ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 8 No. 3, Juli 2011
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS (Penilaian Hutan) Mitra Bestari Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA (lnstitut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP) Dr. Ir. Endang Murniati, MS (Institut Pertanian Bogor) Ir. Nina Mindawati, M.Si (Silvikultur) Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah dan Air) Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO-BIOTROP) Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Anggota Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id atau pusprohut@gmail.com. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi Pusprohut, atau download di website Pusprohut : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu. 10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 8 No. 3, Juli 2011
DAFTAR ISI

1.

STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM, MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Communityat the Seram Island, Maluku Samin Botanri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim, dan/and Lilik B. Prasetyo 135-145 TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites 147-153 Dida Syamsuwida dan/and AamAminah TIPOLOGI DESABERDASARKAN VARIABELPENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini, Endang Suhendang, I Nengah Surati Jaya, Hardjanto, dan/and Herry 155-168 Purnomo HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia 169-177 Erly Sukrismanto, Hadi S.Alikodra, Bambang H. Saharjo, dan/and Priyadi Kardono PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO, SUMATERASELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo, South Sumaterat 179-186 Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil 187-196 Burhanuddin, Siti Kabirun, Bostang Radjagukguk, dan Sumardi

2.

3.

4.

5.

6.

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Pen. naungan sedang dan naungan ringan.5%. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. tipe habitat. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol.5 juta batang. rotang. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. makanaro.68 kg/batang.32 Dida Syamsuwida dan Aam Aminah (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan J. sylvestre. Dengan demikian. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Dede Setiadi. Variabel iklim. Pulau Seram. umur semai . Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Maluku J. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram. lahan gambut. Spesies ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. VIII No. perakaran sagu mengalami modifikasi arah pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. dan air payau. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-Nopember 2009. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. VIII No. Kata kunci: Bahan pengatur tumbuh. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. tumbuhan sagu UDC(OXDCF) 630*232. Ibnul Qayim (Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor) dan Lilik B. larutan NaCl.. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam KomunitasAlami di Pulau Seram. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. Pen. Prasetyo (Departemen KSH dan Ekowisata Fak. kapasistas tukar kation (KTK). (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. RH 96 %. Kata kunci: Adaptasi. NaCl dan akuades sebagai kontrol. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masing-masing 566. dan kandungan kalsium air. 2011 p:147-153 Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. 3.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%.3 %. paklobutrazol. 2011 p:135-145 Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. faktor lingkungan. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro.2. Maluku. dan molat. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. Htn Tnm Vol. tanah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Edi Guhardja.04 kg dan 560. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*181 Samin Botanri (Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon). Htn Tnm Vol. 3. VIII No. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. 3. 2 dan 3 bulan.

di mana koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. Saharjo (Departemen Silvikultur. kemampuan lahan. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. Hadi S. Bogor). Pen. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Kata kunci: Koordinasi. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. IPB). dan umur produktif penduduk yang diteliti.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*922. 3. sosial ekonomi. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. Sekolah Pascasarjana IPB). Kata kunci: Biofisik. Bambang H. Hardjanto. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. IPB. Endang Suhendang. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. VIII No. pengendalian kebakaran. institusi . VIII No. rumah permanen. 2011 p:169-177 Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. kelerengan lahan. I Nengah Surati Jaya. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. Bakosurtanal) HubunganAntar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/lahan di Indonesia J. provinsi dan kabupaten/kota.1 Erly Sukrismanto (Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan). sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. Alikodra (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. 3. VIII No. Fakultas Kehutanan. administratif. dan Priyadi Kardono (Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Htn Tnm Vol. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. hutan rakyat. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. Fakultas Kehutanan. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. tipologi desa UDC(OXDCF) 630*432. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. jarak ke kawasan hutan negara. 3. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. Pen.2 Tien Lastini (Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. jarak ke jalan besar. 2011 p:155-168 Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. analisis gerombol. dan Herry Purnomo (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat J. Berdasarkan analisis gerombol. Htn Tnm Vol.

(2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter.39. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen.50 %. 3. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. diameter 136. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C.026 (individu) dan 0. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter.16 (klon) untuk karakter tinggi. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah.49 % untuk karakter tinggi dan 1. di lokasi KHDTK Kemampo. korelasi genetik.430) dan 11 (1.88.80 %. gambut.4 Agus Sofyan (Balai Penelitian Kehutanan Palembang).67. jati. 35 (1. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). VIII No. Siti Kabirun. dan Sumardi (Fakultas Kehutanan. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. diameter dan bentuk batang. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*165. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. 36 (1. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. berat kering pucuk 643.7210).56 %. uji klon. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. 2011 p:187-196 PPenelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. 3. jumlah daun 42. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. 3. VIII No. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi.15 %. sebesar 0. jumlah daun. Untuk jelutung tinggi 107.40 % untuk volume.073).09 dan 0.02 (individu) dan 0. Htn Tnm Vol. 3. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon. Htn Tnm Vol. Universitas Gadjah Mada) Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.00 % dan serapan P 835. perolehan genetik. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0.01 %. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm.574). Sumatera Selatan J. Sumatera Selatan. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9.67 %. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun.3 Burhanuddin (Fakultas Kehutanan. berturut-turut nomor 24 (3. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji.86 %.83 % dan serapan P 851. dengan 4 blok.lowii Hook) di persemaian.73 % untuk diameter. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. Universitas Tanjungpura Pontianak). Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324. 1. VIII No. Mohammad Na'iem dan Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan.43 % bentuk batang serta 8. jumlah daun 437. 14 (1. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. diameter 366. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel.16 % diameter. Pen.61 %.01 (overestimate). Bostang Radjagukguk (Fakultas Pertanian.05 %. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. rotundatus Miq) dan jelutung (D. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. variasi genetik UDC(OXDCF) 630*232.28 % untuk karakter tinggi. Water table .306). taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. berat kering pucuk 630. Glomus sp 3. 2011 p:179-186 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. Pen. diameter. Kata kunci: Heritabilitas.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. Kata kunci: ex-PLG.13 (klon) untuk karakter diameter. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) Kajian Water Table Pada Semai Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq dan Jelutung (Dyera lowii Hook) Diinokulasi Glomus sp 3 Di Tanah Gambut J.

Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. Among the environmental condition. rotang. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Maluku. (3) to describe interaction between sago palm and environmental factors. (2) identify habitat preference of sago palm.3 % of habitat. dan/and Lilik B. 5. Serta memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. sago palm ABSTRAK Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. (0251) 8621947 Naskah masuk : 1 Juli 2010.STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM. Fax. (0251) 8622833 3) Departemen KSH dan Ekowisata Fak. and molat. Prasetyo3) Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon Jln. MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Community at the Seram Island. dan molat. peat swamp or brackish water. Naskah diterima : 22 Mei 2011 1) 1) 2) 2) 2) ABSTRACT Sago palm (Metroxylon spp) is a tropical plant adapted to marginal land such as fresh water swamp. Ibnul Qayim . sun light intensity. dan air payau. Telp/Fax. lahan gambut. habitat type.2 million clumps. Dede Setiadi . Tuni species is the most dominant vegetation which cover 43.2.3 %. The result of research showed that population structure of sago palm in the nature community follows young growth pattern with seedling death of about 85 %. The aim of this research were to : (1) analys conducted to describe of sago palm characteristic in the nature community. Kampus IPB Darmaga. The potential clump population at the Seram Island is about 3. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. Bogor 16680 Jln. In sago palm community there was negative interspecific association with Jaccard index < 0. perakaran sagu mengalami modifikasi arah 135 . environmental factor. and (4) identify the sago palm trees potential and sago flour production at three areas in the Seram Island. Ambon 97582 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. Tuni and sylvestre are the most potential species with production capacity of about 566.5 million trunk of trees. cation exchange capasity (CEC). Maluku Samin Botanri . Raya Tulehu Km. Edi Guhardja . rotang. Maluku secara keseluruhan. Seram Island. 24. (3) melakukan analisis interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. Keywords: Adaptation. makanaro. Swamp condition as adaptation strategy more amount of sago palm roots directed out to water surface. bukan menggunakan metode sensus pada bulan Maret-Nopember 2009. which of about 1. Lingkar Akademik Telp. Penelitian berlangsung di tiga wilayah di pulau Seram. (0251) 8621947. The research was conducted in March to November 2009. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. sylvestre. It was found that there are five of the sago palm species namely tuni. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. makanaro. Bogor 16680 Jln. Agatis Gedung Fapet Wing 1 Lt. and calcium in water were the most factor.04/kg by 560. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu. sylvestre.68 kg/trunk. tentu dengan menggunakan sampling.

2006). II.3. Berkaitan dengan hal tersebut. Tujuan khususnya yaiu : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. sekitar sumber air. antara lain Wilayah Luhu Kabupaten Keterangan (Remarks) : Lokasi sampling (Sampling location) Gambar (Figure) 1. tanah. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. dan kandungan kalsium air.68 kg/batang. tumbuhan sagu I.8 No. Latar Belakang Sagu ( Metroxylon spp) salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropik basah. Secara ekologi. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. dan potensi tumbuhan sagu.145 pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah. interaksi spesies dengan tipe habitat. dan spesies vegetasi dalam habitat itu. Maluku. Variabel iklim. Waktu dan Lokasi Penelitian berlangsung pada bulan Maret Nopember 2009. Kata kunci : Adaptasi. 135 . dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur). maka dapat dikatakan bahwa tumbuhan sagu mempunyai daya adaptasi yang tinggi (Suryana. dan molat (Louhenapessy. kelimpahan spesies. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. atau hutan-hutan rawa. ihur. sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut. Juli 2011. berlangsung di Pulau Seram. (2) bagaimana preferensi habitat tumbuhan sagu?. interaksi dengan parameter ingkungan. Studi ekologi sagu yang selama ini telah dilakukan masih memerlukan suatu penelitian tentang autekologinya yaitu struktur populasi. tipe habitat. penentuan preferensi ekologi seperti tipe habitat. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. dan (4) mengetahui potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram (Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Pulau Seram. 2007).2. makanaro.5 juta batang. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan studi ekologi tumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masingmasing 566. duri rotang. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. BAHAN DAN METODE A. Berdasarkan informasi tempat tumbuh sagu yang cukup bervariasi tersebut. air. Maluku. faktor lingkungan. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. PENDAHULUAN A. kapasistas tukar kation (KTK). Secara umum terdapat lima jenis sagu yang tumbuh dalam komunitas alami maupun budidaya yaitu sagu tuni. mekanisme adaptasi. mikro iklim. B. maka kajian permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami?.04 kg dan 560.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. dan (3) bagaimana interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan?. daerah sepanjang aliran sungai. Peta lokasi penelitian Pulau Seram (Map of site research at the Seram Island) 136 .

Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Bahan dan Peralatan Penelitian menggunakan potensi tumbuhan sagu yang tersebar pada tiga wilayah di Pulau Seram. 13. Plot Penelitian Wilayah sampel ditetapkan meng-gunakan metode judgement sampling/ purposive random sampling. sebagian tunas anakan yang muncul dari pangkal batang tidak bersentuhan dengan tanah. dan 17. oksigen. cahaya. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. jumlah individu sagu menurut fase pertumbuhan. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. 2. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan formula Cox (2002) : INP = KR + FR + DR. Sampel air rawa diambil dari habitat tergenang kemudian dianalisis kualitasnya. 1997). Berdasarkan parameter tersebut. jumlah individu spesies yang kedapatan pada setiap unit contoh. Pengamatan vegetasi bawah (seedling) dilakukan pada petak berukuran 2 m x 2 m. 137 . didekati dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) (Supranto.00 .60 cm. Jumlah petak pengamatan sebanyak 131 plot. Analisis tanah dan air dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Ibnul Qayim. intensitas cahaya di bawah tegakan diukur menggunakan lux meter (light meter). Data iklim lokal diperoleh dari stasiun klimatologi Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (MT).33 % (206. (2) analisis asosiasi spesies menggunakan rumus Chi-square. Edi Guhardja.00.34 %. Dalam populasi tersebut jumlah individu fase semai yang berhasil tumbuh ke fase pertumbuhan berikutnya hanya sebesar 15. Penentuan Contoh a.30. berkurang secara drastis pada fase berikutnya (Gambar 2). diidentifikasi oleh ahli taksonomi dari Herbarium Bogoriense.53 lux. Tingginya tingkat kematian ini dapat disebabkan karena : (1) sifat pertumbuhan anakan sagu. (3) tingkat asosiasi ditetapkan menggunakan indeks Jaccard (JI) : JI = a/a+b+c c. Maluku Samin Botanri. gagal tumbuh ke fase berikutnya mencapai 84.30 cm dan 30 . diukur antara pukul 11. AnalisisAsosiasi Interspesifik Asosiasi interspesifik ditentukan menggunakan formula menurut Ludwig & Reynolds (1988) dengan tahapan : (1) analisis Variance Ratio (VR) menggunakan rumus : VR = ST 2 / δ T 2 . dan Lilik B. Dede Setiadi. dan pohon 20 m x 20 m. b. Maluku. Hasil pengukuran intensitas cahaya surya di dekat rumpun sagu hanya sekitar 12. 15 dan Minitab ver. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Intensitas cahaya surya di bawah tegakan sagu. Salinitas ditetapkan menggunakan refraktometer. 2004). B. ruang. Parameter yang Diamati Pengamatan sagu dan vegetasi lain meliputi : jumlah rumpun. 15. dan unsur hara. C. Spesies tumbuhan yang tidak diketahui. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0 . Analisis Komponen Utama Interaksi tumbuhan sagu dengan komponen abiotis. SPSS ver. III.00. Metode Penelitian 1. Struktur Populasi Secara umum struktur populasi tumbuhan sagu di Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda yaitu populasi dengan jumlah individu paling banyak terdapat pada fase semai.00. (2) terjadi persaingan di antara masing-masing individu dalam rumpunnya. yang merupakan ulangan yakni Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Petak pengamatan ditetapkan menggunakan metode garis berpetak (Kusmana. Pada setiap plot dibuat petak sesuai ukuran masing-masing. Persaingan yang dimaksud berkaitan dengan komponen di atas permukaan tanah seperti udara. dan luas tutupan (coverage). sapling 5 m x 5 m. jenis vegetasi. tiang 10 m x 10 m. Wilayah sampel terpilih yaitu Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat.14. Analisis data menggunakan perangkat lunak Ecological Methodology. b. Prasetyo Seram Bagian Barat. maka dilakukan : a. Suhu dan kelembaban relatif diukur menggunakan thermohigrometer. dan komponen di bawah tanah seperti air. Kemudian ditetapkan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD atau SDR summed dominanced ratio) = INP/3 (%).66 %. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kematian individu fase semai. Lingkungan dan Tanah Suhu dan kelembaban udara relatif diukur pada pukul 07.

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. LMT = Lewat Masak Tebang (Mature Trees. Semai Sapihan Tiang BMT MT LMT Keterangan (Remarks) : BMT = Belum Masak Tebang (Immature Trunks).3. Gambar (Figure) 3. dan (4) mengalami keracunan karena kandungan Fe (3. tunas anakan yang masih muda memiliki daya adaptasi yang rendah terhadap kondisi lahan tergenang (tereduksi). nilai kekurangan Fe dan Al tersebut termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria (Balai Penelitian Tanah. Hasil pengukuran kemasam- an tanah menunjuk-kan bahwa pH tanah dapat mencapai 4. MT = Masak Tebang (Mature Trees .145 ruang terbuka 1675. (3) rentan terhadap pH rendah.8 No. Perbandingan NJD sagu dan non-sagu di plot penelitian (SDR camparison of sago palm and non sago palm at the research plot).99) tanah. 135 . 2005).29 lux). Juli 2011.08) dan Al (4.Harvestable). Rendahnya intensitas ini karena terdapat hambatan oleh tajuk rumpun sagu itu sendiri.Not Harvestable) Gambar (Figure) 2. Struktur populasi sagu di Pulau Seram (Population structure of sago palm at the Seram Island).31 (pH KCl). 138 .

64 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat.50 274.0 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). 139 . Jenis sagu (Sago species) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah TTG ind/ha 103. ind = individu (individual).58 0.94 % 50. Populasi rumpun sagu pada tipe habitat berbeda di Pulau Seram (Clumps population of sago palm of the habitat type at the Seram Island)) No.30 1. yaitu tipe habitat yang mengalami genangan pada periode waktu relatif cukup lama. 170.32 0. maka Tabel (Table) 1.3 %.80 22. Dua tipe habitat itu dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi empat tipe yaitu : (1) habitat tergenang temporer air payau yaitu tipe habitat yang dicirikan oleh adanya pasangsurut. makanaro. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). berupa rawa-rawa yang tergenang secara temporer maupun permanen.22 20. 5.87 2. Dua jenis sagu yang lain yakni rotang dan molat tumbuh pada habitat terbatas. akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan.00 55.0 TPN ind/ha 61.0 ind/ha 62.01 % 37. Kondisi tersebut ditemukan pada setiap sempel dan masih perlu riset lebih lanjut untuk memetakan luasnya. Maluku Samin Botanri. C.58 0. Jika kondisi ini terjadi maka regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak.85 % 58.00 14. maka dominasi spesies sagu juga meningkat (Gambar 3). karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu lama.20 36.00 0.19 164. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sagu tuni merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan. (3) habitat tergenang permanen.0 Rataan (Average) ind/ha 87. dan Lilik B.61 100. sedangkan jenis sagu molat ditemukan tumbuh pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN).07 16.26 28.00 5.86 15. Prasetyo B.33 26.65 100. 2.09 0. diperoleh hasil ditemukan bahwa sagu tuni memiliki jumlah individu paling banyak (99. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). Edi Guhardja. Dede Setiadi.49 34.95 4.04 11.00 100.62 9.60 37.00 96.31 21. fenologi. Ibnul Qayim. dan frekwensi yang melampaui spesies yang lain dengan penguasaan habitat mencapai 43.83 0.24 19.69 15.00 0.10 0.00 100. (2) habitat tergenang temporer oleh air tawar yaitu tipe habitat dimana genangannya sangat ditentukan oleh ada-tidaknya hujan.0 Tipe Habitat (Habitat Type) T2AT T2AP ind/ha 124. Mueller & Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005) mengemukakan bahwa komposisi bervegetasi alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi. dominasi.66 % 64. Habitat danAdaptasi Tumbuhan Sagu Secara umum tipe habitat sagu di Pulau Seram dapat dipisahkan menjadi dua kategori yaitu (1) habitat lahan kering dan (2) habitat lahan tergenang. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp). dan (4) habitat lahan kering. Kondisi tersebut dapat terlihat dengan bertambahnya fase pertumbuhan. Jenis sagu rotang hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG). dan sylvestre (Tabel 1).06 0.04 100. biasanya lebih dari satu bulan.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dan menyolok.27 0.67 1. artinya kondisi habitatnya tidak pernah tergenang. Kelimpahan Spesies Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun sagu dan nisbah jumlah dominasi (NJD) dalam komunitas sagu menunjukkan bahwa spesies sagu merupakan jenis vegetasi yang menguasai sebagian besar areal lahan di plot penelitian. Jenis sagu yang dapat tumbuh dan berkembang pada semua tipe habitat adalah jenis sagu tuni.00 33.01 85.37 37. Berdasarkan penelitian tersebut jumlah individu masing-masing spesies sagu.97 7. Fenomena seperti ini merupakan gambaran umum yang sering dijumpai pada tipe vegetasi yang mengarah kepada kondisi klimaks dan stabil.72 27. dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap.47 0. 4. 3.14 10.08 20.00 12.00 173. Apabila interaksi tumbuhan sagu dengan tipe habitat ini dijadikan acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasinya.92 % 52.3%).93 ind/ha) dan NJD paling tinggi (43.

Sagu rotang merupakan jenis sagu yang memiliki daya adaptasi paling terbatas karena hanya tumbuh pada habitat lahan kering (steno tolerance).145 dapat dikatakan bahwa jenis sagu tuni memiliki kemampuan adaptasi yang luas (eury tolerance). Komponen Biologis Hasil analisis asosiasi interspesifik menunjukkan bahwa secara simultan (keseluruhan) terjadi asosiasi antar spesies dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram dengan nilai VR sebesar 0. tumbuhan melakukan mekanisme adaptasi morfologi dengan membentuk sistem perakaran dangkal (Daubenmire. Berbeda dengan jenis lain.3. Modifikasi arah pertumbuhan akar sagu pada kondisi tergenang (Roots growth modification of sago palm af the swamp condition) E. Pada kondisi dimana asosiasi bersifat negatif ekstrim. namun memiliki populasi yang rendah.35-21. Hasil analisis asosiasi spesies berpasangan menunjukkan bahwa terdapat asosiasi diantara spesies sagu dan antara sagu dengan non sagu dengan nilai chi-square berkisar dari 4. (1999 dalam Kurniawan et al.14 (termasuk kategori rendah) (Tabel 2). Barbour et al. Hal tersebut ditunjukkan dari jumlah rumpun dan jumlah populasi semua fase pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu yang lain. maka pada kondisi lahan dengan aerase jelek. artinya keadaan dimana terjadi keterbatasan oksigen di dalam tanah.47 . Pada habitat tergenang biasanya muncul akar berukuran kecil dalam jumlah banyak dengan arah pertumbuhan menuju permukaan air sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas. baik yang sifatnya temporer maupun permanen. 1994). Jenis sagu makanaro dan sylvestre tumbuh pada semua tipe habitat.03 dengan indeks Jaccard rata-rata 0. Berdasarkan hasil penelitian pH tanah menunjukkan kisaran pH tanah (pH H2O) 4. Dengan meningkatnya jumlah individu yang satu akan menekan pertumbuhan individu spesies lain (Soegianto. Kondisi plot yang senantiasa tergenang cenderung merupakan kondisi tanah masam. Ketika pH rendah. Juli 2011. Molat ditemukan pada habitat T2AT dan TPN. Menurut Krivan & Sirot (2002) dikemukakan bahwa dalam asosiasi interspesifik dapat memunculkan kompetisi interspesifik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiga jenis sagu tersebut memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). suatu spesies dapat muncul sebagai kompetitor yang mendominasi spesies lain. terutama dalam pembagian ruang hidup. D. Levitt (1980) menyebutnya sebagai cekaman defisit oksigen.5.8 No. Gambar (Figure) 4. Habitat tergenang identik dengan kondisi tereduksi. Mekanisme perubahan ini agar penyerapan oksigen oleh perakaran dapat berlangsung dengan baik. Interaksi yang bersifat negatif meberikan petunjuk pula bahwa tidak terdapat toleransi untuk hidup secara bersama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.31. Dalam kaitan dengan kondisi yang tereduksi ini. 2008) mengemukakan bahwa asosiasi yang bersifat negatif memberikan petunjuk bahwa setiap tumbuhan dalam suatu komunitas terjadi saling memberi tempat hidup pada suatu area habitat yang sama. 140 . dan tiga (3) dari empat (4) tipe plot penelitian termasuk kategori tergenang. Asosiasi antar spesies yang bersifat negatif menunjukkan bahwa terjadi perebutan dalam penggunaan sumberdaya. Syekhfani (1997) mengemukakan bahwa logam memiliki kemampuan untuk melisis air sehingga pH tanah dapat semakin masam. 135 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. maka adaptasi sagu ditunjukkan melalui sistem perakarannya yang mengalami modifikasi arah pertumbuhan (Gambar 4). Fe dan Al akan larut sehingga konsentrasinya meningkat dan dapat bersifat meracun (toxic) (Brady 1990). MekanismeAdaptasi Sagu Sebagian besar sagu tumbuh pada lahan tergenang.83.63 dan pH KCl 4. Tanah-tanah masam dengan kandungan logam tinggi seperti Fe dan Al dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan perakaran. Interaksi dengan Faktor Lingkungan 1. Nilai VR < 1 mengandung makna bahwa asosiasi antara spesies bersifat negatif. 1974).

03* 20.2.2 Nephrolepis sp..25 0. 2005 & Marzuki. Hal ini berarti bahwa apabila curah hujan bertambah.05 0.10 0. M.4 Pandanus furcatus Roxb.12* 16.50 Second Component S ry _ l okal 0.69* 4.2 Homalomena sp. Edi Guhardja. KomponenAbiotis a. Korelasi negatif terjadi pula antara variabel temperatur mikro dengan kelembaban mikro. 1.16 0. Diagram loading plot korelasi variabel iklim habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of climate variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Dengan mempertimbangkan akar ciri (eigenvalues) dan vektor ciri (eigenvector) terbesar.02 1. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masing-masing variabel (Dewi.3 M.53* 5. sagu var molat 1.5 Homalomena sp.04 0. 4.76* 9. Model indeksnya sebagai berikut : 141 .74* 6.50 -0. rumphii Mart subvar makanaro (Becc) 2.4. Sedangkan variabel temperatur mikro. dan Lilik B.1 Pandanus furcatus Roxb.25 F irst Com ponent T_mikr o 0. 1.05) 2.56* 4. rumphii Mart subvar tuni (Becc) 1. Nama spesies (Species name) Chi-square (X2) Tipe Asosiasi Indeks Jaccard (Association type) (Jaccard index) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 0. CH RH_mikr o 0.25 -0.06 0.6 Nephrolepis sp.76* 5.. rumphii subvar makanaro 1. maka diikuti dengan peningkatan sinaran surya mikro. M. rumphii var sylvestre 2.3 Nephrolepis sp. Dede Setiadi.1.45* 4.15 0.50 -0. sagu var molat 2. sagu var molat 3. rumphii Mart var sylvestre (Becc) 3. Korelasi yang bersifat positif mengandung pengertian bahwa apabila sinaran surya lokal meningkat.25 0.00 0. rumphii var sylvestre 1.04 0. Chi-square untuk pengujian asosiasi interspesifik spesies berpasangan penyusun utama komunitas sagu pada plot penelitian di Pulau Seram (Chi-square for interspecific association testtopair dominantspecies inthesagopalm communityatresearchplottheSeram Island) No.2 M. Hal ini ditunjukkan dengan sudut lancip yang dibentuk garis loading plot kedua variabel tersebut (Setiadi.75 LoadingPlot of T_m ikro. 0.47 0. Korelasi yang sama terjadi pula antara variabel sinaran surya dengan temperatur mikro.1 M.48* Keterangan (Remarks): * signifikan pada taraf α 0. Nephrolepis sp. Dalam konteks ini besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan sagu (PS). M.28* 21. 1998).50 0.38%. sinaran surya lokal dan curah hujan dengan kelembaban mikro. M. M. 3.14 0.43 0. maka sinaran surya (lokal & mikro).15 0. Maluku Samin Botanri. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor iklim terhadap PS di Pulau Seram sebesar 3. .3..31* 4. 4.20 0.04 0. dan temperatur mikro akan menurun. dan sinaran surya mikro memiliki korelasi negatif dengan curah hujan (ditunjukkan oleh sudut tumpul garis loading plotnya). Homalomena sp. Ibnul Qayim. M. sinaran surya lokal. sagu Rottb var molat (Becc) 4.05 (significant of the α 0. Variabel Iklim Hasil analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA ) untuk menjelaskan interaksi variabel iklim menggunakan loading plot menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel sinaran surya lokal dan mikro (Gambar 5). 2007).00 CH S ry _mik ro -0. 3.96* 4.1 M. 2.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.08 0. 2.35* 4. Prasetyo Tabel (Table) 2.75 Gambar (Figure) 5.73* 5. 6.

dan sebaliknya apabila KTK rendah termasuk kurang subur.1 0. Korelasi yang bersifat positif ini mengandung pengertian bahwa dengan makin bertambah kandungan kalium. Interaksi dengan Variabel Kualitas Air Rawa Hasil analisis PCA kualitas air rawa menunjukkan bahwa pH air memiliki korelasi positif dengan kalium.78T-mikro) + (1. Liat = partikel liat. maka ditentukan besarnya kontribusi relatif variabel kualitas air rawa terhadap PS. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor tanah terhadap PS di Pulau Seram sebesar 10. 135 . Banyak tunas anakan sagu mengalami kematian karena terjadi kompetisi yang kuat diantara individu setiap rumpun dalam mendapatkan sinaran surya. Ca = Kalsium. . pH-KCl = kemasaman tanah potensial.2 F irst C om p one nt 0 . Syr-lokal = sinaran surya lokal. dan kalium (Gambar 6).82Liat) dimana : PS(F-tanah) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor tanah.85Mg) + (1. magnesium.2 -0. dengan sendirinya akan meningkatkan kadar salinitas.5 0 . Diagram loading plot korelasi variabel tanah habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of soil variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island). Korelasi positif terjadi pula antara KTK dengan kalsium.4 0.0 Sec ond Component -0.4 -0.5 Kalium Liat BD -0.3 Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar. dan kalium. Sedangkan pH berkorelasi negatif dengan Fe.47RH-mikro) + (1. Model indeksnya sbb : PS(F-tanah) = (1.5 Kal ium Magnesium -0. dan magnesium.5 Gambar (Figure) 6. c. C-hujan = curan hujan.2 -0. Pada model di atas.. Liat 0. kalsium. Partikel liat berkorelasi positif dengan bulk density (BD). Argumen ini dikemukakan karena KTK merupakan parameter tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah (Hardjowigeno 1992). Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar. b. Variabel kualitas air rawa yang memiliki C_organik Load in gPlot ofp H(KC l). Tanah dengan KTK tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut subur.2 0. kalsium. dan magnesium merupakan kation basa yang memainkan peranan dalam meningkatkan pH.1 -0.90KTK) + (1. Cahaya surya yang masuk sampai dekat rumpun sagu hanya mencapai 12. artinya apabila Fe meningkat.4 0.0 BD L iat -0. Kalium..60pH-KCl) + (0.64Ca) + (0.2 -0.2 F irst C om ponent 0.90%).4 0.63C-hujan) dimana : PS = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor iklim.1 0.15%.4 -0 . Mg = Magnesium.17K) + (1.10Sry-lokal) + (1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Juli 2011.1 0..1 0. KTK = kapasitas tukar kation. Fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa kematian tunas anakan sagu antara lain dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya surya yang masuk sampai ke bagian bawah tajuk rumpun sagu. maka akan diikuti dengan variabel yang lain.0 0.1 M agnes ium -0.1 0 .27BD) + (0. magnesium.. T-mikro = temperatur mikro. C-org = karbon organik. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan sifat tanah sangat ditentukan oleh kapasitas tukar kation (KTK).3 0. K = Kalium. Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan suatu variabel..3 -0. Hal ini berarti bahwa sagu menghendaki tanah dengan kesuburan yang memadai.3 -0. kalsium. 142 .1 0.3. RH-mikro = kelembaban mikro. kalsium. Loading Plot of pH (KCl). dan magnesium (Gambar 7). maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masingmasing variabel tanah terhadap pertumbuhan sagu.8 No.2 -0.2Fe 0.. BD = bulk density. Fe = Ferrum. Variabel tanah yang memiliki kontribusi tertinggi adalah KTK (1.40%. Selain itu kation-kation basa yang meningkat.83C-org) + (1.0 Fe pH(KCl ) Kal si um KTK pH(KCl) Kalsium KTK Second Component 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor kualitas air rawa terhadap PS di plot penelitian sebesar 10.3 0.C _org an ik C _organik 0. Srymikro = sinaran surya mikro. KTK. maka pH air akan meningkat.3 0 . Pada model indeks PS di atas.145 PS(F-iklim) = (0.4 0..07Fe) + (0.15%. maka pH akan berkurang (semakin masam). Interaksi dengan Variabel Tanah Hasil analisis PCA faktor tanah menunjukkan bahwa variabel C-organik berkorelasi positif dengan pH.66Sry-mikro) – (1. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram sangat ditentukan oleh variabel intensitas cahaya surya mikro.

5 304. Pada luas areal tersebut tumbuh dan berkembang sekitar 3..239 ha.025.588.6 378.3 315.9 1.1 118. Ibnul Qayim.2 331. dan pohon lewat masak tebang 0.6 1.14 juta individu. Kalsium juga merupakan kation basa yang berperan dalam memperbaiki kemasaman air.8 58.00 First Component 0.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.6 678. NO3 = Nitrat Loading Plot of pH.468.2 55.8 277. Prasetyo kontribusi tertinggi adalah kalsium (1. Model indeks PS terkait dengan peran faktor kualitas air rawa di Pulau Seram sebagai berikut : PS(F-KAR) = (1. Maluku Samin Botanri. Hasil perhitungan potensi produksi pati sagu basah di plot penelitian wilayah Pulau Seram diperoleh bahwa jenis sagu tuni dan sylvestre memiliki potensi produksi paling tinggi. Edi Guhardja.25 0. Mg = Magnesium.47 juta individu. Atas dasar jumlah individu yang dimiliki.22 kg/batang (Tabel 4).8 3.0 61.8 27.55 juta individu.135.1 162.61pH) + (1.2 0. 279.50NO3) + (0.18K) + (1. sylvestre 726. Salinitas Kalium merupakan unsur hara esensial makro.0 37.8 348.7 13..73Ca) + (1.4 -0. Masak Phn.7 1.14Salinitas) dimana : PS(F-KAR) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor kualitas air rawa.9 118.4 3.2 114.0 12. Potensi populasi tumbuhan sagu di P.12 juta individu (Tabel 3)..2 2. Pada tabel 4 tampak bahwa tipe habitat berperan dalam mempengaruhi produksi pati sagu.73%). Potensi produksi kedua jenis sagu ini hampir sama pada semua tipe habitat. artinya diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah yang relatif banyak.3 95.0 20. ind = individu (individual).1 Phn.6 0. Seram (Population potential of sago palm at the Seram Island) Jenis Sagu (Sago Species) Jumlah Rumpun Semai (Seedling) (Numbers of Clump) 1. Dede Setiadi. Phn = pohon (trees).6 Magnesium Second Component 0.714. Potensi Populasi dan Produksi Pati Sagu di P.220. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan kualitas air rawa sangat ditentukan oleh kandungan kalsium.50 -0.3 552.10Mg + (0.22 juta rumpun sagu.2 Salinitas pH -0. . Pada tipe habitat TTG dan T2AT produksi pati sagu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tipe habitat T2AP dan TPN. Kalsium Tabel (Table) 3. 0.7 142.59 individu. K = Kalium. pH = kemasaman air.3 543.0 0.35 juta individu.745. Seram Di Pulau Seram Maluku terdapat potensi luas areal sagu sekitar 18. 143 . Diagram loading plot korelasi variabel kualitas air rawa habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of water swamp quality variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Pada model indeks di atas.6 9. terdiri dari sagu fase semai 6.8 629.5 67. pohon masak tebang 0. Lewat Tebang Masak Tebang (Mature trees (Mature trees Harvestabe) Non Harvestabe) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah 775.8 Sapihan (Sapling) Fase Pertumbuhan Tiang Pohon (Pole) (trees) x 1000 ind.8 1. sapihan 1.1 Keterangan (Remarks) : Data primer tahun 2009 (Primery data in 2009 year).0 Kalsium -0.50 Gambar (Figure) 7. Hal ini berarti bahwa untuk pertumbuhan sagu diperlukan kalsium yang memadai. tiang 0. d.50 kg/batang. pada habitat tidak tergenang (lahan kering) potensi produksi sagu basah tuni rata-rata mencapai 685.25 0. pohon 1.4 NO3 0.3 276.714 juta rumpun). Ca = Kalsium.2 6.8 57. dan Lilik B. Berdasarkan tipe habitat. dapat dikatakan bahwa sagu tuni merupakan jenis sagu yang sangat potensial karena memiliki jumlah individu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis sagu yang lain (1.8 104.991.

3.21 560. DAFTAR PUSTAKA [BPT] Balai Penelitian Tanah. Tanaman.145 Tabel (Table) 4.22 kg/batang. dan Pupuk.11 708. 2. sedangkan kapasistas produksi sagu basah jenis sagu makanaro dan molat masing-masing sekitar 245. 4. 3. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah. Kesimpulan 1. dengan tingkat asosiasi secara umum rendah (JI < 0.68 kg/batang. masing-masing mencapai 566. The Nature and Properties of Soils. bioetanol atau industri lainnya). sylvestre. didominasi oleh fase semai dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya sangat tinggi mencapai 85%. dan kandungan kalsium air.00 126. Saran 1. maupun pemenuhan kebutuhan berbagai industri (makanan. 4.50 353. dan molat dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). Dalam komunitas sagu alami di plot penelitian wilayah Pulau Seram. Air. Seram (Yield potential of sago palm starch of the habitat type at the Seram Island) No.74 Tipe Habitat (Habitat Types) T2AT T2AP TPN kg/batang 721. 5.13 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). New York. kualitas air rawa. Dalam komunitas tersebut terjadi asosiasi interspesifik bersifat negatif. 135 . Brady. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).50 324. 144 . Departemen Pertanian. Bogor. Jenis Sagu (Sago Species) Tuni Makanaro Sylvestre Molat Rataan TTG 685. B.22 578. tumbuh dan berkembang mengarah kepada kondisi vegetasi yang bersifat klimaks dan stabil.C. Juli 2011. 2.3. spesies sagu telah berkembang mendominasi sebagian besar habitatnya. Sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu yang memiliki kapasitas produksi pati sagu yang cukup tinggi. Upaya peningkatan produksi pati sagu di habitat alam dapat dilakukan dengan penyatuan pola pertumbuhan individu dalam rumpun yang stabil melalui upaya sortasi anakan dan pengaturan jarak tumbuh antar individu rumpun. MacMillian Publishing Company. dan kualitas air rawa yang paling berperan terhadap pertumbuhan sagu di Pulau Seram masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. baik secara kolektif maupun antara spesies berpasangan. kapasistas tukar kation. KESIMPULAN DAN SARAN A.81 Rataan (Average) 566. Terdapat interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan (iklim.00 348. tanah. 2005.44 516. Struktur populasi sagu di plot penelitian wilayah Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda.50 726.68 237. 1990.26 186. Sagu tuni merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi luas (eury tolerance). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. IV.2).04 245.00 258. sedangkan rotang merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi sempit (steno tolerance).04 dan 560.17 378. dan vegetasi non sagu). Tiga jenis sagu yang lain yaitu makanaro.00 287.21 dan 237. Variabel iklim.22 348. Potensi produksi pati sagu pada tipe habitat berbeda di P. tanah. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). N.06 183. 1.8 No. Upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat dari jenis sagu bagi masyarakat di pedesaan Maluku dan Papua.50 479.00 460. dapat dilakukan dengan mengembangkan jenis sagu tuni serta sagu sylvestre baik pada tipe habitat lahan kering maupun tipe lahan tergenang temporer air tawar. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.22 393. 2. minuman.

Nusa Tenggara Timur. 2005. Jakarta. C. Bogor. G. New York. dan DNA Pala Banda (Myristica fragrans Houtt) Maluku [Disertasi]. A. Netherlands. Dede Setiadi.org/Publications/ pdf/238. Keterkaitan Profil Vegetasi Sistem Agroforestri Kebun Campur dengan Lingkungannya. Eigth edition. a Primer on Methods and Computing. Usaha Nasional.E. R. International Plant Genetic Resources Institute. Fakultas Pertanian. Bogor. New York Louhenapessy. ________. J. Laboratory Manual.J. 1997. Metroxylon sagu Rottb.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Metode Survey Vegetasi. S. K.. 2002.cgiar.. and E. Kurniawan. 1980. Institut Pertanian Bogor. J Biodiversitas 8 (3) : 199-203. Putra. Pendit. J. Plant and Environment. Wageningen Agriculture University. 2008. Soegianto.pdf. Rineka Cipta. Arti dan Interpretasi. J Biodiversitas 6 (2) : 118-122. dan I Made R. 2007.W. Ludwig. Sulawesi Utara. Potensi dan pengelolaan sagu di Maluku. Makalah disampaikan pada lokakarya sagu dengan 145 . M. Penerbit Institut Pertanian Bogor. Syekhfani. Metode Analisis Populasi dan Komunitas. 1974. Promoting the Conservation and Use of Underutilized and Neglected Crops. 1992. I. Bitung. Hardjowigeno. 2002.F. Sago Palm. General Ecology. V. Diakses tanggal 11 Agustus 2008. Analisis Multivariat. 1994. Program Pasca Sarjana. New York. PT. Responses of Plant to Environmental Stresses. Asosiasi Jenis-Jenis Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko. J. Statistical Ecology. a Textbook of Autecology. Second edition. 1988. Third edition. Maluku Samin Botanri. Rome. and J. 1997. Disertasi. Suryana.F. McGraw Hill. Setiadi. dan Lilik B. Habitat Selection by to Competing Species in a Two-Habitat Environment. Bogor. Prasetyo Cox. A.Ambon 29-31 Mei 2006. Institut Pertanian Bogor. Ekologi Kuantitatif. Surabaya Supranto. New York Flach. Edi Guhardja. Academic Press. Kusmana. Daubenmire. Malang. Marzuki.E. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Ruteng. J The American Naturalist 160 (2) 214-234. Isozim. 2004. A. A.ipgri. Sirot. Sekolah Pascasarjana. : PT. Jakarta Ilmu Tanah. 2007. Melton tema sagu dalam revitalisasi pertanian Maluku. 1997. Studi Morfo-Ekotipe dan Karakterisasi Minyak Atsiri. John Wiley & Sons. Batam. Krivan. John Willey & Sons. Universitas Brawijaya. Ibnul Qayim. Reynolds. 1998. Levitt. pp 76. Hara-Air-Tanah-Tanaman. 25-26 Juli 2007. Jurusan Tanah. Makalah disampaikan pada lokakarya pengembangan sagu Indonesia. http://www. 2006.Undaharta Ni.. D. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia.

kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. Keywords: Growth regulators. naungan sedang dan naungan ringan. Naskah diterima : 1 Juni 2011 ABSTRACT Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) is one of forest tree species that known to have seeds with rapidly loss their viability in several days.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. there should be an attemption to carry out a research on storing seedlings other than seeds by using slow growth method. umur semai 147 . the research was proposed by using factorial random complete design. PO Box 105. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. The aim of the research was to determine the influence of growth inhibitors.5%. larutan NaCl.TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites Dida Syamsuwida dan/and Aam Aminah Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan-Ciheuleut.13 % in average and gave 95% of seedling survival. (0251) 8327768 Naskah masuk : 14 Juli 2010. Dengan demikian. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). so as storage of the seed for this species is still becoming a question. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Therefore. seedling ages ABSTRAK Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. light intensity of 650 lux) and application of NaCl 0. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. The growth regulators were consisted of paclobutrazol. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. the age of seedlings at the time of spraying were 1. Kata kunci : Bahan pengatur tumbuh. NaCl solution.16001 Telp. RH 96 %./Fax. The environment conditions were arranged by placing the seedlings under heavy. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. 2 and 3 months olds. paclobutrazol. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. Statistically. environment conditions and seedling ages on the growth of kayu bawang seedlings during storage. Bogor . 2 dan 3 bulan. The results revealed that factors inhibiting the growth rate of kayu bawang seedlings effectively in term of storing for 6 months were the placement of 3 months old seedlings under heavy shading (T 25 0C. NaCl and aquadest as the control. paklobutrazol. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). RH 96 %. moderate and light shading. NaCl dan akuades sebagai kontrol. Meanwhile. Such treatments could supress the height and diameter growth of the seedlings up to 59.5% solution.

Biji kayu bawang segar mempunyai persen tumbuh 80 %. Jumlah biji per kilogramnya adalah 200 .. Bogor. Juli 2011. dengan masa dormansi singkat kurang lebih 10 hari. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth) yang diadopsi dari teknik penyimpanan Hawkes (1980).5%) dan akuades sebagai kontrol. termometer.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. B. bahan pengatur tumbuh dan umur semai saat penyemprotan yang efektif untuk disimpan. terutama untuk kayu pertukangan. label. kemudian diletakkan di rumah kaca dan dilakukan penyiraman setiap hari. bak perkecambahan. kaliper. rumah tumbuh. BAHAN DAN METODE A. RH = 40%. Tujuan dan Sasaran Tu j u a n p e n e l i t i a n a d a l a h u n t u k mendapatkan teknik penyimpanan semai kayu bawang melalui aplikasi bahan penghambat tumbuh dan pengaturan naungan pada umur semai yang berbeda. shading net. maka telah dilakukan penelitian penyimpanan dengan melibatkan faktor kondisi lingkungan tempat simpan. intensitas cahaya 8935 lux) dan naungan ringan (T = 300C. Latar Belakang Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) merupakan jenis andalan Kabupaten Bengkulu Utara yang mempunyai pertumbuhan cepat dan kualitas yang baik. C. Kecambah dibiarkan tumbuh hingga berumur kurang lebih 4-5 minggu. Setelah semai berumur 1. timbangan analitis.5%. Untuk mendapatkan larutan NaCl 0. Kayu bawang dikembangbiakkan oleh masyarakat secara generatif/dengan biji. Pengecambahan benih Benih dikecambahkan dalam bak kecambah berisi media pasir-tanah dengan perbandingan 1:1.3. Setiap jenis tanaman akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan demikian juga umur tanaman saat diberi perlakuan.153 I. Alat-alat yang digunakan adalah alat gelas. 2001).hutan sekunder terutama daerah Bengkulu Utara. RH = 96 %. intensitas cahaya 17593 lux).2. Jenis kayu bawang adalah satu di antara sekian banyak jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. Dengan demikian. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Stasiun Penelitian Nagrak yang berjarak ± 10 km dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. Sehubungan dengan upaya penyimpanan semai kayu bawang. Metode Penelitian 1. Semai pada masing-masing kondisi perlakuan. B. Perlakuan Semai yang telah berumur 5 minggu dipindahkan (disapih) ke dalam polybag ukuran 10 cm x 20 cm yang masing-masing berisi media pasir.8 No. sehingga penyimpanan benih untuk jenis tanaman ini masih menjadi kendala.Juli. Musim bunga dimulai sekitar bulan Pebruari dan saat pengunduhan biji pada bulan Mei . Metode pertumbuhan lambat pada prinsipnya adalah menekan pertumbuhan semai selama dalam penyimpanan dengan memanipulasi kondisi lingkungan tempat simpan atau menambahkan bahan pengatur tumbuh dengan tetap mempertahankan daya hidupnya (Krishnapillay et al. Kayu bawang berkembang secara alami di hutan . Lokasi pengumpulan buah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara.3 bulan setelah penyapihan. b. tanah. higrometer. Kedua larutan tersebut kemudian diaduk sehingga menghasilkan 1000 ml (1 liter) larutan paclobutrazol 250 ppm. intensitas cahaya 650 lux). NaCl (0.5% dilakukan dengan cara melarutkan NaCl 5 gr ke dalam 999 ml akuades. 1999). 147 . RH = 80 %.300 biji. bedeng semai.Waktu kegiatan dimulai bulanPebruarihinggabulanDesember2008. semai diletakkan di bawah naungan berat (T = 25 OC. PENDAHULUAN II. Larutan paklobutrazol 250 ppm dipersiapkan dengan cara melarutkan 1 mm paclobutrazol 250 gr/l bahan aktif ke dalam 999 ml akuades. Bahan danAlat Penelitian Bahan yang digunakan adalah benih-benih kayu bawang. pasir. Lewat masa tersebut persentase tumbuh menurun menjadi 50% (Riyanto. kemudian tanaman disemprot dengan bahan penghambat tumbuh paklobutrazol (250 ppm). sehingga menghasilkan 1 liter larutan NaCl 0. Tahapan Pelaksanaan a. oven. A. dan luxmeter. disimpan selama 6 bulan dan setiap 148 . sebagian lagi diletakkan di bedeng bernaung sedang (T = 280C.

Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada persen hidup semai kayu bawang.44 Persen hidup (Survival percentage ) (%) 1.64** 11. interaksi antara bahan pengatur tumbuh dan umur semai.28 12.14 ** 12. Tabel (Table) 1. diameter dan persentase hidup semai kayu bawang (The summary of analysis of variances for height. diameter. Rekapitulasi hasil sidik ragam (Kuadrat Tengah) pengaruh perlakuan terhadap tinggi. serta C: umur semai pada saat penyemprotan (1 bulan.49 ** 2. paclobutrazol dan NaCl). HASIL DAN PEMBAHASAN A.74** 0. menunjukkan bahwa bahan pengatur tumbuh dan kondisi ruang simpan berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan.42 3. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan.26 9. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. interaksi antara kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata pada persen hidup semai kayu bawang.81** 3.04 33.49 41. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis secara statistik.22 2.89** 2. 2 bulan dan 3 bulan). perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis sidik ragam. diameter dan persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan disajikan dalam Tabel 1.78 1. Rancangan percobaan didekati dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan ulangan 3 kali sehingga diperoleh 27 kombinasi perlakuan dan 81 satuan percobaan. menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan.47** 0. Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan. Satu satuan perlakuan terdiri dari 12 semai.51 1. 2. Hasil pengamatan terhadap diameter semai kayu bawang menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter kayu bawang. naungan sedang dan naungan ringan.28* Keterangan (Remarks): ** * tn A B C Nyata pada taraf 1% (significant at 1% level) Nyata pada taraf 5% (significant at 5% level) tidak nyata (non-significant) Bahan pengatur tumbuh (growth regulators) Kondisi tempat simpan (storage site condition) umur semai ( seedling ages) 149 . Rancangan Penelitian Percobaan terdiri dari 3 faktor perlakuan yaitu A: bahan penghambat pertumbuhan (aquades. Ke-12 contoh uji adalah banyaknya satuan perlakuan untuk semai kayu bawang. Hasil pengukuran persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan. umur semai.69 3.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah interval 1 bulan diamati dan diukur respon pertumbuhannya.68 3. B: kondisi simpan (naungan berat. setiap bulan sebanyak 12 contoh uji tanaman diamati dan diukur pertumbuhannya. Hasil Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap parameter pertambahan tinggi. and survival percentage of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) A B AXB C AxC BxC AxBxC PertumbuhanTinggi (Height growth ) (cm) 8.74 * = = = = = = Pertumbuhan diameter (Diameter growth ) (mm) 0.14** 19. III.

30ab 3.99ab 3. Uji beda nyata pengaruh interaksi antara bahan pengatur tumbuh.45 mm) dan umur 1 bulan (1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.63ab 4. Uji beda nyata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of site conditions on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Naungan ringan Naungan sedang Naungan berat Rata – rata (mean) 1.99ab 3.49b 1.58ab 2.16 mm) dibandingkan kondisi naungan ringan (1.28ab Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 3. Penyimpanan pada kondisi naungan berat menghasilkan pertumbuhan diameter yang nyata lebih lambat (1.60ab 4. Masing-masing umur semai memiliki nilai pertambahan diameter yang berbeda satu sama lain menurut uji Duncan.97ab 1.70 mm) namun tidak berbeda nyata dengan naungan sedang (1.07 mm) dibandingkan umur bibit 2 bulan (1.40ab 2.22ab 4. site conditions and seedling ages on the increment height of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Paclobutrazol NaCl Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 1.68a 3.91ab Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan's test) Hasil uji beda rata-rata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter semai kayu bawang dapat dilihat pada Tabel 3. Sedangkan hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur NaCl.12ab 3 2. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap pertambahan tinggi semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.12ab 3. kondisi tempat simpan dan umur semai disajikan dalam Tabel 2.79ab 8.19ab 3.58ab 1.38 1.153 Hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur tumbuh.52ab 4.88ab 1. Hasil uji beda rata-rata interaksi antara penyemprotan dengan aquades di bawah naungan sedang dan umur penyemprotan 1 bulan mempunyai nilai pertambahan tinggi terbesar yaitu sebesar 8.8 No.50ab 3. Semai dengan perlakuan umur bibit 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan diameter terendah yaitu (1.38 mm) Hasil uji beda rata-rata pengaruh umur semai terhadap diameter semai dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel (Table) 2. Juli 2011. kondisi tempat simpan naungan berat dan umur semai 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan tinggi paling rendah yaitu sebesar 0. Tabel (Table) 3.71 mm).72ab 0.71ab 3.16 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B B Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) 150 .15ab 3.16ab 3.68 cm.49 cm.99ab 2. 147 .3.70 1.28ab 0.

Hal ini dapat dilihat dari hasil perlakuan bahan penghambat tumbuh ataupun manipulasi kondisi tempat simpan yang kurang cahaya terhadap pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. namun demikian bahan kimia yang berupa garam ini 151 . namun dengan pertambahan yang relatif rendah.0a 91. ditempatkan di bawah naungan ringan pada umur 1 dan 2 bulan mempunyai persen hidup yang tinggi yaitu sebesar 100 %.2ab 97.71 1. NaCl tidak termasuk ke dalam golongan zat penghambat tumbuh.7bc 88.2i 72.0a Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 88.2g 100.45 1.1h 97. Uji beda rata-rata pengaruh interaksi antara bahan penghambat tumbuh.0fg 61.9cd 100.2ab 75. Pembahasan Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tinggi semai setelah penyimpanan memperlihatkan kecenderungan meningkat. site conditions and seedling ages on seedling survival of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 44.0a 47. sedangkan semai yang disemprot dengan akuades pada umur 1 bulan dan disimpan pada naungan berat mempunyai persen hidup terendah dengan nilai 44. Dengan demikian selama penyimpanan pertumbuhan tanaman tetap berjalan. menunjukkan bahwa pada umumnya semai yang disemprot dengan paclobutrazol 250 ppm.9cd 88.2ab 100.9cd 88. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap persen hidup semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.0a 97.07 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B C Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) Hasil interaksi antara bahan penghambat tumbuh.2de 100.9cd 94.2ab 94.4i 50.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Tabel (Table) 4.4abc 50. Tabel (Table) 5. Uji beda nyata pengaruh umur semai terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of seedling ages on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Umur 1 bln Umur 2 bln Umur 3 bln Rata – rata (Mean) 1.2ab 97. Tabel 5.0i 83.0i 80.0i 97.4abc 3 97.2ab Paclobutrazol NaCl Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) B.4 %.6ef 50. Bahan penghambat tumbuh NaCl dapat menekan pertumbuhan tinggi semai seperti halnya Paclobutrazol. kondisi tempat simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap persen hidup semai kayu bawang disajikan dalam Tabel 5.

8 No.5% yang disemprotkan. oleh karena itu konsentrasi garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. biasanya terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan yang menyebabkan meningkatnya zat penghambat dan akibatnya terjadi perlambatan dalam pertumbuhan primordia daun dan batang. Seperti yang dinyatakan oleh Lakitan (1996) bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah intensitas cahaya. Mekanisme penyerapan yang serupa terjadi pada larutan garam yang disemprotkan kearah daun (pupuk daun) dimana garam yang terlarut dalam air dapat masuk ke ruang interselular melalui lubang stomata. formulasi dan konsentrasi nutrisi (pupuk). sehingga sangat responsif terhadap cekaman lingkungan yang diberikan. pengurangan ketebalan daun tampaknya lebih disebabkan oleh perubahan dalam kualitas cahaya ke arah merah-jauh (far red) daripada pengurangan intensitas cahaya itu sendiri (Fisher. sehingga metabolisme terganggu dan pertumbuhan terhambat. Hal ini diduga terjadi karena tanaman yang lebih tua telah mengalami penurunan aktifitas metabolisme untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. 1996). Namun demikian perlu memperhitungkan waktu penggunaan semai untuk bibit ketika akan ditanam di lapang agar umur tanaman tidak terlalu tua. Menurut Hawley (1981) NaCl tersusun dari unsur Na + dan Cl yang mana ion Cl nya secara analogis mempunyai sifat mekanisme yang sama dengan ion Cl yang terdapat dalam paklobutrazol. suhu. 147 . Dalam kasus ini tampaknya gabungan perlakuan intensitas cahaya dan salinitas (kadar garam) merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tinggi semai kayu bawang dimana kombinasi antara pencahayaan yang sedikit (650 lux) menyebabkan proses fotosintesa tidak berjalan dengan baik dan diperparah dengan adanya larutan garam 0.3.153 dapat menjadi bahan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. cukup peka terhadap manipulasi kondisi lingkungan. Meningkatnya konsentrasi garam dalam air pada tanaman mengakibatkan ketersediaan air bagi tanaman menurun. Garam menghambat pertumbuhan melalui pengaruh Na + dan Cl yang terserap tanaman dan kurang tersedianya air bagi tanaman. Menurut Kozlowsky dan Pallardy (1979) penyerapan hara melalui daun tergantung dari : cahaya. yang menyebabkan kerusakan membran sel daun dan penutupan stomata daun. maka akan terjadi kenaikan dalam pertumbuhan. semai mengalami penghambatan dalam pertumbuhan tinggi. Terjadinya etiolase pada tanaman yang ternaungi. Seperti misalnya NaCl dalam penelitian ini pada umur berapapun dapat menghambat pertumbuhan tinggi apabila diberikan pada kondisi naungan berat. Pada penelitian ini umur semai 3 bulan sangat efektif digunakan untuk tujuan penyimpanan dibandingkan umur semai yang lebih muda (1 dan 2 bulan). Namun apabila cekaman lingkungan (dormansi) berakhir. status nutrisi dalam tanaman. Menurut Lakitan perpanjangan batang adalah berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. Menurut Soepardi (1983) semakin tinggi konsentrasi kandungan garam dalam tanah. Cahaya diyakini berpengaruh tidak langsung melalui 152 . kelembaban relatif. Penekanan pertumbuhan tinggi semai kayu bawang juga terjadi pada perlakuan kondisi tempat simpan dimana pada kondisi naungan berat yang mempunyai intensitas cahaya paling sedikit (650 lux) dibandingkan tempat dengan naungan sedang (8935 lux) maupun ringan (17593 lux). sehingga selama penyimpanan dalam naungan berat. Secara keseluruhan pengaruh bahan penghambat pertumbuhan berkaitan dengan naungan yang diberikan terhadap penekanan pertumbuhan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman memerlukan cahaya untuk pertumbuhannya. Karena Cl merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menimbulkan stress pada biosintesa giberellin.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2001). perpanjangan batang. Juli 2011. Menurut Fisher (1996) penurunan aktifitas metabolisme pada tanaman utuh. Sedangkan menurut Kamaluddin (1999) respon tanaman yang tahan naungan seperti pada jenis Dipterocarpaceae. tidak hanya dikarenakan oleh keracunan pada akar tanaman tapi juga berkurangnya air bagi tanaman. yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan akar tunggang (Hendromono. Umur semai saat perlakuan pada penelitian ini sangat berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi dan diameter tanaman. Intensitas cahaya yang masuk pada rumah tumbuh (650 lux) masih cukup bagi tanaman untuk melakukan fotosintesa sehingga metabolisme masih berjalan baik walaupun tidak maksimal yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan tinggi. umur daun. Hal ini terjadi karena ion-ion sudah dalam jumlah yang tidak seimbang sehingga menjadi racun bagi tanaman.

Proc. San Boston. K. Fisiologi Tumbuhan.411 Pallardy. 153 . IUFRO Seed Symposium 1998 'Recalcitrant Seeds'. 1996. 1980. 2001. Hawkes. KESIMPULAN Faktor yang menghambat pertumbuhan semai kayu bawang selama penyimpanan 6 bulan adalah penerapan larutan NaCl 0. 280285. Kualalumpur. 1999. Krishnapillay (Eds). F.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis. 1-8 Kozlowsky. Tsan. P. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. B.G. Marzalina.Y Tsan and B. FB and CW Ross. Jayanthi. Proc.Y Tsan and B. Toronto. Hal ini terjadi mungkin karena umur semai yang masih muda memiliki jumlah klorofil yang relatif sedikit sehingga kekuatan dalam menangkap energi cahaya yang diberikan sangat terbatas dan akibatnya pertumbuhan tidak optimal. Manipulation of Growth Light Environment for Storage of Seedlings of Shade-Tolerant Forest Tree Species in nursery. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah Fakultas Pertanian. In Marzalina. N. Batas Toleransi Bibit Gmelina (Gmelina arborea Roxb. Kondisi ini terjadi juga pada semai yang diberi bahan penghambat paklobutrazol dimana efektivitas dalam penekanan pertumbuhan tinggi terjadi pada semai umur 1 bulan dan intensitas cahaya yang sedang. 12 Nopember 2001. Riyanto. Jilid 1. Salisbury. Bogor. New York. M. London. N. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropika. 2 nd Ed.Y. RH 96 %. Malaysia. L. Hal. Goldsworthy. Tokyo. 1979. intensitas cahaya 650 lux). Kualalumpur. Hal. B.T Raja Grafindo Persada. T. H. 2001. M. Sydney. Gadjah Mada University Press. terlepas dari peranannya dalam fotosintesis (Salisburry and Ross.) dan Mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap Kandungan Garam Air Penyiraman. namun sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa cahaya mempunyai pengaruh kuat terhadap stomata. F. 1999. Rome. N. Ketika semai masih berumur 1 bulan dan disimpan pada kondisi intensitas cahaya sedang (8935 lux). 1995. Penerbit ITB Bandung.Marzalina. Genetic Conservation of Recalcitrant Species: an Overview.D. IUFRO Seed Symposium 1998 ' Recalcitrant Seeds'. J. Bogor. Lakitan.T (Eds). K.286-295. G. F. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. 1996. Krishnapillay. In M. P. Kamaluddin. Sifat dan ciri tanah.T dan S. P. Soepardi. Diego. 156213.R and N. IPGR. Slow Growth as a Method to Ensure Continuous Supply of Planting materials for recalcitrant seed species.A & William. Institut Pertanian Bogor.5% pada semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. Pp. Jakarta.G Physiology of Woody Academic Press.C Khoo. Hendromono.M Fisher. Krishnapillay (Eds). Crop Genetic Resources. Ed. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman: Fase Vegetatif. Kayu Bawang (Dysoxylum sp) Berpotensi untuk Kayu Pertukangan. M.M. J.A Nashatul Zaimah.Jayanthi and N. Malaysia. DAFTAR PUSTAKA Fisher. maka pertumbuhan tinggipun masih terhambat. N. In Whithers. Plants. 1995). Jayanthi. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. Palembang. IV.13 % serta mempertahankan persen hidup hingga 95%.C Khoo. 1983. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. The Conservation of Difficult Materials.Pp. Buletin Penelitian Hutan.

hutan rakyat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. Kata kunci : Biofisik. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. and productive age population were investigated. non rice field-land use. Hardjanto2. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. population density. dan umur produktif penduduk yang diteliti. Clustering analysis of the study found two typologies of private forest development. email : tien_unw@yahoo. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. sosial ekonomi. tipologi desa 155 . Naskah diterima : 10 Juni 2011 1 ABSTRACT The study examined the use of biophysical and socio-economic factors to classify village as characteristic variables of private forest. kemampuan lahan. Berdasarkan analisis gerombol.e. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat.com 2 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Jl. Sekolah Pascasarjana IPB. Endang Suhendang .TIPOLOGI DESA BERDASARKAN VARIABEL PENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini . The only factor that has no correlation with private forest area is distance to main road. and three of socio-economic factors i. permanent home. rumah permanen. clustering analysis.. Selected variables for clustering are based on the principle component analysis design of eight correlated variables. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. jarak ke kawasan hutan negara.e. dan/and Herry Purnomo2 1 2 2 Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. The main objective of this study is to determine the most significant variables that affect the village typologies related to private forest area. (0251) 8622642. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. Jawa Barat Telp. The study found that most of those factors has close correlation with the existence of private forest. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. Keywords: Biophysical. kelerengan lahan. land configuration. private forest. There are six of biophysical factors i. analisis gerombol. Bogor. Kampus IPB Darmaga. distance to state forest area. with having overall accuracy of 64%. I Nengah Surati Jaya . Bogor 16680 Jawa Barat-Indonesia Telp (0251)8622642 Naskah masuk : 11 Februari 2011. jarak ke jalan besar. land capacity. namely high potential area and low potential area types. village typologies ABSTRAK Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. road density.. socio-economic. This study was conducted in Kabupaten Ciamis covering 363 villages. distance to main road.

Selain itu. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang mencakup sebanyak 336 desa. Sistem pengelolaan hutan rakyat dengan berdasarkan komponen-komponen yang mendukung dapat menjamin kelestariannya. Kabupaten Ciamis memiliki potensi hutan rakyat yang besar di Jawa Barat. Juli 2011. Luas 0. sehingga sulit untuk mencapai luasan minimum 0. Luasan kepemilikan relatif kecil sehingga untuk mencapai luasan yang besar maka perlu penggabungan beberapa kepemilikan lahan. dan Norwegia).25 ha sampai saat ini dipakai sebagai syarat untuk dikategorikan sebagai hutan.25 ha (Suharjito 2000 dan Haeruman et al.3. Swedia. Dengan demikian untuk menerapkan dan menganalisis komponen-komponen kelangsungan pelestarian itu perlu dibuat suatu perencanaan wilayah berbentuk suatu wadah atau unit pengelolaan. Pengelolaan hutan rakyat dilakukan oleh masyarakat secara individual (pada tingkat keluarga) pada lahan miliknya. PENDAHULUAN A. BAHAN DAN METODE A.168 I. Perencanaan wilayah tersebut sebaiknya bersifat spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah yang dihadapi. 1991). tipologi ini dapat membantu menduga potensi sebaran hutan rakyat untuk wilayah yang belum diketahui dan belum dilakukan inventarisasi menyeluruh. dimana luasan lahan kepemilikan berkisar antara 5-40 ha per keluarga (Harrison et al. 2006). Di Pulau Jawa rata-rata kepemilikan dalam satu hamparan sempit kurang dari 1 ha. luas pemilikan lahan dan keragaman pola usaha tani yang akan berpengaruh terhadap jumlah pohon pada setiap kepemilikan. Latar Belakang Hutan rakyat memiliki karakteristik yang unik. Gambar (Figure) 1. menyebabkan keadaan tersebut menjadikan petani dalam posisi lemah. B. Dengan terbentuknya tipologi hutan rakyat diharapkan dapat menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah yang unik berdasarkan karakteristik masingmasing wilayahnya. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor biofisik dan sosial ekonomi yang membentuk tipologi untuk menduga potensi hutan rakyat.. yang menyebabkan hutan rakyat tidak mengelompok pada suatu areal tertentu tetapi tersebar berdasarkan letak. pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu disebut dengan tipologi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. pemeliharaan. 155 . Segala keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan rakyat (penanaman. Secara spasial hutan rakyat umumnya tidak tersebar dalam suatu hamparan yang kompak. Kondisi petani di Indonesia umumnya subsisten. seperti posisi tawar yang lemah dan informasi yang kurang. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Indonesia seperti negara-negara Eropa Utara (Filandia. Lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis ( Research areas in Kabupaten Ciamis) 156 . penebangan dan pemasaran) ditentukan oleh kebijakan masing-masing keluarga (Mindawati et al. dimulai bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011. Pembentukan unit pengelolaan hutan rakyat memerlukan penggalian karakteristikkarakteristik wilayah yang ingin dikelola. 2002).8 No. II.

.. 2. yaitu layer batas administrasi desa dengan batas kawasan hutan negara di Kabupaten Ciamis. BPS. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arc View versi 3. Pada penelitian ini yang dimaksud jalan besar adalah jalan kolektor.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Kementerian Kehutanan. Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap kawasan batas hutan negara terdekat. Sehingga variabel yang perlu diperhatikan adalah perbandingan (rasio) antar luas areal dengan kelas kelerengan lahan yang lebih besar sama dengan 15% terhadap total luas desa. Metode 1. dan peta batas administrasi. 1 2 3 4 5 Kelas lereng (Slope classes) Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Kisaran (Intervals) (%) 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 157 . Data dan informasi atas hasil analisis pengolahan spasial peta dijital lokasi penelitian dibantu dengan beberapa layer yang mendukung. Kelas-kelas kelerengan dalam suatu wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. dan alat pendukung lainnya. Hardjanto 2003) ditemui variabel-variabel sebagai berikut : a. data profil desa Kabupaten Ciamis tahun 2006. peta digital kawasan hutan negara (sumber RBI tahun 2006 dan Baplan 2011). yaitu peta kontur. c. peta digital jenis tanah. Pengumpulan Data a. lembaga penelitian. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K). (2001) menyatakan salah satu areal yang menjadi sasaran pembangunan hutan rakyat adalah areal kritis dengan keadaaan lapangan berjurang dan bertebing. peta kawasan hutan negara. SPSS versi 17. dengan unit analisisnya adalah desa. Jarak Terdekat Desa ke Kawasan Hutan Negara Terdekat. Haeruman et al.2. Analisis Data 2. Rasio Kelerengan Lahan Menurut Awang et al. Tabel (Table) 1. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang terkait dengan hutan rakyat dan pengaruh biofisik terhadap perkembangan suatu wilayah (Suharjito 2000. 1991. Awang et al. perguruan tinggi. Klasifikasi kelas lereng ( Clasification of slope classes) No. b. Kedekatan terhadap kawasan hutan negara memiliki peluang untuk berkembangnya hutan rakyat baik secara alam maupun budaya. dan Herry Purnomo B. peta jaringan jalan. C. I Nengah Surati Jaya. Data sekunder diperoleh dari publikasi lembaga pemerintahan seperti Dinas Kehutanan. Jalan kolektor yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kotamadya terhadap kepentingan provinsi.. Perhitungan jarak terdekat tersebut menggunakan analisis spasial terhadap 2 layer. peta digital jaringan jalan. Identifikasi Variabel-Variabel Pendukung Keberadaan Hutan Rakyat Dalam penelitian ini dicari variabelvariabel yang sangat mempengaruhi keberadaan hutan rakyat di suatu lokasi. Minitab versi 14. 2007.Hardjanto. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas lereng yang sudah umum digunakan dalam penatagunaan hutan. Bahan danAlat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : peta digital administrasi Kabupaten Ciamis.1. serta literatur publikasi ilmiah lainnya. Perhitungan jarak dilakukan dengan analisis spasial. Endang Suhendang. Jarak Terdekat Desa ke Jalan Besar Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap jalan besar terdekat. peta tanah. b. peta digital kontur.

. Adapun variabel kemampuan lahan di suatu desa (KL) (Arsyad. H. e.Kemampuan Lahan .8) NTi = Nilai Tengah kelas ke.Rasio kelerengan lahan . Rumusnya dapat dilihat sebagai berikut: Panjang jalan (m) Kerapatan Jalan Luas desa (ha) f. sehingga diduga beberapa wilayah yang berkembang hutan rakyatnya ketika jumlah umur produktif sedikit dan didominasi umur non produktif. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa hutan rakyat di Jawa umumnya dibudidayakan di areal-areal lahan kering daerah atas (upland areas). Indikator (Indicators) Karakteristik Bio-Fisik Peubah-Peubah (Variables ) .Kepadatan penduduk .3.Tingkat rumah permanen .i (i=1. tekstur tanah permeabilitas.Jarak ke jalan besar . sehingga diduga ada hubungan antara potensi hutan rakyat dengan kondisi kemampuan lahannya.Penggunaan Lahan ( land use) .Jarak ke kawasan hutan hutan negara ...Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. kedalaman tanah. Rasio Rumah Permanen Rasio rumah permanen merupakan pendekatan terhadap informasi pendapatan penduduk. Semakin besar rasio maka diasumsikan pendapatan penduduk setempat semakin tinggi. 155 . Variabel-variabel tipologi hutan rakyat (Typology Variables of private forest) No. Umumnya hutan rakyat timbul pada wilayah-wilayah yang masih kurang padat penduduknya. kepekaan erosi. Tabel (Table) 2. Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non Sawah) Penggunaan lahan bukan sawah adalah perbandingan (rasio) areal lahan pertanian non sawah dengan luas total desa.3. 1. Kemampuan Lahan Hutan rakyat di Jawa umumnya banyak ditanam di wilayah lahan kritis yang tidak subur. Kemampuan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk membuat modifikasi kelas kemampuan lahan adalah kelerengan. 1989): 8 Luas Total Desa Dimana : Li = Luas kemampuan lahan kelas ke. Juli 2011..Rasio Umur produktif penduduk 2. Secara ringkas variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Rasio Umur Produktif Rasio umur produktif adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia produktif (15 .. f. Pengelolaan hutan rakyat masih dianggap kegiatan sampingan yang bersifat tidak intensif.64 tahun) dengan luas total desa. Diasumsikan bahwa ketika pendapatan penduduk semakin meningkat maka kondisi rumahnya akan semakin permanen.8 No. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penduduk di setiap desa (orang) dengan luas administratif desa (ha). 2.3. 2.8) KL = i = 1 Li × Nti g. dan drainase di suatu wilayah desa. yaitu dari rasio antara jumlah rumah permanen dengan total rumah di desa bersangkutan. Kerapatan Jalan Kerapatan jalan adalah rasio antara luas jalan (m) dengan luas desa(ha).Kerapatan jaringan jalan . Karakteristik Sosial dan Ekonomi 158 . Untuk data pendapatan dilakukan dengan pendekatan terhadap kondisi perumahan. Sehingga secara keseluruhan ada 9 (sembilan) variabel yang diuji untuk mengetahui yang berpengaruh terhadp pembagian tipologi.i (i=1.168 d..

Sehingga dilakukan pengujian pada setiap kelompok yang sudah terbentuk. Sehingga jika mencari gabungan yang terbaik adalah yang memiliki selisih ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok yang terbesar. (2) mengelompokkan variabel-variabel penting dari satu bundel variabel besar untuk menduga suatu fenomena. Penggunaan Analisis Gerombol (Clustering Analysis) Dasar pembuatan tipologi adalah variabelvariabel yang dianggap dominan dalam menentukan potensi hutan rakyat. antar komponen utama saling original/bebas. 2. tetapi keragaman antar kelompok besar. Ada tiga karakteristik komponen utama: informasi data asal yang dijelaskan maksimum (memiliki ragam maksimum). Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. Analisis Komponen Utama ( Principal Component Analysis/PCA) Tujuan dari analisis komponen utama dalam penelitian ini . dan mereduksi objek dalam dimensi yang lebih kecil. sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel. yaitu: (1) untuk mendapatkan variabel-variabel baru yang saling orthogonal/bebas. I Nengah Surati Jaya. b. b.2. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. Analisis korelasi yang di-gunakan adalah korelasi Spearman. Keragaman dapat diketahui dengan rumus : Ragam rata-rata dalam kelompok adalah : n m i 1 n 2 yi y 2 i i 1 i 1 n 1 m s2 y Keterangan : yi = luas hutan rakyat pada desa ke-i n = jumlah desa pada kelompok ke-i m = jumlah kelompok Ragam antar kelompok yang distandarkan : Keputusan yang terbaik jika: memiliki ragam dalam kelompok yang terkecil dan ragam antar kelompok yang terbesar. Pengujian Tipologi Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang terbentuk sudah memiliki gambaran yang mirip terhadap potensi hutan rakyat. Penelitian ini menggunakan analisis gerombol ini dengan metode K-Means. Diasumsikan bahwa potensi tersebut dapat mewakili karakteristik lokal hutan rakyat di suatu tempat. (2) Evaluasi akurasi Untuk menguji akurasi kelompok yang terbentuk menggunakan prinsip matrik kesalahan ( confusion m atrix ). Untuk menganalisis hal tersebut digunakan 2 cara.3. yaitu : a. Penentuan Variabel Dominan Dari 9 (sembilan) variabel akan dianalisis hubungannya dengan hutan rakyat di suatu desa. maka dilakukan pengujian sebagai berikut : (1) Uji keragaman Kelompok yang terbentuk dikatakan baik jika keragaman dalam satu kelompok kecil. Pembentukan Tipologi a. merupakan konbinasi linier dari variabel asal: Yi = ai1X1+ai2X2+…+aipXp Hasil analisis komponenkomponen utama antara lain nilai akar ciri. Nilai -1 atau +1 menunjukkan adanya hubungan yang sempurna antara X dan Y. dan kumulatif akar ciri. Untuk melakukan pengelompokan tipologi digunakan analisis gerombol (clustering analysis).Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Sebagai 159 . Analisis Korelasi Pada penelitian ini. metode ini menetapkan terlebih dahulu jumlah kelompok yang akan dibuat sehingga metode ini cocok jika data yang diolah banyak. proporsi. sehingga semakin mendekati nilai tersebut semakin erat hubungan X dan Y. analisi korelasi menghubungkan 2 variabel yaitu masing-masing 9 variabel biofisik dan sosial ekonomi yang diuji dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Penggunaan metode ini banyak digunakan untuk beberapa tujuan penelitian (Rahmalia 2003). dan Herry Purnomo 2. Endang Suhendang.Hardjanto.

058 KerapatnJ alan (Road density) Luas Hutan Rakyat (Private forest area) Kepadatan Pendudu (population density) Rumah Permanen (Permanent home) Umur Prod uktif (Productive age population) Non Swh (Non rice field) Kelerengan lahan(Land slope) Jarak hutan (Distance to state forest area) Jarak Jalan (Distance to main road) KmampuanLahan (Land capacity) Kerapatan J alan (Road density) -.357** 1.447** -.380** .565** 1.168 standar adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan data luas hutan rakyat.101 -.154** Rumah Permanenen (Permanent home) -.382** .234** .197** .3. Korelasi antar variabel biofisik.496** .058 . dan luas hutan rakyat (The correlation between biophysical and socio-economic variables and private forest area) Variabel (Variables ) Luas Hutan rakyat (Private forest area) 1.050 . Akurasi rata-rata umum dihitung menggunakan rumus (Jaya. Akurasi kappa pada umumnya mempunyai nilai akurasi lebih kecil dari akurasi rata-rata umum karena pada akurasi kappa dihitung tidak hanya berdasarkan jumlah desa yang dikelaskan masuk secara benar pada kelas acuan.367** .441** -.234** .000 -.215** .072 -.050 -.433** .178** .932** .276** -.000 -.486** -. Akurasi kappa dihitung menggunakan rumus (Jaya. sosial ekonomi.108* -. 2006) sebagai berikut : Tabel (Table) 3.099 -.072 1.320** -.198** .000 .565** .139* -.453** .265** Kelerengan lahan (Land slope) .215** -.145** -.072 -.154** Kemampuan Lahan (Land capacity) -.145** 1. Sedangkan korelasi sangat nyata yang bersifat negatif adalah kepadatan penduduk.266** -.111 * -. Sedangkan yang tidak berkorelasi adalah jarak desa ke jalan besar terdekat.072 .111 * -. pendapatan penduduk. Juli 2011.01 (Correlated at 0.225** -. Korelasi sangat nyata yang bersifat positif saling menguatkan adalah : rasio penggunaan lahan bukan sawah (non sawah).277** .265** -.276** .01 level) * Berkorelasi nyata pada level 0. 155 .264** .233** -.453** -.8 No. jarak ke hutan.245** -.197** -. dan rasio kelerengan lahan.000 . Penentuan Variabel Dominan Pembentuk Tipologi Berdasarkan korelasi Spearman terdapat hubungan yang sangat nyata antara beberapa variabel terhadap keberadaan luas hutan rakyat di suatu desa. N = Total area verifikasi.108* .000 -.426** Kepadatan Penduduk (Population density) -.277** Jarak Hutan (Distance to state forest area) -.178** Non Sawah (Non rice field) .441** .297** -. 2006) sebagai berikut : Keterangan (Remarks) : K = Akurasi Kappa (Kappa Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antara hasil tipologi dan kelas variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.486** 1.216** -.045 . umur produktif.099 -.433** -.000 .496** -.208** Umur Produktif (Productive age population) -.426** .216** -.05 (Correlated at 0. tetapi juga menghitung jumlah desa yang dikelaskan pada tipologi tidak tepat masuk dalam kelas acuan. Dari 9 peubah tersebut yang memiliki nilai tiga terbesar korelasinya adalah rasio kelerengan lahan.101 .382** .167** -.380** . dapat dilihat pada Tabel 3.05 level) 160 . HASIL DAN PEMBAHASAN A.000 -.357** -.000 1.208** .127* 1.045 .447** 1. kemampuan lahan.529** -.320** -.233** .266** -.264** .167** .127* Keterangan (Remarks): ** Berkorelasi nyata pada level 0.139* -. Dari confusion matrix dapat menghitung akurasi rata-rata umum (overall accuracy) dan akurasi kappa accuracy.245** 1.000 -.198** .932** -. Keterangan (Remarks) : OA = Nilai akurasi rata-rata umum (Overall Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antar kelompok atau kelompok variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi. dan kerapatan jalan.000 . X+1 = Luas kolom dalam baris ke-i X1+ = Luasan dalam kolom ke-j N = Total area verifikasi III. kerapatan jalan. dan rasio lahan bukan sawah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.297** -.225** Jarak Jalan (Distance to main road) .367** -.529** -.

Hutan rakyat umumnya ditemukan pada wilayah berpenduduk rendah. Ketika desa memiliki kerapatan jalan yang besar cenderung memiliki hutan rakyat yang sedikit. yang biasa disebut dengan tegalan atau kebun. b. c. Endang Suhendang. g. yakni berada di wilayah landai sampai curam. Kondisi ini mendorong pemilihan menanam kayukayuan dibanding dengan pertanian intensif. Akhirnya kebanyakan penduduk yang tinggal di desa adalah orang-orang usia lanjut. Semakin maju desa memungkinkan banyaknya alternatif penggunaan lahan lain yang lebih produktif. Ini menunjukkan bahwa hutan rakyat dominan berada di wilayah yang tidak datar. Semakin luas penggunaan lahan pertanian non sawah berarti semakin besar pula potensi pengembangan hutan rakyatnya. banyak penduduk desa yang berada dalam usia produktif bekerja di kota. Hal ini disebabkan timbulnya hutan rakyat pada kondisi lahan marginal yang tidak memiliki banyak alternatif kegiatan pertanian yang lebih produktif. Jarak ke Hutan Negara Keberadaan hutan negara di dalam atau sekitar desa ternyata berpengaruh dengan keberadaaan hutan rakyat. e. maka umumnya semakin besar potensi hutan rakyat. Lahan ini dalam pendataan statistik disebut dengan lahan pertanian non sawah. menyatakan umumnya lokasi hutan rakyat berada di wilayah areal lahan kering daerah atas ( upland areas ). Sehingga hubungan korelasi antara rasio umur produktif dengan luas hutan rakyat bersifat negatif. f. Wilayah hutan negara di Kabupaten Ciamis umumnya berada di lokasi topografi curam di daerah-daerah pegunung- 161 . Rasio kelerengan lahan Variabel ini memiliki korelasi tertinggi diantara variabel lainnya. d. di sinilah hutan rakyat berkembang. Hutan rakyat merupakan alternatif berikutnya ketika lahan tidak memungkinkan untuk ditanam tanaman pertanian atau budidaya lain yang lebih cepat menghasilkan. Kondisi ini diduga karena Variabel biofisik dan budaya. Hutan rakyat umumnya banyak ditemukan pada kondisi desa yang memiliki rata-rata pendapatan yang rendah. Kepadatan Penduduk Merupakan variabel yang berhubungan negatif dengan luas hutan rakyat. Rasio rumah permanen Keberadaaan rumah permanen dalam penelitian ini diasumsikan dengan pendapatan penduduk. Rasio Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non sawah) Berdasarkan penelitian Suharjito (2000). Sehingga sekarang diduga tumbuhnya hutan rakyat dominan di wilayah-wilayah tidak subur. Kerapatan Jalan Variabel ini berkorelasi dominan kedua setelah rasio kelerengan lahan terhadap keberadaan hutan rakyat di suatu desa. Hasil korelasi dengan luas hutan rakyat menunjukkan adanya korelasi negatif berarti hutan rakyat memang cenderung berkembang pada wilayah-wilayah dengan kemampuan lahan yang rendah. I Nengah Surati Jaya. Kerapatan jalan berhubungan dengan kemajuan transportasi di suatu wilayah desa. sehingga semakin padat penduduk kemungkinan besar jumlah umur produktif juga ikut bertambah di suatu wilayah desa. Semakin dekat areal hutan negara dengan suatu desa. Kepadatan penduduk juga berkorelasi positif dengan variabel rasio umur produktif.Hardjanto. Kemampuan lahan Berdasarkan pengalaman sejarah dimulainya hutan rakyat karena gerakan penghijauan pada daerah-daerah kritis (Hardjanto 2003). Dari hasil korelasi menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan positif dengan keberadaan hutan rakyat dan sangat nyata hubungannya. h. dan Herry Purnomo Penjelasan lebih terperinci mengenai kondisi antara variabel-variabel tersebut sebagai berikut: a. Ini menenjukkan bahwa variabel rasio non sawah bisa menjadi penanda untuk menduga potensi pengembangan hutan rakyat di suatu desa atau wilayah. Secara logis hal ini tentu demikian. Sehingga ketika terjadi urbanisasi yang besar.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. kerena semakin sedikit penduduk berpeluang areal digunakan dengan penggunaan lain selain pemukiman seperti perkebunan dan lainnya. Wilayah yang tidak memperoleh pengairan untuk sawah berada di wilayah-wilayah atas (upland areas) yang tentunya memiliki topografi lebih curam. Rasio Umur Produktif Pengelolaan hutan rakyat tidak seintensif pengelolaaan pertanian dan perkebunan. Daerah tersebut merupakan daerah pertanian non sawah. Hubungan antar pendapatan penduduk dengan potensi keberadaan hutan rakyat di suatu desa berkorelasi negatif.

Nilai analisis komponen utama variabel (Value of principal component analysis) No 1.4969 0.340 0.056 -0.713 -0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.603 0. mahoni.107 PC5 -0.295 0.8463 0. dan pinus di lahan milik pribadi petani. 0. diduga karena berdekatan dengan hutan sejak dulu.389 0. 2.669 -0. Tabel (Table) 4 . 0. sedangkan wilayah jauh dari jalan besar sebaiknya. Memperhatikan kondisi biofisik tersebut.133 PC6 0.443 7. hanya satu variabel yaitu jarak ke jalan besar yang tidak signifikan berkorelasi nyata.338 -0. Jarak ke jalan Analisis korelasi jarak terdekat antar batas desa ke jalan besar (jalan kolektor) ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap kondisi hutan rakyat di suatu desa dibanding variabel lainnya.146 0. maka petani sudah terbiasa dengan cara-cara menanam.000 162 . memelihara.819 -0. Berdasarkan analisis komponen utama (PCA) yaitu variabel-variabel yang berhubungan nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.157 0. Wilayah dekat jalan besar memiliki keuntungan biaya pengangkutan menjadi murah tetapi tentu harga tanah yang lebih mahal.466 0. maka dapat dilihat dari nilai kumulatif proporsi lebih dari 70% dan nilai akar ciri lebih besar dari 0.407 0.001 -0.185 0.068 -0.951 -0.301 0.293 PC3 0.056 0.479 0. Sehingga tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang biasa ada di hutan negara seperti jati.070 0.457 -0.134 0.668 PC8 0.115 -0.520 0.106 0. Jalan besar merupakan jalur transportasi pengangkutan kayu ke luar wilayah.715 -0.033 0.331 0. maka alternatif penggunaan lahan untuk penanaman tidak banyak dengan demikian menanam kayu yang bersifat tidak intensif menjadi pilihan. Variabel (Variables) Kepadatan Penduduk (Population density) Rumah permanen (Permanent home) Umur Produktif (Productive age population) Non Sawah (Non rice field) Kelerengan lahan (Land slope) Jarak ke hutan (Distance to state forest area ) Kemampuan Lahan (Land capacity) Kerapatan Jalan (Road density) Akar ciri (eigenvalue) Proporsi (proportion ) Kumulatif Proporsi (Proportion cumulative) PC1 0.3. Sebagai penggarap di areal tumpangsari PT Perhutani. Dengan demikian kebiasaan ini dapat tertular di lahan milik pribadi mereka.337 0.199 0.074 -0.149 -0.284 0.491 0. sehingga dari delapan komponen utama yang dihasilkan dapat dipotong sampai KU empat saja karena sudah cukup mewakili proporsi keragaman.333 0.264 4 5.080 -0.340 0.114 0.371 PC2 0. sedangkan dipandang dari sudut budaya.100 0. Ketika variabel ini tidak nyata berpengaruh terhadap luas hutan rakyat. Sehingga untuk analisis komponen utama dimasukkan 8 variabel pendukung.168 an dengan kondisi assesibilitas yang sulit.889 -0.582 0.523 0.164 1. 6. Juli 2011.627 -0. i.341 1.113 0.083 PC7 -0.600 -0. 3.049 1.8 No.323 0. Untuk mengetahui berapa banyak komponen utama (KU) yang diambil. dan bahkan terlibat dalam ke-giatan pemanenan sebagai buruh tebang.185 0.018 0.523 0.165 0.281 -0.725 -0.325 -0.3929 0.168 0. 8.084 -0. maka masyarakat sekitar hutan sudah terbiasa dengan pengelolaan hutan dan malah juga terlibat langsung sebagai penggarap jika hutan tersebut hutan produksi.212 PC4 0.904 0.069 0.450 -0.128 0.056 -0.377 2. Ditambah dengan seringkali penyebaran bibit secara alam dari hutan negara ke lahan milik melalui angin dan binatang-binatang hutan.475 0. kemungkinan setiap lokasi memiliki keuntungan yang seimbang terhadap perkembangan hutan rakyat.108 0. Dari hasil korelasi pada Tabel 3 diketahui bahwa dari 9 variabel yang dianalisis.7.301 0. 155 .223 0.156 -0.441 0.5602 0.055 -0.661 -0.062 0.

dan Herry Purnomo Berdasarkan analisis komponen utama yang menggunakan 4 KU pada Tabel 4 dapat diketahui empat karakteristik desa di Kabupaten Ciamis yang didekati dari 8 Variabel. yaitu yang menggunakan desain 2 variabel.Hardjanto.Pada PC1 menggambarkan indeks kelerengan lahan dan non sawah. yaitu dari penggunaan 8 variabel sampai 2 variabel ditambah dengan penggunaan data analisis komponen utama (AKU) dapat dilihat pada Tabel 5. PC1234. . Sedangkan untuk 3 kelompok dan 2 kelompok terdapat 4 desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang efisien.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.Pada Pc2 merupakan indeks kondisi kemampuan lahan. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari variabel dominan yang membentuk komponen utamanya sebagai berikut : .Pada wilayah PC4 merupakan indeks jarak desa ke kawasan hutan negara. Tabel (Table) 5. dan Pc123. . Endang Suhendang. . Banyaknya anggota setiap desain dan kelompok (Number of villages each design and cluster) JUMLAH ANGGOTA TIAP KELOMPOK (Number of villages of each cluster) 7 6 5 4 3 Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel 8 Desain Variabel Jmh Variabel 5 Kelompok (5 clusters) 1 183 2 86 3 62 4 2 5 3 4 Kelompok (4 clusters) 1 185 2 60 3 86 4 5 3 Kelompok (3 clusters) 1 228 2 103 3 5 2 Kelompok (2 clusters) 1 239 2 97 2 Variabel PC1234 PC123 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 161 124 45 5 1 161 124 45 5 1 176 68 53 43 5 149 72 70 40 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 171 115 44 6 171 115 44 6 185 86 60 5 153 85 61 37 228 103 5 228 103 5 228 103 5 228 103 5 202 99 35 202 99 35 196 80 60 195 78 63 239 97 239 97 239 97 239 97 249 87 249 87 235 101 234 102 163 . Dimana menujukkan nilai tinggi pada jarak yang ke kawasan hutan B. 4 variabel. I Nengah Surati Jaya. Jumlah tipologi Hasil klustering dengan menggunakan semua alternatif variabel yang bisa diterapkan. Tabel 5 dapat diketahui bahwa penggunaan 5 kelompok dan 4 kelompok menghasilkan jumlah tipologi yang kurang efisien karena jumlah anggota sangat kecil dibawah 10 desa. kecuali satu yang menggunakan desain PC123 dengan 4 Kelompok. Nilai ini menunjukkan dominan kelerengan lahan yang datar dengan kegiatan non persawahan yang rendah. Pembentukan Tipologi 1. Dimana menujukkan kemampuan lahan yang tinggi.Wilayah Pc3 merupakan indeks rumah permanen dan kepadatan penduduk yang merupakan variabel sosial ekonomi.

Sedangkan untuk uji ragam antar kelompok pada Gambar 2b. 2. ragam yang terbesar adalah desain ke 2. Dapat terlihat grafik pada Gambar 2 menunjukkan kedua uji tersebut.8 No. maka dilakukan pengurangan antara uji ragam antar kelompok dengan uji ragam dalam kelompok.3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Dimana yang dianggap baik jika ragam dalam kelompok kecil dan ragam antar kelompok besar. Pengujian Hasil Tipologi Hasil tipologi yang telah terbentuk dengan berbagai desain peubah diuji ketepatannya untuk menduga luas rakyat setiap desa.2 Kelp Semua desain yang telah dicoba (Tabel 5). nilai selisih terbesar adalah yang memiliki nilai uji yang baik.168 Tabel (Table) 6. Dalam rangka menentukan desain yang teruji dengan baik dari ke delapan desain lewat dua uji ragam tersebut. maka dapat diukur berapa besar akurasinya.2 Kelp PC1234 . Jumlah desa setiap kelompok terpilih (Number of villages for each selected cluster) Desain Jumlah Variabel (Number of variables Design) 2 Variabel – 2 Kelp Kelompok 1 (cluster 1) 249 202 239 235 196 153 195 234 Jumlah Desa (Number of Villages ) Kelompok 2 Kelompok 3 (cluster 2) (cluster 3) 87 99 97 101 80 85 78 102 53 60 61 63 - Kelompok 4 (cluster 4) 37 - 2 Variabel – 3 Kelp 4 Variabel – 2 Kelp PC1234 . Pada Gambar 2a dapat dilihat bahwa uji ragam antar kelompok desain 1 sampai 4 relatif memiliki ragam dalam kelompok yang kecil dibanding desain 5 sampai 8. Juli 2011. (Comparison of whitin cluster and inter cluster variant) 164 . Perbandingan Ragam dalam Kelompok dengan Ragam Antar Kelompok.3 Kelp PC1234 . selanjutnya desain 2 variabel dengan Keterangan (Remarks) : Gambar (Figure ) 2. Uji ragam terhadap luas hutan rakyat dilakukan melalui uji dalam kelompok dan antar kelompok. 5. dan 8. Desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang sama maka dipilih yang paling sederhana. Dibandingkan dengan standar/acuan pengelompokan yang sudah dibuat. hanya 8 desain jumlah variabel yang dapat diterapkan selanjutnya. Hasil tipologi terpilih dilakukan pengujian dengan uji ragam dan evaluasi akurasi menggunakan prinsip matrik kesalahan (confusion matrix).4 Kelp PC1234 . 155 . Daftar desain terpilih tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. 7.3 Kelp PC1234 . Pada Tabel 7 diketahui selisih terbesar uji ini adalah pada desain jumlah 2 variabel dengan tiga kelompok.

47 3 1 14097.363 2. Berdasarkan variabel yang digunakan maka.3 kelompok 46. Tetapi menurut Santoso (2010). 4 Variabel-2 kelompok 60.75 7 2 10971. Diperoleh nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa terbesar terdapat pada perlakuan desain PC1234 dengan 2 kelompok dengan nilai masing-masing 64% dan 27%.083 6. 2 Variabel-2 kelompok 63.706 6 22500. Pada Tabel 8 dapat diketahui hasil evaluasi akurasi pada kedelapan desain terpilih.17 6 14095.179 13.301 19384. I Nengah Surati Jaya.132 8 Tabel (Table) 8.971 1.5. Dengan menggunakan peubah yang sudah melalui AKU dapat menghilangkan multikolinieritas tersebut.55 22493. Desain jumlah Variabel Akurasi (Accuracy) ( number of variables design) Rata-Rata Umum Kappa (Overall) (Kappa) 1.3 kelompok 40.940 3.476 14. PC1234-2 kelompok 63.271 8 PC123.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.4 kelompok 27.429 17. delapan desain yang dianalisis tiga desain menggunakan peubah asli sedangkan lima desain sudah menggunakan peubah PC yang diubah melalui analisis komponen utama (AKU).595 1.482 3.846 6.24 3 12796. Metode gerombol (clustering analysis) menggunakan asumsi tidak ada multikolinieritas antar peubah yang digunakan.338 5 22740.Hardjanto.44 4 10967.714 21.650 7 PC123.05 7 3 19388.920 7 -22739.632 12798.963 0. Endang Suhendang. Ragam rata-rata antar kelompok dan dalam kelompok (Average variety of inter and within clusters) Desain Jumlah Variabel (Design of number of variables) Ragam Rata-Rata (Average variant) Antar Kelompok (Betweencluster) (A) Dalam Kelompok (Within cluster) (B) Selisih (differen-ce) (A-B) Rangking 2 Variabel -2 Kelp PC1234 3 Kelp PC123 – 2 Kelp PC123 – 3 Kelp PC123 4Kelp 2 Variabel -3 Kelp 4 Variabel -2 Kelp PC1234 2 Kelp 1. Ini menandakan bahwa desain tersebut yang paling akurat dalam menduga kelompok desa berdasarkan luas hutan rakyat.196 1.633 5 PC1234-3 kelompok 40.532 3. dan Herry Purnomo 2 kelompok.026 4. 2 Variabel .55 20968. Tabel (Table ) 7.072 20972.59 0 13170. Nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa (Value of overall accuracy and Kappa accuracy) No.932 6 PC123-2 kelompok 50.485 3.015 165 . dan yang ketiga desain dengan mengunakan analisis komponen utama dengan 4 KU yang membagi 2 kelompok. Desain kedua yang terbaik adalah 2 variabel dengan 2 kelompok dengan nilai akuarasi umum sebesar 63% dan akurasi Kappa sebesar 26%.98 0 4 13171. menyatakan batas kolinieritas tersebut masih dapat ditolerir untuk nilai korelasi dibawah 0.988 27.393 26.

Juli 2011.168 3. Diharapkan dengan memiliki luas hutan rakyat yang besar merupakan salah suatu peluang untuk mencapai pengelolaan hutan rakyat yang menguntungkan dan efisien.3. Bila tetap bertahan untuk kegiatan hutan rakyat sebaiknya perlu penggabungan wilayah yang lebih besar untuk menjadikan 166 . yaitu desain dengan mengunakan PC1234 dengan nilai akurasi sebesar 64% dan desain dengan 2 variabel (rasio kelerengan dan kerapatan jalan) dengan nilai akurasi sebesar 63%. Sedangkan berdasarkan desain 2 variabel menduga sebanyak 74% wilayah Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang memiliki potensi pengembangan yang besar. Terdapat kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan untuk berkembangnya hutan rakyat Pengembangan lebih mengarah ke bidang di luar hutan rakyat. 155 .8 No. Untuk membentuk satu unit pengelolaan lebih mudah Tabel (Table ) 9. Karakteristik dan Arah Pengembangan Tipologi Pada proses akurasi terdapat dua desain yang memiliki akurasi yang baik. Sebaran pengelom-pokan desa berdasarkan desain tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Tipologi Wilayah Karakteristik dan arah pengembangan setiap tipologi (Characteristics and direction of development of each typology) Karakteristik (Characteristic) Arah Pengembangan (Development direction) Jumlah Desa (Village numbe) Desain Desain 2 PC1234 Variabel 101 87 I Merupakan wilayah-wilayah desa dimana penggunaan lahannya tidak didominasi hutan rakyat. Berdasarkan desain PC1234 terlihat dugaan wilayah Kabupaten Ciamis memiliki 70% daerah yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang besar.2 kelompok Gambar (Figure) 3. (a) Pc1234. Tetapi jika unit pengelolaan tersebut berupa desa tentunya dapat berdiri sendiri secara individual ketika potensinya besar . Potensi pengem-bangan hutan rakyat disini dilihat dari besarnya luasan hutan rakyat di dalam suatu desa. Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa sebaran yang dihasilkan dengan desain PC1234 terlihat lebih kompak dan sehamparan dibanding sebaran yang dihasilkan desain 2 variabel. (b) 2 variabel-2 kelompok Pengelompokan berdasarkan desain (a) PC1234 dan (b) 2 variabel (Grouping based on design (a) PC1234 and (b) 2 variable) ketika wilayah yang akan digabungkan berdekatan secara spasial.

dan lainnya.T Widayanti. Konservasi Tanah dan Air. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses 167 . Faktor-faktor biofisik dan ditambah dengan sosial ekonominya mendukung untuk berkembangnya pengelolaaan hutan rakyat di wilayah ini. Terdapat delapan variabel yang berkorelasi nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.B Wiyono. Endang Suhendang.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.A. cengkeh. H Santosa. yaitu rasio kelerengan lahan dan kerapatan jalan dengan akurasi rata-rata 63%. Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perbedaaan ini. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. E. S. kerapatan jalan. kelompok tani. Awang. dan rasio rumah permanen. Jumlah Desa (Village numbe) Desain PC1234 Desain 2 Variabel II 235 249 Desa yang dianggap berpotensi tinggi adalah yang mempunyai nilai lebih besar dari rata-rata luas hutan rakyat di Ciamis. S. Merupakan wilayah-wilayah desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang besar. Bogor. Selain itu desain kedua yang teruji adalah menggunakan desain 2 variabel. 2.Hardjanto. kepadatan penduduk. Sadiyo. Debut Press. kemampuan lahan. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. Y Nugroho. salah satunya karena secara fakta kondisi biofisik dan sosial ekonomi mendukung untuk berkembangnya hutan rakyat. tiga variabel terbesar adalah rasio kelerengan lahan. dan Herry Purnomo Tabel (Table) 9. Perlu dibentuk wadah / unit pengelolaan hutan rakyat agar terjadi sistem yang menjamin kelestarian. Kustomo. Kelima variabel lainnya berurutan berdasarkan besarnya korelasi dengan luas hutan rakyat adalah jarak ke hutan negara. V. lembaga masyarakat dan lainnya. Awang. tetapi saat ini bisa jadi yang berkembang adalah tanaman non kehutananan seperti kelapa. Desain metode yang digunakan menggunakan desain 4 komponen utama (Pc1234). B. baik petani. Lanjutan (Continued) Tipologi Wilayah Karakteristik (Characteristic) secara biofisik ditambah aspek sosial ekonomi. 2007. IPB. 1989. W. S. Agar perencanaan pengelolaan yang diterapkan dapat mewakili karakteristik masing-masing wilayahnya. Hasil pengujian memiliki keragaman dalam kelompok dan antar kelompok yang baik dan nilai akurasi yang lebih besar dari yang lain.A. Perlu penanganan yang lebih profesional untuk mengelola potensi hutan rakyat dari berbagai pihak. pemerintah. maka disarankan untuk menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah perlu pertimbangkan variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan potensi hutan rakyat seperti di penelitian ini. Tipologi yang terbentuk ada dua. 2001. IV. I Nengah Surati Jaya. dan rasio penggunaan lahan bukan sawah. KESIMPULAN DAN SARAN A. Arah Pengembangan (Development direction) suatu unit pengelolaan yang lestari. Yogyakarta. Sapardiono. rasio umur produktif. Kesimpulan 1. yaitu tipologi wilayah yang berpotensi untuk berkembangnya hutan rakyat dan wilayah yang tidak berpotensi berkembang hutan rakyat. yaitu akurasi ratarata umum sebesar 64%. Jumlah desa berpotensi tinggi hasil dugaan desain penelitian ini lebih besar dari nilai acuan sebenarnya. yaitu berkisar 58 Ha setiap desa. dan S. Gurat Hutan Rakyat.

Institut Pertanian Bogor.C. J. Bliss. W. 2001. Forest Management : To Sustain Ecological. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisisr Kota Bandar Lampung. Fakultas Kehutanan UGM. Inc. Goldstein.N . Sustaining Family Forest in Rural Landscapes: Rationale. Studi Kemungkinan Pengembangan Konservasi Lahan melalui Hutan Rakyat.. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 1991. Smallholder. Harrison. 2006. Economic. 155 . Suhendang. Analisis Citra Digital : Perspektif Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. A. S. Tesis. D. Review Hasil Penelitian : Hutan Rakyat.S. Bogor. 2(1): 1-8. Method and Applications.Widiarti. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa [disertasi]. Bettinger.N. 2003. 168 . Davis. McGrawHill Companies. 2003.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. and T. and an Illustration from Oregon. Non Industrial. Niskanen. I. Jakarta Suharjito. Bogor. Konsep dan aplikasi dengan SPSS. Santoso. dan A. P. Small-scale Forest Economics.168 Konstruksi Pengetahuan Lokal. Howard. Bogor : Program Pascasarjana. 2002. Badan Penelitian dan PengembanganKehutanan.S.R dan M. Bogor. N. dan B. Fourth Edition. USA . H. Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat Fakultas Kehutanan IPB. Hardjanto. Chalenges. 2000. Fakultas Kehutanan IPB. Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa. Management and Policy. Institut Pertanian Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.3. S.8 No. New York. Bogor. Management and Policy. Small-scale and Family Forestry : What's in a Name? Small-scale Forest Economic. Dillon.E.. K. Multivariate Analysis. Rustaman. 2003.Johnson. L. Juli 2011. Haeruman. Banyumili Art Network bekerjasama dengan Pusat Kajian Hutan Rakyat. Abidin. John Wiley & Sons. 2010. New York. 2003. Herbohn. Mindawati.S. 1(1): 1-11. 2006. J.. Statistik Multivariat. Hardjanto. dan E. and Social Values. Program Pascasarjana. Rahmadia. PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. R. Jaya. 1984. Yogyakarta. E.

Raya Jakarta-Bogor KM 46. fire control organization. Fakultas Kehutanan. Bakosurtanal. di mana 169 .com 2) Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. IPB. Saharjo . e-mail: erlyskm@yahoo. Jl. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. administrative and planning is employed. Alikodra . Cibinong 16911 HP: +62816731777. HP: +628161948064.HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Study on Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia Erly Sukrismanto . provincial. Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 13. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. The study thus provides evidence that the coordination among the organizations involved in forest/land fire control has been inadequate so that management of forest/land fires is still ineffective. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. This research aims at finding empirical evidences to prove the opinion. IPB. Hadi S. and district levels indicate that a relatively good coordination has been existent among the national level organizations. Naskah diterima : 7 Juni 2011 1) ABSTRACT Forest/land fire is one of the main causes of global climate change. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. e-mail: halikodra@wwf. e-mail: priyadi. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. HP: +6281210494949. administratif.com 4) Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. An analysis method using the three aspects of integrative coordination including service delivery. institution ABSTRAK Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. The coordination among the involved organizations is considered ineffectual. Gatot Subroto.com Naskah masuk : 3 Januari 2011. Until recently the management of forest/land fire control in Indonesia is still ineffective due among others to the weakness of its fire control organization system. While at provincial and district levels. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. dan/and Priyadi Kardono4) 1) 2) 3) Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan.or. HP: +62818161166. Bambang H. although the coordination in the research sites is still insubstantial. Fakultas Kehutanan. Jl. The difference in the basis of departmentation seems to be the reason. The relationships among Riau's organizations at each of the provincial and district levels and vertically between those levels as well as with the national one have been existent. Bogor. provinsi dan kabupaten/kota. Riau demonstrates a better situation than West Kalimantan in the coordination. e-mail: bhsaharjo@gmail. Keywords: Coordination. Bogor.id 3) Departemen Silvikultur. Jakarta 10270. While in West Kalimantan such relationships present in only among a few organizations at the same level and absent in between levels. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. The results of study on 42 organizations at national.kardono@gmail.

2008). sementara peran masing-masing organisasi/institusi pengendalian kebakaran kurang mendapat perhatian. 2003. 2001. sosial. 1994. institusi I. 169 . 1982). 2008).. Provinsi Riau dan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya. Berbagai studi menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan/lahan di Indonesia tidak hanya bersifat teknis yang berkaitan dengan penyebab fisik di lapangan yang berkaitan dengan ketersediaan unsur-unsur segitiga api (bahan bakar. melainkan juga berkaitan dengan sosial politik (Doscemascolo. Kartodihardjo. Faerman et al.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. baik di tingkat nasional. B.8 No. Wehmeyer et al. Bappenas (1999) mencatat kerugian akibat dari kebakaran hutan/lahan tahun 1997-1998 sekitar US$ 9. 2001. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa belum efektifnya organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan dalam menangani kebakaran hutan/lahan dan faktor-faktor penyebabnya selama ini. 1982. DFID dan World Bank (2007) menyatakan bahwa kebakaran hutan/lahan di Idonesia telah melepaskan sekitar 1400 metrik ton karbon dioksida per tahun. 2007.. 1999. jauh di atas emisi dari sektor energi yang hanya sekitar 275 metrik ton. Bolland dan Wilson. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. di tingkat provinsi di Riau dan Kalimantan Barat. Provinsi Kalimantan Barat. 2001. Kelemahan pengorganisasian dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain (1) belum jelasnya peranan dalam pengorganisasian (Wehmeyer et al. 1999). yakni hubungan antar organisasi. Kata kunci : Koordinasi. Suprayitno dan Syaufina. 2004) dan kelembagaan pengendalian kebakarannya (Simorangkir. baik pada satu level maupun antar level pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat keharmonisan hubungan antar para pihak atau institusi dalam upaya merancang model sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia. (2) belum optimalnya hubungan antara organisasi-organisasi yang terlibat (Mulford dan Klonglan. 2006). provinsi. Data besarnya jumlah akumulasi titik panas (hotspot) merupakan indikator tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan/lahan (Hiroki dan Prabowo. atau perseteruan (Mooi. Hubungan dalam pengorganisasian kebakaran hutan/lahan di Indonesia adalah kerja sama dalam bentuk koordinasi.. dan di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu.. METODE PENELITIAN A. Tulisan ini menguraikan hasil studi terhadap faktor kedua. Malone et al. Colman dan Han. II. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. Teknik Pengambilan Contoh Hasil identifikasi mendapati sebanyak 42 organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan dari semua tingkatan. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010.3. 2009). Selama 10 tahun terakhir jumlah rata-rata titik panas per tahun masih di atas 50 ribu titik. dan panas) yang berlimpah (Chandrasekharan. Kajian terhadap aspek sosial politik dan kelembagaan lebih banyak menyoroti lemahnya aturan main dalam pelaksanaan serta penegakan sanksi. Mulford dan Klonglan.3 milyar atau Rp 5. Pelibatan di antara pihak-pihak tersebut memerlukan suatu sistem pengorganisasian yang bekerja secara integratif dan harmonis agar efektif dan efisien (Siswanto. maupun kabupaten/kota. Juli 2011. pengendalian kebakaran. 170 . PENDAHULUAN Kebakaran hutan/lahan di Indonesia berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek. dan politik. oksigen. Hubungan antar organisasi dapat berupa kerja sama. baik ekologi dan lingkungan maupun ekonomi.96 trilyun yang setara dengan 70% dari nilai PDB sektor Kehutanan tahun 1997. kompetisi. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap organisasi-organisasi di tingkat nasional di Jakarta dan sekitarnya. 2001) dan (3) belum efektifnya organisasi yang terlibat (Young Lee dan Whitford. 2005).177 koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. Organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan banyak instansi atau organisasi pemerintah.

Bambang H. Dishut Provinsi Riau yang dalam struktur Pusdalkarhutla memegang peranan penting sebagai koordinator bidang pemadaman justru tidak memiliki hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi dari manapun kecuali dari Dishutbun Kab.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. hubungan dalam aspek bantuan layanan masih relatif terbatas. bahkan di daerah tersebut tidak ada satupun hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi di antara organisasi-organisasi di tingkat provinsi dan juga di tingkat kabupaten/ kota serta antar tingkatan. upaya pemadaman masih sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. 2. Jika sedikitnya satu orang dari organisasi tersebut mengenal sedikitnya satu orang dari organisasi lain. Ada dua institusi yang memiliki hubungan layanan terkonfirmasi terbanyak yaitu LAPAN dan Bakosurtanal seperti terlihat pada Gambar 2. Walaupun banyak organisasi yang saling berhubungan dalam aspek pelayanan. (2) Hubungan administrasi yang melibatkan transaksi sumber daya dianalogikan dengan bantuan organisasi lain dalam mencapai tujuan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang diadopsi dan dimodifikasi dari Bolland dan Wilson (1994). HASIL DAN PEMBAHASAN A. Bantuan Layanan. Sebagai contoh. Planning. padahal dengan kapasitas organisasi yang masih lemah. Kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi oleh Dishut Provinsi Riau dalam menggalang bantuan dari berbagai pihak. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan adalah Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutlada). Analisis ini melihat kaitan antara orang-orang dari dua organisasi dengan cara meminta responden menuliskan nama orangorang yang ia kenal dari organisasi lain. 1994) sebagai berikut: 1. Inhu. Data sekunder diperoleh dari tiap organisasi yang diamati berupa dokumen profil organisasi yang berkenaan dengan hubungan dan kerja sama organisasi tersebut dengan organisasiorganisasi lain dan data keterlibatannya dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. Kondisi serupa juga terjadi di Kalbar. Data primer berupa pendapat responden yang merupakan parameter yang dapat menunjukkan persepsi para pimpinan organisasi/instansi mengenai hubungan antara organisasinya dengan organisasi-organisasi lain. Pengolahan dan analisis data menggunakan prosedur yang diadopsi dari coordination network analysis (Bolland dan Wilson. Analisis ini adalah untuk memperoleh sebuah ukuran dari bantuan layanan yang terkonfirmasi. 84 pejabat eselon III. sedangkan di kabupaten/kota adalah Satuan Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satlakdalkarhutla). namun bantuan yang diberikan atau diterima tidak terkonfirmasi oleh organisasi lain. Saharjo. III. Bantuan Layanan Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi yang saling berhubungan di dalam memberikan bantuan layanan di tingkat nasional hanya 9 organisasi dari 22 organisasi yang terbentuk. Di tingkat provinsi. Kedua organisasi tersebut lebih banyak memberikan layanan dalam bentuk informasi. Analisis ini menggunakan kombinasi jawaban responden atas pertanyaan apakah organisasinya (a) memberi bantuan layanan kepada dan/atau (b) menerima bantuan layanan dari organisasi lain. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya frekuensi kebakaran hutan/lahan di daerah tersebut seperti digambarkan oleh jumlah akumulasi titik panas 171 . Salah satu di antara contoh matrik hubungan bantuan layanan di antara organisasi tertera pada Gambar 1. Alikodra. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Hadi S. Pengumpulan danAnalisis Data Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. dan 156 pejabat eselon IV. dan Priyadi Kardono Pengambilan contoh dilakukan secara purposif di mana responden yang dipilih terdiri dari para pejabat di tingkat eselon IV sampai dengan eselon II yang sering ditugasi atau bidang tugasnya berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan/lahan pada setiap organisasi tersebut. Analisis ini menggunakan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh mana organisasi lain telah membantu organisasi responden dalam mencapai tujuan. dan (3) Perkenalan untuk mengetahui hubungan daari aspek perencanaan. C. Administratif. Pertanyaan angket tersebut berupa: (1) Client referrals (rujukan klien) yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara institusi dalam memberikan dan menerima bantuan layanan. 3. Jumlah responden adalah 282 orang terdiri dari 42 pejabat eselon II. maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara kedua organisasi tersebut.

1982) dan concept of capability (Ulrich. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Organisasi Dit. Juli 2011. 1997) belum diterapkan dengan benar.8 No. 169 . sedangkan Kalbar sebanyak 9. jumlah hotspot rata-rata per tahun selama 10 tahun terakhir masih 7. misalnya.. Hal ini terjadi karena peranan-peranan dalam koordinasi (Wehmeyer et al. Menurut konsep tersebut organisasi seharusnya lebih fokus membangun kapabilitasnya sendiri.897 titik. Untuk itu.177 (hotspot) yang masih relatif tinggi.3. tetapi yang terjadi justru organisasi-organisasi tersebut lebih mengandalkan bantuan sumber daya dari organisasi lain.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1999) harus diperjelas di dalam struktur dan uraian tugas organisasi yang akan dibangun. Malone et al. Kondisi tersebut membuat kinerja dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan selama ini relatif masih rendah di semua tingkatan. 1999) belum terdefinisikan dengan jelas. Diagram hubungan antar organisasi dari aspek bantuan layanan di Riau (Inter-organizational relationships on the aspect of service delivery in Riau) Gambar (Figure) 1. Contoh sebagian matriks hubungan antar organisasi dalam bantuan layanan di tingkat nasional (A part of the matrix indicating the interorganizational relationships in service delivery at National level) No. Sistem pengorganisasian yang ada saat ini mengandalkan keterlibatan banyak pihak. tetapi hubungan perbantuan layanan masih kurang. 2001. 0 = hubungan tidak terkonfirmasi (unconfirmed relation) 172 . Di samping itu. Linbun Asdep PKHL BNPB Bappenas BMKG Basarnas Bakosurtanal LAPAN Depdagri Deplu Depsos Depkes Dephub Depkeu Mabes TNI 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan (Remarks) : Angka 1 = hubungan terkonfirmasi (confirmed relation). Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sistem pengorganisasian yang diterapkan dalam Pusdalkarhutla di mana departementasi didasarkan pada wilayah pemangkuan kawasan. Gambar (Figure) 2...221 titik/tahun. Lintan Dit. Di Riau. penetapan tugas (Malone et al. konsep kerja sama (Mulford dan Klonglan. PKH Dit.

mengidentifikasi sumber daya yang harus dimiliki atau disediakan oleh organisasi mana. 1999) dan transaksi sumber daya (Bolland dan Wilson. Gambar (Figure) 3. Hal ini berarti dari aspek pertukaran gagasan.PKH memiliki hubungan terbanyak dalam aspek tersebut. mengidentifikasi sumber daya untuk menjalankan tugas. Saharjo. organisasi-organisasi tersebut belum saling mendukung dalam pencapaian tujuan atau masih berjalan sendirisendiri. hubungan administratif dalam satu tingkatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota sudah lebih terjalin di Riau daripada di Kalbar. dari 22 organisasi yang diamati terdapat 15 organisasi yang saling membantu dalam pencapaian tujuan. Perencanaan Hasil analisis terhadap aspek perencanaan (planning/agenda setting) menunjukkan bahwa di tingkat nasional hampir seluruh organisasi yang diamati. Hasil analisis pada aspek ini melihat seberapa jauh organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan saling membantu dalam pencapaian tujuan. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kehutanan yang selama ini dipandang sebagai penanggung jawab atau pengelola kebakaran hutan/lahan ternyata tidak memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi lain baik bantuan layanan maupun administratif. Hal ini juga dapat menggambarkan fakta di mana sering terjadi organisasi di tingkat kabupaten/ kota berhubungan langsung dengan organisasi di tingkat nasional tanpa melalui organisasi di tingkat provinsi. dan Priyadi Kardono B. sedangkan antara tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota serta di antara organisasi-organisasi di satu tingkatan tidak ada hubungan (Gambar 3).. Hubungan administratif antar organisasi antar tingkatan di Kalimantan Barat (Relationships on administrative aspect among levels in West Kalimantan) C. Kondisi tersebut menegaskan kembali pengaruh sistem pengorganisasian yang diterapkan di masing-masing daerah tersebut. Kondisi demikian sebenarnya ditangani dengan melakukan aktivitas tambahan yang disebut coordination mechanisms (Malone dan Crowston. dan prosedur mobilisasinya. 1994) untuk mencapai tujuan belum terjalin.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Hadi S. organisasi-organisasi yang diamati telah memiliki hubungan administratif antar tingkatan mulai dari tingkat tingkat kabupaten/ kota sampai dengan tingkat nasional. sedikitnya satu pimpinannya telah saling mengenal. Dishut Prov dan Dinas yang menangani kehutanan baik di Riau maupun di Kalbar ternyata tidak saling terhubungkan. Bambang H. Di Riau. Dengan perkataan lain. AsdepPKHL dan Dit. penetapan isu (agenda setting) 173 . Administratif Hubungan administratif antar organisasi biasanya melibatkan transaksi sumber daya yang memungkinkan organisasi tersebut lebih efektif dalam mencapai tujuannya (Bolland dan Wilson. Di tingkat nasional. Di daerah. Dit. di Kalbar hubungan administratif terjadi hanya antara tingkat nasional dengan tingkat provinsi dan tingkat nasional dengan kabupaten/kota. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi yang merupakan pengelolaan saling ketergantungan (Malone et al. misalnya ketika terjadi kebakaran hutan/lahan atau bencana alam. kemudian membagi tugas. Sementara itu. PKH Kementerian Kehutanan. Hal ini dapat memberikan jawaban mengenai masih rendahnya kinerja pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/ lahan sampai sekarang. Pertama adalah menyepakati tujuan bersama. 1994). Alikodra. 1994).

Meskipun hubungan berjalan satu arah. yang diindikasikan dengan lebih banyaknya pihak yang saling mengenal daripada yang terjadi di Kalbar. tetapi pada setiap SKPD terjadi pembatasan jumlah jabatan yang mendorong penetapan prioritas masalah yang lebih tajam. hubungan para pihak di Riau relatif lebih baik. Hasil analisis terhadap ketiga aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa koordinasi terpadu (Bolland dan Wilson. dan kebakaran hutan/lahan belum menjadi masalah prioritas. 1994) di antara organisasiorganisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan masih relatif kurang erat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.177 maupun perencanaan telah terjadi hubungan yang relatif baik. Di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/ kota. yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai jenis bencana. Pergantian pimpinan yang relatif cepat atau jangka waktunya pendek baik di dalam masing-masing organisasi maupun antar 174 . Hubungan antar organisasi antar tingkat nasional. 2005). 169 . sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. sehingga hanya beberapa SKPD yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai salah satu jabatan dalam strukturnya atau dalam kegiatannya. 2005). Provinsi Riau telah mengenal para pimpinan organisasi di tingkat provinsi maupun tingkat nasional (Gambar 4). Hubungan antar organisasi dalam perencanaan di Riau (Interorganizational relationships on planning aspect in Riau) Satu lagi hal penting dari kajian terhadap ketiga aspek tersebut di atas yaitu fakta bahwa ternyata tidak ada hubungan yang terjadi antar kabupaten/kota meskipun dalam satu provinsi. para pimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kab. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan (Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutlada) tidak termasuk sebagai SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang menurut UU No. Organisasi yang pernah ada. 2004) juga sulit dibangun karena konsep keterpaduan dan “kemenyeluruhan” (comprehensiveness) belum menjadi acuan. Di tingkat provinsi. 4. keterpaduan kebijakan atau policy integration (Meijers dan Stead. yakni Pusdalkarhutnas dan TKN-PKHL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan). Kab. Di sisi lain. Juli 2011.8 No. belum secara eksplisit mengakomodasikan kepentingan pengendalian kebakaran hutan/ lahan. Inhu. Di tingkat nasional belum terbentuk secara formal organisasi yang menangani pengendalian kebakaran hutan/lahan. sudah tidak berlaku lagi sejak era Reformasi. Kota Dumai. Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan Undang-undang No. Hal tersebut tidak terjadi di Kalbar. 33/2004 tidak dapat mengelola anggaran. Inhu. Kondisi demikian menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan belum optimal. baik di Kab.3. Gambar (Figure) 4. 2. Beberapa hal yang menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan adalah: 1. Kubu Raya maupun Kab. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. 3. secara umum instansiinstansinya kurang saling mengenal. provinsi dan kabupaten/kota di Riau juga relatif lebih baik daripada di Kalbar. Menurut Janssen. Ketapang. rendahnya tingkat perkenalan di antara organisasi akan menimbulkan kurangnya komunikasi dan keterlibatan secara emosional yang pada dasarnya berdampak pada rendahnya produktivitas organisasi (Janssen. Anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan berada pada SKPD.

Sementara itu. D. sarana dan prasarana. 2001). Alikodra. Kurang jelasnya uraian tugas dan tidak ditetapkannya pejabat tertentu untuk menangani kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi serta kebiasaan mewakilkan pada staf untuk menghadiri pertemuan antar organisasi membuat penanganan masalah kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi tidak fokus dan para pejabat/pimpinan organisasi tidak saling mengenal. hanya beberapa instansi anggota yang memiliki anggaran untuk kebakaran hutan/lahan dalam jumlah yang relatif sangat kecil. Kurangnya komunikasi dan pertemuanpertemuan antar organisasi. Komunikasi atau pertemuan biasanya bersifat responsif ketika terjadi situasi darurat kebakaran hutan/lahan. 91/2009 dan Pergub Kalbar No.. tetapi belum menjadi jejaring yang kuat karena koordinasi yang masih lemah. tetapi masih lemah di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota maupun antar tingkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya (manusia dan sarpras) pada instansi-instansi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran pada umumnya tidak tersedia secara memadai. KESIMPULAN Berdasarkan kajian terhadap hubungan antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. Organisasiorganisasi tersebut perlu membentuk jejaring yang kuat dengan peranan-peranan koordinasi (coordination roles) yang jelas (Wehmeyer et al. Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutla memang sudah ada. sekalipun memiliki sumber daya yang mencukupi (Mulford dan Klonglan. Saharjo. Berdasarkan kondisi sumber daya yang terbatas tersebut maka perlu adanya kerja sama antar organisasi yang efektif dan efisien. apalagi untuk digunakan berbagi dengan instansi-instansi lain. Koordinasi adalah suatu upaya untuk mengelola ketergantungan di antara berbagai pihak.. 1999). hubungan antar organisasi telah terjalin cukup baik di tingkat nasional. 103/2009. 3. Pada aspek administratif. Di samping SDM dan sarpras yang masih sangat kurang. dana atau anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan juga belum tersedia. Penanganan kebakaran hampir tidak mungkin dilakukan sendirian oleh masingmasing organisasi karena masih sangat lemahnya kapasitas organisasi. Rendahnya tingkat jejaring kerja dan sumber daya (manusia. Kondisi inilah yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan menjadi kurang optimal sehingga frekuensi kejadian kebakaran tetap relatif tinggi. serta anggaran) di setiap organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan berimplikasi besar pada penanganan kebakaran hutan/lahan. Hubungan antar organisasi pada aspek perencanaan juga terjalin baik di tingkat nasional. 2. namun masih lemah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. karena sebuah organisasi tunggal tidak dapat mengatasi permasalahan masa kini yang kompleks. 175 . Bambang H. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam Pusdalkarhutlada atau Satlakdalkarhutla lemah karena hampir tidak ada sumber daya untuk berbagi. Implikasi Terhadap Kebakaran Hutan/ Lahan Kondisi hubungan antar organisasi yang masih kurang harmonis baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan tersebut di atas berimplikasi terhadap penanganan kebakaran hutan/lahan. Bantuan layanan di antara organisasi dalam pengendalian kebakaran belum efektif baik di tingkat nasional. 5. 1982). 4. baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sayangnya. kedua Pergub tersebut tidak menjelaskan mekanisme pendanaan bagi kerja sama tersebut sehingga kerja sama tetap sulit untuk dilaksanakan. 6. dan salah satu bentuknya adalah berbagi sumber daya (Malone et al. Hadi S. Pusdalkarhutlada maupun Satlakdal-karhutla di lokasi penelitian belum termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga tidak dapat memperoleh dan mengelola anggaran dan akibatnya operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran di instansi-instansi anggotanya.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. IV. provinsi maupun kabupaten/ kota. maka dapat disimpulkan: 1. Prosedur kerja sama antar organisasi untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebenarnya juga sudah ada di Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang ditetapkan masing-masing dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Riau No. dan Priyadi Kardono organisasi membuat para pimpinan organisasi kurang berkesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama menyusun dan menyepakati serta memahami tata hubungan kerja atar organisasi.

dan D. 169 .jstor.R. The Interdisciplinary Study of Coordination. Jakarta: Bappenas. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks Pemerintahan Umum. Inc. G. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.177 DAFTAR PUSTAKA Bakry. hlm 264-277. Organizational Roles and Players.M.. 2007. dan K. Conflict. Burning Issues: Control of Fire Management in Central Kalimantan. rehabilitation and trans-bundary issues. Edu.V. et al. Dellarocas. Di dalam: Suratmo F. Diakses tanggal 29 Okt 2010.P. Janssen.A. [DFID] Department for International Development and World Bank.8 No. Management Science 1999. http:// web. C. C. 2001. Vrije Universiteit Amsterdam. B. Understanding Interorganizational Cooperation: Public-Private Collaboration in Regulating Financial Market Innovation (abstrack). Malone. 176 . 1994. hlm 218-222. Jakarta.W. Diakses tanggal 28 Jan 2009. Bakry L. Slyke. 1999. 2004 Berlin Conference on the Human Dimensions of Global Environmental Change: Greening og Policies . Disertasi. editor). Republic of Indonesia/JICA and ITTO. dan E. A.. McCaffrey dan D. Willey Periodicals. Hasil Penggunaan Citra Satelit NOAA-AVHRR dan Himawari untuk deteksi Hot Spot di Stasiun Bumi Satelit NOAA-AVHRR/ Himawari FFPMP. http://www. Final Report Volume 1. Refleksi Kerangka Pikir Rimbawan Menguak Masalah Institusi dan Politik Pengelolaan Sumberdaya Hutan. Pentland. A. Evolution of Instutional Rules: An Immune System Perspective. Indonesia. Malone. J. Computing Surveys 26(1):87-119. S. Organization Science 2001. 29-3:341-366. Meijers.nl/bitstream/1871/ 12681/5/7725. editor. Stead. Bolland.. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia.A.swin.G. The Mission on Forest Fire Prevention and Management to Indonesia and Malaysia (Serawak): Tropical forest fire: prevention. Husaeni EA. I dan D. E. Hawaii. Vu. Prabowo...Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. O'Donnell. Klein. Han. 2007. 1999.de/ffu/akumwelt/bc2004/ download/meijers_stead_f. Hiroki. Policy integration: what does it mean and how can it be achieved? A multi-disciplinary review. 12(3):372-388. Juli 2011. Osborn. E.W. Http://dare. K. Diakses tanggal 22 Jan 2009. Planning for Fire Prevention and Drought Management in Indonesia. 2004. 2003. Tools for Inventing Organizations: Toward a Handbook of Organizational Processes. dan Surati Jaya N. 2010.id [27 Jan 2009] Doscemascolo. Dalam Health Services Research 1994. T.. 45-3:425-443. control. editor. Working Paper: Indonesia and Climate Change Current Status and Policies. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. 2006.. J. Pemerintahan Daerah di Indonesia.P. dan J. [Bappenas] National Development Planning Agency. Herman. AS: The Graduate Division on the University of Hawaii. Lee. Quimby. Inter-organizational Cooperation.M. Dalam: Ramses AM. hlm 259-270 Hoessein. T. dan Bakry L. Chandrasekharan.A. 2009... G. www. G. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia.peace. D. M. A.ict. Mooi. and Change. J.pdf. pp 204-282 Colman. Dalam: Ramses AM.pdf. (Nugroho.co. 2004.. Disertasi. L. Bernstein. B.pdf.W. Faerman. 11(1):16-23 Kartodihardjo. 2009. Proceedings International Cross Sectoral Forum on Forest Fire Management in South East Asia. Pengaturan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah.. Pemerintahan Daerah di Indonesia. H.. Three Faces of Integrative Coordination: A Model of I n t e ro rg a n i z a t i o n a l R e l a t i o n s i n Communit-Based Heath and Human Services. editor. M. 1994. 2005. Wilson.org/pss/3086014 [28 Jan 2009].Interlinkages and Policy Integration.S.3. National Development Planning Agency. Crowston.fu-berlin. 1999. Crowston.ubvu. Wyner. C. http:// www.. dan J.au/personal/acolman/pub/ColmanA AAI_FS05.

K.L. 2001. Permana R. Jakarta: PT. Siswanto. dan B. Young Lee. D. Iowa State University]. 1997.B. Syaufina. 177 . Dalam Suyanto S. dan Priyadi Kardono Mulford. Diakses tanggal 29 Okt 2010. Maastricht. Whitford. Applegate G. C. The Netherlands. Dalam: Hesselbein F. Iowa : Cooperative Extension Service. Government Effectiveness in Comparative Perspective . hlm 189-196 Wehmeyer. 1982. 2001. 2009. Creating Coordination Among Organizations:an orientation and planning guide North Central Regional Extension Publication 80. (editor). BumiAksara Suprayitno dan L. 2008. Saharjo. Tinjauan Singkat Kerangka Hukum dan Kelembagaan dalam Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. P. Alikodra.. dan Bechard R. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Korea International Cooperation Agency.. D. Http:// www-i5. Klonglan.. Simorangkir.de/ conf/ rseem2001/. Goldsmith M. Organizing Around Capabilities. dan A. S. Prosiding Seminar Sehari Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Sosial Ekonomi dalam Kaitannya dengan Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera. Hadi S. Roles and Trust in Interorganizational Systems. 1997.. [Ames.. Diakses tanggal 08 Mei 2008.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Ulrich. K. 2001. H. editor. and G. Pengantar Manajemen. The Organization of the Future. Proceedings of the Eight Research Symposium on Emerging Electronic Markets (RSEEM 01). Schneider. Reimer. Pengendalian Kebakaran Hutan. dan Setijono D. Bambang H.rwth-aachen. 2008.B. Bogor: Proyek Penelitian Kebakaran Hutan dan Lahan ICRAF dan CIFOR.informatik.com/abstract= 1081642.E. San Francisco: Jossey-Bass Pusblishers. http://ssrn.

These results could be applicable for selection purpose. Sumatera Selatan.73 % untuk diameter. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. genetic correlation.073. 6. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. because it may done based on just one character. Selection index of the best five clones of 24.39.49 % untuk karakter tinggi dan 1. i. stem form and volume were 1. South Sumatera. i. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0.16 (clone) for height character and 0.67.16 %. while between diameter and stem form was very high. di lokasi KHDTK Kemampo. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. 2.e. Kol. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. 0.e.15 %. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. diameter dan bentuk batang. i. sebesar 0. (0711) 414864 2) Fakultas Kehutanan.026 (individu) dan 0. But for stem form were relatively high. diameter. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.02 (individual) and 0. 1. 3.13 (clone) for diameter.49 % for height and 1. clone. while the contribution of stem form was relatively higher. heritability and expected genetic gains based on tree height. 36.43 % and 8. Based on an assumption of using the best five clones. 0. dengan 4 blok.02 (individu) dan 0.e.PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L. Genetic gain estimation at the age of 3 years was relatively low. Sumatera Selatan Telp.73 % for diameter. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik.39. Keywords: Heritability. i. 35 and 11 were 3.15 %. 1.88.09 and 0.40 %.5 Puntikayu. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo. 9. H. i. i.721. The research was conducted in 3 years old teak plantation. 1. Po. Burlian KM. the estimation of expected genetic gain at the age of 3 years for a height.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO. diameter. 1. Genetic correlation between height and diameter was 1. but the variation was relatively low in comparison to other variation sources. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. South Sumaterat Agus Sofyan Mohammad Na'iem Sapto Indrioko 1) 1 2 2 Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. diameter and stem form characters. Randomized Complete Block Design was applied using 35 clones. genetic variation.e.01 (overestimate).09 dan 0. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. Palembang./Fax. Universitas Gadjah Mada Naskah masuk : 5 Agustus 2010. respectively. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1.574. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. i. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9.e. block and interaction between clone and block.16 (klon) untuk karakter tinggi. 4 blocks and 3 treeplots in a spacing of 3 × 3 m. respectively.e. and between height and stem form was 0. because the heritability value was relatively low.e. The contribution of the genetic component to total variation was relatively low. genetic gain. located at KHDTK Kemampo. Box 179.28 % 179 . 0.026 (individual) and 0.28 %. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. 14.13 (klon) untuk karakter diameter. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter.306 respectively. The result of the research showed that there were genetic variation among clones.430 and 1. SUMATERA SELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. Naskah diterima : 13 Juni 2011 ABSTRACT The objective of research were to determine the level of genetic variation. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. teak.

Upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu telah dilakukan pemerintah melalui program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Madiun. Sumatera Selatan. PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan taraf hidup manusia telah menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku kayu. Brazil dan Indonesia (Siregar dan Mansur. Nigeria. pembangunan dan pengembangan hutan tanaman sesungguhnya mempunyai prospek yang cerah. sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dengan tingkat kebutuhan. Kata kunci : Heritabilitas.Desember 2008. Adapun tujuan khususnya adalah untuk mengetahui variasi genetik antar klon. Madiun. Variabel yang diukur adalah sifat atau karakter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman. Saat ini. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai luasan hutan tanaman jati setelah India (ITTO. 2. 3.43 % bentuk batang serta 8. Cepu. yang dalam perkembangannya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan industri kertas atau pulp. Thailand. 2004). begitu banyak negara yang tertarik mengembangkan jati dikarenakan kualitas kayunya yang bagus. 180 . hanya 3 dapat dipenuhi sebesar 400 ribu m .574). Sebagaimana halnya jenis-jenis yang berasal dari hutan alam. Jarak tanam 3 m x 3 m. Menurut Na'iem (2000). Metode Penelitian 1. korelasi genetik serta peningkatan genetik masing-masing karakter pertumbuhan. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. sementara potensi sumber daya alam semakin menurun. Wono giri. serta sifat silvikulturnya secara umum telah dikuasai. 179 .16 % diameter. diameter batang setinggi dada). India. 2003). volume kayu serta bentuk batang (Cotterill dan Dean. B.40 % untuk volume. telah dikembangkan pengelolaan hutan tanaman dengan daur yang lebih singkat. perolehan genetik. berturut-turut nomor 24 (3. Cepu. uji klon. Bahan dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada pertanaman uji klon jati berumur 3 tahun dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. masing-masing unit terdiri atas 3 treeplot. dengan menggunakan benih atau klon unggul hasil seleksi.306). Muna dan Thailand). 2004 dalam Bramasto dan Suita. 14 (1. dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. Kabupaten Banyuasin. Penelitian dilakukan pada bulan Januari . kebutuhan kayu 3 jati pada tahun 2005 sebesar 2.4 juta m . Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. Menurut Iskak (2005). 1990). heritabilitas. Ghana. 2005). awet serta bernilai ekonomi tinggi.8 No. Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam uji klon jati adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan 4 blok sebagai ulangan. di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo.67. Afrika maupun Amerika. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. II. potensi jenis jati yang dikelola oleh Perum Perhutani juga sudah sangat menurun.7210). Wonogiri. jati. terlebih jenis jati yang sangat populer serta risetnya yang sudah sangat maju (Bhat. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. Juli 2011. Beberapa negara yang memproduksi kayu jati berdaur pendek adalah Bangladesh.88. variasi genetik I. Sementara untuk kebutuhan kayu pertukangan maupun mebeler masih mengandalkan hutan alam. Variabel yang diukur Tanaman diukur pada umur 3 tahun. 36 (1.186 untuk karakter tinggi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Myanmar. jati merupakan salah satu jenis yang dikembangkan sebagai hutan tanaman yang cukup luas di dunia dan telah ditanam pada lebih dari 36 negara tropis di Asia. Muna dan Thailand). 1. Dengan tingkat kebutuhan bahan baku kayu yang demikian tinggi.430) dan 11 (1. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendukung upaya pengembangan perhutanan klon berdaur pendek dengan produktivitas tinggi. korelasi genetik.073). Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. 35 (1.01 (overestimate). sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebesar lebih 3 kurang 2 juta m . BAHAN DAN METODE A.3.

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

3.Analisis data Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians, dengan model analisis varians (linear model) yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel and Torrie, 1991) : Yijkl = µ +Bi + Pj + Kk(Pj) + BK ik + Eijkl Keterangan : Yijkl = Pengamatan pohon pada blok ke i, Populasi ke j, klon ke k, individual ke l µ = Rerata umum Bi = Efek blok ke i Pj = Efek Populasi ke j Kk(Pj) = Efek klon ke k dalam populasi ke j BK ik = Efek interaksi blok ke i dan klon ke k Eijkl = Random error pada pengamatan ke ijkl Untuk mengetahui parameter genetik dilakukan melalui penaksiran terhadap nilai heritabilitas, perolehan genetik serta korelasi genetik antar sifat pertumbuhan. Nilai heritabilitas yang dihitung adalah nilai heritabilitas individu atau klon, yang ditaksir melalui komponen varians yang diperoleh dari hasil analisis varians. Wright (1976) dan Zobel dan Talbert (1984), menggunakan rumusan taksiran nilai heritabilitas dengan materi vegetatif (klon), sebagai berikut :
2

S = diferensial seleksi i = intensitas seleksi (Becker, 1992) p = standart deviasi phenotipe Analisis korelasi genetik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sifat tinggi dan diameter secara genetis, yang dilakukan deengan menggunakan rumus menurut Zobel and Talbert (1984) : k ( xy )

rG (
2 k(x)

x

2

k ( y)

)

Keterangan : rG = korelasi genetik 2 k(xy) = komponen kovarians untuk sifat x dan y 2 k(x) = komponen varians untuk sifat x 2 k(y) = komponen varians untuk sifat y Selanjutnya besarnya komponen kovarian untuk dua sifat tersebut ( x dan y) dapat dihitung dengan rumus (Fins et, al. 1982) yaitu sebagai berikut : 2 2 2 k(xy) = 0,5 ( k (x+y )kx ky) Keterangan :
2 k (x+y )

= komponen varians untuk sifat x dan y.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persen Hidup dan Pertumbuhan

h= H2k=

2 i

k 2
2 k

2

k

2

, dan
e

kb

2

k

(

2

kb

/ B)

(

2

e

/ NB )

Keterangan : h2i = Nilai heritabilitas individu (ramet) H2k = Nilai heritabilitas klon 2 k = Komponen varians klon 2 e = Komponen varians error 2 kb = komponen varians interaksi klon-blok B = Jumlah blok N = jumlah ramet per plot Untuk menduga besarnya perolehan genetik digunakan rumus menurut Zobel dan Talbert (1984) : G = H2 x S atau G = H2 x i x Keterangan : G = taksiran perolehan genetik H2 = heritabilitas
p

Daya adaptasi keseluruhan klon pada umur 3 tahun nampak menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai rerata persen hidup yaitu sebesar 84,52% serta pertumbuhan tanaman yang sangat baik dibandingkan dengan rerata pertumbuhan pada beberapa uji klon jati lainnya, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Perbedaan pertumbuhan selain disebabkan oleh perbedaan materi (klon), juga dapat disebabkan oleh perbedaan faktor lingkungan tempat tumbuh (edafis) yang terkait jenis dan kesuburan tanah, intensitas pemeliharaan serta faktor iklim (klimatis) terutama curah hujan. Menurut Sheldbourne (1972) dan Goddart (1979) dalam Zobel dan Talbert (1984), faktor lingkungan edafis memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pertumbuhan dibanding dengan faktor iklim atau klimatis.

181

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.3, Juli 2011, 179 - 186

Tabel (Table) 1. Rerata pertumbuhan uji klon jati di KHDTK Kemampo serta beberapa hasil uji klon pada lokasi lainnya (Average of growth clonal test of teak in KHDTK Kemampo and others location) Pertumbuhan (Growth) Umur (Age) Tinggi Diameter Sumber (Literature) Lokasi (location) Tahun (year) ( Height) (Diameter) (m) (cm) Sofyandan Syaiful Kemampo, Sumsel 3 7,76+1,75 7,41+1,36 (2008) Bojonegoro, Jawa Timur 5 6,20 6,10 Siswamartana dan Ngawi, Jawa Timur 5 6,00 8,60 Wibawa (2005) Ciamis, Jawa Barat 5 8,20 10,10 Cepu, Jawa Tengah 5 6,65 7,05 B. Variasi Genetik Hasil analisis varians, sebagaimana disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada sumber variasi klon, hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik antar klon. Adanya variasi genetik akan memberikan peluang dalam meningkatkan perolehan genetik melalui tindakan seleksi terhadap klon-klon terbaik. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa sumber variasi blok dan interaksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata bagi pertumbuhan. Hasil interaksi yang sangat nyata mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan tanaman bukan hasil dari kinerja klon atau genetik semata, namun merupakan hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungannya (Kramer & Kozlowski, 1979). Menurut Matheson dan Raymond (1984) penelitian yang menggunakan bahan atau materi vegetatif (klon) seringkali dihasilkan interaksi yang sangat kuat antara klon dengan faktor lingkungannya. Hal tersebut terjadi karena materi klon bersifat sangat reaktif terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh, terutama unsur phosfor, boron dan sulfur (Windsor dan Kelly, 1971 dalam Matheson dan Raymond, 1984). Dengan adanya variasi antar klon, maka terbuka peluang untuk memperoleh peningkatan genetik pada generasi berikutmya. Namun demikian seberapa besar peningkatan yang dapat diperoleh, sangat tergantung pada besarnya proporsi sumbangan variasi faktor genetik terhadap variasi total. Untuk mengetahui besarnya proporsi variasi yang disebabkan oleh faktor genetik serta faktor lainnya, perlu dilakukan analisis komponen varians. Hasil perhitungan taksiran komponen varians selengkapnya disajikan dalam Tabel 3. Besarnya taksiran komponen varians menggambarkan besarnya proporsi sumbangan (kontribusi) setiap sumber variasi terhadap variasi total.

Tabel (Table) 2. Hasil analisis varian pertumbuhan uji klon jati pada umur 3 tahun (analysis of variance for growth on 3 years measurement in clonal test of teak)
Umur (Age) Sumber Variasi (Source of variance) Blok Populasi Klon Klon x Blok Error Derajat Bebas (df) 3 5 29 101 206 Nilai rerata kuadrat tengah (Mean square) Tinggi (Height ) 14,5295** 1,3971ns 2,7896** 2,2789** 1,2016 Diameter (Diameter) 27,3177** 1,4923 ns 2,5148** 2,1296** 1,2969 Volume (Volume) 0,001308** 0,000135** 0,000165** 0,000112 Bentuk Batang (Stem form) 0,7911 ns 3,0574 * 1,7826** 0,8293**

3 Tahun (3 Years)

Keterangan (Remarks) : * = berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Significant at 0,05 level) **= berbeda nyata pada taraf uji 0,01 (Significant at 0,01 level) ns = berbeda tidak nyata (Non-significant)

182

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

Tabel (Table) 3. Taksiran komponen varians dan proporsi sumbangan (%) sumber variasi terhadap variasi total pada umur 3 tahun (The estimated of proportion and variance component of source of variance on 3 years)
Sumber Variasi (Source of variance) Umur
2 b 2 p 2 k(sb) 2 kb 2 e 2 total

Karakter tinggi (Height) Tkv 0,1408 -0,0326 0,0448 0,4441 1,2016 1,7988 % 7,83 -1,80 2,49 24,69 66,80 100,00

Karakter diameter (Diameter) Tkv 0,2914 -0,0240 0,0337 0,3435 1,2960 1,9410 % 15,01 -1,24 1,73 17,69 66,79 99,98

Kombinasi tinggi x diameter (Combination of height x diameter) Tkv % 0,8465 -0,1431 0,1577 1,5330 4,1300 6,5238 12,97 -2,19 2,42 23,50 63,30 100,00

Bentuk batang (stem form) Tkv 0,0129 0,0 0,1218 0,3929 0,8293 1,3310 % 0,97 0,0 9,15 29,52 62,30 100,00

Keterangan (Remarks) : Tkv = taksiran komponen varians (variances component estimate), 2 = komponen varian, b = blok (block), p = populasi (population), k = klon (clon), kb = interkasi klon x blok (interaction clon x block), e = error, % = persentase dari total variasi (presntation of variation total)

Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen varians klon (komponen varians genetik) memberikan sumbangan (kontribusi) sangat kecil terhadap variasi total, yaitu masing-masing sebesar 2,49 %, 1,73 % dan 9,15 % untuk karakter tinggi, diameter dan bentuk batang. Hasil ini menggambaran bahwa pada umur 3 tahun, pengaruh faktor genetik terhadap pertumbuhan relatif masih sangat kecil. Sementara komponen varians interaksi masingmasing sebesar 24,69 %, 17,50 % dan 23,50 untuk karakter tinggi, diameter dan kombinasi kedua sifat tersebut. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pada umur 3 tahun pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan tanaman masih relatif sangat kecil. C. Heritabilitas Heritabilitas merupakan parameter yang mengambarkan seberapa besar sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya dan Tabel (Table) 4.

merupakan suatu hal sangat penting, karena terkait erat dengan perolehan genetik serta strategi pemuliaan pohon dalam memperoleh peningkatan genetik (Zobel dan Talbert, 1984). Heritabilitas yang tinggi menunjukkan adanya peluang perolehan genetik yang besar. Besarnya nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai-nilai komponen varians dari masing-masing karakter, selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Dari hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa untuk semua variabel/karekter yang diukur, secara umum dapat dikatakan mepunyai nilai heritabilitas yang relatif rendah, baik heritabilitas individu maupun famili. Menurut Hardiyanto (1994) dalam Leksono (1994) nilai heritabilitas untuk famili (klon) sebesar 0,40 - 0,60 dikategorikan sedang, kurang dari 0,40 adalah rendah dan lebih dari 0,60 termasuk dalam kategori tinggi.

Taksiran nilai heritabilitas untuk semua karakter pada umur 3 tahun (The estimated of heritability of all character's on 3 year's).
Tinggi (Height) h2i h2k 0,03 0,16 Karakter (Character) Diameter Volume (Diameter) (Volume) h2i h2i h2k h2k 0,02 0,13 0,05 0,30 Bentuk batang (Stem form) h2i h2k 0,09 0,39

Umur (Age)

3 Tahun (3 years)

Keterangan (Remarks) : h2i =heritabilitas individu (Individual heritability) 2 h k =heritabilitas klon (Clones heritability)

183

0265 m3/phn 0.98 1.043 4.81 3.40 6. Sementara menurut Russel dan Libby (1986).16 %).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.044 4.40 %). dibanding dengan nilai komponen 2 varians interaksi ( kb).0271 m3/phn 0. South Sumatera) Karakter (Character) Tinggi (height) Rerata (Average) 7.55 Peningkatan sifat (Improve of character) 7. dapat menjadi masalah serius dalam perolehan genetiknya.00 3.3. begitu pula Tabel (Table) 5. Hasil penelitian yang dilaporkan Russel dan Libby (1986) menunjukkan bahwa penambahan jumlah unit percobaan pada uji klon Pinus radiata. maka nilai heritabilitas akan semakin besar. Taksiran nilai heritabilitas yang tinggi akan menghasilkan perolehan genetik yang tinggi (besar).28 %) dan diameter (0.160 sesuai tabel intensitas seleksi menurut Becker (1992). dapat menyebabkan nilai heritabilitasnya menjadi rendah. D.16 0. antara lain karena rendahnya nilai komponen varians 2 genetik ( k). dengan nilai intensitas seleksi masing-masing sebesar 1.14 0. jika nilai heritabilitasnya rendah. maka perolehan genetik juga relatif rendah. Taksiran perolehan genetik dan peningkatan sifat pada Uji Klon Jati pada umur 36 bulan. akan diseleksi sebesar 30 % (10 klon). di KHDTK Kemampo.91 0. 20 % (7 klon) dan 15 % (5 klon). diperoleh hasil perhitungan taksiran perolehan genetik sebagaimana disajikan pada Tabel 5. relatif rendah dibanding bentuk batang (3.47 (cm) 4. Sumsel (The estimated of genetic gain on clonal test of teak at KHDTK Kemapo.8 No.981.360 dan 1. Perolehan genetik juga dipengaruhi oleh intensitas seleksi.81-1. Seberapa besar perolehan genetik dapat dicapai. Perolehan Genetik Taksiran perolehan genetik merupakan suatu nilai kuantitatif dari respon populasi atas adanya seleksi pada populasi tersebut. Juli 2011. lebar) banyak dikendalikan oleh gen minor yang porsi pengaruhnya sangat kecil dan berbeda-beda. Hasil di atas menunjukkan bahwa perolehan genetik untuk karakter tinggi (0.186 Rendahnya nilai heritabilitas pada uji klon ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. 1. karena pada kondisi tersebut nilai heritabilitasnya menjadi sangat rendah. 179 .03-3. sehingga sifat-sifat tersebut lebih mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Dengan intensitas seleksi tersebut. Hal ini disebabkan karena nilai komponen varians bentuk batang yang cukup besar. Dalam penelitian ini perolehan genetik dihitung dengan asumsi bahwa dari 35 klon yang diuji. yaitu hampir 4 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik (klon) untuk karakter tinggi dan 5 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik untuk karakter diameternya (Tabel 3). jumlah unit percobaan (ramet per klon) serta jumlah replikasi (blok) juga sangat berpengaruh terhadap nilai heritabilitas.84 (m) 7. Menurut Shelbourne (1972) bahwa pengaruh interaksi yang 2 menghasilkan komponen varians ( kb) yang jauh lebih besar daripada komponen varians genetiknya. sangat erat kaitannya dengan nilai heritabilitas masingmasing karakter atau sifat.028 0.85 (m) 7. semakin banyak jumlah unit percobaan dan replikasi. Hal lain yang dapat menyebabkan rendahnya heritabilitas menurut Kuntiyati (1995) dalam Wibowo (2002) adalah karena sifat-sifat kuantitatif (tinggi.43 %) dan volume (3.86 (m) 7.43 3.48 (cm) 7. panjang.55-8.03 8.527.49 (cm) 7.89 0.28 1.764 (m) Jumlah klon (Number of clone) 5 7 10 5 7 10 5 7 10 5 7 10 Perolehan genetik (%) (Genetic gain) 1. telah meningkatkan nilai heritabilitas yang signifikan.40 3. Dalam uji klon ini jumlah unit percobaan yang relatif sedikit yaitu 3 treeplot dengan 4 blok sebagai ulangan.412 (cm) Bentuk batang (stem form) Volume (volume) 3.025 m3/phn 184 .0258 m3/phn Diameter (diameter) 7.

Dengan demikian pelaksanaan seleksi akan menjadi lebih efisien.49 %. sementara untuk karakter tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0.Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.16 dan 0.67 1. Hal tersebut sangat penting guna diperolehan peningkatan genetik sebagaimana yang diharapkan.67. Namun demikian untuk uji klon ini. dengan demikian peluang perolehan genetik yang lebih besar tetap bisa diharapkan. 185 . Sumatera Selatan (genetic correlation on clonal test of teak at KHDTK Kemampo. Hasil perhitungan korelasi genetik antar karakter (diameter dan tinggi) selengkapnya disajikan pada Tabel 6. maka masih perlu untuk dikaji hubungan korelasinya dalam beberapa tahun ke depan saat umur tanaman relatif lebih tua. Mohammad Na'iem. dengan harapan secara tidak langsung akan dapat memperbaiki karakter yang lainnya (Zobel dan Talbert. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa apabila hendak melakukan seleksi. maka peluang peningkatan genetik yang dapat diperoleh akan menjadi lebih besar. terutama untuk mengembangkan dua karakter atau sifat yang berbeda dengan berdasarkan pada penerapan seleksi atas satu karakter. Mengingat bahwa umur tanaman masih relatif sangat muda yaitu 3 tahun.01 0. Tabel (Table) 6. Koefisien korelasi genetik menggambarkan seberapa besar sesungguhnya hubungan keeratan antar karakter secara genetik.88. Isik dan Kleinschmidt. KESIMPULAN 1. E. Korelasi genetik antar sifat tinggi dengan diameter sebesar 1. karena dengan hanya memprioritaskan pada karakter diameter sesungguhnya akan diikuti dengan perbaikan karakter tinggi dan bentuk batangnya. 2. Korelasi genetik antar sifat pada uji klon jati umur 3 tahun di KHDTK Kemampo. karena korelasi genetik yang diperoleh dari tanaman yang masih sangat muda dimana kinerja genetik masih relatif labil (belum cukup stabil).88 IV. maka seleksi cukup didasarkan pada satu karakter yaitu diameter. Sapto Indrioko halnya dengan nilai heritabilitasnya yang jauh lebih besar yaitu 0.1984 . Dari 35 klon yang diuji terdapat variasi genetik antar klon.73 % diameter dan 9.30 untuk bentuk batang dan 0. maka kemungkinan terjadinya perubahan pada koefisien komponen varians genetik serta heritabilitasnya pada saat umur tanaman bertambah (lebih tua) masih sangat dimungkinkan dapat berubah.39 untuk volume. Korelasi Genetik Korelasi genetik mempunyai arti yang sangat penting dalam program pemuliaan pohon. Dari hasil tersebut nampak bahwa dengan nilai komponen varians genetik serta heritabilitas yang lebih besar. 1984).15 % untuk karakter bentuk batang. Korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk bantang menunjukkan hubungan korelasi yang cukup kuat. yaitu sebesar 0. 2005).01 ( overestimate ). baik dari sisi anggaran maupun waktu. untuk karakter tinggi. 1.13 (Tabel 4). dimana pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Korelasi genetik antara karakter tinggi dengan diameter sebesar 1. saat kinerja genetik tanaman sudah relatif stabil.01 merupakan nilai yang bersifat overestimate. South Sumatera) Umur (Age) Tinggi (Height) 3 Tahun (3 Years ) Diameter (Diameter) Karakter/sifat (Character) Tinggi (Height) - Bentuk batang (stem form) 0. Sumatera Selatan Agus Sofyan. Peningkatan genetik juga menjadi semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat intensitas seleksi (Tabel 5). Hasil ini menggambarkan bahwa karakter diameter mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap karakter tinggi maupun bentuk batang.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. Sementara korelasi antar karakter diameter dengan bentuk batang sebesar 0. hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya rasio antara komponen varians genetik dengan komponen varians interaksinya (Matheson dan Raymond. namun sumbangan variasinya terhadap total variasi relatif sangat rendah yaitu 2.

A. Peechi. A. Balai Penelitian Kehutanan Palembang (tidak dipubikasikan). I. Zobel. Pullman. J. Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu. PT. 1984. Variasi Pertumbuhan Tanaman Jati dari Berbagai Klon di Kebun Percobaan Rumpin. Cotterill. J. dan Mansur. J. Variasi Genetik Produksi Getah Pinus merkusii Jungh et. Clonal Testing Efficiency : The Trade-off Between Clone Tested and Ramet per Clone. 2004. Genotype-environment Interaction : Its Study and its Implications i n F o re s t r y I m p ro v e m e n t . 2005. Tokyo. Wanagama. IUFRO Genetics-Sabrao Joint Symposia. 2005. Academic Enterprise. P r o c . 3. Evaluasi Uji Klon Jati Pada Umur 15 bulan. W. Produktivitas Tegakan Jati JPP Intensif sampai dengan Umur 20 Tahun ke Depan. Yogjakarta. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat ini. dan Libby. M. Wibowo. A. Vol 7 (5). masing-masing sebesar 0. 179 . Taksiran peningkatan genetik yang diperoleh adalah sebesar 1. Theor Appl Genet (2005) 110 : 311-322. Siswamartana. 2002. dan Wibawa. John Wiley and Sons. Bhat. Russell. 1990. Prosiding Seminar Nasinal. 2005. Gramedia Pustaka Utama. dan C. Talbert. Vol V. Steel. Sanfransisco. Fifth Edition. Isik. Torrie. A. 2003. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani. Proceeding of The International Conference on Quality Timber of Teak From Sustainable Forest Management. Bramasto. Dengan IPTEK Membangun Hutan Tanaman Demi Kemakmuran Bangsa dan Terciptanya Kelestarian Lingkungann. Seperempat Abad Pemuliaan Jati Perum Perhutani.G. I. Early Performance Clonal Test of Teak in Perum Perhutani. 2000. dan Raymond. Juli 2011.J. 1986. Prinsip dan Prosedur Statistika. B. 3. Sofyan. dan Kleinschmit. Shelbourne. C.H. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia.Australia. Academic Press. Quality Timber Product of Teak From Sustainable Forest Management.40 % untuk bentuk batang dan volume. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. dan Suita. Leksono. 1994. Kramer. USA. dan Syaiful. Perum PERHUTANI. Vol. dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik.A. 2005.D dan J. Physiology of Woody Plant. 16. 2005. Quality Concerns of Sustainable Teak Wood Chain. 1991. A. and. Successful Tree Breeding With Index Selection.Z. 2008. Tema Menjawab Tantangan Pengembangan Jati Rakyat dan Pemasarannya. Yogjakarta. Applied Forest Tree Improvement.8 No.67 untuk dan 0. Canadian Juornal of Forestry Research.T. 2002.. Yogjakarta. W. B. India 2-5 Desember 2003. Similarties and effectiveness of tes eninvironments in selecting and deploying desirable genotypes. Posisi Benih Unggul Versus Silvikultur Intensif Dalam Pembangunan Hutan Rakyat Jati.J. International Forestry Review. 2004. K. Siregar.de Vriese.16 % untuk karakter tinggi dan diameter. C. Makalah disampaikan dalam pertemuan Forum Komunikasi Jati. Manual of Quantitative Genetics. DAFTAR PUSTAKA Becker. S. 1979. P.43 % dan 8. R. New York. Matheson. tidak dipublikasikan. 2005. M.J. The Impact of Genotype x Environment Interactions on Australian Pinus radiata Breeding Program. K.3. Iskak. Laporan Penelitian. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Dean. Buletin Penelitian Pusbanghut. No 03. Kozlowsky. 2000. Jakarta.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1972. E.88.A. New York.186 sementara korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk batang serta diameter dengan bentuk batang. P. Y. Pemeliharaan Jati (Tectona grandis) di KHDTK Kemampo.P.28 % dan 1. CSIRO Division of Forestry and Forest Product. I. Tesis. 186 .J and T. Na'iem. London. Yogyakarta.H. A. 1992. 1984.M. 1986. P u s a t L i t b a n g H u t a n Ta n a m a n . C.

diameter 136.00% shoot dry weight and P uptake of 835. diameter 366. is Gadjah Mada University in Yogyakarta for 14 weeks.KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil Burhanuddin . Yani Kompleks Untan Benua Melayu Darat Pontianak Selatan 2 Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* *Kampus UGM Bulak Sumur . number of leaves.rotundatus Miq are 324. 630. In the water table 20 cm increase in growth of C. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen.05% diameter.50 %. Siti Kabirun . Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. diameter. Observations made on C. Untuk jelutung tinggi 107. Keywords: ex-PLG.00 % dan serapan P 835.86% high.61% high. Experiments of water table. berat kering pucuk 187 .01 %.id *Penulis untuk korespondensi Naskah masuk : 26 Oktober 2010.67 %. It was concluded that inoculation with the AMF type of Glomus sp 3 combined with the provision of P fertilizer dosage of 100 ppm SP 36 and planting on water table level 20 cm and 10 cm can be used widely to improve growth of C. dan Sumardi Fakultas Kehutanan. peat.86 %. Nursery experiments were conducted using Completely Randomized Factorial Design with three replications. For D.83% and 851. jumlah daun 42.80 %.rotundatus Miq and D.56% P uptake.lowii Hook seedlings. P fertilization and inoculation with AMF on the growth of C.rotundatus Miq and D.lowii Hook seedlings. 437. Universitas Tanjungpura Pontianak Jl. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. 136. Naskah diterima : 31 Mei 2011 1 1* 2 2 3 ABSTRACT A study on the influence of water table on the growth Combretocarpus rotundatus Miq and Dyera lowii Hook inoculation with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and fertilization SP 36 in peat soils was conducted in greenhouse Soil Sience Laboratory Faculty of Agriculture.01 % number of leaves. fertilized of 100 ppm SP 36 and inoculated with Glomus sp 3 resulted in the best water table is 20 cm in C. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* 3 Fakultas Kehutanan.Water table. Jend. 42. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi.67% diameter. shoot dry weight.05 %. The goal of research purpose wa to determine the effect of water table. 366.lowii Hook seedlings 14 weeksof age after weaning include: height. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324.61 %. berat kering pucuk 630.Yogyakarta 55281 E-mail : hans_borneo@yahoo. and P uptake of plants after harvest. shoot dry weight of 643. lowii Hook seedling in the nursery. Glomus sp 3 ABSTRAK Penelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu.lowii Hook are 107. rotundatus Miq and D.50 % number of leaves. Bostang Radjagukguk . diameter. A.co. jumlah daun 437.rotundatus Miq and D. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. jumlah daun.80%.

Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. Menurut Ritzema et al. sedangkan pada musim hujan mencapai 100 cm dari atas permukaan tanah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. telah terjadi kerusakan status hidrologi kawasan secara drastis yaitu terjadi pengatusan sangat berlebihan serta rendahnya retensi air dan jeluk muka air tanah. 2008. pada bulan-bulan tertentu terjadi perubahan jeluk muka air tanah yang meningkat.7 km dengan berbagai ukuran lebar dan kedalaman.3. 2007). 2009). (2008) jeluk muka air tanah gambut pada musim kemarau bisa mencapai 40 cm di bawah permukaan. (2) terjadi kekeringan. mengurangi kebakaran dan dalam jangka panjang dapat memulihkan hutan rawa gambut secara alami. 2005. 2008. Untuk mengatasi kendalakendala tersebut. gambut. Pembukaan lahan ini disertai dengan pembuatan kanal. Water table I. Cardoso et al.83 % dan serapan P 851.008. Kata kunci : ex-PLG. (2002) memaparkan perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah di blok C ex-PLG. di musim penghujan saja jeluk muka air tanah bisa mencapai 5 cm . Leigh et al. Akibat pembuatan kanal dengan total panjang 2. Penelitian yang mengungkap peranan JMA dalam meningkatkan pertumbuhan telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman hutan. bekerjasama dengan masyarakat Uni Eropa melakukan restorasi hidrologi dengan pembuatan dam atau pembendungan kanal-kanal yang mengering di blok C Kelampangan. 2003). yaitu pulai.100 hektar. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. Pada tahun 2005 Centre for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangkaraya. 187 . penelitian JMA ini belum banyak dilakukan. Pupuk hayati telah berhasil dikembangkan di negara-negara maju sebagai pupuk yang potensial dan aman bagi lingkungan. Juli 2011. tetapi pembendungan kanal sangat berperan penting dalam proses rehabilitasi lahan gambut seperti mengurangi subsiden.50 cm yang seharusnya pada kondisi normal pada musim penghujan bisa tergenang dengan ketinggian 100 cm dari atas permukaan tanah. setelah pembendungan pada bulan Agustus 2005 jeluk muka air tanah hanya 9 cm). 1999). (4) miskin unsur hara dan (5) aktivitas mikroorganisme rendah. Mendoza et al. Cornejo et al.196 643. dan Vitex cofassus (Prayudyaningsih & Santoso. (2008) meskipun restorasi hidrologi dengan pembendungan kanal tidak menunjukkan perubahan jeluk muka air tanah yang signifikan. Selanjutnya menurut Ritzema et al.56 %. (2002) bahwa jenis perepat. Pada perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook). Namun demikian. Perepat adalah salah satu jenis asli hutan rawa gambut yang dapat tumbuh baik pada kondisi terbuka. 2007). (3) pH tanah asam. kegiatan pemulihan ini akan selalu berhadapan dengan masalah yang disebabkan oleh pembukaan lahan gambut tersebut diantaranya: (1) permukaan air tanah menyusut.8 No. gerunggang (Cratoxylon arborescen) dan asam- 188 . salah satu diantaranya adalah Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) (Gumbira-Said. bungur. 2008. 2007). Menurut Limin et al. ramin (Muin. Garcia & Mendoza. Acacia crassicarpa (Pidjath et al. Glomus sp 3. rotundatus Miq) dan jelutung (D. 1996. Sebagaimana yang dijelaskan Saito et al. (2008) perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah sebelum dan sesudah pembendungan kanal di blok C ex-PLG. Aquilaria microcarpa (Santoso et al. Takahashi et al. PENDAHULUAN Pada tahun 1995 telah dilakukan pembukaan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG atau Mega Rice ProjectMRP) yang luas totalnya 1. maka dipandang sangat penting untuk dilakukan perbaikan melalui suatu upaya konservasi yaitu dengan melakukan pemulihan pada lahan gambut tersebut dengan campur tangan manusia. jati (Faridah. mengurangi emisi karbon. Shorea balangeran (Turjaman et al. 2004).lowii Hook) di persemaian. seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2005 (sebelum pembendungan pada bulan Nopember 2004 jeluk muka air tanah mencapai 112 cm. perlu diusahakan suatu teknologi alternatif yang tepat yaitu dengan pupuk hayati (biofertilizer). 2007). mangium.457. dan sungkai (Martin et al.

berat kering pucuk dan serapan P tanaman. 70 ppm CaCl2. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Tanah dengan berbagai jeluk muka air tanah tersebut dipupuk dengan 100 gram SP 36 dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3. berat kering pucuk dan serapan hara P tanaman dianalisis menurut analisis keragaman (ANOVA) rancangan acak kelompok menggunakan metoda SAS X3. benih perepat (C. II. jumlah daun. Jeluk muka air tanah (water table) diatur bervariasi dari 0 cm sampai 189 . dilakukan penyapihan.7H2O. Jenis ini merupakan jenis pohon dwiguna. C.5 kg yang telah diisi media gambut steril. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis perepat. A. 2. (2010) membuktikan bahwa jenis JMA Glomus sp 3 yang terbaik meningkatakan pertumbuhan semai perepat dari beberapa jenis JMA yang diuji pada media gambut. 2011).20 ppm NaMoO4. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa tanaman perepat yang dipupuk dengan pupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah takaran pupuk terbaik meningkatkan pertumbuhan semai perepat pada media gambut (Buranuddin. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggunakan. 35 ppm KH2PO4.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung pada tanah gambut. dan 20 ppm MgSO4. 22 ppm CuSO4. Pupuk Sp 36 dan c). Hasil analisis keragaman pengaruh faktor perlakuan disajikan dalam Tabel 1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan perlakuan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok ( 2 x 7 ) dengan perlakuan jenis pohon dan jeluk muka air tanah (water table) dan ulangan sebanyak 3 kali.5H2O. jumlah daun (helai).7H2O. a).lowii seedling).33 ppm CoSO4. Demikian juga pada tanaman jelutung yang dipupuk dengan batuan fosfat takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah yang terbaik meningkatkan pertumbuhan jelutung pada media gambut (Burhanuddin. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. rotundatus and D. 3. Jelutung hanya akan dimanfaatkan dari hasil ikutannya saja berupa getah jelutung.7H2O 10 ppm MnSO4. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Siti Kabirun. 70 ppm K2SO4. diameter. 2002).2H2O. JMAjenis Glomus sp 3. 5 ppm ZnSO4. Tabel 1. gerunggang dan asam-asam merupakan jenis cepat tumbuh di hutan rawa gambut (Saito et al. 0. B. Selanjutnya semai ditanam dalam kantong plastik hitam ukuran 2. dan serapan hara P tanaman. jumlah daun. III.7H2O. 0. Tahapan PelaksanaanPenelitian Benih perepat dan jelutung dikecambahkan dalam bak kecambah yang berisi media gambut yang sudah steril. Bostang Radjagukguk. berat kering pucuk (gram). Hasil Pertumbuhan semai perepat dan jelutung dinilai berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi. Bahan Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2009 Agustus 2009. Hasil penelitian Burhanuddin et al. tahan kekeringan dan tahan terhadap suhu tanah yang tinggi. BAHAN DAN METODE 40 cm dengan interval 10 cm. D. Selain itu disertakan pula tanah dalam kondisi tergenang air 1 cm tanpa dipupuk dan tidak diinokulasi JMA sebagai kontrol. b). Jelutung juga merupakan jenis asli yang tumbuh di hutan rawa gambut. 2001). lowii) rawa yang berasal dari tegakan alam blok C exPLG Kalampangan Palangkaraya. Data yang dikumpulkan terdiri dari tinggi (cm). yang cocok untuk ditanam pada lahan gambut yang akan dikonservasi. rotundatus) dan jelutung (D. dan Sumardi asam (Mangifera sp) dapat tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka. Tanaman ditumbuhkan selama 14 minggu setelah penyapihan. diameter. 4 dan 5. Setelah semai berumur satu bulan. diameter pangkal batang (mm). Pupuk basal diberikan dalam bentuk larutan yang terdiri dari 70 ppm NH4NO3. Analisis Data Data tinggi.

perlakuan water table dengan pemberian pupuk SP 36 dan inokulasi jenis JMA mempengaruhi pertumbuhan semai perepat dan jelutung di persemaian.0001 0.95 6 24. 3.71 1 270.61 26 41 15927.36 F hitung (F cale) 0.8 No.37 695.21 1 98. Perbedaan tanggap tinggi semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 1. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C.53 Kuadrat tengah (Mean Squares) 9.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 26.73tn 745.47 26 41 4954.61* Pr > F 0.54* Pr > F 0.0001 0.57* 0.0100 0.35 F hitung (F cale) 4.06 0. Juli 2011.43tn 53. berat kering pucuk dan serapan P tanaman.2567 0. 2. Secara umum.196 Tabel (Table)1. 187 .64* 56. tinggi.0001 0. rotundatus and D. 40 cm. jumlah daun.09 9223.57 6 220.85 2 1303.34 3.19 6 321.37 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Pada Tabel 1. Tinggi semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 10 cm. rotundatus and D. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for diameter C.36 365.57 F hitung (F cale) 1.25 26 41 129.94* 8.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah (Degrees of (Sum of Squares) (Mean Squares) freedom) 34.18 2 9223. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves C.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.37 1 4172. 0 cm.68 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) Tabel (Table) 3.51* 11.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 13.22 Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 18.36 633.0001 0.62 0.0001 0. 190 .71 1303.60* 45.36 6 9.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3. 4 dan 5 memperlihatkan bahwa perlakuan water table dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi dengan jenis JMA mem-berikan pengaruh yang sangat nyata terhadap semua parameter yang diuji yaitu.06* Pr > F 0.14 Kuadrat tengah (Mean Squares) 1.3.25 2 0.05 6 18. diameter. Peningkatan tinggi semai perepat pada jeluk muka air tanah 10 cm.0001 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 2.4893 0.0001 0. 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.59 1623.21* 29.lowii seedling) Sumber keragaman (Source of variance) Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 12.21 16.11* 9.65 1323.92 69.36 12.17 6 2192. rotundatus and D.

Pengaruh water table.0011 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tin gg i s em a i ( cm ) 41 12266. 10 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman Tabel (Table) 4.85 26 Kuadrat tengah (Mean Squares) 3044.27 %.13* 8. Peningkatan tinggi semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.53 732.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 45.08 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 5.53 1 4392. 237.93* 5. dan 107. 0 cm.22 %. 30 cm. 102.0001 0.02 52.75 2 224. 182.86 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin.05 6 216.05) Gambar (Figure) 1. dan 324.02 1 314. Siti Kabirun.79* Pr > F 0.46tn 48. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake C.28 F hitung (F cale) 37.62 F hitung (F cale) 2.61 %.83 %. 83. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 77.68 6 2295. rotundatus and D. 162. kontrol.34 36.rotundatus and D. Hasil Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight C.61 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.0001 0.67 %.37 224.0001 0.15* Pr > F 0.0001 0. 0 cm.59 6 2533. SP 36 fertilization and AMF inoculation for height on C. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 132.40 Sumber keragaman Kuadrat tengah (Mean Squares) 11.lowii seedling) Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 22.26 6 120.67 a b c d cd f e i fgh f fgh hi Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks):Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.75 %.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3044. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (Effect of water table.04 4.09 422. Tinggi semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm.31 26 41 897.41* 11. rotundatus and D. 0 cm.31* 7.35 %.lowii seedling) 191 . 10 cm. Bostang Radjagukguk. dan Sumardi 40 cm.1052 0.

136. 244.05) Gambar (Figure) 2. 311. 10 cm.67 %.196 Diameter semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 40 cm.8 No. Peningkatan diameter semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm. Pengaruh water table. 10 cm. 20 cm.67 % dibandingkan dengan Dia m e te r b at a ng (m m ) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 tanaman kontrol. 188. Berat kering pucuk semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.67 %. 0 cm.00 % 192 . dan 10 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.13 %. 0 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves on C.67 %. 0 cm30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 2).26 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.05) Gambar (Figure) 3. Peningkatan berat kering pucuk semai perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturut-turut lebih besar 534. 187 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.lowii seedling) Perbedaan tanggap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 4. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 166.rotundatus and D. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (Effect of water table. Peningkatan diameter semai perepat pada jeluk muka air tanah 40 cm.3.76 % dan 630. 136. 20 cm. 30 cm. dan 186. a ab bc cde ef fg a bcd bc de g gh Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks) : Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 0 cm. Diameter semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (Effect of water table.05 %. Juli 2011.05 %.33 % dan 366. dan 10 cm berturut-turut lebih besar 93. SP 36 fertilization and AMF inoculation 50 40 30 20 10 0 Kontrol 0 10 20 30 40 cdecde bcd cde bc cde cde cde a Jumlah daun (he lai) a b cde Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remarks): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Pengaruh water table.

Gambar (Figure) 5.rotundatus and D. Bostang Radjagukguk. Hal ini sesuai dengan pendapat Maki et al. Berat kering pucuk semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 20 cm B e ra t ke rin g p u cu k (g ) dibandingkan dengan tanaman kontrol. akan tetapi pada jeluk muka air tanah 10 cm cenderung meningkat sebesar 851. Peningkatan berat kering pucuk semai jelutung pada jeluk muka air tanah 20 cm sebesar 643. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepa dan jelutung (Effect of water table.19 % dan 835. SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake on C.80 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.rotundatus and D. Siti Kabirun.lowii seedling) Serapan P (mg/tan) 60 50 40 30 20 10 0 b bcd bcd cd 0 10 20 30 b bcd bcd bcd bcd 40 b a a Kontrol Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Serapan P tanaman jelutung tidak berbeda nyata.56 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.05) Gambar (Figure) 4.05).lowii seedling) Serapan P tanaman perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 5). dan Sumardi dibandingkan dengan tanaman kontrol. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semai perepat dan jelutung meningkat pertumbuhannya dengan pengatuan water table dan pemupukan SP 36 takaran 100 ppm yang diinokulasi dengan jenis JMA. SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight on C.83 20 a 15 10 b 5 0 Kontrol 0 10 Water table Perepat Jelutung 20 30 40 bc c bc bc b bc bc b c a Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (Effect of water table. Pengaruh water table. Pengaruh water table. Hal ini diduga adanya asosiasi JMA endemik pada tanaman lokal gambut dapat meningkatkan pertumbuhan perepat dan jelutung. Peningkatan serapan P tanaman perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturutturut sebesar 761.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. B. (2008) jenis JMA endemik 193 .

JA. Burhanuddin. KESIMPULAN DAN SARAN A. 10 cm dan tergenang 1 cm di lapangan. VOL.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. serta yang satu kelompok dengan jelutung isalnya Shorea balangreran. 187 . Burhanuddin. Hasil pengujian jeluk muka air tanah gambut membuktikan bahwa untuk pemulihan hidrologi dengan melakukan pembendungan kanal tidak harus dengan penggenangan. Jurnal BELIAN. B. Guna pemulihan lahan gambut khususnya EX-PLG Palangkaraya disarankan untuk memanfaatkan pupuk hayati JMA jenis Glomus sp 3 diinokulasikan pada perepat dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm atau 30 cm di lapanagn. 43(7): 887-892. Jurnal VOKASI. Mycorrhizal Effectiveness on Wheat Nutrient Acquisition in an Acidic Soil from Southern Chile as Affected by 194 . Mycorrhizal Dependency of Mangaba Tree under Increaing Phosphorus Levels. S. Hal ini sesuai dengan sifat alami dari tanaman jelutung yang tumbuh baik pada kondisi dibawah naungan dan merupakan jenis yang masuk pada tahap sesudah jenis-jenis dalam kelompok tipe hutan riverine forest (Page et al. 20 cm.4. dos Santos. EEP. 2. Saran Secara umum dapat disarankan bahwa... 7 (2): 166-178.. Untuk tanaman jelutung disarankan ditanamn pada jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. Hasil penelitian membuktikan bahwa jika akan memulihkan lahan gambut dengan melakukan penanaman dengan tanaman perepat bisa dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 40 cm. TMC. C. Mycorrhizal Symbioses with Jelutung (Dyera lowii Hook) under Increasing Phosphate Rock Levels in Peat Soil. Jurnal Biota Vol. Radjagukguk. dan tipe hutan tall interior forest. Pesquisa Agropecuaria Brasileira. Dengan mengetahui jeluk muka air tanah yang sesuai untuk tanaman perepat dan jelutung dapat dimanfaatkan untuk memulihkan tanah gambut dengan jenis-jenis lain yang satu kelompok dengan perepat misalnya Cratoxylon arborescens. 2011. Kajian Takaran Pupuk SP 36 pada Perepat ( Combretocarpus rotundatus Miq) dengan Inokulasi Mikoriza di Tanah Gambut. 3. (1999) jenis jelutung ada pada tipe hutan mixed swamp forest. 10 cm.8 No. Cardoso. MA. 2011.15 (1): 63-71. Jika lahan gambut akan ditanami dengan tanaman jelutung dapat dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. 10 (2): 135144. Lebih lanjut menurut Shepherd et al. 1999). Cornejo. Borie.. Hasil penelitian jeluk muka air tanah juga dapat digunakan untuk pemanfaatan lahan gambut ex-PLG secara optimal. DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin. & Nogueira. VOL.. P. dan 10 cm. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Campnosperma auriculata. Rubio.. tipe hutan transition forest. LC. dan yang terbaik pada jeluk muka air tanah 10 cm. JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm dapat dimanfaatkan secara luas meningkatkan bibit perepat (C. 1. Castillo. Caetano. R. Shorea teysmanniana.. 2010. & F.3. dan Page et al.. 2009. kemudian diikuti jeluk muka air tanah 30 cm. Azeon. Juli 2011. namun jeluk muka air tanah terbaik untuk tanaman perepat adalah jeluk muka air tanah 20 cm. 1999). de Lemos.196 setempat dapat memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal pada tanah sulfat masam pH 3. lahan gambut ex-PLG bisa ditanami dengan tanaman campuran tanaman pertanian. karena sifat tanah gambut yang tidak bisa balik (irreversible) akan menyebabkan lapisan atas tanah gambut akan hanyut terbawa air yang menyebabkan cepatnya penurunan tanah gambut (subsidence). 30 cm. dan tergenang 1 cm. 2008. R. Kabirun. dan Palaquium leiocarpum.lowii Hook) di persemaian. Kesimpulan Hasil percobaan membuktikan bahwa pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3 membuktikan jeluk muka air tanah terbaik 20 cm. dan Gonystylus bancanus (Page et al. & Sumardi.. B. (1995). Effect of AMF Inoculation on the Growth of Combretocarpus rotundatus Miq on a Peat Soil from Central Kalimantan (For Restoration Ex-Mega Rice Project Central Kalimantan). yaitu dengan mengatur jeluk muka air tanah 30 cm untuk penanaman perepat.

Some Requirement for Restoration of Peatland in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan.S. H.. Vol 1. Siti Kabirun. 1999. Ireland. Garcia. Pertanian dan Perkebunan”.E. & Wiess. Ezawa. Turjaman. & I. Indonesia: Blocking Channels. Pertanian dan Perkebunan”. Efektivitas Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Semai Bitti (Vitex cofassus Reinw). 87-131. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. S. Trans. Syaiful. Y. & B. Setiadi. “ Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. C.O. J. Santoso. O. Peatland Development: Wise Use and Impact Management. & Jyrki Jauhiainen. Kurz) pada Areal Bekas Tebangan dengan Inokulasi CMA dan Pemupukan Fosfat Alam terhadap Bibit di Persemaian.O. Faridah. Prospek Pemanfaatan Bioteknologi untuk Penyediaan Pangan. Limin.. S. New Phytologist. 2009.1007/s10705-0089245-4.. Rieley... How do Soil P Tests. In Plant and Soil 275: 305-315. Pengaruh Endomikoriza dan Media Semai terhadap Pertumbuhan Pulai. Kuching. 31: 1555-1569. Hal: 260-269. Mendoza. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Rieley. D. Hal: 243-247. Mangium dan Sungkai di Persemaian. H.. Garcia. Hodge. Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Ketahanan terhadap Kekeringan pada Semai Jati. Relationships among Soil Properties. & A. E.V. Hal: 222-225.. Maki. 17-21 Juli 2007. T. Increasing Livelihoods and Controlling Fires. Garcia. Shotyk. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.R. Mendoza. J.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. BPPK DEP Kehutanan. Tullamore.. Nomachi. Interdependence of Peat and Vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest. Martin. Fitter. Kitso. Volume 1. Dalam Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999. 2007. Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus Miq. & I.I & Teten.E. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing XI . A. E. Canal Blocking Strategies to Restore Hydrology in Degraded Tropical Peatlands in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. 2008. From journal of plant Nutrition.H. In FEMS Microbiol Ecol 63: 359-371. & R.. H. 2008. R. Bogor. Santoso. 2005. Plant Yield and P Acquisition by Lotus Tenuis Plants Reflect the Availability of Added P from Different Phosphate Source. In Journal compilation. Ritzema. Jurnal Plant Soil. Page. Mendoza. 1999. Leigh. Nutrient Acquisition and Mycorrhizal Symbioses of a Waterlogging Tolerant Legume (Lotus glaber Mill) in a Saline-Sodic Soil.. 195 . Kualitas Bibit Acacia crassicarpa A. dan Sumardi Nitrogen Sources. 30-36.. no 3. Bungur. 2007. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. E. Gumbira-Said. KSN. DOI. 2004.. 2008. R. Plants Symbiotic Microorganisms in Acid Sulaft Soil: Significance in the Growth of Pioneer Plants. S. Yoshida. & M. Bostang Radjagukguk. 1996. A. Prayudyaningsih. 310: 55-65. Bogor. Hal: 18885-1897 Pidjath. 2003. (Tidak dipublikasi). J. Vasander. & T. del Carmen.W.H. 2008. Ritzema & H. R. Edited by Catherine F and John Feehan. Phil. 17-21 Juli 2007. Plant Nutrition and Arbuscular Mycorrhizal Fungi-Plant Symbiosis in a Temperate Grassland along Hydrologic. Escudero. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Muin. LM. Limin.. Ex Benth Hasil Sinergi Bio-organik dengan Cendawan Mikoriza Arbuskula di Ultisol. 2008. Royal Soc. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Sarawak. M. Cunn. 27 (VII). Arbuscular Mycorrhizal Fungi can Transfer Substantial Amounts of Nitrogen to Their Host Plant from Organic Material. V.. S. I. Plant Growth.E. 181: 199-207. Endomikoriza. Indonesia. Lemlit. 10. Nutr Cycl Agroecosyst. Saline and Sodic Gradients. Dalam Proceedings of the 13th International Peat Congress: After Wise Use-The Future of Peatlands. Malaysia. London.

17-21 Juli 2007. Pertanian dan Perkebunan”. Bali.H. S. 196 . & Effect of Tawaraya.H. & M. Hal: 191210. Of the Int. Bogor.. K. Indry. Susanto. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan.. Carbon-ClimateHuman interaction. Dalam Proceedings of the International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia. A. 1995. Peat and Peatlands. 2002.E. H.h. Santoso. S..A.8 No. Ectomycorrhizal Fungi Inoculated on Shorea balangeran under Field Condition in Peat-Swamp Forest. Sampang. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Turjaman. Mitigation. & Page..Y. Editor: Rieley. M. Takahashi. K 2007. Saito. Indonesia. S. M. Preliminary Selection of Fastgrowing Tree Species with Tolerance to an Open and Dry Peat Land in Central Kalimantan: To Develop a Preceding Planting Method.. Restoration and Wise Use.E. Tawaraya. J. Early Colonization of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Tree Producing Gaharu Aquilaria microcarpa seedlings. Segah.G.J. Putir... Takahashi. Proc. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. Turjaman.H. Tamai. 187 .196 Saito. Environmental Importance of Trop. Dalam... Y. A.Carbon Pools. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Indonesia. Jamal..O and Page. E. Santoso.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.. UK.Hal: 7579. S. Shepherd. 2007. S..3. Symp on Biodiversity.E. Central Kalimantan. Tuah. M. & Limin. J. Gunawan.. Rieley.. Fire. K. Juli 2011.. Shibuya.. P.W. Shibuya... Samara publ. Yogyakarta. Osaki. Limin.O.. M. The Realitionship between Forest Vegetation and Peat Characteristics in the Upper Catchment of Sungai Sebangau. E. P. K.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful