Anda di halaman 1dari 43

BAB VII

APLIKASI COOPERATIVE LEARNING DALAM IPS PADA MATERI HAK

ASASI MANUSIA

7.1. Persiapan Sebelum Pembelajaran

A. Materi Hak Asasi Manusia

Sifat kajian : Terintegrasi dalam mata kuliah social studies/IPS pada

materi HAM dan Implementasinya.

Visi : Terwujudnya kepahaman, kesadaran dan partisipasi

mahasiswa untuk menjunjung tinggi nilai-nilai HAM

Misi : Memfasilitasi mahasiswa agar mampu menghargai,

memiliki, kepahaman, kesadaran dan partisipasi aktif

dalam penghormatan dan pemajuan HAM

Standar kompetensi : Mahasiswa memiliki kepahaman dan kesadaran tentang

HAM serta mampu berpartisipasi dalam penghormatan

dan pemajuan HAM dalam kehidupan sehari-hari sebagai

warga negara, baik dalam kehidupan individu,

masyarakat, maupun negara.

Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok


- Memahami - Menjelaskan pengertian dasar - Pengertian dasar HAM
pengertian dasar HAM
HAM - Menganalisis kasus-kasus - Kasus-kasus pelanggaran
- Kemampuan pelanggaran HAM dalam HAM dalam keluarga
menganalisis keluarga - Kasus-kasus pelanggaran
kasus-kasus - Menganalisis kasus-kasus HAM dalam masyarakat
pelanggaran HAM pelanggaran HAM dalam - Kasus-kasus pelanggaran
dan solusinya Masyarakat HAM yang dilakukan
- Menganalisis kasus-kasus negara/aparat negara
pelanggran HAM yang terhadap warga negara
dilakukan negara/aparat
negara terhadap warga negara
PKN
Pengertian dasar HAM
Hakekat HAM
UU No. 39 Tahun 1999
Keppres No. 40 Tahun 2004
Kasus Pelanggaran HAM
UU No. 26 Tahun 2000

GEOGRAFI EKONOMI
Negara yang melaksanakan Pengaruh HAM terhadap
HAM pertumbuhan ekonomi
Dll. Dll.

HAM
(IPS)

AGAMA SEJARAH
HAM dalam konteks Sejarah singkat HAM
Agama Dll.
Dll.

ANTROPOLOGI/SOSIOLOGI
Sosialisasi HAM
Dll.

a. Pengertian Dasar HAM

Pegertian dasar HAM yaitu kodrati, melekat, universal, tidak dapat dibagi,

tidak dapat dicabut. Manusia dihadapan Tuhan Yang Maha Esa adalah sama dan

sederajat, tidak dibedakan asal usul keturunan, bangsa, warna kulit, jenis kelamin,

dan kedudukannya di masyarakat. Manusia memiliki hak-hak yang sama. Setiap

hak melahirkan kewajiban. Dengan demikian, setiap melaksanakan kewajiban,

manusia memperoleh haknya. Pelaksanaan hak dan kewajiban yang seimbang

akan melahirkan manusia yang saling menghargai dan menghormati.


Hak Asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dimiliki

manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Hak Asasi manusia

yang dinikmati sekarang ini, mempunyai rangkaian sejarah perjuangan yang

panjang dan lama dari sudut usaha manusia untuk menikmati kebebasan. Secara

historis didapatkan data-data perjuangan yang bersumber dari Eropa Barat dan

Inggris Raya, karena di negara-negara itulah mula-mula orang merasakan harga

diri sebagai manusia, karena hebatnya pengekangan dan penghinaan dan

merendahkan martabat manusia oleh kekuasaan yang sewenang-wenang dari raja-

raja yang absolut.

Hak Asasi perlu ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam

kehidupan bernegara. Tegak atau runtuhnya hak Asasi manusia berawal dari

sipembawa hak. Selain itu harus dimengerti bahwa hakikat harga diri manusia

secara kodrat adalah sama, yaitu sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa.

Hak Asasi Manusia merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang

Maha Esa yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi demi harkat dan martabat

manusia. Hak Asasi Manusia bukan hal yanga sing bagi bangsa Indonesia.

Perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajahan selama berabad-abad

lamanya adalah perjuangan untuk meraih kemerdekaan sebagai perwujudan Hak

Asasi Manusia yang paling mendasar. Komitmen Indonesia dalam penghormatan,

pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia di seluruh wilayah

Indonesia bersumber pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang

dirumuskan sebelum dicanangkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1958. Disamping itu keanekaragaman

nilai-nilai agama dan budaya bangsa Indonesia menjadi pertimbangan dalam


upaya penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi

Manusia.

Hak Asasi manusia meliputi bidang-bidang yang sangat luas sebagai

berikut :

1. Hak Asasi pribadi (personal rights), meliputi hak kemerdekaan memeluk

agama, beribadat menurut agamnya masing-masing, kebebasan menyatakan

pendapat, kebebasan berorganisasi, dan hak hidup.

2. Hak Asasi ekonomi atau hak milik (property rights), meliputi hak memilki

sesuatu, hak membeli dan menjual sesuatu, hak mengadakan suatu perjanjian

atau kontrak, dan hak memilih pekerjaan.

3. Hak Asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan

pemerintahan (rights of legal equality).

4. Hak Asasi politik (political rights), meliputi hak diakui sebagai warga negara

yang sederajat, hak ikut serta dalam pemerintahan, hak memilih dan dipilih

dalam pemilu, hak mendirikan partai politik atau organisasi, serta hak

mengajukan kritik dan saran.

5. Hak Asasi sosial dan kebudayaan (social and culture rights), meliputi hak

kebebasan mendapatkan pendidikan dan pengajaran dan hak mengembangkan

kebudayaan.

6. Hak Asasi perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan dan perlinndungan

hukum (procedural rights), meliputi hak mendapatkan perlakuan yang wajar

dan adil dalam peradilan dan hak pembelaan hukum.


b. Hakikat HAM

(1) Tidak bertindak sewenang-wenang. Pada umumnya yang bertindak sewenang-

wenang biasanya dilakukan oleh yang memiliki power (kekuatan) dan

authority (kekuasaan).

(2) Menciptakan perdamaian, menghindari peperangan dan mengurangi rasa takut

(3) Tidak diskriminasi artinya tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan

lainnya.

c. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat

keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan

anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,

hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat

dan martabat manusia. Kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban

yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya

hak asasi manusia.

Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi

manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat

pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan

ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan,

dan kecerdasan serta keadilan. Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan

martabat manusia yang sama dengan sederajat serta dikarunia akal dan hati nurani

untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam semangat

persaudaraan. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan


perlakuan hukum yang adil serta mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang

sama di depan hukum. Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia

dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi.

Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran

dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui

sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut

atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat

dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.

Dalam rangka penegakkan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan

dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum

masyarakat, dan pemerintah. Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk

hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman. Setiap

orang berhak untuk menggunakan semua upaya hukum nasional dan forum

internasional atas semua pelanggaran hak asasi manusia yang dijamin oleh hukum

Indonesia dan hukum Internasional mengenai hak asasi manusia yang telah

diterima negara Republik Indonesia. Ketentuan hukum internasional yang telah

diterima negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi

hukum nasional. Perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan hak asasi

manusia terutama menjadi tanggung jawab pemerintah.

Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia

Hak Untuk Hidup

Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan

meningkatkan taraf kehidupannya. Setiap orang berhak hidup tenteram, aman,


damai, bahagia, sejahtera, lahir dan batin. Setiap orang berhak atas lingkungan

hidup yang baik dan sehat.

Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan

Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan

keturunan melalui perkawinan yang sah. Perkawinan yang sah hanya dapat

berlangsung atas kehendak bebas calon suami atau calon istri yang bersangkutan,

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hak Mengembangkan Diri

Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh

dan berkembang secara layak. Setiap orang berhak atas perlindungan bagi

pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya,

dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman,

bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai

dengan hak asasi manusia.

Hak Memperoleh Keadilan

Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan

dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara

pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang

bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin

pemeriksaan yang objektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh

putusan yang adil dan benar. Setiap orang yang ditangkap, ditahap dan dituntut
karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah,

sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan

diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelanya, sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap orang tidak boleh

dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan

perundang-undangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukannya.

Setiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan, maka berlaku

ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka. Setiap orang yang

diperiksa berhak mendapatkan bantuan hukum sejak saat penyidikan sampai

adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Hak Atas Kebebasan Pribadi

Tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhamba. Perbudakan atau

perhambaan, perdagangan budak, perdagangan wanita, dan segala perbuatan

berupa apapun yang tujuannya serupa, dilarang. Setiap orang berhak atas

keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani, dan karena itu tidak boleh menjadi

objek penelitian tanpa persetujuan darinya. Setiap orang berhak memeluk

agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan

kepercayaannya itu. Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan

politiknya. Setiap orang berhak berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-

maksud damai. Setiap orang berhak memiliki, memperoleh, mengganti, atau

mempertahankan status kewarganegaraannya. Setiap warga negara Indonesia

berhak untuk secara bebas bergerak, berpindah dan bertempat tinggal dalam

wilayah negara Republik Indonesia.


Hak Atas Rasa Aman

Setiap orang berhak mencari suaka untuk memperoleh perlindungan

politik dari negara lain. Setiap orang berhak atas rasa aman dan tentram serta

perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat

sesuatu. Tempat kediaman siapapun tidak boleh diganggu. Kemerdekaan dan

rahasia dalam hubungan surat menyurat termasuk hubungan komunikasi melalui

sarana elektronik tidak boleh diganggu, kecuali atas perintah hakim atau

kekuasaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan

yang kejam, tidak manusiawi , merendahkan derajat dan martabat

kemanusiaannya. Setiap orang tidak boleh ditangkap, ditahan, disiksa, dikucilkan,

diasingkan, atau dibuang secara sewenang-wenang.

Hak Atas Kesejahteraan

Setiap orang berhak mempunyai milik, baik sendiri maupun bersama-sama

dengan orang lain demi pengembangan dirinya, keluarga, bangsa dan masyarakat

dengan cara yang tidak melanggar hukum. Hak milik mempunyai fungsi sosial.

Pencabutan hak milik atas suatu benda demi kepentingan umum, hanya

diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera serta

pelaksanannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap

warga negara, sesuai dengan bakat, kecakapan dan kemampuan, berhak atas

pekerjaan yang layak. Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta

berkehidupan yang layak.


Hak Turut Serta Dalam Pemerintahan

Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan

umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung,

umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Hak Wanita

Sistem pemilihan umum, kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif,

dan sistem pengangkatan di bidang eksekutif, yudikatif, harus menjamin

keterwakilan wanita sesuai persyaratan yang ditentukan. Seorang wanita yang

menikah dengan seorang pria berkewarganegaraan asing tidak secara otomatis

mengikuti status kewarganegaraan suaminya tetapi mempunyai hak untuk

mempertahankan, mengganti, atau memperoleh kembali status

kewarganegaraannya. Wanita berhak untuk memperoleh pendidikan dan

pengajaran di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan sesuai dengan persyaratan

yang telah ditentukan. Wanita berhak untuk memilih, dipilih, diangkat dalam

pekerjaan, jabatan, dan profesi sesuai dengan persyaratan dan peraturan

perundang-undangan. Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus

dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat

mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi

reproduksi wanita. Seorang istri selama dalam ikatan perkawinan mempunyai hak

dan tanggung jawab yang sama dengan suaminya atas semua hal yang berkenaan

dengan kehidupan perkawinannya, hubungan dengan anak-anaknya, dan hak

pemilikan serta pengelolaan harta bersama.


Hak Anak

Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat

dan negara. Setiap anak sejak dalam kandungan, berhak untuk hidup,

mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya. Setiap anak yang

cacat fisik dan atau mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan,

dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupannya sesuai

dengan martabat kemanusiaan, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan

berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap

anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berfikir, dan berekspresi sesuai

dengan tingkat intelektualitas dan usianya di bawah bimbingan orang tua dan atau

wali. Setiap anak berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari segala

bentuk kekerasan fisik dan mental, penelantaran, perlakuan buruk, dan pelecehan

seksual selama dalam pengasuhan orang tua atau walinya, atau pihak lain

manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak tersebut. Setiap anak

berhak untuk tidak dipisahkan dari orang tuanya secara bertentangan dengan

kehendak anak sendiri, kecuali jika ada alasan dan aturan hukum yang sah yang

menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak.

Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka

pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya.

Setiap anak berhak untuk beristirahat, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain,

berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya

demi pengembangan dirinya. Setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan

kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan

mental spiritualnya. Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari


kegiatan eksploitasi ekonomi dan setiap pekerjaan yang membahayakan dirinya,

sehingga dapat menganggu pendidikan, kesehatan fisik, moral, kehidupan sosial,

dan mental spiritualnya. Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari

kegiatan eksploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak, serta

dari berbagai bentuk penyalahgunaan narkotik, psikotropika dan zat aditif lainnya.

Setiap anak berhak untuk tidak dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan atau

penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.

Kewajiban Dasar Manusia

Setiap orang yang ada di wilayah negara Republik Indonesia wajib patuh

pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional

mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia.

Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap orang wajib

menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap hak asasi manusia seseorang

menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi

orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas pemerintah untuk menghormati,

melindungi, menegakkan, dan memajukannya. Dalam menjalankan hak dan

kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan

oleh undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta

penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan

yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum

dalam suatu masyarakat demokratis.


Kewajiban dan Tanggung Jawab Pemerintah

Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi,

menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-

undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang

hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia.

d. Rencana Aksi Nasional HAM Tahun 2004-2009

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 tentang

Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia tahun 2004-2009.

Pasal 4 ayat (1), 28 A, 28 B, 28 C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-undang

Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999

Nomor 165; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). Undang-undang Nomor

26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun

2000 Nomor 208; Tambahan Lembaran Negara Nomor 4026).

Rencana Aksi nasional Hak Asasi Manusia Indonesia yang selanjutnya

disebut RANHAM Indonesia adalah untuk menjamin peningkatan penghormatan,

pemajuan, pemenuhan, dan perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia dengan

mempertimbangkan nilai-nilai agama, adat-istiadat, dan budaya bangsa Indonesia

yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun

1945. (Pasal 1 ayat 1).

RANHAM Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan

secara bertahap dan berkesinambungan dalam suatu program 5 (lima) tahunan.

(Pasal 1 ayat 3).


Panitia Nasional bertugas melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan

RANHAM Indonesia yang mencakup: (a) Pembentukan dan penguatan institusi

pelaksana RANHAM; (b) persiapan ratifikasi instrumen Hak Asasi Manusia

Internasional; (c) Persiapan harmonisasi peraturan perundang-undangan; (d)

diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia; (e) Penerapan norma dan standar

Hak Asasi Manusia; dan (f) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan. (Pasal 2 ayat 2).

Tugas Panitia Pelaksana RANHAM Kabupaten/Kota meliputi 5 (lima)

program pokok sebagai berikut: (a) Pembentukan dan penguatan institusi

pelaksana RANHAM; (b) Persiapan harmonisasi Peraturan Daerah; (c)

Diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia; (d) Penerapan norma dan standar

Hak Asasi Manusia; dan (e) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan. (Pasal 5 ayat 2).

Sesungguhnya Hak Asasi Manusia merupakan anugrah yang diberikan

oleh Tuhan Yang Maha Esa yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi demi

harkat dan martabat manusia. Hak Asasi Manusia bukan hal yanga sing bagi

bangsa Indonesia. Perjuangan melepaskan diri dari belenggu penjajahan selama

berabad-abad lamanya adalah perjuangan untuk meraih kemerdekaan sebagai

perwujudan Hak Asasi Manusia yang paling mendasar. Komitmen Indonesia

dalam penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi

Manusia di seluruh wilayah Indonesia bersumber pada Pancasila dan Undang-

undang Dasar 1945 yang dirumuskan sebelum dicanangkan Deklarasi Universal

Hak Asasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1958.

Disamping itu keanekaragaman nilai-nilai agama dan budaya bangsa Indonesia

menjadi pertimbangan dalam upaya penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan

perlindungan Hak Asasi Manusia.


Upaya penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi

Manusia bagi semua warga negara dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip

kesatupaduan, keseimbangan dan pengakuan atas kondisi nasional. Prinsip

kesatupaduan berarti bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan

hak pembangunan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan-pisahkan

baik dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam penilaian pelaksanaannya.

Prinsip keseimbangan mengandung pengertian bahwa diantara Hak Asasi Manusia

perorangan dan kolektif serta tanggung jawab perorangan terhadap masyarakat

dan bangsa memerlukan keseimbangan dan keselarasan. Hal ini sesuai dengan

kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Keseimbangan dan

keselarasan antara kebebasan dan tanggung jawab merupakan faktor penting

dalam penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi

Manusia.

Diakui bahwa Hak Asasi Manusia bersifat universal dan masyarakat

internasional juga telah mengakui dan menyepakati bahwa pelaksanannya

merupakan wewenang dan tanggung jawab setiap pemerintah negara dengan

memperhatikan sepenuhnya keanekaragaman tata nilai, sejarah, kebudayaan,

sistem politik, sistem sosial dan taraf kemajuan ekonomi, serta faktor-faktor lain

yang bersangkutan dengan asas-asas demokrasi, good governance dan supremasi

hukum.

RANHAM Indonesia ini dimaksudkan sebagai panduan dan rencana

umum untuk meningkatkan penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan

perlindungan Hak Asasi Manusia, termasuk untuk melindungi masyarakat rentan

terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia. RANHAM Indonesia ini sejalan


dengan kebijakan nasional dibidang Hak Asasi Manusia, peningkatan kesadaran

hukum, dan pengentasan kemiskinan yang mendapat tempat utama dalam

pembangunan nasional. Dalam rangka menjaga kesinambungan kebijakan dan

berbagai program nasional di bidang Hak Asasi Manusia Indonesia, RANHAM

ini perlu dinilai ulang secara komprehensif dan berkesinambungan.

Pelaksanaan RANHAM Indonesia Tahun 1998-2003 disadari belum

sepenuhnya tercapai sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Hal ini terutama

disebabkan adanya kendala dinamika perubahan sosial dan politik yang begitu

cepat dalam 5 (lima) tahun terakhir. Selain itu, belum adanya Panitia Pelaksana

Daerah dinilai menjadi kendala utama dalam pelaksanaan RANHAM di tingkat

daerah terutama setelah diberlakukannya Undang-undang Otonomi Daerah.

Pengalaman selama 5 (lima) tahun berikutnya (2004-2009). RANHAM 2004-

2009 ini merupakan kelanjutan dari RANHAM 1998-2003, sehingga rencana

yang belum dapat diselesaikan pada periode yang lalu akan dilanjutkan pada

periode berikutnya. Disadari dan diakui bahwa terdapat kelompok masyarakat

yang rentan terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia, yaitu: anak, remaja,

wanita, buruh formal dan informal, manusia lanjut usia, masyarakat adat,

penyandang cacat, kelompok minoritas, kelompok orang miskin, orang hilang

secara paksa (enforced disappearance), pemindahan secara paksa/pengungsi

domestik (internally displaced person), tahanan dan narapidana, petani dan

nelayan. Kelompok rentan ini perlu mendapat perhatian khusus agar kepentingan

mereka dapat terakomodasi dengan baik dalam pelaksanaan RANHAM 2004-

2009.
Sejalan dengan semangat reformasi yang telah berjalan sejak tahun 1998,

pelaksanaan RANHAM ini dimaksudkan untuk memperkuat budaya

penghormatan Hak Asasi Manusia yang akhirnya memperkuat sendi-sendi dasar

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menuju masyarakat adil dan

makmur.

Program Utama. Mengacu pada visi dan misi yang disebut dalam

Mukadimah tersebut, maka disusun RANHAM Indonesia tahun 2004-2009 yang

terdiri dari 6 (enam) program utama, yaitu:

1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksana RANHAM

2) Persiapan ratifikasi instrumen Hak Asasi Manusia Internasional

3) Persiapan harmonisasi peraturan perundang-undangan

4) Diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia

5) Penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia; dan

6) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan

Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia. Keberhasilan upaya

penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia suatu

bangsa sangat ditentukan oleh pemantapan budaya penghormatan Hak Asasi

Manusia dari bangsa tersebut melalui usaha-usaha secara sadar untuk

menyemaikan, menumbuhkan, dan meningkatkan pengetahuan dan rasa kesadaran

seluruh anggota masyarakat, terutama aparat pemerintah, Dewan Perwakilan

Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat daerah, para pendidik dan aktivis Lembaga

Swadaya Masyarakat. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai Hak

Asasi Manusia dapat disemaikan dan ditumbuhkan serta ditingkatkan melalui

diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia dengan cara dan sarana
penyampaian pada tingkat, sifat, tempat dan waktu yang ada dan dipandang tepat.

Penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia

memerlukan proses panjang mengingat sifat Hak Asasi Manusia yang sarat nilai.

Pendidikan Hak Asasi Manusia merupakan proses yang dapat berlangsung dimana

saja, kapan saja dan oleh siapa saja dalam rangka pembentukan pengetahuan,

sikap dan tingkah laku yang rasional dan bertanggung jawab terhadap pemecahan

masalah-masalah Hak Asasi Manusia yang berdimensi hak sipil, politik, ekonomi,

sosial, budaya dan hak atas pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur.

Penerapan Norma dan Standar Hak Asasi Manusiua. Dengan meratifikasi

instrumen internasional Hak Asasi Manusia, Pemerintah Republik Indonesia

berarti telah menerima konsekuensi berupa kewajiban untuk

melaksanakan/menerapkan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terdapat

dalam instrumen internasional yang telah diratifikasi tersebut. Penerapan norma

dan standar Hak Asasi Manusia ditujukan untuk meningkatkan penghormatan,

pemajuan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia pada umumnya

maupun yang bersifat khusus. Program kegiatan perlindungan dan pemenuhan

Hak Asasi Manusia yang umum meliputi perlindungan hak sipil dan politik,

pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya serta hak atas pembangunan.

Sedangkan program kegiatan yang khusus berkaitan dengan perlindungan dan

pemenuhan hak kelompok rentan (seperti anak, perempuan dan penyandang

cacat), penghapusan diskriminasi dalam segala bentuk, serta penyelesaian kasus

pelanggaran Hak Asasi Manusia berat.


e. Kasus-Kasus Pelanggaran HAM

Kasus pelanggaran HAM yang dilakukan negara/alat negara/aparat negara

terhadap negara. Contoh lain misalnya kasus penganiayaan mahasiswa UMI oleh

aparat kepolisisan dan lain-lain. Kasus-kasus pelanggaran HAM dalam keluarga,

misalnya penganiayaan terhadap istri yang dilakukan oleh suami, atau sebaliknya

suami yang dianiaya istri. Kasus penganiayaan anak oleh orang tua mereka.

Bahkan seorang ayah/ibu dibunuh oleh anaknya sendiri. Perhatikan acara Buser,

Sergap atau sejenisnya di TV. Kasus-kasus pelanggaran HAM dalam masyrakat,

misalnya penganiayaan pembantu oleh majikannya dan lain sebagainya.

f. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan

HAM

Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada

diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi,

dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas

oleh siapapun.

Untuk ikut serta memelihara perdamaian dunia dan menjamin pelaksanaan

hak asasi manusia serta memberi perlindungan, kepastian, keadilan, dan perasaan

aman kepada perorangan ataupun masyarakat, perlu segera dibentuk suatu

Pengadilan Hak Asasi Manusia untuk menyelesaikan pelanggaran Hak Asasi

Manusia yang berat sesuai dengan ketentuan Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang

Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang mekat pada hakikat dan

keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,

hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat

dan martabat manusia.

Pengadilan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut Pengadilan HAM

adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat.

Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di

lingkungan Peradilan UMUM. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah

kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum

Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

Pengadilan HAM berkedudukan di setiap wilayah Pengadilan Negeri yang

bersangkutan.

Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus

perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pengadilan HAM berwenang

juga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat

yang dilakukan di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia oleh

warga negara Indonesia. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan

memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh

seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan

dilakukan. Pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi: (a) kejahatan

genosida; (b) kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan

maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian

kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara:

a. membunuh anggota kelompok;


b. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap

anggota-anggota kelompok;

c. menciptakan kondisi lingkungan kelompok yang akan mengakibatkan

kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;

d. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di

dalam kelompok, atau

e. memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke

kelompok lain.

Kejahatan terhadap kemanusiaa adalah salah satu perbuatan yang

dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang

diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap

penduduk sipil, berupa:

a. pembunuhan;

b. pemusnahan;

c. perbudakan;

d. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;

e. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara

sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum

internasional;

f. penyiksaan

g. perkosa, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan

kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-

bentuk kekerasan seksual lain yang setara;


h. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan

yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya

, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara

universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;

i. penghilangan orang secara paksa; atau

j. kejahatan apartheid.

Penyelidikan terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat

dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia . Komisi Nasional Hak

Asasi Manusia dalam melakukan penyelidikan membentuk tim ad hoc yang

terdiri atas Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan unsur masyarakat. Dalam

melaksanakan penyelidikan sebagaimana penyelidik berwenang:

a. melakukan penyelidikan dan memeriksa terhadap peristiwa yang

timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut

diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia yang berat;

b. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang atau kelompok orang

tentang terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang berat, serta

mencari keterangan dan barang bukti;

c. memanggil pihak pengadu, korban, atau pihak yang diadukan untuk

diminta dan didengar keterangannya;

d. memanggil saksi untuk diminta dan didengar kesaksiannya

e. meninjau dan mengumpulkan keterangan ditempat kejadian dan

tempat lainnya yang dianggap perlu;

f. memanggil pihak terkait untuk memberikan keterangan secara tertulis

atau menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya;


g. atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa:

1. pemeriksaan surat;

2. penggeledahan dan penyitaan;

3. pemeriksaan setempat terhadap rumah, pekarangan, bangunan, dan

tempat-tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu;

4. mendatangkan ahli dalam hubungan dengan penyelidikan

Penyelidikan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat

dilakukan oleh Jaksa Agung. Jaksa Agung dapat mengangkat penyidik ad hoc

yang terdiri atas unsur pemerintah dan atau masyarakat. Untuk dapat diangkat

menjadi penyidik ad hoc harus memenuhi syarat:

a. warga negara Republik Indonesia

b. berumur sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan paling tinggi

65 (enam puluh lima) tahun

c. berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai

keahlian di bidang hukum

d. sehat jasmani dan rohani

e. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakukan tidak tercela

f. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; dan

g. memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang hak asasi manusia

Setiap korban dan saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia yang

berat berhak atas perlindungan fisik dan mental dari ancaman, gangguan,

teror, dan kekerasan dari pihak manapun. Setiap korban pelanggaran hak asasi

manusia yang berat dan atau ahli warisnya dapat memperoleh kompensasi,

restitusi, dan rehabilitasi.


B. Tugas Kelompok

a. Lembar observasi dosen dalam kegiatan belajar mahasiswa dalam

kelompok1

KEGIATAN BELAJAR MAHASISWA DALAM KELOMPOK

Pokok Bahasan : …………………………………………………..


Hari/Tanggal : …………………………………………………..

NO. NAMA KELOMPOK NAMA ANGGOTA KELOMPOK


…………………………
I. KETRAMPILAN BEKERJA ……. ……. ……. ……. …….
SAMA
1. Penampilan
2. Peran dalam kelompok
3. Kemampuan
merumuskan/menyimpulkan

4. Kemampuan menyampaikan
ide/saran

II. FUNGSI DALAM KERJA


KELOMPOK
1. Sumbangan pemikiran
2. Penyimpulan ide/saran
3. Memotivasi anggota/siswa lain
4. Inisiatif kerja dalam kelompok
5. Pengkoordinasian kerja
kelompok

b. Pedoman Observasi Interaksi Belajar Mahasiswa Dengan Model


Cooperative Learning

Hari/Tgl. : ………………………………
Pokok Bahasan : ………………………………
Kelas : ………………………………
1
Diadaptasi dari Stahl; 1994
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
01. Interaksi antara mahasiswa a. Banyak mahasiswa berinteraksi dengan
dengan mahasiswa lainnya yang lainnya
……………………………………………….
b. Hampir tidak ada mahasiswa berinteraksi
dengan cara berpindah tempat ke
kelompok lainnya
……………………………………………….
c. Hanya mengecek kemajuan pekerjaannya
mahasiswa berpindah tempat duduk
……………………………………………….

02. Jenis Interaksi yang a. Mahasiswa membagi ide dan


berkembang pengetahuannya untuk membantu setiap
anggota kelompoknya
……………………………………………….
b. Mahasiswa mengerjakan tugasnya sendiri,
mencoba melupakan mahasiswa lainnya
untuk melengkapinya.
……………………………………………….
c. Mahasiswa bekerja sendiri, tetapi
mencoba melihat pekerjaan temannya
untuk mengecek jawabannya namun
bukan meniru, membagi, atau membantu
saling melengkapi.
……………………………………………….
d. Hampir semua mahasiswa berinteraksi
dengan yang lainnya seperti sebuah
masyarakat, dan melupakan tugas yang
harus dikerjakannya
……………………………………………….
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
03. Metode yang digunakan a. Mahasiswa bekerja dalam kelompok dan
oleh mahasiswa untuk saling melengkapi, kemudian merumuskan
menyelesaikan tugas atau hasil kerjanya atas nama kelompoknya.
pekerjaannya ……………………………………………….

b. Mahasiswa bekerja secara sendiri-sendiri


dan melupakan anggota lainnya dalam
mengerjakan tugas
……………………………………………….
c. Mahasiswa bekerja sendiri-sendiri, masing-
masing berusaha mengerjakan tugasnya
secepatnya dan selengkap mungkin.
……………………………………………….

04. Reaksi mahasiswa pada a. Mahasiswa secara verbal atau non verbal,
saat salah seorang atau menganggap hal itu adalah bagi semua
kelompok lainnya kelompok yang ada
mendapat pujian atau ……………………………………………….
teguran dari dosen b. Mahasiswa secara verbal dan non verbal
menganggap pujian atau kritikan dosen
berlaku terhadap semua aktivitas/hasil kerja
kelompok yang ada
……………………………………………….
c. Perilaku mahasiswa baik verbal maupun non
verbal, menganggap pujian dosen terhadap
kelompok lainnya berarti apa yang
dikerjakannya masih jelek, dan kritikan
dosen terhadap kelompok lainnya berarti apa
yang dikerjakannya lebih baik dari
kelompok lain.
……………………………………………….

05. Perhatian mahasiswa a. Mahasiswa menanggapi dengan penuh


terhadap ide, pendapat, persahabatan, dan menggunakan hal itu
dan kritik siswa lainnya. sebagai bahan untuk melengkapi tugasnya.
………………………………………………

b.Mahasiswa mengabaikan pendapat atau ide


dari siswa lainnya.
………………………………………………
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
06. Orientasi dan partisipasi a. Mahasiswa memperlihatkan semangat
mahasiswa dalam kebersamaan dalam mengerjakan tugas
mengerjakan tugas dengan saling membantu satu sama
lainnya dengan menggunakan istilah-
istilah , “kita” atau bahasa lainnya dalam
menyelesaikan tugas.
………………………………………………

b. Mahasiswa tekun mengerjakan tugasnya


sendiri, tetapi mengabaikan mahasiswa
lainnya.
………………………………………………
c. Mahasiswa tekun mengerjakan tugasnya
sendiri dan mengecek pekerjaan siswa
lainnya untuk menjadikan tugasnya lebih
baik atau terbaik dari mahasiswa lainnya.
………………………………………………

07. Kepada siapa mahasiswa a. Mahasiswa bertanya atau minta bantuan


bertanya dalam mahasiswa lain
menyelesaikan tugas ………………………………………………
b. Mahasiswa bertanya atau minta bantuan
kepada dosen
………………………………………………
NO. ASPEK YANG HASIL PENGAMATAN
DIAMATI
01. Komunikasi dosen dengan a. Dosen mendorong mahasiswa untuk
mahasiswa bekerja dengan mahasiswa lainnya dalam
suasana persahabatan untuk meningkatkan
hasil kerja salah satu kelompok dan akan
mengevaluasinya berdasarkan standar
yang telah ditetapkan sebelumnya.
………………………………………………
b. Mereka mendorong untuk bekerja dengan
sesama anggota kelompok dengan
mengabaikan mahasiswa atau kelompok
lainnya kemudian melakukan evaluasi
berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
………………………………………………
c. Dosen mendorong mahasiswa untuk
bekerja sama diantara mereka agar lebih
baik dengan kelompok lainnya, kemudian
mereka akan dievaluasi berdasarkan hasil
kerja dan penampilannya dalam kelompok
………………………………………………
02. Bentuk Interaksi dosen a. Dosen mengobservasi kegiatan kelompok,
-mahasiswa memberikan motivasi untuk merangsang
pemikiran kelompok tetapi tidak
memberikan jawaban terhadap tugas yang
dikerjakan mahasiswa, dan mendorong
semua kelompok untuk bekerja dengan
baik.
………………………………………………
b. Dosen berinteraksi dengan setiap
mahasiswa, menumbuhkan semangat
kerja, keterlibatan dalam kelompok untuk
mencapai tujuan, dan menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa
secara perorangan.
………………………………………………
c. Dosen berinteraksi dengan sebagian
mahasiswa saja untuk memperjelas cara
kerja kelompok, tugas yang harus
dikerjakan, kebersamaan, dan tujuan dari
pembelajaran kelas yang sedang dilakukan
………………………………………………

d. Dosen tidak berinteraksi dengan satu


mahasiswapun, dosen hanya bekerja di
belakang mejanya, keluar dari ruangan
kelas dan mengawasi mahasiswanya dari
luar kelas
………………………………………………
e. Dosen berinteraksi dengan mahasiswa
dengan cara berdiri di muka kelas untuk
memberikan penjelasan atau jawaban
kepada mahasiswa secara perorangan.
………………………………………………
03. Reaksi mahasiswa ketika a. Dosen mendorong mahasiswa untuk
dosen memotivasi, meningkatkan rasa kebersamaan dalam
mengkritik, dan kelompok untuk mengerjakan tugas
memberikan contoh tentang dengan cara saling memberi dan
cara bekerja dalam menerima satu dengan yang lainnya,
kelompok dimana mahasiswa tampak
memperhatikan penjelasan dosen sambil
terus mengerjakan tugasnya.
………………………………………………
b. Dosen mengarahkan dan memotivasi
mahasiswa secara perseorangan dan
mengabaikan siswa lainnya.
………………………………………………
c. Dosen dan mahasiswa terlibat
percakapan serius sehingga kelas
menjadi gaduh dan menganggu
mahasiswa lain
………………………………………………
d. Dosen membiarkan mahasiswa untuk
berkeliling dari satu kelompok ke
kelompok lainnya sehingga kerjsama
kelompok menjadi kacau
………………………………………………
e. Mahasiswa dan dosen sama-sama asik
dengan pekerjaannya masing-masing,
sehingga suasana kelas kaku
………………………………………………

05. Perolehan belajar a. Mahasiswa lebih banyak bermain


mahasiswa terhadap materi sehingga mengabaikan materi yang
yang dibahas semestinya dipelajari
………………………………………………

b. Mahasiswa secara aktif mempelajari


materi untuk menemukan jawaban tugas
yang diberikan dosen
………………………………………………
06. Perilaku mahasiswa pada a. Mahasiswa secara mandiri berusaha
saat mengerjakan melengkapi tugas atau tes yang diberikan
tugas/evaluasi dosen
………………………………………………
b. Mahasiswa mengerjakan tugas atau soal
yang diberikan dosen secara mandiri tetapi
untuk mengecek jawaban yang benar
mereka langsung bertanya kepada dosen
………………………………………………
c. Mahasiswa berdiskusi secara aktif dengan
mahasiswa lainnya dalam suasana
persahabatan dalam mengerjakan atau
melengkapi soal-soal yang diberikan
dosen
………………………………………………
07. Suasana dan interaksi a. Mahasiswa hanya diam dan acuh terhadap
mahasiswa pada waktu pernyataan dosen sambil menganggu
dosen melakukan refleksi temannya/bermain
terhadap proses belajar ………………………………………………
mengajar b. Mahasiswa memperhatikan penjelasan
dosen dan ikut serta mengajukan ide atau
pendapat selama proses refleksi yang
dilakukan oleh dosen
………………………………………………
TUGAS KELOMPOK

POKOK/SUB POKOK BAHASAN: HAM

Petunjuk: Kerjakan secara berkelompok dan setelah selesai dipresentasikan

Pilih salah satu kasus pelanggaran HAM :

a. Kasus-kasus pelanggaran HAM dalam Keluarga

b. Kasus-kasus pelanggaran HAM dalam masyarakat

c. Kasus-kasus pelanggran HAM yang dilakukan negara/aparat negara

terhadap warga negara.

Kemudian analisislah kasus tersebut dan cari solusinya, lalu presentasikan

di depan kelas. Selanjutnya buat laporan hasil diskusi.

C. Tugas Individual

a. Tes (Meliputi Evaluasi Proses dan Hasil, dilakukan secara continue,

utuh, menyeluruh, melalui alat tes dan non-tes)

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar, singkat dan jelas !

1. Jelaskan pengertian dasar HAM ?

2. Jelaskan hakikat HAM

3. Bagaimana pelaksanaan HAM di Indonesia pada masa pemerintahan

Soeharto?

4. Bagaimana pelaksanaan HAM di Indonesia pada masa pemerintahan

Megawati Soekarno Putri ?

b. Tugas individual (bedah buku)

1. Pilih buku sumber tentang HAM dan buat laporan tentang isi buku

tersebut !
7.2. Proses Pembelajaran

Langkah-langkah dalam penggunaan model cooperative learning secara


umum (Stahl; 1994, Slavin; 1983) dapat dijelaskan secara operasional sebagai
berikut:
a) Langkah pertama yang dilakukan oleh dosen adalah merancang

rencana program pembelajaran. Pada langkah ini dosen

mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin

dicapai dalam pembelajaran. Disamping itu, dosen juga menetapkan

sikap dan ketrampilan-ketrampilan sosial yang diharapkan

dikembangkan dan diperlihatkan oleh mahasiswa selama

berlangsungnya pembelajaran. Dosen dalam merancang program

pembelajarannya juga harus mengorganisasikan materi dan tugas-tugas

mahasiswa harus mencerminkan sistem kerja dalam kelompok kecil.

Artinya bahwa materi dan tugas-tugas itu adalah untuk dibelajarkan

dan dikerjakan secara bersama dalam dimensi kerja kelompok. Untuk

memulai pembelajarannya, dosen harus menjelaskan tujuan dan sikap

serta ketrampilan sosial yang ingin dicapai dan diperlihatkan oleh

mahasiswa selama pembelajaran. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh

dosen, karena dengan demikian mahasiswa tahu dan memahami apa

yang harus dilakukannya selama proses belajar mengajar berlangsung.

b) Dalam aplikasi pembelajarannya di kelas, dosen merancang lembar

observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan

mahasiswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok

kecil. Dalam menyampaikan materi, dosen tidak lagi menyampaikan

materi secara panjang lebar, karena pemahaman dan pendalaman


materi itu nantinya akan dilakukan mahasiswa ketika belajar secara

bersama dalam kelompok. Dosen hanya menjelaskan pokok-pokok

materi dengan tujuan mahasiswa mempunyai wawasan dan orientasi

yang memadai tentang materi yang diajarkan. Pada saat dosen selesai

menyajikan materi, maka langkah berikutnya harus dilakukan adalah

menggali pengetahuan dan pemahaman siswa tentang materi pelajaran,

berdasarkan apa yang telah dibelajarkan. Hal ini dimaksudkan untuk

mengkondisikan kesiapan belajar mahasiswa. Berikutnya, dosen

membimbing mahasiswa untuk membuat kelompok. Pemahaman dan

konsepsi dosen terhadap siswa secara individual sangat menentukan

kebersamaan dari kelompok yang terbentuk. Kegiatan ini dilakukan

sambil menjelaskan tugas yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam

kelompoknya masing-masing. Pada saat mahasiswa belajar secara

berkelompok, maka dosen mulai melakukan monitoring dan

mengobservasi kegiatan belajar mahasiswa berdasarkan lembar

observasi yang telah dirancang sebelumnya.

c) Langkah ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan

mahasiswa, dosen mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik

secara individual maupun kelompok baik dalam memahami materi

maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan

belajarnya. Pemberian pujian dan kritik membangun dosen kepada

mahasiswa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh

dosen pada saat mahasiswa bekerja dalam kelompoknya. Disamping

itu, pada saat kegiatan kelompok berlangsung. Ketika mahasiswa


terlibat dalam diskusi dalam masing-masing kelompok, dosen secara

periodik memberikan layanan kepada mahasiswa baik secara

individual maupun secara klasikal.

d) Langkah keempat, dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa

dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Pada saat diskusi kelas ini, dosen bertindak sebagai moderator. Hal ini

dimaksudkan untuk mengarahkan dan mengoreksi pengertian dan

pemahaman mahasiswa terhadap materi atau hasil kerja yang telah

ditampilkannya. Pada saat presentasi mahasiswa berakhir, maka dosen

mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi diri, terhadap proses

jalannya pembelajaran, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan-

kelemahan yang ada atau sikap serta perilaku menimpang yang

dilakukan selama pembelajaran. Di samping itu, pada saat tersebut,

dosen juga memberikan beberapa penekanan terhadap nilai, sikap, dan

perilaku sosial yang harus dikembangkan dan dilatih oleh mahasiswa.

Dalam melakukan refleksi diri ini, dosen tetap berperan sebagai

mediator dan moderator aktif. Artinya, pengembangan ide, saran dan

kritik terhadap proses pembelajaran harus diupayakan berasal dari

mahasiswa, kemudian barulah dosen melakukan beberapa perbaikan

dan pengarahan terhadap ide, saran, dan kritik yang berkembang.

Untuk lebih jelasnya, mekanisme pembelajaran dengan cooperative

learning secara umum dapat digambarkan dalam bagan berikut:


MEKANISME PEMBELAJARAN DENGAN MODEL
COOPERATIVE LEARNING

PROGRAM PENGAJARAN/ Perencanaan


TARGET PEMBELAJARAN
PROGRAM PEMBELAJARAN Pembelajaran
Penguasaan materi/konsep
Sikap dan ketrampilan sosial

PEMBENTUKAN KELOMPOK DAN


PENGARAHAN/PENGKONDISIAN SISWA UNTUK
BEKERJA SAMA

Peer Tutor KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DALAM Belajar


(Tutor Teman Sebaya) KELOMPOK BELAJAR Kolaboratif

Pengembangan pengetahuan dan ketrampilan siswa dalam


suasana belajar berkelompok

HASIL KERJA
PROSES KERJA KELOMPOK
KELOMPOK

PENYAJIAN/UNJUK KERJA CATATAN OBSERVASI GURU


SISWA/KELOMPOK SISWA Pemberian Hadiah
MENGENAI KERJA SISWA dan Kritik Siswa

DEBRIEFING
Refleksi dan Internalisasi

David Hornsby; 1981)


SKENARIO PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE LEARNING

LANGKAH PERTAMA

1. Sampaikan tujuan pembelajaran (TPK) secara jelas pada mahasiswa, sampai

mahasiswa mengerti dan memahami dengan baik. Berikan kesempatan kepada

mahasiswa untuk bertanya sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya.

2. Berikan penekanan pada beberapa hal atau aspek yang akan diukur maupun

yang ingin dikembangkan atau harus dipelajari oleh mahasiswa, baik

mengenai materi pelajaran, sikap, maupun ketrampilan-ketrampilan sosial

selama pembelajaran berlangsung (PBM).

3. Jelaskan secara perlahan dan jelas tentang pentingnya materi, sikap maupun

ketrampilan yang akan dikembangkan maupun yang harus dipelajari dalam

kehidupan bermasyarakat.

LANGKAH KEDUA

1. Menjelaskan prosedur pembelajaran yang akan dilakukan secara jelas

2. Menjelaskan metoda dan prosedur penilaian yang akan digunakan selama

proses belajar mengajar.

3. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya mengenai metoda

maupun prosedur pembelajaran dan penilaian, sampai mahasiswa mengerti

dan memahaminya.
LANGKAH KETIGA

1. Mengkondisikan mahasiswa untuk mau dan mampu mengembangkan

kerjasama selama pembelajaran berlangsung.

2. Membentuk kelompok mahasiswa berdasarkan rancangan yang telah

disiapkan oleh dosen.

3. Menjelaskan cara kerja dan hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa

selama berlangsungnya proses belajar mengajar.

4. Menjelaskan sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang harus dikembangkan

dan ditunjukkan oleh mahasiswa maupun kelompok selama proses belajar

mengajar.

5. Menjelaskan hal-hal atau aspek yang akan diamati dan dinilai selama kerja

kelompok.

LANGKAH KEEMPAT

1. Membagikan materi atau tugas yang harus dipelajari/dikerjakan oleh setiap

kelompok.

2. Mengamati kegiatan kerja/belajar mahasiswa dalam masing-maisng

kelompok.

3. Memberikan penjelasan dan membantu mahasiswa/kelompok yang mengalami

kesulitas dalam mempelajari atau mengerjakan tugas kelompoknya.

4. Memberikan pujian kepada mahasiswa/kelompok yang telah bekerja dengan

baik dan mengarahkan mahasiswa atau kelompok yang menganggu atau main-

main selama kegiatan kerja kelompok.


5. Mencatat hal-hal yang terjadi selama kegiatan belajar kelompok dalam lembar

observasi yang telah disiapkan.

LANGKAH KELIMA

1. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja/belajar masing-masing kelompok.

2. Melakukan evaluasi terhadap materi atau pokok bahasan yang telah dipelajari

mahasiswa/kelompok secara individual.

LANGKAH KEENAM

1. Mengajak mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan dan

penampilannya selama kerja kelompok.

2. Mengingatkan hal atau aspek yang belum dikembangkan oleh mahasiswa

selama kegiatan kelompok/belajar kelompok.

3. Memberikan pujian kepada mahasiswa/kelompok yang telah bekerja dengan

baik.

4. Mengingatkan mahasiswa atau kelompok yang belum bisa bekerja dengan

baik.

5. Mengarahkan mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan hal atau

aspek yang belum tampak dan dikembangkan mahasiswa pada kerja

kelompok pada pertemuan selanjutnya.


7.3. Briefing dan Evaluasi

Dosen mengakhiri pembelajaran dengan mengajak mahasiswa untuk

mengevaluasi unjuk kerja mereka selama proses pembelajaran, dan menunjukkan

beberapa sikap dan perilaku mahasiswa yang perlu dikoreksi dan diperbaiki.

Di samping itu melakukan evaluasi terhadap materi atau pokok bahasan

yang telah dipelajari mahasiswa/kelompok secara individual. Mengajak

mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan dan penampilannya

selama kerja kelompok. Mengingatkan hal atau aspek yang belum dikembangkan

oleh mahasiswa selama kegiatan kelompok/belajar kelompok.

Berikanlah pujian kepada mahasiswa baik secara individual maupun

kelompok yang telah bekerja dengan baik. Berikanlah kritik yang konstruktif dan

mengingatkan mahasiswa atau kelompok yang belum bekerja dengan baik.

Mengarahkan mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan hal

atau aspek yang belum tampak dan dikembangkan mahasiswa pada kerja

kelompok untuk pertemuan selanjutnya.


KUISIONER MAHASISWA

PENDAPAT MAHASISWA MENGENAI MODEL COOPERATIVE

LEARNING

Nama : (kode)

BERILAH TANDA SILANG (X) PADA SALAH SATU PERNYATAAN DI


BAWAH INI SESUAI DENGAN APA YANG SAUDARA RASAKAN,
DIALAMI, DAN DILAKUKAN. JAWABAN SAUDARA TIDAK
BERPENGARUH TERHADAP PENILAIAN HASIL BELAJAR.

NO. PERNYATAAN S TT TS
1. Materi pelajaran IPS dapat saudara pelajari dan dipahami
dengan lebih mudah melalui belajar dengan model
cooperative learning
2. Saya lebih senang belajar dengan menggunakan model
cooperative learning dibandingkan dengan cara belajar yang
lainnya
3. Dengan menggunakan model belajar cooperative learning,
saya lebih bersemangat dalam mempelajari IPS
4. Belajar dengan menggunakan model cooperative learning,
ternyata belajar IPS itu menyenangkan
5. Model cooperative learning yang diterapkan dosen selama ini
membuat saya lebih akrab dan dekat dengan teman-teman di
ruang kuliah (kelas)
6. Dengan model cooperative learning, saya dapat belajar dan
mengerjakan tugas secara berkelompok, dapat membantu
untuk mengerti pelajaran IPS dengan lebih baik
7. Model cooperative learning, memberikan kesempatan pada
mahasiswa untuk belajar mandiri.
NO. PERNYATAAN S TT TS
8. Kesempatan untuk berdiskusi dan saling tukar pendapat
dengan teman lebih banyak dengan menggunakan model
cooperative learning
9. Model cooperative learning yang digunakan dosen dalam
mengajar sangat membantu saya dalam meningkatkan prestasi
belajar
10. Belajar dengan menggunakan model cooperative learning,
memberikan kesempatan yang banyak pada saya untuk saling
membantu dalam mengerjakan tugas dengan teman
11. Dengan menggunakan model cooperative learning, saya dapat
belajar cara menyampaikan pendapat dan mendengarkan
pendapat orang lain
12. Model cooperative learning yang diterapkan dosen selama ini
membuat saya lebih giat belajar, agar dapat menyumbangkan
pikiran dalam kerja kelompok
13. Saya ingin dalam setiap mengajar dosen menggunakan model
cooperative learning
14. Dengan menggunakan model cooperative learning sangat
membantu dalam meningkatkan kegairahan saya dalam
belajar IPS
15. Model cooperative learning mengkondisikan tumbuhnya sikap
ketergantungan yang positif diantara mahasiswa
16. Saya lebih bergairah dan antusias dalam belajar dengan
menggunakan model cooperative learning
17. Dengan menggunakan model cooperative learning
memungkinkan saya untuk belajar bukan saja dari dosen,
tetapi juga dari mahasiswa yang lainnya.
NO. PERNYATAAN S TT TS
18. Saya merasa senang bila dalam setiap mengajar dosen
memberikan pekerjaan secara berkelompok dalam
mengerjakan tugas
19. Model cooperative learning memberikan kesempatan yang
lebih banyak kepada siswa untuk belajar

Keterangan:
S = Setuju
TT = Tidak Tahu
TS = Tidak Setuju
PEDOMAN WAWANCARA MAHASISWA
MENGENAI PENGEMBANGAN MODEL COOPERATIVE LEARNING
DALAM PEMBELAJARAN IPS

Nama Mahasiswa : (kode)

Hari/Tanggal :

NO. ASPEK YANG DITANYAKAN TANGGAPAN


1. Kegairahan dan motivasi dalam belajar IPS
2. Penguasaan materi pelajaran
3. Keakraban dengan mahasiswa lainnya
4. Suasana belajar mengajar
5. Iklim belajar dalam belajar kelompok
6. Tanggapan terhadap cara mengajar dosen
7. Tanggapan terhadap aktivitas belajar kelompok
8. Suasana kelas secara umum
9. Cara dosen melakukan pembelajaran
10. Penampilan dosen ketika belajar kelompok
11. Kegiatan briefing pada akhir pembelajaran
12. Pola evaluasi yang dilakukan guru
13. Hasil belajar yang dicapai
14. Kemungkinan penerapan model cooperative
learning bagi materi/pelajaran lain
15. Harapan terhadap pengembangan model
cooperative learning