ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 8 No. 3, Juli 2011
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS (Penilaian Hutan) Mitra Bestari Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA (lnstitut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP) Dr. Ir. Endang Murniati, MS (Institut Pertanian Bogor) Ir. Nina Mindawati, M.Si (Silvikultur) Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah dan Air) Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO-BIOTROP) Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Anggota Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id atau pusprohut@gmail.com. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi Pusprohut, atau download di website Pusprohut : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu. 10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 8 No. 3, Juli 2011
DAFTAR ISI

1.

STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM, MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Communityat the Seram Island, Maluku Samin Botanri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim, dan/and Lilik B. Prasetyo 135-145 TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites 147-153 Dida Syamsuwida dan/and AamAminah TIPOLOGI DESABERDASARKAN VARIABELPENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini, Endang Suhendang, I Nengah Surati Jaya, Hardjanto, dan/and Herry 155-168 Purnomo HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia 169-177 Erly Sukrismanto, Hadi S.Alikodra, Bambang H. Saharjo, dan/and Priyadi Kardono PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO, SUMATERASELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo, South Sumaterat 179-186 Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil 187-196 Burhanuddin, Siti Kabirun, Bostang Radjagukguk, dan Sumardi

2.

3.

4.

5.

6.

Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. Pen. lahan gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. Kata kunci: Bahan pengatur tumbuh.2. 2 dan 3 bulan. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Pulau Seram. VIII No. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni.32 Dida Syamsuwida dan Aam Aminah (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan J. Spesies ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. Htn Tnm Vol. kapasistas tukar kation (KTK). Variabel iklim. Htn Tnm Vol.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*181 Samin Botanri (Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon). 2011 p:135-145 Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth).5%. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram. Dengan demikian. NaCl dan akuades sebagai kontrol. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-Nopember 2009. Ibnul Qayim (Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor) dan Lilik B. umur semai . Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. Edi Guhardja. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. RH 96 %. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. Kata kunci: Adaptasi. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0.68 kg/batang. Dede Setiadi. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. VIII No. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. sylvestre. perakaran sagu mengalami modifikasi arah pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. tumbuhan sagu UDC(OXDCF) 630*232. dan molat. dan kandungan kalsium air. 3.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. Maluku. tipe habitat. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. 3.04 kg dan 560. tanah. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.5 juta batang. dan air payau. Pen. faktor lingkungan. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0.3 %. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. Maluku J. rotang. larutan NaCl. Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam KomunitasAlami di Pulau Seram. paklobutrazol. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Prasetyo (Departemen KSH dan Ekowisata Fak. 3. VIII No. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masing-masing 566. 2011 p:147-153 Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. makanaro. naungan sedang dan naungan ringan.

2 Tien Lastini (Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Bambang H. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat.1 Erly Sukrismanto (Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan). institusi . kelerengan lahan. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. Bakosurtanal) HubunganAntar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/lahan di Indonesia J. Saharjo (Departemen Silvikultur. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. VIII No. pengendalian kebakaran. hutan rakyat. Htn Tnm Vol. tipologi desa UDC(OXDCF) 630*432. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. Fakultas Kehutanan. 3. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. I Nengah Surati Jaya. administratif. dan Priyadi Kardono (Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Kata kunci: Biofisik. dan umur produktif penduduk yang diteliti. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. 2011 p:155-168 Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. provinsi dan kabupaten/kota. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. Htn Tnm Vol. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. Bogor). Pen. Hardjanto. Fakultas Kehutanan. di mana koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. 3. IPB. Hadi S. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. VIII No. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. Pen. analisis gerombol. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. 3. IPB). Alikodra (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. rumah permanen. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. VIII No. Endang Suhendang. 2011 p:169-177 Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. Kata kunci: Koordinasi. kemampuan lahan. Sekolah Pascasarjana IPB). sosial ekonomi. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. dan Herry Purnomo (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat J. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*922. jarak ke jalan besar. jarak ke kawasan hutan negara. Berdasarkan analisis gerombol.

1. diameter dan bentuk batang.05 %. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. VIII No. Mohammad Na'iem dan Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan. diameter. dengan 4 blok.01 (overestimate).4 Agus Sofyan (Balai Penelitian Kehutanan Palembang). Untuk jelutung tinggi 107. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. jumlah daun. 3. rotundatus Miq) dan jelutung (D.67 %. Bostang Radjagukguk (Fakultas Pertanian.56 %.39. VIII No.15 %. variasi genetik UDC(OXDCF) 630*232. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. Universitas Gadjah Mada) Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta).574). berturut-turut nomor 24 (3.50 %. gambut.16 % diameter. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. uji klon. jumlah daun 437.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.88. 36 (1. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. diameter 366.73 % untuk diameter. diameter 136. 35 (1. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. 2011 p:179-186 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik.80 %. Sumatera Selatan. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*165. Htn Tnm Vol. 3. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9.28 % untuk karakter tinggi. Water table . Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon. 3. VIII No.40 % untuk volume. korelasi genetik.67. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0.306). Pen. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. 2011 p:187-196 PPenelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. perolehan genetik. Htn Tnm Vol. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. 3. Universitas Tanjungpura Pontianak). pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung.00 % dan serapan P 835. berat kering pucuk 630. 14 (1.02 (individu) dan 0. Siti Kabirun. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C.16 (klon) untuk karakter tinggi. jati.3 Burhanuddin (Fakultas Kehutanan. Kata kunci: Heritabilitas. di lokasi KHDTK Kemampo. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) Kajian Water Table Pada Semai Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq dan Jelutung (Dyera lowii Hook) Diinokulasi Glomus sp 3 Di Tanah Gambut J.073).7210). Glomus sp 3. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok.61 %. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi.43 % bentuk batang serta 8.01 %.86 %. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi.49 % untuk karakter tinggi dan 1. jumlah daun 42. Kata kunci: ex-PLG.430) dan 11 (1.09 dan 0.83 % dan serapan P 851. Pen.026 (individu) dan 0.13 (klon) untuk karakter diameter. dan Sumardi (Fakultas Kehutanan. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. sebesar 0.lowii Hook) di persemaian. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. Sumatera Selatan J. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. berat kering pucuk 643.

Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. sun light intensity. (3) melakukan analisis interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. environmental factor. The potential clump population at the Seram Island is about 3.2. Agatis Gedung Fapet Wing 1 Lt. MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Community at the Seram Island. dan air payau. Bogor 16680 Jln. and calcium in water were the most factor. Edi Guhardja . dan molat. (0251) 8621947 Naskah masuk : 1 Juli 2010. Maluku. (0251) 8621947. dan/and Lilik B. sago palm ABSTRAK Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. Maluku secara keseluruhan. Keywords: Adaptation. Tuni and sylvestre are the most potential species with production capacity of about 566. Ibnul Qayim . tentu dengan menggunakan sampling. In sago palm community there was negative interspecific association with Jaccard index < 0. Ambon 97582 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. (3) to describe interaction between sago palm and environmental factors. rotang. Swamp condition as adaptation strategy more amount of sago palm roots directed out to water surface.2 million clumps. which of about 1. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar.STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM. Tuni species is the most dominant vegetation which cover 43. peat swamp or brackish water. Dede Setiadi . 5. perakaran sagu mengalami modifikasi arah 135 . Seram Island.04/kg by 560. Prasetyo3) Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon Jln. (0251) 8622833 3) Departemen KSH dan Ekowisata Fak. Penelitian berlangsung di tiga wilayah di pulau Seram. The result of research showed that population structure of sago palm in the nature community follows young growth pattern with seedling death of about 85 %. makanaro. It was found that there are five of the sago palm species namely tuni. rotang. Maluku Samin Botanri . bukan menggunakan metode sensus pada bulan Maret-Nopember 2009. 24. Serta memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. habitat type.5 million trunk of trees.3 %. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. Among the environmental condition. Raya Tulehu Km. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang.3 % of habitat. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu. The aim of this research were to : (1) analys conducted to describe of sago palm characteristic in the nature community. and molat. sylvestre. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. and (4) identify the sago palm trees potential and sago flour production at three areas in the Seram Island. (2) identify habitat preference of sago palm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. The research was conducted in March to November 2009. sylvestre. lahan gambut. makanaro.68 kg/trunk. Naskah diterima : 22 Mei 2011 1) 1) 2) 2) 2) ABSTRACT Sago palm (Metroxylon spp) is a tropical plant adapted to marginal land such as fresh water swamp. Lingkar Akademik Telp. Fax. Telp/Fax. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Bogor 16680 Jln. cation exchange capasity (CEC). Kampus IPB Darmaga. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami.

atau hutan-hutan rawa. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Maluku. Maluku. dan potensi tumbuhan sagu.68 kg/batang. 135 . 2006). II. daerah sepanjang aliran sungai. dan spesies vegetasi dalam habitat itu. Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1.2. antara lain Wilayah Luhu Kabupaten Keterangan (Remarks) : Lokasi sampling (Sampling location) Gambar (Figure) 1. Latar Belakang Sagu ( Metroxylon spp) salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropik basah. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Secara umum terdapat lima jenis sagu yang tumbuh dalam komunitas alami maupun budidaya yaitu sagu tuni. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masingmasing 566.04 kg dan 560. Pulau Seram. dan kandungan kalsium air. ihur. interaksi dengan parameter ingkungan. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Lokasi Penelitian berlangsung pada bulan Maret Nopember 2009.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur). Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan studi ekologi tumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram. penentuan preferensi ekologi seperti tipe habitat. dan molat (Louhenapessy. dan (4) mengetahui potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram (Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. mikro iklim. Berkaitan dengan hal tersebut. Juli 2011.5 juta batang. Tujuan khususnya yaiu : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. faktor lingkungan. PENDAHULUAN A. Peta lokasi penelitian Pulau Seram (Map of site research at the Seram Island) 136 .8 No. sekitar sumber air. Studi ekologi sagu yang selama ini telah dilakukan masih memerlukan suatu penelitian tentang autekologinya yaitu struktur populasi. tanah.3. Kata kunci : Adaptasi. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. duri rotang. kelimpahan spesies. maka dapat dikatakan bahwa tumbuhan sagu mempunyai daya adaptasi yang tinggi (Suryana. interaksi spesies dengan tipe habitat. Variabel iklim.145 pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. kapasistas tukar kation (KTK). dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. 2007). (2) bagaimana preferensi habitat tumbuhan sagu?. makanaro. Berdasarkan informasi tempat tumbuh sagu yang cukup bervariasi tersebut. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. Secara ekologi. sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut. tipe habitat. berlangsung di Pulau Seram. air. dan (3) bagaimana interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan?. maka kajian permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami?. mekanisme adaptasi. tumbuhan sagu I. B.

b. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Berdasarkan parameter tersebut.00. HASIL DAN PEMBAHASAN A. B. Metode Penelitian 1. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. cahaya. jumlah individu sagu menurut fase pertumbuhan.60 cm. Kemudian ditetapkan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD atau SDR summed dominanced ratio) = INP/3 (%). gagal tumbuh ke fase berikutnya mencapai 84. Pada setiap plot dibuat petak sesuai ukuran masing-masing. yang merupakan ulangan yakni Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Spesies tumbuhan yang tidak diketahui.30. Dalam populasi tersebut jumlah individu fase semai yang berhasil tumbuh ke fase pertumbuhan berikutnya hanya sebesar 15. Wilayah sampel terpilih yaitu Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. ruang.00. Bahan dan Peralatan Penelitian menggunakan potensi tumbuhan sagu yang tersebar pada tiga wilayah di Pulau Seram. b.30 cm dan 30 . berkurang secara drastis pada fase berikutnya (Gambar 2). diidentifikasi oleh ahli taksonomi dari Herbarium Bogoriense. dan unsur hara.33 % (206. dan komponen di bawah tanah seperti air. intensitas cahaya di bawah tegakan diukur menggunakan lux meter (light meter). Analisis data menggunakan perangkat lunak Ecological Methodology. Plot Penelitian Wilayah sampel ditetapkan meng-gunakan metode judgement sampling/ purposive random sampling. Analisis Komponen Utama Interaksi tumbuhan sagu dengan komponen abiotis. (3) tingkat asosiasi ditetapkan menggunakan indeks Jaccard (JI) : JI = a/a+b+c c. Ibnul Qayim. jenis vegetasi. 2004). Prasetyo Seram Bagian Barat. Parameter yang Diamati Pengamatan sagu dan vegetasi lain meliputi : jumlah rumpun. Maluku.34 %. Maluku Samin Botanri. oksigen.00 . dan 17. Salinitas ditetapkan menggunakan refraktometer. Suhu dan kelembaban relatif diukur menggunakan thermohigrometer. Edi Guhardja. (2) terjadi persaingan di antara masing-masing individu dalam rumpunnya. Analisis tanah dan air dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. Penentuan Contoh a. sapling 5 m x 5 m. diukur antara pukul 11. Hasil pengukuran intensitas cahaya surya di dekat rumpun sagu hanya sekitar 12. AnalisisAsosiasi Interspesifik Asosiasi interspesifik ditentukan menggunakan formula menurut Ludwig & Reynolds (1988) dengan tahapan : (1) analisis Variance Ratio (VR) menggunakan rumus : VR = ST 2 / δ T 2 . Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Jumlah petak pengamatan sebanyak 131 plot. C. SPSS ver. 1997). Intensitas cahaya surya di bawah tegakan sagu. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kematian individu fase semai.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. jumlah individu spesies yang kedapatan pada setiap unit contoh. tiang 10 m x 10 m. Sampel air rawa diambil dari habitat tergenang kemudian dianalisis kualitasnya. Persaingan yang dimaksud berkaitan dengan komponen di atas permukaan tanah seperti udara. Petak pengamatan ditetapkan menggunakan metode garis berpetak (Kusmana.53 lux. Lingkungan dan Tanah Suhu dan kelembaban udara relatif diukur pada pukul 07. 15. dan pohon 20 m x 20 m. Struktur Populasi Secara umum struktur populasi tumbuhan sagu di Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda yaitu populasi dengan jumlah individu paling banyak terdapat pada fase semai.66 %. III. 13. sebagian tunas anakan yang muncul dari pangkal batang tidak bersentuhan dengan tanah. didekati dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) (Supranto.14. Dede Setiadi. (2) analisis asosiasi spesies menggunakan rumus Chi-square.00. 137 . 15 dan Minitab ver. dan luas tutupan (coverage). 2. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. maka dilakukan : a. Pengamatan vegetasi bawah (seedling) dilakukan pada petak berukuran 2 m x 2 m. dan Lilik B. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0 . Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan formula Cox (2002) : INP = KR + FR + DR. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Data iklim lokal diperoleh dari stasiun klimatologi Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (MT). Tingginya tingkat kematian ini dapat disebabkan karena : (1) sifat pertumbuhan anakan sagu.

Struktur populasi sagu di Pulau Seram (Population structure of sago palm at the Seram Island). Perbandingan NJD sagu dan non-sagu di plot penelitian (SDR camparison of sago palm and non sago palm at the research plot). dan (4) mengalami keracunan karena kandungan Fe (3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. tunas anakan yang masih muda memiliki daya adaptasi yang rendah terhadap kondisi lahan tergenang (tereduksi). Semai Sapihan Tiang BMT MT LMT Keterangan (Remarks) : BMT = Belum Masak Tebang (Immature Trunks). (3) rentan terhadap pH rendah.8 No.31 (pH KCl). 2005).29 lux).145 ruang terbuka 1675. Hasil pengukuran kemasam- an tanah menunjuk-kan bahwa pH tanah dapat mencapai 4. Gambar (Figure) 3. MT = Masak Tebang (Mature Trees .Harvestable).3.08) dan Al (4. LMT = Lewat Masak Tebang (Mature Trees. 138 . 135 . Rendahnya intensitas ini karena terdapat hambatan oleh tajuk rumpun sagu itu sendiri.99) tanah.Not Harvestable) Gambar (Figure) 2. Juli 2011. nilai kekurangan Fe dan Al tersebut termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria (Balai Penelitian Tanah.

dan sylvestre (Tabel 1).87 2.49 34. Dua jenis sagu yang lain yakni rotang dan molat tumbuh pada habitat terbatas.06 0. berupa rawa-rawa yang tergenang secara temporer maupun permanen. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp).33 26. Kondisi tersebut ditemukan pada setiap sempel dan masih perlu riset lebih lanjut untuk memetakan luasnya.26 28. dan (4) habitat lahan kering. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).24 19.72 27. Habitat danAdaptasi Tumbuhan Sagu Secara umum tipe habitat sagu di Pulau Seram dapat dipisahkan menjadi dua kategori yaitu (1) habitat lahan kering dan (2) habitat lahan tergenang.00 33. Fenomena seperti ini merupakan gambaran umum yang sering dijumpai pada tipe vegetasi yang mengarah kepada kondisi klimaks dan stabil.0 ind/ha 62. Ibnul Qayim.14 10. 170. dominasi.85 % 58. artinya kondisi habitatnya tidak pernah tergenang.07 16. Populasi rumpun sagu pada tipe habitat berbeda di Pulau Seram (Clumps population of sago palm of the habitat type at the Seram Island)) No.92 % 52. Jika kondisi ini terjadi maka regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak. makanaro.01 85. 3.58 0.50 274. 4.80 22. maka dominasi spesies sagu juga meningkat (Gambar 3). Edi Guhardja.97 7.00 0.93 ind/ha) dan NJD paling tinggi (43. biasanya lebih dari satu bulan.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Jenis sagu (Sago species) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah TTG ind/ha 103.94 % 50.22 20. Mueller & Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005) mengemukakan bahwa komposisi bervegetasi alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi. ind = individu (individual).19 164. dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap. fenologi.0 Rataan (Average) ind/ha 87. Berdasarkan penelitian tersebut jumlah individu masing-masing spesies sagu. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp).31 21.00 173. Kelimpahan Spesies Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun sagu dan nisbah jumlah dominasi (NJD) dalam komunitas sagu menunjukkan bahwa spesies sagu merupakan jenis vegetasi yang menguasai sebagian besar areal lahan di plot penelitian.00 5. dan Lilik B.00 96.3 %.3%). Dede Setiadi.95 4.00 100.67 1. sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dan menyolok.01 % 37.30 1.27 0.10 0.32 0.58 0. Dua tipe habitat itu dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi empat tipe yaitu : (1) habitat tergenang temporer air payau yaitu tipe habitat yang dicirikan oleh adanya pasangsurut. Apabila interaksi tumbuhan sagu dengan tipe habitat ini dijadikan acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasinya.37 37. sedangkan jenis sagu molat ditemukan tumbuh pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN).69 15. Prasetyo B. diperoleh hasil ditemukan bahwa sagu tuni memiliki jumlah individu paling banyak (99.04 11. (3) habitat tergenang permanen. 2. Jenis sagu yang dapat tumbuh dan berkembang pada semua tipe habitat adalah jenis sagu tuni.0 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu lama.0 TPN ind/ha 61. Kondisi tersebut dapat terlihat dengan bertambahnya fase pertumbuhan. yaitu tipe habitat yang mengalami genangan pada periode waktu relatif cukup lama. maka Tabel (Table) 1. 139 .00 12. (2) habitat tergenang temporer oleh air tawar yaitu tipe habitat dimana genangannya sangat ditentukan oleh ada-tidaknya hujan.83 0.86 15.04 100.47 0. dan frekwensi yang melampaui spesies yang lain dengan penguasaan habitat mencapai 43. akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan.09 0.00 55. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat. Maluku Samin Botanri. C.65 100. Jenis sagu rotang hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG).00 14.61 100.66 % 64. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sagu tuni merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan.64 17.00 0.08 20.62 9. 5.00 100.20 36.0 Tipe Habitat (Habitat Type) T2AT T2AP ind/ha 124.60 37.

145 dapat dikatakan bahwa jenis sagu tuni memiliki kemampuan adaptasi yang luas (eury tolerance).35-21. Mekanisme perubahan ini agar penyerapan oksigen oleh perakaran dapat berlangsung dengan baik. Dalam kaitan dengan kondisi yang tereduksi ini. Jenis sagu makanaro dan sylvestre tumbuh pada semua tipe habitat.14 (termasuk kategori rendah) (Tabel 2). Nilai VR < 1 mengandung makna bahwa asosiasi antara spesies bersifat negatif. D. 1974). Modifikasi arah pertumbuhan akar sagu pada kondisi tergenang (Roots growth modification of sago palm af the swamp condition) E. Hal tersebut ditunjukkan dari jumlah rumpun dan jumlah populasi semua fase pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu yang lain. maka pada kondisi lahan dengan aerase jelek. Berdasarkan hasil penelitian pH tanah menunjukkan kisaran pH tanah (pH H2O) 4. Pada kondisi dimana asosiasi bersifat negatif ekstrim.8 No. Pada habitat tergenang biasanya muncul akar berukuran kecil dalam jumlah banyak dengan arah pertumbuhan menuju permukaan air sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas. Komponen Biologis Hasil analisis asosiasi interspesifik menunjukkan bahwa secara simultan (keseluruhan) terjadi asosiasi antar spesies dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram dengan nilai VR sebesar 0. Interaksi dengan Faktor Lingkungan 1.47 . Molat ditemukan pada habitat T2AT dan TPN. Berbeda dengan jenis lain. baik yang sifatnya temporer maupun permanen. dan tiga (3) dari empat (4) tipe plot penelitian termasuk kategori tergenang. Barbour et al. 140 .03 dengan indeks Jaccard rata-rata 0. (1999 dalam Kurniawan et al.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Dengan meningkatnya jumlah individu yang satu akan menekan pertumbuhan individu spesies lain (Soegianto. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiga jenis sagu tersebut memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). Ketika pH rendah. Habitat tergenang identik dengan kondisi tereduksi. 135 . Hasil analisis asosiasi spesies berpasangan menunjukkan bahwa terdapat asosiasi diantara spesies sagu dan antara sagu dengan non sagu dengan nilai chi-square berkisar dari 4. Menurut Krivan & Sirot (2002) dikemukakan bahwa dalam asosiasi interspesifik dapat memunculkan kompetisi interspesifik. MekanismeAdaptasi Sagu Sebagian besar sagu tumbuh pada lahan tergenang. Juli 2011. Syekhfani (1997) mengemukakan bahwa logam memiliki kemampuan untuk melisis air sehingga pH tanah dapat semakin masam. Tanah-tanah masam dengan kandungan logam tinggi seperti Fe dan Al dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan perakaran. Interaksi yang bersifat negatif meberikan petunjuk pula bahwa tidak terdapat toleransi untuk hidup secara bersama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.63 dan pH KCl 4. artinya keadaan dimana terjadi keterbatasan oksigen di dalam tanah. suatu spesies dapat muncul sebagai kompetitor yang mendominasi spesies lain. terutama dalam pembagian ruang hidup. Kondisi plot yang senantiasa tergenang cenderung merupakan kondisi tanah masam.83.5.31. Fe dan Al akan larut sehingga konsentrasinya meningkat dan dapat bersifat meracun (toxic) (Brady 1990). Asosiasi antar spesies yang bersifat negatif menunjukkan bahwa terjadi perebutan dalam penggunaan sumberdaya.3. Levitt (1980) menyebutnya sebagai cekaman defisit oksigen. 2008) mengemukakan bahwa asosiasi yang bersifat negatif memberikan petunjuk bahwa setiap tumbuhan dalam suatu komunitas terjadi saling memberi tempat hidup pada suatu area habitat yang sama. maka adaptasi sagu ditunjukkan melalui sistem perakarannya yang mengalami modifikasi arah pertumbuhan (Gambar 4). Sagu rotang merupakan jenis sagu yang memiliki daya adaptasi paling terbatas karena hanya tumbuh pada habitat lahan kering (steno tolerance). namun memiliki populasi yang rendah. 1994). tumbuhan melakukan mekanisme adaptasi morfologi dengan membentuk sistem perakaran dangkal (Daubenmire. Gambar (Figure) 4.

1 Pandanus furcatus Roxb.47 0. Nephrolepis sp. Dalam konteks ini besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan sagu (PS). dan sinaran surya mikro memiliki korelasi negatif dengan curah hujan (ditunjukkan oleh sudut tumpul garis loading plotnya). 2007). sagu var molat 1. 2.25 F irst Com ponent T_mikr o 0.3 M.15 0.35* 4.75 Gambar (Figure) 5.02 1.31* 4.16 0.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.20 0. Sedangkan variabel temperatur mikro.2. KomponenAbiotis a. 2. 4.. Edi Guhardja. Homalomena sp. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masing-masing variabel (Dewi.25 0. 1998).48* Keterangan (Remarks): * signifikan pada taraf α 0.50 Second Component S ry _ l okal 0.69* 4.4 Pandanus furcatus Roxb. Variabel Iklim Hasil analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA ) untuk menjelaskan interaksi variabel iklim menggunakan loading plot menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel sinaran surya lokal dan mikro (Gambar 5). M. Nama spesies (Species name) Chi-square (X2) Tipe Asosiasi Indeks Jaccard (Association type) (Jaccard index) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 0.50 -0.50 -0. M. M. Diagram loading plot korelasi variabel iklim habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of climate variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Dengan mempertimbangkan akar ciri (eigenvalues) dan vektor ciri (eigenvector) terbesar. sagu var molat 3.38%.76* 5.5 Homalomena sp. 4. sinaran surya lokal dan curah hujan dengan kelembaban mikro. CH RH_mikr o 0.25 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor iklim terhadap PS di Pulau Seram sebesar 3.05 0.06 0.28* 21.04 0. Hal ini berarti bahwa apabila curah hujan bertambah.74* 6. maka diikuti dengan peningkatan sinaran surya mikro. M.6 Nephrolepis sp. rumphii Mart subvar makanaro (Becc) 2. Dede Setiadi.00 0.1 M.75 LoadingPlot of T_m ikro.43 0. Model indeksnya sebagai berikut : 141 .25 -0. . rumphii subvar makanaro 1.1 M. Korelasi negatif terjadi pula antara variabel temperatur mikro dengan kelembaban mikro.3 Nephrolepis sp.3. Maluku Samin Botanri. rumphii var sylvestre 2. dan Lilik B. Hal ini ditunjukkan dengan sudut lancip yang dibentuk garis loading plot kedua variabel tersebut (Setiadi.96* 4.03* 20.00 CH S ry _mik ro -0. 2005 & Marzuki.. Ibnul Qayim.15 0. rumphii var sylvestre 1.76* 9.12* 16. 3. 6. 0. sinaran surya lokal. 1.45* 4. Prasetyo Tabel (Table) 2.05) 2..2 Homalomena sp.08 0.05 (significant of the α 0. Korelasi yang bersifat positif mengandung pengertian bahwa apabila sinaran surya lokal meningkat.1. sagu Rottb var molat (Becc) 4. M.2 Nephrolepis sp.73* 5.53* 5. M.4. rumphii Mart var sylvestre (Becc) 3.04 0. dan temperatur mikro akan menurun. sagu var molat 2.2 M. 1.10 0. 3.56* 4. maka sinaran surya (lokal & mikro). rumphii Mart subvar tuni (Becc) 1. Chi-square untuk pengujian asosiasi interspesifik spesies berpasangan penyusun utama komunitas sagu pada plot penelitian di Pulau Seram (Chi-square for interspecific association testtopair dominantspecies inthesagopalm communityatresearchplottheSeram Island) No.14 0.50 0.04 0. Korelasi yang sama terjadi pula antara variabel sinaran surya dengan temperatur mikro.

artinya apabila Fe meningkat..4 -0. Fe = Ferrum.40%.. Pada model indeks PS di atas. Interaksi dengan Variabel Kualitas Air Rawa Hasil analisis PCA kualitas air rawa menunjukkan bahwa pH air memiliki korelasi positif dengan kalium.4 0. KTK. RH-mikro = kelembaban mikro. Banyak tunas anakan sagu mengalami kematian karena terjadi kompetisi yang kuat diantara individu setiap rumpun dalam mendapatkan sinaran surya. Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar.82Liat) dimana : PS(F-tanah) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor tanah. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan sifat tanah sangat ditentukan oleh kapasitas tukar kation (KTK).0 Sec ond Component -0. Srymikro = sinaran surya mikro.15%.5 0 .2Fe 0.5 Gambar (Figure) 6.15%. dan kalium.0 Fe pH(KCl ) Kal si um KTK pH(KCl) Kalsium KTK Second Component 0.3 -0.. dan kalium (Gambar 6). kalsium. Variabel tanah yang memiliki kontribusi tertinggi adalah KTK (1. Hal ini berarti bahwa sagu menghendaki tanah dengan kesuburan yang memadai. T-mikro = temperatur mikro.07Fe) + (0.0 0. Partikel liat berkorelasi positif dengan bulk density (BD). Loading Plot of pH (KCl). magnesium. maka pH akan berkurang (semakin masam). Argumen ini dikemukakan karena KTK merupakan parameter tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah (Hardjowigeno 1992).4 -0 . C-org = karbon organik. b. Model indeksnya sbb : PS(F-tanah) = (1.3 0.10Sry-lokal) + (1. . Pada model di atas.5 Kalium Liat BD -0.3.1 0 .4 0. Mg = Magnesium.66Sry-mikro) – (1. Kalium. maka ditentukan besarnya kontribusi relatif variabel kualitas air rawa terhadap PS. Syr-lokal = sinaran surya lokal.1 0.C _org an ik C _organik 0. c. Tanah dengan KTK tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut subur. Selain itu kation-kation basa yang meningkat. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram sangat ditentukan oleh variabel intensitas cahaya surya mikro. Variabel kualitas air rawa yang memiliki C_organik Load in gPlot ofp H(KC l).8 No. kalsium.90%). Ca = Kalsium.0 BD L iat -0. Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan suatu variabel.27BD) + (0.2 F irst C om p one nt 0 .3 0..2 F irst C om ponent 0.17K) + (1. 135 .83C-org) + (1. 142 .1 M agnes ium -0.90KTK) + (1. Sedangkan pH berkorelasi negatif dengan Fe.2 -0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor kualitas air rawa terhadap PS di plot penelitian sebesar 10. dan magnesium.4 0. Liat 0.3 0 . Interaksi dengan Variabel Tanah Hasil analisis PCA faktor tanah menunjukkan bahwa variabel C-organik berkorelasi positif dengan pH.. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masingmasing variabel tanah terhadap pertumbuhan sagu. maka akan diikuti dengan variabel yang lain.2 -0. dan magnesium merupakan kation basa yang memainkan peranan dalam meningkatkan pH. C-hujan = curan hujan.. Juli 2011.4 0. pH-KCl = kemasaman tanah potensial. dan sebaliknya apabila KTK rendah termasuk kurang subur. Fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa kematian tunas anakan sagu antara lain dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya surya yang masuk sampai ke bagian bawah tajuk rumpun sagu. KTK = kapasitas tukar kation.2 -0.1 0.64Ca) + (0. Diagram loading plot korelasi variabel tanah habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of soil variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island). kalsium.85Mg) + (1.5 Kal ium Magnesium -0.78T-mikro) + (1.2 -0.3 -0. kalsium. magnesium. BD = bulk density.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Liat = partikel liat. K = Kalium. Korelasi yang bersifat positif ini mengandung pengertian bahwa dengan makin bertambah kandungan kalium.47RH-mikro) + (1.1 -0. Cahaya surya yang masuk sampai dekat rumpun sagu hanya mencapai 12.1 0.1 0.1 0.3 Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar..63C-hujan) dimana : PS = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor iklim. Korelasi positif terjadi pula antara KTK dengan kalsium.60pH-KCl) + (0. maka pH air akan meningkat. dan magnesium (Gambar 7).2 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor tanah terhadap PS di Pulau Seram sebesar 10.145 PS(F-iklim) = (0. dengan sendirinya akan meningkatkan kadar salinitas.

4 -0. Diagram loading plot korelasi variabel kualitas air rawa habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of water swamp quality variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Pada model indeks di atas. Potensi produksi kedua jenis sagu ini hampir sama pada semua tipe habitat.0 12.220.0 37. Potensi populasi tumbuhan sagu di P.6 0.8 348. Phn = pohon (trees).2 331.6 9. ind = individu (individual).8 629. pohon masak tebang 0..22 juta rumpun sagu.6 1.73Ca) + (1. Seram Di Pulau Seram Maluku terdapat potensi luas areal sagu sekitar 18. Kalsium juga merupakan kation basa yang berperan dalam memperbaiki kemasaman air. d.468. K = Kalium. dan Lilik B.25 0. . NO3 = Nitrat Loading Plot of pH.3 552.8 Sapihan (Sapling) Fase Pertumbuhan Tiang Pohon (Pole) (trees) x 1000 ind.8 104. pada habitat tidak tergenang (lahan kering) potensi produksi sagu basah tuni rata-rata mencapai 685.5 67.6 Magnesium Second Component 0.1 162. dan pohon lewat masak tebang 0.745.8 57.59 individu. Seram (Population potential of sago palm at the Seram Island) Jenis Sagu (Sago Species) Jumlah Rumpun Semai (Seedling) (Numbers of Clump) 1.3 95. Maluku Samin Botanri. Ca = Kalsium.50 Gambar (Figure) 7.9 1.14 juta individu. Berdasarkan tipe habitat.8 1.588.239 ha.8 27.6 678.00 First Component 0.2 2. Pada tabel 4 tampak bahwa tipe habitat berperan dalam mempengaruhi produksi pati sagu.14Salinitas) dimana : PS(F-KAR) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor kualitas air rawa.2 55. Prasetyo kontribusi tertinggi adalah kalsium (1.50NO3) + (0. artinya diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah yang relatif banyak.50 kg/batang.714 juta rumpun).73%).55 juta individu.7 13. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan kualitas air rawa sangat ditentukan oleh kandungan kalsium.135. dapat dikatakan bahwa sagu tuni merupakan jenis sagu yang sangat potensial karena memiliki jumlah individu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis sagu yang lain (1.9 118.5 304.991.61pH) + (1.3 276.47 juta individu. 279.2 0. Pada luas areal tersebut tumbuh dan berkembang sekitar 3. Atas dasar jumlah individu yang dimiliki. Hasil perhitungan potensi produksi pati sagu basah di plot penelitian wilayah Pulau Seram diperoleh bahwa jenis sagu tuni dan sylvestre memiliki potensi produksi paling tinggi.22 kg/batang (Tabel 4).714.18K) + (1.2 114. pH = kemasaman air. tiang 0. Masak Phn. 0. Ibnul Qayim.25 0.0 0.8 58. terdiri dari sagu fase semai 6.50 -0.4 3. Lewat Tebang Masak Tebang (Mature trees (Mature trees Harvestabe) Non Harvestabe) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah 775.10Mg + (0.0 Kalsium -0. sapihan 1. Kalsium Tabel (Table) 3.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.12 juta individu (Tabel 3)..1 Keterangan (Remarks) : Data primer tahun 2009 (Primery data in 2009 year). Model indeks PS terkait dengan peran faktor kualitas air rawa di Pulau Seram sebagai berikut : PS(F-KAR) = (1.7 1.1 118.2 Salinitas pH -0. Potensi Populasi dan Produksi Pati Sagu di P.6 378.7 142. Mg = Magnesium. Pada tipe habitat TTG dan T2AT produksi pati sagu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tipe habitat T2AP dan TPN.8 277. sylvestre 726.3 543. Dede Setiadi.8 3.3 315. Salinitas Kalium merupakan unsur hara esensial makro. Edi Guhardja.0 20.025.4 NO3 0.1 Phn.0 61.35 juta individu.2 6.. pohon 1. 143 . Hal ini berarti bahwa untuk pertumbuhan sagu diperlukan kalsium yang memadai.

8 No.22 578. Terdapat interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan (iklim.68 237. Seram (Yield potential of sago palm starch of the habitat type at the Seram Island) No. Upaya peningkatan produksi pati sagu di habitat alam dapat dilakukan dengan penyatuan pola pertumbuhan individu dalam rumpun yang stabil melalui upaya sortasi anakan dan pengaturan jarak tumbuh antar individu rumpun. dan molat dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). 4. Saran 1. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp). New York. Bogor. baik secara kolektif maupun antara spesies berpasangan. kualitas air rawa.22 kg/batang. 5. Juli 2011.81 Rataan (Average) 566. spesies sagu telah berkembang mendominasi sebagian besar habitatnya. tanah. 3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.21 560. Tanaman. masing-masing mencapai 566.50 353. tumbuh dan berkembang mengarah kepada kondisi vegetasi yang bersifat klimaks dan stabil. Brady. minuman. sylvestre.C.11 708. IV.04 dan 560. Potensi produksi pati sagu pada tipe habitat berbeda di P. 3. 144 .00 126.22 393. tanah. Variabel iklim. didominasi oleh fase semai dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya sangat tinggi mencapai 85%.00 258. 4. Upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat dari jenis sagu bagi masyarakat di pedesaan Maluku dan Papua.22 348. dan vegetasi non sagu). 2. 1. dan Pupuk. 2005. Air. KESIMPULAN DAN SARAN A. MacMillian Publishing Company. 2. B. Departemen Pertanian. bioetanol atau industri lainnya). Dalam komunitas sagu alami di plot penelitian wilayah Pulau Seram. dapat dilakukan dengan mengembangkan jenis sagu tuni serta sagu sylvestre baik pada tipe habitat lahan kering maupun tipe lahan tergenang temporer air tawar. dan kandungan kalsium air. Tiga jenis sagu yang lain yaitu makanaro. Jenis Sagu (Sago Species) Tuni Makanaro Sylvestre Molat Rataan TTG 685. kapasistas tukar kation.17 378. maupun pemenuhan kebutuhan berbagai industri (makanan.21 dan 237.13 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land).00 348.00 287. DAFTAR PUSTAKA [BPT] Balai Penelitian Tanah. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). The Nature and Properties of Soils.04 245. dengan tingkat asosiasi secara umum rendah (JI < 0. Struktur populasi sagu di plot penelitian wilayah Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda.74 Tipe Habitat (Habitat Types) T2AT T2AP TPN kg/batang 721.2).50 726. sedangkan rotang merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi sempit (steno tolerance). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.145 Tabel (Table) 4. 1990. Kesimpulan 1. 135 . Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah. Sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu yang memiliki kapasitas produksi pati sagu yang cukup tinggi.26 186.44 516.00 460.06 183. sedangkan kapasistas produksi sagu basah jenis sagu makanaro dan molat masing-masing sekitar 245.3. 2. dan kualitas air rawa yang paling berperan terhadap pertumbuhan sagu di Pulau Seram masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. N. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp).68 kg/batang.50 324. Sagu tuni merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi luas (eury tolerance). Dalam komunitas tersebut terjadi asosiasi interspesifik bersifat negatif.50 479.

Sago Palm. 2002.W. A. Plant and Environment. Setiadi. Bogor. John Willey & Sons. Responses of Plant to Environmental Stresses. 1974. Suryana. Batam. PT. Habitat Selection by to Competing Species in a Two-Habitat Environment. General Ecology. Asosiasi Jenis-Jenis Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko. Ludwig. Sirot. 25-26 Juli 2007. D. Putra. 1994. Makalah disampaikan pada lokakarya sagu dengan 145 . Laboratory Manual. J. Levitt. R. 1998. Promoting the Conservation and Use of Underutilized and Neglected Crops. and J. Rome. Third edition. 2004. J.. 1997. Keterkaitan Profil Vegetasi Sistem Agroforestri Kebun Campur dengan Lingkungannya.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. 2005. 2006. Diakses tanggal 11 Agustus 2008. V. Arti dan Interpretasi. Rineka Cipta.cgiar. J Biodiversitas 6 (2) : 118-122. M. Sekolah Pascasarjana. : PT. S. Pendit. Jakarta Ilmu Tanah. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia.org/Publications/ pdf/238. I. dan I Made R. Nusa Tenggara Timur. Daubenmire.ipgri. Surabaya Supranto. Disertasi. Ekologi Kuantitatif. Soegianto. Bitung. A. J. Institut Pertanian Bogor. New York Louhenapessy. Edi Guhardja. 2007. Malang.pdf. Kusmana. Wageningen Agriculture University. Analisis Multivariat. International Plant Genetic Resources Institute.J. Metroxylon sagu Rottb. Academic Press. Sulawesi Utara. Metode Survey Vegetasi. A.. John Wiley & Sons. Reynolds. J The American Naturalist 160 (2) 214-234. 2008. 1997. 1980. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Ruteng. K. Penerbit Institut Pertanian Bogor. Eigth edition. ________.E. Isozim. A. New York Flach.F. dan Lilik B. Bogor. Institut Pertanian Bogor. http://www. Ibnul Qayim.E. J Biodiversitas 8 (3) : 199-203. dan DNA Pala Banda (Myristica fragrans Houtt) Maluku [Disertasi]. Hardjowigeno. C. Netherlands. Marzuki. 1997.. 2007.Ambon 29-31 Mei 2006. Fakultas Pertanian. a Textbook of Autecology. New York. Makalah disampaikan pada lokakarya pengembangan sagu Indonesia.Undaharta Ni. 2002. Second edition. Syekhfani. Jurusan Tanah. Potensi dan pengelolaan sagu di Maluku. Usaha Nasional. Statistical Ecology. Program Pasca Sarjana. 1992. McGraw Hill. pp 76.F. Krivan. Jakarta. Dede Setiadi. 1988. a Primer on Methods and Computing. Prasetyo Cox. Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Universitas Brawijaya. Studi Morfo-Ekotipe dan Karakterisasi Minyak Atsiri. New York. and E. G. Melton tema sagu dalam revitalisasi pertanian Maluku. Bogor. Kurniawan. Hara-Air-Tanah-Tanaman. Maluku Samin Botanri.

Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. light intensity of 650 lux) and application of NaCl 0. The environment conditions were arranged by placing the seedlings under heavy. Bogor . perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). Naskah diterima : 1 Juni 2011 ABSTRACT Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) is one of forest tree species that known to have seeds with rapidly loss their viability in several days. Therefore. the research was proposed by using factorial random complete design. the age of seedlings at the time of spraying were 1. The aim of the research was to determine the influence of growth inhibitors. paklobutrazol. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. Statistically./Fax. Kata kunci : Bahan pengatur tumbuh.5% solution. paclobutrazol. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. PO Box 105. moderate and light shading. RH 96 %. there should be an attemption to carry out a research on storing seedlings other than seeds by using slow growth method. RH 96 %. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum).13 % in average and gave 95% of seedling survival. (0251) 8327768 Naskah masuk : 14 Juli 2010. so as storage of the seed for this species is still becoming a question. Such treatments could supress the height and diameter growth of the seedlings up to 59. seedling ages ABSTRAK Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. NaCl dan akuades sebagai kontrol.5%. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. Keywords: Growth regulators. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. 2 dan 3 bulan. Meanwhile. NaCl and aquadest as the control.16001 Telp. umur semai 147 . intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. 2 and 3 months olds. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). environment conditions and seedling ages on the growth of kayu bawang seedlings during storage. larutan NaCl.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. The growth regulators were consisted of paclobutrazol. The results revealed that factors inhibiting the growth rate of kayu bawang seedlings effectively in term of storing for 6 months were the placement of 3 months old seedlings under heavy shading (T 25 0C. NaCl solution. naungan sedang dan naungan ringan. Dengan demikian. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh.TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites Dida Syamsuwida dan/and Aam Aminah Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan-Ciheuleut.

Musim bunga dimulai sekitar bulan Pebruari dan saat pengunduhan biji pada bulan Mei .Waktu kegiatan dimulai bulanPebruarihinggabulanDesember2008. Kecambah dibiarkan tumbuh hingga berumur kurang lebih 4-5 minggu. Alat-alat yang digunakan adalah alat gelas. Metode pertumbuhan lambat pada prinsipnya adalah menekan pertumbuhan semai selama dalam penyimpanan dengan memanipulasi kondisi lingkungan tempat simpan atau menambahkan bahan pengatur tumbuh dengan tetap mempertahankan daya hidupnya (Krishnapillay et al. semai diletakkan di bawah naungan berat (T = 25 OC. pasir. bak perkecambahan. Latar Belakang Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) merupakan jenis andalan Kabupaten Bengkulu Utara yang mempunyai pertumbuhan cepat dan kualitas yang baik.. kaliper. Tujuan dan Sasaran Tu j u a n p e n e l i t i a n a d a l a h u n t u k mendapatkan teknik penyimpanan semai kayu bawang melalui aplikasi bahan penghambat tumbuh dan pengaturan naungan pada umur semai yang berbeda. 1999). Larutan paklobutrazol 250 ppm dipersiapkan dengan cara melarutkan 1 mm paclobutrazol 250 gr/l bahan aktif ke dalam 999 ml akuades. tanah. Jenis kayu bawang adalah satu di antara sekian banyak jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. intensitas cahaya 650 lux). BAHAN DAN METODE A. dan luxmeter. A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Stasiun Penelitian Nagrak yang berjarak ± 10 km dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. Juli 2011. Lokasi pengumpulan buah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara. RH = 96 %. Setiap jenis tanaman akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan demikian juga umur tanaman saat diberi perlakuan. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth) yang diadopsi dari teknik penyimpanan Hawkes (1980).153 I. Jumlah biji per kilogramnya adalah 200 . dengan masa dormansi singkat kurang lebih 10 hari. Bahan danAlat Penelitian Bahan yang digunakan adalah benih-benih kayu bawang. bedeng semai. 147 .3 bulan setelah penyapihan. Dengan demikian. higrometer.3. PENDAHULUAN II. Untuk mendapatkan larutan NaCl 0. sebagian lagi diletakkan di bedeng bernaung sedang (T = 280C. rumah tumbuh. bahan pengatur tumbuh dan umur semai saat penyemprotan yang efektif untuk disimpan. RH = 80 %. RH = 40%. Semai pada masing-masing kondisi perlakuan. kemudian diletakkan di rumah kaca dan dilakukan penyiraman setiap hari. disimpan selama 6 bulan dan setiap 148 .5%. timbangan analitis.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Pengecambahan benih Benih dikecambahkan dalam bak kecambah berisi media pasir-tanah dengan perbandingan 1:1. sehingga penyimpanan benih untuk jenis tanaman ini masih menjadi kendala. B. Kayu bawang berkembang secara alami di hutan . label. Metode Penelitian 1. b. Kedua larutan tersebut kemudian diaduk sehingga menghasilkan 1000 ml (1 liter) larutan paclobutrazol 250 ppm. termometer. Setelah semai berumur 1.5% dilakukan dengan cara melarutkan NaCl 5 gr ke dalam 999 ml akuades. Bogor. sehingga menghasilkan 1 liter larutan NaCl 0. C. maka telah dilakukan penelitian penyimpanan dengan melibatkan faktor kondisi lingkungan tempat simpan. 2001). shading net. intensitas cahaya 17593 lux). Biji kayu bawang segar mempunyai persen tumbuh 80 %. Kayu bawang dikembangbiakkan oleh masyarakat secara generatif/dengan biji. Lewat masa tersebut persentase tumbuh menurun menjadi 50% (Riyanto. intensitas cahaya 8935 lux) dan naungan ringan (T = 300C.2. Sehubungan dengan upaya penyimpanan semai kayu bawang.300 biji.5%) dan akuades sebagai kontrol. Tahapan Pelaksanaan a.hutan sekunder terutama daerah Bengkulu Utara. B.8 No. oven. Perlakuan Semai yang telah berumur 5 minggu dipindahkan (disapih) ke dalam polybag ukuran 10 cm x 20 cm yang masing-masing berisi media pasir.Juli. kemudian tanaman disemprot dengan bahan penghambat tumbuh paklobutrazol (250 ppm). NaCl (0. terutama untuk kayu pertukangan.

74 * = = = = = = Pertumbuhan diameter (Diameter growth ) (mm) 0.28* Keterangan (Remarks): ** * tn A B C Nyata pada taraf 1% (significant at 1% level) Nyata pada taraf 5% (significant at 5% level) tidak nyata (non-significant) Bahan pengatur tumbuh (growth regulators) Kondisi tempat simpan (storage site condition) umur semai ( seedling ages) 149 . Tabel (Table) 1. setiap bulan sebanyak 12 contoh uji tanaman diamati dan diukur pertumbuhannya. III. and survival percentage of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) A B AXB C AxC BxC AxBxC PertumbuhanTinggi (Height growth ) (cm) 8. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan.28 12. diameter. Hasil Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap parameter pertambahan tinggi. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.51 1.14** 19. Ke-12 contoh uji adalah banyaknya satuan perlakuan untuk semai kayu bawang.64** 11.69 3. HASIL DAN PEMBAHASAN A. naungan sedang dan naungan ringan. 2. diameter dan persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan disajikan dalam Tabel 1.74** 0.14 ** 12.78 1. interaksi antara kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata pada persen hidup semai kayu bawang. Satu satuan perlakuan terdiri dari 12 semai. Rekapitulasi hasil sidik ragam (Kuadrat Tengah) pengaruh perlakuan terhadap tinggi. diameter dan persentase hidup semai kayu bawang (The summary of analysis of variances for height. Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan. menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan.68 3.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah interval 1 bulan diamati dan diukur respon pertumbuhannya. Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan.89** 2.04 33. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis secara statistik.44 Persen hidup (Survival percentage ) (%) 1.81** 3. interaksi antara bahan pengatur tumbuh dan umur semai. paclobutrazol dan NaCl). Hasil pengukuran persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan.42 3. B: kondisi simpan (naungan berat. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis sidik ragam. 2 bulan dan 3 bulan). Hasil pengamatan terhadap diameter semai kayu bawang menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter kayu bawang. menunjukkan bahwa bahan pengatur tumbuh dan kondisi ruang simpan berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan.47** 0. umur semai. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada persen hidup semai kayu bawang.49 ** 2.49 41.22 2. serta C: umur semai pada saat penyemprotan (1 bulan.26 9. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. Rancangan Penelitian Percobaan terdiri dari 3 faktor perlakuan yaitu A: bahan penghambat pertumbuhan (aquades. Rancangan percobaan didekati dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan ulangan 3 kali sehingga diperoleh 27 kombinasi perlakuan dan 81 satuan percobaan.

Juli 2011.40ab 2.88ab 1.153 Hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur tumbuh.68 cm.63ab 4.99ab 2. kondisi tempat simpan naungan berat dan umur semai 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan tinggi paling rendah yaitu sebesar 0. site conditions and seedling ages on the increment height of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Paclobutrazol NaCl Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 1.30ab 3.12ab 3 2. Masing-masing umur semai memiliki nilai pertambahan diameter yang berbeda satu sama lain menurut uji Duncan.79ab 8. Hasil uji beda rata-rata interaksi antara penyemprotan dengan aquades di bawah naungan sedang dan umur penyemprotan 1 bulan mempunyai nilai pertambahan tinggi terbesar yaitu sebesar 8.12ab 3.45 mm) dan umur 1 bulan (1.38 1.22ab 4.99ab 3. Tabel (Table) 3.58ab 1. Uji beda nyata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of site conditions on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Naungan ringan Naungan sedang Naungan berat Rata – rata (mean) 1.3. Sedangkan hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur NaCl.16 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B B Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) 150 .91ab Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan's test) Hasil uji beda rata-rata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter semai kayu bawang dapat dilihat pada Tabel 3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.15ab 3.28ab Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 3.16ab 3.58ab 2. Uji beda nyata pengaruh interaksi antara bahan pengatur tumbuh. Semai dengan perlakuan umur bibit 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan diameter terendah yaitu (1.49b 1. 147 .50ab 3.97ab 1.71 mm).8 No.19ab 3.52ab 4.72ab 0. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap pertambahan tinggi semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.60ab 4.99ab 3.28ab 0.68a 3.70 mm) namun tidak berbeda nyata dengan naungan sedang (1.16 mm) dibandingkan kondisi naungan ringan (1.38 mm) Hasil uji beda rata-rata pengaruh umur semai terhadap diameter semai dapat dilihat pada Tabel 4.71ab 3. Tabel (Table) 2.07 mm) dibandingkan umur bibit 2 bulan (1.49 cm.70 1. kondisi tempat simpan dan umur semai disajikan dalam Tabel 2. Penyimpanan pada kondisi naungan berat menghasilkan pertumbuhan diameter yang nyata lebih lambat (1.

0a 91.4abc 50.0i 97.9cd 100.0i 80. Hal ini dapat dilihat dari hasil perlakuan bahan penghambat tumbuh ataupun manipulasi kondisi tempat simpan yang kurang cahaya terhadap pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.4i 50.2ab 75.0i 83.0a 47.2ab 97. Tabel 5.9cd 88. site conditions and seedling ages on seedling survival of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 44.2ab Paclobutrazol NaCl Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) B.6ef 50. namun demikian bahan kimia yang berupa garam ini 151 . sedangkan semai yang disemprot dengan akuades pada umur 1 bulan dan disimpan pada naungan berat mempunyai persen hidup terendah dengan nilai 44.4abc 3 97. Uji beda nyata pengaruh umur semai terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of seedling ages on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Umur 1 bln Umur 2 bln Umur 3 bln Rata – rata (Mean) 1.2ab 97.7bc 88. Pembahasan Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tinggi semai setelah penyimpanan memperlihatkan kecenderungan meningkat.2i 72. menunjukkan bahwa pada umumnya semai yang disemprot dengan paclobutrazol 250 ppm.4 %.07 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B C Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) Hasil interaksi antara bahan penghambat tumbuh. Dengan demikian selama penyimpanan pertumbuhan tanaman tetap berjalan.2ab 94. kondisi tempat simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap persen hidup semai kayu bawang disajikan dalam Tabel 5. ditempatkan di bawah naungan ringan pada umur 1 dan 2 bulan mempunyai persen hidup yang tinggi yaitu sebesar 100 %.71 1.45 1. Bahan penghambat tumbuh NaCl dapat menekan pertumbuhan tinggi semai seperti halnya Paclobutrazol.0a Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 88.9cd 94. Uji beda rata-rata pengaruh interaksi antara bahan penghambat tumbuh.2de 100. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap persen hidup semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.2g 100. NaCl tidak termasuk ke dalam golongan zat penghambat tumbuh. namun dengan pertambahan yang relatif rendah.9cd 88.1h 97.0fg 61.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Tabel (Table) 4.2ab 100. Tabel (Table) 5.0a 97.

maka akan terjadi kenaikan dalam pertumbuhan. Garam menghambat pertumbuhan melalui pengaruh Na + dan Cl yang terserap tanaman dan kurang tersedianya air bagi tanaman. Seperti yang dinyatakan oleh Lakitan (1996) bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah intensitas cahaya. Karena Cl merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menimbulkan stress pada biosintesa giberellin. Menurut Lakitan perpanjangan batang adalah berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. sehingga sangat responsif terhadap cekaman lingkungan yang diberikan. Umur semai saat perlakuan pada penelitian ini sangat berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi dan diameter tanaman. Juli 2011. Menurut Fisher (1996) penurunan aktifitas metabolisme pada tanaman utuh. Meningkatnya konsentrasi garam dalam air pada tanaman mengakibatkan ketersediaan air bagi tanaman menurun. Cahaya diyakini berpengaruh tidak langsung melalui 152 . umur daun. 147 . biasanya terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan yang menyebabkan meningkatnya zat penghambat dan akibatnya terjadi perlambatan dalam pertumbuhan primordia daun dan batang. Sedangkan menurut Kamaluddin (1999) respon tanaman yang tahan naungan seperti pada jenis Dipterocarpaceae. Namun demikian perlu memperhitungkan waktu penggunaan semai untuk bibit ketika akan ditanam di lapang agar umur tanaman tidak terlalu tua. suhu. Menurut Hawley (1981) NaCl tersusun dari unsur Na + dan Cl yang mana ion Cl nya secara analogis mempunyai sifat mekanisme yang sama dengan ion Cl yang terdapat dalam paklobutrazol. Penekanan pertumbuhan tinggi semai kayu bawang juga terjadi pada perlakuan kondisi tempat simpan dimana pada kondisi naungan berat yang mempunyai intensitas cahaya paling sedikit (650 lux) dibandingkan tempat dengan naungan sedang (8935 lux) maupun ringan (17593 lux). Hal ini terjadi karena ion-ion sudah dalam jumlah yang tidak seimbang sehingga menjadi racun bagi tanaman. Menurut Soepardi (1983) semakin tinggi konsentrasi kandungan garam dalam tanah. oleh karena itu konsentrasi garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. perpanjangan batang. formulasi dan konsentrasi nutrisi (pupuk).153 dapat menjadi bahan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini diduga terjadi karena tanaman yang lebih tua telah mengalami penurunan aktifitas metabolisme untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Dalam kasus ini tampaknya gabungan perlakuan intensitas cahaya dan salinitas (kadar garam) merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tinggi semai kayu bawang dimana kombinasi antara pencahayaan yang sedikit (650 lux) menyebabkan proses fotosintesa tidak berjalan dengan baik dan diperparah dengan adanya larutan garam 0. 1996). pengurangan ketebalan daun tampaknya lebih disebabkan oleh perubahan dalam kualitas cahaya ke arah merah-jauh (far red) daripada pengurangan intensitas cahaya itu sendiri (Fisher. yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan akar tunggang (Hendromono. pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. Secara keseluruhan pengaruh bahan penghambat pertumbuhan berkaitan dengan naungan yang diberikan terhadap penekanan pertumbuhan tinggi. cukup peka terhadap manipulasi kondisi lingkungan. Menurut Kozlowsky dan Pallardy (1979) penyerapan hara melalui daun tergantung dari : cahaya.3. Namun apabila cekaman lingkungan (dormansi) berakhir. yang menyebabkan kerusakan membran sel daun dan penutupan stomata daun. Seperti misalnya NaCl dalam penelitian ini pada umur berapapun dapat menghambat pertumbuhan tinggi apabila diberikan pada kondisi naungan berat. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman memerlukan cahaya untuk pertumbuhannya. Mekanisme penyerapan yang serupa terjadi pada larutan garam yang disemprotkan kearah daun (pupuk daun) dimana garam yang terlarut dalam air dapat masuk ke ruang interselular melalui lubang stomata. Terjadinya etiolase pada tanaman yang ternaungi. kelembaban relatif. 2001). Pada penelitian ini umur semai 3 bulan sangat efektif digunakan untuk tujuan penyimpanan dibandingkan umur semai yang lebih muda (1 dan 2 bulan). semai mengalami penghambatan dalam pertumbuhan tinggi. sehingga metabolisme terganggu dan pertumbuhan terhambat. sehingga selama penyimpanan dalam naungan berat.5% yang disemprotkan.8 No. status nutrisi dalam tanaman. tidak hanya dikarenakan oleh keracunan pada akar tanaman tapi juga berkurangnya air bagi tanaman. Intensitas cahaya yang masuk pada rumah tumbuh (650 lux) masih cukup bagi tanaman untuk melakukan fotosintesa sehingga metabolisme masih berjalan baik walaupun tidak maksimal yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan tinggi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

Bogor. J. IPGR. Malaysia. G. N. 1995. P. Kamaluddin. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah Fakultas Pertanian. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropika.Pp. 2001. Bogor. 156213. Palembang.T Raja Grafindo Persada. KESIMPULAN Faktor yang menghambat pertumbuhan semai kayu bawang selama penyimpanan 6 bulan adalah penerapan larutan NaCl 0. Krishnapillay (Eds). N. F. 280285. 1995). Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman: Fase Vegetatif. intensitas cahaya 650 lux). RH 96 %. In Marzalina. IUFRO Seed Symposium 1998 'Recalcitrant Seeds'. Rome. Marzalina.13 % serta mempertahankan persen hidup hingga 95%. Salisbury. Kayu Bawang (Dysoxylum sp) Berpotensi untuk Kayu Pertukangan.Y Tsan and B. Tokyo. Ketika semai masih berumur 1 bulan dan disimpan pada kondisi intensitas cahaya sedang (8935 lux). T. Hal.411 Pallardy.M Fisher. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. B.C Khoo. F. Gadjah Mada University Press.Jayanthi and N. N. Kualalumpur.G. IV.D. B.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis. Diego. Krishnapillay. Goldsworthy. Toronto. F. maka pertumbuhan tinggipun masih terhambat. Sydney. New York. Buletin Penelitian Hutan.M. Plants. Hendromono.286-295. 1979. Malaysia. 1996. 153 . 1996.T dan S. M. Slow Growth as a Method to Ensure Continuous Supply of Planting materials for recalcitrant seed species. 1999. Proc. Penerbit ITB Bandung. K. Proc. Sifat dan ciri tanah. P. 2 nd Ed. Crop Genetic Resources. Institut Pertanian Bogor. Fisiologi Tumbuhan.A & William. Hawkes. 1-8 Kozlowsky. J.T (Eds).C Khoo. Hal ini terjadi mungkin karena umur semai yang masih muda memiliki jumlah klorofil yang relatif sedikit sehingga kekuatan dalam menangkap energi cahaya yang diberikan sangat terbatas dan akibatnya pertumbuhan tidak optimal. L. Manipulation of Growth Light Environment for Storage of Seedlings of Shade-Tolerant Forest Tree Species in nursery. Lakitan. Jilid 1. Jakarta. In M. DAFTAR PUSTAKA Fisher. The Conservation of Difficult Materials. 1980.R and N. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.A Nashatul Zaimah. Hal. 1983.Y Tsan and B. Jayanthi. H. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59.Marzalina. Ed. namun sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa cahaya mempunyai pengaruh kuat terhadap stomata. San Boston. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. Riyanto. IUFRO Seed Symposium 1998 ' Recalcitrant Seeds'. P. terlepas dari peranannya dalam fotosintesis (Salisburry and Ross. Tsan. Genetic Conservation of Recalcitrant Species: an Overview. 2001. N. M. In Whithers. Jayanthi. M. Kualalumpur. Pp. Batas Toleransi Bibit Gmelina (Gmelina arborea Roxb. K. Kondisi ini terjadi juga pada semai yang diberi bahan penghambat paklobutrazol dimana efektivitas dalam penekanan pertumbuhan tinggi terjadi pada semai umur 1 bulan dan intensitas cahaya yang sedang. Krishnapillay (Eds). London.G Physiology of Woody Academic Press. 1999.5% pada semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C.Y. 12 Nopember 2001.) dan Mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap Kandungan Garam Air Penyiraman. FB and CW Ross. Soepardi.

rumah permanen. and productive age population were investigated. dan/and Herry Purnomo2 1 2 2 Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. non rice field-land use. Keywords: Biophysical. (0251) 8622642. Jawa Barat Telp. land capacity.e. Naskah diterima : 10 Juni 2011 1 ABSTRACT The study examined the use of biophysical and socio-economic factors to classify village as characteristic variables of private forest. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. population density. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. dan umur produktif penduduk yang diteliti. distance to main road. socio-economic. kelerengan lahan. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. Sekolah Pascasarjana IPB. tipologi desa 155 .e. Berdasarkan analisis gerombol. Hardjanto2. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%.. road density. clustering analysis. private forest. This study was conducted in Kabupaten Ciamis covering 363 villages. Bogor. Bogor 16680 Jawa Barat-Indonesia Telp (0251)8622642 Naskah masuk : 11 Februari 2011. The only factor that has no correlation with private forest area is distance to main road. I Nengah Surati Jaya . land configuration. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. kemampuan lahan. The main objective of this study is to determine the most significant variables that affect the village typologies related to private forest area. sosial ekonomi. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. Selected variables for clustering are based on the principle component analysis design of eight correlated variables. distance to state forest area. namely high potential area and low potential area types. permanent home. analisis gerombol. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. jarak ke kawasan hutan negara. and three of socio-economic factors i.TIPOLOGI DESA BERDASARKAN VARIABEL PENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini . Kampus IPB Darmaga. village typologies ABSTRAK Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. Endang Suhendang . dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. The study found that most of those factors has close correlation with the existence of private forest. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga. jarak ke jalan besar. Clustering analysis of the study found two typologies of private forest development. Kata kunci : Biofisik. email : tien_unw@yahoo. with having overall accuracy of 64%.. hutan rakyat. There are six of biophysical factors i.com 2 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Jl.

2006). dan Norwegia). B. sehingga sulit untuk mencapai luasan minimum 0. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Indonesia seperti negara-negara Eropa Utara (Filandia. tipologi ini dapat membantu menduga potensi sebaran hutan rakyat untuk wilayah yang belum diketahui dan belum dilakukan inventarisasi menyeluruh. Secara spasial hutan rakyat umumnya tidak tersebar dalam suatu hamparan yang kompak.8 No. Pembentukan unit pengelolaan hutan rakyat memerlukan penggalian karakteristikkarakteristik wilayah yang ingin dikelola. Luas 0. Di Pulau Jawa rata-rata kepemilikan dalam satu hamparan sempit kurang dari 1 ha. dimulai bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011. pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu disebut dengan tipologi.25 ha sampai saat ini dipakai sebagai syarat untuk dikategorikan sebagai hutan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor biofisik dan sosial ekonomi yang membentuk tipologi untuk menduga potensi hutan rakyat. Juli 2011. pemeliharaan. Latar Belakang Hutan rakyat memiliki karakteristik yang unik. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang mencakup sebanyak 336 desa. Pengelolaan hutan rakyat dilakukan oleh masyarakat secara individual (pada tingkat keluarga) pada lahan miliknya. seperti posisi tawar yang lemah dan informasi yang kurang.3. luas pemilikan lahan dan keragaman pola usaha tani yang akan berpengaruh terhadap jumlah pohon pada setiap kepemilikan. Kondisi petani di Indonesia umumnya subsisten. Dengan terbentuknya tipologi hutan rakyat diharapkan dapat menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah yang unik berdasarkan karakteristik masingmasing wilayahnya. Dengan demikian untuk menerapkan dan menganalisis komponen-komponen kelangsungan pelestarian itu perlu dibuat suatu perencanaan wilayah berbentuk suatu wadah atau unit pengelolaan. Segala keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan rakyat (penanaman. yang menyebabkan hutan rakyat tidak mengelompok pada suatu areal tertentu tetapi tersebar berdasarkan letak. penebangan dan pemasaran) ditentukan oleh kebijakan masing-masing keluarga (Mindawati et al. menyebabkan keadaan tersebut menjadikan petani dalam posisi lemah.. Luasan kepemilikan relatif kecil sehingga untuk mencapai luasan yang besar maka perlu penggabungan beberapa kepemilikan lahan. Swedia. BAHAN DAN METODE A. II. Lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis ( Research areas in Kabupaten Ciamis) 156 . Selain itu. 2002). Sistem pengelolaan hutan rakyat dengan berdasarkan komponen-komponen yang mendukung dapat menjamin kelestariannya. dimana luasan lahan kepemilikan berkisar antara 5-40 ha per keluarga (Harrison et al. Perencanaan wilayah tersebut sebaiknya bersifat spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah yang dihadapi.168 I. 1991). Kabupaten Ciamis memiliki potensi hutan rakyat yang besar di Jawa Barat. 155 .25 ha (Suharjito 2000 dan Haeruman et al.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Gambar (Figure) 1. PENDAHULUAN A.

1 2 3 4 5 Kelas lereng (Slope classes) Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Kisaran (Intervals) (%) 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 157 .. peta digital kawasan hutan negara (sumber RBI tahun 2006 dan Baplan 2011). Kementerian Kehutanan. 2. Minitab versi 14. Haeruman et al. peta kawasan hutan negara.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Analisis Data 2. yaitu peta kontur. Jalan kolektor yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kotamadya terhadap kepentingan provinsi. Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap kawasan batas hutan negara terdekat. 2007. dengan unit analisisnya adalah desa. BPS. Pengumpulan Data a. Kedekatan terhadap kawasan hutan negara memiliki peluang untuk berkembangnya hutan rakyat baik secara alam maupun budaya. peta digital kontur. Bahan danAlat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : peta digital administrasi Kabupaten Ciamis.. Data dan informasi atas hasil analisis pengolahan spasial peta dijital lokasi penelitian dibantu dengan beberapa layer yang mendukung. yaitu layer batas administrasi desa dengan batas kawasan hutan negara di Kabupaten Ciamis. SPSS versi 17. Perhitungan jarak dilakukan dengan analisis spasial. C. peta digital jenis tanah. (2001) menyatakan salah satu areal yang menjadi sasaran pembangunan hutan rakyat adalah areal kritis dengan keadaaan lapangan berjurang dan bertebing. peta jaringan jalan. b. Data sekunder diperoleh dari publikasi lembaga pemerintahan seperti Dinas Kehutanan. Klasifikasi kelas lereng ( Clasification of slope classes) No. Identifikasi Variabel-Variabel Pendukung Keberadaan Hutan Rakyat Dalam penelitian ini dicari variabelvariabel yang sangat mempengaruhi keberadaan hutan rakyat di suatu lokasi. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arc View versi 3. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang terkait dengan hutan rakyat dan pengaruh biofisik terhadap perkembangan suatu wilayah (Suharjito 2000. Jarak Terdekat Desa ke Jalan Besar Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap jalan besar terdekat. Tabel (Table) 1. perguruan tinggi. Kelas-kelas kelerengan dalam suatu wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. Endang Suhendang. peta digital jaringan jalan.1. Perhitungan jarak terdekat tersebut menggunakan analisis spasial terhadap 2 layer. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas lereng yang sudah umum digunakan dalam penatagunaan hutan. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K). c. data profil desa Kabupaten Ciamis tahun 2006.2.Hardjanto. b. dan alat pendukung lainnya. Hardjanto 2003) ditemui variabel-variabel sebagai berikut : a. lembaga penelitian. Jarak Terdekat Desa ke Kawasan Hutan Negara Terdekat. I Nengah Surati Jaya. serta literatur publikasi ilmiah lainnya. dan Herry Purnomo B. peta tanah. Sehingga variabel yang perlu diperhatikan adalah perbandingan (rasio) antar luas areal dengan kelas kelerengan lahan yang lebih besar sama dengan 15% terhadap total luas desa. dan peta batas administrasi. Metode 1. Awang et al. Rasio Kelerengan Lahan Menurut Awang et al. Pada penelitian ini yang dimaksud jalan besar adalah jalan kolektor.. 1991.

Sehingga secara keseluruhan ada 9 (sembilan) variabel yang diuji untuk mengetahui yang berpengaruh terhadp pembagian tipologi. Pengelolaan hutan rakyat masih dianggap kegiatan sampingan yang bersifat tidak intensif.3. yaitu dari rasio antara jumlah rumah permanen dengan total rumah di desa bersangkutan. tekstur tanah permeabilitas.Rasio Umur produktif penduduk 2. 2.Kemampuan Lahan . Secara ringkas variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Semakin besar rasio maka diasumsikan pendapatan penduduk setempat semakin tinggi.Penggunaan Lahan ( land use) . Juli 2011.i (i=1. H. 155 . sehingga diduga ada hubungan antara potensi hutan rakyat dengan kondisi kemampuan lahannya..3. Variabel-variabel tipologi hutan rakyat (Typology Variables of private forest) No.i (i=1.. Kemampuan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk membuat modifikasi kelas kemampuan lahan adalah kelerengan.64 tahun) dengan luas total desa. 1989): 8 Luas Total Desa Dimana : Li = Luas kemampuan lahan kelas ke. Tabel (Table) 2. 1.168 d.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.Kepadatan penduduk .3. Diasumsikan bahwa ketika pendapatan penduduk semakin meningkat maka kondisi rumahnya akan semakin permanen. Untuk data pendapatan dilakukan dengan pendekatan terhadap kondisi perumahan. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa hutan rakyat di Jawa umumnya dibudidayakan di areal-areal lahan kering daerah atas (upland areas).8) KL = i = 1 Li × Nti g. Kemampuan Lahan Hutan rakyat di Jawa umumnya banyak ditanam di wilayah lahan kritis yang tidak subur.Jarak ke jalan besar .Kerapatan jaringan jalan . Kerapatan Jalan Kerapatan jalan adalah rasio antara luas jalan (m) dengan luas desa(ha). 2. Indikator (Indicators) Karakteristik Bio-Fisik Peubah-Peubah (Variables ) ..Tingkat rumah permanen . kepekaan erosi. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penduduk di setiap desa (orang) dengan luas administratif desa (ha). e. Rumusnya dapat dilihat sebagai berikut: Panjang jalan (m) Kerapatan Jalan Luas desa (ha) f.. Adapun variabel kemampuan lahan di suatu desa (KL) (Arsyad. sehingga diduga beberapa wilayah yang berkembang hutan rakyatnya ketika jumlah umur produktif sedikit dan didominasi umur non produktif.. Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non Sawah) Penggunaan lahan bukan sawah adalah perbandingan (rasio) areal lahan pertanian non sawah dengan luas total desa..8 No. dan drainase di suatu wilayah desa. Rasio Rumah Permanen Rasio rumah permanen merupakan pendekatan terhadap informasi pendapatan penduduk.Rasio kelerengan lahan . f. Karakteristik Sosial dan Ekonomi 158 . Rasio Umur Produktif Rasio umur produktif adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia produktif (15 . kedalaman tanah.Jarak ke kawasan hutan hutan negara . Umumnya hutan rakyat timbul pada wilayah-wilayah yang masih kurang padat penduduknya.8) NTi = Nilai Tengah kelas ke.

tetapi keragaman antar kelompok besar. merupakan konbinasi linier dari variabel asal: Yi = ai1X1+ai2X2+…+aipXp Hasil analisis komponenkomponen utama antara lain nilai akar ciri. Untuk melakukan pengelompokan tipologi digunakan analisis gerombol (clustering analysis). dan mereduksi objek dalam dimensi yang lebih kecil. Penggunaan Analisis Gerombol (Clustering Analysis) Dasar pembuatan tipologi adalah variabelvariabel yang dianggap dominan dalam menentukan potensi hutan rakyat. (2) mengelompokkan variabel-variabel penting dari satu bundel variabel besar untuk menduga suatu fenomena. Penelitian ini menggunakan analisis gerombol ini dengan metode K-Means. Sehingga jika mencari gabungan yang terbaik adalah yang memiliki selisih ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok yang terbesar. yaitu : a. b. maka dilakukan pengujian sebagai berikut : (1) Uji keragaman Kelompok yang terbentuk dikatakan baik jika keragaman dalam satu kelompok kecil. yaitu: (1) untuk mendapatkan variabel-variabel baru yang saling orthogonal/bebas. sehingga semakin mendekati nilai tersebut semakin erat hubungan X dan Y. antar komponen utama saling original/bebas. sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. Ada tiga karakteristik komponen utama: informasi data asal yang dijelaskan maksimum (memiliki ragam maksimum). Pengujian Tipologi Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang terbentuk sudah memiliki gambaran yang mirip terhadap potensi hutan rakyat. proporsi. b. Penggunaan metode ini banyak digunakan untuk beberapa tujuan penelitian (Rahmalia 2003). I Nengah Surati Jaya. Analisis Komponen Utama ( Principal Component Analysis/PCA) Tujuan dari analisis komponen utama dalam penelitian ini . (2) Evaluasi akurasi Untuk menguji akurasi kelompok yang terbentuk menggunakan prinsip matrik kesalahan ( confusion m atrix ). dan kumulatif akar ciri. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.3. Pembentukan Tipologi a. Untuk menganalisis hal tersebut digunakan 2 cara. metode ini menetapkan terlebih dahulu jumlah kelompok yang akan dibuat sehingga metode ini cocok jika data yang diolah banyak. Analisis korelasi yang di-gunakan adalah korelasi Spearman. Penentuan Variabel Dominan Dari 9 (sembilan) variabel akan dianalisis hubungannya dengan hutan rakyat di suatu desa. Analisis Korelasi Pada penelitian ini. Sehingga dilakukan pengujian pada setiap kelompok yang sudah terbentuk. Sebagai 159 .2. 2. Nilai -1 atau +1 menunjukkan adanya hubungan yang sempurna antara X dan Y.Hardjanto. Endang Suhendang. analisi korelasi menghubungkan 2 variabel yaitu masing-masing 9 variabel biofisik dan sosial ekonomi yang diuji dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Keragaman dapat diketahui dengan rumus : Ragam rata-rata dalam kelompok adalah : n m i 1 n 2 yi y 2 i i 1 i 1 n 1 m s2 y Keterangan : yi = luas hutan rakyat pada desa ke-i n = jumlah desa pada kelompok ke-i m = jumlah kelompok Ragam antar kelompok yang distandarkan : Keputusan yang terbaik jika: memiliki ragam dalam kelompok yang terkecil dan ragam antar kelompok yang terbesar. dan Herry Purnomo 2. Diasumsikan bahwa potensi tersebut dapat mewakili karakteristik lokal hutan rakyat di suatu tempat.

297** -.139* -.266** -.000 -. Korelasi antar variabel biofisik.932** . X+1 = Luas kolom dalam baris ke-i X1+ = Luasan dalam kolom ke-j N = Total area verifikasi III.215** -.000 .058 . sosial ekonomi.050 .8 No.197** .208** .3. Keterangan (Remarks) : OA = Nilai akurasi rata-rata umum (Overall Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antar kelompok atau kelompok variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN A.426** Kepadatan Penduduk (Population density) -.198** . dan rasio kelerengan lahan.216** -.058 KerapatnJ alan (Road density) Luas Hutan Rakyat (Private forest area) Kepadatan Pendudu (population density) Rumah Permanen (Permanent home) Umur Prod uktif (Productive age population) Non Swh (Non rice field) Kelerengan lahan(Land slope) Jarak hutan (Distance to state forest area) Jarak Jalan (Distance to main road) KmampuanLahan (Land capacity) Kerapatan J alan (Road density) -.050 -. Akurasi kappa dihitung menggunakan rumus (Jaya.245** 1.167** -.072 -. Akurasi rata-rata umum dihitung menggunakan rumus (Jaya.072 1.072 -.447** -. Penentuan Variabel Dominan Pembentuk Tipologi Berdasarkan korelasi Spearman terdapat hubungan yang sangat nyata antara beberapa variabel terhadap keberadaan luas hutan rakyat di suatu desa.441** . kerapatan jalan.127* 1.382** .101 -.233** .045 .167** .320** -.447** 1. umur produktif.099 -.000 .264** . dapat dilihat pada Tabel 3.01 (Correlated at 0. Sedangkan korelasi sangat nyata yang bersifat negatif adalah kepadatan penduduk.529** -.453** -.277** .000 -.225** -.197** -.111 * -.433** .367** .108* . dan kerapatan jalan.05 (Correlated at 0.277** Jarak Hutan (Distance to state forest area) -.565** .382** .453** .198** .245** -.320** -.266** -. jarak ke hutan.357** -. Dari confusion matrix dapat menghitung akurasi rata-rata umum (overall accuracy) dan akurasi kappa accuracy.139* -.380** .433** -. pendapatan penduduk.276** -. 2006) sebagai berikut : Tabel (Table) 3. N = Total area verifikasi.265** -.297** -.932** -.154** Kemampuan Lahan (Land capacity) -. Dari 9 peubah tersebut yang memiliki nilai tiga terbesar korelasinya adalah rasio kelerengan lahan. kemampuan lahan.426** .145** 1.565** 1. tetapi juga menghitung jumlah desa yang dikelaskan pada tipologi tidak tepat masuk dalam kelas acuan. Akurasi kappa pada umumnya mempunyai nilai akurasi lebih kecil dari akurasi rata-rata umum karena pada akurasi kappa dihitung tidak hanya berdasarkan jumlah desa yang dikelaskan masuk secara benar pada kelas acuan.496** -. 2006) sebagai berikut : Keterangan (Remarks) : K = Akurasi Kappa (Kappa Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antara hasil tipologi dan kelas variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.072 .441** -.000 -. 155 .000 .000 -.486** 1.486** -.265** Kelerengan lahan (Land slope) .154** Rumah Permanenen (Permanent home) -.357** 1. Juli 2011. Sedangkan yang tidak berkorelasi adalah jarak desa ke jalan besar terdekat.05 level) 160 .168 standar adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan data luas hutan rakyat. Korelasi sangat nyata yang bersifat positif saling menguatkan adalah : rasio penggunaan lahan bukan sawah (non sawah).111 * -.225** Jarak Jalan (Distance to main road) . dan rasio lahan bukan sawah.234** .276** .496** .264** .101 .178** .145** -.000 .01 level) * Berkorelasi nyata pada level 0.216** -.000 1.000 -.108* -.178** Non Sawah (Non rice field) .234** .127* Keterangan (Remarks): ** Berkorelasi nyata pada level 0.208** Umur Produktif (Productive age population) -. dan luas hutan rakyat (The correlation between biophysical and socio-economic variables and private forest area) Variabel (Variables ) Luas Hutan rakyat (Private forest area) 1.045 .099 -.529** -.233** -.367** -.215** .380** .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

di sinilah hutan rakyat berkembang. Ketika desa memiliki kerapatan jalan yang besar cenderung memiliki hutan rakyat yang sedikit. Dari hasil korelasi menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan positif dengan keberadaan hutan rakyat dan sangat nyata hubungannya. c. kerena semakin sedikit penduduk berpeluang areal digunakan dengan penggunaan lain selain pemukiman seperti perkebunan dan lainnya. Daerah tersebut merupakan daerah pertanian non sawah. Kerapatan Jalan Variabel ini berkorelasi dominan kedua setelah rasio kelerengan lahan terhadap keberadaan hutan rakyat di suatu desa. yakni berada di wilayah landai sampai curam. Wilayah hutan negara di Kabupaten Ciamis umumnya berada di lokasi topografi curam di daerah-daerah pegunung- 161 . h. Semakin maju desa memungkinkan banyaknya alternatif penggunaan lahan lain yang lebih produktif. e. Kepadatan penduduk juga berkorelasi positif dengan variabel rasio umur produktif. Kerapatan jalan berhubungan dengan kemajuan transportasi di suatu wilayah desa. Secara logis hal ini tentu demikian. Kondisi ini diduga karena Variabel biofisik dan budaya.Hardjanto. Ini menunjukkan bahwa hutan rakyat dominan berada di wilayah yang tidak datar. Semakin luas penggunaan lahan pertanian non sawah berarti semakin besar pula potensi pengembangan hutan rakyatnya. Hutan rakyat umumnya ditemukan pada wilayah berpenduduk rendah. Rasio Umur Produktif Pengelolaan hutan rakyat tidak seintensif pengelolaaan pertanian dan perkebunan. f. Hasil korelasi dengan luas hutan rakyat menunjukkan adanya korelasi negatif berarti hutan rakyat memang cenderung berkembang pada wilayah-wilayah dengan kemampuan lahan yang rendah.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. d. menyatakan umumnya lokasi hutan rakyat berada di wilayah areal lahan kering daerah atas ( upland areas ). Kondisi ini mendorong pemilihan menanam kayukayuan dibanding dengan pertanian intensif. sehingga semakin padat penduduk kemungkinan besar jumlah umur produktif juga ikut bertambah di suatu wilayah desa. Ini menenjukkan bahwa variabel rasio non sawah bisa menjadi penanda untuk menduga potensi pengembangan hutan rakyat di suatu desa atau wilayah. Lahan ini dalam pendataan statistik disebut dengan lahan pertanian non sawah. Hubungan antar pendapatan penduduk dengan potensi keberadaan hutan rakyat di suatu desa berkorelasi negatif. Rasio kelerengan lahan Variabel ini memiliki korelasi tertinggi diantara variabel lainnya. Sehingga sekarang diduga tumbuhnya hutan rakyat dominan di wilayah-wilayah tidak subur. Hal ini disebabkan timbulnya hutan rakyat pada kondisi lahan marginal yang tidak memiliki banyak alternatif kegiatan pertanian yang lebih produktif. yang biasa disebut dengan tegalan atau kebun. Kepadatan Penduduk Merupakan variabel yang berhubungan negatif dengan luas hutan rakyat. I Nengah Surati Jaya. Rasio Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non sawah) Berdasarkan penelitian Suharjito (2000). banyak penduduk desa yang berada dalam usia produktif bekerja di kota. g. b. Sehingga ketika terjadi urbanisasi yang besar. Sehingga hubungan korelasi antara rasio umur produktif dengan luas hutan rakyat bersifat negatif. Rasio rumah permanen Keberadaaan rumah permanen dalam penelitian ini diasumsikan dengan pendapatan penduduk. Hutan rakyat merupakan alternatif berikutnya ketika lahan tidak memungkinkan untuk ditanam tanaman pertanian atau budidaya lain yang lebih cepat menghasilkan. Kemampuan lahan Berdasarkan pengalaman sejarah dimulainya hutan rakyat karena gerakan penghijauan pada daerah-daerah kritis (Hardjanto 2003). Endang Suhendang. Semakin dekat areal hutan negara dengan suatu desa. maka umumnya semakin besar potensi hutan rakyat. dan Herry Purnomo Penjelasan lebih terperinci mengenai kondisi antara variabel-variabel tersebut sebagai berikut: a. Wilayah yang tidak memperoleh pengairan untuk sawah berada di wilayah-wilayah atas (upland areas) yang tentunya memiliki topografi lebih curam. Akhirnya kebanyakan penduduk yang tinggal di desa adalah orang-orang usia lanjut. Jarak ke Hutan Negara Keberadaan hutan negara di dalam atau sekitar desa ternyata berpengaruh dengan keberadaaan hutan rakyat. Hutan rakyat umumnya banyak ditemukan pada kondisi desa yang memiliki rata-rata pendapatan yang rendah.

457 -0.889 -0.165 0.951 -0. dan bahkan terlibat dalam ke-giatan pemanenan sebagai buruh tebang.668 PC8 0. Dengan demikian kebiasaan ini dapat tertular di lahan milik pribadi mereka.069 0. Untuk mengetahui berapa banyak komponen utama (KU) yang diambil.582 0. 8. Dari hasil korelasi pada Tabel 3 diketahui bahwa dari 9 variabel yang dianalisis.281 -0.523 0. sedangkan wilayah jauh dari jalan besar sebaiknya. maka masyarakat sekitar hutan sudah terbiasa dengan pengelolaan hutan dan malah juga terlibat langsung sebagai penggarap jika hutan tersebut hutan produksi. 0.715 -0.293 PC3 0. maka dapat dilihat dari nilai kumulatif proporsi lebih dari 70% dan nilai akar ciri lebih besar dari 0.333 0.100 0.466 0. Sehingga untuk analisis komponen utama dimasukkan 8 variabel pendukung.146 0.168 0.000 162 . hanya satu variabel yaitu jarak ke jalan besar yang tidak signifikan berkorelasi nyata.199 0. Variabel (Variables) Kepadatan Penduduk (Population density) Rumah permanen (Permanent home) Umur Produktif (Productive age population) Non Sawah (Non rice field) Kelerengan lahan (Land slope) Jarak ke hutan (Distance to state forest area ) Kemampuan Lahan (Land capacity) Kerapatan Jalan (Road density) Akar ciri (eigenvalue) Proporsi (proportion ) Kumulatif Proporsi (Proportion cumulative) PC1 0.603 0.301 0.108 0. Jarak ke jalan Analisis korelasi jarak terdekat antar batas desa ke jalan besar (jalan kolektor) ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap kondisi hutan rakyat di suatu desa dibanding variabel lainnya.114 0.627 -0.325 -0.134 0.441 0.156 -0.212 PC4 0. Nilai analisis komponen utama variabel (Value of principal component analysis) No 1.133 PC6 0. sedangkan dipandang dari sudut budaya.725 -0.149 -0. mahoni.107 PC5 -0.055 -0.520 0. 155 . memelihara.070 0.7.3929 0.523 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Berdasarkan analisis komponen utama (PCA) yaitu variabel-variabel yang berhubungan nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.3.223 0. sehingga dari delapan komponen utama yang dihasilkan dapat dipotong sampai KU empat saja karena sudah cukup mewakili proporsi keragaman. maka alternatif penggunaan lahan untuk penanaman tidak banyak dengan demikian menanam kayu yang bersifat tidak intensif menjadi pilihan.113 0.323 0.904 0.074 -0. 0.4969 0.018 0.284 0.341 1. kemungkinan setiap lokasi memiliki keuntungan yang seimbang terhadap perkembangan hutan rakyat. 6. i. Tabel (Table) 4 . Ditambah dengan seringkali penyebaran bibit secara alam dari hutan negara ke lahan milik melalui angin dan binatang-binatang hutan. dan pinus di lahan milik pribadi petani.295 0.600 -0.264 4 5.083 PC7 -0.491 0.475 0.8 No.168 an dengan kondisi assesibilitas yang sulit.301 0.407 0.340 0. Sehingga tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang biasa ada di hutan negara seperti jati.337 0.331 0. diduga karena berdekatan dengan hutan sejak dulu.068 -0.056 -0. Memperhatikan kondisi biofisik tersebut.185 0.338 -0.049 1.056 0.371 PC2 0.115 -0. Juli 2011. maka petani sudah terbiasa dengan cara-cara menanam.8463 0.106 0.062 0. Jalan besar merupakan jalur transportasi pengangkutan kayu ke luar wilayah.5602 0.661 -0. Ketika variabel ini tidak nyata berpengaruh terhadap luas hutan rakyat.157 0.080 -0.084 -0. 2.128 0.033 0.056 -0.443 7.377 2.001 -0.669 -0. Wilayah dekat jalan besar memiliki keuntungan biaya pengangkutan menjadi murah tetapi tentu harga tanah yang lebih mahal.713 -0.389 0.819 -0.450 -0. Sebagai penggarap di areal tumpangsari PT Perhutani.164 1.340 0.479 0.185 0. 3.

Endang Suhendang. Tabel 5 dapat diketahui bahwa penggunaan 5 kelompok dan 4 kelompok menghasilkan jumlah tipologi yang kurang efisien karena jumlah anggota sangat kecil dibawah 10 desa.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.Wilayah Pc3 merupakan indeks rumah permanen dan kepadatan penduduk yang merupakan variabel sosial ekonomi. yaitu dari penggunaan 8 variabel sampai 2 variabel ditambah dengan penggunaan data analisis komponen utama (AKU) dapat dilihat pada Tabel 5. PC1234. kecuali satu yang menggunakan desain PC123 dengan 4 Kelompok. dan Pc123. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari variabel dominan yang membentuk komponen utamanya sebagai berikut : .Pada PC1 menggambarkan indeks kelerengan lahan dan non sawah. . Dimana menujukkan nilai tinggi pada jarak yang ke kawasan hutan B. .Pada wilayah PC4 merupakan indeks jarak desa ke kawasan hutan negara. yaitu yang menggunakan desain 2 variabel. Nilai ini menunjukkan dominan kelerengan lahan yang datar dengan kegiatan non persawahan yang rendah. 4 variabel. Banyaknya anggota setiap desain dan kelompok (Number of villages each design and cluster) JUMLAH ANGGOTA TIAP KELOMPOK (Number of villages of each cluster) 7 6 5 4 3 Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel 8 Desain Variabel Jmh Variabel 5 Kelompok (5 clusters) 1 183 2 86 3 62 4 2 5 3 4 Kelompok (4 clusters) 1 185 2 60 3 86 4 5 3 Kelompok (3 clusters) 1 228 2 103 3 5 2 Kelompok (2 clusters) 1 239 2 97 2 Variabel PC1234 PC123 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 161 124 45 5 1 161 124 45 5 1 176 68 53 43 5 149 72 70 40 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 171 115 44 6 171 115 44 6 185 86 60 5 153 85 61 37 228 103 5 228 103 5 228 103 5 228 103 5 202 99 35 202 99 35 196 80 60 195 78 63 239 97 239 97 239 97 239 97 249 87 249 87 235 101 234 102 163 .Hardjanto. I Nengah Surati Jaya. dan Herry Purnomo Berdasarkan analisis komponen utama yang menggunakan 4 KU pada Tabel 4 dapat diketahui empat karakteristik desa di Kabupaten Ciamis yang didekati dari 8 Variabel. Sedangkan untuk 3 kelompok dan 2 kelompok terdapat 4 desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang efisien. . Tabel (Table) 5. Jumlah tipologi Hasil klustering dengan menggunakan semua alternatif variabel yang bisa diterapkan. Pembentukan Tipologi 1.Pada Pc2 merupakan indeks kondisi kemampuan lahan. Dimana menujukkan kemampuan lahan yang tinggi.

4 Kelp PC1234 .2 Kelp PC1234 . Juli 2011. Hasil tipologi terpilih dilakukan pengujian dengan uji ragam dan evaluasi akurasi menggunakan prinsip matrik kesalahan (confusion matrix). Dalam rangka menentukan desain yang teruji dengan baik dari ke delapan desain lewat dua uji ragam tersebut. dan 8. 5. 155 . 2. Uji ragam terhadap luas hutan rakyat dilakukan melalui uji dalam kelompok dan antar kelompok. Daftar desain terpilih tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Sedangkan untuk uji ragam antar kelompok pada Gambar 2b. selanjutnya desain 2 variabel dengan Keterangan (Remarks) : Gambar (Figure ) 2. Perbandingan Ragam dalam Kelompok dengan Ragam Antar Kelompok. Dimana yang dianggap baik jika ragam dalam kelompok kecil dan ragam antar kelompok besar. Pada Tabel 7 diketahui selisih terbesar uji ini adalah pada desain jumlah 2 variabel dengan tiga kelompok. ragam yang terbesar adalah desain ke 2.168 Tabel (Table) 6. Jumlah desa setiap kelompok terpilih (Number of villages for each selected cluster) Desain Jumlah Variabel (Number of variables Design) 2 Variabel – 2 Kelp Kelompok 1 (cluster 1) 249 202 239 235 196 153 195 234 Jumlah Desa (Number of Villages ) Kelompok 2 Kelompok 3 (cluster 2) (cluster 3) 87 99 97 101 80 85 78 102 53 60 61 63 - Kelompok 4 (cluster 4) 37 - 2 Variabel – 3 Kelp 4 Variabel – 2 Kelp PC1234 . Pada Gambar 2a dapat dilihat bahwa uji ragam antar kelompok desain 1 sampai 4 relatif memiliki ragam dalam kelompok yang kecil dibanding desain 5 sampai 8. Pengujian Hasil Tipologi Hasil tipologi yang telah terbentuk dengan berbagai desain peubah diuji ketepatannya untuk menduga luas rakyat setiap desa.3 Kelp PC1234 . maka dilakukan pengurangan antara uji ragam antar kelompok dengan uji ragam dalam kelompok.2 Kelp Semua desain yang telah dicoba (Tabel 5).8 No. (Comparison of whitin cluster and inter cluster variant) 164 . Dapat terlihat grafik pada Gambar 2 menunjukkan kedua uji tersebut.3 Kelp PC1234 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. maka dapat diukur berapa besar akurasinya.3. nilai selisih terbesar adalah yang memiliki nilai uji yang baik. Desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang sama maka dipilih yang paling sederhana. hanya 8 desain jumlah variabel yang dapat diterapkan selanjutnya. 7. Dibandingkan dengan standar/acuan pengelompokan yang sudah dibuat.

179 13.706 6 22500.476 14.44 4 10967. I Nengah Surati Jaya.963 0.3 kelompok 40.132 8 Tabel (Table) 8. delapan desain yang dianalisis tiga desain menggunakan peubah asli sedangkan lima desain sudah menggunakan peubah PC yang diubah melalui analisis komponen utama (AKU). Endang Suhendang. Pada Tabel 8 dapat diketahui hasil evaluasi akurasi pada kedelapan desain terpilih. Berdasarkan variabel yang digunakan maka. 2 Variabel-2 kelompok 63. Tabel (Table ) 7.015 165 .3 kelompok 46.083 6.47 3 1 14097.633 5 PC1234-3 kelompok 40. Nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa (Value of overall accuracy and Kappa accuracy) No.920 7 -22739.Hardjanto.301 19384.55 22493.338 5 22740.196 1.24 3 12796. Ini menandakan bahwa desain tersebut yang paling akurat dalam menduga kelompok desa berdasarkan luas hutan rakyat. Dengan menggunakan peubah yang sudah melalui AKU dapat menghilangkan multikolinieritas tersebut.971 1. menyatakan batas kolinieritas tersebut masih dapat ditolerir untuk nilai korelasi dibawah 0.846 6.271 8 PC123.393 26.429 17.55 20968.940 3.988 27. Diperoleh nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa terbesar terdapat pada perlakuan desain PC1234 dengan 2 kelompok dengan nilai masing-masing 64% dan 27%.5. 2 Variabel . dan yang ketiga desain dengan mengunakan analisis komponen utama dengan 4 KU yang membagi 2 kelompok.482 3. 4 Variabel-2 kelompok 60.932 6 PC123-2 kelompok 50.532 3. dan Herry Purnomo 2 kelompok. Desain kedua yang terbaik adalah 2 variabel dengan 2 kelompok dengan nilai akuarasi umum sebesar 63% dan akurasi Kappa sebesar 26%. Ragam rata-rata antar kelompok dan dalam kelompok (Average variety of inter and within clusters) Desain Jumlah Variabel (Design of number of variables) Ragam Rata-Rata (Average variant) Antar Kelompok (Betweencluster) (A) Dalam Kelompok (Within cluster) (B) Selisih (differen-ce) (A-B) Rangking 2 Variabel -2 Kelp PC1234 3 Kelp PC123 – 2 Kelp PC123 – 3 Kelp PC123 4Kelp 2 Variabel -3 Kelp 4 Variabel -2 Kelp PC1234 2 Kelp 1. Desain jumlah Variabel Akurasi (Accuracy) ( number of variables design) Rata-Rata Umum Kappa (Overall) (Kappa) 1.026 4.650 7 PC123.17 6 14095. Metode gerombol (clustering analysis) menggunakan asumsi tidak ada multikolinieritas antar peubah yang digunakan.05 7 3 19388.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. PC1234-2 kelompok 63.363 2. Tetapi menurut Santoso (2010).714 21.4 kelompok 27.98 0 4 13171.485 3.632 12798.59 0 13170.072 20972.75 7 2 10971.595 1.

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.168 3. (a) Pc1234.3. Diharapkan dengan memiliki luas hutan rakyat yang besar merupakan salah suatu peluang untuk mencapai pengelolaan hutan rakyat yang menguntungkan dan efisien. Bila tetap bertahan untuk kegiatan hutan rakyat sebaiknya perlu penggabungan wilayah yang lebih besar untuk menjadikan 166 . Untuk membentuk satu unit pengelolaan lebih mudah Tabel (Table ) 9.8 No. Sedangkan berdasarkan desain 2 variabel menduga sebanyak 74% wilayah Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang memiliki potensi pengembangan yang besar. Tipologi Wilayah Karakteristik dan arah pengembangan setiap tipologi (Characteristics and direction of development of each typology) Karakteristik (Characteristic) Arah Pengembangan (Development direction) Jumlah Desa (Village numbe) Desain Desain 2 PC1234 Variabel 101 87 I Merupakan wilayah-wilayah desa dimana penggunaan lahannya tidak didominasi hutan rakyat. Sebaran pengelom-pokan desa berdasarkan desain tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Juli 2011. yaitu desain dengan mengunakan PC1234 dengan nilai akurasi sebesar 64% dan desain dengan 2 variabel (rasio kelerengan dan kerapatan jalan) dengan nilai akurasi sebesar 63%. Tetapi jika unit pengelolaan tersebut berupa desa tentunya dapat berdiri sendiri secara individual ketika potensinya besar . Karakteristik dan Arah Pengembangan Tipologi Pada proses akurasi terdapat dua desain yang memiliki akurasi yang baik.2 kelompok Gambar (Figure) 3. (b) 2 variabel-2 kelompok Pengelompokan berdasarkan desain (a) PC1234 dan (b) 2 variabel (Grouping based on design (a) PC1234 and (b) 2 variable) ketika wilayah yang akan digabungkan berdekatan secara spasial. 155 . Berdasarkan desain PC1234 terlihat dugaan wilayah Kabupaten Ciamis memiliki 70% daerah yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang besar. Terdapat kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan untuk berkembangnya hutan rakyat Pengembangan lebih mengarah ke bidang di luar hutan rakyat. Potensi pengem-bangan hutan rakyat disini dilihat dari besarnya luasan hutan rakyat di dalam suatu desa. Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa sebaran yang dihasilkan dengan desain PC1234 terlihat lebih kompak dan sehamparan dibanding sebaran yang dihasilkan desain 2 variabel.

H Santosa. Kesimpulan 1. S. Perlu dibentuk wadah / unit pengelolaan hutan rakyat agar terjadi sistem yang menjamin kelestarian.T Widayanti. Lanjutan (Continued) Tipologi Wilayah Karakteristik (Characteristic) secara biofisik ditambah aspek sosial ekonomi. Y Nugroho. yaitu akurasi ratarata umum sebesar 64%. maka disarankan untuk menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah perlu pertimbangkan variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan potensi hutan rakyat seperti di penelitian ini. kelompok tani.A. Awang. 1989. 2. I Nengah Surati Jaya. Yogyakarta. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. W. Jumlah desa berpotensi tinggi hasil dugaan desain penelitian ini lebih besar dari nilai acuan sebenarnya.B Wiyono. Hasil pengujian memiliki keragaman dalam kelompok dan antar kelompok yang baik dan nilai akurasi yang lebih besar dari yang lain.A. Kelima variabel lainnya berurutan berdasarkan besarnya korelasi dengan luas hutan rakyat adalah jarak ke hutan negara. Jumlah Desa (Village numbe) Desain PC1234 Desain 2 Variabel II 235 249 Desa yang dianggap berpotensi tinggi adalah yang mempunyai nilai lebih besar dari rata-rata luas hutan rakyat di Ciamis. Konservasi Tanah dan Air.Hardjanto. E. tiga variabel terbesar adalah rasio kelerengan lahan. yaitu tipologi wilayah yang berpotensi untuk berkembangnya hutan rakyat dan wilayah yang tidak berpotensi berkembang hutan rakyat.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. cengkeh. dan Herry Purnomo Tabel (Table) 9. Selain itu desain kedua yang teruji adalah menggunakan desain 2 variabel. Sapardiono. 2007. lembaga masyarakat dan lainnya. dan rasio rumah permanen. Tipologi yang terbentuk ada dua. IPB. V. Faktor-faktor biofisik dan ditambah dengan sosial ekonominya mendukung untuk berkembangnya pengelolaaan hutan rakyat di wilayah ini. yaitu rasio kelerengan lahan dan kerapatan jalan dengan akurasi rata-rata 63%. B. dan lainnya. Kustomo. dan S. dan rasio penggunaan lahan bukan sawah. pemerintah. Merupakan wilayah-wilayah desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang besar. Gurat Hutan Rakyat. baik petani. Arah Pengembangan (Development direction) suatu unit pengelolaan yang lestari. S. kepadatan penduduk. yaitu berkisar 58 Ha setiap desa. Desain metode yang digunakan menggunakan desain 4 komponen utama (Pc1234). kemampuan lahan. salah satunya karena secara fakta kondisi biofisik dan sosial ekonomi mendukung untuk berkembangnya hutan rakyat. 2001. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses 167 . Awang. Debut Press. Agar perencanaan pengelolaan yang diterapkan dapat mewakili karakteristik masing-masing wilayahnya. KESIMPULAN DAN SARAN A. kerapatan jalan. Sadiyo. Endang Suhendang. rasio umur produktif. Perlu penanganan yang lebih profesional untuk mengelola potensi hutan rakyat dari berbagai pihak. Terdapat delapan variabel yang berkorelasi nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Bogor. tetapi saat ini bisa jadi yang berkembang adalah tanaman non kehutananan seperti kelapa. Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perbedaaan ini. IV. S. DAFTAR PUSTAKA Arsyad.

2003. Rustaman.N . Bogor. and Social Values. S. 1984. Analisis Citra Digital : Perspektif Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. dan B. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor : Program Pascasarjana.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. and T. USA . 2003. Hardjanto. Institut Pertanian Bogor. Badan Penelitian dan PengembanganKehutanan. PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. Haeruman. 2000. McGrawHill Companies. Statistik Multivariat. 2003. New York. Bliss. Fakultas Kehutanan UGM. Abidin. 2010. Santoso. Goldstein.C. Herbohn. 2001. Multivariate Analysis. Harrison. Small-scale Forest Economics.3. Sustaining Family Forest in Rural Landscapes: Rationale.R dan M. Rahmadia. 2006. Smallholder. Yogyakarta. 155 . 2006. dan E.Widiarti. dan A. Banyumili Art Network bekerjasama dengan Pusat Kajian Hutan Rakyat. Dillon. K. D. N. H. Niskanen. Institut Pertanian Bogor. Management and Policy. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Review Hasil Penelitian : Hutan Rakyat. 2002. 1(1): 1-11. I.8 No. John Wiley & Sons.S. Program Pascasarjana. 2(1): 1-8. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisisr Kota Bandar Lampung. Studi Kemungkinan Pengembangan Konservasi Lahan melalui Hutan Rakyat. Bogor. Bogor. Howard. Davis. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa [disertasi]. W. 2003. and an Illustration from Oregon. Suhendang. P. New York.S. Non Industrial.E. Bogor.N. S. Bettinger.Johnson. Hardjanto. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. L.. Forest Management : To Sustain Ecological. A.. Small-scale and Family Forestry : What's in a Name? Small-scale Forest Economic. Tesis. Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat Fakultas Kehutanan IPB. J. Jakarta Suharjito. Konsep dan aplikasi dengan SPSS. J. Jaya. Inc.. 1991. Economic. E. Juli 2011. R. 168 . Management and Policy. Fourth Edition. Mindawati. Method and Applications. Chalenges.S. Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa.168 Konstruksi Pengetahuan Lokal.

IPB. Cibinong 16911 HP: +62816731777. administrative and planning is employed. administratif. While at provincial and district levels. di mana 169 . fire control organization. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Bogor. provincial. and district levels indicate that a relatively good coordination has been existent among the national level organizations. The study thus provides evidence that the coordination among the organizations involved in forest/land fire control has been inadequate so that management of forest/land fires is still ineffective. Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 13. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional.kardono@gmail. Fakultas Kehutanan.id 3) Departemen Silvikultur. e-mail: bhsaharjo@gmail.com Naskah masuk : 3 Januari 2011. The coordination among the involved organizations is considered ineffectual. institution ABSTRAK Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. An analysis method using the three aspects of integrative coordination including service delivery. Jakarta 10270. Saharjo . Fakultas Kehutanan. e-mail: erlyskm@yahoo. Bambang H. Jl. Bogor. Alikodra .or. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. This research aims at finding empirical evidences to prove the opinion. While in West Kalimantan such relationships present in only among a few organizations at the same level and absent in between levels. e-mail: priyadi. HP: +6281210494949.com 4) Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. Until recently the management of forest/land fire control in Indonesia is still ineffective due among others to the weakness of its fire control organization system. dan/and Priyadi Kardono4) 1) 2) 3) Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. Keywords: Coordination. The relationships among Riau's organizations at each of the provincial and district levels and vertically between those levels as well as with the national one have been existent. Jl. HP: +628161948064. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. Riau demonstrates a better situation than West Kalimantan in the coordination. Hadi S. HP: +62818161166. although the coordination in the research sites is still insubstantial. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. Gatot Subroto. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal.com 2) Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata.HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Study on Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia Erly Sukrismanto . IPB. e-mail: halikodra@wwf. Raya Jakarta-Bogor KM 46. provinsi dan kabupaten/kota. Bakosurtanal. Naskah diterima : 7 Juni 2011 1) ABSTRACT Forest/land fire is one of the main causes of global climate change. The difference in the basis of departmentation seems to be the reason. The results of study on 42 organizations at national.

provinsi. Organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan banyak instansi atau organisasi pemerintah. Pelibatan di antara pihak-pihak tersebut memerlukan suatu sistem pengorganisasian yang bekerja secara integratif dan harmonis agar efektif dan efisien (Siswanto. 2001. II. 2004) dan kelembagaan pengendalian kebakarannya (Simorangkir.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Juli 2011. 1999). 1994. baik ekologi dan lingkungan maupun ekonomi. PENDAHULUAN Kebakaran hutan/lahan di Indonesia berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek. 2001.3. institusi I. 2008). baik di tingkat nasional.177 koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. maupun kabupaten/kota. dan panas) yang berlimpah (Chandrasekharan. Tulisan ini menguraikan hasil studi terhadap faktor kedua. B. 2005). 169 . Kata kunci : Koordinasi. 2009). Faerman et al. 2006). melainkan juga berkaitan dengan sosial politik (Doscemascolo. jauh di atas emisi dari sektor energi yang hanya sekitar 275 metrik ton. Bappenas (1999) mencatat kerugian akibat dari kebakaran hutan/lahan tahun 1997-1998 sekitar US$ 9. Hubungan dalam pengorganisasian kebakaran hutan/lahan di Indonesia adalah kerja sama dalam bentuk koordinasi. Kajian terhadap aspek sosial politik dan kelembagaan lebih banyak menyoroti lemahnya aturan main dalam pelaksanaan serta penegakan sanksi. Selama 10 tahun terakhir jumlah rata-rata titik panas per tahun masih di atas 50 ribu titik. oksigen. Data besarnya jumlah akumulasi titik panas (hotspot) merupakan indikator tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan/lahan (Hiroki dan Prabowo.8 No. Hubungan antar organisasi dapat berupa kerja sama. sementara peran masing-masing organisasi/institusi pengendalian kebakaran kurang mendapat perhatian.. yakni hubungan antar organisasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan/lahan di Indonesia tidak hanya bersifat teknis yang berkaitan dengan penyebab fisik di lapangan yang berkaitan dengan ketersediaan unsur-unsur segitiga api (bahan bakar. Suprayitno dan Syaufina. 2001. Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa belum efektifnya organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan dalam menangani kebakaran hutan/lahan dan faktor-faktor penyebabnya selama ini. pengendalian kebakaran. kompetisi. baik pada satu level maupun antar level pemerintahan. (2) belum optimalnya hubungan antara organisasi-organisasi yang terlibat (Mulford dan Klonglan. dan politik. Kartodihardjo. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah.96 trilyun yang setara dengan 70% dari nilai PDB sektor Kehutanan tahun 1997. atau perseteruan (Mooi.. Wehmeyer et al.3 milyar atau Rp 5. 2008). METODE PENELITIAN A. dan di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu. Mulford dan Klonglan. 1982). 1999. Provinsi Riau dan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya. Bolland dan Wilson. 2007. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. Kelemahan pengorganisasian dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain (1) belum jelasnya peranan dalam pengorganisasian (Wehmeyer et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat keharmonisan hubungan antar para pihak atau institusi dalam upaya merancang model sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia.. Colman dan Han. 1982.. 2003. sosial. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap organisasi-organisasi di tingkat nasional di Jakarta dan sekitarnya. Malone et al. DFID dan World Bank (2007) menyatakan bahwa kebakaran hutan/lahan di Idonesia telah melepaskan sekitar 1400 metrik ton karbon dioksida per tahun. 2001) dan (3) belum efektifnya organisasi yang terlibat (Young Lee dan Whitford. 170 . Teknik Pengambilan Contoh Hasil identifikasi mendapati sebanyak 42 organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan dari semua tingkatan. di tingkat provinsi di Riau dan Kalimantan Barat.

2. Bantuan Layanan Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi yang saling berhubungan di dalam memberikan bantuan layanan di tingkat nasional hanya 9 organisasi dari 22 organisasi yang terbentuk. Pengumpulan danAnalisis Data Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Ada dua institusi yang memiliki hubungan layanan terkonfirmasi terbanyak yaitu LAPAN dan Bakosurtanal seperti terlihat pada Gambar 2.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Bantuan Layanan. Jika sedikitnya satu orang dari organisasi tersebut mengenal sedikitnya satu orang dari organisasi lain. Data primer berupa pendapat responden yang merupakan parameter yang dapat menunjukkan persepsi para pimpinan organisasi/instansi mengenai hubungan antara organisasinya dengan organisasi-organisasi lain. Kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi oleh Dishut Provinsi Riau dalam menggalang bantuan dari berbagai pihak. Alikodra. Data sekunder diperoleh dari tiap organisasi yang diamati berupa dokumen profil organisasi yang berkenaan dengan hubungan dan kerja sama organisasi tersebut dengan organisasiorganisasi lain dan data keterlibatannya dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. Analisis ini melihat kaitan antara orang-orang dari dua organisasi dengan cara meminta responden menuliskan nama orangorang yang ia kenal dari organisasi lain. Pertanyaan angket tersebut berupa: (1) Client referrals (rujukan klien) yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara institusi dalam memberikan dan menerima bantuan layanan. Administratif. Kondisi serupa juga terjadi di Kalbar. C. dan (3) Perkenalan untuk mengetahui hubungan daari aspek perencanaan. Salah satu di antara contoh matrik hubungan bantuan layanan di antara organisasi tertera pada Gambar 1. Sebagai contoh. Analisis ini menggunakan kombinasi jawaban responden atas pertanyaan apakah organisasinya (a) memberi bantuan layanan kepada dan/atau (b) menerima bantuan layanan dari organisasi lain. III. Planning. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya frekuensi kebakaran hutan/lahan di daerah tersebut seperti digambarkan oleh jumlah akumulasi titik panas 171 . dan Priyadi Kardono Pengambilan contoh dilakukan secara purposif di mana responden yang dipilih terdiri dari para pejabat di tingkat eselon IV sampai dengan eselon II yang sering ditugasi atau bidang tugasnya berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan/lahan pada setiap organisasi tersebut. 3. Analisis ini adalah untuk memperoleh sebuah ukuran dari bantuan layanan yang terkonfirmasi. Jumlah responden adalah 282 orang terdiri dari 42 pejabat eselon II. Kedua organisasi tersebut lebih banyak memberikan layanan dalam bentuk informasi. Inhu. Di tingkat provinsi. sedangkan di kabupaten/kota adalah Satuan Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satlakdalkarhutla). padahal dengan kapasitas organisasi yang masih lemah. namun bantuan yang diberikan atau diterima tidak terkonfirmasi oleh organisasi lain. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengolahan dan analisis data menggunakan prosedur yang diadopsi dari coordination network analysis (Bolland dan Wilson. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang diadopsi dan dimodifikasi dari Bolland dan Wilson (1994). Saharjo. Walaupun banyak organisasi yang saling berhubungan dalam aspek pelayanan. 84 pejabat eselon III. upaya pemadaman masih sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. 1994) sebagai berikut: 1. Hadi S. Dishut Provinsi Riau yang dalam struktur Pusdalkarhutla memegang peranan penting sebagai koordinator bidang pemadaman justru tidak memiliki hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi dari manapun kecuali dari Dishutbun Kab. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan adalah Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutlada). Analisis ini menggunakan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh mana organisasi lain telah membantu organisasi responden dalam mencapai tujuan. bahkan di daerah tersebut tidak ada satupun hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi di antara organisasi-organisasi di tingkat provinsi dan juga di tingkat kabupaten/ kota serta antar tingkatan. dan 156 pejabat eselon IV. maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara kedua organisasi tersebut. Bambang H. hubungan dalam aspek bantuan layanan masih relatif terbatas. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. (2) Hubungan administrasi yang melibatkan transaksi sumber daya dianalogikan dengan bantuan organisasi lain dalam mencapai tujuan.

tetapi yang terjadi justru organisasi-organisasi tersebut lebih mengandalkan bantuan sumber daya dari organisasi lain..8 No. PKH Dit. Menurut konsep tersebut organisasi seharusnya lebih fokus membangun kapabilitasnya sendiri.177 (hotspot) yang masih relatif tinggi. Sistem pengorganisasian yang ada saat ini mengandalkan keterlibatan banyak pihak. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Organisasi Dit. jumlah hotspot rata-rata per tahun selama 10 tahun terakhir masih 7. Juli 2011. 1997) belum diterapkan dengan benar.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Lintan Dit. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sistem pengorganisasian yang diterapkan dalam Pusdalkarhutla di mana departementasi didasarkan pada wilayah pemangkuan kawasan.. Di samping itu. 0 = hubungan tidak terkonfirmasi (unconfirmed relation) 172 . 1982) dan concept of capability (Ulrich. 1999) belum terdefinisikan dengan jelas. 2001. penetapan tugas (Malone et al. Linbun Asdep PKHL BNPB Bappenas BMKG Basarnas Bakosurtanal LAPAN Depdagri Deplu Depsos Depkes Dephub Depkeu Mabes TNI 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan (Remarks) : Angka 1 = hubungan terkonfirmasi (confirmed relation). Hal ini terjadi karena peranan-peranan dalam koordinasi (Wehmeyer et al.897 titik. Contoh sebagian matriks hubungan antar organisasi dalam bantuan layanan di tingkat nasional (A part of the matrix indicating the interorganizational relationships in service delivery at National level) No. Gambar (Figure) 2. Diagram hubungan antar organisasi dari aspek bantuan layanan di Riau (Inter-organizational relationships on the aspect of service delivery in Riau) Gambar (Figure) 1.. sedangkan Kalbar sebanyak 9. 169 . Kondisi tersebut membuat kinerja dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan selama ini relatif masih rendah di semua tingkatan. misalnya.221 titik/tahun. 1999) harus diperjelas di dalam struktur dan uraian tugas organisasi yang akan dibangun. konsep kerja sama (Mulford dan Klonglan. Malone et al. Di Riau. Untuk itu.3. tetapi hubungan perbantuan layanan masih kurang.

Di Riau. Kondisi tersebut menegaskan kembali pengaruh sistem pengorganisasian yang diterapkan di masing-masing daerah tersebut. PKH Kementerian Kehutanan. mengidentifikasi sumber daya untuk menjalankan tugas. organisasi-organisasi tersebut belum saling mendukung dalam pencapaian tujuan atau masih berjalan sendirisendiri. dan Priyadi Kardono B. hubungan administratif dalam satu tingkatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota sudah lebih terjalin di Riau daripada di Kalbar.PKH memiliki hubungan terbanyak dalam aspek tersebut. Di tingkat nasional. Administratif Hubungan administratif antar organisasi biasanya melibatkan transaksi sumber daya yang memungkinkan organisasi tersebut lebih efektif dalam mencapai tujuannya (Bolland dan Wilson. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kehutanan yang selama ini dipandang sebagai penanggung jawab atau pengelola kebakaran hutan/lahan ternyata tidak memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi lain baik bantuan layanan maupun administratif. Hal ini dapat memberikan jawaban mengenai masih rendahnya kinerja pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/ lahan sampai sekarang. Bambang H. Dengan perkataan lain. Di daerah. mengidentifikasi sumber daya yang harus dimiliki atau disediakan oleh organisasi mana. Kondisi demikian sebenarnya ditangani dengan melakukan aktivitas tambahan yang disebut coordination mechanisms (Malone dan Crowston. penetapan isu (agenda setting) 173 . 1994). Saharjo. dari 22 organisasi yang diamati terdapat 15 organisasi yang saling membantu dalam pencapaian tujuan. misalnya ketika terjadi kebakaran hutan/lahan atau bencana alam. Hal ini juga dapat menggambarkan fakta di mana sering terjadi organisasi di tingkat kabupaten/ kota berhubungan langsung dengan organisasi di tingkat nasional tanpa melalui organisasi di tingkat provinsi. di Kalbar hubungan administratif terjadi hanya antara tingkat nasional dengan tingkat provinsi dan tingkat nasional dengan kabupaten/kota. Perencanaan Hasil analisis terhadap aspek perencanaan (planning/agenda setting) menunjukkan bahwa di tingkat nasional hampir seluruh organisasi yang diamati. sedangkan antara tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota serta di antara organisasi-organisasi di satu tingkatan tidak ada hubungan (Gambar 3). Pertama adalah menyepakati tujuan bersama. Dishut Prov dan Dinas yang menangani kehutanan baik di Riau maupun di Kalbar ternyata tidak saling terhubungkan. dan prosedur mobilisasinya. Hasil analisis pada aspek ini melihat seberapa jauh organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan saling membantu dalam pencapaian tujuan. kemudian membagi tugas.. Hubungan administratif antar organisasi antar tingkatan di Kalimantan Barat (Relationships on administrative aspect among levels in West Kalimantan) C. 1994) untuk mencapai tujuan belum terjalin. Gambar (Figure) 3. Hadi S. AsdepPKHL dan Dit. 1999) dan transaksi sumber daya (Bolland dan Wilson. organisasi-organisasi yang diamati telah memiliki hubungan administratif antar tingkatan mulai dari tingkat tingkat kabupaten/ kota sampai dengan tingkat nasional.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. 1994). Hal ini berarti dari aspek pertukaran gagasan. Alikodra. Sementara itu. sedikitnya satu pimpinannya telah saling mengenal. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi yang merupakan pengelolaan saling ketergantungan (Malone et al. Dit.

yakni Pusdalkarhutnas dan TKN-PKHL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan). 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Beberapa hal yang menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan adalah: 1. yang diindikasikan dengan lebih banyaknya pihak yang saling mengenal daripada yang terjadi di Kalbar. rendahnya tingkat perkenalan di antara organisasi akan menimbulkan kurangnya komunikasi dan keterlibatan secara emosional yang pada dasarnya berdampak pada rendahnya produktivitas organisasi (Janssen. Hasil analisis terhadap ketiga aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa koordinasi terpadu (Bolland dan Wilson. Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan Undang-undang No. Hal tersebut tidak terjadi di Kalbar. Meskipun hubungan berjalan satu arah. Inhu. tetapi pada setiap SKPD terjadi pembatasan jumlah jabatan yang mendorong penetapan prioritas masalah yang lebih tajam. yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai jenis bencana. Menurut Janssen. Kab. Organisasi yang pernah ada. 4.177 maupun perencanaan telah terjadi hubungan yang relatif baik. Gambar (Figure) 4. 1994) di antara organisasiorganisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan masih relatif kurang erat. provinsi dan kabupaten/kota di Riau juga relatif lebih baik daripada di Kalbar. belum secara eksplisit mengakomodasikan kepentingan pengendalian kebakaran hutan/ lahan. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota. Hubungan antar organisasi antar tingkat nasional. Kondisi demikian menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan belum optimal. 169 . 2005). baik di Kab. Di tingkat nasional belum terbentuk secara formal organisasi yang menangani pengendalian kebakaran hutan/lahan. Provinsi Riau telah mengenal para pimpinan organisasi di tingkat provinsi maupun tingkat nasional (Gambar 4). Di sisi lain. secara umum instansiinstansinya kurang saling mengenal. Ketapang. Kubu Raya maupun Kab.8 No. dan kebakaran hutan/lahan belum menjadi masalah prioritas. 33/2004 tidak dapat mengelola anggaran. Di tingkat provinsi. 2. Di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/ kota. Inhu. Juli 2011. 2005). Pergantian pimpinan yang relatif cepat atau jangka waktunya pendek baik di dalam masing-masing organisasi maupun antar 174 . Kota Dumai. 2004) juga sulit dibangun karena konsep keterpaduan dan “kemenyeluruhan” (comprehensiveness) belum menjadi acuan. keterpaduan kebijakan atau policy integration (Meijers dan Stead. hubungan para pihak di Riau relatif lebih baik. Anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan berada pada SKPD. sudah tidak berlaku lagi sejak era Reformasi. sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. 3. sehingga hanya beberapa SKPD yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai salah satu jabatan dalam strukturnya atau dalam kegiatannya.3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Hubungan antar organisasi dalam perencanaan di Riau (Interorganizational relationships on planning aspect in Riau) Satu lagi hal penting dari kajian terhadap ketiga aspek tersebut di atas yaitu fakta bahwa ternyata tidak ada hubungan yang terjadi antar kabupaten/kota meskipun dalam satu provinsi. para pimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kab. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan (Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutlada) tidak termasuk sebagai SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang menurut UU No.

karena sebuah organisasi tunggal tidak dapat mengatasi permasalahan masa kini yang kompleks. dan Priyadi Kardono organisasi membuat para pimpinan organisasi kurang berkesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama menyusun dan menyepakati serta memahami tata hubungan kerja atar organisasi. D. Koordinasi adalah suatu upaya untuk mengelola ketergantungan di antara berbagai pihak. sarana dan prasarana. sekalipun memiliki sumber daya yang mencukupi (Mulford dan Klonglan. Saharjo. 6. Kurangnya komunikasi dan pertemuanpertemuan antar organisasi. Kondisi inilah yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan menjadi kurang optimal sehingga frekuensi kejadian kebakaran tetap relatif tinggi. provinsi maupun kabupaten/ kota. 103/2009. Bantuan layanan di antara organisasi dalam pengendalian kebakaran belum efektif baik di tingkat nasional. Sementara itu. 175 . 5. Organisasiorganisasi tersebut perlu membentuk jejaring yang kuat dengan peranan-peranan koordinasi (coordination roles) yang jelas (Wehmeyer et al. 1982). Hadi S. 91/2009 dan Pergub Kalbar No. Hubungan antar organisasi pada aspek perencanaan juga terjalin baik di tingkat nasional. Pusdalkarhutlada maupun Satlakdal-karhutla di lokasi penelitian belum termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga tidak dapat memperoleh dan mengelola anggaran dan akibatnya operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran di instansi-instansi anggotanya. Penanganan kebakaran hampir tidak mungkin dilakukan sendirian oleh masingmasing organisasi karena masih sangat lemahnya kapasitas organisasi. namun masih lemah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. IV. tetapi belum menjadi jejaring yang kuat karena koordinasi yang masih lemah. 2001). hanya beberapa instansi anggota yang memiliki anggaran untuk kebakaran hutan/lahan dalam jumlah yang relatif sangat kecil. Pada aspek administratif. tetapi masih lemah di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota maupun antar tingkatan. Di samping SDM dan sarpras yang masih sangat kurang. dan salah satu bentuknya adalah berbagi sumber daya (Malone et al. dana atau anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan juga belum tersedia. maka dapat disimpulkan: 1. hubungan antar organisasi telah terjalin cukup baik di tingkat nasional. Bambang H. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam Pusdalkarhutlada atau Satlakdalkarhutla lemah karena hampir tidak ada sumber daya untuk berbagi. Implikasi Terhadap Kebakaran Hutan/ Lahan Kondisi hubungan antar organisasi yang masih kurang harmonis baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan tersebut di atas berimplikasi terhadap penanganan kebakaran hutan/lahan.. baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. kedua Pergub tersebut tidak menjelaskan mekanisme pendanaan bagi kerja sama tersebut sehingga kerja sama tetap sulit untuk dilaksanakan.. KESIMPULAN Berdasarkan kajian terhadap hubungan antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. 3. serta anggaran) di setiap organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan berimplikasi besar pada penanganan kebakaran hutan/lahan. Prosedur kerja sama antar organisasi untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebenarnya juga sudah ada di Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang ditetapkan masing-masing dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Riau No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya (manusia dan sarpras) pada instansi-instansi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran pada umumnya tidak tersedia secara memadai. Alikodra. Kurang jelasnya uraian tugas dan tidak ditetapkannya pejabat tertentu untuk menangani kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi serta kebiasaan mewakilkan pada staf untuk menghadiri pertemuan antar organisasi membuat penanganan masalah kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi tidak fokus dan para pejabat/pimpinan organisasi tidak saling mengenal. Komunikasi atau pertemuan biasanya bersifat responsif ketika terjadi situasi darurat kebakaran hutan/lahan.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Rendahnya tingkat jejaring kerja dan sumber daya (manusia. Sayangnya. Berdasarkan kondisi sumber daya yang terbatas tersebut maka perlu adanya kerja sama antar organisasi yang efektif dan efisien. Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutla memang sudah ada. 4. 1999). apalagi untuk digunakan berbagi dengan instansi-instansi lain. 2.

ubvu.R. Dellarocas. O'Donnell.3. G. Pemerintahan Daerah di Indonesia. 1999. 176 . Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 2006. J. A. 45-3:425-443.. dan J. T. 2005. Osborn.org/pss/3086014 [28 Jan 2009].A.P. Burning Issues: Control of Fire Management in Central Kalimantan. Crowston.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. D. Juli 2011. hlm 259-270 Hoessein.ict. Janssen. K. S. 169 . dan Bakry L. 1994.id [27 Jan 2009] Doscemascolo. hlm 218-222. 2007. Tools for Inventing Organizations: Toward a Handbook of Organizational Processes. 1999. Policy integration: what does it mean and how can it be achieved? A multi-disciplinary review. M. Dalam: Ramses AM. rehabilitation and trans-bundary issues. T. Diakses tanggal 22 Jan 2009. Http://dare. Malone.swin. 11(1):16-23 Kartodihardjo. dan D. Management Science 1999. Three Faces of Integrative Coordination: A Model of I n t e ro rg a n i z a t i o n a l R e l a t i o n s i n Communit-Based Heath and Human Services. Herman. Organizational Roles and Players. dan J. The Interdisciplinary Study of Coordination.. B. [DFID] Department for International Development and World Bank. Dalam Health Services Research 1994.co. Bolland.V. Conflict. Di dalam: Suratmo F.. 2010. Organization Science 2001. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Planning for Fire Prevention and Drought Management in Indonesia. Crowston. 29-3:341-366. 2009. Indonesia. C. Bakry L. E. 2009. Husaeni EA. Meijers.nl/bitstream/1871/ 12681/5/7725.au/personal/acolman/pub/ColmanA AAI_FS05. Proceedings International Cross Sectoral Forum on Forest Fire Management in South East Asia.pdf. C. Hiroki. G. pp 204-282 Colman. AS: The Graduate Division on the University of Hawaii. et al...P. Computing Surveys 26(1):87-119... (Nugroho. Slyke.A. Quimby. Malone. L. Dalam: Ramses AM. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. C.. G. http:// web. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. dan E. 2003..G. Diakses tanggal 29 Okt 2010. Vrije Universiteit Amsterdam. Klein. Willey Periodicals.8 No. control. dan Surati Jaya N. Jakarta: Bappenas.W..S.. editor. B. McCaffrey dan D.pdf. Understanding Interorganizational Cooperation: Public-Private Collaboration in Regulating Financial Market Innovation (abstrack). 1999. dan K. Lee. Republic of Indonesia/JICA and ITTO. Wilson.177 DAFTAR PUSTAKA Bakry.peace. Final Report Volume 1. editor.pdf. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. 12(3):372-388. editor. 2004 Berlin Conference on the Human Dimensions of Global Environmental Change: Greening og Policies . Evolution of Instutional Rules: An Immune System Perspective. Mooi. editor). Prabowo. A.M. Han. http:// www. Edu. The Mission on Forest Fire Prevention and Management to Indonesia and Malaysia (Serawak): Tropical forest fire: prevention. 2004. 2004. Inc.jstor.W. and Change. Stead. 1994. Disertasi. www. Pentland. 2007.Interlinkages and Policy Integration. M.W. Working Paper: Indonesia and Climate Change Current Status and Policies. Refleksi Kerangka Pikir Rimbawan Menguak Masalah Institusi dan Politik Pengelolaan Sumberdaya Hutan.fu-berlin.M. E.. Diakses tanggal 28 Jan 2009. Hasil Penggunaan Citra Satelit NOAA-AVHRR dan Himawari untuk deteksi Hot Spot di Stasiun Bumi Satelit NOAA-AVHRR/ Himawari FFPMP. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks Pemerintahan Umum. hlm 264-277. Pengaturan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah.. Bernstein. Jakarta. National Development Planning Agency. I dan D. J. Disertasi. Hawaii. [Bappenas] National Development Planning Agency. Wyner. Inter-organizational Cooperation. http://www. 2001. Pemerintahan Daerah di Indonesia. H. Vu.A. J. A.de/ffu/akumwelt/bc2004/ download/meijers_stead_f. Chandrasekharan. Faerman.

Klonglan. Syaufina. (editor). http://ssrn. hlm 189-196 Wehmeyer. Saharjo. 2001.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. 1997. The Organization of the Future. Pengantar Manajemen. D. 2001.L. [Ames. 2001. 2008. Dalam Suyanto S. Schneider.informatik. Siswanto. editor. Proceedings of the Eight Research Symposium on Emerging Electronic Markets (RSEEM 01).B.com/abstract= 1081642. K. 2009.E. Pengendalian Kebakaran Hutan. Bambang H. Ulrich. Dalam: Hesselbein F. Applegate G.de/ conf/ rseem2001/. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Korea International Cooperation Agency. BumiAksara Suprayitno dan L. Diakses tanggal 29 Okt 2010. dan Setijono D. Iowa State University]. C. 177 . dan Bechard R. Maastricht. Whitford. dan B. Reimer. 2008. P. Prosiding Seminar Sehari Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Sosial Ekonomi dalam Kaitannya dengan Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera. Permana R. Roles and Trust in Interorganizational Systems. Goldsmith M. Hadi S. K. dan Priyadi Kardono Mulford. Creating Coordination Among Organizations:an orientation and planning guide North Central Regional Extension Publication 80. San Francisco: Jossey-Bass Pusblishers. 1982. Tinjauan Singkat Kerangka Hukum dan Kelembagaan dalam Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia.rwth-aachen.. H. Bogor: Proyek Penelitian Kebakaran Hutan dan Lahan ICRAF dan CIFOR. Organizing Around Capabilities. and G. Government Effectiveness in Comparative Perspective . 1997. Jakarta: PT.. D.. dan A.. S. Young Lee. The Netherlands. Simorangkir. Http:// www-i5. Diakses tanggal 08 Mei 2008.B.. Alikodra. Iowa : Cooperative Extension Service.

Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon./Fax.574. Keywords: Heritability. because the heritability value was relatively low. 0. Universitas Gadjah Mada Naskah masuk : 5 Agustus 2010. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo. 35 and 11 were 3. respectively.306 respectively. The research was conducted in 3 years old teak plantation.026 (individual) and 0. i.721. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9. diameter. Naskah diterima : 13 Juni 2011 ABSTRACT The objective of research were to determine the level of genetic variation. located at KHDTK Kemampo.e. while the contribution of stem form was relatively higher.PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.49 % for height and 1. Based on an assumption of using the best five clones. H. South Sumaterat Agus Sofyan Mohammad Na'iem Sapto Indrioko 1) 1 2 2 Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. sebesar 0.15 %. Sumatera Selatan Telp. genetic gain. 0.e.15 %.73 % untuk diameter. i. because it may done based on just one character.13 (clone) for diameter. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter.026 (individu) dan 0.73 % for diameter. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. Genetic gain estimation at the age of 3 years was relatively low. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. clone. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2.e.88. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. Palembang.02 (individu) dan 0. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter.43 % and 8. i. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. 2. The contribution of the genetic component to total variation was relatively low. Sumatera Selatan.e. i. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. Randomized Complete Block Design was applied using 35 clones. Kol. 14.16 (klon) untuk karakter tinggi. 3. teak. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. 1. the estimation of expected genetic gain at the age of 3 years for a height. genetic correlation.430 and 1. stem form and volume were 1. Selection index of the best five clones of 24. diameter and stem form characters. while between diameter and stem form was very high.01 (overestimate).5 Puntikayu. Burlian KM. respectively. These results could be applicable for selection purpose.073. 1.16 %.39. 9.28 %. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. 6.16 (clone) for height character and 0. dengan 4 blok. 1.09 dan 0. (0711) 414864 2) Fakultas Kehutanan. The result of the research showed that there were genetic variation among clones. genetic variation.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon. 0.28 % 179 . 4 blocks and 3 treeplots in a spacing of 3 × 3 m.e. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok.02 (individual) and 0. and between height and stem form was 0.49 % untuk karakter tinggi dan 1. i. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. 36. SUMATERA SELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. di lokasi KHDTK Kemampo.13 (klon) untuk karakter diameter. Box 179. but the variation was relatively low in comparison to other variation sources. i. 1. Po. South Sumatera. block and interaction between clone and block. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah.e.09 and 0. heritability and expected genetic gains based on tree height. diameter dan bentuk batang.67. diameter. But for stem form were relatively high. Genetic correlation between height and diameter was 1. i.40 %.39.e.

jati. terlebih jenis jati yang sangat populer serta risetnya yang sudah sangat maju (Bhat. serta sifat silvikulturnya secara umum telah dikuasai. Saat ini. Metode Penelitian 1. 2003). dengan menggunakan benih atau klon unggul hasil seleksi. uji klon.01 (overestimate). Cepu. Afrika maupun Amerika.88. Wono giri. kebutuhan kayu 3 jati pada tahun 2005 sebesar 2. Myanmar. Madiun. variasi genetik I. Variabel yang diukur adalah sifat atau karakter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman. berturut-turut nomor 24 (3. Kabupaten Banyuasin. Menurut Iskak (2005). Jarak tanam 3 m x 3 m. 2005). Variabel yang diukur Tanaman diukur pada umur 3 tahun. 35 (1.430) dan 11 (1.7210). 2004). Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. 1990). Cepu.8 No. perolehan genetik. Upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu telah dilakukan pemerintah melalui program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Penelitian dilakukan pada bulan Januari . Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. 36 (1. 2004 dalam Bramasto dan Suita. Ghana. Nigeria.306). 3. Muna dan Thailand). 1. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai luasan hutan tanaman jati setelah India (ITTO. jati merupakan salah satu jenis yang dikembangkan sebagai hutan tanaman yang cukup luas di dunia dan telah ditanam pada lebih dari 36 negara tropis di Asia. Wonogiri. Brazil dan Indonesia (Siregar dan Mansur. Juli 2011. Menurut Na'iem (2000). awet serta bernilai ekonomi tinggi. diameter batang setinggi dada). Dengan tingkat kebutuhan bahan baku kayu yang demikian tinggi. heritabilitas. masing-masing unit terdiri atas 3 treeplot.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendukung upaya pengembangan perhutanan klon berdaur pendek dengan produktivitas tinggi. Muna dan Thailand). Bahan dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada pertanaman uji klon jati berumur 3 tahun dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dengan tingkat kebutuhan. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. Sumatera Selatan. sementara potensi sumber daya alam semakin menurun.4 juta m . Sementara untuk kebutuhan kayu pertukangan maupun mebeler masih mengandalkan hutan alam. 180 . Sebagaimana halnya jenis-jenis yang berasal dari hutan alam. korelasi genetik serta peningkatan genetik masing-masing karakter pertumbuhan. Kata kunci : Heritabilitas. korelasi genetik.16 % diameter. 2. di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Thailand. PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan taraf hidup manusia telah menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku kayu. BAHAN DAN METODE A. potensi jenis jati yang dikelola oleh Perum Perhutani juga sudah sangat menurun.67. B. Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam uji klon jati adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan 4 blok sebagai ulangan. II.Desember 2008. begitu banyak negara yang tertarik mengembangkan jati dikarenakan kualitas kayunya yang bagus.574). sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. Adapun tujuan khususnya adalah untuk mengetahui variasi genetik antar klon.3. India. volume kayu serta bentuk batang (Cotterill dan Dean. Beberapa negara yang memproduksi kayu jati berdaur pendek adalah Bangladesh. 14 (1. 179 . telah dikembangkan pengelolaan hutan tanaman dengan daur yang lebih singkat.073). Madiun.186 untuk karakter tinggi. pembangunan dan pengembangan hutan tanaman sesungguhnya mempunyai prospek yang cerah. yang dalam perkembangannya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan industri kertas atau pulp. sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebesar lebih 3 kurang 2 juta m .43 % bentuk batang serta 8.40 % untuk volume. hanya 3 dapat dipenuhi sebesar 400 ribu m .

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

3.Analisis data Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians, dengan model analisis varians (linear model) yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel and Torrie, 1991) : Yijkl = µ +Bi + Pj + Kk(Pj) + BK ik + Eijkl Keterangan : Yijkl = Pengamatan pohon pada blok ke i, Populasi ke j, klon ke k, individual ke l µ = Rerata umum Bi = Efek blok ke i Pj = Efek Populasi ke j Kk(Pj) = Efek klon ke k dalam populasi ke j BK ik = Efek interaksi blok ke i dan klon ke k Eijkl = Random error pada pengamatan ke ijkl Untuk mengetahui parameter genetik dilakukan melalui penaksiran terhadap nilai heritabilitas, perolehan genetik serta korelasi genetik antar sifat pertumbuhan. Nilai heritabilitas yang dihitung adalah nilai heritabilitas individu atau klon, yang ditaksir melalui komponen varians yang diperoleh dari hasil analisis varians. Wright (1976) dan Zobel dan Talbert (1984), menggunakan rumusan taksiran nilai heritabilitas dengan materi vegetatif (klon), sebagai berikut :
2

S = diferensial seleksi i = intensitas seleksi (Becker, 1992) p = standart deviasi phenotipe Analisis korelasi genetik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sifat tinggi dan diameter secara genetis, yang dilakukan deengan menggunakan rumus menurut Zobel and Talbert (1984) : k ( xy )

rG (
2 k(x)

x

2

k ( y)

)

Keterangan : rG = korelasi genetik 2 k(xy) = komponen kovarians untuk sifat x dan y 2 k(x) = komponen varians untuk sifat x 2 k(y) = komponen varians untuk sifat y Selanjutnya besarnya komponen kovarian untuk dua sifat tersebut ( x dan y) dapat dihitung dengan rumus (Fins et, al. 1982) yaitu sebagai berikut : 2 2 2 k(xy) = 0,5 ( k (x+y )kx ky) Keterangan :
2 k (x+y )

= komponen varians untuk sifat x dan y.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persen Hidup dan Pertumbuhan

h= H2k=

2 i

k 2
2 k

2

k

2

, dan
e

kb

2

k

(

2

kb

/ B)

(

2

e

/ NB )

Keterangan : h2i = Nilai heritabilitas individu (ramet) H2k = Nilai heritabilitas klon 2 k = Komponen varians klon 2 e = Komponen varians error 2 kb = komponen varians interaksi klon-blok B = Jumlah blok N = jumlah ramet per plot Untuk menduga besarnya perolehan genetik digunakan rumus menurut Zobel dan Talbert (1984) : G = H2 x S atau G = H2 x i x Keterangan : G = taksiran perolehan genetik H2 = heritabilitas
p

Daya adaptasi keseluruhan klon pada umur 3 tahun nampak menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai rerata persen hidup yaitu sebesar 84,52% serta pertumbuhan tanaman yang sangat baik dibandingkan dengan rerata pertumbuhan pada beberapa uji klon jati lainnya, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Perbedaan pertumbuhan selain disebabkan oleh perbedaan materi (klon), juga dapat disebabkan oleh perbedaan faktor lingkungan tempat tumbuh (edafis) yang terkait jenis dan kesuburan tanah, intensitas pemeliharaan serta faktor iklim (klimatis) terutama curah hujan. Menurut Sheldbourne (1972) dan Goddart (1979) dalam Zobel dan Talbert (1984), faktor lingkungan edafis memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pertumbuhan dibanding dengan faktor iklim atau klimatis.

181

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.3, Juli 2011, 179 - 186

Tabel (Table) 1. Rerata pertumbuhan uji klon jati di KHDTK Kemampo serta beberapa hasil uji klon pada lokasi lainnya (Average of growth clonal test of teak in KHDTK Kemampo and others location) Pertumbuhan (Growth) Umur (Age) Tinggi Diameter Sumber (Literature) Lokasi (location) Tahun (year) ( Height) (Diameter) (m) (cm) Sofyandan Syaiful Kemampo, Sumsel 3 7,76+1,75 7,41+1,36 (2008) Bojonegoro, Jawa Timur 5 6,20 6,10 Siswamartana dan Ngawi, Jawa Timur 5 6,00 8,60 Wibawa (2005) Ciamis, Jawa Barat 5 8,20 10,10 Cepu, Jawa Tengah 5 6,65 7,05 B. Variasi Genetik Hasil analisis varians, sebagaimana disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada sumber variasi klon, hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik antar klon. Adanya variasi genetik akan memberikan peluang dalam meningkatkan perolehan genetik melalui tindakan seleksi terhadap klon-klon terbaik. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa sumber variasi blok dan interaksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata bagi pertumbuhan. Hasil interaksi yang sangat nyata mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan tanaman bukan hasil dari kinerja klon atau genetik semata, namun merupakan hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungannya (Kramer & Kozlowski, 1979). Menurut Matheson dan Raymond (1984) penelitian yang menggunakan bahan atau materi vegetatif (klon) seringkali dihasilkan interaksi yang sangat kuat antara klon dengan faktor lingkungannya. Hal tersebut terjadi karena materi klon bersifat sangat reaktif terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh, terutama unsur phosfor, boron dan sulfur (Windsor dan Kelly, 1971 dalam Matheson dan Raymond, 1984). Dengan adanya variasi antar klon, maka terbuka peluang untuk memperoleh peningkatan genetik pada generasi berikutmya. Namun demikian seberapa besar peningkatan yang dapat diperoleh, sangat tergantung pada besarnya proporsi sumbangan variasi faktor genetik terhadap variasi total. Untuk mengetahui besarnya proporsi variasi yang disebabkan oleh faktor genetik serta faktor lainnya, perlu dilakukan analisis komponen varians. Hasil perhitungan taksiran komponen varians selengkapnya disajikan dalam Tabel 3. Besarnya taksiran komponen varians menggambarkan besarnya proporsi sumbangan (kontribusi) setiap sumber variasi terhadap variasi total.

Tabel (Table) 2. Hasil analisis varian pertumbuhan uji klon jati pada umur 3 tahun (analysis of variance for growth on 3 years measurement in clonal test of teak)
Umur (Age) Sumber Variasi (Source of variance) Blok Populasi Klon Klon x Blok Error Derajat Bebas (df) 3 5 29 101 206 Nilai rerata kuadrat tengah (Mean square) Tinggi (Height ) 14,5295** 1,3971ns 2,7896** 2,2789** 1,2016 Diameter (Diameter) 27,3177** 1,4923 ns 2,5148** 2,1296** 1,2969 Volume (Volume) 0,001308** 0,000135** 0,000165** 0,000112 Bentuk Batang (Stem form) 0,7911 ns 3,0574 * 1,7826** 0,8293**

3 Tahun (3 Years)

Keterangan (Remarks) : * = berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Significant at 0,05 level) **= berbeda nyata pada taraf uji 0,01 (Significant at 0,01 level) ns = berbeda tidak nyata (Non-significant)

182

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

Tabel (Table) 3. Taksiran komponen varians dan proporsi sumbangan (%) sumber variasi terhadap variasi total pada umur 3 tahun (The estimated of proportion and variance component of source of variance on 3 years)
Sumber Variasi (Source of variance) Umur
2 b 2 p 2 k(sb) 2 kb 2 e 2 total

Karakter tinggi (Height) Tkv 0,1408 -0,0326 0,0448 0,4441 1,2016 1,7988 % 7,83 -1,80 2,49 24,69 66,80 100,00

Karakter diameter (Diameter) Tkv 0,2914 -0,0240 0,0337 0,3435 1,2960 1,9410 % 15,01 -1,24 1,73 17,69 66,79 99,98

Kombinasi tinggi x diameter (Combination of height x diameter) Tkv % 0,8465 -0,1431 0,1577 1,5330 4,1300 6,5238 12,97 -2,19 2,42 23,50 63,30 100,00

Bentuk batang (stem form) Tkv 0,0129 0,0 0,1218 0,3929 0,8293 1,3310 % 0,97 0,0 9,15 29,52 62,30 100,00

Keterangan (Remarks) : Tkv = taksiran komponen varians (variances component estimate), 2 = komponen varian, b = blok (block), p = populasi (population), k = klon (clon), kb = interkasi klon x blok (interaction clon x block), e = error, % = persentase dari total variasi (presntation of variation total)

Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen varians klon (komponen varians genetik) memberikan sumbangan (kontribusi) sangat kecil terhadap variasi total, yaitu masing-masing sebesar 2,49 %, 1,73 % dan 9,15 % untuk karakter tinggi, diameter dan bentuk batang. Hasil ini menggambaran bahwa pada umur 3 tahun, pengaruh faktor genetik terhadap pertumbuhan relatif masih sangat kecil. Sementara komponen varians interaksi masingmasing sebesar 24,69 %, 17,50 % dan 23,50 untuk karakter tinggi, diameter dan kombinasi kedua sifat tersebut. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pada umur 3 tahun pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan tanaman masih relatif sangat kecil. C. Heritabilitas Heritabilitas merupakan parameter yang mengambarkan seberapa besar sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya dan Tabel (Table) 4.

merupakan suatu hal sangat penting, karena terkait erat dengan perolehan genetik serta strategi pemuliaan pohon dalam memperoleh peningkatan genetik (Zobel dan Talbert, 1984). Heritabilitas yang tinggi menunjukkan adanya peluang perolehan genetik yang besar. Besarnya nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai-nilai komponen varians dari masing-masing karakter, selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Dari hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa untuk semua variabel/karekter yang diukur, secara umum dapat dikatakan mepunyai nilai heritabilitas yang relatif rendah, baik heritabilitas individu maupun famili. Menurut Hardiyanto (1994) dalam Leksono (1994) nilai heritabilitas untuk famili (klon) sebesar 0,40 - 0,60 dikategorikan sedang, kurang dari 0,40 adalah rendah dan lebih dari 0,60 termasuk dalam kategori tinggi.

Taksiran nilai heritabilitas untuk semua karakter pada umur 3 tahun (The estimated of heritability of all character's on 3 year's).
Tinggi (Height) h2i h2k 0,03 0,16 Karakter (Character) Diameter Volume (Diameter) (Volume) h2i h2i h2k h2k 0,02 0,13 0,05 0,30 Bentuk batang (Stem form) h2i h2k 0,09 0,39

Umur (Age)

3 Tahun (3 years)

Keterangan (Remarks) : h2i =heritabilitas individu (Individual heritability) 2 h k =heritabilitas klon (Clones heritability)

183

55 Peningkatan sifat (Improve of character) 7. akan diseleksi sebesar 30 % (10 klon).43 %) dan volume (3.86 (m) 7. sehingga sifat-sifat tersebut lebih mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Taksiran nilai heritabilitas yang tinggi akan menghasilkan perolehan genetik yang tinggi (besar). Dalam penelitian ini perolehan genetik dihitung dengan asumsi bahwa dari 35 klon yang diuji.16 0.360 dan 1. Hasil di atas menunjukkan bahwa perolehan genetik untuk karakter tinggi (0. relatif rendah dibanding bentuk batang (3.0271 m3/phn 0. telah meningkatkan nilai heritabilitas yang signifikan. panjang. antara lain karena rendahnya nilai komponen varians 2 genetik ( k). Perolehan Genetik Taksiran perolehan genetik merupakan suatu nilai kuantitatif dari respon populasi atas adanya seleksi pada populasi tersebut. Hal ini disebabkan karena nilai komponen varians bentuk batang yang cukup besar.0265 m3/phn 0. Dalam uji klon ini jumlah unit percobaan yang relatif sedikit yaitu 3 treeplot dengan 4 blok sebagai ulangan. 20 % (7 klon) dan 15 % (5 klon).98 1.48 (cm) 7.0258 m3/phn Diameter (diameter) 7. di KHDTK Kemampo. maka nilai heritabilitas akan semakin besar. South Sumatera) Karakter (Character) Tinggi (height) Rerata (Average) 7. Menurut Shelbourne (1972) bahwa pengaruh interaksi yang 2 menghasilkan komponen varians ( kb) yang jauh lebih besar daripada komponen varians genetiknya. 179 . dapat menyebabkan nilai heritabilitasnya menjadi rendah. karena pada kondisi tersebut nilai heritabilitasnya menjadi sangat rendah. maka perolehan genetik juga relatif rendah.16 %).49 (cm) 7. Hasil penelitian yang dilaporkan Russel dan Libby (1986) menunjukkan bahwa penambahan jumlah unit percobaan pada uji klon Pinus radiata.89 0. begitu pula Tabel (Table) 5. Sementara menurut Russel dan Libby (1986).85 (m) 7.28 %) dan diameter (0. Perolehan genetik juga dipengaruhi oleh intensitas seleksi.160 sesuai tabel intensitas seleksi menurut Becker (1992).81-1.91 0. dibanding dengan nilai komponen 2 varians interaksi ( kb).025 m3/phn 184 . 1. dengan nilai intensitas seleksi masing-masing sebesar 1. Hal lain yang dapat menyebabkan rendahnya heritabilitas menurut Kuntiyati (1995) dalam Wibowo (2002) adalah karena sifat-sifat kuantitatif (tinggi.84 (m) 7.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.3.043 4.028 0. yaitu hampir 4 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik (klon) untuk karakter tinggi dan 5 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik untuk karakter diameternya (Tabel 3).40 %). Dengan intensitas seleksi tersebut. Juli 2011.40 6. jumlah unit percobaan (ramet per klon) serta jumlah replikasi (blok) juga sangat berpengaruh terhadap nilai heritabilitas.43 3. sangat erat kaitannya dengan nilai heritabilitas masingmasing karakter atau sifat. D. lebar) banyak dikendalikan oleh gen minor yang porsi pengaruhnya sangat kecil dan berbeda-beda. jika nilai heritabilitasnya rendah. semakin banyak jumlah unit percobaan dan replikasi.981.40 3. Sumsel (The estimated of genetic gain on clonal test of teak at KHDTK Kemapo.764 (m) Jumlah klon (Number of clone) 5 7 10 5 7 10 5 7 10 5 7 10 Perolehan genetik (%) (Genetic gain) 1. dapat menjadi masalah serius dalam perolehan genetiknya.527.186 Rendahnya nilai heritabilitas pada uji klon ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.00 3.412 (cm) Bentuk batang (stem form) Volume (volume) 3.28 1. Seberapa besar perolehan genetik dapat dicapai.14 0.81 3.044 4.03 8. Taksiran perolehan genetik dan peningkatan sifat pada Uji Klon Jati pada umur 36 bulan.47 (cm) 4.8 No.03-3.55-8. diperoleh hasil perhitungan taksiran perolehan genetik sebagaimana disajikan pada Tabel 5.

Isik dan Kleinschmidt.16 dan 0. untuk karakter tinggi.39 untuk volume. karena korelasi genetik yang diperoleh dari tanaman yang masih sangat muda dimana kinerja genetik masih relatif labil (belum cukup stabil). dimana pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. terutama untuk mengembangkan dua karakter atau sifat yang berbeda dengan berdasarkan pada penerapan seleksi atas satu karakter.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo.88 IV. Namun demikian untuk uji klon ini. 2. Hasil ini menggambarkan bahwa karakter diameter mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap karakter tinggi maupun bentuk batang.01 merupakan nilai yang bersifat overestimate. Korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk bantang menunjukkan hubungan korelasi yang cukup kuat. maka masih perlu untuk dikaji hubungan korelasinya dalam beberapa tahun ke depan saat umur tanaman relatif lebih tua.30 untuk bentuk batang dan 0.13 (Tabel 4). dengan demikian peluang perolehan genetik yang lebih besar tetap bisa diharapkan.Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. maka kemungkinan terjadinya perubahan pada koefisien komponen varians genetik serta heritabilitasnya pada saat umur tanaman bertambah (lebih tua) masih sangat dimungkinkan dapat berubah. Sumatera Selatan Agus Sofyan. 185 . Dari hasil tersebut nampak bahwa dengan nilai komponen varians genetik serta heritabilitas yang lebih besar. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa apabila hendak melakukan seleksi. Dari 35 klon yang diuji terdapat variasi genetik antar klon. yaitu sebesar 0. E. Korelasi genetik antar sifat tinggi dengan diameter sebesar 1. saat kinerja genetik tanaman sudah relatif stabil. baik dari sisi anggaran maupun waktu.67.49 %. Peningkatan genetik juga menjadi semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat intensitas seleksi (Tabel 5). sementara untuk karakter tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0. KESIMPULAN 1.1984 . Hal tersebut sangat penting guna diperolehan peningkatan genetik sebagaimana yang diharapkan.67 1. namun sumbangan variasinya terhadap total variasi relatif sangat rendah yaitu 2. 1. dengan harapan secara tidak langsung akan dapat memperbaiki karakter yang lainnya (Zobel dan Talbert. maka seleksi cukup didasarkan pada satu karakter yaitu diameter. Koefisien korelasi genetik menggambarkan seberapa besar sesungguhnya hubungan keeratan antar karakter secara genetik. South Sumatera) Umur (Age) Tinggi (Height) 3 Tahun (3 Years ) Diameter (Diameter) Karakter/sifat (Character) Tinggi (Height) - Bentuk batang (stem form) 0. Sumatera Selatan (genetic correlation on clonal test of teak at KHDTK Kemampo.01 0. Korelasi Genetik Korelasi genetik mempunyai arti yang sangat penting dalam program pemuliaan pohon. Mengingat bahwa umur tanaman masih relatif sangat muda yaitu 3 tahun. Mohammad Na'iem.88. Tabel (Table) 6. karena dengan hanya memprioritaskan pada karakter diameter sesungguhnya akan diikuti dengan perbaikan karakter tinggi dan bentuk batangnya. 1984). Dengan demikian pelaksanaan seleksi akan menjadi lebih efisien.01 ( overestimate ).73 % diameter dan 9. Hasil perhitungan korelasi genetik antar karakter (diameter dan tinggi) selengkapnya disajikan pada Tabel 6. Korelasi genetik antar sifat pada uji klon jati umur 3 tahun di KHDTK Kemampo. Korelasi genetik antara karakter tinggi dengan diameter sebesar 1. maka peluang peningkatan genetik yang dapat diperoleh akan menjadi lebih besar.15 % untuk karakter bentuk batang. 2005). hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya rasio antara komponen varians genetik dengan komponen varians interaksinya (Matheson dan Raymond. Sementara korelasi antar karakter diameter dengan bentuk batang sebesar 0. Sapto Indrioko halnya dengan nilai heritabilitasnya yang jauh lebih besar yaitu 0.

Dean. 16. Yogjakarta. Torrie. Leksono. Theor Appl Genet (2005) 110 : 311-322. 1984. M.de Vriese. J. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat ini. dan Kleinschmit. Dengan IPTEK Membangun Hutan Tanaman Demi Kemakmuran Bangsa dan Terciptanya Kelestarian Lingkungann. A. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 186 . Siregar.40 % untuk bentuk batang dan volume. E. Proceeding of The International Conference on Quality Timber of Teak From Sustainable Forest Management. 2000. Matheson. Shelbourne. 2005. Wibowo. Produktivitas Tegakan Jati JPP Intensif sampai dengan Umur 20 Tahun ke Depan. K. Manual of Quantitative Genetics. 179 . C. 2004.Z. Peechi. Bhat. Similarties and effectiveness of tes eninvironments in selecting and deploying desirable genotypes. Zobel. dan Suita. 2000. Tema Menjawab Tantangan Pengembangan Jati Rakyat dan Pemasarannya. IUFRO Genetics-Sabrao Joint Symposia. Makalah disampaikan dalam pertemuan Forum Komunikasi Jati. K. Vol 7 (5). Clonal Testing Efficiency : The Trade-off Between Clone Tested and Ramet per Clone.T. dan Raymond. Tesis. USA. dan Wibawa. 2002. Vol. 1994.H. Variasi Genetik Produksi Getah Pinus merkusii Jungh et. Laporan Penelitian.J. Genotype-environment Interaction : Its Study and its Implications i n F o re s t r y I m p ro v e m e n t . PT. S. Steel. Yogjakarta.J. Yogyakarta. Evaluasi Uji Klon Jati Pada Umur 15 bulan. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. P.16 % untuk karakter tinggi dan diameter. B. R. No 03. dan Libby. Kramer. Fifth Edition. 1979. Quality Concerns of Sustainable Teak Wood Chain. 1991. 3. The Impact of Genotype x Environment Interactions on Australian Pinus radiata Breeding Program. Iskak. London. DAFTAR PUSTAKA Becker. Yogjakarta. 2005. W. 1984. Early Performance Clonal Test of Teak in Perum Perhutani. Canadian Juornal of Forestry Research. Applied Forest Tree Improvement. A. A.D dan J. 3. I. John Wiley and Sons. Siswamartana. 2004. CSIRO Division of Forestry and Forest Product.P. dan Mansur.H. P u s a t L i t b a n g H u t a n Ta n a m a n . 2008.A. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Perum PERHUTANI.88. and. Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu. Buletin Penelitian Pusbanghut. C. M. Quality Timber Product of Teak From Sustainable Forest Management. dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. Pullman. Sanfransisco.G. 1972. Prosiding Seminar Nasinal. International Forestry Review. Y. Variasi Pertumbuhan Tanaman Jati dari Berbagai Klon di Kebun Percobaan Rumpin.A.. dan C. W. 2005. Wanagama. 2005. Vol V. A. J. Balai Penelitian Kehutanan Palembang (tidak dipubikasikan). Russell.Australia. P. Jakarta. A. I. Taksiran peningkatan genetik yang diperoleh adalah sebesar 1. Academic Press. 2005. 2002. tidak dipublikasikan. Cotterill.8 No. Isik. India 2-5 Desember 2003. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia. I. Talbert.67 untuk dan 0. J.43 % dan 8. 2003. Posisi Benih Unggul Versus Silvikultur Intensif Dalam Pembangunan Hutan Rakyat Jati. Successful Tree Breeding With Index Selection.J and T.28 % dan 1. New York. Na'iem. A. Prinsip dan Prosedur Statistika. 2005. Physiology of Woody Plant. Sofyan. 1992. Juli 2011. C.186 sementara korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk batang serta diameter dengan bentuk batang. 1986. masing-masing sebesar 0.3. B. dan Syaiful. Seperempat Abad Pemuliaan Jati Perum Perhutani. Kozlowsky.J. P r o c .M. New York. Academic Enterprise. 1990. 1986. Tokyo. Gramedia Pustaka Utama. Pemeliharaan Jati (Tectona grandis) di KHDTK Kemampo. Bramasto.

lowii Hook seedlings.05 %. Untuk jelutung tinggi 107.50 %. berat kering pucuk 630.lowii Hook seedlings 14 weeksof age after weaning include: height.KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil Burhanuddin . 136. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* *Kampus UGM Bulak Sumur . Naskah diterima : 31 Mei 2011 1 1* 2 2 3 ABSTRACT A study on the influence of water table on the growth Combretocarpus rotundatus Miq and Dyera lowii Hook inoculation with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and fertilization SP 36 in peat soils was conducted in greenhouse Soil Sience Laboratory Faculty of Agriculture. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324.rotundatus Miq and D.61 %.86% high.01 % number of leaves. The goal of research purpose wa to determine the effect of water table. dan Sumardi Fakultas Kehutanan.50 % number of leaves.co. Experiments of water table. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* 3 Fakultas Kehutanan. jumlah daun. is Gadjah Mada University in Yogyakarta for 14 weeks. Glomus sp 3 ABSTRAK Penelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. Keywords: ex-PLG. 630. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. Universitas Tanjungpura Pontianak Jl.80 %.rotundatus Miq and D. and P uptake of plants after harvest. It was concluded that inoculation with the AMF type of Glomus sp 3 combined with the provision of P fertilizer dosage of 100 ppm SP 36 and planting on water table level 20 cm and 10 cm can be used widely to improve growth of C.67 %.Yogyakarta 55281 E-mail : hans_borneo@yahoo. diameter. Bostang Radjagukguk . jumlah daun 437. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah.01 %. 366. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm. In the water table 20 cm increase in growth of C. rotundatus Miq and D. diameter 136. berat kering pucuk 187 .83% and 851.lowii Hook seedlings. diameter 366. P fertilization and inoculation with AMF on the growth of C.80%. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. Jend.56% P uptake.id *Penulis untuk korespondensi Naskah masuk : 26 Oktober 2010. Yani Kompleks Untan Benua Melayu Darat Pontianak Selatan 2 Fakultas Pertanian.00 % dan serapan P 835. diameter. Siti Kabirun . lowii Hook seedling in the nursery.lowii Hook are 107. number of leaves. Nursery experiments were conducted using Completely Randomized Factorial Design with three replications.86 %. fertilized of 100 ppm SP 36 and inoculated with Glomus sp 3 resulted in the best water table is 20 cm in C.rotundatus Miq and D. shoot dry weight of 643. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen.rotundatus Miq are 324. 42.Water table.67% diameter.00% shoot dry weight and P uptake of 835. For D. shoot dry weight. 437. Observations made on C. peat. jumlah daun 42.61% high.05% diameter. A.

Pupuk hayati telah berhasil dikembangkan di negara-negara maju sebagai pupuk yang potensial dan aman bagi lingkungan. Leigh et al. (2) terjadi kekeringan. pada bulan-bulan tertentu terjadi perubahan jeluk muka air tanah yang meningkat. Aquilaria microcarpa (Santoso et al. PENDAHULUAN Pada tahun 1995 telah dilakukan pembukaan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG atau Mega Rice ProjectMRP) yang luas totalnya 1.457. (4) miskin unsur hara dan (5) aktivitas mikroorganisme rendah. penelitian JMA ini belum banyak dilakukan. Sebagaimana yang dijelaskan Saito et al. 2007). di musim penghujan saja jeluk muka air tanah bisa mencapai 5 cm . mengurangi emisi karbon.100 hektar. Kata kunci : ex-PLG. 2009). 1996. Menurut Limin et al. (2002) bahwa jenis perepat.83 % dan serapan P 851. rotundatus Miq) dan jelutung (D.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. gerunggang (Cratoxylon arborescen) dan asam- 188 . Cornejo et al. 2008. mengurangi kebakaran dan dalam jangka panjang dapat memulihkan hutan rawa gambut secara alami. 2008.008. Glomus sp 3. Untuk mengatasi kendalakendala tersebut. 2007). 2003). Pada tahun 2005 Centre for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangkaraya. gambut. (2008) meskipun restorasi hidrologi dengan pembendungan kanal tidak menunjukkan perubahan jeluk muka air tanah yang signifikan. bekerjasama dengan masyarakat Uni Eropa melakukan restorasi hidrologi dengan pembuatan dam atau pembendungan kanal-kanal yang mengering di blok C Kelampangan. Selanjutnya menurut Ritzema et al. Shorea balangeran (Turjaman et al. Namun demikian. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. bungur.7 km dengan berbagai ukuran lebar dan kedalaman. dan sungkai (Martin et al. Akibat pembuatan kanal dengan total panjang 2. mangium. Cardoso et al. 2008. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. salah satu diantaranya adalah Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) (Gumbira-Said. Penelitian yang mengungkap peranan JMA dalam meningkatkan pertumbuhan telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman hutan. ramin (Muin. Pembukaan lahan ini disertai dengan pembuatan kanal. 187 . 2004). 2007). Garcia & Mendoza.56 %. telah terjadi kerusakan status hidrologi kawasan secara drastis yaitu terjadi pengatusan sangat berlebihan serta rendahnya retensi air dan jeluk muka air tanah. maka dipandang sangat penting untuk dilakukan perbaikan melalui suatu upaya konservasi yaitu dengan melakukan pemulihan pada lahan gambut tersebut dengan campur tangan manusia. (3) pH tanah asam. Pada perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook). (2002) memaparkan perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah di blok C ex-PLG. yaitu pulai.196 643. 1999). Water table I. Acacia crassicarpa (Pidjath et al. dan Vitex cofassus (Prayudyaningsih & Santoso. 2007). jati (Faridah. setelah pembendungan pada bulan Agustus 2005 jeluk muka air tanah hanya 9 cm). (2008) perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah sebelum dan sesudah pembendungan kanal di blok C ex-PLG. Mendoza et al. Juli 2011. 2005.3. kegiatan pemulihan ini akan selalu berhadapan dengan masalah yang disebabkan oleh pembukaan lahan gambut tersebut diantaranya: (1) permukaan air tanah menyusut. perlu diusahakan suatu teknologi alternatif yang tepat yaitu dengan pupuk hayati (biofertilizer). Menurut Ritzema et al.lowii Hook) di persemaian. (2008) jeluk muka air tanah gambut pada musim kemarau bisa mencapai 40 cm di bawah permukaan. Perepat adalah salah satu jenis asli hutan rawa gambut yang dapat tumbuh baik pada kondisi terbuka.50 cm yang seharusnya pada kondisi normal pada musim penghujan bisa tergenang dengan ketinggian 100 cm dari atas permukaan tanah.8 No. sedangkan pada musim hujan mencapai 100 cm dari atas permukaan tanah. seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2005 (sebelum pembendungan pada bulan Nopember 2004 jeluk muka air tanah mencapai 112 cm. Takahashi et al. tetapi pembendungan kanal sangat berperan penting dalam proses rehabilitasi lahan gambut seperti mengurangi subsiden.

2. (2010) membuktikan bahwa jenis JMA Glomus sp 3 yang terbaik meningkatakan pertumbuhan semai perepat dari beberapa jenis JMA yang diuji pada media gambut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan perlakuan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok ( 2 x 7 ) dengan perlakuan jenis pohon dan jeluk muka air tanah (water table) dan ulangan sebanyak 3 kali. 35 ppm KH2PO4. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung pada tanah gambut. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggunakan. dan Sumardi asam (Mangifera sp) dapat tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka. JMAjenis Glomus sp 3. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis perepat. jumlah daun. yang cocok untuk ditanam pada lahan gambut yang akan dikonservasi. Tanah dengan berbagai jeluk muka air tanah tersebut dipupuk dengan 100 gram SP 36 dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3. 5 ppm ZnSO4. 2002). Selanjutnya dijelaskan pula bahwa tanaman perepat yang dipupuk dengan pupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah takaran pupuk terbaik meningkatkan pertumbuhan semai perepat pada media gambut (Buranuddin. Tahapan PelaksanaanPenelitian Benih perepat dan jelutung dikecambahkan dalam bak kecambah yang berisi media gambut yang sudah steril. Analisis Data Data tinggi. Tabel 1. Pupuk Sp 36 dan c). HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian Burhanuddin et al. a). b). 70 ppm K2SO4. Pupuk basal diberikan dalam bentuk larutan yang terdiri dari 70 ppm NH4NO3. berat kering pucuk (gram). Data yang dikumpulkan terdiri dari tinggi (cm). 2011). 70 ppm CaCl2. diameter. dan 20 ppm MgSO4. Bahan Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2009 Agustus 2009. tahan kekeringan dan tahan terhadap suhu tanah yang tinggi. Setelah semai berumur satu bulan. Tanaman ditumbuhkan selama 14 minggu setelah penyapihan. berat kering pucuk dan serapan hara P tanaman dianalisis menurut analisis keragaman (ANOVA) rancangan acak kelompok menggunakan metoda SAS X3.2H2O.33 ppm CoSO4. Hasil analisis keragaman pengaruh faktor perlakuan disajikan dalam Tabel 1. Demikian juga pada tanaman jelutung yang dipupuk dengan batuan fosfat takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah yang terbaik meningkatkan pertumbuhan jelutung pada media gambut (Burhanuddin.7H2O. 0. 0.7H2O. jumlah daun (helai). Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C. B. A.7H2O. Selanjutnya semai ditanam dalam kantong plastik hitam ukuran 2. D. jumlah daun. benih perepat (C. 2001).lowii seedling). Jenis ini merupakan jenis pohon dwiguna.5H2O. Bostang Radjagukguk.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin.5 kg yang telah diisi media gambut steril. III. II. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.7H2O 10 ppm MnSO4. Jelutung juga merupakan jenis asli yang tumbuh di hutan rawa gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Jelutung hanya akan dimanfaatkan dari hasil ikutannya saja berupa getah jelutung. lowii) rawa yang berasal dari tegakan alam blok C exPLG Kalampangan Palangkaraya.20 ppm NaMoO4. Selain itu disertakan pula tanah dalam kondisi tergenang air 1 cm tanpa dipupuk dan tidak diinokulasi JMA sebagai kontrol. dilakukan penyapihan. dan serapan hara P tanaman. diameter pangkal batang (mm). 22 ppm CuSO4. Jeluk muka air tanah (water table) diatur bervariasi dari 0 cm sampai 189 . diameter. C. Hasil Pertumbuhan semai perepat dan jelutung dinilai berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi. gerunggang dan asam-asam merupakan jenis cepat tumbuh di hutan rawa gambut (Saito et al. Siti Kabirun. 3. BAHAN DAN METODE 40 cm dengan interval 10 cm. 4 dan 5. berat kering pucuk dan serapan P tanaman. rotundatus and D. rotundatus) dan jelutung (D.

diameter.54* Pr > F 0. 4 dan 5 memperlihatkan bahwa perlakuan water table dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi dengan jenis JMA mem-berikan pengaruh yang sangat nyata terhadap semua parameter yang diuji yaitu.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 13.36 365.73tn 745.85 2 1303. 40 cm.53 Kuadrat tengah (Mean Squares) 9. rotundatus and D.0001 0.68 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) Tabel (Table) 3. 3.0001 0.51* 11. 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.34 3.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 26.14 Kuadrat tengah (Mean Squares) 1.0001 0.19 6 321.95 6 24.65 1323.0100 0.2567 0.4893 0. 0 cm.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. rotundatus and D.36 633.71 1303.37 695.36 6 9. Juli 2011.25 26 41 129.47 26 41 4954.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah (Degrees of (Sum of Squares) (Mean Squares) freedom) 34. berat kering pucuk dan serapan P tanaman.0001 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 2.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3.0001 0.57 F hitung (F cale) 1.06 0.43tn 53. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for diameter C.21* 29.17 6 2192.92 69.21 1 98.0001 0.94* 8.09 9223.60* 45.37 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Pada Tabel 1. perlakuan water table dengan pemberian pupuk SP 36 dan inokulasi jenis JMA mempengaruhi pertumbuhan semai perepat dan jelutung di persemaian.22 Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 18. Peningkatan tinggi semai perepat pada jeluk muka air tanah 10 cm.35 F hitung (F cale) 4.71 1 270. jumlah daun. tinggi. rotundatus and D.62 0.05 6 18.61* Pr > F 0.25 2 0.18 2 9223.36 F hitung (F cale) 0.0001 0.11* 9.21 16.8 No.196 Tabel (Table)1.37 1 4172. Perbedaan tanggap tinggi semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 1. 187 .3. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves C.lowii seedling) Sumber keragaman (Source of variance) Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 12.64* 56. 190 . 2.57 6 220. Tinggi semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 10 cm.36 12.57* 0. Secara umum.06* Pr > F 0. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C.59 1623.61 26 41 15927.

05 6 216.28 F hitung (F cale) 37.0001 0.15* Pr > F 0. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 77.79* Pr > F 0.40 Sumber keragaman Kuadrat tengah (Mean Squares) 11.1052 0. 0 cm. 102. Pengaruh water table.53 732. 182.08 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 5. 162.0001 0.41* 11.59 6 2533. 237. kontrol.lowii seedling) Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 22.05) Gambar (Figure) 1. rotundatus and D.lowii seedling) 191 . SP 36 fertilization and AMF inoculation for height on C.85 26 Kuadrat tengah (Mean Squares) 3044.68 6 2295. Bostang Radjagukguk.61 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.61 %.46tn 48.02 1 314.67 %.27 %. 30 cm.34 36. 83. rotundatus and D.0001 0. dan 324.86 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.0001 0.53 1 4392. Hasil Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight C.13* 8.83 %.rotundatus and D. 0 cm.09 422.37 224. Siti Kabirun.26 6 120. dan 107. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake C. 10 cm.35 %. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 132.75 2 224.31* 7.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 45.31 26 41 897.93* 5.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. 0 cm.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3044.04 4. Peningkatan tinggi semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.62 F hitung (F cale) 2.67 a b c d cd f e i fgh f fgh hi Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks):Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.02 52.22 %. Tinggi semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (Effect of water table.0011 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tin gg i s em a i ( cm ) 41 12266. 10 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman Tabel (Table) 4.75 %. dan Sumardi 40 cm.

00 % 192 . Juli 2011.33 % dan 366.05) Gambar (Figure) 2. Pengaruh water table. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (Effect of water table. Berat kering pucuk semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.8 No. 0 cm30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 2). Pengaruh water table. a ab bc cde ef fg a bcd bc de g gh Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks) : Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.rotundatus and D. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (Effect of water table.3.67 %.67 %. 188. Peningkatan berat kering pucuk semai perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturut-turut lebih besar 534. 0 cm. Peningkatan diameter semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.196 Diameter semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 40 cm. 10 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation 50 40 30 20 10 0 Kontrol 0 10 20 30 40 cdecde bcd cde bc cde cde cde a Jumlah daun (he lai) a b cde Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remarks): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 0 cm. dan 186.13 %.26 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. 10 cm. Diameter semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. 136. 0 cm. dan 10 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol. 244. 20 cm.67 % dibandingkan dengan Dia m e te r b at a ng (m m ) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 tanaman kontrol. Peningkatan diameter semai perepat pada jeluk muka air tanah 40 cm. 30 cm. dan 10 cm berturut-turut lebih besar 93.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.76 % dan 630. 20 cm. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 166. 311. 187 .05 %. SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves on C.lowii seedling) Perbedaan tanggap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 4.05 %.05) Gambar (Figure) 3.67 %. 136.

Hal ini sesuai dengan pendapat Maki et al.05) Gambar (Figure) 4.rotundatus and D.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepa dan jelutung (Effect of water table. Bostang Radjagukguk.83 20 a 15 10 b 5 0 Kontrol 0 10 Water table Perepat Jelutung 20 30 40 bc c bc bc b bc bc b c a Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semai perepat dan jelutung meningkat pertumbuhannya dengan pengatuan water table dan pemupukan SP 36 takaran 100 ppm yang diinokulasi dengan jenis JMA.80 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. B.56 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.19 % dan 835. Gambar (Figure) 5. Pengaruh water table.lowii seedling) Serapan P (mg/tan) 60 50 40 30 20 10 0 b bcd bcd cd 0 10 20 30 b bcd bcd bcd bcd 40 b a a Kontrol Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. akan tetapi pada jeluk muka air tanah 10 cm cenderung meningkat sebesar 851. Siti Kabirun. Pengaruh water table.lowii seedling) Serapan P tanaman perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 5). Berat kering pucuk semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 20 cm B e ra t ke rin g p u cu k (g ) dibandingkan dengan tanaman kontrol. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (Effect of water table. SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight on C. dan Sumardi dibandingkan dengan tanaman kontrol. SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake on C. Serapan P tanaman jelutung tidak berbeda nyata. Hal ini diduga adanya asosiasi JMA endemik pada tanaman lokal gambut dapat meningkatkan pertumbuhan perepat dan jelutung. Peningkatan serapan P tanaman perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturutturut sebesar 761.rotundatus and D. (2008) jenis JMA endemik 193 .05). Peningkatan berat kering pucuk semai jelutung pada jeluk muka air tanah 20 cm sebesar 643.

Hasil penelitian membuktikan bahwa jika akan memulihkan lahan gambut dengan melakukan penanaman dengan tanaman perepat bisa dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 40 cm. dan tipe hutan tall interior forest. Hal ini sesuai dengan sifat alami dari tanaman jelutung yang tumbuh baik pada kondisi dibawah naungan dan merupakan jenis yang masuk pada tahap sesudah jenis-jenis dalam kelompok tipe hutan riverine forest (Page et al. 1999). 1. serta yang satu kelompok dengan jelutung isalnya Shorea balangreran. Hasil penelitian jeluk muka air tanah juga dapat digunakan untuk pemanfaatan lahan gambut ex-PLG secara optimal. Guna pemulihan lahan gambut khususnya EX-PLG Palangkaraya disarankan untuk memanfaatkan pupuk hayati JMA jenis Glomus sp 3 diinokulasikan pada perepat dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm atau 30 cm di lapanagn. (1999) jenis jelutung ada pada tipe hutan mixed swamp forest. Caetano. Cornejo.. Mycorrhizal Effectiveness on Wheat Nutrient Acquisition in an Acidic Soil from Southern Chile as Affected by 194 . R.. Kajian Takaran Pupuk SP 36 pada Perepat ( Combretocarpus rotundatus Miq) dengan Inokulasi Mikoriza di Tanah Gambut. JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm dapat dimanfaatkan secara luas meningkatkan bibit perepat (C. Shorea teysmanniana. EEP. & Nogueira. lahan gambut ex-PLG bisa ditanami dengan tanaman campuran tanaman pertanian. Jika lahan gambut akan ditanami dengan tanaman jelutung dapat dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. karena sifat tanah gambut yang tidak bisa balik (irreversible) akan menyebabkan lapisan atas tanah gambut akan hanyut terbawa air yang menyebabkan cepatnya penurunan tanah gambut (subsidence).. TMC. MA. Kesimpulan Hasil percobaan membuktikan bahwa pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3 membuktikan jeluk muka air tanah terbaik 20 cm.8 No. LC. Mycorrhizal Dependency of Mangaba Tree under Increaing Phosphorus Levels.4. 30 cm. 10 cm. VOL. 2011.. tipe hutan transition forest. Untuk tanaman jelutung disarankan ditanamn pada jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm.lowii Hook) di persemaian. & F. dan Gonystylus bancanus (Page et al. 10 cm dan tergenang 1 cm di lapangan. dan Palaquium leiocarpum. 2010. Jurnal VOKASI. Juli 2011. Lebih lanjut menurut Shepherd et al. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Saran Secara umum dapat disarankan bahwa. Pesquisa Agropecuaria Brasileira. JA. Mycorrhizal Symbioses with Jelutung (Dyera lowii Hook) under Increasing Phosphate Rock Levels in Peat Soil. 187 .15 (1): 63-71. KESIMPULAN DAN SARAN A. R. 2. Radjagukguk. B. dan Page et al. 20 cm. dan yang terbaik pada jeluk muka air tanah 10 cm. Castillo. 7 (2): 166-178... dos Santos. Campnosperma auriculata. 3.. P. namun jeluk muka air tanah terbaik untuk tanaman perepat adalah jeluk muka air tanah 20 cm. Borie. Dengan mengetahui jeluk muka air tanah yang sesuai untuk tanaman perepat dan jelutung dapat dimanfaatkan untuk memulihkan tanah gambut dengan jenis-jenis lain yang satu kelompok dengan perepat misalnya Cratoxylon arborescens. C. 10 (2): 135144.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2011. 2009. S. Hasil pengujian jeluk muka air tanah gambut membuktikan bahwa untuk pemulihan hidrologi dengan melakukan pembendungan kanal tidak harus dengan penggenangan. kemudian diikuti jeluk muka air tanah 30 cm. yaitu dengan mengatur jeluk muka air tanah 30 cm untuk penanaman perepat. Effect of AMF Inoculation on the Growth of Combretocarpus rotundatus Miq on a Peat Soil from Central Kalimantan (For Restoration Ex-Mega Rice Project Central Kalimantan). Burhanuddin. & Sumardi. Jurnal Biota Vol. dan tergenang 1 cm. Cardoso. Jurnal BELIAN. Azeon. dan 10 cm.. Kabirun.3. VOL. de Lemos.. Rubio. 43(7): 887-892. 1999). 2008. Burhanuddin. B. (1995). DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin.196 setempat dapat memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal pada tanah sulfat masam pH 3.

Kurz) pada Areal Bekas Tebangan dengan Inokulasi CMA dan Pemupukan Fosfat Alam terhadap Bibit di Persemaian. Mendoza. Muin. (Tidak dipublikasi). “ Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. 2008. R. Rieley. S. Edited by Catherine F and John Feehan.. London. Fitter. 2007. How do Soil P Tests. 17-21 Juli 2007.. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing XI . Gumbira-Said. 181: 199-207. Shotyk. Mendoza. J. V. Garcia. C. In Journal compilation. Ritzema & H. Escudero. 2009. Endomikoriza.. 27 (VII). & M. H. H. BPPK DEP Kehutanan. no 3. 2005.E. In Plant and Soil 275: 305-315. Relationships among Soil Properties. Mangium dan Sungkai di Persemaian. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. 310: 55-65. Plants Symbiotic Microorganisms in Acid Sulaft Soil: Significance in the Growth of Pioneer Plants. H. del Carmen. 31: 1555-1569. Trans. Limin. From journal of plant Nutrition. & T. Plant Yield and P Acquisition by Lotus Tenuis Plants Reflect the Availability of Added P from Different Phosphate Source. Some Requirement for Restoration of Peatland in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. Hal: 260-269.1007/s10705-0089245-4. & B. J. DOI. S. Prayudyaningsih. Turjaman. & I. Faridah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Y. E. 1999. R. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Leigh. 195 . Maki. O. Kualitas Bibit Acacia crassicarpa A. New Phytologist.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. KSN. & R. LM. Hal: 243-247. T. Mendoza. Siti Kabirun. Efektivitas Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Semai Bitti (Vitex cofassus Reinw).. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. E. M. Prospek Pemanfaatan Bioteknologi untuk Penyediaan Pangan. Volume 1. Canal Blocking Strategies to Restore Hydrology in Degraded Tropical Peatlands in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. Ezawa. Nutrient Acquisition and Mycorrhizal Symbioses of a Waterlogging Tolerant Legume (Lotus glaber Mill) in a Saline-Sodic Soil. Bogor. Page. Arbuscular Mycorrhizal Fungi can Transfer Substantial Amounts of Nitrogen to Their Host Plant from Organic Material. 87-131. Peatland Development: Wise Use and Impact Management.R.. Interdependence of Peat and Vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest. R. Pertanian dan Perkebunan”. Ritzema. Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus Miq..H. 30-36.. Dalam Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999. 2008. Garcia. Limin. Syaiful. Plant Nutrition and Arbuscular Mycorrhizal Fungi-Plant Symbiosis in a Temperate Grassland along Hydrologic. Nomachi. Ex Benth Hasil Sinergi Bio-organik dengan Cendawan Mikoriza Arbuskula di Ultisol. Bostang Radjagukguk. S. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Increasing Livelihoods and Controlling Fires. & Jyrki Jauhiainen. & I.O. & Wiess. Saline and Sodic Gradients. I. Ireland. Rieley. 1999. Kuching. Royal Soc. Kitso. Phil. dan Sumardi Nitrogen Sources. Vasander. Santoso. Dalam Proceedings of the 13th International Peat Congress: After Wise Use-The Future of Peatlands. Jurnal Plant Soil.I & Teten. 10. 2003. & A.H. Hal: 18885-1897 Pidjath. Santoso.. Vol 1. 2007. Bungur. Martin. Pengaruh Endomikoriza dan Media Semai terhadap Pertumbuhan Pulai. Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Ketahanan terhadap Kekeringan pada Semai Jati. Plant Growth. 2004. Bogor.. 17-21 Juli 2007. Hodge.. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Tullamore. Cunn. Lemlit.E.W. S. Sarawak. D..S. Indonesia: Blocking Channels. 2008.V. Yoshida.. Pertanian dan Perkebunan”.. E. Malaysia. 2008.. 1996. 2008. Hal: 222-225. Indonesia. Nutr Cycl Agroecosyst. Setiadi. In FEMS Microbiol Ecol 63: 359-371. A. A.E.O. Garcia. J.

. Symp on Biodiversity.. Y. 2007. Susanto. Central Kalimantan.O and Page. P. The Realitionship between Forest Vegetation and Peat Characteristics in the Upper Catchment of Sungai Sebangau.. Samara publ. A.. M. Shibuya. Tamai. Preliminary Selection of Fastgrowing Tree Species with Tolerance to an Open and Dry Peat Land in Central Kalimantan: To Develop a Preceding Planting Method. S. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. S. Jamal.. Early Colonization of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Tree Producing Gaharu Aquilaria microcarpa seedlings.A. 1995..3. Restoration and Wise Use. S.H. Indry. S. Editor: Rieley. Peat and Peatlands. Carbon-ClimateHuman interaction. M. Santoso. K... Saito. 2002. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Rieley. Yogyakarta. & Page.. M.. 187 . Dalam.h.H.196 Saito. & M. Takahashi.. Bali.Carbon Pools.W. S. UK. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.. M. K. Hal: 191210.H.. Fire.. K. Indonesia. Takahashi. Osaki..J.. P.. Ectomycorrhizal Fungi Inoculated on Shorea balangeran under Field Condition in Peat-Swamp Forest.Y. & Limin.Hal: 7579. Shepherd. J. Pertanian dan Perkebunan”. H. 17-21 Juli 2007. E. Mitigation. Turjaman. Bogor. Juli 2011. J.. Tawaraya. 196 . Environmental Importance of Trop. Tuah.E. Dalam Proceedings of the International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia. Santoso. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. E. & Effect of Tawaraya.. Gunawan.G. K 2007. Segah. Turjaman.E. Limin.E. Of the Int. Shibuya. Indonesia.O. Sampang. Proc. Putir. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful