ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 8 No. 3, Juli 2011
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS (Penilaian Hutan) Mitra Bestari Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA (lnstitut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP) Dr. Ir. Endang Murniati, MS (Institut Pertanian Bogor) Ir. Nina Mindawati, M.Si (Silvikultur) Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah dan Air) Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO-BIOTROP) Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Anggota Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id atau pusprohut@gmail.com. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi Pusprohut, atau download di website Pusprohut : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu. 10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 8 No. 3, Juli 2011
DAFTAR ISI

1.

STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM, MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Communityat the Seram Island, Maluku Samin Botanri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim, dan/and Lilik B. Prasetyo 135-145 TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites 147-153 Dida Syamsuwida dan/and AamAminah TIPOLOGI DESABERDASARKAN VARIABELPENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini, Endang Suhendang, I Nengah Surati Jaya, Hardjanto, dan/and Herry 155-168 Purnomo HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia 169-177 Erly Sukrismanto, Hadi S.Alikodra, Bambang H. Saharjo, dan/and Priyadi Kardono PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO, SUMATERASELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo, South Sumaterat 179-186 Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil 187-196 Burhanuddin, Siti Kabirun, Bostang Radjagukguk, dan Sumardi

2.

3.

4.

5.

6.

Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*181 Samin Botanri (Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon). RH 96 %. Prasetyo (Departemen KSH dan Ekowisata Fak. Htn Tnm Vol. Dengan demikian. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu.32 Dida Syamsuwida dan Aam Aminah (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan J. rotang.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. dan kandungan kalsium air.5%. Spesies ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. paklobutrazol. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. 3. Variabel iklim. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam KomunitasAlami di Pulau Seram. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. Pulau Seram. Pen. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang.2. Pen. tumbuhan sagu UDC(OXDCF) 630*232. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). dan air payau. makanaro. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. Kata kunci: Adaptasi. Ibnul Qayim (Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor) dan Lilik B. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. Maluku. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43.5 juta batang. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. tipe habitat. NaCl dan akuades sebagai kontrol. 2 dan 3 bulan. sylvestre.. kapasistas tukar kation (KTK).13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. tanah.04 kg dan 560. dan molat. larutan NaCl. faktor lingkungan. 3. VIII No. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masing-masing 566. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. 2011 p:147-153 Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. Edi Guhardja. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-Nopember 2009.3 %. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. umur semai . Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol.68 kg/batang. Maluku J. Kata kunci: Bahan pengatur tumbuh. Htn Tnm Vol. VIII No. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. 3.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. lahan gambut. Dede Setiadi. VIII No. perakaran sagu mengalami modifikasi arah pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. 2011 p:135-145 Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. naungan sedang dan naungan ringan.

kemampuan lahan. VIII No. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat.1 Erly Sukrismanto (Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan). jarak ke kawasan hutan negara. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. dan Priyadi Kardono (Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam.2 Tien Lastini (Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. dan Herry Purnomo (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat J. Pen. IPB. Hardjanto. Fakultas Kehutanan. IPB). Bambang H. provinsi dan kabupaten/kota. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. Kata kunci: Koordinasi. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. Endang Suhendang. 3. Pen. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. sosial ekonomi. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. pengendalian kebakaran. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. 3. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. jarak ke jalan besar. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. 3. analisis gerombol. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. Bogor). Hadi S. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. Fakultas Kehutanan. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. VIII No. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Kata kunci: Biofisik. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. kelerengan lahan. Htn Tnm Vol. institusi . Sekolah Pascasarjana IPB). Saharjo (Departemen Silvikultur. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. dan umur produktif penduduk yang diteliti. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*922. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. di mana koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. tipologi desa UDC(OXDCF) 630*432. I Nengah Surati Jaya. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. Alikodra (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. rumah permanen. 2011 p:155-168 Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. hutan rakyat. Berdasarkan analisis gerombol. 2011 p:169-177 Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. VIII No. Htn Tnm Vol. administratif. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. Bakosurtanal) HubunganAntar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/lahan di Indonesia J.

Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. diameter dan bentuk batang. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) Kajian Water Table Pada Semai Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq dan Jelutung (Dyera lowii Hook) Diinokulasi Glomus sp 3 Di Tanah Gambut J. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. 1.80 %. jumlah daun 42. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. Htn Tnm Vol. Universitas Tanjungpura Pontianak). Untuk jelutung tinggi 107.073). 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter.50 %. VIII No.574).83 % dan serapan P 851.39. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm.3 Burhanuddin (Fakultas Kehutanan. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. Kata kunci: Heritabilitas.40 % untuk volume. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. perolehan genetik. variasi genetik UDC(OXDCF) 630*232. diameter 136. 3.430) dan 11 (1. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta).306). berturut-turut nomor 24 (3. Pen. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. diameter 366. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. VIII No. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. Glomus sp 3. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.61 %. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. jumlah daun.02 (individu) dan 0. berat kering pucuk 630. Sumatera Selatan. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. gambut. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324.56 %. uji klon.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo.05 %. diameter. 36 (1. Mohammad Na'iem dan Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0.28 % untuk karakter tinggi.09 dan 0. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9. 3. dan Sumardi (Fakultas Kehutanan.00 % dan serapan P 835. Universitas Gadjah Mada) Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. Htn Tnm Vol. Siti Kabirun. 2011 p:179-186 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik.86 %. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*165. sebesar 0.lowii Hook) di persemaian. dengan 4 blok. VIII No.49 % untuk karakter tinggi dan 1.88. 3. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik.67.01 %. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. Sumatera Selatan J. 35 (1.13 (klon) untuk karakter diameter. Pen.15 %. Kata kunci: ex-PLG.73 % untuk diameter.16 % diameter.16 (klon) untuk karakter tinggi. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. korelasi genetik. jumlah daun 437. berat kering pucuk 643. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. Water table . 3. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. jati.67 %. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. 14 (1. 2011 p:187-196 PPenelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. Bostang Radjagukguk (Fakultas Pertanian.026 (individu) dan 0.7210).4 Agus Sofyan (Balai Penelitian Kehutanan Palembang). di lokasi KHDTK Kemampo.01 (overestimate).43 % bentuk batang serta 8.

lahan gambut. It was found that there are five of the sago palm species namely tuni. Bogor 16680 Jln. Telp/Fax. Fax. perakaran sagu mengalami modifikasi arah 135 . environmental factor. (3) melakukan analisis interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43.68 kg/trunk. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Prasetyo3) Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon Jln. Lingkar Akademik Telp. cation exchange capasity (CEC). The potential clump population at the Seram Island is about 3. (2) identify habitat preference of sago palm. Ambon 97582 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami.3 %.2 million clumps. Edi Guhardja . dan air payau. and molat. Kampus IPB Darmaga. Maluku secara keseluruhan. makanaro. tentu dengan menggunakan sampling. The aim of this research were to : (1) analys conducted to describe of sago palm characteristic in the nature community. rotang. Tuni species is the most dominant vegetation which cover 43. Dede Setiadi . 24. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. The result of research showed that population structure of sago palm in the nature community follows young growth pattern with seedling death of about 85 %. (0251) 8621947. Among the environmental condition.2. (3) to describe interaction between sago palm and environmental factors. The research was conducted in March to November 2009. sylvestre. Maluku Samin Botanri . memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. peat swamp or brackish water. In sago palm community there was negative interspecific association with Jaccard index < 0. Raya Tulehu Km. Keywords: Adaptation. Penelitian berlangsung di tiga wilayah di pulau Seram. sun light intensity. MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Community at the Seram Island. 5.3 % of habitat. and calcium in water were the most factor.5 million trunk of trees. which of about 1. Bogor 16680 Jln. habitat type. Maluku. sago palm ABSTRAK Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. Seram Island. Tuni and sylvestre are the most potential species with production capacity of about 566. Swamp condition as adaptation strategy more amount of sago palm roots directed out to water surface. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu. Serta memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. bukan menggunakan metode sensus pada bulan Maret-Nopember 2009. rotang. dan/and Lilik B. dan molat. (0251) 8622833 3) Departemen KSH dan Ekowisata Fak. and (4) identify the sago palm trees potential and sago flour production at three areas in the Seram Island. Agatis Gedung Fapet Wing 1 Lt. Naskah diterima : 22 Mei 2011 1) 1) 2) 2) 2) ABSTRACT Sago palm (Metroxylon spp) is a tropical plant adapted to marginal land such as fresh water swamp. (0251) 8621947 Naskah masuk : 1 Juli 2010. Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. Ibnul Qayim . sylvestre.STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. makanaro.04/kg by 560.

Kata kunci : Adaptasi. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masingmasing 566. BAHAN DAN METODE A. B. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. dan potensi tumbuhan sagu. sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut. Latar Belakang Sagu ( Metroxylon spp) salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropik basah. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur). tipe habitat. mikro iklim. tumbuhan sagu I. 2006). dan (3) bagaimana interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan?. Peta lokasi penelitian Pulau Seram (Map of site research at the Seram Island) 136 . Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah. (2) bagaimana preferensi habitat tumbuhan sagu?. Berkaitan dengan hal tersebut.5 juta batang. Pulau Seram. tanah. interaksi dengan parameter ingkungan. 135 . Secara ekologi. maka dapat dikatakan bahwa tumbuhan sagu mempunyai daya adaptasi yang tinggi (Suryana. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. 2007). mekanisme adaptasi. Waktu dan Lokasi Penelitian berlangsung pada bulan Maret Nopember 2009. Maluku.145 pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan studi ekologi tumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram. Tujuan khususnya yaiu : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. maka kajian permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami?. dan spesies vegetasi dalam habitat itu. Secara umum terdapat lima jenis sagu yang tumbuh dalam komunitas alami maupun budidaya yaitu sagu tuni. daerah sepanjang aliran sungai. sekitar sumber air. Variabel iklim. ihur. Juli 2011. atau hutan-hutan rawa. Studi ekologi sagu yang selama ini telah dilakukan masih memerlukan suatu penelitian tentang autekologinya yaitu struktur populasi. faktor lingkungan. Berdasarkan informasi tempat tumbuh sagu yang cukup bervariasi tersebut. dan kandungan kalsium air.8 No. antara lain Wilayah Luhu Kabupaten Keterangan (Remarks) : Lokasi sampling (Sampling location) Gambar (Figure) 1. air. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah.68 kg/batang.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. berlangsung di Pulau Seram.2. kapasistas tukar kation (KTK).04 kg dan 560. kelimpahan spesies. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. PENDAHULUAN A. dan molat (Louhenapessy. makanaro. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. interaksi spesies dengan tipe habitat. duri rotang. Maluku. dan (4) mengetahui potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram (Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat.3. penentuan preferensi ekologi seperti tipe habitat. II.

Edi Guhardja.00. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Dalam populasi tersebut jumlah individu fase semai yang berhasil tumbuh ke fase pertumbuhan berikutnya hanya sebesar 15. Sampel air rawa diambil dari habitat tergenang kemudian dianalisis kualitasnya. dan komponen di bawah tanah seperti air. jumlah individu spesies yang kedapatan pada setiap unit contoh. Ibnul Qayim. Data iklim lokal diperoleh dari stasiun klimatologi Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (MT). dan 17. jenis vegetasi. dan Lilik B. sebagian tunas anakan yang muncul dari pangkal batang tidak bersentuhan dengan tanah. 137 . Analisis data menggunakan perangkat lunak Ecological Methodology. dan pohon 20 m x 20 m.00. Maluku. Jumlah petak pengamatan sebanyak 131 plot. Tingginya tingkat kematian ini dapat disebabkan karena : (1) sifat pertumbuhan anakan sagu. tiang 10 m x 10 m. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kematian individu fase semai.34 %. sapling 5 m x 5 m.53 lux. Struktur Populasi Secara umum struktur populasi tumbuhan sagu di Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda yaitu populasi dengan jumlah individu paling banyak terdapat pada fase semai. Spesies tumbuhan yang tidak diketahui. SPSS ver. 2. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0 . gagal tumbuh ke fase berikutnya mencapai 84.66 %. Hasil pengukuran intensitas cahaya surya di dekat rumpun sagu hanya sekitar 12. 13. Lingkungan dan Tanah Suhu dan kelembaban udara relatif diukur pada pukul 07. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah.00. Dede Setiadi. (2) analisis asosiasi spesies menggunakan rumus Chi-square. b. berkurang secara drastis pada fase berikutnya (Gambar 2). dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Kemudian ditetapkan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD atau SDR summed dominanced ratio) = INP/3 (%). HASIL DAN PEMBAHASAN A. b. 2004). Salinitas ditetapkan menggunakan refraktometer. Pada setiap plot dibuat petak sesuai ukuran masing-masing.60 cm. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan formula Cox (2002) : INP = KR + FR + DR.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Berdasarkan parameter tersebut. Pengamatan vegetasi bawah (seedling) dilakukan pada petak berukuran 2 m x 2 m. Persaingan yang dimaksud berkaitan dengan komponen di atas permukaan tanah seperti udara. Intensitas cahaya surya di bawah tegakan sagu. cahaya. jumlah individu sagu menurut fase pertumbuhan. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. Prasetyo Seram Bagian Barat. yang merupakan ulangan yakni Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. Petak pengamatan ditetapkan menggunakan metode garis berpetak (Kusmana. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Metode Penelitian 1. intensitas cahaya di bawah tegakan diukur menggunakan lux meter (light meter). ruang. AnalisisAsosiasi Interspesifik Asosiasi interspesifik ditentukan menggunakan formula menurut Ludwig & Reynolds (1988) dengan tahapan : (1) analisis Variance Ratio (VR) menggunakan rumus : VR = ST 2 / δ T 2 . Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah.00 . Plot Penelitian Wilayah sampel ditetapkan meng-gunakan metode judgement sampling/ purposive random sampling. Parameter yang Diamati Pengamatan sagu dan vegetasi lain meliputi : jumlah rumpun. C. 15 dan Minitab ver. 1997). Bahan dan Peralatan Penelitian menggunakan potensi tumbuhan sagu yang tersebar pada tiga wilayah di Pulau Seram. diidentifikasi oleh ahli taksonomi dari Herbarium Bogoriense. III. Analisis tanah dan air dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. Penentuan Contoh a.33 % (206. didekati dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) (Supranto.30 cm dan 30 . Maluku Samin Botanri. B. dan unsur hara. 15. Analisis Komponen Utama Interaksi tumbuhan sagu dengan komponen abiotis.14. maka dilakukan : a. oksigen. diukur antara pukul 11. Suhu dan kelembaban relatif diukur menggunakan thermohigrometer. Wilayah sampel terpilih yaitu Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. (3) tingkat asosiasi ditetapkan menggunakan indeks Jaccard (JI) : JI = a/a+b+c c.30. dan luas tutupan (coverage). (2) terjadi persaingan di antara masing-masing individu dalam rumpunnya.

Not Harvestable) Gambar (Figure) 2.99) tanah. nilai kekurangan Fe dan Al tersebut termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria (Balai Penelitian Tanah.3. Semai Sapihan Tiang BMT MT LMT Keterangan (Remarks) : BMT = Belum Masak Tebang (Immature Trunks). Rendahnya intensitas ini karena terdapat hambatan oleh tajuk rumpun sagu itu sendiri.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dan (4) mengalami keracunan karena kandungan Fe (3. Juli 2011. MT = Masak Tebang (Mature Trees . tunas anakan yang masih muda memiliki daya adaptasi yang rendah terhadap kondisi lahan tergenang (tereduksi).08) dan Al (4. Perbandingan NJD sagu dan non-sagu di plot penelitian (SDR camparison of sago palm and non sago palm at the research plot).145 ruang terbuka 1675. 138 . 135 .29 lux). Gambar (Figure) 3.8 No. LMT = Lewat Masak Tebang (Mature Trees. 2005). Hasil pengukuran kemasam- an tanah menunjuk-kan bahwa pH tanah dapat mencapai 4. (3) rentan terhadap pH rendah.Harvestable).31 (pH KCl). Struktur populasi sagu di Pulau Seram (Population structure of sago palm at the Seram Island).

0 Tipe Habitat (Habitat Type) T2AT T2AP ind/ha 124. ind = individu (individual).31 21. (2) habitat tergenang temporer oleh air tawar yaitu tipe habitat dimana genangannya sangat ditentukan oleh ada-tidaknya hujan.80 22.00 100. 3.64 17.19 164.33 26. Apabila interaksi tumbuhan sagu dengan tipe habitat ini dijadikan acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasinya.67 1.50 274.0 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land).00 14. berupa rawa-rawa yang tergenang secara temporer maupun permanen.87 2.07 16.49 34.20 36.60 37.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.3%). dominasi.0 Rataan (Average) ind/ha 87. dan (4) habitat lahan kering. Jenis sagu (Sago species) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah TTG ind/ha 103. akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan.92 % 52. sedangkan jenis sagu molat ditemukan tumbuh pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN).32 0. 2.24 19. (3) habitat tergenang permanen. Jenis sagu rotang hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG). 170.85 % 58.26 28.00 55. maka dominasi spesies sagu juga meningkat (Gambar 3). 5. 139 . Prasetyo B.00 33. dan Lilik B.00 100.69 15. artinya kondisi habitatnya tidak pernah tergenang.65 100. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). yaitu tipe habitat yang mengalami genangan pada periode waktu relatif cukup lama.58 0. makanaro. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat.61 100.0 ind/ha 62.04 100. sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dan menyolok.00 12.58 0.95 4.37 37.04 11. Maluku Samin Botanri. Edi Guhardja.62 9. C.00 173. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp).14 10. Kondisi tersebut ditemukan pada setiap sempel dan masih perlu riset lebih lanjut untuk memetakan luasnya.10 0. maka Tabel (Table) 1.01 85. Dede Setiadi. dan sylvestre (Tabel 1). Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sagu tuni merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan. Ibnul Qayim. Jika kondisi ini terjadi maka regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak.72 27.22 20. Fenomena seperti ini merupakan gambaran umum yang sering dijumpai pada tipe vegetasi yang mengarah kepada kondisi klimaks dan stabil.27 0.83 0. Mueller & Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005) mengemukakan bahwa komposisi bervegetasi alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi.00 0. Kondisi tersebut dapat terlihat dengan bertambahnya fase pertumbuhan.86 15. Dua jenis sagu yang lain yakni rotang dan molat tumbuh pada habitat terbatas. Jenis sagu yang dapat tumbuh dan berkembang pada semua tipe habitat adalah jenis sagu tuni. dan frekwensi yang melampaui spesies yang lain dengan penguasaan habitat mencapai 43.01 % 37.3 %. diperoleh hasil ditemukan bahwa sagu tuni memiliki jumlah individu paling banyak (99. Kelimpahan Spesies Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun sagu dan nisbah jumlah dominasi (NJD) dalam komunitas sagu menunjukkan bahwa spesies sagu merupakan jenis vegetasi yang menguasai sebagian besar areal lahan di plot penelitian.66 % 64.00 96.0 TPN ind/ha 61.09 0.97 7. Berdasarkan penelitian tersebut jumlah individu masing-masing spesies sagu.47 0.08 20. Populasi rumpun sagu pada tipe habitat berbeda di Pulau Seram (Clumps population of sago palm of the habitat type at the Seram Island)) No. 4.00 5. fenologi.93 ind/ha) dan NJD paling tinggi (43.30 1. Dua tipe habitat itu dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi empat tipe yaitu : (1) habitat tergenang temporer air payau yaitu tipe habitat yang dicirikan oleh adanya pasangsurut. dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap. karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu lama.94 % 50. Habitat danAdaptasi Tumbuhan Sagu Secara umum tipe habitat sagu di Pulau Seram dapat dipisahkan menjadi dua kategori yaitu (1) habitat lahan kering dan (2) habitat lahan tergenang.00 0.06 0. biasanya lebih dari satu bulan.

1994).63 dan pH KCl 4. Gambar (Figure) 4. Modifikasi arah pertumbuhan akar sagu pada kondisi tergenang (Roots growth modification of sago palm af the swamp condition) E. Interaksi dengan Faktor Lingkungan 1. suatu spesies dapat muncul sebagai kompetitor yang mendominasi spesies lain. 1974). Syekhfani (1997) mengemukakan bahwa logam memiliki kemampuan untuk melisis air sehingga pH tanah dapat semakin masam. Interaksi yang bersifat negatif meberikan petunjuk pula bahwa tidak terdapat toleransi untuk hidup secara bersama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. (1999 dalam Kurniawan et al. Hal tersebut ditunjukkan dari jumlah rumpun dan jumlah populasi semua fase pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu yang lain.145 dapat dikatakan bahwa jenis sagu tuni memiliki kemampuan adaptasi yang luas (eury tolerance).5. Kondisi plot yang senantiasa tergenang cenderung merupakan kondisi tanah masam. tumbuhan melakukan mekanisme adaptasi morfologi dengan membentuk sistem perakaran dangkal (Daubenmire. 135 . Hasil analisis asosiasi spesies berpasangan menunjukkan bahwa terdapat asosiasi diantara spesies sagu dan antara sagu dengan non sagu dengan nilai chi-square berkisar dari 4. Dengan meningkatnya jumlah individu yang satu akan menekan pertumbuhan individu spesies lain (Soegianto. Ketika pH rendah. namun memiliki populasi yang rendah. Jenis sagu makanaro dan sylvestre tumbuh pada semua tipe habitat. terutama dalam pembagian ruang hidup. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiga jenis sagu tersebut memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). Levitt (1980) menyebutnya sebagai cekaman defisit oksigen.83.8 No. 140 . Mekanisme perubahan ini agar penyerapan oksigen oleh perakaran dapat berlangsung dengan baik. Menurut Krivan & Sirot (2002) dikemukakan bahwa dalam asosiasi interspesifik dapat memunculkan kompetisi interspesifik. Berdasarkan hasil penelitian pH tanah menunjukkan kisaran pH tanah (pH H2O) 4. baik yang sifatnya temporer maupun permanen. MekanismeAdaptasi Sagu Sebagian besar sagu tumbuh pada lahan tergenang. Pada habitat tergenang biasanya muncul akar berukuran kecil dalam jumlah banyak dengan arah pertumbuhan menuju permukaan air sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas. Berbeda dengan jenis lain.35-21. Komponen Biologis Hasil analisis asosiasi interspesifik menunjukkan bahwa secara simultan (keseluruhan) terjadi asosiasi antar spesies dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram dengan nilai VR sebesar 0. Barbour et al. maka pada kondisi lahan dengan aerase jelek.3. 2008) mengemukakan bahwa asosiasi yang bersifat negatif memberikan petunjuk bahwa setiap tumbuhan dalam suatu komunitas terjadi saling memberi tempat hidup pada suatu area habitat yang sama. Nilai VR < 1 mengandung makna bahwa asosiasi antara spesies bersifat negatif. maka adaptasi sagu ditunjukkan melalui sistem perakarannya yang mengalami modifikasi arah pertumbuhan (Gambar 4). Fe dan Al akan larut sehingga konsentrasinya meningkat dan dapat bersifat meracun (toxic) (Brady 1990).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.03 dengan indeks Jaccard rata-rata 0.47 . Sagu rotang merupakan jenis sagu yang memiliki daya adaptasi paling terbatas karena hanya tumbuh pada habitat lahan kering (steno tolerance).14 (termasuk kategori rendah) (Tabel 2). Pada kondisi dimana asosiasi bersifat negatif ekstrim. artinya keadaan dimana terjadi keterbatasan oksigen di dalam tanah.31. D. Habitat tergenang identik dengan kondisi tereduksi. Molat ditemukan pada habitat T2AT dan TPN. Juli 2011. Dalam kaitan dengan kondisi yang tereduksi ini. dan tiga (3) dari empat (4) tipe plot penelitian termasuk kategori tergenang. Tanah-tanah masam dengan kandungan logam tinggi seperti Fe dan Al dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan perakaran. Asosiasi antar spesies yang bersifat negatif menunjukkan bahwa terjadi perebutan dalam penggunaan sumberdaya.

1. sinaran surya lokal dan curah hujan dengan kelembaban mikro.56* 4..04 0.. Ibnul Qayim. . 4.43 0. sagu var molat 3. Homalomena sp.1. rumphii Mart var sylvestre (Becc) 3.4 Pandanus furcatus Roxb. M.50 -0.3 M.75 LoadingPlot of T_m ikro.50 -0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor iklim terhadap PS di Pulau Seram sebesar 3.14 0. 3.96* 4.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.05) 2. Diagram loading plot korelasi variabel iklim habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of climate variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Dengan mempertimbangkan akar ciri (eigenvalues) dan vektor ciri (eigenvector) terbesar. Prasetyo Tabel (Table) 2.50 0.25 0.47 0. Dalam konteks ini besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan sagu (PS). Maluku Samin Botanri.06 0. dan sinaran surya mikro memiliki korelasi negatif dengan curah hujan (ditunjukkan oleh sudut tumpul garis loading plotnya).05 0. sinaran surya lokal. M. 2. rumphii var sylvestre 2.2 M.73* 5.28* 21. maka diikuti dengan peningkatan sinaran surya mikro. rumphii Mart subvar makanaro (Becc) 2. Nama spesies (Species name) Chi-square (X2) Tipe Asosiasi Indeks Jaccard (Association type) (Jaccard index) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 0.1 Pandanus furcatus Roxb. maka sinaran surya (lokal & mikro).00 CH S ry _mik ro -0.6 Nephrolepis sp. Korelasi negatif terjadi pula antara variabel temperatur mikro dengan kelembaban mikro.69* 4.15 0.15 0.25 -0.25 F irst Com ponent T_mikr o 0. M.1 M.00 0. Chi-square untuk pengujian asosiasi interspesifik spesies berpasangan penyusun utama komunitas sagu pada plot penelitian di Pulau Seram (Chi-square for interspecific association testtopair dominantspecies inthesagopalm communityatresearchplottheSeram Island) No. 2.04 0.35* 4.04 0. dan temperatur mikro akan menurun.4.5 Homalomena sp. 0. 1998).45* 4. Nephrolepis sp.10 0.1 M. Korelasi yang sama terjadi pula antara variabel sinaran surya dengan temperatur mikro. M. 6.31* 4.02 1. Hal ini berarti bahwa apabila curah hujan bertambah. 4.75 Gambar (Figure) 5.48* Keterangan (Remarks): * signifikan pada taraf α 0.12* 16. KomponenAbiotis a. sagu Rottb var molat (Becc) 4.25 0.2 Homalomena sp. CH RH_mikr o 0. M. 1. 2007).50 Second Component S ry _ l okal 0.53* 5. sagu var molat 1. dan Lilik B. rumphii subvar makanaro 1.16 0. Model indeksnya sebagai berikut : 141 . rumphii var sylvestre 1.3 Nephrolepis sp.20 0. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masing-masing variabel (Dewi. Dede Setiadi. Korelasi yang bersifat positif mengandung pengertian bahwa apabila sinaran surya lokal meningkat..05 (significant of the α 0. M.2.2 Nephrolepis sp. 2005 & Marzuki.74* 6. 3. Hal ini ditunjukkan dengan sudut lancip yang dibentuk garis loading plot kedua variabel tersebut (Setiadi. Sedangkan variabel temperatur mikro. Edi Guhardja.08 0.3. Variabel Iklim Hasil analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA ) untuk menjelaskan interaksi variabel iklim menggunakan loading plot menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel sinaran surya lokal dan mikro (Gambar 5).03* 20.76* 9. rumphii Mart subvar tuni (Becc) 1.76* 5.38%. sagu var molat 2.

1 M agnes ium -0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.27BD) + (0.1 0. Korelasi yang bersifat positif ini mengandung pengertian bahwa dengan makin bertambah kandungan kalium.. Liat = partikel liat. Variabel tanah yang memiliki kontribusi tertinggi adalah KTK (1.4 0.2 F irst C om ponent 0.17K) + (1. dengan sendirinya akan meningkatkan kadar salinitas. Interaksi dengan Variabel Tanah Hasil analisis PCA faktor tanah menunjukkan bahwa variabel C-organik berkorelasi positif dengan pH. 142 .4 0.0 0.5 Kalium Liat BD -0. dan magnesium (Gambar 7).2 F irst C om p one nt 0 .4 0..4 -0 .4 -0. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masingmasing variabel tanah terhadap pertumbuhan sagu.0 Fe pH(KCl ) Kal si um KTK pH(KCl) Kalsium KTK Second Component 0.1 0. Fe = Ferrum.2 -0. T-mikro = temperatur mikro. Korelasi positif terjadi pula antara KTK dengan kalsium. RH-mikro = kelembaban mikro.4 0. Juli 2011.145 PS(F-iklim) = (0.47RH-mikro) + (1.5 Gambar (Figure) 6. dan sebaliknya apabila KTK rendah termasuk kurang subur.0 BD L iat -0.1 0. Pada model di atas. Ca = Kalsium. kalsium. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram sangat ditentukan oleh variabel intensitas cahaya surya mikro. KTK = kapasitas tukar kation.85Mg) + (1. Fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa kematian tunas anakan sagu antara lain dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya surya yang masuk sampai ke bagian bawah tajuk rumpun sagu. maka pH akan berkurang (semakin masam).0 Sec ond Component -0. C-hujan = curan hujan.C _org an ik C _organik 0. Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan suatu variabel.1 0. Sedangkan pH berkorelasi negatif dengan Fe. kalsium.64Ca) + (0.5 0 . Tanah dengan KTK tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut subur. kalsium.. C-org = karbon organik. magnesium.2 -0.63C-hujan) dimana : PS = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor iklim.66Sry-mikro) – (1.2 -0.15%..3 -0. Pada model indeks PS di atas..3. BD = bulk density. Argumen ini dikemukakan karena KTK merupakan parameter tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah (Hardjowigeno 1992).3 0. dan kalium (Gambar 6). maka akan diikuti dengan variabel yang lain. dan magnesium..40%.3 Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar.07Fe) + (0. Srymikro = sinaran surya mikro. Hal ini berarti bahwa sagu menghendaki tanah dengan kesuburan yang memadai. c.2Fe 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor tanah terhadap PS di Pulau Seram sebesar 10. Model indeksnya sbb : PS(F-tanah) = (1. K = Kalium..10Sry-lokal) + (1. Banyak tunas anakan sagu mengalami kematian karena terjadi kompetisi yang kuat diantara individu setiap rumpun dalam mendapatkan sinaran surya. Variabel kualitas air rawa yang memiliki C_organik Load in gPlot ofp H(KC l). Loading Plot of pH (KCl). maka ditentukan besarnya kontribusi relatif variabel kualitas air rawa terhadap PS.2 -0. dan kalium. . Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar. KTK.1 -0.3 0. maka pH air akan meningkat. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor kualitas air rawa terhadap PS di plot penelitian sebesar 10. 135 . Liat 0. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan sifat tanah sangat ditentukan oleh kapasitas tukar kation (KTK). artinya apabila Fe meningkat.78T-mikro) + (1. kalsium.90%). Diagram loading plot korelasi variabel tanah habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of soil variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island). Partikel liat berkorelasi positif dengan bulk density (BD).3 0 .15%.8 No. b. Kalium.60pH-KCl) + (0. Selain itu kation-kation basa yang meningkat. Mg = Magnesium. pH-KCl = kemasaman tanah potensial.82Liat) dimana : PS(F-tanah) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor tanah. Cahaya surya yang masuk sampai dekat rumpun sagu hanya mencapai 12. Syr-lokal = sinaran surya lokal.5 Kal ium Magnesium -0.1 0 .1 0. magnesium.3 -0. dan magnesium merupakan kation basa yang memainkan peranan dalam meningkatkan pH.83C-org) + (1.2 0.90KTK) + (1. Interaksi dengan Variabel Kualitas Air Rawa Hasil analisis PCA kualitas air rawa menunjukkan bahwa pH air memiliki korelasi positif dengan kalium.

3 552.1 162. Pada tabel 4 tampak bahwa tipe habitat berperan dalam mempengaruhi produksi pati sagu. Maluku Samin Botanri.135.10Mg + (0.8 58. Kalsium Tabel (Table) 3.4 NO3 0. Masak Phn.5 67.8 1.8 629. Ca = Kalsium.50NO3) + (0. Kalsium juga merupakan kation basa yang berperan dalam memperbaiki kemasaman air. pohon 1.73%). Hasil perhitungan potensi produksi pati sagu basah di plot penelitian wilayah Pulau Seram diperoleh bahwa jenis sagu tuni dan sylvestre memiliki potensi produksi paling tinggi. artinya diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah yang relatif banyak. Pada tipe habitat TTG dan T2AT produksi pati sagu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tipe habitat T2AP dan TPN.59 individu.25 0.8 3.0 0. dapat dikatakan bahwa sagu tuni merupakan jenis sagu yang sangat potensial karena memiliki jumlah individu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis sagu yang lain (1.2 331.714.745.00 First Component 0. Potensi produksi kedua jenis sagu ini hampir sama pada semua tipe habitat.47 juta individu. Mg = Magnesium.2 55.25 0. sapihan 1.1 118. Hal ini berarti bahwa untuk pertumbuhan sagu diperlukan kalsium yang memadai.50 Gambar (Figure) 7.. .7 1.18K) + (1. ind = individu (individual).0 Kalsium -0.6 0.714 juta rumpun). Seram (Population potential of sago palm at the Seram Island) Jenis Sagu (Sago Species) Jumlah Rumpun Semai (Seedling) (Numbers of Clump) 1.6 378.22 kg/batang (Tabel 4). Salinitas Kalium merupakan unsur hara esensial makro.3 543. Diagram loading plot korelasi variabel kualitas air rawa habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of water swamp quality variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Pada model indeks di atas.8 Sapihan (Sapling) Fase Pertumbuhan Tiang Pohon (Pole) (trees) x 1000 ind..73Ca) + (1.61pH) + (1.3 95.8 57. Edi Guhardja..7 13.4 -0. tiang 0. 279.8 348.5 304. dan pohon lewat masak tebang 0.2 6.3 276.35 juta individu.50 kg/batang.991.8 104.12 juta individu (Tabel 3). pada habitat tidak tergenang (lahan kering) potensi produksi sagu basah tuni rata-rata mencapai 685. pH = kemasaman air.4 3. Ibnul Qayim.6 678. d.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Berdasarkan tipe habitat. Potensi Populasi dan Produksi Pati Sagu di P. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan kualitas air rawa sangat ditentukan oleh kandungan kalsium.220. sylvestre 726.14Salinitas) dimana : PS(F-KAR) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor kualitas air rawa.588.9 1.025. Atas dasar jumlah individu yang dimiliki. Potensi populasi tumbuhan sagu di P.239 ha.0 12.3 315.6 9.0 61.8 27.22 juta rumpun sagu. 143 .9 118. dan Lilik B. NO3 = Nitrat Loading Plot of pH.50 -0. K = Kalium. Phn = pohon (trees).2 0.2 Salinitas pH -0. terdiri dari sagu fase semai 6.2 2.6 Magnesium Second Component 0. Pada luas areal tersebut tumbuh dan berkembang sekitar 3.8 277.468. Lewat Tebang Masak Tebang (Mature trees (Mature trees Harvestabe) Non Harvestabe) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah 775. Dede Setiadi.1 Keterangan (Remarks) : Data primer tahun 2009 (Primery data in 2009 year).2 114.0 37.0 20. Model indeks PS terkait dengan peran faktor kualitas air rawa di Pulau Seram sebagai berikut : PS(F-KAR) = (1.14 juta individu.6 1.7 142. 0. Prasetyo kontribusi tertinggi adalah kalsium (1.1 Phn. Seram Di Pulau Seram Maluku terdapat potensi luas areal sagu sekitar 18. pohon masak tebang 0.55 juta individu.

T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp). dapat dilakukan dengan mengembangkan jenis sagu tuni serta sagu sylvestre baik pada tipe habitat lahan kering maupun tipe lahan tergenang temporer air tawar. Variabel iklim. Kesimpulan 1.2).00 348. sedangkan kapasistas produksi sagu basah jenis sagu makanaro dan molat masing-masing sekitar 245. 2. 135 . bioetanol atau industri lainnya). dan kualitas air rawa yang paling berperan terhadap pertumbuhan sagu di Pulau Seram masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). spesies sagu telah berkembang mendominasi sebagian besar habitatnya. tanah. Dalam komunitas sagu alami di plot penelitian wilayah Pulau Seram. tumbuh dan berkembang mengarah kepada kondisi vegetasi yang bersifat klimaks dan stabil. 144 .22 kg/batang. Sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu yang memiliki kapasitas produksi pati sagu yang cukup tinggi.3.44 516.00 258.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. tanah.C. Tiga jenis sagu yang lain yaitu makanaro.11 708. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.50 726. Bogor. Upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat dari jenis sagu bagi masyarakat di pedesaan Maluku dan Papua. New York.26 186. DAFTAR PUSTAKA [BPT] Balai Penelitian Tanah.04 dan 560. sylvestre. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). dan Pupuk.17 378. N.06 183. sedangkan rotang merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi sempit (steno tolerance). Seram (Yield potential of sago palm starch of the habitat type at the Seram Island) No. 5. Struktur populasi sagu di plot penelitian wilayah Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda. 4.74 Tipe Habitat (Habitat Types) T2AT T2AP TPN kg/batang 721.8 No. kapasistas tukar kation. dengan tingkat asosiasi secara umum rendah (JI < 0. 1. Juli 2011. Saran 1. KESIMPULAN DAN SARAN A.68 237. The Nature and Properties of Soils.04 245. IV.13 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). Upaya peningkatan produksi pati sagu di habitat alam dapat dilakukan dengan penyatuan pola pertumbuhan individu dalam rumpun yang stabil melalui upaya sortasi anakan dan pengaturan jarak tumbuh antar individu rumpun.22 393. Potensi produksi pati sagu pada tipe habitat berbeda di P. Jenis Sagu (Sago Species) Tuni Makanaro Sylvestre Molat Rataan TTG 685.00 287.145 Tabel (Table) 4. 2.50 353. 3.21 560.22 578. baik secara kolektif maupun antara spesies berpasangan. maupun pemenuhan kebutuhan berbagai industri (makanan. Tanaman.68 kg/batang.21 dan 237. Sagu tuni merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi luas (eury tolerance). Departemen Pertanian. minuman. Dalam komunitas tersebut terjadi asosiasi interspesifik bersifat negatif. dan molat dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). Terdapat interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan (iklim. kualitas air rawa. 1990. 2005.50 324.22 348.00 126. Brady.81 Rataan (Average) 566.50 479. 3. Air. 4. dan kandungan kalsium air. didominasi oleh fase semai dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya sangat tinggi mencapai 85%. masing-masing mencapai 566. B.00 460. dan vegetasi non sagu). Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah. MacMillian Publishing Company. 2.

J. Eigth edition. Metode Survey Vegetasi. Penerbit Institut Pertanian Bogor. John Willey & Sons. A. Rineka Cipta. Bogor. Setiadi. 1997. New York Flach. Jakarta.W. dan Lilik B. a Textbook of Autecology. Netherlands. 1994. Reynolds. Analisis Multivariat. Disertasi. Jurusan Tanah. 25-26 Juli 2007. M. Hara-Air-Tanah-Tanaman. pp 76. Sirot. Bogor.F. Diakses tanggal 11 Agustus 2008. Metroxylon sagu Rottb. http://www. 1974. J Biodiversitas 6 (2) : 118-122. A. Ekologi Kuantitatif. 2008. Kusmana. Ludwig. Responses of Plant to Environmental Stresses. Bogor. Sago Palm. Academic Press. 2002. Makalah disampaikan pada lokakarya pengembangan sagu Indonesia. 1980. A. Krivan. Nusa Tenggara Timur. Statistical Ecology. Institut Pertanian Bogor. Arti dan Interpretasi. Keterkaitan Profil Vegetasi Sistem Agroforestri Kebun Campur dengan Lingkungannya. Program Pasca Sarjana. Marzuki. Pendit. Laboratory Manual. V. J. New York. Soegianto. Plant and Environment. Promoting the Conservation and Use of Underutilized and Neglected Crops. Sekolah Pascasarjana. 2007. Makalah disampaikan pada lokakarya sagu dengan 145 . 2004. Third edition. Suryana.F. Edi Guhardja. J.cgiar. 2007. Metode Analisis Populasi dan Komunitas. a Primer on Methods and Computing. Institut Pertanian Bogor. Melton tema sagu dalam revitalisasi pertanian Maluku. J The American Naturalist 160 (2) 214-234. 1998.. and J. General Ecology. International Plant Genetic Resources Institute. New York Louhenapessy. New York. 1988. Usaha Nasional. Syekhfani. Prasetyo Cox.pdf. dan DNA Pala Banda (Myristica fragrans Houtt) Maluku [Disertasi]. Putra. Bitung. A.. G. K. Sulawesi Utara. C. Kurniawan.org/Publications/ pdf/238. I.ipgri. Jakarta Ilmu Tanah. D. R. Habitat Selection by to Competing Species in a Two-Habitat Environment. Ibnul Qayim.. Dede Setiadi. Asosiasi Jenis-Jenis Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko. Isozim. J Biodiversitas 8 (3) : 199-203. Wageningen Agriculture University. Potensi dan pengelolaan sagu di Maluku. Surabaya Supranto. Second edition. 1997. Rome.Undaharta Ni. dan I Made R. John Wiley & Sons. 2002. 1997. Levitt. S. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia. ________. PT. McGraw Hill.Ambon 29-31 Mei 2006. 1992. Batam. 2005. Daubenmire. Hardjowigeno.E.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. 2006. Universitas Brawijaya. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Ruteng.E. Malang. and E.J. : PT. Maluku Samin Botanri. Fakultas Pertanian. Studi Morfo-Ekotipe dan Karakterisasi Minyak Atsiri.

RH 96 %.TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites Dida Syamsuwida dan/and Aam Aminah Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan-Ciheuleut.5%. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1.16001 Telp. The aim of the research was to determine the influence of growth inhibitors. naungan sedang dan naungan ringan. paklobutrazol. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). RH 96 %. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Keywords: Growth regulators. the age of seedlings at the time of spraying were 1. so as storage of the seed for this species is still becoming a question. 2 dan 3 bulan. NaCl and aquadest as the control./Fax. paclobutrazol. Naskah diterima : 1 Juni 2011 ABSTRACT Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) is one of forest tree species that known to have seeds with rapidly loss their viability in several days. light intensity of 650 lux) and application of NaCl 0. PO Box 105. Statistically. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. there should be an attemption to carry out a research on storing seedlings other than seeds by using slow growth method. the research was proposed by using factorial random complete design. Kata kunci : Bahan pengatur tumbuh. environment conditions and seedling ages on the growth of kayu bawang seedlings during storage. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. seedling ages ABSTRAK Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. The environment conditions were arranged by placing the seedlings under heavy.13 % in average and gave 95% of seedling survival. Meanwhile. NaCl solution. The results revealed that factors inhibiting the growth rate of kayu bawang seedlings effectively in term of storing for 6 months were the placement of 3 months old seedlings under heavy shading (T 25 0C. NaCl dan akuades sebagai kontrol. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. umur semai 147 . kayu bawang (Dysoxylum moliscimum).13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. Such treatments could supress the height and diameter growth of the seedlings up to 59. (0251) 8327768 Naskah masuk : 14 Juli 2010. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. Bogor . Dengan demikian. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. larutan NaCl. moderate and light shading. 2 and 3 months olds. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. Therefore. The growth regulators were consisted of paclobutrazol.5% solution.

300 biji. Latar Belakang Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) merupakan jenis andalan Kabupaten Bengkulu Utara yang mempunyai pertumbuhan cepat dan kualitas yang baik.3 bulan setelah penyapihan. Tujuan dan Sasaran Tu j u a n p e n e l i t i a n a d a l a h u n t u k mendapatkan teknik penyimpanan semai kayu bawang melalui aplikasi bahan penghambat tumbuh dan pengaturan naungan pada umur semai yang berbeda. termometer. Biji kayu bawang segar mempunyai persen tumbuh 80 %. Jenis kayu bawang adalah satu di antara sekian banyak jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. kaliper. Lokasi pengumpulan buah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara. Jumlah biji per kilogramnya adalah 200 . A.hutan sekunder terutama daerah Bengkulu Utara. bahan pengatur tumbuh dan umur semai saat penyemprotan yang efektif untuk disimpan.153 I. Lewat masa tersebut persentase tumbuh menurun menjadi 50% (Riyanto. shading net. oven. Musim bunga dimulai sekitar bulan Pebruari dan saat pengunduhan biji pada bulan Mei . Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Stasiun Penelitian Nagrak yang berjarak ± 10 km dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. 2001). Setelah semai berumur 1.. intensitas cahaya 17593 lux). timbangan analitis.Juli. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth) yang diadopsi dari teknik penyimpanan Hawkes (1980). Tahapan Pelaksanaan a. bak perkecambahan. Untuk mendapatkan larutan NaCl 0. kemudian tanaman disemprot dengan bahan penghambat tumbuh paklobutrazol (250 ppm). Kayu bawang dikembangbiakkan oleh masyarakat secara generatif/dengan biji. Juli 2011. pasir. Metode pertumbuhan lambat pada prinsipnya adalah menekan pertumbuhan semai selama dalam penyimpanan dengan memanipulasi kondisi lingkungan tempat simpan atau menambahkan bahan pengatur tumbuh dengan tetap mempertahankan daya hidupnya (Krishnapillay et al. terutama untuk kayu pertukangan. Metode Penelitian 1. Pengecambahan benih Benih dikecambahkan dalam bak kecambah berisi media pasir-tanah dengan perbandingan 1:1. semai diletakkan di bawah naungan berat (T = 25 OC. Setiap jenis tanaman akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan demikian juga umur tanaman saat diberi perlakuan. B.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. intensitas cahaya 650 lux). Bahan danAlat Penelitian Bahan yang digunakan adalah benih-benih kayu bawang. maka telah dilakukan penelitian penyimpanan dengan melibatkan faktor kondisi lingkungan tempat simpan. Larutan paklobutrazol 250 ppm dipersiapkan dengan cara melarutkan 1 mm paclobutrazol 250 gr/l bahan aktif ke dalam 999 ml akuades. BAHAN DAN METODE A. 147 . sehingga menghasilkan 1 liter larutan NaCl 0.5%) dan akuades sebagai kontrol.5%. Kedua larutan tersebut kemudian diaduk sehingga menghasilkan 1000 ml (1 liter) larutan paclobutrazol 250 ppm. Semai pada masing-masing kondisi perlakuan. sebagian lagi diletakkan di bedeng bernaung sedang (T = 280C. label. C. PENDAHULUAN II. b.2. sehingga penyimpanan benih untuk jenis tanaman ini masih menjadi kendala. RH = 80 %. Kecambah dibiarkan tumbuh hingga berumur kurang lebih 4-5 minggu. Bogor. kemudian diletakkan di rumah kaca dan dilakukan penyiraman setiap hari. RH = 96 %.3. B.Waktu kegiatan dimulai bulanPebruarihinggabulanDesember2008. intensitas cahaya 8935 lux) dan naungan ringan (T = 300C. rumah tumbuh. dan luxmeter. Sehubungan dengan upaya penyimpanan semai kayu bawang. Dengan demikian. higrometer. Kayu bawang berkembang secara alami di hutan . disimpan selama 6 bulan dan setiap 148 . Alat-alat yang digunakan adalah alat gelas. NaCl (0. tanah. Perlakuan Semai yang telah berumur 5 minggu dipindahkan (disapih) ke dalam polybag ukuran 10 cm x 20 cm yang masing-masing berisi media pasir. dengan masa dormansi singkat kurang lebih 10 hari.5% dilakukan dengan cara melarutkan NaCl 5 gr ke dalam 999 ml akuades. bedeng semai.8 No. 1999). RH = 40%.

Rekapitulasi hasil sidik ragam (Kuadrat Tengah) pengaruh perlakuan terhadap tinggi. serta C: umur semai pada saat penyemprotan (1 bulan. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. Tabel (Table) 1. B: kondisi simpan (naungan berat.47** 0. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis secara statistik. diameter. 2 bulan dan 3 bulan).74** 0. Rancangan Penelitian Percobaan terdiri dari 3 faktor perlakuan yaitu A: bahan penghambat pertumbuhan (aquades. and survival percentage of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) A B AXB C AxC BxC AxBxC PertumbuhanTinggi (Height growth ) (cm) 8.68 3.28* Keterangan (Remarks): ** * tn A B C Nyata pada taraf 1% (significant at 1% level) Nyata pada taraf 5% (significant at 5% level) tidak nyata (non-significant) Bahan pengatur tumbuh (growth regulators) Kondisi tempat simpan (storage site condition) umur semai ( seedling ages) 149 . Ke-12 contoh uji adalah banyaknya satuan perlakuan untuk semai kayu bawang.78 1. interaksi antara bahan pengatur tumbuh dan umur semai.69 3. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. diameter dan persentase hidup semai kayu bawang (The summary of analysis of variances for height. Hasil Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap parameter pertambahan tinggi. Rancangan percobaan didekati dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan ulangan 3 kali sehingga diperoleh 27 kombinasi perlakuan dan 81 satuan percobaan. menunjukkan bahwa bahan pengatur tumbuh dan kondisi ruang simpan berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. interaksi antara kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata pada persen hidup semai kayu bawang. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan.49 ** 2.04 33. Hasil pengamatan terhadap diameter semai kayu bawang menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter kayu bawang. HASIL DAN PEMBAHASAN A.28 12. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis sidik ragam. Satu satuan perlakuan terdiri dari 12 semai. III. diameter dan persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan disajikan dalam Tabel 1. menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan.44 Persen hidup (Survival percentage ) (%) 1. 2. Hasil pengukuran persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan.49 41.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah interval 1 bulan diamati dan diukur respon pertumbuhannya. Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan.22 2. paclobutrazol dan NaCl).89** 2. umur semai. naungan sedang dan naungan ringan.64** 11.81** 3.14** 19. setiap bulan sebanyak 12 contoh uji tanaman diamati dan diukur pertumbuhannya. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan.51 1. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada persen hidup semai kayu bawang.26 9.14 ** 12.74 * = = = = = = Pertumbuhan diameter (Diameter growth ) (mm) 0.42 3. Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan.

91ab Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan's test) Hasil uji beda rata-rata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter semai kayu bawang dapat dilihat pada Tabel 3.49b 1.28ab 0.16ab 3.28ab Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 3.8 No.88ab 1.07 mm) dibandingkan umur bibit 2 bulan (1.70 mm) namun tidak berbeda nyata dengan naungan sedang (1.38 1. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap pertambahan tinggi semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors. 147 .49 cm.52ab 4. Uji beda nyata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of site conditions on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Naungan ringan Naungan sedang Naungan berat Rata – rata (mean) 1. Uji beda nyata pengaruh interaksi antara bahan pengatur tumbuh.16 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B B Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) 150 .63ab 4.50ab 3. site conditions and seedling ages on the increment height of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Paclobutrazol NaCl Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 1. Tabel (Table) 2.71 mm).71ab 3.70 1.60ab 4.38 mm) Hasil uji beda rata-rata pengaruh umur semai terhadap diameter semai dapat dilihat pada Tabel 4.58ab 2. Tabel (Table) 3.22ab 4.68 cm.15ab 3.68a 3.99ab 3.153 Hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur tumbuh. Sedangkan hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur NaCl.58ab 1.40ab 2.99ab 3.72ab 0.99ab 2. Penyimpanan pada kondisi naungan berat menghasilkan pertumbuhan diameter yang nyata lebih lambat (1.3. kondisi tempat simpan dan umur semai disajikan dalam Tabel 2. kondisi tempat simpan naungan berat dan umur semai 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan tinggi paling rendah yaitu sebesar 0.30ab 3. Juli 2011.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.12ab 3 2. Hasil uji beda rata-rata interaksi antara penyemprotan dengan aquades di bawah naungan sedang dan umur penyemprotan 1 bulan mempunyai nilai pertambahan tinggi terbesar yaitu sebesar 8.12ab 3.79ab 8. Semai dengan perlakuan umur bibit 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan diameter terendah yaitu (1. Masing-masing umur semai memiliki nilai pertambahan diameter yang berbeda satu sama lain menurut uji Duncan.19ab 3.97ab 1.45 mm) dan umur 1 bulan (1.16 mm) dibandingkan kondisi naungan ringan (1.

0i 83. Tabel (Table) 5. Hal ini dapat dilihat dari hasil perlakuan bahan penghambat tumbuh ataupun manipulasi kondisi tempat simpan yang kurang cahaya terhadap pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.2ab 97. Uji beda rata-rata pengaruh interaksi antara bahan penghambat tumbuh.0a 91.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Tabel (Table) 4. Pembahasan Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tinggi semai setelah penyimpanan memperlihatkan kecenderungan meningkat. ditempatkan di bawah naungan ringan pada umur 1 dan 2 bulan mempunyai persen hidup yang tinggi yaitu sebesar 100 %. menunjukkan bahwa pada umumnya semai yang disemprot dengan paclobutrazol 250 ppm. namun dengan pertambahan yang relatif rendah.0fg 61. namun demikian bahan kimia yang berupa garam ini 151 . Uji beda nyata pengaruh umur semai terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of seedling ages on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Umur 1 bln Umur 2 bln Umur 3 bln Rata – rata (Mean) 1.4abc 3 97.2ab 94. site conditions and seedling ages on seedling survival of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 44.1h 97. kondisi tempat simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap persen hidup semai kayu bawang disajikan dalam Tabel 5.7bc 88.4abc 50.2ab Paclobutrazol NaCl Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) B.0a 47.0a Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 88.9cd 100.4 %.2ab 100. Tabel 5.45 1.9cd 88.6ef 50. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap persen hidup semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors. sedangkan semai yang disemprot dengan akuades pada umur 1 bulan dan disimpan pada naungan berat mempunyai persen hidup terendah dengan nilai 44.0a 97.0i 97.2g 100.9cd 88.71 1.9cd 94.2de 100.4i 50.0i 80.2ab 97. Bahan penghambat tumbuh NaCl dapat menekan pertumbuhan tinggi semai seperti halnya Paclobutrazol. Dengan demikian selama penyimpanan pertumbuhan tanaman tetap berjalan.07 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B C Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) Hasil interaksi antara bahan penghambat tumbuh.2i 72. NaCl tidak termasuk ke dalam golongan zat penghambat tumbuh.2ab 75.

cukup peka terhadap manipulasi kondisi lingkungan. Namun apabila cekaman lingkungan (dormansi) berakhir. pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. Secara keseluruhan pengaruh bahan penghambat pertumbuhan berkaitan dengan naungan yang diberikan terhadap penekanan pertumbuhan tinggi. Juli 2011. Pada penelitian ini umur semai 3 bulan sangat efektif digunakan untuk tujuan penyimpanan dibandingkan umur semai yang lebih muda (1 dan 2 bulan). sehingga metabolisme terganggu dan pertumbuhan terhambat.8 No. Karena Cl merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menimbulkan stress pada biosintesa giberellin. formulasi dan konsentrasi nutrisi (pupuk). Sedangkan menurut Kamaluddin (1999) respon tanaman yang tahan naungan seperti pada jenis Dipterocarpaceae. Cahaya diyakini berpengaruh tidak langsung melalui 152 . umur daun. yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan akar tunggang (Hendromono. tidak hanya dikarenakan oleh keracunan pada akar tanaman tapi juga berkurangnya air bagi tanaman. status nutrisi dalam tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman memerlukan cahaya untuk pertumbuhannya. Menurut Kozlowsky dan Pallardy (1979) penyerapan hara melalui daun tergantung dari : cahaya. kelembaban relatif. Hal ini terjadi karena ion-ion sudah dalam jumlah yang tidak seimbang sehingga menjadi racun bagi tanaman. Dalam kasus ini tampaknya gabungan perlakuan intensitas cahaya dan salinitas (kadar garam) merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tinggi semai kayu bawang dimana kombinasi antara pencahayaan yang sedikit (650 lux) menyebabkan proses fotosintesa tidak berjalan dengan baik dan diperparah dengan adanya larutan garam 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.153 dapat menjadi bahan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. Seperti yang dinyatakan oleh Lakitan (1996) bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah intensitas cahaya.3. Umur semai saat perlakuan pada penelitian ini sangat berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi dan diameter tanaman. perpanjangan batang. 1996). Menurut Fisher (1996) penurunan aktifitas metabolisme pada tanaman utuh. Menurut Soepardi (1983) semakin tinggi konsentrasi kandungan garam dalam tanah. Garam menghambat pertumbuhan melalui pengaruh Na + dan Cl yang terserap tanaman dan kurang tersedianya air bagi tanaman. Menurut Lakitan perpanjangan batang adalah berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. Namun demikian perlu memperhitungkan waktu penggunaan semai untuk bibit ketika akan ditanam di lapang agar umur tanaman tidak terlalu tua. Mekanisme penyerapan yang serupa terjadi pada larutan garam yang disemprotkan kearah daun (pupuk daun) dimana garam yang terlarut dalam air dapat masuk ke ruang interselular melalui lubang stomata. Menurut Hawley (1981) NaCl tersusun dari unsur Na + dan Cl yang mana ion Cl nya secara analogis mempunyai sifat mekanisme yang sama dengan ion Cl yang terdapat dalam paklobutrazol. yang menyebabkan kerusakan membran sel daun dan penutupan stomata daun. Hal ini diduga terjadi karena tanaman yang lebih tua telah mengalami penurunan aktifitas metabolisme untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Meningkatnya konsentrasi garam dalam air pada tanaman mengakibatkan ketersediaan air bagi tanaman menurun. Seperti misalnya NaCl dalam penelitian ini pada umur berapapun dapat menghambat pertumbuhan tinggi apabila diberikan pada kondisi naungan berat. suhu. sehingga selama penyimpanan dalam naungan berat. Terjadinya etiolase pada tanaman yang ternaungi. 147 . pengurangan ketebalan daun tampaknya lebih disebabkan oleh perubahan dalam kualitas cahaya ke arah merah-jauh (far red) daripada pengurangan intensitas cahaya itu sendiri (Fisher.5% yang disemprotkan. Penekanan pertumbuhan tinggi semai kayu bawang juga terjadi pada perlakuan kondisi tempat simpan dimana pada kondisi naungan berat yang mempunyai intensitas cahaya paling sedikit (650 lux) dibandingkan tempat dengan naungan sedang (8935 lux) maupun ringan (17593 lux). Intensitas cahaya yang masuk pada rumah tumbuh (650 lux) masih cukup bagi tanaman untuk melakukan fotosintesa sehingga metabolisme masih berjalan baik walaupun tidak maksimal yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan tinggi. sehingga sangat responsif terhadap cekaman lingkungan yang diberikan. 2001). biasanya terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan yang menyebabkan meningkatnya zat penghambat dan akibatnya terjadi perlambatan dalam pertumbuhan primordia daun dan batang. oleh karena itu konsentrasi garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. semai mengalami penghambatan dalam pertumbuhan tinggi. maka akan terjadi kenaikan dalam pertumbuhan.

Jayanthi. Pp. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah Fakultas Pertanian. Gadjah Mada University Press. M. Ed. 1-8 Kozlowsky. IV. N.Pp. The Conservation of Difficult Materials. 1999. Soepardi. Hendromono. 156213.286-295.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis. Goldsworthy. In M. Crop Genetic Resources. In Marzalina. Lakitan.M. N. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman: Fase Vegetatif. KESIMPULAN Faktor yang menghambat pertumbuhan semai kayu bawang selama penyimpanan 6 bulan adalah penerapan larutan NaCl 0.D. Buletin Penelitian Hutan. T. Kayu Bawang (Dysoxylum sp) Berpotensi untuk Kayu Pertukangan. Bogor.C Khoo. H.13 % serta mempertahankan persen hidup hingga 95%. B. Proc. 1980. Hal. Tsan. Batas Toleransi Bibit Gmelina (Gmelina arborea Roxb.G.T Raja Grafindo Persada. intensitas cahaya 650 lux). Tokyo.G Physiology of Woody Academic Press. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59.T dan S. Plants. Jilid 1. Jayanthi. IPGR. 1996. 1995.R and N. namun sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa cahaya mempunyai pengaruh kuat terhadap stomata. New York. 1979. Bogor. P. Manipulation of Growth Light Environment for Storage of Seedlings of Shade-Tolerant Forest Tree Species in nursery.Y Tsan and B. London. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. Krishnapillay.Marzalina. L. Salisbury. Kondisi ini terjadi juga pada semai yang diberi bahan penghambat paklobutrazol dimana efektivitas dalam penekanan pertumbuhan tinggi terjadi pada semai umur 1 bulan dan intensitas cahaya yang sedang. 280285. M. DAFTAR PUSTAKA Fisher.A & William. G. Ketika semai masih berumur 1 bulan dan disimpan pada kondisi intensitas cahaya sedang (8935 lux). Fisiologi Tanaman Budidaya Tropika. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.C Khoo. 153 . In Whithers. 2 nd Ed. 1996. Diego. FB and CW Ross. Jakarta. K. maka pertumbuhan tinggipun masih terhambat. IUFRO Seed Symposium 1998 'Recalcitrant Seeds'. Kamaluddin. terlepas dari peranannya dalam fotosintesis (Salisburry and Ross. Malaysia.T (Eds). Kualalumpur. N. 1999. F. M. Hal ini terjadi mungkin karena umur semai yang masih muda memiliki jumlah klorofil yang relatif sedikit sehingga kekuatan dalam menangkap energi cahaya yang diberikan sangat terbatas dan akibatnya pertumbuhan tidak optimal.411 Pallardy. Sifat dan ciri tanah. Fisiologi Tumbuhan. Toronto. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.Y. Penerbit ITB Bandung. Malaysia. Kualalumpur. San Boston. Hawkes. Sydney. 12 Nopember 2001. 1995). F. Rome. F. Riyanto. J. Institut Pertanian Bogor. B. Slow Growth as a Method to Ensure Continuous Supply of Planting materials for recalcitrant seed species. IUFRO Seed Symposium 1998 ' Recalcitrant Seeds'.5% pada semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. 2001. N. 2001.M Fisher. P. K. 1983. Marzalina. Krishnapillay (Eds). RH 96 %. Genetic Conservation of Recalcitrant Species: an Overview. Hal.Jayanthi and N. Proc. Krishnapillay (Eds).A Nashatul Zaimah.) dan Mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap Kandungan Garam Air Penyiraman. P. J.Y Tsan and B. Palembang.

Berdasarkan analisis gerombol. and productive age population were investigated. Keywords: Biophysical. rumah permanen. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. road density. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi.. email : tien_unw@yahoo. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga. private forest. The study found that most of those factors has close correlation with the existence of private forest. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. The only factor that has no correlation with private forest area is distance to main road. (0251) 8622642. This study was conducted in Kabupaten Ciamis covering 363 villages. and three of socio-economic factors i. clustering analysis. Selected variables for clustering are based on the principle component analysis design of eight correlated variables. Bogor 16680 Jawa Barat-Indonesia Telp (0251)8622642 Naskah masuk : 11 Februari 2011. land configuration. socio-economic. analisis gerombol.e. hutan rakyat. Jawa Barat Telp. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. jarak ke jalan besar. land capacity. Sekolah Pascasarjana IPB. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. permanent home.e. Naskah diterima : 10 Juni 2011 1 ABSTRACT The study examined the use of biophysical and socio-economic factors to classify village as characteristic variables of private forest. dan/and Herry Purnomo2 1 2 2 Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. kemampuan lahan. There are six of biophysical factors i. I Nengah Surati Jaya . Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi.. kelerengan lahan. with having overall accuracy of 64%. population density. Endang Suhendang . Hardjanto2.com 2 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Jl. distance to state forest area. sosial ekonomi. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. The main objective of this study is to determine the most significant variables that affect the village typologies related to private forest area. non rice field-land use. namely high potential area and low potential area types. jarak ke kawasan hutan negara. dan umur produktif penduduk yang diteliti. Kampus IPB Darmaga. Bogor. village typologies ABSTRAK Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat.TIPOLOGI DESA BERDASARKAN VARIABEL PENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini . Kata kunci : Biofisik. distance to main road. Clustering analysis of the study found two typologies of private forest development. tipologi desa 155 .

B. Lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis ( Research areas in Kabupaten Ciamis) 156 . Juli 2011. Secara spasial hutan rakyat umumnya tidak tersebar dalam suatu hamparan yang kompak.8 No. pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu disebut dengan tipologi. Dengan terbentuknya tipologi hutan rakyat diharapkan dapat menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah yang unik berdasarkan karakteristik masingmasing wilayahnya. 2002). Sistem pengelolaan hutan rakyat dengan berdasarkan komponen-komponen yang mendukung dapat menjamin kelestariannya. yang menyebabkan hutan rakyat tidak mengelompok pada suatu areal tertentu tetapi tersebar berdasarkan letak. II. PENDAHULUAN A. Swedia. 2006). Latar Belakang Hutan rakyat memiliki karakteristik yang unik. 155 . Pembentukan unit pengelolaan hutan rakyat memerlukan penggalian karakteristikkarakteristik wilayah yang ingin dikelola. Segala keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan rakyat (penanaman. Luasan kepemilikan relatif kecil sehingga untuk mencapai luasan yang besar maka perlu penggabungan beberapa kepemilikan lahan. 1991). luas pemilikan lahan dan keragaman pola usaha tani yang akan berpengaruh terhadap jumlah pohon pada setiap kepemilikan.25 ha sampai saat ini dipakai sebagai syarat untuk dikategorikan sebagai hutan.25 ha (Suharjito 2000 dan Haeruman et al. Perencanaan wilayah tersebut sebaiknya bersifat spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah yang dihadapi.168 I.3. penebangan dan pemasaran) ditentukan oleh kebijakan masing-masing keluarga (Mindawati et al. Kabupaten Ciamis memiliki potensi hutan rakyat yang besar di Jawa Barat. Dengan demikian untuk menerapkan dan menganalisis komponen-komponen kelangsungan pelestarian itu perlu dibuat suatu perencanaan wilayah berbentuk suatu wadah atau unit pengelolaan. menyebabkan keadaan tersebut menjadikan petani dalam posisi lemah. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor biofisik dan sosial ekonomi yang membentuk tipologi untuk menduga potensi hutan rakyat. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang mencakup sebanyak 336 desa. seperti posisi tawar yang lemah dan informasi yang kurang. dimulai bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Di Pulau Jawa rata-rata kepemilikan dalam satu hamparan sempit kurang dari 1 ha. Luas 0. dan Norwegia). BAHAN DAN METODE A. Selain itu. pemeliharaan. tipologi ini dapat membantu menduga potensi sebaran hutan rakyat untuk wilayah yang belum diketahui dan belum dilakukan inventarisasi menyeluruh. sehingga sulit untuk mencapai luasan minimum 0. Pengelolaan hutan rakyat dilakukan oleh masyarakat secara individual (pada tingkat keluarga) pada lahan miliknya. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Indonesia seperti negara-negara Eropa Utara (Filandia. Gambar (Figure) 1. Kondisi petani di Indonesia umumnya subsisten.. dimana luasan lahan kepemilikan berkisar antara 5-40 ha per keluarga (Harrison et al.

Data dan informasi atas hasil analisis pengolahan spasial peta dijital lokasi penelitian dibantu dengan beberapa layer yang mendukung. yaitu peta kontur. serta literatur publikasi ilmiah lainnya. Klasifikasi kelas lereng ( Clasification of slope classes) No.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Data sekunder diperoleh dari publikasi lembaga pemerintahan seperti Dinas Kehutanan. dengan unit analisisnya adalah desa. Analisis Data 2. 1991. Bahan danAlat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : peta digital administrasi Kabupaten Ciamis. I Nengah Surati Jaya. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K). Kelas-kelas kelerengan dalam suatu wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. Pengumpulan Data a. Pada penelitian ini yang dimaksud jalan besar adalah jalan kolektor. Jarak Terdekat Desa ke Kawasan Hutan Negara Terdekat. Identifikasi Variabel-Variabel Pendukung Keberadaan Hutan Rakyat Dalam penelitian ini dicari variabelvariabel yang sangat mempengaruhi keberadaan hutan rakyat di suatu lokasi. Sehingga variabel yang perlu diperhatikan adalah perbandingan (rasio) antar luas areal dengan kelas kelerengan lahan yang lebih besar sama dengan 15% terhadap total luas desa. perguruan tinggi. BPS. Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap kawasan batas hutan negara terdekat. peta digital kontur. Hardjanto 2003) ditemui variabel-variabel sebagai berikut : a. dan Herry Purnomo B. Metode 1. yaitu layer batas administrasi desa dengan batas kawasan hutan negara di Kabupaten Ciamis. peta digital jenis tanah. dan alat pendukung lainnya.1. Jalan kolektor yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kotamadya terhadap kepentingan provinsi. Endang Suhendang.2. peta jaringan jalan. Awang et al. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arc View versi 3. C. 1 2 3 4 5 Kelas lereng (Slope classes) Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Kisaran (Intervals) (%) 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 157 . peta tanah. peta digital kawasan hutan negara (sumber RBI tahun 2006 dan Baplan 2011). Tabel (Table) 1. Minitab versi 14. Kementerian Kehutanan. peta digital jaringan jalan. Haeruman et al. Perhitungan jarak terdekat tersebut menggunakan analisis spasial terhadap 2 layer. Perhitungan jarak dilakukan dengan analisis spasial. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang terkait dengan hutan rakyat dan pengaruh biofisik terhadap perkembangan suatu wilayah (Suharjito 2000.. b. data profil desa Kabupaten Ciamis tahun 2006. peta kawasan hutan negara. SPSS versi 17. (2001) menyatakan salah satu areal yang menjadi sasaran pembangunan hutan rakyat adalah areal kritis dengan keadaaan lapangan berjurang dan bertebing. dan peta batas administrasi..Hardjanto. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas lereng yang sudah umum digunakan dalam penatagunaan hutan. c. lembaga penelitian. Kedekatan terhadap kawasan hutan negara memiliki peluang untuk berkembangnya hutan rakyat baik secara alam maupun budaya. 2. b. Rasio Kelerengan Lahan Menurut Awang et al. 2007. Jarak Terdekat Desa ke Jalan Besar Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap jalan besar terdekat..

kepekaan erosi.3. f. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa hutan rakyat di Jawa umumnya dibudidayakan di areal-areal lahan kering daerah atas (upland areas).8) KL = i = 1 Li × Nti g. Pengelolaan hutan rakyat masih dianggap kegiatan sampingan yang bersifat tidak intensif.Penggunaan Lahan ( land use) . Juli 2011.i (i=1.Jarak ke kawasan hutan hutan negara . 1989): 8 Luas Total Desa Dimana : Li = Luas kemampuan lahan kelas ke. sehingga diduga beberapa wilayah yang berkembang hutan rakyatnya ketika jumlah umur produktif sedikit dan didominasi umur non produktif. Untuk data pendapatan dilakukan dengan pendekatan terhadap kondisi perumahan. Variabel-variabel tipologi hutan rakyat (Typology Variables of private forest) No.Rasio kelerengan lahan . sehingga diduga ada hubungan antara potensi hutan rakyat dengan kondisi kemampuan lahannya. Rumusnya dapat dilihat sebagai berikut: Panjang jalan (m) Kerapatan Jalan Luas desa (ha) f.168 d.3.Kemampuan Lahan .. 155 . Semakin besar rasio maka diasumsikan pendapatan penduduk setempat semakin tinggi. Secara ringkas variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Karakteristik Sosial dan Ekonomi 158 . Rasio Rumah Permanen Rasio rumah permanen merupakan pendekatan terhadap informasi pendapatan penduduk.3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Kemampuan Lahan Hutan rakyat di Jawa umumnya banyak ditanam di wilayah lahan kritis yang tidak subur.Rasio Umur produktif penduduk 2. e.Tingkat rumah permanen . kedalaman tanah.8 No. Indikator (Indicators) Karakteristik Bio-Fisik Peubah-Peubah (Variables ) .. tekstur tanah permeabilitas. Rasio Umur Produktif Rasio umur produktif adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia produktif (15 . H. Umumnya hutan rakyat timbul pada wilayah-wilayah yang masih kurang padat penduduknya.. Kemampuan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk membuat modifikasi kelas kemampuan lahan adalah kelerengan. Adapun variabel kemampuan lahan di suatu desa (KL) (Arsyad. Diasumsikan bahwa ketika pendapatan penduduk semakin meningkat maka kondisi rumahnya akan semakin permanen. yaitu dari rasio antara jumlah rumah permanen dengan total rumah di desa bersangkutan. Sehingga secara keseluruhan ada 9 (sembilan) variabel yang diuji untuk mengetahui yang berpengaruh terhadp pembagian tipologi. 2. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penduduk di setiap desa (orang) dengan luas administratif desa (ha).Jarak ke jalan besar . dan drainase di suatu wilayah desa.i (i=1.8) NTi = Nilai Tengah kelas ke. Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non Sawah) Penggunaan lahan bukan sawah adalah perbandingan (rasio) areal lahan pertanian non sawah dengan luas total desa.. Tabel (Table) 2.. 1.Kerapatan jaringan jalan .. 2.64 tahun) dengan luas total desa. Kerapatan Jalan Kerapatan jalan adalah rasio antara luas jalan (m) dengan luas desa(ha).Kepadatan penduduk .

Keragaman dapat diketahui dengan rumus : Ragam rata-rata dalam kelompok adalah : n m i 1 n 2 yi y 2 i i 1 i 1 n 1 m s2 y Keterangan : yi = luas hutan rakyat pada desa ke-i n = jumlah desa pada kelompok ke-i m = jumlah kelompok Ragam antar kelompok yang distandarkan : Keputusan yang terbaik jika: memiliki ragam dalam kelompok yang terkecil dan ragam antar kelompok yang terbesar. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. maka dilakukan pengujian sebagai berikut : (1) Uji keragaman Kelompok yang terbentuk dikatakan baik jika keragaman dalam satu kelompok kecil. sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel. Penggunaan metode ini banyak digunakan untuk beberapa tujuan penelitian (Rahmalia 2003). Sehingga dilakukan pengujian pada setiap kelompok yang sudah terbentuk. Endang Suhendang. yaitu : a. Analisis korelasi yang di-gunakan adalah korelasi Spearman. I Nengah Surati Jaya. dan kumulatif akar ciri. analisi korelasi menghubungkan 2 variabel yaitu masing-masing 9 variabel biofisik dan sosial ekonomi yang diuji dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Analisis Korelasi Pada penelitian ini. tetapi keragaman antar kelompok besar. Nilai -1 atau +1 menunjukkan adanya hubungan yang sempurna antara X dan Y. Penggunaan Analisis Gerombol (Clustering Analysis) Dasar pembuatan tipologi adalah variabelvariabel yang dianggap dominan dalam menentukan potensi hutan rakyat. 2. Untuk menganalisis hal tersebut digunakan 2 cara. sehingga semakin mendekati nilai tersebut semakin erat hubungan X dan Y. Sebagai 159 .Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Penelitian ini menggunakan analisis gerombol ini dengan metode K-Means. b. Sehingga jika mencari gabungan yang terbaik adalah yang memiliki selisih ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok yang terbesar. Penentuan Variabel Dominan Dari 9 (sembilan) variabel akan dianalisis hubungannya dengan hutan rakyat di suatu desa.Hardjanto. (2) Evaluasi akurasi Untuk menguji akurasi kelompok yang terbentuk menggunakan prinsip matrik kesalahan ( confusion m atrix ). antar komponen utama saling original/bebas. yaitu: (1) untuk mendapatkan variabel-variabel baru yang saling orthogonal/bebas. metode ini menetapkan terlebih dahulu jumlah kelompok yang akan dibuat sehingga metode ini cocok jika data yang diolah banyak. dan mereduksi objek dalam dimensi yang lebih kecil. (2) mengelompokkan variabel-variabel penting dari satu bundel variabel besar untuk menduga suatu fenomena. merupakan konbinasi linier dari variabel asal: Yi = ai1X1+ai2X2+…+aipXp Hasil analisis komponenkomponen utama antara lain nilai akar ciri.3. b. Ada tiga karakteristik komponen utama: informasi data asal yang dijelaskan maksimum (memiliki ragam maksimum).2. Diasumsikan bahwa potensi tersebut dapat mewakili karakteristik lokal hutan rakyat di suatu tempat. Analisis Komponen Utama ( Principal Component Analysis/PCA) Tujuan dari analisis komponen utama dalam penelitian ini . proporsi. Untuk melakukan pengelompokan tipologi digunakan analisis gerombol (clustering analysis). Pembentukan Tipologi a. Pengujian Tipologi Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang terbentuk sudah memiliki gambaran yang mirip terhadap potensi hutan rakyat. dan Herry Purnomo 2. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa.

Akurasi kappa dihitung menggunakan rumus (Jaya.3.111 * -.05 level) 160 .101 -.145** 1. kemampuan lahan. HASIL DAN PEMBAHASAN A.426** .108* -.000 1. kerapatan jalan.264** . umur produktif.167** -.198** .565** 1.320** -.101 .215** .139* -.168 standar adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan data luas hutan rakyat.529** -.072 -.447** -. Keterangan (Remarks) : OA = Nilai akurasi rata-rata umum (Overall Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antar kelompok atau kelompok variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi. 2006) sebagai berikut : Keterangan (Remarks) : K = Akurasi Kappa (Kappa Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antara hasil tipologi dan kelas variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.178** Non Sawah (Non rice field) . dan rasio kelerengan lahan. dan rasio lahan bukan sawah.233** -.197** .433** .178** . 155 .127* Keterangan (Remarks): ** Berkorelasi nyata pada level 0.000 .072 -.441** -.000 -.167** .072 1.266** -.276** -.154** Kemampuan Lahan (Land capacity) -.058 KerapatnJ alan (Road density) Luas Hutan Rakyat (Private forest area) Kepadatan Pendudu (population density) Rumah Permanen (Permanent home) Umur Prod uktif (Productive age population) Non Swh (Non rice field) Kelerengan lahan(Land slope) Jarak hutan (Distance to state forest area) Jarak Jalan (Distance to main road) KmampuanLahan (Land capacity) Kerapatan J alan (Road density) -.453** .127* 1. Sedangkan yang tidak berkorelasi adalah jarak desa ke jalan besar terdekat. Korelasi sangat nyata yang bersifat positif saling menguatkan adalah : rasio penggunaan lahan bukan sawah (non sawah).486** 1.245** 1.8 No.000 .367** .216** -.225** Jarak Jalan (Distance to main road) . dan luas hutan rakyat (The correlation between biophysical and socio-economic variables and private forest area) Variabel (Variables ) Luas Hutan rakyat (Private forest area) 1. Akurasi kappa pada umumnya mempunyai nilai akurasi lebih kecil dari akurasi rata-rata umum karena pada akurasi kappa dihitung tidak hanya berdasarkan jumlah desa yang dikelaskan masuk secara benar pada kelas acuan.145** -. Sedangkan korelasi sangat nyata yang bersifat negatif adalah kepadatan penduduk.320** -.266** -.297** -. sosial ekonomi. Akurasi rata-rata umum dihitung menggunakan rumus (Jaya.050 -.380** .529** -. 2006) sebagai berikut : Tabel (Table) 3.099 -.216** -.367** -.154** Rumah Permanenen (Permanent home) -.433** -.197** -. Juli 2011.058 .099 -.045 .486** -. Dari 9 peubah tersebut yang memiliki nilai tiga terbesar korelasinya adalah rasio kelerengan lahan. tetapi juga menghitung jumlah desa yang dikelaskan pada tipologi tidak tepat masuk dalam kelas acuan.265** Kelerengan lahan (Land slope) . N = Total area verifikasi.108* .000 -.234** .496** .357** -. Penentuan Variabel Dominan Pembentuk Tipologi Berdasarkan korelasi Spearman terdapat hubungan yang sangat nyata antara beberapa variabel terhadap keberadaan luas hutan rakyat di suatu desa.426** Kepadatan Penduduk (Population density) -.264** .215** -.208** Umur Produktif (Productive age population) -.072 .357** 1.441** . Dari confusion matrix dapat menghitung akurasi rata-rata umum (overall accuracy) dan akurasi kappa accuracy.225** -.447** 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.01 level) * Berkorelasi nyata pada level 0.234** .045 .198** . X+1 = Luas kolom dalam baris ke-i X1+ = Luasan dalam kolom ke-j N = Total area verifikasi III. dan kerapatan jalan. jarak ke hutan.932** .050 .139* -.000 -. pendapatan penduduk.000 -.932** -.208** .277** Jarak Hutan (Distance to state forest area) -.233** .000 .380** . dapat dilihat pada Tabel 3.277** .496** -. Korelasi antar variabel biofisik.565** .05 (Correlated at 0.01 (Correlated at 0.382** .245** -.265** -.111 * -.000 .453** -.297** -.000 -.382** .276** .

Kondisi ini mendorong pemilihan menanam kayukayuan dibanding dengan pertanian intensif. Hal ini disebabkan timbulnya hutan rakyat pada kondisi lahan marginal yang tidak memiliki banyak alternatif kegiatan pertanian yang lebih produktif. Kemampuan lahan Berdasarkan pengalaman sejarah dimulainya hutan rakyat karena gerakan penghijauan pada daerah-daerah kritis (Hardjanto 2003). Hubungan antar pendapatan penduduk dengan potensi keberadaan hutan rakyat di suatu desa berkorelasi negatif. yakni berada di wilayah landai sampai curam. Wilayah hutan negara di Kabupaten Ciamis umumnya berada di lokasi topografi curam di daerah-daerah pegunung- 161 . Kepadatan Penduduk Merupakan variabel yang berhubungan negatif dengan luas hutan rakyat. Rasio rumah permanen Keberadaaan rumah permanen dalam penelitian ini diasumsikan dengan pendapatan penduduk. Ini menenjukkan bahwa variabel rasio non sawah bisa menjadi penanda untuk menduga potensi pengembangan hutan rakyat di suatu desa atau wilayah. Secara logis hal ini tentu demikian. Kerapatan jalan berhubungan dengan kemajuan transportasi di suatu wilayah desa. Rasio Umur Produktif Pengelolaan hutan rakyat tidak seintensif pengelolaaan pertanian dan perkebunan. d. b.Hardjanto. Kerapatan Jalan Variabel ini berkorelasi dominan kedua setelah rasio kelerengan lahan terhadap keberadaan hutan rakyat di suatu desa.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. h. Semakin dekat areal hutan negara dengan suatu desa. sehingga semakin padat penduduk kemungkinan besar jumlah umur produktif juga ikut bertambah di suatu wilayah desa. Endang Suhendang. Jarak ke Hutan Negara Keberadaan hutan negara di dalam atau sekitar desa ternyata berpengaruh dengan keberadaaan hutan rakyat. Lahan ini dalam pendataan statistik disebut dengan lahan pertanian non sawah. dan Herry Purnomo Penjelasan lebih terperinci mengenai kondisi antara variabel-variabel tersebut sebagai berikut: a. Ini menunjukkan bahwa hutan rakyat dominan berada di wilayah yang tidak datar. f. Hutan rakyat umumnya banyak ditemukan pada kondisi desa yang memiliki rata-rata pendapatan yang rendah. I Nengah Surati Jaya. yang biasa disebut dengan tegalan atau kebun. Hutan rakyat umumnya ditemukan pada wilayah berpenduduk rendah. menyatakan umumnya lokasi hutan rakyat berada di wilayah areal lahan kering daerah atas ( upland areas ). di sinilah hutan rakyat berkembang. g. Sehingga hubungan korelasi antara rasio umur produktif dengan luas hutan rakyat bersifat negatif. Wilayah yang tidak memperoleh pengairan untuk sawah berada di wilayah-wilayah atas (upland areas) yang tentunya memiliki topografi lebih curam. c. e. Hasil korelasi dengan luas hutan rakyat menunjukkan adanya korelasi negatif berarti hutan rakyat memang cenderung berkembang pada wilayah-wilayah dengan kemampuan lahan yang rendah. Kondisi ini diduga karena Variabel biofisik dan budaya. Sehingga ketika terjadi urbanisasi yang besar. Semakin luas penggunaan lahan pertanian non sawah berarti semakin besar pula potensi pengembangan hutan rakyatnya. Kepadatan penduduk juga berkorelasi positif dengan variabel rasio umur produktif. Dari hasil korelasi menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan positif dengan keberadaan hutan rakyat dan sangat nyata hubungannya. Daerah tersebut merupakan daerah pertanian non sawah. Rasio kelerengan lahan Variabel ini memiliki korelasi tertinggi diantara variabel lainnya. banyak penduduk desa yang berada dalam usia produktif bekerja di kota. kerena semakin sedikit penduduk berpeluang areal digunakan dengan penggunaan lain selain pemukiman seperti perkebunan dan lainnya. Semakin maju desa memungkinkan banyaknya alternatif penggunaan lahan lain yang lebih produktif. Akhirnya kebanyakan penduduk yang tinggal di desa adalah orang-orang usia lanjut. maka umumnya semakin besar potensi hutan rakyat. Sehingga sekarang diduga tumbuhnya hutan rakyat dominan di wilayah-wilayah tidak subur. Rasio Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non sawah) Berdasarkan penelitian Suharjito (2000). Hutan rakyat merupakan alternatif berikutnya ketika lahan tidak memungkinkan untuk ditanam tanaman pertanian atau budidaya lain yang lebih cepat menghasilkan. Ketika desa memiliki kerapatan jalan yang besar cenderung memiliki hutan rakyat yang sedikit.

Memperhatikan kondisi biofisik tersebut.904 0.128 0.341 1. Sehingga tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang biasa ada di hutan negara seperti jati.337 0.080 -0.668 PC8 0.725 -0. dan pinus di lahan milik pribadi petani.114 0.331 0. Sebagai penggarap di areal tumpangsari PT Perhutani.441 0.000 162 .661 -0.340 0. Jarak ke jalan Analisis korelasi jarak terdekat antar batas desa ke jalan besar (jalan kolektor) ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap kondisi hutan rakyat di suatu desa dibanding variabel lainnya.333 0.084 -0. 0.8463 0.056 -0.338 -0.018 0.062 0.133 PC6 0.157 0.223 0.3.199 0. 155 . Berdasarkan analisis komponen utama (PCA) yaitu variabel-variabel yang berhubungan nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.293 PC3 0.212 PC4 0.001 -0.074 -0. Nilai analisis komponen utama variabel (Value of principal component analysis) No 1.450 -0.523 0. Ditambah dengan seringkali penyebaran bibit secara alam dari hutan negara ke lahan milik melalui angin dan binatang-binatang hutan. 0.069 0.107 PC5 -0.371 PC2 0.295 0.475 0. Untuk mengetahui berapa banyak komponen utama (KU) yang diambil. 8.603 0. sedangkan wilayah jauh dari jalan besar sebaiknya.185 0.055 -0. dan bahkan terlibat dalam ke-giatan pemanenan sebagai buruh tebang. i.4969 0.033 0. Juli 2011.049 1. Wilayah dekat jalan besar memiliki keuntungan biaya pengangkutan menjadi murah tetapi tentu harga tanah yang lebih mahal.889 -0. maka masyarakat sekitar hutan sudah terbiasa dengan pengelolaan hutan dan malah juga terlibat langsung sebagai penggarap jika hutan tersebut hutan produksi.5602 0.106 0.582 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.951 -0.715 -0. maka dapat dilihat dari nilai kumulatif proporsi lebih dari 70% dan nilai akar ciri lebih besar dari 0.168 0.457 -0.7. Sehingga untuk analisis komponen utama dimasukkan 8 variabel pendukung.149 -0.325 -0.520 0.491 0.068 -0. maka petani sudah terbiasa dengan cara-cara menanam.600 -0.713 -0.168 an dengan kondisi assesibilitas yang sulit.323 0.113 0.301 0.466 0.083 PC7 -0. diduga karena berdekatan dengan hutan sejak dulu. 2. memelihara. mahoni.115 -0.281 -0. Jalan besar merupakan jalur transportasi pengangkutan kayu ke luar wilayah.389 0.056 0.523 0. sedangkan dipandang dari sudut budaya.3929 0. kemungkinan setiap lokasi memiliki keuntungan yang seimbang terhadap perkembangan hutan rakyat. Tabel (Table) 4 .301 0.819 -0.165 0.185 0.100 0.156 -0. Variabel (Variables) Kepadatan Penduduk (Population density) Rumah permanen (Permanent home) Umur Produktif (Productive age population) Non Sawah (Non rice field) Kelerengan lahan (Land slope) Jarak ke hutan (Distance to state forest area ) Kemampuan Lahan (Land capacity) Kerapatan Jalan (Road density) Akar ciri (eigenvalue) Proporsi (proportion ) Kumulatif Proporsi (Proportion cumulative) PC1 0.407 0.627 -0.669 -0.443 7. hanya satu variabel yaitu jarak ke jalan besar yang tidak signifikan berkorelasi nyata. maka alternatif penggunaan lahan untuk penanaman tidak banyak dengan demikian menanam kayu yang bersifat tidak intensif menjadi pilihan. sehingga dari delapan komponen utama yang dihasilkan dapat dipotong sampai KU empat saja karena sudah cukup mewakili proporsi keragaman. 3.377 2. Dengan demikian kebiasaan ini dapat tertular di lahan milik pribadi mereka.164 1.479 0. Ketika variabel ini tidak nyata berpengaruh terhadap luas hutan rakyat. Dari hasil korelasi pada Tabel 3 diketahui bahwa dari 9 variabel yang dianalisis.070 0.284 0.8 No.134 0.146 0.108 0. 6.056 -0.340 0.264 4 5.

kecuali satu yang menggunakan desain PC123 dengan 4 Kelompok. .Pada wilayah PC4 merupakan indeks jarak desa ke kawasan hutan negara. yaitu dari penggunaan 8 variabel sampai 2 variabel ditambah dengan penggunaan data analisis komponen utama (AKU) dapat dilihat pada Tabel 5. . Endang Suhendang. I Nengah Surati Jaya. Jumlah tipologi Hasil klustering dengan menggunakan semua alternatif variabel yang bisa diterapkan. PC1234. Pembentukan Tipologi 1. Dimana menujukkan nilai tinggi pada jarak yang ke kawasan hutan B.Pada Pc2 merupakan indeks kondisi kemampuan lahan. Tabel (Table) 5. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari variabel dominan yang membentuk komponen utamanya sebagai berikut : . Banyaknya anggota setiap desain dan kelompok (Number of villages each design and cluster) JUMLAH ANGGOTA TIAP KELOMPOK (Number of villages of each cluster) 7 6 5 4 3 Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel 8 Desain Variabel Jmh Variabel 5 Kelompok (5 clusters) 1 183 2 86 3 62 4 2 5 3 4 Kelompok (4 clusters) 1 185 2 60 3 86 4 5 3 Kelompok (3 clusters) 1 228 2 103 3 5 2 Kelompok (2 clusters) 1 239 2 97 2 Variabel PC1234 PC123 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 161 124 45 5 1 161 124 45 5 1 176 68 53 43 5 149 72 70 40 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 171 115 44 6 171 115 44 6 185 86 60 5 153 85 61 37 228 103 5 228 103 5 228 103 5 228 103 5 202 99 35 202 99 35 196 80 60 195 78 63 239 97 239 97 239 97 239 97 249 87 249 87 235 101 234 102 163 . Tabel 5 dapat diketahui bahwa penggunaan 5 kelompok dan 4 kelompok menghasilkan jumlah tipologi yang kurang efisien karena jumlah anggota sangat kecil dibawah 10 desa. 4 variabel. Sedangkan untuk 3 kelompok dan 2 kelompok terdapat 4 desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang efisien.Pada PC1 menggambarkan indeks kelerengan lahan dan non sawah. . Dimana menujukkan kemampuan lahan yang tinggi. Nilai ini menunjukkan dominan kelerengan lahan yang datar dengan kegiatan non persawahan yang rendah. yaitu yang menggunakan desain 2 variabel.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. dan Pc123. dan Herry Purnomo Berdasarkan analisis komponen utama yang menggunakan 4 KU pada Tabel 4 dapat diketahui empat karakteristik desa di Kabupaten Ciamis yang didekati dari 8 Variabel.Wilayah Pc3 merupakan indeks rumah permanen dan kepadatan penduduk yang merupakan variabel sosial ekonomi.Hardjanto.

Desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang sama maka dipilih yang paling sederhana.4 Kelp PC1234 .168 Tabel (Table) 6.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Dibandingkan dengan standar/acuan pengelompokan yang sudah dibuat. maka dapat diukur berapa besar akurasinya. 7. Dalam rangka menentukan desain yang teruji dengan baik dari ke delapan desain lewat dua uji ragam tersebut. Sedangkan untuk uji ragam antar kelompok pada Gambar 2b. 2. 155 .2 Kelp PC1234 . nilai selisih terbesar adalah yang memiliki nilai uji yang baik. Dimana yang dianggap baik jika ragam dalam kelompok kecil dan ragam antar kelompok besar. Juli 2011.3 Kelp PC1234 . Pengujian Hasil Tipologi Hasil tipologi yang telah terbentuk dengan berbagai desain peubah diuji ketepatannya untuk menduga luas rakyat setiap desa.3. selanjutnya desain 2 variabel dengan Keterangan (Remarks) : Gambar (Figure ) 2. 5. Daftar desain terpilih tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Perbandingan Ragam dalam Kelompok dengan Ragam Antar Kelompok. dan 8.8 No. Pada Gambar 2a dapat dilihat bahwa uji ragam antar kelompok desain 1 sampai 4 relatif memiliki ragam dalam kelompok yang kecil dibanding desain 5 sampai 8. Dapat terlihat grafik pada Gambar 2 menunjukkan kedua uji tersebut. ragam yang terbesar adalah desain ke 2. hanya 8 desain jumlah variabel yang dapat diterapkan selanjutnya.2 Kelp Semua desain yang telah dicoba (Tabel 5). Uji ragam terhadap luas hutan rakyat dilakukan melalui uji dalam kelompok dan antar kelompok. Pada Tabel 7 diketahui selisih terbesar uji ini adalah pada desain jumlah 2 variabel dengan tiga kelompok.3 Kelp PC1234 . Hasil tipologi terpilih dilakukan pengujian dengan uji ragam dan evaluasi akurasi menggunakan prinsip matrik kesalahan (confusion matrix). (Comparison of whitin cluster and inter cluster variant) 164 . Jumlah desa setiap kelompok terpilih (Number of villages for each selected cluster) Desain Jumlah Variabel (Number of variables Design) 2 Variabel – 2 Kelp Kelompok 1 (cluster 1) 249 202 239 235 196 153 195 234 Jumlah Desa (Number of Villages ) Kelompok 2 Kelompok 3 (cluster 2) (cluster 3) 87 99 97 101 80 85 78 102 53 60 61 63 - Kelompok 4 (cluster 4) 37 - 2 Variabel – 3 Kelp 4 Variabel – 2 Kelp PC1234 . maka dilakukan pengurangan antara uji ragam antar kelompok dengan uji ragam dalam kelompok.

Desain kedua yang terbaik adalah 2 variabel dengan 2 kelompok dengan nilai akuarasi umum sebesar 63% dan akurasi Kappa sebesar 26%.072 20972.301 19384. Desain jumlah Variabel Akurasi (Accuracy) ( number of variables design) Rata-Rata Umum Kappa (Overall) (Kappa) 1.3 kelompok 40.59 0 13170.988 27.706 6 22500.55 20968.Hardjanto.5.132 8 Tabel (Table) 8. dan Herry Purnomo 2 kelompok.971 1.476 14.55 22493.3 kelompok 46. Metode gerombol (clustering analysis) menggunakan asumsi tidak ada multikolinieritas antar peubah yang digunakan.650 7 PC123.338 5 22740.846 6.632 12798.393 26.4 kelompok 27. Endang Suhendang.47 3 1 14097. Nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa (Value of overall accuracy and Kappa accuracy) No.196 1. 2 Variabel-2 kelompok 63.44 4 10967. Berdasarkan variabel yang digunakan maka. Tetapi menurut Santoso (2010).429 17. menyatakan batas kolinieritas tersebut masih dapat ditolerir untuk nilai korelasi dibawah 0.595 1.963 0.015 165 .714 21.271 8 PC123.75 7 2 10971. Diperoleh nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa terbesar terdapat pada perlakuan desain PC1234 dengan 2 kelompok dengan nilai masing-masing 64% dan 27%. I Nengah Surati Jaya.083 6.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.932 6 PC123-2 kelompok 50. Dengan menggunakan peubah yang sudah melalui AKU dapat menghilangkan multikolinieritas tersebut. Pada Tabel 8 dapat diketahui hasil evaluasi akurasi pada kedelapan desain terpilih. 4 Variabel-2 kelompok 60. 2 Variabel .363 2.026 4.24 3 12796.940 3. Ragam rata-rata antar kelompok dan dalam kelompok (Average variety of inter and within clusters) Desain Jumlah Variabel (Design of number of variables) Ragam Rata-Rata (Average variant) Antar Kelompok (Betweencluster) (A) Dalam Kelompok (Within cluster) (B) Selisih (differen-ce) (A-B) Rangking 2 Variabel -2 Kelp PC1234 3 Kelp PC123 – 2 Kelp PC123 – 3 Kelp PC123 4Kelp 2 Variabel -3 Kelp 4 Variabel -2 Kelp PC1234 2 Kelp 1.532 3.17 6 14095.920 7 -22739.482 3. PC1234-2 kelompok 63.98 0 4 13171. dan yang ketiga desain dengan mengunakan analisis komponen utama dengan 4 KU yang membagi 2 kelompok. delapan desain yang dianalisis tiga desain menggunakan peubah asli sedangkan lima desain sudah menggunakan peubah PC yang diubah melalui analisis komponen utama (AKU).05 7 3 19388. Ini menandakan bahwa desain tersebut yang paling akurat dalam menduga kelompok desa berdasarkan luas hutan rakyat.485 3.633 5 PC1234-3 kelompok 40. Tabel (Table ) 7.179 13.

Karakteristik dan Arah Pengembangan Tipologi Pada proses akurasi terdapat dua desain yang memiliki akurasi yang baik. 155 . Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa sebaran yang dihasilkan dengan desain PC1234 terlihat lebih kompak dan sehamparan dibanding sebaran yang dihasilkan desain 2 variabel. Sebaran pengelom-pokan desa berdasarkan desain tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. yaitu desain dengan mengunakan PC1234 dengan nilai akurasi sebesar 64% dan desain dengan 2 variabel (rasio kelerengan dan kerapatan jalan) dengan nilai akurasi sebesar 63%. Sedangkan berdasarkan desain 2 variabel menduga sebanyak 74% wilayah Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang memiliki potensi pengembangan yang besar. Tipologi Wilayah Karakteristik dan arah pengembangan setiap tipologi (Characteristics and direction of development of each typology) Karakteristik (Characteristic) Arah Pengembangan (Development direction) Jumlah Desa (Village numbe) Desain Desain 2 PC1234 Variabel 101 87 I Merupakan wilayah-wilayah desa dimana penggunaan lahannya tidak didominasi hutan rakyat. Tetapi jika unit pengelolaan tersebut berupa desa tentunya dapat berdiri sendiri secara individual ketika potensinya besar .3. (b) 2 variabel-2 kelompok Pengelompokan berdasarkan desain (a) PC1234 dan (b) 2 variabel (Grouping based on design (a) PC1234 and (b) 2 variable) ketika wilayah yang akan digabungkan berdekatan secara spasial. (a) Pc1234.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Berdasarkan desain PC1234 terlihat dugaan wilayah Kabupaten Ciamis memiliki 70% daerah yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang besar. Terdapat kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan untuk berkembangnya hutan rakyat Pengembangan lebih mengarah ke bidang di luar hutan rakyat.8 No. Diharapkan dengan memiliki luas hutan rakyat yang besar merupakan salah suatu peluang untuk mencapai pengelolaan hutan rakyat yang menguntungkan dan efisien.2 kelompok Gambar (Figure) 3. Juli 2011. Untuk membentuk satu unit pengelolaan lebih mudah Tabel (Table ) 9. Bila tetap bertahan untuk kegiatan hutan rakyat sebaiknya perlu penggabungan wilayah yang lebih besar untuk menjadikan 166 .168 3. Potensi pengem-bangan hutan rakyat disini dilihat dari besarnya luasan hutan rakyat di dalam suatu desa.

IV. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses 167 . kemampuan lahan. dan rasio rumah permanen. yaitu berkisar 58 Ha setiap desa. Merupakan wilayah-wilayah desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang besar. E. 1989. W.A. lembaga masyarakat dan lainnya. S. Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perbedaaan ini. Sapardiono. KESIMPULAN DAN SARAN A. tiga variabel terbesar adalah rasio kelerengan lahan. pemerintah. kepadatan penduduk.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.B Wiyono. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. cengkeh. dan lainnya. Y Nugroho.A. Arah Pengembangan (Development direction) suatu unit pengelolaan yang lestari. Kesimpulan 1. tetapi saat ini bisa jadi yang berkembang adalah tanaman non kehutananan seperti kelapa. Gurat Hutan Rakyat. Perlu penanganan yang lebih profesional untuk mengelola potensi hutan rakyat dari berbagai pihak. Debut Press. Kustomo. Konservasi Tanah dan Air. yaitu akurasi ratarata umum sebesar 64%. maka disarankan untuk menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah perlu pertimbangkan variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan potensi hutan rakyat seperti di penelitian ini. Jumlah desa berpotensi tinggi hasil dugaan desain penelitian ini lebih besar dari nilai acuan sebenarnya. Awang. 2007. kelompok tani.Hardjanto. baik petani. Bogor.T Widayanti. Desain metode yang digunakan menggunakan desain 4 komponen utama (Pc1234). IPB. Perlu dibentuk wadah / unit pengelolaan hutan rakyat agar terjadi sistem yang menjamin kelestarian. Selain itu desain kedua yang teruji adalah menggunakan desain 2 variabel. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. H Santosa. kerapatan jalan. rasio umur produktif. Kelima variabel lainnya berurutan berdasarkan besarnya korelasi dengan luas hutan rakyat adalah jarak ke hutan negara. Yogyakarta. Agar perencanaan pengelolaan yang diterapkan dapat mewakili karakteristik masing-masing wilayahnya. S. Tipologi yang terbentuk ada dua. Sadiyo. 2. V. Lanjutan (Continued) Tipologi Wilayah Karakteristik (Characteristic) secara biofisik ditambah aspek sosial ekonomi. Faktor-faktor biofisik dan ditambah dengan sosial ekonominya mendukung untuk berkembangnya pengelolaaan hutan rakyat di wilayah ini. yaitu rasio kelerengan lahan dan kerapatan jalan dengan akurasi rata-rata 63%. dan S. Terdapat delapan variabel yang berkorelasi nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa. yaitu tipologi wilayah yang berpotensi untuk berkembangnya hutan rakyat dan wilayah yang tidak berpotensi berkembang hutan rakyat. Jumlah Desa (Village numbe) Desain PC1234 Desain 2 Variabel II 235 249 Desa yang dianggap berpotensi tinggi adalah yang mempunyai nilai lebih besar dari rata-rata luas hutan rakyat di Ciamis. B. I Nengah Surati Jaya. 2001. S. Awang. dan Herry Purnomo Tabel (Table) 9. Hasil pengujian memiliki keragaman dalam kelompok dan antar kelompok yang baik dan nilai akurasi yang lebih besar dari yang lain. Endang Suhendang. salah satunya karena secara fakta kondisi biofisik dan sosial ekonomi mendukung untuk berkembangnya hutan rakyat. dan rasio penggunaan lahan bukan sawah.

Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa. McGrawHill Companies. Suhendang. Bogor : Program Pascasarjana. Bogor. Goldstein. W. Konsep dan aplikasi dengan SPSS. R. dan B. New York. Studi Kemungkinan Pengembangan Konservasi Lahan melalui Hutan Rakyat.C. dan A. 1991. 1984. Bogor. Jakarta Suharjito. Institut Pertanian Bogor. Jaya. 2003. Analisis Citra Digital : Perspektif Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. 2003. Management and Policy. and Social Values. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Statistik Multivariat. Herbohn. Inc. Fourth Edition. Hardjanto. Small-scale and Family Forestry : What's in a Name? Small-scale Forest Economic. E. Howard. Forest Management : To Sustain Ecological. John Wiley & Sons. Yogyakarta. 2006.Johnson. D.3. Badan Penelitian dan PengembanganKehutanan.. 1(1): 1-11. Method and Applications. Hardjanto. Juli 2011. Bogor. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisisr Kota Bandar Lampung. Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat Fakultas Kehutanan IPB.. H.168 Konstruksi Pengetahuan Lokal. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa [disertasi]. Smallholder.S. Bliss. Non Industrial. A. Davis. S. and an Illustration from Oregon. Small-scale Forest Economics. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.S. Rahmadia. K. S. Rustaman. PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. L. Bogor.N. J. Fakultas Kehutanan UGM.R dan M. Program Pascasarjana. 2(1): 1-8. 168 . 2002. Bettinger. I. dan E.8 No. 2006.. Tesis. 2003. New York. 2003.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.Widiarti. Niskanen. 2000. 2001. N. Mindawati. 2010. USA . Banyumili Art Network bekerjasama dengan Pusat Kajian Hutan Rakyat. Abidin. Economic.N . J.E. P. Review Hasil Penelitian : Hutan Rakyat. Multivariate Analysis. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Kehutanan IPB. Haeruman. Harrison.S. 155 . Chalenges. Santoso. Management and Policy. Sustaining Family Forest in Rural Landscapes: Rationale. Dillon. and T.

The study thus provides evidence that the coordination among the organizations involved in forest/land fire control has been inadequate so that management of forest/land fires is still ineffective. Riau demonstrates a better situation than West Kalimantan in the coordination. The difference in the basis of departmentation seems to be the reason. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal.or. This research aims at finding empirical evidences to prove the opinion. Bogor. Bogor. HP: +6281210494949. e-mail: erlyskm@yahoo.kardono@gmail. Alikodra . An analysis method using the three aspects of integrative coordination including service delivery. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. HP: +628161948064. provinsi dan kabupaten/kota. Until recently the management of forest/land fire control in Indonesia is still ineffective due among others to the weakness of its fire control organization system. While in West Kalimantan such relationships present in only among a few organizations at the same level and absent in between levels. Fakultas Kehutanan. Bakosurtanal. institution ABSTRAK Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global.com Naskah masuk : 3 Januari 2011. and district levels indicate that a relatively good coordination has been existent among the national level organizations.com 2) Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata.com 4) Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Saharjo . While at provincial and district levels. e-mail: priyadi. Jl.HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Study on Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia Erly Sukrismanto . administrative and planning is employed. Raya Jakarta-Bogor KM 46. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. The coordination among the involved organizations is considered ineffectual. HP: +62818161166. The results of study on 42 organizations at national. Jl. Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 13. IPB.id 3) Departemen Silvikultur. dan/and Priyadi Kardono4) 1) 2) 3) Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. Jakarta 10270. The relationships among Riau's organizations at each of the provincial and district levels and vertically between those levels as well as with the national one have been existent. Naskah diterima : 7 Juni 2011 1) ABSTRACT Forest/land fire is one of the main causes of global climate change. Bambang H. provincial. IPB. Cibinong 16911 HP: +62816731777. Keywords: Coordination. e-mail: halikodra@wwf. although the coordination in the research sites is still insubstantial. di mana 169 . administratif. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. fire control organization. Hadi S. Fakultas Kehutanan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. e-mail: bhsaharjo@gmail. Gatot Subroto.

Kajian terhadap aspek sosial politik dan kelembagaan lebih banyak menyoroti lemahnya aturan main dalam pelaksanaan serta penegakan sanksi. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. DFID dan World Bank (2007) menyatakan bahwa kebakaran hutan/lahan di Idonesia telah melepaskan sekitar 1400 metrik ton karbon dioksida per tahun. Kata kunci : Koordinasi. di tingkat provinsi di Riau dan Kalimantan Barat. Bappenas (1999) mencatat kerugian akibat dari kebakaran hutan/lahan tahun 1997-1998 sekitar US$ 9. baik ekologi dan lingkungan maupun ekonomi. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010. 2009). 1994. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik.. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat keharmonisan hubungan antar para pihak atau institusi dalam upaya merancang model sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia. atau perseteruan (Mooi. Kartodihardjo. pengendalian kebakaran. 1999). Kelemahan pengorganisasian dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain (1) belum jelasnya peranan dalam pengorganisasian (Wehmeyer et al. 2007. 2001) dan (3) belum efektifnya organisasi yang terlibat (Young Lee dan Whitford..3 milyar atau Rp 5. Faerman et al. 2004) dan kelembagaan pengendalian kebakarannya (Simorangkir. institusi I.8 No. 1999. 2001. METODE PENELITIAN A.177 koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. Suprayitno dan Syaufina. Hubungan dalam pengorganisasian kebakaran hutan/lahan di Indonesia adalah kerja sama dalam bentuk koordinasi. Colman dan Han. 2001. jauh di atas emisi dari sektor energi yang hanya sekitar 275 metrik ton. maupun kabupaten/kota.. baik pada satu level maupun antar level pemerintahan. PENDAHULUAN Kebakaran hutan/lahan di Indonesia berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek.. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa belum efektifnya organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan dalam menangani kebakaran hutan/lahan dan faktor-faktor penyebabnya selama ini. 169 . 2001. B.96 trilyun yang setara dengan 70% dari nilai PDB sektor Kehutanan tahun 1997. sosial. Hubungan antar organisasi dapat berupa kerja sama. provinsi. dan di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu. kompetisi. yakni hubungan antar organisasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan/lahan di Indonesia tidak hanya bersifat teknis yang berkaitan dengan penyebab fisik di lapangan yang berkaitan dengan ketersediaan unsur-unsur segitiga api (bahan bakar. dan panas) yang berlimpah (Chandrasekharan. baik di tingkat nasional. 2008). II. Provinsi Riau dan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya. Teknik Pengambilan Contoh Hasil identifikasi mendapati sebanyak 42 organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan dari semua tingkatan. Pelibatan di antara pihak-pihak tersebut memerlukan suatu sistem pengorganisasian yang bekerja secara integratif dan harmonis agar efektif dan efisien (Siswanto. Selama 10 tahun terakhir jumlah rata-rata titik panas per tahun masih di atas 50 ribu titik. Juli 2011. sementara peran masing-masing organisasi/institusi pengendalian kebakaran kurang mendapat perhatian. Bolland dan Wilson. 2005).3. 170 . Provinsi Kalimantan Barat. Data besarnya jumlah akumulasi titik panas (hotspot) merupakan indikator tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan/lahan (Hiroki dan Prabowo. melainkan juga berkaitan dengan sosial politik (Doscemascolo. 1982. (2) belum optimalnya hubungan antara organisasi-organisasi yang terlibat (Mulford dan Klonglan. Malone et al. 1982). Wehmeyer et al. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap organisasi-organisasi di tingkat nasional di Jakarta dan sekitarnya. Organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan banyak instansi atau organisasi pemerintah. Tulisan ini menguraikan hasil studi terhadap faktor kedua. dan politik.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Mulford dan Klonglan. oksigen. 2008). 2003. 2006).

Planning. Analisis ini adalah untuk memperoleh sebuah ukuran dari bantuan layanan yang terkonfirmasi. Kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi oleh Dishut Provinsi Riau dalam menggalang bantuan dari berbagai pihak. C. Analisis ini menggunakan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh mana organisasi lain telah membantu organisasi responden dalam mencapai tujuan. maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara kedua organisasi tersebut. 1994) sebagai berikut: 1. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. padahal dengan kapasitas organisasi yang masih lemah. Bantuan Layanan Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi yang saling berhubungan di dalam memberikan bantuan layanan di tingkat nasional hanya 9 organisasi dari 22 organisasi yang terbentuk. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya frekuensi kebakaran hutan/lahan di daerah tersebut seperti digambarkan oleh jumlah akumulasi titik panas 171 . Di tingkat provinsi.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Jika sedikitnya satu orang dari organisasi tersebut mengenal sedikitnya satu orang dari organisasi lain. Analisis ini menggunakan kombinasi jawaban responden atas pertanyaan apakah organisasinya (a) memberi bantuan layanan kepada dan/atau (b) menerima bantuan layanan dari organisasi lain. dan (3) Perkenalan untuk mengetahui hubungan daari aspek perencanaan. Alikodra. Pertanyaan angket tersebut berupa: (1) Client referrals (rujukan klien) yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara institusi dalam memberikan dan menerima bantuan layanan. dan 156 pejabat eselon IV. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang diadopsi dan dimodifikasi dari Bolland dan Wilson (1994). Sebagai contoh. Saharjo. Inhu. Bambang H. Kedua organisasi tersebut lebih banyak memberikan layanan dalam bentuk informasi. namun bantuan yang diberikan atau diterima tidak terkonfirmasi oleh organisasi lain. Dishut Provinsi Riau yang dalam struktur Pusdalkarhutla memegang peranan penting sebagai koordinator bidang pemadaman justru tidak memiliki hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi dari manapun kecuali dari Dishutbun Kab. Salah satu di antara contoh matrik hubungan bantuan layanan di antara organisasi tertera pada Gambar 1. Analisis ini melihat kaitan antara orang-orang dari dua organisasi dengan cara meminta responden menuliskan nama orangorang yang ia kenal dari organisasi lain. bahkan di daerah tersebut tidak ada satupun hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi di antara organisasi-organisasi di tingkat provinsi dan juga di tingkat kabupaten/ kota serta antar tingkatan. Walaupun banyak organisasi yang saling berhubungan dalam aspek pelayanan. upaya pemadaman masih sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan adalah Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutlada). HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi serupa juga terjadi di Kalbar. (2) Hubungan administrasi yang melibatkan transaksi sumber daya dianalogikan dengan bantuan organisasi lain dalam mencapai tujuan. III. Ada dua institusi yang memiliki hubungan layanan terkonfirmasi terbanyak yaitu LAPAN dan Bakosurtanal seperti terlihat pada Gambar 2. Hadi S. 3. Pengumpulan danAnalisis Data Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. hubungan dalam aspek bantuan layanan masih relatif terbatas. Pengolahan dan analisis data menggunakan prosedur yang diadopsi dari coordination network analysis (Bolland dan Wilson. 84 pejabat eselon III. Administratif. dan Priyadi Kardono Pengambilan contoh dilakukan secara purposif di mana responden yang dipilih terdiri dari para pejabat di tingkat eselon IV sampai dengan eselon II yang sering ditugasi atau bidang tugasnya berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan/lahan pada setiap organisasi tersebut. Data primer berupa pendapat responden yang merupakan parameter yang dapat menunjukkan persepsi para pimpinan organisasi/instansi mengenai hubungan antara organisasinya dengan organisasi-organisasi lain. Jumlah responden adalah 282 orang terdiri dari 42 pejabat eselon II. Bantuan Layanan. Data sekunder diperoleh dari tiap organisasi yang diamati berupa dokumen profil organisasi yang berkenaan dengan hubungan dan kerja sama organisasi tersebut dengan organisasiorganisasi lain dan data keterlibatannya dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. sedangkan di kabupaten/kota adalah Satuan Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satlakdalkarhutla). 2.

Kondisi tersebut membuat kinerja dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan selama ini relatif masih rendah di semua tingkatan. 1982) dan concept of capability (Ulrich. Juli 2011. Linbun Asdep PKHL BNPB Bappenas BMKG Basarnas Bakosurtanal LAPAN Depdagri Deplu Depsos Depkes Dephub Depkeu Mabes TNI 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan (Remarks) : Angka 1 = hubungan terkonfirmasi (confirmed relation). misalnya. 1999) harus diperjelas di dalam struktur dan uraian tugas organisasi yang akan dibangun. 1999) belum terdefinisikan dengan jelas. 169 .221 titik/tahun. Diagram hubungan antar organisasi dari aspek bantuan layanan di Riau (Inter-organizational relationships on the aspect of service delivery in Riau) Gambar (Figure) 1. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sistem pengorganisasian yang diterapkan dalam Pusdalkarhutla di mana departementasi didasarkan pada wilayah pemangkuan kawasan. Menurut konsep tersebut organisasi seharusnya lebih fokus membangun kapabilitasnya sendiri. konsep kerja sama (Mulford dan Klonglan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Organisasi Dit.8 No. 0 = hubungan tidak terkonfirmasi (unconfirmed relation) 172 . Gambar (Figure) 2. Untuk itu.. tetapi yang terjadi justru organisasi-organisasi tersebut lebih mengandalkan bantuan sumber daya dari organisasi lain. sedangkan Kalbar sebanyak 9... tetapi hubungan perbantuan layanan masih kurang.897 titik. Contoh sebagian matriks hubungan antar organisasi dalam bantuan layanan di tingkat nasional (A part of the matrix indicating the interorganizational relationships in service delivery at National level) No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Di Riau. Malone et al. jumlah hotspot rata-rata per tahun selama 10 tahun terakhir masih 7.177 (hotspot) yang masih relatif tinggi. Hal ini terjadi karena peranan-peranan dalam koordinasi (Wehmeyer et al. Lintan Dit. Di samping itu. penetapan tugas (Malone et al. PKH Dit. 2001.3. 1997) belum diterapkan dengan benar. Sistem pengorganisasian yang ada saat ini mengandalkan keterlibatan banyak pihak.

Pertama adalah menyepakati tujuan bersama. misalnya ketika terjadi kebakaran hutan/lahan atau bencana alam. Di Riau. Hal ini berarti dari aspek pertukaran gagasan. Hal ini juga dapat menggambarkan fakta di mana sering terjadi organisasi di tingkat kabupaten/ kota berhubungan langsung dengan organisasi di tingkat nasional tanpa melalui organisasi di tingkat provinsi. dari 22 organisasi yang diamati terdapat 15 organisasi yang saling membantu dalam pencapaian tujuan. Dit. Hadi S. sedikitnya satu pimpinannya telah saling mengenal. PKH Kementerian Kehutanan. mengidentifikasi sumber daya untuk menjalankan tugas.PKH memiliki hubungan terbanyak dalam aspek tersebut. 1994). hubungan administratif dalam satu tingkatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota sudah lebih terjalin di Riau daripada di Kalbar. Administratif Hubungan administratif antar organisasi biasanya melibatkan transaksi sumber daya yang memungkinkan organisasi tersebut lebih efektif dalam mencapai tujuannya (Bolland dan Wilson.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. Saharjo. Perencanaan Hasil analisis terhadap aspek perencanaan (planning/agenda setting) menunjukkan bahwa di tingkat nasional hampir seluruh organisasi yang diamati. Hubungan administratif antar organisasi antar tingkatan di Kalimantan Barat (Relationships on administrative aspect among levels in West Kalimantan) C. Dengan perkataan lain. organisasi-organisasi yang diamati telah memiliki hubungan administratif antar tingkatan mulai dari tingkat tingkat kabupaten/ kota sampai dengan tingkat nasional. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi yang merupakan pengelolaan saling ketergantungan (Malone et al.. Sementara itu. sedangkan antara tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota serta di antara organisasi-organisasi di satu tingkatan tidak ada hubungan (Gambar 3). di Kalbar hubungan administratif terjadi hanya antara tingkat nasional dengan tingkat provinsi dan tingkat nasional dengan kabupaten/kota. Hasil analisis pada aspek ini melihat seberapa jauh organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan saling membantu dalam pencapaian tujuan. organisasi-organisasi tersebut belum saling mendukung dalam pencapaian tujuan atau masih berjalan sendirisendiri. AsdepPKHL dan Dit. 1994) untuk mencapai tujuan belum terjalin. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kehutanan yang selama ini dipandang sebagai penanggung jawab atau pengelola kebakaran hutan/lahan ternyata tidak memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi lain baik bantuan layanan maupun administratif. penetapan isu (agenda setting) 173 . Kondisi demikian sebenarnya ditangani dengan melakukan aktivitas tambahan yang disebut coordination mechanisms (Malone dan Crowston. 1994). mengidentifikasi sumber daya yang harus dimiliki atau disediakan oleh organisasi mana. dan prosedur mobilisasinya. Gambar (Figure) 3. Kondisi tersebut menegaskan kembali pengaruh sistem pengorganisasian yang diterapkan di masing-masing daerah tersebut. Di tingkat nasional. Hal ini dapat memberikan jawaban mengenai masih rendahnya kinerja pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/ lahan sampai sekarang. Bambang H. 1999) dan transaksi sumber daya (Bolland dan Wilson. Di daerah. dan Priyadi Kardono B. Dishut Prov dan Dinas yang menangani kehutanan baik di Riau maupun di Kalbar ternyata tidak saling terhubungkan. kemudian membagi tugas. Alikodra.

2.8 No.177 maupun perencanaan telah terjadi hubungan yang relatif baik. Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan Undang-undang No. yang diindikasikan dengan lebih banyaknya pihak yang saling mengenal daripada yang terjadi di Kalbar. para pimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kab. dan kebakaran hutan/lahan belum menjadi masalah prioritas. hubungan para pihak di Riau relatif lebih baik. Meskipun hubungan berjalan satu arah. Hubungan antar organisasi dalam perencanaan di Riau (Interorganizational relationships on planning aspect in Riau) Satu lagi hal penting dari kajian terhadap ketiga aspek tersebut di atas yaitu fakta bahwa ternyata tidak ada hubungan yang terjadi antar kabupaten/kota meskipun dalam satu provinsi. Inhu. keterpaduan kebijakan atau policy integration (Meijers dan Stead.3. 1994) di antara organisasiorganisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan masih relatif kurang erat. tetapi pada setiap SKPD terjadi pembatasan jumlah jabatan yang mendorong penetapan prioritas masalah yang lebih tajam. sehingga hanya beberapa SKPD yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai salah satu jabatan dalam strukturnya atau dalam kegiatannya. sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. baik di Kab. Anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan berada pada SKPD. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Gambar (Figure) 4. Beberapa hal yang menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan adalah: 1. Ketapang. 169 . rendahnya tingkat perkenalan di antara organisasi akan menimbulkan kurangnya komunikasi dan keterlibatan secara emosional yang pada dasarnya berdampak pada rendahnya produktivitas organisasi (Janssen. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan (Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutlada) tidak termasuk sebagai SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang menurut UU No. 3. yakni Pusdalkarhutnas dan TKN-PKHL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan). Kab. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota. provinsi dan kabupaten/kota di Riau juga relatif lebih baik daripada di Kalbar. sudah tidak berlaku lagi sejak era Reformasi. Di tingkat nasional belum terbentuk secara formal organisasi yang menangani pengendalian kebakaran hutan/lahan. Provinsi Riau telah mengenal para pimpinan organisasi di tingkat provinsi maupun tingkat nasional (Gambar 4). Di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/ kota. Di sisi lain. Kota Dumai. 2004) juga sulit dibangun karena konsep keterpaduan dan “kemenyeluruhan” (comprehensiveness) belum menjadi acuan. Kubu Raya maupun Kab. Organisasi yang pernah ada. Menurut Janssen. 2005). secara umum instansiinstansinya kurang saling mengenal. Pergantian pimpinan yang relatif cepat atau jangka waktunya pendek baik di dalam masing-masing organisasi maupun antar 174 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Di tingkat provinsi. 2005). 33/2004 tidak dapat mengelola anggaran. yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai jenis bencana. Kondisi demikian menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan belum optimal. Hal tersebut tidak terjadi di Kalbar. 4. Hasil analisis terhadap ketiga aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa koordinasi terpadu (Bolland dan Wilson. Hubungan antar organisasi antar tingkat nasional. belum secara eksplisit mengakomodasikan kepentingan pengendalian kebakaran hutan/ lahan. Inhu. Juli 2011.

3. Prosedur kerja sama antar organisasi untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebenarnya juga sudah ada di Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang ditetapkan masing-masing dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Riau No. Pusdalkarhutlada maupun Satlakdal-karhutla di lokasi penelitian belum termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga tidak dapat memperoleh dan mengelola anggaran dan akibatnya operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran di instansi-instansi anggotanya. Kurangnya komunikasi dan pertemuanpertemuan antar organisasi. maka dapat disimpulkan: 1. serta anggaran) di setiap organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan berimplikasi besar pada penanganan kebakaran hutan/lahan. Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutla memang sudah ada. dan Priyadi Kardono organisasi membuat para pimpinan organisasi kurang berkesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama menyusun dan menyepakati serta memahami tata hubungan kerja atar organisasi. 103/2009. 2001). Pada aspek administratif. provinsi maupun kabupaten/ kota. Komunikasi atau pertemuan biasanya bersifat responsif ketika terjadi situasi darurat kebakaran hutan/lahan. D. Alikodra. 5.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. 1982).. tetapi belum menjadi jejaring yang kuat karena koordinasi yang masih lemah. Di samping SDM dan sarpras yang masih sangat kurang. Bantuan layanan di antara organisasi dalam pengendalian kebakaran belum efektif baik di tingkat nasional. namun masih lemah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. Kondisi inilah yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan menjadi kurang optimal sehingga frekuensi kejadian kebakaran tetap relatif tinggi. KESIMPULAN Berdasarkan kajian terhadap hubungan antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. dan salah satu bentuknya adalah berbagi sumber daya (Malone et al. Sementara itu. IV. tetapi masih lemah di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota maupun antar tingkatan. hanya beberapa instansi anggota yang memiliki anggaran untuk kebakaran hutan/lahan dalam jumlah yang relatif sangat kecil. 4. 2. Organisasiorganisasi tersebut perlu membentuk jejaring yang kuat dengan peranan-peranan koordinasi (coordination roles) yang jelas (Wehmeyer et al. hubungan antar organisasi telah terjalin cukup baik di tingkat nasional. 6. Hubungan antar organisasi pada aspek perencanaan juga terjalin baik di tingkat nasional. sekalipun memiliki sumber daya yang mencukupi (Mulford dan Klonglan. Penanganan kebakaran hampir tidak mungkin dilakukan sendirian oleh masingmasing organisasi karena masih sangat lemahnya kapasitas organisasi. Saharjo. Berdasarkan kondisi sumber daya yang terbatas tersebut maka perlu adanya kerja sama antar organisasi yang efektif dan efisien. Bambang H. 175 . karena sebuah organisasi tunggal tidak dapat mengatasi permasalahan masa kini yang kompleks. Implikasi Terhadap Kebakaran Hutan/ Lahan Kondisi hubungan antar organisasi yang masih kurang harmonis baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan tersebut di atas berimplikasi terhadap penanganan kebakaran hutan/lahan. Sayangnya. 91/2009 dan Pergub Kalbar No. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam Pusdalkarhutlada atau Satlakdalkarhutla lemah karena hampir tidak ada sumber daya untuk berbagi. Rendahnya tingkat jejaring kerja dan sumber daya (manusia. 1999). Hadi S. Koordinasi adalah suatu upaya untuk mengelola ketergantungan di antara berbagai pihak. kedua Pergub tersebut tidak menjelaskan mekanisme pendanaan bagi kerja sama tersebut sehingga kerja sama tetap sulit untuk dilaksanakan. baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. dana atau anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan juga belum tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya (manusia dan sarpras) pada instansi-instansi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran pada umumnya tidak tersedia secara memadai. sarana dan prasarana.. Kurang jelasnya uraian tugas dan tidak ditetapkannya pejabat tertentu untuk menangani kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi serta kebiasaan mewakilkan pada staf untuk menghadiri pertemuan antar organisasi membuat penanganan masalah kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi tidak fokus dan para pejabat/pimpinan organisasi tidak saling mengenal. apalagi untuk digunakan berbagi dengan instansi-instansi lain.

Planning for Fire Prevention and Drought Management in Indonesia. National Development Planning Agency. dan Bakry L.jstor. http://www. Diakses tanggal 29 Okt 2010. Bolland. A. Crowston.id [27 Jan 2009] Doscemascolo.pdf.fu-berlin. I dan D. Klein. Diakses tanggal 28 Jan 2009. 2005. Pemerintahan Daerah di Indonesia..au/personal/acolman/pub/ColmanA AAI_FS05. C. K. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. E.V. Osborn. C.co.. Malone. (Nugroho.. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Dalam: Ramses AM. Bernstein. C. et al.A. editor). 29-3:341-366. Tools for Inventing Organizations: Toward a Handbook of Organizational Processes. 45-3:425-443. 2009. Prabowo. Chandrasekharan. Pentland. Vu.W. M. Republic of Indonesia/JICA and ITTO.pdf. [DFID] Department for International Development and World Bank.. 2006. 1999. Willey Periodicals. Edu. Janssen.ubvu. Inc. 2004 Berlin Conference on the Human Dimensions of Global Environmental Change: Greening og Policies .P. T. rehabilitation and trans-bundary issues. S. J. Wilson. Dalam: Ramses AM. 169 ... Husaeni EA. B. T.A. G.. Herman. Crowston. G. E. Proceedings International Cross Sectoral Forum on Forest Fire Management in South East Asia. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. J. editor. M. Computing Surveys 26(1):87-119. The Interdisciplinary Study of Coordination. Jakarta: Bappenas.nl/bitstream/1871/ 12681/5/7725. 1999.M. pp 204-282 Colman. Hiroki. 1994. B. Hawaii. www. http:// web. 2009. dan K. Indonesia. 2007.swin.. D..ict. 2007. Working Paper: Indonesia and Climate Change Current Status and Policies. Pengaturan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah. Diakses tanggal 22 Jan 2009. 2001. Wyner. 2010. [Bappenas] National Development Planning Agency. O'Donnell. Disertasi. Lee. 2004. Conflict. Three Faces of Integrative Coordination: A Model of I n t e ro rg a n i z a t i o n a l R e l a t i o n s i n Communit-Based Heath and Human Services. Http://dare.Interlinkages and Policy Integration.org/pss/3086014 [28 Jan 2009]. Inter-organizational Cooperation. Organization Science 2001. Dellarocas. AS: The Graduate Division on the University of Hawaii.W. dan J. L. 176 .P. G.. 1994. editor. dan D. Policy integration: what does it mean and how can it be achieved? A multi-disciplinary review.. Slyke. J. editor. and Change. http:// www.M. 1999. Quimby. Faerman. Management Science 1999. Vrije Universiteit Amsterdam. Dalam Health Services Research 1994. dan J.. dan E. Jakarta. hlm 259-270 Hoessein. Burning Issues: Control of Fire Management in Central Kalimantan. Final Report Volume 1. Meijers. H. Understanding Interorganizational Cooperation: Public-Private Collaboration in Regulating Financial Market Innovation (abstrack). Juli 2011.. Pemerintahan Daerah di Indonesia. 11(1):16-23 Kartodihardjo. Di dalam: Suratmo F.W. A. Refleksi Kerangka Pikir Rimbawan Menguak Masalah Institusi dan Politik Pengelolaan Sumberdaya Hutan.A.peace.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Mooi.3. Han. 2003. hlm 264-277. 2004. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. control.de/ffu/akumwelt/bc2004/ download/meijers_stead_f. hlm 218-222. A.pdf. dan Surati Jaya N. 12(3):372-388.G. Organizational Roles and Players. Malone.177 DAFTAR PUSTAKA Bakry. The Mission on Forest Fire Prevention and Management to Indonesia and Malaysia (Serawak): Tropical forest fire: prevention. McCaffrey dan D.S. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks Pemerintahan Umum. Stead. Bakry L. Evolution of Instutional Rules: An Immune System Perspective. Hasil Penggunaan Citra Satelit NOAA-AVHRR dan Himawari untuk deteksi Hot Spot di Stasiun Bumi Satelit NOAA-AVHRR/ Himawari FFPMP. Disertasi.R.

1982. Diakses tanggal 08 Mei 2008. Creating Coordination Among Organizations:an orientation and planning guide North Central Regional Extension Publication 80.B.rwth-aachen. Simorangkir. Pengantar Manajemen. 2001. Diakses tanggal 29 Okt 2010.. Prosiding Seminar Sehari Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Sosial Ekonomi dalam Kaitannya dengan Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera.de/ conf/ rseem2001/. 177 . Bambang H. P. 2001.. 2009. D. Siswanto. Saharjo.. http://ssrn. 2008. dan Setijono D.B. Organizing Around Capabilities. Syaufina. dan Bechard R. Klonglan. K.. Jakarta: PT.informatik. Whitford. Iowa : Cooperative Extension Service. Iowa State University]. Maastricht. Goldsmith M. Reimer. and G. H. dan A. editor.E. Permana R. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Korea International Cooperation Agency. dan Priyadi Kardono Mulford. Roles and Trust in Interorganizational Systems. Ulrich. The Organization of the Future. S.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. 2001. Bogor: Proyek Penelitian Kebakaran Hutan dan Lahan ICRAF dan CIFOR. Http:// www-i5. Schneider. [Ames. Hadi S. Dalam Suyanto S. Applegate G. 1997. San Francisco: Jossey-Bass Pusblishers. D. Dalam: Hesselbein F. (editor). K. Young Lee. C. 1997.. Proceedings of the Eight Research Symposium on Emerging Electronic Markets (RSEEM 01). Alikodra. 2008. hlm 189-196 Wehmeyer. Tinjauan Singkat Kerangka Hukum dan Kelembagaan dalam Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Government Effectiveness in Comparative Perspective .L. dan B. Pengendalian Kebakaran Hutan. BumiAksara Suprayitno dan L.com/abstract= 1081642. The Netherlands.

i.13 (klon) untuk karakter diameter. i.09 dan 0. located at KHDTK Kemampo. Sumatera Selatan Telp. 9.e. H. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. 1.16 (clone) for height character and 0.39. respectively. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. Burlian KM.15 %.16 (klon) untuk karakter tinggi. 4 blocks and 3 treeplots in a spacing of 3 × 3 m. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9.13 (clone) for diameter. South Sumaterat Agus Sofyan Mohammad Na'iem Sapto Indrioko 1) 1 2 2 Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Kol. 36. Keywords: Heritability. diameter.09 and 0. 0. Po.026 (individu) dan 0. genetic variation. (0711) 414864 2) Fakultas Kehutanan.306 respectively. clone. because the heritability value was relatively low. South Sumatera. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. block and interaction between clone and block. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. i.721. i. and between height and stem form was 0. Randomized Complete Block Design was applied using 35 clones. 35 and 11 were 3.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi.073. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. Palembang. genetic correlation.16 %./Fax.5 Puntikayu.e.67. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. Genetic correlation between height and diameter was 1.40 %. Based on an assumption of using the best five clones. Selection index of the best five clones of 24.e. 0. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik.73 % untuk diameter. 1.e. i.15 %. i. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji.574.88.49 % untuk karakter tinggi dan 1. 3. diameter dan bentuk batang. sebesar 0. dengan 4 blok. genetic gain.73 % for diameter.28 %. diameter. But for stem form were relatively high. because it may done based on just one character. Universitas Gadjah Mada Naskah masuk : 5 Agustus 2010. These results could be applicable for selection purpose. The research was conducted in 3 years old teak plantation.49 % for height and 1. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. 14. respectively. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. the estimation of expected genetic gain at the age of 3 years for a height. teak.39.430 and 1. 2. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. heritability and expected genetic gains based on tree height. 1.e.01 (overestimate). Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. stem form and volume were 1. while the contribution of stem form was relatively higher. 0. SUMATERA SELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. Sumatera Selatan. Naskah diterima : 13 Juni 2011 ABSTRACT The objective of research were to determine the level of genetic variation. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. 6. i. but the variation was relatively low in comparison to other variation sources. Box 179.PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.02 (individual) and 0. di lokasi KHDTK Kemampo.e. The result of the research showed that there were genetic variation among clones.43 % and 8.026 (individual) and 0. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.28 % 179 . while between diameter and stem form was very high. 1. Genetic gain estimation at the age of 3 years was relatively low.02 (individu) dan 0. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. diameter and stem form characters.e. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo. The contribution of the genetic component to total variation was relatively low.

Bahan dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada pertanaman uji klon jati berumur 3 tahun dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul.16 % diameter. Afrika maupun Amerika. jati. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. masing-masing unit terdiri atas 3 treeplot. 2004). Brazil dan Indonesia (Siregar dan Mansur. 2003). dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. Myanmar. begitu banyak negara yang tertarik mengembangkan jati dikarenakan kualitas kayunya yang bagus. Jarak tanam 3 m x 3 m. 2005). 36 (1. volume kayu serta bentuk batang (Cotterill dan Dean. awet serta bernilai ekonomi tinggi. perolehan genetik. diameter batang setinggi dada). Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam uji klon jati adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan 4 blok sebagai ulangan. telah dikembangkan pengelolaan hutan tanaman dengan daur yang lebih singkat. serta sifat silvikulturnya secara umum telah dikuasai.88. korelasi genetik. Upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu telah dilakukan pemerintah melalui program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). potensi jenis jati yang dikelola oleh Perum Perhutani juga sudah sangat menurun. 1990).306). Kabupaten Banyuasin. Cepu. sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebesar lebih 3 kurang 2 juta m . Thailand. Muna dan Thailand). karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0.Desember 2008. Beberapa negara yang memproduksi kayu jati berdaur pendek adalah Bangladesh. Saat ini. kebutuhan kayu 3 jati pada tahun 2005 sebesar 2. sementara potensi sumber daya alam semakin menurun. Sumatera Selatan.073). Menurut Na'iem (2000). Wonogiri. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. Cepu.574). Kata kunci : Heritabilitas. 1.43 % bentuk batang serta 8. berturut-turut nomor 24 (3.4 juta m . Dengan tingkat kebutuhan bahan baku kayu yang demikian tinggi. Madiun. di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Variabel yang diukur adalah sifat atau karakter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman.7210). Muna dan Thailand). sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. Sebagaimana halnya jenis-jenis yang berasal dari hutan alam.40 % untuk volume. sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dengan tingkat kebutuhan. 179 . Menurut Iskak (2005). korelasi genetik serta peningkatan genetik masing-masing karakter pertumbuhan. B. Ghana. 3. heritabilitas.8 No. Adapun tujuan khususnya adalah untuk mengetahui variasi genetik antar klon. uji klon. Wono giri. PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan taraf hidup manusia telah menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku kayu. hanya 3 dapat dipenuhi sebesar 400 ribu m .67. 14 (1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. Juli 2011. Penelitian dilakukan pada bulan Januari . jati merupakan salah satu jenis yang dikembangkan sebagai hutan tanaman yang cukup luas di dunia dan telah ditanam pada lebih dari 36 negara tropis di Asia. Madiun.430) dan 11 (1.3. 35 (1.186 untuk karakter tinggi. Nigeria. 2. Variabel yang diukur Tanaman diukur pada umur 3 tahun. terlebih jenis jati yang sangat populer serta risetnya yang sudah sangat maju (Bhat. 180 . dengan menggunakan benih atau klon unggul hasil seleksi. India. 2004 dalam Bramasto dan Suita. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendukung upaya pengembangan perhutanan klon berdaur pendek dengan produktivitas tinggi. Sementara untuk kebutuhan kayu pertukangan maupun mebeler masih mengandalkan hutan alam. BAHAN DAN METODE A.01 (overestimate). Metode Penelitian 1. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. yang dalam perkembangannya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan industri kertas atau pulp. variasi genetik I. pembangunan dan pengembangan hutan tanaman sesungguhnya mempunyai prospek yang cerah. II. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai luasan hutan tanaman jati setelah India (ITTO.

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

3.Analisis data Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians, dengan model analisis varians (linear model) yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel and Torrie, 1991) : Yijkl = µ +Bi + Pj + Kk(Pj) + BK ik + Eijkl Keterangan : Yijkl = Pengamatan pohon pada blok ke i, Populasi ke j, klon ke k, individual ke l µ = Rerata umum Bi = Efek blok ke i Pj = Efek Populasi ke j Kk(Pj) = Efek klon ke k dalam populasi ke j BK ik = Efek interaksi blok ke i dan klon ke k Eijkl = Random error pada pengamatan ke ijkl Untuk mengetahui parameter genetik dilakukan melalui penaksiran terhadap nilai heritabilitas, perolehan genetik serta korelasi genetik antar sifat pertumbuhan. Nilai heritabilitas yang dihitung adalah nilai heritabilitas individu atau klon, yang ditaksir melalui komponen varians yang diperoleh dari hasil analisis varians. Wright (1976) dan Zobel dan Talbert (1984), menggunakan rumusan taksiran nilai heritabilitas dengan materi vegetatif (klon), sebagai berikut :
2

S = diferensial seleksi i = intensitas seleksi (Becker, 1992) p = standart deviasi phenotipe Analisis korelasi genetik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sifat tinggi dan diameter secara genetis, yang dilakukan deengan menggunakan rumus menurut Zobel and Talbert (1984) : k ( xy )

rG (
2 k(x)

x

2

k ( y)

)

Keterangan : rG = korelasi genetik 2 k(xy) = komponen kovarians untuk sifat x dan y 2 k(x) = komponen varians untuk sifat x 2 k(y) = komponen varians untuk sifat y Selanjutnya besarnya komponen kovarian untuk dua sifat tersebut ( x dan y) dapat dihitung dengan rumus (Fins et, al. 1982) yaitu sebagai berikut : 2 2 2 k(xy) = 0,5 ( k (x+y )kx ky) Keterangan :
2 k (x+y )

= komponen varians untuk sifat x dan y.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persen Hidup dan Pertumbuhan

h= H2k=

2 i

k 2
2 k

2

k

2

, dan
e

kb

2

k

(

2

kb

/ B)

(

2

e

/ NB )

Keterangan : h2i = Nilai heritabilitas individu (ramet) H2k = Nilai heritabilitas klon 2 k = Komponen varians klon 2 e = Komponen varians error 2 kb = komponen varians interaksi klon-blok B = Jumlah blok N = jumlah ramet per plot Untuk menduga besarnya perolehan genetik digunakan rumus menurut Zobel dan Talbert (1984) : G = H2 x S atau G = H2 x i x Keterangan : G = taksiran perolehan genetik H2 = heritabilitas
p

Daya adaptasi keseluruhan klon pada umur 3 tahun nampak menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai rerata persen hidup yaitu sebesar 84,52% serta pertumbuhan tanaman yang sangat baik dibandingkan dengan rerata pertumbuhan pada beberapa uji klon jati lainnya, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Perbedaan pertumbuhan selain disebabkan oleh perbedaan materi (klon), juga dapat disebabkan oleh perbedaan faktor lingkungan tempat tumbuh (edafis) yang terkait jenis dan kesuburan tanah, intensitas pemeliharaan serta faktor iklim (klimatis) terutama curah hujan. Menurut Sheldbourne (1972) dan Goddart (1979) dalam Zobel dan Talbert (1984), faktor lingkungan edafis memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pertumbuhan dibanding dengan faktor iklim atau klimatis.

181

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.3, Juli 2011, 179 - 186

Tabel (Table) 1. Rerata pertumbuhan uji klon jati di KHDTK Kemampo serta beberapa hasil uji klon pada lokasi lainnya (Average of growth clonal test of teak in KHDTK Kemampo and others location) Pertumbuhan (Growth) Umur (Age) Tinggi Diameter Sumber (Literature) Lokasi (location) Tahun (year) ( Height) (Diameter) (m) (cm) Sofyandan Syaiful Kemampo, Sumsel 3 7,76+1,75 7,41+1,36 (2008) Bojonegoro, Jawa Timur 5 6,20 6,10 Siswamartana dan Ngawi, Jawa Timur 5 6,00 8,60 Wibawa (2005) Ciamis, Jawa Barat 5 8,20 10,10 Cepu, Jawa Tengah 5 6,65 7,05 B. Variasi Genetik Hasil analisis varians, sebagaimana disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada sumber variasi klon, hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik antar klon. Adanya variasi genetik akan memberikan peluang dalam meningkatkan perolehan genetik melalui tindakan seleksi terhadap klon-klon terbaik. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa sumber variasi blok dan interaksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata bagi pertumbuhan. Hasil interaksi yang sangat nyata mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan tanaman bukan hasil dari kinerja klon atau genetik semata, namun merupakan hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungannya (Kramer & Kozlowski, 1979). Menurut Matheson dan Raymond (1984) penelitian yang menggunakan bahan atau materi vegetatif (klon) seringkali dihasilkan interaksi yang sangat kuat antara klon dengan faktor lingkungannya. Hal tersebut terjadi karena materi klon bersifat sangat reaktif terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh, terutama unsur phosfor, boron dan sulfur (Windsor dan Kelly, 1971 dalam Matheson dan Raymond, 1984). Dengan adanya variasi antar klon, maka terbuka peluang untuk memperoleh peningkatan genetik pada generasi berikutmya. Namun demikian seberapa besar peningkatan yang dapat diperoleh, sangat tergantung pada besarnya proporsi sumbangan variasi faktor genetik terhadap variasi total. Untuk mengetahui besarnya proporsi variasi yang disebabkan oleh faktor genetik serta faktor lainnya, perlu dilakukan analisis komponen varians. Hasil perhitungan taksiran komponen varians selengkapnya disajikan dalam Tabel 3. Besarnya taksiran komponen varians menggambarkan besarnya proporsi sumbangan (kontribusi) setiap sumber variasi terhadap variasi total.

Tabel (Table) 2. Hasil analisis varian pertumbuhan uji klon jati pada umur 3 tahun (analysis of variance for growth on 3 years measurement in clonal test of teak)
Umur (Age) Sumber Variasi (Source of variance) Blok Populasi Klon Klon x Blok Error Derajat Bebas (df) 3 5 29 101 206 Nilai rerata kuadrat tengah (Mean square) Tinggi (Height ) 14,5295** 1,3971ns 2,7896** 2,2789** 1,2016 Diameter (Diameter) 27,3177** 1,4923 ns 2,5148** 2,1296** 1,2969 Volume (Volume) 0,001308** 0,000135** 0,000165** 0,000112 Bentuk Batang (Stem form) 0,7911 ns 3,0574 * 1,7826** 0,8293**

3 Tahun (3 Years)

Keterangan (Remarks) : * = berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Significant at 0,05 level) **= berbeda nyata pada taraf uji 0,01 (Significant at 0,01 level) ns = berbeda tidak nyata (Non-significant)

182

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

Tabel (Table) 3. Taksiran komponen varians dan proporsi sumbangan (%) sumber variasi terhadap variasi total pada umur 3 tahun (The estimated of proportion and variance component of source of variance on 3 years)
Sumber Variasi (Source of variance) Umur
2 b 2 p 2 k(sb) 2 kb 2 e 2 total

Karakter tinggi (Height) Tkv 0,1408 -0,0326 0,0448 0,4441 1,2016 1,7988 % 7,83 -1,80 2,49 24,69 66,80 100,00

Karakter diameter (Diameter) Tkv 0,2914 -0,0240 0,0337 0,3435 1,2960 1,9410 % 15,01 -1,24 1,73 17,69 66,79 99,98

Kombinasi tinggi x diameter (Combination of height x diameter) Tkv % 0,8465 -0,1431 0,1577 1,5330 4,1300 6,5238 12,97 -2,19 2,42 23,50 63,30 100,00

Bentuk batang (stem form) Tkv 0,0129 0,0 0,1218 0,3929 0,8293 1,3310 % 0,97 0,0 9,15 29,52 62,30 100,00

Keterangan (Remarks) : Tkv = taksiran komponen varians (variances component estimate), 2 = komponen varian, b = blok (block), p = populasi (population), k = klon (clon), kb = interkasi klon x blok (interaction clon x block), e = error, % = persentase dari total variasi (presntation of variation total)

Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen varians klon (komponen varians genetik) memberikan sumbangan (kontribusi) sangat kecil terhadap variasi total, yaitu masing-masing sebesar 2,49 %, 1,73 % dan 9,15 % untuk karakter tinggi, diameter dan bentuk batang. Hasil ini menggambaran bahwa pada umur 3 tahun, pengaruh faktor genetik terhadap pertumbuhan relatif masih sangat kecil. Sementara komponen varians interaksi masingmasing sebesar 24,69 %, 17,50 % dan 23,50 untuk karakter tinggi, diameter dan kombinasi kedua sifat tersebut. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pada umur 3 tahun pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan tanaman masih relatif sangat kecil. C. Heritabilitas Heritabilitas merupakan parameter yang mengambarkan seberapa besar sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya dan Tabel (Table) 4.

merupakan suatu hal sangat penting, karena terkait erat dengan perolehan genetik serta strategi pemuliaan pohon dalam memperoleh peningkatan genetik (Zobel dan Talbert, 1984). Heritabilitas yang tinggi menunjukkan adanya peluang perolehan genetik yang besar. Besarnya nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai-nilai komponen varians dari masing-masing karakter, selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Dari hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa untuk semua variabel/karekter yang diukur, secara umum dapat dikatakan mepunyai nilai heritabilitas yang relatif rendah, baik heritabilitas individu maupun famili. Menurut Hardiyanto (1994) dalam Leksono (1994) nilai heritabilitas untuk famili (klon) sebesar 0,40 - 0,60 dikategorikan sedang, kurang dari 0,40 adalah rendah dan lebih dari 0,60 termasuk dalam kategori tinggi.

Taksiran nilai heritabilitas untuk semua karakter pada umur 3 tahun (The estimated of heritability of all character's on 3 year's).
Tinggi (Height) h2i h2k 0,03 0,16 Karakter (Character) Diameter Volume (Diameter) (Volume) h2i h2i h2k h2k 0,02 0,13 0,05 0,30 Bentuk batang (Stem form) h2i h2k 0,09 0,39

Umur (Age)

3 Tahun (3 years)

Keterangan (Remarks) : h2i =heritabilitas individu (Individual heritability) 2 h k =heritabilitas klon (Clones heritability)

183

Hasil di atas menunjukkan bahwa perolehan genetik untuk karakter tinggi (0.81 3. Hal lain yang dapat menyebabkan rendahnya heritabilitas menurut Kuntiyati (1995) dalam Wibowo (2002) adalah karena sifat-sifat kuantitatif (tinggi. maka nilai heritabilitas akan semakin besar.14 0.28 %) dan diameter (0.89 0.55-8. 1.186 Rendahnya nilai heritabilitas pada uji klon ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. antara lain karena rendahnya nilai komponen varians 2 genetik ( k).43 %) dan volume (3. lebar) banyak dikendalikan oleh gen minor yang porsi pengaruhnya sangat kecil dan berbeda-beda. Dalam penelitian ini perolehan genetik dihitung dengan asumsi bahwa dari 35 klon yang diuji. telah meningkatkan nilai heritabilitas yang signifikan. Menurut Shelbourne (1972) bahwa pengaruh interaksi yang 2 menghasilkan komponen varians ( kb) yang jauh lebih besar daripada komponen varians genetiknya.527.981.40 3.044 4.03-3. karena pada kondisi tersebut nilai heritabilitasnya menjadi sangat rendah. dapat menjadi masalah serius dalam perolehan genetiknya.028 0. Perolehan Genetik Taksiran perolehan genetik merupakan suatu nilai kuantitatif dari respon populasi atas adanya seleksi pada populasi tersebut.16 0. Dengan intensitas seleksi tersebut. dibanding dengan nilai komponen 2 varians interaksi ( kb).764 (m) Jumlah klon (Number of clone) 5 7 10 5 7 10 5 7 10 5 7 10 Perolehan genetik (%) (Genetic gain) 1. Sementara menurut Russel dan Libby (1986). Hasil penelitian yang dilaporkan Russel dan Libby (1986) menunjukkan bahwa penambahan jumlah unit percobaan pada uji klon Pinus radiata.55 Peningkatan sifat (Improve of character) 7. diperoleh hasil perhitungan taksiran perolehan genetik sebagaimana disajikan pada Tabel 5. Seberapa besar perolehan genetik dapat dicapai. South Sumatera) Karakter (Character) Tinggi (height) Rerata (Average) 7.47 (cm) 4. 179 .412 (cm) Bentuk batang (stem form) Volume (volume) 3.03 8.160 sesuai tabel intensitas seleksi menurut Becker (1992).43 3. D.40 6. sangat erat kaitannya dengan nilai heritabilitas masingmasing karakter atau sifat.16 %).360 dan 1. relatif rendah dibanding bentuk batang (3. maka perolehan genetik juga relatif rendah.025 m3/phn 184 . akan diseleksi sebesar 30 % (10 klon).3. Perolehan genetik juga dipengaruhi oleh intensitas seleksi.8 No. 20 % (7 klon) dan 15 % (5 klon).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. jumlah unit percobaan (ramet per klon) serta jumlah replikasi (blok) juga sangat berpengaruh terhadap nilai heritabilitas. begitu pula Tabel (Table) 5.00 3. dapat menyebabkan nilai heritabilitasnya menjadi rendah. di KHDTK Kemampo. dengan nilai intensitas seleksi masing-masing sebesar 1.86 (m) 7. sehingga sifat-sifat tersebut lebih mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Dalam uji klon ini jumlah unit percobaan yang relatif sedikit yaitu 3 treeplot dengan 4 blok sebagai ulangan.84 (m) 7.49 (cm) 7.0265 m3/phn 0.043 4.0271 m3/phn 0.28 1. Taksiran perolehan genetik dan peningkatan sifat pada Uji Klon Jati pada umur 36 bulan.98 1. yaitu hampir 4 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik (klon) untuk karakter tinggi dan 5 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik untuk karakter diameternya (Tabel 3). Taksiran nilai heritabilitas yang tinggi akan menghasilkan perolehan genetik yang tinggi (besar). Sumsel (The estimated of genetic gain on clonal test of teak at KHDTK Kemapo. panjang. semakin banyak jumlah unit percobaan dan replikasi.91 0.85 (m) 7. Juli 2011.0258 m3/phn Diameter (diameter) 7.40 %). Hal ini disebabkan karena nilai komponen varians bentuk batang yang cukup besar.48 (cm) 7.81-1. jika nilai heritabilitasnya rendah.

Dengan demikian pelaksanaan seleksi akan menjadi lebih efisien. dengan harapan secara tidak langsung akan dapat memperbaiki karakter yang lainnya (Zobel dan Talbert. 185 . Sumatera Selatan Agus Sofyan. Koefisien korelasi genetik menggambarkan seberapa besar sesungguhnya hubungan keeratan antar karakter secara genetik. sementara untuk karakter tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0. Hasil perhitungan korelasi genetik antar karakter (diameter dan tinggi) selengkapnya disajikan pada Tabel 6. South Sumatera) Umur (Age) Tinggi (Height) 3 Tahun (3 Years ) Diameter (Diameter) Karakter/sifat (Character) Tinggi (Height) - Bentuk batang (stem form) 0. 2005). 2.67. saat kinerja genetik tanaman sudah relatif stabil. 1.01 ( overestimate ). E. hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya rasio antara komponen varians genetik dengan komponen varians interaksinya (Matheson dan Raymond. maka seleksi cukup didasarkan pada satu karakter yaitu diameter.16 dan 0. Korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk bantang menunjukkan hubungan korelasi yang cukup kuat.1984 .67 1. maka masih perlu untuk dikaji hubungan korelasinya dalam beberapa tahun ke depan saat umur tanaman relatif lebih tua. namun sumbangan variasinya terhadap total variasi relatif sangat rendah yaitu 2.01 merupakan nilai yang bersifat overestimate. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa apabila hendak melakukan seleksi. dengan demikian peluang perolehan genetik yang lebih besar tetap bisa diharapkan. yaitu sebesar 0. Korelasi genetik antar sifat pada uji klon jati umur 3 tahun di KHDTK Kemampo. Sapto Indrioko halnya dengan nilai heritabilitasnya yang jauh lebih besar yaitu 0. karena korelasi genetik yang diperoleh dari tanaman yang masih sangat muda dimana kinerja genetik masih relatif labil (belum cukup stabil). Korelasi Genetik Korelasi genetik mempunyai arti yang sangat penting dalam program pemuliaan pohon. dimana pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.73 % diameter dan 9. Mengingat bahwa umur tanaman masih relatif sangat muda yaitu 3 tahun. terutama untuk mengembangkan dua karakter atau sifat yang berbeda dengan berdasarkan pada penerapan seleksi atas satu karakter. Isik dan Kleinschmidt. maka kemungkinan terjadinya perubahan pada koefisien komponen varians genetik serta heritabilitasnya pada saat umur tanaman bertambah (lebih tua) masih sangat dimungkinkan dapat berubah.13 (Tabel 4). Tabel (Table) 6. Korelasi genetik antar sifat tinggi dengan diameter sebesar 1. karena dengan hanya memprioritaskan pada karakter diameter sesungguhnya akan diikuti dengan perbaikan karakter tinggi dan bentuk batangnya.01 0. Peningkatan genetik juga menjadi semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat intensitas seleksi (Tabel 5). Korelasi genetik antara karakter tinggi dengan diameter sebesar 1.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. 1984). Sementara korelasi antar karakter diameter dengan bentuk batang sebesar 0.39 untuk volume. Sumatera Selatan (genetic correlation on clonal test of teak at KHDTK Kemampo.88 IV.88.Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. Namun demikian untuk uji klon ini.15 % untuk karakter bentuk batang.30 untuk bentuk batang dan 0. Mohammad Na'iem.49 %. maka peluang peningkatan genetik yang dapat diperoleh akan menjadi lebih besar. Hal tersebut sangat penting guna diperolehan peningkatan genetik sebagaimana yang diharapkan. Dari hasil tersebut nampak bahwa dengan nilai komponen varians genetik serta heritabilitas yang lebih besar. baik dari sisi anggaran maupun waktu. untuk karakter tinggi. Hasil ini menggambarkan bahwa karakter diameter mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap karakter tinggi maupun bentuk batang. KESIMPULAN 1. Dari 35 klon yang diuji terdapat variasi genetik antar klon.

. Quality Timber Product of Teak From Sustainable Forest Management. 1979. Kramer. Isik. dan Syaiful. Proceeding of The International Conference on Quality Timber of Teak From Sustainable Forest Management. 1984. Steel. 1986. 2005. S. dan Libby. Na'iem. 2005. Similarties and effectiveness of tes eninvironments in selecting and deploying desirable genotypes. Pullman. Variasi Pertumbuhan Tanaman Jati dari Berbagai Klon di Kebun Percobaan Rumpin. Fifth Edition. A. Jakarta. 2005. The Impact of Genotype x Environment Interactions on Australian Pinus radiata Breeding Program.G. Russell. Balai Penelitian Kehutanan Palembang (tidak dipubikasikan). 1984. dan Mansur.67 untuk dan 0.T. Yogjakarta.16 % untuk karakter tinggi dan diameter. London. M. 186 . Siregar. Yogjakarta. J. dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. 1992. Perum PERHUTANI. P u s a t L i t b a n g H u t a n Ta n a m a n . Vol. W. A. M.J and T. 2002. Canadian Juornal of Forestry Research. Matheson. John Wiley and Sons. P. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani. Tema Menjawab Tantangan Pengembangan Jati Rakyat dan Pemasarannya. B. K. W. dan C. 1990.J. Y. Wibowo. Clonal Testing Efficiency : The Trade-off Between Clone Tested and Ramet per Clone.J. Yogjakarta. Prosiding Seminar Nasinal. Produktivitas Tegakan Jati JPP Intensif sampai dengan Umur 20 Tahun ke Depan. 3. 2000. R. C. Variasi Genetik Produksi Getah Pinus merkusii Jungh et. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Sanfransisco.P. A. International Forestry Review. Torrie. Bhat. Dean. C. Vol V. Cotterill.28 % dan 1. PT. Successful Tree Breeding With Index Selection. Tokyo. dan Wibawa. Shelbourne. Peechi. Juli 2011. 2002. 2005. 1991. Wanagama. IUFRO Genetics-Sabrao Joint Symposia. Siswamartana. CSIRO Division of Forestry and Forest Product. I. 2004. I. tidak dipublikasikan. Yogyakarta.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Tesis.8 No. Buletin Penelitian Pusbanghut. Early Performance Clonal Test of Teak in Perum Perhutani. A. Bramasto. B. India 2-5 Desember 2003.Z. dan Raymond. Prinsip dan Prosedur Statistika. Makalah disampaikan dalam pertemuan Forum Komunikasi Jati. P r o c . C.Australia.A. Academic Press.de Vriese. DAFTAR PUSTAKA Becker. 1986. Zobel. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat ini. New York. Kozlowsky.A. Pemeliharaan Jati (Tectona grandis) di KHDTK Kemampo.D dan J. A.J. J. 3. Posisi Benih Unggul Versus Silvikultur Intensif Dalam Pembangunan Hutan Rakyat Jati. Talbert. I. 2000. 2005. Genotype-environment Interaction : Its Study and its Implications i n F o re s t r y I m p ro v e m e n t . 2004. New York. Iskak. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. 1972. J. 2003.M. Taksiran peningkatan genetik yang diperoleh adalah sebesar 1. Vol 7 (5). 2005. P. Dengan IPTEK Membangun Hutan Tanaman Demi Kemakmuran Bangsa dan Terciptanya Kelestarian Lingkungann. USA. Sofyan. 16. 179 .43 % dan 8.H. Gramedia Pustaka Utama.H. and. Laporan Penelitian. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia. K. Physiology of Woody Plant. Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu. Leksono. Academic Enterprise.88. E. Evaluasi Uji Klon Jati Pada Umur 15 bulan. Seperempat Abad Pemuliaan Jati Perum Perhutani. 1994. masing-masing sebesar 0. dan Kleinschmit. Manual of Quantitative Genetics. Applied Forest Tree Improvement. Quality Concerns of Sustainable Teak Wood Chain. dan Suita.3. No 03.40 % untuk bentuk batang dan volume.186 sementara korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk batang serta diameter dengan bentuk batang. A. Theor Appl Genet (2005) 110 : 311-322. 2008.

shoot dry weight of 643. Bostang Radjagukguk .id *Penulis untuk korespondensi Naskah masuk : 26 Oktober 2010.rotundatus Miq are 324.lowii Hook seedlings 14 weeksof age after weaning include: height.01 % number of leaves. 42. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. rotundatus Miq and D.83% and 851.50 % number of leaves. 630. fertilized of 100 ppm SP 36 and inoculated with Glomus sp 3 resulted in the best water table is 20 cm in C.00% shoot dry weight and P uptake of 835. Experiments of water table.67% diameter. lowii Hook seedling in the nursery. It was concluded that inoculation with the AMF type of Glomus sp 3 combined with the provision of P fertilizer dosage of 100 ppm SP 36 and planting on water table level 20 cm and 10 cm can be used widely to improve growth of C.KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil Burhanuddin . Yani Kompleks Untan Benua Melayu Darat Pontianak Selatan 2 Fakultas Pertanian. diameter.61 %.rotundatus Miq and D. diameter. dan Sumardi Fakultas Kehutanan. In the water table 20 cm increase in growth of C. A. P fertilization and inoculation with AMF on the growth of C. berat kering pucuk 187 . jumlah daun 437. berat kering pucuk 630.80 %.rotundatus Miq and D.01 %.co.Water table. diameter 366.lowii Hook seedlings. 136.86% high. jumlah daun. 366. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm.56% P uptake. jumlah daun 42. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* 3 Fakultas Kehutanan.rotundatus Miq and D.80%.61% high. For D.00 % dan serapan P 835. Universitas Tanjungpura Pontianak Jl. Siti Kabirun .50 %. Jend. and P uptake of plants after harvest. 437.05 %. peat.lowii Hook seedlings. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. Untuk jelutung tinggi 107.lowii Hook are 107.67 %. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. is Gadjah Mada University in Yogyakarta for 14 weeks.05% diameter. The goal of research purpose wa to determine the effect of water table. Nursery experiments were conducted using Completely Randomized Factorial Design with three replications. Naskah diterima : 31 Mei 2011 1 1* 2 2 3 ABSTRACT A study on the influence of water table on the growth Combretocarpus rotundatus Miq and Dyera lowii Hook inoculation with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and fertilization SP 36 in peat soils was conducted in greenhouse Soil Sience Laboratory Faculty of Agriculture. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. number of leaves. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. diameter 136. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* *Kampus UGM Bulak Sumur . Glomus sp 3 ABSTRAK Penelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. Observations made on C. shoot dry weight.Yogyakarta 55281 E-mail : hans_borneo@yahoo. Keywords: ex-PLG.86 %. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324.

2007). (2002) memaparkan perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah di blok C ex-PLG. 1996. Kata kunci : ex-PLG. Menurut Limin et al. (2008) perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah sebelum dan sesudah pembendungan kanal di blok C ex-PLG. Sebagaimana yang dijelaskan Saito et al. Pembukaan lahan ini disertai dengan pembuatan kanal. bekerjasama dengan masyarakat Uni Eropa melakukan restorasi hidrologi dengan pembuatan dam atau pembendungan kanal-kanal yang mengering di blok C Kelampangan. Garcia & Mendoza.83 % dan serapan P 851. mengurangi kebakaran dan dalam jangka panjang dapat memulihkan hutan rawa gambut secara alami.50 cm yang seharusnya pada kondisi normal pada musim penghujan bisa tergenang dengan ketinggian 100 cm dari atas permukaan tanah.lowii Hook) di persemaian. Shorea balangeran (Turjaman et al. perlu diusahakan suatu teknologi alternatif yang tepat yaitu dengan pupuk hayati (biofertilizer). di musim penghujan saja jeluk muka air tanah bisa mencapai 5 cm . 2007). 2004).457. Pada perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook). PENDAHULUAN Pada tahun 1995 telah dilakukan pembukaan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG atau Mega Rice ProjectMRP) yang luas totalnya 1. (2008) meskipun restorasi hidrologi dengan pembendungan kanal tidak menunjukkan perubahan jeluk muka air tanah yang signifikan. (3) pH tanah asam.7 km dengan berbagai ukuran lebar dan kedalaman. sedangkan pada musim hujan mencapai 100 cm dari atas permukaan tanah. Mendoza et al. ramin (Muin.100 hektar. Glomus sp 3. bungur. (2002) bahwa jenis perepat.56 %. (2008) jeluk muka air tanah gambut pada musim kemarau bisa mencapai 40 cm di bawah permukaan. Takahashi et al. tetapi pembendungan kanal sangat berperan penting dalam proses rehabilitasi lahan gambut seperti mengurangi subsiden. 2007). 2007). Cardoso et al. Untuk mengatasi kendalakendala tersebut. pada bulan-bulan tertentu terjadi perubahan jeluk muka air tanah yang meningkat. mengurangi emisi karbon. 2008. Cornejo et al.3. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. kegiatan pemulihan ini akan selalu berhadapan dengan masalah yang disebabkan oleh pembukaan lahan gambut tersebut diantaranya: (1) permukaan air tanah menyusut. 2003). yaitu pulai. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Namun demikian. gambut. 2008. telah terjadi kerusakan status hidrologi kawasan secara drastis yaitu terjadi pengatusan sangat berlebihan serta rendahnya retensi air dan jeluk muka air tanah.8 No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Aquilaria microcarpa (Santoso et al.196 643. Penelitian yang mengungkap peranan JMA dalam meningkatkan pertumbuhan telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman hutan. Akibat pembuatan kanal dengan total panjang 2. Perepat adalah salah satu jenis asli hutan rawa gambut yang dapat tumbuh baik pada kondisi terbuka. 1999). jati (Faridah. Menurut Ritzema et al. Acacia crassicarpa (Pidjath et al. dan sungkai (Martin et al. Leigh et al. (2) terjadi kekeringan. seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2005 (sebelum pembendungan pada bulan Nopember 2004 jeluk muka air tanah mencapai 112 cm. Pada tahun 2005 Centre for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangkaraya. gerunggang (Cratoxylon arborescen) dan asam- 188 . penelitian JMA ini belum banyak dilakukan. maka dipandang sangat penting untuk dilakukan perbaikan melalui suatu upaya konservasi yaitu dengan melakukan pemulihan pada lahan gambut tersebut dengan campur tangan manusia. mangium. 2008. Juli 2011. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. 187 . Pupuk hayati telah berhasil dikembangkan di negara-negara maju sebagai pupuk yang potensial dan aman bagi lingkungan. 2009). setelah pembendungan pada bulan Agustus 2005 jeluk muka air tanah hanya 9 cm). salah satu diantaranya adalah Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) (Gumbira-Said. (4) miskin unsur hara dan (5) aktivitas mikroorganisme rendah. Water table I. dan Vitex cofassus (Prayudyaningsih & Santoso. Selanjutnya menurut Ritzema et al.008. 2005.

di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggunakan.7H2O. Demikian juga pada tanaman jelutung yang dipupuk dengan batuan fosfat takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah yang terbaik meningkatkan pertumbuhan jelutung pada media gambut (Burhanuddin. 35 ppm KH2PO4. Hasil penelitian Burhanuddin et al. berat kering pucuk (gram). 70 ppm K2SO4. 2.5H2O.5 kg yang telah diisi media gambut steril. D. lowii) rawa yang berasal dari tegakan alam blok C exPLG Kalampangan Palangkaraya.7H2O.lowii seedling). Tanah dengan berbagai jeluk muka air tanah tersebut dipupuk dengan 100 gram SP 36 dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3. berat kering pucuk dan serapan hara P tanaman dianalisis menurut analisis keragaman (ANOVA) rancangan acak kelompok menggunakan metoda SAS X3. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis perepat. jumlah daun. Setelah semai berumur satu bulan. jumlah daun. 22 ppm CuSO4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah.2H2O. 2001). rotundatus) dan jelutung (D. JMAjenis Glomus sp 3.33 ppm CoSO4. a). 5 ppm ZnSO4. benih perepat (C. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data yang dikumpulkan terdiri dari tinggi (cm). di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. diameter pangkal batang (mm). A.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. 0. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa tanaman perepat yang dipupuk dengan pupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah takaran pupuk terbaik meningkatkan pertumbuhan semai perepat pada media gambut (Buranuddin. tahan kekeringan dan tahan terhadap suhu tanah yang tinggi. Hasil Pertumbuhan semai perepat dan jelutung dinilai berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi. Siti Kabirun. dan serapan hara P tanaman. yang cocok untuk ditanam pada lahan gambut yang akan dikonservasi. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung pada tanah gambut. Selanjutnya semai ditanam dalam kantong plastik hitam ukuran 2. Pupuk basal diberikan dalam bentuk larutan yang terdiri dari 70 ppm NH4NO3. C. diameter. diameter. dan 20 ppm MgSO4. Jelutung hanya akan dimanfaatkan dari hasil ikutannya saja berupa getah jelutung. b). Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan perlakuan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok ( 2 x 7 ) dengan perlakuan jenis pohon dan jeluk muka air tanah (water table) dan ulangan sebanyak 3 kali. 0.7H2O. II. Jenis ini merupakan jenis pohon dwiguna. (2010) membuktikan bahwa jenis JMA Glomus sp 3 yang terbaik meningkatakan pertumbuhan semai perepat dari beberapa jenis JMA yang diuji pada media gambut. dan Sumardi asam (Mangifera sp) dapat tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka. dilakukan penyapihan. 4 dan 5. Tanaman ditumbuhkan selama 14 minggu setelah penyapihan. BAHAN DAN METODE 40 cm dengan interval 10 cm. 3. gerunggang dan asam-asam merupakan jenis cepat tumbuh di hutan rawa gambut (Saito et al. Hasil analisis keragaman pengaruh faktor perlakuan disajikan dalam Tabel 1. Bostang Radjagukguk.20 ppm NaMoO4. 2011). Jeluk muka air tanah (water table) diatur bervariasi dari 0 cm sampai 189 . 70 ppm CaCl2. rotundatus and D. III. Bahan Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2009 Agustus 2009. 2002). Pupuk Sp 36 dan c). berat kering pucuk dan serapan P tanaman. Analisis Data Data tinggi. Selain itu disertakan pula tanah dalam kondisi tergenang air 1 cm tanpa dipupuk dan tidak diinokulasi JMA sebagai kontrol.7H2O 10 ppm MnSO4. Tahapan PelaksanaanPenelitian Benih perepat dan jelutung dikecambahkan dalam bak kecambah yang berisi media gambut yang sudah steril. B. Tabel 1. jumlah daun (helai). Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C. Jelutung juga merupakan jenis asli yang tumbuh di hutan rawa gambut.

lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah (Degrees of (Sum of Squares) (Mean Squares) freedom) 34.21 1 98. tinggi.43tn 53.25 2 0.3.37 1 4172.64* 56. 190 .2567 0.0001 0.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 13.09 9223.0100 0.85 2 1303. diameter. rotundatus and D.196 Tabel (Table)1.57 6 220.05 6 18. Secara umum.37 695. rotundatus and D.53 Kuadrat tengah (Mean Squares) 9.65 1323. 0 cm.0001 0.57* 0.95 6 24.06 0.21 16.94* 8.62 0. jumlah daun.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.36 365. berat kering pucuk dan serapan P tanaman. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for diameter C.0001 0.17 6 2192.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3. 187 .19 6 321.4893 0.22 Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 18.51* 11. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C.36 6 9. rotundatus and D.21* 29.34 3.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 26.61 26 41 15927.71 1303.68 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) Tabel (Table) 3.0001 0.71 1 270.54* Pr > F 0.11* 9.lowii seedling) Sumber keragaman (Source of variance) Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 12.47 26 41 4954.0001 0.14 Kuadrat tengah (Mean Squares) 1.60* 45. Tinggi semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 10 cm. Juli 2011.57 F hitung (F cale) 1. Peningkatan tinggi semai perepat pada jeluk muka air tanah 10 cm.8 No.59 1623.36 633.25 26 41 129. 4 dan 5 memperlihatkan bahwa perlakuan water table dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi dengan jenis JMA mem-berikan pengaruh yang sangat nyata terhadap semua parameter yang diuji yaitu.37 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Pada Tabel 1.61* Pr > F 0.92 69.0001 0. 2.0001 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 2.36 12.18 2 9223.06* Pr > F 0. 3.36 F hitung (F cale) 0. 40 cm. 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.35 F hitung (F cale) 4.73tn 745. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves C. Perbedaan tanggap tinggi semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 1. perlakuan water table dengan pemberian pupuk SP 36 dan inokulasi jenis JMA mempengaruhi pertumbuhan semai perepat dan jelutung di persemaian.

162.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3044.lowii seedling) 191 .0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 45.27 %.75 2 224. Siti Kabirun. Bostang Radjagukguk.41* 11. dan 107.02 52. dan Sumardi 40 cm. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (Effect of water table.61 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.83 %. 182.68 6 2295.0011 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tin gg i s em a i ( cm ) 41 12266.0001 0.05 6 216.53 732.53 1 4392. dan 324.09 422.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. kontrol. 0 cm.86 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.59 6 2533.67 %. Tinggi semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm.rotundatus and D.31* 7.02 1 314.0001 0.35 %. 0 cm.13* 8.75 %. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 77.0001 0. 83. 0 cm. Hasil Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight C.15* Pr > F 0.62 F hitung (F cale) 2.08 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 5. 237. 10 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman Tabel (Table) 4.40 Sumber keragaman Kuadrat tengah (Mean Squares) 11. Pengaruh water table. 30 cm.34 36.04 4. Peningkatan tinggi semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm.26 6 120.22 %. rotundatus and D.79* Pr > F 0.05) Gambar (Figure) 1.85 26 Kuadrat tengah (Mean Squares) 3044.67 a b c d cd f e i fgh f fgh hi Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks):Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 10 cm.61 %.0001 0. 102.31 26 41 897. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake C.1052 0.93* 5.lowii seedling) Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 22. SP 36 fertilization and AMF inoculation for height on C.46tn 48.28 F hitung (F cale) 37. rotundatus and D. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 132.37 224.

187 .67 %.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.13 %. 20 cm. Peningkatan diameter semai perepat pada jeluk muka air tanah 40 cm. Pengaruh water table.196 Diameter semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 40 cm. 136. dan 10 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.67 %.05 %. dan 186.05) Gambar (Figure) 3. 0 cm30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 2). Juli 2011.67 % dibandingkan dengan Dia m e te r b at a ng (m m ) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 tanaman kontrol. 244. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (Effect of water table. Peningkatan diameter semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm. 311. 10 cm.05 %. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 166. Berat kering pucuk semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol. 20 cm.76 % dan 630.8 No.33 % dan 366.lowii seedling) Perbedaan tanggap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 4.3.26 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. 0 cm.05) Gambar (Figure) 2. 188. 30 cm. Peningkatan berat kering pucuk semai perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturut-turut lebih besar 534. 136.67 %. Pengaruh water table.rotundatus and D. Diameter semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. 10 cm. dan 10 cm berturut-turut lebih besar 93.00 % 192 . pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (Effect of water table. a ab bc cde ef fg a bcd bc de g gh Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks) : Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 0 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves on C. 0 cm. SP 36 fertilization and AMF inoculation 50 40 30 20 10 0 Kontrol 0 10 20 30 40 cdecde bcd cde bc cde cde cde a Jumlah daun (he lai) a b cde Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remarks): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.

Peningkatan serapan P tanaman perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturutturut sebesar 761.83 20 a 15 10 b 5 0 Kontrol 0 10 Water table Perepat Jelutung 20 30 40 bc c bc bc b bc bc b c a Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.lowii seedling) Serapan P tanaman perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 5).rotundatus and D. Bostang Radjagukguk. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (Effect of water table.05). Siti Kabirun. Pengaruh water table.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin.05) Gambar (Figure) 4.56 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake on C. Gambar (Figure) 5. SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight on C. Peningkatan berat kering pucuk semai jelutung pada jeluk muka air tanah 20 cm sebesar 643. dan Sumardi dibandingkan dengan tanaman kontrol. B.lowii seedling) Serapan P (mg/tan) 60 50 40 30 20 10 0 b bcd bcd cd 0 10 20 30 b bcd bcd bcd bcd 40 b a a Kontrol Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. (2008) jenis JMA endemik 193 . Pengaruh water table. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semai perepat dan jelutung meningkat pertumbuhannya dengan pengatuan water table dan pemupukan SP 36 takaran 100 ppm yang diinokulasi dengan jenis JMA. Serapan P tanaman jelutung tidak berbeda nyata. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepa dan jelutung (Effect of water table. Berat kering pucuk semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 20 cm B e ra t ke rin g p u cu k (g ) dibandingkan dengan tanaman kontrol. Hal ini diduga adanya asosiasi JMA endemik pada tanaman lokal gambut dapat meningkatkan pertumbuhan perepat dan jelutung. akan tetapi pada jeluk muka air tanah 10 cm cenderung meningkat sebesar 851. Hal ini sesuai dengan pendapat Maki et al.19 % dan 835.rotundatus and D.80 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.

Jurnal BELIAN. 1999). karena sifat tanah gambut yang tidak bisa balik (irreversible) akan menyebabkan lapisan atas tanah gambut akan hanyut terbawa air yang menyebabkan cepatnya penurunan tanah gambut (subsidence). Campnosperma auriculata. Saran Secara umum dapat disarankan bahwa. dan tergenang 1 cm. Cardoso. 2009. JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm dapat dimanfaatkan secara luas meningkatkan bibit perepat (C. 1999).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 187 . dan Palaquium leiocarpum. Hal ini sesuai dengan sifat alami dari tanaman jelutung yang tumbuh baik pada kondisi dibawah naungan dan merupakan jenis yang masuk pada tahap sesudah jenis-jenis dalam kelompok tipe hutan riverine forest (Page et al. MA. KESIMPULAN DAN SARAN A. dan yang terbaik pada jeluk muka air tanah 10 cm. 10 cm. Effect of AMF Inoculation on the Growth of Combretocarpus rotundatus Miq on a Peat Soil from Central Kalimantan (For Restoration Ex-Mega Rice Project Central Kalimantan). P. Jurnal VOKASI. Kajian Takaran Pupuk SP 36 pada Perepat ( Combretocarpus rotundatus Miq) dengan Inokulasi Mikoriza di Tanah Gambut. Shorea teysmanniana. R. & Nogueira. (1995). VOL. dan 10 cm. Juli 2011. Jika lahan gambut akan ditanami dengan tanaman jelutung dapat dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. tipe hutan transition forest. LC. Hasil penelitian jeluk muka air tanah juga dapat digunakan untuk pemanfaatan lahan gambut ex-PLG secara optimal.. 43(7): 887-892. Pesquisa Agropecuaria Brasileira. namun jeluk muka air tanah terbaik untuk tanaman perepat adalah jeluk muka air tanah 20 cm. serta yang satu kelompok dengan jelutung isalnya Shorea balangreran.15 (1): 63-71. EEP. TMC. Castillo.. Burhanuddin. 2011. & Sumardi. 10 cm dan tergenang 1 cm di lapangan.. Untuk tanaman jelutung disarankan ditanamn pada jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm.4. Dengan mengetahui jeluk muka air tanah yang sesuai untuk tanaman perepat dan jelutung dapat dimanfaatkan untuk memulihkan tanah gambut dengan jenis-jenis lain yang satu kelompok dengan perepat misalnya Cratoxylon arborescens. Guna pemulihan lahan gambut khususnya EX-PLG Palangkaraya disarankan untuk memanfaatkan pupuk hayati JMA jenis Glomus sp 3 diinokulasikan pada perepat dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm atau 30 cm di lapanagn. 2010. Jurnal Biota Vol.. 1. kemudian diikuti jeluk muka air tanah 30 cm. B. C.. 30 cm. Caetano. dan tipe hutan tall interior forest. lahan gambut ex-PLG bisa ditanami dengan tanaman campuran tanaman pertanian. 2011. 2008.lowii Hook) di persemaian. Hasil penelitian membuktikan bahwa jika akan memulihkan lahan gambut dengan melakukan penanaman dengan tanaman perepat bisa dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 40 cm. Kesimpulan Hasil percobaan membuktikan bahwa pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3 membuktikan jeluk muka air tanah terbaik 20 cm. (1999) jenis jelutung ada pada tipe hutan mixed swamp forest..8 No. dan Page et al. JA.. de Lemos. 7 (2): 166-178. Borie. VOL. DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin. Kabirun.3.196 setempat dapat memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal pada tanah sulfat masam pH 3. Burhanuddin. Rubio.. Radjagukguk.. B. rotundatus Miq) dan jelutung (D. Mycorrhizal Symbioses with Jelutung (Dyera lowii Hook) under Increasing Phosphate Rock Levels in Peat Soil. Azeon. 3. Mycorrhizal Effectiveness on Wheat Nutrient Acquisition in an Acidic Soil from Southern Chile as Affected by 194 . 2. dan Gonystylus bancanus (Page et al. dos Santos. 20 cm. R. Cornejo. Mycorrhizal Dependency of Mangaba Tree under Increaing Phosphorus Levels. 10 (2): 135144. yaitu dengan mengatur jeluk muka air tanah 30 cm untuk penanaman perepat. Hasil pengujian jeluk muka air tanah gambut membuktikan bahwa untuk pemulihan hidrologi dengan melakukan pembendungan kanal tidak harus dengan penggenangan. & F. S. Lebih lanjut menurut Shepherd et al.

Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus Miq. 2004. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II.I & Teten. 2008.H. In Plant and Soil 275: 305-315. Maki. Plant Nutrition and Arbuscular Mycorrhizal Fungi-Plant Symbiosis in a Temperate Grassland along Hydrologic. Ritzema & H. Santoso. Saline and Sodic Gradients. S. Martin. Ritzema. 87-131. Pertanian dan Perkebunan”. Canal Blocking Strategies to Restore Hydrology in Degraded Tropical Peatlands in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. Jurnal Plant Soil. Vol 1. S.O. Ex Benth Hasil Sinergi Bio-organik dengan Cendawan Mikoriza Arbuskula di Ultisol. 2009. Plant Growth. Nutrient Acquisition and Mycorrhizal Symbioses of a Waterlogging Tolerant Legume (Lotus glaber Mill) in a Saline-Sodic Soil. 2008. J. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Hodge. Nomachi. Tullamore. 1996. Kitso. Prayudyaningsih. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. New Phytologist. Muin. 2008. Hal: 260-269. Kurz) pada Areal Bekas Tebangan dengan Inokulasi CMA dan Pemupukan Fosfat Alam terhadap Bibit di Persemaian. Sarawak. 181: 199-207.. 195 . Royal Soc. KSN. Phil. M.. D. O. del Carmen. Plants Symbiotic Microorganisms in Acid Sulaft Soil: Significance in the Growth of Pioneer Plants. H. 2003. Dalam Proceedings of the 13th International Peat Congress: After Wise Use-The Future of Peatlands. In Journal compilation. dan Sumardi Nitrogen Sources. Malaysia. Leigh. Mendoza. From journal of plant Nutrition. S. Shotyk. Hal: 18885-1897 Pidjath. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland..O. no 3. & I. & B. & M. Interdependence of Peat and Vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest. Ireland. Limin. Vasander. Mendoza. E. Prospek Pemanfaatan Bioteknologi untuk Penyediaan Pangan. Dalam Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999. Increasing Livelihoods and Controlling Fires. & T..V. Gumbira-Said. J. Setiadi. Hal: 243-247.. J. Bogor.. 31: 1555-1569. Garcia. & A..W. Kuching. Some Requirement for Restoration of Peatland in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. H. Syaiful. E. Edited by Catherine F and John Feehan.R. S. Kualitas Bibit Acacia crassicarpa A. R. 30-36. Efektivitas Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Semai Bitti (Vitex cofassus Reinw). Bogor. A. 17-21 Juli 2007. Relationships among Soil Properties. 2007. & Jyrki Jauhiainen. Limin.. Hal: 222-225. Bostang Radjagukguk. & Wiess. 2005. 1999. Pengaruh Endomikoriza dan Media Semai terhadap Pertumbuhan Pulai.. Faridah. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing XI . Trans.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. I. In FEMS Microbiol Ecol 63: 359-371. V. Arbuscular Mycorrhizal Fungi can Transfer Substantial Amounts of Nitrogen to Their Host Plant from Organic Material.. R. Mangium dan Sungkai di Persemaian. Ezawa. Volume 1. DOI.. Cunn. 2007. 17-21 Juli 2007. Rieley. LM. 27 (VII). 10. Garcia. Siti Kabirun. Fitter. A. & I. BPPK DEP Kehutanan.. Page.E. Bungur.. 1999. Yoshida. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Pertanian dan Perkebunan”. 2008.H. Escudero. “ Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Plant Yield and P Acquisition by Lotus Tenuis Plants Reflect the Availability of Added P from Different Phosphate Source. T. Mendoza. Endomikoriza.. 310: 55-65. Indonesia. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. How do Soil P Tests. C.1007/s10705-0089245-4. Indonesia: Blocking Channels. Nutr Cycl Agroecosyst. & R. Y. Santoso. Rieley. Garcia. Peatland Development: Wise Use and Impact Management. H. R. E. (Tidak dipublikasi). Lemlit.E.E. Turjaman. 2008. Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Ketahanan terhadap Kekeringan pada Semai Jati. London.S.

O.. Preliminary Selection of Fastgrowing Tree Species with Tolerance to an Open and Dry Peat Land in Central Kalimantan: To Develop a Preceding Planting Method.Hal: 7579. Hal: 191210. Shibuya.E. & Page. Jamal. Central Kalimantan. 2007. Tamai. Turjaman. K 2007.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Fire.O and Page. Rieley.H. Gunawan. & Limin. Restoration and Wise Use. Y. UK. M. K. Environmental Importance of Trop. K. Osaki. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II.J. S. 1995. A. J. Mitigation. H. 187 . Dalam Proceedings of the International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia. S. Santoso. Proc. M. E. Santoso..W. 17-21 Juli 2007.. M.8 No. & Effect of Tawaraya. J. S. P. 196 . Samara publ.. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland.. A.E.. Symp on Biodiversity.. Limin. & M. Dalam. Peat and Peatlands. Of the Int. Putir.h. 2002. Yogyakarta. Saito..H. P.. The Realitionship between Forest Vegetation and Peat Characteristics in the Upper Catchment of Sungai Sebangau.. Ectomycorrhizal Fungi Inoculated on Shorea balangeran under Field Condition in Peat-Swamp Forest. Carbon-ClimateHuman interaction..H. K. Bogor. Shibuya. Editor: Rieley.. Takahashi.. Indry. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. M.Y.Carbon Pools.. Sampang.. Pertanian dan Perkebunan”.3.A. Segah. S.E. E. Shepherd. Early Colonization of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Tree Producing Gaharu Aquilaria microcarpa seedlings. Indonesia. S. Tuah. Susanto. Takahashi... Bali. Turjaman. Juli 2011..196 Saito. Indonesia..G. Tawaraya. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful