Anda di halaman 1dari 18

1.

NEOPLASMA TENGGOROKAN
PENYAKIT KANKER TENGGOROKAN ATAU THROAT CANCER

DEFINISI Kanker tenggorokan adalah kanker yang terdapat pada tenggorokan atau pita suara. Tenggorokan adalah saluran yang dimulai dari belakang hidung dan berakhir di leher. Pita suara terletak hanya sedikit di bawah tenggorokan. Pita suara adalah tulang rawan yang terdiri dari membran suara yang bergetar untuk membuat suara ketika anda berbicara. Kanker tenggorokan juga dapat terjadi pada tulang rawan epiglottis yang berfungsi sebagai tutup untuk saluran angin tenggorokan anda.

GEJALA Tanda dan gejala kanker tenggorokan antara lain : Batuk Perubahan suara Sulit menelan Sakit pada telinga Benjolan yang tidak dapat sembuh Benjolan pada tenggorokan Penurunan berat badan Penyebab & Faktor Risiko Penyebab Kanker tenggorokan terjadi ketika sel di tenggorokan mengalami mutasi genetik. Mutasi ini menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali dan terus hidup setelah sel normal mati. Akumulasi sel ini dapat membentuk tumor di tenggorokan. Tidak jelas apa yang menyebabkan kanker tenggorokan. Tapi dokter telah mengetahui faktor apa saja yang dapat meningkatkan risiko. Jenis kanker tenggorokan antara lain: Nasopharyngeal cancer terjadi pada nasofaring bagian tenggorokan dibelakang telinga. Oropharyngeal cancer terjadi pada orofaring bagian tenggorokan dibelakang mulut. Hypopharyngeal cancer (laryngopharyngeal cancer) terjadi pada hypopharynx (laryngopharynx) bagian bawah tenggorokan, sedikit di atas esophagus dan saluran angin. Glottic cancer terjadi pada membran suara Supraglottic cancer terjadi di bagian atas larynx dan termasuk kanker yang menyerang epiglottis, di mana sebagian tulang rawan yang menahan makanan masuk ke tenggorokan. Subglottic cancer terjadi pada bagian bawah pita suara, di bawah membran suara.

Faktor risiko Faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker tenggorokan antara lain: Merokok dan mengunyah tembakau Penggunaan alkohol secara berlebihan Kurangnya kebersihan gigi Virus HPV Makanan rendah buah dan sayuran Terkena serat asbes

Pencegahan Tidak ada cara mencegah kanker tenggorokan terjadi. Tapi anda dapat mengurangi risiko dengan : Tidak merokok Tidak mengkonsumsi alkohol Mengkonsumsi buah dan sayuran Menggunakan pelindung diri dari zat kimia di lingkungan sekitar
Tumor tenggorok ( istilah medisnya Karsinoma Nasofaring ), merupakan tumor yang timbul di daerah antara tenggorokkan bagian atas dan rongga hidung bagian belakang ( naso = hidung , faring = tenggorok ).

Tumor tenggorokkan merupakan tumor yang paling sering dijumpai di bidang THT. Ada beberapa penyebab timbulnya tumor tenggorok : 1. Ras atau bangsa tertentu ; ada beberapa ras/bangsa tertentu yang mempunyai kecenderungan timbulnya tumor tenggorok. Umumnya timbul pada daerah Cina daratan. 2. Makanan ; dibeberapa penelitian dikatakan bahwa makanan yang diawetkan ( dengan pengasapan/pengasinan ) dan memakai pengawet ( seperti MSG ), yang dikonsumsi untuk jangka waktu yang lama. 3. Virus ; di dalam penelitian virus yang dapat menyebabkan tumor tenggorok namanya virus epstein-bar 4. Keturunan ; ada beberapa riwayat keluarga yang menderita tumor tenggorok. Tanda dan gejala yang umum timbul pada tumor tenggorok adalah adanya gangguan di hidung ( tersumbat dan mimisan ringan ), gangguan di telinga ( telinga terasa penuh ), benjolan di leher ( mulai dari keci lalu membesar kadang hal ini sering ditemukan sebagai gejala yang pertama ). Disamping itu harus dilakukan pemeriksaan pada daerah tenggorokkan ( secara langsung ). Saat ini alat pemeriksaan sudah cukup baik dengan memakai endoskopi ( istilah medisnya nasofaringoskopi ) dan dilakukan biopsi tumor ( pada daerah yang dicurigai ) untuk mengetahui jenis tumornya ( karena akan berkaitan dengan cara pengobatannya ).

Disamping itu juga dilakukan pemeriksaan dengan foto CT Scan Tenggorok ( Nasofaring ), untuk melihat sampai sejauh mana perkembangan tumornya. Juga dapat dilakukan pemeriksaan darah khusus ( antibodi ) terhadap virus tumor tenggorok ( nama medisnya pemeriksaan Imunoglobulin ( Ig ), IgA anti EA dan Ig anti VCA ). Pengobatan akan lebih mempunyai keberhasilan yang besar jika tumor dapat diketahui secara dini dan pada saat kondisi badan masih fit. Pengobatan pada umumnya adalah dilakukan penyinaran pada tumornya ( istilahnya Radiotherapi ) dan juga dengan penyuntikan obat tumor ( istilahnya Kemotherapi ).

2. PHARYNGITIS
Disamping itu harus dilakukan pemeriksaan pada daerah tenggorokkan ( secara langsung ). Saat ini alat pemeriksaan sudah cukup baik dengan memakai endoskopi ( istilah medisnya nasofaringoskopi ) dan dilakukan biopsi tumor ( pada daerah yang dicurigai ) untuk mengetahui jenis tumornya ( karena akan berkaitan dengan cara pengobatannya ). Disamping itu juga dilakukan pemeriksaan dengan foto CT Scan Tenggorok ( Nasofaring ), untuk melihat sampai sejauh mana perkembangan tumornya. Juga dapat dilakukan pemeriksaan darah khusus ( antibodi ) terhadap virus tumor tenggorok ( nama medisnya pemeriksaan Imunoglobulin ( Ig ), IgA anti EA dan Ig anti VCA ). Pengobatan akan lebih mempunyai keberhasilan yang besar jika tumor dapat diketahui secara dini dan pada saat kondisi badan masih fit. Pengobatan pada umumnya adalah dilakukan penyinaran pada tumornya ( istilahnya Radiotherapi ) dan juga dengan penyuntikan obat tumor ( istilahnya Kemotherapi ).

TONSILEKTOMI
-

TONSILEKTOMIA. Definisi Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina.2,3Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yangdikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal GEJALA DAN TANDA Keluhan yang dapat dialami penderita Tonsilllitis, antara lain:Tengorokan terasa kering, atau rasa mengganjal di tenggorokan (leher Melalui insisi tersebut, dimasukkan gunting bengkok Metzenbaum atau alat diseksi lainnya untukmemisahkan kapsul tonsil dari dasarnya (biasanya pilar anterior dipisahkan terlebih dahulu barukemudian kutub atas).- Pada waktu kutub atas telah terlihat, cunam valselum di pakai kembali untuk memegang kutubatas. Pilar posterior dapat terlihat dengan mengangkat kutub atas dan bagian tersebut di bebaskan daritonsil.- Jika diseksi telah dilakukan sampai hanya tinggal kutub bawah yang telah melekat, maka jeratdapat dengan mudah digunakan.Cunam dimasukkan melalui gelang kawat dan tonsil dipegang kembali, kemudian jerat melewatibagian tonsil yang bebas, selanjutyadikencangkan untuk memotong kutub bawah rata dengan lidah.- Jika masih ada sisa tonsil pada plika triangularis, harus dipegang dengan canum dan dikeluarkandengan jerat atau gunting.- Pengendalian perdarahan dengan menginsersi satu pak kasa ke dalam ruang post nasal yangharus diangkat setelah pembedahan.- Perdarahan yang berlanjut dapat ditangani dengan mengadakan ligasi pembuluh darah padadasar tonsil. 3. Perawatan pasca bedah- Membaringkan anak ke samping sampai bangun kemudian posisi mid fowler.
Nyeri saat menelan (nelan ludah ataupun makanan dan minuman) sehingga menjadi malas makan.Nyeri dapat menjalar ke sekitar leher dan telinga.Demam, sakit kepala, kadang menggigil, lemas, nyeri otot.Dapat disertai batuk, pilek, suara serak, mulut berbau, mual, kadang nyeri perut, pembesaran kelenjargetah bening (kelenjar limfe) di sekitar leher.Adakalanya penderita tonsilitis (kronis) mendengkur saat tidur (terutama jika disertai pembesarankelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian belakang antara tenggorokan dan ronggahidung).Pada pemeriksaan, dijumpai pembesaran tonsil (amandel), berwarna merah, kadang dijumpai bercakputih (eksudat) pada permukaan tonsil, warna merah yang menandakan peradangan di sekitar tonsildan tenggorokan.

TEKNIK

TONSILEKTOMI1 . T e k n i k

G u i l o t t i n e Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari Philadelphia, sedangkan carayang masih digunakan sampai sekarang adalah mo difikasi Sluder. Di negaranegara maju caraini sudah jarang digunakan dan di bagian THT FKUI/RSCM cara ini hanya digunakan padaanak-anak dalam anestesi umum.Teknik :

a) Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator disisi kanan berhadapan dengan pasien. b) Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan pembuka mulut.Lidah ditekan dengan spatula. c) Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri. d) Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub bawah tonsildimasukkan ke dalam lubang guillotine. e) Dengan jari telunjuk tangan kiri pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsilmasuk ke dalam lubang guillotine. f) Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit. g) S e t e l a h d i ya k i n i s e l u r u h t o n s i l m a s u k d a n t e r j e p i t d a l a m l u b a n g g u i l l o t i n e , d e n g a n bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar. h) Perdarahan dirawat.Keuntungan :a ) d i k e n a l s e b a g a i c a r a y a n g cepat dan praktis
b) komplikasi anestesi kecilc) biaya lebih murahKerugian :a ) s e r i n g t e r d a p a t s i s a d a r i tonsil karena tidak seluruhnya terangkat b ) d a p a t t i m b u l p e r d a r a h a n ya n g h e b a t 2. Teknik Diseksi Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909). Di Bagian THT FKU1/RSCMcara ini digunakan pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum maupun lokal.Teknik : a) Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala s e d i k i t ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien. b) Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag. c) Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial.

d) Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari fosanyasecara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan menggunak an jerat tonsil,tonsil diangkat. e) Perdarahan dirawat.Keuntungan :a ) p e r d a r a h a n p a s c a o p e r a s i m i n i m a l b)dapat mengangkat seluruh jaringan t o n s i l Kerugian :a ) n y e r i h e b a t p a s c a - o p e r a s i

b) durasi operasi lebih lamac ) n y e r i p a s c a o p e r a s i y a n g s i g n i f i k a n a k i b a t d i g u n a k a n n y a e l e k t r o k a u t e r u n t u k hemostasisd) resiko perdarahan intraoperatif tinggi 3. Teknik Elektrokauter Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi untuk mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik untuk m e n g h a s i l k a n e f e k p a d a j a r i n g a n . F r e k u e n s i r a d i o y a n g d i g u n a k a n d a l a m s p e k t r u m elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4Mhz. Pada teknik ini elektroda tidak menjadi panas, panas dalam jaringan terbentuk karena adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini. Teknik inimenggunakan listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik (electrical pathway).T e k n i k b e d a h l i s t r i k y a n g p a l i n g p a l i n g u m u m a d a l a h m o n o p o l a r b l a d e , m o n o p o l a r suction, bipolar dan prosedur dengan bantuan mikroskop. Tenaga listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong, menyatukan atau untuk koagulasi.Keuntungan :a) perdarahan minimal b ) p e n g g u n a a n gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan k o n d u k s i saraf atau jantungc ) b e d a h l i s t r i k m e r u p a k a n s a t u - s a t u n y a t e k n i k y a n g d a p a t m e l a k u k a n t i n d a k a n memotong dan hemostase dalam satu prosedur d ) d a p a t d i g u n a k a n s e b a g a i t a m b a h a n p a d a p r o s e d u r o p e r a s i l a i n Kerugian : a)menyebabkan luka bakar pada jaringan sekitar yang m e n g a k i b a t k a n k e t i d a k n y a m a n a n pasca operasi b ) m e m i l i k i e n e r g i l i s t r i k y a n g d i t r a n s f e r k e a t a u m e l a l u i p a s i e n , s e h i n g g a t i d a k a d a s t r a y energi (energi yang tersasar) yang dapat menyebabkan syok atau luka bakar 4. Teknik Radiofrekuensi Pada teknik ini elektrode radiofrekuensi disisipkan langsung ke jaringan. Densitas baru dis e k i t a r ujung elektrode cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian jaringan m e l a l u i pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil dan totalvolume jaringan berkurang.Keuntungan :a ) p r o s e s i n i t e r j a d i p a d a s u h u r e n d a h ( 4 0 0 C - 7 0 0 C ) , s e h i n g g a c e d e r a j a r i n g a n s e k i t a r minimal dan perdarahan saat operasi lebih sedikit b ) n y e r i p a s c a o p e r a s i l e b i h r i n g a n k a r e n a t i d a k t e r d a p a t l u k a o p e r a s i y a n g t e r b u k a c) durasi operasi lebih singkat dan kadar penyembuhan lebih cepatd) hanya memerlukan sedasi ringan atau anestesi lokale) jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya, ablasi sebagian atau berkurang volumenyaf) menurunkan morbiditas tonsilektomig) biaya relatif lebih murah dibanding beberapa teknik modern lainnyaKerugian :a ) t i d a k e f e k t i f u n t u k t o n s i l i t i s k r o n i k d a n rekuren b ) b i a y a l e b i h t i n g g i 5. Teknik Skapel Harmonik 4

Askep Tonsilektomi
PENGERTIAN Tonsilektomi adalah mengeluarkan seluruh tonsil dengan pembedahan. (Kamus Kedokteran, 2000). B. ETIOLOGI Penyebab tonsilitis adalah virus dan bekteri sebagian besar disebabkan oleh virus yang merupakan juga faktor predisposisi dari infeksi bakterial. Golongan Virus : - Adenovirus - Virus echo

- Virus influenza Golongan Bakteri : - Streptococcus - Mycrococcus - Corine bakterium diphterial C. PATOFISIOLOGI Pada waktu anak lahir belum mempunyai folikal dan biasanya berukuran kecil, dengan demikian habisnya material antibodi , maka secara berangsur terjadi pembesaran tonsil. Pembesaran ini dapat melebihi normal, oleh karena infeksi saluran pernafasan berat. Pembesaran tonsil yang sampai menimbulkan gangguan serius biasanya terjadi pada anak berumur 3-5 tahun. Keadaan ini ditandai dengan gangguan bernafas atau gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, karena usia tersebut mudah menderita infeksi saluran nafas atas. Apabila satu atau dua tonsil meradang membesar sampai ketengah uvofaring maka sebaiknya dilakukan tindakan pengangkatan tonsil atau disebut Tonsilektomi. Derajat pembesaran tonsil : a. Derajat I (Normal) Tonsil berada dibelakang pilar tonsil (struktur lunak dipotong oleh palatina lunak). b. Derajat II Tonsil berada diantara pilar dan uvula. c. Derajat III Tonsil menyentuh uvula. d. Derajat IV Satu atau dua tonsil meluas ketengah uvofaring. (Kozier,ERB Blains, Wilkinson,1992) TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala dari tonsilitis terbagi atas tonsilitis akut dan kronis. Kepekaan tonsil terhadap infeksi akut dapat meningkat apabila keadaan organisme dari luar berlebihan. Tanda dan gejala tonsilitis akut : 1. Penderita terlihat seperti sakit demam. 2. Mengeluh sakit tenggorokan dan sakit menelan. 3. Tonsil hyperemia. 4. Kelenjar lymphe jugularis membesar dan nyeri bila diraba. Setelah serangan tonsilitis akut jaringan tonsil biasanya dapat kembali normal tetapi ada juga yang tidak. Keadaan jaringan yang tidak normal ini merupakan terbentuknya abses-abses kecil dan folikal limphoid disekitar krypta dan dibatasi oleh jaringan ikat. Tonsil yang seperti ini dapat menimbulkan gejala infeksi berulang tiga sampai empat bulan sekali. Keadaan ini merupakan proses awal terjadinya tonsilitis kronis. Tanda dan gejala tonsilitis kronis : 1. Tonsil hyperemia dan edema. 2. Kripta melebar dan tonsil berbenjol-benjol. 3. Suhu badan sub febris. 4. Penderita merasa tidak enak badan. E. PROSEDUR DIAGNOSTIK Untuk menegakkan diagnostik tonsilitis dapat digunakan dengan adanya gejala yang muncul seperti : demam, sulit menelan, tonsil tampak membesar dan hyperemia.

Diagnosa banding : a. Infeksi mononuchosis Untuk membedakannya dengan tonsilitis akut diperlukan pemeriksaan hitung jenis leucocyt. b. Angina vincent Menyebabkan ulsurasi yang luas di rongga mulut atau hanya terbatas disekitar tonsil. Penyakit ini dibedakan dari tonsilitis akut dengan pemeriksaan usap tenggorokan. c. Agranusitosis Penyakit ini menimbulkan ulsurasi yang dirongga mulut dan faring. Selain ulsurasi terjadi pengelupasan mukosa mulut, lidah dan tonsil, penderita dapat membantu menegakkan diagnosa. F. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Golongan darah. 2. Kadar Hb. 3. Hitung Leukosit dan Hitung Jenis. 4. Penentuan kadar klorida keringat atau imunoglobulin serum untuk mengevaluasi diagnosis banding medis yang mencakup fibrosis kistik atau imunodefisiensi. G. INDIKASI Sebelum tonsilektomi dilakukan ditemukannya indikasi seperti : 1. Tonsilitis akut residivan Yaitu tonsilitis akut yang berulang-ulang 4-5 kali tiap tahun. 2. Tonsilitis kronis dengan eksasurbasi Yaitu tonsilitis akut dengan keluhan ringan tapi terus menerus. 3. Abses Peritonsil/ Tonsilitis akut dengan komplikasi Jika sudah pernah terjadi abses peritonsil maka kemungkinan untuk kambuh berulang-ulangnya dikemudian hari besar sekali. Pada abses peritonsil jaringan sekitar tonsil turut meradang sehingga perasaan sakit melebihi dari tonsilitis akut biasa. 4. Streptokok tonsilitis yang berulang Infeksi kuman streptokok yang berulang dan tidak teratasi oleh berbagai antibiotik akan mengakibatkan terjadinya kerusakan yang besar pada jaringan tonsil. Akibatnya tonsil tidak lagi berfungsi sebagai alat penangkis kuman dan merupakan fokal infeksi yang tidak dapat dikontrol. 5. Tonsil palatina sebagai fokat infeksi demam rematik. 6. Tonsil palatina menjadi serangan kuman atau diptheria cariur, misal tonsilitis proso diphteria. 7. Tonsil Hipertropi sehingga timbul obstruksi mekanik Adanya pembesaran tonsil yang sedemikian maka makan, minum bahkan bernafas terutama dimalam hari sudah terganggu. Jika tonsil hipertropi tidak segera diangkat maka komplikasi seperti faringitis, bronkitis sering terjadi dan sukat diatasi. 8. Otitis media purulen yang berulang. 9. Tonsil yang menunjukkan tanda maligna Indikasi ini sangat definitif dan tonsilektomi harus dilakukan karena kalau tumor ganas masih bersifat insitu, tonsilektomi akan memberi hasil yang memuaskan tetapi bilamana tumos sudah menjalar ke daerah sekitar tonsil, maka tonsilektomi akan sia-sia, bahkan pembesaran tonsil unilateral yang luar biasa harus dicurigai kemungkinan terjadinya maligna. H. KONTRAINDIKASI 1. Alergi yang mendasari. Tonsilektomi dapat memperburuk alergi pada beberapa pasien. 2. Pilek berulang dan masalah kesehatan menahun jarang karena tonsil. 3. Pasien dibawah umur 3 atau 4 tahun.

4. Tonsil besar tanpa gejala. Harus diingat bahwa tonsil cenderung membesar sampai sekitar umur 10-12 tahun, dan kemudian berinvolusio mantap. 5. Adenitis cervicalis tuberkulosis tidak lagi dianggap sebagai indikasi. 6. Demam reumatik dan nefritis bukan indikasi, kecuali bila terapi antibiotika intensif gagal menghilangkan streptokokus hemolitikus. 7. Desakan orang tua untuk tonsilektomi bukan merupakan suatu indikasi ! I. KOMPLIKASI 1. Perdarahan pasca tonsilektomy. 2. Menyebabkan hypertropi. 3. Atelektase. 4. Bronkhitis. 5. Pneumonia. 6. Abses paru. J. TREATMENT Metode Tonsilektomi yaitu : 1. Guillotine Tonsilektomi/Sluder. Biasanya dilakukan pada jaringan tonsil yang diduga hubungannya dengan jaringan sekitarnya masih longgar, misal pada anak. Dengan metode ini operasi lebih cepat dan jaringan tonsil dapat diangkat seluruhnya dengan menimbulkan manipulasi yang tidak begitu banyak. Perdarahan yang terjadi lebih sedikit dibanding dengan metode Diseksi. 2. Diseksi Tonsilektomi Pada Diseksi jaringan tonsil dipisahkan dari daerah sekitarnya satu per satu. Tonsilektomi secara Diseksi ini umumnya dilakukan pada penderita dengan dugaan jaringan tonsil sudah mengadakan perlengketan dengan jaringan sekitarnya sehingga kalau dilaksanakan metode Guillotine, maka jaringan tonsil tidak akan dapat diangkat sebersih mungkin. Pengobatan yang diberikan setelah tonsilektomy. 1. Diberikan cairan IV selama 24 jam untuk menghindari dehidrasi. 2. Diberikan 1,5 mg Kodein Fosfat/Kg BB setiap 3 jam untuk mengatasi nyeri. KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN - Kaji kesulitan menelan, mudah tersedak. - Kaji sakit tenggorokan akut/kronis. - Kaji riwayat sakit tenggorokan dan influenza. - Kaji riwayat alergi. - Kaji adanya perdarahan per oral. - Kaji adanya penyakit asma, fibrosis kistik. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap komplikasi infeksi berhubungan dengan faktor pembedahan. 2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan. 3. Resiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan masukan cairan sekunder terhadap nyeri saat menelan. 4. Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan sekunder terhadap nyeri saat menelan.

5. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang komplikasi, nyeri, pengaturan posisi dan penatalaksanaan aktifitas. C. RENCANA INTERVENSI 1. Resiko tinggi terhadap komplikasi infeksi berhubungan dengan faktor pembedahan. Tujuan : - Tidak ada infeksi. - Tidak ada komplikasi. Intervensi : - Pantau suhu badan tiap 4 jam, keadaan luka ketika melakukan perawatan. - Berikan antibiotik yang diresepkan, berikan paling sedikit 2 liter cairan setiap hari ketika melaksanakan terapi antibiotik. - Berikan antipiretik yang ditentukan jika terdapat demam. 2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan. Tujuan : - Klien menyatakan nyeri hilang / terkontrol. - Klien menunjukkan rileks, istirajat / tidur dan peningkatan aktifitas dengan tepat. Intervensi : - Pantau TTV. - Berikan tindakan kenyamanan, misal : perubahan posisi, musik, relaksasi. - Jika diresepkan analgesik IV, aturlah analgesik secara rutin selama 24 jam pertama, tidak menunggu pasien memintanya. - Beritahu dokter jika analgesik tidak dapat menghilangkan sakit. 1. Resiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan masukan cairan sekunder terhadap nyeri saat menelan. Tujuan : - Klien dapat meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml. - Memberitahu perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stress atau panas. - Memperlihatkan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi. Intervensi : - Kaji perubahan TTV, contoh peningkatan suhu tubuh / demam memanjang, takikardi, hipotensi artostatik. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa. - Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter, urine. Hitung keseimbangan cairan , waspadai kehilangan yang tak tampak , ukur BB sesuai indikasi. - Catat laporan mual/muntah. 4. Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan sekunder terhadap nyeri saat menelan. Tujuan : - Klien menunjukkan peningkatan nafsu makan. - Klien dapat mempertahankan / meningkatkan berat badan. Intervensi : - Berikan makan porsi kecil dan sering atau makanan yang menarik pasien.

- Monitor status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. - Observasi distensi abdomen. - Atur rencana perawatan untuk mengurangi atau menghilangkan bau yang menyebabkan ingin muntah atau prosedur yang dilakukan mendekati waktu makan. 5. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang komplikasi, nyeri, pengaturan posisi dan penatalaksanaan aktifitas. Tujuan : - Klien dapat menggambarkan proses penyakit, penyebab-penyebab dan faktor penunjang pada gejala dan aturan untuk penyakit atau kontrol gejala. - Klien dapat mengungkapkan maksud untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan atau keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi. Intervensi : - Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan, identifikasi perawatan diri dan kebutuhan/sumber pemeliharaan rumah. - Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal. - Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik selama periode yang dianjurkan. - Tekankan pentingnya melanjutkan evaluasi medik dan vaksin/imunisasi dengan tepat. - Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan pelaporan pemberian perawatan kesehatan, misal : kehilangan BB, demam. DAFTAR PUSTAKA Rizal Basjrah. Dr. (1986). Faringologi. Penerbit Alumni : Bandung Catzel, Pincus. (1992). Kapita Selekta Pediatri. EGC : Jakarta. Cody,D.dan Thane R. (1993). Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan. EGC : Jakarta Behrman, Richard E. (1995). Ilmu Kesehatan Anak. EGC : Jakarta Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC : Jakarta Lynda Juall Carpenito. (2000). Diagnosa Keperawatan. Edisi VIII. EGC : Jakarta

FARINGITIS AKUT
PENDAHULUAN

Definisi

Faringitis akut adalah sindroma inflamsi yang terjadi pada faring yang disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme. Faringitis dapat merupakan gejala infeksi umum dari saluran nafas bagian atas atau merupakan suatu infeksi lokal yang spesifik di faring.(1)

Anatomi
Faring adalah suatu kantong fibromuskular yang bentuknya seperti corong, yang besar dibagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi vertebra ke-6. Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut melalui isthmus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui auditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esofagus.

Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa lebih kurang 14 cm, bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang.

Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam ke luar) mukosa, fasia faringobasiler, fasia otot dan sebagian fasia bukofaringeal. Berdasarkan letaknya faring terdiri dari nasofaring, orofaring laringofaringeal

1. Nasofaring

Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian bawah adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal.

Nasofaring relatif kecil, berhubungan erat dengan beberapa struktur penting, seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring dengan resesus faring yang disebut fossa rosenmuller, kantong ratke, yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan kartilago tuba eustachius, koana, foramen jugulare yang dilalui oleh n. glosofaring, n. vagus dan n.

asesorius spinal saraf kranial dan v. jugularis interna, bagian petrosus os temporalis dan foramen laserum dan muara tuba eustachius.

2. Orofaring

Orafaring disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas bawah aalah tepi atas epiglotis, ke depan adalah rongga mulut, sedangkan ke belakang adalah dinding podterior faring, tonsil palatina, fossa tonsil serta arkus faring anterior dan postrior, uvula tonsil, tonsi lingual dan foramen sekum.

3. laringofaring

Batas laringofaring disebelah superior adalah tepi atas epiglotis, batas anterior ialah laring, batas inferior ialah esofagus, serta batas posterior ialah vertebra servikal. Bila laringofaring diperiksa dengan kaca tenggorok pada pemeriksaan laring tidak langsung atau dengan laringoskop pada pemeriksaan langsung, maka struktur pertama yang tampak di bawah dasar lidah ialah valekula.

Di bawah valekula terdapat epiglotis. Epiglotis berfungsi untuk melindungi glotis ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus tersebut menuju sinus piriformis dan ke esofagus.

Nervus laring superior berjalan di bawah dasar sinus piriformis pada tiap sisi laringofaring. Hal ini penting untuk diketahui pada pemberian anestesi lokal di faring dan laring pada tindakan laringoskopi langsung.(4,5)

EPIDEMIOLOGI

Frekuensi

Faringitis akut memberikan konstribusi 40 juta kunjungan penderita berobat ke tenaga kesehatan tiap tahunnya. Sebagian besar anak-anak dan orang dewasa mengalami 3-5 infeksi saluran nafas atas (termasuk didalamnya faringitis akut) tiap tahunnya.

Mortalitas

Faringitis akut merupakan salah satu penyebab terbesar absensi anak di sekolah dan absensi di tempat kerja bagi orang dewasa.

Ras

Faringitis akut mengenai semua golongan ras dan suku bangsa secara merata

Jenis Kelamin

Faringitis akut mengenai kedua jenis kelamin dalam komposisi yang sama

Usia

Faringitis akut mengenai semua golongan usia, tetapi yang terbesar mengenai anak-anak.(1,6)

PATOFISIOLOGI

Penyebab faringitis akut dapat bervariasi dari organisme yang mengahasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi. Organisme yang ditemukan termasuk streptokokus, pneumokokus dan basillus influensa, diantar organisme yang lainnya. Pada stadium awal,terdapat hiperemia, edema, dan sekresi yang meningkat. Eksudat mulamula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus dan kemudian cendrung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring.Dengan hyperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning, atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya tonsila, perhatian biasaanya difokuskan difokuskan pada faring, dan

tampak bahwa folikel atau bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletaj lebih kelateral, menjadi meradang dan membengkak. Terkenanya dinding lateral, jika tersendiri, disebut sebagaifaringitis lateral. Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya tonsila, hanya faring saja yang terkena.

ETIOLOGI

Penyebab faringitis akut ialah kuman-kuman golongan Streptococcus B hemoliticus, Streptococcus viridans serta golongan pyogenes. Sisanya disebabkan oleh infeksi virus yaitu adenovirus, ECHO, virus influenza, serta Herpes. Cara infeksi ialah oleh percikan ludah (droplet infektion).(1,3,4,5,6,

Tabel 1. Berbagai etiologi faringitis akut

Pathogen

Viral

Rhinovirus (100 types and 1 subtype) Coronavirus (3 or more types) Adenovirus (types 3, 4,7, 14 and 21) Herpes simplex virus (types 1 and 2) Parainfluenza virus (types 1-4) Influenzavirus (types A and B) Coxsackivirus A (types 2, 4-6, 8 and 10) Epstein-Barr virus Cytomegalovirus Human immunodeficiency virus type I

Bacterial

Streptococcus pyogenes (group A b-hemolytic streptococci) Group C b-hemolytic streptococci Neisseria gonorrhoeae Corynebacterium diphtheria Arcanobacterium haemolyticum Chlamydial Chlamydia penumoniae Mycoplasmal Mycoplasma pneumoniae

Persentase dari etiologi faringitis akut dapat dilihat pada tabel di bawah

Tabel 2. Persentase etiologi faringitis akut

GEJALA KLINIS

Gejala yang sering ditemukan ialah:

- Gatal dan kering pada tenggorokkan

- Suhu tubuh naik sampai mencapai 40 0 C

- Rasa lesu dan nyeri disendi

- Tidak nafsu makan (anoreksia)

- Rasa nyeri ditelinga (otalgia)

- Bila laring terkena suara menjadi parau atau serak

- Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis,dan menjadi kering, gambaran seperti kaca dan dilapisi oleh sekresi mukus.

- Jaringan limpoid biasanya tampak merah dan membengkak (1,4,5,6)

DIAGNOSIS BANDING(5)

- Mononukleus infeksiosa

- Tonsilitis difteri

- Scarlet fever

- Angina agranulositosis

- Tonsilitis kronis

PENATALAKSANAAN (5)

- Antibiotika golongan penisilin atau sulfonamida selama lima hari

- Antipiretik

- Obat kumur atau obat hisap dengan desinfektan

- Bila alergi dengan penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamisin

PROGNOSIS

Prognosis penyakit ini umumnya baik bila penyakit cepat diketahui dan diterapi dengan tepat dan dapat sembuh dengan sempurna. Akan tetapi bila pasien datang terlambat dan penyakit sudah berlanjut maka prognosis akan kurang baik.(6)

KESIMPULAN

- Faringitis akut adalah sindroma inflamsi yang terjadi pada faring dan/atau tonsil yang disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme. Faringitis dapat merupakan gejala infeksi umum dari saluran nafas bagian atas atau merupakan suatu infeksi lokal yang spesifik di faring.

- Etiologi yang paling sering ditemukan adalah virus

- Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, tanda dan gejala penyakit.

- Umumnya prognosis baik bila penyakit cepat diketahui dan diterapi dengan tepat.