ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 8 No. 3, Juli 2011
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS (Penilaian Hutan) Mitra Bestari Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA (lnstitut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP) Dr. Ir. Endang Murniati, MS (Institut Pertanian Bogor) Ir. Nina Mindawati, M.Si (Silvikultur) Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah dan Air) Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO-BIOTROP) Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Anggota Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id atau pusprohut@gmail.com. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi Pusprohut, atau download di website Pusprohut : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu. 10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 8 No. 3, Juli 2011
DAFTAR ISI

1.

STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM, MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Communityat the Seram Island, Maluku Samin Botanri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim, dan/and Lilik B. Prasetyo 135-145 TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites 147-153 Dida Syamsuwida dan/and AamAminah TIPOLOGI DESABERDASARKAN VARIABELPENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini, Endang Suhendang, I Nengah Surati Jaya, Hardjanto, dan/and Herry 155-168 Purnomo HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia 169-177 Erly Sukrismanto, Hadi S.Alikodra, Bambang H. Saharjo, dan/and Priyadi Kardono PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO, SUMATERASELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo, South Sumaterat 179-186 Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil 187-196 Burhanuddin, Siti Kabirun, Bostang Radjagukguk, dan Sumardi

2.

3.

4.

5.

6.

Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. VIII No.3 %.. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-Nopember 2009. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. Spesies ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. 3. Htn Tnm Vol. 2011 p:135-145 Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. VIII No. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. tipe habitat. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*181 Samin Botanri (Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon). Maluku. 2011 p:147-153 Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. Dede Setiadi. lahan gambut. Maluku J. makanaro. Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam KomunitasAlami di Pulau Seram. paklobutrazol. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu.2.5 juta batang.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. Pen.04 kg dan 560. naungan sedang dan naungan ringan. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masing-masing 566. perakaran sagu mengalami modifikasi arah pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak.32 Dida Syamsuwida dan Aam Aminah (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan J. tumbuhan sagu UDC(OXDCF) 630*232.5%. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. larutan NaCl. RH 96 %. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. Kata kunci: Adaptasi. tanah. Edi Guhardja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. rotang. Variabel iklim. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. kapasistas tukar kation (KTK).2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. 2 dan 3 bulan. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. VIII No. sylvestre. faktor lingkungan. Pulau Seram. Kata kunci: Bahan pengatur tumbuh. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. 3. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. dan molat. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. umur semai . dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat.68 kg/batang. Pen. Prasetyo (Departemen KSH dan Ekowisata Fak. Dengan demikian. NaCl dan akuades sebagai kontrol. dan kandungan kalsium air. Htn Tnm Vol. Ibnul Qayim (Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor) dan Lilik B. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). dan air payau.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. 3.

di mana koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. IPB. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Sekolah Pascasarjana IPB). tipologi desa UDC(OXDCF) 630*432. Berdasarkan analisis gerombol. Htn Tnm Vol. dan Priyadi Kardono (Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Kata kunci: Biofisik. hutan rakyat. 3. Saharjo (Departemen Silvikultur. Endang Suhendang. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. institusi . administratif. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat.1 Erly Sukrismanto (Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan). dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. VIII No. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. Bakosurtanal) HubunganAntar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/lahan di Indonesia J. VIII No. Hadi S. Fakultas Kehutanan. Fakultas Kehutanan. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. 3.2 Tien Lastini (Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. 2011 p:155-168 Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. rumah permanen. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. Pen. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. Bogor). kelerengan lahan. Alikodra (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. analisis gerombol. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. 3. Pen. 2011 p:169-177 Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. pengendalian kebakaran. jarak ke jalan besar. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*922. VIII No. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. Hardjanto. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. Htn Tnm Vol. dan Herry Purnomo (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat J. Kata kunci: Koordinasi. IPB). I Nengah Surati Jaya. jarak ke kawasan hutan negara. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. Bambang H. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. sosial ekonomi. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. kemampuan lahan.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. provinsi dan kabupaten/kota. dan umur produktif penduduk yang diteliti.

50 %.49 % untuk karakter tinggi dan 1. 3. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C.56 %.15 %. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. berat kering pucuk 643.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. 2011 p:187-196 PPenelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu.lowii Hook) di persemaian. 3.073).JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Kata kunci: ex-PLG.026 (individu) dan 0. Untuk jelutung tinggi 107.01 (overestimate). 1.28 % untuk karakter tinggi. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. dengan 4 blok.67. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. diameter dan bentuk batang. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. VIII No. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. Mohammad Na'iem dan Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan. uji klon. Htn Tnm Vol. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1.43 % bentuk batang serta 8.05 %. 14 (1.574). karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. gambut. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. berat kering pucuk 630. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok.3 Burhanuddin (Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*165. Pen. Sumatera Selatan J. jati. VIII No. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2.67 %.4 Agus Sofyan (Balai Penelitian Kehutanan Palembang). Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun.01 %. Sumatera Selatan. Bostang Radjagukguk (Fakultas Pertanian. 2011 p:179-186 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. 36 (1.306).7210).83 % dan serapan P 851.09 dan 0. VIII No. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. diameter. jumlah daun. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. diameter 366. sebesar 0. Kata kunci: Heritabilitas. perolehan genetik. 3.13 (klon) untuk karakter diameter.86 %.16 % diameter. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9. Htn Tnm Vol. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. jumlah daun 437.00 % dan serapan P 835. Glomus sp 3. Siti Kabirun. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) Kajian Water Table Pada Semai Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq dan Jelutung (Dyera lowii Hook) Diinokulasi Glomus sp 3 Di Tanah Gambut J.88.73 % untuk diameter. 3. Universitas Tanjungpura Pontianak). karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi.16 (klon) untuk karakter tinggi. diameter 136. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm. di lokasi KHDTK Kemampo. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. berturut-turut nomor 24 (3. variasi genetik UDC(OXDCF) 630*232. Universitas Gadjah Mada) Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.80 %. Pen. dan Sumardi (Fakultas Kehutanan. korelasi genetik. Water table . Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. 35 (1.39. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324.61 %.40 % untuk volume. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik.02 (individu) dan 0. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0.430) dan 11 (1. jumlah daun 42. rotundatus Miq) dan jelutung (D.

memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. Tuni and sylvestre are the most potential species with production capacity of about 566. sago palm ABSTRAK Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah.68 kg/trunk. Kampus IPB Darmaga. Ibnul Qayim . Bogor 16680 Jln.3 % of habitat. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. Agatis Gedung Fapet Wing 1 Lt. Prasetyo3) Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon Jln. and calcium in water were the most factor. Maluku Samin Botanri . and molat. Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. Raya Tulehu Km. which of about 1. tentu dengan menggunakan sampling. The result of research showed that population structure of sago palm in the nature community follows young growth pattern with seedling death of about 85 %. Dede Setiadi . Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Seram Island. makanaro.STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM. lahan gambut. cation exchange capasity (CEC). Bogor 16680 Jln. sylvestre.2 million clumps. The potential clump population at the Seram Island is about 3. habitat type. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Fax. (2) identify habitat preference of sago palm. perakaran sagu mengalami modifikasi arah 135 . In sago palm community there was negative interspecific association with Jaccard index < 0. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Community at the Seram Island. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. Telp/Fax. sun light intensity. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu. and (4) identify the sago palm trees potential and sago flour production at three areas in the Seram Island. Serta memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. dan molat. rotang. sylvestre.5 million trunk of trees. (0251) 8622833 3) Departemen KSH dan Ekowisata Fak. (3) to describe interaction between sago palm and environmental factors. Maluku secara keseluruhan. Among the environmental condition. Tuni species is the most dominant vegetation which cover 43. rotang. bukan menggunakan metode sensus pada bulan Maret-Nopember 2009.2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. 5. Penelitian berlangsung di tiga wilayah di pulau Seram.04/kg by 560. 24. makanaro. Keywords: Adaptation. Ambon 97582 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. The research was conducted in March to November 2009. dan air payau. The aim of this research were to : (1) analys conducted to describe of sago palm characteristic in the nature community. dan/and Lilik B. Lingkar Akademik Telp. Naskah diterima : 22 Mei 2011 1) 1) 2) 2) 2) ABSTRACT Sago palm (Metroxylon spp) is a tropical plant adapted to marginal land such as fresh water swamp. environmental factor. (0251) 8621947 Naskah masuk : 1 Juli 2010. peat swamp or brackish water. Swamp condition as adaptation strategy more amount of sago palm roots directed out to water surface. (0251) 8621947. Maluku. (3) melakukan analisis interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. It was found that there are five of the sago palm species namely tuni.3 %. Edi Guhardja .

air. 2006). Maluku. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masingmasing 566. dan (3) bagaimana interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan?. antara lain Wilayah Luhu Kabupaten Keterangan (Remarks) : Lokasi sampling (Sampling location) Gambar (Figure) 1. maka dapat dikatakan bahwa tumbuhan sagu mempunyai daya adaptasi yang tinggi (Suryana. PENDAHULUAN A. dan spesies vegetasi dalam habitat itu.68 kg/batang. mikro iklim. dan kandungan kalsium air. interaksi spesies dengan tipe habitat. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan studi ekologi tumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram. Waktu dan Lokasi Penelitian berlangsung pada bulan Maret Nopember 2009. Pulau Seram. Juli 2011. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. daerah sepanjang aliran sungai. ihur. kelimpahan spesies. tipe habitat.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. dan potensi tumbuhan sagu.2. Latar Belakang Sagu ( Metroxylon spp) salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropik basah. B. sekitar sumber air. tanah. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur). interaksi dengan parameter ingkungan. Maluku. kapasistas tukar kation (KTK). mekanisme adaptasi. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. makanaro. Variabel iklim. duri rotang. Secara ekologi. Tujuan khususnya yaiu : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Secara umum terdapat lima jenis sagu yang tumbuh dalam komunitas alami maupun budidaya yaitu sagu tuni.145 pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. maka kajian permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami?. faktor lingkungan. II. berlangsung di Pulau Seram.8 No. tumbuhan sagu I. atau hutan-hutan rawa. Peta lokasi penelitian Pulau Seram (Map of site research at the Seram Island) 136 .5 juta batang. penentuan preferensi ekologi seperti tipe habitat. 135 . Berdasarkan informasi tempat tumbuh sagu yang cukup bervariasi tersebut.04 kg dan 560. dan (4) mengetahui potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram (Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. 2007). Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut. Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah.3. (2) bagaimana preferensi habitat tumbuhan sagu?. Kata kunci : Adaptasi. Studi ekologi sagu yang selama ini telah dilakukan masih memerlukan suatu penelitian tentang autekologinya yaitu struktur populasi. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. BAHAN DAN METODE A. dan molat (Louhenapessy. Berkaitan dengan hal tersebut.

60 cm. sebagian tunas anakan yang muncul dari pangkal batang tidak bersentuhan dengan tanah. Parameter yang Diamati Pengamatan sagu dan vegetasi lain meliputi : jumlah rumpun. ruang. 1997). dan Lilik B. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kematian individu fase semai. (2) analisis asosiasi spesies menggunakan rumus Chi-square.34 %. Data iklim lokal diperoleh dari stasiun klimatologi Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (MT).00 . dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Maluku Samin Botanri. C. AnalisisAsosiasi Interspesifik Asosiasi interspesifik ditentukan menggunakan formula menurut Ludwig & Reynolds (1988) dengan tahapan : (1) analisis Variance Ratio (VR) menggunakan rumus : VR = ST 2 / δ T 2 . (3) tingkat asosiasi ditetapkan menggunakan indeks Jaccard (JI) : JI = a/a+b+c c. SPSS ver. diukur antara pukul 11.30. 2. b. 137 . Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. maka dilakukan : a. dan 17. gagal tumbuh ke fase berikutnya mencapai 84.66 %. berkurang secara drastis pada fase berikutnya (Gambar 2). b.30 cm dan 30 .14. dan luas tutupan (coverage). Dalam populasi tersebut jumlah individu fase semai yang berhasil tumbuh ke fase pertumbuhan berikutnya hanya sebesar 15. Hasil pengukuran intensitas cahaya surya di dekat rumpun sagu hanya sekitar 12. jumlah individu spesies yang kedapatan pada setiap unit contoh. Struktur Populasi Secara umum struktur populasi tumbuhan sagu di Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda yaitu populasi dengan jumlah individu paling banyak terdapat pada fase semai.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0 . jumlah individu sagu menurut fase pertumbuhan. yang merupakan ulangan yakni Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Persaingan yang dimaksud berkaitan dengan komponen di atas permukaan tanah seperti udara. (2) terjadi persaingan di antara masing-masing individu dalam rumpunnya. Spesies tumbuhan yang tidak diketahui. 2004). jenis vegetasi. Analisis data menggunakan perangkat lunak Ecological Methodology. Jumlah petak pengamatan sebanyak 131 plot. Pengamatan vegetasi bawah (seedling) dilakukan pada petak berukuran 2 m x 2 m. HASIL DAN PEMBAHASAN A. dan pohon 20 m x 20 m. Ibnul Qayim. Intensitas cahaya surya di bawah tegakan sagu. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah.33 % (206. Salinitas ditetapkan menggunakan refraktometer. Analisis tanah dan air dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. Analisis Komponen Utama Interaksi tumbuhan sagu dengan komponen abiotis. 13.00. 15. Berdasarkan parameter tersebut. Plot Penelitian Wilayah sampel ditetapkan meng-gunakan metode judgement sampling/ purposive random sampling. Sampel air rawa diambil dari habitat tergenang kemudian dianalisis kualitasnya. Lingkungan dan Tanah Suhu dan kelembaban udara relatif diukur pada pukul 07. intensitas cahaya di bawah tegakan diukur menggunakan lux meter (light meter). dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).00. diidentifikasi oleh ahli taksonomi dari Herbarium Bogoriense. sapling 5 m x 5 m. Kemudian ditetapkan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD atau SDR summed dominanced ratio) = INP/3 (%). didekati dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) (Supranto. Bahan dan Peralatan Penelitian menggunakan potensi tumbuhan sagu yang tersebar pada tiga wilayah di Pulau Seram. Penentuan Contoh a. Petak pengamatan ditetapkan menggunakan metode garis berpetak (Kusmana. Dede Setiadi. B. Edi Guhardja. Metode Penelitian 1. oksigen. 15 dan Minitab ver. dan komponen di bawah tanah seperti air. III.53 lux. Prasetyo Seram Bagian Barat. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Pada setiap plot dibuat petak sesuai ukuran masing-masing. tiang 10 m x 10 m. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan formula Cox (2002) : INP = KR + FR + DR. Suhu dan kelembaban relatif diukur menggunakan thermohigrometer.00. cahaya. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Maluku. Wilayah sampel terpilih yaitu Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Tingginya tingkat kematian ini dapat disebabkan karena : (1) sifat pertumbuhan anakan sagu. dan unsur hara.

99) tanah. 2005). dan (4) mengalami keracunan karena kandungan Fe (3. Semai Sapihan Tiang BMT MT LMT Keterangan (Remarks) : BMT = Belum Masak Tebang (Immature Trunks). Rendahnya intensitas ini karena terdapat hambatan oleh tajuk rumpun sagu itu sendiri. Juli 2011. Perbandingan NJD sagu dan non-sagu di plot penelitian (SDR camparison of sago palm and non sago palm at the research plot). Hasil pengukuran kemasam- an tanah menunjuk-kan bahwa pH tanah dapat mencapai 4.29 lux). LMT = Lewat Masak Tebang (Mature Trees.8 No. 135 .Not Harvestable) Gambar (Figure) 2.08) dan Al (4. MT = Masak Tebang (Mature Trees . tunas anakan yang masih muda memiliki daya adaptasi yang rendah terhadap kondisi lahan tergenang (tereduksi).Harvestable). Struktur populasi sagu di Pulau Seram (Population structure of sago palm at the Seram Island). 138 .3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Gambar (Figure) 3. nilai kekurangan Fe dan Al tersebut termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria (Balai Penelitian Tanah. (3) rentan terhadap pH rendah.145 ruang terbuka 1675.31 (pH KCl).

95 4. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). Ibnul Qayim.00 5. Habitat danAdaptasi Tumbuhan Sagu Secara umum tipe habitat sagu di Pulau Seram dapat dipisahkan menjadi dua kategori yaitu (1) habitat lahan kering dan (2) habitat lahan tergenang. yaitu tipe habitat yang mengalami genangan pada periode waktu relatif cukup lama.04 11.86 15. 170.80 22. Apabila interaksi tumbuhan sagu dengan tipe habitat ini dijadikan acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasinya. Dede Setiadi. Populasi rumpun sagu pada tipe habitat berbeda di Pulau Seram (Clumps population of sago palm of the habitat type at the Seram Island)) No.32 0. Jenis sagu (Sago species) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah TTG ind/ha 103.08 20.09 0.00 55. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp).00 0. (2) habitat tergenang temporer oleh air tawar yaitu tipe habitat dimana genangannya sangat ditentukan oleh ada-tidaknya hujan.31 21.33 26. fenologi.00 173.01 85. dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.30 1. maka dominasi spesies sagu juga meningkat (Gambar 3).06 0.24 19.0 Tipe Habitat (Habitat Type) T2AT T2AP ind/ha 124.37 37. biasanya lebih dari satu bulan.50 274.83 0.94 % 50.61 100.65 100. 4.67 1.01 % 37. Dua jenis sagu yang lain yakni rotang dan molat tumbuh pada habitat terbatas. karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu lama. Jenis sagu yang dapat tumbuh dan berkembang pada semua tipe habitat adalah jenis sagu tuni.00 33.85 % 58. (3) habitat tergenang permanen.87 2. 139 . Prasetyo B.49 34. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat. Edi Guhardja.19 164.58 0. Kondisi tersebut dapat terlihat dengan bertambahnya fase pertumbuhan.69 15. Fenomena seperti ini merupakan gambaran umum yang sering dijumpai pada tipe vegetasi yang mengarah kepada kondisi klimaks dan stabil.62 9.60 37.97 7. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).3 %.92 % 52.93 ind/ha) dan NJD paling tinggi (43. dan sylvestre (Tabel 1).22 20.0 Rataan (Average) ind/ha 87. Berdasarkan penelitian tersebut jumlah individu masing-masing spesies sagu. ind = individu (individual).64 17. Kondisi tersebut ditemukan pada setiap sempel dan masih perlu riset lebih lanjut untuk memetakan luasnya.00 100. Mueller & Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005) mengemukakan bahwa komposisi bervegetasi alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi.72 27.00 100.47 0.0 TPN ind/ha 61. 2. diperoleh hasil ditemukan bahwa sagu tuni memiliki jumlah individu paling banyak (99.14 10.20 36. dominasi.00 12.58 0. 3.00 0. dan Lilik B.10 0. Jika kondisi ini terjadi maka regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak.0 ind/ha 62. dan frekwensi yang melampaui spesies yang lain dengan penguasaan habitat mencapai 43.00 96.3%).27 0.07 16.04 100. C. sedangkan jenis sagu molat ditemukan tumbuh pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN). berupa rawa-rawa yang tergenang secara temporer maupun permanen. Dua tipe habitat itu dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi empat tipe yaitu : (1) habitat tergenang temporer air payau yaitu tipe habitat yang dicirikan oleh adanya pasangsurut.0 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). Jenis sagu rotang hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG). artinya kondisi habitatnya tidak pernah tergenang.00 14. dan (4) habitat lahan kering.66 % 64. akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan. makanaro. maka Tabel (Table) 1. sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dan menyolok. Maluku Samin Botanri. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sagu tuni merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan. 5. Kelimpahan Spesies Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun sagu dan nisbah jumlah dominasi (NJD) dalam komunitas sagu menunjukkan bahwa spesies sagu merupakan jenis vegetasi yang menguasai sebagian besar areal lahan di plot penelitian.26 28.

1974). Levitt (1980) menyebutnya sebagai cekaman defisit oksigen. Fe dan Al akan larut sehingga konsentrasinya meningkat dan dapat bersifat meracun (toxic) (Brady 1990). Habitat tergenang identik dengan kondisi tereduksi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Interaksi yang bersifat negatif meberikan petunjuk pula bahwa tidak terdapat toleransi untuk hidup secara bersama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Dengan meningkatnya jumlah individu yang satu akan menekan pertumbuhan individu spesies lain (Soegianto. Juli 2011.31.47 . MekanismeAdaptasi Sagu Sebagian besar sagu tumbuh pada lahan tergenang. Hasil analisis asosiasi spesies berpasangan menunjukkan bahwa terdapat asosiasi diantara spesies sagu dan antara sagu dengan non sagu dengan nilai chi-square berkisar dari 4. Pada kondisi dimana asosiasi bersifat negatif ekstrim. baik yang sifatnya temporer maupun permanen. Pada habitat tergenang biasanya muncul akar berukuran kecil dalam jumlah banyak dengan arah pertumbuhan menuju permukaan air sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas. Hal tersebut ditunjukkan dari jumlah rumpun dan jumlah populasi semua fase pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu yang lain.8 No. namun memiliki populasi yang rendah. Ketika pH rendah. Tanah-tanah masam dengan kandungan logam tinggi seperti Fe dan Al dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan perakaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiga jenis sagu tersebut memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance).83. maka adaptasi sagu ditunjukkan melalui sistem perakarannya yang mengalami modifikasi arah pertumbuhan (Gambar 4). suatu spesies dapat muncul sebagai kompetitor yang mendominasi spesies lain. artinya keadaan dimana terjadi keterbatasan oksigen di dalam tanah. Menurut Krivan & Sirot (2002) dikemukakan bahwa dalam asosiasi interspesifik dapat memunculkan kompetisi interspesifik. Sagu rotang merupakan jenis sagu yang memiliki daya adaptasi paling terbatas karena hanya tumbuh pada habitat lahan kering (steno tolerance).14 (termasuk kategori rendah) (Tabel 2). 1994). 135 . Jenis sagu makanaro dan sylvestre tumbuh pada semua tipe habitat.35-21. Komponen Biologis Hasil analisis asosiasi interspesifik menunjukkan bahwa secara simultan (keseluruhan) terjadi asosiasi antar spesies dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram dengan nilai VR sebesar 0. Dalam kaitan dengan kondisi yang tereduksi ini. Modifikasi arah pertumbuhan akar sagu pada kondisi tergenang (Roots growth modification of sago palm af the swamp condition) E. dan tiga (3) dari empat (4) tipe plot penelitian termasuk kategori tergenang. Barbour et al. Kondisi plot yang senantiasa tergenang cenderung merupakan kondisi tanah masam.3. (1999 dalam Kurniawan et al. Mekanisme perubahan ini agar penyerapan oksigen oleh perakaran dapat berlangsung dengan baik. 2008) mengemukakan bahwa asosiasi yang bersifat negatif memberikan petunjuk bahwa setiap tumbuhan dalam suatu komunitas terjadi saling memberi tempat hidup pada suatu area habitat yang sama. Interaksi dengan Faktor Lingkungan 1. Berdasarkan hasil penelitian pH tanah menunjukkan kisaran pH tanah (pH H2O) 4. 140 . terutama dalam pembagian ruang hidup.03 dengan indeks Jaccard rata-rata 0.145 dapat dikatakan bahwa jenis sagu tuni memiliki kemampuan adaptasi yang luas (eury tolerance). Molat ditemukan pada habitat T2AT dan TPN. Nilai VR < 1 mengandung makna bahwa asosiasi antara spesies bersifat negatif. Gambar (Figure) 4.63 dan pH KCl 4. Asosiasi antar spesies yang bersifat negatif menunjukkan bahwa terjadi perebutan dalam penggunaan sumberdaya.5. tumbuhan melakukan mekanisme adaptasi morfologi dengan membentuk sistem perakaran dangkal (Daubenmire. D. Syekhfani (1997) mengemukakan bahwa logam memiliki kemampuan untuk melisis air sehingga pH tanah dapat semakin masam. maka pada kondisi lahan dengan aerase jelek. Berbeda dengan jenis lain.

Nephrolepis sp. Korelasi yang bersifat positif mengandung pengertian bahwa apabila sinaran surya lokal meningkat. Sedangkan variabel temperatur mikro.06 0. 4.4 Pandanus furcatus Roxb. Model indeksnya sebagai berikut : 141 .50 0. Maluku Samin Botanri. 1. M. 2.20 0. M.75 LoadingPlot of T_m ikro. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masing-masing variabel (Dewi.2.74* 6.45* 4. Prasetyo Tabel (Table) 2. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor iklim terhadap PS di Pulau Seram sebesar 3. Hal ini ditunjukkan dengan sudut lancip yang dibentuk garis loading plot kedua variabel tersebut (Setiadi. 0. dan sinaran surya mikro memiliki korelasi negatif dengan curah hujan (ditunjukkan oleh sudut tumpul garis loading plotnya).02 1.08 0.14 0.15 0. Hal ini berarti bahwa apabila curah hujan bertambah.50 Second Component S ry _ l okal 0.15 0.3 Nephrolepis sp.. 1998). sagu var molat 2. Chi-square untuk pengujian asosiasi interspesifik spesies berpasangan penyusun utama komunitas sagu pada plot penelitian di Pulau Seram (Chi-square for interspecific association testtopair dominantspecies inthesagopalm communityatresearchplottheSeram Island) No. CH RH_mikr o 0. dan Lilik B.1 M. 3. sinaran surya lokal.00 CH S ry _mik ro -0.43 0.. M.1 M. M.38%. Dalam konteks ini besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan sagu (PS).76* 9.16 0.25 0.75 Gambar (Figure) 5. M.05 (significant of the α 0.2 Nephrolepis sp. Diagram loading plot korelasi variabel iklim habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of climate variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Dengan mempertimbangkan akar ciri (eigenvalues) dan vektor ciri (eigenvector) terbesar.04 0. 2005 & Marzuki.31* 4.50 -0.04 0. Variabel Iklim Hasil analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA ) untuk menjelaskan interaksi variabel iklim menggunakan loading plot menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel sinaran surya lokal dan mikro (Gambar 5). dan temperatur mikro akan menurun. M.48* Keterangan (Remarks): * signifikan pada taraf α 0. Dede Setiadi.73* 5.25 -0. . sinaran surya lokal dan curah hujan dengan kelembaban mikro.76* 5.96* 4.6 Nephrolepis sp. sagu var molat 1.35* 4. Nama spesies (Species name) Chi-square (X2) Tipe Asosiasi Indeks Jaccard (Association type) (Jaccard index) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 0.25 F irst Com ponent T_mikr o 0.69* 4.50 -0. Korelasi negatif terjadi pula antara variabel temperatur mikro dengan kelembaban mikro.53* 5. 6.2 M.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. rumphii Mart subvar makanaro (Becc) 2.03* 20.2 Homalomena sp. Ibnul Qayim.1 Pandanus furcatus Roxb. rumphii Mart var sylvestre (Becc) 3.5 Homalomena sp.00 0.25 0. maka sinaran surya (lokal & mikro). 1. KomponenAbiotis a. sagu Rottb var molat (Becc) 4. sagu var molat 3. Homalomena sp.12* 16.3 M. 2007). maka diikuti dengan peningkatan sinaran surya mikro.47 0. rumphii Mart subvar tuni (Becc) 1.1. 2. rumphii subvar makanaro 1. Edi Guhardja.04 0. 4. rumphii var sylvestre 1. 3..56* 4. Korelasi yang sama terjadi pula antara variabel sinaran surya dengan temperatur mikro. rumphii var sylvestre 2.05 0.10 0.3.05) 2.4.28* 21.

dan magnesium merupakan kation basa yang memainkan peranan dalam meningkatkan pH. Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan suatu variabel.0 0. BD = bulk density. Fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa kematian tunas anakan sagu antara lain dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya surya yang masuk sampai ke bagian bawah tajuk rumpun sagu. KTK = kapasitas tukar kation.3 Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar. Pada model indeks PS di atas. kalsium. Mg = Magnesium. dan kalium.40%. pH-KCl = kemasaman tanah potensial.1 0 . Model indeksnya sbb : PS(F-tanah) = (1.3 0. Kalium.4 0.66Sry-mikro) – (1. c. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan sifat tanah sangat ditentukan oleh kapasitas tukar kation (KTK). dan sebaliknya apabila KTK rendah termasuk kurang subur. Sedangkan pH berkorelasi negatif dengan Fe. Juli 2011.2 F irst C om ponent 0. magnesium.64Ca) + (0. maka pH air akan meningkat. K = Kalium.07Fe) + (0. Korelasi yang bersifat positif ini mengandung pengertian bahwa dengan makin bertambah kandungan kalium. Pada model di atas.1 -0.0 Sec ond Component -0. Interaksi dengan Variabel Kualitas Air Rawa Hasil analisis PCA kualitas air rawa menunjukkan bahwa pH air memiliki korelasi positif dengan kalium. C-hujan = curan hujan.4 0.0 BD L iat -0.2 -0. dengan sendirinya akan meningkatkan kadar salinitas.3 -0. magnesium.0 Fe pH(KCl ) Kal si um KTK pH(KCl) Kalsium KTK Second Component 0. kalsium. Loading Plot of pH (KCl).5 0 . maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masingmasing variabel tanah terhadap pertumbuhan sagu.4 -0. ... Banyak tunas anakan sagu mengalami kematian karena terjadi kompetisi yang kuat diantara individu setiap rumpun dalam mendapatkan sinaran surya. Tanah dengan KTK tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut subur.1 0. Korelasi positif terjadi pula antara KTK dengan kalsium..90KTK) + (1.27BD) + (0.2 F irst C om p one nt 0 . dan magnesium. Diagram loading plot korelasi variabel tanah habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of soil variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island). Srymikro = sinaran surya mikro.15%.145 PS(F-iklim) = (0.1 0.1 0. Cahaya surya yang masuk sampai dekat rumpun sagu hanya mencapai 12.5 Kalium Liat BD -0.3 0.3 0 . tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram sangat ditentukan oleh variabel intensitas cahaya surya mikro. Liat = partikel liat. b. Fe = Ferrum.1 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor tanah terhadap PS di Pulau Seram sebesar 10. Syr-lokal = sinaran surya lokal.3 -0. Hal ini berarti bahwa sagu menghendaki tanah dengan kesuburan yang memadai.2 -0.8 No.60pH-KCl) + (0. Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar. maka akan diikuti dengan variabel yang lain. Argumen ini dikemukakan karena KTK merupakan parameter tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah (Hardjowigeno 1992). Variabel kualitas air rawa yang memiliki C_organik Load in gPlot ofp H(KC l).. Liat 0. dan kalium (Gambar 6). maka ditentukan besarnya kontribusi relatif variabel kualitas air rawa terhadap PS. kalsium. kalsium. 142 . maka pH akan berkurang (semakin masam)..1 M agnes ium -0.47RH-mikro) + (1. artinya apabila Fe meningkat.4 0.2 0.. T-mikro = temperatur mikro.5 Kal ium Magnesium -0.1 0.3.78T-mikro) + (1.83C-org) + (1.2 -0.15%.90%).4 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor kualitas air rawa terhadap PS di plot penelitian sebesar 10.4 -0 .5 Gambar (Figure) 6.17K) + (1.2 -0.82Liat) dimana : PS(F-tanah) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor tanah.85Mg) + (1. Selain itu kation-kation basa yang meningkat.63C-hujan) dimana : PS = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor iklim. Partikel liat berkorelasi positif dengan bulk density (BD). 135 . Ca = Kalsium. KTK..C _org an ik C _organik 0.2Fe 0. Interaksi dengan Variabel Tanah Hasil analisis PCA faktor tanah menunjukkan bahwa variabel C-organik berkorelasi positif dengan pH. C-org = karbon organik. RH-mikro = kelembaban mikro.10Sry-lokal) + (1. dan magnesium (Gambar 7). Variabel tanah yang memiliki kontribusi tertinggi adalah KTK (1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

0 0.3 315.8 27. Masak Phn.50NO3) + (0. pH = kemasaman air. Potensi Populasi dan Produksi Pati Sagu di P.239 ha. Diagram loading plot korelasi variabel kualitas air rawa habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of water swamp quality variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Pada model indeks di atas. Ca = Kalsium. . Kalsium juga merupakan kation basa yang berperan dalam memperbaiki kemasaman air.8 348.22 kg/batang (Tabel 4). Seram Di Pulau Seram Maluku terdapat potensi luas areal sagu sekitar 18.47 juta individu.59 individu.73Ca) + (1. Maluku Samin Botanri.8 104.2 0.50 -0.55 juta individu.. Atas dasar jumlah individu yang dimiliki. Mg = Magnesium. Potensi produksi kedua jenis sagu ini hampir sama pada semua tipe habitat. artinya diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah yang relatif banyak.8 3. Phn = pohon (trees).2 Salinitas pH -0. Seram (Population potential of sago palm at the Seram Island) Jenis Sagu (Sago Species) Jumlah Rumpun Semai (Seedling) (Numbers of Clump) 1. Hal ini berarti bahwa untuk pertumbuhan sagu diperlukan kalsium yang memadai.1 Keterangan (Remarks) : Data primer tahun 2009 (Primery data in 2009 year). Pada tabel 4 tampak bahwa tipe habitat berperan dalam mempengaruhi produksi pati sagu. dan pohon lewat masak tebang 0. Potensi populasi tumbuhan sagu di P.12 juta individu (Tabel 3).Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Dede Setiadi.0 20.2 6.8 57. Kalsium Tabel (Table) 3.2 55. d. Edi Guhardja.35 juta individu.991.0 12.5 67.745.3 95.14 juta individu. 143 . dan Lilik B.4 -0.3 276.61pH) + (1. pohon 1.8 277. tiang 0. Model indeks PS terkait dengan peran faktor kualitas air rawa di Pulau Seram sebagai berikut : PS(F-KAR) = (1.10Mg + (0.50 Gambar (Figure) 7.50 kg/batang.4 NO3 0. Prasetyo kontribusi tertinggi adalah kalsium (1.25 0..0 Kalsium -0.025.6 Magnesium Second Component 0.7 1.8 58. NO3 = Nitrat Loading Plot of pH. sylvestre 726. Salinitas Kalium merupakan unsur hara esensial makro.2 331. Lewat Tebang Masak Tebang (Mature trees (Mature trees Harvestabe) Non Harvestabe) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah 775.00 First Component 0.6 678.1 Phn. pada habitat tidak tergenang (lahan kering) potensi produksi sagu basah tuni rata-rata mencapai 685. Berdasarkan tipe habitat.1 118.3 552.6 1.0 37.8 1. Hasil perhitungan potensi produksi pati sagu basah di plot penelitian wilayah Pulau Seram diperoleh bahwa jenis sagu tuni dan sylvestre memiliki potensi produksi paling tinggi.6 378.8 629.5 304. Ibnul Qayim.8 Sapihan (Sapling) Fase Pertumbuhan Tiang Pohon (Pole) (trees) x 1000 ind.714 juta rumpun).6 9. dapat dikatakan bahwa sagu tuni merupakan jenis sagu yang sangat potensial karena memiliki jumlah individu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis sagu yang lain (1.25 0.14Salinitas) dimana : PS(F-KAR) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor kualitas air rawa. 0. Pada tipe habitat TTG dan T2AT produksi pati sagu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tipe habitat T2AP dan TPN.9 118.7 142.7 13.9 1.6 0.714.1 162. pohon masak tebang 0. 279. K = Kalium.3 543.73%).22 juta rumpun sagu.0 61.468. Pada luas areal tersebut tumbuh dan berkembang sekitar 3.4 3.2 114. sapihan 1. terdiri dari sagu fase semai 6.588.220..18K) + (1. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan kualitas air rawa sangat ditentukan oleh kandungan kalsium.2 2.135. ind = individu (individual).

22 kg/batang.81 Rataan (Average) 566. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. masing-masing mencapai 566.68 kg/batang. baik secara kolektif maupun antara spesies berpasangan. Saran 1.26 186. Tanaman. Air. 3. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). didominasi oleh fase semai dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya sangat tinggi mencapai 85%. tanah. kapasistas tukar kation. 2.C. dan kandungan kalsium air. Potensi produksi pati sagu pada tipe habitat berbeda di P. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp).74 Tipe Habitat (Habitat Types) T2AT T2AP TPN kg/batang 721. sedangkan rotang merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi sempit (steno tolerance).00 258.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.21 560.00 460. MacMillian Publishing Company. 135 .22 348.00 348. sylvestre. 1990. 4.8 No.13 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). DAFTAR PUSTAKA [BPT] Balai Penelitian Tanah. 2005. Dalam komunitas tersebut terjadi asosiasi interspesifik bersifat negatif. IV.00 287.22 393. dan Pupuk. tumbuh dan berkembang mengarah kepada kondisi vegetasi yang bersifat klimaks dan stabil. maupun pemenuhan kebutuhan berbagai industri (makanan. The Nature and Properties of Soils. spesies sagu telah berkembang mendominasi sebagian besar habitatnya. dan molat dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). 1. Juli 2011. Bogor.22 578.3. 5. Departemen Pertanian.50 324.04 245. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp). 4. Brady. Upaya peningkatan produksi pati sagu di habitat alam dapat dilakukan dengan penyatuan pola pertumbuhan individu dalam rumpun yang stabil melalui upaya sortasi anakan dan pengaturan jarak tumbuh antar individu rumpun.11 708. New York. Seram (Yield potential of sago palm starch of the habitat type at the Seram Island) No. 144 . dan vegetasi non sagu). 2.2). sedangkan kapasistas produksi sagu basah jenis sagu makanaro dan molat masing-masing sekitar 245.145 Tabel (Table) 4.17 378. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah.50 726. kualitas air rawa.44 516. B. dengan tingkat asosiasi secara umum rendah (JI < 0. 2. Sagu tuni merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi luas (eury tolerance).68 237. minuman. Struktur populasi sagu di plot penelitian wilayah Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda. Terdapat interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan (iklim. Dalam komunitas sagu alami di plot penelitian wilayah Pulau Seram. Variabel iklim.50 353. N. dan kualitas air rawa yang paling berperan terhadap pertumbuhan sagu di Pulau Seram masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. bioetanol atau industri lainnya). Jenis Sagu (Sago Species) Tuni Makanaro Sylvestre Molat Rataan TTG 685. Sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu yang memiliki kapasitas produksi pati sagu yang cukup tinggi. Kesimpulan 1. Tiga jenis sagu yang lain yaitu makanaro.06 183. Upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat dari jenis sagu bagi masyarakat di pedesaan Maluku dan Papua.50 479.00 126. dapat dilakukan dengan mengembangkan jenis sagu tuni serta sagu sylvestre baik pada tipe habitat lahan kering maupun tipe lahan tergenang temporer air tawar.21 dan 237.04 dan 560. 3. tanah. KESIMPULAN DAN SARAN A.

International Plant Genetic Resources Institute. A. Marzuki. 2005. Makalah disampaikan pada lokakarya pengembangan sagu Indonesia. Jakarta Ilmu Tanah. I. General Ecology. Third edition. New York Louhenapessy. 2004. Metode Survey Vegetasi.E. 2007. Fakultas Pertanian. Putra. Arti dan Interpretasi. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia. Rome. Pendit. 2007. dan I Made R. John Willey & Sons. Hardjowigeno. Syekhfani. Institut Pertanian Bogor.W. Jakarta. Responses of Plant to Environmental Stresses. J. PT. Maluku Samin Botanri. Sirot. Makalah disampaikan pada lokakarya sagu dengan 145 .cgiar. J Biodiversitas 8 (3) : 199-203. Edi Guhardja. Laboratory Manual. http://www. Statistical Ecology. Metode Analisis Populasi dan Komunitas. a Primer on Methods and Computing. ________. J. Jurusan Tanah. Eigth edition.Ambon 29-31 Mei 2006. Metroxylon sagu Rottb. Universitas Brawijaya. dan Lilik B.. Academic Press. Netherlands. Dede Setiadi. Studi Morfo-Ekotipe dan Karakterisasi Minyak Atsiri.Undaharta Ni. Ibnul Qayim. Malang. 2002.E. Disertasi. Potensi dan pengelolaan sagu di Maluku. 1997. M. 1974. Setiadi. Ludwig. 25-26 Juli 2007. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Penerbit Institut Pertanian Bogor. 1994. Bitung. Rineka Cipta. Usaha Nasional. Plant and Environment. John Wiley & Sons. Isozim. 1998. G. Soegianto. 1997. J.. Nusa Tenggara Timur. Sago Palm. Daubenmire. 1992. R. Ekologi Kuantitatif. Bogor. and E. Surabaya Supranto. McGraw Hill. 2002. J Biodiversitas 6 (2) : 118-122. J The American Naturalist 160 (2) 214-234. Levitt. A. Promoting the Conservation and Use of Underutilized and Neglected Crops.F. : PT. Bogor. Krivan. A. V. dan DNA Pala Banda (Myristica fragrans Houtt) Maluku [Disertasi]. Batam. New York.ipgri. Diakses tanggal 11 Agustus 2008. 1988. Keterkaitan Profil Vegetasi Sistem Agroforestri Kebun Campur dengan Lingkungannya.. 1980. 2006. 1997. Reynolds. a Textbook of Autecology. Bogor. K.F. New York Flach. Habitat Selection by to Competing Species in a Two-Habitat Environment. Prasetyo Cox. Suryana. Asosiasi Jenis-Jenis Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko. Melton tema sagu dalam revitalisasi pertanian Maluku. Hara-Air-Tanah-Tanaman. A. Sekolah Pascasarjana. Sulawesi Utara. Wageningen Agriculture University. and J. Kurniawan. Kusmana.J. Second edition. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Ruteng. S. D.org/Publications/ pdf/238.pdf. Analisis Multivariat. New York. 2008.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. C. pp 76.

kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). the research was proposed by using factorial random complete design. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. (0251) 8327768 Naskah masuk : 14 Juli 2010. so as storage of the seed for this species is still becoming a question. Therefore. there should be an attemption to carry out a research on storing seedlings other than seeds by using slow growth method. moderate and light shading. RH 96 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. The growth regulators were consisted of paclobutrazol. NaCl solution. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan.TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites Dida Syamsuwida dan/and Aam Aminah Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan-Ciheuleut. Dengan demikian. Such treatments could supress the height and diameter growth of the seedlings up to 59. Statistically. The aim of the research was to determine the influence of growth inhibitors. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. umur semai 147 .5%. The environment conditions were arranged by placing the seedlings under heavy. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). paclobutrazol. seedling ages ABSTRAK Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. 2 and 3 months olds. naungan sedang dan naungan ringan. Kata kunci : Bahan pengatur tumbuh. environment conditions and seedling ages on the growth of kayu bawang seedlings during storage.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. 2 dan 3 bulan. paklobutrazol. NaCl dan akuades sebagai kontrol.5% solution. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. larutan NaCl. Meanwhile. light intensity of 650 lux) and application of NaCl 0. The results revealed that factors inhibiting the growth rate of kayu bawang seedlings effectively in term of storing for 6 months were the placement of 3 months old seedlings under heavy shading (T 25 0C. NaCl and aquadest as the control. RH 96 %. the age of seedlings at the time of spraying were 1. PO Box 105. Keywords: Growth regulators. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Bogor . Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1.13 % in average and gave 95% of seedling survival. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. Naskah diterima : 1 Juni 2011 ABSTRACT Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) is one of forest tree species that known to have seeds with rapidly loss their viability in several days./Fax.16001 Telp.

B. Bogor. RH = 40%.5% dilakukan dengan cara melarutkan NaCl 5 gr ke dalam 999 ml akuades. Metode Penelitian 1. B. Latar Belakang Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) merupakan jenis andalan Kabupaten Bengkulu Utara yang mempunyai pertumbuhan cepat dan kualitas yang baik. BAHAN DAN METODE A. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth) yang diadopsi dari teknik penyimpanan Hawkes (1980).8 No. Sehubungan dengan upaya penyimpanan semai kayu bawang.300 biji. Setelah semai berumur 1. kemudian diletakkan di rumah kaca dan dilakukan penyiraman setiap hari. termometer.Juli. terutama untuk kayu pertukangan. Setiap jenis tanaman akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan demikian juga umur tanaman saat diberi perlakuan. Metode pertumbuhan lambat pada prinsipnya adalah menekan pertumbuhan semai selama dalam penyimpanan dengan memanipulasi kondisi lingkungan tempat simpan atau menambahkan bahan pengatur tumbuh dengan tetap mempertahankan daya hidupnya (Krishnapillay et al. Lewat masa tersebut persentase tumbuh menurun menjadi 50% (Riyanto. intensitas cahaya 650 lux). Semai pada masing-masing kondisi perlakuan. sehingga menghasilkan 1 liter larutan NaCl 0. Kecambah dibiarkan tumbuh hingga berumur kurang lebih 4-5 minggu. b. PENDAHULUAN II. semai diletakkan di bawah naungan berat (T = 25 OC. Tahapan Pelaksanaan a. oven. Untuk mendapatkan larutan NaCl 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dengan masa dormansi singkat kurang lebih 10 hari. kemudian tanaman disemprot dengan bahan penghambat tumbuh paklobutrazol (250 ppm). RH = 80 %. C. Perlakuan Semai yang telah berumur 5 minggu dipindahkan (disapih) ke dalam polybag ukuran 10 cm x 20 cm yang masing-masing berisi media pasir. bahan pengatur tumbuh dan umur semai saat penyemprotan yang efektif untuk disimpan. intensitas cahaya 8935 lux) dan naungan ringan (T = 300C. Bahan danAlat Penelitian Bahan yang digunakan adalah benih-benih kayu bawang. Larutan paklobutrazol 250 ppm dipersiapkan dengan cara melarutkan 1 mm paclobutrazol 250 gr/l bahan aktif ke dalam 999 ml akuades. A. bedeng semai. Lokasi pengumpulan buah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara. timbangan analitis. Kayu bawang dikembangbiakkan oleh masyarakat secara generatif/dengan biji. label.Waktu kegiatan dimulai bulanPebruarihinggabulanDesember2008.hutan sekunder terutama daerah Bengkulu Utara.3 bulan setelah penyapihan. Pengecambahan benih Benih dikecambahkan dalam bak kecambah berisi media pasir-tanah dengan perbandingan 1:1. dan luxmeter. 2001). Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Stasiun Penelitian Nagrak yang berjarak ± 10 km dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan.5%) dan akuades sebagai kontrol. kaliper. Kayu bawang berkembang secara alami di hutan . bak perkecambahan. shading net.153 I. Alat-alat yang digunakan adalah alat gelas. Kedua larutan tersebut kemudian diaduk sehingga menghasilkan 1000 ml (1 liter) larutan paclobutrazol 250 ppm. Juli 2011..3. 147 . rumah tumbuh. 1999). disimpan selama 6 bulan dan setiap 148 .5%. Tujuan dan Sasaran Tu j u a n p e n e l i t i a n a d a l a h u n t u k mendapatkan teknik penyimpanan semai kayu bawang melalui aplikasi bahan penghambat tumbuh dan pengaturan naungan pada umur semai yang berbeda. maka telah dilakukan penelitian penyimpanan dengan melibatkan faktor kondisi lingkungan tempat simpan. intensitas cahaya 17593 lux). sebagian lagi diletakkan di bedeng bernaung sedang (T = 280C. pasir. Musim bunga dimulai sekitar bulan Pebruari dan saat pengunduhan biji pada bulan Mei . tanah. NaCl (0. Biji kayu bawang segar mempunyai persen tumbuh 80 %.2. sehingga penyimpanan benih untuk jenis tanaman ini masih menjadi kendala. higrometer. Jenis kayu bawang adalah satu di antara sekian banyak jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. RH = 96 %. Jumlah biji per kilogramnya adalah 200 . Dengan demikian.

64** 11.44 Persen hidup (Survival percentage ) (%) 1. Hasil pengamatan terhadap diameter semai kayu bawang menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter kayu bawang. Tabel (Table) 1. interaksi antara kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata pada persen hidup semai kayu bawang. Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan. 2. diameter dan persentase hidup semai kayu bawang (The summary of analysis of variances for height. Hasil Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap parameter pertambahan tinggi.14 ** 12. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan. and survival percentage of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) A B AXB C AxC BxC AxBxC PertumbuhanTinggi (Height growth ) (cm) 8. III. serta C: umur semai pada saat penyemprotan (1 bulan.81** 3. umur semai.78 1. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan.69 3. Rancangan Penelitian Percobaan terdiri dari 3 faktor perlakuan yaitu A: bahan penghambat pertumbuhan (aquades.22 2. menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan.47** 0.68 3.28 12.89** 2.74** 0.26 9.42 3. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis secara statistik. paclobutrazol dan NaCl). diameter dan persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan disajikan dalam Tabel 1. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis sidik ragam.14** 19.28* Keterangan (Remarks): ** * tn A B C Nyata pada taraf 1% (significant at 1% level) Nyata pada taraf 5% (significant at 5% level) tidak nyata (non-significant) Bahan pengatur tumbuh (growth regulators) Kondisi tempat simpan (storage site condition) umur semai ( seedling ages) 149 .51 1.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah interval 1 bulan diamati dan diukur respon pertumbuhannya. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada persen hidup semai kayu bawang. menunjukkan bahwa bahan pengatur tumbuh dan kondisi ruang simpan berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. Satu satuan perlakuan terdiri dari 12 semai. setiap bulan sebanyak 12 contoh uji tanaman diamati dan diukur pertumbuhannya. Rekapitulasi hasil sidik ragam (Kuadrat Tengah) pengaruh perlakuan terhadap tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN A.49 ** 2. interaksi antara bahan pengatur tumbuh dan umur semai. Rancangan percobaan didekati dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan ulangan 3 kali sehingga diperoleh 27 kombinasi perlakuan dan 81 satuan percobaan. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. Ke-12 contoh uji adalah banyaknya satuan perlakuan untuk semai kayu bawang.49 41. 2 bulan dan 3 bulan).74 * = = = = = = Pertumbuhan diameter (Diameter growth ) (mm) 0. diameter. B: kondisi simpan (naungan berat. naungan sedang dan naungan ringan.04 33. Hasil pengukuran persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan.

58ab 1.12ab 3 2.16 mm) dibandingkan kondisi naungan ringan (1. Uji beda nyata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of site conditions on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Naungan ringan Naungan sedang Naungan berat Rata – rata (mean) 1. Tabel (Table) 3.38 mm) Hasil uji beda rata-rata pengaruh umur semai terhadap diameter semai dapat dilihat pada Tabel 4.12ab 3.153 Hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur tumbuh.99ab 3. Hasil uji beda rata-rata interaksi antara penyemprotan dengan aquades di bawah naungan sedang dan umur penyemprotan 1 bulan mempunyai nilai pertambahan tinggi terbesar yaitu sebesar 8.16 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B B Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) 150 . site conditions and seedling ages on the increment height of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Paclobutrazol NaCl Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 1. 147 . Sedangkan hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur NaCl. Tabel (Table) 2.8 No.28ab Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 3.45 mm) dan umur 1 bulan (1. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap pertambahan tinggi semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.72ab 0.28ab 0.40ab 2.70 mm) namun tidak berbeda nyata dengan naungan sedang (1.99ab 3.58ab 2.38 1.60ab 4. kondisi tempat simpan dan umur semai disajikan dalam Tabel 2.15ab 3. Juli 2011.68a 3.50ab 3.3.70 1.07 mm) dibandingkan umur bibit 2 bulan (1.99ab 2.30ab 3. Masing-masing umur semai memiliki nilai pertambahan diameter yang berbeda satu sama lain menurut uji Duncan. Semai dengan perlakuan umur bibit 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan diameter terendah yaitu (1.97ab 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.71ab 3.52ab 4.49 cm. Penyimpanan pada kondisi naungan berat menghasilkan pertumbuhan diameter yang nyata lebih lambat (1.16ab 3. kondisi tempat simpan naungan berat dan umur semai 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan tinggi paling rendah yaitu sebesar 0.91ab Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan's test) Hasil uji beda rata-rata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter semai kayu bawang dapat dilihat pada Tabel 3.88ab 1.68 cm.71 mm). Uji beda nyata pengaruh interaksi antara bahan pengatur tumbuh.63ab 4.49b 1.79ab 8.19ab 3.22ab 4.

Tabel 5.07 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B C Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) Hasil interaksi antara bahan penghambat tumbuh.9cd 88.2ab Paclobutrazol NaCl Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) B. Uji beda nyata pengaruh umur semai terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of seedling ages on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Umur 1 bln Umur 2 bln Umur 3 bln Rata – rata (Mean) 1. namun dengan pertambahan yang relatif rendah.2i 72. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap persen hidup semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors. NaCl tidak termasuk ke dalam golongan zat penghambat tumbuh. Uji beda rata-rata pengaruh interaksi antara bahan penghambat tumbuh.45 1.0fg 61.0a 97. Tabel (Table) 5.4abc 50.6ef 50. Dengan demikian selama penyimpanan pertumbuhan tanaman tetap berjalan.2ab 97.9cd 100. menunjukkan bahwa pada umumnya semai yang disemprot dengan paclobutrazol 250 ppm.7bc 88.0i 83. Pembahasan Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tinggi semai setelah penyimpanan memperlihatkan kecenderungan meningkat.9cd 94. ditempatkan di bawah naungan ringan pada umur 1 dan 2 bulan mempunyai persen hidup yang tinggi yaitu sebesar 100 %.2g 100. sedangkan semai yang disemprot dengan akuades pada umur 1 bulan dan disimpan pada naungan berat mempunyai persen hidup terendah dengan nilai 44.4i 50.2de 100. namun demikian bahan kimia yang berupa garam ini 151 .9cd 88.0i 80.2ab 100.0a 47. site conditions and seedling ages on seedling survival of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 44. Hal ini dapat dilihat dari hasil perlakuan bahan penghambat tumbuh ataupun manipulasi kondisi tempat simpan yang kurang cahaya terhadap pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.71 1.0i 97.2ab 97.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Tabel (Table) 4.4 %.0a 91.0a Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 88.2ab 94. Bahan penghambat tumbuh NaCl dapat menekan pertumbuhan tinggi semai seperti halnya Paclobutrazol.4abc 3 97. kondisi tempat simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap persen hidup semai kayu bawang disajikan dalam Tabel 5.2ab 75.1h 97.

Secara keseluruhan pengaruh bahan penghambat pertumbuhan berkaitan dengan naungan yang diberikan terhadap penekanan pertumbuhan tinggi. oleh karena itu konsentrasi garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Menurut Soepardi (1983) semakin tinggi konsentrasi kandungan garam dalam tanah. sehingga selama penyimpanan dalam naungan berat. 2001). Menurut Lakitan perpanjangan batang adalah berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman memerlukan cahaya untuk pertumbuhannya.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Juli 2011. Dalam kasus ini tampaknya gabungan perlakuan intensitas cahaya dan salinitas (kadar garam) merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tinggi semai kayu bawang dimana kombinasi antara pencahayaan yang sedikit (650 lux) menyebabkan proses fotosintesa tidak berjalan dengan baik dan diperparah dengan adanya larutan garam 0. suhu. tidak hanya dikarenakan oleh keracunan pada akar tanaman tapi juga berkurangnya air bagi tanaman. Cahaya diyakini berpengaruh tidak langsung melalui 152 . Sedangkan menurut Kamaluddin (1999) respon tanaman yang tahan naungan seperti pada jenis Dipterocarpaceae. Meningkatnya konsentrasi garam dalam air pada tanaman mengakibatkan ketersediaan air bagi tanaman menurun. status nutrisi dalam tanaman. Menurut Kozlowsky dan Pallardy (1979) penyerapan hara melalui daun tergantung dari : cahaya. 147 . Namun demikian perlu memperhitungkan waktu penggunaan semai untuk bibit ketika akan ditanam di lapang agar umur tanaman tidak terlalu tua. umur daun.3.153 dapat menjadi bahan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. Seperti misalnya NaCl dalam penelitian ini pada umur berapapun dapat menghambat pertumbuhan tinggi apabila diberikan pada kondisi naungan berat. Penekanan pertumbuhan tinggi semai kayu bawang juga terjadi pada perlakuan kondisi tempat simpan dimana pada kondisi naungan berat yang mempunyai intensitas cahaya paling sedikit (650 lux) dibandingkan tempat dengan naungan sedang (8935 lux) maupun ringan (17593 lux). Menurut Hawley (1981) NaCl tersusun dari unsur Na + dan Cl yang mana ion Cl nya secara analogis mempunyai sifat mekanisme yang sama dengan ion Cl yang terdapat dalam paklobutrazol. pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. Pada penelitian ini umur semai 3 bulan sangat efektif digunakan untuk tujuan penyimpanan dibandingkan umur semai yang lebih muda (1 dan 2 bulan). semai mengalami penghambatan dalam pertumbuhan tinggi. pengurangan ketebalan daun tampaknya lebih disebabkan oleh perubahan dalam kualitas cahaya ke arah merah-jauh (far red) daripada pengurangan intensitas cahaya itu sendiri (Fisher. Hal ini diduga terjadi karena tanaman yang lebih tua telah mengalami penurunan aktifitas metabolisme untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Garam menghambat pertumbuhan melalui pengaruh Na + dan Cl yang terserap tanaman dan kurang tersedianya air bagi tanaman. maka akan terjadi kenaikan dalam pertumbuhan. sehingga sangat responsif terhadap cekaman lingkungan yang diberikan. yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan akar tunggang (Hendromono. 1996). Mekanisme penyerapan yang serupa terjadi pada larutan garam yang disemprotkan kearah daun (pupuk daun) dimana garam yang terlarut dalam air dapat masuk ke ruang interselular melalui lubang stomata.5% yang disemprotkan. Namun apabila cekaman lingkungan (dormansi) berakhir.8 No. Hal ini terjadi karena ion-ion sudah dalam jumlah yang tidak seimbang sehingga menjadi racun bagi tanaman. Intensitas cahaya yang masuk pada rumah tumbuh (650 lux) masih cukup bagi tanaman untuk melakukan fotosintesa sehingga metabolisme masih berjalan baik walaupun tidak maksimal yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan tinggi. formulasi dan konsentrasi nutrisi (pupuk). Terjadinya etiolase pada tanaman yang ternaungi. Menurut Fisher (1996) penurunan aktifitas metabolisme pada tanaman utuh. cukup peka terhadap manipulasi kondisi lingkungan. biasanya terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan yang menyebabkan meningkatnya zat penghambat dan akibatnya terjadi perlambatan dalam pertumbuhan primordia daun dan batang. sehingga metabolisme terganggu dan pertumbuhan terhambat. yang menyebabkan kerusakan membran sel daun dan penutupan stomata daun. Karena Cl merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menimbulkan stress pada biosintesa giberellin. perpanjangan batang. Umur semai saat perlakuan pada penelitian ini sangat berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi dan diameter tanaman. kelembaban relatif. Seperti yang dinyatakan oleh Lakitan (1996) bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah intensitas cahaya.

Hendromono. F. H. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. FB and CW Ross. Manipulation of Growth Light Environment for Storage of Seedlings of Shade-Tolerant Forest Tree Species in nursery. 1999. Pp. F. Ed. Sydney. Hal. IUFRO Seed Symposium 1998 'Recalcitrant Seeds'. Palembang. Plants.Marzalina. P. Genetic Conservation of Recalcitrant Species: an Overview. Buletin Penelitian Hutan. 280285. Krishnapillay. 1996.G.A Nashatul Zaimah. Krishnapillay (Eds). Diego. M. terlepas dari peranannya dalam fotosintesis (Salisburry and Ross.Pp.) dan Mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap Kandungan Garam Air Penyiraman. Kualalumpur. Institut Pertanian Bogor. Gadjah Mada University Press. 153 .Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis. Salisbury. Ketika semai masih berumur 1 bulan dan disimpan pada kondisi intensitas cahaya sedang (8935 lux). IPGR. Riyanto. Toronto.M. Kayu Bawang (Dysoxylum sp) Berpotensi untuk Kayu Pertukangan. N.C Khoo. Hal. In M. London.Y Tsan and B. Bogor. Tokyo. Jayanthi. 1-8 Kozlowsky. 1996. Hal ini terjadi mungkin karena umur semai yang masih muda memiliki jumlah klorofil yang relatif sedikit sehingga kekuatan dalam menangkap energi cahaya yang diberikan sangat terbatas dan akibatnya pertumbuhan tidak optimal. 2 nd Ed. Proc. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman: Fase Vegetatif. Goldsworthy. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. N. Penerbit ITB Bandung. Kualalumpur. 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropika. 12 Nopember 2001. K.286-295.C Khoo. 2001. 1979. M.D. Rome. Jilid 1. N.13 % serta mempertahankan persen hidup hingga 95%. IUFRO Seed Symposium 1998 ' Recalcitrant Seeds'. Malaysia. B.411 Pallardy. G. San Boston. Jakarta. Crop Genetic Resources. P. B. K.T dan S. RH 96 %. KESIMPULAN Faktor yang menghambat pertumbuhan semai kayu bawang selama penyimpanan 6 bulan adalah penerapan larutan NaCl 0.A & William. Hawkes. DAFTAR PUSTAKA Fisher. Krishnapillay (Eds). N. T. 1983.T Raja Grafindo Persada. namun sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa cahaya mempunyai pengaruh kuat terhadap stomata. IV. Bogor. 1980. Lakitan.Y Tsan and B. Jayanthi.G Physiology of Woody Academic Press.5% pada semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. Batas Toleransi Bibit Gmelina (Gmelina arborea Roxb. Proc. J. Slow Growth as a Method to Ensure Continuous Supply of Planting materials for recalcitrant seed species. Fisiologi Tumbuhan. New York. Kondisi ini terjadi juga pada semai yang diberi bahan penghambat paklobutrazol dimana efektivitas dalam penekanan pertumbuhan tinggi terjadi pada semai umur 1 bulan dan intensitas cahaya yang sedang. Malaysia. Kamaluddin. 2001. Sifat dan ciri tanah. 1995). maka pertumbuhan tinggipun masih terhambat. Marzalina. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah Fakultas Pertanian. J.Y. P. In Whithers. F. In Marzalina. 1999. Soepardi. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. L. 156213. Tsan.Jayanthi and N.M Fisher.T (Eds). M.R and N. The Conservation of Difficult Materials. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. intensitas cahaya 650 lux).

This study was conducted in Kabupaten Ciamis covering 363 villages. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. The study found that most of those factors has close correlation with the existence of private forest. clustering analysis. with having overall accuracy of 64%. email : tien_unw@yahoo. population density. distance to main road. dan umur produktif penduduk yang diteliti.TIPOLOGI DESA BERDASARKAN VARIABEL PENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini . The only factor that has no correlation with private forest area is distance to main road. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. non rice field-land use. hutan rakyat. Keywords: Biophysical. Bogor 16680 Jawa Barat-Indonesia Telp (0251)8622642 Naskah masuk : 11 Februari 2011. jarak ke jalan besar. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga. tipologi desa 155 .. jarak ke kawasan hutan negara. private forest. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. rumah permanen. village typologies ABSTRAK Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. land configuration. kemampuan lahan. Endang Suhendang . distance to state forest area. I Nengah Surati Jaya .. Clustering analysis of the study found two typologies of private forest development. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. and three of socio-economic factors i. kelerengan lahan. (0251) 8622642. permanent home.e. road density. Selected variables for clustering are based on the principle component analysis design of eight correlated variables. and productive age population were investigated. analisis gerombol. There are six of biophysical factors i. Bogor. Kata kunci : Biofisik. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. dan/and Herry Purnomo2 1 2 2 Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Hardjanto2. socio-economic.com 2 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Jl. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. sosial ekonomi. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. Jawa Barat Telp. land capacity. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. namely high potential area and low potential area types. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. Naskah diterima : 10 Juni 2011 1 ABSTRACT The study examined the use of biophysical and socio-economic factors to classify village as characteristic variables of private forest. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. Sekolah Pascasarjana IPB. Berdasarkan analisis gerombol. The main objective of this study is to determine the most significant variables that affect the village typologies related to private forest area. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat.e. Kampus IPB Darmaga.

Di Pulau Jawa rata-rata kepemilikan dalam satu hamparan sempit kurang dari 1 ha. Juli 2011. 1991).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dimana luasan lahan kepemilikan berkisar antara 5-40 ha per keluarga (Harrison et al. Perencanaan wilayah tersebut sebaiknya bersifat spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah yang dihadapi. Pengelolaan hutan rakyat dilakukan oleh masyarakat secara individual (pada tingkat keluarga) pada lahan miliknya. Kabupaten Ciamis memiliki potensi hutan rakyat yang besar di Jawa Barat. Segala keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan rakyat (penanaman. Sistem pengelolaan hutan rakyat dengan berdasarkan komponen-komponen yang mendukung dapat menjamin kelestariannya. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Indonesia seperti negara-negara Eropa Utara (Filandia. Gambar (Figure) 1. Secara spasial hutan rakyat umumnya tidak tersebar dalam suatu hamparan yang kompak. Luas 0. seperti posisi tawar yang lemah dan informasi yang kurang. Kondisi petani di Indonesia umumnya subsisten.25 ha (Suharjito 2000 dan Haeruman et al. Luasan kepemilikan relatif kecil sehingga untuk mencapai luasan yang besar maka perlu penggabungan beberapa kepemilikan lahan. luas pemilikan lahan dan keragaman pola usaha tani yang akan berpengaruh terhadap jumlah pohon pada setiap kepemilikan. yang menyebabkan hutan rakyat tidak mengelompok pada suatu areal tertentu tetapi tersebar berdasarkan letak.8 No.. Selain itu. tipologi ini dapat membantu menduga potensi sebaran hutan rakyat untuk wilayah yang belum diketahui dan belum dilakukan inventarisasi menyeluruh.168 I. PENDAHULUAN A. dimulai bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011. pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu disebut dengan tipologi.3. penebangan dan pemasaran) ditentukan oleh kebijakan masing-masing keluarga (Mindawati et al. menyebabkan keadaan tersebut menjadikan petani dalam posisi lemah. II. Dengan demikian untuk menerapkan dan menganalisis komponen-komponen kelangsungan pelestarian itu perlu dibuat suatu perencanaan wilayah berbentuk suatu wadah atau unit pengelolaan. 155 . Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor biofisik dan sosial ekonomi yang membentuk tipologi untuk menduga potensi hutan rakyat. pemeliharaan. 2002). Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang mencakup sebanyak 336 desa. Lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis ( Research areas in Kabupaten Ciamis) 156 . B. Latar Belakang Hutan rakyat memiliki karakteristik yang unik. dan Norwegia). Dengan terbentuknya tipologi hutan rakyat diharapkan dapat menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah yang unik berdasarkan karakteristik masingmasing wilayahnya. Swedia.25 ha sampai saat ini dipakai sebagai syarat untuk dikategorikan sebagai hutan. sehingga sulit untuk mencapai luasan minimum 0. 2006). BAHAN DAN METODE A. Pembentukan unit pengelolaan hutan rakyat memerlukan penggalian karakteristikkarakteristik wilayah yang ingin dikelola.

Pengumpulan Data a. Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap kawasan batas hutan negara terdekat. 1 2 3 4 5 Kelas lereng (Slope classes) Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Kisaran (Intervals) (%) 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 157 .1. peta digital kontur. Haeruman et al. Rasio Kelerengan Lahan Menurut Awang et al. peta jaringan jalan. Analisis Data 2. Kedekatan terhadap kawasan hutan negara memiliki peluang untuk berkembangnya hutan rakyat baik secara alam maupun budaya. Awang et al. C. dan Herry Purnomo B. serta literatur publikasi ilmiah lainnya. data profil desa Kabupaten Ciamis tahun 2006. peta digital jaringan jalan. b. Sehingga variabel yang perlu diperhatikan adalah perbandingan (rasio) antar luas areal dengan kelas kelerengan lahan yang lebih besar sama dengan 15% terhadap total luas desa.. (2001) menyatakan salah satu areal yang menjadi sasaran pembangunan hutan rakyat adalah areal kritis dengan keadaaan lapangan berjurang dan bertebing. 1991. Identifikasi Variabel-Variabel Pendukung Keberadaan Hutan Rakyat Dalam penelitian ini dicari variabelvariabel yang sangat mempengaruhi keberadaan hutan rakyat di suatu lokasi. peta tanah. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang terkait dengan hutan rakyat dan pengaruh biofisik terhadap perkembangan suatu wilayah (Suharjito 2000. dan peta batas administrasi. BPS. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K). Tabel (Table) 1. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas lereng yang sudah umum digunakan dalam penatagunaan hutan. Minitab versi 14. Hardjanto 2003) ditemui variabel-variabel sebagai berikut : a. Perhitungan jarak dilakukan dengan analisis spasial. dengan unit analisisnya adalah desa. c. Jalan kolektor yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kotamadya terhadap kepentingan provinsi. 2. Jarak Terdekat Desa ke Jalan Besar Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap jalan besar terdekat. perguruan tinggi. Pada penelitian ini yang dimaksud jalan besar adalah jalan kolektor.2. Bahan danAlat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : peta digital administrasi Kabupaten Ciamis.. Kementerian Kehutanan. SPSS versi 17. I Nengah Surati Jaya. dan alat pendukung lainnya. Perhitungan jarak terdekat tersebut menggunakan analisis spasial terhadap 2 layer. Data dan informasi atas hasil analisis pengolahan spasial peta dijital lokasi penelitian dibantu dengan beberapa layer yang mendukung. Klasifikasi kelas lereng ( Clasification of slope classes) No. yaitu layer batas administrasi desa dengan batas kawasan hutan negara di Kabupaten Ciamis. Metode 1.. lembaga penelitian. 2007. Data sekunder diperoleh dari publikasi lembaga pemerintahan seperti Dinas Kehutanan. b.Hardjanto. peta digital jenis tanah. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arc View versi 3. Endang Suhendang. peta kawasan hutan negara. Jarak Terdekat Desa ke Kawasan Hutan Negara Terdekat. peta digital kawasan hutan negara (sumber RBI tahun 2006 dan Baplan 2011). Kelas-kelas kelerengan dalam suatu wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. yaitu peta kontur.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.

Rasio Rumah Permanen Rasio rumah permanen merupakan pendekatan terhadap informasi pendapatan penduduk. Tabel (Table) 2. Kerapatan Jalan Kerapatan jalan adalah rasio antara luas jalan (m) dengan luas desa(ha). sehingga diduga beberapa wilayah yang berkembang hutan rakyatnya ketika jumlah umur produktif sedikit dan didominasi umur non produktif.3. Rumusnya dapat dilihat sebagai berikut: Panjang jalan (m) Kerapatan Jalan Luas desa (ha) f. Umumnya hutan rakyat timbul pada wilayah-wilayah yang masih kurang padat penduduknya.Jarak ke jalan besar .3. Kemampuan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk membuat modifikasi kelas kemampuan lahan adalah kelerengan.8 No. kedalaman tanah.168 d. sehingga diduga ada hubungan antara potensi hutan rakyat dengan kondisi kemampuan lahannya. Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non Sawah) Penggunaan lahan bukan sawah adalah perbandingan (rasio) areal lahan pertanian non sawah dengan luas total desa. Sehingga secara keseluruhan ada 9 (sembilan) variabel yang diuji untuk mengetahui yang berpengaruh terhadp pembagian tipologi.8) NTi = Nilai Tengah kelas ke.i (i=1.Kerapatan jaringan jalan .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa hutan rakyat di Jawa umumnya dibudidayakan di areal-areal lahan kering daerah atas (upland areas). Rasio Umur Produktif Rasio umur produktif adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia produktif (15 . yaitu dari rasio antara jumlah rumah permanen dengan total rumah di desa bersangkutan. Pengelolaan hutan rakyat masih dianggap kegiatan sampingan yang bersifat tidak intensif. Adapun variabel kemampuan lahan di suatu desa (KL) (Arsyad.Penggunaan Lahan ( land use) . 2.. 1989): 8 Luas Total Desa Dimana : Li = Luas kemampuan lahan kelas ke. Juli 2011.. Indikator (Indicators) Karakteristik Bio-Fisik Peubah-Peubah (Variables ) .Rasio kelerengan lahan . Semakin besar rasio maka diasumsikan pendapatan penduduk setempat semakin tinggi.8) KL = i = 1 Li × Nti g..Rasio Umur produktif penduduk 2. kepekaan erosi.64 tahun) dengan luas total desa. tekstur tanah permeabilitas. 155 . Diasumsikan bahwa ketika pendapatan penduduk semakin meningkat maka kondisi rumahnya akan semakin permanen. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penduduk di setiap desa (orang) dengan luas administratif desa (ha). Secara ringkas variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Variabel-variabel tipologi hutan rakyat (Typology Variables of private forest) No. f. 1. e. Kemampuan Lahan Hutan rakyat di Jawa umumnya banyak ditanam di wilayah lahan kritis yang tidak subur. dan drainase di suatu wilayah desa. Karakteristik Sosial dan Ekonomi 158 .Jarak ke kawasan hutan hutan negara . Untuk data pendapatan dilakukan dengan pendekatan terhadap kondisi perumahan.i (i=1.3...Tingkat rumah permanen ..Kemampuan Lahan .Kepadatan penduduk . H. 2.

Diasumsikan bahwa potensi tersebut dapat mewakili karakteristik lokal hutan rakyat di suatu tempat. Analisis korelasi yang di-gunakan adalah korelasi Spearman. Pengujian Tipologi Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang terbentuk sudah memiliki gambaran yang mirip terhadap potensi hutan rakyat. Sehingga dilakukan pengujian pada setiap kelompok yang sudah terbentuk. dan mereduksi objek dalam dimensi yang lebih kecil. yaitu : a. merupakan konbinasi linier dari variabel asal: Yi = ai1X1+ai2X2+…+aipXp Hasil analisis komponenkomponen utama antara lain nilai akar ciri. Analisis Korelasi Pada penelitian ini. antar komponen utama saling original/bebas. sehingga semakin mendekati nilai tersebut semakin erat hubungan X dan Y. (2) mengelompokkan variabel-variabel penting dari satu bundel variabel besar untuk menduga suatu fenomena. Endang Suhendang. 2. Untuk menganalisis hal tersebut digunakan 2 cara. Untuk melakukan pengelompokan tipologi digunakan analisis gerombol (clustering analysis). Sebagai 159 . dan kumulatif akar ciri. proporsi. Penggunaan Analisis Gerombol (Clustering Analysis) Dasar pembuatan tipologi adalah variabelvariabel yang dianggap dominan dalam menentukan potensi hutan rakyat. (2) Evaluasi akurasi Untuk menguji akurasi kelompok yang terbentuk menggunakan prinsip matrik kesalahan ( confusion m atrix ). Keragaman dapat diketahui dengan rumus : Ragam rata-rata dalam kelompok adalah : n m i 1 n 2 yi y 2 i i 1 i 1 n 1 m s2 y Keterangan : yi = luas hutan rakyat pada desa ke-i n = jumlah desa pada kelompok ke-i m = jumlah kelompok Ragam antar kelompok yang distandarkan : Keputusan yang terbaik jika: memiliki ragam dalam kelompok yang terkecil dan ragam antar kelompok yang terbesar. metode ini menetapkan terlebih dahulu jumlah kelompok yang akan dibuat sehingga metode ini cocok jika data yang diolah banyak. Analisis Komponen Utama ( Principal Component Analysis/PCA) Tujuan dari analisis komponen utama dalam penelitian ini . tetapi keragaman antar kelompok besar. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. b. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. Nilai -1 atau +1 menunjukkan adanya hubungan yang sempurna antara X dan Y. Penelitian ini menggunakan analisis gerombol ini dengan metode K-Means. maka dilakukan pengujian sebagai berikut : (1) Uji keragaman Kelompok yang terbentuk dikatakan baik jika keragaman dalam satu kelompok kecil. I Nengah Surati Jaya.Hardjanto.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Ada tiga karakteristik komponen utama: informasi data asal yang dijelaskan maksimum (memiliki ragam maksimum). sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel. yaitu: (1) untuk mendapatkan variabel-variabel baru yang saling orthogonal/bebas. analisi korelasi menghubungkan 2 variabel yaitu masing-masing 9 variabel biofisik dan sosial ekonomi yang diuji dengan luas hutan rakyat di suatu desa.2. b. Sehingga jika mencari gabungan yang terbaik adalah yang memiliki selisih ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok yang terbesar. Pembentukan Tipologi a. Penentuan Variabel Dominan Dari 9 (sembilan) variabel akan dianalisis hubungannya dengan hutan rakyat di suatu desa. Penggunaan metode ini banyak digunakan untuk beberapa tujuan penelitian (Rahmalia 2003).3. dan Herry Purnomo 2.

277** .276** .529** -. dan rasio kelerengan lahan.380** .357** -.266** -.127* 1. HASIL DAN PEMBAHASAN A.264** .154** Kemampuan Lahan (Land capacity) -. Akurasi rata-rata umum dihitung menggunakan rumus (Jaya. kemampuan lahan. 155 .486** -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.453** -.245** 1.000 .178** .000 1.297** -. dan luas hutan rakyat (The correlation between biophysical and socio-economic variables and private forest area) Variabel (Variables ) Luas Hutan rakyat (Private forest area) 1.108* .433** -.072 . dapat dilihat pada Tabel 3. Sedangkan korelasi sangat nyata yang bersifat negatif adalah kepadatan penduduk. Penentuan Variabel Dominan Pembentuk Tipologi Berdasarkan korelasi Spearman terdapat hubungan yang sangat nyata antara beberapa variabel terhadap keberadaan luas hutan rakyat di suatu desa. 2006) sebagai berikut : Tabel (Table) 3. tetapi juga menghitung jumlah desa yang dikelaskan pada tipologi tidak tepat masuk dalam kelas acuan. Dari 9 peubah tersebut yang memiliki nilai tiga terbesar korelasinya adalah rasio kelerengan lahan.111 * -. 2006) sebagai berikut : Keterangan (Remarks) : K = Akurasi Kappa (Kappa Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antara hasil tipologi dan kelas variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.050 -.225** Jarak Jalan (Distance to main road) .234** .000 .276** -.139* -.05 (Correlated at 0.565** .447** 1.426** .932** .529** -. sosial ekonomi.441** .167** .225** -.234** .320** -. jarak ke hutan.441** -.297** -.139* -.433** .380** .127* Keterangan (Remarks): ** Berkorelasi nyata pada level 0.496** -.058 .367** -.426** Kepadatan Penduduk (Population density) -. N = Total area verifikasi.000 -.216** -.145** -.072 -. dan kerapatan jalan.045 .565** 1. Keterangan (Remarks) : OA = Nilai akurasi rata-rata umum (Overall Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antar kelompok atau kelompok variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.168 standar adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan data luas hutan rakyat.01 level) * Berkorelasi nyata pada level 0. umur produktif.050 .215** -.382** .000 -.000 -.000 -.245** -.145** 1.453** .320** -.208** .496** .198** .197** .208** Umur Produktif (Productive age population) -. X+1 = Luas kolom dalam baris ke-i X1+ = Luasan dalam kolom ke-j N = Total area verifikasi III.233** -.099 -.154** Rumah Permanenen (Permanent home) -.101 -.3.000 -. Juli 2011.108* -.167** -.072 1.045 .000 .264** .486** 1. Korelasi sangat nyata yang bersifat positif saling menguatkan adalah : rasio penggunaan lahan bukan sawah (non sawah).382** .197** -.000 .111 * -.058 KerapatnJ alan (Road density) Luas Hutan Rakyat (Private forest area) Kepadatan Pendudu (population density) Rumah Permanen (Permanent home) Umur Prod uktif (Productive age population) Non Swh (Non rice field) Kelerengan lahan(Land slope) Jarak hutan (Distance to state forest area) Jarak Jalan (Distance to main road) KmampuanLahan (Land capacity) Kerapatan J alan (Road density) -.099 -.277** Jarak Hutan (Distance to state forest area) -. Sedangkan yang tidak berkorelasi adalah jarak desa ke jalan besar terdekat.01 (Correlated at 0.178** Non Sawah (Non rice field) .198** . Dari confusion matrix dapat menghitung akurasi rata-rata umum (overall accuracy) dan akurasi kappa accuracy. Akurasi kappa pada umumnya mempunyai nilai akurasi lebih kecil dari akurasi rata-rata umum karena pada akurasi kappa dihitung tidak hanya berdasarkan jumlah desa yang dikelaskan masuk secara benar pada kelas acuan.05 level) 160 . dan rasio lahan bukan sawah. Akurasi kappa dihitung menggunakan rumus (Jaya.072 -.101 . kerapatan jalan.357** 1.265** Kelerengan lahan (Land slope) .8 No.447** -.233** . Korelasi antar variabel biofisik.367** .932** -.216** -.266** -.215** .265** -. pendapatan penduduk.

Hal ini disebabkan timbulnya hutan rakyat pada kondisi lahan marginal yang tidak memiliki banyak alternatif kegiatan pertanian yang lebih produktif. sehingga semakin padat penduduk kemungkinan besar jumlah umur produktif juga ikut bertambah di suatu wilayah desa. h.Hardjanto. b. Kemampuan lahan Berdasarkan pengalaman sejarah dimulainya hutan rakyat karena gerakan penghijauan pada daerah-daerah kritis (Hardjanto 2003).Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Rasio kelerengan lahan Variabel ini memiliki korelasi tertinggi diantara variabel lainnya. Kerapatan jalan berhubungan dengan kemajuan transportasi di suatu wilayah desa. f. Lahan ini dalam pendataan statistik disebut dengan lahan pertanian non sawah. Hutan rakyat merupakan alternatif berikutnya ketika lahan tidak memungkinkan untuk ditanam tanaman pertanian atau budidaya lain yang lebih cepat menghasilkan. Endang Suhendang. c. I Nengah Surati Jaya. Semakin dekat areal hutan negara dengan suatu desa. maka umumnya semakin besar potensi hutan rakyat. Semakin maju desa memungkinkan banyaknya alternatif penggunaan lahan lain yang lebih produktif. Kepadatan Penduduk Merupakan variabel yang berhubungan negatif dengan luas hutan rakyat. Wilayah yang tidak memperoleh pengairan untuk sawah berada di wilayah-wilayah atas (upland areas) yang tentunya memiliki topografi lebih curam. Hutan rakyat umumnya banyak ditemukan pada kondisi desa yang memiliki rata-rata pendapatan yang rendah. Rasio rumah permanen Keberadaaan rumah permanen dalam penelitian ini diasumsikan dengan pendapatan penduduk. Ini menenjukkan bahwa variabel rasio non sawah bisa menjadi penanda untuk menduga potensi pengembangan hutan rakyat di suatu desa atau wilayah. Sehingga hubungan korelasi antara rasio umur produktif dengan luas hutan rakyat bersifat negatif. Kondisi ini diduga karena Variabel biofisik dan budaya. Kerapatan Jalan Variabel ini berkorelasi dominan kedua setelah rasio kelerengan lahan terhadap keberadaan hutan rakyat di suatu desa. Hutan rakyat umumnya ditemukan pada wilayah berpenduduk rendah. Ini menunjukkan bahwa hutan rakyat dominan berada di wilayah yang tidak datar. Hubungan antar pendapatan penduduk dengan potensi keberadaan hutan rakyat di suatu desa berkorelasi negatif. Ketika desa memiliki kerapatan jalan yang besar cenderung memiliki hutan rakyat yang sedikit. e. yakni berada di wilayah landai sampai curam. Jarak ke Hutan Negara Keberadaan hutan negara di dalam atau sekitar desa ternyata berpengaruh dengan keberadaaan hutan rakyat. dan Herry Purnomo Penjelasan lebih terperinci mengenai kondisi antara variabel-variabel tersebut sebagai berikut: a. kerena semakin sedikit penduduk berpeluang areal digunakan dengan penggunaan lain selain pemukiman seperti perkebunan dan lainnya. Rasio Umur Produktif Pengelolaan hutan rakyat tidak seintensif pengelolaaan pertanian dan perkebunan. Kepadatan penduduk juga berkorelasi positif dengan variabel rasio umur produktif. menyatakan umumnya lokasi hutan rakyat berada di wilayah areal lahan kering daerah atas ( upland areas ). Hasil korelasi dengan luas hutan rakyat menunjukkan adanya korelasi negatif berarti hutan rakyat memang cenderung berkembang pada wilayah-wilayah dengan kemampuan lahan yang rendah. banyak penduduk desa yang berada dalam usia produktif bekerja di kota. Sehingga ketika terjadi urbanisasi yang besar. Secara logis hal ini tentu demikian. di sinilah hutan rakyat berkembang. Semakin luas penggunaan lahan pertanian non sawah berarti semakin besar pula potensi pengembangan hutan rakyatnya. Daerah tersebut merupakan daerah pertanian non sawah. Sehingga sekarang diduga tumbuhnya hutan rakyat dominan di wilayah-wilayah tidak subur. Dari hasil korelasi menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan positif dengan keberadaan hutan rakyat dan sangat nyata hubungannya. d. Kondisi ini mendorong pemilihan menanam kayukayuan dibanding dengan pertanian intensif. g. Wilayah hutan negara di Kabupaten Ciamis umumnya berada di lokasi topografi curam di daerah-daerah pegunung- 161 . Rasio Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non sawah) Berdasarkan penelitian Suharjito (2000). yang biasa disebut dengan tegalan atau kebun. Akhirnya kebanyakan penduduk yang tinggal di desa adalah orang-orang usia lanjut.

mahoni.074 -0.341 1. Nilai analisis komponen utama variabel (Value of principal component analysis) No 1.450 -0.725 -0.199 0. sedangkan wilayah jauh dari jalan besar sebaiknya.491 0.114 0.293 PC3 0.281 -0. dan bahkan terlibat dalam ke-giatan pemanenan sebagai buruh tebang. Ditambah dengan seringkali penyebaran bibit secara alam dari hutan negara ke lahan milik melalui angin dan binatang-binatang hutan. kemungkinan setiap lokasi memiliki keuntungan yang seimbang terhadap perkembangan hutan rakyat.301 0.128 0.168 0.325 -0. Jarak ke jalan Analisis korelasi jarak terdekat antar batas desa ke jalan besar (jalan kolektor) ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap kondisi hutan rakyat di suatu desa dibanding variabel lainnya.713 -0.100 0. 155 . Memperhatikan kondisi biofisik tersebut.069 0.333 0.068 -0.340 0.157 0. diduga karena berdekatan dengan hutan sejak dulu.084 -0. Sehingga tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang biasa ada di hutan negara seperti jati.106 0.407 0. dan pinus di lahan milik pribadi petani.000 162 . maka petani sudah terbiasa dengan cara-cara menanam.340 0. Berdasarkan analisis komponen utama (PCA) yaitu variabel-variabel yang berhubungan nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.443 7.070 0.479 0. 0. memelihara.212 PC4 0.331 0. Wilayah dekat jalan besar memiliki keuntungan biaya pengangkutan menjadi murah tetapi tentu harga tanah yang lebih mahal.466 0.819 -0.951 -0.062 0.049 1.661 -0.441 0.603 0.055 -0.337 0.295 0.323 0.056 -0.7.185 0.668 PC8 0. Tabel (Table) 4 .5602 0. sedangkan dipandang dari sudut budaya.056 -0.600 -0.520 0.168 an dengan kondisi assesibilitas yang sulit.284 0.371 PC2 0.056 0. i.4969 0.457 -0. 8. 3. Untuk mengetahui berapa banyak komponen utama (KU) yang diambil.3.156 -0.8463 0. maka dapat dilihat dari nilai kumulatif proporsi lebih dari 70% dan nilai akar ciri lebih besar dari 0.113 0.115 -0.001 -0. 2.165 0.185 0.146 0. hanya satu variabel yaitu jarak ke jalan besar yang tidak signifikan berkorelasi nyata.627 -0.889 -0.523 0. Dengan demikian kebiasaan ini dapat tertular di lahan milik pribadi mereka. Juli 2011. Dari hasil korelasi pada Tabel 3 diketahui bahwa dari 9 variabel yang dianalisis. Sebagai penggarap di areal tumpangsari PT Perhutani.8 No.301 0.904 0.107 PC5 -0.164 1.264 4 5.715 -0. Ketika variabel ini tidak nyata berpengaruh terhadap luas hutan rakyat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 0. Sehingga untuk analisis komponen utama dimasukkan 8 variabel pendukung. maka alternatif penggunaan lahan untuk penanaman tidak banyak dengan demikian menanam kayu yang bersifat tidak intensif menjadi pilihan.223 0.018 0.3929 0.582 0.133 PC6 0.083 PC7 -0.475 0. Variabel (Variables) Kepadatan Penduduk (Population density) Rumah permanen (Permanent home) Umur Produktif (Productive age population) Non Sawah (Non rice field) Kelerengan lahan (Land slope) Jarak ke hutan (Distance to state forest area ) Kemampuan Lahan (Land capacity) Kerapatan Jalan (Road density) Akar ciri (eigenvalue) Proporsi (proportion ) Kumulatif Proporsi (Proportion cumulative) PC1 0.033 0.377 2. 6.669 -0.134 0. maka masyarakat sekitar hutan sudah terbiasa dengan pengelolaan hutan dan malah juga terlibat langsung sebagai penggarap jika hutan tersebut hutan produksi.389 0.108 0. Jalan besar merupakan jalur transportasi pengangkutan kayu ke luar wilayah.523 0.149 -0.080 -0. sehingga dari delapan komponen utama yang dihasilkan dapat dipotong sampai KU empat saja karena sudah cukup mewakili proporsi keragaman.338 -0.

. Dimana menujukkan kemampuan lahan yang tinggi. yaitu dari penggunaan 8 variabel sampai 2 variabel ditambah dengan penggunaan data analisis komponen utama (AKU) dapat dilihat pada Tabel 5. kecuali satu yang menggunakan desain PC123 dengan 4 Kelompok. yaitu yang menggunakan desain 2 variabel. Jumlah tipologi Hasil klustering dengan menggunakan semua alternatif variabel yang bisa diterapkan. Sedangkan untuk 3 kelompok dan 2 kelompok terdapat 4 desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang efisien. Nilai ini menunjukkan dominan kelerengan lahan yang datar dengan kegiatan non persawahan yang rendah. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari variabel dominan yang membentuk komponen utamanya sebagai berikut : . dan Herry Purnomo Berdasarkan analisis komponen utama yang menggunakan 4 KU pada Tabel 4 dapat diketahui empat karakteristik desa di Kabupaten Ciamis yang didekati dari 8 Variabel.Wilayah Pc3 merupakan indeks rumah permanen dan kepadatan penduduk yang merupakan variabel sosial ekonomi.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Pembentukan Tipologi 1.Pada wilayah PC4 merupakan indeks jarak desa ke kawasan hutan negara. Dimana menujukkan nilai tinggi pada jarak yang ke kawasan hutan B. I Nengah Surati Jaya. Banyaknya anggota setiap desain dan kelompok (Number of villages each design and cluster) JUMLAH ANGGOTA TIAP KELOMPOK (Number of villages of each cluster) 7 6 5 4 3 Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel 8 Desain Variabel Jmh Variabel 5 Kelompok (5 clusters) 1 183 2 86 3 62 4 2 5 3 4 Kelompok (4 clusters) 1 185 2 60 3 86 4 5 3 Kelompok (3 clusters) 1 228 2 103 3 5 2 Kelompok (2 clusters) 1 239 2 97 2 Variabel PC1234 PC123 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 161 124 45 5 1 161 124 45 5 1 176 68 53 43 5 149 72 70 40 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 171 115 44 6 171 115 44 6 185 86 60 5 153 85 61 37 228 103 5 228 103 5 228 103 5 228 103 5 202 99 35 202 99 35 196 80 60 195 78 63 239 97 239 97 239 97 239 97 249 87 249 87 235 101 234 102 163 .Pada PC1 menggambarkan indeks kelerengan lahan dan non sawah. Tabel (Table) 5. Tabel 5 dapat diketahui bahwa penggunaan 5 kelompok dan 4 kelompok menghasilkan jumlah tipologi yang kurang efisien karena jumlah anggota sangat kecil dibawah 10 desa. 4 variabel.Pada Pc2 merupakan indeks kondisi kemampuan lahan. .Hardjanto. dan Pc123. PC1234. Endang Suhendang. .

Daftar desain terpilih tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Jumlah desa setiap kelompok terpilih (Number of villages for each selected cluster) Desain Jumlah Variabel (Number of variables Design) 2 Variabel – 2 Kelp Kelompok 1 (cluster 1) 249 202 239 235 196 153 195 234 Jumlah Desa (Number of Villages ) Kelompok 2 Kelompok 3 (cluster 2) (cluster 3) 87 99 97 101 80 85 78 102 53 60 61 63 - Kelompok 4 (cluster 4) 37 - 2 Variabel – 3 Kelp 4 Variabel – 2 Kelp PC1234 . Dimana yang dianggap baik jika ragam dalam kelompok kecil dan ragam antar kelompok besar. Dibandingkan dengan standar/acuan pengelompokan yang sudah dibuat.3 Kelp PC1234 . Uji ragam terhadap luas hutan rakyat dilakukan melalui uji dalam kelompok dan antar kelompok. Dalam rangka menentukan desain yang teruji dengan baik dari ke delapan desain lewat dua uji ragam tersebut. Sedangkan untuk uji ragam antar kelompok pada Gambar 2b. (Comparison of whitin cluster and inter cluster variant) 164 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. maka dilakukan pengurangan antara uji ragam antar kelompok dengan uji ragam dalam kelompok. maka dapat diukur berapa besar akurasinya. Desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang sama maka dipilih yang paling sederhana. dan 8.3 Kelp PC1234 . ragam yang terbesar adalah desain ke 2. nilai selisih terbesar adalah yang memiliki nilai uji yang baik. Hasil tipologi terpilih dilakukan pengujian dengan uji ragam dan evaluasi akurasi menggunakan prinsip matrik kesalahan (confusion matrix). Perbandingan Ragam dalam Kelompok dengan Ragam Antar Kelompok. Dapat terlihat grafik pada Gambar 2 menunjukkan kedua uji tersebut. 2. 7. hanya 8 desain jumlah variabel yang dapat diterapkan selanjutnya. Juli 2011.2 Kelp PC1234 . Pada Tabel 7 diketahui selisih terbesar uji ini adalah pada desain jumlah 2 variabel dengan tiga kelompok.168 Tabel (Table) 6.4 Kelp PC1234 . 155 . Pengujian Hasil Tipologi Hasil tipologi yang telah terbentuk dengan berbagai desain peubah diuji ketepatannya untuk menduga luas rakyat setiap desa.3. Pada Gambar 2a dapat dilihat bahwa uji ragam antar kelompok desain 1 sampai 4 relatif memiliki ragam dalam kelompok yang kecil dibanding desain 5 sampai 8.8 No.2 Kelp Semua desain yang telah dicoba (Tabel 5). selanjutnya desain 2 variabel dengan Keterangan (Remarks) : Gambar (Figure ) 2. 5.

PC1234-2 kelompok 63. Nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa (Value of overall accuracy and Kappa accuracy) No.98 0 4 13171. Diperoleh nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa terbesar terdapat pada perlakuan desain PC1234 dengan 2 kelompok dengan nilai masing-masing 64% dan 27%.3 kelompok 40.476 14.47 3 1 14097.44 4 10967.75 7 2 10971. Berdasarkan variabel yang digunakan maka.271 8 PC123.393 26.932 6 PC123-2 kelompok 50. 4 Variabel-2 kelompok 60.988 27.3 kelompok 46. dan yang ketiga desain dengan mengunakan analisis komponen utama dengan 4 KU yang membagi 2 kelompok.301 19384.338 5 22740. Dengan menggunakan peubah yang sudah melalui AKU dapat menghilangkan multikolinieritas tersebut.Hardjanto. delapan desain yang dianalisis tiga desain menggunakan peubah asli sedangkan lima desain sudah menggunakan peubah PC yang diubah melalui analisis komponen utama (AKU).482 3.015 165 .650 7 PC123. Endang Suhendang.083 6.132 8 Tabel (Table) 8.846 6.179 13. Ragam rata-rata antar kelompok dan dalam kelompok (Average variety of inter and within clusters) Desain Jumlah Variabel (Design of number of variables) Ragam Rata-Rata (Average variant) Antar Kelompok (Betweencluster) (A) Dalam Kelompok (Within cluster) (B) Selisih (differen-ce) (A-B) Rangking 2 Variabel -2 Kelp PC1234 3 Kelp PC123 – 2 Kelp PC123 – 3 Kelp PC123 4Kelp 2 Variabel -3 Kelp 4 Variabel -2 Kelp PC1234 2 Kelp 1.072 20972. menyatakan batas kolinieritas tersebut masih dapat ditolerir untuk nilai korelasi dibawah 0.196 1.706 6 22500.55 20968. Desain jumlah Variabel Akurasi (Accuracy) ( number of variables design) Rata-Rata Umum Kappa (Overall) (Kappa) 1. Desain kedua yang terbaik adalah 2 variabel dengan 2 kelompok dengan nilai akuarasi umum sebesar 63% dan akurasi Kappa sebesar 26%. Tabel (Table ) 7.59 0 13170.595 1.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Metode gerombol (clustering analysis) menggunakan asumsi tidak ada multikolinieritas antar peubah yang digunakan.963 0.633 5 PC1234-3 kelompok 40.24 3 12796. 2 Variabel-2 kelompok 63.632 12798.714 21. dan Herry Purnomo 2 kelompok.4 kelompok 27.485 3.940 3. 2 Variabel . Ini menandakan bahwa desain tersebut yang paling akurat dalam menduga kelompok desa berdasarkan luas hutan rakyat.363 2.55 22493.5.971 1. I Nengah Surati Jaya.026 4. Pada Tabel 8 dapat diketahui hasil evaluasi akurasi pada kedelapan desain terpilih.920 7 -22739.17 6 14095.05 7 3 19388.429 17.532 3. Tetapi menurut Santoso (2010).

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Diharapkan dengan memiliki luas hutan rakyat yang besar merupakan salah suatu peluang untuk mencapai pengelolaan hutan rakyat yang menguntungkan dan efisien. (a) Pc1234. Karakteristik dan Arah Pengembangan Tipologi Pada proses akurasi terdapat dua desain yang memiliki akurasi yang baik. (b) 2 variabel-2 kelompok Pengelompokan berdasarkan desain (a) PC1234 dan (b) 2 variabel (Grouping based on design (a) PC1234 and (b) 2 variable) ketika wilayah yang akan digabungkan berdekatan secara spasial. Sedangkan berdasarkan desain 2 variabel menduga sebanyak 74% wilayah Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang memiliki potensi pengembangan yang besar.168 3.3. Tipologi Wilayah Karakteristik dan arah pengembangan setiap tipologi (Characteristics and direction of development of each typology) Karakteristik (Characteristic) Arah Pengembangan (Development direction) Jumlah Desa (Village numbe) Desain Desain 2 PC1234 Variabel 101 87 I Merupakan wilayah-wilayah desa dimana penggunaan lahannya tidak didominasi hutan rakyat. Untuk membentuk satu unit pengelolaan lebih mudah Tabel (Table ) 9.2 kelompok Gambar (Figure) 3. Potensi pengem-bangan hutan rakyat disini dilihat dari besarnya luasan hutan rakyat di dalam suatu desa. Berdasarkan desain PC1234 terlihat dugaan wilayah Kabupaten Ciamis memiliki 70% daerah yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang besar. Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa sebaran yang dihasilkan dengan desain PC1234 terlihat lebih kompak dan sehamparan dibanding sebaran yang dihasilkan desain 2 variabel. Terdapat kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan untuk berkembangnya hutan rakyat Pengembangan lebih mengarah ke bidang di luar hutan rakyat. yaitu desain dengan mengunakan PC1234 dengan nilai akurasi sebesar 64% dan desain dengan 2 variabel (rasio kelerengan dan kerapatan jalan) dengan nilai akurasi sebesar 63%. Juli 2011. Sebaran pengelom-pokan desa berdasarkan desain tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Tetapi jika unit pengelolaan tersebut berupa desa tentunya dapat berdiri sendiri secara individual ketika potensinya besar .8 No. Bila tetap bertahan untuk kegiatan hutan rakyat sebaiknya perlu penggabungan wilayah yang lebih besar untuk menjadikan 166 . 155 .

Hardjanto. IV.A. Perlu penanganan yang lebih profesional untuk mengelola potensi hutan rakyat dari berbagai pihak. Yogyakarta.B Wiyono. dan rasio penggunaan lahan bukan sawah. W.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. kepadatan penduduk. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. Desain metode yang digunakan menggunakan desain 4 komponen utama (Pc1234). Faktor-faktor biofisik dan ditambah dengan sosial ekonominya mendukung untuk berkembangnya pengelolaaan hutan rakyat di wilayah ini. Tipologi yang terbentuk ada dua. dan Herry Purnomo Tabel (Table) 9. Merupakan wilayah-wilayah desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang besar.A. dan lainnya. 1989. S. kemampuan lahan. Jumlah desa berpotensi tinggi hasil dugaan desain penelitian ini lebih besar dari nilai acuan sebenarnya. Kelima variabel lainnya berurutan berdasarkan besarnya korelasi dengan luas hutan rakyat adalah jarak ke hutan negara. yaitu tipologi wilayah yang berpotensi untuk berkembangnya hutan rakyat dan wilayah yang tidak berpotensi berkembang hutan rakyat. 2001. 2007. Jumlah Desa (Village numbe) Desain PC1234 Desain 2 Variabel II 235 249 Desa yang dianggap berpotensi tinggi adalah yang mempunyai nilai lebih besar dari rata-rata luas hutan rakyat di Ciamis. salah satunya karena secara fakta kondisi biofisik dan sosial ekonomi mendukung untuk berkembangnya hutan rakyat. Perlu dibentuk wadah / unit pengelolaan hutan rakyat agar terjadi sistem yang menjamin kelestarian. Agar perencanaan pengelolaan yang diterapkan dapat mewakili karakteristik masing-masing wilayahnya. S. Kesimpulan 1. Awang. Selain itu desain kedua yang teruji adalah menggunakan desain 2 variabel. KESIMPULAN DAN SARAN A. S. kelompok tani. dan S. Arah Pengembangan (Development direction) suatu unit pengelolaan yang lestari. Kustomo. Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perbedaaan ini. E. Konservasi Tanah dan Air. Y Nugroho. cengkeh.T Widayanti. maka disarankan untuk menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah perlu pertimbangkan variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan potensi hutan rakyat seperti di penelitian ini. 2. pemerintah. rasio umur produktif. lembaga masyarakat dan lainnya. Sadiyo. Gurat Hutan Rakyat. Sapardiono. dan rasio rumah permanen. B. yaitu berkisar 58 Ha setiap desa. IPB. tiga variabel terbesar adalah rasio kelerengan lahan. yaitu akurasi ratarata umum sebesar 64%. Awang. yaitu rasio kelerengan lahan dan kerapatan jalan dengan akurasi rata-rata 63%. I Nengah Surati Jaya. tetapi saat ini bisa jadi yang berkembang adalah tanaman non kehutananan seperti kelapa. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses 167 . kerapatan jalan. Terdapat delapan variabel yang berkorelasi nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. Debut Press. Hasil pengujian memiliki keragaman dalam kelompok dan antar kelompok yang baik dan nilai akurasi yang lebih besar dari yang lain. baik petani. Lanjutan (Continued) Tipologi Wilayah Karakteristik (Characteristic) secara biofisik ditambah aspek sosial ekonomi. V. Bogor. H Santosa. Endang Suhendang.

Mindawati. USA . Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa [disertasi]. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Goldstein. Haeruman. R. Hardjanto. Rahmadia. Management and Policy.S. 1991.S. Bliss.3. Institut Pertanian Bogor. and T. Rustaman.C. J. 2006..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2003. and Social Values.8 No.S. Herbohn. 1(1): 1-11. Bogor. 2006. Howard.168 Konstruksi Pengetahuan Lokal. PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. Bogor : Program Pascasarjana. Sustaining Family Forest in Rural Landscapes: Rationale. Inc.. A. Studi Kemungkinan Pengembangan Konservasi Lahan melalui Hutan Rakyat. Smallholder. Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa. 2000. 2002. 2(1): 1-8. Tesis. Niskanen. Bettinger. Suhendang. 168 . John Wiley & Sons. McGrawHill Companies. Banyumili Art Network bekerjasama dengan Pusat Kajian Hutan Rakyat. Multivariate Analysis. Small-scale Forest Economics. 2003. dan B. Harrison. D. Hardjanto. Statistik Multivariat. 2010. Badan Penelitian dan PengembanganKehutanan. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Kehutanan UGM. Review Hasil Penelitian : Hutan Rakyat.N. Konsep dan aplikasi dengan SPSS. Santoso. Analisis Citra Digital : Perspektif Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam.N . Yogyakarta. Davis. New York. dan E. Economic. H. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Juli 2011.E. S. Jaya. Management and Policy. Bogor. Non Industrial. Dillon. Abidin. K. Fourth Edition. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.. Small-scale and Family Forestry : What's in a Name? Small-scale Forest Economic. Method and Applications. S. 2003. 2001. P. dan A. N. Chalenges. 2003.R dan M. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisisr Kota Bandar Lampung. W. New York. J. Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat Fakultas Kehutanan IPB. Forest Management : To Sustain Ecological.Johnson. 1984. Bogor. L.Widiarti. Jakarta Suharjito. and an Illustration from Oregon. I. E. 155 .

The coordination among the involved organizations is considered ineffectual.or. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. Cibinong 16911 HP: +62816731777. Raya Jakarta-Bogor KM 46. Bambang H. Fakultas Kehutanan. Riau demonstrates a better situation than West Kalimantan in the coordination. The study thus provides evidence that the coordination among the organizations involved in forest/land fire control has been inadequate so that management of forest/land fires is still ineffective. Saharjo . di mana 169 . administrative and planning is employed. dan/and Priyadi Kardono4) 1) 2) 3) Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan. Naskah diterima : 7 Juni 2011 1) ABSTRACT Forest/land fire is one of the main causes of global climate change. provinsi dan kabupaten/kota. While in West Kalimantan such relationships present in only among a few organizations at the same level and absent in between levels. e-mail: bhsaharjo@gmail. Hadi S. IPB. This research aims at finding empirical evidences to prove the opinion. Bogor. While at provincial and district levels. e-mail: priyadi. although the coordination in the research sites is still insubstantial.com 4) Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Bakosurtanal. The relationships among Riau's organizations at each of the provincial and district levels and vertically between those levels as well as with the national one have been existent. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. Alikodra . Gatot Subroto. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. administratif. Keywords: Coordination. e-mail: erlyskm@yahoo.kardono@gmail. An analysis method using the three aspects of integrative coordination including service delivery. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. Bogor. Jl. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah.HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Study on Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia Erly Sukrismanto . Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 13. and district levels indicate that a relatively good coordination has been existent among the national level organizations. Fakultas Kehutanan. HP: +6281210494949. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. HP: +62818161166.com Naskah masuk : 3 Januari 2011.id 3) Departemen Silvikultur. Jakarta 10270. HP: +628161948064. IPB. fire control organization. Until recently the management of forest/land fire control in Indonesia is still ineffective due among others to the weakness of its fire control organization system. Jl. The results of study on 42 organizations at national. The difference in the basis of departmentation seems to be the reason. institution ABSTRAK Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global.com 2) Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. provincial. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. e-mail: halikodra@wwf.

dan panas) yang berlimpah (Chandrasekharan. 2001. 2005). melainkan juga berkaitan dengan sosial politik (Doscemascolo. PENDAHULUAN Kebakaran hutan/lahan di Indonesia berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek. B. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa belum efektifnya organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan dalam menangani kebakaran hutan/lahan dan faktor-faktor penyebabnya selama ini. baik di tingkat nasional. 1999. institusi I. 1982. 170 . sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. sementara peran masing-masing organisasi/institusi pengendalian kebakaran kurang mendapat perhatian. sosial. Teknik Pengambilan Contoh Hasil identifikasi mendapati sebanyak 42 organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan dari semua tingkatan. baik pada satu level maupun antar level pemerintahan. Malone et al. Tulisan ini menguraikan hasil studi terhadap faktor kedua. 2004) dan kelembagaan pengendalian kebakarannya (Simorangkir. Kelemahan pengorganisasian dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain (1) belum jelasnya peranan dalam pengorganisasian (Wehmeyer et al.. Data besarnya jumlah akumulasi titik panas (hotspot) merupakan indikator tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan/lahan (Hiroki dan Prabowo. Mulford dan Klonglan..3 milyar atau Rp 5. 2008). dan di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu. Hubungan dalam pengorganisasian kebakaran hutan/lahan di Indonesia adalah kerja sama dalam bentuk koordinasi. 2008). Bappenas (1999) mencatat kerugian akibat dari kebakaran hutan/lahan tahun 1997-1998 sekitar US$ 9. Pelibatan di antara pihak-pihak tersebut memerlukan suatu sistem pengorganisasian yang bekerja secara integratif dan harmonis agar efektif dan efisien (Siswanto. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap organisasi-organisasi di tingkat nasional di Jakarta dan sekitarnya. dan politik. Provinsi Riau dan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya. 1999).177 koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. maupun kabupaten/kota. 2009).96 trilyun yang setara dengan 70% dari nilai PDB sektor Kehutanan tahun 1997. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010. Suprayitno dan Syaufina. METODE PENELITIAN A. 2001. Colman dan Han. Berbagai studi menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan/lahan di Indonesia tidak hanya bersifat teknis yang berkaitan dengan penyebab fisik di lapangan yang berkaitan dengan ketersediaan unsur-unsur segitiga api (bahan bakar. 2001. Wehmeyer et al. pengendalian kebakaran. 2003. 2001) dan (3) belum efektifnya organisasi yang terlibat (Young Lee dan Whitford. Kata kunci : Koordinasi. (2) belum optimalnya hubungan antara organisasi-organisasi yang terlibat (Mulford dan Klonglan...8 No. Kartodihardjo. atau perseteruan (Mooi. di tingkat provinsi di Riau dan Kalimantan Barat. Faerman et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat keharmonisan hubungan antar para pihak atau institusi dalam upaya merancang model sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia. II. jauh di atas emisi dari sektor energi yang hanya sekitar 275 metrik ton. 1994.3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. yakni hubungan antar organisasi. Juli 2011. 2006). 169 . Provinsi Kalimantan Barat. Organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan banyak instansi atau organisasi pemerintah. kompetisi. Hubungan antar organisasi dapat berupa kerja sama. Selama 10 tahun terakhir jumlah rata-rata titik panas per tahun masih di atas 50 ribu titik. Kajian terhadap aspek sosial politik dan kelembagaan lebih banyak menyoroti lemahnya aturan main dalam pelaksanaan serta penegakan sanksi. provinsi. 2007. baik ekologi dan lingkungan maupun ekonomi. oksigen. 1982). Bolland dan Wilson. DFID dan World Bank (2007) menyatakan bahwa kebakaran hutan/lahan di Idonesia telah melepaskan sekitar 1400 metrik ton karbon dioksida per tahun.

84 pejabat eselon III. Kondisi serupa juga terjadi di Kalbar. Administratif. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan adalah Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutlada). Jika sedikitnya satu orang dari organisasi tersebut mengenal sedikitnya satu orang dari organisasi lain. C. Dishut Provinsi Riau yang dalam struktur Pusdalkarhutla memegang peranan penting sebagai koordinator bidang pemadaman justru tidak memiliki hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi dari manapun kecuali dari Dishutbun Kab. Analisis ini adalah untuk memperoleh sebuah ukuran dari bantuan layanan yang terkonfirmasi. Data sekunder diperoleh dari tiap organisasi yang diamati berupa dokumen profil organisasi yang berkenaan dengan hubungan dan kerja sama organisasi tersebut dengan organisasiorganisasi lain dan data keterlibatannya dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. Bantuan Layanan Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi yang saling berhubungan di dalam memberikan bantuan layanan di tingkat nasional hanya 9 organisasi dari 22 organisasi yang terbentuk. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Analisis ini menggunakan kombinasi jawaban responden atas pertanyaan apakah organisasinya (a) memberi bantuan layanan kepada dan/atau (b) menerima bantuan layanan dari organisasi lain. Alikodra. Pertanyaan angket tersebut berupa: (1) Client referrals (rujukan klien) yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara institusi dalam memberikan dan menerima bantuan layanan. III. Di tingkat provinsi. 2. Analisis ini menggunakan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh mana organisasi lain telah membantu organisasi responden dalam mencapai tujuan. dan (3) Perkenalan untuk mengetahui hubungan daari aspek perencanaan. (2) Hubungan administrasi yang melibatkan transaksi sumber daya dianalogikan dengan bantuan organisasi lain dalam mencapai tujuan. Jumlah responden adalah 282 orang terdiri dari 42 pejabat eselon II. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya frekuensi kebakaran hutan/lahan di daerah tersebut seperti digambarkan oleh jumlah akumulasi titik panas 171 . Bambang H. bahkan di daerah tersebut tidak ada satupun hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi di antara organisasi-organisasi di tingkat provinsi dan juga di tingkat kabupaten/ kota serta antar tingkatan. Data primer berupa pendapat responden yang merupakan parameter yang dapat menunjukkan persepsi para pimpinan organisasi/instansi mengenai hubungan antara organisasinya dengan organisasi-organisasi lain. Ada dua institusi yang memiliki hubungan layanan terkonfirmasi terbanyak yaitu LAPAN dan Bakosurtanal seperti terlihat pada Gambar 2. padahal dengan kapasitas organisasi yang masih lemah. 1994) sebagai berikut: 1. Kedua organisasi tersebut lebih banyak memberikan layanan dalam bentuk informasi. Pengolahan dan analisis data menggunakan prosedur yang diadopsi dari coordination network analysis (Bolland dan Wilson. Kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi oleh Dishut Provinsi Riau dalam menggalang bantuan dari berbagai pihak. Bantuan Layanan. hubungan dalam aspek bantuan layanan masih relatif terbatas. Planning. dan Priyadi Kardono Pengambilan contoh dilakukan secara purposif di mana responden yang dipilih terdiri dari para pejabat di tingkat eselon IV sampai dengan eselon II yang sering ditugasi atau bidang tugasnya berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan/lahan pada setiap organisasi tersebut. Salah satu di antara contoh matrik hubungan bantuan layanan di antara organisasi tertera pada Gambar 1. maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara kedua organisasi tersebut. namun bantuan yang diberikan atau diterima tidak terkonfirmasi oleh organisasi lain. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Walaupun banyak organisasi yang saling berhubungan dalam aspek pelayanan. Analisis ini melihat kaitan antara orang-orang dari dua organisasi dengan cara meminta responden menuliskan nama orangorang yang ia kenal dari organisasi lain.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Hadi S. Pengumpulan danAnalisis Data Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. sedangkan di kabupaten/kota adalah Satuan Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satlakdalkarhutla). Inhu. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang diadopsi dan dimodifikasi dari Bolland dan Wilson (1994). upaya pemadaman masih sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. 3. Sebagai contoh. dan 156 pejabat eselon IV. Saharjo.

3. Kondisi tersebut membuat kinerja dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan selama ini relatif masih rendah di semua tingkatan. Malone et al. tetapi hubungan perbantuan layanan masih kurang.221 titik/tahun. Di Riau.897 titik. Lintan Dit. 0 = hubungan tidak terkonfirmasi (unconfirmed relation) 172 .8 No. Di samping itu. Linbun Asdep PKHL BNPB Bappenas BMKG Basarnas Bakosurtanal LAPAN Depdagri Deplu Depsos Depkes Dephub Depkeu Mabes TNI 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan (Remarks) : Angka 1 = hubungan terkonfirmasi (confirmed relation).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. sedangkan Kalbar sebanyak 9.. misalnya. tetapi yang terjadi justru organisasi-organisasi tersebut lebih mengandalkan bantuan sumber daya dari organisasi lain. Diagram hubungan antar organisasi dari aspek bantuan layanan di Riau (Inter-organizational relationships on the aspect of service delivery in Riau) Gambar (Figure) 1. Untuk itu. jumlah hotspot rata-rata per tahun selama 10 tahun terakhir masih 7.. 1999) harus diperjelas di dalam struktur dan uraian tugas organisasi yang akan dibangun.. 1982) dan concept of capability (Ulrich. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sistem pengorganisasian yang diterapkan dalam Pusdalkarhutla di mana departementasi didasarkan pada wilayah pemangkuan kawasan. Menurut konsep tersebut organisasi seharusnya lebih fokus membangun kapabilitasnya sendiri. Juli 2011. 2001. Hal ini terjadi karena peranan-peranan dalam koordinasi (Wehmeyer et al. Gambar (Figure) 2. penetapan tugas (Malone et al. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Organisasi Dit.177 (hotspot) yang masih relatif tinggi. Contoh sebagian matriks hubungan antar organisasi dalam bantuan layanan di tingkat nasional (A part of the matrix indicating the interorganizational relationships in service delivery at National level) No. 169 . 1999) belum terdefinisikan dengan jelas. PKH Dit. Sistem pengorganisasian yang ada saat ini mengandalkan keterlibatan banyak pihak. 1997) belum diterapkan dengan benar. konsep kerja sama (Mulford dan Klonglan.

Hal ini juga dapat menggambarkan fakta di mana sering terjadi organisasi di tingkat kabupaten/ kota berhubungan langsung dengan organisasi di tingkat nasional tanpa melalui organisasi di tingkat provinsi. dan Priyadi Kardono B. mengidentifikasi sumber daya untuk menjalankan tugas. Saharjo. Alikodra..Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. PKH Kementerian Kehutanan. Hal ini dapat memberikan jawaban mengenai masih rendahnya kinerja pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/ lahan sampai sekarang. Dit. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kehutanan yang selama ini dipandang sebagai penanggung jawab atau pengelola kebakaran hutan/lahan ternyata tidak memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi lain baik bantuan layanan maupun administratif. penetapan isu (agenda setting) 173 . Hadi S. organisasi-organisasi tersebut belum saling mendukung dalam pencapaian tujuan atau masih berjalan sendirisendiri. sedikitnya satu pimpinannya telah saling mengenal. Hasil analisis pada aspek ini melihat seberapa jauh organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan saling membantu dalam pencapaian tujuan. Pertama adalah menyepakati tujuan bersama. 1994). Di Riau. Hal ini berarti dari aspek pertukaran gagasan. Bambang H. sedangkan antara tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota serta di antara organisasi-organisasi di satu tingkatan tidak ada hubungan (Gambar 3). di Kalbar hubungan administratif terjadi hanya antara tingkat nasional dengan tingkat provinsi dan tingkat nasional dengan kabupaten/kota. kemudian membagi tugas. hubungan administratif dalam satu tingkatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota sudah lebih terjalin di Riau daripada di Kalbar. Hubungan administratif antar organisasi antar tingkatan di Kalimantan Barat (Relationships on administrative aspect among levels in West Kalimantan) C. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi yang merupakan pengelolaan saling ketergantungan (Malone et al. Di tingkat nasional. 1994). Dengan perkataan lain. Dishut Prov dan Dinas yang menangani kehutanan baik di Riau maupun di Kalbar ternyata tidak saling terhubungkan. 1999) dan transaksi sumber daya (Bolland dan Wilson. 1994) untuk mencapai tujuan belum terjalin. Di daerah. Kondisi demikian sebenarnya ditangani dengan melakukan aktivitas tambahan yang disebut coordination mechanisms (Malone dan Crowston. misalnya ketika terjadi kebakaran hutan/lahan atau bencana alam.PKH memiliki hubungan terbanyak dalam aspek tersebut. Gambar (Figure) 3. AsdepPKHL dan Dit. Sementara itu. dari 22 organisasi yang diamati terdapat 15 organisasi yang saling membantu dalam pencapaian tujuan. mengidentifikasi sumber daya yang harus dimiliki atau disediakan oleh organisasi mana. Administratif Hubungan administratif antar organisasi biasanya melibatkan transaksi sumber daya yang memungkinkan organisasi tersebut lebih efektif dalam mencapai tujuannya (Bolland dan Wilson. Kondisi tersebut menegaskan kembali pengaruh sistem pengorganisasian yang diterapkan di masing-masing daerah tersebut. organisasi-organisasi yang diamati telah memiliki hubungan administratif antar tingkatan mulai dari tingkat tingkat kabupaten/ kota sampai dengan tingkat nasional. dan prosedur mobilisasinya. Perencanaan Hasil analisis terhadap aspek perencanaan (planning/agenda setting) menunjukkan bahwa di tingkat nasional hampir seluruh organisasi yang diamati.

keterpaduan kebijakan atau policy integration (Meijers dan Stead. Di tingkat provinsi. para pimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kab. Menurut Janssen. rendahnya tingkat perkenalan di antara organisasi akan menimbulkan kurangnya komunikasi dan keterlibatan secara emosional yang pada dasarnya berdampak pada rendahnya produktivitas organisasi (Janssen. secara umum instansiinstansinya kurang saling mengenal. sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. belum secara eksplisit mengakomodasikan kepentingan pengendalian kebakaran hutan/ lahan. Provinsi Riau telah mengenal para pimpinan organisasi di tingkat provinsi maupun tingkat nasional (Gambar 4). 1994) di antara organisasiorganisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan masih relatif kurang erat. Di tingkat nasional belum terbentuk secara formal organisasi yang menangani pengendalian kebakaran hutan/lahan. sudah tidak berlaku lagi sejak era Reformasi.3. sehingga hanya beberapa SKPD yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai salah satu jabatan dalam strukturnya atau dalam kegiatannya.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Organisasi yang pernah ada. yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai jenis bencana. 3. Hubungan antar organisasi antar tingkat nasional. yang diindikasikan dengan lebih banyaknya pihak yang saling mengenal daripada yang terjadi di Kalbar. 33/2004 tidak dapat mengelola anggaran. Kab. dan kebakaran hutan/lahan belum menjadi masalah prioritas. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota. Anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan berada pada SKPD. 169 . 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana.177 maupun perencanaan telah terjadi hubungan yang relatif baik. tetapi pada setiap SKPD terjadi pembatasan jumlah jabatan yang mendorong penetapan prioritas masalah yang lebih tajam. Kota Dumai. Hubungan antar organisasi dalam perencanaan di Riau (Interorganizational relationships on planning aspect in Riau) Satu lagi hal penting dari kajian terhadap ketiga aspek tersebut di atas yaitu fakta bahwa ternyata tidak ada hubungan yang terjadi antar kabupaten/kota meskipun dalam satu provinsi. Inhu. Kubu Raya maupun Kab. provinsi dan kabupaten/kota di Riau juga relatif lebih baik daripada di Kalbar. Hal tersebut tidak terjadi di Kalbar. 2. Hasil analisis terhadap ketiga aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa koordinasi terpadu (Bolland dan Wilson. Juli 2011. Di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/ kota. Inhu. Ketapang.8 No. Pergantian pimpinan yang relatif cepat atau jangka waktunya pendek baik di dalam masing-masing organisasi maupun antar 174 . Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan Undang-undang No. 2004) juga sulit dibangun karena konsep keterpaduan dan “kemenyeluruhan” (comprehensiveness) belum menjadi acuan. hubungan para pihak di Riau relatif lebih baik. 2005). Meskipun hubungan berjalan satu arah. Gambar (Figure) 4. 2005). Kondisi demikian menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan belum optimal. Beberapa hal yang menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan adalah: 1. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan (Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutlada) tidak termasuk sebagai SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang menurut UU No. Di sisi lain. baik di Kab. 4. yakni Pusdalkarhutnas dan TKN-PKHL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan).

5. Alikodra. 91/2009 dan Pergub Kalbar No. Kondisi inilah yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan menjadi kurang optimal sehingga frekuensi kejadian kebakaran tetap relatif tinggi. sekalipun memiliki sumber daya yang mencukupi (Mulford dan Klonglan. namun masih lemah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. apalagi untuk digunakan berbagi dengan instansi-instansi lain. hanya beberapa instansi anggota yang memiliki anggaran untuk kebakaran hutan/lahan dalam jumlah yang relatif sangat kecil. D. 1982). 2001). sarana dan prasarana. Kurang jelasnya uraian tugas dan tidak ditetapkannya pejabat tertentu untuk menangani kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi serta kebiasaan mewakilkan pada staf untuk menghadiri pertemuan antar organisasi membuat penanganan masalah kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi tidak fokus dan para pejabat/pimpinan organisasi tidak saling mengenal. Kurangnya komunikasi dan pertemuanpertemuan antar organisasi. tetapi belum menjadi jejaring yang kuat karena koordinasi yang masih lemah. 103/2009. Sementara itu. kedua Pergub tersebut tidak menjelaskan mekanisme pendanaan bagi kerja sama tersebut sehingga kerja sama tetap sulit untuk dilaksanakan. Saharjo. KESIMPULAN Berdasarkan kajian terhadap hubungan antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan.. 2. karena sebuah organisasi tunggal tidak dapat mengatasi permasalahan masa kini yang kompleks. provinsi maupun kabupaten/ kota. 6. Bantuan layanan di antara organisasi dalam pengendalian kebakaran belum efektif baik di tingkat nasional. Pada aspek administratif. Komunikasi atau pertemuan biasanya bersifat responsif ketika terjadi situasi darurat kebakaran hutan/lahan. 4. Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutla memang sudah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya (manusia dan sarpras) pada instansi-instansi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran pada umumnya tidak tersedia secara memadai. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam Pusdalkarhutlada atau Satlakdalkarhutla lemah karena hampir tidak ada sumber daya untuk berbagi. Rendahnya tingkat jejaring kerja dan sumber daya (manusia. Berdasarkan kondisi sumber daya yang terbatas tersebut maka perlu adanya kerja sama antar organisasi yang efektif dan efisien. Penanganan kebakaran hampir tidak mungkin dilakukan sendirian oleh masingmasing organisasi karena masih sangat lemahnya kapasitas organisasi. maka dapat disimpulkan: 1. baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Hubungan antar organisasi pada aspek perencanaan juga terjalin baik di tingkat nasional. dan Priyadi Kardono organisasi membuat para pimpinan organisasi kurang berkesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama menyusun dan menyepakati serta memahami tata hubungan kerja atar organisasi.. Implikasi Terhadap Kebakaran Hutan/ Lahan Kondisi hubungan antar organisasi yang masih kurang harmonis baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan tersebut di atas berimplikasi terhadap penanganan kebakaran hutan/lahan. dan salah satu bentuknya adalah berbagi sumber daya (Malone et al. dana atau anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan juga belum tersedia.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Bambang H. 1999). Prosedur kerja sama antar organisasi untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebenarnya juga sudah ada di Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang ditetapkan masing-masing dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Riau No. Hadi S. hubungan antar organisasi telah terjalin cukup baik di tingkat nasional. Di samping SDM dan sarpras yang masih sangat kurang. serta anggaran) di setiap organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan berimplikasi besar pada penanganan kebakaran hutan/lahan. Koordinasi adalah suatu upaya untuk mengelola ketergantungan di antara berbagai pihak. Organisasiorganisasi tersebut perlu membentuk jejaring yang kuat dengan peranan-peranan koordinasi (coordination roles) yang jelas (Wehmeyer et al. tetapi masih lemah di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota maupun antar tingkatan. 3. Pusdalkarhutlada maupun Satlakdal-karhutla di lokasi penelitian belum termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga tidak dapat memperoleh dan mengelola anggaran dan akibatnya operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran di instansi-instansi anggotanya. Sayangnya. IV. 175 .

J. 2001. Computing Surveys 26(1):87-119. [DFID] Department for International Development and World Bank. Disertasi. 1994. Dalam: Ramses AM. 2010..co. dan E. Dellarocas. (Nugroho. 11(1):16-23 Kartodihardjo. dan Bakry L. McCaffrey dan D. Janssen. 45-3:425-443.P.fu-berlin.pdf.M.nl/bitstream/1871/ 12681/5/7725.177 DAFTAR PUSTAKA Bakry. A. Husaeni EA.3.Interlinkages and Policy Integration. Bakry L. dan D. Herman. O'Donnell. Willey Periodicals.jstor. M.W. Hasil Penggunaan Citra Satelit NOAA-AVHRR dan Himawari untuk deteksi Hot Spot di Stasiun Bumi Satelit NOAA-AVHRR/ Himawari FFPMP. hlm 259-270 Hoessein. Klein.R.. dan J. S. Pemerintahan Daerah di Indonesia. editor). hlm 218-222. Wilson. Hawaii. Lee. Bolland. National Development Planning Agency. Indonesia. and Change. Policy integration: what does it mean and how can it be achieved? A multi-disciplinary review.ubvu. Conflict. Dalam Health Services Research 1994. Organization Science 2001. J. 12(3):372-388. Crowston. 1999. Mooi. B. et al. 1994. 2004 Berlin Conference on the Human Dimensions of Global Environmental Change: Greening og Policies . A. B. Malone. Juli 2011. Jakarta: Bappenas.A. dan K. D. Quimby.8 No. editor. Proceedings International Cross Sectoral Forum on Forest Fire Management in South East Asia. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. Three Faces of Integrative Coordination: A Model of I n t e ro rg a n i z a t i o n a l R e l a t i o n s i n Communit-Based Heath and Human Services. Final Report Volume 1. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. Crowston.pdf. 169 . Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Bernstein.de/ffu/akumwelt/bc2004/ download/meijers_stead_f. dan J.pdf. Diakses tanggal 28 Jan 2009. J. Wyner. G. 2004. Hiroki. C. Prabowo. Stead. Vrije Universiteit Amsterdam. G. 2003. H. I dan D. K. Organizational Roles and Players. Jakarta. Refleksi Kerangka Pikir Rimbawan Menguak Masalah Institusi dan Politik Pengelolaan Sumberdaya Hutan. T. Disertasi. editor.. Diakses tanggal 29 Okt 2010. The Mission on Forest Fire Prevention and Management to Indonesia and Malaysia (Serawak): Tropical forest fire: prevention.peace. 2007. Chandrasekharan. hlm 264-277. A. E. Osborn. Han. 2009. L. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. editor. G.swin. M.id [27 Jan 2009] Doscemascolo.ict. Inter-organizational Cooperation.M. 29-3:341-366. 2009.S. Slyke.A.G. control. dan Surati Jaya N.au/personal/acolman/pub/ColmanA AAI_FS05. 176 . pp 204-282 Colman.W. Evolution of Instutional Rules: An Immune System Perspective. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Burning Issues: Control of Fire Management in Central Kalimantan.W. Management Science 1999. E... C. [Bappenas] National Development Planning Agency. Vu. Inc. Pengaturan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah.P. Malone. rehabilitation and trans-bundary issues. http:// web. 1999.... Diakses tanggal 22 Jan 2009. Pentland. http:// www.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Edu. Working Paper: Indonesia and Climate Change Current Status and Policies. 1999. Republic of Indonesia/JICA and ITTO. 2004. 2007. http://www. Planning for Fire Prevention and Drought Management in Indonesia. Di dalam: Suratmo F. AS: The Graduate Division on the University of Hawaii. Understanding Interorganizational Cooperation: Public-Private Collaboration in Regulating Financial Market Innovation (abstrack).org/pss/3086014 [28 Jan 2009].V. Faerman..A. 2006. Tools for Inventing Organizations: Toward a Handbook of Organizational Processes. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks Pemerintahan Umum.. Dalam: Ramses AM. Http://dare. www. C.. The Interdisciplinary Study of Coordination.. Meijers.. T. Pemerintahan Daerah di Indonesia. 2005.

. P.. Iowa State University]. Bambang H.informatik. 2001. Saharjo.B. Roles and Trust in Interorganizational Systems. Iowa : Cooperative Extension Service. BumiAksara Suprayitno dan L. Bogor: Proyek Penelitian Kebakaran Hutan dan Lahan ICRAF dan CIFOR. K. Prosiding Seminar Sehari Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Sosial Ekonomi dalam Kaitannya dengan Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera.. 1997. Http:// www-i5. Dalam Suyanto S. dan B. Pengendalian Kebakaran Hutan. Simorangkir. Hadi S.L. Pengantar Manajemen.B. Tinjauan Singkat Kerangka Hukum dan Kelembagaan dalam Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Schneider. Ulrich. dan Priyadi Kardono Mulford. 2008. Maastricht. dan Setijono D. Diakses tanggal 08 Mei 2008.E. Creating Coordination Among Organizations:an orientation and planning guide North Central Regional Extension Publication 80. San Francisco: Jossey-Bass Pusblishers. (editor). D. dan Bechard R.de/ conf/ rseem2001/. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Korea International Cooperation Agency.rwth-aachen. Syaufina. Diakses tanggal 29 Okt 2010. The Netherlands. Klonglan.com/abstract= 1081642. 2008. H. C. Dalam: Hesselbein F. D. The Organization of the Future. dan A. K. Jakarta: PT. Permana R. editor. 2009. 1982. http://ssrn. S. 2001. Proceedings of the Eight Research Symposium on Emerging Electronic Markets (RSEEM 01). hlm 189-196 Wehmeyer. Siswanto. Reimer.. Organizing Around Capabilities. Young Lee. [Ames. Goldsmith M. Applegate G. and G. 177 . Government Effectiveness in Comparative Perspective .Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Whitford. 2001.. 1997. Alikodra.

49 % for height and 1.e. clone. South Sumatera.49 % untuk karakter tinggi dan 1. (0711) 414864 2) Fakultas Kehutanan.e. 1.16 (clone) for height character and 0. 4 blocks and 3 treeplots in a spacing of 3 × 3 m. genetic correlation.430 and 1./Fax. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. located at KHDTK Kemampo. i. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. Genetic correlation between height and diameter was 1. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. 2.e. 0. Sumatera Selatan. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon.02 (individu) dan 0. heritability and expected genetic gains based on tree height. 0.5 Puntikayu. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. the estimation of expected genetic gain at the age of 3 years for a height. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon. diameter.026 (individual) and 0.01 (overestimate). 6.16 (klon) untuk karakter tinggi.574. 1. while between diameter and stem form was very high.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO.15 %. i.306 respectively. These results could be applicable for selection purpose. Keywords: Heritability. genetic gain. 35 and 11 were 3.02 (individual) and 0.e.073. i.88.09 dan 0. 1. teak. sebesar 0. Box 179.026 (individu) dan 0. i.e. Based on an assumption of using the best five clones. 36. South Sumaterat Agus Sofyan Mohammad Na'iem Sapto Indrioko 1) 1 2 2 Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. because it may done based on just one character. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. dengan 4 blok. diameter. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. genetic variation. i. respectively.09 and 0. Burlian KM. The research was conducted in 3 years old teak plantation.39. Selection index of the best five clones of 24. SUMATERA SELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L.28 % 179 . Po. diameter and stem form characters. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9. Randomized Complete Block Design was applied using 35 clones. Palembang. diameter dan bentuk batang. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. Kol.13 (clone) for diameter.73 % for diameter. The result of the research showed that there were genetic variation among clones. Universitas Gadjah Mada Naskah masuk : 5 Agustus 2010. 3.16 %.15 %. block and interaction between clone and block. i.43 % and 8.39. because the heritability value was relatively low. 0. di lokasi KHDTK Kemampo. The contribution of the genetic component to total variation was relatively low.40 %. Genetic gain estimation at the age of 3 years was relatively low. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun.721. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. But for stem form were relatively high. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. stem form and volume were 1.73 % untuk diameter. respectively.28 %.67. while the contribution of stem form was relatively higher. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. i.e. Naskah diterima : 13 Juni 2011 ABSTRACT The objective of research were to determine the level of genetic variation. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. 9. 14. and between height and stem form was 0.PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo. H. Sumatera Selatan Telp.e. but the variation was relatively low in comparison to other variation sources. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok.13 (klon) untuk karakter diameter. 1.

Sumatera Selatan.4 juta m . 1. 2. di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Thailand. PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan taraf hidup manusia telah menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku kayu. Myanmar. 14 (1. Kata kunci : Heritabilitas. 36 (1. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. Wono giri. berturut-turut nomor 24 (3. 2003).43 % bentuk batang serta 8. Beberapa negara yang memproduksi kayu jati berdaur pendek adalah Bangladesh. Saat ini. 1990). dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. Nigeria. korelasi genetik serta peningkatan genetik masing-masing karakter pertumbuhan.67. sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dengan tingkat kebutuhan. Variabel yang diukur adalah sifat atau karakter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman.16 % diameter. Cepu. diameter batang setinggi dada). Kabupaten Banyuasin.430) dan 11 (1. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. jati merupakan salah satu jenis yang dikembangkan sebagai hutan tanaman yang cukup luas di dunia dan telah ditanam pada lebih dari 36 negara tropis di Asia.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. sementara potensi sumber daya alam semakin menurun. Brazil dan Indonesia (Siregar dan Mansur.88. Cepu. dengan menggunakan benih atau klon unggul hasil seleksi.8 No. Afrika maupun Amerika. kebutuhan kayu 3 jati pada tahun 2005 sebesar 2. Penelitian dilakukan pada bulan Januari . 180 . Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai luasan hutan tanaman jati setelah India (ITTO. Jarak tanam 3 m x 3 m. Dengan tingkat kebutuhan bahan baku kayu yang demikian tinggi. Adapun tujuan khususnya adalah untuk mengetahui variasi genetik antar klon. terlebih jenis jati yang sangat populer serta risetnya yang sudah sangat maju (Bhat. 2004 dalam Bramasto dan Suita.Desember 2008. Variabel yang diukur Tanaman diukur pada umur 3 tahun. B. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. Sementara untuk kebutuhan kayu pertukangan maupun mebeler masih mengandalkan hutan alam. 3. Muna dan Thailand).073).40 % untuk volume.3. Menurut Iskak (2005). Madiun. korelasi genetik. Muna dan Thailand). jati. BAHAN DAN METODE A. masing-masing unit terdiri atas 3 treeplot. 2005). serta sifat silvikulturnya secara umum telah dikuasai. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam uji klon jati adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan 4 blok sebagai ulangan. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendukung upaya pengembangan perhutanan klon berdaur pendek dengan produktivitas tinggi. India. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. begitu banyak negara yang tertarik mengembangkan jati dikarenakan kualitas kayunya yang bagus.186 untuk karakter tinggi. II. Ghana. potensi jenis jati yang dikelola oleh Perum Perhutani juga sudah sangat menurun. Madiun. pembangunan dan pengembangan hutan tanaman sesungguhnya mempunyai prospek yang cerah. variasi genetik I. yang dalam perkembangannya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan industri kertas atau pulp. Sebagaimana halnya jenis-jenis yang berasal dari hutan alam. Wonogiri. perolehan genetik.7210). 35 (1.306). Upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu telah dilakukan pemerintah melalui program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). uji klon. heritabilitas. telah dikembangkan pengelolaan hutan tanaman dengan daur yang lebih singkat. Metode Penelitian 1. awet serta bernilai ekonomi tinggi. sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebesar lebih 3 kurang 2 juta m . 179 . Juli 2011. hanya 3 dapat dipenuhi sebesar 400 ribu m . volume kayu serta bentuk batang (Cotterill dan Dean. 2004). Menurut Na'iem (2000).01 (overestimate).574). Bahan dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada pertanaman uji klon jati berumur 3 tahun dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul.

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

3.Analisis data Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians, dengan model analisis varians (linear model) yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel and Torrie, 1991) : Yijkl = µ +Bi + Pj + Kk(Pj) + BK ik + Eijkl Keterangan : Yijkl = Pengamatan pohon pada blok ke i, Populasi ke j, klon ke k, individual ke l µ = Rerata umum Bi = Efek blok ke i Pj = Efek Populasi ke j Kk(Pj) = Efek klon ke k dalam populasi ke j BK ik = Efek interaksi blok ke i dan klon ke k Eijkl = Random error pada pengamatan ke ijkl Untuk mengetahui parameter genetik dilakukan melalui penaksiran terhadap nilai heritabilitas, perolehan genetik serta korelasi genetik antar sifat pertumbuhan. Nilai heritabilitas yang dihitung adalah nilai heritabilitas individu atau klon, yang ditaksir melalui komponen varians yang diperoleh dari hasil analisis varians. Wright (1976) dan Zobel dan Talbert (1984), menggunakan rumusan taksiran nilai heritabilitas dengan materi vegetatif (klon), sebagai berikut :
2

S = diferensial seleksi i = intensitas seleksi (Becker, 1992) p = standart deviasi phenotipe Analisis korelasi genetik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sifat tinggi dan diameter secara genetis, yang dilakukan deengan menggunakan rumus menurut Zobel and Talbert (1984) : k ( xy )

rG (
2 k(x)

x

2

k ( y)

)

Keterangan : rG = korelasi genetik 2 k(xy) = komponen kovarians untuk sifat x dan y 2 k(x) = komponen varians untuk sifat x 2 k(y) = komponen varians untuk sifat y Selanjutnya besarnya komponen kovarian untuk dua sifat tersebut ( x dan y) dapat dihitung dengan rumus (Fins et, al. 1982) yaitu sebagai berikut : 2 2 2 k(xy) = 0,5 ( k (x+y )kx ky) Keterangan :
2 k (x+y )

= komponen varians untuk sifat x dan y.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persen Hidup dan Pertumbuhan

h= H2k=

2 i

k 2
2 k

2

k

2

, dan
e

kb

2

k

(

2

kb

/ B)

(

2

e

/ NB )

Keterangan : h2i = Nilai heritabilitas individu (ramet) H2k = Nilai heritabilitas klon 2 k = Komponen varians klon 2 e = Komponen varians error 2 kb = komponen varians interaksi klon-blok B = Jumlah blok N = jumlah ramet per plot Untuk menduga besarnya perolehan genetik digunakan rumus menurut Zobel dan Talbert (1984) : G = H2 x S atau G = H2 x i x Keterangan : G = taksiran perolehan genetik H2 = heritabilitas
p

Daya adaptasi keseluruhan klon pada umur 3 tahun nampak menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai rerata persen hidup yaitu sebesar 84,52% serta pertumbuhan tanaman yang sangat baik dibandingkan dengan rerata pertumbuhan pada beberapa uji klon jati lainnya, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Perbedaan pertumbuhan selain disebabkan oleh perbedaan materi (klon), juga dapat disebabkan oleh perbedaan faktor lingkungan tempat tumbuh (edafis) yang terkait jenis dan kesuburan tanah, intensitas pemeliharaan serta faktor iklim (klimatis) terutama curah hujan. Menurut Sheldbourne (1972) dan Goddart (1979) dalam Zobel dan Talbert (1984), faktor lingkungan edafis memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pertumbuhan dibanding dengan faktor iklim atau klimatis.

181

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.3, Juli 2011, 179 - 186

Tabel (Table) 1. Rerata pertumbuhan uji klon jati di KHDTK Kemampo serta beberapa hasil uji klon pada lokasi lainnya (Average of growth clonal test of teak in KHDTK Kemampo and others location) Pertumbuhan (Growth) Umur (Age) Tinggi Diameter Sumber (Literature) Lokasi (location) Tahun (year) ( Height) (Diameter) (m) (cm) Sofyandan Syaiful Kemampo, Sumsel 3 7,76+1,75 7,41+1,36 (2008) Bojonegoro, Jawa Timur 5 6,20 6,10 Siswamartana dan Ngawi, Jawa Timur 5 6,00 8,60 Wibawa (2005) Ciamis, Jawa Barat 5 8,20 10,10 Cepu, Jawa Tengah 5 6,65 7,05 B. Variasi Genetik Hasil analisis varians, sebagaimana disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada sumber variasi klon, hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik antar klon. Adanya variasi genetik akan memberikan peluang dalam meningkatkan perolehan genetik melalui tindakan seleksi terhadap klon-klon terbaik. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa sumber variasi blok dan interaksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata bagi pertumbuhan. Hasil interaksi yang sangat nyata mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan tanaman bukan hasil dari kinerja klon atau genetik semata, namun merupakan hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungannya (Kramer & Kozlowski, 1979). Menurut Matheson dan Raymond (1984) penelitian yang menggunakan bahan atau materi vegetatif (klon) seringkali dihasilkan interaksi yang sangat kuat antara klon dengan faktor lingkungannya. Hal tersebut terjadi karena materi klon bersifat sangat reaktif terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh, terutama unsur phosfor, boron dan sulfur (Windsor dan Kelly, 1971 dalam Matheson dan Raymond, 1984). Dengan adanya variasi antar klon, maka terbuka peluang untuk memperoleh peningkatan genetik pada generasi berikutmya. Namun demikian seberapa besar peningkatan yang dapat diperoleh, sangat tergantung pada besarnya proporsi sumbangan variasi faktor genetik terhadap variasi total. Untuk mengetahui besarnya proporsi variasi yang disebabkan oleh faktor genetik serta faktor lainnya, perlu dilakukan analisis komponen varians. Hasil perhitungan taksiran komponen varians selengkapnya disajikan dalam Tabel 3. Besarnya taksiran komponen varians menggambarkan besarnya proporsi sumbangan (kontribusi) setiap sumber variasi terhadap variasi total.

Tabel (Table) 2. Hasil analisis varian pertumbuhan uji klon jati pada umur 3 tahun (analysis of variance for growth on 3 years measurement in clonal test of teak)
Umur (Age) Sumber Variasi (Source of variance) Blok Populasi Klon Klon x Blok Error Derajat Bebas (df) 3 5 29 101 206 Nilai rerata kuadrat tengah (Mean square) Tinggi (Height ) 14,5295** 1,3971ns 2,7896** 2,2789** 1,2016 Diameter (Diameter) 27,3177** 1,4923 ns 2,5148** 2,1296** 1,2969 Volume (Volume) 0,001308** 0,000135** 0,000165** 0,000112 Bentuk Batang (Stem form) 0,7911 ns 3,0574 * 1,7826** 0,8293**

3 Tahun (3 Years)

Keterangan (Remarks) : * = berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Significant at 0,05 level) **= berbeda nyata pada taraf uji 0,01 (Significant at 0,01 level) ns = berbeda tidak nyata (Non-significant)

182

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

Tabel (Table) 3. Taksiran komponen varians dan proporsi sumbangan (%) sumber variasi terhadap variasi total pada umur 3 tahun (The estimated of proportion and variance component of source of variance on 3 years)
Sumber Variasi (Source of variance) Umur
2 b 2 p 2 k(sb) 2 kb 2 e 2 total

Karakter tinggi (Height) Tkv 0,1408 -0,0326 0,0448 0,4441 1,2016 1,7988 % 7,83 -1,80 2,49 24,69 66,80 100,00

Karakter diameter (Diameter) Tkv 0,2914 -0,0240 0,0337 0,3435 1,2960 1,9410 % 15,01 -1,24 1,73 17,69 66,79 99,98

Kombinasi tinggi x diameter (Combination of height x diameter) Tkv % 0,8465 -0,1431 0,1577 1,5330 4,1300 6,5238 12,97 -2,19 2,42 23,50 63,30 100,00

Bentuk batang (stem form) Tkv 0,0129 0,0 0,1218 0,3929 0,8293 1,3310 % 0,97 0,0 9,15 29,52 62,30 100,00

Keterangan (Remarks) : Tkv = taksiran komponen varians (variances component estimate), 2 = komponen varian, b = blok (block), p = populasi (population), k = klon (clon), kb = interkasi klon x blok (interaction clon x block), e = error, % = persentase dari total variasi (presntation of variation total)

Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen varians klon (komponen varians genetik) memberikan sumbangan (kontribusi) sangat kecil terhadap variasi total, yaitu masing-masing sebesar 2,49 %, 1,73 % dan 9,15 % untuk karakter tinggi, diameter dan bentuk batang. Hasil ini menggambaran bahwa pada umur 3 tahun, pengaruh faktor genetik terhadap pertumbuhan relatif masih sangat kecil. Sementara komponen varians interaksi masingmasing sebesar 24,69 %, 17,50 % dan 23,50 untuk karakter tinggi, diameter dan kombinasi kedua sifat tersebut. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pada umur 3 tahun pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan tanaman masih relatif sangat kecil. C. Heritabilitas Heritabilitas merupakan parameter yang mengambarkan seberapa besar sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya dan Tabel (Table) 4.

merupakan suatu hal sangat penting, karena terkait erat dengan perolehan genetik serta strategi pemuliaan pohon dalam memperoleh peningkatan genetik (Zobel dan Talbert, 1984). Heritabilitas yang tinggi menunjukkan adanya peluang perolehan genetik yang besar. Besarnya nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai-nilai komponen varians dari masing-masing karakter, selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Dari hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa untuk semua variabel/karekter yang diukur, secara umum dapat dikatakan mepunyai nilai heritabilitas yang relatif rendah, baik heritabilitas individu maupun famili. Menurut Hardiyanto (1994) dalam Leksono (1994) nilai heritabilitas untuk famili (klon) sebesar 0,40 - 0,60 dikategorikan sedang, kurang dari 0,40 adalah rendah dan lebih dari 0,60 termasuk dalam kategori tinggi.

Taksiran nilai heritabilitas untuk semua karakter pada umur 3 tahun (The estimated of heritability of all character's on 3 year's).
Tinggi (Height) h2i h2k 0,03 0,16 Karakter (Character) Diameter Volume (Diameter) (Volume) h2i h2i h2k h2k 0,02 0,13 0,05 0,30 Bentuk batang (Stem form) h2i h2k 0,09 0,39

Umur (Age)

3 Tahun (3 years)

Keterangan (Remarks) : h2i =heritabilitas individu (Individual heritability) 2 h k =heritabilitas klon (Clones heritability)

183

Perolehan genetik juga dipengaruhi oleh intensitas seleksi.043 4. maka nilai heritabilitas akan semakin besar.43 %) dan volume (3.160 sesuai tabel intensitas seleksi menurut Becker (1992). telah meningkatkan nilai heritabilitas yang signifikan.89 0.81-1.00 3. Dengan intensitas seleksi tersebut.40 %).3.84 (m) 7.55 Peningkatan sifat (Improve of character) 7. di KHDTK Kemampo. begitu pula Tabel (Table) 5. South Sumatera) Karakter (Character) Tinggi (height) Rerata (Average) 7.16 0.43 3. lebar) banyak dikendalikan oleh gen minor yang porsi pengaruhnya sangat kecil dan berbeda-beda.03 8. dapat menjadi masalah serius dalam perolehan genetiknya.81 3. yaitu hampir 4 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik (klon) untuk karakter tinggi dan 5 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik untuk karakter diameternya (Tabel 3). Hal ini disebabkan karena nilai komponen varians bentuk batang yang cukup besar. Perolehan Genetik Taksiran perolehan genetik merupakan suatu nilai kuantitatif dari respon populasi atas adanya seleksi pada populasi tersebut. Hasil di atas menunjukkan bahwa perolehan genetik untuk karakter tinggi (0.40 3. Taksiran nilai heritabilitas yang tinggi akan menghasilkan perolehan genetik yang tinggi (besar).527.186 Rendahnya nilai heritabilitas pada uji klon ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. diperoleh hasil perhitungan taksiran perolehan genetik sebagaimana disajikan pada Tabel 5.360 dan 1. sehingga sifat-sifat tersebut lebih mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Taksiran perolehan genetik dan peningkatan sifat pada Uji Klon Jati pada umur 36 bulan. 179 . Menurut Shelbourne (1972) bahwa pengaruh interaksi yang 2 menghasilkan komponen varians ( kb) yang jauh lebih besar daripada komponen varians genetiknya. Hasil penelitian yang dilaporkan Russel dan Libby (1986) menunjukkan bahwa penambahan jumlah unit percobaan pada uji klon Pinus radiata. 20 % (7 klon) dan 15 % (5 klon). jika nilai heritabilitasnya rendah. jumlah unit percobaan (ramet per klon) serta jumlah replikasi (blok) juga sangat berpengaruh terhadap nilai heritabilitas.28 %) dan diameter (0. D.55-8.8 No.0258 m3/phn Diameter (diameter) 7. Seberapa besar perolehan genetik dapat dicapai.412 (cm) Bentuk batang (stem form) Volume (volume) 3. panjang. relatif rendah dibanding bentuk batang (3.0265 m3/phn 0. Sementara menurut Russel dan Libby (1986). 1. Dalam penelitian ini perolehan genetik dihitung dengan asumsi bahwa dari 35 klon yang diuji. antara lain karena rendahnya nilai komponen varians 2 genetik ( k). karena pada kondisi tersebut nilai heritabilitasnya menjadi sangat rendah. Dalam uji klon ini jumlah unit percobaan yang relatif sedikit yaitu 3 treeplot dengan 4 blok sebagai ulangan. akan diseleksi sebesar 30 % (10 klon).85 (m) 7. dibanding dengan nilai komponen 2 varians interaksi ( kb).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. sangat erat kaitannya dengan nilai heritabilitas masingmasing karakter atau sifat. dengan nilai intensitas seleksi masing-masing sebesar 1.0271 m3/phn 0.91 0.47 (cm) 4.40 6. Hal lain yang dapat menyebabkan rendahnya heritabilitas menurut Kuntiyati (1995) dalam Wibowo (2002) adalah karena sifat-sifat kuantitatif (tinggi. Juli 2011.28 1. maka perolehan genetik juga relatif rendah. dapat menyebabkan nilai heritabilitasnya menjadi rendah.98 1.025 m3/phn 184 .044 4.03-3. Sumsel (The estimated of genetic gain on clonal test of teak at KHDTK Kemapo.028 0.981.49 (cm) 7.16 %).48 (cm) 7.764 (m) Jumlah klon (Number of clone) 5 7 10 5 7 10 5 7 10 5 7 10 Perolehan genetik (%) (Genetic gain) 1.14 0. semakin banyak jumlah unit percobaan dan replikasi.86 (m) 7.

Hasil perhitungan korelasi genetik antar karakter (diameter dan tinggi) selengkapnya disajikan pada Tabel 6. sementara untuk karakter tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0. Koefisien korelasi genetik menggambarkan seberapa besar sesungguhnya hubungan keeratan antar karakter secara genetik.88 IV.15 % untuk karakter bentuk batang. Isik dan Kleinschmidt. baik dari sisi anggaran maupun waktu. Sumatera Selatan Agus Sofyan. namun sumbangan variasinya terhadap total variasi relatif sangat rendah yaitu 2. yaitu sebesar 0. Sementara korelasi antar karakter diameter dengan bentuk batang sebesar 0.67. Namun demikian untuk uji klon ini. terutama untuk mengembangkan dua karakter atau sifat yang berbeda dengan berdasarkan pada penerapan seleksi atas satu karakter. Dari 35 klon yang diuji terdapat variasi genetik antar klon. maka kemungkinan terjadinya perubahan pada koefisien komponen varians genetik serta heritabilitasnya pada saat umur tanaman bertambah (lebih tua) masih sangat dimungkinkan dapat berubah. hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya rasio antara komponen varians genetik dengan komponen varians interaksinya (Matheson dan Raymond. Korelasi genetik antara karakter tinggi dengan diameter sebesar 1.73 % diameter dan 9. Hasil ini menggambarkan bahwa karakter diameter mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap karakter tinggi maupun bentuk batang. South Sumatera) Umur (Age) Tinggi (Height) 3 Tahun (3 Years ) Diameter (Diameter) Karakter/sifat (Character) Tinggi (Height) - Bentuk batang (stem form) 0.49 %. saat kinerja genetik tanaman sudah relatif stabil.01 0. Sumatera Selatan (genetic correlation on clonal test of teak at KHDTK Kemampo. Korelasi Genetik Korelasi genetik mempunyai arti yang sangat penting dalam program pemuliaan pohon.1984 . 1. KESIMPULAN 1. dimana pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tabel (Table) 6. karena korelasi genetik yang diperoleh dari tanaman yang masih sangat muda dimana kinerja genetik masih relatif labil (belum cukup stabil). Korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk bantang menunjukkan hubungan korelasi yang cukup kuat.30 untuk bentuk batang dan 0. Mengingat bahwa umur tanaman masih relatif sangat muda yaitu 3 tahun. Sapto Indrioko halnya dengan nilai heritabilitasnya yang jauh lebih besar yaitu 0. maka seleksi cukup didasarkan pada satu karakter yaitu diameter. untuk karakter tinggi.67 1. 1984). karena dengan hanya memprioritaskan pada karakter diameter sesungguhnya akan diikuti dengan perbaikan karakter tinggi dan bentuk batangnya. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa apabila hendak melakukan seleksi. Dengan demikian pelaksanaan seleksi akan menjadi lebih efisien. Hal tersebut sangat penting guna diperolehan peningkatan genetik sebagaimana yang diharapkan.39 untuk volume. Korelasi genetik antar sifat pada uji klon jati umur 3 tahun di KHDTK Kemampo.16 dan 0.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo.88. Dari hasil tersebut nampak bahwa dengan nilai komponen varians genetik serta heritabilitas yang lebih besar. 2005). dengan demikian peluang perolehan genetik yang lebih besar tetap bisa diharapkan. 185 . Korelasi genetik antar sifat tinggi dengan diameter sebesar 1.13 (Tabel 4).01 merupakan nilai yang bersifat overestimate. maka masih perlu untuk dikaji hubungan korelasinya dalam beberapa tahun ke depan saat umur tanaman relatif lebih tua. dengan harapan secara tidak langsung akan dapat memperbaiki karakter yang lainnya (Zobel dan Talbert. 2.01 ( overestimate ). maka peluang peningkatan genetik yang dapat diperoleh akan menjadi lebih besar. Mohammad Na'iem.Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. E. Peningkatan genetik juga menjadi semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat intensitas seleksi (Tabel 5).

186 .P. 1994.A. Talbert. Sanfransisco.16 % untuk karakter tinggi dan diameter. 1984. J. A. Isik. 1992.J and T. dan Wibawa. A. Jakarta. tidak dipublikasikan. India 2-5 Desember 2003. Wibowo.G. 2005. I. W. C.67 untuk dan 0. 2004. W.A. 1990. A. International Forestry Review. Gramedia Pustaka Utama. 2005. Sofyan. S.3. B. K. 1991. and. 2000. M. P u s a t L i t b a n g H u t a n Ta n a m a n . dan Libby.D dan J. A. Pemeliharaan Jati (Tectona grandis) di KHDTK Kemampo. 2003. Yogjakarta. Fifth Edition. Prinsip dan Prosedur Statistika. 2005. R. Yogjakarta. Pullman. Iskak. Kozlowsky. Academic Enterprise. IUFRO Genetics-Sabrao Joint Symposia. Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu. Applied Forest Tree Improvement. The Impact of Genotype x Environment Interactions on Australian Pinus radiata Breeding Program.de Vriese. Shelbourne. Bramasto. dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. Buletin Penelitian Pusbanghut.T. Quality Timber Product of Teak From Sustainable Forest Management. New York. dan C. Kramer. J.H. Physiology of Woody Plant. Tesis. John Wiley and Sons. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat ini. 1986. dan Raymond.8 No. Taksiran peningkatan genetik yang diperoleh adalah sebesar 1. Siswamartana. C. 2008. Russell. 2005. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani. dan Mansur. K. 3.Z. Perum PERHUTANI. dan Suita. A. Siregar. London. Evaluasi Uji Klon Jati Pada Umur 15 bulan.. Vol 7 (5). C. Variasi Genetik Produksi Getah Pinus merkusii Jungh et. I. B. Prosiding Seminar Nasinal. No 03. Leksono. Zobel. 2002. DAFTAR PUSTAKA Becker. Matheson. New York. Wanagama. Proceeding of The International Conference on Quality Timber of Teak From Sustainable Forest Management. Bhat. Na'iem. 1979. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. M.H. P r o c . Theor Appl Genet (2005) 110 : 311-322. USA. dan Kleinschmit.M. Cotterill. masing-masing sebesar 0. Dengan IPTEK Membangun Hutan Tanaman Demi Kemakmuran Bangsa dan Terciptanya Kelestarian Lingkungann. Vol V. 179 . Torrie. Laporan Penelitian. dan Syaiful. Yogjakarta. A. CSIRO Division of Forestry and Forest Product. PT. J.J. Manual of Quantitative Genetics. P. I. E.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Vol.43 % dan 8. Dean. Canadian Juornal of Forestry Research. Y. Balai Penelitian Kehutanan Palembang (tidak dipubikasikan). P.Australia. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Juli 2011. Successful Tree Breeding With Index Selection. Yogyakarta. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia. Academic Press. Quality Concerns of Sustainable Teak Wood Chain. Variasi Pertumbuhan Tanaman Jati dari Berbagai Klon di Kebun Percobaan Rumpin. Produktivitas Tegakan Jati JPP Intensif sampai dengan Umur 20 Tahun ke Depan. Genotype-environment Interaction : Its Study and its Implications i n F o re s t r y I m p ro v e m e n t . Similarties and effectiveness of tes eninvironments in selecting and deploying desirable genotypes. 3. 2005. Seperempat Abad Pemuliaan Jati Perum Perhutani. 2000. 2002. 16.186 sementara korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk batang serta diameter dengan bentuk batang.28 % dan 1.40 % untuk bentuk batang dan volume. 2005. Early Performance Clonal Test of Teak in Perum Perhutani. Makalah disampaikan dalam pertemuan Forum Komunikasi Jati.J. 1972. Posisi Benih Unggul Versus Silvikultur Intensif Dalam Pembangunan Hutan Rakyat Jati. 1986. Steel.J. 1984. 2004. Clonal Testing Efficiency : The Trade-off Between Clone Tested and Ramet per Clone. Tema Menjawab Tantangan Pengembangan Jati Rakyat dan Pemasarannya. Tokyo. Peechi.88.

630. Experiments of water table.05% diameter. dan Sumardi Fakultas Kehutanan.id *Penulis untuk korespondensi Naskah masuk : 26 Oktober 2010. diameter 366.Yogyakarta 55281 E-mail : hans_borneo@yahoo. Nursery experiments were conducted using Completely Randomized Factorial Design with three replications. It was concluded that inoculation with the AMF type of Glomus sp 3 combined with the provision of P fertilizer dosage of 100 ppm SP 36 and planting on water table level 20 cm and 10 cm can be used widely to improve growth of C.67% diameter.rotundatus Miq and D. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324.lowii Hook are 107. jumlah daun. For D.lowii Hook seedlings.01 %.86% high. 136. rotundatus Miq and D. berat kering pucuk 187 . lowii Hook seedling in the nursery. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Untuk jelutung tinggi 107. jumlah daun 437.80%. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung.00 % dan serapan P 835. and P uptake of plants after harvest. Siti Kabirun .00% shoot dry weight and P uptake of 835.61 %. shoot dry weight. Keywords: ex-PLG.50 % number of leaves.80 %. diameter 136. A. diameter. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. Glomus sp 3 ABSTRAK Penelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. Yani Kompleks Untan Benua Melayu Darat Pontianak Selatan 2 Fakultas Pertanian. 366.01 % number of leaves.05 %. 42.lowii Hook seedlings. jumlah daun 42.83% and 851. Naskah diterima : 31 Mei 2011 1 1* 2 2 3 ABSTRACT A study on the influence of water table on the growth Combretocarpus rotundatus Miq and Dyera lowii Hook inoculation with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and fertilization SP 36 in peat soils was conducted in greenhouse Soil Sience Laboratory Faculty of Agriculture.86 %. 437. Observations made on C. The goal of research purpose wa to determine the effect of water table. diameter. In the water table 20 cm increase in growth of C. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen.KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil Burhanuddin . Universitas Tanjungpura Pontianak Jl. berat kering pucuk 630. P fertilization and inoculation with AMF on the growth of C.67 %. fertilized of 100 ppm SP 36 and inoculated with Glomus sp 3 resulted in the best water table is 20 cm in C. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* *Kampus UGM Bulak Sumur . Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* 3 Fakultas Kehutanan.rotundatus Miq are 324.56% P uptake.lowii Hook seedlings 14 weeksof age after weaning include: height. is Gadjah Mada University in Yogyakarta for 14 weeks. Bostang Radjagukguk . shoot dry weight of 643. number of leaves. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm.61% high. peat.50 %.rotundatus Miq and D.rotundatus Miq and D.co. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan.Water table. Jend.

Pada tahun 2005 Centre for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangkaraya.008.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. yaitu pulai. ramin (Muin. 2009). sedangkan pada musim hujan mencapai 100 cm dari atas permukaan tanah. jati (Faridah. (4) miskin unsur hara dan (5) aktivitas mikroorganisme rendah. (2) terjadi kekeringan.457. mengurangi emisi karbon. Garcia & Mendoza. Cornejo et al. Mendoza et al. (2008) jeluk muka air tanah gambut pada musim kemarau bisa mencapai 40 cm di bawah permukaan.8 No. Water table I.7 km dengan berbagai ukuran lebar dan kedalaman. Pada perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook). Kata kunci : ex-PLG. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Menurut Limin et al. bekerjasama dengan masyarakat Uni Eropa melakukan restorasi hidrologi dengan pembuatan dam atau pembendungan kanal-kanal yang mengering di blok C Kelampangan. mengurangi kebakaran dan dalam jangka panjang dapat memulihkan hutan rawa gambut secara alami. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. 1999). 2008. 1996. (2002) bahwa jenis perepat. gerunggang (Cratoxylon arborescen) dan asam- 188 .196 643. Cardoso et al. kegiatan pemulihan ini akan selalu berhadapan dengan masalah yang disebabkan oleh pembukaan lahan gambut tersebut diantaranya: (1) permukaan air tanah menyusut. Pembukaan lahan ini disertai dengan pembuatan kanal. penelitian JMA ini belum banyak dilakukan. dan sungkai (Martin et al. Perepat adalah salah satu jenis asli hutan rawa gambut yang dapat tumbuh baik pada kondisi terbuka. seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2005 (sebelum pembendungan pada bulan Nopember 2004 jeluk muka air tanah mencapai 112 cm.100 hektar. Untuk mengatasi kendalakendala tersebut. tetapi pembendungan kanal sangat berperan penting dalam proses rehabilitasi lahan gambut seperti mengurangi subsiden. 2005. dan Vitex cofassus (Prayudyaningsih & Santoso. PENDAHULUAN Pada tahun 1995 telah dilakukan pembukaan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG atau Mega Rice ProjectMRP) yang luas totalnya 1. (2002) memaparkan perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah di blok C ex-PLG. Takahashi et al.50 cm yang seharusnya pada kondisi normal pada musim penghujan bisa tergenang dengan ketinggian 100 cm dari atas permukaan tanah. Leigh et al. Aquilaria microcarpa (Santoso et al. 2008. Shorea balangeran (Turjaman et al. Pupuk hayati telah berhasil dikembangkan di negara-negara maju sebagai pupuk yang potensial dan aman bagi lingkungan. Selanjutnya menurut Ritzema et al. mangium. salah satu diantaranya adalah Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) (Gumbira-Said. perlu diusahakan suatu teknologi alternatif yang tepat yaitu dengan pupuk hayati (biofertilizer). 2003). bungur. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. 2007). Akibat pembuatan kanal dengan total panjang 2. maka dipandang sangat penting untuk dilakukan perbaikan melalui suatu upaya konservasi yaitu dengan melakukan pemulihan pada lahan gambut tersebut dengan campur tangan manusia. Penelitian yang mengungkap peranan JMA dalam meningkatkan pertumbuhan telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman hutan. Glomus sp 3. (2008) meskipun restorasi hidrologi dengan pembendungan kanal tidak menunjukkan perubahan jeluk muka air tanah yang signifikan. 2004). 2007). Sebagaimana yang dijelaskan Saito et al. 2008. Acacia crassicarpa (Pidjath et al.56 %.3.lowii Hook) di persemaian. gambut. (2008) perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah sebelum dan sesudah pembendungan kanal di blok C ex-PLG. Menurut Ritzema et al. 2007).83 % dan serapan P 851. telah terjadi kerusakan status hidrologi kawasan secara drastis yaitu terjadi pengatusan sangat berlebihan serta rendahnya retensi air dan jeluk muka air tanah. di musim penghujan saja jeluk muka air tanah bisa mencapai 5 cm . (3) pH tanah asam. Juli 2011. 2007). 187 . pada bulan-bulan tertentu terjadi perubahan jeluk muka air tanah yang meningkat. setelah pembendungan pada bulan Agustus 2005 jeluk muka air tanah hanya 9 cm). Namun demikian.

Hasil penelitian Burhanuddin et al. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung pada tanah gambut. berat kering pucuk (gram).7H2O. rotundatus and D. gerunggang dan asam-asam merupakan jenis cepat tumbuh di hutan rawa gambut (Saito et al. Data yang dikumpulkan terdiri dari tinggi (cm).5H2O. Hasil analisis keragaman pengaruh faktor perlakuan disajikan dalam Tabel 1. 22 ppm CuSO4. Jelutung juga merupakan jenis asli yang tumbuh di hutan rawa gambut.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. Selain itu disertakan pula tanah dalam kondisi tergenang air 1 cm tanpa dipupuk dan tidak diinokulasi JMA sebagai kontrol. berat kering pucuk dan serapan hara P tanaman dianalisis menurut analisis keragaman (ANOVA) rancangan acak kelompok menggunakan metoda SAS X3. B. A.7H2O. 70 ppm K2SO4. berat kering pucuk dan serapan P tanaman.7H2O 10 ppm MnSO4. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Setelah semai berumur satu bulan. a). Siti Kabirun. rotundatus) dan jelutung (D.5 kg yang telah diisi media gambut steril. diameter. 2011). dan serapan hara P tanaman. Tanaman ditumbuhkan selama 14 minggu setelah penyapihan. Jenis ini merupakan jenis pohon dwiguna. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Selanjutnya semai ditanam dalam kantong plastik hitam ukuran 2. b). 70 ppm CaCl2. Tahapan PelaksanaanPenelitian Benih perepat dan jelutung dikecambahkan dalam bak kecambah yang berisi media gambut yang sudah steril. jumlah daun. yang cocok untuk ditanam pada lahan gambut yang akan dikonservasi. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggunakan.7H2O. tahan kekeringan dan tahan terhadap suhu tanah yang tinggi. Pupuk Sp 36 dan c). 2. Pupuk basal diberikan dalam bentuk larutan yang terdiri dari 70 ppm NH4NO3. 35 ppm KH2PO4.lowii seedling). 3. 2002). Demikian juga pada tanaman jelutung yang dipupuk dengan batuan fosfat takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah yang terbaik meningkatkan pertumbuhan jelutung pada media gambut (Burhanuddin. II.20 ppm NaMoO4. Tabel 1. 5 ppm ZnSO4. Jelutung hanya akan dimanfaatkan dari hasil ikutannya saja berupa getah jelutung. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C. jumlah daun (helai). C. 0. D. dan Sumardi asam (Mangifera sp) dapat tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka. jumlah daun. Bahan Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2009 Agustus 2009. dan 20 ppm MgSO4.2H2O. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan perlakuan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok ( 2 x 7 ) dengan perlakuan jenis pohon dan jeluk muka air tanah (water table) dan ulangan sebanyak 3 kali. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa tanaman perepat yang dipupuk dengan pupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah takaran pupuk terbaik meningkatkan pertumbuhan semai perepat pada media gambut (Buranuddin. 2001). 0. benih perepat (C. dilakukan penyapihan. III. BAHAN DAN METODE 40 cm dengan interval 10 cm. (2010) membuktikan bahwa jenis JMA Glomus sp 3 yang terbaik meningkatakan pertumbuhan semai perepat dari beberapa jenis JMA yang diuji pada media gambut. diameter pangkal batang (mm). Bostang Radjagukguk. lowii) rawa yang berasal dari tegakan alam blok C exPLG Kalampangan Palangkaraya. Hasil Pertumbuhan semai perepat dan jelutung dinilai berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi.33 ppm CoSO4. Tanah dengan berbagai jeluk muka air tanah tersebut dipupuk dengan 100 gram SP 36 dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3. 4 dan 5. diameter. JMAjenis Glomus sp 3. Jeluk muka air tanah (water table) diatur bervariasi dari 0 cm sampai 189 . Analisis Data Data tinggi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis perepat.

14 Kuadrat tengah (Mean Squares) 1.59 1623. jumlah daun.06 0.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 26.37 695.09 9223. Secara umum. 190 .06* Pr > F 0.2567 0.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3.25 26 41 129.lowii seedling) Sumber keragaman (Source of variance) Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 12.21* 29. rotundatus and D. Peningkatan tinggi semai perepat pada jeluk muka air tanah 10 cm.21 16. rotundatus and D.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 0 cm.68 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) Tabel (Table) 3. 40 cm.36 365.60* 45. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for diameter C. tinggi.0001 0.65 1323.62 0.35 F hitung (F cale) 4.19 6 321. berat kering pucuk dan serapan P tanaman.57 F hitung (F cale) 1. 2.71 1303.22 Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 18.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 13.196 Tabel (Table)1.36 12. 187 .25 2 0.57 6 220.0001 0.53 Kuadrat tengah (Mean Squares) 9.61* Pr > F 0.0001 0.37 1 4172. Juli 2011. 3.0001 0.0001 0.05 6 18.34 3.64* 56.61 26 41 15927.4893 0. rotundatus and D.43tn 53.95 6 24. Perbedaan tanggap tinggi semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 1.0001 0.54* Pr > F 0.71 1 270.0001 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 2.11* 9. perlakuan water table dengan pemberian pupuk SP 36 dan inokulasi jenis JMA mempengaruhi pertumbuhan semai perepat dan jelutung di persemaian. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves C.73tn 745. Tinggi semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 10 cm. diameter. 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.57* 0.21 1 98.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah (Degrees of (Sum of Squares) (Mean Squares) freedom) 34.36 633. 4 dan 5 memperlihatkan bahwa perlakuan water table dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi dengan jenis JMA mem-berikan pengaruh yang sangat nyata terhadap semua parameter yang diuji yaitu.51* 11.92 69.37 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Pada Tabel 1.0100 0.94* 8.18 2 9223.85 2 1303. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C.36 F hitung (F cale) 0.8 No.36 6 9.3.17 6 2192.47 26 41 4954.

02 1 314. 237. 10 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman Tabel (Table) 4.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin.61 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.67 a b c d cd f e i fgh f fgh hi Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks):Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.31 26 41 897. SP 36 fertilization and AMF inoculation for height on C.31* 7.75 2 224. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (Effect of water table. 182.79* Pr > F 0. 0 cm. 0 cm.09 422. dan 107. 162.62 F hitung (F cale) 2. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 77. 30 cm. Pengaruh water table.75 %.35 %. Bostang Radjagukguk.04 4.41* 11. rotundatus and D.13* 8. Peningkatan tinggi semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.05) Gambar (Figure) 1. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake C.53 732.0001 0. 83.59 6 2533.28 F hitung (F cale) 37.37 224.02 52.lowii seedling) Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 22.26 6 120.85 26 Kuadrat tengah (Mean Squares) 3044.40 Sumber keragaman Kuadrat tengah (Mean Squares) 11.0011 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tin gg i s em a i ( cm ) 41 12266. Hasil Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight C. 0 cm.05 6 216.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 45.34 36.08 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 5. 10 cm. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 132. 102.0001 0.0001 0. rotundatus and D.rotundatus and D. kontrol.68 6 2295.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3044.27 %.22 %. Tinggi semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm.46tn 48. Siti Kabirun.67 %.83 %.61 %. dan 324.53 1 4392.lowii seedling) 191 .0001 0.1052 0.93* 5.86 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. dan Sumardi 40 cm.15* Pr > F 0.

pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (Effect of water table. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (Effect of water table. 0 cm30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 2). 10 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves on C. Peningkatan diameter semai perepat pada jeluk muka air tanah 40 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation 50 40 30 20 10 0 Kontrol 0 10 20 30 40 cdecde bcd cde bc cde cde cde a Jumlah daun (he lai) a b cde Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remarks): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.05) Gambar (Figure) 3. dan 10 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.00 % 192 .67 %.67 %. Peningkatan berat kering pucuk semai perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturut-turut lebih besar 534.rotundatus and D.67 %. 0 cm. 188.76 % dan 630.05 %. a ab bc cde ef fg a bcd bc de g gh Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks) : Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 244. Peningkatan diameter semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm. Diameter semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm.3. dan 186.67 % dibandingkan dengan Dia m e te r b at a ng (m m ) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 tanaman kontrol.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 311. 136. Juli 2011. 20 cm.196 Diameter semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 40 cm. 187 . dan 20 cm berturut-turut lebih besar 166.26 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. 10 cm.05) Gambar (Figure) 2. Berat kering pucuk semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol. dan 10 cm berturut-turut lebih besar 93. 0 cm. 136. 20 cm. 0 cm. 30 cm.8 No. Pengaruh water table.lowii seedling) Perbedaan tanggap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 4.13 %.33 % dan 366.05 %. Pengaruh water table.

19 % dan 835. Serapan P tanaman jelutung tidak berbeda nyata. Peningkatan serapan P tanaman perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturutturut sebesar 761. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semai perepat dan jelutung meningkat pertumbuhannya dengan pengatuan water table dan pemupukan SP 36 takaran 100 ppm yang diinokulasi dengan jenis JMA. (2008) jenis JMA endemik 193 . dan Sumardi dibandingkan dengan tanaman kontrol. Peningkatan berat kering pucuk semai jelutung pada jeluk muka air tanah 20 cm sebesar 643.rotundatus and D. SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight on C. Siti Kabirun.80 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. B.05) Gambar (Figure) 4.lowii seedling) Serapan P (mg/tan) 60 50 40 30 20 10 0 b bcd bcd cd 0 10 20 30 b bcd bcd bcd bcd 40 b a a Kontrol Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Hal ini sesuai dengan pendapat Maki et al. Pengaruh water table. SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake on C.56 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.83 20 a 15 10 b 5 0 Kontrol 0 10 Water table Perepat Jelutung 20 30 40 bc c bc bc b bc bc b c a Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Berat kering pucuk semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 20 cm B e ra t ke rin g p u cu k (g ) dibandingkan dengan tanaman kontrol. Gambar (Figure) 5.rotundatus and D.05). Pengaruh water table. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (Effect of water table. akan tetapi pada jeluk muka air tanah 10 cm cenderung meningkat sebesar 851. Bostang Radjagukguk.lowii seedling) Serapan P tanaman perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 5). Hal ini diduga adanya asosiasi JMA endemik pada tanaman lokal gambut dapat meningkatkan pertumbuhan perepat dan jelutung.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepa dan jelutung (Effect of water table.

MA. dan Gonystylus bancanus (Page et al. Castillo.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dan 10 cm. Mycorrhizal Dependency of Mangaba Tree under Increaing Phosphorus Levels. DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin. Caetano. Burhanuddin. Hasil penelitian jeluk muka air tanah juga dapat digunakan untuk pemanfaatan lahan gambut ex-PLG secara optimal. Hasil pengujian jeluk muka air tanah gambut membuktikan bahwa untuk pemulihan hidrologi dengan melakukan pembendungan kanal tidak harus dengan penggenangan. Untuk tanaman jelutung disarankan ditanamn pada jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. R. VOL. Jurnal VOKASI. Cornejo. Azeon.. 10 cm. 2008. S. KESIMPULAN DAN SARAN A. Mycorrhizal Symbioses with Jelutung (Dyera lowii Hook) under Increasing Phosphate Rock Levels in Peat Soil. 10 (2): 135144. 20 cm. Guna pemulihan lahan gambut khususnya EX-PLG Palangkaraya disarankan untuk memanfaatkan pupuk hayati JMA jenis Glomus sp 3 diinokulasikan pada perepat dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm atau 30 cm di lapanagn. 30 cm. Shorea teysmanniana. Effect of AMF Inoculation on the Growth of Combretocarpus rotundatus Miq on a Peat Soil from Central Kalimantan (For Restoration Ex-Mega Rice Project Central Kalimantan). Lebih lanjut menurut Shepherd et al. R. Kesimpulan Hasil percobaan membuktikan bahwa pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3 membuktikan jeluk muka air tanah terbaik 20 cm.. dan tergenang 1 cm. LC. P. namun jeluk muka air tanah terbaik untuk tanaman perepat adalah jeluk muka air tanah 20 cm. Pesquisa Agropecuaria Brasileira. lahan gambut ex-PLG bisa ditanami dengan tanaman campuran tanaman pertanian. de Lemos.4. TMC. 10 cm dan tergenang 1 cm di lapangan. (1995).. C. yaitu dengan mengatur jeluk muka air tanah 30 cm untuk penanaman perepat. Jurnal Biota Vol. Rubio. karena sifat tanah gambut yang tidak bisa balik (irreversible) akan menyebabkan lapisan atas tanah gambut akan hanyut terbawa air yang menyebabkan cepatnya penurunan tanah gambut (subsidence). dan Palaquium leiocarpum. (1999) jenis jelutung ada pada tipe hutan mixed swamp forest. & Nogueira. rotundatus Miq) dan jelutung (D.15 (1): 63-71. Burhanuddin. 2011.8 No. 2011. dan tipe hutan tall interior forest. 1999). Jika lahan gambut akan ditanami dengan tanaman jelutung dapat dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. EEP.lowii Hook) di persemaian. VOL.. & F. 1999). dos Santos.. tipe hutan transition forest. kemudian diikuti jeluk muka air tanah 30 cm. Radjagukguk.3. Campnosperma auriculata. Borie. Kajian Takaran Pupuk SP 36 pada Perepat ( Combretocarpus rotundatus Miq) dengan Inokulasi Mikoriza di Tanah Gambut. Hasil penelitian membuktikan bahwa jika akan memulihkan lahan gambut dengan melakukan penanaman dengan tanaman perepat bisa dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 40 cm. Jurnal BELIAN. Dengan mengetahui jeluk muka air tanah yang sesuai untuk tanaman perepat dan jelutung dapat dimanfaatkan untuk memulihkan tanah gambut dengan jenis-jenis lain yang satu kelompok dengan perepat misalnya Cratoxylon arborescens. 3. Kabirun. dan Page et al. 2. JA. Saran Secara umum dapat disarankan bahwa.. Cardoso. Hal ini sesuai dengan sifat alami dari tanaman jelutung yang tumbuh baik pada kondisi dibawah naungan dan merupakan jenis yang masuk pada tahap sesudah jenis-jenis dalam kelompok tipe hutan riverine forest (Page et al. serta yang satu kelompok dengan jelutung isalnya Shorea balangreran.. 7 (2): 166-178. JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm dapat dimanfaatkan secara luas meningkatkan bibit perepat (C. 2010. 2009.. 187 . B. Mycorrhizal Effectiveness on Wheat Nutrient Acquisition in an Acidic Soil from Southern Chile as Affected by 194 . B. 1. dan yang terbaik pada jeluk muka air tanah 10 cm. 43(7): 887-892.196 setempat dapat memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal pada tanah sulfat masam pH 3.. Juli 2011. & Sumardi.

Edited by Catherine F and John Feehan. 1999. 87-131. Ex Benth Hasil Sinergi Bio-organik dengan Cendawan Mikoriza Arbuskula di Ultisol. Page. S. 31: 1555-1569. 195 . Indonesia. Kualitas Bibit Acacia crassicarpa A. Lemlit. Hal: 243-247.W. 27 (VII).E. & Jyrki Jauhiainen. Martin.O. I. Mendoza. Santoso. Indonesia: Blocking Channels. Prospek Pemanfaatan Bioteknologi untuk Penyediaan Pangan. Fitter. Shotyk.. Pengaruh Endomikoriza dan Media Semai terhadap Pertumbuhan Pulai. Mendoza. Leigh. Hal: 260-269.V.. Phil. J. E. 2004. Maki. 30-36. D. Mangium dan Sungkai di Persemaian. Hal: 222-225. & T.I & Teten. Mendoza. Plant Nutrition and Arbuscular Mycorrhizal Fungi-Plant Symbiosis in a Temperate Grassland along Hydrologic. (Tidak dipublikasi). R. J. 10. Pertanian dan Perkebunan”. Turjaman.. Bungur. 181: 199-207. “ Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Peatland Development: Wise Use and Impact Management. 17-21 Juli 2007.. Bostang Radjagukguk. Trans. Nomachi. A.. & M. 2008. Tullamore. E. H. Kurz) pada Areal Bekas Tebangan dengan Inokulasi CMA dan Pemupukan Fosfat Alam terhadap Bibit di Persemaian. Some Requirement for Restoration of Peatland in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. S. S. E. Cunn. Syaiful. O. Ritzema.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin.. Plant Growth. dan Sumardi Nitrogen Sources. 310: 55-65. Yoshida.S. del Carmen. Escudero. DOI. 2007. Malaysia. Pertanian dan Perkebunan”. LM. Garcia. Ireland. Muin.. Increasing Livelihoods and Controlling Fires. In Journal compilation. Ritzema & H. Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Ketahanan terhadap Kekeringan pada Semai Jati. 2008. Vasander. Faridah. A. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. BPPK DEP Kehutanan. Garcia. Dalam Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999.R. Rieley. Jurnal Plant Soil. 2009. H.O. R. Kitso. Gumbira-Said. 1996. Siti Kabirun.. Plants Symbiotic Microorganisms in Acid Sulaft Soil: Significance in the Growth of Pioneer Plants. Prayudyaningsih. Royal Soc. 2008. Nutr Cycl Agroecosyst. Santoso. Arbuscular Mycorrhizal Fungi can Transfer Substantial Amounts of Nitrogen to Their Host Plant from Organic Material. 2007. Sarawak. Canal Blocking Strategies to Restore Hydrology in Degraded Tropical Peatlands in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. & A. & I.E. & Wiess. From journal of plant Nutrition. Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus Miq. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. no 3. 2008. Y. Relationships among Soil Properties. 2003. H.. London. Hal: 18885-1897 Pidjath. R. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Kuching. Setiadi. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing XI . T. V. 2005.H. Garcia. Ezawa. Saline and Sodic Gradients. New Phytologist. 2008.. In Plant and Soil 275: 305-315. & R. Dalam Proceedings of the 13th International Peat Congress: After Wise Use-The Future of Peatlands.H. Plant Yield and P Acquisition by Lotus Tenuis Plants Reflect the Availability of Added P from Different Phosphate Source. M. J. Hodge. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman... Nutrient Acquisition and Mycorrhizal Symbioses of a Waterlogging Tolerant Legume (Lotus glaber Mill) in a Saline-Sodic Soil.. Efektivitas Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Semai Bitti (Vitex cofassus Reinw). 17-21 Juli 2007. & B. & I. Vol 1. C. Endomikoriza. Interdependence of Peat and Vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest. In FEMS Microbiol Ecol 63: 359-371. Volume 1. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. Limin. Rieley. KSN.E. How do Soil P Tests.1007/s10705-0089245-4. 1999. Bogor. S.. Limin. Bogor.

E. & Effect of Tawaraya..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Samara publ. Indonesia.Y. 2002. S.. E.Carbon Pools. Takahashi.. K.196 Saito. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. 196 . 187 . Carbon-ClimateHuman interaction. Jamal.. Preliminary Selection of Fastgrowing Tree Species with Tolerance to an Open and Dry Peat Land in Central Kalimantan: To Develop a Preceding Planting Method. & Page. Dalam Proceedings of the International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia. Limin.. J. Pertanian dan Perkebunan”. A. Hal: 191210. 17-21 Juli 2007.. M. Gunawan. P.3.E. Shibuya. Restoration and Wise Use. H. A. Tawaraya. & Limin.W. Editor: Rieley. 2007. The Realitionship between Forest Vegetation and Peat Characteristics in the Upper Catchment of Sungai Sebangau. Juli 2011... K. E.G. J. Dalam.. Osaki.. Saito.A. M. Yogyakarta. Putir. Fire. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Susanto.. M. S. M.. UK.. Sampang. S. Santoso. Bali. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Environmental Importance of Trop. Mitigation.H. Ectomycorrhizal Fungi Inoculated on Shorea balangeran under Field Condition in Peat-Swamp Forest.O. S. Tuah. Bogor. Indry. Shibuya. Early Colonization of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Tree Producing Gaharu Aquilaria microcarpa seedlings. K 2007. Segah. K. & M. Rieley. Of the Int. Y..H. Shepherd. Santoso.8 No.O and Page.. Symp on Biodiversity. Turjaman. Tamai. Indonesia. 1995. Turjaman. Proc. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland.H. S.h.. Takahashi.J...E. Central Kalimantan. P.. Peat and Peatlands.Hal: 7579.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful