P. 1
perhitungan alat berat

perhitungan alat berat

|Views: 1,496|Likes:
Dipublikasikan oleh Johan Gomes
alat berat
alat berat

More info:

Published by: Johan Gomes on Jan 30, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2014

pdf

text

original

V - 1

V. PERHITUNGAN PRODUKSI ALAT BERAT



V.1 UMUM

Dalam merencanakan kebutuhan alat maka masalah pokok yang harus dianalisa adalah
perhitungan produksi alat tersebut yang sesuai dengan kondisi material/medan kerjanya.
Produksi alat pada medan kerja / material yang berbeda-beda akan menghasilkan produksi
yang berbeda beda meskipun jenis/spesifikasi alat persis sama. Hal ini bisa terjadi karena
adanya faktor-faktor yang terlibat dalam pekerjaan itu mempunyai besaran-besaran yang
berbeda, misalnya faktor : waktu siklus, efisiensi kerja dll.

Prinsip dasar untuk menghitung produksi alat secara teoritis dapat dirumuskan sebagai berikut :

E
Cm
60
q E N q Q × × = × × =

dimana :
Q = Produksi perjam dari alat (m
3
/jam)
q = Produksi (m
3
) dalam satu siklus untuk memindahkan tanah lepas
N = jumlah siklus dalam satu jam
E = Efisiensi kerja
Cm = Waktu siklus (menit)


V.1.1 Efisiensi Kerja

Produktivitas kerja dari suatu alat yang diperlukan merupakan standard dari alat tersebut
bekerja dalam kondisi ideal dikalikan suatu faktor efisiensi kerja. Efisiensi sangat tergantung
kondisi kerja dan faktor alam lainnya seperti keadaan topografi, keahlian operator, pemilihan
standard perawatan dan lain-lain yang berkaitan dengan pengoperasian alat.
Besarnya faktor efisiensi kerja dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Efisiensi Kerja
Kondisi Operasi Alat
Pemeliharaan Mesin
Baik Sekali Baik Sedang Buruk Buruk Sekali
Baik Sekali 0.83 0.81 0.76 0.70 0.63
Baik 0.78 0.75 0.71 0.65 0.60
Sedang 0.72 0.69 0.65 0.60 0.54
Buruk 0.63 0.61 0.57 0.52 0.45
Buruk Sekali 0.52 0.50 0.47 0.42 0.32
Sumber : Rochmanhadi, 1984

Kondisi kerja tergantung hal-hal berikut :
1. Apakah alat sesuai dengan topografi yang ada
2. Kondisi dan pengaruh lingkungan seperti : ukuran medan dan peralatan
3. Pengaturan kerja dan kombinasi kerja antara peralatan dan mesin
4. Metode operasional dan perencanaan persiapan kerja
5. Pengalaman dan kepandaian operator dan pengawas untuk pekerjaan tersebut

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan alat adalah :
1. Penggantian pelumas (grease/gemuk) secara berkala
2. Kondisi peralatan pemotong (blade, bucket, bowl)
3. Persediaan suku cadang yang sering diperlukan untuk alat yang bersangkutan
V - 2
V.1.2 Faktor Konversi Volume Tanah

Volume tanah yang ada dalam perhitungan produksi alat-alat berat yang dipakai pada
pekerjaan tanah ada 3 macam yaitu keadaan asli, lepas dan padat. Hal ini terjadi karena faktor
pengembangan dan penyusutan tanah itu sendiri, seperti telah dijelaskan pada bab II. Secara
praktis perhitungan perubahan volume tanah untuk 3 keadaan tersebut dapat memakai faktor
konversi volume tanah seperti pada tabel berikut.

Tabel Faktor Konversi Tanah
Jenis Material Kondisi Awal
Kondisi Tanah yang Dikerjakan
Kondisi Asli Kondisi Lepas Kondisi Padat
Sand / Tanah Pasir A 1.00 1.11 0.99
B 0.90 1.00 0.80
C 1.05 1.17 1.00
Sandy Clay / Tanah Biasa A 1.00 1.25 0.90
B 0.80 1.00 0.72
C 1.11 1.39 1.00
Clay / Tanah Liat A 1.00 1.35 0.90
B 0.70 1.00 0.63
C 1.11 1.59 1.00
Tanah Campur Kerikil A 1.00 1.18 1.08
B 0.85 1.00 0.91
C 0.93 1.09 1.00
Kerikil A 1.00 1.13 1.03
B 0.88 1.00 0.91
C 0.97 1.10 1.00
Kerikil Kasar A 1.00 1.42 1.29
B 0.70 1.00 0.91
C 0.77 1.10 1.00
Pecahan Cadas atau Batuan Lunak A 1.00 1.65 1.22
B 0.61 1.00 0.74
C 0.82 1.35 1.00
Pecahan Granit atau Batuan Keras A 1.00 1.70 1.31
B 0.59 1.00 0.77
C 0.76 1.30 1.00
Pecahan Batu A 1.00 1.75 1.40
B 0.57 1.00 0.80
C 0.71 1.24 1.00
Batuan Hasil Ledakan A 1.00 1.80 1.30
B 0.56 1.00 0.72
C 0.77 1.38 1.00
Sumber : Rochmanhadi, 1992

Keterangan :
A = Tanah Asli
B = Tanah Lepas
C = Tanah Padat


V.2 BULLDOZER

V.2.1 Produksi Perjam
Rumus :

E
Cm
60
q Q × × =

dimana :
Q = Produksi perjam (m
3
/jam)
q = Produksi persiklus (m
3
)
E = Efisiensi kerja
Cm = Waktu siklus (menit)

V - 3
V.2.2 Produksi Per Siklus
Rumus :

a H L q
2
× × =

dimana :
L = Lebar blade/pisau/sudu (m)
H = tinggi blade (m)
a = faktor blade

Tabel Faktor Blade/Pisau/Sudu dalam Penggusuran
Derajat Penggusuran Faktor Blade
Ringan
Penggusuran dapat dilaksanakan dengan sudu penuh tanah
lepas. Kadar Air rendah, tanah berpasir tak dipadatkan, tanah
biasa, bahan material untuk timbunan persediaan (stockpile)
1.1 – 0.9
Sedang
Tanah lepas, tetapi tidak mungkin menggusur dengan sudu
penuh. Tanah bercampur kerikil atau split, pasir, batu pecah.
0.9 – 0.7
Agak Sulit
Kadar air tinggi dan tanah liat, pasir bercampur kerikil, tanah liat
yang sangat kering dan asli.
0.7 – 0.6
Sulit Batu-batu hasil ledakan, batu-batu berukuran besar. 0.6 – 0.4
Sumber : Rochmanhadi, 1984


V.2.3 Waktu Siklus

Waktu siklus yang dibutuhkan bulldozer untuk menyelesaikan satu siklus pengoperasian dimulai
pada saat menggusur, ganti persnelling dan mundur, dihitung dengan rumus :

Z
R
D
F
D
Cm + + =

dimana :
Cm = waktu siklus (menit)
D = jarak angkut/gusur (m)
F = kecepatan maju (m/menit)
R = kecepatan mundur (m/menit)
Z = waktu ganti persnelling (menit)

a. Kecepatan maju (Forward speed)
Berkisar antara 3 – 5 km/jam. Bila alat menggunakan torqflow (aliran fluida) maka
kecepatan maju = 0,75 x kecepatan maksimum.
b. Kecepatan mundur (Reverse speed)
Berkisar antara 5 – 7 km/jam. Bila alat menggunakan torqflow (aliran fluida) maka
kecepatan mundur = 0,85 x kecepatan maksimum.
c. Waktu yang dibutuhkan untuk ganti gigi/persnelling, seperti terlihat pada tabel
berikut.

Mesin Waktu ganti persnelling
Mesin gerak langsung : - tongkat tunggal 0,10 menit
- tongkat ganda 0,20 menit
Mesin-mesin torqflow 0,05 menit
Sumber : Rochmanhadi




V - 4
V.2.4 Contoh Perhitungan Bulldozer

Diketahui sebuah bulldozer tipe straightdozer akan digunakan untuk menggusur tanah (tanah
liat berpasir / sandy clay) dengan data-data sebagai berikut :
- Jarak gusuran = 40 m
- Efisiensi kerja = 0,75
- Kecepatan maju / forward speed = 0 – 3,7 km/jam
- Kecepatan mundur / reverse speed = 0 – 8,2 km/jam
- Lebar pisau = 4,13 m
- Tinggi pisau = 1,59 m
- Faktor pisau = 0,80
- Bulldozer memakai sistem mesin torqflow (aliran fluida)
Hitunglah :
- produksi per siklus
- waktu siklus
- Produksi bulldozer dalam keadaan lepas (loose) dan asli (unexcavated)
Catatan : Kondisi awal kerja tanah dlm keadaan lepas
Solusi :

D = 40 m
E = 0,75
F = 0,75 x 3,7 = 2,775 km/jam = 46,25 m/menit
R = 0,85 x 8,2 = 6,97 km/jam = 116,17 m/menit
Z = 0,05 menit
L = 4,13 m
H = 1,59 m
a = 0,80
Faktor konversi volume tanah : - loose = 1,00
- unexcavated = 0,80

a. Produksi persiklus = q = L x H
2
x a
= 4,13 x 1,59
2
x 0,80
= 8,35 m
3


b. Waktu Siklus = Z
R
D
F
D
Cm + + =
= 05 , 0
17 , 116
40
25 , 46
40
+ +
= 1,26 menit

c. Produksi bulldozer untuk tanah lepas (loose) adalah :
fc E
Cm
60
q Q
L
× × × = = 00 , 1 x 75 , 0
26 , 1
60
35 , 8 × × = 298 m
3
/jam

Produksi bulldozer untuk tanah asli (unexcavated) adalah :
fc E
Cm
60
q Q
B
× × × = = 80 , 0 x 75 , 0
26 , 1
60
35 , 8 × × = 239 m
3
/jam





V - 5
V.3 LOADER


V.3.1 Produksi Perjam
Rumus :

E
Cm
60
q Q × × =

dimana :
Q = Produksi perjam (m
3
/jam)
q = Produksi persiklus (m
3
)
E = Efisiensi kerja
Cm = Waktu siklus (menit)


V.3.2 Produksi Per Siklus
Rumus :

K q q
1
× =

dimana :
q
1
= kapasitas bucket penuh (heaped capacity)
K = faktor bucket

Kondisi Pemuatan Faktor
Ringan Menggali dan memuat dari stockpile atau material yang telah
dikeruk oleh excavator lain, yang tidak membutuhkan gaya gali dan
dapat dimuat munjung dalam bucket
1,0 – 0,8
Sedang Menggali dan memuat stockpile lepas dari tanah yang lebih sulit
untuk digali dan dikeruk tetapi dapat dimuat hampir munjung.
Pasir kering, tanah berpasir, tanah campuran tanah liat, tanah liat,
gravel yang belum disaring, pasir yang telah memadat dan
sebagainya, atau menggali dan memuat gravel langsung dari bukit
gravel asli.
0,8 – 0,6
Agak sulit Menggali dan memuat batu-batu pecah, tanah liat yang keras, pasir
campur kerikil, tanah berpasir, tanah koloidal liat, tanah liat, dengan
kadar air tinggi, yang telah distockpile oleh excavator lain. Sulit
untuk mengisi bucket dengan material tersebut
0,6 – 0,5
Sulit Bongkahan, batuan besar dengan bentuk tak teratur dengan
ruangan diantaranya, batuan hasil ledakan, batuan bundar, pasir
campur tanah liat, tanah liat yang sulit untuk dikeruk dengan
bucket.
0,5 – 0,4
Sumber : Rochmanhadi, 1985


V.3.3 Waktu Siklus
a. Cross Loading : Z
R
D
F
D
Cm + + =

b. V-Shape Loading : Z 2 x
R
D
2 x
F
D
Cm + |
¹
|

\
|
+ |
¹
|

\
|
=

c. Load and Carry : Z 2 x
F
D
Cm + |
¹
|

\
|
=
V - 6
dimana :
Cm = waktu siklus (menit)
D = jarak angkut/gusur (m)
F = kecepatan maju (m/menit)
R = kecepatan mundur (m/menit)
Z = fixed time (menit)

Catatan :
Cross Loading V-shape Loading Load and Carry











Besaran F, R dan Z :
a. Cross loading dan V-Shape :
F dan R = 0,8 x kecepatan maksimum (torqflow)
b. Load and Carry :
Bila : D < 50, F dan R = 10 – 15 km/jam
50 < D < 100, F dan R = 10 – 20 km/jam
D > 100, F dan R = 15 – 25 km/jam
c. Fixed time (Z) adalah waktu yang diperlukan untuk pergantian gigi (gear shifting),
memuat (loading), berputar (turning) dll. Besaran fixed time dapat dilihat pada tabel
berikut.

Sistem kontrol Cross Loading V-Shape Loading Load and Carry
Direct drive 0,35 0,25 -
Hydraulic shift drive 0,30 0,20 -
Torqflow drive 0,30 0,20 0,35


V.3.4 Contoh Perhitungan Loader

1. Crawler Loader

Diketahui crawler loader (mesin torqflow) akan memuat material ke dump truck dengan
data-data sebagai berikut :
- operating method = V-shape loading
- jarak angkut = 7,5 m
- jenis material = pecahan granit atau batuan keras
- efisiensi kerja = 0,83
- faktor bucket = 0,80
- kapasitas bucket = 2,2 m
3

- Kecepatan gerak : Forward = 0 – 5,8 km/jam
Reverse = 0 – 7,5 km/jam
Hitunglah produksi loader dalam keadaan loose dan unexcavated.

Solusi :
D = 7,5 m E = 0,83 K = 0,80
q
1
= 2,2 m
3
Z = 0,2 menit


Truck
Loader
D
Truck
Loader
D
D
D
V - 7
F = 0,8 x 5,8 = 4,64 km/jam = 77,3 m/menit
R = 0,8 x 7,5 = 6 km/jam = 100 m/menit
Faktor konversi volume tanah : - loose = 1,00
- unexcavated = 0,59
Catatan : Kondisi awal kerja tanah dlm keadaan lepas
a. Produksi per siklus = q = q
1
x K = 2,2 x 0,8 = 1,76 m
3


b. Waktu siklus
2 , 0 2 x
100
5 , 7
2 x
3 , 77
5 , 7
Cm + |
¹
|

\
|
+ |
¹
|

\
|
= = 0,54 menit

c. Produksi loader (loose)
fc E
Cm
60
q Q
L
× × × = = 00 , 1 x 83 , 0
54 , 0
60
76 , 1 × × = 162 m
3
/jam

Produksi loader untuk tanah asli (unexcavated) adalah :
fc E
Cm
60
q Q
B
× × × = = 59 , 0 x 83 , 0
54 , 0
60
76 , 1 × × = 96 m
3
/jam


2. Wheel Loader

Diketahui wheel loader dengan mesin torqflow memiliki data-data sebagai berikut :
- Heaped capacity = 4,0 m
3

- operating method = Cross loading
- jarak angkut = 10 m
- jenis material = sandy clay
- efisiensi kerja = 0,83
- faktor bucket = 0,9 (easy loading)
- Kecepatan gerak : Forward = 0 – 7 km/jam
Reverse = 0 – 7 km/jam
Hitunglah produksi loader dalam keadaan loose dan unexcavated.

Solusi :
D = 10 m E = 0,83 K = 0,9 q
1
= 4 m
3

F = 0,8 x 7 = 5,6 km/jam = 93,3 m/menit
R = 0,8 x 7 = 5,6 km/jam = 93,3 m/menit
Z = 0,3 menit
Faktor konversi volume tanah : - loose = 1,00
- unexcavated = 0,80
Catatan : Kondisi awal kerja tanah dlm keadaan lepas

a. Produksi per siklus = q = q
1
x K = 4 x 0,9 = 3,6 m
3

b. Waktu siklus
3 , 0
3 , 93
10
3 , 93
10
Cm + + = = 0,51 menit

c. Produksi loader (loose)
fc E
Cm
60
q Q
L
× × × = = 00 , 1 x 83 , 0
51 , 0
60
6 , 3 × × = 352 m
3
/jam
Produksi bulldozer untuk tanah asli (unexcavated) adalah :
fc E
Cm
60
q Q
B
× × × = = 80 , 0 x 83 , 0
51 , 0
60
6 , 3 × × = 281 m
3
/jam
V - 8
V.4 EXCAVATOR

V.4.1 Produksi Perjam
Rumus :

E
Cm
3600
q Q × × =

dimana :
Q = Produksi perjam (m
3
/jam)
q = Produksi persiklus (m
3
)
E = Efisiensi kerja
Cm = Waktu siklus (detik)

V.4.2 Produksi Per Siklus
Rumus :

K q q
1
× =

dimana :
q
1
= kapasitas bucket penuh (heaped capacity)
K = faktor bucket
Tabel faktor bucket sama dengan faktor bucket pada Loader

V.4.3 Waktu Siklus
Rumus :

Cm = waktu gali + waktu putar x 2 + waktu buang


Tabel Waktu Gali (detik)

Kedalaman
Gali
Kondisi Galian
Ringan Sedang Agak Sulit Sulit
0 – 2 m 6 9 15 26
2 – 4 m 7 11 17 28
> 4 m 8 13 19 30
Sumber : Rochmanhadi, 1985

Tabel Waktu Putar (detik)
Sudut Putar Waktu Putar
45 - 90° 4 – 7
90 - 180° 5 – 8
Sumber : Rochmanhadi, 1985

Waktu buang tergantung dari kondisi pembuangan material :
- Pembuangan ke dalam dump truck = 4 – 7 detik
- Ke tempat pembuangan = 3 – 6 detik

V - 9
V.5 DUMP TRUCK

V.5.1 Produksi Perjam
Rumus :

M x Et
C
60
C Q
mt
× × =

dimana :
Q = Produksi perjam (m
3
/jam)
C = Produksi persiklus (m
3
)
Et = Efisiensi kerja dump truck
C
mt
= Waktu siklus dump truck (menit)
M = jumlah unit dump truck

V.5.2 Produksi Per Siklus
Rumus :

C = n x q
1
x K

dimana :
C = Produksi persiklus (m
3
)
n = jumlah siklus yang dibutuhkan loader untuk mengisi muatan ke dalam
dump truck
K = faktor bucket loader
q
1
= kapasitas bucket loader pada keadaan monjong / heaped capacity (m
3
)

V.5.3 Jumlah Unit Dump Truck yang Dibutuhkan
Rumus :

ms
mt
C n
C
muat waktu
truck dump siklus waktu
M
×
= =

dimana :
M = jumlah dump truck yang dibutuhkan
n = jumlah siklus loader untuk memuat dump truck
C
mt
= waktu siklus dump truck (menit)
C
ms
= waktu siklus loader (menit)

V.5.4 Waktu Siklus Dump Truck
Rumus :

2
2
1
1
ms mt
t
V
D
t
V
D
C n C + + + + ⋅ =

dimana :
C
mt
= waktu siklus dump truck (menit)
n = jumlah siklus loader untuk memuat dump truck
C
ms
= waktu siklus loader (menit)
D = jarak angkutan dump truck (m)
V
1
= kec. rata-rata dump truck dengan membawa muatan (m/menit)
V
2
= kec. rata-rata dump truck dengan keadaan kosong (m/menit)
t
1
= waktu membuang muatan + waktu menunggu untuk dimuat (menit)
t
2
= waktu yang dibutuhkan dump truck saat mencari posisi sebelum dimuati (menit)
V - 10
V.5.5 Jumlah siklus loader untuk memuat dump truck
Rumus :

K
q
C
n
1
1
× =

dimana :
n = jumlah siklus loader untuk memuat dump truck
C
1
= kapasitas dump truck (m
3
)
q
1
= kapasitas bucket loader pada keadaan monjong / heaped capacity(m
3
)
K = faktor bucket loader

V.5.6 Waktu Buang + Waktu Tunggu(t
1
) dan Waktu Manuver untuk Dimuat (t
2
)

Kondisi Operasi t
1
(menit) t
2
(menit)
Baik 0,5 – 0,7 0,1 – 0,2
Sedang 1,0 – 1,3 0,25 – 0,35
Buruk 1,5 – 2,0 0,4 – 0,5


V.5.7 Kombinasi Penggunaan Dump Truck dengan Loader
Rumus :


ms mt
C
Es K q 60
C
Et 60 C × × ×
=
× ×



V.5.8 Contoh Perhitungan Kombinasi Produksi Dump Truck dan Loader

Sebuah loader memuat material tanah ke dalam dump truck dengan data dan kondisi sebagai
berikut :
Loader :
- Kapasitas bucket (heaped capacity) = 2 m
3

- Faktor bucket = 0,75
- Jarak angkut = 8 m
- Cara memuat material ke dump truck dengan tipe V-shape loading
- Sistem kontrol mesin dengan hydraulic shift drive
- Kecepatan loader : forward = 7 km/jam
Reverse = 10 km/jam

Dump truck
- Jarak angkut = 40 km
- Efisiensi kerja = 0,8
- Setiap dump truck dimuat dengan 3 kali siklus loader
- Kecepatan dump truck : dengan muatan = 50 km/jam
balik dengan muatan kosong = 70 km/jam
- Kondisi operasi saat bongkar, antri dan manuver untuk posisi adalah sedang

Hitung:
a. jumlah unit dump truck yang dibutuhkan
b. Berapa produksi persiklus dump truck
c. Produksi per jam dump truck

V - 11
Solusi :

D
loader
= 8 m
q
1
= 2 m
3

K = 0,75
F = 7 km/jam = 116,67 m/menit
R = 10 km/jam = 166,67 m/menit
Z = 0,2 menit

D
dtruck
= 40 km = 40.000 m
n = 3
Et = 0,8
V
1
= 50 km/jam = 833,33 m/menit
V
2
= 70 km/jam = 1166,67 m/menit
t
1
= 1,15
t
2
= 0,3


menit 433 , 0 2 , 0 2 x
67 , 166
8
2 x
67 , 116
8
Z 2 x
R
D
2 x
F
D
C
ms
= + |
¹
|

\
|
+ |
¹
|

\
|
= + |
¹
|

\
|
+ |
¹
|

\
|
=

( ) menit 035 , 85 3 , 0
67 , 1166
40000
15 , 1
33 , 833
40000
433 , 0 3 t
V
D
t
V
D
C n C
2
2
1
1
ms mt
= + + + + × = + + + + × =

a. Jumlah unit dump truck yang diperlukan adalah
truk 66 46 , 65
433 , 0 3
035 , 85
C n
C
M
ms
mt
≈ =
×
=
×
=

b. Produksi per siklus dump truck :
C = n x q
1
x K
= 3 x 2 x 0,75
= 4,5 m
3


c. Produksi dump truck perjam :
jam / m 65 , 167 66 8 , 0
035 , 85
60
5 , 4 M x Et
C
60
C Q
3
mt
= × × × = × × =



V.6 MOTOR GRADER

V.6.1 Produksi Perjam
Rumus :

( ) E 1000 Lo Le V Q
A
× × − × =

dimana :
Q
A
= produksi perjam (m
2
/jam)
V = kecepatan kerja (km/jam)
Le = panjang blade efektif (m)
Lo = lebar overlap (m)
E = efisiensi kerja
V - 12
a. Kecepatan kerja (V)

Perbaikan jalan 2 – 6 km/jam
Pembuatan trens 1,6 – 4 km/jam
Perapihan tebing 1,6 – 2,6 km/jam
Perataan medan 1,6 – 4 km/jam
Pembersihan salju 7 – 25 km/jam
Leveling 2 – 8 km/jam

b. Panjang blade efektif (Le), lebar overlap (Lo)
Karena blade biasanya miring pada waktu memotong atau meratakan, maka
panjang efektif sangat tergantung pada sudut kemiringannya.
Lebar overlap biasanya = 0,3 m.

Tabel Le
Panjang blade (m) 2,2 3,1 3,7 4,0 4,3
Panjang blade
efektif / Le (m)
Sudut blade 60° 1,9 2,7 3,2 3,5 3,7
Sudut blade 45° 1,6 2,2 2,6 2,8 3,0


V.6.2 Waktu Penyelesaian yang Dibutuhkan
Rumus :


E V
D N
T
×
×
=
dimana :
T = waktu kerja (jam)
N = jumlah trip
D = jarak kerja (km)
V = kecepatan kerja (km/jam)
E = efisiensi kerja

Jika grader bekerja pada suatu site, dengan jalur-jalur levelling yang sejajar, maka jumlah trip
dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut.

n
Lo Le
W
N ×

=

dimana :
N = Jumlah trip
W = Lebar total untuk pekerjaan levelling (m)
Le = Panjang efektif blade (m)
Lo = Lebar overlap (m)
n = jumlah lapisan yang diperlukan untuk mencapai permukaan yang dikehendaki


V.6.3 Contoh Perhitungan Motor Grader

Sebuah motor grader digunakan untuk pekerjaan levelling dengan data-data sebagai berikut :
- lebar total levelling = 10 m - panjang pekerjaan = 10 km
- panjang blade = 4,3 m - sudut blade = 60°
- jumlah lapisan = 1 - kecepatan kerja = 5 km/jam
Hitunglah waktu penyelesaian dan produksi/jam dari alat pada pekerjaan tersebut jika E=0,83.
V - 13
Solusi :

W = 10 m
D = 10 km
Le = 3,7 m
Lo = 0,3 m
N = 1
E = 0,83

3 1
3 , 0 7 , 3
10
n
Lo Le
W
N = ×

= ×

=

jam 3 , 7
83 , 0 5
10 3
E V
D N
T =
×
×
=
×
×
=

( ) ( ) jam / m 1411 83 , 0 1000 3 , 0 7 , 3 5 E 1000 Lo Le V Q
2
A
= × × − × = × × − × =




V.7 COMPACTOR

V.7.1 Produksi Perjam untuk Volume Tanah yang Dipadatkan
Rumus :


N
E 1000 H V W
Q
× × × ×
=

dimana :
Q = produksi perjam (m
3
/jam)
V = kecepatan kerja (km/jam)
W = lebar pemadatan efektif per lintasan (m)
H = tebal pemadatan per lapisan (m)
N = jumlah lintasan pemadatan
E = efisiensi kerja


a. Kecepatan Operasi (V)

Nilai kecepatan pengoperasian alat dapat dilihat pada tabel berikut
Jenis Alat Kecepatan
Mesin gilas roda besi (Road Roller) ± 2 km/jam
Mesin gilas roda ban (Tire Roller) ± 2,5 km/jam
Mesin gilas getar (Vibration Roller) ± 1,5 km/jam
Mesin gilas kaki kambing (Sheep Foot Roller) ± 20 mil/jam
Kompaktor tanah (Soil Compactor) ± 4 – 10 km/jam
Tamper ± 1 km/jam
Sumber : Rochmanhadi, 1985




V - 14
b. Lebar Pemadatan Efektif (W)

Jenis Alat Lebar Pemadatan Efektif (m)
Macadam Roller Lebar roda gerak - 0,2 m
Tandem Roller Lebar roda gerak - 0,2 m
Soil Compactor (Lebar roda gerak x 2) - 0,2 m
Mesin gilas roda ban (Tire Roller) Jarak terluar dari ban-ban
paling luar - 0,3 m
Mesin gilas getar besar (Large Vibratory Roller) Lebar roller - 0,2 m
Mesin gilas getar kecil (Small Vibratory Roller) Lebar roller - 0,1 m
Bulldozer (Lebar trackshoe x 2) - 0,3 m
Sumber : Rochmanhadi, 1985

c. Tebal Pemadatan untuk Setiap Lapisan (H)
Ketebalan pemadatan untuk setiap lapisan : 0,2 – 0,5 m dalam keadaan lepas.

d. Jumlah Lintasan Pemadatan (N)

Jenis Alat Jumlah Lintasan
Mesin gilas roda ban (Tire Roller) 3 – 5
Mesin gilas roda besi (Road Roller) 4 – 8
Mesin gilas getar (Vibration Roller) 4 – 8
Kompaktor tanah (Soil Compactor) 4 - 10
Sumber : Rochmanhadi, 1985


V.7.2 Produksi Alat Perjam untuk Luas Tanah yang Dipadatkan
Rumus :


N
E 1000 V W
Q
A
× × ×
=

dimana :
Q
A
= Luas perjam tanah yang dipadatkan (m
2
/jam)
V = kecepatan operasi (km/jam)
W = lebar pemadatan efektif (m)
N = jumlah lintasan pemadatan
E = efisiensi kerja


V.7.3 Contoh Perhitungan Compactor

Hitunglah produksi pekerjaan pemadatan dengan vibratory roller dalam satuan luas/jam dan
volume/jam dengan data-data sebagai berikut :
- W = 0,8 m (1m - 0,2m)
- V = 1,6 km/jam
- N = 8 lintasan
- E = 0,65
- H = 0,5 m

Solusi :
jam / m 104
8
65 , 0 1000 6 , 1 8 , 0
N
E 1000 V W
Q
2
A
=
× × ×
=
× × ×
=

jam / m 52 5 , 0 104 H Q
N
E 1000 H V W
Q
3
A
= × = × =
× × × ×
=
V - 15
V.8 MOTOR SCRAPER

V.8.1 Produksi Perjam
Rumus :

E
Cm
60
q Q × × =

dimana :
Q = Produksi perjam (m
3
/jam)
q = Produksi persiklus (m
3
)
E = Efisiensi kerja
Cm = Waktu siklus (menit)


V.8.2 Kapasitas Mangkok
Rumus :

K q q
1
× =

dimana :
q
1
= kapasitas monjong (heaped capacity)
K = faktor beban

Harga dari faktor beban dapat dilihat pada tabel berikut:

Material Faktor
Sand / Tanah Pasir 0,90
Sandy Clay / Tanah Biasa 0,80
Clay / Tanah Liat 0,70
Dense, heavy clay or sand mixed with boulder 0,65

V.8.3 Waktu Siklus
Rumus :
Cm = Loading time + Hauling time + Spreading and turning time
+ Return time + Spot and delay time

A. Loading time
Harga loading time dapat dilihat pada tabel berikut :

Loading Conditions Loading time (menit)
Bagus 0,5
Sedang 0,6
Buruk 1,0

B. Hauling time (waktu angkut) and returning time (waktu kembali)
Waktu angkut dan waktu kembali tergantung dari :
- rolling time dan grade resistance
- travel speed

Untuk menghitung kecepatan rata-rata dari motor scraper dapat dihitung dengan
cara sbb:

Average travel speed = max. travel speed x speed factor
V - 16
Rumus untuk menghitung hauling time atau returning time pada setiap bagian
adalah sebagai berikut :

Hauling time / returning time =
) menit / m ( rata rata tan Kecepa
) m ( bagian Panjang



Harga dari faktor kecepatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Distance of each section
of haul road (m)
Where vehicle makes
standing start
Where vehicle enters a
section while travelling
0 – 150 0,30 – 0,45 0,55 – 0,60
150 – 300 0,45 – 0,60 0,60 – 0,70
300 – 500 0,50 – 0,65 0,65 – 0,75
500 – 700 0,60 – 0,70 0,75 – 0,85
700 – 1000 0,65 – 0,75 0,80 – 0,90
1000 0,70 – 0,85 0,85 – 0,95
Catatan :
Faktor kecepatan pada saat penurunan (downhill) lebih tinggi daripada saat pendakian
(uphill) bila alat melakukan kerja sementara berjalan (tidak berhenti).

C. Spread and turn time
Harga spread and turn time dapat dilihat pada tabel :
Spreading Conditions Spreading and turning time (menit)
Bagus 0,4
Sedang 0,6
Buruk 1,1

D. Spot and delay time
Spot and delay time adalah waktu yang dipergunakan sewaktu melakukan
perputaran (pembelokan) di borrow pit, perpindahan gigi, menunggu alat
pendorong, menunggu lokasi borrow pit dll. Harga spot and delay time ini dapat
dilihat pada tabel :
Conditions Spot and delay time (menit)
Bagus 0,3
Sedang 0,5
Buruk 0,8



V.9 DREDGER

V.9.1 Produksi Perjam
Rumus :


tot c P
E S Q Q × × =

dimana :
Q = Produksi perjam dalam keadaan padat (m
3
/jam)
Q
p
= Produksi menurut pabrik dalam keadaan campuran lumpur (m
3
/jam)
S
c
= Isi padat rata-rata
E
tot
= Efisiensi total

Umumnya produksi kapal keruk telah diberikan oleh pabrik pembuat kapal keruk
tersebut baik itu dalam keadaan campuran lumpur maupun dalam keadaan padat (solid)
dalam satuan m
3
/jam. Isi padat rata-rata biasanya mempunyai besaran = 10% - 30%.
V - 17
V.9.2 Faktor-faktor pengaruh dalam pengerukan

a. Efisiensi kesediaan mesin
Yang dimaksud disini adalah kondisi mesin / umur pemakaian mesin.
Besar efisiensi kesediaan adalah antara : 0,6 – 1,00

b. Efisiensi waktu produktif alat
Yang dimaksud disini adalah perbandingan antara jumlah jam kerja alat tersedia
dengan jumlah jam kerja alat yang benar-benar produktif.
Jumlah jam kerja alat produktif = jam kerja alat tersedia - jam kerja tidak produktif
Jam kerja tidak produktif disebabkan oleh :
- waktu persiapan
- waktu pindah pipa
- waktu pindah maju
- waktu pindah jangkar
- waktu pembersihan kemampatan pompa

Efisiensi waktu produktif dapat dihitung sebagai berikut :

T
t T
E
W
Σ −
=

dimana :
T = jumlah jam kerja alat tersedia
t = jumlah jam kerja tidak produktif

Umumnya besaran nilai E
W
adalah antara : 0,5 - 0,8

c. Efisiensi operator
Efisiensi operator perlu diperhitungkan karena :
- pemindahan tanah di bawah permukaan air yang sulit dikontrol secara langsung
dengan penglihatan mata
- perlu keterampilan khusus dalam kecepatan ayun (swing), gerak maju, dan
penambahan kedalaman pengerukan
- terjadinya kapitasi dalam pompa keruk yang hanya dapat dihindarkan oleh
operator yang terampil saja.
Besarnya efisiensi operator berkisar antara : 0,6 – 0,9

d. Efisiensi total pengerukan
Rumus :

O W M tot
E E E E × × =

dimana :
E
M
= efisiensi kesediaan mesin
E
W
= efisiensi waktu produktif
E
O
= efisiensi operator


V.9.3 Produksi Alat Tipe Cutter Suction Dredger (CDR)
Rumus :

H J
E N S 270
P
c
CDR
×
× × ×
=
V - 18
dimana :
P
CDR
= Produksi alat tipe Cutter Suction Dredger (m
3
/jam)
S
C
= Isi padat (%)
N = daya terpakai (HP)
H = total head (m)
J = berat jenis campuran (kg/dm
3
)
E = efisiensi total

V.9.3 Produksi Alat Tipe Bucket Dredger (BDR)
Rumus :

E S n i kp 60 P
c BDR
× × × × × =

dimana :
P
BDR
= Produksi alat tipe Bucket Dredger (m
3
/jam)
kp = Kapasitas bucket (m
3
)
i = Jumlah bucket
n = Putaran mesin (rpm)
S
c
= Isi padat



V.10 WATER PUMPS

Jenis pompa yang dibahas disini adalah pompa sentrifugal karena pompa ini sering
digunakan dalam pekerjaan konstruksi.


V.10.1 RUMUS

1. Kapasitas Pompa (Debit) :

H J 163 , 0
P
Q
W
=

2. Daya Poros Pompa (P) :

p
W
n
P
P =

3. Head Total Pompa (H) :

Z
g 2
V
j
p
H
2
+ + =

4. Kecepatan Spesifik (n
s
) :

4
3
2
1
s
H
Q
n n × =

5. Hukum kesebangunan pompa :
Jika ada dua buah pompa sentrifugal yang secara geometris sebangun antara satu
dengan lainnya, maka berlaku hubungan :
V - 19


3
2 2
3
1 1
2
1
D n
D n
Q
Q
=
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
D n
D n
H
H
=


5
2
3
2
5
1
3
1
2
1
D n
D n
P
P
=
4
3
2
2
1
2
2
4
3
1
2
1
1
1
H
Q
n
H
Q
n × = ×


dimana :
H = Head Total Pompa (m)
p = tekanan status (kg/m
2
)
j = berat zat cair persatuan volume (kg/m
3
)
V = kecepatan rata-rata (m/dt)
Z = ketinggian dari bidang referensi (m)
n
s
= kecepatan spesifik (rpm)
n = putaran pompa (rpm)
Q = kapasitas pompa (m
3
/dt)
P
w
= daya air (kw)
n
p
= efisiensi pompa (%)
P = daya poros penggerak pompa (kw)
D = diameter impeller (m)


V.10.2 PERFORMANSI
Bentuk pompa pada umumnya tergantung pada putaran spesifik pompa (n
s
).
Karakteristik sebuah pompa dapat digambarkan dalam kurva-kurva karakteristik, yang
menyatakan besarnya head total, daya poros, dan efisiensi pompa terhadap kapasitas.
Pada umumnya kurva performansi tersebut digambarkan pada putaran yang tetap
seperti pada gambar dibawah ini :
















V.11 COMPRESSOR

V.11.1 RUMUS
1. Hukum Boyle
Jika suatu gas mempunyai volume V
1
dan tekanan P
1
dimampatkan pada temperatur
tetap hingga volumenya menjadi V
2
, maka tekanan akan menjadi P
2
, dimana :

P
1
V
1
= P
2
V
2
= tetap
kapasitas
H
e
a
d

t
o
t
a
l
,

e
f
i
s
i
e
n
s
i

d
a
n

d
a
y
a

p
o
r
o
s

(
%

h
a
r
g
a

n
o
r
m
a
l
)

Efisiensi
Daya Poros
Head total
V - 20
2. Hukum Charles
Pada proses tekanan tetap, volume gas berbanding lurus dengan temperatur
mutlaknya.

2
1
2
1
T
T
V
V
=

3. Hukum Boyle – Charles

P V = G R T

4. Kompresi Isotermal
Kompresi isotermal ada proses kompresi dengan temperatur konstan.

P V = tetap

5. Kompresi Adiabatik
Kompresi adiabatik adalah proses kompresi dengan cara tanpa ada panas yang
keluar dari gas atau masuk ke dalam gas.

P
1
V
1
k
= P
2
V
2
k


6. Kompresi Politropik
Kompresi politropik adalah proses kompresi dengan anggapan bahwa ada kenaikan
temperatur dan ada panas yang dipancarkan keluar (diantara kompresi isotermal
dan adiabatik).

P
1
V
1
n
= P
2
V
2
n


7. Efisiensi Volumetrik

th
s
v
Q
Q
n = atau
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

|
|
¹
|

\
|
Σ − = 1
P
P
1 n
2
1
s
d
v


8. Efisiensi Adiabatik

s
ad
ad
L
L
n = dimana
(
(
¸
(

¸


|
|
¹
|

\
|
×

=

1
P
P
6120
Q P
1 k
mk
L
mk
) 1 k (
s
d s s
ad


Keterangan :
P = tekanan gas (kg/m
2
)
V = Volume gas (m
3
)
G = Berat gas (kw)
R = konstanta gas (m/°K)
k = C
p
/C
v
= indeks adiabatik
n = indeks politropik
Q
s
= Volume gas yang dihasilkan (m
3
/menit)
Q
th
= perpindahan torak (m
3
/menit)
P
d
= tekanan keluar dari silinder tingkat pertama (kg/cm
2
)
P
s
= tekanan isap dari silinder tingkat pertama (kg/cm
2
)
L
ad
= daya adiabatik teoritis (kw)
L
s
= daya yang masuk pada kompresor (kw)
m = jumlah tingkat kompresi
T = temperatur gas (°K)
= V
c
/V
s
, volume sisa relatif
V - 21
V.11.2 PERFORMANSI
Apabila kapasitas dan tekanan udara atau gas yang diperlukan sudah ditetapkan,
maka kompresor yang sesuai harus dipilih. Apabila terdapat beberapa kompresor yang
dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka untuk menentukan mana yang
akan dipilih perlu dilakukan pertimbangan ekonomis. Performansi kompresor dapat
digambarkan dalam bentuk kurva kapasitas (volume), daya poros, efisiensi volumetris
dan efisiensi adiabatik keseluruhan, terhadap tekanan keluar. Grafik ini dapat dilihat
seperti dibawah ini.

















V.12 PILE DRIVERS
Jenis pile driver yang dibahas adalah pile hammers. Tipe pile hammers adalah sebagai
berikut :
- drop
- single-acting steam
- double-acting steam
- differential-acting steam
- diesel


V.12.1 FORMULASI KAPASITAS (LOAD)
Menghitung kapasitas (load) pile hammer ada dua cara, yaitu :

A. Engineering News Formula
1. Drop hammer

1 S
H W 2
R
+
=

2. Single-acting steam hammer

1 , 0 S
H W 2
R
+
=

3. Double and differential – acting hammer

1 , 0 S
E 2
R
+
=
tekanan keluar (kg/cm
2
)
E
f
i
s
i
e
n
s
i
,

d
a
y
a

p
o
r
o
s
,

d
a
n

v
o
l
u
m
e

u
d
a
r
a

Efisiensi Adiabatis
Keseluruhan
Daya Poros
Efisiensi Volumetris
Volume Udara
V - 22
B. Hiley Formula
1. Drop, single-acting steam and diesel hammer

p W
p k W
) C C C (
2
1
S
E e 12
U
2
3 2 1
+
+
×
+ + +
=

2. Double–acting and differential-acting steam hammer

p W
p k W
) C C C (
2
1
S
E e 12
U
2
3 2 1
+
+
×
+ + +
=


V.12.2 FORMULASI KERUGIAN ENERGI AKIBAT TUMBUKAN

A. Drop, single-acting steam and diesel hammer

p W
k 1
P h W e I
2
+

× =


B. Double–acting and differential-acting steam hammer

p W
k 1
P E e I
2
+

× =

V.12.3 FORMULASI KERUGIAN ENERGI AKIBAT KOMPRESI

A. Akibat tekanan kepala dan tutup tiang

2
C U
Loss
1
=

B. Akibat tekanan sementara tiang

K A 2
L U
atau
2
C U
Loss
2
2
=

C. Akibat tekanan sementara tanah

2
C U
Loss
3
=

Keterangan :
R = Safe load on a pile (lb)
W = Weight of falling mass (lb)
H = Height of free fall for mass W (ft)
E = Total energi of ram at bottom of its downward stroke (ft-lb)
S = Average penetration per blow (in)
U = Ultimate supporting per blow (in)
P = Weight of pile (lb)
e = Efisiensi of hammer
k = Koefisien of restitution
V - 23
C
1
= Temporary compression of pile head and cap (in)
C
2
= Temporary compression of pile (in)
C
3
= Temporary compression, or quake of ground, for average cases where pile
is driven into penetrable ground (in)
L = Length from top of pile to center of driving resistance (in)
A = Cross section area of a pile (in
2
)
K = Modulus of elasticity of material in a pile (psi)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->