P. 1
Jurnal V8_3_2011

Jurnal V8_3_2011

|Views: 488|Likes:
Dipublikasikan oleh Syahrul Amin
fcsfsafsdaf
fcsfsafsdaf

More info:

Published by: Syahrul Amin on Apr 18, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2015

pdf

text

original

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 8 No. 3, Juli 2011
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS (Penilaian Hutan) Mitra Bestari Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA (lnstitut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP) Dr. Ir. Endang Murniati, MS (Institut Pertanian Bogor) Ir. Nina Mindawati, M.Si (Silvikultur) Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah dan Air) Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO-BIOTROP) Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Anggota Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id atau pusprohut@gmail.com. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi Pusprohut, atau download di website Pusprohut : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu. 10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 8 No. 3, Juli 2011
DAFTAR ISI

1.

STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM, MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Communityat the Seram Island, Maluku Samin Botanri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim, dan/and Lilik B. Prasetyo 135-145 TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites 147-153 Dida Syamsuwida dan/and AamAminah TIPOLOGI DESABERDASARKAN VARIABELPENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini, Endang Suhendang, I Nengah Surati Jaya, Hardjanto, dan/and Herry 155-168 Purnomo HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia 169-177 Erly Sukrismanto, Hadi S.Alikodra, Bambang H. Saharjo, dan/and Priyadi Kardono PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO, SUMATERASELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo, South Sumaterat 179-186 Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil 187-196 Burhanuddin, Siti Kabirun, Bostang Radjagukguk, dan Sumardi

2.

3.

4.

5.

6.

04 kg dan 560. sylvestre. Variabel iklim. VIII No. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. Maluku J. VIII No. tanah. Spesies ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. Prasetyo (Departemen KSH dan Ekowisata Fak. 3. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. 2011 p:135-145 Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. perakaran sagu mengalami modifikasi arah pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. dan air payau. Pulau Seram. RH 96 %. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. NaCl dan akuades sebagai kontrol. Pen. makanaro. Ibnul Qayim (Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor) dan Lilik B. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). 3. Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam KomunitasAlami di Pulau Seram. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*181 Samin Botanri (Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon). Htn Tnm Vol. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. tumbuhan sagu UDC(OXDCF) 630*232. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. faktor lingkungan. 2 dan 3 bulan. Pen. Htn Tnm Vol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial.2. Edi Guhardja. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. rotang.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. larutan NaCl. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43.3 %. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol.5%. dan molat. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masing-masing 566. umur semai .2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0.32 Dida Syamsuwida dan Aam Aminah (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan J. Kata kunci: Bahan pengatur tumbuh. Dede Setiadi. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. VIII No. 2011 p:147-153 Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. paklobutrazol. tipe habitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Kata kunci: Adaptasi. naungan sedang dan naungan ringan. Dengan demikian. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-Nopember 2009. 3. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. Maluku. lahan gambut. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram.68 kg/batang. dan kandungan kalsium air. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. kapasistas tukar kation (KTK)..5 juta batang.

institusi . hutan rakyat. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. di mana koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. IPB). 3.2 Tien Lastini (Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Htn Tnm Vol. Bambang H. Saharjo (Departemen Silvikultur. IPB. Berdasarkan analisis gerombol. administratif. dan Herry Purnomo (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat J. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. jarak ke kawasan hutan negara. Bogor). rumah permanen. provinsi dan kabupaten/kota. analisis gerombol. sosial ekonomi. dan umur produktif penduduk yang diteliti. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. Bakosurtanal) HubunganAntar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/lahan di Indonesia J. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*922. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. Hardjanto. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. VIII No. Hadi S. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. Sekolah Pascasarjana IPB). Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. 3. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. Kata kunci: Koordinasi. I Nengah Surati Jaya. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. 3. dan Priyadi Kardono (Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. kemampuan lahan. tipologi desa UDC(OXDCF) 630*432. kelerengan lahan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. Kata kunci: Biofisik. Endang Suhendang. Pen. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. pengendalian kebakaran. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. 2011 p:155-168 Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. VIII No. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. Alikodra (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. VIII No. jarak ke jalan besar. Fakultas Kehutanan. Htn Tnm Vol. Fakultas Kehutanan.1 Erly Sukrismanto (Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan). Pen. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. 2011 p:169-177 Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global.

Htn Tnm Vol.05 %. 2011 p:187-196 PPenelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. Pen. berat kering pucuk 643. gambut. Pen. Universitas Gadjah Mada) Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.026 (individu) dan 0.02 (individu) dan 0.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. 2011 p:179-186 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik.80 %. dan Sumardi (Fakultas Kehutanan. 3. jumlah daun 42. Bostang Radjagukguk (Fakultas Pertanian. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. Mohammad Na'iem dan Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan. 14 (1. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0.73 % untuk diameter. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. di lokasi KHDTK Kemampo.7210). Sumatera Selatan.01 %.16 % diameter. sebesar 0. Htn Tnm Vol. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok.67 %. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1.56 %.4 Agus Sofyan (Balai Penelitian Kehutanan Palembang).09 dan 0.01 (overestimate). 35 (1. variasi genetik UDC(OXDCF) 630*232.3 Burhanuddin (Fakultas Kehutanan. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi.40 % untuk volume. Glomus sp 3. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*165. uji klon. VIII No.574). berturut-turut nomor 24 (3.lowii Hook) di persemaian. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. dengan 4 blok. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) Kajian Water Table Pada Semai Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq dan Jelutung (Dyera lowii Hook) Diinokulasi Glomus sp 3 Di Tanah Gambut J. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1.83 % dan serapan P 851.61 %. diameter dan bentuk batang.13 (klon) untuk karakter diameter. Universitas Tanjungpura Pontianak). Kata kunci: Heritabilitas. Siti Kabirun. 1. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. 3.50 %. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0.430) dan 11 (1. diameter 366. Water table .88.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. Untuk jelutung tinggi 107. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi.306). Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9. VIII No. rotundatus Miq) dan jelutung (D.86 %.073). berat kering pucuk 630. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter.39. perolehan genetik. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter.43 % bentuk batang serta 8. diameter.67. 3. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm.28 % untuk karakter tinggi. jumlah daun. Sumatera Selatan J. 36 (1. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. korelasi genetik. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. VIII No. diameter 136. 3. jati. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel.16 (klon) untuk karakter tinggi. jumlah daun 437.00 % dan serapan P 835. Kata kunci: ex-PLG. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.15 %.49 % untuk karakter tinggi dan 1.

Maluku Samin Botanri . Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. sago palm ABSTRAK Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. rotang. Serta memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. lahan gambut. Ambon 97582 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. The research was conducted in March to November 2009. (0251) 8621947. Telp/Fax. The aim of this research were to : (1) analys conducted to describe of sago palm characteristic in the nature community. 5. 24. In sago palm community there was negative interspecific association with Jaccard index < 0. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. perakaran sagu mengalami modifikasi arah 135 . bukan menggunakan metode sensus pada bulan Maret-Nopember 2009. environmental factor. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. Penelitian berlangsung di tiga wilayah di pulau Seram. (0251) 8621947 Naskah masuk : 1 Juli 2010. Fax.04/kg by 560. (3) melakukan analisis interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. sylvestre. Agatis Gedung Fapet Wing 1 Lt. Tuni species is the most dominant vegetation which cover 43. The result of research showed that population structure of sago palm in the nature community follows young growth pattern with seedling death of about 85 %.3 % of habitat. habitat type. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Maluku. sun light intensity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. sylvestre. tentu dengan menggunakan sampling. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu. (0251) 8622833 3) Departemen KSH dan Ekowisata Fak.2. Maluku secara keseluruhan. Prasetyo3) Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon Jln. Tuni and sylvestre are the most potential species with production capacity of about 566. The potential clump population at the Seram Island is about 3. Keywords: Adaptation. dan molat. Naskah diterima : 22 Mei 2011 1) 1) 2) 2) 2) ABSTRACT Sago palm (Metroxylon spp) is a tropical plant adapted to marginal land such as fresh water swamp. and molat. makanaro. (2) identify habitat preference of sago palm. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. Bogor 16680 Jln. and calcium in water were the most factor. Edi Guhardja . dan air payau. Lingkar Akademik Telp.2 million clumps. It was found that there are five of the sago palm species namely tuni. rotang. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Bogor 16680 Jln. peat swamp or brackish water. which of about 1. Seram Island. Dede Setiadi .68 kg/trunk. dan/and Lilik B. Swamp condition as adaptation strategy more amount of sago palm roots directed out to water surface. and (4) identify the sago palm trees potential and sago flour production at three areas in the Seram Island. Kampus IPB Darmaga. Among the environmental condition. makanaro. Ibnul Qayim .3 %.5 million trunk of trees. cation exchange capasity (CEC). MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Community at the Seram Island. (3) to describe interaction between sago palm and environmental factors.STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM. Raya Tulehu Km.

II. Maluku. sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut. Berkaitan dengan hal tersebut. Tujuan khususnya yaiu : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Secara ekologi. sekitar sumber air. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Berdasarkan informasi tempat tumbuh sagu yang cukup bervariasi tersebut. Variabel iklim.3. 2007). ihur. kelimpahan spesies. kapasistas tukar kation (KTK). Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan studi ekologi tumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur).04 kg dan 560. tumbuhan sagu I.8 No.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. Kata kunci : Adaptasi. dan spesies vegetasi dalam habitat itu. tipe habitat. dan (3) bagaimana interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan?. Secara umum terdapat lima jenis sagu yang tumbuh dalam komunitas alami maupun budidaya yaitu sagu tuni. duri rotang. dan kandungan kalsium air. Latar Belakang Sagu ( Metroxylon spp) salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropik basah. Studi ekologi sagu yang selama ini telah dilakukan masih memerlukan suatu penelitian tentang autekologinya yaitu struktur populasi. atau hutan-hutan rawa.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. penentuan preferensi ekologi seperti tipe habitat. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Lokasi Penelitian berlangsung pada bulan Maret Nopember 2009. mikro iklim. dan potensi tumbuhan sagu. antara lain Wilayah Luhu Kabupaten Keterangan (Remarks) : Lokasi sampling (Sampling location) Gambar (Figure) 1. PENDAHULUAN A. air. makanaro.5 juta batang. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. dan (4) mengetahui potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram (Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. dan molat (Louhenapessy. 2006). maka kajian permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami?. berlangsung di Pulau Seram. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro.68 kg/batang. Maluku. interaksi dengan parameter ingkungan. faktor lingkungan. mekanisme adaptasi. (2) bagaimana preferensi habitat tumbuhan sagu?. Peta lokasi penelitian Pulau Seram (Map of site research at the Seram Island) 136 . daerah sepanjang aliran sungai. 135 .145 pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. B. Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah. Juli 2011.2. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masingmasing 566. maka dapat dikatakan bahwa tumbuhan sagu mempunyai daya adaptasi yang tinggi (Suryana. interaksi spesies dengan tipe habitat. tanah. Pulau Seram.

Ibnul Qayim. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. HASIL DAN PEMBAHASAN A.33 % (206. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Petak pengamatan ditetapkan menggunakan metode garis berpetak (Kusmana.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. dan pohon 20 m x 20 m. Pengamatan vegetasi bawah (seedling) dilakukan pada petak berukuran 2 m x 2 m. Analisis data menggunakan perangkat lunak Ecological Methodology.30. diukur antara pukul 11. maka dilakukan : a. 1997). Salinitas ditetapkan menggunakan refraktometer. dan komponen di bawah tanah seperti air. Metode Penelitian 1.53 lux. Analisis Komponen Utama Interaksi tumbuhan sagu dengan komponen abiotis. sapling 5 m x 5 m.34 %. Prasetyo Seram Bagian Barat. Berdasarkan parameter tersebut. berkurang secara drastis pada fase berikutnya (Gambar 2). yang merupakan ulangan yakni Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. 15. Edi Guhardja.00. b. (2) terjadi persaingan di antara masing-masing individu dalam rumpunnya. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Kemudian ditetapkan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD atau SDR summed dominanced ratio) = INP/3 (%). dan 17. Sampel air rawa diambil dari habitat tergenang kemudian dianalisis kualitasnya. 2. 13. Dede Setiadi. B.00. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). intensitas cahaya di bawah tegakan diukur menggunakan lux meter (light meter). 15 dan Minitab ver. b. jumlah individu spesies yang kedapatan pada setiap unit contoh. cahaya. Parameter yang Diamati Pengamatan sagu dan vegetasi lain meliputi : jumlah rumpun.00. Plot Penelitian Wilayah sampel ditetapkan meng-gunakan metode judgement sampling/ purposive random sampling. tiang 10 m x 10 m.00 . Analisis tanah dan air dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. Maluku Samin Botanri. Struktur Populasi Secara umum struktur populasi tumbuhan sagu di Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda yaitu populasi dengan jumlah individu paling banyak terdapat pada fase semai. Maluku. sebagian tunas anakan yang muncul dari pangkal batang tidak bersentuhan dengan tanah. Dalam populasi tersebut jumlah individu fase semai yang berhasil tumbuh ke fase pertumbuhan berikutnya hanya sebesar 15. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan formula Cox (2002) : INP = KR + FR + DR. C. AnalisisAsosiasi Interspesifik Asosiasi interspesifik ditentukan menggunakan formula menurut Ludwig & Reynolds (1988) dengan tahapan : (1) analisis Variance Ratio (VR) menggunakan rumus : VR = ST 2 / δ T 2 . Lingkungan dan Tanah Suhu dan kelembaban udara relatif diukur pada pukul 07. jumlah individu sagu menurut fase pertumbuhan.66 %. gagal tumbuh ke fase berikutnya mencapai 84. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kematian individu fase semai. SPSS ver. Tingginya tingkat kematian ini dapat disebabkan karena : (1) sifat pertumbuhan anakan sagu. dan luas tutupan (coverage). oksigen. Hasil pengukuran intensitas cahaya surya di dekat rumpun sagu hanya sekitar 12. Data iklim lokal diperoleh dari stasiun klimatologi Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (MT). Sampel tanah diambil pada kedalaman 0 . (2) analisis asosiasi spesies menggunakan rumus Chi-square. ruang.60 cm.30 cm dan 30 . III. 137 . jenis vegetasi. Persaingan yang dimaksud berkaitan dengan komponen di atas permukaan tanah seperti udara. Spesies tumbuhan yang tidak diketahui. diidentifikasi oleh ahli taksonomi dari Herbarium Bogoriense. Bahan dan Peralatan Penelitian menggunakan potensi tumbuhan sagu yang tersebar pada tiga wilayah di Pulau Seram. (3) tingkat asosiasi ditetapkan menggunakan indeks Jaccard (JI) : JI = a/a+b+c c. didekati dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) (Supranto. dan Lilik B. Intensitas cahaya surya di bawah tegakan sagu. 2004).14. Pada setiap plot dibuat petak sesuai ukuran masing-masing. Wilayah sampel terpilih yaitu Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Penentuan Contoh a. Jumlah petak pengamatan sebanyak 131 plot. dan unsur hara. Suhu dan kelembaban relatif diukur menggunakan thermohigrometer.

08) dan Al (4.99) tanah. (3) rentan terhadap pH rendah.145 ruang terbuka 1675. LMT = Lewat Masak Tebang (Mature Trees.Harvestable).29 lux).8 No. Perbandingan NJD sagu dan non-sagu di plot penelitian (SDR camparison of sago palm and non sago palm at the research plot). nilai kekurangan Fe dan Al tersebut termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria (Balai Penelitian Tanah. Semai Sapihan Tiang BMT MT LMT Keterangan (Remarks) : BMT = Belum Masak Tebang (Immature Trunks). Gambar (Figure) 3. Hasil pengukuran kemasam- an tanah menunjuk-kan bahwa pH tanah dapat mencapai 4.3. 2005).31 (pH KCl). tunas anakan yang masih muda memiliki daya adaptasi yang rendah terhadap kondisi lahan tergenang (tereduksi).Not Harvestable) Gambar (Figure) 2. 138 . Juli 2011.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. MT = Masak Tebang (Mature Trees . dan (4) mengalami keracunan karena kandungan Fe (3. Rendahnya intensitas ini karena terdapat hambatan oleh tajuk rumpun sagu itu sendiri. Struktur populasi sagu di Pulau Seram (Population structure of sago palm at the Seram Island). 135 .

139 . TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp).07 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat.00 5. akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan.32 0.85 % 58. Edi Guhardja.33 26. Prasetyo B.80 22. Mueller & Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005) mengemukakan bahwa komposisi bervegetasi alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi. (3) habitat tergenang permanen.0 Rataan (Average) ind/ha 87. Kondisi tersebut ditemukan pada setiap sempel dan masih perlu riset lebih lanjut untuk memetakan luasnya.3%).30 1.49 34. sedangkan jenis sagu molat ditemukan tumbuh pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN). Kelimpahan Spesies Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun sagu dan nisbah jumlah dominasi (NJD) dalam komunitas sagu menunjukkan bahwa spesies sagu merupakan jenis vegetasi yang menguasai sebagian besar areal lahan di plot penelitian.66 % 64. Maluku Samin Botanri. Dua jenis sagu yang lain yakni rotang dan molat tumbuh pada habitat terbatas. maka dominasi spesies sagu juga meningkat (Gambar 3). Apabila interaksi tumbuhan sagu dengan tipe habitat ini dijadikan acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasinya.95 4.00 100.69 15. Fenomena seperti ini merupakan gambaran umum yang sering dijumpai pada tipe vegetasi yang mengarah kepada kondisi klimaks dan stabil. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).67 1.00 96. makanaro. Kondisi tersebut dapat terlihat dengan bertambahnya fase pertumbuhan. sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dan menyolok. berupa rawa-rawa yang tergenang secara temporer maupun permanen. Jenis sagu yang dapat tumbuh dan berkembang pada semua tipe habitat adalah jenis sagu tuni.00 14.00 33.10 0.93 ind/ha) dan NJD paling tinggi (43.00 12. dan frekwensi yang melampaui spesies yang lain dengan penguasaan habitat mencapai 43. Dua tipe habitat itu dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi empat tipe yaitu : (1) habitat tergenang temporer air payau yaitu tipe habitat yang dicirikan oleh adanya pasangsurut.20 36.00 0.0 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). 170. maka Tabel (Table) 1. Populasi rumpun sagu pada tipe habitat berbeda di Pulau Seram (Clumps population of sago palm of the habitat type at the Seram Island)) No.58 0.01 % 37.19 164.26 28. biasanya lebih dari satu bulan. Habitat danAdaptasi Tumbuhan Sagu Secara umum tipe habitat sagu di Pulau Seram dapat dipisahkan menjadi dua kategori yaitu (1) habitat lahan kering dan (2) habitat lahan tergenang.04 100. dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap.09 0.65 100.24 19. dan (4) habitat lahan kering. 5.31 21.3 %. C. 3.58 0. Jenis sagu (Sago species) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah TTG ind/ha 103.22 20.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.00 100. 2.01 85. dan sylvestre (Tabel 1). dan Lilik B. artinya kondisi habitatnya tidak pernah tergenang.97 7.00 173.00 55.60 37.08 20.62 9.86 15.72 27.92 % 52. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). Jika kondisi ini terjadi maka regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak.87 2. (2) habitat tergenang temporer oleh air tawar yaitu tipe habitat dimana genangannya sangat ditentukan oleh ada-tidaknya hujan.27 0. Berdasarkan penelitian tersebut jumlah individu masing-masing spesies sagu.61 100.04 11. Jenis sagu rotang hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG).94 % 50.0 ind/ha 62. yaitu tipe habitat yang mengalami genangan pada periode waktu relatif cukup lama. Dede Setiadi. Ibnul Qayim. fenologi.64 17.50 274.00 0.37 37.0 Tipe Habitat (Habitat Type) T2AT T2AP ind/ha 124. dominasi.14 10. ind = individu (individual).0 TPN ind/ha 61.47 0. karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu lama. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sagu tuni merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan. diperoleh hasil ditemukan bahwa sagu tuni memiliki jumlah individu paling banyak (99. 4.83 0.06 0.

31. maka pada kondisi lahan dengan aerase jelek. Hal tersebut ditunjukkan dari jumlah rumpun dan jumlah populasi semua fase pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu yang lain. Interaksi yang bersifat negatif meberikan petunjuk pula bahwa tidak terdapat toleransi untuk hidup secara bersama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Berbeda dengan jenis lain. dan tiga (3) dari empat (4) tipe plot penelitian termasuk kategori tergenang. namun memiliki populasi yang rendah.3. Molat ditemukan pada habitat T2AT dan TPN. Syekhfani (1997) mengemukakan bahwa logam memiliki kemampuan untuk melisis air sehingga pH tanah dapat semakin masam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiga jenis sagu tersebut memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). Hasil analisis asosiasi spesies berpasangan menunjukkan bahwa terdapat asosiasi diantara spesies sagu dan antara sagu dengan non sagu dengan nilai chi-square berkisar dari 4. 1994). Juli 2011. Komponen Biologis Hasil analisis asosiasi interspesifik menunjukkan bahwa secara simultan (keseluruhan) terjadi asosiasi antar spesies dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram dengan nilai VR sebesar 0. Ketika pH rendah. Tanah-tanah masam dengan kandungan logam tinggi seperti Fe dan Al dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan perakaran. Dengan meningkatnya jumlah individu yang satu akan menekan pertumbuhan individu spesies lain (Soegianto.83. Sagu rotang merupakan jenis sagu yang memiliki daya adaptasi paling terbatas karena hanya tumbuh pada habitat lahan kering (steno tolerance). Levitt (1980) menyebutnya sebagai cekaman defisit oksigen. Kondisi plot yang senantiasa tergenang cenderung merupakan kondisi tanah masam.8 No. suatu spesies dapat muncul sebagai kompetitor yang mendominasi spesies lain. artinya keadaan dimana terjadi keterbatasan oksigen di dalam tanah. baik yang sifatnya temporer maupun permanen. Gambar (Figure) 4. Habitat tergenang identik dengan kondisi tereduksi. (1999 dalam Kurniawan et al. Pada habitat tergenang biasanya muncul akar berukuran kecil dalam jumlah banyak dengan arah pertumbuhan menuju permukaan air sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas. Jenis sagu makanaro dan sylvestre tumbuh pada semua tipe habitat. Nilai VR < 1 mengandung makna bahwa asosiasi antara spesies bersifat negatif. Mekanisme perubahan ini agar penyerapan oksigen oleh perakaran dapat berlangsung dengan baik. MekanismeAdaptasi Sagu Sebagian besar sagu tumbuh pada lahan tergenang.03 dengan indeks Jaccard rata-rata 0. D.145 dapat dikatakan bahwa jenis sagu tuni memiliki kemampuan adaptasi yang luas (eury tolerance). 140 .14 (termasuk kategori rendah) (Tabel 2). Interaksi dengan Faktor Lingkungan 1.35-21. Pada kondisi dimana asosiasi bersifat negatif ekstrim. terutama dalam pembagian ruang hidup.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.63 dan pH KCl 4. maka adaptasi sagu ditunjukkan melalui sistem perakarannya yang mengalami modifikasi arah pertumbuhan (Gambar 4). 135 .47 . Dalam kaitan dengan kondisi yang tereduksi ini. tumbuhan melakukan mekanisme adaptasi morfologi dengan membentuk sistem perakaran dangkal (Daubenmire. Barbour et al. Berdasarkan hasil penelitian pH tanah menunjukkan kisaran pH tanah (pH H2O) 4. Menurut Krivan & Sirot (2002) dikemukakan bahwa dalam asosiasi interspesifik dapat memunculkan kompetisi interspesifik. 2008) mengemukakan bahwa asosiasi yang bersifat negatif memberikan petunjuk bahwa setiap tumbuhan dalam suatu komunitas terjadi saling memberi tempat hidup pada suatu area habitat yang sama. Modifikasi arah pertumbuhan akar sagu pada kondisi tergenang (Roots growth modification of sago palm af the swamp condition) E. Fe dan Al akan larut sehingga konsentrasinya meningkat dan dapat bersifat meracun (toxic) (Brady 1990). Asosiasi antar spesies yang bersifat negatif menunjukkan bahwa terjadi perebutan dalam penggunaan sumberdaya.5. 1974).

Variabel Iklim Hasil analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA ) untuk menjelaskan interaksi variabel iklim menggunakan loading plot menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel sinaran surya lokal dan mikro (Gambar 5).43 0.50 -0. sinaran surya lokal.3 M. CH RH_mikr o 0. 2005 & Marzuki.56* 4.69* 4.74* 6. rumphii subvar makanaro 1. KomponenAbiotis a. 4.2 M. 2007).2. M.76* 5.25 F irst Com ponent T_mikr o 0. M. sagu var molat 1.16 0. sinaran surya lokal dan curah hujan dengan kelembaban mikro. Homalomena sp. rumphii Mart subvar tuni (Becc) 1. 3.73* 5.31* 4.2 Nephrolepis sp. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor iklim terhadap PS di Pulau Seram sebesar 3. 1.12* 16. Maluku Samin Botanri. rumphii var sylvestre 1.96* 4.02 1. .50 -0. 1998). Korelasi negatif terjadi pula antara variabel temperatur mikro dengan kelembaban mikro.. Dalam konteks ini besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan sagu (PS).75 Gambar (Figure) 5.20 0. Prasetyo Tabel (Table) 2.50 Second Component S ry _ l okal 0.1 M.5 Homalomena sp.05) 2.06 0. M. dan sinaran surya mikro memiliki korelasi negatif dengan curah hujan (ditunjukkan oleh sudut tumpul garis loading plotnya).14 0.1. sagu var molat 2.05 (significant of the α 0. Korelasi yang bersifat positif mengandung pengertian bahwa apabila sinaran surya lokal meningkat.3. M. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masing-masing variabel (Dewi.75 LoadingPlot of T_m ikro. M. Sedangkan variabel temperatur mikro.76* 9.48* Keterangan (Remarks): * signifikan pada taraf α 0. rumphii var sylvestre 2. maka diikuti dengan peningkatan sinaran surya mikro.47 0.2 Homalomena sp. Korelasi yang sama terjadi pula antara variabel sinaran surya dengan temperatur mikro.00 0. 0.15 0.00 CH S ry _mik ro -0. 3.25 0.25 0. 6. 1.03* 20.53* 5.. sagu Rottb var molat (Becc) 4. dan temperatur mikro akan menurun. Hal ini ditunjukkan dengan sudut lancip yang dibentuk garis loading plot kedua variabel tersebut (Setiadi.05 0. Hal ini berarti bahwa apabila curah hujan bertambah. maka sinaran surya (lokal & mikro). Edi Guhardja. 2.1 M.3 Nephrolepis sp.10 0. M. Chi-square untuk pengujian asosiasi interspesifik spesies berpasangan penyusun utama komunitas sagu pada plot penelitian di Pulau Seram (Chi-square for interspecific association testtopair dominantspecies inthesagopalm communityatresearchplottheSeram Island) No. rumphii Mart subvar makanaro (Becc) 2.08 0. sagu var molat 3.38%. 2. Dede Setiadi.. dan Lilik B.1 Pandanus furcatus Roxb. 4.15 0. Model indeksnya sebagai berikut : 141 .28* 21.6 Nephrolepis sp.4 Pandanus furcatus Roxb.04 0.04 0. Nama spesies (Species name) Chi-square (X2) Tipe Asosiasi Indeks Jaccard (Association type) (Jaccard index) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 0.25 -0.4. Nephrolepis sp. rumphii Mart var sylvestre (Becc) 3.35* 4.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.50 0. Diagram loading plot korelasi variabel iklim habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of climate variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Dengan mempertimbangkan akar ciri (eigenvalues) dan vektor ciri (eigenvector) terbesar.45* 4. Ibnul Qayim.04 0.

Hal ini berarti bahwa sagu menghendaki tanah dengan kesuburan yang memadai.1 0.3 0.1 M agnes ium -0. Pada model di atas.60pH-KCl) + (0.40%.. Banyak tunas anakan sagu mengalami kematian karena terjadi kompetisi yang kuat diantara individu setiap rumpun dalam mendapatkan sinaran surya.07Fe) + (0. Kalium. artinya apabila Fe meningkat. Diagram loading plot korelasi variabel tanah habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of soil variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island). magnesium.2Fe 0. Argumen ini dikemukakan karena KTK merupakan parameter tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah (Hardjowigeno 1992). C-org = karbon organik.66Sry-mikro) – (1. Cahaya surya yang masuk sampai dekat rumpun sagu hanya mencapai 12. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor kualitas air rawa terhadap PS di plot penelitian sebesar 10. dan magnesium merupakan kation basa yang memainkan peranan dalam meningkatkan pH.1 0.4 -0 .0 Sec ond Component -0. pH-KCl = kemasaman tanah potensial.82Liat) dimana : PS(F-tanah) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor tanah. Liat = partikel liat.4 0.2 -0.15%.1 0 . Juli 2011.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. KTK = kapasitas tukar kation.3 0 . BD = bulk density. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masingmasing variabel tanah terhadap pertumbuhan sagu..4 0. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram sangat ditentukan oleh variabel intensitas cahaya surya mikro. Tanah dengan KTK tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut subur.0 Fe pH(KCl ) Kal si um KTK pH(KCl) Kalsium KTK Second Component 0. dan sebaliknya apabila KTK rendah termasuk kurang subur.2 -0. Variabel tanah yang memiliki kontribusi tertinggi adalah KTK (1.3 0. T-mikro = temperatur mikro.5 Gambar (Figure) 6.5 0 .90%).10Sry-lokal) + (1. K = Kalium.83C-org) + (1. Fe = Ferrum. 142 .47RH-mikro) + (1.5 Kal ium Magnesium -0.3 Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar. Srymikro = sinaran surya mikro. dengan sendirinya akan meningkatkan kadar salinitas..3 -0.2 F irst C om p one nt 0 . dan magnesium (Gambar 7). magnesium.15%. Loading Plot of pH (KCl). dan magnesium. C-hujan = curan hujan. maka ditentukan besarnya kontribusi relatif variabel kualitas air rawa terhadap PS. Selain itu kation-kation basa yang meningkat.2 -0. Variabel kualitas air rawa yang memiliki C_organik Load in gPlot ofp H(KC l). Ca = Kalsium.78T-mikro) + (1. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor tanah terhadap PS di Pulau Seram sebesar 10.4 -0.1 0. Fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa kematian tunas anakan sagu antara lain dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya surya yang masuk sampai ke bagian bawah tajuk rumpun sagu.63C-hujan) dimana : PS = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor iklim.17K) + (1.0 0. RH-mikro = kelembaban mikro. kalsium. c. dan kalium (Gambar 6). Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan suatu variabel.1 0. Sedangkan pH berkorelasi negatif dengan Fe. Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar.27BD) + (0. maka akan diikuti dengan variabel yang lain.4 0. Model indeksnya sbb : PS(F-tanah) = (1. b.2 0. kalsium.5 Kalium Liat BD -0.. kalsium.1 -0. Korelasi positif terjadi pula antara KTK dengan kalsium.2 F irst C om ponent 0..C _org an ik C _organik 0.8 No. Liat 0. Interaksi dengan Variabel Kualitas Air Rawa Hasil analisis PCA kualitas air rawa menunjukkan bahwa pH air memiliki korelasi positif dengan kalium.2 -0. Korelasi yang bersifat positif ini mengandung pengertian bahwa dengan makin bertambah kandungan kalium.90KTK) + (1.85Mg) + (1.4 0. Mg = Magnesium. Interaksi dengan Variabel Tanah Hasil analisis PCA faktor tanah menunjukkan bahwa variabel C-organik berkorelasi positif dengan pH. Syr-lokal = sinaran surya lokal.1 0. KTK.64Ca) + (0. maka pH air akan meningkat.145 PS(F-iklim) = (0.. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan sifat tanah sangat ditentukan oleh kapasitas tukar kation (KTK). Partikel liat berkorelasi positif dengan bulk density (BD).3 -0..0 BD L iat -0.3. Pada model indeks PS di atas. kalsium. 135 . . maka pH akan berkurang (semakin masam). dan kalium.

Phn = pohon (trees).6 1.73%).4 NO3 0. Ibnul Qayim.22 juta rumpun sagu.35 juta individu.59 individu.2 0. Mg = Magnesium.239 ha.1 Keterangan (Remarks) : Data primer tahun 2009 (Primery data in 2009 year). dan pohon lewat masak tebang 0. Hasil perhitungan potensi produksi pati sagu basah di plot penelitian wilayah Pulau Seram diperoleh bahwa jenis sagu tuni dan sylvestre memiliki potensi produksi paling tinggi.8 1. Diagram loading plot korelasi variabel kualitas air rawa habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of water swamp quality variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Pada model indeks di atas. Seram (Population potential of sago palm at the Seram Island) Jenis Sagu (Sago Species) Jumlah Rumpun Semai (Seedling) (Numbers of Clump) 1..8 58.220.12 juta individu (Tabel 3).0 20. ind = individu (individual). sylvestre 726. pada habitat tidak tergenang (lahan kering) potensi produksi sagu basah tuni rata-rata mencapai 685.14 juta individu.6 378.1 Phn.8 104.468.9 118. dapat dikatakan bahwa sagu tuni merupakan jenis sagu yang sangat potensial karena memiliki jumlah individu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis sagu yang lain (1.1 162. Masak Phn.14Salinitas) dimana : PS(F-KAR) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor kualitas air rawa. artinya diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah yang relatif banyak.61pH) + (1.00 First Component 0.3 315.0 0.4 3. Kalsium juga merupakan kation basa yang berperan dalam memperbaiki kemasaman air. .0 12. pohon masak tebang 0.22 kg/batang (Tabel 4).3 543. Berdasarkan tipe habitat.25 0.4 -0.50 kg/batang.991.5 304.025.0 Kalsium -0.7 1.2 2.8 Sapihan (Sapling) Fase Pertumbuhan Tiang Pohon (Pole) (trees) x 1000 ind.714 juta rumpun).7 13.73Ca) + (1.50 Gambar (Figure) 7.3 552.3 276.2 6. pH = kemasaman air. Seram Di Pulau Seram Maluku terdapat potensi luas areal sagu sekitar 18..18K) + (1.5 67. d.25 0.50NO3) + (0. Ca = Kalsium.8 57. tiang 0.8 348. Kalsium Tabel (Table) 3. Lewat Tebang Masak Tebang (Mature trees (Mature trees Harvestabe) Non Harvestabe) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah 775. Model indeks PS terkait dengan peran faktor kualitas air rawa di Pulau Seram sebagai berikut : PS(F-KAR) = (1.. K = Kalium.745. Potensi populasi tumbuhan sagu di P.714. Potensi produksi kedua jenis sagu ini hampir sama pada semua tipe habitat.1 118. Prasetyo kontribusi tertinggi adalah kalsium (1.0 61. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan kualitas air rawa sangat ditentukan oleh kandungan kalsium. sapihan 1.135.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.7 142.47 juta individu.2 114.3 95.6 678.6 9.9 1. Edi Guhardja.0 37.2 55.2 331.8 3. Dede Setiadi.8 27.588.8 629. Potensi Populasi dan Produksi Pati Sagu di P. Maluku Samin Botanri.6 Magnesium Second Component 0.55 juta individu. 0. Pada tabel 4 tampak bahwa tipe habitat berperan dalam mempengaruhi produksi pati sagu.2 Salinitas pH -0. Pada tipe habitat TTG dan T2AT produksi pati sagu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tipe habitat T2AP dan TPN. Pada luas areal tersebut tumbuh dan berkembang sekitar 3.6 0. 279. terdiri dari sagu fase semai 6. Salinitas Kalium merupakan unsur hara esensial makro.50 -0. NO3 = Nitrat Loading Plot of pH.10Mg + (0. Atas dasar jumlah individu yang dimiliki. 143 . pohon 1. Hal ini berarti bahwa untuk pertumbuhan sagu diperlukan kalsium yang memadai.8 277. dan Lilik B.

Struktur populasi sagu di plot penelitian wilayah Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda. tanah.50 479. Dalam komunitas sagu alami di plot penelitian wilayah Pulau Seram. Kesimpulan 1.26 186.00 287. dan kandungan kalsium air.22 348. 2. Sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu yang memiliki kapasitas produksi pati sagu yang cukup tinggi. 4. Jenis Sagu (Sago Species) Tuni Makanaro Sylvestre Molat Rataan TTG 685. spesies sagu telah berkembang mendominasi sebagian besar habitatnya.04 dan 560. dan molat dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance).04 245. 135 . Tiga jenis sagu yang lain yaitu makanaro. tanah.2). MacMillian Publishing Company. New York.00 348. DAFTAR PUSTAKA [BPT] Balai Penelitian Tanah. tumbuh dan berkembang mengarah kepada kondisi vegetasi yang bersifat klimaks dan stabil. kualitas air rawa. Variabel iklim. 3.00 258. Air.22 393.13 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). Tanaman.21 dan 237. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah. The Nature and Properties of Soils. Sagu tuni merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi luas (eury tolerance). Saran 1.81 Rataan (Average) 566. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). maupun pemenuhan kebutuhan berbagai industri (makanan. dapat dilakukan dengan mengembangkan jenis sagu tuni serta sagu sylvestre baik pada tipe habitat lahan kering maupun tipe lahan tergenang temporer air tawar.145 Tabel (Table) 4. 2. Brady. dengan tingkat asosiasi secara umum rendah (JI < 0. 144 .74 Tipe Habitat (Habitat Types) T2AT T2AP TPN kg/batang 721.8 No.06 183. N. dan Pupuk. 2005. Bogor.17 378. dan kualitas air rawa yang paling berperan terhadap pertumbuhan sagu di Pulau Seram masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. sedangkan rotang merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi sempit (steno tolerance). sylvestre.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.50 353. B. didominasi oleh fase semai dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya sangat tinggi mencapai 85%. Seram (Yield potential of sago palm starch of the habitat type at the Seram Island) No. 5.C. KESIMPULAN DAN SARAN A. Departemen Pertanian. 4. Terdapat interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan (iklim.44 516. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).00 126.68 237.00 460. 1. 3. Potensi produksi pati sagu pada tipe habitat berbeda di P. 1990.22 kg/batang. Upaya peningkatan produksi pati sagu di habitat alam dapat dilakukan dengan penyatuan pola pertumbuhan individu dalam rumpun yang stabil melalui upaya sortasi anakan dan pengaturan jarak tumbuh antar individu rumpun. dan vegetasi non sagu). masing-masing mencapai 566. sedangkan kapasistas produksi sagu basah jenis sagu makanaro dan molat masing-masing sekitar 245. Dalam komunitas tersebut terjadi asosiasi interspesifik bersifat negatif. baik secara kolektif maupun antara spesies berpasangan.50 324. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.50 726. Juli 2011.11 708.68 kg/batang. minuman. Upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat dari jenis sagu bagi masyarakat di pedesaan Maluku dan Papua.22 578.3. IV. bioetanol atau industri lainnya).21 560. kapasistas tukar kation. 2.

Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Jurusan Tanah. Diakses tanggal 11 Agustus 2008. 2006. and J. pp 76. J. A. S. Bitung. 1998. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Ruteng. Levitt. McGraw Hill. Academic Press. John Willey & Sons.F. A. Penerbit Institut Pertanian Bogor. 2005.W. Dede Setiadi.Undaharta Ni. New York Louhenapessy. 1980. Laboratory Manual. Marzuki. Makalah disampaikan pada lokakarya sagu dengan 145 . 2007. Arti dan Interpretasi. C. Surabaya Supranto. Setiadi. Netherlands. J Biodiversitas 6 (2) : 118-122. V. Malang. Isozim. Eigth edition. Makalah disampaikan pada lokakarya pengembangan sagu Indonesia. dan DNA Pala Banda (Myristica fragrans Houtt) Maluku [Disertasi].pdf. K. New York Flach.. 1992. 1997. 1997.E. Sago Palm. Rineka Cipta. 2002. Hara-Air-Tanah-Tanaman.. Analisis Multivariat. Ibnul Qayim. 1988. Jakarta. Bogor. 2007. New York.org/Publications/ pdf/238. M.J. a Textbook of Autecology. Rome. Krivan. 1974. Keterkaitan Profil Vegetasi Sistem Agroforestri Kebun Campur dengan Lingkungannya. Kurniawan. Kusmana. Metode Survey Vegetasi. Statistical Ecology. Fakultas Pertanian.. General Ecology. A. A. J Biodiversitas 8 (3) : 199-203. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Second edition. Plant and Environment. Responses of Plant to Environmental Stresses. dan Lilik B. Sulawesi Utara. Potensi dan pengelolaan sagu di Maluku. Ekologi Kuantitatif. J. Batam. Third edition. Universitas Brawijaya. 2002. Sekolah Pascasarjana. John Wiley & Sons. Asosiasi Jenis-Jenis Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko. D. Melton tema sagu dalam revitalisasi pertanian Maluku. Syekhfani. Bogor. New York. 2008. http://www. Sirot. dan I Made R. 1997. 2004. Institut Pertanian Bogor. ________. G. Jakarta Ilmu Tanah. I. Hardjowigeno. : PT.F.ipgri. Maluku Samin Botanri. International Plant Genetic Resources Institute. Reynolds. Ludwig.E. Wageningen Agriculture University. Putra. Disertasi. Usaha Nasional. Nusa Tenggara Timur. a Primer on Methods and Computing. Edi Guhardja. 1994. J The American Naturalist 160 (2) 214-234. Soegianto. J.Ambon 29-31 Mei 2006. Prasetyo Cox. Suryana. Bogor. Program Pasca Sarjana. Metroxylon sagu Rottb.cgiar. Studi Morfo-Ekotipe dan Karakterisasi Minyak Atsiri. R. Daubenmire. Pendit. PT. 25-26 Juli 2007. Institut Pertanian Bogor. and E. Habitat Selection by to Competing Species in a Two-Habitat Environment. Promoting the Conservation and Use of Underutilized and Neglected Crops.

Meanwhile. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. Bogor . so as storage of the seed for this species is still becoming a question. Statistically. seedling ages ABSTRAK Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. The aim of the research was to determine the influence of growth inhibitors. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0.5% solution. environment conditions and seedling ages on the growth of kayu bawang seedlings during storage. NaCl and aquadest as the control. The growth regulators were consisted of paclobutrazol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. Kata kunci : Bahan pengatur tumbuh. umur semai 147 . the research was proposed by using factorial random complete design. RH 96 %. moderate and light shading. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Naskah diterima : 1 Juni 2011 ABSTRACT Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) is one of forest tree species that known to have seeds with rapidly loss their viability in several days. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. Dengan demikian.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. light intensity of 650 lux) and application of NaCl 0. 2 and 3 months olds.TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites Dida Syamsuwida dan/and Aam Aminah Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan-Ciheuleut. Therefore. Keywords: Growth regulators. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). paclobutrazol. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. RH 96 %.5%. the age of seedlings at the time of spraying were 1.16001 Telp. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). NaCl dan akuades sebagai kontrol.13 % in average and gave 95% of seedling survival. there should be an attemption to carry out a research on storing seedlings other than seeds by using slow growth method. paklobutrazol. naungan sedang dan naungan ringan. 2 dan 3 bulan. The results revealed that factors inhibiting the growth rate of kayu bawang seedlings effectively in term of storing for 6 months were the placement of 3 months old seedlings under heavy shading (T 25 0C. PO Box 105./Fax. NaCl solution. Such treatments could supress the height and diameter growth of the seedlings up to 59. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. larutan NaCl. (0251) 8327768 Naskah masuk : 14 Juli 2010. The environment conditions were arranged by placing the seedlings under heavy.

terutama untuk kayu pertukangan. RH = 80 %. NaCl (0. disimpan selama 6 bulan dan setiap 148 . Musim bunga dimulai sekitar bulan Pebruari dan saat pengunduhan biji pada bulan Mei .2. RH = 96 %. Jenis kayu bawang adalah satu di antara sekian banyak jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. B. higrometer. 1999). C. BAHAN DAN METODE A. Lewat masa tersebut persentase tumbuh menurun menjadi 50% (Riyanto. tanah. bedeng semai. Metode pertumbuhan lambat pada prinsipnya adalah menekan pertumbuhan semai selama dalam penyimpanan dengan memanipulasi kondisi lingkungan tempat simpan atau menambahkan bahan pengatur tumbuh dengan tetap mempertahankan daya hidupnya (Krishnapillay et al. sehingga menghasilkan 1 liter larutan NaCl 0. Semai pada masing-masing kondisi perlakuan.300 biji. kemudian tanaman disemprot dengan bahan penghambat tumbuh paklobutrazol (250 ppm). shading net. intensitas cahaya 650 lux).. dan luxmeter. RH = 40%. Jumlah biji per kilogramnya adalah 200 . bak perkecambahan. Untuk mendapatkan larutan NaCl 0. label. oven. sebagian lagi diletakkan di bedeng bernaung sedang (T = 280C. intensitas cahaya 17593 lux). semai diletakkan di bawah naungan berat (T = 25 OC. bahan pengatur tumbuh dan umur semai saat penyemprotan yang efektif untuk disimpan. Bahan danAlat Penelitian Bahan yang digunakan adalah benih-benih kayu bawang. dengan masa dormansi singkat kurang lebih 10 hari. Alat-alat yang digunakan adalah alat gelas. Perlakuan Semai yang telah berumur 5 minggu dipindahkan (disapih) ke dalam polybag ukuran 10 cm x 20 cm yang masing-masing berisi media pasir. Setelah semai berumur 1. Juli 2011.3 bulan setelah penyapihan. Kayu bawang dikembangbiakkan oleh masyarakat secara generatif/dengan biji. b. rumah tumbuh. Larutan paklobutrazol 250 ppm dipersiapkan dengan cara melarutkan 1 mm paclobutrazol 250 gr/l bahan aktif ke dalam 999 ml akuades.hutan sekunder terutama daerah Bengkulu Utara. PENDAHULUAN II.Juli. sehingga penyimpanan benih untuk jenis tanaman ini masih menjadi kendala. Tujuan dan Sasaran Tu j u a n p e n e l i t i a n a d a l a h u n t u k mendapatkan teknik penyimpanan semai kayu bawang melalui aplikasi bahan penghambat tumbuh dan pengaturan naungan pada umur semai yang berbeda. maka telah dilakukan penelitian penyimpanan dengan melibatkan faktor kondisi lingkungan tempat simpan. pasir. Kedua larutan tersebut kemudian diaduk sehingga menghasilkan 1000 ml (1 liter) larutan paclobutrazol 250 ppm. B.5%) dan akuades sebagai kontrol.5%. Tahapan Pelaksanaan a. Bogor. kaliper. Latar Belakang Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) merupakan jenis andalan Kabupaten Bengkulu Utara yang mempunyai pertumbuhan cepat dan kualitas yang baik.8 No. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth) yang diadopsi dari teknik penyimpanan Hawkes (1980).Waktu kegiatan dimulai bulanPebruarihinggabulanDesember2008. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Stasiun Penelitian Nagrak yang berjarak ± 10 km dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Metode Penelitian 1.5% dilakukan dengan cara melarutkan NaCl 5 gr ke dalam 999 ml akuades. Lokasi pengumpulan buah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara.3. Sehubungan dengan upaya penyimpanan semai kayu bawang.153 I. kemudian diletakkan di rumah kaca dan dilakukan penyiraman setiap hari. termometer. A. Kayu bawang berkembang secara alami di hutan . intensitas cahaya 8935 lux) dan naungan ringan (T = 300C. Kecambah dibiarkan tumbuh hingga berumur kurang lebih 4-5 minggu. Setiap jenis tanaman akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan demikian juga umur tanaman saat diberi perlakuan. 147 . Biji kayu bawang segar mempunyai persen tumbuh 80 %. Dengan demikian. timbangan analitis. Pengecambahan benih Benih dikecambahkan dalam bak kecambah berisi media pasir-tanah dengan perbandingan 1:1. 2001).

and survival percentage of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) A B AXB C AxC BxC AxBxC PertumbuhanTinggi (Height growth ) (cm) 8. diameter dan persentase hidup semai kayu bawang (The summary of analysis of variances for height.28 12.14 ** 12.49 41.14** 19. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rancangan percobaan didekati dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan ulangan 3 kali sehingga diperoleh 27 kombinasi perlakuan dan 81 satuan percobaan. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis secara statistik. Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan. diameter dan persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan disajikan dalam Tabel 1.68 3.04 33. setiap bulan sebanyak 12 contoh uji tanaman diamati dan diukur pertumbuhannya.49 ** 2. 2 bulan dan 3 bulan). Hasil pengukuran persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan. menunjukkan bahwa bahan pengatur tumbuh dan kondisi ruang simpan berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.22 2.51 1. naungan sedang dan naungan ringan. paclobutrazol dan NaCl).89** 2. diameter. Hasil pengamatan terhadap diameter semai kayu bawang menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter kayu bawang.47** 0.42 3. III. Satu satuan perlakuan terdiri dari 12 semai.74** 0. interaksi antara kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata pada persen hidup semai kayu bawang. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan.78 1. menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan. umur semai. 2. Rekapitulasi hasil sidik ragam (Kuadrat Tengah) pengaruh perlakuan terhadap tinggi. Hasil Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap parameter pertambahan tinggi.69 3.28* Keterangan (Remarks): ** * tn A B C Nyata pada taraf 1% (significant at 1% level) Nyata pada taraf 5% (significant at 5% level) tidak nyata (non-significant) Bahan pengatur tumbuh (growth regulators) Kondisi tempat simpan (storage site condition) umur semai ( seedling ages) 149 . Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan.81** 3.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah interval 1 bulan diamati dan diukur respon pertumbuhannya. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada persen hidup semai kayu bawang. Ke-12 contoh uji adalah banyaknya satuan perlakuan untuk semai kayu bawang. interaksi antara bahan pengatur tumbuh dan umur semai. Tabel (Table) 1.44 Persen hidup (Survival percentage ) (%) 1. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. B: kondisi simpan (naungan berat. serta C: umur semai pada saat penyemprotan (1 bulan. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis sidik ragam.64** 11.74 * = = = = = = Pertumbuhan diameter (Diameter growth ) (mm) 0.26 9. Rancangan Penelitian Percobaan terdiri dari 3 faktor perlakuan yaitu A: bahan penghambat pertumbuhan (aquades.

30ab 3.38 1. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap pertambahan tinggi semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.15ab 3.60ab 4. Tabel (Table) 2. 147 .52ab 4.70 mm) namun tidak berbeda nyata dengan naungan sedang (1.97ab 1.07 mm) dibandingkan umur bibit 2 bulan (1.3. kondisi tempat simpan naungan berat dan umur semai 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan tinggi paling rendah yaitu sebesar 0.68a 3.88ab 1.16 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B B Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) 150 .22ab 4.99ab 3.12ab 3.58ab 2.38 mm) Hasil uji beda rata-rata pengaruh umur semai terhadap diameter semai dapat dilihat pada Tabel 4.16 mm) dibandingkan kondisi naungan ringan (1.49 cm.28ab 0.40ab 2. kondisi tempat simpan dan umur semai disajikan dalam Tabel 2.153 Hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur tumbuh.58ab 1.12ab 3 2.49b 1.16ab 3.63ab 4.91ab Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan's test) Hasil uji beda rata-rata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter semai kayu bawang dapat dilihat pada Tabel 3. Penyimpanan pada kondisi naungan berat menghasilkan pertumbuhan diameter yang nyata lebih lambat (1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.50ab 3.68 cm.45 mm) dan umur 1 bulan (1. site conditions and seedling ages on the increment height of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Paclobutrazol NaCl Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 1.19ab 3. Masing-masing umur semai memiliki nilai pertambahan diameter yang berbeda satu sama lain menurut uji Duncan.70 1.8 No. Tabel (Table) 3.99ab 2.79ab 8. Juli 2011.72ab 0. Uji beda nyata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of site conditions on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Naungan ringan Naungan sedang Naungan berat Rata – rata (mean) 1.99ab 3.71ab 3. Semai dengan perlakuan umur bibit 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan diameter terendah yaitu (1.71 mm).28ab Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 3. Hasil uji beda rata-rata interaksi antara penyemprotan dengan aquades di bawah naungan sedang dan umur penyemprotan 1 bulan mempunyai nilai pertambahan tinggi terbesar yaitu sebesar 8. Sedangkan hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur NaCl. Uji beda nyata pengaruh interaksi antara bahan pengatur tumbuh.

sedangkan semai yang disemprot dengan akuades pada umur 1 bulan dan disimpan pada naungan berat mempunyai persen hidup terendah dengan nilai 44.1h 97.2ab 97. Uji beda nyata pengaruh umur semai terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of seedling ages on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Umur 1 bln Umur 2 bln Umur 3 bln Rata – rata (Mean) 1. site conditions and seedling ages on seedling survival of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 44.9cd 94.4 %. Dengan demikian selama penyimpanan pertumbuhan tanaman tetap berjalan.07 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B C Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) Hasil interaksi antara bahan penghambat tumbuh.0a 47. menunjukkan bahwa pada umumnya semai yang disemprot dengan paclobutrazol 250 ppm.4abc 3 97.4i 50.2g 100. Pembahasan Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tinggi semai setelah penyimpanan memperlihatkan kecenderungan meningkat.71 1.4abc 50. Hal ini dapat dilihat dari hasil perlakuan bahan penghambat tumbuh ataupun manipulasi kondisi tempat simpan yang kurang cahaya terhadap pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.9cd 88.0a Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 88.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Tabel (Table) 4. ditempatkan di bawah naungan ringan pada umur 1 dan 2 bulan mempunyai persen hidup yang tinggi yaitu sebesar 100 %.45 1.6ef 50. Tabel 5.2ab 75.2ab 97.0a 91. kondisi tempat simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap persen hidup semai kayu bawang disajikan dalam Tabel 5. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap persen hidup semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.2de 100.0a 97. Bahan penghambat tumbuh NaCl dapat menekan pertumbuhan tinggi semai seperti halnya Paclobutrazol. Uji beda rata-rata pengaruh interaksi antara bahan penghambat tumbuh.0fg 61.0i 80.2ab 100.9cd 88. namun demikian bahan kimia yang berupa garam ini 151 .9cd 100.2ab Paclobutrazol NaCl Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) B.0i 97. namun dengan pertambahan yang relatif rendah.2i 72. NaCl tidak termasuk ke dalam golongan zat penghambat tumbuh.7bc 88.0i 83. Tabel (Table) 5.2ab 94.

8 No. Menurut Hawley (1981) NaCl tersusun dari unsur Na + dan Cl yang mana ion Cl nya secara analogis mempunyai sifat mekanisme yang sama dengan ion Cl yang terdapat dalam paklobutrazol. Garam menghambat pertumbuhan melalui pengaruh Na + dan Cl yang terserap tanaman dan kurang tersedianya air bagi tanaman. pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. suhu. Hal ini terjadi karena ion-ion sudah dalam jumlah yang tidak seimbang sehingga menjadi racun bagi tanaman. Umur semai saat perlakuan pada penelitian ini sangat berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi dan diameter tanaman. yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan akar tunggang (Hendromono. Mekanisme penyerapan yang serupa terjadi pada larutan garam yang disemprotkan kearah daun (pupuk daun) dimana garam yang terlarut dalam air dapat masuk ke ruang interselular melalui lubang stomata. maka akan terjadi kenaikan dalam pertumbuhan. kelembaban relatif. oleh karena itu konsentrasi garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Menurut Lakitan perpanjangan batang adalah berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. Namun apabila cekaman lingkungan (dormansi) berakhir. Hal ini diduga terjadi karena tanaman yang lebih tua telah mengalami penurunan aktifitas metabolisme untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Pada penelitian ini umur semai 3 bulan sangat efektif digunakan untuk tujuan penyimpanan dibandingkan umur semai yang lebih muda (1 dan 2 bulan). status nutrisi dalam tanaman. 2001). pengurangan ketebalan daun tampaknya lebih disebabkan oleh perubahan dalam kualitas cahaya ke arah merah-jauh (far red) daripada pengurangan intensitas cahaya itu sendiri (Fisher. Cahaya diyakini berpengaruh tidak langsung melalui 152 . Menurut Fisher (1996) penurunan aktifitas metabolisme pada tanaman utuh. Karena Cl merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menimbulkan stress pada biosintesa giberellin. sehingga metabolisme terganggu dan pertumbuhan terhambat. Terjadinya etiolase pada tanaman yang ternaungi. semai mengalami penghambatan dalam pertumbuhan tinggi. formulasi dan konsentrasi nutrisi (pupuk). Juli 2011. Secara keseluruhan pengaruh bahan penghambat pertumbuhan berkaitan dengan naungan yang diberikan terhadap penekanan pertumbuhan tinggi. umur daun.3. biasanya terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan yang menyebabkan meningkatnya zat penghambat dan akibatnya terjadi perlambatan dalam pertumbuhan primordia daun dan batang. cukup peka terhadap manipulasi kondisi lingkungan.153 dapat menjadi bahan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman memerlukan cahaya untuk pertumbuhannya. Seperti misalnya NaCl dalam penelitian ini pada umur berapapun dapat menghambat pertumbuhan tinggi apabila diberikan pada kondisi naungan berat. Seperti yang dinyatakan oleh Lakitan (1996) bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah intensitas cahaya. Penekanan pertumbuhan tinggi semai kayu bawang juga terjadi pada perlakuan kondisi tempat simpan dimana pada kondisi naungan berat yang mempunyai intensitas cahaya paling sedikit (650 lux) dibandingkan tempat dengan naungan sedang (8935 lux) maupun ringan (17593 lux). sehingga selama penyimpanan dalam naungan berat. Sedangkan menurut Kamaluddin (1999) respon tanaman yang tahan naungan seperti pada jenis Dipterocarpaceae. sehingga sangat responsif terhadap cekaman lingkungan yang diberikan. Menurut Kozlowsky dan Pallardy (1979) penyerapan hara melalui daun tergantung dari : cahaya. tidak hanya dikarenakan oleh keracunan pada akar tanaman tapi juga berkurangnya air bagi tanaman. yang menyebabkan kerusakan membran sel daun dan penutupan stomata daun.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. perpanjangan batang. Intensitas cahaya yang masuk pada rumah tumbuh (650 lux) masih cukup bagi tanaman untuk melakukan fotosintesa sehingga metabolisme masih berjalan baik walaupun tidak maksimal yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan tinggi.5% yang disemprotkan. Dalam kasus ini tampaknya gabungan perlakuan intensitas cahaya dan salinitas (kadar garam) merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tinggi semai kayu bawang dimana kombinasi antara pencahayaan yang sedikit (650 lux) menyebabkan proses fotosintesa tidak berjalan dengan baik dan diperparah dengan adanya larutan garam 0. Namun demikian perlu memperhitungkan waktu penggunaan semai untuk bibit ketika akan ditanam di lapang agar umur tanaman tidak terlalu tua. Meningkatnya konsentrasi garam dalam air pada tanaman mengakibatkan ketersediaan air bagi tanaman menurun. 1996). Menurut Soepardi (1983) semakin tinggi konsentrasi kandungan garam dalam tanah. 147 .

IV. 1983. IPGR. Tsan. The Conservation of Difficult Materials. Lakitan. 1995. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. In Marzalina. Penerbit ITB Bandung. London. P. Jakarta. Batas Toleransi Bibit Gmelina (Gmelina arborea Roxb.D. Tokyo. B.G Physiology of Woody Academic Press. Hawkes. Riyanto. FB and CW Ross.411 Pallardy. 153 . N.T dan S. Kualalumpur. 1979. Proc. Hendromono. B. Kondisi ini terjadi juga pada semai yang diberi bahan penghambat paklobutrazol dimana efektivitas dalam penekanan pertumbuhan tinggi terjadi pada semai umur 1 bulan dan intensitas cahaya yang sedang. P. San Boston. F. 2 nd Ed. intensitas cahaya 650 lux).A Nashatul Zaimah.T Raja Grafindo Persada. M. L. Jayanthi.Pp. N. 2001. Bogor. Soepardi. 1996. Hal. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. New York.Marzalina. maka pertumbuhan tinggipun masih terhambat. 1-8 Kozlowsky.13 % serta mempertahankan persen hidup hingga 95%. 1995). KESIMPULAN Faktor yang menghambat pertumbuhan semai kayu bawang selama penyimpanan 6 bulan adalah penerapan larutan NaCl 0. Bogor. IUFRO Seed Symposium 1998 ' Recalcitrant Seeds'. Hal ini terjadi mungkin karena umur semai yang masih muda memiliki jumlah klorofil yang relatif sedikit sehingga kekuatan dalam menangkap energi cahaya yang diberikan sangat terbatas dan akibatnya pertumbuhan tidak optimal. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropika. T.Y Tsan and B.286-295. Toronto. K. N. 1999. Kualalumpur. Diego. Sifat dan ciri tanah. J. Hal. Genetic Conservation of Recalcitrant Species: an Overview. Krishnapillay (Eds).C Khoo. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman: Fase Vegetatif. Jilid 1.Y. In Whithers. Ketika semai masih berumur 1 bulan dan disimpan pada kondisi intensitas cahaya sedang (8935 lux). namun sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa cahaya mempunyai pengaruh kuat terhadap stomata. Manipulation of Growth Light Environment for Storage of Seedlings of Shade-Tolerant Forest Tree Species in nursery.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis.) dan Mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap Kandungan Garam Air Penyiraman. Fisiologi Tumbuhan. terlepas dari peranannya dalam fotosintesis (Salisburry and Ross. IUFRO Seed Symposium 1998 'Recalcitrant Seeds'. RH 96 %. Malaysia. Proc. 280285. Buletin Penelitian Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. M.A & William. Kamaluddin. In M.G. Goldsworthy. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah Fakultas Pertanian. Palembang. Jayanthi.Jayanthi and N. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. P.R and N. Sydney. Rome. Kayu Bawang (Dysoxylum sp) Berpotensi untuk Kayu Pertukangan.Y Tsan and B. Salisbury. N. Krishnapillay. Pp. Marzalina. Gadjah Mada University Press. M.M. H.C Khoo. Ed. DAFTAR PUSTAKA Fisher. Institut Pertanian Bogor. F. 156213. 12 Nopember 2001. 1996. Malaysia. Slow Growth as a Method to Ensure Continuous Supply of Planting materials for recalcitrant seed species. K. 2001. 1980. Crop Genetic Resources. J. Plants. F. 1999. Krishnapillay (Eds). G.M Fisher.5% pada semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C.T (Eds).

Kampus IPB Darmaga. Naskah diterima : 10 Juni 2011 1 ABSTRACT The study examined the use of biophysical and socio-economic factors to classify village as characteristic variables of private forest. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. Bogor 16680 Jawa Barat-Indonesia Telp (0251)8622642 Naskah masuk : 11 Februari 2011. (0251) 8622642. land configuration. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat..e.. sosial ekonomi. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. private forest. non rice field-land use. jarak ke kawasan hutan negara. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. email : tien_unw@yahoo. and productive age population were investigated. road density. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. Selected variables for clustering are based on the principle component analysis design of eight correlated variables. The only factor that has no correlation with private forest area is distance to main road. The study found that most of those factors has close correlation with the existence of private forest. Kata kunci : Biofisik. distance to state forest area. The main objective of this study is to determine the most significant variables that affect the village typologies related to private forest area. distance to main road. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. rumah permanen. There are six of biophysical factors i. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. Clustering analysis of the study found two typologies of private forest development. clustering analysis. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%.e.TIPOLOGI DESA BERDASARKAN VARIABEL PENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini . yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. socio-economic. Keywords: Biophysical. jarak ke jalan besar.com 2 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Jl. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. population density. kelerengan lahan. Hardjanto2. Bogor. village typologies ABSTRAK Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. dan umur produktif penduduk yang diteliti. I Nengah Surati Jaya . Jawa Barat Telp. Sekolah Pascasarjana IPB. hutan rakyat. Endang Suhendang . with having overall accuracy of 64%. This study was conducted in Kabupaten Ciamis covering 363 villages. tipologi desa 155 . land capacity. dan/and Herry Purnomo2 1 2 2 Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. kemampuan lahan. and three of socio-economic factors i. namely high potential area and low potential area types. analisis gerombol. Berdasarkan analisis gerombol. permanent home.

Lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis ( Research areas in Kabupaten Ciamis) 156 . menyebabkan keadaan tersebut menjadikan petani dalam posisi lemah. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Indonesia seperti negara-negara Eropa Utara (Filandia. pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu disebut dengan tipologi. B. Selain itu. Dengan terbentuknya tipologi hutan rakyat diharapkan dapat menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah yang unik berdasarkan karakteristik masingmasing wilayahnya. II. tipologi ini dapat membantu menduga potensi sebaran hutan rakyat untuk wilayah yang belum diketahui dan belum dilakukan inventarisasi menyeluruh. Gambar (Figure) 1. Juli 2011. luas pemilikan lahan dan keragaman pola usaha tani yang akan berpengaruh terhadap jumlah pohon pada setiap kepemilikan. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang mencakup sebanyak 336 desa. dan Norwegia). sehingga sulit untuk mencapai luasan minimum 0. seperti posisi tawar yang lemah dan informasi yang kurang. 2002). Kondisi petani di Indonesia umumnya subsisten. 155 . Dengan demikian untuk menerapkan dan menganalisis komponen-komponen kelangsungan pelestarian itu perlu dibuat suatu perencanaan wilayah berbentuk suatu wadah atau unit pengelolaan. 1991).8 No.25 ha sampai saat ini dipakai sebagai syarat untuk dikategorikan sebagai hutan. BAHAN DAN METODE A. Perencanaan wilayah tersebut sebaiknya bersifat spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah yang dihadapi. pemeliharaan. dimulai bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011. Kabupaten Ciamis memiliki potensi hutan rakyat yang besar di Jawa Barat. PENDAHULUAN A. Pengelolaan hutan rakyat dilakukan oleh masyarakat secara individual (pada tingkat keluarga) pada lahan miliknya. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor biofisik dan sosial ekonomi yang membentuk tipologi untuk menduga potensi hutan rakyat. Luas 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.3. Pembentukan unit pengelolaan hutan rakyat memerlukan penggalian karakteristikkarakteristik wilayah yang ingin dikelola. Luasan kepemilikan relatif kecil sehingga untuk mencapai luasan yang besar maka perlu penggabungan beberapa kepemilikan lahan. Segala keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan rakyat (penanaman.25 ha (Suharjito 2000 dan Haeruman et al. 2006). yang menyebabkan hutan rakyat tidak mengelompok pada suatu areal tertentu tetapi tersebar berdasarkan letak.. penebangan dan pemasaran) ditentukan oleh kebijakan masing-masing keluarga (Mindawati et al. Di Pulau Jawa rata-rata kepemilikan dalam satu hamparan sempit kurang dari 1 ha. Secara spasial hutan rakyat umumnya tidak tersebar dalam suatu hamparan yang kompak. dimana luasan lahan kepemilikan berkisar antara 5-40 ha per keluarga (Harrison et al. Sistem pengelolaan hutan rakyat dengan berdasarkan komponen-komponen yang mendukung dapat menjamin kelestariannya.168 I. Latar Belakang Hutan rakyat memiliki karakteristik yang unik. Swedia.

Bahan danAlat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : peta digital administrasi Kabupaten Ciamis. Minitab versi 14. 2. Jarak Terdekat Desa ke Kawasan Hutan Negara Terdekat. yaitu peta kontur. 2007. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arc View versi 3.2. SPSS versi 17. BPS. Klasifikasi kelas lereng ( Clasification of slope classes) No. Kedekatan terhadap kawasan hutan negara memiliki peluang untuk berkembangnya hutan rakyat baik secara alam maupun budaya. dengan unit analisisnya adalah desa. data profil desa Kabupaten Ciamis tahun 2006. Sehingga variabel yang perlu diperhatikan adalah perbandingan (rasio) antar luas areal dengan kelas kelerengan lahan yang lebih besar sama dengan 15% terhadap total luas desa. Kementerian Kehutanan. peta tanah.. Analisis Data 2. b. Identifikasi Variabel-Variabel Pendukung Keberadaan Hutan Rakyat Dalam penelitian ini dicari variabelvariabel yang sangat mempengaruhi keberadaan hutan rakyat di suatu lokasi.1. yaitu layer batas administrasi desa dengan batas kawasan hutan negara di Kabupaten Ciamis. Jalan kolektor yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kotamadya terhadap kepentingan provinsi. Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap kawasan batas hutan negara terdekat. C. Data dan informasi atas hasil analisis pengolahan spasial peta dijital lokasi penelitian dibantu dengan beberapa layer yang mendukung.Hardjanto. Kelas-kelas kelerengan dalam suatu wilayah dapat dilihat pada Tabel 1.. peta digital kawasan hutan negara (sumber RBI tahun 2006 dan Baplan 2011). b. peta kawasan hutan negara. 1 2 3 4 5 Kelas lereng (Slope classes) Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Kisaran (Intervals) (%) 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 157 . dan alat pendukung lainnya. peta jaringan jalan. c. dan peta batas administrasi. (2001) menyatakan salah satu areal yang menjadi sasaran pembangunan hutan rakyat adalah areal kritis dengan keadaaan lapangan berjurang dan bertebing. Perhitungan jarak terdekat tersebut menggunakan analisis spasial terhadap 2 layer. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang terkait dengan hutan rakyat dan pengaruh biofisik terhadap perkembangan suatu wilayah (Suharjito 2000. I Nengah Surati Jaya. Perhitungan jarak dilakukan dengan analisis spasial. dan Herry Purnomo B. peta digital jaringan jalan. lembaga penelitian. Awang et al. serta literatur publikasi ilmiah lainnya. Hardjanto 2003) ditemui variabel-variabel sebagai berikut : a. Endang Suhendang. Metode 1. Jarak Terdekat Desa ke Jalan Besar Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap jalan besar terdekat. perguruan tinggi. peta digital jenis tanah. Tabel (Table) 1.. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas lereng yang sudah umum digunakan dalam penatagunaan hutan. 1991. Pengumpulan Data a. Data sekunder diperoleh dari publikasi lembaga pemerintahan seperti Dinas Kehutanan. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K). Rasio Kelerengan Lahan Menurut Awang et al. Haeruman et al. peta digital kontur. Pada penelitian ini yang dimaksud jalan besar adalah jalan kolektor.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.

3.i (i=1.Rasio kelerengan lahan . kepekaan erosi. 155 .3.i (i=1. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa hutan rakyat di Jawa umumnya dibudidayakan di areal-areal lahan kering daerah atas (upland areas).Jarak ke jalan besar .8 No. Juli 2011... Sehingga secara keseluruhan ada 9 (sembilan) variabel yang diuji untuk mengetahui yang berpengaruh terhadp pembagian tipologi. tekstur tanah permeabilitas. 2. Umumnya hutan rakyat timbul pada wilayah-wilayah yang masih kurang padat penduduknya. Rasio Umur Produktif Rasio umur produktif adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia produktif (15 . e. Kemampuan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk membuat modifikasi kelas kemampuan lahan adalah kelerengan.. Adapun variabel kemampuan lahan di suatu desa (KL) (Arsyad.Rasio Umur produktif penduduk 2. dan drainase di suatu wilayah desa.. Tabel (Table) 2.. Pengelolaan hutan rakyat masih dianggap kegiatan sampingan yang bersifat tidak intensif.8) NTi = Nilai Tengah kelas ke.Kemampuan Lahan .168 d. Karakteristik Sosial dan Ekonomi 158 . Untuk data pendapatan dilakukan dengan pendekatan terhadap kondisi perumahan. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penduduk di setiap desa (orang) dengan luas administratif desa (ha).Penggunaan Lahan ( land use) . kedalaman tanah. Rasio Rumah Permanen Rasio rumah permanen merupakan pendekatan terhadap informasi pendapatan penduduk. 2. Kerapatan Jalan Kerapatan jalan adalah rasio antara luas jalan (m) dengan luas desa(ha). Variabel-variabel tipologi hutan rakyat (Typology Variables of private forest) No. Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non Sawah) Penggunaan lahan bukan sawah adalah perbandingan (rasio) areal lahan pertanian non sawah dengan luas total desa. sehingga diduga beberapa wilayah yang berkembang hutan rakyatnya ketika jumlah umur produktif sedikit dan didominasi umur non produktif.64 tahun) dengan luas total desa.Kerapatan jaringan jalan .3. Rumusnya dapat dilihat sebagai berikut: Panjang jalan (m) Kerapatan Jalan Luas desa (ha) f. Secara ringkas variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. sehingga diduga ada hubungan antara potensi hutan rakyat dengan kondisi kemampuan lahannya. 1. Indikator (Indicators) Karakteristik Bio-Fisik Peubah-Peubah (Variables ) .8) KL = i = 1 Li × Nti g.Kepadatan penduduk . f. Kemampuan Lahan Hutan rakyat di Jawa umumnya banyak ditanam di wilayah lahan kritis yang tidak subur.Jarak ke kawasan hutan hutan negara . Diasumsikan bahwa ketika pendapatan penduduk semakin meningkat maka kondisi rumahnya akan semakin permanen.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Semakin besar rasio maka diasumsikan pendapatan penduduk setempat semakin tinggi. 1989): 8 Luas Total Desa Dimana : Li = Luas kemampuan lahan kelas ke. yaitu dari rasio antara jumlah rumah permanen dengan total rumah di desa bersangkutan.Tingkat rumah permanen . H..

metode ini menetapkan terlebih dahulu jumlah kelompok yang akan dibuat sehingga metode ini cocok jika data yang diolah banyak. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. maka dilakukan pengujian sebagai berikut : (1) Uji keragaman Kelompok yang terbentuk dikatakan baik jika keragaman dalam satu kelompok kecil. Endang Suhendang. I Nengah Surati Jaya. Untuk menganalisis hal tersebut digunakan 2 cara. dan mereduksi objek dalam dimensi yang lebih kecil. dan kumulatif akar ciri. tetapi keragaman antar kelompok besar. yaitu : a. Analisis Komponen Utama ( Principal Component Analysis/PCA) Tujuan dari analisis komponen utama dalam penelitian ini . 2. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. b. Ada tiga karakteristik komponen utama: informasi data asal yang dijelaskan maksimum (memiliki ragam maksimum). Pengujian Tipologi Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang terbentuk sudah memiliki gambaran yang mirip terhadap potensi hutan rakyat. dan Herry Purnomo 2.Hardjanto. merupakan konbinasi linier dari variabel asal: Yi = ai1X1+ai2X2+…+aipXp Hasil analisis komponenkomponen utama antara lain nilai akar ciri. Keragaman dapat diketahui dengan rumus : Ragam rata-rata dalam kelompok adalah : n m i 1 n 2 yi y 2 i i 1 i 1 n 1 m s2 y Keterangan : yi = luas hutan rakyat pada desa ke-i n = jumlah desa pada kelompok ke-i m = jumlah kelompok Ragam antar kelompok yang distandarkan : Keputusan yang terbaik jika: memiliki ragam dalam kelompok yang terkecil dan ragam antar kelompok yang terbesar. Sebagai 159 . Analisis Korelasi Pada penelitian ini.3. Untuk melakukan pengelompokan tipologi digunakan analisis gerombol (clustering analysis). sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel. Sehingga jika mencari gabungan yang terbaik adalah yang memiliki selisih ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok yang terbesar.2. analisi korelasi menghubungkan 2 variabel yaitu masing-masing 9 variabel biofisik dan sosial ekonomi yang diuji dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Nilai -1 atau +1 menunjukkan adanya hubungan yang sempurna antara X dan Y. sehingga semakin mendekati nilai tersebut semakin erat hubungan X dan Y. (2) Evaluasi akurasi Untuk menguji akurasi kelompok yang terbentuk menggunakan prinsip matrik kesalahan ( confusion m atrix ).Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. antar komponen utama saling original/bebas. Penggunaan metode ini banyak digunakan untuk beberapa tujuan penelitian (Rahmalia 2003). proporsi. Sehingga dilakukan pengujian pada setiap kelompok yang sudah terbentuk. Penentuan Variabel Dominan Dari 9 (sembilan) variabel akan dianalisis hubungannya dengan hutan rakyat di suatu desa. Analisis korelasi yang di-gunakan adalah korelasi Spearman. Pembentukan Tipologi a. yaitu: (1) untuk mendapatkan variabel-variabel baru yang saling orthogonal/bebas. Penggunaan Analisis Gerombol (Clustering Analysis) Dasar pembuatan tipologi adalah variabelvariabel yang dianggap dominan dalam menentukan potensi hutan rakyat. Diasumsikan bahwa potensi tersebut dapat mewakili karakteristik lokal hutan rakyat di suatu tempat. Penelitian ini menggunakan analisis gerombol ini dengan metode K-Means. (2) mengelompokkan variabel-variabel penting dari satu bundel variabel besar untuk menduga suatu fenomena. b.

072 1. Sedangkan yang tidak berkorelasi adalah jarak desa ke jalan besar terdekat.264** .276** .565** 1.234** . Akurasi kappa dihitung menggunakan rumus (Jaya.139* -. tetapi juga menghitung jumlah desa yang dikelaskan pada tipologi tidak tepat masuk dalam kelas acuan. Penentuan Variabel Dominan Pembentuk Tipologi Berdasarkan korelasi Spearman terdapat hubungan yang sangat nyata antara beberapa variabel terhadap keberadaan luas hutan rakyat di suatu desa.072 . Juli 2011.264** .265** Kelerengan lahan (Land slope) .441** -.000 -.320** -.215** .225** -. X+1 = Luas kolom dalam baris ke-i X1+ = Luasan dalam kolom ke-j N = Total area verifikasi III. Keterangan (Remarks) : OA = Nilai akurasi rata-rata umum (Overall Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antar kelompok atau kelompok variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi. pendapatan penduduk.441** .233** .01 level) * Berkorelasi nyata pada level 0.000 .000 1.447** -.198** . dan rasio lahan bukan sawah.154** Kemampuan Lahan (Land capacity) -.529** -.453** . Dari confusion matrix dapat menghitung akurasi rata-rata umum (overall accuracy) dan akurasi kappa accuracy. Dari 9 peubah tersebut yang memiliki nilai tiga terbesar korelasinya adalah rasio kelerengan lahan.101 .05 (Correlated at 0.382** .058 KerapatnJ alan (Road density) Luas Hutan Rakyat (Private forest area) Kepadatan Pendudu (population density) Rumah Permanen (Permanent home) Umur Prod uktif (Productive age population) Non Swh (Non rice field) Kelerengan lahan(Land slope) Jarak hutan (Distance to state forest area) Jarak Jalan (Distance to main road) KmampuanLahan (Land capacity) Kerapatan J alan (Road density) -. kemampuan lahan.000 -.447** 1.426** .932** -.198** .000 -. Korelasi sangat nyata yang bersifat positif saling menguatkan adalah : rasio penggunaan lahan bukan sawah (non sawah).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.216** -.486** -.127* Keterangan (Remarks): ** Berkorelasi nyata pada level 0.01 (Correlated at 0.000 .108* .05 level) 160 . dan rasio kelerengan lahan. Korelasi antar variabel biofisik.225** Jarak Jalan (Distance to main road) .127* 1.000 .208** Umur Produktif (Productive age population) -. HASIL DAN PEMBAHASAN A.380** .486** 1. 2006) sebagai berikut : Tabel (Table) 3.111 * -.496** -.045 .216** -.367** -. dapat dilihat pada Tabel 3.045 . sosial ekonomi.245** -.167** -.111 * -.233** -.433** .529** -.072 -.058 . kerapatan jalan.167** .277** Jarak Hutan (Distance to state forest area) -.101 -.357** -.297** -.050 -.3.565** .050 .453** -.277** .320** -.072 -.380** . 155 .145** 1.276** -.000 . 2006) sebagai berikut : Keterangan (Remarks) : K = Akurasi Kappa (Kappa Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antara hasil tipologi dan kelas variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.178** Non Sawah (Non rice field) .154** Rumah Permanenen (Permanent home) -.496** .208** .197** -.000 -. umur produktif.178** . dan luas hutan rakyat (The correlation between biophysical and socio-economic variables and private forest area) Variabel (Variables ) Luas Hutan rakyat (Private forest area) 1. N = Total area verifikasi.297** -. dan kerapatan jalan.099 -.168 standar adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan data luas hutan rakyat.265** -. jarak ke hutan. Akurasi rata-rata umum dihitung menggunakan rumus (Jaya.357** 1.139* -.108* -.234** .8 No.145** -.245** 1. Sedangkan korelasi sangat nyata yang bersifat negatif adalah kepadatan penduduk.426** Kepadatan Penduduk (Population density) -.367** .932** . Akurasi kappa pada umumnya mempunyai nilai akurasi lebih kecil dari akurasi rata-rata umum karena pada akurasi kappa dihitung tidak hanya berdasarkan jumlah desa yang dikelaskan masuk secara benar pada kelas acuan.197** .382** .266** -.433** -.000 -.099 -.215** -.266** -.

Wilayah yang tidak memperoleh pengairan untuk sawah berada di wilayah-wilayah atas (upland areas) yang tentunya memiliki topografi lebih curam. yakni berada di wilayah landai sampai curam. Sehingga ketika terjadi urbanisasi yang besar. Semakin luas penggunaan lahan pertanian non sawah berarti semakin besar pula potensi pengembangan hutan rakyatnya. f. Hubungan antar pendapatan penduduk dengan potensi keberadaan hutan rakyat di suatu desa berkorelasi negatif. menyatakan umumnya lokasi hutan rakyat berada di wilayah areal lahan kering daerah atas ( upland areas ). Ini menenjukkan bahwa variabel rasio non sawah bisa menjadi penanda untuk menduga potensi pengembangan hutan rakyat di suatu desa atau wilayah. d. Hasil korelasi dengan luas hutan rakyat menunjukkan adanya korelasi negatif berarti hutan rakyat memang cenderung berkembang pada wilayah-wilayah dengan kemampuan lahan yang rendah. Kondisi ini diduga karena Variabel biofisik dan budaya. Wilayah hutan negara di Kabupaten Ciamis umumnya berada di lokasi topografi curam di daerah-daerah pegunung- 161 . Sehingga hubungan korelasi antara rasio umur produktif dengan luas hutan rakyat bersifat negatif. Jarak ke Hutan Negara Keberadaan hutan negara di dalam atau sekitar desa ternyata berpengaruh dengan keberadaaan hutan rakyat. h. Kepadatan penduduk juga berkorelasi positif dengan variabel rasio umur produktif. kerena semakin sedikit penduduk berpeluang areal digunakan dengan penggunaan lain selain pemukiman seperti perkebunan dan lainnya. Sehingga sekarang diduga tumbuhnya hutan rakyat dominan di wilayah-wilayah tidak subur. banyak penduduk desa yang berada dalam usia produktif bekerja di kota. b. Hutan rakyat umumnya banyak ditemukan pada kondisi desa yang memiliki rata-rata pendapatan yang rendah. Rasio Umur Produktif Pengelolaan hutan rakyat tidak seintensif pengelolaaan pertanian dan perkebunan. Semakin dekat areal hutan negara dengan suatu desa. Hutan rakyat umumnya ditemukan pada wilayah berpenduduk rendah. maka umumnya semakin besar potensi hutan rakyat. sehingga semakin padat penduduk kemungkinan besar jumlah umur produktif juga ikut bertambah di suatu wilayah desa. Dari hasil korelasi menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan positif dengan keberadaan hutan rakyat dan sangat nyata hubungannya. Lahan ini dalam pendataan statistik disebut dengan lahan pertanian non sawah. Kerapatan Jalan Variabel ini berkorelasi dominan kedua setelah rasio kelerengan lahan terhadap keberadaan hutan rakyat di suatu desa. Endang Suhendang. Ketika desa memiliki kerapatan jalan yang besar cenderung memiliki hutan rakyat yang sedikit. Kerapatan jalan berhubungan dengan kemajuan transportasi di suatu wilayah desa.Hardjanto. Rasio Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non sawah) Berdasarkan penelitian Suharjito (2000). Secara logis hal ini tentu demikian. dan Herry Purnomo Penjelasan lebih terperinci mengenai kondisi antara variabel-variabel tersebut sebagai berikut: a. di sinilah hutan rakyat berkembang. g. yang biasa disebut dengan tegalan atau kebun. Kondisi ini mendorong pemilihan menanam kayukayuan dibanding dengan pertanian intensif.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Akhirnya kebanyakan penduduk yang tinggal di desa adalah orang-orang usia lanjut. I Nengah Surati Jaya. Daerah tersebut merupakan daerah pertanian non sawah. Ini menunjukkan bahwa hutan rakyat dominan berada di wilayah yang tidak datar. c. Rasio kelerengan lahan Variabel ini memiliki korelasi tertinggi diantara variabel lainnya. Kepadatan Penduduk Merupakan variabel yang berhubungan negatif dengan luas hutan rakyat. Kemampuan lahan Berdasarkan pengalaman sejarah dimulainya hutan rakyat karena gerakan penghijauan pada daerah-daerah kritis (Hardjanto 2003). Hal ini disebabkan timbulnya hutan rakyat pada kondisi lahan marginal yang tidak memiliki banyak alternatif kegiatan pertanian yang lebih produktif. Semakin maju desa memungkinkan banyaknya alternatif penggunaan lahan lain yang lebih produktif. e. Hutan rakyat merupakan alternatif berikutnya ketika lahan tidak memungkinkan untuk ditanam tanaman pertanian atau budidaya lain yang lebih cepat menghasilkan. Rasio rumah permanen Keberadaaan rumah permanen dalam penelitian ini diasumsikan dengan pendapatan penduduk.

0.3.185 0. maka alternatif penggunaan lahan untuk penanaman tidak banyak dengan demikian menanam kayu yang bersifat tidak intensif menjadi pilihan.338 -0.199 0.185 0.114 0. Dengan demikian kebiasaan ini dapat tertular di lahan milik pribadi mereka. Sehingga tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang biasa ada di hutan negara seperti jati.281 -0. diduga karena berdekatan dengan hutan sejak dulu.407 0.713 -0. hanya satu variabel yaitu jarak ke jalan besar yang tidak signifikan berkorelasi nyata.904 0.049 1.284 0.725 -0. Sebagai penggarap di areal tumpangsari PT Perhutani.106 0.055 -0.113 0.301 0.000 162 .337 0.331 0.377 2.133 PC6 0.062 0.212 PC4 0.293 PC3 0. Nilai analisis komponen utama variabel (Value of principal component analysis) No 1. Untuk mengetahui berapa banyak komponen utama (KU) yang diambil.070 0.164 1.146 0. sedangkan dipandang dari sudut budaya.115 -0. Sehingga untuk analisis komponen utama dimasukkan 8 variabel pendukung.389 0. sehingga dari delapan komponen utama yang dihasilkan dapat dipotong sampai KU empat saja karena sudah cukup mewakili proporsi keragaman. maka petani sudah terbiasa dengan cara-cara menanam. maka dapat dilihat dari nilai kumulatif proporsi lebih dari 70% dan nilai akar ciri lebih besar dari 0.479 0.3929 0.325 -0.165 0.523 0.295 0. kemungkinan setiap lokasi memiliki keuntungan yang seimbang terhadap perkembangan hutan rakyat.457 -0.157 0.074 -0.523 0.627 -0.080 -0. Jalan besar merupakan jalur transportasi pengangkutan kayu ke luar wilayah.520 0.084 -0.5602 0.600 -0. Berdasarkan analisis komponen utama (PCA) yaitu variabel-variabel yang berhubungan nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.582 0.443 7. 8.301 0.264 4 5.056 -0.108 0. Wilayah dekat jalan besar memiliki keuntungan biaya pengangkutan menjadi murah tetapi tentu harga tanah yang lebih mahal.056 0.168 0. Memperhatikan kondisi biofisik tersebut.475 0. dan pinus di lahan milik pribadi petani.068 -0.668 PC8 0.018 0.083 PC7 -0.441 0. sedangkan wilayah jauh dari jalan besar sebaiknya.100 0.603 0. Variabel (Variables) Kepadatan Penduduk (Population density) Rumah permanen (Permanent home) Umur Produktif (Productive age population) Non Sawah (Non rice field) Kelerengan lahan (Land slope) Jarak ke hutan (Distance to state forest area ) Kemampuan Lahan (Land capacity) Kerapatan Jalan (Road density) Akar ciri (eigenvalue) Proporsi (proportion ) Kumulatif Proporsi (Proportion cumulative) PC1 0. dan bahkan terlibat dalam ke-giatan pemanenan sebagai buruh tebang. Ketika variabel ini tidak nyata berpengaruh terhadap luas hutan rakyat.450 -0.168 an dengan kondisi assesibilitas yang sulit.889 -0. Juli 2011. 3.069 0.4969 0.223 0. Tabel (Table) 4 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. i.491 0. Dari hasil korelasi pada Tabel 3 diketahui bahwa dari 9 variabel yang dianalisis. Jarak ke jalan Analisis korelasi jarak terdekat antar batas desa ke jalan besar (jalan kolektor) ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap kondisi hutan rakyat di suatu desa dibanding variabel lainnya.951 -0.033 0.128 0. 0.341 1. maka masyarakat sekitar hutan sudah terbiasa dengan pengelolaan hutan dan malah juga terlibat langsung sebagai penggarap jika hutan tersebut hutan produksi.340 0.001 -0.340 0.669 -0.7.661 -0.466 0. 155 . memelihara.819 -0.156 -0.8 No.134 0. 2.149 -0.8463 0.056 -0. 6.333 0. Ditambah dengan seringkali penyebaran bibit secara alam dari hutan negara ke lahan milik melalui angin dan binatang-binatang hutan.715 -0.323 0.371 PC2 0.107 PC5 -0. mahoni.

dan Pc123. yaitu dari penggunaan 8 variabel sampai 2 variabel ditambah dengan penggunaan data analisis komponen utama (AKU) dapat dilihat pada Tabel 5.Hardjanto.Pada wilayah PC4 merupakan indeks jarak desa ke kawasan hutan negara. I Nengah Surati Jaya. Pembentukan Tipologi 1. Dimana menujukkan nilai tinggi pada jarak yang ke kawasan hutan B. . Jumlah tipologi Hasil klustering dengan menggunakan semua alternatif variabel yang bisa diterapkan.Pada PC1 menggambarkan indeks kelerengan lahan dan non sawah. . Sedangkan untuk 3 kelompok dan 2 kelompok terdapat 4 desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang efisien. 4 variabel. Banyaknya anggota setiap desain dan kelompok (Number of villages each design and cluster) JUMLAH ANGGOTA TIAP KELOMPOK (Number of villages of each cluster) 7 6 5 4 3 Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel 8 Desain Variabel Jmh Variabel 5 Kelompok (5 clusters) 1 183 2 86 3 62 4 2 5 3 4 Kelompok (4 clusters) 1 185 2 60 3 86 4 5 3 Kelompok (3 clusters) 1 228 2 103 3 5 2 Kelompok (2 clusters) 1 239 2 97 2 Variabel PC1234 PC123 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 161 124 45 5 1 161 124 45 5 1 176 68 53 43 5 149 72 70 40 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 171 115 44 6 171 115 44 6 185 86 60 5 153 85 61 37 228 103 5 228 103 5 228 103 5 228 103 5 202 99 35 202 99 35 196 80 60 195 78 63 239 97 239 97 239 97 239 97 249 87 249 87 235 101 234 102 163 .Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. yaitu yang menggunakan desain 2 variabel. Tabel 5 dapat diketahui bahwa penggunaan 5 kelompok dan 4 kelompok menghasilkan jumlah tipologi yang kurang efisien karena jumlah anggota sangat kecil dibawah 10 desa. Nilai ini menunjukkan dominan kelerengan lahan yang datar dengan kegiatan non persawahan yang rendah. Endang Suhendang. PC1234. Dimana menujukkan kemampuan lahan yang tinggi. dan Herry Purnomo Berdasarkan analisis komponen utama yang menggunakan 4 KU pada Tabel 4 dapat diketahui empat karakteristik desa di Kabupaten Ciamis yang didekati dari 8 Variabel.Wilayah Pc3 merupakan indeks rumah permanen dan kepadatan penduduk yang merupakan variabel sosial ekonomi. kecuali satu yang menggunakan desain PC123 dengan 4 Kelompok. . Karakteristik tersebut dapat dilihat dari variabel dominan yang membentuk komponen utamanya sebagai berikut : .Pada Pc2 merupakan indeks kondisi kemampuan lahan. Tabel (Table) 5.

Juli 2011. Dimana yang dianggap baik jika ragam dalam kelompok kecil dan ragam antar kelompok besar. 155 . Perbandingan Ragam dalam Kelompok dengan Ragam Antar Kelompok. (Comparison of whitin cluster and inter cluster variant) 164 .3 Kelp PC1234 . Pengujian Hasil Tipologi Hasil tipologi yang telah terbentuk dengan berbagai desain peubah diuji ketepatannya untuk menduga luas rakyat setiap desa. Dibandingkan dengan standar/acuan pengelompokan yang sudah dibuat. 5.4 Kelp PC1234 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. hanya 8 desain jumlah variabel yang dapat diterapkan selanjutnya.2 Kelp Semua desain yang telah dicoba (Tabel 5). nilai selisih terbesar adalah yang memiliki nilai uji yang baik. Dalam rangka menentukan desain yang teruji dengan baik dari ke delapan desain lewat dua uji ragam tersebut.3.3 Kelp PC1234 . Sedangkan untuk uji ragam antar kelompok pada Gambar 2b. Daftar desain terpilih tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. selanjutnya desain 2 variabel dengan Keterangan (Remarks) : Gambar (Figure ) 2. Pada Tabel 7 diketahui selisih terbesar uji ini adalah pada desain jumlah 2 variabel dengan tiga kelompok. Hasil tipologi terpilih dilakukan pengujian dengan uji ragam dan evaluasi akurasi menggunakan prinsip matrik kesalahan (confusion matrix).168 Tabel (Table) 6. dan 8. maka dapat diukur berapa besar akurasinya. Pada Gambar 2a dapat dilihat bahwa uji ragam antar kelompok desain 1 sampai 4 relatif memiliki ragam dalam kelompok yang kecil dibanding desain 5 sampai 8. Dapat terlihat grafik pada Gambar 2 menunjukkan kedua uji tersebut. maka dilakukan pengurangan antara uji ragam antar kelompok dengan uji ragam dalam kelompok. 2.8 No. Desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang sama maka dipilih yang paling sederhana. Jumlah desa setiap kelompok terpilih (Number of villages for each selected cluster) Desain Jumlah Variabel (Number of variables Design) 2 Variabel – 2 Kelp Kelompok 1 (cluster 1) 249 202 239 235 196 153 195 234 Jumlah Desa (Number of Villages ) Kelompok 2 Kelompok 3 (cluster 2) (cluster 3) 87 99 97 101 80 85 78 102 53 60 61 63 - Kelompok 4 (cluster 4) 37 - 2 Variabel – 3 Kelp 4 Variabel – 2 Kelp PC1234 . Uji ragam terhadap luas hutan rakyat dilakukan melalui uji dalam kelompok dan antar kelompok. 7. ragam yang terbesar adalah desain ke 2.2 Kelp PC1234 .

532 3. Ragam rata-rata antar kelompok dan dalam kelompok (Average variety of inter and within clusters) Desain Jumlah Variabel (Design of number of variables) Ragam Rata-Rata (Average variant) Antar Kelompok (Betweencluster) (A) Dalam Kelompok (Within cluster) (B) Selisih (differen-ce) (A-B) Rangking 2 Variabel -2 Kelp PC1234 3 Kelp PC123 – 2 Kelp PC123 – 3 Kelp PC123 4Kelp 2 Variabel -3 Kelp 4 Variabel -2 Kelp PC1234 2 Kelp 1.59 0 13170.932 6 PC123-2 kelompok 50.338 5 22740.072 20972.015 165 . Diperoleh nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa terbesar terdapat pada perlakuan desain PC1234 dengan 2 kelompok dengan nilai masing-masing 64% dan 27%.301 19384.633 5 PC1234-3 kelompok 40.75 7 2 10971.363 2.98 0 4 13171. Endang Suhendang.44 4 10967. dan Herry Purnomo 2 kelompok.963 0. Pada Tabel 8 dapat diketahui hasil evaluasi akurasi pada kedelapan desain terpilih.3 kelompok 40. Berdasarkan variabel yang digunakan maka.4 kelompok 27. delapan desain yang dianalisis tiga desain menggunakan peubah asli sedangkan lima desain sudah menggunakan peubah PC yang diubah melalui analisis komponen utama (AKU). Tabel (Table ) 7.476 14.24 3 12796.632 12798. Desain kedua yang terbaik adalah 2 variabel dengan 2 kelompok dengan nilai akuarasi umum sebesar 63% dan akurasi Kappa sebesar 26%. Nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa (Value of overall accuracy and Kappa accuracy) No.55 22493.920 7 -22739. dan yang ketiga desain dengan mengunakan analisis komponen utama dengan 4 KU yang membagi 2 kelompok.706 6 22500.482 3. Dengan menggunakan peubah yang sudah melalui AKU dapat menghilangkan multikolinieritas tersebut. 4 Variabel-2 kelompok 60. Ini menandakan bahwa desain tersebut yang paling akurat dalam menduga kelompok desa berdasarkan luas hutan rakyat. Metode gerombol (clustering analysis) menggunakan asumsi tidak ada multikolinieritas antar peubah yang digunakan.55 20968.196 1.083 6.846 6. I Nengah Surati Jaya.17 6 14095.429 17.5.971 1.3 kelompok 46.179 13.988 27. Desain jumlah Variabel Akurasi (Accuracy) ( number of variables design) Rata-Rata Umum Kappa (Overall) (Kappa) 1. Tetapi menurut Santoso (2010).Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.47 3 1 14097. PC1234-2 kelompok 63. menyatakan batas kolinieritas tersebut masih dapat ditolerir untuk nilai korelasi dibawah 0.595 1. 2 Variabel .393 26.271 8 PC123.485 3.714 21.940 3.026 4.05 7 3 19388.650 7 PC123. 2 Variabel-2 kelompok 63.Hardjanto.132 8 Tabel (Table) 8.

168 3.2 kelompok Gambar (Figure) 3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Sebaran pengelom-pokan desa berdasarkan desain tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Diharapkan dengan memiliki luas hutan rakyat yang besar merupakan salah suatu peluang untuk mencapai pengelolaan hutan rakyat yang menguntungkan dan efisien. yaitu desain dengan mengunakan PC1234 dengan nilai akurasi sebesar 64% dan desain dengan 2 variabel (rasio kelerengan dan kerapatan jalan) dengan nilai akurasi sebesar 63%. Potensi pengem-bangan hutan rakyat disini dilihat dari besarnya luasan hutan rakyat di dalam suatu desa. Tetapi jika unit pengelolaan tersebut berupa desa tentunya dapat berdiri sendiri secara individual ketika potensinya besar . Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa sebaran yang dihasilkan dengan desain PC1234 terlihat lebih kompak dan sehamparan dibanding sebaran yang dihasilkan desain 2 variabel. (a) Pc1234.8 No.3. Terdapat kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan untuk berkembangnya hutan rakyat Pengembangan lebih mengarah ke bidang di luar hutan rakyat. Tipologi Wilayah Karakteristik dan arah pengembangan setiap tipologi (Characteristics and direction of development of each typology) Karakteristik (Characteristic) Arah Pengembangan (Development direction) Jumlah Desa (Village numbe) Desain Desain 2 PC1234 Variabel 101 87 I Merupakan wilayah-wilayah desa dimana penggunaan lahannya tidak didominasi hutan rakyat. Karakteristik dan Arah Pengembangan Tipologi Pada proses akurasi terdapat dua desain yang memiliki akurasi yang baik. Bila tetap bertahan untuk kegiatan hutan rakyat sebaiknya perlu penggabungan wilayah yang lebih besar untuk menjadikan 166 . Berdasarkan desain PC1234 terlihat dugaan wilayah Kabupaten Ciamis memiliki 70% daerah yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang besar. 155 . (b) 2 variabel-2 kelompok Pengelompokan berdasarkan desain (a) PC1234 dan (b) 2 variabel (Grouping based on design (a) PC1234 and (b) 2 variable) ketika wilayah yang akan digabungkan berdekatan secara spasial. Juli 2011. Untuk membentuk satu unit pengelolaan lebih mudah Tabel (Table ) 9. Sedangkan berdasarkan desain 2 variabel menduga sebanyak 74% wilayah Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang memiliki potensi pengembangan yang besar.

1989. Sadiyo. Kelima variabel lainnya berurutan berdasarkan besarnya korelasi dengan luas hutan rakyat adalah jarak ke hutan negara. baik petani. kemampuan lahan. dan rasio rumah permanen.Hardjanto. V. Kustomo. Konservasi Tanah dan Air. Kesimpulan 1. rasio umur produktif. Perlu dibentuk wadah / unit pengelolaan hutan rakyat agar terjadi sistem yang menjamin kelestarian. S. Terdapat delapan variabel yang berkorelasi nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses 167 . Y Nugroho. E.B Wiyono. S. KESIMPULAN DAN SARAN A. Merupakan wilayah-wilayah desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang besar. salah satunya karena secara fakta kondisi biofisik dan sosial ekonomi mendukung untuk berkembangnya hutan rakyat. Yogyakarta. maka disarankan untuk menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah perlu pertimbangkan variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan potensi hutan rakyat seperti di penelitian ini. yaitu rasio kelerengan lahan dan kerapatan jalan dengan akurasi rata-rata 63%.A. Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perbedaaan ini. 2001. kepadatan penduduk. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. Jumlah Desa (Village numbe) Desain PC1234 Desain 2 Variabel II 235 249 Desa yang dianggap berpotensi tinggi adalah yang mempunyai nilai lebih besar dari rata-rata luas hutan rakyat di Ciamis. Lanjutan (Continued) Tipologi Wilayah Karakteristik (Characteristic) secara biofisik ditambah aspek sosial ekonomi. dan Herry Purnomo Tabel (Table) 9. tetapi saat ini bisa jadi yang berkembang adalah tanaman non kehutananan seperti kelapa. 2007. dan lainnya. kelompok tani. kerapatan jalan. tiga variabel terbesar adalah rasio kelerengan lahan. Awang. Faktor-faktor biofisik dan ditambah dengan sosial ekonominya mendukung untuk berkembangnya pengelolaaan hutan rakyat di wilayah ini. Debut Press.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Gurat Hutan Rakyat. IV. Endang Suhendang. lembaga masyarakat dan lainnya. S. Sapardiono. dan rasio penggunaan lahan bukan sawah. cengkeh. H Santosa.A. yaitu tipologi wilayah yang berpotensi untuk berkembangnya hutan rakyat dan wilayah yang tidak berpotensi berkembang hutan rakyat. pemerintah. B. IPB. Awang. Jumlah desa berpotensi tinggi hasil dugaan desain penelitian ini lebih besar dari nilai acuan sebenarnya. 2. Selain itu desain kedua yang teruji adalah menggunakan desain 2 variabel. yaitu akurasi ratarata umum sebesar 64%.T Widayanti. yaitu berkisar 58 Ha setiap desa. dan S. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. Perlu penanganan yang lebih profesional untuk mengelola potensi hutan rakyat dari berbagai pihak. Hasil pengujian memiliki keragaman dalam kelompok dan antar kelompok yang baik dan nilai akurasi yang lebih besar dari yang lain. Arah Pengembangan (Development direction) suatu unit pengelolaan yang lestari. Tipologi yang terbentuk ada dua. Bogor. Agar perencanaan pengelolaan yang diterapkan dapat mewakili karakteristik masing-masing wilayahnya. W. Desain metode yang digunakan menggunakan desain 4 komponen utama (Pc1234). I Nengah Surati Jaya.

2003. Management and Policy.S.S. Economic. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisisr Kota Bandar Lampung. Studi Kemungkinan Pengembangan Konservasi Lahan melalui Hutan Rakyat. N. and an Illustration from Oregon. 1(1): 1-11. 168 . Chalenges. USA . Bogor. Smallholder. 2000. Bogor : Program Pascasarjana.Johnson. Yogyakarta. E. 2002. John Wiley & Sons. Institut Pertanian Bogor.N . 155 . Bliss. Haeruman. Davis. S. dan B.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.. Rustaman. Bettinger. S. 2003. Niskanen. Jaya. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. New York. Fourth Edition. 2003. Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa. Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat Fakultas Kehutanan IPB. Non Industrial. Hardjanto. 1984.. R. A. Method and Applications. dan A.C.3. Fakultas Kehutanan UGM. New York. Badan Penelitian dan PengembanganKehutanan. Hardjanto.R dan M. P.8 No. Review Hasil Penelitian : Hutan Rakyat. 2006. H. 2010. Forest Management : To Sustain Ecological. Bogor. 2001. Suhendang. 2(1): 1-8. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.168 Konstruksi Pengetahuan Lokal.N.Widiarti. Bogor.E. Small-scale and Family Forestry : What's in a Name? Small-scale Forest Economic. 2006. PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. 2003. I. Harrison. Small-scale Forest Economics. Mindawati. Institut Pertanian Bogor. 1991. Banyumili Art Network bekerjasama dengan Pusat Kajian Hutan Rakyat. Dillon. and Social Values. Statistik Multivariat. Abidin. L. Analisis Citra Digital : Perspektif Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. J. Tesis. dan E. Konsep dan aplikasi dengan SPSS. Sustaining Family Forest in Rural Landscapes: Rationale. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa [disertasi]. Bogor. Fakultas Kehutanan IPB.. W. Herbohn. K. D. Juli 2011. Program Pascasarjana. and T. Inc.S. Santoso. Multivariate Analysis. McGrawHill Companies. Howard. J. Jakarta Suharjito. Management and Policy. Goldstein. Rahmadia.

An analysis method using the three aspects of integrative coordination including service delivery. Jakarta 10270. Bambang H. Naskah diterima : 7 Juni 2011 1) ABSTRACT Forest/land fire is one of the main causes of global climate change. e-mail: bhsaharjo@gmail. Keywords: Coordination. di mana 169 . Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. IPB. provinsi dan kabupaten/kota. Riau demonstrates a better situation than West Kalimantan in the coordination. institution ABSTRAK Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. e-mail: halikodra@wwf. This research aims at finding empirical evidences to prove the opinion. Bakosurtanal.com Naskah masuk : 3 Januari 2011. Fakultas Kehutanan. Hadi S. Bogor. HP: +62818161166. administrative and planning is employed. fire control organization. Jl. The coordination among the involved organizations is considered ineffectual. Fakultas Kehutanan. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. e-mail: priyadi. The results of study on 42 organizations at national. although the coordination in the research sites is still insubstantial.HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Study on Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia Erly Sukrismanto . Gatot Subroto. While in West Kalimantan such relationships present in only among a few organizations at the same level and absent in between levels. HP: +628161948064. While at provincial and district levels. Alikodra . IPB. Jl. and district levels indicate that a relatively good coordination has been existent among the national level organizations. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. e-mail: erlyskm@yahoo. administratif.com 2) Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 13. Raya Jakarta-Bogor KM 46. The difference in the basis of departmentation seems to be the reason. HP: +6281210494949.com 4) Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam.or.kardono@gmail. provincial. Saharjo . Until recently the management of forest/land fire control in Indonesia is still ineffective due among others to the weakness of its fire control organization system. The relationships among Riau's organizations at each of the provincial and district levels and vertically between those levels as well as with the national one have been existent. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. Cibinong 16911 HP: +62816731777.id 3) Departemen Silvikultur. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. The study thus provides evidence that the coordination among the organizations involved in forest/land fire control has been inadequate so that management of forest/land fires is still ineffective. dan/and Priyadi Kardono4) 1) 2) 3) Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan. Bogor. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik.

oksigen. dan di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu. baik ekologi dan lingkungan maupun ekonomi. 2008). Berbagai studi menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan/lahan di Indonesia tidak hanya bersifat teknis yang berkaitan dengan penyebab fisik di lapangan yang berkaitan dengan ketersediaan unsur-unsur segitiga api (bahan bakar. PENDAHULUAN Kebakaran hutan/lahan di Indonesia berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek. 2001) dan (3) belum efektifnya organisasi yang terlibat (Young Lee dan Whitford. Malone et al. melainkan juga berkaitan dengan sosial politik (Doscemascolo. DFID dan World Bank (2007) menyatakan bahwa kebakaran hutan/lahan di Idonesia telah melepaskan sekitar 1400 metrik ton karbon dioksida per tahun.. dan panas) yang berlimpah (Chandrasekharan. 1994. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. Hubungan antar organisasi dapat berupa kerja sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat keharmonisan hubungan antar para pihak atau institusi dalam upaya merancang model sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia. Hubungan dalam pengorganisasian kebakaran hutan/lahan di Indonesia adalah kerja sama dalam bentuk koordinasi. 2006). provinsi. Suprayitno dan Syaufina. di tingkat provinsi di Riau dan Kalimantan Barat. Kata kunci : Koordinasi. sosial. atau perseteruan (Mooi. Wehmeyer et al. 1982). 2003. 2001. yakni hubungan antar organisasi. Provinsi Kalimantan Barat. 1982. institusi I. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap organisasi-organisasi di tingkat nasional di Jakarta dan sekitarnya. Mulford dan Klonglan.96 trilyun yang setara dengan 70% dari nilai PDB sektor Kehutanan tahun 1997. 2009). 2001. Organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan banyak instansi atau organisasi pemerintah. Bappenas (1999) mencatat kerugian akibat dari kebakaran hutan/lahan tahun 1997-1998 sekitar US$ 9. 2005).3. 2008). baik pada satu level maupun antar level pemerintahan.. Colman dan Han.. 1999. kompetisi. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa belum efektifnya organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan dalam menangani kebakaran hutan/lahan dan faktor-faktor penyebabnya selama ini.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2004) dan kelembagaan pengendalian kebakarannya (Simorangkir. (2) belum optimalnya hubungan antara organisasi-organisasi yang terlibat (Mulford dan Klonglan.. maupun kabupaten/kota. Teknik Pengambilan Contoh Hasil identifikasi mendapati sebanyak 42 organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan dari semua tingkatan. II. jauh di atas emisi dari sektor energi yang hanya sekitar 275 metrik ton. Pelibatan di antara pihak-pihak tersebut memerlukan suatu sistem pengorganisasian yang bekerja secara integratif dan harmonis agar efektif dan efisien (Siswanto. pengendalian kebakaran. Juli 2011. B. Selama 10 tahun terakhir jumlah rata-rata titik panas per tahun masih di atas 50 ribu titik.3 milyar atau Rp 5. METODE PENELITIAN A. 170 . Faerman et al. 2007.177 koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. 169 . sementara peran masing-masing organisasi/institusi pengendalian kebakaran kurang mendapat perhatian. Kartodihardjo. Tulisan ini menguraikan hasil studi terhadap faktor kedua. 1999). 2001. Data besarnya jumlah akumulasi titik panas (hotspot) merupakan indikator tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan/lahan (Hiroki dan Prabowo. Kajian terhadap aspek sosial politik dan kelembagaan lebih banyak menyoroti lemahnya aturan main dalam pelaksanaan serta penegakan sanksi. dan politik.8 No. Provinsi Riau dan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya. Bolland dan Wilson. Kelemahan pengorganisasian dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain (1) belum jelasnya peranan dalam pengorganisasian (Wehmeyer et al. baik di tingkat nasional. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik.

III. Kedua organisasi tersebut lebih banyak memberikan layanan dalam bentuk informasi. (2) Hubungan administrasi yang melibatkan transaksi sumber daya dianalogikan dengan bantuan organisasi lain dalam mencapai tujuan. Saharjo. padahal dengan kapasitas organisasi yang masih lemah. sedangkan di kabupaten/kota adalah Satuan Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satlakdalkarhutla). Hadi S. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang diadopsi dan dimodifikasi dari Bolland dan Wilson (1994). Bantuan Layanan. namun bantuan yang diberikan atau diterima tidak terkonfirmasi oleh organisasi lain. 3. hubungan dalam aspek bantuan layanan masih relatif terbatas. Ada dua institusi yang memiliki hubungan layanan terkonfirmasi terbanyak yaitu LAPAN dan Bakosurtanal seperti terlihat pada Gambar 2. Walaupun banyak organisasi yang saling berhubungan dalam aspek pelayanan. Dishut Provinsi Riau yang dalam struktur Pusdalkarhutla memegang peranan penting sebagai koordinator bidang pemadaman justru tidak memiliki hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi dari manapun kecuali dari Dishutbun Kab. Analisis ini melihat kaitan antara orang-orang dari dua organisasi dengan cara meminta responden menuliskan nama orangorang yang ia kenal dari organisasi lain. Kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi oleh Dishut Provinsi Riau dalam menggalang bantuan dari berbagai pihak. Pertanyaan angket tersebut berupa: (1) Client referrals (rujukan klien) yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara institusi dalam memberikan dan menerima bantuan layanan. dan 156 pejabat eselon IV. Analisis ini menggunakan kombinasi jawaban responden atas pertanyaan apakah organisasinya (a) memberi bantuan layanan kepada dan/atau (b) menerima bantuan layanan dari organisasi lain.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Inhu. Jumlah responden adalah 282 orang terdiri dari 42 pejabat eselon II. Administratif. Pengumpulan danAnalisis Data Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. upaya pemadaman masih sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Pengolahan dan analisis data menggunakan prosedur yang diadopsi dari coordination network analysis (Bolland dan Wilson. Planning. Analisis ini adalah untuk memperoleh sebuah ukuran dari bantuan layanan yang terkonfirmasi. dan Priyadi Kardono Pengambilan contoh dilakukan secara purposif di mana responden yang dipilih terdiri dari para pejabat di tingkat eselon IV sampai dengan eselon II yang sering ditugasi atau bidang tugasnya berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan/lahan pada setiap organisasi tersebut. Analisis ini menggunakan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh mana organisasi lain telah membantu organisasi responden dalam mencapai tujuan. Data primer berupa pendapat responden yang merupakan parameter yang dapat menunjukkan persepsi para pimpinan organisasi/instansi mengenai hubungan antara organisasinya dengan organisasi-organisasi lain. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Sebagai contoh. Bantuan Layanan Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi yang saling berhubungan di dalam memberikan bantuan layanan di tingkat nasional hanya 9 organisasi dari 22 organisasi yang terbentuk. bahkan di daerah tersebut tidak ada satupun hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi di antara organisasi-organisasi di tingkat provinsi dan juga di tingkat kabupaten/ kota serta antar tingkatan. 2. Di tingkat provinsi. Salah satu di antara contoh matrik hubungan bantuan layanan di antara organisasi tertera pada Gambar 1. dan (3) Perkenalan untuk mengetahui hubungan daari aspek perencanaan. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya frekuensi kebakaran hutan/lahan di daerah tersebut seperti digambarkan oleh jumlah akumulasi titik panas 171 . Bambang H. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan adalah Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutlada). maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara kedua organisasi tersebut. C. 1994) sebagai berikut: 1. Jika sedikitnya satu orang dari organisasi tersebut mengenal sedikitnya satu orang dari organisasi lain. Alikodra. Data sekunder diperoleh dari tiap organisasi yang diamati berupa dokumen profil organisasi yang berkenaan dengan hubungan dan kerja sama organisasi tersebut dengan organisasiorganisasi lain dan data keterlibatannya dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. Kondisi serupa juga terjadi di Kalbar. 84 pejabat eselon III.

1982) dan concept of capability (Ulrich. tetapi yang terjadi justru organisasi-organisasi tersebut lebih mengandalkan bantuan sumber daya dari organisasi lain. PKH Dit. sedangkan Kalbar sebanyak 9. Untuk itu. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Organisasi Dit. Menurut konsep tersebut organisasi seharusnya lebih fokus membangun kapabilitasnya sendiri. Malone et al.897 titik. 1999) harus diperjelas di dalam struktur dan uraian tugas organisasi yang akan dibangun. Diagram hubungan antar organisasi dari aspek bantuan layanan di Riau (Inter-organizational relationships on the aspect of service delivery in Riau) Gambar (Figure) 1. Di samping itu. penetapan tugas (Malone et al. misalnya. Sistem pengorganisasian yang ada saat ini mengandalkan keterlibatan banyak pihak. Hal ini terjadi karena peranan-peranan dalam koordinasi (Wehmeyer et al. Kondisi tersebut membuat kinerja dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan selama ini relatif masih rendah di semua tingkatan.177 (hotspot) yang masih relatif tinggi. 1997) belum diterapkan dengan benar. Linbun Asdep PKHL BNPB Bappenas BMKG Basarnas Bakosurtanal LAPAN Depdagri Deplu Depsos Depkes Dephub Depkeu Mabes TNI 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan (Remarks) : Angka 1 = hubungan terkonfirmasi (confirmed relation). Contoh sebagian matriks hubungan antar organisasi dalam bantuan layanan di tingkat nasional (A part of the matrix indicating the interorganizational relationships in service delivery at National level) No.3. jumlah hotspot rata-rata per tahun selama 10 tahun terakhir masih 7. 0 = hubungan tidak terkonfirmasi (unconfirmed relation) 172 . 169 .. Juli 2011. Gambar (Figure) 2.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Di Riau. Lintan Dit. tetapi hubungan perbantuan layanan masih kurang.221 titik/tahun. konsep kerja sama (Mulford dan Klonglan.. 2001..8 No. 1999) belum terdefinisikan dengan jelas. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sistem pengorganisasian yang diterapkan dalam Pusdalkarhutla di mana departementasi didasarkan pada wilayah pemangkuan kawasan.

Di Riau. 1994).. Kondisi demikian sebenarnya ditangani dengan melakukan aktivitas tambahan yang disebut coordination mechanisms (Malone dan Crowston. dan Priyadi Kardono B.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Hubungan administratif antar organisasi antar tingkatan di Kalimantan Barat (Relationships on administrative aspect among levels in West Kalimantan) C. Gambar (Figure) 3. Kondisi tersebut menegaskan kembali pengaruh sistem pengorganisasian yang diterapkan di masing-masing daerah tersebut. dari 22 organisasi yang diamati terdapat 15 organisasi yang saling membantu dalam pencapaian tujuan. hubungan administratif dalam satu tingkatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota sudah lebih terjalin di Riau daripada di Kalbar. Perencanaan Hasil analisis terhadap aspek perencanaan (planning/agenda setting) menunjukkan bahwa di tingkat nasional hampir seluruh organisasi yang diamati. Dengan perkataan lain. Hadi S. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi yang merupakan pengelolaan saling ketergantungan (Malone et al.PKH memiliki hubungan terbanyak dalam aspek tersebut. Di daerah. Hal ini juga dapat menggambarkan fakta di mana sering terjadi organisasi di tingkat kabupaten/ kota berhubungan langsung dengan organisasi di tingkat nasional tanpa melalui organisasi di tingkat provinsi. mengidentifikasi sumber daya untuk menjalankan tugas. Di tingkat nasional. Pertama adalah menyepakati tujuan bersama. Hal ini berarti dari aspek pertukaran gagasan. Alikodra. 1994). dan prosedur mobilisasinya. penetapan isu (agenda setting) 173 . sedikitnya satu pimpinannya telah saling mengenal. misalnya ketika terjadi kebakaran hutan/lahan atau bencana alam. mengidentifikasi sumber daya yang harus dimiliki atau disediakan oleh organisasi mana. organisasi-organisasi tersebut belum saling mendukung dalam pencapaian tujuan atau masih berjalan sendirisendiri. di Kalbar hubungan administratif terjadi hanya antara tingkat nasional dengan tingkat provinsi dan tingkat nasional dengan kabupaten/kota. Dit. Bambang H. Sementara itu. Administratif Hubungan administratif antar organisasi biasanya melibatkan transaksi sumber daya yang memungkinkan organisasi tersebut lebih efektif dalam mencapai tujuannya (Bolland dan Wilson. Dishut Prov dan Dinas yang menangani kehutanan baik di Riau maupun di Kalbar ternyata tidak saling terhubungkan. Saharjo. PKH Kementerian Kehutanan. AsdepPKHL dan Dit. sedangkan antara tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota serta di antara organisasi-organisasi di satu tingkatan tidak ada hubungan (Gambar 3). Hasil analisis pada aspek ini melihat seberapa jauh organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan saling membantu dalam pencapaian tujuan. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kehutanan yang selama ini dipandang sebagai penanggung jawab atau pengelola kebakaran hutan/lahan ternyata tidak memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi lain baik bantuan layanan maupun administratif. organisasi-organisasi yang diamati telah memiliki hubungan administratif antar tingkatan mulai dari tingkat tingkat kabupaten/ kota sampai dengan tingkat nasional. 1999) dan transaksi sumber daya (Bolland dan Wilson. kemudian membagi tugas. 1994) untuk mencapai tujuan belum terjalin. Hal ini dapat memberikan jawaban mengenai masih rendahnya kinerja pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/ lahan sampai sekarang.

Sedangkan di tingkat kabupaten/kota. 33/2004 tidak dapat mengelola anggaran. 1994) di antara organisasiorganisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan masih relatif kurang erat. 4. Di tingkat nasional belum terbentuk secara formal organisasi yang menangani pengendalian kebakaran hutan/lahan. baik di Kab. Inhu.8 No. 169 . Hubungan antar organisasi antar tingkat nasional. keterpaduan kebijakan atau policy integration (Meijers dan Stead. Pergantian pimpinan yang relatif cepat atau jangka waktunya pendek baik di dalam masing-masing organisasi maupun antar 174 . 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kubu Raya maupun Kab. Menurut Janssen. hubungan para pihak di Riau relatif lebih baik. Di sisi lain. Juli 2011. Di tingkat provinsi. Di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/ kota. Organisasi yang pernah ada. sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Meskipun hubungan berjalan satu arah. tetapi pada setiap SKPD terjadi pembatasan jumlah jabatan yang mendorong penetapan prioritas masalah yang lebih tajam.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. secara umum instansiinstansinya kurang saling mengenal. Hubungan antar organisasi dalam perencanaan di Riau (Interorganizational relationships on planning aspect in Riau) Satu lagi hal penting dari kajian terhadap ketiga aspek tersebut di atas yaitu fakta bahwa ternyata tidak ada hubungan yang terjadi antar kabupaten/kota meskipun dalam satu provinsi.3. sudah tidak berlaku lagi sejak era Reformasi. yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai jenis bencana. 2004) juga sulit dibangun karena konsep keterpaduan dan “kemenyeluruhan” (comprehensiveness) belum menjadi acuan. dan kebakaran hutan/lahan belum menjadi masalah prioritas. provinsi dan kabupaten/kota di Riau juga relatif lebih baik daripada di Kalbar. Provinsi Riau telah mengenal para pimpinan organisasi di tingkat provinsi maupun tingkat nasional (Gambar 4). Hal tersebut tidak terjadi di Kalbar. Gambar (Figure) 4. Anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan berada pada SKPD. belum secara eksplisit mengakomodasikan kepentingan pengendalian kebakaran hutan/ lahan. yang diindikasikan dengan lebih banyaknya pihak yang saling mengenal daripada yang terjadi di Kalbar. yakni Pusdalkarhutnas dan TKN-PKHL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan). Inhu. 2. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan (Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutlada) tidak termasuk sebagai SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang menurut UU No. Kab. 3. Hasil analisis terhadap ketiga aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa koordinasi terpadu (Bolland dan Wilson. Kondisi demikian menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan belum optimal. Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan Undang-undang No. sehingga hanya beberapa SKPD yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai salah satu jabatan dalam strukturnya atau dalam kegiatannya. Kota Dumai. rendahnya tingkat perkenalan di antara organisasi akan menimbulkan kurangnya komunikasi dan keterlibatan secara emosional yang pada dasarnya berdampak pada rendahnya produktivitas organisasi (Janssen. para pimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kab.177 maupun perencanaan telah terjadi hubungan yang relatif baik. Beberapa hal yang menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan adalah: 1. 2005). Ketapang. 2005).

Sementara itu.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. karena sebuah organisasi tunggal tidak dapat mengatasi permasalahan masa kini yang kompleks. 6. kedua Pergub tersebut tidak menjelaskan mekanisme pendanaan bagi kerja sama tersebut sehingga kerja sama tetap sulit untuk dilaksanakan. Bambang H. 91/2009 dan Pergub Kalbar No. apalagi untuk digunakan berbagi dengan instansi-instansi lain.. 2001). hubungan antar organisasi telah terjalin cukup baik di tingkat nasional. Di samping SDM dan sarpras yang masih sangat kurang. Alikodra.. Komunikasi atau pertemuan biasanya bersifat responsif ketika terjadi situasi darurat kebakaran hutan/lahan. 4. Prosedur kerja sama antar organisasi untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebenarnya juga sudah ada di Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang ditetapkan masing-masing dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Riau No. dana atau anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan juga belum tersedia. Pada aspek administratif. serta anggaran) di setiap organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan berimplikasi besar pada penanganan kebakaran hutan/lahan. KESIMPULAN Berdasarkan kajian terhadap hubungan antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. Kondisi inilah yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan menjadi kurang optimal sehingga frekuensi kejadian kebakaran tetap relatif tinggi. 2. dan salah satu bentuknya adalah berbagi sumber daya (Malone et al. Kurangnya komunikasi dan pertemuanpertemuan antar organisasi. Implikasi Terhadap Kebakaran Hutan/ Lahan Kondisi hubungan antar organisasi yang masih kurang harmonis baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan tersebut di atas berimplikasi terhadap penanganan kebakaran hutan/lahan. Organisasiorganisasi tersebut perlu membentuk jejaring yang kuat dengan peranan-peranan koordinasi (coordination roles) yang jelas (Wehmeyer et al. Hubungan antar organisasi pada aspek perencanaan juga terjalin baik di tingkat nasional. Koordinasi adalah suatu upaya untuk mengelola ketergantungan di antara berbagai pihak. 1982). provinsi maupun kabupaten/ kota. tetapi masih lemah di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota maupun antar tingkatan. Kurang jelasnya uraian tugas dan tidak ditetapkannya pejabat tertentu untuk menangani kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi serta kebiasaan mewakilkan pada staf untuk menghadiri pertemuan antar organisasi membuat penanganan masalah kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi tidak fokus dan para pejabat/pimpinan organisasi tidak saling mengenal. Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutla memang sudah ada. 1999). sekalipun memiliki sumber daya yang mencukupi (Mulford dan Klonglan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya (manusia dan sarpras) pada instansi-instansi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran pada umumnya tidak tersedia secara memadai. baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Berdasarkan kondisi sumber daya yang terbatas tersebut maka perlu adanya kerja sama antar organisasi yang efektif dan efisien. Saharjo. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam Pusdalkarhutlada atau Satlakdalkarhutla lemah karena hampir tidak ada sumber daya untuk berbagi. Hadi S. D. dan Priyadi Kardono organisasi membuat para pimpinan organisasi kurang berkesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama menyusun dan menyepakati serta memahami tata hubungan kerja atar organisasi. 5. Bantuan layanan di antara organisasi dalam pengendalian kebakaran belum efektif baik di tingkat nasional. IV. tetapi belum menjadi jejaring yang kuat karena koordinasi yang masih lemah. 103/2009. Rendahnya tingkat jejaring kerja dan sumber daya (manusia. namun masih lemah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. 3. sarana dan prasarana. 175 . Pusdalkarhutlada maupun Satlakdal-karhutla di lokasi penelitian belum termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga tidak dapat memperoleh dan mengelola anggaran dan akibatnya operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran di instansi-instansi anggotanya. hanya beberapa instansi anggota yang memiliki anggaran untuk kebakaran hutan/lahan dalam jumlah yang relatif sangat kecil. maka dapat disimpulkan: 1. Penanganan kebakaran hampir tidak mungkin dilakukan sendirian oleh masingmasing organisasi karena masih sangat lemahnya kapasitas organisasi. Sayangnya.

2003. Janssen. 169 . Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. B. C. M. Wilson. Vu. Pemerintahan Daerah di Indonesia. A. www.A. Indonesia.M. Juli 2011. K. Tools for Inventing Organizations: Toward a Handbook of Organizational Processes. Crowston. Chandrasekharan.8 No..P. J. National Development Planning Agency.S. 11(1):16-23 Kartodihardjo.3. C. Bakry L.de/ffu/akumwelt/bc2004/ download/meijers_stead_f. Lee. dan J. A. H. Jakarta: Bappenas. Dellarocas. Crowston. Management Science 1999. Prabowo. Jakarta.. Inter-organizational Cooperation. pp 204-282 Colman. 2010.pdf.. G. Hasil Penggunaan Citra Satelit NOAA-AVHRR dan Himawari untuk deteksi Hot Spot di Stasiun Bumi Satelit NOAA-AVHRR/ Himawari FFPMP. Pengaturan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah. hlm 218-222. M. J. Hiroki. Policy integration: what does it mean and how can it be achieved? A multi-disciplinary review. 1994... Http://dare.Interlinkages and Policy Integration. AS: The Graduate Division on the University of Hawaii. Edu. Vrije Universiteit Amsterdam.W. http:// www.. Diakses tanggal 28 Jan 2009. editor). Dalam: Ramses AM. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. Herman.co.pdf. 1994. Evolution of Instutional Rules: An Immune System Perspective. 2006. I dan D.. Organizational Roles and Players. D.P. O'Donnell.pdf. rehabilitation and trans-bundary issues. dan J. editor. 1999. T. Disertasi. 2004 Berlin Conference on the Human Dimensions of Global Environmental Change: Greening og Policies . Dalam Health Services Research 1994.W. Pemerintahan Daerah di Indonesia. Hawaii. Proceedings International Cross Sectoral Forum on Forest Fire Management in South East Asia. Diakses tanggal 29 Okt 2010. Republic of Indonesia/JICA and ITTO. Han. control. E. editor. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. dan K. Husaeni EA.177 DAFTAR PUSTAKA Bakry. dan Bakry L. S. B. editor.. Understanding Interorganizational Cooperation: Public-Private Collaboration in Regulating Financial Market Innovation (abstrack).nl/bitstream/1871/ 12681/5/7725. Planning for Fire Prevention and Drought Management in Indonesia.. 2004. Organization Science 2001. dan D.A.G. J. The Mission on Forest Fire Prevention and Management to Indonesia and Malaysia (Serawak): Tropical forest fire: prevention. Working Paper: Indonesia and Climate Change Current Status and Policies. C.au/personal/acolman/pub/ColmanA AAI_FS05. 2005. Conflict.jstor. E.fu-berlin.. Disertasi.org/pss/3086014 [28 Jan 2009].swin. 2004. Stead. Final Report Volume 1. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks Pemerintahan Umum. McCaffrey dan D. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Di dalam: Suratmo F. Burning Issues: Control of Fire Management in Central Kalimantan. L. G. G. and Change. Malone. dan Surati Jaya N. 2009.M.. Osborn. Inc.peace.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Refleksi Kerangka Pikir Rimbawan Menguak Masalah Institusi dan Politik Pengelolaan Sumberdaya Hutan. Pentland. 176 . 2007. hlm 264-277. http://www. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Faerman. dan E. Computing Surveys 26(1):87-119.ict. Quimby. Meijers. 29-3:341-366. A. Slyke.W. Willey Periodicals. Diakses tanggal 22 Jan 2009. [DFID] Department for International Development and World Bank.R. 45-3:425-443. 2007. http:// web.ubvu.. Three Faces of Integrative Coordination: A Model of I n t e ro rg a n i z a t i o n a l R e l a t i o n s i n Communit-Based Heath and Human Services. 1999. hlm 259-270 Hoessein. Dalam: Ramses AM. 2001. Bolland. (Nugroho. Mooi. Klein. Bernstein. Malone.V.id [27 Jan 2009] Doscemascolo.. The Interdisciplinary Study of Coordination. T. Wyner.A. et al. [Bappenas] National Development Planning Agency. 2009. 12(3):372-388. 1999.

Pengantar Manajemen. 2008.informatik. Dalam Suyanto S. Bogor: Proyek Penelitian Kebakaran Hutan dan Lahan ICRAF dan CIFOR. Syaufina. The Organization of the Future.. C.. (editor). Bambang H. Jakarta: PT.rwth-aachen. Prosiding Seminar Sehari Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Sosial Ekonomi dalam Kaitannya dengan Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera. Goldsmith M. Diakses tanggal 29 Okt 2010. 177 . Dalam: Hesselbein F. Creating Coordination Among Organizations:an orientation and planning guide North Central Regional Extension Publication 80. dan Setijono D. Young Lee. 2001. and G. BumiAksara Suprayitno dan L. Saharjo. Reimer.B. 1982. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Korea International Cooperation Agency. Http:// www-i5. http://ssrn. Tinjauan Singkat Kerangka Hukum dan Kelembagaan dalam Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. dan B. D. The Netherlands..com/abstract= 1081642. hlm 189-196 Wehmeyer. Ulrich. K. Applegate G. Roles and Trust in Interorganizational Systems. 2001. dan Bechard R. Siswanto. Whitford.L.E.B.. P. D.de/ conf/ rseem2001/. 2009. S. [Ames. 1997. 2001.. K. Maastricht. dan A. Diakses tanggal 08 Mei 2008. Iowa State University]. dan Priyadi Kardono Mulford. Simorangkir.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. San Francisco: Jossey-Bass Pusblishers. Hadi S. 2008. editor. Organizing Around Capabilities. 1997. Schneider. Government Effectiveness in Comparative Perspective . Proceedings of the Eight Research Symposium on Emerging Electronic Markets (RSEEM 01). Klonglan. Alikodra. Permana R. Iowa : Cooperative Extension Service. Pengendalian Kebakaran Hutan. H.

Burlian KM. H. 9.15 %. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9.e. Palembang.39. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. di lokasi KHDTK Kemampo. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. Keywords: Heritability. Sumatera Selatan.073.430 and 1. genetic gain. because the heritability value was relatively low. 6. diameter. These results could be applicable for selection purpose.15 %. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. South Sumatera. i. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.721. because it may done based on just one character. 14. The contribution of the genetic component to total variation was relatively low. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. 0.02 (individual) and 0. Genetic gain estimation at the age of 3 years was relatively low. i. genetic correlation.574.306 respectively. Randomized Complete Block Design was applied using 35 clones.02 (individu) dan 0.88.39. i. respectively.026 (individu) dan 0. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. while the contribution of stem form was relatively higher.09 and 0. stem form and volume were 1. South Sumaterat Agus Sofyan Mohammad Na'iem Sapto Indrioko 1) 1 2 2 Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. i.PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L. i. located at KHDTK Kemampo. block and interaction between clone and block. i. SUMATERA SELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi.49 % untuk karakter tinggi dan 1./Fax.e. genetic variation. sebesar 0.28 %. Selection index of the best five clones of 24. and between height and stem form was 0.09 dan 0.49 % for height and 1. 0. i.026 (individual) and 0. Box 179. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. but the variation was relatively low in comparison to other variation sources. 1. But for stem form were relatively high. heritability and expected genetic gains based on tree height. diameter and stem form characters.e.43 % and 8. Genetic correlation between height and diameter was 1. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. the estimation of expected genetic gain at the age of 3 years for a height. 35 and 11 were 3.e. Universitas Gadjah Mada Naskah masuk : 5 Agustus 2010. diameter. Po. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. clone.5 Puntikayu. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik.40 %. dengan 4 blok.01 (overestimate). karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0.28 % 179 . Naskah diterima : 13 Juni 2011 ABSTRACT The objective of research were to determine the level of genetic variation. Kol. Sumatera Selatan Telp. 1.13 (clone) for diameter.16 (clone) for height character and 0.16 %.13 (klon) untuk karakter diameter. 36. 1. 4 blocks and 3 treeplots in a spacing of 3 × 3 m.73 % for diameter. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. while between diameter and stem form was very high.e. (0711) 414864 2) Fakultas Kehutanan.73 % untuk diameter.e. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji.16 (klon) untuk karakter tinggi. 3. 2.67. diameter dan bentuk batang. Based on an assumption of using the best five clones. teak.e. 1. 0. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. The research was conducted in 3 years old teak plantation. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. The result of the research showed that there were genetic variation among clones.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. respectively.

korelasi genetik serta peningkatan genetik masing-masing karakter pertumbuhan.67. sementara potensi sumber daya alam semakin menurun. Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam uji klon jati adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan 4 blok sebagai ulangan. terlebih jenis jati yang sangat populer serta risetnya yang sudah sangat maju (Bhat. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. 2004 dalam Bramasto dan Suita. jati. Jarak tanam 3 m x 3 m. 1990). pembangunan dan pengembangan hutan tanaman sesungguhnya mempunyai prospek yang cerah. Beberapa negara yang memproduksi kayu jati berdaur pendek adalah Bangladesh. 36 (1. Bahan dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada pertanaman uji klon jati berumur 3 tahun dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul.43 % bentuk batang serta 8. 1. 2004). Ghana. sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebesar lebih 3 kurang 2 juta m .574).306).7210). 180 . yang dalam perkembangannya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan industri kertas atau pulp. Muna dan Thailand).4 juta m . Dengan tingkat kebutuhan bahan baku kayu yang demikian tinggi.3. Variabel yang diukur Tanaman diukur pada umur 3 tahun. Kata kunci : Heritabilitas. masing-masing unit terdiri atas 3 treeplot. Saat ini. Sementara untuk kebutuhan kayu pertukangan maupun mebeler masih mengandalkan hutan alam. Nigeria. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. Upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu telah dilakukan pemerintah melalui program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). jati merupakan salah satu jenis yang dikembangkan sebagai hutan tanaman yang cukup luas di dunia dan telah ditanam pada lebih dari 36 negara tropis di Asia.88. hanya 3 dapat dipenuhi sebesar 400 ribu m . 2005). kebutuhan kayu 3 jati pada tahun 2005 sebesar 2. di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. II.073). begitu banyak negara yang tertarik mengembangkan jati dikarenakan kualitas kayunya yang bagus. potensi jenis jati yang dikelola oleh Perum Perhutani juga sudah sangat menurun. Muna dan Thailand). Kabupaten Banyuasin. Madiun. dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. dengan menggunakan benih atau klon unggul hasil seleksi. 179 . volume kayu serta bentuk batang (Cotterill dan Dean.01 (overestimate). 35 (1. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendukung upaya pengembangan perhutanan klon berdaur pendek dengan produktivitas tinggi. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. BAHAN DAN METODE A. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. Menurut Iskak (2005). Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. Variabel yang diukur adalah sifat atau karakter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman. berturut-turut nomor 24 (3. telah dikembangkan pengelolaan hutan tanaman dengan daur yang lebih singkat. uji klon.40 % untuk volume.186 untuk karakter tinggi.16 % diameter. Menurut Na'iem (2000). Wono giri. korelasi genetik. heritabilitas. variasi genetik I. Juli 2011. serta sifat silvikulturnya secara umum telah dikuasai. Adapun tujuan khususnya adalah untuk mengetahui variasi genetik antar klon. Myanmar. Madiun. awet serta bernilai ekonomi tinggi. India. Thailand. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai luasan hutan tanaman jati setelah India (ITTO. diameter batang setinggi dada). B.8 No. Sumatera Selatan. 2003). PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan taraf hidup manusia telah menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku kayu. Cepu. Metode Penelitian 1. Penelitian dilakukan pada bulan Januari . Afrika maupun Amerika. 2.430) dan 11 (1. Sebagaimana halnya jenis-jenis yang berasal dari hutan alam.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dengan tingkat kebutuhan.Desember 2008. perolehan genetik. Brazil dan Indonesia (Siregar dan Mansur. 14 (1. 3. Wonogiri. Cepu. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0.

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

3.Analisis data Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians, dengan model analisis varians (linear model) yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel and Torrie, 1991) : Yijkl = µ +Bi + Pj + Kk(Pj) + BK ik + Eijkl Keterangan : Yijkl = Pengamatan pohon pada blok ke i, Populasi ke j, klon ke k, individual ke l µ = Rerata umum Bi = Efek blok ke i Pj = Efek Populasi ke j Kk(Pj) = Efek klon ke k dalam populasi ke j BK ik = Efek interaksi blok ke i dan klon ke k Eijkl = Random error pada pengamatan ke ijkl Untuk mengetahui parameter genetik dilakukan melalui penaksiran terhadap nilai heritabilitas, perolehan genetik serta korelasi genetik antar sifat pertumbuhan. Nilai heritabilitas yang dihitung adalah nilai heritabilitas individu atau klon, yang ditaksir melalui komponen varians yang diperoleh dari hasil analisis varians. Wright (1976) dan Zobel dan Talbert (1984), menggunakan rumusan taksiran nilai heritabilitas dengan materi vegetatif (klon), sebagai berikut :
2

S = diferensial seleksi i = intensitas seleksi (Becker, 1992) p = standart deviasi phenotipe Analisis korelasi genetik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sifat tinggi dan diameter secara genetis, yang dilakukan deengan menggunakan rumus menurut Zobel and Talbert (1984) : k ( xy )

rG (
2 k(x)

x

2

k ( y)

)

Keterangan : rG = korelasi genetik 2 k(xy) = komponen kovarians untuk sifat x dan y 2 k(x) = komponen varians untuk sifat x 2 k(y) = komponen varians untuk sifat y Selanjutnya besarnya komponen kovarian untuk dua sifat tersebut ( x dan y) dapat dihitung dengan rumus (Fins et, al. 1982) yaitu sebagai berikut : 2 2 2 k(xy) = 0,5 ( k (x+y )kx ky) Keterangan :
2 k (x+y )

= komponen varians untuk sifat x dan y.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persen Hidup dan Pertumbuhan

h= H2k=

2 i

k 2
2 k

2

k

2

, dan
e

kb

2

k

(

2

kb

/ B)

(

2

e

/ NB )

Keterangan : h2i = Nilai heritabilitas individu (ramet) H2k = Nilai heritabilitas klon 2 k = Komponen varians klon 2 e = Komponen varians error 2 kb = komponen varians interaksi klon-blok B = Jumlah blok N = jumlah ramet per plot Untuk menduga besarnya perolehan genetik digunakan rumus menurut Zobel dan Talbert (1984) : G = H2 x S atau G = H2 x i x Keterangan : G = taksiran perolehan genetik H2 = heritabilitas
p

Daya adaptasi keseluruhan klon pada umur 3 tahun nampak menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai rerata persen hidup yaitu sebesar 84,52% serta pertumbuhan tanaman yang sangat baik dibandingkan dengan rerata pertumbuhan pada beberapa uji klon jati lainnya, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Perbedaan pertumbuhan selain disebabkan oleh perbedaan materi (klon), juga dapat disebabkan oleh perbedaan faktor lingkungan tempat tumbuh (edafis) yang terkait jenis dan kesuburan tanah, intensitas pemeliharaan serta faktor iklim (klimatis) terutama curah hujan. Menurut Sheldbourne (1972) dan Goddart (1979) dalam Zobel dan Talbert (1984), faktor lingkungan edafis memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pertumbuhan dibanding dengan faktor iklim atau klimatis.

181

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.3, Juli 2011, 179 - 186

Tabel (Table) 1. Rerata pertumbuhan uji klon jati di KHDTK Kemampo serta beberapa hasil uji klon pada lokasi lainnya (Average of growth clonal test of teak in KHDTK Kemampo and others location) Pertumbuhan (Growth) Umur (Age) Tinggi Diameter Sumber (Literature) Lokasi (location) Tahun (year) ( Height) (Diameter) (m) (cm) Sofyandan Syaiful Kemampo, Sumsel 3 7,76+1,75 7,41+1,36 (2008) Bojonegoro, Jawa Timur 5 6,20 6,10 Siswamartana dan Ngawi, Jawa Timur 5 6,00 8,60 Wibawa (2005) Ciamis, Jawa Barat 5 8,20 10,10 Cepu, Jawa Tengah 5 6,65 7,05 B. Variasi Genetik Hasil analisis varians, sebagaimana disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada sumber variasi klon, hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik antar klon. Adanya variasi genetik akan memberikan peluang dalam meningkatkan perolehan genetik melalui tindakan seleksi terhadap klon-klon terbaik. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa sumber variasi blok dan interaksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata bagi pertumbuhan. Hasil interaksi yang sangat nyata mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan tanaman bukan hasil dari kinerja klon atau genetik semata, namun merupakan hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungannya (Kramer & Kozlowski, 1979). Menurut Matheson dan Raymond (1984) penelitian yang menggunakan bahan atau materi vegetatif (klon) seringkali dihasilkan interaksi yang sangat kuat antara klon dengan faktor lingkungannya. Hal tersebut terjadi karena materi klon bersifat sangat reaktif terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh, terutama unsur phosfor, boron dan sulfur (Windsor dan Kelly, 1971 dalam Matheson dan Raymond, 1984). Dengan adanya variasi antar klon, maka terbuka peluang untuk memperoleh peningkatan genetik pada generasi berikutmya. Namun demikian seberapa besar peningkatan yang dapat diperoleh, sangat tergantung pada besarnya proporsi sumbangan variasi faktor genetik terhadap variasi total. Untuk mengetahui besarnya proporsi variasi yang disebabkan oleh faktor genetik serta faktor lainnya, perlu dilakukan analisis komponen varians. Hasil perhitungan taksiran komponen varians selengkapnya disajikan dalam Tabel 3. Besarnya taksiran komponen varians menggambarkan besarnya proporsi sumbangan (kontribusi) setiap sumber variasi terhadap variasi total.

Tabel (Table) 2. Hasil analisis varian pertumbuhan uji klon jati pada umur 3 tahun (analysis of variance for growth on 3 years measurement in clonal test of teak)
Umur (Age) Sumber Variasi (Source of variance) Blok Populasi Klon Klon x Blok Error Derajat Bebas (df) 3 5 29 101 206 Nilai rerata kuadrat tengah (Mean square) Tinggi (Height ) 14,5295** 1,3971ns 2,7896** 2,2789** 1,2016 Diameter (Diameter) 27,3177** 1,4923 ns 2,5148** 2,1296** 1,2969 Volume (Volume) 0,001308** 0,000135** 0,000165** 0,000112 Bentuk Batang (Stem form) 0,7911 ns 3,0574 * 1,7826** 0,8293**

3 Tahun (3 Years)

Keterangan (Remarks) : * = berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Significant at 0,05 level) **= berbeda nyata pada taraf uji 0,01 (Significant at 0,01 level) ns = berbeda tidak nyata (Non-significant)

182

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

Tabel (Table) 3. Taksiran komponen varians dan proporsi sumbangan (%) sumber variasi terhadap variasi total pada umur 3 tahun (The estimated of proportion and variance component of source of variance on 3 years)
Sumber Variasi (Source of variance) Umur
2 b 2 p 2 k(sb) 2 kb 2 e 2 total

Karakter tinggi (Height) Tkv 0,1408 -0,0326 0,0448 0,4441 1,2016 1,7988 % 7,83 -1,80 2,49 24,69 66,80 100,00

Karakter diameter (Diameter) Tkv 0,2914 -0,0240 0,0337 0,3435 1,2960 1,9410 % 15,01 -1,24 1,73 17,69 66,79 99,98

Kombinasi tinggi x diameter (Combination of height x diameter) Tkv % 0,8465 -0,1431 0,1577 1,5330 4,1300 6,5238 12,97 -2,19 2,42 23,50 63,30 100,00

Bentuk batang (stem form) Tkv 0,0129 0,0 0,1218 0,3929 0,8293 1,3310 % 0,97 0,0 9,15 29,52 62,30 100,00

Keterangan (Remarks) : Tkv = taksiran komponen varians (variances component estimate), 2 = komponen varian, b = blok (block), p = populasi (population), k = klon (clon), kb = interkasi klon x blok (interaction clon x block), e = error, % = persentase dari total variasi (presntation of variation total)

Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen varians klon (komponen varians genetik) memberikan sumbangan (kontribusi) sangat kecil terhadap variasi total, yaitu masing-masing sebesar 2,49 %, 1,73 % dan 9,15 % untuk karakter tinggi, diameter dan bentuk batang. Hasil ini menggambaran bahwa pada umur 3 tahun, pengaruh faktor genetik terhadap pertumbuhan relatif masih sangat kecil. Sementara komponen varians interaksi masingmasing sebesar 24,69 %, 17,50 % dan 23,50 untuk karakter tinggi, diameter dan kombinasi kedua sifat tersebut. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pada umur 3 tahun pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan tanaman masih relatif sangat kecil. C. Heritabilitas Heritabilitas merupakan parameter yang mengambarkan seberapa besar sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya dan Tabel (Table) 4.

merupakan suatu hal sangat penting, karena terkait erat dengan perolehan genetik serta strategi pemuliaan pohon dalam memperoleh peningkatan genetik (Zobel dan Talbert, 1984). Heritabilitas yang tinggi menunjukkan adanya peluang perolehan genetik yang besar. Besarnya nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai-nilai komponen varians dari masing-masing karakter, selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Dari hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa untuk semua variabel/karekter yang diukur, secara umum dapat dikatakan mepunyai nilai heritabilitas yang relatif rendah, baik heritabilitas individu maupun famili. Menurut Hardiyanto (1994) dalam Leksono (1994) nilai heritabilitas untuk famili (klon) sebesar 0,40 - 0,60 dikategorikan sedang, kurang dari 0,40 adalah rendah dan lebih dari 0,60 termasuk dalam kategori tinggi.

Taksiran nilai heritabilitas untuk semua karakter pada umur 3 tahun (The estimated of heritability of all character's on 3 year's).
Tinggi (Height) h2i h2k 0,03 0,16 Karakter (Character) Diameter Volume (Diameter) (Volume) h2i h2i h2k h2k 0,02 0,13 0,05 0,30 Bentuk batang (Stem form) h2i h2k 0,09 0,39

Umur (Age)

3 Tahun (3 years)

Keterangan (Remarks) : h2i =heritabilitas individu (Individual heritability) 2 h k =heritabilitas klon (Clones heritability)

183

Dengan intensitas seleksi tersebut. jumlah unit percobaan (ramet per klon) serta jumlah replikasi (blok) juga sangat berpengaruh terhadap nilai heritabilitas.28 1.86 (m) 7.186 Rendahnya nilai heritabilitas pada uji klon ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.0258 m3/phn Diameter (diameter) 7. maka perolehan genetik juga relatif rendah.40 %).160 sesuai tabel intensitas seleksi menurut Becker (1992).00 3. Hasil di atas menunjukkan bahwa perolehan genetik untuk karakter tinggi (0. Sementara menurut Russel dan Libby (1986).0265 m3/phn 0.16 0. maka nilai heritabilitas akan semakin besar.14 0.48 (cm) 7.981. Hal ini disebabkan karena nilai komponen varians bentuk batang yang cukup besar.03-3. dapat menyebabkan nilai heritabilitasnya menjadi rendah.43 3.40 3. Taksiran nilai heritabilitas yang tinggi akan menghasilkan perolehan genetik yang tinggi (besar). semakin banyak jumlah unit percobaan dan replikasi. Taksiran perolehan genetik dan peningkatan sifat pada Uji Klon Jati pada umur 36 bulan. Dalam uji klon ini jumlah unit percobaan yang relatif sedikit yaitu 3 treeplot dengan 4 blok sebagai ulangan.81 3.55 Peningkatan sifat (Improve of character) 7. dengan nilai intensitas seleksi masing-masing sebesar 1.044 4. Juli 2011.47 (cm) 4. sangat erat kaitannya dengan nilai heritabilitas masingmasing karakter atau sifat.8 No. karena pada kondisi tersebut nilai heritabilitasnya menjadi sangat rendah.89 0. Sumsel (The estimated of genetic gain on clonal test of teak at KHDTK Kemapo.85 (m) 7.028 0.55-8.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Perolehan Genetik Taksiran perolehan genetik merupakan suatu nilai kuantitatif dari respon populasi atas adanya seleksi pada populasi tersebut. 20 % (7 klon) dan 15 % (5 klon).360 dan 1. Seberapa besar perolehan genetik dapat dicapai.98 1. yaitu hampir 4 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik (klon) untuk karakter tinggi dan 5 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik untuk karakter diameternya (Tabel 3). Hasil penelitian yang dilaporkan Russel dan Libby (1986) menunjukkan bahwa penambahan jumlah unit percobaan pada uji klon Pinus radiata.527.91 0. Menurut Shelbourne (1972) bahwa pengaruh interaksi yang 2 menghasilkan komponen varians ( kb) yang jauh lebih besar daripada komponen varians genetiknya.49 (cm) 7. Perolehan genetik juga dipengaruhi oleh intensitas seleksi. 179 .28 %) dan diameter (0. South Sumatera) Karakter (Character) Tinggi (height) Rerata (Average) 7. D. relatif rendah dibanding bentuk batang (3.3. sehingga sifat-sifat tersebut lebih mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan.025 m3/phn 184 .0271 m3/phn 0. dibanding dengan nilai komponen 2 varians interaksi ( kb).84 (m) 7. dapat menjadi masalah serius dalam perolehan genetiknya. di KHDTK Kemampo. jika nilai heritabilitasnya rendah.03 8. begitu pula Tabel (Table) 5. akan diseleksi sebesar 30 % (10 klon). Hal lain yang dapat menyebabkan rendahnya heritabilitas menurut Kuntiyati (1995) dalam Wibowo (2002) adalah karena sifat-sifat kuantitatif (tinggi.764 (m) Jumlah klon (Number of clone) 5 7 10 5 7 10 5 7 10 5 7 10 Perolehan genetik (%) (Genetic gain) 1. antara lain karena rendahnya nilai komponen varians 2 genetik ( k).412 (cm) Bentuk batang (stem form) Volume (volume) 3. Dalam penelitian ini perolehan genetik dihitung dengan asumsi bahwa dari 35 klon yang diuji.043 4. lebar) banyak dikendalikan oleh gen minor yang porsi pengaruhnya sangat kecil dan berbeda-beda.40 6. telah meningkatkan nilai heritabilitas yang signifikan. 1.81-1. panjang. diperoleh hasil perhitungan taksiran perolehan genetik sebagaimana disajikan pada Tabel 5.16 %).43 %) dan volume (3.

maka peluang peningkatan genetik yang dapat diperoleh akan menjadi lebih besar. baik dari sisi anggaran maupun waktu. Namun demikian untuk uji klon ini. Hal tersebut sangat penting guna diperolehan peningkatan genetik sebagaimana yang diharapkan. Sapto Indrioko halnya dengan nilai heritabilitasnya yang jauh lebih besar yaitu 0. 185 .67. namun sumbangan variasinya terhadap total variasi relatif sangat rendah yaitu 2. maka kemungkinan terjadinya perubahan pada koefisien komponen varians genetik serta heritabilitasnya pada saat umur tanaman bertambah (lebih tua) masih sangat dimungkinkan dapat berubah.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. Korelasi genetik antar sifat pada uji klon jati umur 3 tahun di KHDTK Kemampo.01 ( overestimate ). South Sumatera) Umur (Age) Tinggi (Height) 3 Tahun (3 Years ) Diameter (Diameter) Karakter/sifat (Character) Tinggi (Height) - Bentuk batang (stem form) 0.01 0. dengan harapan secara tidak langsung akan dapat memperbaiki karakter yang lainnya (Zobel dan Talbert. Tabel (Table) 6. Isik dan Kleinschmidt. Korelasi Genetik Korelasi genetik mempunyai arti yang sangat penting dalam program pemuliaan pohon. sementara untuk karakter tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0. Korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk bantang menunjukkan hubungan korelasi yang cukup kuat.16 dan 0. karena korelasi genetik yang diperoleh dari tanaman yang masih sangat muda dimana kinerja genetik masih relatif labil (belum cukup stabil).67 1. dimana pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Korelasi genetik antar sifat tinggi dengan diameter sebesar 1. Sementara korelasi antar karakter diameter dengan bentuk batang sebesar 0. yaitu sebesar 0. E. maka masih perlu untuk dikaji hubungan korelasinya dalam beberapa tahun ke depan saat umur tanaman relatif lebih tua. KESIMPULAN 1. maka seleksi cukup didasarkan pada satu karakter yaitu diameter. Sumatera Selatan Agus Sofyan.30 untuk bentuk batang dan 0. Peningkatan genetik juga menjadi semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat intensitas seleksi (Tabel 5). Dari hasil tersebut nampak bahwa dengan nilai komponen varians genetik serta heritabilitas yang lebih besar. karena dengan hanya memprioritaskan pada karakter diameter sesungguhnya akan diikuti dengan perbaikan karakter tinggi dan bentuk batangnya.01 merupakan nilai yang bersifat overestimate. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa apabila hendak melakukan seleksi. Koefisien korelasi genetik menggambarkan seberapa besar sesungguhnya hubungan keeratan antar karakter secara genetik. 2005). Dengan demikian pelaksanaan seleksi akan menjadi lebih efisien.13 (Tabel 4). 1984). Mengingat bahwa umur tanaman masih relatif sangat muda yaitu 3 tahun. Dari 35 klon yang diuji terdapat variasi genetik antar klon.88. Sumatera Selatan (genetic correlation on clonal test of teak at KHDTK Kemampo. 1.88 IV. terutama untuk mengembangkan dua karakter atau sifat yang berbeda dengan berdasarkan pada penerapan seleksi atas satu karakter. Hasil ini menggambarkan bahwa karakter diameter mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap karakter tinggi maupun bentuk batang. Hasil perhitungan korelasi genetik antar karakter (diameter dan tinggi) selengkapnya disajikan pada Tabel 6.49 %.73 % diameter dan 9. saat kinerja genetik tanaman sudah relatif stabil.39 untuk volume. untuk karakter tinggi. hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya rasio antara komponen varians genetik dengan komponen varians interaksinya (Matheson dan Raymond. 2. Mohammad Na'iem. dengan demikian peluang perolehan genetik yang lebih besar tetap bisa diharapkan.Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. Korelasi genetik antara karakter tinggi dengan diameter sebesar 1.15 % untuk karakter bentuk batang.1984 .

Kramer. Applied Forest Tree Improvement..3. Variasi Genetik Produksi Getah Pinus merkusii Jungh et. dan Kleinschmit. Seperempat Abad Pemuliaan Jati Perum Perhutani. Cotterill. P. Siregar. Early Performance Clonal Test of Teak in Perum Perhutani. J. Yogjakarta. Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu. M. masing-masing sebesar 0. 186 . 1990.40 % untuk bentuk batang dan volume.28 % dan 1. Vol 7 (5). tidak dipublikasikan. Yogjakarta.P. 2000. 3. 2005. Pemeliharaan Jati (Tectona grandis) di KHDTK Kemampo. Bramasto. Proceeding of The International Conference on Quality Timber of Teak From Sustainable Forest Management.A.186 sementara korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk batang serta diameter dengan bentuk batang. London. 2004. Vol V.J. Sofyan. A. 2005. Posisi Benih Unggul Versus Silvikultur Intensif Dalam Pembangunan Hutan Rakyat Jati. 2008. K. Russell. Theor Appl Genet (2005) 110 : 311-322. Shelbourne. Taksiran peningkatan genetik yang diperoleh adalah sebesar 1. USA. 2005. Successful Tree Breeding With Index Selection. Canadian Juornal of Forestry Research. CSIRO Division of Forestry and Forest Product. International Forestry Review. Physiology of Woody Plant. India 2-5 Desember 2003. Prosiding Seminar Nasinal. 2002. 1972.43 % dan 8. Matheson.67 untuk dan 0. IUFRO Genetics-Sabrao Joint Symposia.16 % untuk karakter tinggi dan diameter. New York. The Impact of Genotype x Environment Interactions on Australian Pinus radiata Breeding Program. A. W. dan Wibawa. C. 2003. Academic Enterprise. 1984. Academic Press. B. dan Suita. and. A. K. Manual of Quantitative Genetics. Wibowo.8 No. R. Buletin Penelitian Pusbanghut. I. 1986. dan Syaiful. dan C. Isik. 1986. Dean. Genotype-environment Interaction : Its Study and its Implications i n F o re s t r y I m p ro v e m e n t .D dan J. Quality Timber Product of Teak From Sustainable Forest Management. P u s a t L i t b a n g H u t a n Ta n a m a n . P. 1979. Bhat. Siswamartana. 2005.Z. dan Libby. 2000. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani. Leksono. Steel.A. Balai Penelitian Kehutanan Palembang (tidak dipubikasikan). Tesis. J.J.J. 3. Clonal Testing Efficiency : The Trade-off Between Clone Tested and Ramet per Clone. Similarties and effectiveness of tes eninvironments in selecting and deploying desirable genotypes. Perum PERHUTANI. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia. Y.M. Evaluasi Uji Klon Jati Pada Umur 15 bulan. 1994. 2002.G. Tema Menjawab Tantangan Pengembangan Jati Rakyat dan Pemasarannya. 179 . Prinsip dan Prosedur Statistika. dan Mansur. Sanfransisco. New York. dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. Yogjakarta.T.J and T. 2004. PT. I. Na'iem. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Torrie. Pullman. S. Zobel. Talbert. 2005. 2005.H. Juli 2011. 1991. C. A. dan Raymond. A. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Dengan IPTEK Membangun Hutan Tanaman Demi Kemakmuran Bangsa dan Terciptanya Kelestarian Lingkungann. Wanagama. J.de Vriese. E. P r o c . 1984.Australia. John Wiley and Sons. Tokyo. Yogyakarta. Jakarta.88. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat ini. Variasi Pertumbuhan Tanaman Jati dari Berbagai Klon di Kebun Percobaan Rumpin. No 03. Peechi. I. Vol. Produktivitas Tegakan Jati JPP Intensif sampai dengan Umur 20 Tahun ke Depan. Quality Concerns of Sustainable Teak Wood Chain. Iskak. Gramedia Pustaka Utama. Fifth Edition. Makalah disampaikan dalam pertemuan Forum Komunikasi Jati. C.H. Laporan Penelitian. M. Kozlowsky.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1992. W. 16. DAFTAR PUSTAKA Becker. A. B.

42. number of leaves. 630. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm.lowii Hook seedlings. and P uptake of plants after harvest. Siti Kabirun . Nursery experiments were conducted using Completely Randomized Factorial Design with three replications.KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil Burhanuddin . jumlah daun 42.67% diameter. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* 3 Fakultas Kehutanan. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. lowii Hook seedling in the nursery. Naskah diterima : 31 Mei 2011 1 1* 2 2 3 ABSTRACT A study on the influence of water table on the growth Combretocarpus rotundatus Miq and Dyera lowii Hook inoculation with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and fertilization SP 36 in peat soils was conducted in greenhouse Soil Sience Laboratory Faculty of Agriculture. 136.rotundatus Miq and D. diameter.80%.50 % number of leaves. berat kering pucuk 187 .67 %. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* *Kampus UGM Bulak Sumur . P fertilization and inoculation with AMF on the growth of C. diameter 136.co. dan Sumardi Fakultas Kehutanan. berat kering pucuk 630.rotundatus Miq and D.lowii Hook seedlings 14 weeksof age after weaning include: height. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan.50 %. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. shoot dry weight of 643. peat. It was concluded that inoculation with the AMF type of Glomus sp 3 combined with the provision of P fertilizer dosage of 100 ppm SP 36 and planting on water table level 20 cm and 10 cm can be used widely to improve growth of C. jumlah daun. diameter.61 %. Yani Kompleks Untan Benua Melayu Darat Pontianak Selatan 2 Fakultas Pertanian.rotundatus Miq and D.80 %. shoot dry weight.86 %. 437.lowii Hook are 107. Universitas Tanjungpura Pontianak Jl. A. Keywords: ex-PLG.lowii Hook seedlings. For D.86% high. is Gadjah Mada University in Yogyakarta for 14 weeks.05 %. rotundatus Miq and D. Untuk jelutung tinggi 107.rotundatus Miq are 324.56% P uptake. Bostang Radjagukguk . fertilized of 100 ppm SP 36 and inoculated with Glomus sp 3 resulted in the best water table is 20 cm in C. diameter 366. Observations made on C. In the water table 20 cm increase in growth of C.01 % number of leaves. Jend.01 %. 366.05% diameter.00% shoot dry weight and P uptake of 835. jumlah daun 437. Experiments of water table.83% and 851. The goal of research purpose wa to determine the effect of water table.id *Penulis untuk korespondensi Naskah masuk : 26 Oktober 2010.Yogyakarta 55281 E-mail : hans_borneo@yahoo. Glomus sp 3 ABSTRAK Penelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu.00 % dan serapan P 835.61% high.Water table.

(2002) bahwa jenis perepat.100 hektar.83 % dan serapan P 851. (3) pH tanah asam. mengurangi emisi karbon. Pada tahun 2005 Centre for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangkaraya. Juli 2011. yaitu pulai. Mendoza et al. pada bulan-bulan tertentu terjadi perubahan jeluk muka air tanah yang meningkat. 2005. (2002) memaparkan perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah di blok C ex-PLG. (2008) perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah sebelum dan sesudah pembendungan kanal di blok C ex-PLG.457.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No. Selanjutnya menurut Ritzema et al. kegiatan pemulihan ini akan selalu berhadapan dengan masalah yang disebabkan oleh pembukaan lahan gambut tersebut diantaranya: (1) permukaan air tanah menyusut. 2007). Namun demikian. dan Vitex cofassus (Prayudyaningsih & Santoso. Untuk mengatasi kendalakendala tersebut. Takahashi et al. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Leigh et al. sedangkan pada musim hujan mencapai 100 cm dari atas permukaan tanah. Water table I. ramin (Muin. Penelitian yang mengungkap peranan JMA dalam meningkatkan pertumbuhan telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman hutan. (2) terjadi kekeringan.008. (4) miskin unsur hara dan (5) aktivitas mikroorganisme rendah. 1996.lowii Hook) di persemaian.56 %.196 643. gerunggang (Cratoxylon arborescen) dan asam- 188 . Shorea balangeran (Turjaman et al. jati (Faridah. 2009). 2007). Sebagaimana yang dijelaskan Saito et al. (2008) jeluk muka air tanah gambut pada musim kemarau bisa mencapai 40 cm di bawah permukaan. 2003). Pada perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook). Akibat pembuatan kanal dengan total panjang 2. 2004). perlu diusahakan suatu teknologi alternatif yang tepat yaitu dengan pupuk hayati (biofertilizer). Perepat adalah salah satu jenis asli hutan rawa gambut yang dapat tumbuh baik pada kondisi terbuka.7 km dengan berbagai ukuran lebar dan kedalaman. Kata kunci : ex-PLG. penelitian JMA ini belum banyak dilakukan. salah satu diantaranya adalah Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) (Gumbira-Said. dan sungkai (Martin et al. (2008) meskipun restorasi hidrologi dengan pembendungan kanal tidak menunjukkan perubahan jeluk muka air tanah yang signifikan. Cardoso et al. 2007). Menurut Limin et al. gambut.3. 2008. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. Pembukaan lahan ini disertai dengan pembuatan kanal. Pupuk hayati telah berhasil dikembangkan di negara-negara maju sebagai pupuk yang potensial dan aman bagi lingkungan. Acacia crassicarpa (Pidjath et al. di musim penghujan saja jeluk muka air tanah bisa mencapai 5 cm . Cornejo et al. maka dipandang sangat penting untuk dilakukan perbaikan melalui suatu upaya konservasi yaitu dengan melakukan pemulihan pada lahan gambut tersebut dengan campur tangan manusia.50 cm yang seharusnya pada kondisi normal pada musim penghujan bisa tergenang dengan ketinggian 100 cm dari atas permukaan tanah. tetapi pembendungan kanal sangat berperan penting dalam proses rehabilitasi lahan gambut seperti mengurangi subsiden. Glomus sp 3. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. Garcia & Mendoza. setelah pembendungan pada bulan Agustus 2005 jeluk muka air tanah hanya 9 cm). Aquilaria microcarpa (Santoso et al. bungur. bekerjasama dengan masyarakat Uni Eropa melakukan restorasi hidrologi dengan pembuatan dam atau pembendungan kanal-kanal yang mengering di blok C Kelampangan. 2008. PENDAHULUAN Pada tahun 1995 telah dilakukan pembukaan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG atau Mega Rice ProjectMRP) yang luas totalnya 1. telah terjadi kerusakan status hidrologi kawasan secara drastis yaitu terjadi pengatusan sangat berlebihan serta rendahnya retensi air dan jeluk muka air tanah. 2007). 2008. mengurangi kebakaran dan dalam jangka panjang dapat memulihkan hutan rawa gambut secara alami. Menurut Ritzema et al. mangium. seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2005 (sebelum pembendungan pada bulan Nopember 2004 jeluk muka air tanah mencapai 112 cm. 187 . 1999).

dan 20 ppm MgSO4. jumlah daun (helai).7H2O. rotundatus) dan jelutung (D.lowii seedling). diameter pangkal batang (mm). Selain itu disertakan pula tanah dalam kondisi tergenang air 1 cm tanpa dipupuk dan tidak diinokulasi JMA sebagai kontrol. Jeluk muka air tanah (water table) diatur bervariasi dari 0 cm sampai 189 . BAHAN DAN METODE 40 cm dengan interval 10 cm. 70 ppm K2SO4.33 ppm CoSO4. 3. Bahan Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2009 Agustus 2009. Selanjutnya semai ditanam dalam kantong plastik hitam ukuran 2. Jelutung juga merupakan jenis asli yang tumbuh di hutan rawa gambut. Setelah semai berumur satu bulan. berat kering pucuk dan serapan P tanaman. Siti Kabirun. tahan kekeringan dan tahan terhadap suhu tanah yang tinggi. C. B. Data yang dikumpulkan terdiri dari tinggi (cm). a). 2001). D. Jelutung hanya akan dimanfaatkan dari hasil ikutannya saja berupa getah jelutung. yang cocok untuk ditanam pada lahan gambut yang akan dikonservasi. lowii) rawa yang berasal dari tegakan alam blok C exPLG Kalampangan Palangkaraya. jumlah daun. 2002). Analisis Data Data tinggi.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. HASIL DAN PEMBAHASAN A.2H2O. Hasil Pertumbuhan semai perepat dan jelutung dinilai berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi. Jenis ini merupakan jenis pohon dwiguna. diameter. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa tanaman perepat yang dipupuk dengan pupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah takaran pupuk terbaik meningkatkan pertumbuhan semai perepat pada media gambut (Buranuddin. jumlah daun. b). Pupuk basal diberikan dalam bentuk larutan yang terdiri dari 70 ppm NH4NO3. JMAjenis Glomus sp 3. benih perepat (C. Tanaman ditumbuhkan selama 14 minggu setelah penyapihan. 0.7H2O. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung pada tanah gambut. 2. berat kering pucuk dan serapan hara P tanaman dianalisis menurut analisis keragaman (ANOVA) rancangan acak kelompok menggunakan metoda SAS X3. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.7H2O 10 ppm MnSO4.20 ppm NaMoO4. rotundatus and D. dilakukan penyapihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Tanah dengan berbagai jeluk muka air tanah tersebut dipupuk dengan 100 gram SP 36 dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3. 2011). 4 dan 5. gerunggang dan asam-asam merupakan jenis cepat tumbuh di hutan rawa gambut (Saito et al. II. (2010) membuktikan bahwa jenis JMA Glomus sp 3 yang terbaik meningkatakan pertumbuhan semai perepat dari beberapa jenis JMA yang diuji pada media gambut. Tahapan PelaksanaanPenelitian Benih perepat dan jelutung dikecambahkan dalam bak kecambah yang berisi media gambut yang sudah steril. Hasil analisis keragaman pengaruh faktor perlakuan disajikan dalam Tabel 1. III. Tabel 1. berat kering pucuk (gram). 22 ppm CuSO4. dan Sumardi asam (Mangifera sp) dapat tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka. dan serapan hara P tanaman. Pupuk Sp 36 dan c). Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis perepat.5H2O.5 kg yang telah diisi media gambut steril. Bostang Radjagukguk. Demikian juga pada tanaman jelutung yang dipupuk dengan batuan fosfat takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah yang terbaik meningkatkan pertumbuhan jelutung pada media gambut (Burhanuddin. Hasil penelitian Burhanuddin et al. 35 ppm KH2PO4. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan perlakuan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok ( 2 x 7 ) dengan perlakuan jenis pohon dan jeluk muka air tanah (water table) dan ulangan sebanyak 3 kali. 0. 5 ppm ZnSO4. 70 ppm CaCl2. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggunakan. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C. A.7H2O. diameter.

85 2 1303.0001 0.0001 0. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C.14 Kuadrat tengah (Mean Squares) 1.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3.36 365.68 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) Tabel (Table) 3.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 26.2567 0.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah (Degrees of (Sum of Squares) (Mean Squares) freedom) 34.3.43tn 53.37 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Pada Tabel 1.21 16.0001 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 2.21* 29.54* Pr > F 0.06* Pr > F 0.61* Pr > F 0.37 1 4172.94* 8.92 69.47 26 41 4954.36 F hitung (F cale) 0.61 26 41 15927. 2. diameter. rotundatus and D. Peningkatan tinggi semai perepat pada jeluk muka air tanah 10 cm.57 6 220.95 6 24.4893 0. 0 cm.71 1 270.34 3.60* 45.65 1323.59 1623.71 1303. Juli 2011.25 2 0. berat kering pucuk dan serapan P tanaman. Tinggi semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 10 cm.0001 0.53 Kuadrat tengah (Mean Squares) 9.73tn 745.57* 0. 4 dan 5 memperlihatkan bahwa perlakuan water table dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi dengan jenis JMA mem-berikan pengaruh yang sangat nyata terhadap semua parameter yang diuji yaitu.05 6 18.25 26 41 129.37 695.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 13.57 F hitung (F cale) 1.36 633.8 No. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves C.0001 0.0001 0. jumlah daun.64* 56. 190 .36 12.11* 9. tinggi.35 F hitung (F cale) 4. Perbedaan tanggap tinggi semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 1. 40 cm. Secara umum. 187 . Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for diameter C.0001 0.18 2 9223. 3.0100 0.21 1 98.19 6 321.09 9223.196 Tabel (Table)1. rotundatus and D.17 6 2192. perlakuan water table dengan pemberian pupuk SP 36 dan inokulasi jenis JMA mempengaruhi pertumbuhan semai perepat dan jelutung di persemaian.06 0.22 Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 18.lowii seedling) Sumber keragaman (Source of variance) Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 12. 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol. rotundatus and D.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.62 0.51* 11.36 6 9.

dan Sumardi 40 cm.1052 0.75 2 224. dan 324.59 6 2533.67 %. 237.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3044. dan 107.34 36. Tinggi semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm.0001 0.46tn 48.0011 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tin gg i s em a i ( cm ) 41 12266.35 %. Pengaruh water table.27 %.75 %. 162.rotundatus and D.02 52.0001 0.05) Gambar (Figure) 1.41* 11.86 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.40 Sumber keragaman Kuadrat tengah (Mean Squares) 11. SP 36 fertilization and AMF inoculation for height on C.26 6 120.05 6 216. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 132. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake C.53 1 4392.22 %.31* 7.04 4. 0 cm. 10 cm. Siti Kabirun.0001 0.02 1 314.83 %. Peningkatan tinggi semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.lowii seedling) Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 22.68 6 2295. Bostang Radjagukguk.61 %.15* Pr > F 0.53 732.0001 0.62 F hitung (F cale) 2. rotundatus and D.85 26 Kuadrat tengah (Mean Squares) 3044.67 a b c d cd f e i fgh f fgh hi Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks):Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. kontrol. 0 cm.08 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 5.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. 102.28 F hitung (F cale) 37.37 224.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 45. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 77. 182. 83. Hasil Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight C. 30 cm.61 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. 10 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman Tabel (Table) 4.13* 8.31 26 41 897.lowii seedling) 191 .93* 5. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (Effect of water table. 0 cm. rotundatus and D.79* Pr > F 0.09 422.

05 %. Berat kering pucuk semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.rotundatus and D.05 %. 136. 0 cm. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 166. Peningkatan berat kering pucuk semai perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturut-turut lebih besar 534. dan 10 cm berturut-turut lebih besar 93.05) Gambar (Figure) 3.8 No. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (Effect of water table.13 %.00 % 192 . pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (Effect of water table. SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves on C. 0 cm.196 Diameter semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 40 cm. Peningkatan diameter semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.67 % dibandingkan dengan Dia m e te r b at a ng (m m ) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 tanaman kontrol. Peningkatan diameter semai perepat pada jeluk muka air tanah 40 cm.05) Gambar (Figure) 2. 188. Pengaruh water table.lowii seedling) Perbedaan tanggap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 4. 20 cm. 0 cm. Pengaruh water table. 10 cm.67 %. Juli 2011.67 %. 10 cm. 244. 0 cm30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 2).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 30 cm.33 % dan 366.67 %. 187 . 136.76 % dan 630. Diameter semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation 50 40 30 20 10 0 Kontrol 0 10 20 30 40 cdecde bcd cde bc cde cde cde a Jumlah daun (he lai) a b cde Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remarks): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. a ab bc cde ef fg a bcd bc de g gh Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks) : Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 20 cm.26 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.3. dan 186. dan 10 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol. 311.

83 20 a 15 10 b 5 0 Kontrol 0 10 Water table Perepat Jelutung 20 30 40 bc c bc bc b bc bc b c a Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Hal ini sesuai dengan pendapat Maki et al. akan tetapi pada jeluk muka air tanah 10 cm cenderung meningkat sebesar 851. Pengaruh water table. Berat kering pucuk semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 20 cm B e ra t ke rin g p u cu k (g ) dibandingkan dengan tanaman kontrol. Serapan P tanaman jelutung tidak berbeda nyata. Peningkatan serapan P tanaman perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturutturut sebesar 761.05). dan Sumardi dibandingkan dengan tanaman kontrol. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (Effect of water table.rotundatus and D.19 % dan 835. Hal ini diduga adanya asosiasi JMA endemik pada tanaman lokal gambut dapat meningkatkan pertumbuhan perepat dan jelutung. SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight on C. Bostang Radjagukguk.rotundatus and D. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepa dan jelutung (Effect of water table.56 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.lowii seedling) Serapan P tanaman perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 5). Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semai perepat dan jelutung meningkat pertumbuhannya dengan pengatuan water table dan pemupukan SP 36 takaran 100 ppm yang diinokulasi dengan jenis JMA. SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake on C. B. Gambar (Figure) 5.05) Gambar (Figure) 4. Pengaruh water table.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. (2008) jenis JMA endemik 193 . Siti Kabirun.80 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.lowii seedling) Serapan P (mg/tan) 60 50 40 30 20 10 0 b bcd bcd cd 0 10 20 30 b bcd bcd bcd bcd 40 b a a Kontrol Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Peningkatan berat kering pucuk semai jelutung pada jeluk muka air tanah 20 cm sebesar 643.

P. Jurnal VOKASI. karena sifat tanah gambut yang tidak bisa balik (irreversible) akan menyebabkan lapisan atas tanah gambut akan hanyut terbawa air yang menyebabkan cepatnya penurunan tanah gambut (subsidence).. Kesimpulan Hasil percobaan membuktikan bahwa pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3 membuktikan jeluk muka air tanah terbaik 20 cm. dos Santos. Jurnal Biota Vol. B. namun jeluk muka air tanah terbaik untuk tanaman perepat adalah jeluk muka air tanah 20 cm. Mycorrhizal Effectiveness on Wheat Nutrient Acquisition in an Acidic Soil from Southern Chile as Affected by 194 .. & Sumardi. tipe hutan transition forest. Mycorrhizal Symbioses with Jelutung (Dyera lowii Hook) under Increasing Phosphate Rock Levels in Peat Soil. Castillo. Lebih lanjut menurut Shepherd et al. R. dan yang terbaik pada jeluk muka air tanah 10 cm. Cornejo. S. dan tipe hutan tall interior forest. Burhanuddin. R. Pesquisa Agropecuaria Brasileira. Shorea teysmanniana. 3. Burhanuddin.. serta yang satu kelompok dengan jelutung isalnya Shorea balangreran. 2010. Azeon. MA. EEP. 2011. Saran Secara umum dapat disarankan bahwa. 1999). Guna pemulihan lahan gambut khususnya EX-PLG Palangkaraya disarankan untuk memanfaatkan pupuk hayati JMA jenis Glomus sp 3 diinokulasikan pada perepat dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm atau 30 cm di lapanagn.. Juli 2011. Dengan mengetahui jeluk muka air tanah yang sesuai untuk tanaman perepat dan jelutung dapat dimanfaatkan untuk memulihkan tanah gambut dengan jenis-jenis lain yang satu kelompok dengan perepat misalnya Cratoxylon arborescens. de Lemos. 30 cm. dan 10 cm. 20 cm. Radjagukguk. kemudian diikuti jeluk muka air tanah 30 cm. 187 . 10 cm. KESIMPULAN DAN SARAN A. 2009. & F. VOL.196 setempat dapat memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal pada tanah sulfat masam pH 3. yaitu dengan mengatur jeluk muka air tanah 30 cm untuk penanaman perepat. Campnosperma auriculata. dan Palaquium leiocarpum. Rubio. 1999). VOL. Hasil penelitian membuktikan bahwa jika akan memulihkan lahan gambut dengan melakukan penanaman dengan tanaman perepat bisa dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 40 cm. Kajian Takaran Pupuk SP 36 pada Perepat ( Combretocarpus rotundatus Miq) dengan Inokulasi Mikoriza di Tanah Gambut. Jurnal BELIAN. Effect of AMF Inoculation on the Growth of Combretocarpus rotundatus Miq on a Peat Soil from Central Kalimantan (For Restoration Ex-Mega Rice Project Central Kalimantan).4. TMC.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 10 (2): 135144. 43(7): 887-892. JA. rotundatus Miq) dan jelutung (D.8 No.. Mycorrhizal Dependency of Mangaba Tree under Increaing Phosphorus Levels. Hal ini sesuai dengan sifat alami dari tanaman jelutung yang tumbuh baik pada kondisi dibawah naungan dan merupakan jenis yang masuk pada tahap sesudah jenis-jenis dalam kelompok tipe hutan riverine forest (Page et al.. Hasil pengujian jeluk muka air tanah gambut membuktikan bahwa untuk pemulihan hidrologi dengan melakukan pembendungan kanal tidak harus dengan penggenangan. B. 1. Jika lahan gambut akan ditanami dengan tanaman jelutung dapat dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin.. 7 (2): 166-178. 2011. JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm dapat dimanfaatkan secara luas meningkatkan bibit perepat (C.. & Nogueira. Untuk tanaman jelutung disarankan ditanamn pada jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. Borie.3. 2008. 10 cm dan tergenang 1 cm di lapangan. lahan gambut ex-PLG bisa ditanami dengan tanaman campuran tanaman pertanian. dan tergenang 1 cm. dan Page et al. dan Gonystylus bancanus (Page et al. Hasil penelitian jeluk muka air tanah juga dapat digunakan untuk pemanfaatan lahan gambut ex-PLG secara optimal. C.15 (1): 63-71. Kabirun. (1995). (1999) jenis jelutung ada pada tipe hutan mixed swamp forest.. Cardoso. 2. Caetano.lowii Hook) di persemaian. LC.

Hodge. S. In FEMS Microbiol Ecol 63: 359-371. E. Hal: 260-269.E. Nutrient Acquisition and Mycorrhizal Symbioses of a Waterlogging Tolerant Legume (Lotus glaber Mill) in a Saline-Sodic Soil. 195 . Rieley. Garcia.. Jurnal Plant Soil. Dalam Proceedings of the 13th International Peat Congress: After Wise Use-The Future of Peatlands. Nutr Cycl Agroecosyst. 2007. Shotyk. Vasander. Lemlit. 2004. Y. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.O. Vol 1. & A. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Some Requirement for Restoration of Peatland in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. Kurz) pada Areal Bekas Tebangan dengan Inokulasi CMA dan Pemupukan Fosfat Alam terhadap Bibit di Persemaian. In Plant and Soil 275: 305-315.W. Garcia. Ritzema & H. Mendoza. H. J. Interdependence of Peat and Vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest. J. Plant Yield and P Acquisition by Lotus Tenuis Plants Reflect the Availability of Added P from Different Phosphate Source.V. M. Pertanian dan Perkebunan”. E.I & Teten. 2009. Malaysia. Arbuscular Mycorrhizal Fungi can Transfer Substantial Amounts of Nitrogen to Their Host Plant from Organic Material. H. Hal: 243-247.. R. S. Bungur. 30-36. Trans. A. Peatland Development: Wise Use and Impact Management. Plant Growth.. Leigh. R.S. Prayudyaningsih. Martin. Phil. 2005. 27 (VII). 2007. D. 181: 199-207. Saline and Sodic Gradients. 1999. From journal of plant Nutrition. 17-21 Juli 2007. Indonesia.H. Ex Benth Hasil Sinergi Bio-organik dengan Cendawan Mikoriza Arbuskula di Ultisol. (Tidak dipublikasi).. Ezawa. & M... R. Dalam Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999. Plant Nutrition and Arbuscular Mycorrhizal Fungi-Plant Symbiosis in a Temperate Grassland along Hydrologic. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II.E. & Jyrki Jauhiainen.. Limin. Kualitas Bibit Acacia crassicarpa A. 1996. Bostang Radjagukguk. C. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. Siti Kabirun. BPPK DEP Kehutanan. 87-131. Kuching. S. Yoshida. Pengaruh Endomikoriza dan Media Semai terhadap Pertumbuhan Pulai. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing XI .O. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Gumbira-Said. Endomikoriza.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. & Wiess. Bogor. Garcia. Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Ketahanan terhadap Kekeringan pada Semai Jati. Turjaman. Prospek Pemanfaatan Bioteknologi untuk Penyediaan Pangan. Plants Symbiotic Microorganisms in Acid Sulaft Soil: Significance in the Growth of Pioneer Plants. Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus Miq. Relationships among Soil Properties. Kitso. Edited by Catherine F and John Feehan. Tullamore. Mangium dan Sungkai di Persemaian.H. 310: 55-65. 31: 1555-1569. DOI. 1999. 2008. Setiadi. Santoso.. I... 2008. Limin. 10. & B. Pertanian dan Perkebunan”.. Muin. Nomachi. & R. & I. H. 17-21 Juli 2007. Bogor. KSN. Royal Soc. S. dan Sumardi Nitrogen Sources. In Journal compilation. & T. J.. Escudero. Rieley. 2003. Faridah. Ireland.E. Canal Blocking Strategies to Restore Hydrology in Degraded Tropical Peatlands in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. Fitter. Cunn. A. O. New Phytologist. E. Hal: 18885-1897 Pidjath. 2008. Efektivitas Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Semai Bitti (Vitex cofassus Reinw). Syaiful. 2008. Sarawak.. “ Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan.. Page. Santoso. Maki. 2008. Mendoza. Indonesia: Blocking Channels. V. London. Increasing Livelihoods and Controlling Fires.R. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. How do Soil P Tests. Mendoza. & I. Hal: 222-225. del Carmen. T. Ritzema. Volume 1. LM. no 3.1007/s10705-0089245-4.

& Page.. S.. Yogyakarta. Turjaman.. Pertanian dan Perkebunan”. Dalam Proceedings of the International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia.Carbon Pools. Ectomycorrhizal Fungi Inoculated on Shorea balangeran under Field Condition in Peat-Swamp Forest.W. Central Kalimantan. Turjaman. A. K. Bogor. Takahashi. Limin. 17-21 Juli 2007. UK.. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands.. Carbon-ClimateHuman interaction. Proc. M.Y. Peat and Peatlands. Early Colonization of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Tree Producing Gaharu Aquilaria microcarpa seedlings.h. Juli 2011.. 187 . M. S.A. Tawaraya.O.E. Mitigation. Fire. A. Indry. K. Indonesia. J. S.8 No.. Preliminary Selection of Fastgrowing Tree Species with Tolerance to an Open and Dry Peat Land in Central Kalimantan: To Develop a Preceding Planting Method.. E.. S. Tuah. 1995.G. Shibuya.Hal: 7579..H. J. Y. Santoso.. Rieley. Tamai.. Dalam. Shibuya.E. Editor: Rieley. M. Putir.3. K 2007.. The Realitionship between Forest Vegetation and Peat Characteristics in the Upper Catchment of Sungai Sebangau. Takahashi.196 Saito. Indonesia. H.O and Page. E. Samara publ. Of the Int.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. M.E. Restoration and Wise Use. & M.. K. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. Sampang. S. 2007. Segah. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Osaki. Symp on Biodiversity. Jamal. & Effect of Tawaraya. P.H.H. Hal: 191210. Saito.. & Limin.. Susanto.. Environmental Importance of Trop. Santoso. 196 . Gunawan. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Shepherd. 2002.J. P... Bali.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->