka alih teknologi. Teknologi : Adaptasi teknologi dengan lisensi dari sumber MNC dan mendorong kemampuan pengembangan indigenous R&D. Plastik. Pewarna. Varnish. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2015 – 2025) o Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi. o Promosi investasi. perguruan tinggi dan industri.

b. Papua dan Kalimantan Timur). pengembangan biomassa dan bioteknologi. c.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Unsur Penunjang SDM a. b. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 10 . Periodesasi Peningkatan Teknologi a. Insentif kredit bagi petani sawit. Pasar a. Memberikan insentif perpajakan untuk investasi baru selama 3 tahun pertama. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Meningkatkan promosi ke negara-negara Asia dan Afrika dalam rangka kerjasasama Non. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit Gambar 1. Inisiasi (2004 – 2009) : Pilot project untuk Mini Plant (scale-up) dari sumber indigenous teknologi. b.l. Pengembangan Cepat (2010 – 2014) : Modifikasidan pengembangan teknologi mandirin melalui R&D. Meningkatkan peranan Litbang dan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan mutu produk.2014 Gambar 1. Mengenakan Pajak Ekspor CPO. bio teknologi dan biomassa. c. Meningkatkan kemampuan SDM dibidang oleokimia. lisensi untuk produk hilir.  Infrastruktur a. b. Pengembangan fasilitas pelabuhan dan tangki timbun (a. d.Blok dan SelatanSelatan. Memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. Matang (2015 – 2025) : Industry & Technology Upgrading.

Depkeu. Logistik. Depdag. GIMNI. SBRC IPB 2. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kelapa Sawit Gambar 2. Persh. Asuransi. USU Jasa Bank dan Konsultan Pemasaran. APROBI Gambar 2. PPKS. ITB. UNAND. Dinas Pertanian Oleochemical Eksportir PASAR LUAR NEGERI Tandan Buah Segar CPO PKO Minyak Goreng Sabun. BBKK. Deptan. UGM. Margarin Bio Diesel Mesin / Peralatan Pengolahan CPO Distributor PASAR DALAM NEGERI Lembaga Litbang/PT 1.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Depperin. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kelapa Sawit LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 111/M-IND/PER/10/2009  11 . BKPM Forum Daya Saing/ Working Group Fasilitasi Klaster Pemerintah Daerah : Dinas Indag. Asosiasi AIMMI. APOLIN. AIMMI. IPB.

5. termasuk biodiesel. Membangun dan memperbaiki fsilitas pelabuhan dan tangki timbun di Kaltim danPapua.. 9. 4. O PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 6. Mempermudah akses kredit untuk petani sawit. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit 12 . O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Papua O O O O O O O O 2. Mendorong diversifikasi produk hulu CPO dari 17 jenis menjadi 30 jenis. Meningkatkan dan mempromosikan kegiatan litbang pengolahan CPO.Ind.2014 Tabel 1. Memperbaiki mutu bahan baku CPO. Mengembangkan produk minyak goreng yang mengandung beta karotin sebagai sumber vitamin A. Mengendalikan Ekspor Bahan Baku CPO. Daya Saing BBKK/Balai Kelapa Sawit KRT/BPPT Dep.Dag Working Group Asosiasi Dep. 8.Keu Fasilitasi Klaster Dep. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sawit  Pemerintah Pusat Pemda Swasta Perguruan Tinggi & Litbang Forum PT Prs. Prop Kab Dep.Tan.Perin O O O O Jatim Rencana Aksi 2004 – 2009 1. 7. O O O O O O O O O O 3. Mempromosikan investasi industri oleokimia (hilir). Mendorong peningkatan pasokan CPO ke Industri pengolahan.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 111/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1.

industri elektronika dan telematika. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . industri berbasis agro. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : a. industri alat angkut. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu.

2014 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Bahwa industri karet dan barang karet merupakan salah satu kelompok industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan industri karet dan barang karet. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.B. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. c. 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Karet dan Barang Karet.

Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737).Nomor 108. 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 7. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . 8.

10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 13. 9. 11. Tugas. Fungsi.2014 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian.Tahun 2009 Nomor 47. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 12.

d. 2. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Industri Vulkanisir ban (KBLI 25112). serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri karet dan barang karet untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Ban Luar dan Ban Dalam (KBLI 25111) b. c. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Karet dan Barang Karet Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Barang-barang dari Karet untuk keperluan Rumah Tangga (KBLI 25191). Industri Barang dari Karet untuk Industri (KBLI 25192). Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET. strategi dan kebijakan. Industri Karet dan Barang Karet adalah industri yang terdiri dari : a.

Industri Barang-barang dari Karet yang belum termasuk 25191 dan 25192 (KBLI 25199) 3.e. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. baik pengusaha maupun institusi lainnya. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Karet dan Barang Karet ataupun sektor lain yang terkait. Swasta. b. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pemerintah Daerah. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Karet dan Barang Karet.2014 . 4. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a.

Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Karet dan Barang Karet dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). dan d.c.

Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Presiden RI. Wakil Presiden RI. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.2014  . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 5. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Gubernur seluruh Indonesia. 4. 6. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 3. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 2.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KARET DAN BARANG KARET BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

4.1. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet I. Pengelompokan Industri Karet dan Barang Industri karet dan barang karet dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri Karet hilir. kelompok industri antara dan kelompok industi Industri karet dan barang karet dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri yaitu kelompok industri hulu. Roda 2. yaitu kelompok industri hulu. pipa. dibawah ini. 3. Kelompok Kayu Karet (setengah jadi) • Industri Antara LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .  Bokar (bahan olahan karet) Hulu 1. Sepeda) Sarung tangan Lain-lain 25192 25192 25192 25111-25112 25199 25191 B. selang Belt conveyor Belt Transmission Ban (Roda 4.Benang karet . Pengelompokan Industri Karet dan Barang Karet B. HS 40011-13 4002 4003-4009 4010 4010 4011-13 4015 4016-17 TabelTabel I. Kelompok Industri Hulu antara dan kelompok industi hilir. 2. 7. Kelompok Industri       Kayu Karet • Bokar (bahan olahan karet) Crumb rubber (karet remah) Sheet/RSS Latek Pekat Thin pole crepe Brown crepe 2. Ruang Lingkup Industri Karet dan Barang Karet Karet dan barang-barang karet dapat diklasifikasikan Karet dan barang-barang karet dapat diklasifikasikan menurut and menurut The Harmonized Commodity Description The Harmonized Commodity Description and Klasifikasi Baku dan Klasifikasi Coding System (HS) dan Coding System (HS) Lapangan BakuUsaha Indonesia (KBLI) yang dapat diperlihatkan pada Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang dapat diperlihatkan pada tabel tabel dibawah ini. 6. 5.1. Ruang Lingkup Industri Karet dan Barang Karet A.Tabung. kelompok industri 1. No. No 1. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet KBLI Uraian Barang Karet alam Karet Sintetis Barang dari karet untuk industri : .BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 A.

Yang temasuk produk hilir yaitu: • • • • • • Ban dan produk terkait serta ban dalam Barang jadi karet untuk keperluan industri Barang karet untuk kemiliteran Alas kaki dan komponennya Barang jadi karet untuk penggunaan umum Alat kesehatan dan laboratorium  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2. Kelompok Industri Hilir Adapun kelompok Industri hilir karet adalah industri yang merupakan produk akhir yang siap digunakan oleh industri pemakai.2014 . Kelompok Industri Antara (setengah jadi) • • • • • Crumb rubber (karet remah) Sheet/RSS Latek Pekat Thin pole crepe Brown crepe 3.

2. B. 3. Penerapan secara wajib SNI barang-barang karet. Pengembangan industri barang-barang karet untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai substitusi impor. Jangka Menengah (2010 – 2014) 1. Peningkatan investasi baru dan perluasan usaha industri barang –barang karet. selang kompor gas. Peningkatan produktifitas karet alam sehingga mencapai 4 juta ton per tahun. Pengembangan dan peningkatan daya saing industri barang-barang karet.BAB II SASARAN A. selang radiator dan komponen otomotif. Peningkatan kualitas SDM petani karet dan industri barang-barang karet. Peningkatan produksi karet alam dari 3 juta ton tahun 2009 menjadi 3. 4. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Jangka Panjang (2010 – 2025) 1.5 juta ton per tahun dengan pertumbuhan sekitar 4% rata-rata setahun. 3. 2.

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Meningkatkan litbang teknologi industri. Arah Pengembangan • Peningkatan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet. Visi Industri Karet dan Barang Karet Menjadikan Indonesia sebagai negara produsen utama barang-barang karet tahun 2020. pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional ke teknologi maju. peningkatan nilai tambah.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Indikator Pencapaian Kinerja industri karet dan barang karet dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kearah perbaikan. jasa teknik dan konstruksi. 2. hal ini terlihat dari beberapa indikator sebagai berikut: LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . Visi dan Arah Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet 1. jasa pendukung produksi. Peningkatan produksi produk barang-barang karet guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui diversivikasi produk. peralatan pabrik. peningkatan kandungan lokal (bahan baku/penolong. • • B.

813 2006 2. Kinerja Industri Barang Karet sebesar –8.14 % dari tahun 2007.656 770 789 486 713 784 10.725 2008 3.271 1.188 2007 3. Inggris dan Uni Emirat Arab.2014 5 .428 714 803 492 835 1. pada tahun 2008 tahun 2008 2. Philipina.999 Sumber: ANRPC 2009 Sumber: ANRPC 2009 *prognosa *prognosa Produksi karet alam indonesia dalam pada tahun 2007 sebesar 2.209 juta ton atau mengalami penurunan 2.413 3.937 2.751 juta ton atau mengalami Ekspor karet alam indonesia pada tahun 2007 sebesar –8. karet alam pada tahun di ekspor mencapai sekitar 10 persen.755 juta ton dan pada tahun 2008 penurunan -0.629* 2010 3.751 1.1. Sebagian domestik untuk memproduksi barang-barang karet Indonesia 2008 baru besar (90 persen).286 4.268 853 483 560 419 9.067 2020 3.637 1. karet turun menjadi 2.090 2.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Konsumsi karet alam dalam bentuk Ekspor karet alam indonesia pada tahun 2007 sebesar 2.072 881 531 663 641 9.Realisasi dan Proyeksi Produksi Karet Alam (Ribu Ton) Negara Thailand Indonesia Malaysia India China Vietnam Lain-lain Dunia 2005 2.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 1.407 juta ton karet domestik untuk memproduksi barang-barang dan pada turun menjadi baru mencapai sekitar 10 persen.968 2.072 888 818 479 599 923 9.2 % a.2 % sebesar 2. Kinerja Industri Karet Alam Tabel III. Kinerja Industri Karet Alam 1.056 2.126 771 428 469 811 8. Ban Perusahaan Sampai saat ini ada 13 (tiga belas) kebutuhan ban Nasional tersebut telah mampu memenuhi produsen Ban Nasional untuk kendaraan Roda dalam keanggotaan Asosiasi ban yang termasuk 4 dan Roda 2 dan bahkan sudah perusahaan ban Indonesia (APBI).321 10. karet mentah.751 juta ton atau mengalami alam Indonesia di ekspor dalam bentuk karet mentah.424 2015 3.755 juta Produksi karet alam indonesia dalam pada tahun 2007 sebesar 2. diekspor keberbagai negara seperti Amerika Serikat – Saudi Arabia Jepang.137 807 600 602 768 9. Sebagian besar (90 persen).14 % dari tahun 2007.001 3. Realisasi dan Proyeksi Produksi Karet Alam Dunia (Ribu Ton)Dunia Tabel III.407 juta ton dan pada tahun 2008 turun menjadi 2.1.755 1. Ban Sampai saat ini ada 13 (tiga belas) produsen ban yang termasuk dalam 2. Kinerja Industri Barang Karet keanggotaan Asosiasi perusahaan ban Indonesia (APBI). Konsumsi karet alam penurunan -0. a.209 juta ton atau mengalami penurunan ton dan pada tahun 2008 turun menjadi 2.

tahun 2006 mencapai Rp. sedangkan tahun 2008 mencapai US$ 935 juta atau naik sebesar 16. 6. namun permintaan pasar domestik naik cukup tinggi pada tahun 2008 sehingga produksi masih bisa dipertahankan pada tingkat yang tinggi untuk menghemat biaya tetap. tahun 2007 mencapai US$ 803 juta.93 trilyun dan tahun 2008 menjadi Rp. Philipina. 5.Perusahaan ban Nasional tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan Ban Nasional untuk kendaraan Roda 4 dan Roda 2 dan bahkan sudah diekspor keberbagai negara seperti Amerika Serikat – Saudi Arabia Jepang. khususnya yang digunakan untuk kendaraan off the road serta ban pesawat terbang masih belum diproduksi dalam negeri.2% Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 4 dari tahun 2004 sampai dengan 2008. khususnya Japan.98 trilyun.4 %. Penjualan domestik pada tahun 2006 sebesar Rp. Tahun 2006 ekspor ban sekitar US$ 665 juta. Eropa.2% dan pada tahun 2008 sama dengan pada tahun 2007 sebesar 85.75 trilyun dan pada tahun 2007 naik menjadi Rp. Inggris dan Uni Emirat Arab. 7.81 triliyun. Resesi ekonomi dunia mengakibatkan turunnya permintaan ban dunia. Meskipun ada beberapa jenis ban. Utilisasi industri ban roda 4 pada tahun 2007 sebesar 85. 6. USA. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .

2. Perkembangan Industri Ban Kendaraan Bermotor Roda 4 Roda 4 Uraian Kapasitas Terpasang (Juta Unit) Realisasi Produksi (Juta Unit) Utilisasi Kap Terpasang (%) Pemasaran D/N (Juta Unit) Volume Ekspor (Juta Unit) Nilai Ekspor (Juta US$) Volume Impor (Juta Unit) Nilai Impor (Juta US$) Tenaga Kerja (org) *) Jumlah Unit Usaha *) 2004 41.2014 .4 3.2.2 14.3 42.2 13 *) Termasuk Roda *) Termasuk Roda 2 2 sumber : APBI Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 2 dari Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan tahun 2004 sampai dengan 2008.700 13 2007 27.2% Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri Ban roda 4 dari tahun 2004 sampai dengan 2008.6 931.5 3.7 3.3 24.5 23. Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Tabel III.3.4 25.0 83. industri Ban roda 2 dari Menteri Perindustrian RI Lampiran Peraturan tahun 2004 sampai dengan 2008.700 13 2007 49.2 26.1 33.6 710.5 21.2 13.6 2.9 93.9 18.7 21.0 2.3 21.307 13 2005 45.3 28.7 11.9 2.1 23.9 21.9 25.7 24. Perkembangan Industri ban Kendaraan Bermotor Roda 2 Tabel III.tahun 2008 sama dengan pada tahun 2007 sebesar 85.3 0.4 9.7 18.600 13 2008 27.0 2.5 1.3 91.307 13 2005 27.4 3.1 0.7 21.1 462.7 10.6 77.55 64.0 85.0 2.3 41.4 2.525 13 2006 49.19 38.919 13 2008 49.7 22.115 13.2 21.3 0.1 4.8 12.0 85. Perkembangan Industri ban Kendaraan Bermotor Roda 2 Uraian Kapasitas Terpasang (Juta Unit) Realisasi Produksi (Juta Unit) Utilisasi Kap Terpasang (%) Pemasaran D/N (Juta Unit) Volume Ekspor (Juta Unit) Nilai Ekspor (Juta US$) Volume Impor (Juta Unit) Nilai Impor (Juta US$) Tenaga Kerja (org) *) Jumlah Unit Usaha *) 2004 7.0 1.7 25.525 13 2006 27.4 570.7 803.0 79.0 86.5 28.8 35.2 11.0 8.2 0.3 42.5 6. Industri Sarung Tangan PETA PANDUAN (Road Map)  unit usaha industriINDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO pada Asosiasi Jumlah PENGEMBANGAN KLASTER sarung tangan yang terdaftar Sarung Tangan Karet Indonesia berjumlah 13 unit usaha yang berlokasi untuk 10 unit usaha di Sumatera Utara.3. Perkembangan Industri Ban Kendaraan Bermotor Tabel III.4 84.4 2.76 29.7 97.6 81.0 sumber : APBI 6 b.80 66.0 25. Tabel III.0 41.0 0.8 23.8 5.1 22.4 2.5 23.0 24. 2 unit usaha di Jawa Timur dan Tahun 2010 .

Total produksi total produksi sarung tangan tahun 2007 sebesar 9. Investasi pada industri sarung tangan karet berdasarkan data dari BKPM dari tahun 2004 sampai tahun 2007 sebesar US$ 194. dengan investasi senilai Rp.7 Milyar. Total kapasitas terpasang pada tahun 2007 sebesar 12 milyar pasang dengan total investasi sebesar US$ 100. 2 unit usaha di Jawa Timur dan 1 unit usaha di Jawa Barat.9 Juta . 20 Milyar.000 pcs dan tahun 2008 turun menjadi 8. Nilai ekspor industri sarung tangan karet pada tahun 2007 sebesar US$ 153. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .500.6% dan pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 70%.b.549.9 Milyar dan pada tahun 2008 naik sebesar US$ 295. total kapasitas produksi 20 ton/bulan.6 Juta dan pada tahun 2008 naik menjadi US$ 175.000 pcs. Pada tahun 2007 ini telah diresmikan 1 unit usaha lagi industri sarung tangan di Kalimantan Selatan. Industri Sarung Tangan Jumlah unit usaha industri sarung tangan yang terdaftar pada Asosiasi Sarung Tangan Karet Indonesia berjumlah 13 unit usaha yang berlokasi untuk 10 unit usaha di Sumatera Utara. Utilisasi industri sarung tangan karet pada tahun 2007 sebesar 79.8 juta.Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan industri sarung tangan karet dari tahun 2004 sampai dengan 2008.

549 79.5 167.0 170.500 70 1.  PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Hasil yang telah 2010 .125.4.751.1 5.0 5. Perkembangan Industri Sarung Tangan Tabel III.256 75.8 2. Tahapan Implementasi • Telah dilakukan tahapan sosialiasi.0 7.000 9.0 3.396 175.416.426.000 9.0 153.199.736.500 86.0 95.0 7.4.0 3.0 152. Langkah-langkah yang telah dilakukan : permasalahan dan persiapan kolaborasi klaster  Telah dilakukan tahapan sosialiasi. sejenis dan industri hilir barang-barang karet.2 5.007 13 2008 12.6 9. Tahapan Implementasi 1.0 7. Sementara industri pengolahan karet hilir.963. identifikasi permasalahan dan industri pengolahan karet melalui kegiatan Forum Komunikasi dan Working Group kegiatan persiapan kolaborasi klaster industri pengolahan karet melaluidi dua daerah yaitu Group di dua daerah yaitu di Jawa Forum Komunikasi dan Working di Sumatera Utara danSumatera Barat.0 3.0 156.522 79. • Pelaksanaan identifikasi permasalahan dalam  Pelaksanaan identifikasipengembangan industribarang-barang permasalahan dalam upaya pengembangan upaya karet karet di daerah denganmelibatkan stakeholder industribarang-barang di daerah denganmelibatkan stakeholder di di daerah melaluipembentukan working group.3 10.513.088 5007 13 C.4 2.0 95.4 1.  Melakukan koordinasi dalam rangka pengamanan pasokan gas untuk industri sarung tangan karet. Dari hasil kelompok kerja Dari hasil kelompok kerja industri pengolahan industri pengolahan karet di Sumatera Utara telah dipetakan dan karet di Sumatera Utara telah dipetakan dan diinventarisasi diinventarisasi di beberapa wilayah karet serta di beberapa wilayah potensi perkebunan potensi perkebunan karet serta itu di Propinsi Sumatera industri pengolahan karet hilir.207 13 2006 12.2014 diantaranya: Tahun dicapai.677.6 2. Utara dan Jawa Barat.987 176.099.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Tabel III.169.981.0 5. identifikasi 1.280 7. Sementara itu di Propinsi Sumatera Selatan dan Jawa Barat telah diberikan bantuan peralatan industry Selatan dan Jawa Barat telah diberikan bantuan kompon yang diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya industri 2.0 138. Langkah-langkah yang telah dilakukan : C.1 2.000 9.932.000 8.007 13 2007 12.000 8.686. daerah melaluipembentukan working group. Perkembangan Industri Sarung Tangan Uraian Kapasitas Terpasang (Juta Pcs) Realisasi Produksi (Juta Pcs) Utilisasi Kap Terpasang (%) Pemasaran D/N (Juta Pcs) Volume Ekspor (Juta Pcs) Nilai Ekspor (Ribu US$) Volume Impor (Juta Pcs) Nilai Impor (Ribu US$) Tenaga Kerja (org) Jumlah Unit Usaha 2004 11.307 13 2005 11.692. PETA PANDUAN (Road Map) .203.

Pemetaan potensi pasar dalam negeri dan industri permesinan dalam mendukung pengembangan industri barang karet. diantaranya: • Melakukan koordinasi dalam rangka pengamanan pasokan gas untuk industri sarung tangan karet. • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .peralatan industry kompon yang diharapkan akan dapat mendorong tumbuhnya industri sejenis dan industri hilir barang-barang karet. Hasil yang telah dicapai. Pemetaan potensi bahan baku industri pengolahan karet untuk penyusunan profil investasi pengembangan industri hilir karet. Telah tersusun konsep standar kompetensi kerja SDM karet dan barang-barang karet oleh BPPI tetapi pada tahun 2008 baru akan dikonvensikan. tetapi berhubung kesiapan produsen dalam negeri belum siap maka pemberlakuannya ditunda sampai 1 Juli 2008. 2. Telah diberlakukan SNI wajib untuk produk selang karet sejak 27 Nopember 2007 sesuai SK Menteri Perindustrian Nomor : 92/M-IND/Per/11/2007. Telah dilakukan kajian cara pendeteksian dini vulkanisat karet dalam bahan olah karet (Bokar).

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Melanjutkan program peningkatan kompetensi SDM industri barang-barang karet. Melaksanakan da melanjutkan program pendidikan standar kompetensi SDM industri barang-barang LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 • • •  . Memperkuat kelembagaan industri barang-barang karet yang dihubungkan dengan industri karet alam. Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) • Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas bahan olah karet melalui sosialisasi dan pelatihan. • • • • B. Melakukan kajian kebutuhan bahan baku industri barang-barang karet.1 tahun 2007). Pengembangan Industri barang-barang karet melalui promosi investasi dan fasilitas untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu atau daerah tertentu (PP No. Mengembangankan industri barang-barang karet sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui diversifikasi produksi. Mengembangkan industri permesinan yang mendukung pengembangan industri barang-barang karet. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) • Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan olah karet melalui replanting dan perluasan lahan.

Mengembangkan investasi baru agar menjadi salah satu basis industri ban dunia. • • • Menerapkan secara wajib SNI barang-barang karet. Melaksanakan harmonisasi standar internasional seperti UN-ECE untuk barang-barang karet komponen otomotif.karet melalui diklat kompetensi SDM industri karet dan barang-barang karet. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Membangun citra menggunakan produk dalam negeri . Inisiasi : .Membangun dan memproduksikan merk lokal dipasar Internasional Gambar 1. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2010 – 2025) - Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah ( 2010– 2014) - - Melanjutkan pembinaan petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan olah karet melalui replanting dan perluasan lahan. peralatan pbarik.Meningkatkan peran Litbang dan perguruan tinggi 11 . jasa pendukung produksi.Pengembangan kemampuan balai-balai karet . Sektor : - Peningkatan produktifitas dan kualitas karet alam untuk menunjang pasokan bahan baku industri barang-barang karet Peningkatan produksi produk barang-barang karet guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri melalui diversivikasi produk .Memproduksi jenis ban radial dengan berbagai ukuran . 1 tahun 2007) Unsur Penunjang - Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penyediaan bahan baku karet alam Mendorong Pengembangan industri barang-barang karet LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 Pengembangan cepat : . Teknologi : Meningkatkan litbang teknologi industri. Karbon Black. Kerangka Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet . jasa teknik dan konstruksi.Restrukturisasi dan optimalisasi pabrik-pabrik yang masih menggunakan teknologi lama b. peningkatan kandungan lokal (bahan baku/penolong.Memproduksi sarung tangan karet medical grade Pasar : Infrastruktur : .Membangun sarana prasarana jalan dari lokasi bahan baku . peningkatan nilai tambah . Strategi Meningkatnya produksi karet alam menjadi 4 juta ton/tahn Berkembangnya berbagai jenis produk barang-barang karet Meningkatnya penggunaan karet alam dalam negeri dari 16% (2010) menjadi 20% (2020).5 ton dengan pertumbuhan sekitar 4 % rata-tara pertahun Peningkatan kualitas SDM di Industri Barang-barang Karet Peningkatan Investasi baru dan Perluasan usaha Industri barang-barang Karet Pengembangan Industri barang-barang karet dalam negeri sebagai substitusi Impor. Permesinan Sasaran Jangka Menengah ( 2010-2014) Sasaran Jangka Panjang ( 2010 – 2025) - - - Peningkatan produktivitas karet alam sehingga mencapai 3. pengembangan dan diversifikasi teknologi tradisional keteknologi maju. Bahan Kimia ( Filler). Kerangka Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet Periode Peningkatan Teknologi a. Karet Sintetis.Meningkatkan volume dan pasar ekspor . Pengembangan Industri barang karet melalui promosi investasi dan fasilitas untuk pengembangan modal dibidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu (PP No.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Industri Inti Industri Otomotif Industri Pendukung Industri Terkait Industri Barang-barang Karet Karet Alam.Mendorong R& D dalam pengembangan ban dengan kebisingan rendah Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Road Noise emission Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 . SDM : Meningkatkan kemampuan SDM di Bidang industri pengolahan karet dan barang-barang karet Penyusunan standar kompetensi kerja industri pengolahan karet dan barangbarang karet  Gambar 1.Membangun daya saing terhadap industri barang-barang karet .

Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 Gambar 2.

ESDM Meneg Prop UKM Asosiasi Prs. Peran Pemangku Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet Pemerintah Pusat Dep. SIN Bokar No. Jabar & Banten Tersedianya sarana produksi lainnya (pupuk. Penerapan SK Menperindag 616/MPP/Kep/X/99 dengan mendorong pedagang pengumpul memiliki SIUP Pemberdayaan kelembagaan antara petani dan pedagang pengumpul Penyusunan dan penerbitan SNI . pestisida dan peralatan) dalam jumlah cukup dengan tingkat mutu dan harga bersaing. Dep. GMP Peraturan Menperind No. Kalimantan. SNI Bokar No. potensi produksi > 1 ton/ha/th dan kayu >100 m3/ha/siklus. Revitalisasi perkebunan seluas 250 ribu hektar peremajaan dan 50 ribu hektar perluasan Pemanfaatan kembali kebun karet terlantar di 16 propinsi di Sumatera. Dag Keu PM BI Kab PT BPTK Baristand Daya Saing Dep. tanggal 1 Mei 2006 Penerapan UU No 18/2004. 19/MIND/PER/5/ 2006 tentang Standardisasi. 18/2004.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. 06-2047-2002 dan Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. GHP. Pemda Swasta Perguruan Tinggi & Litbang Forum Working Fasilitasi Group Klaster Rencana Aksi 2010-2014 1 √ √ √ √ √ 2 √ √ √ √ √ 3 √ √ √ √ 4 √ √ √ √ √ √ 5 √ √ √ √ 6 √ √ √ √ 7 √ √ √ LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009  14 8 9 √ 10 Percepatan penyediaan bibit unggul penghasil lateks dan kayu. Dep. Ind. BK BSN Perin Tan. Peran Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Karet dan Barang Karet Tabel 1. PU Dep. Penerapan Good Agricultural Practices (perbaikan teknik sadap. 06-2047-2002 dan Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No. Dep. 18/2004. dll). Pembinaan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia Bidang Industri.

7 tahun 2007 hanya diberlakukan untuk lateks) Pemenuhan pasokan gas untuk industri sarung tangan Penghapusan BMAD Carbon Black yang sudah diberlakukan 3 tahun Penyusunan dan penerapan standar kompetensi Perbaikan Infrastruktur akses ke kebun dan pelabuhan PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 18/2004. teknik dan elektronika) 15 .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 8 √ √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Penerbitan Permen Pertanian tentang mutu bokar sesuai SNI dan UU No.2014 18 Pengembangan Industri barangbarang karet keperluan industri (diversifikasi) untuk produk bernilai tambah tinggi (komponen otomotif. selang kompor gas. sarung tangan) Pemberlakuan SNI wajib bagi ban vulkanisir Partisipasi peningkatan kerjasama bidang standar di tingkat ASEAN dan internasional Penghapusan PPN untuk semua jenis karet sebagai bahan baku (PP No. Penerapan SK Menperindag 616/MPP/Kep/X/99 dengan mendorong pedagang pengumpul memiliki SIUP Pemberdayaan kelembagaan antara petani dan pedagang pengumpul Penyusunan dan penerbitan SNI barang-barang karet (selang radiator.

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 112/M-IND/PER/10/2009 19 √ √ √ √ √ √ 20 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 Promosi investasi dan fasilitas untuk Penanaman modal di bidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu (PP No. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009 16  . 1 Tahun 2007 Bantuan sertifikasi lahan untuk mendapatkan kredit bank Penyediaan Kredit Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam pengembangan usaha bersama (pengolahan dan pemasaran).

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Menimbang : a. industri berbasis agro. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri alat angkut. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri elektronika dan telematika. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .

c.b. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Ro­ ad Map) Pengembangan Klaster Industri Kakao. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.2014 . 2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 3. Bahwa industri kakao merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri kakao. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67.108. 4. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. 8. 5. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . 6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Tugas. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Fungsi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987).Tahun 2009 Nomor 47. 9. 12. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 13. 11.2014 . Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 10. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

3. Industri Kakao adalah industri yang terdiri dari: a.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Makanan dari Coklat dan Kembang Gula (KBLI 15432). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  . 2. 4. Pemerintah Daerah. Industri Bubuk Coklat (KBLI 15431). Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. strategi dan kebijakan. Swasta. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri kakao untuk periode 5 (lima) tahun. b. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Peta Panduan (Road map) Pengembangan Klaster Industri Kakao Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri.Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. c. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Kakao ataupun sektor lain yang terkait.2014 . antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). dan d. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Kakao. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. b. baik pengusaha maupun institusi lainnya.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1).Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Kakao dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 112/M-IND/PER/10/2009  .

Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 5. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1.2014 .  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 4. 3. Gubernur seluruh Indonesia. Presiden RI. 2. Wakil Presiden RI. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 6.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KAKAO BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pantai Gading (1.743 ton ( 13. Luas lahan tanaman kakao Indonesia lebih kurang 992.000 ton (23.000 Ton (2.000 ton (2.000 ton (19.000 (31.000 ton). Ruang Lingkup Industri Kakao • Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah negara Pantai Gading dan Ghana.421. Ghana (747. Kalimantan Timur 15.257 ton (2.000 ton).6 %).7%). cocoa cake. Sulawesi Selatan 184. dan cocoa powder digunakan untuk industri dalam negeri dan ekspor. Indonesia (577. dan produktivitas rata-rata 900 Kg per ha. Sulawesi Tenggara 111. Malaysia. Ekspor biji kakao Indonesia pada tahun 2008 sebesar 334. Perkebunan Negara 49. Perkebunan Rakyat 887.6%) dan daerah lainnya 15.6%). Lampung 17.915 ton (60%) dengan negara tujuan.2%). sisanya sekitar 242.000 Ton (3. Sulawesi Barat 76. Sulawesi Tengah 137.737 Ha. cocoa butter. Daerah penghasil kakao dengan urutan sebagai berikut.000 ton).9%).448 Ha dengan produksi biji kakao sekitar 577.976 Ha dan Perkebunan Swasta 54. Menurut usahanya perkebunan kakao Indonesia dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu. dan Singapura. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 • •  .085 ton diolah di dalam negeri yang menghasilkan cocoa liquor.9%). USA.000 ton per tahun.8 %). Tiga besar negara penghasil kakao sebagai berikut. Sulawesi Utara 21.BAB I PENDAHULUAN A.735 Ha.

000-1500 Kg/ha. • • B. Biji kakao Indonesia memiliki keunggulan melting point Cocoa Butter yang tinggi. cocoa cake. cocoa butter. namun apabila diolah di dalam negeri menjadi kakao olahan (cocoa liquor. dan panen) yang dikelola secara lebih baik dan benar maka tidak menutup kemungkinan produktivitasnya bisa ditingkatkan menjadi 1. akan mempunyai nilai yang lebih tinggi serta menyerap tenaga kerja. Pengelompokan Industri Kakao Industri Kakao Indonesia mempunyai peranan penting di dalam perolehan devisa negara dan penyerapan tenaga kerja.• Dengan perbaikan planting management (budidaya tanaman. karena industri ini memiliki keterkaitan yang luas baik ke hulu maupun ke hilirnya. dan cocoa powder).2014 . karena memiliki keterkaitan yang luas baik ke hulu (petani kakao) maupun ke hilirnya (intermediate industry/grinders). dan penggunaan coklat untuk industri makanan dan minuman secara luas. kue. Berdasarkan data yang ada. industri makanan berbasis coklat (roti. Industri kakao Indonesia kedepan memiliki peranan penting khususnya dalam perolehan devisa negara dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu industri hilir olahan kakao juga telah berkembang di Indonesia seperti industri cokelat. serta tidak mengandung pestisida dibanding biji kakao dari Ghana maupun Pantai Gading. pada tahun 2008 jumlah industri pengolahan kakao di Indonesia sebanyak 16 (enam belas) perusahaan dan  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . confectionary/kembang gula cokelat). Disamping memberikan pendapatan bagi petani melalui penjualan biji kakao. pemeliharaan/perawatan.

confectionary/kembang gula cokelat).kue. Adapun pengelompokkan Industri Kakao dan Coklat Olahan terdiri dari: Industri Hulu : buah coklat. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  .yang masih berjalan 3 (tiga) perusahaan dengan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang produk pengolahaan sekitar 61% dari total kapasitas terpasang. liquor (MASS) Industri Antara : Cake dan Fat. cocoa liquor. biji coklat. industri makanan berbasis coklat (roti. cocoa cake. cocoa butter. dan cocoa powder (kakao olahan) Industri Hilir : Industri cokelat.

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

B.BAB II SASARAN A. 4. 6. 2. 5. Meningkatnya investasi di bidang industri kakao. Peningkatan ekspor produk kakao olahan rata-rata 16 persen per tahun. Pengendalian ekspor biji kakao kering sebagai bahan baku industri kakao di dalam negeri. 4. Berkembangnya industri pengolahan kakao secara terpadu di Indonesia. 3. 3. Peningkatan Biji Kakao Fermentasi dari 20 persen menjadi 80 persen. Pengembangan (modifikasi) teknologi pengolahan kakao. 5. 2. Terjaminnya infrastruktur seperti peti kemas. Jangka Menengah (2010 – 2014) 1. Optimalisasi kapasitas terpasang industri kakao olahan di dalam negeri dari 40 persen menjadi 80 persen. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  . Peningkatan pasokan bahan baku biji kakao fermentasi untuk industri dalam negeri. energi listrik dan transportasi. Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. Dicapainya diversifikasi produk kakao olahan. Terbangunnya sentra produksi baru di luar Sulawesi yaitu antara lain di Sumatera Barat dan Lampung.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Pembinaan industri kakao terutama dalam hal mutu dan produksi. Visi dan Arah Pengembangan Industri Kakao Visi Menjadi negara penghasil biji kakao dan pengekspor utama kakao olahan. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 • •  . Dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster industri kakao. 2008 dan 2009. Misi • • • • • Meningkatkan nilai tambah biji kakao Meningkatkan mutu dan produktivitas biji kakao Meningkatkan utilisasi kapasitas terpasang Meningkatkan ekspor produk coklat olahan Meningkatkan penguasaan teknologi dan mutu SDM B. Tahapan Implementasi • Mengadakan workshop pengembangan klaster industri kakao di daerah mulai tahun 2006. 2007. Indikator Pencapaian 2009 2014 : tercapainya mutu biji kakao yang lebih baik dan telah terfermentasi : tercapainya diversifikasi produk kakao olahan C.

termasuk harmonisasi tarif. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kakao Bubuk Secara Wajib melalui Peraturan Menperind No. bahwa industri pengolahan kakao merupakan salah satu industri prioritas yang didorong pengembangannya di dalam negeri. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan R & D di bidang budidaya. Pemberlakuan Bea Keluar (BK) Atas Biji Kakao diperlukan dalam rangka pengendalian ekspor PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Sementara ini ketentuan tersebut dinotifikasikan kepada Badan perdagangan Dunia (WTO). dalam upaya meningkatkan kinerja industri pengolahan kakao diperlukan berbagai kebijakan pemerintah. Promosi pemasaran dalam dan luar negeri. D. Peningkatan kemitraan antara industri inti dan industri pendukung dan industri terkait. pasca panen dan pengolahan. antara lain : • Menciptakan iklim usaha yang kondusif. ditetapkan tanggal 4 Mei 2009 dan berlaku 6 (enam) bulan sejak ditetapkan (4 November 2009).• Melakukan pemberian bantuan mesin/alat bagi industri pengolahan kakao ke daerah-daerah untuk meningkatkan pengembangan industri olahan kakao. 45/M-IND/PER/5/2009. insentif investasi dan mengurangi pungutan-pungutan yang memberatkan. Kebijakan Sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Presiden No.2014 • • • • • •  . Promosi investasi dan meningkatan kerjasama di forum internasional.

1172/IAK/2008 tanggal 26 September 2008. dan terakhir melalui surat Dirjen IAK kepada Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan No. namun sampai saat ini masih dalam proses di Departemen Keuangan. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  . 452/M_IND/10/2005 tanggal 26 Oktober 2005.dan bahan baku bagi industri pengolahan kakao di dalam negeri telah diusulkan oleh Menperind kepada Menteri Keuangan melalui Surat Menperind No.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Membangun pusat-pusat pengembangan industri kakao di sentra-sentra produksi.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • • • • Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. Optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri. B. Mengembangkan teknologi pengolahan kakao. Diversifikasi produk kakao dan coklat olahan. teknologi. Meningkatkan kompetensi SDM. promosi dan investasi). Meningkatkan kerjasama internasional (pasar. Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) • • • Mengembangkan produk-produk kakao non pangan. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatkan mutu biji kakao fermentasi. Promosi industri hilir/turunan dari produk kakao.

3. Optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri. Susu). Sirup. pengenalan dan penerapan GMP dan HACCP dalam rangka peningkatan mutu produk 3. Kosmetika Sasaran Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Penyediaan tenaga listrik bagi sentra-sentra industri kakao untuk pelatihan Sumber daya Manusia Bidang d.. Penguatan struktur industri berbasis kakao. pestisida. Penyediaan Balai-Balai atau Unit Pelayanan Teknis c. Terjaminnya infrastruktur seperti peti kemas. Meningkatnya investasi di bidang industri pengolahan cokelat Sumatera Barat dan Lampung 5. Membangun produk yang memiliki daya saing tinggi Infrastruktur : b. 7. energi listrik dan trasportasi 9. Meningkatkan mutu biji kakao fermentasi.Gambar 1. Cocoa Butter. Berkembangnya industri pengolahan kakao secara terpadu di Indonesia 7. Kerangka Pengembangan Industri Kakao Kakao Kerangka Pengembangan Industri 7 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Penciptaan lapangan usaha industri pengolahan kakao melalui promosi investasi disentra kakao. Meningkatkan peran litbang di bidang pengolahan dan b. Pengembangan pasar domestik : penyertaan para pengusaha pada kegiatan promosi/pameran dalam negeri dan internasional. Mengembangkan teknologi pengolahan kakao. Dicapainya diversifikasi produk kakao olahan 6. Diversifikasi produk kakao dan coklat olahan. Cocoa Cake Peralatan. Optimalisasi kapasitas terpasang industri kakao olahan di dalam negeri dari 40 persen menjadi 80 persen 2. Peningkatan ekspor produk kakao olahan rata-rata 16 persen per tahun 8.2014 Industri Inti Industri Pendukung Industri Terkait Industri Cocoa Liquor. Peningkatan pasokan bahan baku biji kakao fermentasi untuk industri dalam negeri 1. Mengembangkan produk-produk kakao non pangan. Meningkatkan ketrampilan petani kakao a. melalui : Sosialisasi teknologi terpadu proses pengolahan kakao. Kemasan. 5. perkebunan kakao.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 113/M-IND/PER/10/2009  Gambar 1. Unsur Penunjang SDM : Pasar: a. Deregulasi kebijakan Pemerintah Pusat Strategi 1. Membangun produk dapat diminati oleh pasar dalam negeri c. bibit. peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM. penciptaan iklim investasi dan usaha yang menarik insentif fiskal dan administrasi serta jaminan keamanan berusaha 2. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Meningkatkan kerjasama internasional (pasar. 1. promosi dan investasi). Wajib mutu biji kakao fermentasi untuk ekspor 2. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) 2. Membangun pusat-pusat pengembangan industri kakao di sentra-sentra 4. teknologi. Terbangunnya sentra produksi baru di luar Sulawesi yaitu antara lain di 4. pengembangan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi termasuk kakao non pangan. Pembangunan transportasi darat c. Industri Makanan & Minuman Berbasis Coklat dan Kembang Gula dan dan Cocoa Powder Bahan Makanan Tambahan (Gula. Meningkatkan kompetensi SDM. 3. 2. Diversifikasi pasar eksport produk kakao olahan pengolahan kakao . 6. Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. Promosi industri hilir/turunan dari produk kakao. produksi. pupuk. Pembangunan sarana pelabuhan pengemasan pasar internasional b. Peningkatan Biji Kakao Fermentasi dari 20 persen menjadi 80 persen Sasaran Jangka Panjang (2010 – 2025) 3. Pengembangan (modifikasi) teknologi pengolahan kakao 3. Membangun Merk Produk Industri Pengolahan Kakao Nasional di a.

DinasPertanian /Perkebunan Buah Kakao Perkebunan Kakao Biji kakao COKLAT OLAHAN DAN MAKANAN BERBASIS COKLAT NON PANGAN Oleo chemical fatty acid. Essense. Kerangka Keterkaitan Industri  8 .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 113/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Deperin. LRPI.Liquor . Perbankan Assosiasi: APIKCI. AIKI. Deptan. Depdag Forum Daya Saing Working Group Fasilitator Klaster Pemda: Dinas Ind. PUSLIT KOKA JEMBER JASA: Transportasi.Cake . Kerangka Keterkaitan Industri Kakao Kakao 2.ASKINDO.Butter .Powder Eksportir PASAR LUAR NEGERI Mesin dan Peralatan Distributor PASAR DALAM NEGERI Lembaga Litbang/PT BBIA. Pektin Fermentasi kakao INTERMEDIATE PRODUCT Cocoa . APKAI LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 113/M-IND/PER/10/2009 Gambar Gambar 2.

/ Industri Baristand Makassar Asosiasi Prop Kab/ Kota Dep. teknologi. Meningkatkan kerjasama internasional (pasar. 4. Prin Dep. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Kakao Tabel 1. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku . Diversifikasi produk kakao dan coklat olahan. 9 . Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Industri Kakao 0 Pemerintah Pusat WG PT Daya Saing KRT BPPT Perush. 7. Peningkatan mutu biji kakao fermentasi. promosi dan investasi. Tan Dep. 5. Pengembangan teknologi pengolahan kakao.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 113/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Meningkatkan kompetensi SDM. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Meningkatkan iklim usaha yang menunjang pertumbuhan kakao dan coklat di daerah. Dag Pemda Swasta PT & Litbang Forum Fasilitasi Klaster O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Rencana Aksi 2004 – 2009 1. Optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri.2014 8. 2. Keu Dep. 6. 3.

industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri elektronika dan telematika. industri alat angkut.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : a. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri berbasis agro. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009  .

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan kelapa. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . c.2014 . Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Bahwa industri pengolahan kelapa merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri pengolahan kelapa. 2. 3. Mengingat : 1.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 6. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. 8. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran 5.

Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987); 9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007;

10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006; 11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007; 12. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional; 13. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian; 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan kelapa Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran, strategi dan kebijakan, serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan kelapa untuk periode 5 (lima) tahun. Industri Pengolahan kelapa adalah industri yang terdiri dari: a. Industri Minyak Kasar (Minyak Makan) dari Nabati dan Hewan (KBLI 15141); b. Industri Minyak Goreng dari Minyak Kelapa (KBLI 15143); c. Industri Minyak Goreng dari Minyak Kelapa Sawit (KBLI 15144); d. Industri Kopra (KBLI 15318); e. Industri Makanan yang Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain (KBLI 15499).
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009

2. 

3.

Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Swasta, Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pasal 2

4.

(1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya; b. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan kelapa, baik pengusaha maupun institusi lainnya, khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan kelapa ataupun sektor lain yang terkait; c. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor, antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota); dan 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

d. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini, yang pada akhirnya diharapkan untuk mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan kelapa dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS
Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi

PRAYONO

SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Presiden RI; 2. Wakil Presiden RI; 3. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu; 4. Gubernur seluruh Indonesia; 5. Bupati/Walikota seluruh Indonesia; 6. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009

PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA

BAB I BAB II

PENDAHULUAN SASARAN

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI

MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS
Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi

PRAYONO

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

89 juta hektar pada tahun 2005. nata de coco. desiccated coconut.3 ton/Ha.BAB I PENDAHULUAN A. memproduksi kelapa 3. luas tanaman kelapa meningkat dari 1.66 juta hektar pada tahun 1969 menjadi 3. Industri turunan kelapa masih dapat dikembangkan dengan melakukan diversifikasi produk olahan antara lain: oleo kimia. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Kelapa • Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar di dunia dengan luas areal 3. virgin oil. Selama 34 tahun. namun produktivitas pertanaman denderung semakin menurun (tahun 2001 ratarata 1. Meskipun luas areal meningkat.2 juta ton setara kopra. tahun 2005 rata-rata 0. pemeliharaan seadanya atau tidak sama sekali dan tidak pada skala komersial. Permintaan produk-produk berbasis kelapa masih terus meningkat baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri.7 ton/Ha). dan lain-lain. • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009  . Perkebunan kelapa rakyat dicirikan memiliki lahan yang sempit. Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah di bandingkan dengan India dan Srilangka.88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat).

minyak kelapa. kopra (kopra hitam dan putih). kelapa adalah tanaman yang dari semua bagiannya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. seperti kelapa segar. seperti tempurung kelapa.B. Industri Hilir Industri kelapa Hilir adalah industri kelapa yang mengolah bahan yang dihasilkan oleh industri kelapa antara menjadi berbagai produk akhir yang digunakan oleh industri seperti karbon aktif. namun perkembangan industri pengolahan berbasis kelapa di Indonesia dimulai dengan pengembangan industri kopra sebagai bahan baku industri minyak kelapa. Copra Meal. 3. Meskipun seluruh bagian tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan manusia. Industri Antara Industri kelapa antara merupakan industri kelapa yang memproses bahan baku menjadi produkproduk turunan. Desiccated Coconut. Industri Hulu Industri kelapa hulu merupakan industri kelapa paling hulu dalam rangkaian industri kelapa.2014 . Gambaran dari pemanfaatan bagian-bagian tanaman kelapa dimaksud adalah sebagaimana tercantum sebagai berikut: 1. coconut cream/milk dan lain-lain.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 2. Pengelompokan Industri Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Sebagaimana diketahui.

BAB II SASARAN
A. Jangka Menengah (2010 – 2014)
1. Diprosesnya kelapa menjadi produk olahan kelapa yang mempunyai nilai tambah tinggi; 2. Produk sudah mengacu pada standardisasi seperti SNI, CODEX; 3. Pengembangan (modifikasi) teknologi pengolahan kelapa; 4. Pencegahan ekspor kelapa bulat (belum diolah); 5. Peningkatan utilitas kapasitas produksi pengolahan kelapa rata-rata 5% per tahun; 6. 8. 9. Terjaminnya ketersediaan bahan baku dan penolong; Peningkatan ekspor produk pengolahan kelapa ratarata 5% per tahun; Terbangunnya citra merk Indonesia di pasar internasional; 7. Penyerapan tenaga kerja;

10. Penyebaran sentra produksi di luar Sulawesi Utara dan Riau; 11. Terjaminnya infrastruktur seperti peti kemas, energi listrik dan trasportasi; 12. Peningkatan iklim investasi; 13. Deregulasi kebijakan Pemerintah Pusat.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

B. Jangka Panjang (2015 – 2025)
1. Terbangunnya sentra produksi baru di luar Riau dan Sulawesi Utara yaitu antara lain di Kalimantan Barat dan Lampung; 2. Dicapainya diversifikasi produk olahan kelapa; 3. Berkembangnya industri pengolahan kelapa secara terpadu di Indonesia. 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN
A. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa
Visi untuk mewujudkan industri minyak kelapa yang berdaya saing. Strategi dan kebijakan penegmbangan industri perkelapaan antara lain: • Peningkatan pengelolaan permintaan (penetrasi pasar, diversifikasi produk, pengembangan jalur distribusi, quick response kepada konsumen); Peningkatan produksi dan teknologi (supply chain management, manajemen sumber daya); Teknologi informasi; Peningkatan keterampilan, profesionalisme dan kompetensi (pengembangan dan perencanaan SDM); Strategi pemasaran melalui promosi yang intensif.

• • • •

B. Indikator Pencapaian
Posisi industri minyak goreng pada tahun 2004 berjumlah 60 unit usaha, tenaga kerja yang terserap sebanyak 2.525 orang, nilai investasi Rp. 129.332 juta, kapasitas 857.235 ton, produksi 415.759 ton sedangkan posisi industri minyak goreng pada tahun 2008 berjumlah 72 unit usaha, tenaga kerja yang terserap sebanyak 2.725 orang, nilai investasi Rp. 187.622 juta, kapasitas 1.049.683 ton dan produksi mencapai 545.835 ton.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

C. Tahapan Implementasi
• Melakukan workshop pengembangan klaster pengembangan industri pengolahan kelapa di Propinsi Sulawesi Utara tahun 2006, 2007, 2008 dan 2009; Pelaksanaan Workshop melibatkan stakeholder yang terkait dalam rangka sosialisasi klater industri kelapa; Pembinaan industri pengolahan kelapa meliputi peningkatan mutu dan standardisasi.

• 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI
A. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014)
• • • • • • Mengintegrasikan hasil kebun kelapa rakyat untuk bahan baku industri yang dapat diandalkan; Optimalisasi pemanfaatan bahan baku; Promosi investasi; Meningkatkan mutu kopra dan minyak kelapa; Meningkatkan kerjasama multilateral melalui forum Asian and Pacific Coconut Community (APPC); Membangun Balai Besar Industri Pengolahan Kelapa (indikasi di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku dan Papua).

B. Rencana Aksi Jangka Panjang (2015 – 2025)
• • Pengembangan produk-produk coco-chemical; Berkembangnya industri hilir/turunan dari produk coco-chemical.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009
Industri Pendukung 

- Industri Pemasok Teknologi dan Mesin Produksi : (mesin pengolah minyak kelapa, tungku), - Industri Pemasok Bahan Baku : (Bibit, pupuk, pestisida, perkebunan kelapa) - Industri Pemasok bahan Penolong : (bleaching earth, BTP Sekuisteran, kemasan)
Industri Terkait Desicated Coconut, VCO, Arang Tempurung, Santan, Sabut dan Olahannya, Tepung Kelapa, Bungkil Unsur Penunjang SDM : a. Meningkatkan ketrampilan petani kelapa b. Meningkatkan peran litbang di bidang pengolahan dan pengemasan c. Penyediaan Balai-Balai atau Unit Pelayanan Teknis untuk pelatihan Sumber daya Manusia Bidang pengolahan kelapa Infrastruktur : a. Pembangunan sarana pelabuhan b. Pembangunan transportasi darat

Industri Inti Industri kopra dan industri minyak goreng dari minyak kelapa

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Sasaran Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; 2. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa; Sasaran Jangka Panjang (2010 – 2025) 3. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri; 1. Mengembangkan industri pengolahan kelapa non pangan; 4. Meningkatkan mutu produk industri pengolahan kelapa; 2. Membangun pusat-pusat pengembangan industri pengolahan kelapa di sentra produksi. 5. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan; 6. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa; 7. Mengembangkan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien; 8. Meningkatkan kompetensi SDM. Strategi 1. Penguatan struktur industri berbasis kelapa, penciptaan iklim investasi dan usaha yang menarik insentif fiskal dan administrasi serta jaminan keamanan berusaha 2. Peningkatan utilitas kapasitas industri/perusahaan yang telah ada 3. Penciptaan lapangan usaha industri pengolahan kelapa melalui promosi investasi disentra bahan baku kelapa, melalui : Sosialisasi teknologi terpadu proses pengolahan kelapa, peningkatan pengetahuan dan kemampuan SDM, pengenalan dan penerapan GMP dan HACCP dalam rangka peningkatan mutu produk 4. Pengembangan pasar domestik : penyertaan para pengusaha pada kegiatan promosi/pameran dalam negeri dan internasional, pengembangan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi termasuk cocochemical Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku; 2. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa; Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) 3. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri; 1. Pengembangan industri pengolahan kelapa non pangan; 4. Peningkatan mutu produk industri pengolahan kelapa; 2. Pembangunan pusat-pusat pengembangan industri pengolahan kelapa di sentra 5. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan; produksi. 6. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa; 7. Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien; 8. Meningkatkan kompetensi SDM.

Pasar: a. Membangun produk yang memiliki daya saing tinggi b. Membangun Merk Produk Industri Pengolahan Kelapa Nasional di pasar internasional c. Membangun produk dapat diminati oleh pasar dalam negeri d. Diversifikasi pasar eksport produk kelapa

Gambar 1. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Gambar 1. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa

6

IPB. Fasilitator Klaster Pemda: Dinas Ind.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Deperin. UGM. Asam Phosphat Batang Kelapa Pasar Luar Negeri Importir Air Kelapa Sabut Kelapa Pasar Dalam Negeri LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 114/M-IND/PER/10/2009 Jasa: Transportasi Lembaga Litbang/PT: BBIA. ASRIM. Depdag. Dinas Pertanian Virgin Oil Mesin & Peralatan Daun Kelapa Minyak Goreng Bio Diesel Nata de Coco Asam Cuka Santan Bubuk Coco Fiber Karbon Aktif Bahan Bangunan Tempurung Kelapa Kerajinan Perabot Rumah Bahan Penolong: Buah Kelapa Minuman Kosmetik Makanan Obat Pengolahan Air Eksportir NaOH. Deptan Forum Daya Saing. Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa  7 . Kerangka Keterkaitan Pengembangan Industri Pengolahan Kelapa Gambar 2. ASMNDO. Baristand.. Bleaching Earth. Working Group. APKASI Gambar 2. BBTK Asosiasi: AIMMI. GAPMMI.

Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa. Prin Dep. Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien. 5. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku. Peningkatan mutu produk industri pengolahan kelapa. 7. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kelapa Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum 00 WG PT Balai Kab/ Kota KRT BPPT Prop. 3. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Tan O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Rencana Aksi 2004 – 2009 Fasilitasi Klaster 1.2014 6. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kelapa Tabel 1. 8./ Industri Komunikasi Asosiasi Dep. Perush. Dag Dep. 2. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 4. Meningkatkan kompetensi SDM. KUKM Dep. 8 .

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . industri berbasis agro. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri elektronika dan telematika.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri alat angkut. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. c. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.2014 . Bahwa industri Pengolahan Kopi merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Pengolahan Kopi. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). 3.b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kopi. 2. Mengingat : 1. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108.

8. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). PeraturanPemerintahNomor38Tahun2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737).Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. 6. Tambahan Lembaran PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan.

Negara 4987). Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. 11. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Republik Indonesia Nomor 9.2014 . Fungsi. 13. Tugas. 12. 10.

3. 4. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Swasta. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Pengolahan Kopi untuk periode 5 (lima) tahun. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kopi Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. 2. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Industri Pengolahan Kopi industri yang terdiri dari Industri Pengolahan Teh dan Kopi (KBLI 15491).MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI. strategi dan kebijakan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Daerah.

Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan Kopi. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. b. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Kopi ataupun sektor lain yang terkait. baik pengusaha maupun institusi lainnya. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. c. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.2014 . dan d.Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).

Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Kopi dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 . Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1).

Wakil Presiden RI. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 5. 3. Presiden RI.2014 . Gubernur seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 2. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 6. 4.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KOPI BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 0 .

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Kelompok Industri Hilir • • • • Industri Roasted Coffee Industri kopi bubuk Industri kopi instan Industri kopi dekafein LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . industri pengolahan kopi juga membutuhkan bahan tambahan seperti gula. serta bahan penolong seperti bahan kemasan (packing). jagung. Kopi Arabika digunakan sebagai sumber citra rasa. Jenis diversifikasi produk kopi meliputi kopi bubuk.BAB I PENDAHULUAN A. minuman kopi dalam botol dan produk turunan lainnya. tetapi memiliki body yang lebih lemah dibandingkan kopi Robusta.1. B. ekstrak kopi. kopi instan. pallet. Pohon industri pengolahan kopi seperti ditunjukkan pada Gambar I. Kopi Arabika memiliki citra rasa yang lebih baik. Pengelompokan Industri Pengolahan Kopi 1. krat dan lain-lain. Selain biji kopi. kopi rendah kafein (decaffeinated coffee). kopi biji matang (roasted coffee). sedangkan kopi Robusta digunakan sebagai campuran untuk memperkuat body. kopi mix. kopi tiruan. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Kopi Industri pengolahan kopi pada umumnya menggunakan bahan baku biji kopi Arabika dan Robusta dengan komposisi perbandingan tertentu. dan lain-lain. kopi celup.

Pohon industri pengolahan kopi kopi Gambar I. Pohon industri pengolahan  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .1.1.• • • Industri minuman kopi Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Industri kopi Mix Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 Industri minuman kopi beraroma Gambar I.

industri dan perdagangan kopi/stake-holders didaerah Lokus Lampung dari 3 (tiga) kemitraan menjadi 8 (delapan) kemitraan. 2. Meningkatnya mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan antara lain: teknologi proses (roasting). Meningkatnya jumlah daerah kajian dan identifikasi masalah dari 3 (tiga) daerah menjadi 7 (tujuh) daerah. Meningkatnya jumlah kegiatan forum komunikasi industri pengolahan kopi. Meningkatnya jumlah kemitraan antara petani. Terfasilitasinya kegiatan misi dagang dan promosi ekspor utamanya dinegara pasar non tradisional. 6. Meningkatnya keikutsertaan forum internasional pada Sidang Dewan Kopi Internasional agar dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam ICO. Jangka Panjang (2010 – 2020) 1. 5. B. didaerah potensi kopi dari 9 menjadi 11 kali kegiatan forum. 4.2 persen menjadi 15 persen terhadap kopi robusta. 7. Jangka Menengah (2010 -2014) 1. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  .BAB II SASARAN A. Tersusunnya Standar Nasional Indoneisa (SNI) kopi dekafein dan terwujudnya revisi SNI kopi instan. 3. teknologi produk (diversifikasi) dan mutu kemasan didaerah Lokus Lampung dari 10 unit menjadi 12 unit. Meningkatnya produksi biji kopi Arabica dari 8.

4.2014 . Menurunnya tarif bea masuk komoditi kopi Indonesia di Uni Eropa dari 3.7 juta (2008) menjadi USD 24. Toraja Coffee.2. 3. Berdirinya industri kopi non pangan/industri farmasi.20 juta tahun 2025. sebanyak 4 (empat) unit sampai dengan tahun 2025.4 persen menjadi 0 persen.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Lampung Coffee) di pasar global. Berkembangnya industri pengolahan kopi dari 79 tahun 2009 menjadi 90 unit tahun 2025. Meningkatnya kemampuan industri pengolahan kopi yang berorientasi ekspor. 6. Terbangunnya citra merk kopi Indonesia sesuai indikasi geografis (Kintamani Coffee. Lintong Coffee. 5. sehingga ekspor naik dari USD 58.

B. Pengamanan kepentingan Indonesia dalam forum internasional. Memberikan penyuluhan pasca panen. Penyusunan dan revisi SNI kopi olahan. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Visi: Menjadikan produk industri kopi Indonesia yang berdaya saing tinggi dan menjadi icon dunia. Meningkatnya kemitraan antara petani. 7. 5. Peningkatan mutu kopi dengan jalan: a.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Memfasilitasi kegiatan misi dagang dan promosi ekspor. 6. 8. Kajian dan identifikasi permasalahan pada pengembangan industri pengolahan kopi. industri dan perdagangan kopi/stakeholders. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . Arah Pengembangan Arah Kebijakan Jangka Pendek dan Menengah Industri Pengolahan Kopi s. Tahun 2010. Pemberdayaan forum komunikasi industri pengolahan kopi. 1. Peningkatan mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan. 2.d. 4. 3.

Pengembangan R & D dalam inovasi dan diversifikasi produk pengolahan kopi Indonesia.4% menjadi 0%. Peningkatan Ekspor kopi baik dalam bentuk biji maupun kopi olahan yang memiliki nilai tambah serta peningkatan pasar domestik. 8. 4. 1. Disinsentif peluang ekspor kopi mutu rendah dengan pengetatan/pengawasan mutu kopi ekspor oleh PPSMB. Kebijakan Pemerintah dalam upaya mendorong pihak perbankan untuk membantu permodalan di sektor industri pengolahan kopi. Memaintain pasar Internasional bagi kopi biji Indonesia dan Penetrasi pasar baru Internasional untuk kopi olahan Indonesia. Peningkatan produksi biji kopi Arabica. Melakukan negosiasi melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Uni Eropa dalam upaya penurunan tarif bea masuk komoditi kopi Indonesia di Uni Eropa dari 3. HACCP dan ISO series. Pengembangan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi). perdagangan. 10. maupun produksi. 5. 9.b. Kemandirian Harga kopi Nasional yang tidak tergantung kepada Harga Kopi di Pasaran Internasional. Arah Kebijakan Jangka Panjang Industri Pengolahan Kopi s. 2. Tahun 2025.2014 . 6. 3. Penerapan GMP. 7. Mengembangkan kelembagaan klaster dan tumbuhnya kemitraan di daerah.d.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

9. sehingga terjadi pemerataan lapangan kerja. 11. Pengembangan Teknologi Pengolahan Kopi (Machinary) yang dapat menghasilkan kopi dengan cita rasa baik. Pemerataan penyebaran Industri Pengolahan kopi dan turunannya. diseluruh wilayah Indonesia. 10. 12. Peningkatan Produksi dan Mutu biji kopi Robusta dan Arabika. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . Pengembangan & Pengelolaan Areal Tanaman Kopi Specialty secara modern.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Mengembangkan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi). Menerapkan SNI dalam inovasi dan diversifikasi produk pengolahan kopi Indonesia.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Meningkatkan kompetensi SDM. Rencana Aksi Jangka Panjang (2014 – 2020) • • • • • • • • Menerapkan GMP. Mengembangkan litbang turunan kopi non-pangan. Meningkatkan kualitas pengemasan produk kopi. Meningkatkan ekspor dan pasar domestik. Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • • • Meningkatkan mutu dan diversifikasi produk olahan kopi. Mendorong peningkatan produksi biji kopi Arabica. Melakukan pendalaman struktur industri kopi. HACCP dan ISO series. Mengamankan kepentingan Indonesia dalam forum internasional. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . Melakukan diversifikasi produk olahan kopi (antara lain “coffee blend”). B. industri dan perdagangan kopi/stake holders. Meningkatkan kemitraan antara petani. Meningkatkan kualitas dan kompetensi SDM.

3. Unsur Penunjang PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . dari USD 9. Meningkatkan mutu dan diversifikasi produk olahan kopi. Mengembangkan litbang turunan kopi non-pangan. b. Meningkatkan kemitraan antara petani. Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 Strategi Sektor : Diversifikasi produk pengolahan kopi. 7. HACCP dan ISO pada industri pengolahan kopi. 3. 7. . Mengamankan kepentingan Indonesia dalam forum internasional. Pengembangan cepat (2010 – 2015): Melakukan pengembangan teknologi diversifikasi produk dan teknologi desain kemasan. d. memodernisasi teknik budidaya tanaman kopi untuk memperoleh produktifitas tinggi. Pendalaman struktur industri kopi. Meningkatkan akses pasar internasional melalui misi dan promosi dagang. HACCP dan ISO series. b. Meningkatkan kemampuan R & D pada industri pengolahan kopi. sebanyak 4 (empat) unit tahun 2025. 8 SDM: a. 1. Meningkatnya jumlah daerah kajian dan identifikasi masalah dari 3 (tiga) daerah menjadi 7 (tujuh) daerah. Meningkatkan kelancaran distribusi dan pemasaran produk kopi olahan. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2015 – 2025). Meningkatnya keikut sertaan forum internasional pada Sidang Dewan Kopi Internasional agar dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam ICO. Meningkatnya jumlah kemitraan antara petani. Memanfaatkan seoptimal mungkin hasil R & D dari kalangan penelitian tentang perkopian. 4.0 juta meningkat menjadi USD 24. 6. Meningkatkan kemampuan managerial perusahaan industri pengolahan kopi. 1. Meningkatkan kemampuan GMP. 3. 2. 5. c. 6. Meningkatnya kemampuan industri pengolahan kopi yang berorientasi ekspor. Periodisasi Peningkatan Teknologi:: a. industri dan perdagangan kopi/stake-holders didaerah Lokus (Lampung) dari 3 (tiga) kemitraan menjadi 8 (delapan) kemitraan. Menerapkan GMP. Teknologi: Penguasaan teknologi roasting yang menghasilkan roasted coffee mutu tinggi. Menurunnya tarif bea masuk komoditi kopi Indonesia di Uni Eropa dari 3. Matang (2016 – 2025): Industry & technology upgrading. Inisiasi (2004 – 2009): Peningkatan kualitas biji kopi (coffee beans) sebagai produk pertanian dengan memanfaatkan seoptimal mungkin teknologi maju. c.4 persen menjadi 0 persen. 2. didaerah potensi kopi dari 9 menjadi 11 kali kegiatan forum.2014 Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014). c. Pasar: a. 1. 4. Meningkatnya mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan didaerah Lokus (Lampung) dari 10 unit menjadi 12 unit. Mendorong peningkatan produksi biji kopi Arabica. 1. e. Meningkatkan kompetensi SDM. 2. 5. Mengembangkan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi). Terbangunnya merk kopi Indonesia sesuai indikasi geografis di pasar global. Meningkatkan ekspor dan pasar domestik. 2. mendorong tumbuhnya modifikasi teknologi pengolahan kopi. Menyusun konsep pemasaran bersama anggota klaster. Menerapkan SNI dalam inovasi dan diversifikasi produk pengolahan kopi Indonesia.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 0 Sasaran Jangka Panjang (2015 – 2025). Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2014). 4. pengembangan R & D produk dan kemasan dan pengembangan ekspor. b. Berdirinya industri kopi non pangan/industri farmasi. Tersusunnya SNI kopi dekafein dan terwujudnya revisi SNI kopi instan. industri dan perdagangan kopi/stake holders. b. Berkembangnya industri pengolahan kopi dari 77 unit tahun 2007 menjadi 90 unit tahun 2025. 5. Meningkatnya jumlah kegiatan forum komunikasi industri pengolahan kopi. Infrastruktur: a. Menyederhanakan prosedur ekspor dan memfasilitasi pelaksanaan ekspor. Meningkatkan konsumsi domistik produk kopi olahan. Terfasilitasinya kegiatan misi dagang dan promosi ekspor. 4.20 juta tahun 2025. 3. pelabuhan/terminal dan sarana transportasi dalam upaya meningkatkan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi produk jadi. Membangun akses jalan.

Pasar: a. Memanfaatkan seoptimal mungkin hasil R & D dari kalangan penelitian tentang perkopian. Meningkatkan kemampuan R & D pada industri pengolahan kopi. b. Pendalaman struktur industri kopi. Meningkatkan akses pasar internasional melalui misi dan promosi dagang. Menyederhanakan prosedur ekspor dan memfasilitasi pelaksanaan ekspor. c. HACCP dan ISO pada industri pengolahan kopi. Inisiasi (2004 – 2009): Peningkatan kualitas biji kopi (coffee beans) sebagai produk pertanian dengan memanfaatkan seoptimal mungkin teknologi maju. memodernisasi teknik budidaya tanaman kopi untuk memperoleh produktifitas tinggi. b. Meningkatkan kompetensi SDM. Infrastruktur: a. Meningkatkan kemampuan managerial perusahaan industri pengolahan kopi. b. pelabuhan/terminal dan sarana transportasi dalam upaya meningkatkan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi produk jadi. Meningkatkan kelancaran distribusi dan pemasaran produk kopi olahan. Gambar 1. Menyusun konsep pemasaran bersama anggota klaster. Gambar 1. c. Matang (2016 – 2025): Industry & technology upgrading. b. 7. Membangun akses jalan. e. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Kopi 9 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatkan kemampuan GMP. d. Pengembangan cepat (2010 – 2015): Melakukan pengembangan teknologi diversifikasi produk dan teknologi desain kemasan. Unsur Penunjang Periodisasi Peningkatan Teknologi:: a. Meningkatkan konsumsi domistik produk kopi olahan.6. SDM: a. c.

Dephub. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kopi Gambar 2. asuransi Asosiasi : AEKI. Depkeu. Periklanan. Pemerintah Pusat: Deperin. Fasilitator Klaster Pemda : Dinas Perindag.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009  Forum Komunikasi. Bahan Penolong/ Pengawet Distributor Pasar Dalam Negeri Kemasan Kopi non pangan (industri farmasi) Decafeinated coffee PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . BPOM. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kopi 10 . GAPMMI Lembaga Litbang/PT : BBIA. UGM.IPB. Depdag. ASRIM. Deptan.Working Group. Perbankan.2014 Decafeinated coffee kemasan kaleng Jasa : Transportasi. Dinas Pertanian. Dinas Perhub. BSN Kopi sangrai Kopi sangrai kemasan Bibit dan Pestisida Biji kopi Kopi instan Kopi sortasi Kopi mix Buah Kulit ari/tanduk Kopi mix kemasan sached Olahan Tradisional Kopi instant kemasan alm/kaleng Kopi bubuk Kopi bubuk Kemasan alm/kaleng Eksportir Pasar Luar Negeri Pupuk Kopi Mesin/ Peralatan Minuman kopi Minuman kopi kemasan botol Gula. Pusat Pengkajian Teknologi Pertanian Gambar 2.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 115/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. 8. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 7. Dag Dep. Peningkatan mutu produk industri pengolahan kelapa. KUKM Dep. Optimalisasi kapasitas industri pengolahan kelapa dalam negeri. Perush. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kelapa Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum Komunikasi Rencana Aksi 2004 – 2009 PT Balai Kab/ Kota KRT BPPT Prop. 4. Pengembangan teknologi pengolahan yang lebih maju dan efisien. 3. Tan Fasilitasi Klaster WG 1. Meningkatkan kemampuan industri mesin dan peralatan pengolah kelapa. Meningkatkan kompetensi SDM. Meningkatkan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan investasi dan perdagangan. Peran Pemangku Kepentingan Industri Pengolahan Kopi  8 ./ Industri Asosiasi Dep. Peningkatan jaminan pasokan bahan baku. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 6. 5. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 2.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 114/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Prin Dep. Diversifikasi produk industri pengolahan kelapa.

(3). (10).. PT Setia Unggul Mandiri (Sulsel). Bengkulu. Sulsel.).). PT Gunung Mas Lestari Jaya (Banten). (2). Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Gambar 3. 12 . Jatim. Jateng. Jatim. Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Kopi Aceh Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 115/M-IND/PER/10/2009 Sumut Sumbar Jambi Sumsel PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Lampung.. PT Santos Jaya Abadi (Jatim. Sulut Babel Kalsel Sulsel Sulteng Bali Gambar 3. (2). PT Aneka Coffee Industry (Jatim. Bali (1).). (3) dan daerah lain berjumlah 41 unit (usaha skala menengah). (2). DKI Jakarta (4). Lampung (3). Jumlah sentra : 77 unit pengolahan kopi skala menengah dan besar. Sumsel. (6). PT Nestle Indonesia (Lampung). Bali dan Sulsel (didasarkan atas potensi bahan baku). Sentra : Sebaran industri pengolahan kopi ternyata tidak selalu pada daerah penghasil biji kopi: Sumut. Sulut. Jabar.2014 Lampung DKI Banten Jateng Jatim Jabar DIY Lokasi pengembangan : Sumut. Perusahaan : PT Sari Incofood Corporation (Sumut. PT Putra Bhineka Perkasa (Bali).

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri elektronika dan telematika. Menimbang : a. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri alat angkut. industri berbasis agro. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Gula.b. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. c. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.2014  . Bahwa industri gula merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri gula. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421).

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 6. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). 8. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82.4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .

11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 12. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Fungsi.9. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007.2014 . 10. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. 13. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Tugas.

Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Gula Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Gula Pasir (KBLI 15421). Pemangku kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Pemerintah Daerah. Industri Gula Lainnya (KBLI 15423). 2. d. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . b. Industri Gula adalah industri yang terdiri dari: a. Swasta. serta program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Gula untuk periode 5 (lima) tahun.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA. Industri Gula Merah (KBLI 15422). c. strategi dan kebijakan. Industri Pengolahan Gula Lainnya selain Sirop (KBLI 15429) 3.

2014 . dan d. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Gula ataupun sektor lain yang terkait. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. c.4. yang pada akhirnya diharapkan untuk 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. b. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Gula.

mendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Gula dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

4. Gubernur seluruh Indonesia. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Presiden RI. 3. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 5. Wakil Presiden RI. 2.2014 .  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Bupati/Walikota seluruh Indonesia.Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 6.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

pengolahan. Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat dan industri yang saat ini masih terus menjadi masalah karena kekurangan produksi dalam negeri. Disamping itu prospek pasar gula di Indonesia cukup menjanjikan dengan konsumsi sebesar 4. luas lahan.2 – 4. relatif berumur teknis sudah tua. Pesatnya perkembangan kebutuhan gula sementara peningkatan produksi relatif belum seimbang menjadikan Indonesia sebagai importir gula baik untuk gula kristal mentah (raw sugar) maupun gula industri (refined sugar). • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . sementara kebutuhan terus meningkat. hamper semua PG-PG sangat tergantung pada petani tebu dan dengan lahan yang terbatas di Pulau Jawa. sehingga kurang produktif. keuangan/ perbankan dan transportasi. Ruang Lingkup Industri Gula • Indonesia potensial menjadi produsen gula dunia karena dukungan agroekosistem. Pengembangan industri gula (pengolahan tebu) harus dilakukan secara terpadu mulai dari perkebunan.60% pada tahun 2008). Sementara pabrik gula Rafinasi yang ada (8 pabrik) belum berproduksi secara optimal (utilisasi kapasitas sekitar 40% .Jawa. tenaga kerja. pemasaran dan distribusi yang didukung oleh pemangku kepentingan termasuk lembaga pendukung seperti litbang.BAB I PENDAHULUAN A. PG-PG yang berada di P. SDM.7 juta ton/tahun.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .B. Pengelompokan Industri Gula Industri gula di Indonesia terdiri dari beberapa industri yaitu 59 pabrik gula (PG) dan 8 pabrik gula rafinasi (PGR).

Jangka Panjang (2020 – 2025) 1. Meningkatnya produksi raw sugar dalam negeri.BAB II SASARAN A. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . Jangka Pendek (2010 – 2014) 1. Penghapusan dekotomi pasar gula rafinasi yang dapat pula dijual ke konsumen langsung. 4. Pemenuhan berbagai jenis gula dari produksi dalam negeri 2. Berhasilnya revitalisasi program pabrik gula melalui peningkatan mutu dan volume produksi gula putih. Ekspor gula setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi 3. Memberlakukan SNI wajib gula putih. 4. B. C. 3. Gula Kristal Rafinasi dan Raw Sugar). 2. Indonesia menjadi negara produsen gula yang mampu memasok kebutuhan negara-negara lain di Asia Pasifik. Jangka Menengah (2015 – 2020) 1. Tercapainya swasembada gula nasional tahun 2014 (Gula Putih. Restrukturisasi teknologi proses pada Industri gula sesuai perkembangan yang terjadi.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

B. • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  .Jawa Terpenuhinya kebutuhan gula konsumsi dan industri oleh industri gula dalam negeri. berdaya saing dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Visi dan Arah Pengembangan Industri Gula Visi Mewujudkan industri gula nasional yang mandiri.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Indikator Pencapaian 2009 2014 : tercapainya swasembada gula konsumsi : tercapainya swasembada gula nasional C. Dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster industri gula. 2007. Pembinaan industri gula terutama dalam hal mutu dan distribusi. Misi • • • • Memperkuat struktur industri gula Meningkatkan produktivitas dan efisiensi Mendorong investasi PG-PG keluar P. Tahapan Implementasi • Mengadakan workshop pengembangan klaster industri gula di daerah mulai tahun 2006. 2008 dan 2009.

D. • • 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .• Melakukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri gula melalui kegiatan magang di beberapa pabrik gula di Jawa.2014 . Melaksanakan litbang teknologi DN yang terintegrasi. pengaturan tata niaga impor. Kebijakan • Menciptakan iklim usaha yang atraktif melalui kebijakan harmonisasi impor raw sugar. Pengembangan industri raw sugar untuk mengganti raw sugar ex impor. mendorong penggunaan rafinasi produksi DN. berkualitas melalui pemberian insentif dan dukungan dana.

Melakukan promosi produk gula Indonesia ke berbagai negara apabila produksi telah melebihi kebutuhan di dalam negeri. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009  . makanan bayi). yang disesuaikan dengan perkembangan pergulaan nasional pada kurun waktu tersebut. Merevisi kebijakan Ketentuan Impor Gula. kawasan berikat dan penggunaan GKR dengan persyaratan khusus (untuk obat-obatan. kecuali bagi industri pengguna yang memiliki fasilitas investasi. Menyusun revisi GKP dan melakukan sosialisasi intensif agar PG-PG menerapkan revisi standar mutu GKP yang baru. Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu. Rencana Aksi Jangka Menengah (2015 – 2020) • Melarang impor gula secara umum. Rencana Aksi Jangka Pendek (2010 – 2015) • Melanjutkan revitalisasi PG 2007 .2009 untuk onfarm dan off-farm sehingga mutu produksi GKP meningkat.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Memberikan kuota impor raw sugar bagi industri gula rafinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan gula rafinasi bagi industri makanan dan minuman dalam negeri. • • • • B.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .• Melakukan penggantian mesin peralatan industri gula dengan teknologi proses yang berkembang dan efisien.2014 . Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) • Indonesia menjadi negara pengekspor gula di Asia Pasifik. C.

peingkatan utilisasi kapasitas. Peningkatan utilisasi kapasitas PG dan PGR 2. Unsur Penunjang Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) Indonesia menjadi negara pengekspor gula di Asia Pasifik . penggunaan bibit unggul Pengembangan cepat (2010 . Revitalisasi PG-PG terutama PG di Jawa 6. Kerangka Pengembangan Industri Gula Gambar 1. Pembangunan infrastruktur dilahan-lahan tebu agar proses tebang angkut berjalan efektif dan efisien. Industri Gula Rafinasi dan Raw Sugar Industri Pendukung Mesin. harmonisasi dan non tarif c. Sulawesi) 7. bongkar ratoon.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 116/M-IND/PER/10/2009 Industri Inti Industri Gula Putih.2015) : Modifikasi & Pengembangan teknologi yang lebih maju (otomasisasi mesin dan peralatan) Matang (2016 -2025) : restrukturisasi mesin dan peralatan dengan teknologi mutakhir Infrastruktur : a. Deregulasi dan debirokratisasi.pembibitan. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 SDM : a. Pasar: b. Pengembangan lokasi klaster :Lampung. bibit. pupuk. Meningkatkan promosi dan investasi PG-PG di luar Pulau Jawa (Papua. Peningkatan efisiensi bahan baku dan energi 4. Gula Kristal Rafinasi dan Raw Sugar) o Terealisasinya program revitalisasi pabrik gula melalui peningkatan mutu dan volume produksi gula putih o Meningkatnya produksi raw sugar di dalam negeri . Inisiasi (2004-2009) : Revitalisasi mesin PG. Kerangka Pengembangan Industri Gula  5 . a. Meningkatkan peran litbang untuk peningkatan mutu gula (SNI Wajib) dan diversifikasi pemanfaatan hasil samping b. Penguatan struktur industri gula pada semua tingkat dalam rantai nilai (value chain) 5. pestisida. Peralatan. perkebunan dan kemasan Industri Terkait Industri Makanan . Peningkatan rendemen gula melalui system pengolahan tebu yang baik (tanam. Sumatra. yang disesuaikan dengan perkembangan pergulaan nasional pada kurun waktu tersebut.Minuman dan Farmasi Sasaran Jangka Pendek (2010 – 2015) o Tercapainya swasembada gula nasional tahun 2014 (Gula Putih. Gambar 1. o Merevisi kebijakan Ketentuan Impor Gula. Jawa Timur dan Jawa Tengah Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Pendek (2010 – 2015) o Melanjutkan revitalisasi PG 2007 .pemeliharaan) 3. Meningkatkan kemampuan manajemen industri gula SDM dibidang c. o Memberlakukan SNI wajib Gula putih Jangka Panjang (2020 – 2025) o Indonesia menjadi negara produsen gula yang mampu memasok kebutuhan negara-negara lain di Asia Pasifik Strategi 1.2009 untuk on-farm dan off farm sehingga mutu dan volume produksi GKP meningkat o Menyusun revisi GKP dan melakukan sosialisasi intensif agar PG-PG menerapkan revisi standar mutu GKP yang baru o Memberikan kuota impor raw sugar bagi industri gula rafinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan gula rafinasi bagi industri makanan dan minuman dalam negeri o Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu.

Unej. Perbankan. Unibraw. Deptan.Balai Industri.IPB. Kerangka Keterkaitan Industri Gula Gambar 2. PPGI.AKANI. EMKL Lembaga Litbang/PT P3GI. APTRI.2014 JASA: Transportasi. Meneg BUMN Perkebunan Tebu Eksportir Industri Makanan Raw Sugar Gula Putih Gula rafinasi Bahan Penolong/ Packaging Industri Minuman Industri Farmasi Industri Alkohol-Bio Ethanol Distributor PASAR LUAR NEGERI Raw Impor Mesin dan Peralatan PASAR DALAM NEGERI PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .IKAGI. GAPMMI Gambar 2. Asuransi. KADIN/KADINDA.dll Assosiasi: AGI. Depperin.UGM. Kerangka Keterkaitan Industri Gula 6 . AGRI. FIPG.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 116/M-IND/PER/10/2009  Forum Komunikasi / Working Group Pemda: Dinas Perindag Dinas Terkait Raw Sugar Impor Pemerintah Pusat: Menko Perekonomian.Dewan Gula Indonesia Depdag.

Industri Depkeu Depdag Deptan Asosiasi Kab. O O O LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 116/M-IND/PER/10/2009 5. yang disesuaikan dengan perkembangan pergulaan nasional pada kurun waktu tersebut. O O O  7 .2009 untuk onfarm dan off farm sehingga mutu dan volume produksi GKP meningkat O O O 2./Kota Deperin O O O O O O Meneg BUMN O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Fasilitasi Klaster Working Group 1.Mengarahkan investasi baru pada industri gula terintegrasi dengan perkebunan tebu. Menyusun revisi GKP dan melakukan sosialisasi intensif agar PG-PG menerapkan revisi standar mutu GKP yang baru O O O 3. Kuota impor Raw Sugar bagi IGR sesuai kebutuhan Gula Rafinasi oleh industri Makanan Minuman O 4.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 116/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1Tabel 1 Peran Pemangku Kepentingan Industri Gula Peran Pemangku Kepentingan Industri Gula Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Swasta Perguruan Tinggi dan Litbang DGI P3GI PT Komunikasi Forum Rencana Aksi 2010 – 2015 Prop Persh. Merevisi kebijakan Ketentuan Impor Gula. Melanjutkan revitalisasi PG 2007 .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. Menimbang : a. industri elektronika dan telematika. industri alat angkut.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri berbasis agro. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Hasil Tembakau.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Mengingat : 1. Bahwa industri Hasil Tembakau merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Hasil Tembakau. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.2014 .b. c. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. 2. 3.

6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Tambahan Lem- PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700).

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. 11. Tugas.baran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 10. 12. 9. Fungsi.2014 .

d. Industri Industri Rokok Kretek (KBLI 16002). Industri Rokok lainnya (KBLI 16004). Industri Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya (KBLI 16009). e. Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau (KBLI 16001). Industri Industri Rokok Putih (KBLI 16003). strategi dan kebijakan. 2. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Hasil Tembakau Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. b. c. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Hasil Tembakau untuk periode 5 (lima) tahun.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HASIL TEMBAKAU. Industri Hasil Tembakau adalah industri yang terdiri dari: a.

2014 . MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Hasil Tembakau. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Hasil Tembakau ataupun sektor lain yang terkait. Pasal 2 4. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). c. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. b. Pemerintah Daerah. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.3. dan  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Swasta.

Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .d. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Hasil Tembakau dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.

Wakil Presiden RI. 3.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.2014 . Gubernur seluruh Indonesia. 6. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 5. 2. 4. Presiden RI.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Khusus untuk industri rokok. Jawa Tengah (20%). Dalam tahun 2005 jumlah IHT (Rokok) sebanyak 3. antara lain dalam menumbuhkan industri/jasa terkait.7 milyar batang. bahkan industri ini mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan dalam penerimaan negara. peranan dari masing-masing golongan pabrik baik besar (Gol. Ruang Lingkup Industri Hasil Tembakau Industri Hasil Tembakau (IHT) sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau. dan sisanya berada di daerah-daerah lain seperti Sumatera Utara.BAB I PENDAHULUAN A. penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja.217 perusahaan dan dalam tahun 2006 sudah mencapai 3. Produk hasil olahan tembakau terdiri dari rokok (rokok kretek dan rokok putih). Sebaran IHT secara geografis sebagian besar (75%) berada di Jawa Timur.12 %. I). Jawa Barat. menengah (Gol II). cerutu dan tembakau iris (shag). gol kecil (Gol IIIA dan Gol III B) tahun 2007 sebagai berikut : LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . cengkeh dan sentra-sentra produksi rokok. dan D. Dalam situasi krisis ekonomi. Dalam periode yang sama produksi rokok mencapai 220.961 perusahaan atau meningkat sebesar 23. IHT tetap mampu bertahan dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).3 milyar batang dan 218.I Yogyakarta.

20 6.793 PRODUKSI (Juta Batang) 173.d 2 Milyar > 6 Juta s.51 78. Secara singkat. batang. tembakau iris dan/atau diekspor dalam bentuk tembakau yang sudah dikeringkan.585.38 6. daun tembakau selektif) untuk bibit dan daun tembakau diproses menjadi rokok. Setelah tanaman tembakau digunakan (secara dimanfaatkan untuk kayu bakar dan biji dari bungaberumur.59 0. Sumber Ditjen Bea dan Cukai.81 2. Data Produksi tidak termasuk jenis Cerutu. TIS 2.d 500 Juta 0 s.13 43.2014 2 . tengah dan atas.72 3.20 231. Departemen Keuangan bunga. Departemen Keuangan 1.21 11. daun tembakau dan Setelah tanaman tembakau berumur.541.00 % 75.05 10.d 6 Juta Jumlah Pabrik 8 15 354 4. Tanaman tembakau terdiri Cukai. Data Produksi tidak termasuk jenis Cerutu.365.000. KLM/KLB. Produksi (Batang) > 2 Milyar > 500 Juta s. tengah dan atas. Selanjutnya batang tembakau dimanfaatkan tembakau iris dan/atau diekspor dalam bentuk tembakau yang sudah untuk kayu bakar dan biji dari bunga digunakan (secara dikeringkan. pohon industri tembakau dapat digambarkan selektif) untuk bibit dan daun tembakau diproses sebagai berikut : menjadi rokok. dan bunga. KLM/KLB.614. daun secara bertahap dipetik mulai Tanaman tembakau terdiri dari Selanjutnya batang tembakau dari daun bawah. daun secara bertahap dipetik mulai dari daun bawah. TIS Keterangan : 2.84 6.15 2.416 4.976.978.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 PABRIK GOL I II III A III B Total Juml.073.02 CUKAI (Milyar Rp.01 27.50 % 86.) 37. Secara singkat. pohon industri tembakau dapat digambarkan sebagai berikut :  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .870. Sumber Ditjen Bea dan dari batang. cerutu.18 Keterangan : 1. cerutu.50 23.

3). 5) penyebaran pembangunan industri. Meningkatkan revitalisasi.Pohon Industri Berbasis Tembakau SKT BM=0% SKM BM=0% Rokok Kretek Produks : . Mlyar Btg Tembakau Irs/ Tembakau Shag Klobot Klembak Menyan Tembakau Rajangan Tembakau kerng tanpa tulang daun Daun Basah Tembakau kerng dengan tulang daun Kayu bakar Tembakau Blended BM=0% Cerutu BM=0% Pucuk Daun Badan Daun Tangka Daun Rokok Kretek Produks : . Mlyar Btg Rokok Putih BM=0% Rokok Kretek BM=0% Tanaman Tembakau Batang Bunga (Bj) Bbt/ benh tembakau Dalam pengembangan IHT. 42. 2). konsolidasi dan restrukturisasi industri. Meningkatkan iklim persaingan yang kondusif. 4) meningkatkan peran industri kecil dan menengah. menyerap tenaga kerja cukup besar baik langsung maupun tidak langsung (±10 juta orang) dan sumbangannya dalam penerimaan negara (cukai) tahun 2006 Rp. aspek ekonomi masih menjadi pertimbangan utama dengan tidak mengabaikan faktor dampak kesehatan.54 triliun. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah RPJM (2004-2009) pembangunan sektor industri diarahkan untuk : 1). Memperkuat dan memperdalam sturktur industri. Industri Hasil Tembakau mendapatkan prioritas untuk dikembangkan karena mengolah sumber daya alam.03 triliyun sedangkan tahun 2007 sebesar Rp 43. dan 6) meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi industri. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .

Namun demikian.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. tidak transparan dan lebih berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan negara tanpa mempertimbangkan kemampuan industri rokok dan daya beli masyarakat ditambah dengan maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal. Untuk mencapai sasaran pengembangan industri tembakau perlu dijabarkan pokok-pokok rencana aksi baik jangka menengah maupun jangka panjang. menggunakan/mengolah SDA dalam negeri dan memiliki potensi ekspor maka Industri tembakau dengan produksi utama rokok/sigaret merupakan salah satu industri dalam kelompok industri makanan dan minuman yang memenuhi kriteria untuk dikembangkan. menumbuhkan industri terkait dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan. meningkatkan penerimaan negara melalui cukai dan pajak.2014 . IHT dewasa ini dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain isu dampak merokok terhadap kesehatan baik di tingkat global yang disponsori oleh WHO sebagaimana tertuang dalan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan di tingkat nasional pengendalian produk tembakau tertuang dalam PP No. IHT juga dihadapkan pada masalah kebijakan cukai yang tidak terencana dengan baik. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pada akhirnya pengembangan IHT diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja. Sasaran pengembangan IHT melalui pendekatan klaster adalah meningkatkan hubungan dan jaringan kerja sama yang saling menguntungkan antar stakeholders yang terkait dengan IHT guna meningkatkan daya saing dan value chains diantara pelaku usaha. Di samping itu.Sesuai dengan kriteria yang ditetapkan seperti banyak menyerap tenaga kerja. menjamin kelangsungan usaha budidaya tembakau dan cengkeh.

Pengelompokan Industri Hasil Tembakau 1. Usaha Industri Hasil Tembakau yang tergolong dalam Kelompok Industri Hulu adalah Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau (KBLI 16001). Yang termasuk dalam kelompok ini yaitu kegiatan usaha dibidang pengasapan dan perajangan daun tembakau. Kelompok Industri Hulu • • Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia (KBLI) tahun 2005. Industri Rokok Putih (KBLI 16003 dan Industri Rokok lainnya (KBLI 16004) meliputi cerutu. rokok klembak menyan dan rokok klobot/kawung. • 2. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . meliputi: tembakau bersaus. 3. saus rokok. bumbu rokok dan kelengkapan rokok lain seperrti klembak menyan. Kelompok Industri Hilir Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam Kelompok Industri Hilir meliputi: Industri Rokok Kretek (KBLI 16002). klobot. Kelompok Industri Antara Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam kelompok Industri Antara yaitu Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya (KBLI 16009). uwur.B. kawung dan pembuatan filter.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang. Ex-Uni Soviet. Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15%/tahun dari US $ 401. Afrika. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan. Minimalisasi peredaran rokok ilegal. Eropa (cerutu dan tembakau). • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . Sasaran Jangka Panjang (2010-2025) • • Tercapainya produksi rokok menjadi 260 milyar batang pada tahun 2015 sampai dengan 2025. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal.BAB II SASARAN A.84 juta pada tahun 2015.056. Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) • • Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010.08 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.24 juta pada tahun 2015.067.44 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1. • B. Meningkatnya Nilai ekspor tembakau sebesar 15%/ tahun dari US $ 397. Amerika dan Asia.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pertumbuhan dalam jangka pendek (s/d 2009) diutamakan untuk IHT menggunakan tangan (SKT). pro-poor). Perbaikan struktur industri rokok. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  . projob. maka kebijakan pengembangan IHT diarahkan pada: • • • • • • Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif. Penanganan rokok ilegal. Peningkatan ekspor. Visi dan Arah Pengembangan Industri Hasil Tembakau Terwujudnya Industri Hasil Tembakau yang kuat dan berdaya saing di pasar dalam negeri dan global dengan memperhatikan aspek kesehatan.BAB III SRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Pengenaan cukai yang terencana. kondusif dan moderat. Arah Kebijakan : Dalam rangka tercapainya sasaran pengembangan Industri Nasional melalui triple track (pro-growth. B. Indikator Pencapaian • Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010 dan tahun 2025 sebesar 260 milyar batang.

Amerika dan Asia.056.24 juta pada tahun 2015 Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15%/tahun dari US $ 401.84 juta pada tahun 2015. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan.08 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.067. Eropa (cerutu dan tembakau). Afrika. Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang.• Meningkatnya nilai ekspor tembakau sebesar 15%/ tahun dari US $ 397. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal • • • • C. Ex-Uni Soviet.44 juta pada tahun 2008 menjadi US $ 1.2014 . Tahapan Imlementasi • • • • • Mengadakan Workshop Pengembangan Klaster Pengolahan Tembakau Dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster pengolahan tembakau Pelatihan Teknis Pengolahan Tembakau bagi aparat pembina dan pengusaha Melakukan komunikasi dan perusahaan mitra tembakau kerjasama dengan Melakukan upaya penumbuhan industri pengolahan tembakau lokal (tembakau iris dan industri rokok skala kecil) Melakukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri pengolahan tembakau melalui kegiatan magang dibeberapa pabrik rokok di Jawa Tengah •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

• • • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009  .BAB IV PROGRAM/RENCANA AKSI A. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT) Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder Penanganan produk rokok ilegal Pembenahan struktur industri rokok terutama pada skala sangat kecil melalui Penggabungan Pabrikan Golongan III A & B serta pemberlakuan Golongan Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF ) setara dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Registrasi kepemilikan dan pengawasan impor mesin pembuat rokok Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. Jangka Menengah (2010-2015) • • • • • Kajian pengembangan IHT Bantuan permodalan Diversifikasi penggunaan energi alternatif Perumusan dan penerapan SNI Tembakau Kajian dampak lingkungan penggunaan batu bara atau bahan bakar lainnya untuk proses pengeringan tembakau Mengupayakan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bersubsidi untuk proses pengomprongan tembakau.

Pengembangan produk IHT yang beresiko rendah bagi kesehatan Peningkatan kemampuan SDM Kajian dan revisi SNI rokok Peningkatan Social Responsibility Program/SRP Peningkatan mutu produk IHT sesuai keinginan pasar. kondusif dan moderat. Jangka Panjang (2010-2025) • • • • Peningkatan sarana dan prasarana Peningkatan program kemitraan Peningkatan mutu SDM dalam penguasaan teknologi. perjanjian bilateral. Peningkatan koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana . misi dagang. regional dan multilateral. perjanjian bilateral. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. • • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . regional dan multilateral • B. misi dagang. Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. Mengembangkan diversifikasi produk IHT.• • Peningkatan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok.

7. 2. Meningkatkan program kemitraan. 5. 2. Meningkatnya Nilai ekspor tembakau sebesar 15 persen/tahun dari USD 397. Sasaran Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 1. 2.44 juta pada tahun 2008 menjadi USD 1.08 juta pada tahun 2008 menjadi USD 1. Kebijakan cukai yang terencana dan moderat. 6. Berkurangnya produksi dan peredaran rokok ilegal. 3. 6. meningkatkan mutu SDM dalam penguasaan teknologi pengolahan tembakau. 5. 3. 4. Mengembangkan dan diversifikasi produk industri hasil tembakau yang beresiko rendah bagi kesehatan. 9. Amerika dan Asia. Strategi Seimbangnya kebutuhan akan pasokan tembakau dan cengkeh. Memberlakukan kebijakan cukai yang terencana. 6. 2. Terwujudnya UU Pengendalian Dampak Produk Tembakau yang komprehensif dan berimbang guna menciptakan kepastian usaha. Meningkatnya produksi rokok menjadi 240 milyar batang pada tahun 2010. Terwujudnya keseimbangan pasokan tembakau dan cengkeh sesuai dengan kebutuhan ekspor tembakau dan kebutuhan industri rokok.056. Melakukan diversifikasi penggunaan energi alternatif untuk pengeringan tembakau. 1. Keterlibatan IHT dalam penetapan kebijakan cukai. Menjamin keseimbangan pasokan dan kebutuhan bahan baku serta peningkatan produktifitas tembakau dan cengkeh.24juta pada tahun 2015 . 2. Penanganan rokok ilegal. 4. 3. Ex-Uni Soviet. Minimalisasi peredaran rokok ilegal. 3. Pengawasan mesin sigaret linting impor Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010 – 2025) 1. 4. Meningkatnya kemitraan antara produsen rokok dengan petani tembakau yang saling menguntungkan. 2. 3.067. Membenahi struktur industri rokok. Meningkatkan ekspor produk tembakau dan rokok. Kebijakan cukai yang terencana dan kondusif sesuai dengan kemampuan IHT. Tercapainya produksi rokok menjadi 260 milyar batang pada tahun 2015 sampai dengan 2025. Menangani produk rokok ilegal. 5. Penerapan SNI produk tembakau dan rokok. Eropa (cerutu dan tembakau). 8. Terciptanya jenis/varietas tanaman tembakau dan produk IHT yang memiliki tingkat resiko rendah terhadap kesehatan. Skala Prioritas Jangka Waktu 2007-2010 : Urutan Prioritas pada aspek keseimbangan Tenaga Kerja dengan penerimaan dan Kesehatan Jangka Waktu 2010-2015 : Urutan Prioritas pada aspek Penerimaan. Kesehatan dan Tenaga Kerja Jangka Waktu 2015-2020 : Prioritas pada aspek Kesehatan melebihi aspek Tenaga Kerja dan Penerimaan Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2004 – 2009) 1. Meningkatnya mutu tembakau yang sesuai dengan kebutuhan industri. revisi dan penyusunan SNI Tembakau. Memberi insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. 8.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2015) 1. Keterlibatan IHT dalam penyusunan RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau. Meningkatkan inovasi teknologi proses pengolahan tembakau. 3. Afrika. 9. Berkembangnya diversifikasi produk IHT. 4. Peningkatan mutu dan daya saing IHT. 5. Meningkatnya nilai ekspor rokok dan cerutu sebesar 15 persen/tahun dari USD 401. Penguasaan teknologi dalam pengembangan IHT yang berkaitan dengan pengurangan resiko kesehatan. 4. Registrasi mesin sigaret linting.  11 . kondusif dan moderat. 6. Meningkatnya ekspor tembakau dan produk hasil tembakau khususnya ke negara-negara yang sedang berkembang.84juta pada tahun 2015 . 7.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 0 nsur Penunjang Infrastruktur :  Tersedianya sarana dan prasarana di sentra-sentra produksi IHT. b. c. c. Meningkatkan promosi ekspor dan fasilitasi perdagangan. Pengembangan dan diversifikasi produk yang beresiko rendah terhadap kesehatan. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pasar : a. Pengembangan (2010-2015) : Modifikasi dan Pengembangan teknologi pengolahan tembakau. b. 12 . Meningkatnya kemitraan antara produsen rokok dengan petani tembakau dan cengkeh d. Peningkatan Teknologi a. Inisiasi (2007-2010) : Pengembangan dan diversifikasi produk IHT yang beresiko rendah terhadap kesehatan. d. Matang (2015-2020) : Industry & Technology Upgrading SDM : Peningkatan kemampuan SDM litbang dalam melaksanakan pengembangan dan diversifikasi produk yang beresiko rendah terhadap kesehatan. c. Kebijakan cukai yang terencana dan moderat. Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder. Pengadaan benih unggul b. Membangun merek lokal di pasar internasional.2014 Gambar 1.  Meningkatkan peran litbang dalam : a. Kerangka Pengembangan Industri Hasil Tembakau Gambar 1. Penanganan rokok illegal untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat. Kerangka Pengembangan Industri Hasil Tembakau Iklim Usaha : a. Meningkatkan akses dan penetrasi pasar ekspor. b. Meningkatkan kemampuan pemasaran dan market intellegence produk IHT.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Industri Hasil Tembakau Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Industri Hasil Tembakau  13 .

7. Bantuan permodalan. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder.Dag Dep. Pemberian subsidi dan jaminan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bagi proses pengomprongan tembakau.2014 3. 2.ESDM Dep. Diversifikasi penggunaan energi alternative.kop. 8. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT). 14 .LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Tabel Tabel 1. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Hasil Tembakau Pemerintah Pusat Pemda Swasta PT & Litbang Forum WG PT Daya Saing Balittas  Prop Kab/ Kota BPOM Dep. Kajian dampak lingkungan penggunaan batu bara atau bahan bakar lainnya untuk proses pengeringan tembakau.Kes Fasilitasi Klaster Asosiasi Dep. 4.& UKM Dep.Keu Dep. Pemetaan potensi tembakau dan cengkeh .Tan Perush. 6./ Industri Depprin O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O Rencana Aksi 2010 – 2015 1. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Hasil Tembakau 1. 5. Perumusan dan penerapan SNI Tembakau.

perjanjian bilateral. O O O 13. O 16.Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. O O O LAMPIRAN OPERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI O NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 9. regional dan multilateral. O . 7. O O O LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 O O O O O O O O O O O O O O O O O O 14. Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif dan berimbang dengan melibatkan industri dan stakeholder. 11.O O O O O O O O O tembakau.Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. 6. kondusif dan moderat. O O O O O O O O O O O 12.Pengawasan impor mesin pembuat rokok. Penanganan produk rokok illegal.Pembenahan struktur industri rokok terutama pada skala sangat kecil melalui Penggabungan Golongan III A & B serta pemberlakuan Golongan SKTF setara dengan SKM. O  15. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Sigaret Kretek Tangan (SKT). misi dagang. Pemberian subsidi dan jaminan pasokan Bahan Bakar Minyak Tanah (BBMT) bagi proses pengomprongan tembakau. O O O O O O O 14 O O O 10. 8.Perluasan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok.Peningkatan Koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana .Registrasi kepemilikan mesin pembuat rokok.

Perluasan kemitraan antara petani tembakau dengan pengusaha industri rokok.Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau dan rokok. O O O O O O O O O O 14.13. 16. kondusif dan moderat.Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . regional dan multilateral. misi dagang. perjanjian bilateral.  O O O O O O O O O O O O O O O O O 15.2014 15 .Peningkatan Koordinasi dengan stakeholder terkait dalam penentuan kebijakan cukai yang terencana .

PT Nojorono. Sulut. NTB(industri rokok kecil). Jatim (PT Gudang Garam Tbk. Jawa Tengah. Jateng. PT Gelora Jaya. Bali. Bahan Baku Utama dan Pendukung Gambar 3. PT Philip Moris Indonesia.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 Sumut Sumbar Lampung Jateng Sulut Malut Sulsel Jatim NTB Bali Maluku Jabar Keterangan : : Bahan Baku Utama(Tembakau) : Sumatera Utara. PT Karya Niaga Bersama. Maluku. Lampung. Pagi Tobacco).M Sampoerna. PR Menara dan Industri rokok kecil lainnya). Sebaran Industri Rokok. PT Bentoel Prima. NTB. W ikatama. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 117/M-IND/PER/10/2009 : Industri Rokok : Sumut (PT STTC. PT Gandum dan perusahaan rokok kecil lainnya). Filasta. Gambar 3. Jateng (PT Djarum. Sulsel. Jabar (PT BAT Indonesia & pabrik rokok kecil). DI Yogyakarta. PR Gentong Gotri. : Bahan Baku Pendukung (Cengkeh) : Sumbar. Sebaran Industri Rokok. Maluku Utara. PT H. Bali. Jatim. PR Jamu Bol. PR Sukun. Bahan Baku Utama dan Pendukung  16 . Jawa Timur. Jawa Barat.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. industri berbasis agro. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . industri elektronika dan telematika. industri alat angkut. Menimbang : a.

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.2014 . c. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Buah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). 3. Bahwa industri Pengolahan Buah merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Pengolahan Buah. 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Mengingat : 1.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .b.

7. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Tambahan Lem- PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.

2014 . Tugas. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/ P Tahun 2007. Fungsi. 12. 11. 13. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 10.baran Negara Republik Indonesia Nomor 4987).

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . b. Industri Pengalengan Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15131). 2. Industri Pengolahan Buah (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia-KBLI 4 digit) adalah industri yang terdiri dari: a. Industri Pengeringan Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15134). Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Buah Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Industri Pengasinan/Pemanisan Buahbuahan dan Sayuran (KBLI 15132). Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. d. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Pengolahan Buah untuk periode 5 (lima) tahun. strategi dan kebijakan.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH. Industri Pelumatan Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15133). c.

2014 .e. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. b. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pemangku kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Swasta. Industri Pengolahan dan Pengawetan Lainnya untuk Buah-buahan dan Sayuran (KBLI 15139). Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. 3.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . baik pengusaha maupun institusi lainnya. 4. Pemerintah Daerah. Pedoman bagi Pelaku klaster industri Pengolahan Buah. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Buah ataupun sektor lain yang terkait. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.c. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Buah dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). dan d.

Wakil Presiden RI.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 5.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. 3. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Presiden RI. 4. 2. Gubernur seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 6. Bupati/Walikota seluruh Indonesia.2014 . Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

dengan potensi produksi di Sumatera Utara sebesar 0.84 juta ton. dengan potensi produksi di Sulawesi Selatan sebesar 6. Produksi dan daerah penghasil buah-buahan tersebut pada tahun 2007: Produksi buah nasional tahun 2007 sebesar 15. seperti buah dalam kaleng. Mangga. minuman sari buah.14 ribu ton dan Sumatera Utara dengan potensi produksi sebesar 11.20 ribu ton.82 juta ton. dengan potensi produksi di Jawa Timur sebesar 0. Berbagai jenis buah utama yang dihasilkan oleh Indonesia dan mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan. jeruk.96 juta ton dan Jawa Timur sebesar 0. Jeruk.45 juta ton. produksi buah markisa secara nasional sebesar 0. nanas dan buah markisa.BAB I PENDAHULUAN A. selai dan produk olahan buah lainnya adalah mangga.11 juta ton.61 juta ton.63 juta ton. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Buah • Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi besar untuk dapat menghasilkan aneka macam buah. Markisa.59 juta ton dan Jawa Barat dengan potensi produksi sebesar 0. manisan buah. • • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  . produksi buah jeruk secara nasional sebesar 2. produksi buah mangga nasional sebasar 1.

43 juta dan sari buah sebesar US$ 7. Berdasarkan pada potensi buah (jeruk. Indonesia mengekspor buah dalam kaleng.24 juta ton. terutama nenas dengan nilai US$ 144.6 juta.24 juta ton dan Jawa Barat dengan potensi produksi sebesar 0. Luas area tanaman buah Indonesia tahun 2007 sebesar 727. Namun dalam tahun yang sama Indonesia juga mengimpor buah dalam kaleng dengan nilai U$ 0. • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .• Nenas.640 Ha dengan produksi 15. dengan potensi produksi di Lampung sebesar 1. mangga.54 juta ton.84 juta ton Pada tahun 2007.2014 . nenas dan markisa) dan peluang ekspor maka pengembangan industri pengolahan buah mendapatkan prioritas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja. produksi nenas nasional sebesar 2.12 juta.3 juta dan sari buah sebesar US$ 22.

peluang ekspor maka pengembangan untuk industri pengolahan upaya buah untuk mendapatkan prioritas dikembangkan sebagai peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja. Pohon Industri Pengolahan Buah Pohon Industri Pengolahan Buah Kosmetik / Biofarmaka Buah Kaleng Daging Buah Matang Fruit Leather Sale Anggur Puree Pikle Keripi Daging Buah Mentah Buah Asinan Manisan Cutney Tepung Buah Makanan Bayi Makanan Pektin Kulit Buah Pupuk Makanan Ternak Farmasi Selai Juice Jelly Sirop Makanan dari Buah Pati Biji Makanan Ringan Makanan B. Pengelompokan Industri Pengolahan Buah 2 1. Kelompok Industri Hulu • • • Pengalengan Buah Pengasinan Buah Pemanisan Buah LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009  .

Kelompok Industri Antara • Puree Buah 3.2014 .2. Kelompok Industri Hilir • • • • • Sari buah Selai Fruit leather Kosmetik Industri Pengolahan dan Pengawetan lainnya untuk Buah 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Meningkatnya diversifikasi produk buah olahan. Meningkatnya kontinyuitas pasokan bahan baku pada industri pengolahan buah baik jumlah dan kualitasnya. puree sirsak 100 ton/tahun. Mengembangkan kerjasama dan kemitraan usaha antar Pemerintah Kabupaten/Kota serta para pelaku usaha pengolahan buah. Pengembangan lokus industri pengolahan buah di Jawa Barat: pengolahan mangga. Melanjutkan forum komunikasi pengembangan klaster industri pengolahan buah. Meningkatnya kemampuan SDM dibidang teknologi proses pengolahan buah. Sulawesi Selatan: pengolahan markisa. puree nenas 375 ton/tahun.BAB II SASARAN A. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 • • • • • • • • •  . nenas dan jambu. Meningkatnya partisipasi industri pengolahan buah dalam promosi dan pameran dalam negeri dan luar negeri. sirsak. Meningkatnya penyerapan tenaga kerja 3 persen/ tahun pada industri pengolahan buah. Jangka Menengah (2010 – 2014) • • Tersedianya data dan informasi potensi bahan baku dan industri pengolahan buah. Tersusun dan terlaksananya revisi SNI sebanyak 2 (dua) komoditi. Meningkatnya produksi puree mangga menjadi 375 ton/tahun.

Jangka Panjang (2015 – 2025) • • • Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan sentra produksi bahan baku Mengembangkan dan meningkatkan pasar domestik dan internasional. Meningkatnya ekspor produk buah olahan sebesar 5 persen per tahun.2014 . kosmetik melalui penguatan dan pendayagunaan R & D. • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Meningkatnya konsumsi produk buah olahan dalam negeri menjadi 45 kg/tahun.B. Melakukan diversifikasi produk buah olahan sebagai bahan pangan fungsional. Terwujudnya Hak Kekayaan Intelektual pada produk buah olahan dalam rangka meningkatkan daya saing terhadap produk sejenis di dalam dan di luar negeri.

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN
A. Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Buah
1. Visi : Mewujudkan industri pengolahan buah yang berdaya saing

2. Misi: • • • • • • • Memperluas tingkat permintaan buah olahan Mengembangkan efektifitas supply chain Melakukan pembinaan dan bimbingan terhadap industri pengolahan buah Mengembangkan pasar dalam negeri dan ekspor. Peningkatan utilitas kapasitas. Peningkatan mutu produk pengolahan buah Peningkatan kemitraan antara pemasok bahan baku dengan industri pengolahan buah

3. Kebijakan

B. Indikator Pencapaian
• Meningkatnya jaringan kerjasama antar kelompok usaha kecil, menengah dan besar industri pengolahan buah serta terbentuknya kelembagaan usaha industri pengemasan dan pengolahan buah di setiap lokus pengolahan buah. Terjadinya peningkatan kemampuan SDM dalam hal penguasaan teknologi proses dan managemen usaha industri melalui pelatihan/training. Meningkatnya sarana dan prasarana untuk keperluan usaha industri pengolahan buah.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009

• 

• • • •

Meningkatnya kwalitas, kwantitas dan keragaman produk buah olahan. Meningkatnya omzet pemasaran ditingkat lokal, domestik dan ekspor. Terjadinya peningkatan penyerapan tenaga kerja di wilayah pengembangan klaster buah. Adanya penambahan industri-industri pengolahan buah dan industri penunjangnya di wilayah lokus klaster buah. Adanya dukungan lembaga penelitian, lembaga keuangan dalam peningkatan investasi industri pengolahan buah.

C. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan
• • Kompetisi: baik nasional maupun internasional Inovasi: merupakan strategi pengurangan biaya, peningkatan kualitas produk, mencari pasarbaru.

Kondisi faktor-faktor • • • Sumber daya manusia: kualitas SDM yang tersedia dilingkup klaster Infrastruktur: kualitas infrastruktur seperti pelayanan umum, transportasi Teknologi: penyerapan teknologi

Industri pendukung dan terkait • • Pemasok: ketersediaan bahan baku/input lokal dan jasa dalam proses produksi Organisasi pendukung: jasa yang diberikan oleh organisasi pendukung 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Kondisi permintaan • • Karakteristik permintaan: konsumen utama produk atau jasa dari aktivitas dan karakteristik kegiatan Pilihan konsumen: selera dan permintaan konsumen

D. Tahapan Implementasi
• • Perusahaan yang mendominasi dalam klaster buah adalah industri kecil menengah. Pemerintah Pusat melalui Forum Komunikasi melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan di Pemda Propinsi Jawa Barat dengan dibentuk Working Group yang terdiri dari tim teknis, praktisi, tenaga ahli dan fasilitator. Tenaga ahli melakukan bimbingan teknis dalam rangka diversifikasi produk , inovasi teknologi dan pelatihan GMP kepada industri pengolahan buah di sentra bahan baku. Pemerintah Pusat memberikan bantuan mesin peralatan untuk mendukung pengembangan klaster, koordinasi promosi dan perencanaan pemasaran. Pengembangan usaha industri dan peningkatan jejaring melalui networking dengan sektor ekonomi lainnya.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 



PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB IV PROGRAM/ RENCANA AKSI
A. Jangka Menengah (2010 – 2014)
• • • • • • • • • • Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan bahan baku; Melakukan rapat koordinasi teknis di tingkat pusat dan daerah Melakukan rapat koordinasi teknis di tingkat pusat dan daerah Menerapkan GMP, HACCP, ISO dan sertifikasi halal; Menyusun/revisi SNIproduk pengolahan buah; Pengamanan produk buah olahan melalui penerapan sertifikasi tanggal kadaluwarsa/expire date; Mengembangkan pasar domestik melalui apresiasi penggunaan produk dalam negeri; Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; Meningkatkan kualitas dan desain kemasan produk buah-buahan olahan. Melaksanakan bimbingan teknis (technical assistance) untuk peningkatan kemampuan SDM dan pengembangan diversifikasi produk olahan.

B. Jangka Panjang (2015 – 2025)
• • Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan bahan baku; Mengembangkan dan meningkatkan pasar domestik dan internasional;

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 

Melakukan diversifikasi buah olahan sebagai bahan pangan fungsional, kosmetik dan farmasi melalui penguatan dan pendayagunaan R & D. Mengembangkan, memelihara dan meng-update media komunikasi dan diseminasi seluruh stakeholders (website, buletin dan majalah) Memberikan bimbingan/pelatihan dan tata cara mendapatkan hak paten atas produk buah olahan, khususnya pada industri skala kecil dan menengah.

• 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Selatan -Selatan dan OKI 2. Terwujutnya HaKI pada produk buah olahan dalam rangka meningkatkan daya saing produk buah olahan. Penerapan GMP. 3. Pengembangan Cepat (2015 – 2019) : Modifikasi dan pengembangan teknologi pengolahan supplement dan nutrisi. 5. 3. Kemasan. Melakukan diversifikasi buah olahan sebagai bahan pangan 4. Meningkatnya kontinuitas pasokan bahan baku pada industri pengolahan buah. Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan 1. Teknologi : Mendorong tumbuhnya modifikasi teknologi pengolahan dan produksi buah. Inisiasi (2010 – 2014) : Pengembangan fruit leather. 2. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Panjang ( 2015 – 2025) 1. Memanfaatkan potensi pasar dalam negeri khususnya melalui pameran/festival makanan etnik berbasis buah  Gambar 1. Industri Inti Buah Olahan (Sari Buah. Matang (2020 – 2025) : Industry & Technology Upgrading. Meningkatkan kualitas dan desain kemasan produk buah-buahan olahan. 3.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 Gambar 1. bahan Kimia tambahan Industri Terkait Kosmetik. 4. peningkatan budidaya tanaman buah secara komersial. Penyusunan dan penerapkan SNI produk buah olahan. HACCP. Melakukan rapat koordinasi teknis di tingkat pusat dan daerah 5. Melaksanakan bimbingan teknis (technical assistance) untuk peningkatan kemampuan SDM dan paten atas produk buah olahan. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Buah Industri Pendukung Mesin & Peralatan. kosmetik dan farmasi melalui penguatan dan 5. dan menengah. Peningkatan ekspor hasil industri pengolahan buah sebesar 5% pertahun. nenas dan jambu. 6. 2. sirsak. 2. SDM Meningkatkan kemampuan Good Manufacturing Practices (GMP) dan ISO 9000. Pokok-pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010 – 2014) sentra produksi bahan baku. Meningkatkan peran Litbang di bidang pengolahan dan pengemasan. Mengembangkan dan peningkatan pasar domestik dan internasional. pendayagunaan R & D. fungsional. Pendingin. 3. 3. 2. Akreditasi lembaga-lembaga uji dan sertifikasi produk. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Buah 9 .. Meningkatnya R & D produk buah olahan sebagai bahan nutrisi. Strategi Sektor : Pengembangan produksi buah tropis eksotis. 3. Farmasi. Infrastruktur 1. Meningkatnya konsumsi produk buah olahan dalam negeri menjadi 25 kg/tahun 4. ISO. Makanan dan Minuman. Buah dalam Kaleng. 4. Sulawesi Selatan pengolahan markisa. Buah Kering Sasaran Jangka Panjang 2015 –2025 1. Meningkatkan promosi ke negara-negara Asia dan Afrika dalam rangka kerjasasama Non . Pengembangan lokus industri pengolahan buah di Jawa Barat : pengolahan mangga. 2. Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. kosmetik dan farmasi. 2. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 Unsur Penunjang Periodesasi Peningkatan Teknologi 1.Blok . Tersusun dan terlaksananya revisi SNI sebanyak 2 (dua) komoditi. Memberikan insentif (kredit & pajak) terhadap industri yang terintegrasi. Pasar 1. Gula Rafinasi Konsentrat Buah. Sasaran Jangka Menengah 2010 – 2014 1. Mengembangkan kerjasama dan kemitraan usaha antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan pelaku usaha industri pengolahan buah. Meningkatnya diversifikasi produk buah olahan. Memberikan bimbingan / pelatihan dan tata cara mendapatkan hak 9. khususnya pada industri skala kecil pengembangan diversifikasi produk olahan. memelihara dan meng-update media komunikasi 7. buletin dan majalah) 8. Mengembangkan industri pengolahan buah yang terintegrasi dengan bahan baku. Mengembangkan pasar domestik melalui apresiasi penggunaan produk dalam negeri. dan diseminasi seluruh stakeholders (website. Mengembangkan.

Eksportir Gambar 2.2014 Distributor . Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Buah 00 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Pengembangan kapasitas produksi melalui diversifikasi produk. O O O 2. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Industri Pengolahan Buah Industri Pengolahan Buah Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Swasta Daya Saing KRT/ BPPT Prop P. O O O O O O O O O O 3. Perind Rencana Aksi 2010 .Tinggi Asosiasi Kab/Kota BBIA/Balai Pasca panen Perush. O O O O O O O 6. Menyusun standar buah olahan. Bimbingan Teknis (Technical Assistance). UKM Perguruan Tinggi dan Litbang Forum Fasilitasi Klaster Working Group Dep. Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Tabel 1. O O O O 0 11 . Pemetaan potensi buah. Keu Dep.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Ind Kem. O O O Partisipasi pada Pameran Dalam dan Luar Negeri. O O O O O O O O LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 118/M-IND/PER/10/2009 O O O O O O O O O O 8. Mengembangkan industri pengolahan buah. O O O O O O O O O O 5. Pengembangan industri pengolahan Buah di sentra produksi.2014 Deptan 1. O O O O O O O 4. Dag Dep. O O O O 7. O O O O O O O Meningkatkan kemitraan antara industri pengolahan buah-buahan dengan petani.

0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

industri elektronika dan telematika. Menimbang : a. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. industri alat angkut. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri berbasis agro. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 .

2014 .b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 3. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. bahwa industri Furniture merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan industri Furniture. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Furniture. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.

7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 . Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23.4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 6. 5. PeraturanPemerintahNomor38Tahun2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). 8. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737).

Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Tugas. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 11. Fungsi. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 12. 10. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006.2014 .9. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/ P Tahun 2007.

c. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 .MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE. Industri Veneer (KBLI 20214). serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Furniture untuk periode 5 (lima) tahun. f. b. 2. strategi dan kebijakan. Industri Kayu Lapis (KBLI 20211). Industri Furniture adalah industri yang terdiri dari: a. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Furniture Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. e. Industri Pengawetan Kayu (KBLI 20102). Industri Panel Kayu Lainnya (KBLI 20213). d. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Penggergajian Kayu (KBLI 20101). Industri Kayu Lapis Laminasi (KBLI 20212).

Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Furniture. 4.g. Swasta. Pemerintah Daerah. 3. Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Industri Moulding dan Komponen Bahan Bangunan (KBLI 20220). Industri Furnitur dari Kayu (KBLI 36101). MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. baik pengusaha maupun institusi lainnya. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 . h. b. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Furniture ataupun sektor lain yang terkait.

antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Furniture dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 0 . (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.c. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). dan d.

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 6. Presiden RI.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 4. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 3. 5. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.2014 0 . 2. Wakil Presiden RI. Gubernur seluruh Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Bupati/Walikota seluruh Indonesia.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FURNITURE BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Tempat TV 3.Meja+kursi 9401.00 9401.00 9401.00.00. 1.81.Tempat rias berkaca 4.00.00 9404.00.00.Bangku (meja + kursi) Furniture Set 2. FURNITURE ROTAN : Living & Dinning Room 1. Ruang Lingkup Industri Furniture Cakupan industri kertas berdasarkan pengelompokan Cakupan industri kertas berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang ada di atau kategorisasi yang ada di dunia internasional dan dunia internasional dan di dalam negeri adalah sebagai berikut : di dalam negeri adalah sebagai berikut: Kelompok Furniture atas dasar pemanfaatan fungsi I.50. Ruang Lingkup Industri Furniture A.Baby Box (included children & 2. Meja (panjang termasuk kursi) Living Room Set 1.00 9403.Lemari pakaian baby) 3.81. Meja + kursi (Sofa) Bedroom Set 1.00 9403. 1.00.10.00.Sofa (meja + tempat Set duduk) 2.30.00.00.00 9403.00 9403.51.00. FURNITURE KAYU : Dining Room Set Jenis & nama satuan furniture berdasar kelopmpok perangkat Kode Pos/Subpos Sesuai HS 3. 5.LAMPIRAN BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 A.00.61.40.00.00 II.40.00.Lemari + rak pakaian 3.00 9401.00 9403. Buffet Souveneer 2.80.Tempat tidur 9401.00 9403.50.Tempat tidur Kitchen Set Lemari perangkat alat2 dapur Office & School 1.69.10. 2.50.00 9403.60. 4.10 Catatan : Produk funiture (kayu dan dan rotan) masih terdapat berbagai Catatan : Produk funiture (kayu rotan) masih terdapat berbagai jenis dan macam (belum termasuk komponen furniture kayu dan barang jenis dan macam (belum termasuk komponen furniture kayu dan barang kerajinannya) kerajinannya) LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  1 .00 9403.

2). Kelompok Industri Pengolahan Kayu Hulu Kelompok industri hulu pengolahan kayu merupakan industri pengolahan kayu primer yaitu industri yang mengolah kayu bulat/log menjadi bebagai bentuk sortimen kayu. 2. bahwa pasokan bahan baku kelompok industri pengolahan kayu hilir PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . moulding. 2). Perlu diinformasikan. dan sejenisnya.2014  . 3). Industri Papan Partikel/particle­board yang menghasilkan panel kayu hasil serpih kayu bercampur glue/lem yang dimampatkann.B. yaitu industri yang menghasilkan produk-produk kayu diantaranya dowel. jendela. 4). Industri Furniture Kayu dan barang-barang kerajinan kayu. Panel-panel kayu dimaksud biasa disebut kayu hasil industri (engineered­wood). Industri MDF (Medium Density Fibre­board) yang menghasilkan panel kayu yang merupakan campuran serat kayu dengan bahan-bahan kimia. Industri Wood­Working. Kelompok Industri Pengolahan Kayu Hilir 1). Industri kayu lapis (plywood­mill) yang menghasilkan panel kayu lapis dan juga block-board dengan berbagai ukuran ketebalan. Industri penggergajian kayu (saw­mill) yang menghasilkan kayu utuh (solid­wood) dalam berbagai bentuk sortimen kayu gergajian (sawn­timber). Pengelompokan Industri Pengolahan Kayu dan Rotan 1. pintu. Industri pengolahan kayu primer terdiri dari: 1). wood-flooring.

Coco Resin. Industri Pengolahan Rotan Hilir dapat dikatakan sebagi industri antara. lemari pakaian. dsb. dsb. bangku (meja+kursi).tersebut dapat berasal dari sawn­timber sebagai solid-wood dan panel kayu (plywood. Allora. dsb. buffet buku/souveneers. yaitu industri pengolahan rotan yang menghasilkan rotan yang sudah LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . Kelompok Industri Pengolahan Rotan 1). Victorian. Furniture sebagai perabot rumah-tangga. lemari TV. composite­board. Produk jadi furniture kayu dapat dibedakan menurut fungsi kenyamanan (ergonimics) dan banyak varian desain berbagai corak maupun gaya/style. b) Colonial Furniture: Opium. d) Office and School furniture: seperangkat meja tulis (berbagai type). sebagai contoh dibedakan menjadi: a) Classic Furniture: Venezia. baby box. tripleline­bed berbagai ukuran. dsb) sebagai engineered­wood. Salamanca. dsb. Sevilla. Barcelona. dsb. yaitu terdiri dari: a) Bedroom furniture: single­bed. lemari/rak buku (buffet). dsb. Mallorca. Sleven. Paris. MDF. b) Livingroom furniture: sofa (meja+kursi). double­ bed. c) Diningroom furniture: seperangkat meja+ kursi makan. meja+kursi rias. dsb. particle­board. 3. Toledo. meja komputer. Valencia. Furniture berdasarkan pada gaya (style). block­ board. c) Modern Furniture: Manhattan.

namun varian peruntukannya hanya terdiri dari : sofa (meja+kursi). Industri Furniture Rotan. Industri barang-barang kerajinan dari rotan. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . kursi. Produk-produk industri furniture rotan biasanya banyak varian desain dan model namun masih dalam bentuk perabotan rumah tangga. namun terdapat juga yang termasuk outdoors furniture yaitu garden­furniture (wooden furniture). Jenis dan model furniture rotan. split dan sejenisnya sedang pengerjaan produk rotan olahan ini biasanya melalui proses semi mekanis. sama halnya dengan yang terdapat pada furniture kayu. Pengerjaan produk pada industri ini umumnya tradisional buatan tangan (handmade products). dsb. meja. kayu. buffet. enceng-gondok. webbing. Jenis furniture yang telah disebutkan diatas adalah sebagai indoors furniture. sedangkan desain banyak terinspirasi muatan lokal namun juga ada yang masih ditentukan bayers. yaitu industri yang menghasilkan perabotan rumah-tangga dari rotan antara lain: sofa. dan sejenisnya. Pengerjaan produk pada industri furniture rotan sebagian besar semi mekanis. 3). lemari pakaian serta barang kerajinan rotan lainnya sebagai perlengkapan furniture. selain itu ada yang campuran dengan bahanbahan lain (besi. 2).2014  . yaitu industri yang menghasilkan produk barang kerajinan rotan berdasarkan atas desain kearifan lokal. walaupun bahan bakunya ada yang 100 % asli rotan. tempat tidur.dicuci dan dibelerang (wash and sulfurized). lemari.).

BAB II SASARAN A. Pengelolaan lingkungan. konsolidasi dan restrukturisasi industri furniture. Makin meningkatnya daya saing industri furniture di pasar global. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . B. Jangka Panjang (2015-2025) • • • • • • Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. Tumbuh berkembangnya industri furniture. Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • Makin berkurangnya kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. Adanya kemandirian di bidang desain dan meningkatnya kemampuan finishing produk. Makin kuatnya dukungan R & D terhadap industri furniture. Kemandirian dalam teknologi proses dan permesinan wood­working. Terselesaikannya program revitalisasi. Makin meningkatnya kemampuan desain dan finishing produk. hutan dan industri yang ramah Terjadinya penguatan basis industri furniture sehingga menjadi World Class Industry.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja. pemberantasan illegal logging dan illegal trade. Meningkatkan pasokan bahan baku melalui : percepatan pembangunan HTI/HR. Peningkatan kemampuan teknologi dalam rangka meningkatkan mutu produk dan efisiensi. Peningkatan kemampuan SDM melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. VISI : Terwujudnya Industri Furniture yang berdaya saing kuat. MISI : • Meningkatkan kontribusi dalam pembentukan PDB. serta penggunaan bahan baku alternatif. termasuk kemampuan rancang bangun dan perekayasaan permesinan. 2. Visi dan Furniture 1. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Arah Pengembangan Industri • • • 3. dengan inti LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . serta penyelenggaraan diklat secra berkesinambungan. ARAH PENGEMBANGAN : • Pengembangan industri furniture dilakukan melalui pendekatan klaster industri.

Tahapan Implementasi Pemerintah dalam hal ini Departemen Perindustrian telah berupaya untuk mengembangkan industri furniture (kayu dan rotan). juga tanpa mengabaikan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan. • Pengembangan industri furniture ditumbuhkembangkan. antara lain dengan memfasilitasi bantuan mesin/peralatan industri furniture khususnya pada sentra-sentra industri furniture. sehingga dapat diperoleh hasil yang menguntungkan diantara berbagai sektor yang terkait. Barangkali tidak terlalu berlebihan.rata 4 % per tahun dan ekspor furniture tumbuh rata-rata 8-10 % per tahun selama periode 5 sampai 10 tahun mendatang. jika pertumbuhan industri furniture ditargetkan meningkat rata. antara lain: PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 0 . termasuk dengan daerah pemasok bahan baku. Indikator Pencapaian Untuk menjadikan industri furniture mampu bersaing di pasaran global (dalam negeri dan ekspor). maka semua bentuk hambatan yang memperlemah perkembangan industri furniture dapat di eliminasi dengan baik dan seksama. Beberapa daerah yang telah memperoleh fasilitasi bantuan mesin/ peralatan industri. C.industri furniture yang terkait dengan industri pendukung (supporting industry) dan lokus pengembangannya di Jawa Tengah untuk Industri Furniture Kayu dan di Jawa Barat untuk Industri Furniture Rotan. B. baik skala menengah maupun skala kecil (IKM) serta diusahakan bermitra dengan penyedia bahan baku (Industri Saw Mill dan Industri Panel Kayu).

bahkan sebagai Pusat Pelatihan Industri Kayu (khusus mebel kayu). Mesin/peralatan industri rotan di Sentra Industri Kasongan (Kalimantan Tengah). Rencana pembangunan Terminal Kayu sebagai pemasok industri furniture di Kendal. Mesin/peralatan industri pengolahan rotan dan furniture rotan di Palu (Sulawesi Tengah). • • 2). Peralatan desain furniture kayu pada Pusat Desain Mebel Kayu di Jepara (Jawa Tengah). Industri furniture kayu: • Mesin/peralatan wood­working dan furniture di Lumajang (Jawa Timur).dan lain sebagainya. dan lain sebagainya.1). LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . Industri furniture rotan: • • • Peralatan desain furniture rotan pada Pusat Desain Furniture Rotan di Cirebon (Jawa Barat).

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

rancang bangun dan perekayasaan. Memberikan alokasi dana yang memadai untuk diklat dan R & D. Mendorong percepatan fasilitasi pembangunan Terminal dan Sub-terminal kayu/rotan di daerahdaerah sentra industri furniture. efisiensi produksi. Jangka Menengah (2010-2014) • • Mempercepat realisasi pembangunan HTI dan Hutan Rakyat dan mendorong penerapan SFM. Mendorong dilakukannya penegakan hukum (Law Inforcement). Mendorong realisasi fasilitasi kerjasama antara daerah penghasil bahan baku dengan daerah produsen furniture. khusus untuk peningkatan mutu produk.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. • • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . Memfasilitasi pembangunan Pusat Desain Furniture dan pengembangan fasilitas pendidikan dan pelatihan industri furniture. Inventarisasi dan peninjauan kembali peraturan per Undang-undangan (judicial review) yang kontra produktif terhadap pengembangan industri furniture. Menyempurnakan pengaturan tata niaga kayu/rotan dalam rangka menjamin pemenuhan kebutuhan bahan baku di dalam negeri.

khususnya untuk permesinan pada industri furniture. pinjaman lunak dengan suku bunga rendah per Bank an atau Lembaga Keuangan non Bank dalam rangka restrukturisai permesinan industri furniture. Jangka Panjang (2015-2025) • Memaksimalkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman melalui penerapan program SFM dan bahan baku alternatif. • • • • B. • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri pengolahan kayu hilir. Menyelenggarakan diklat terapan dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM industri furniture. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis melalui penyesuaian UMR dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan. Mendorong pengembangan jaringan pasar global (globally market network) dengan menjalin kerjasama perusahaan-perusahaan multinasional (MNC­ Cooperation). Memberikan insentif dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan desain.2014 .• Mendororng penyederhaan prosedur perolehan kredit. Mengembangkan dan memperkuat Market Intelli­ gence serta meningkatkan kerjasama bilateral dan multilateral untuk mendukung pemasaran produkproduk furniture. baik melelui pameran dan misimisi dagang.

• • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009  . Partisipasi dalam berbagai even pameran furniture bergengsi di luar negeri.• Melanjutkan penyelenggaraan diklat terapan dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM industri furniture. Melanjutkan peningkatan kerjasama bilateral dan multilateral untuk mendukung pemasaran produk industri furniture.

Adanya kemandirian di bidang desain menjadikan terjadinya penguatan basis industri furniture pada posisi World Class Industry. MDF. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan bahan baku kayu solid dan panel kayu. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • • • • • Unsur Penunjang SDM : • • • Percepatan realisasi penanaman HTI/HR & pemanfaatn bahan baku alternatif. baut. Memberikan insentif dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan desain. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2015-2025) • Teknologi : Pencitraan desain yang berwawasan lingkungan seiring dengan perkembangan teknologi . Pelatihan SDM furniture bidang desain dan finishing. Kemudahan memperoleh pinjaman lunak sebagai modal denagn bunga rendah. Peningkatan kemampuan kompetensi SDM Furniture bidang Desain dan Proses Produksi. termasuk ikut berpartisipasi dalam berbagai even pameran furniture bergengsi di luar negeri. Sektor : Peningkatan daya saing dengan konsep industri yang sehat. Meningkatnya kemandirian dalam teknologi proses dan permesinan pengolahan kayu hilir. Pematangan (2015-2025) : Industry Upgrading. Kayu lapis. ramah lingkungan dan menguasai pasar global. pelabuhan dan sumber daya listrik di daerah sentra-sentra Industri Furniture. Meningkatnya kemampuan finishing produk furniture. Terwujudnya pengelolaan hutan dan industri yang ramah lingkungan. Mendorong percepatan fasilitasi pembangunan Terminal dan Sub-terminal kayu/rotan di daerahdaerah sentra industri. termasuk peyediaan suku cadang. Penyempurnaan pengaturan tata-niaga kayu/rotan dalam rangka menjamin pemenuhan kebutuhan bahan baku di dalam negeri.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 Industri Terkait Kayu Gergajian. FURNITURE KAYU/ROTAN Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • Meningkatnya pasokan bahan baku kayu dari HTI dan penggunaan bahan baku alternatif eks perkebunan/pertanian. berkelanjutan. TPT. dsb). Pengembangan pasar ekspor. Block-board. Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri kayu hilir. Meningkatkan kerjasama bilateral dan multilateral untuk mendukung pemasaran produk-produk furniture. Industri Logam (mur. Kerangka Pengembangan Industri Furniture Gambar 1. Papan Partikel. Periodisasi Peningkatan Teknologi : PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Meningkatnya kerjasama antar sektor terkait dalam rangka pengembangan industri furniture demi terciptanya perluasan kesemapatan kerja. Gambar 1. Kerangka Pengembangan Industri Furniture 11 . Pembangunan jalan. Memaksimalkan penggunaan bahan baku dari hutan tanaman melalui penerapan SFM dan bahan baku alternatif. Meningkatnya ekspor produk-produk furniture. Kertas (packing) dan sebagainya Industri Inti Mesin dan Peralatan. karet dan Industri Bahan Kimia Industri Pendukung  Sasaran Jangka Panjang (2015-2025) • • • • • Strategi Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. plastik. Pengembangan jaringan pasar global melalui pemanfaatn kerjasama dengan perusahaan-perusahaan MNC. Lem. Banyaknya varian desain furniture yang telah diaplikasikan. peningkatan devisa dan peningkatan nilai tambah. Meningkatkan peran Lembaga Litbang (Pemerintah/Swasta).2014 Infrastruktur : • • Pasar : Inisiasi (2010-2014) : Pengembangan teknologi rancang bangun dan perekayasaan permesinan industr hilir pengolahan kayu/rotan berdasarkan atas produk yang dihasilkan. Menidorong realisasi kerjasama antara daerah penghasil bahan baku dengan daerah produsen furniture .

Kerangka Keterkaitan Industri Furniture  . Pusat Desain. Pusltbang Teknolog Hasul Huta. Veneer Eksportr Furntur Kayu/Rotan Ftrt. Depdag Forum Daya Sang. Workng Group. ISA. Dephut.. UGM. APKINDO Gambar 2. Poles. Lembaga Sertifikasi ISO 000 & 000 Asosas: ASMINDO. UNMUL. Fasltas Klaster Pemda : Dnas Ind. Asurans. Plastk. AMKRI. Varnsh. IPB. Barstan. Core Mesn & Peralatan Kayu Rotan Pasar Luar Neger Bes/ Baja Dstrbutor Kan Pasar Dalam Neger LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 Jasa: Transportas. Karet Sawmll. Bank Lembaga Ltbang/PT: BBKPK. Playwood. Dnas Kehutanan Bahan Kma Perekat.Pemerntahan Pusat: Deppernd. Cat. ITB.

Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Furniture Pemerintah Pusat Dep. Hut Dep.2014 1. Membangun & mengembangkan fasilitasi diklat industri furniture yang memenuhi standar ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Mendorong kemudahan prosedure dalam perolehan kredit modal usaha ‫ס‬ 13 . Perin Dep. Pengaturan tata-niaga kayu/rotan dlm rangka memenuhi kebutuhan DN ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 4. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Furniture Tabel 1. Mendorong dilakukannya review peraturan Per Undang-Undangan yang kontra produktif ‫ס‬ 7. Tan BSN Prop. Kab. hutan rakyat dan bahan baku alternatif (ex tanaman perkebunan) ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 2. Meningkatkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 119/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Fasilitasi pembanungan Terminal & Sus-terminal di daerah sentra industri furniture ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 3.2014 ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 6. Mendornong penghapusan pungli yang memberatkan dunia usaha º ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 5. Asosiasi Perusahaan Industri PT Balitbang Daya (Kehutanan & Saing Perindustrian) Pemerintah Daerah Swasta Forum Perguruan Tinggi dan Litbang  Working Group Fasilitasi Klaster Rencana Aksi 2010 . Keu Dep.

Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Menimbang : a. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . industri elektronika dan telematika. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri alat angkut. industri berbasis agro.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA.

Bahwa industri Pengolahan Ikan merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri Pengolahan Ikan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 3. 2. c. Mengingat : 1. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Ikan. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421).b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.2014 .

PeraturanPemerintahNomor38Tahun2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). 7. 6. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737).108. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN. 10. 11.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007.2014 . Tugas. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Fungsi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006.9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 12. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 13.

seperti Ikan akan sardencis dalam kaleng. 2. seperti ikan bandeng beku. ikan teri asin. strategi dan kebijakan. c. dan sejenisnya (KBLI 31144).Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. seperti ikan bandeng asap. Industri pengasapan ikan dan biota perairan lainnya. udang asin. sepertinya : ikan tembang asin. d. udang dalam kaleng dan sejenisnya (KBLI 31141). ikan tuna beku. b. Industri pengaraman/pengeringan ikan dan biota perairan lainnya. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . ikan cakalang asap dan sejenisnya (KBLI 31143). Industri Pengolahan Ikan adalah industri yang terdiri dari: a. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri Pengolahan Ikan untuk periode 5 (lima) tahun. Industri pengalengan ikan dan biota perairan lainnya. Industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya. cumi-cumi asin dan sejenis (KBLI 31142). Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Ikan Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran.

f. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. terasi.pindang ikan tongkol. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. baik pengusaha PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . petis dan sejenisnya (KBLI 31149). Industri pengolahan pengawetan lainnya untuk ikan dan biota lainnya: tepung ikan. tepung udang.e. 3. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Industri pemindangan ikan dan biota perairan lannya. pindang ikan bandeng. Pasal 2 4. Swasta. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan Ikan. (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. rumput laut.2014  . Pemerintah Daerah. dan sejenisnya (KBLI 31145). (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. b.

(2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan.maupun institusi lainnya. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Ikan dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. c. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. dan d. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Ikan ataupun sektor lain yang terkait.

Gubernur seluruh Indonesia. 3. 6. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Wakil Presiden RI. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. 5. Presiden RI. 4. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian.2014  . Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 2.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  .

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

40 juta ton/tahun. yang terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. perairan territorial 0. dan mempunyai garis pantai sepanjang 81. Industri pengolahan ikan masih bergantung terhadap import bahan penolong seperti kaleng. Terdapat perairan umum di wilayah daratan seluas 0. Produk hasil laut dimaksud adalah ikan dan udang dalam kemasan serta ikan dan udang beku. baik untuk pemenuhan konsumsi ikan dalam negeri maupun pemenuhan permintaan ekspor. dengan bentangan luas laut mencapai kurang lebih 5. Produksi perikanan Indonesia didominasi oleh perikanan tangkap dengan potensi lestari sumber daya ikan laut sekitar 6.7 km2. minyak kedelai. bahan kemasan dan lainnya.3 juta km2. Namun demikian tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan tersebut masih belum optimal. sedangkan pemanfaatan ikan laut baru mencapai 4. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 • • • •  . Ruang Lingkup Industri Pengolahan Ikan • Indonesia merupakan salah satu penghasil Ikan yang cukup besar karena memiliki wilayah kelautan yang cukup luas.8 Juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan/ laut Nusantara 2.000 km.8 juta km2 dan ZEEI 2.1 juta ton pada tahun 2006 sedangkan produksi perikanan budidaya mencapai 2.6 juta ton/tahun pada tahun 2006. yang mana peluang pasar domestik maupun internasional masih terbuka luas.54 juta km2.BAB I PENDAHULUAN A.

Dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional. dan juga kinerja indsutri pengolahan ikan masih belum optimal. pemerintah daerah. dan unreported yang sangat marak sehingga mengakibatkan kekurangan pasokan bahan baku ikan.14%.• • Sumbangan terhadap PDB baru mencapai 3. Dalam beberapa tahun terakhir tidak ada investasi baru dibidang industri pengolahan ikan. industri pengolahan hasil laut telah ditetapkan pengembangannya melalui pendekatan klaster dalam membangun daya saing yang berkelanjutan. Pengembangan industri pengolahan hasil laut dengan pendekatan klaster diperlukan jaringan yang saling mendukung dan menguntungkan antara industri pengguna dengan industri pendukung serta industri terkait lainnya melalui kerjasama dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat.2014 . Industri pengolahan hasil laut khususnya ikan merupakan industri yang sangat potensial untuk dikembangkan dimasa yang akan datang. unregulated. sehingga diperlukan teknologi untuk mengolah perikanan tersebut menjadi produk yang tahan lama. Pengembangan usaha sektor perikanan masih menghadapi pada beberbagai kendala antara lain sifat dan karakteristik sumberdaya laut tersebut yang mudah rusak. dan juga adanya IUU fishing Illegal. • • • 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . swasta maupun lembaga lainya termasuk perguruan tinggi dan lembaga litbang.

Industri pengalengan 2 ikan atau ikan dalam kaleng di Indonesia sampai Desember tahun 2005 yang terdaftar sebanyak 74 perusahaan. yaitu sebagai berikut: Dari KLUI diatas. pindang ikan bandeng. udang asin. Dari 41 perusahaan ikan dalam kaleng yang masih aktif berproduksi dan LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . ikan tuna beku. cumi-cumi asin dan sejenis Industri pengasapan ikan dan biota perairan lainnya. seperti ikan bandeng asap. udang dalam kaleng dan sejenisnya Industri pengaraman/pengeringan ikan dan biota perairan lainnya.pindang ikan tongkol. seperti Ikan akan sardencis dalam kaleng. dan sejenisnya Industri pengolahan pengawetan lainnya utkk ikan dan biota lainnya:tepung ikan. yaitu sebagai berikut : KLUI 5 DIGIT 31141 31142 31143 31144 31145 31149 URAIAN Industri pengalengan ikan dan biota perairan lainnya.74% yang masih aktif dan 46. terasi.klaster diperlukan jaringan yang saling mendukung dan menguntungkan antara industri pengguna dengan industri pendukung serta industri terkait lainnya melalui kerjasama dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat. pemerintah daerah. sepertinya : ikan tembang asin. yang masih melakukan kegiatan produksi sekitar 41 perusahaan berarti 57. seperti ikan bandeng beku. ikan cakalang asap dan sejenisnya Industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya. swasta B. ikan teri asin. tepung udang. Pengelompokan Industri Pengolahan Ikan maupun lembaga lainya termasuk perguruan tinggi dan lembaga litbang. dan sejenisnya Industri pemindangan ikan dan biota perairan lannya. petis dan sejenisnya berdasarkan KLUI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Kelompok Industri Pengolahan Ikan ini dapat diuraikan berdasarkan KLUI Indonesia). rumput laut. B. Pengelompokan Industri Pengolahan Ikan atau kategorisasi yang ada didunia internasional dan di Cakupan industri ikan berdasarkan pengelompokan dalam negeri adalah sebagai berikut: Cakupan industri ikan berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang ada Kelompok Industri Pengolahan Ikan ini dapat didunia internasional dan di dalam negeri adalah sebagai berikut : diuraikan (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia).67% industri ikan dalam kaleng yang tidak aktif lagi melakukan produksi. yang akan dibahas hanya KLUI 31141 yaitu industri pengalengan ikan.

hanya perusahaan yang pemegang/pemilik merek tertentu yang menumpang produksi ikan dalam kaleng kepada perusahaan lain. Dari 31 perusahaan lokal tersebut.memasarkan produknya terdiri dari 31 perusahaan lokal dan 10 perusahaan pemegang merk impor. 26 perusahaan telah memiliki pabrik sendiri dan sisanya 5 perusahaan belum memiliki pabrik sendiri.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

dunia usaha. Tercapainya diversifikasi produk pengolahan hasil laut. Produk hasil laut sudah mengacu pada standarisasi. Meningkatnya utilitas kapasitas industri pengolahan hasil laut di dalam negeri. Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • Terjaminnya ketersediaan bahan baku dan penolong.BAB II SASARAN A. • • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  . lembaga penelitian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan industri pengolahan hasil laut. Terkoordinasinya interaksi jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan serta peran aktip antara pusat dan daerah. seperti SNI. Pengembangan dan Penguatan litbang hasil laut di kawasan industri pengolahan hasil laut dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk. Pengembangan industri pendukung untuk kontuinitas sumber bahan penolong industri pengolahan hasil laut. food safety. HACCP. GMP dan Codex. Meningkatkan peran perguruan tinggi untuk penyediaan SDM bidang industri pengolahan hasil laut yang siap pakai. Pembatasan ekspor ikan segar dalam rangka meningkatkan pasokan bahan baku ikan segar untuk industri pengolahan ikan dalam negeri.

• • • • • • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . agar-agar dan alginate. khitin. transportasi darat. perudangan. Meningkatkan pemanfaatan limbah hasil laut sebagai bahan pangan fungsional dan farmasi/suplemen (gelatin. Pengembangan produk formulasi berbasis rumput laut ( farmasi.B. dan per-rumput lautan dalam rangka percepatan pertumbuhan industri hasil laut di sentra produksi terpilih. Jangka Panjang (2010 – 2025) • Terbangunnya kawasan industri pengolahan hasil laut di luar pulau Jawa khususnya di Indonesia bagian Timur. misalnya peti kemas. Pengembangan klaster per-tunaan. khitosan). energi listrik . Pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut. Terjaminnya infrastruktur. Pengembangan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan. Termanfaatkan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi. Pengembangan teknologi pengolahan hasil laut yang lebih modern dalam rangka meningkatkan produk hasil laut yang sesuai dengan standard internasional. kosmetik dan industri).2014 . Pengembangan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi). Meningkatkan nilai tambah rumput laut menjadi antara lain ATC/SRC (Alkali Treated Caragenan/ Semi Refine Caragenan).

BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN
A. VISI
Mewujudkan industri pengolahan ikan yang berdaya saing dan sebagai negara pengekspor utama ikan olahan

B. MISI
• • • • Meningkatkan nilai tambah ikan Meningkatkan utilisasi kapasitas terpasang industri pengolahan ikan Meningkatkan ekspor produk pengolahan ikan Meningkatkan konsumsi ikan olahan dalam negeri

C. Arah Pengembangan Industri Perikanan dan Hasil Laut
Pengembangan industri berskala menengah dan besar.

D. Indikator Pencapaian
• • Meningkatnya kapasitas produksi industri pengolahan ikan. Meningkatnya ekspor ikan olahan.

E. Tahapan Implementasi
• Mengadakan workshop pengembangan klaster pengolahan industri ikan di Maluku, Surabaya dan Bali mulai tahun 2006, 2007 , 2008 dan 2009 yang dilaksanakan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster industri pengolahan ikan.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

• • • •

Kajian Kebijakan Pengembangan Industri Pengolahan Hasil laut. Promosi investasi industri pengolahan ikan Jaringan kerja dan kemitraan dalam klaster industri pengolahan ikan telah dilakukan di provinsi Maluku. Berkoordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penanganan limbah perikanan di Muncar, Banyuwangi dan survey penanganan limbah ke industri-industri pengolahan ikan di Jakarta. Pelatihan-pelatihan teknis pengolahan ikan bagi aparat pembina dan pengusaha antara lain Diklat ISO 22.000 Melalukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri pengolahan ikan melalui kegiatan magang di beberapa pabrik pengolahan ikan di Jawa Timur dan Bali. Melakukan pemberian bantuan mesin/alat pengolahan ikan ke daerah-daerah untuk meningkatkan pengembangan industri pengolahan ikan.

• 

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI
A. Jangka Menengah (2010 – 2014)
• Meningkatkan pasokan bahan baku (kualitas dan kuantitas) untuk industri pengolahan hasi laut melalui koordinasi dengan instansi terkait; Meningkatkan kemitraan dan integrasi antara sisi hulu dan sisi hilir dalam rangka meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; Meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut (GMP, HACCP, dan sertifikasi Halal) dan penerapan sertifikasi produk (SNI) melalui pendidikan dan pelatihan manajemen mutu dan penyusunan buku panduan; Meningkatkan kemampuan uji mutu laboratorium untuk produk hasil laut melalui bantuan alat dan bantuan teknis; Pengembangan sarana dan prasarana industri pengolahan hasil laut antara lain melalui bantuan mesin/ peralatan pengolahan hasil laut ke daerah-daerah yang potensial dengan berkoordinasi dengan instansi terkait; Meningkatkan Sosialisasi tentang Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan (BTP). Meningkatkan Koordinasi interaksi dan terbentuknya jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan, serta peran aktip antara pemerintah pusat/daerah, dunia usaha, lembaga penetilian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan

• •

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

klaster industri pengolahan hasil laut melalui forum komunikasi industri pengolahan hasil lautt; • Berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan pencemaran limbah perikanan di sentra perikanan. Bantuan Mesin/Alat pengolahan hasil laut ke daerahdaerah untuk mendukung pengembangan kawasan industri pengolahan hasil laut di luar Pulau Jawa khususnya Indonesia Bagian Timur.

B. Jangka Panjang (2010 – 2025)
• Bantuan Mesin/Alat pengolahan hasil laut ke daerahdaerah untuk mendukung pengembangan kawasan industri pengolahan hasil laut di luar Pulau Jawa khususnya Indonesia Bagian Timur. Membangun pusat informasi industri hasil laut di lokus klaster pengembangan industri Pengolahan hasil laut; Meningkatkan kompetensi SDM di bidang teknologi pascapanen dan pengolahan hasil laut serta manajerial usaha melalui diklat; Meningkatkan promosi peluang investasi untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut menjadi antara lain ATC/SRC (Alkali Treated Caragenan/ Semi Refine Caragenan), agar-agar dan alginate; Meningkatkan pemanfaatan limbah hasil laut sebagai bahan pangan fungsional dan farmasi/suplemen (gelatin, khitin, khitosan) melalui koordinasi dengan instansi terkait; Pengembangan klaster per-tunaan, perudangan, dan per-rumput lautan dalam rangka percepatan pertumbuhan industri hasil laut di sentra produksi terpilih;
PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

• 

Meningkatkan kerjasama dalam penelitian dan pengembangan teknologi proses dan teknologi produk antara sektor industri dengan lembaga/balai penelitian dan perguruan tinggi. Riset untuk pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut; Mengembangkan produk formulasi berbasis rumput laut (farmasi, kosmetik dan industri); Mengembangkan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi); Mengembangkan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan melalui koordinasi dengan instansi terkait; Kajian pengembangan pemanfaatan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi.

• • • •

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

LAMPIRAN

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 

0
Industri Pendukung /terkait o Industri Peralatan o Industri Pemasok Bahan Baku seperti: Perikanan Tangkap dan Budidaya Laut o Industri Pemasok Bahan Penolong seperti industri es balok, industri kimia (bahan pengawet), industri pengemasan (kaleng tahan karat) o Industri perkapalan Sasaran Jangka Panjang (2020 – 2025) o Pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut; o Pengembangan produk formulasi berbasis rumput laut ( farmasi, kosmetik dan industri); o Pengembangan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi); o Pengembangan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan. o Termanfaatkan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi.

Industri Inti Industri Pengalengan Ikan, Pembekuan Ikan dan Industri Pengolahan Rumput Laut

PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 - 2014

Sasaran Jangka Pendek (2010 – 2015) o Terjaminnya ketersediaan bahan baku dan penolong; o Tercapainya diversifikasi produk pengolahan hasil laut; o Produk sudah mengacu pada standarisasi, seperti SNI, food safety, HACCP, GMP dan Codex; o Pengembangan industri pendukung untuk kontuinitas sumber bahan penolong; o Meningkatnya utilitas kapasitas industri pengolahan hasil laut di dalam negeri; o Meningkatkan peran perguruan tinggi untuk penyediaan SDM bidang industri pengolahan hasil laut yang siap pakai; o Pengembangan dan Penguatan litbang hasil laut di kawasan industri pengolahan hasil laut dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk. o Pembatasan ekspor ikan segar dalam rangka meningkatkan pasokan bahan baku ikan segar untuk industri pengolahan ikan dalam negeri. o Terkoordinasinya interaksi jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan serta peran aktip antara pusat dan daerah, dunia usaha, lembaga penelitian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan industri pengolahan hasil laut.

Strategi 1. Memperkuat keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai dari industri pengolahan hasil laut. 2. Mengutamakan pasokan bahan baku hasil laut untuk industri pengolahan hasil laut dalam negeri. 3. Menerapkan teknologi modern untuk pengolahan hasil laut sehingga produk sesuai standarisasi, seperti SNI, Food Safety, HACCP, GMP dan Codex 4. Memperluas penetrasi pasar dan promosi produk. 5. Mendorong pengembangan SDM industri siap pakai khususnya di bidang manajemen mutu dan teknik produksi. 6. Mengembangkan dan menguatkan litbang industri pengolahan hasil laut dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk.

10

o Meningkatkan Sosialisasi tentang Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan (BTP). o Meningkatkan kemampuan uji mutu laboratorium untuk produk hasil laut melalui bantuan alat dan bantuan teknis. udang dan rumput laut untuk industri pengolahan hasi laut melalui koordinasi dengan instansi terkait. o Meningkatkan Koordinasi interaksi dan terbentuknya jaringan kerja yang saling mendukung dan menguntungkan. Membangun produk memiliki daya saing tinggi b. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 Pasar: a. kosmetik dan industri). pengolahan dan kemasan b. Memberikan fasilitas permodalan dan kemudahan berinvestasi di industri pengolahan hasil laut Gambar 1. o Meningkatkan kemampuan penyediaan mesin dan peralatan pendukung usaha pengolahan hasil laut. Infrastruktur : a. o Mengembangkan industri perikanan hemat energi dan ramah lingkungan melalui koordinasi dengan instansi terkait o Kajian pengembangkan pemanfaatan air laut dalam (deep sea water) untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi. Membangun produk dapat diminati oleh pasar dalam negeri d. o Mengembangkan produk formulasi berbasis rumput laut ( farmasi.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Pendek (2010 – 2015) o Meningkatkan pasokan bahan baku (kualitas dan kuantitas) khususnya tuna. Meningkatkan peran litbang di bidang pengawetan. dan sertifikasi Halal) dan penerapan sertifikasi produk (SNI) melalui pendidikan dan pelatihan manajemen mutu dan menyusun buku panduan. Pembangunan sarana pelabuhan dan penampungan ikan b. Unsur Penunjang SDM : a. o Meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut (GMP. Beraliansi dengan importir utama produk perikanan dunia e. Diversifikasi pasar ekspor produk perikanan. dunia usaha. o Meningkatkan kemitraan dan integrasi antara sisi hulu dan sisi hilir dalam rangka meningkatkan jaminan pasokan bahan baku. Pembangunan kepabeanan untuk eksport d. Membangun kelembagaan nelayan f. Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Ikan Gambar 1. Membangun Merek Produk Industri Pengolahan Hasil Laut Nasional di pasar Internasional c. o Berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan pencemaran limbah perikanan di sentra perikanan. Meningkatkan peran perguruan tinggi untuk penyediaan tenaga ahli siap pakai bidang industri pengolahan hasil laut c. Memberikan intensif untuk penyediaan sarana penangkapan ikan yang modern e. serta peran aktip antara pemerintah pusat/daerah. Penyediaan Balai-Balai atau Unit Pelayanan Teknis untuk pelatihan Sumber Daya Manusia Bidang perikanan dan industri pengolahan Hasil Laut Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2020 – 2025) o Riset untuk pengembangan teknologi formulasi berbasis rumput laut. o Pengembangan sarana dan prasarana industri pengolahan hasil laut antara lain melalui bantuan mesin/peralatan pengolahan hasil laut ke daerah-daerah yang potensial dengan berkoordinasi dengan instansi terkait. HACCP. Pembangunan sarana transportasi darat c. lembaga penetilian dan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan klaster industri pengolahan hasil laut melalui forum komunikasi. o Mengembangkan industri bioteknologi berbasis hasil laut lainnya (produk kosmetik dan farmasi). Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Ikan 11  .

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009  Gambar 2.2014 12 . Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Ikan PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Ikan Gambar 2.

dan penerapan sertifikasi SNI melalui pendidikan dan pelatihan mutu dan penyusunan buku panduan 4. Berkoordinasi dg instansi terkait untuk penanganan pencemaran limbah perikanan di sentra perikanan O O  13 . Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Pengolahan Pengolahan Ikan Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Swasta PT Kab BSA Prop Balai Ind. Dag Dep. Pengembangan sarana dan prasarana ind. Peningkatan kemampuan penyediaan mesin dan peralatan pendukung usaha pengolahan hasil laut. Keu DKP Dep. Perin 1. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 2.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Peningkatan pasokan bahan baku. Peningkatan sosialisasi tentang Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan (BTP) 8. 7. Peningkatan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut. Peran Pemangku Kepentingan dalamPengembangan Industri Industri Ikan Tabel 1. Meningkatkan kemampuan uji mutu Lab untuk produk hasil laut melalui bantuan alat dan bantuan teknis 5. Peningkatan koordinasi interaksi dan terbentuknya jaringan kerja yang saling mendukung LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 120/M-IND/PER/10/2009 9. Peningkatan kemitraan antara nelayan dengan industri pengolahan hasil laut. O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O 3. Ambon Daya Saing KRT /BPPT Perusahaa n Industri Asosiasi Perguruan Tinggi dan Litbang Forum Working Group Fasilitas Klaster Rencana Aksi 2010 – 2015 Dep.pengolahan hasil laut melaluibantuan mesin/alat ke daerah yang potensial 6.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. industri berbasis agro. Menimbang : a. industri elektronika dan telematika.PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . industri alat angkut.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). c. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Kertas. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.2014  . 2. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). Bahwa industri kertas merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri kertas. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108.b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330).4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. 8. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987).

Tugas.2014 . Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS. Fungsi. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 11. 12.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. 10. 13.

Industri Barang dari Kertas dan karton yang tidak Diklasifikasikan di Tempat lain (KBLI 21090). Buku Musik dan Publikasi lainnya (KBLI 22110). e. Industri Kemasan dan Kotak dari Kertas dan Karton (KBLI 21020). Industri Kertas 21013). serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri kertas untuk periode 5 (lima) tahun. c. Industri Kertas Budaya (KBLI 21012). b. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Kertas Tahun 20102014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran. Berharga (KBLI d.Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Industri Penerbitan Buku. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . j. Industri Kertas adalah industri yang terdiri dari: a. g. strategi dan kebijakan. Industri Kertas Tissue (KBLI 21016). f. h. Brosur. Industri Kertas Khusus (KBLI 21014). 2. Industri Kertas Lainnya (KBLI 21019). Industri Kertas Industri (KBLI 21015). Industri Bubur Kertas (Pulp) (KBLI 21011). i.

b. Pemerintah Daerah. (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya.2014 . Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor. MenteriadalahMenteriyangmelaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. baik pengusaha maupun institusi lainnya. dan 0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya.3. 4. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Kertas ataupun sektor lain yang terkait. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Kertas. Swasta. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pemangku Kepentingan adalah Pemerintah Pusat. c.

(2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini.d. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Kertas dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. 5. Wakil Presiden RI. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 3.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 4.2014 . 6. 2. Gubernur seluruh Indonesia. Presiden RI.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERTAS BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  .

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Berdasarkan proses pembuatannya dibedakan atas: pulp kimia (chemical pulp) dan pulp mekanikal (mechanical pulp). kertas tulis cetak dan kertas berharga (kertas untuk saham. Ruang Lingkup Industri Kertas Cakupan industri pulp dan kertas berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang dilakukan oleh Departemen Perindustrian dan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) adalah sebagai berikut: 1.BAB I PENDAHULUAN A. Berdasarkan bahan bakunya dibedakan atas: pulp kayu (wood pulp) dan pulp non-kayu (non­ wood pulp). Cakupan industri kertas meliputi : •  . LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 • • • 2. Pulp kadang-kadang juga dibedakan atas: pulp virgin (pulp yang masih asli yang diperoleh dari pemrosesan bahan baku kayu/non-kayu menjadi pulp baik melalui proses kimiawi atau mekanikal) dan pulp daur ulang yang diperoleh dari pemrosesan kembali kertas bekas (recovered paper). Kertas budaya terdiri atas: kertas koran. dan lain-lain). kertas perangko. Cakupan industri pulp sering dikelompokkan kedalam berbagai kelompok/kategori sebagai berikut: • Berdasarkan panjang seratnya dibedakan atas: pulp serat panjang (needle bleached kraft pulp) dan pulp serat pendek (leaf bleached kraft pulp).

Kelompok Industri Antara Kertas sebagian merupakan produk antara. meliputi: kertas uang. Contoh lainnya adalah kertas tisu dan kertas tulis cetak dalam bentuk roll (gulungan) besar. kemudian dipacking. Industri bubur kertas ada dua macam yaitu virgin pulp dan kertas bekas (recovered paper). Kertas tissue terdiri atas: kertas tissue rumah tangga dan kertas sigaret. board. kertas thermo. roll besar dipotong menjadi roll-roll kecil atau segi empat. corrugating medium. kertas overlay. jenis kertas ini merupakan bahan baku untuk industri kemasan Kotak Karton Gelombang (KKG). dan kertas bungkus. kertas dekor. kraft liner. Kertas sebagai produk antara contohnya kertas Medium Liner dan Kraft Liner. Untuk kertas tissue. dan lain-lain.2014  . Virgin pulp secara garis besar ada dua macam yaitu pulp serat pendek (Leaf Bleach Kraft Pulp) dan pulp serat panjang (Needle Bleach Kraft Pulp). Sedangkan roll besar kertas tulis cetak pada umumnya dipotong menjadi ukuran A4. • • B. PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . sebelum dipasarkan ke konsumen.• Kertas industri terdiri atas: sack kraft (kertas kantong semen). Pengelompokan Industri Kertas 1. Kertas khusus (specialty paper). sebagian merupakan produk hilir. Kelompok Industri Hulu Kelompok industri hulu kertas adalah industri pulp (bubur kertas). kertas label. letter atau kwarto. 2. selanjutnya dipacking dan dipasarkan kepada konsumen akhir.

dan lain-lain). tisu rumah tangga. Kelompok Industri Hilir Industri hilir kertas.3. industri percetakan dan grafika serta industri converting (seperti : industri buku tulis. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . antara lain adalah industri kertas fotocopy. industri kemasan kotak karton gelombang (KKG).

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .2014 .

Meningkatnya posisi Indonesia dalam percaturan di bidang industri pulp dan kertas dunia (diharapkan dapat menjadi produsen 5 besar dunia). Meningkatnya pemanfaatan bahan baku alternatif (non-kayu) untuk industri pulp. Meningkatnya industri permesinan nasional dalam memenuhi kebutuhan permesinan industri pulp dan kertas di dalam negeri. • • • • B. Meningkatnya suplai kertas bekas dari dalam negeri. Meningkatnya industri pulp dan kertas nasional yang berkualifikasi akrab lingkungan.BAB II SASARAN A. Jangka Panjang (2010-2025) • • • Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. Minimalnya dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri pulp dan kertas. dan diharapkan pada tahun 2009 ini seluruh bahan baku kayu untuk industri pulp sudah berasal dari HTI. Jangka Menengah (2010-2014) • Makin meningkatnya pasokan bahan baku kayu dari HTI. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatnya ekspor pulp dan kertas masing-masing sebesar 5%/tahun dan 10%/tahun.

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

dengan inti industri kertas dan lokus pengembangannya di P. • 3. Mempertahankan kelestarian lingkungan. Visi Meningkatnya posisi industri pulp dan kertas nasional sebagai salah satu produsen terkemuka di dunia (diharapkan menjadi 5 besar). Jawa. Kalimantan dan Papua). efisiensi dan produktivitas industri pulp dan kertas. • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . termasuk kemampuan rancang bangun dan perekayasaan permesinan. Mengoptimalkan penguasaan pasar dalam negeri dan perluasan pasar ekspor. Jawa (khususnya: Sumatera. Visi dan Arah Pengembangan Industri Kertas 1. Misi • • • • Memfasilitasi penyediaaan bahan baku yang mencukupi secara berkesinambungan. sedangkan industri pulp pengembangannya diarahkan ke luar P. 2.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Meningkatkan mutu. Meningkatkan penguasaan teknologi. Pengembangan industri pulp dikembangkan dengan skala besar dan terpadu dengan HTI. Arah Pengembangan • Pengembangan industri pulp dan kertas dilakukan dengan pendekatan klaster industri.

Teknologi pemutihan yang diperkenankan minimal ECF (Elementally Chlorine Free). Kehutanan dan Pemerintah daerah terkait. Depkeu dan lainlain dalam rangka menciptakan iklim usaha yang kondusif guna menarik investor berinvestasi di bidang industri pulp dan kertas. C. Meningkatnya utilisasi kapasitas industri pulp dan kertas. Indikator Pencapaian • • • • Meningkatnya suplai bahan baku kayu dari HTI untuk industri pulp. Meningkatnya pasokan kertas bekas dari dalam negeri. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. dalam rangka pengalokasian areal HTI untuk mendukung perluasan perusahaan maupun pembangunan pabrik pulp baru. Pemda. Tahapan Implementasi • Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti : Dep. • • B. BKPMD.2014 • •  . Meningkatnya kapasitas terpasang industri pulp dan kertas. Memfasilitasi pembentukan kelembagaan klasterklaster pengumpul kertas bekas. mulai dari pemuPETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . seperti : BKPM.• Proses produksi pulp tidak boleh menggunakan Proses Sulfit dan tidak boleh menggunakan Proses Merkuri pada Chlor Alkali Plant-nya (CAP). Pengelolaan HTI dan industri pulp harus memenuhi kaidah-kaidah kelestarian lingkungan.

Melakukan koordinasi dengan Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK). Bappenas. pengepul (lapak) kecil hingga lapak besar. Melakukan koordinasi dengan Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN). antara lain terkait dengan: efisiensi proses produksi. pengembangan standar dan lain-lain. melalui pemberian insentif. penanganan masalah lingkungan. LIPI dan Perguruan Tinggi dalam rangka mendukung pengembangan R & D dan penerapan teknologi di bidang industri pulp dan kertas. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 • • • •  . dalam rangka pengembangan pasar ekspor non-tradisional. Depkeu. dalam rangka upaya peningkatan pengumpulan kertas bekas dari dalam negeri. Inti Karya Persada Teknik (IKPT). Bank Indonesia. Melakukan koordinasi dengan Akademi Teknologi Pulp dan Kertas (ATPK) dan Perguruan Tinggi lainnya dalam rangka penyediaan SDM untuk pulp dan kertas. seperti: PT. ITPC. Rekayasa Industri. seperti: Dephut. BPPT. PT.lung. • Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. dalam rangka mendorong perusahaan HPHTI untuk melakukan percepatan penanaman. pemanfaatan bahan baku alternatif yang potensial. peningkatan mutu produk. Melakukan koordinasi dengan industri rancang bangun dan perekayasaan nasional. Perbankan Nasional. KADIN. PT. Atase Perindustrian dan Perdagangan. antara lain berupa: kredit lunak. dalam rangka mengembangkan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri pulp dan kertas. Pindad dan lain-lain. diversifikasi produk. keringanan pajak dan lainlain.

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Industri Pendukung dan Industri Terkait guna meningkatkan daya tahannya di pasar dalam negeri dan daya saingnya di pasar global.2014 .• Memfasilitasi Tim Klaster Industri Pulp dan Kertas dalam rangka mensinergikan Industri Inti.

Mendorong penerapan penggunaan teknologi modern yang efisien dan ramah lingkungan. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Jangka Panjang (2010-2025) • Memaksimalkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman dan bahan baku alternatif. Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • • Mempercepat realisasi penanaman HTI yang sudah ada. Mendorong perkembangan industri hilir kertas. Meningkatkan penggunaan bahan baku alternatif (eks limbah perkebunan/pertanian). Mengembangkan standar dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing industri pulp dan kertas nasional. Meningkatkan penerapan ISO 9001: 2000. Melakukan promosi investasi di bidang industri pulp dan kertas. Memfasilitasi restrukturisasi permesinan industri pulp dan kertas.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. ISO 14000 dan ekolabel. Melakukan diversifikasi produk industri kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang saat ini masih diimpor). Mengalokasikan HTI baru untuk mendukung pengembangan industri pulp baru. • • • • B.

• Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan perekayasaan permesinan industri pulp dan kertas. Melakukan diversifikasi produk industri kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang saat ini masih diimpor). ISO 14000 dan ekolabel. Melakukan promosi investasi di bidang industri pulp dan kertas.2014 . Peningkatan penerapan ISO 9001: 2000. • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Mengembangkan standar dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing industri pulp dan kertas nasional. Mendorong perkembangan industri hilir kertas.

Adanya keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku. ISO 14000 dan Mendorong penggunaan teknologi modern yang efisien dan sertifikasi ekolabel. Industri Bahan Kimia. Industri Pulp. Unsur Penunjang SDM : Pelatihan ecolabeling/sistem manajemen mutu.. Teknologi : Adopsi teknologi akrab lingkungan dan kemampuan R&D Indigeneous Technology. konservasi energi dan lingkungan. Kerangka Pengembangan Industri Kertas Gambar 1. Meningkatnya ekspor. Kertas Bekas. Kerangka Pengembangan Industri Kertas 9 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009  . Pengemasan. Komputer Sasaran Jangka Panjang (2010-2025) • • • Sasaran Jangka Menengah (2010-2014) • • • • Meningkatnya pasokan bahan baku kayu dari HTI dan penggunaan bahan baku alternatif eks perkebunan/pertanian. • Memaksimalkan penggunaan bahan baku dari hutan tanaman dan Melakukan pengalokasian HTI baru untuk pengembangan bahan baku non kayu. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan bahan baku industri pulp dan kertas. Pengembangan kemampuan SDM. Pencetakan dan Penerbitan. Semen. Melakukan diversifikasi produk industri kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang selama ini masih diimpor). Terwujudnya pengoperasian industri dan pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. Memfasilitasi restrukturisasi permesinan industri pulp dan kertas. Converting. industri pulp baru. Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) • • • • • • Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010-2025) Mempercepat realisasi penanaman HTI yang sudah ada. Periodisasi Peningkatan Teknologi : • Inisiasi (2010-2014) : Pengembangan teknologi rancang bangun • dan perekayasaan permesinan industr pulp dan kertas mulai dari spare parts yang sederhana. pelabuhan dan sumber daya listrik di daerah pengembangan industri pulp dan kertas. Meningkatkan peran Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK). Gambar 1. perekayasaan mesin dan peralatan proses pulp dan kertas. Meningkatnya peran industri permesianan nasional dalam mendukung kebutuhan mesin/peralatan proses produksi pulp dan kertas. • • Pasar : Pengembangan pasar ekspor.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 Industri Inti Kertas Industri Pendukung Industri Terkait Mesin dan Peralatan. Strategi Sektor : Peningkatan daya saing dengan konsep industri berkelanjutan dan penggunaan teknologi ramah lingkungan. Rokok. Rayon. ramah lingkungan. Minimalnya dampak lingkungan. • Mendorong berkembangnya industri rancang bangun dan Mengkampanyekan penggunaan bahan baku alternatif . • Peningkatan penerapan ISO 9001 : 2000. Infrastruktur : Pembangunan jalan.

Depdag •Working Group •Forum Daya Saing •Fasilitator Klaster Dinas Perindag. Kerangka Keterkaitan Industri Kertas Gambar 2. KLH.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat Deprin. Deptan.2014 . Dinas Pertanian Bahan Kimia Serat & Limbah Selulosa Jerami Kayu Pulp Penerbitan Percetakan Eksportir PASAR LUAR NEGERI • Kertas Industri • Kertas Budaya Pengemasan Paper Board & Wall Distributor PASAR DALAM NEGERI Mesin & Peralatan Material Akustik Lembaga Litbang / PT -BBPK -BBKB -ITB/UGM/IPB Transportasi Perbangkan Asuransi JASA Assosiasi • APKI • PICCI • PPGI • APBTI Gambar 2. Kerangka Keterkaitan Industri Kertas 10  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Dephut. Dinas Kehutanan.

Kab. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Kertas Forum Daya Saing Pemerintah Pusat Dep.LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Meningkatkan penggunaan bahan baku kayu dari hutan tanaman dan bahan baku non kayu ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 2. Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Kertas Tabel 1. Tan BSN Perusahaan Industri Balai Besar Pulp dan Kertas Prop. Memfasilitasi restrukturisasi permesinan industri pulp dan kertas º º ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ○ 5. Hut Dep. Mendorong perkembangan industri hilir kertas ‫ס‬  11 . Asosiasi PT Pemerintah Daerah Swasta Perguruan Tinggi dan Litbang Rencana Aksi 2010 . Melakukan pengalokasian HTI baru untuk pengembangan industri pulp baru ‫ס‬ ○ ○ 3.2014 Working Group Fasilitasi Klaster 1. Mendorong penggunaan teknologi modern yang efisien dan ramah lingkungan ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ○ 4. Perin Dep. Keu Dep. Mendorong diversikasi produk kertas yang bernilai tambah tinggi (terutama kertas khusus yang saat ini masih diimpor) ‫ס‬ ‫ס‬ 7. Mengembangkan standar dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 121/M-IND/PER/10/2009 ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ ‫ס‬ 6.

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

industri berbasis agro. Bahwa dalam rangka pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Menimbang : a. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA. industri elektronika dan telematika. industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur. industri alat angkut.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274). Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b perlu dikeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan (Ro­ ad Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Susu. Bahwa industri pengolahan susu merupakan salah satu industri berbasis agro sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu ditetapkan peta panduan pengembangan klaster industri pengolahan susu. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22.2014 . c. 2.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47. 7. Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 23. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3330). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548). 5. 6. Tambahan Lem- PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .108. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33. 4.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan.2014 . Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 01/M-IND/PER/3/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perindustrian. 12. 13. Fungsi. Tugas.  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . 9.baran Negara Republik Indonesia Nomor 4987). 11. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007. 10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2007. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

3. c. Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Susu Tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran.MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU. serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan susu untuk periode 5 (lima) tahun. 2. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. b. Industri Pengolahan Susu adalah industri yang terdiri dari: a. Industri Makanan dari Susu (KBLI 15202). PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Industri Es Krim (KBLI 15203). Swasta. Industri Susu (KBLI 15201). strategi dan kebijakan. Pemangku kepentingan adalah Pemerintah Pusat. Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Kemasyarakatan lainnya. Pemerintah Daerah.

Pasal 2 (1) Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini (2) Peta Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan: a. Menteri adalah Menteri yang melaksanakan sebagian tugas urusan pemerintahan di bidang perindustrian. khususnya yang memiliki kegiatan usaha di sektor Industri Pengolahan Susu ataupun sektor lain yang terkait. Informasi untuk menggalang dukungan sosial-politis maupun kontrol sosial terhadap pelaksanaan kebijakan klaster industri ini. dan d. b. c. baik pengusaha maupun institusi lainnya.4. Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor.2014 . yang pada akhirnyadiharapkanuntukmendorong  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pedoman operasional Aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya. Pedoman bagi Pelaku klaster Industri Pengolahan Susu. antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).

partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri. Pasal 4 (1) Kementerian Negara/Lembaga membuat laporan kinerja tahunan kepada Menteri atas pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). (2) Menteri melaporkan hasil pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Presiden setiap 1 (satu) tahun selambat-lambatnya pada akhir bulan Februari pada tahun berikutnya. (2) Pelaksanaan program/rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemangku Kepentingan sebagaimana tercantum dalam Peta Panduan. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Pasal 3 (1) Program/rencana aksi pengembangan klaster Industri Pengolahan Susu dilaksanakan sesuai dengan Peta Panduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).

 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Presiden RI. Bupati/Walikota seluruh Indonesia. Eselon I di lingkungan Departemen Perindustrian. 5. 3. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Oktober 2009 MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO SALINAN Peraturan Menteri ini disampaikan kepada: 1. 2. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. 6. Gubernur seluruh Indonesia. 4.2014 . Wakil Presiden RI.Pasal 5 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL : 14 OKTOBER 2009 PETA PANDUAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU BAB I BAB II PENDAHULUAN SASARAN BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI MENTERI PERINDUSTRIAN RI ttd FAHMI IDRIS Salinan sesuai dengan aslinya Sekretariat Jenderal Departemen Perindustrian Kepala Biro Hukum dan Organisasi PRAYONO LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  .

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Selain bahan baku susu segar. mentega. 040221110. Ruang Lingkup Industri Pengolahan Susu • Industri pengolahan susu meliputi usaha pembuatan susu bubuk. yoghurt. 040310000. susu kental manis. susu kental manis. pasteurisasi). 040221900. krim. dan lain-lain agar dapat diproses menjadi produk olahan lainnya. Susu segar dan produk olahannya disajikan dalam bentuk pohon industri berikut: • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . 040221190. keju. susu asam. Industri pengolahan susu pada umumnya menggunakan susu segar sebagai bahan baku. 15211 : industri susu b. 040291000. dan es krim. industri ini juga membutuhkan bahan tambahan seperti gula. 040299000. minyak nabati. susu bubuk. Nomor KBLI industri pengolahan susu adalah: a. 040390100 Jenis diversifikasi produk susu meliputi: susu cair (UHT. kepala susu/krim susu termasuk pengawetannya seperti sterilisasi dan pasteurisasi. 15212 : industri makanan dari susu • Nomor HS industri pengolahan susu: 040210100.BAB I PENDAHULUAN A.

Pohon Industri Pengolahan Susu Gambar I. Kelompok Industri Hulu  Susu Segar .2014 Anhydrose Milk Fat Susu Bubuk . Pohon Industri Pengolahan Susu B.Full Milk Powder .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009  Kepala Susu Yoghurt BM = 0% Susu Dadih / Tahu Susu Ice cream Skim Milk Powder Keju Susu Pateurisasi Susu UHT Whey SUSU SEGAR PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . Pengelompokan Industri Pengolahan Susu 1.1.1.Susu Formula Mentega Susu Kental Manis Gambar I.

Kelompok Industri Hilir • • • • • • • Susu Bubuk Susu Kental Manis Makanan Bayi dari susu Keju Mentega Es Krim Yoghurt LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Kelompok Industri Antara • • • Susu Pasteurisasi Susu UHT Susu Fermentasi 3. Kelompok Industri Hulu • Susu Segar 2.B. Pengelompokan Industri Pengolahan Susu 1.

2014 . PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

• LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Peningkatan kualitas susu segar melalui bantuan keterampilan cara perah. Pengembangan susu berkualitas dengan harga terjangkau. dan penerapan Good Farming Practices (GFP) serta Good Handling Practices (GHP). Meningkatkan populasi ternak sapi perah. Meningkatkan produktivitas menjadi 15 liter/ekor/hari. Peningkatan kemitraan antara Industri Pengolah Susu dengan peternak sapi perah baik langsung maupun tidak langsung. bantuan peralatan (cooling unit).10 sapi/peternak. Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi 5 . Jangka Menengah (2010 – 2014) • • Peningkatan pertumbuhan industri susu olahan 10 %/tahun. ternak sapi perah • • • • • • • Meningkatkan pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) dari 30% menjadi 40%. Pengembangan pengendalian penyakit ternak. Mengembangkan industri pakan ternak skala kecil dengan memanfaatkan sumber bahan pakan dalam negeri. Peningkatan kesinambungan ketersediaan pakan ternak dalam upaya meningkatkan produktivitas susu segar.BAB II SASARAN A.

• • • B. Meningkatkan populasi ternak sapi perah.Meningkatkan produktivitas sapi perah menjadi diatas 20 liter/ekor/ hari. Jangka Panjang (2015 – 2025) • • • Meningkatkan pertumbuhan industri susu olahan 10 %/tahun. Meningkatkan konsumsi susu nasional menjadi 23 kg/kapita/tahun. Meningkatkan pasokan Susu Segar Dalam Negeri menjadi 50%. Peningkatan kerjasama dalam upaya pengembangan teknologi proses dan diversifikasi produk. Meningkatkan penguasaan teknologi dalam upaya peningkatan mutu susu olahan skala kecil menengah. Meningkatkan kompetensi SDM ditingkat peternak khususnya dalam ketrampilan teknis & teknologis pakan ternak dan usaha peternakan. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat untuk mencegah lost generation. Mengembangkan diversifikasi produk susu olahan yang mempunyai daya saing tinggi. Pengembangan skema pembiayaan kepemilikan bibit sapi unggul.2014 .• Meningkatkan daya saing Industri Pengolahan Susu melalui harmonisasi tarif bea masuk antara produk jadi susu dengan bahan baku/penolong dan kemasan. Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi diatas 10 sapi/peternak. Kampanye penggalakan minum susu secara nasional. • • • • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

berdaya saing. dan penyerapan tenaga kerja. investasi. Mengembangkan indsutri pengolahan susu (diversifikasi produk) dengan memanfaatkan potensi bahan baku. Mengembangkan faktor pendukung berupa bahan baku.BAB III STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Arah Pengembangan: • • • Meningkatkan nilai tambah. mandiri. dan mensejahterakan masyarakat. energi. Memantapkan program kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak. Optimalisasi dan peningkatan kapasitas produksi yang ada (eksisting). dan prasarana. Meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar untuk menunjang pasokan bahan baku industri pengolahan susu. • • • • LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Visi dan Arah Pengembangan Industri Pengolahan Susu Visi: Mewujudkan industri pengolahan susu yang berkelanjutan. Promosi investasi produk-produk olahan susu yang mempunyai nilai tambah tinggi.

2014 . lembaga keuangan dalam peningkatan investasi industri pengolahan susu. Indikator Pencapaian • • • Meningkatnya tingkat konsumsi susu segar khususnya bagi anak-anak usia sekolah. Perusahaan yang mendominasi klaster susu adalah industri menengah dan besar Pengembangan usaha industri dan peningkatan jejaring melalui networking dengan sektor ekonomi yang lain. Meningkatnya sarana dan prasarana untuk keperluan industri pengolahan susu. Adanya dukungan lembaga penelitian. Pemerintah Pusat memberikan bantuan mesin/ peralatan berupa cooling unit untuk mendukung pengembangan klaster.B. Meningkatnya produktifitas ternak sapi perah menjadi lebih dari 15 liter/ekor/hari. Tahapan implementasi • Pemerintah Pusat melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan Pemda Propinsi Jawa Barat. Meningkatnya kesadaran peternak untuk menerapkan Good Farming Practices (GFP) yang akan berdampak pada kualitas susu segar. Jawa Tengah. koordinasi promosi dan perencanaan pemasaran. • • C. • • •  PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . dan Jawa Timur serta stakeholderstakeholder terkait melalui Forum Komunikasi.

2. penggalakan minum susu secara LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009  . Meningkatkan penyuluhan kepada peternak untuk meningkatkan kualitas susu segar sehingga bisa menaikkan pendapatan peternak (harga susu yang berkualitas tinggi lebih mahal dari pada yang berkualiatas rendah). Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivas yang tinggi dengan harga cicilan yang terjangkau. Jangka Menengah (2010 – 2014) 1. juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu. Kampanye nasional. Memberikan penyuluhan dan pelatihan teknis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.BAB IV PROGRAM / RENCANA AKSI A. Penerapan standard mutu bahan baku sesuai standard yang ditentukan (SNI). Pemanfaatan produk samping industri pengolahan pangan untuk membuat pakan yang berprotein tinggi dengan harga terjangkau. Menyederhanakan rantai penyaluran susu segar sehingga dapat memangkas biaya. Memberikan kredit lunak kepada koperasi dan kelompok peternak untuk membeli peralatan (cooling unit) sehingga bisa memperbaiki kualitas angka bakteri dari susu segar.

Meningkatkan SDM dan penyediaan pakan dan bibit unggul sehingga bisa menaikkan produktifitas peternak sapi perah. Peningkatan cara pengelolaan ternak dari skala kecil menjadi skala sedang sehingga bisa menurunkan biaya fix cost ditingkat peternak. Bersama instansi terkait membuat sistem kredit bunga ringan untuk pengadaan bibit sapi perah unggul. 2. 00 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 . bermanfaat dan terintegrasi. Jangka Panjang (2015 – 2025) 1. Memperdalam research & development untuk inovasi produk pengolahan susu yang berkualitas.2014 .B. juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivas yang tinggi dengan harga cicilan yang terjangkau. Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu.

KerangkaKeterkaitan Industri Pengolahan SusuSusu 9 0 .Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 Gambar 1. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Gambar 1.

Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Menengah (2010-2014) Pokok-Pokok Rencana Aksi Jangka Panjang (2010-2025) • • • • • • • • • • • • PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .  Insentif kredit bagi peternak sapi dan industri pengolahan susu  Penyediaan fasilitas pendidikan.  Peningkatan peranan litbang dan perguruan tinggi untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi dan perbaikan produk dari pengolahan susu food untuk susu steril Gambar Gambar 2 KerangkaPengembangan Industri Pengolahan Susu 2 Kerangka Pengembangan Industri Pengolahan Susu 10 . investasi. Industri Label. juga untuk menigkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Penerapan standar mutu bahan baku sesuai standard yang ditentukan (SNI) Pemanfaatan produk samping industri pengolahan pangan untuk membuat pakan yang berprotein tinggi dengan harga terjangkau. Bersama instansi terkait membuat sisitem kredit bunga ringan untuk pengadaan bibit sapi perah unggul. Memperdalam research & development untuk innovasi produk pengolahan susu yang berkualitas dan bermanfaat dan terintegrasi Periodisasi Peningkatan Teknologi : • Inisiasi (2004-2009) : Pembuatan Susu Kental Manis dengan Direct Process (tanpa Evaporator) • Pengembangan Cepat (2010-2015) : Teknologi Aglomerasi pengganti Spray Drying untuk menurunkan • Matang (2016-2025) : Steril packaging (UHT) yang murah. Co-dosing untuk life bacteria dan functional biaya processing. Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas yang tinggi dengan harga cicilan yang terjangkau. Peningkatan Kemitraan antara Industri Pengolahan Susu dengan peternak sapi perah baik langsung maupun tidak langsung.10 sapi/peternak Meningkatkan produktivitas ternak sapi perah menjadi 15 liter/ekor/hari Meningkatkan pasokan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) dari 30% menjadi 40% Peningkatan kualitas susu segar melalui keterampilan cara perah. Meningkatkan penyuluhan kepada peternak untuk meningkatkan kualitas susu segar sehingga menaikkan pendapatan peternak (harga susu yang berkualitas tinggi lebih mahal daripada yang berkualitas rendah). Industri Alumunium Foil. dan penyerapan tenaga kerja. Pengembangan skema pembiayaan kepemilikan bibit sapi unggul. Industri Karton. perolehan devisa. bantuan peralatan cooling unit. Industri Pembuatan Kaleng. pelatihan dan penyuluhan bagi peternak di desa • • • Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu olahan. juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak. Penetapan model pengembangan Industri Pengolahan Susu skala menegah berbasis SSDN •Optimalisasi faktor pendukung berupa peningkatan pasokan bahan baku. Memberikan kredit lunak kepada koperasi dankelompok peternak untuk membeli peralatan (cooling unit) sehingga bisa memperbaiki kualitas angka bakteri dari susu segar. Industri Food Chain. Meningkatkan daya saing Industri Pengolahan susu melalui harmonisasi tarif bea masuk antara produk jadi susu dengan bahan baku/ penolong dan kemasan. dan penerapan Good Farming Practices (GFP) serta Good Handling Practice (GHP).Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 Industri Terkait Industri Inti Industri Pendukung 0 Sasaran Jangka Panjang (2010-2025) • • • • • • • • • • Meningkatkan pertumbuhan susu olahan 10 %/tahun Meningkatkan populasi ternak sapi perah Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi diatas 10 sapi/peternak Meningkatkan produktivitas sapi perah menjadi diatas 20 liter/ekor/hari Meningkatkan konsumsi susu nasional menjadi 23 liter/kapita/tahun Meningkatkan pasokan susu segar dalam negeri (SSDN) menjadi 50% Meningkatkan penguasaan teknologi dalam upaya peningkatan mutu susu olahan skala kecil menengah Mengembangkan diversifikasi produk susu olahan yang mempunyai daya saing tinggi. Industri Permen Rafinasi. perbaikan kesejahteraan peternak dan daya beli masyarakat sehingga bisa mencapai masyarakat dengan budaya minum susu yang tinggi. Industri Gula Industri pangan khusus (yoghurt.2014 Unsur Penunjang Infrastruktur :  Pengembangan fasilitas pelabuhan dan akses jalan. Peningkatan utilisasi kapasitas produksi industri yang ada (existing) 3. Meningkatkan kompetensi SDM khususnya dalam keterampailan teknis & teknologis pakan ternak dan usaha peternakan. Pasokan Bahan Bakar termasuk Gas Bumi dan Pasokan Listrik. 2. Kampanye penggalakan minum susu secara nasional. Memberikan penyuluhan dan peltihan teknis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Industri Pengolahan Susu Kemasan Produk. Sasaran Jangka Menengah (2010 – 2014) • • • • • • • • • • • • • • • Meningkatkan pertumbuhan industri susu olahan 10 %/tahun Mengembangkan industri pakan ternak skala kecil dengan memanfaatkan sumber bahan pakan dalam negeri Peningkatan kesinambungan ketersediaan pakan ternak dalam upaya meningkatkan produktivitas susu segar Pengembangan pengendalian penyakit ternak Pengembangan susu berkualitas dengan harga terjangkau Meningkatkan populasi ternak sapi perah Meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak menjadi 5 . Teknologi pembiakan bakteria probiotik yang murah SDM :  Peningkatan kemampuan SDM di bidang pengelolaan ternak sapi dan pengolahan susu segar. Industri Mesin Pengolahan Susu & Peralatan Pabrik. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat untuk mencegah lost generation. Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana muruh sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas yang tinggi dan harga cicilan yang terjangkau. Peningkatan kerjasama dalam upaya pengembangan teknologi proses dan diversifikasi produk. Peningkatan cara pengelolaan ternak dari ukuran kecil menjadi ukuran sedang sehingga bisa menurunkan biaya fix cost ditingkat peternak Meningkatkan SDM dan penyediaan pakan dan bibit unggul sehingga bisa menaikan produktifitas peternak sapi perah. Menyederhanakan rantai penyaluran susu segar sehingga dapat memangkas biaya. Peningkatan : nilai tambah produk. Strategi : 1. Kampanye penggalakan minum susu secara nasional Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu olahan. Ice Cream). sehat dan maju.

APMB. ASRIM Asosiasi 0 Gambar 3 Bagan Keterkaitan Industri Pengolahan Susu Gambar 3 Bagan Keterkaitan Industri Pengolahan Susu 11 . Dinas Pertanian.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 Pemerintah Pusat: Depperin. BKPM Forum Daya Saing/ Working Group Fasilitasi Klaster Pemerintah Daerah : Dinas Indag. Marketing IPS. GAPMMI. Deptan. dll) Distributor PASAR DALAM NEGERI LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 Jasa Lembaga Litbang/Peguruan Tinggi Bank dan Konsultan Pemasaran. Asuransi. MennegKop & UKM. Depkeu. Logistik. Persh. Peternakan Susu Segar Susu Segar bahan baku Industri Eksportir PASAR LUAR NEGERI Mesin / Peralatan Pengolahan Susu Segar Susu Segar Konsumsi Susu Pasteurisasi Susu Cair Susu UHT Susu Skimmed Susu Bubuk Susu Kental Manis Yoghurt Ice cream Keju Makanan dari Susu (Butter. Depdag.

Jatim .2014 12 Indikasi Lokasi : Jabar. Jateng.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 0 Gambar 4 Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Susu Gambar 4 Lokasi Pengembangan Industri Pengolahan Susu PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

Saing Group Klaster Pem. 0 13 . Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Pengolahan Susu Tabel 1. juga untuk meningkatkan kepemilikan sapi perah oleh peternak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pemanfaatan produk samping industri pengolahan pangan untuk membuat pakan berprotein tinggi dengan harga terjangkau Meningkatkan penyuluhan kepada peternak untuk 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 meningkatkan kualitas susu segar sehingga menaikkan pendapatan peternak(harga susu berkualitas tinggi lebih mahal daripada yang berkualitas rendah) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Memberikan kredit lunak kepada koperasi dan kelompok peternak untuk membeli peralatan (cooling unit) sehingga bisa memperbaiki angka bakteri dari susu segar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Memberikan penyuluhan dan pelatihan teknis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Menyederhanakan rantai penyaluran susu segar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK IINDONESIA NOMOR : 122/M-IND/PER/10/2009 sehingga dapat memangkas biaya Kampanye penggalakan minum susu secara nasional.Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 122/M-IND/PER/10/2009 Tabel 1. Daerah Sw asta Perg.2009 Bersama instansi terkait menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan industri susu olahan Bersama stakeholder terkait mengusahakan dana 0 0 0 0 0 0 0 0 0 murah sehingga bisa mendatangkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas yang tinggi dengan harga cicilan terjangkau. Tinggi Forum Rencana Aksi 2004 . Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Pengolahan Susu Pemerintah Pusat & Litbang Depperin Deptan Depkeu Depdag Menegkop Depkes & UKM 0 0 0 0 0 0 0 Diknas Kesra Dep Menko BKPM Prop Kab Assosiasi Perush PT Litbang Dy Work Fas.

2014 .0 PETA PANDUAN (Road Map) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS INDUSTRI BERBASIS AGRO Tahun 2010 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->