ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 8 No. 3, Juli 2011
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS (Penilaian Hutan) Mitra Bestari Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA (lnstitut Pertanian Bogor) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP) Dr. Ir. Endang Murniati, MS (Institut Pertanian Bogor) Ir. Nina Mindawati, M.Si (Silvikultur) Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah dan Air) Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO-BIOTROP) Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Anggota Kepala Sub Bidang Data, Informasi dan Diseminasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id atau pusprohut@gmail.com. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi Pusprohut, atau download di website Pusprohut : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu. 10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 8 No. 3, Juli 2011
DAFTAR ISI

1.

STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM, MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Communityat the Seram Island, Maluku Samin Botanri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim, dan/and Lilik B. Prasetyo 135-145 TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites 147-153 Dida Syamsuwida dan/and AamAminah TIPOLOGI DESABERDASARKAN VARIABELPENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini, Endang Suhendang, I Nengah Surati Jaya, Hardjanto, dan/and Herry 155-168 Purnomo HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia 169-177 Erly Sukrismanto, Hadi S.Alikodra, Bambang H. Saharjo, dan/and Priyadi Kardono PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO, SUMATERASELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo, South Sumaterat 179-186 Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil 187-196 Burhanuddin, Siti Kabirun, Bostang Radjagukguk, dan Sumardi

2.

3.

4.

5.

6.

Pen. Dengan demikian. Ibnul Qayim (Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor) dan Lilik B. Penelitian berlangsung pada bulan Maret-Nopember 2009. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. dan air payau. Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam KomunitasAlami di Pulau Seram. Maluku J. paklobutrazol. naungan sedang dan naungan ringan. Spesies ini juga memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. 3.2. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. tumbuhan sagu UDC(OXDCF) 630*232. faktor lingkungan. Kata kunci: Bahan pengatur tumbuh.5 juta batang. Pulau Seram. lahan gambut.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3. larutan NaCl. Maluku. tipe habitat. 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. sylvestre. dan molat. Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. 2011 p:135-145 Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. VIII No. Kata kunci: Adaptasi.5%. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masing-masing 566. makanaro. kapasistas tukar kation (KTK). intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. Prasetyo (Departemen KSH dan Ekowisata Fak. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. Htn Tnm Vol. VIII No. Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. 2011 p:147-153 Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. NaCl dan akuades sebagai kontrol. Variabel iklim.32 Dida Syamsuwida dan Aam Aminah (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan J. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. 3.68 kg/batang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. 2 dan 3 bulan. Pen. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. VIII No. Dede Setiadi.04 kg dan 560. umur semai . Htn Tnm Vol. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*181 Samin Botanri (Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon). Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. tanah. rotang. perakaran sagu mengalami modifikasi arah pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. RH 96 %. dan kandungan kalsium air. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth). Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. Edi Guhardja.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol..3 %. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram.13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel.

pengendalian kebakaran. Hadi S. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. jarak ke kawasan hutan negara. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi.1 Erly Sukrismanto (Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan). rumah permanen. kemampuan lahan. Bakosurtanal) HubunganAntar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/lahan di Indonesia J. I Nengah Surati Jaya. VIII No. Hardjanto. 3. VIII No. Bambang H. Kata kunci: Biofisik. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. Sekolah Pascasarjana IPB). Pen. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat. VIII No. dan Herry Purnomo (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat J. analisis gerombol. hutan rakyat. dan umur produktif penduduk yang diteliti. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi. administratif. dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. Berdasarkan analisis gerombol. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. 3. Kata kunci: Koordinasi. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. Saharjo (Departemen Silvikultur.2 Tien Lastini (Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Alikodra (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. jarak ke jalan besar. dan Priyadi Kardono (Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah. di mana koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. IPB). IPB. provinsi dan kabupaten/kota. Pen. Bogor). Endang Suhendang. Fakultas Kehutanan. kelerengan lahan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. tipologi desa UDC(OXDCF) 630*432. institusi . 2011 p:169-177 Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. 2011 p:155-168 Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. Htn Tnm Vol. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. Fakultas Kehutanan. Htn Tnm Vol. 3. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*922. sosial ekonomi. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%.

diameter dan bentuk batang. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Universitas Tanjungpura Pontianak). VIII No. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung.01 %. perolehan genetik. Untuk jelutung tinggi 107. Mohammad Na'iem dan Sapto Indrioko (Fakultas Kehutanan.28 % untuk karakter tinggi. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324. Pen. 2011 p:179-186 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. VIII No. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. Pen. berat kering pucuk 643. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. 14 (1.83 % dan serapan P 851. uji klon.01 (overestimate). taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) Kajian Water Table Pada Semai Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq dan Jelutung (Dyera lowii Hook) Diinokulasi Glomus sp 3 Di Tanah Gambut J. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji.09 dan 0. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo.50 %.61 %. Water table .16 (klon) untuk karakter tinggi. gambut. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.88. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. 2011 p:187-196 PPenelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. berturut-turut nomor 24 (3.16 % diameter. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun. dan Sumardi (Fakultas Kehutanan. Bostang Radjagukguk (Fakultas Pertanian.4 Agus Sofyan (Balai Penelitian Kehutanan Palembang). 1. 3. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF) 630*165. Sumatera Selatan J.430) dan 11 (1.67 %.40 % untuk volume. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. 2011 Kata kunci bersumber dari artikel. Kata kunci: ex-PLG. korelasi genetik.39.574). jumlah daun 437.026 (individu) dan 0. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. 36 (1. berat kering pucuk 630. Htn Tnm Vol. 3. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm. Siti Kabirun.67. 3. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah.49 % untuk karakter tinggi dan 1.073).lowii Hook) di persemaian. Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. VIII No.73 % untuk diameter. Sumatera Selatan.3 Burhanuddin (Fakultas Kehutanan.80 %.15 %. Glomus sp 3. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9. diameter 366.306).86 %. sebesar 0. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0.00 % dan serapan P 835. Kata kunci: Heritabilitas. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. di lokasi KHDTK Kemampo. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. diameter. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. dengan 4 blok. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. jumlah daun 42. Htn Tnm Vol. 3. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C.02 (individu) dan 0. rotundatus Miq) dan jelutung (D. jumlah daun. variasi genetik UDC(OXDCF) 630*232. Universitas Gadjah Mada) Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.43 % bentuk batang serta 8.56 %. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. 35 (1.7210). jati. diameter 136.05 %. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok.13 (klon) untuk karakter diameter.

3 % of habitat. Kehutanan Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga. Tuni and sylvestre are the most potential species with production capacity of about 566. Fax. sylvestre. habitat type. MALUKU Ecology Study of Sago Palm (Metroxylon spp) in the Natural Community at the Seram Island. Seram Island.2.3 %. Telp/Fax. Maluku. Bogor 16680 Jln. peat swamp or brackish water. rotang. Maluku Samin Botanri . (3) to describe interaction between sago palm and environmental factors. makanaro. 5. (0251) 8621947. makanaro. dan air payau. Lingkar Akademik Telp. Penelitian berlangsung di tiga wilayah di pulau Seram. environmental factor. Serta memiliki daya adaptasi yang tinggi pada berbagai tipe habitat.2 million clumps. Naskah diterima : 22 Mei 2011 1) 1) 2) 2) 2) ABSTRACT Sago palm (Metroxylon spp) is a tropical plant adapted to marginal land such as fresh water swamp. Penelitian bertujuan : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sagu dalam komunitas alami mengikuti pola pertumbuhan muda dengan tingkat kematian pada fase semai sekitar 85 %. Swamp condition as adaptation strategy more amount of sago palm roots directed out to water surface. Kampus IPB Darmaga. Sagu tuni merupakan spesies dominan dengan penguasaan habitat mencapai 43. Ambon 97582 2) Departemen Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. (2) identify habitat preference of sago palm. Tuni species is the most dominant vegetation which cover 43.04/kg by 560. Among the environmental condition. Agatis Gedung Fapet Wing 1 Lt. It was found that there are five of the sago palm species namely tuni. which of about 1. and calcium in water were the most factor. and (4) identify the sago palm trees potential and sago flour production at three areas in the Seram Island. Ibnul Qayim . The result of research showed that population structure of sago palm in the nature community follows young growth pattern with seedling death of about 85 %.68 kg/trunk. Prasetyo3) Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon Jln. Raya Tulehu Km. Bogor 16680 Jln. The potential clump population at the Seram Island is about 3. (0251) 8622833 3) Departemen KSH dan Ekowisata Fak. sago palm ABSTRAK Sagu (Metroxylon spp) merupakan tumbuhan palem tropika basah. memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar. The research was conducted in March to November 2009. Keywords: Adaptation. (3) melakukan analisis interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. sun light intensity. 24. dan (4) mengungkapkan potensi tegakan dan produksi pati sagu.STUDI EKOLOGI TUMBUHAN SAGU (Metroxylon spp) DALAM KOMUNITAS ALAMI DI PULAU SERAM. perakaran sagu mengalami modifikasi arah 135 . Dede Setiadi . The aim of this research were to : (1) analys conducted to describe of sago palm characteristic in the nature community. lahan gambut. dan molat. (0251) 8621947 Naskah masuk : 1 Juli 2010. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. tentu dengan menggunakan sampling. Di Pulau Seram terdapat lima jenis sagu yaitu tuni. dan/and Lilik B. Dalam beradaptasi dengan kondisi habitat tergenang. cation exchange capasity (CEC). bukan menggunakan metode sensus pada bulan Maret-Nopember 2009.5 million trunk of trees. Maluku secara keseluruhan. sylvestre. In sago palm community there was negative interspecific association with Jaccard index < 0. rotang. and molat. Edi Guhardja .

Jenis sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu potensial dengan kapasitas produksi masingmasing 566. Berdasarkan informasi tempat tumbuh sagu yang cukup bervariasi tersebut. Tujuan khususnya yaiu : (1) melakukan analisis untuk menjelaskan sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas alami.2. sekitar sumber air. Habitat tumbuh sagu dicirikan oleh sifat tanah. dan potensi tumbuhan sagu. penentuan preferensi ekologi seperti tipe habitat. Peta lokasi penelitian Pulau Seram (Map of site research at the Seram Island) 136 . tipe habitat. dan (4) mengetahui potensi tegakan dan produksi pati sagu di Pulau Seram (Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat. duri rotang. maka dapat dikatakan bahwa tumbuhan sagu mempunyai daya adaptasi yang tinggi (Suryana. Variabel iklim. kelimpahan spesies.5 juta batang. air. daerah sepanjang aliran sungai. B. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. (2) mengungkapkan preferensi habitat tumbuhan sagu. maka kajian permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana sifat pertumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami?. Waktu dan Lokasi Penelitian berlangsung pada bulan Maret Nopember 2009.04 kg dan 560. Berkaitan dengan hal tersebut. atau hutan-hutan rawa. makanaro. Studi ekologi sagu yang selama ini telah dilakukan masih memerlukan suatu penelitian tentang autekologinya yaitu struktur populasi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Latar Belakang Sagu ( Metroxylon spp) salah satu tumbuhan dari keluarga palmae wilayah tropik basah.2 juta rumpun dengan jumlah tegakan fase pohon mencapai 1. Maluku. (3) melakukan analisis untuk menjelaskan interaksi tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan studi ekologi tumbuhan sagu dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram. antara lain Wilayah Luhu Kabupaten Keterangan (Remarks) : Lokasi sampling (Sampling location) Gambar (Figure) 1. dan kandungan kalsium air. tanah. interaksi spesies dengan tipe habitat. Secara ekologi. Dalam komunitas sagu terjadi asosiasi antarspesifik secara negatif dengan Jaccard indeks < 0. dan kualitas air rawa yang memiliki peran kuat dalam pertumbuhan sagu masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. Pulau Seram. BAHAN DAN METODE A. 2007).8 No. 135 . II. interaksi dengan parameter ingkungan. Kata kunci : Adaptasi. Secara umum terdapat lima jenis sagu yang tumbuh dalam komunitas alami maupun budidaya yaitu sagu tuni. dan (3) bagaimana interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan?. ihur.145 pertumbuhan menuju permukaan air dengan jumlah yang lebih banyak. dan spesies vegetasi dalam habitat itu. Juli 2011. PENDAHULUAN A. kapasistas tukar kation (KTK). tumbuhan sagu I. dan molat (Louhenapessy. berlangsung di Pulau Seram. sagu tumbuh pada daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut.3. faktor lingkungan. mikro iklim. (2) bagaimana preferensi habitat tumbuhan sagu?. mekanisme adaptasi.68 kg/batang. 2006). dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur). Maluku. Di Pulau Seram terdapat potensi populasi rumpun sagu sekitar 3.

Penentuan Contoh a.30. (3) tingkat asosiasi ditetapkan menggunakan indeks Jaccard (JI) : JI = a/a+b+c c.60 cm. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. didekati dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) (Supranto. Analisis Komponen Utama Interaksi tumbuhan sagu dengan komponen abiotis. b. Suhu dan kelembaban relatif diukur menggunakan thermohigrometer. gagal tumbuh ke fase berikutnya mencapai 84. Bahan dan Peralatan Penelitian menggunakan potensi tumbuhan sagu yang tersebar pada tiga wilayah di Pulau Seram.34 %. Persaingan yang dimaksud berkaitan dengan komponen di atas permukaan tanah seperti udara.00 . dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Sampel air rawa diambil dari habitat tergenang kemudian dianalisis kualitasnya. 15 dan Minitab ver. Maluku. SPSS ver. Pada setiap plot dibuat petak sesuai ukuran masing-masing. ruang. C.66 %. Hasil pengukuran intensitas cahaya surya di dekat rumpun sagu hanya sekitar 12. sapling 5 m x 5 m. b.00. dan 17. Analisis tanah dan air dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kematian individu fase semai. jenis vegetasi. dan Lilik B. dan Wilayah Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. tiang 10 m x 10 m.00. diukur antara pukul 11. cahaya. Plot Penelitian Wilayah sampel ditetapkan meng-gunakan metode judgement sampling/ purposive random sampling. Dede Setiadi.33 % (206. Tingginya tingkat kematian ini dapat disebabkan karena : (1) sifat pertumbuhan anakan sagu. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0 . Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. berkurang secara drastis pada fase berikutnya (Gambar 2). Petak pengamatan ditetapkan menggunakan metode garis berpetak (Kusmana.30 cm dan 30 . Salinitas ditetapkan menggunakan refraktometer. Lingkungan dan Tanah Suhu dan kelembaban udara relatif diukur pada pukul 07. Kemudian ditetapkan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD atau SDR summed dominanced ratio) = INP/3 (%). dan pohon 20 m x 20 m. (2) terjadi persaingan di antara masing-masing individu dalam rumpunnya. Maluku Samin Botanri. Spesies tumbuhan yang tidak diketahui. Dalam populasi tersebut jumlah individu fase semai yang berhasil tumbuh ke fase pertumbuhan berikutnya hanya sebesar 15. maka dilakukan : a. Struktur Populasi Secara umum struktur populasi tumbuhan sagu di Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda yaitu populasi dengan jumlah individu paling banyak terdapat pada fase semai. (2) analisis asosiasi spesies menggunakan rumus Chi-square. Wilayah sampel terpilih yaitu Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Intensitas cahaya surya di bawah tegakan sagu. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. III. Metode Penelitian 1. dan luas tutupan (coverage). yang merupakan ulangan yakni Wilayah Luhu Kabupaten Seram Bagian Barat.14. Wilayah Sawai Kabupaten Maluku Tengah. oksigen. 2004). jumlah individu spesies yang kedapatan pada setiap unit contoh. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Prasetyo Seram Bagian Barat. AnalisisAsosiasi Interspesifik Asosiasi interspesifik ditentukan menggunakan formula menurut Ludwig & Reynolds (1988) dengan tahapan : (1) analisis Variance Ratio (VR) menggunakan rumus : VR = ST 2 / δ T 2 . diidentifikasi oleh ahli taksonomi dari Herbarium Bogoriense. 137 . B. 15. 1997).53 lux. 2. Data iklim lokal diperoleh dari stasiun klimatologi Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (MT). Berdasarkan parameter tersebut. jumlah individu sagu menurut fase pertumbuhan. dan komponen di bawah tanah seperti air. Ibnul Qayim. dan unsur hara. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan formula Cox (2002) : INP = KR + FR + DR. 13. Pengamatan vegetasi bawah (seedling) dilakukan pada petak berukuran 2 m x 2 m. sebagian tunas anakan yang muncul dari pangkal batang tidak bersentuhan dengan tanah.00. Edi Guhardja. Jumlah petak pengamatan sebanyak 131 plot. intensitas cahaya di bawah tegakan diukur menggunakan lux meter (light meter). Analisis data menggunakan perangkat lunak Ecological Methodology. Parameter yang Diamati Pengamatan sagu dan vegetasi lain meliputi : jumlah rumpun.

138 . 2005).31 (pH KCl). LMT = Lewat Masak Tebang (Mature Trees. dan (4) mengalami keracunan karena kandungan Fe (3.29 lux).Harvestable). Hasil pengukuran kemasam- an tanah menunjuk-kan bahwa pH tanah dapat mencapai 4. nilai kekurangan Fe dan Al tersebut termasuk kategori sangat tinggi berdasarkan kriteria (Balai Penelitian Tanah. Semai Sapihan Tiang BMT MT LMT Keterangan (Remarks) : BMT = Belum Masak Tebang (Immature Trunks). Gambar (Figure) 3. Perbandingan NJD sagu dan non-sagu di plot penelitian (SDR camparison of sago palm and non sago palm at the research plot). tunas anakan yang masih muda memiliki daya adaptasi yang rendah terhadap kondisi lahan tergenang (tereduksi).99) tanah.145 ruang terbuka 1675. MT = Masak Tebang (Mature Trees .8 No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Juli 2011. 135 .3.Not Harvestable) Gambar (Figure) 2. (3) rentan terhadap pH rendah. Rendahnya intensitas ini karena terdapat hambatan oleh tajuk rumpun sagu itu sendiri.08) dan Al (4. Struktur populasi sagu di Pulau Seram (Population structure of sago palm at the Seram Island).

14 10.06 0. artinya kondisi habitatnya tidak pernah tergenang.00 33. akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan.00 100.83 0. dan sylvestre (Tabel 1). T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp).00 55. Jenis sagu (Sago species) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah TTG ind/ha 103. 139 .19 164. Dua jenis sagu yang lain yakni rotang dan molat tumbuh pada habitat terbatas.47 0. dominasi. Jenis sagu rotang hanya ditemukan tumbuh pada tipe habitat lahan kering (TTG).86 15.09 0.50 274. diperoleh hasil ditemukan bahwa sagu tuni memiliki jumlah individu paling banyak (99.92 % 52. Prasetyo B. fenologi. ind = individu (individual). 170.00 5.69 15.61 100. Dede Setiadi.58 0.80 22.08 20. Dua tipe habitat itu dapat dipisahkan lebih lanjut menjadi empat tipe yaitu : (1) habitat tergenang temporer air payau yaitu tipe habitat yang dicirikan oleh adanya pasangsurut. Jika kondisi ini terjadi maka regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak.00 100.85 % 58.24 19.66 % 64.49 34. Kondisi tersebut dapat terlihat dengan bertambahnya fase pertumbuhan. (3) habitat tergenang permanen. Kondisi tersebut ditemukan pada setiap sempel dan masih perlu riset lebih lanjut untuk memetakan luasnya.04 100. maka Tabel (Table) 1. 2. Kelimpahan Spesies Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun sagu dan nisbah jumlah dominasi (NJD) dalam komunitas sagu menunjukkan bahwa spesies sagu merupakan jenis vegetasi yang menguasai sebagian besar areal lahan di plot penelitian.30 1.3 %.01 85. Berdasarkan penelitian tersebut jumlah individu masing-masing spesies sagu.72 27. Edi Guhardja.26 28.27 0. dan frekwensi yang melampaui spesies yang lain dengan penguasaan habitat mencapai 43.0 ind/ha 62. Populasi rumpun sagu pada tipe habitat berbeda di Pulau Seram (Clumps population of sago palm of the habitat type at the Seram Island)) No. dan Lilik B. Habitat danAdaptasi Tumbuhan Sagu Secara umum tipe habitat sagu di Pulau Seram dapat dipisahkan menjadi dua kategori yaitu (1) habitat lahan kering dan (2) habitat lahan tergenang. karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu lama.64 17.67 1. C.0 Tipe Habitat (Habitat Type) T2AT T2AP ind/ha 124.00 12.94 % 50. dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap. makanaro.37 37. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).00 96. maka dominasi spesies sagu juga meningkat (Gambar 3).10 0.65 100.58 0.87 2. 5. dan (4) habitat lahan kering. Maluku Samin Botanri.33 26.0 Rataan (Average) ind/ha 87. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jenis sagu dapat tumbuh pada setiap tipe habitat.20 36. Apabila interaksi tumbuhan sagu dengan tipe habitat ini dijadikan acuan untuk menjelaskan kemampuan adaptasinya. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp).Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.95 4. sedangkan jenis sagu molat ditemukan tumbuh pada dua tipe habitat yaitu tergenang temporer air tawar (T2AT) dan tergenang permanen (TPN). biasanya lebih dari satu bulan.04 11.07 16. 3. berupa rawa-rawa yang tergenang secara temporer maupun permanen.97 7. Fenomena seperti ini merupakan gambaran umum yang sering dijumpai pada tipe vegetasi yang mengarah kepada kondisi klimaks dan stabil. Mueller & Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005) mengemukakan bahwa komposisi bervegetasi alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi. sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dan menyolok.31 21.01 % 37. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sagu tuni merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan. 4.00 0.3%). yaitu tipe habitat yang mengalami genangan pada periode waktu relatif cukup lama. Jenis sagu yang dapat tumbuh dan berkembang pada semua tipe habitat adalah jenis sagu tuni. (2) habitat tergenang temporer oleh air tawar yaitu tipe habitat dimana genangannya sangat ditentukan oleh ada-tidaknya hujan.0 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land).60 37.22 20.00 173.00 0.62 9.93 ind/ha) dan NJD paling tinggi (43.00 14.32 0. Ibnul Qayim.0 TPN ind/ha 61.

8 No. Interaksi dengan Faktor Lingkungan 1. terutama dalam pembagian ruang hidup. maka pada kondisi lahan dengan aerase jelek. Habitat tergenang identik dengan kondisi tereduksi.5. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiga jenis sagu tersebut memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). Barbour et al.03 dengan indeks Jaccard rata-rata 0.3. Dalam kaitan dengan kondisi yang tereduksi ini.83.35-21.63 dan pH KCl 4. Juli 2011. baik yang sifatnya temporer maupun permanen.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. tumbuhan melakukan mekanisme adaptasi morfologi dengan membentuk sistem perakaran dangkal (Daubenmire. Hal tersebut ditunjukkan dari jumlah rumpun dan jumlah populasi semua fase pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sagu yang lain. Modifikasi arah pertumbuhan akar sagu pada kondisi tergenang (Roots growth modification of sago palm af the swamp condition) E. Nilai VR < 1 mengandung makna bahwa asosiasi antara spesies bersifat negatif. Dengan meningkatnya jumlah individu yang satu akan menekan pertumbuhan individu spesies lain (Soegianto. dan tiga (3) dari empat (4) tipe plot penelitian termasuk kategori tergenang. Syekhfani (1997) mengemukakan bahwa logam memiliki kemampuan untuk melisis air sehingga pH tanah dapat semakin masam.145 dapat dikatakan bahwa jenis sagu tuni memiliki kemampuan adaptasi yang luas (eury tolerance). Fe dan Al akan larut sehingga konsentrasinya meningkat dan dapat bersifat meracun (toxic) (Brady 1990). 2008) mengemukakan bahwa asosiasi yang bersifat negatif memberikan petunjuk bahwa setiap tumbuhan dalam suatu komunitas terjadi saling memberi tempat hidup pada suatu area habitat yang sama. 135 . Jenis sagu makanaro dan sylvestre tumbuh pada semua tipe habitat. Sagu rotang merupakan jenis sagu yang memiliki daya adaptasi paling terbatas karena hanya tumbuh pada habitat lahan kering (steno tolerance). maka adaptasi sagu ditunjukkan melalui sistem perakarannya yang mengalami modifikasi arah pertumbuhan (Gambar 4). Kondisi plot yang senantiasa tergenang cenderung merupakan kondisi tanah masam. Berbeda dengan jenis lain. 1994). Tanah-tanah masam dengan kandungan logam tinggi seperti Fe dan Al dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan perakaran. suatu spesies dapat muncul sebagai kompetitor yang mendominasi spesies lain. Pada habitat tergenang biasanya muncul akar berukuran kecil dalam jumlah banyak dengan arah pertumbuhan menuju permukaan air sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas. 1974).14 (termasuk kategori rendah) (Tabel 2). D. Pada kondisi dimana asosiasi bersifat negatif ekstrim.47 . Mekanisme perubahan ini agar penyerapan oksigen oleh perakaran dapat berlangsung dengan baik. 140 . Interaksi yang bersifat negatif meberikan petunjuk pula bahwa tidak terdapat toleransi untuk hidup secara bersama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. artinya keadaan dimana terjadi keterbatasan oksigen di dalam tanah. Hasil analisis asosiasi spesies berpasangan menunjukkan bahwa terdapat asosiasi diantara spesies sagu dan antara sagu dengan non sagu dengan nilai chi-square berkisar dari 4. Asosiasi antar spesies yang bersifat negatif menunjukkan bahwa terjadi perebutan dalam penggunaan sumberdaya. Levitt (1980) menyebutnya sebagai cekaman defisit oksigen. Ketika pH rendah. MekanismeAdaptasi Sagu Sebagian besar sagu tumbuh pada lahan tergenang. Komponen Biologis Hasil analisis asosiasi interspesifik menunjukkan bahwa secara simultan (keseluruhan) terjadi asosiasi antar spesies dalam komunitas sagu alami di Pulau Seram dengan nilai VR sebesar 0. namun memiliki populasi yang rendah.31. (1999 dalam Kurniawan et al. Gambar (Figure) 4. Molat ditemukan pada habitat T2AT dan TPN. Menurut Krivan & Sirot (2002) dikemukakan bahwa dalam asosiasi interspesifik dapat memunculkan kompetisi interspesifik. Berdasarkan hasil penelitian pH tanah menunjukkan kisaran pH tanah (pH H2O) 4.

3.69* 4.4 Pandanus furcatus Roxb.2 Nephrolepis sp.16 0.05 0. Variabel Iklim Hasil analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA ) untuk menjelaskan interaksi variabel iklim menggunakan loading plot menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel sinaran surya lokal dan mikro (Gambar 5). rumphii var sylvestre 2. Hal ini berarti bahwa apabila curah hujan bertambah.45* 4..2. 1998). dan Lilik B. M.76* 5.00 0. sagu var molat 3. Korelasi yang sama terjadi pula antara variabel sinaran surya dengan temperatur mikro.06 0.08 0. 2007). Korelasi negatif terjadi pula antara variabel temperatur mikro dengan kelembaban mikro.04 0. Nama spesies (Species name) Chi-square (X2) Tipe Asosiasi Indeks Jaccard (Association type) (Jaccard index) Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 0. rumphii Mart subvar makanaro (Becc) 2..50 -0. Ibnul Qayim.2 M.48* Keterangan (Remarks): * signifikan pada taraf α 0. Edi Guhardja.1 Pandanus furcatus Roxb.04 0.53* 5.14 0.35* 4. M. 0.12* 16.04 0.25 0. rumphii Mart subvar tuni (Becc) 1.15 0.5 Homalomena sp.56* 4.96* 4.74* 6.3.6 Nephrolepis sp. rumphii subvar makanaro 1.02 1.15 0.05) 2.28* 21.00 CH S ry _mik ro -0. M. Chi-square untuk pengujian asosiasi interspesifik spesies berpasangan penyusun utama komunitas sagu pada plot penelitian di Pulau Seram (Chi-square for interspecific association testtopair dominantspecies inthesagopalm communityatresearchplottheSeram Island) No.76* 9. Model indeksnya sebagai berikut : 141 . 4. 4.1. dan temperatur mikro akan menurun.50 Second Component S ry _ l okal 0.50 -0. sagu var molat 2.4. 6.25 0. Sedangkan variabel temperatur mikro. maka sinaran surya (lokal & mikro). 1. M.47 0.20 0. KomponenAbiotis a.1 M. 1. Maluku Samin Botanri.3 M.1 M. sagu Rottb var molat (Becc) 4.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram.2 Homalomena sp. 3. CH RH_mikr o 0.73* 5. rumphii var sylvestre 1.75 Gambar (Figure) 5. 2005 & Marzuki.03* 20. Korelasi yang bersifat positif mengandung pengertian bahwa apabila sinaran surya lokal meningkat. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor iklim terhadap PS di Pulau Seram sebesar 3.25 -0.38%.31* 4.3 Nephrolepis sp.10 0. 2. M. sinaran surya lokal dan curah hujan dengan kelembaban mikro. Dalam konteks ini besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan sagu (PS).25 F irst Com ponent T_mikr o 0. Homalomena sp.05 (significant of the α 0. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masing-masing variabel (Dewi.43 0.50 0. . sinaran surya lokal.75 LoadingPlot of T_m ikro. Prasetyo Tabel (Table) 2. sagu var molat 1. Dede Setiadi. Nephrolepis sp. 2. rumphii Mart var sylvestre (Becc) 3. Diagram loading plot korelasi variabel iklim habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of climate variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Dengan mempertimbangkan akar ciri (eigenvalues) dan vektor ciri (eigenvector) terbesar. maka diikuti dengan peningkatan sinaran surya mikro. Hal ini ditunjukkan dengan sudut lancip yang dibentuk garis loading plot kedua variabel tersebut (Setiadi.. dan sinaran surya mikro memiliki korelasi negatif dengan curah hujan (ditunjukkan oleh sudut tumpul garis loading plotnya). M.

.2 F irst C om p one nt 0 . pH-KCl = kemasaman tanah potensial.90%). Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar.40%.3 0 . dan magnesium (Gambar 7). dengan sendirinya akan meningkatkan kadar salinitas. dan kalium (Gambar 6). BD = bulk density.5 Kalium Liat BD -0.1 0. Banyak tunas anakan sagu mengalami kematian karena terjadi kompetisi yang kuat diantara individu setiap rumpun dalam mendapatkan sinaran surya.5 Kal ium Magnesium -0. Interaksi dengan Variabel Tanah Hasil analisis PCA faktor tanah menunjukkan bahwa variabel C-organik berkorelasi positif dengan pH. Fe = Ferrum.4 -0. c. dan magnesium merupakan kation basa yang memainkan peranan dalam meningkatkan pH. Model indeksnya sbb : PS(F-tanah) = (1. Juli 2011. maka pH akan berkurang (semakin masam). C-org = karbon organik.15%.2 0.1 0 . Ca = Kalsium. Liat 0. dan sebaliknya apabila KTK rendah termasuk kurang subur.. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan sifat tanah sangat ditentukan oleh kapasitas tukar kation (KTK). b.4 0.4 0.1 -0.1 0.1 0. kalsium. Loading Plot of pH (KCl). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor tanah terhadap PS di Pulau Seram sebesar 10.. maka akan diikuti dengan variabel yang lain.83C-org) + (1. dan magnesium. Variabel kualitas air rawa yang memiliki C_organik Load in gPlot ofp H(KC l). kalsium. 135 . Fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa kematian tunas anakan sagu antara lain dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya surya yang masuk sampai ke bagian bawah tajuk rumpun sagu.27BD) + (0. kalsium. magnesium. T-mikro = temperatur mikro.90KTK) + (1.0 0.78T-mikro) + (1.1 0.3 -0.3 0.07Fe) + (0. Tanah dengan KTK tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut subur. kalsium.3 Dengan mempertimbangkan eigenvalues dan nilai eigenvector terbesar.2 -0. Syr-lokal = sinaran surya lokal. Partikel liat berkorelasi positif dengan bulk density (BD). Sedangkan pH berkorelasi negatif dengan Fe.1 0. Argumen ini dikemukakan karena KTK merupakan parameter tanah yang berkaitan dengan kesuburan tanah (Hardjowigeno 1992).2 F irst C om ponent 0.. Kalium. Pada model indeks PS di atas. maka pH air akan meningkat.2 -0.64Ca) + (0.8 No. magnesium. 142 ..4 0. Interaksi dengan Variabel Kualitas Air Rawa Hasil analisis PCA kualitas air rawa menunjukkan bahwa pH air memiliki korelasi positif dengan kalium.5 0 .2 -0.3 0.60pH-KCl) + (0. Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan suatu variabel. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram sangat ditentukan oleh variabel intensitas cahaya surya mikro.2Fe 0. maka dapat ditentukan besarnya kontribusi relatif masingmasing variabel tanah terhadap pertumbuhan sagu. K = Kalium. Hal ini berarti bahwa sagu menghendaki tanah dengan kesuburan yang memadai. RH-mikro = kelembaban mikro.82Liat) dimana : PS(F-tanah) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor tanah.. Srymikro = sinaran surya mikro.85Mg) + (1. KTK.10Sry-lokal) + (1.17K) + (1. Diagram loading plot korelasi variabel tanah habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of soil variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island).C _org an ik C _organik 0.63C-hujan) dimana : PS = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor iklim. Pada model di atas.15%. Variabel tanah yang memiliki kontribusi tertinggi adalah KTK (1.0 Fe pH(KCl ) Kal si um KTK pH(KCl) Kalsium KTK Second Component 0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kontribusi faktor kualitas air rawa terhadap PS di plot penelitian sebesar 10. Korelasi yang bersifat positif ini mengandung pengertian bahwa dengan makin bertambah kandungan kalium.5 Gambar (Figure) 6. maka ditentukan besarnya kontribusi relatif variabel kualitas air rawa terhadap PS. Selain itu kation-kation basa yang meningkat.3 -0...4 -0 .47RH-mikro) + (1. artinya apabila Fe meningkat.1 M agnes ium -0.0 BD L iat -0. dan kalium. Cahaya surya yang masuk sampai dekat rumpun sagu hanya mencapai 12.66Sry-mikro) – (1. Korelasi positif terjadi pula antara KTK dengan kalsium. C-hujan = curan hujan. KTK = kapasitas tukar kation.4 0. Liat = partikel liat. Mg = Magnesium.0 Sec ond Component -0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.3.145 PS(F-iklim) = (0.2 -0.

3 276. Mg = Magnesium. K = Kalium.9 118.135. Masak Phn.0 Kalsium -0.0 61.2 331.3 543. 279.220. Lewat Tebang Masak Tebang (Mature trees (Mature trees Harvestabe) Non Harvestabe) Tuni Makanaro Sylvestre Rotang Molat Jumlah 775. pH = kemasaman air. Hasil perhitungan potensi produksi pati sagu basah di plot penelitian wilayah Pulau Seram diperoleh bahwa jenis sagu tuni dan sylvestre memiliki potensi produksi paling tinggi.8 277.55 juta individu.10Mg + (0.7 13. Edi Guhardja.2 0.73%).35 juta individu.8 629. . Ibnul Qayim.0 12. ind = individu (individual).50 -0.6 1. artinya diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah yang relatif banyak.2 114.2 6.588.12 juta individu (Tabel 3).1 162.2 Salinitas pH -0. dapat dikatakan bahwa sagu tuni merupakan jenis sagu yang sangat potensial karena memiliki jumlah individu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis sagu yang lain (1.5 67. Prasetyo kontribusi tertinggi adalah kalsium (1.7 1. Potensi populasi tumbuhan sagu di P.8 58.714.18K) + (1.1 118. sapihan 1.50 kg/batang.745. Kalsium Tabel (Table) 3. tampak bahwa pertumbuhan sagu di Pulau Seram dalam kaitannya dengan kualitas air rawa sangat ditentukan oleh kandungan kalsium.3 95. 0.6 378. Hal ini berarti bahwa untuk pertumbuhan sagu diperlukan kalsium yang memadai.0 37.50 Gambar (Figure) 7.8 57.22 kg/batang (Tabel 4). Dede Setiadi. Pada tipe habitat TTG dan T2AT produksi pati sagu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan tipe habitat T2AP dan TPN.. pohon 1. pohon masak tebang 0.3 315. terdiri dari sagu fase semai 6.3 552. tiang 0.2 2.4 NO3 0... dan Lilik B.714 juta rumpun). Potensi Populasi dan Produksi Pati Sagu di P. Seram (Population potential of sago palm at the Seram Island) Jenis Sagu (Sago Species) Jumlah Rumpun Semai (Seedling) (Numbers of Clump) 1. sylvestre 726. Pada tabel 4 tampak bahwa tipe habitat berperan dalam mempengaruhi produksi pati sagu. Berdasarkan tipe habitat. Atas dasar jumlah individu yang dimiliki.14 juta individu.8 27. Ca = Kalsium.8 Sapihan (Sapling) Fase Pertumbuhan Tiang Pohon (Pole) (trees) x 1000 ind. Maluku Samin Botanri. Salinitas Kalium merupakan unsur hara esensial makro.991.1 Keterangan (Remarks) : Data primer tahun 2009 (Primery data in 2009 year).5 304.7 142. NO3 = Nitrat Loading Plot of pH.59 individu. 143 .6 Magnesium Second Component 0. Potensi produksi kedua jenis sagu ini hampir sama pada semua tipe habitat. dan pohon lewat masak tebang 0.50NO3) + (0.25 0.8 3.0 20.4 -0.025.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. d.14Salinitas) dimana : PS(F-KAR) = pertumbuhan sagu terkait dengan faktor kualitas air rawa.468. Model indeks PS terkait dengan peran faktor kualitas air rawa di Pulau Seram sebagai berikut : PS(F-KAR) = (1.2 55. Kalsium juga merupakan kation basa yang berperan dalam memperbaiki kemasaman air.22 juta rumpun sagu.47 juta individu.6 0.4 3.1 Phn.00 First Component 0. Diagram loading plot korelasi variabel kualitas air rawa habitat sagu di Pulau Seram (Loading plot diagram of water swamp quality variable correlation of the sago palm habitat at the Seram Island) Pada model indeks di atas.0 0.239 ha.9 1.8 348.25 0.61pH) + (1.8 104. pada habitat tidak tergenang (lahan kering) potensi produksi sagu basah tuni rata-rata mencapai 685. Pada luas areal tersebut tumbuh dan berkembang sekitar 3. Seram Di Pulau Seram Maluku terdapat potensi luas areal sagu sekitar 18.73Ca) + (1.8 1. Phn = pohon (trees).6 678.6 9.

Jenis Sagu (Sago Species) Tuni Makanaro Sylvestre Molat Rataan TTG 685. T2AP = tergenang temporer air payau (temporery inundated brackish water swamp). 144 . Seram (Yield potential of sago palm starch of the habitat type at the Seram Island) No.50 353. IV.68 kg/batang. Kesimpulan 1.22 393. B. Brady.C. 4.00 348. 2. Dalam komunitas sagu alami di plot penelitian wilayah Pulau Seram.13 Keterangan (Remarks) : TTG = tidak tergenang (dry land). N.00 126.11 708.26 186.2). 135 .21 dan 237. dengan tingkat asosiasi secara umum rendah (JI < 0. Departemen Pertanian.00 258. minuman.145 Tabel (Table) 4. 2005. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.81 Rataan (Average) 566.22 kg/batang. Potensi produksi pati sagu pada tipe habitat berbeda di P. 1990. Saran 1. Sagu tuni merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi luas (eury tolerance). 2. New York.00 460. dan kualitas air rawa yang paling berperan terhadap pertumbuhan sagu di Pulau Seram masing-masing adalah intensitas cahaya surya mikro. KESIMPULAN DAN SARAN A. The Nature and Properties of Soils. dan vegetasi non sagu).21 560.06 183.04 dan 560. Tanaman. tumbuh dan berkembang mengarah kepada kondisi vegetasi yang bersifat klimaks dan stabil. Upaya peningkatan produksi pati sagu di habitat alam dapat dilakukan dengan penyatuan pola pertumbuhan individu dalam rumpun yang stabil melalui upaya sortasi anakan dan pengaturan jarak tumbuh antar individu rumpun. sylvestre.3. tanah. dapat dilakukan dengan mengembangkan jenis sagu tuni serta sagu sylvestre baik pada tipe habitat lahan kering maupun tipe lahan tergenang temporer air tawar. tanah. Juli 2011.50 479. bioetanol atau industri lainnya). 2. maupun pemenuhan kebutuhan berbagai industri (makanan. Struktur populasi sagu di plot penelitian wilayah Pulau Seram mengikuti pola pertumbuhan muda. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah. spesies sagu telah berkembang mendominasi sebagian besar habitatnya.00 287.8 No. dan molat dikategorikan sebagai jenis sagu yang memiliki daya adaptasi sedang (meso tolerance). 1. 4. kualitas air rawa. Sagu tuni dan sylvestre merupakan jenis sagu yang memiliki kapasitas produksi pati sagu yang cukup tinggi. TPN = tergenang permanen (permanent inundated fresh weter swamp). 5. sedangkan rotang merupakan jenis yang memiliki daya adaptasi sempit (steno tolerance). Tiga jenis sagu yang lain yaitu makanaro. baik secara kolektif maupun antara spesies berpasangan. dan Pupuk. Bogor. Upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat dari jenis sagu bagi masyarakat di pedesaan Maluku dan Papua.22 348. 3. Dalam komunitas tersebut terjadi asosiasi interspesifik bersifat negatif. didominasi oleh fase semai dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya sangat tinggi mencapai 85%. 3. Variabel iklim. DAFTAR PUSTAKA [BPT] Balai Penelitian Tanah.74 Tipe Habitat (Habitat Types) T2AT T2AP TPN kg/batang 721. MacMillian Publishing Company. Air. kapasistas tukar kation. dan kandungan kalsium air.17 378.50 324.04 245.68 237.22 578.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.50 726. masing-masing mencapai 566. sedangkan kapasistas produksi sagu basah jenis sagu makanaro dan molat masing-masing sekitar 245. Terdapat interaksi antara tumbuhan sagu dengan faktor lingkungan (iklim.44 516. T2AT = tergenang temporer air tawar (temporery inundated fresh water swamp).

Second edition. Bitung. Diakses tanggal 11 Agustus 2008.J. Isozim. A. Arah dan Strategi Pengembangan Sagu di Indonesia. Makalah disampaikan pada lokakarya pengembangan sagu Indonesia. Statistical Ecology. D. dan Lilik B. 1997. Hardjowigeno. 1997. Sago Palm. a Primer on Methods and Computing. A. Third edition. ________. 2004. : PT. M. Daubenmire.. 2002. Dede Setiadi. Disertasi. 1988. John Wiley & Sons.Ambon 29-31 Mei 2006. Laboratory Manual. J. Responses of Plant to Environmental Stresses. Marzuki. Jurusan Tanah. Sirot. New York. dan I Made R. J. Analisis Multivariat. Institut Pertanian Bogor.E. Suryana. New York Flach. Rome. S. Edi Guhardja. Usaha Nasional. Habitat Selection by to Competing Species in a Two-Habitat Environment.W. Netherlands. 1994. 1980. Ekologi Kuantitatif. New York. A. K. Surabaya Supranto. Jakarta Ilmu Tanah. Putra. Program Pasca Sarjana. Setiadi. 2007. pp 76.E. Arti dan Interpretasi. C. Jakarta. Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Bogor. McGraw Hill. and J. J Biodiversitas 8 (3) : 199-203. I..ipgri. Potensi dan pengelolaan sagu di Maluku. John Willey & Sons. Melton tema sagu dalam revitalisasi pertanian Maluku. Kurniawan. 2005. 2006. New York Louhenapessy. Penerbit Institut Pertanian Bogor. 2002. Universitas Brawijaya. Studi Morfo-Ekotipe dan Karakterisasi Minyak Atsiri. 1997. Plant and Environment. 2008. Ludwig. J The American Naturalist 160 (2) 214-234. 25-26 Juli 2007. 1974. Sulawesi Utara.Undaharta Ni.Studi Ekologi Tumbuhan Sagu (Metroxylon spp) dalam Komunitas Alami di Pulau Seram. Academic Press.. Reynolds. International Plant Genetic Resources Institute. Maluku Samin Botanri. Eigth edition. Nusa Tenggara Timur. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. V.cgiar. Syekhfani. dan DNA Pala Banda (Myristica fragrans Houtt) Maluku [Disertasi]. 1992. Promoting the Conservation and Use of Underutilized and Neglected Crops. Kusmana. and E. Keterkaitan Profil Vegetasi Sistem Agroforestri Kebun Campur dengan Lingkungannya. R. General Ecology. Malang. Bogor.F. J. Soegianto. J Biodiversitas 6 (2) : 118-122. Metode Survey Vegetasi. Levitt. Prasetyo Cox. a Textbook of Autecology. Hara-Air-Tanah-Tanaman.F. 1998. Makalah disampaikan pada lokakarya sagu dengan 145 . 2007. Bogor. Pendit. Metroxylon sagu Rottb. G.pdf.org/Publications/ pdf/238. Asosiasi Jenis-Jenis Pohon Dominan di Hutan Dataran Rendah Cagar Alam Tangkoko. Sekolah Pascasarjana. http://www. Batam. Rineka Cipta. A. Keanekaragaman Spesies Tingkat Pohon di Taman Wisata Alam Ruteng. Krivan. Wageningen Agriculture University. PT. Ibnul Qayim.

moderate and light shading. seedling ages ABSTRAK Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) adalah salah satu jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. larutan NaCl. kondisi simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap pertumbuhan semai jenis kayu bawang selama penyimpanan. Statistically. The growth regulators were consisted of paclobutrazol.5%. 2 dan 3 bulan. Keywords: Growth regulators. Naskah diterima : 1 Juni 2011 ABSTRACT Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) is one of forest tree species that known to have seeds with rapidly loss their viability in several days. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menghambat pertumbuhan semai secara efektif sehubungan dengan upaya penyimpanan selama 6 bulan adalah penyemprotan semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. RH 96 %. environment conditions and seedling ages on the growth of kayu bawang seedlings during storage. paclobutrazol. intensitas cahaya 650 lux) dan penerapan larutan NaCl 0. Dengan demikian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. there should be an attemption to carry out a research on storing seedlings other than seeds by using slow growth method. sehingga penyimpanan benih untuk jenis ini masih menjadi kendala. The aim of the research was to determine the influence of growth inhibitors. paklobutrazol. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59.5% solution. 2 and 3 months olds.13 % in average and gave 95% of seedling survival. Meanwhile. Kondisi tempat simpan terdiri dari naungan berat. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth)./Fax. naungan sedang dan naungan ringan. so as storage of the seed for this species is still becoming a question. RH 96 %. PO Box 105. the age of seedlings at the time of spraying were 1. The environment conditions were arranged by placing the seedlings under heavy. NaCl and aquadest as the control. The results revealed that factors inhibiting the growth rate of kayu bawang seedlings effectively in term of storing for 6 months were the placement of 3 months old seedlings under heavy shading (T 25 0C. Such treatments could supress the height and diameter growth of the seedlings up to 59. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh beberapa bahan pengatur tumbuh. Therefore. the research was proposed by using factorial random complete design. light intensity of 650 lux) and application of NaCl 0. NaCl dan akuades sebagai kontrol. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). (0251) 8327768 Naskah masuk : 14 Juli 2010.16001 Telp.TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI KAYU BAWANG (Dysoxylum moliscimum) MELALUI PEMBERIAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PENGATURAN NAUNGAN Storage Techniques of Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) Seedlings Through Growth Inhibitor Treatments and Shield Prerequisites Dida Syamsuwida dan/and Aam Aminah Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan-Ciheuleut. kayu bawang (Dysoxylum moliscimum). Sedangkan umur semai pada saat penyemprotan adalah 1. Bogor . Bahan pengatur tumbuh yang digunakan adalah paklobutrazol. umur semai 147 .13 % serta memberikan persen hidup sebesar 95%. NaCl solution. Kata kunci : Bahan pengatur tumbuh.

sebagian lagi diletakkan di bedeng bernaung sedang (T = 280C. 2001).5%) dan akuades sebagai kontrol. PENDAHULUAN II. NaCl (0. terutama untuk kayu pertukangan. Juli 2011. 1999). bahan pengatur tumbuh dan umur semai saat penyemprotan yang efektif untuk disimpan. intensitas cahaya 8935 lux) dan naungan ringan (T = 300C. tanah. Semai pada masing-masing kondisi perlakuan. RH = 40%. RH = 80 %. b. Metode Penelitian 1. higrometer. Lewat masa tersebut persentase tumbuh menurun menjadi 50% (Riyanto. Sehubungan dengan upaya penyimpanan semai kayu bawang. Setiap jenis tanaman akan memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diberikan demikian juga umur tanaman saat diberi perlakuan. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Stasiun Penelitian Nagrak yang berjarak ± 10 km dari Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. dengan masa dormansi singkat kurang lebih 10 hari.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. disimpan selama 6 bulan dan setiap 148 . Jumlah biji per kilogramnya adalah 200 . intensitas cahaya 650 lux).3 bulan setelah penyapihan. maka telah dilakukan penelitian penyimpanan dengan melibatkan faktor kondisi lingkungan tempat simpan. Setelah semai berumur 1. Dengan demikian. oven. Pengecambahan benih Benih dikecambahkan dalam bak kecambah berisi media pasir-tanah dengan perbandingan 1:1. A. rumah tumbuh. Lokasi pengumpulan buah dilakukan di Kabupaten Bengkulu Utara. BAHAN DAN METODE A. Bahan danAlat Penelitian Bahan yang digunakan adalah benih-benih kayu bawang. intensitas cahaya 17593 lux). termometer. sehingga menghasilkan 1 liter larutan NaCl 0. Kayu bawang dikembangbiakkan oleh masyarakat secara generatif/dengan biji.2. kaliper. B. label.Waktu kegiatan dimulai bulanPebruarihinggabulanDesember2008. Jenis kayu bawang adalah satu di antara sekian banyak jenis pohon hutan yang dikenal memiliki benih dengan viabilitas yang cepat menurun dalam beberapa hari. Kecambah dibiarkan tumbuh hingga berumur kurang lebih 4-5 minggu. shading net. pasir. semai diletakkan di bawah naungan berat (T = 25 OC. Perlakuan Semai yang telah berumur 5 minggu dipindahkan (disapih) ke dalam polybag ukuran 10 cm x 20 cm yang masing-masing berisi media pasir. Tujuan dan Sasaran Tu j u a n p e n e l i t i a n a d a l a h u n t u k mendapatkan teknik penyimpanan semai kayu bawang melalui aplikasi bahan penghambat tumbuh dan pengaturan naungan pada umur semai yang berbeda. 147 . sehingga penyimpanan benih untuk jenis tanaman ini masih menjadi kendala. bedeng semai. dan luxmeter.300 biji. C. Biji kayu bawang segar mempunyai persen tumbuh 80 %. bak perkecambahan. Untuk mendapatkan larutan NaCl 0. Musim bunga dimulai sekitar bulan Pebruari dan saat pengunduhan biji pada bulan Mei .hutan sekunder terutama daerah Bengkulu Utara.153 I. Metode pertumbuhan lambat pada prinsipnya adalah menekan pertumbuhan semai selama dalam penyimpanan dengan memanipulasi kondisi lingkungan tempat simpan atau menambahkan bahan pengatur tumbuh dengan tetap mempertahankan daya hidupnya (Krishnapillay et al. B.8 No. Latar Belakang Kayu bawang (Dysoxylum moliscimum) merupakan jenis andalan Kabupaten Bengkulu Utara yang mempunyai pertumbuhan cepat dan kualitas yang baik.. Tahapan Pelaksanaan a.Juli. timbangan analitis. Larutan paklobutrazol 250 ppm dipersiapkan dengan cara melarutkan 1 mm paclobutrazol 250 gr/l bahan aktif ke dalam 999 ml akuades. kemudian tanaman disemprot dengan bahan penghambat tumbuh paklobutrazol (250 ppm). kemudian diletakkan di rumah kaca dan dilakukan penyiraman setiap hari. Alat-alat yang digunakan adalah alat gelas.5% dilakukan dengan cara melarutkan NaCl 5 gr ke dalam 999 ml akuades. Bogor. Kedua larutan tersebut kemudian diaduk sehingga menghasilkan 1000 ml (1 liter) larutan paclobutrazol 250 ppm. Kayu bawang berkembang secara alami di hutan . RH = 96 %. perlu dilakukan penelitian penyimpanan semai dengan menggunakan metode 'pertumbuhan lambat' (slow growth) yang diadopsi dari teknik penyimpanan Hawkes (1980).5%.3.

and survival percentage of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) A B AXB C AxC BxC AxBxC PertumbuhanTinggi (Height growth ) (cm) 8. interaksi antara kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata pada persen hidup semai kayu bawang.49 ** 2. Satu satuan perlakuan terdiri dari 12 semai. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis secara statistik. serta C: umur semai pada saat penyemprotan (1 bulan.26 9. diameter. Rancangan percobaan didekati dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 x 3 dengan ulangan 3 kali sehingga diperoleh 27 kombinasi perlakuan dan 81 satuan percobaan.64** 11. 2 bulan dan 3 bulan).49 41. sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan. Rekapitulasi hasil sidik ragam (Kuadrat Tengah) pengaruh perlakuan terhadap tinggi. B: kondisi simpan (naungan berat. umur semai.78 1. diameter dan persentase hidup semai kayu bawang (The summary of analysis of variances for height.28 12.89** 2. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil pengukuran persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan. 2. menunjukkan bahwa bahan pengatur tumbuh dan kondisi ruang simpan berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.74** 0.74 * = = = = = = Pertumbuhan diameter (Diameter growth ) (mm) 0. HASIL DAN PEMBAHASAN A. diameter dan persen hidup semai kayu bawang selama penyimpanan disajikan dalam Tabel 1.68 3.42 3. Tabel (Table) 1. naungan sedang dan naungan ringan. Hasil Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap parameter pertambahan tinggi.04 33. menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan. Rancangan Penelitian Percobaan terdiri dari 3 faktor perlakuan yaitu A: bahan penghambat pertumbuhan (aquades.81** 3.28* Keterangan (Remarks): ** * tn A B C Nyata pada taraf 1% (significant at 1% level) Nyata pada taraf 5% (significant at 5% level) tidak nyata (non-significant) Bahan pengatur tumbuh (growth regulators) Kondisi tempat simpan (storage site condition) umur semai ( seedling ages) 149 . Hasil pengamatan terhadap diameter semai kayu bawang menunjukkan bahwa kondisi ruang simpan dan umur semai berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter kayu bawang. setiap bulan sebanyak 12 contoh uji tanaman diamati dan diukur pertumbuhannya. III. interaksi antara bahan pengatur tumbuh dan umur semai.47** 0.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah interval 1 bulan diamati dan diukur respon pertumbuhannya. Penyimpanan dilakukan selama 6 bulan. perlakuan bahan pengatur tumbuh dan umur semai setelah dilakukan analisis sidik ragam. paclobutrazol dan NaCl). sedangkan interaksi antara kondisi ruang simpan.14 ** 12.14** 19.69 3.22 2. Ke-12 contoh uji adalah banyaknya satuan perlakuan untuk semai kayu bawang. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada persen hidup semai kayu bawang.44 Persen hidup (Survival percentage ) (%) 1. bahan pengatur tumbuh dan umur semai berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi semai kayu bawang.51 1. Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan dalam berbagai kondisi ruang simpan.

28ab 0.16 mm) dibandingkan kondisi naungan ringan (1.58ab 1. Uji beda nyata pengaruh interaksi antara bahan pengatur tumbuh.72ab 0.52ab 4.12ab 3.12ab 3 2.79ab 8.68 cm.30ab 3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.49b 1. kondisi tempat simpan dan umur semai disajikan dalam Tabel 2.97ab 1. Hasil uji beda rata-rata interaksi antara penyemprotan dengan aquades di bawah naungan sedang dan umur penyemprotan 1 bulan mempunyai nilai pertambahan tinggi terbesar yaitu sebesar 8.22ab 4.16 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B B Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) 150 .99ab 3.70 1.71 mm).58ab 2.07 mm) dibandingkan umur bibit 2 bulan (1. Sedangkan hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur NaCl. Semai dengan perlakuan umur bibit 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan diameter terendah yaitu (1.91ab Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan's test) Hasil uji beda rata-rata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter semai kayu bawang dapat dilihat pada Tabel 3. kondisi tempat simpan naungan berat dan umur semai 3 bulan menghasilkan nilai pertambahan tinggi paling rendah yaitu sebesar 0. Penyimpanan pada kondisi naungan berat menghasilkan pertumbuhan diameter yang nyata lebih lambat (1.49 cm.68a 3.16ab 3. Masing-masing umur semai memiliki nilai pertambahan diameter yang berbeda satu sama lain menurut uji Duncan.71ab 3.70 mm) namun tidak berbeda nyata dengan naungan sedang (1. Tabel (Table) 2. site conditions and seedling ages on the increment height of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Paclobutrazol NaCl Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 1.50ab 3.63ab 4.40ab 2.19ab 3.3.88ab 1.38 mm) Hasil uji beda rata-rata pengaruh umur semai terhadap diameter semai dapat dilihat pada Tabel 4.28ab Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 3. Uji beda nyata pengaruh kondisi tempat simpan terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of site conditions on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Naungan ringan Naungan sedang Naungan berat Rata – rata (mean) 1.8 No. Juli 2011.153 Hasil uji beda rata-rata interaksi antara bahan pengatur tumbuh.60ab 4.99ab 2.45 mm) dan umur 1 bulan (1.38 1.99ab 3. 147 . Tabel (Table) 3. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap pertambahan tinggi semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.15ab 3.

0a 97. Uji beda rata-rata pengaruh interaksi antara bahan penghambat tumbuh. Pembahasan Hasil pengukuran pertumbuhan tinggi semai kayu bawang selama penyimpanan menunjukkan bahwa secara keseluruhan tinggi semai setelah penyimpanan memperlihatkan kecenderungan meningkat.0a 47.9cd 88. site conditions and seedling ages on seedling survival of kayu bawang) Bahan (Material) Aquades Naungan (Shade) Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan 1 44. Bahan penghambat tumbuh NaCl dapat menekan pertumbuhan tinggi semai seperti halnya Paclobutrazol.4abc 50.71 1. menunjukkan bahwa pada umumnya semai yang disemprot dengan paclobutrazol 250 ppm.6ef 50.4i 50.0i 80.0a 91. Tabel 5. Dengan demikian selama penyimpanan pertumbuhan tanaman tetap berjalan.2g 100. Uji beda nyata pengaruh umur semai terhadap pertambahan diameter kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of seedling ages on the increment diameter of kayu bawang) Perlakuan (Treatments ) Umur 1 bln Umur 2 bln Umur 3 bln Rata – rata (Mean) 1.2i 72.2ab 75.0i 97.0fg 61.2ab 94.2ab 97.07 Pengelompokan Duncan (Duncan Grouping) A B C Keterangan (Remarks): Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers are followed by the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) Hasil interaksi antara bahan penghambat tumbuh.0a Umur (Age) (Bulan (Month)) 2 88. sedangkan semai yang disemprot dengan akuades pada umur 1 bulan dan disimpan pada naungan berat mempunyai persen hidup terendah dengan nilai 44.9cd 100.2ab 97. kondisi tempat simpan dan umur semai pada saat penyemprotan terhadap persen hidup semai kayu bawang disajikan dalam Tabel 5. Hal ini dapat dilihat dari hasil perlakuan bahan penghambat tumbuh ataupun manipulasi kondisi tempat simpan yang kurang cahaya terhadap pertumbuhan tinggi semai kayu bawang. Tabel (Table) 5.9cd 88.7bc 88.4abc 3 97. namun dengan pertambahan yang relatif rendah. namun demikian bahan kimia yang berupa garam ini 151 .2ab Paclobutrazol NaCl Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada taraf 1% menurut uji Duncan (These numbers followed the same letter showed no significant differences at 1% level according to Duncan test) B.1h 97. kondisi tempat simpan dan umur semai terhadap persen hidup semai kayu bawang (Result of the Duncan multiple range test of the effect of interaction between growth inhibitors.4 %.45 1.0i 83.2ab 100.2de 100.9cd 94.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Tabel (Table) 4. ditempatkan di bawah naungan ringan pada umur 1 dan 2 bulan mempunyai persen hidup yang tinggi yaitu sebesar 100 %. NaCl tidak termasuk ke dalam golongan zat penghambat tumbuh.

Intensitas cahaya yang masuk pada rumah tumbuh (650 lux) masih cukup bagi tanaman untuk melakukan fotosintesa sehingga metabolisme masih berjalan baik walaupun tidak maksimal yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan tinggi. maka akan terjadi kenaikan dalam pertumbuhan. 147 . Menurut Fisher (1996) penurunan aktifitas metabolisme pada tanaman utuh. Penekanan pertumbuhan tinggi semai kayu bawang juga terjadi pada perlakuan kondisi tempat simpan dimana pada kondisi naungan berat yang mempunyai intensitas cahaya paling sedikit (650 lux) dibandingkan tempat dengan naungan sedang (8935 lux) maupun ringan (17593 lux). perpanjangan batang. semai mengalami penghambatan dalam pertumbuhan tinggi. biasanya terjadi karena pengaruh kondisi lingkungan yang menyebabkan meningkatnya zat penghambat dan akibatnya terjadi perlambatan dalam pertumbuhan primordia daun dan batang. sehingga selama penyimpanan dalam naungan berat.153 dapat menjadi bahan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. 2001).5% yang disemprotkan. Pada penelitian ini umur semai 3 bulan sangat efektif digunakan untuk tujuan penyimpanan dibandingkan umur semai yang lebih muda (1 dan 2 bulan). Namun demikian perlu memperhitungkan waktu penggunaan semai untuk bibit ketika akan ditanam di lapang agar umur tanaman tidak terlalu tua. tidak hanya dikarenakan oleh keracunan pada akar tanaman tapi juga berkurangnya air bagi tanaman.3. Menurut Hawley (1981) NaCl tersusun dari unsur Na + dan Cl yang mana ion Cl nya secara analogis mempunyai sifat mekanisme yang sama dengan ion Cl yang terdapat dalam paklobutrazol. Garam menghambat pertumbuhan melalui pengaruh Na + dan Cl yang terserap tanaman dan kurang tersedianya air bagi tanaman. sehingga metabolisme terganggu dan pertumbuhan terhambat. Mekanisme penyerapan yang serupa terjadi pada larutan garam yang disemprotkan kearah daun (pupuk daun) dimana garam yang terlarut dalam air dapat masuk ke ruang interselular melalui lubang stomata. sehingga sangat responsif terhadap cekaman lingkungan yang diberikan.8 No. status nutrisi dalam tanaman. Menurut Soepardi (1983) semakin tinggi konsentrasi kandungan garam dalam tanah. umur daun. Secara keseluruhan pengaruh bahan penghambat pertumbuhan berkaitan dengan naungan yang diberikan terhadap penekanan pertumbuhan tinggi. yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan akar tunggang (Hendromono. Menurut Kozlowsky dan Pallardy (1979) penyerapan hara melalui daun tergantung dari : cahaya. Sedangkan menurut Kamaluddin (1999) respon tanaman yang tahan naungan seperti pada jenis Dipterocarpaceae. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman memerlukan cahaya untuk pertumbuhannya. Hal ini diduga terjadi karena tanaman yang lebih tua telah mengalami penurunan aktifitas metabolisme untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Umur semai saat perlakuan pada penelitian ini sangat berpengaruh terhadap laju pertambahan tinggi dan diameter tanaman. Karena Cl merupakan elektrolit kuat sehingga dapat menimbulkan stress pada biosintesa giberellin. Namun apabila cekaman lingkungan (dormansi) berakhir. Juli 2011. Cahaya diyakini berpengaruh tidak langsung melalui 152 . Hal ini terjadi karena ion-ion sudah dalam jumlah yang tidak seimbang sehingga menjadi racun bagi tanaman. cukup peka terhadap manipulasi kondisi lingkungan. Seperti misalnya NaCl dalam penelitian ini pada umur berapapun dapat menghambat pertumbuhan tinggi apabila diberikan pada kondisi naungan berat. kelembaban relatif. formulasi dan konsentrasi nutrisi (pupuk). pengurangan ketebalan daun tampaknya lebih disebabkan oleh perubahan dalam kualitas cahaya ke arah merah-jauh (far red) daripada pengurangan intensitas cahaya itu sendiri (Fisher. oleh karena itu konsentrasi garam tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Dalam kasus ini tampaknya gabungan perlakuan intensitas cahaya dan salinitas (kadar garam) merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tinggi semai kayu bawang dimana kombinasi antara pencahayaan yang sedikit (650 lux) menyebabkan proses fotosintesa tidak berjalan dengan baik dan diperparah dengan adanya larutan garam 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Menurut Lakitan perpanjangan batang adalah berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. suhu. yang menyebabkan kerusakan membran sel daun dan penutupan stomata daun. Meningkatnya konsentrasi garam dalam air pada tanaman mengakibatkan ketersediaan air bagi tanaman menurun. Seperti yang dinyatakan oleh Lakitan (1996) bahwa salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah intensitas cahaya. pertumbuhan tanaman akan semakin terhambat. Terjadinya etiolase pada tanaman yang ternaungi. 1996).

T. F. In Marzalina. 1995. Plants. Kualalumpur. Malaysia. Toronto. 1996. Diego. 1979. J.A & William. Jayanthi.T dan S. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang. M. Kondisi ini dapat menekan pertumbuhan tinggi dan diameter rata-rata sebesar 59. DAFTAR PUSTAKA Fisher.R and N. Manipulation of Growth Light Environment for Storage of Seedlings of Shade-Tolerant Forest Tree Species in nursery.Teknik Penyimpanan Semai Kayu Bawang (Dysoxylum moliscimum) melalui Pemberian Zat Penghambat Tumbuh dan Pengaturan Naungan Dida Syamsuwida dan Aam Aminah penurunan konsentrasi CO2 oleh fotosintesis. 1-8 Kozlowsky. N. In M. Kualalumpur. Ketika semai masih berumur 1 bulan dan disimpan pada kondisi intensitas cahaya sedang (8935 lux). 1999. Sifat dan ciri tanah. IV. P. Hal. terlepas dari peranannya dalam fotosintesis (Salisburry and Ross. IUFRO Seed Symposium 1998 ' Recalcitrant Seeds'. Krishnapillay (Eds). IUFRO Seed Symposium 1998 'Recalcitrant Seeds'.D.Y Tsan and B. Hawkes. Jilid 1. Jurusan Ilmu-ilmu Tanah Fakultas Pertanian.M Fisher. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman: Fase Vegetatif. 1983. K.T (Eds).T Raja Grafindo Persada. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. In Whithers. Kondisi ini terjadi juga pada semai yang diberi bahan penghambat paklobutrazol dimana efektivitas dalam penekanan pertumbuhan tinggi terjadi pada semai umur 1 bulan dan intensitas cahaya yang sedang. Goldsworthy. 153 .411 Pallardy. Malaysia. Hal. M. Bogor. G. Hal ini terjadi mungkin karena umur semai yang masih muda memiliki jumlah klorofil yang relatif sedikit sehingga kekuatan dalam menangkap energi cahaya yang diberikan sangat terbatas dan akibatnya pertumbuhan tidak optimal. 12 Nopember 2001.286-295.A Nashatul Zaimah. H. L. P.Pp. 1999. F. Proc. Tsan.Y. Pp. M. Proc.M. Tokyo. 280285. Gadjah Mada University Press. Kayu Bawang (Dysoxylum sp) Berpotensi untuk Kayu Pertukangan.Y Tsan and B. 2 nd Ed. Lakitan. Fisiologi Tumbuhan. Bogor.C Khoo. 1996. IPGR. Jakarta. 2001.G. 1980. Palembang. N.Jayanthi and N. Slow Growth as a Method to Ensure Continuous Supply of Planting materials for recalcitrant seed species.) dan Mahoni (Swietenia macrophylla King) terhadap Kandungan Garam Air Penyiraman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. The Conservation of Difficult Materials. San Boston. B. B. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropika. N. Krishnapillay. Soepardi. Penerbit ITB Bandung. Institut Pertanian Bogor. P. Riyanto.13 % serta mempertahankan persen hidup hingga 95%. FB and CW Ross. Krishnapillay (Eds). Sydney. Batas Toleransi Bibit Gmelina (Gmelina arborea Roxb. 156213. J. Kamaluddin. Marzalina. maka pertumbuhan tinggipun masih terhambat. London. N. Buletin Penelitian Hutan.5% pada semai umur 3 bulan dibawah kondisi naungan berat (T 25 0C. K. Crop Genetic Resources. KESIMPULAN Faktor yang menghambat pertumbuhan semai kayu bawang selama penyimpanan 6 bulan adalah penerapan larutan NaCl 0. 2001. Hendromono. Genetic Conservation of Recalcitrant Species: an Overview.C Khoo. F. namun sejumlah kajian juga menyebutkan bahwa cahaya mempunyai pengaruh kuat terhadap stomata. intensitas cahaya 650 lux). Salisbury.Marzalina.G Physiology of Woody Academic Press. Jayanthi. Rome. RH 96 %. Ed. 1995). New York.

Jawa Barat Telp. (0251) 8622642. analisis gerombol. Bogor. socio-economic. I Nengah Surati Jaya . Keywords: Biophysical. Kampus IPB Darmaga.. The main objective of this study is to determine the most significant variables that affect the village typologies related to private forest area. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan variabel yang paling signifikan yang mempengaruhi tipologi desa yang terkait dengan luas hutan rakyat.e. namely high potential area and low potential area types. distance to main road. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga. and productive age population were investigated. kemampuan lahan. hutan rakyat.e. sosial ekonomi. email : tien_unw@yahoo. village typologies ABSTRAK Penelitian ini menguji penggunaan faktor biofisik dan sosial ekonomi dalam mengklasifikasi desa dengan variabel penciri hutan rakyat. Clustering analysis of the study found two typologies of private forest development. Endang Suhendang . distance to state forest area. The only factor that has no correlation with private forest area is distance to main road. Hardjanto2. Sekolah Pascasarjana IPB. Hasil penelitian menemukan terdapat delapan variabel yang berkorelasi.. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis menggunakan data 336 desa. dan umur produktif penduduk yang diteliti.TIPOLOGI DESA BERDASARKAN VARIABEL PENCIRI HUTAN RAKYAT Village Typologies Analysis Based on Characteristic Variables of Private Forest Tien Lastini . dan kerapatan jalan dan dan 3 variabel sosial ekonomi yaitu: kepadatan penduduk. Dasar pembuatan tipologi pada penelitian ini adalah faktor biofisik dan sosial ekonomi. private forest. dengan nilai akurasi umum sebesar 64%. jarak ke kawasan hutan negara. kelerengan lahan. rumah permanen. Berdasarkan analisis gerombol. dan/and Herry Purnomo2 1 2 2 Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Naskah diterima : 10 Juni 2011 1 ABSTRACT The study examined the use of biophysical and socio-economic factors to classify village as characteristic variables of private forest. The study found that most of those factors has close correlation with the existence of private forest. tipologi desa 155 . population density. land configuration. penelitian berhasil menemukan 2 tipologi hutan rakyat. jarak ke jalan besar. This study was conducted in Kabupaten Ciamis covering 363 villages. clustering analysis.com 2 Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Jl. permanent home. road density. land capacity. Bogor 16680 Jawa Barat-Indonesia Telp (0251)8622642 Naskah masuk : 11 Februari 2011. Kata kunci : Biofisik. Selected variables for clustering are based on the principle component analysis design of eight correlated variables. Terdapat 6 variabel biofisik yaitu: penggunaan lahan non sawah. Variabel yang terpilih untuk penggerombolan adalah berdasarkan desain hasil analisis komponen utama terhadap 8 variabel yang berkorelasi. and three of socio-economic factors i. There are six of biophysical factors i. yaitu wilayah yang berpotensi tinggi dan berpotensi rendah untuk berkembangnya hutan rakyat. non rice field-land use. with having overall accuracy of 64%. dan satu variabel yang tidak berkorelasi dengan luas hutan rakyat yaitu jarak ke jalan besar.

Secara spasial hutan rakyat umumnya tidak tersebar dalam suatu hamparan yang kompak. Juli 2011. B. Kondisi petani di Indonesia umumnya subsisten. Dengan demikian untuk menerapkan dan menganalisis komponen-komponen kelangsungan pelestarian itu perlu dibuat suatu perencanaan wilayah berbentuk suatu wadah atau unit pengelolaan. yang menyebabkan hutan rakyat tidak mengelompok pada suatu areal tertentu tetapi tersebar berdasarkan letak. tipologi ini dapat membantu menduga potensi sebaran hutan rakyat untuk wilayah yang belum diketahui dan belum dilakukan inventarisasi menyeluruh.168 I. Perencanaan wilayah tersebut sebaiknya bersifat spesifik dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah yang dihadapi. seperti posisi tawar yang lemah dan informasi yang kurang. Segala keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan rakyat (penanaman. Sistem pengelolaan hutan rakyat dengan berdasarkan komponen-komponen yang mendukung dapat menjamin kelestariannya. Swedia. 2002). Pembentukan unit pengelolaan hutan rakyat memerlukan penggalian karakteristikkarakteristik wilayah yang ingin dikelola. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor biofisik dan sosial ekonomi yang membentuk tipologi untuk menduga potensi hutan rakyat.25 ha sampai saat ini dipakai sebagai syarat untuk dikategorikan sebagai hutan. BAHAN DAN METODE A. penebangan dan pemasaran) ditentukan oleh kebijakan masing-masing keluarga (Mindawati et al. dimana luasan lahan kepemilikan berkisar antara 5-40 ha per keluarga (Harrison et al. Kabupaten Ciamis memiliki potensi hutan rakyat yang besar di Jawa Barat. Pengelolaan hutan rakyat dilakukan oleh masyarakat secara individual (pada tingkat keluarga) pada lahan miliknya. Luas 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Di Pulau Jawa rata-rata kepemilikan dalam satu hamparan sempit kurang dari 1 ha.. Latar Belakang Hutan rakyat memiliki karakteristik yang unik. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Indonesia seperti negara-negara Eropa Utara (Filandia. PENDAHULUAN A.3. 155 . menyebabkan keadaan tersebut menjadikan petani dalam posisi lemah. II. Lokasi penelitian di Kabupaten Ciamis ( Research areas in Kabupaten Ciamis) 156 . 2006). Gambar (Figure) 1.8 No. pengelompokan berdasarkan karakteristik tertentu disebut dengan tipologi. Dengan terbentuknya tipologi hutan rakyat diharapkan dapat menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah yang unik berdasarkan karakteristik masingmasing wilayahnya. dimulai bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011. 1991). sehingga sulit untuk mencapai luasan minimum 0. Selain itu. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang mencakup sebanyak 336 desa. Luasan kepemilikan relatif kecil sehingga untuk mencapai luasan yang besar maka perlu penggabungan beberapa kepemilikan lahan.25 ha (Suharjito 2000 dan Haeruman et al. pemeliharaan. dan Norwegia). luas pemilikan lahan dan keragaman pola usaha tani yang akan berpengaruh terhadap jumlah pohon pada setiap kepemilikan.

Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang terkait dengan hutan rakyat dan pengaruh biofisik terhadap perkembangan suatu wilayah (Suharjito 2000. Awang et al. Pada penelitian ini yang dimaksud jalan besar adalah jalan kolektor. b. (2001) menyatakan salah satu areal yang menjadi sasaran pembangunan hutan rakyat adalah areal kritis dengan keadaaan lapangan berjurang dan bertebing. peta digital kawasan hutan negara (sumber RBI tahun 2006 dan Baplan 2011). dengan unit analisisnya adalah desa. Kementerian Kehutanan.. Kelas-kelas kelerengan dalam suatu wilayah dapat dilihat pada Tabel 1. 1 2 3 4 5 Kelas lereng (Slope classes) Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Kisaran (Intervals) (%) 0–8 8 – 15 15 – 25 25 – 40 > 40 157 . 2007. Kedekatan terhadap kawasan hutan negara memiliki peluang untuk berkembangnya hutan rakyat baik secara alam maupun budaya. dan Herry Purnomo B. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelas lereng yang sudah umum digunakan dalam penatagunaan hutan. SPSS versi 17.. Perhitungan jarak terdekat tersebut menggunakan analisis spasial terhadap 2 layer. Pengumpulan Data a. peta digital jaringan jalan. BPS. Identifikasi Variabel-Variabel Pendukung Keberadaan Hutan Rakyat Dalam penelitian ini dicari variabelvariabel yang sangat mempengaruhi keberadaan hutan rakyat di suatu lokasi. peta kawasan hutan negara.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Klasifikasi kelas lereng ( Clasification of slope classes) No. b. Bahan danAlat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : peta digital administrasi Kabupaten Ciamis. Data dan informasi atas hasil analisis pengolahan spasial peta dijital lokasi penelitian dibantu dengan beberapa layer yang mendukung. Tabel (Table) 1. I Nengah Surati Jaya. Haeruman et al. Hardjanto 2003) ditemui variabel-variabel sebagai berikut : a. 1991. perguruan tinggi. Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap kawasan batas hutan negara terdekat. Metode 1.2. peta digital kontur. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arc View versi 3. peta tanah. serta literatur publikasi ilmiah lainnya. Analisis Data 2. c.Hardjanto. Minitab versi 14. dan alat pendukung lainnya. dan peta batas administrasi. Data sekunder diperoleh dari publikasi lembaga pemerintahan seperti Dinas Kehutanan. 2.1. data profil desa Kabupaten Ciamis tahun 2006. Perhitungan jarak dilakukan dengan analisis spasial.. yaitu peta kontur. C. Jarak Terdekat Desa ke Jalan Besar Jarak terdekat ini didefinisikan sebagai jarak lurus (km) dari batas desa terhadap jalan besar terdekat. Sehingga variabel yang perlu diperhatikan adalah perbandingan (rasio) antar luas areal dengan kelas kelerengan lahan yang lebih besar sama dengan 15% terhadap total luas desa. lembaga penelitian. peta digital jenis tanah. Jarak Terdekat Desa ke Kawasan Hutan Negara Terdekat. Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Peternakan dan Kehutanan (BP4K). yaitu layer batas administrasi desa dengan batas kawasan hutan negara di Kabupaten Ciamis. Endang Suhendang. Rasio Kelerengan Lahan Menurut Awang et al. peta jaringan jalan. Jalan kolektor yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kotamadya terhadap kepentingan provinsi.

1. Diasumsikan bahwa ketika pendapatan penduduk semakin meningkat maka kondisi rumahnya akan semakin permanen.Rasio Umur produktif penduduk 2. Kemampuan Lahan Hutan rakyat di Jawa umumnya banyak ditanam di wilayah lahan kritis yang tidak subur.Jarak ke kawasan hutan hutan negara .. dan drainase di suatu wilayah desa.8) NTi = Nilai Tengah kelas ke.i (i=1. 2. e. Secara ringkas variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Rumusnya dapat dilihat sebagai berikut: Panjang jalan (m) Kerapatan Jalan Luas desa (ha) f.8 No. kepekaan erosi. Umumnya hutan rakyat timbul pada wilayah-wilayah yang masih kurang padat penduduknya. 2.8) KL = i = 1 Li × Nti g.Jarak ke jalan besar . f.Kemampuan Lahan .. 155 .Kepadatan penduduk . yaitu dari rasio antara jumlah rumah permanen dengan total rumah di desa bersangkutan. Sehingga secara keseluruhan ada 9 (sembilan) variabel yang diuji untuk mengetahui yang berpengaruh terhadp pembagian tipologi. Variabel-variabel tipologi hutan rakyat (Typology Variables of private forest) No. kedalaman tanah. Kerapatan Jalan Kerapatan jalan adalah rasio antara luas jalan (m) dengan luas desa(ha). Karakteristik Sosial dan Ekonomi 158 . tekstur tanah permeabilitas. Adapun variabel kemampuan lahan di suatu desa (KL) (Arsyad.64 tahun) dengan luas total desa.Kerapatan jaringan jalan . Tabel (Table) 2.168 d..Tingkat rumah permanen .3. Kemampuan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk membuat modifikasi kelas kemampuan lahan adalah kelerengan.3.. Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non Sawah) Penggunaan lahan bukan sawah adalah perbandingan (rasio) areal lahan pertanian non sawah dengan luas total desa. Untuk data pendapatan dilakukan dengan pendekatan terhadap kondisi perumahan.. Indikator (Indicators) Karakteristik Bio-Fisik Peubah-Peubah (Variables ) .Rasio kelerengan lahan . Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa hutan rakyat di Jawa umumnya dibudidayakan di areal-areal lahan kering daerah atas (upland areas). Rasio Rumah Permanen Rasio rumah permanen merupakan pendekatan terhadap informasi pendapatan penduduk. Juli 2011. 1989): 8 Luas Total Desa Dimana : Li = Luas kemampuan lahan kelas ke. Semakin besar rasio maka diasumsikan pendapatan penduduk setempat semakin tinggi. sehingga diduga ada hubungan antara potensi hutan rakyat dengan kondisi kemampuan lahannya. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk didefinisikan sebagai rasio antara jumlah penduduk di setiap desa (orang) dengan luas administratif desa (ha). Rasio Umur Produktif Rasio umur produktif adalah perbandingan antara jumlah penduduk berusia produktif (15 .i (i=1..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Pengelolaan hutan rakyat masih dianggap kegiatan sampingan yang bersifat tidak intensif. H.Penggunaan Lahan ( land use) .3. sehingga diduga beberapa wilayah yang berkembang hutan rakyatnya ketika jumlah umur produktif sedikit dan didominasi umur non produktif.

b. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. (2) Evaluasi akurasi Untuk menguji akurasi kelompok yang terbentuk menggunakan prinsip matrik kesalahan ( confusion m atrix ). Penggunaan Analisis Gerombol (Clustering Analysis) Dasar pembuatan tipologi adalah variabelvariabel yang dianggap dominan dalam menentukan potensi hutan rakyat. Sehingga jika mencari gabungan yang terbaik adalah yang memiliki selisih ragam antar kelompok dengan ragam dalam kelompok yang terbesar. Pengujian Tipologi Untuk mengetahui kelompok-kelompok yang terbentuk sudah memiliki gambaran yang mirip terhadap potensi hutan rakyat. (2) mengelompokkan variabel-variabel penting dari satu bundel variabel besar untuk menduga suatu fenomena. yaitu : a. dan Herry Purnomo 2. tetapi keragaman antar kelompok besar. proporsi.3. Endang Suhendang. Penelitian ini menggunakan analisis gerombol ini dengan metode K-Means. dan mereduksi objek dalam dimensi yang lebih kecil. b. antar komponen utama saling original/bebas. Analisis korelasi yang di-gunakan adalah korelasi Spearman.2. analisi korelasi menghubungkan 2 variabel yaitu masing-masing 9 variabel biofisik dan sosial ekonomi yang diuji dengan luas hutan rakyat di suatu desa. Analisis Korelasi Pada penelitian ini. merupakan konbinasi linier dari variabel asal: Yi = ai1X1+ai2X2+…+aipXp Hasil analisis komponenkomponen utama antara lain nilai akar ciri. Untuk melakukan pengelompokan tipologi digunakan analisis gerombol (clustering analysis). 2. Ada tiga karakteristik komponen utama: informasi data asal yang dijelaskan maksimum (memiliki ragam maksimum). Nilai -1 atau +1 menunjukkan adanya hubungan yang sempurna antara X dan Y. maka dilakukan pengujian sebagai berikut : (1) Uji keragaman Kelompok yang terbentuk dikatakan baik jika keragaman dalam satu kelompok kecil. sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel. metode ini menetapkan terlebih dahulu jumlah kelompok yang akan dibuat sehingga metode ini cocok jika data yang diolah banyak. Sebagai 159 . Untuk menganalisis hal tersebut digunakan 2 cara. Diasumsikan bahwa potensi tersebut dapat mewakili karakteristik lokal hutan rakyat di suatu tempat. Sehingga dilakukan pengujian pada setiap kelompok yang sudah terbentuk. Analisis Komponen Utama ( Principal Component Analysis/PCA) Tujuan dari analisis komponen utama dalam penelitian ini .Hardjanto. yaitu: (1) untuk mendapatkan variabel-variabel baru yang saling orthogonal/bebas. dan kumulatif akar ciri. Penentuan Variabel Dominan Dari 9 (sembilan) variabel akan dianalisis hubungannya dengan hutan rakyat di suatu desa.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. I Nengah Surati Jaya. sehingga semakin mendekati nilai tersebut semakin erat hubungan X dan Y. Keragaman dapat diketahui dengan rumus : Ragam rata-rata dalam kelompok adalah : n m i 1 n 2 yi y 2 i i 1 i 1 n 1 m s2 y Keterangan : yi = luas hutan rakyat pada desa ke-i n = jumlah desa pada kelompok ke-i m = jumlah kelompok Ragam antar kelompok yang distandarkan : Keputusan yang terbaik jika: memiliki ragam dalam kelompok yang terkecil dan ragam antar kelompok yang terbesar. Potensi hutan rakyat dalam penelitian ini adalah luas hutan rakyat di suatu desa. Pembentukan Tipologi a. Penggunaan metode ini banyak digunakan untuk beberapa tujuan penelitian (Rahmalia 2003).

045 .441** .045 .197** .058 .145** -.357** -.108* -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.297** -. tetapi juga menghitung jumlah desa yang dikelaskan pada tipologi tidak tepat masuk dalam kelas acuan. dapat dilihat pada Tabel 3.234** .265** -.111 * -.367** -.072 -.264** .072 -.486** 1. Akurasi kappa pada umumnya mempunyai nilai akurasi lebih kecil dari akurasi rata-rata umum karena pada akurasi kappa dihitung tidak hanya berdasarkan jumlah desa yang dikelaskan masuk secara benar pada kelas acuan.139* -. 2006) sebagai berikut : Tabel (Table) 3.441** -.198** .932** .145** 1. dan rasio kelerengan lahan. Korelasi antar variabel biofisik.447** -.382** . Akurasi rata-rata umum dihitung menggunakan rumus (Jaya.433** .139* -.208** . pendapatan penduduk.426** .496** .367** .127* 1.01 level) * Berkorelasi nyata pada level 0.453** -.197** -.380** .072 .233** -.000 -.05 level) 160 .108* .447** 1.357** 1. Korelasi sangat nyata yang bersifat positif saling menguatkan adalah : rasio penggunaan lahan bukan sawah (non sawah).277** . X+1 = Luas kolom dalam baris ke-i X1+ = Luasan dalam kolom ke-j N = Total area verifikasi III.276** .380** . dan kerapatan jalan. Dari 9 peubah tersebut yang memiliki nilai tiga terbesar korelasinya adalah rasio kelerengan lahan.245** -.320** -.565** . Dari confusion matrix dapat menghitung akurasi rata-rata umum (overall accuracy) dan akurasi kappa accuracy.01 (Correlated at 0.932** -.426** Kepadatan Penduduk (Population density) -. HASIL DAN PEMBAHASAN A.529** -.266** -.000 .486** -.099 -. kerapatan jalan.000 . umur produktif.216** -.127* Keterangan (Remarks): ** Berkorelasi nyata pada level 0.050 -.178** Non Sawah (Non rice field) .276** -. Juli 2011.320** -.382** .050 .099 -.154** Rumah Permanenen (Permanent home) -. dan rasio lahan bukan sawah.529** -.178** .154** Kemampuan Lahan (Land capacity) -. 155 . Keterangan (Remarks) : OA = Nilai akurasi rata-rata umum (Overall Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antar kelompok atau kelompok variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.453** .245** 1.225** -. Sedangkan yang tidak berkorelasi adalah jarak desa ke jalan besar terdekat.198** .225** Jarak Jalan (Distance to main road) . jarak ke hutan.565** 1.072 1.215** -. sosial ekonomi.216** -. Penentuan Variabel Dominan Pembentuk Tipologi Berdasarkan korelasi Spearman terdapat hubungan yang sangat nyata antara beberapa variabel terhadap keberadaan luas hutan rakyat di suatu desa.000 -.05 (Correlated at 0.297** -.101 .208** Umur Produktif (Productive age population) -.233** . Sedangkan korelasi sangat nyata yang bersifat negatif adalah kepadatan penduduk.264** .266** -.496** -.058 KerapatnJ alan (Road density) Luas Hutan Rakyat (Private forest area) Kepadatan Pendudu (population density) Rumah Permanen (Permanent home) Umur Prod uktif (Productive age population) Non Swh (Non rice field) Kelerengan lahan(Land slope) Jarak hutan (Distance to state forest area) Jarak Jalan (Distance to main road) KmampuanLahan (Land capacity) Kerapatan J alan (Road density) -.000 -.000 -. kemampuan lahan. Akurasi kappa dihitung menggunakan rumus (Jaya.000 -.000 .215** . 2006) sebagai berikut : Keterangan (Remarks) : K = Akurasi Kappa (Kappa Accuracy) Xii = Coincided Value atau luasan kelas tingkat keberhasilan yang sama antara hasil tipologi dan kelas variabel yang dijadikan acuan untuk verifikasi.8 No.265** Kelerengan lahan (Land slope) .433** -.234** .000 1.3.000 . N = Total area verifikasi.168 standar adalah kelompok yang dibentuk berdasarkan data luas hutan rakyat.101 -.111 * -.167** . dan luas hutan rakyat (The correlation between biophysical and socio-economic variables and private forest area) Variabel (Variables ) Luas Hutan rakyat (Private forest area) 1.277** Jarak Hutan (Distance to state forest area) -.167** -.

d. yakni berada di wilayah landai sampai curam. Hal ini disebabkan timbulnya hutan rakyat pada kondisi lahan marginal yang tidak memiliki banyak alternatif kegiatan pertanian yang lebih produktif. Hasil korelasi dengan luas hutan rakyat menunjukkan adanya korelasi negatif berarti hutan rakyat memang cenderung berkembang pada wilayah-wilayah dengan kemampuan lahan yang rendah. Endang Suhendang. Jarak ke Hutan Negara Keberadaan hutan negara di dalam atau sekitar desa ternyata berpengaruh dengan keberadaaan hutan rakyat. Semakin maju desa memungkinkan banyaknya alternatif penggunaan lahan lain yang lebih produktif. Kepadatan Penduduk Merupakan variabel yang berhubungan negatif dengan luas hutan rakyat. b. Kondisi ini mendorong pemilihan menanam kayukayuan dibanding dengan pertanian intensif. Sehingga sekarang diduga tumbuhnya hutan rakyat dominan di wilayah-wilayah tidak subur. Hutan rakyat umumnya banyak ditemukan pada kondisi desa yang memiliki rata-rata pendapatan yang rendah. Sehingga hubungan korelasi antara rasio umur produktif dengan luas hutan rakyat bersifat negatif. I Nengah Surati Jaya. Akhirnya kebanyakan penduduk yang tinggal di desa adalah orang-orang usia lanjut. Hutan rakyat merupakan alternatif berikutnya ketika lahan tidak memungkinkan untuk ditanam tanaman pertanian atau budidaya lain yang lebih cepat menghasilkan. e. menyatakan umumnya lokasi hutan rakyat berada di wilayah areal lahan kering daerah atas ( upland areas ). banyak penduduk desa yang berada dalam usia produktif bekerja di kota. Rasio Penggunaan Lahan Bukan Sawah (Non sawah) Berdasarkan penelitian Suharjito (2000). Rasio rumah permanen Keberadaaan rumah permanen dalam penelitian ini diasumsikan dengan pendapatan penduduk. Kerapatan Jalan Variabel ini berkorelasi dominan kedua setelah rasio kelerengan lahan terhadap keberadaan hutan rakyat di suatu desa. f. Ketika desa memiliki kerapatan jalan yang besar cenderung memiliki hutan rakyat yang sedikit. kerena semakin sedikit penduduk berpeluang areal digunakan dengan penggunaan lain selain pemukiman seperti perkebunan dan lainnya. c. Semakin luas penggunaan lahan pertanian non sawah berarti semakin besar pula potensi pengembangan hutan rakyatnya. Wilayah yang tidak memperoleh pengairan untuk sawah berada di wilayah-wilayah atas (upland areas) yang tentunya memiliki topografi lebih curam. Kepadatan penduduk juga berkorelasi positif dengan variabel rasio umur produktif. Sehingga ketika terjadi urbanisasi yang besar. di sinilah hutan rakyat berkembang. Hubungan antar pendapatan penduduk dengan potensi keberadaan hutan rakyat di suatu desa berkorelasi negatif.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.Hardjanto. g. dan Herry Purnomo Penjelasan lebih terperinci mengenai kondisi antara variabel-variabel tersebut sebagai berikut: a. Dari hasil korelasi menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan positif dengan keberadaan hutan rakyat dan sangat nyata hubungannya. Daerah tersebut merupakan daerah pertanian non sawah. sehingga semakin padat penduduk kemungkinan besar jumlah umur produktif juga ikut bertambah di suatu wilayah desa. Rasio Umur Produktif Pengelolaan hutan rakyat tidak seintensif pengelolaaan pertanian dan perkebunan. Rasio kelerengan lahan Variabel ini memiliki korelasi tertinggi diantara variabel lainnya. Ini menunjukkan bahwa hutan rakyat dominan berada di wilayah yang tidak datar. Semakin dekat areal hutan negara dengan suatu desa. Ini menenjukkan bahwa variabel rasio non sawah bisa menjadi penanda untuk menduga potensi pengembangan hutan rakyat di suatu desa atau wilayah. Kemampuan lahan Berdasarkan pengalaman sejarah dimulainya hutan rakyat karena gerakan penghijauan pada daerah-daerah kritis (Hardjanto 2003). yang biasa disebut dengan tegalan atau kebun. h. Secara logis hal ini tentu demikian. maka umumnya semakin besar potensi hutan rakyat. Kondisi ini diduga karena Variabel biofisik dan budaya. Wilayah hutan negara di Kabupaten Ciamis umumnya berada di lokasi topografi curam di daerah-daerah pegunung- 161 . Hutan rakyat umumnya ditemukan pada wilayah berpenduduk rendah. Lahan ini dalam pendataan statistik disebut dengan lahan pertanian non sawah. Kerapatan jalan berhubungan dengan kemajuan transportasi di suatu wilayah desa.

sedangkan wilayah jauh dari jalan besar sebaiknya. sehingga dari delapan komponen utama yang dihasilkan dapat dipotong sampai KU empat saja karena sudah cukup mewakili proporsi keragaman. dan bahkan terlibat dalam ke-giatan pemanenan sebagai buruh tebang.165 0.168 an dengan kondisi assesibilitas yang sulit. 0.146 0. Ditambah dengan seringkali penyebaran bibit secara alam dari hutan negara ke lahan milik melalui angin dan binatang-binatang hutan.338 -0.7.443 7. Berdasarkan analisis komponen utama (PCA) yaitu variabel-variabel yang berhubungan nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa.107 PC5 -0.341 1.070 0.149 -0. Sehingga tumbuhlah jenis-jenis tanaman yang biasa ada di hutan negara seperti jati.661 -0.223 0.293 PC3 0. 8.951 -0.157 0.199 0. maka masyarakat sekitar hutan sudah terbiasa dengan pengelolaan hutan dan malah juga terlibat langsung sebagai penggarap jika hutan tersebut hutan produksi.407 0.114 0. i.8463 0. 6.056 0.491 0. Sehingga untuk analisis komponen utama dimasukkan 8 variabel pendukung.164 1.725 -0.889 -0.134 0. memelihara.281 -0.377 2.284 0.371 PC2 0. Tabel (Table) 4 . maka alternatif penggunaan lahan untuk penanaman tidak banyak dengan demikian menanam kayu yang bersifat tidak intensif menjadi pilihan.113 0. 3.100 0.457 -0.080 -0. Dari hasil korelasi pada Tabel 3 diketahui bahwa dari 9 variabel yang dianalisis.441 0. Memperhatikan kondisi biofisik tersebut. 0.301 0.056 -0. sedangkan dipandang dari sudut budaya.333 0. Juli 2011.600 -0.337 0.323 0.301 0.668 PC8 0. Sebagai penggarap di areal tumpangsari PT Perhutani.133 PC6 0.049 1.033 0. maka dapat dilihat dari nilai kumulatif proporsi lebih dari 70% dan nilai akar ciri lebih besar dari 0.018 0.627 -0.185 0. diduga karena berdekatan dengan hutan sejak dulu.520 0. dan pinus di lahan milik pribadi petani.115 -0.523 0. Dengan demikian kebiasaan ini dapat tertular di lahan milik pribadi mereka.8 No.340 0.904 0.055 -0.185 0.475 0.295 0.083 PC7 -0.389 0.523 0.108 0.582 0.069 0.603 0.325 -0. kemungkinan setiap lokasi memiliki keuntungan yang seimbang terhadap perkembangan hutan rakyat.128 0.5602 0.000 162 .068 -0.479 0.156 -0. Wilayah dekat jalan besar memiliki keuntungan biaya pengangkutan menjadi murah tetapi tentu harga tanah yang lebih mahal.168 0.331 0.001 -0. hanya satu variabel yaitu jarak ke jalan besar yang tidak signifikan berkorelasi nyata.713 -0.074 -0. 155 . 2.4969 0.669 -0. Untuk mengetahui berapa banyak komponen utama (KU) yang diambil.056 -0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.715 -0. mahoni.084 -0. Nilai analisis komponen utama variabel (Value of principal component analysis) No 1. Jarak ke jalan Analisis korelasi jarak terdekat antar batas desa ke jalan besar (jalan kolektor) ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap kondisi hutan rakyat di suatu desa dibanding variabel lainnya.106 0.466 0.340 0.450 -0.3929 0. Variabel (Variables) Kepadatan Penduduk (Population density) Rumah permanen (Permanent home) Umur Produktif (Productive age population) Non Sawah (Non rice field) Kelerengan lahan (Land slope) Jarak ke hutan (Distance to state forest area ) Kemampuan Lahan (Land capacity) Kerapatan Jalan (Road density) Akar ciri (eigenvalue) Proporsi (proportion ) Kumulatif Proporsi (Proportion cumulative) PC1 0. maka petani sudah terbiasa dengan cara-cara menanam.212 PC4 0. Ketika variabel ini tidak nyata berpengaruh terhadap luas hutan rakyat.3.062 0. Jalan besar merupakan jalur transportasi pengangkutan kayu ke luar wilayah.264 4 5.819 -0.

Pembentukan Tipologi 1. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari variabel dominan yang membentuk komponen utamanya sebagai berikut : . 4 variabel. Endang Suhendang. yaitu yang menggunakan desain 2 variabel. Tabel 5 dapat diketahui bahwa penggunaan 5 kelompok dan 4 kelompok menghasilkan jumlah tipologi yang kurang efisien karena jumlah anggota sangat kecil dibawah 10 desa.Pada PC1 menggambarkan indeks kelerengan lahan dan non sawah.Wilayah Pc3 merupakan indeks rumah permanen dan kepadatan penduduk yang merupakan variabel sosial ekonomi.Pada Pc2 merupakan indeks kondisi kemampuan lahan. Nilai ini menunjukkan dominan kelerengan lahan yang datar dengan kegiatan non persawahan yang rendah. Dimana menujukkan kemampuan lahan yang tinggi. Banyaknya anggota setiap desain dan kelompok (Number of villages each design and cluster) JUMLAH ANGGOTA TIAP KELOMPOK (Number of villages of each cluster) 7 6 5 4 3 Variabel Variabel Variabel Variabel Variabel 8 Desain Variabel Jmh Variabel 5 Kelompok (5 clusters) 1 183 2 86 3 62 4 2 5 3 4 Kelompok (4 clusters) 1 185 2 60 3 86 4 5 3 Kelompok (3 clusters) 1 228 2 103 3 5 2 Kelompok (2 clusters) 1 239 2 97 2 Variabel PC1234 PC123 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 183 86 62 2 3 161 124 45 5 1 161 124 45 5 1 176 68 53 43 5 149 72 70 40 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 185 60 86 5 171 115 44 6 171 115 44 6 185 86 60 5 153 85 61 37 228 103 5 228 103 5 228 103 5 228 103 5 202 99 35 202 99 35 196 80 60 195 78 63 239 97 239 97 239 97 239 97 249 87 249 87 235 101 234 102 163 . PC1234.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Tabel (Table) 5. . I Nengah Surati Jaya. dan Herry Purnomo Berdasarkan analisis komponen utama yang menggunakan 4 KU pada Tabel 4 dapat diketahui empat karakteristik desa di Kabupaten Ciamis yang didekati dari 8 Variabel. Sedangkan untuk 3 kelompok dan 2 kelompok terdapat 4 desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang efisien. dan Pc123. . Jumlah tipologi Hasil klustering dengan menggunakan semua alternatif variabel yang bisa diterapkan. kecuali satu yang menggunakan desain PC123 dengan 4 Kelompok. Dimana menujukkan nilai tinggi pada jarak yang ke kawasan hutan B. . yaitu dari penggunaan 8 variabel sampai 2 variabel ditambah dengan penggunaan data analisis komponen utama (AKU) dapat dilihat pada Tabel 5.Hardjanto.Pada wilayah PC4 merupakan indeks jarak desa ke kawasan hutan negara.

8 No.3. Dalam rangka menentukan desain yang teruji dengan baik dari ke delapan desain lewat dua uji ragam tersebut. selanjutnya desain 2 variabel dengan Keterangan (Remarks) : Gambar (Figure ) 2. Dimana yang dianggap baik jika ragam dalam kelompok kecil dan ragam antar kelompok besar. Uji ragam terhadap luas hutan rakyat dilakukan melalui uji dalam kelompok dan antar kelompok. nilai selisih terbesar adalah yang memiliki nilai uji yang baik. Dibandingkan dengan standar/acuan pengelompokan yang sudah dibuat.4 Kelp PC1234 .2 Kelp PC1234 . Pada Tabel 7 diketahui selisih terbesar uji ini adalah pada desain jumlah 2 variabel dengan tiga kelompok. 2. maka dapat diukur berapa besar akurasinya. maka dilakukan pengurangan antara uji ragam antar kelompok dengan uji ragam dalam kelompok.3 Kelp PC1234 . 155 . (Comparison of whitin cluster and inter cluster variant) 164 . 7. Pada Gambar 2a dapat dilihat bahwa uji ragam antar kelompok desain 1 sampai 4 relatif memiliki ragam dalam kelompok yang kecil dibanding desain 5 sampai 8. Daftar desain terpilih tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. 5. Desain jumlah variabel yang menghasilkan jumlah kelompok yang sama maka dipilih yang paling sederhana. Perbandingan Ragam dalam Kelompok dengan Ragam Antar Kelompok.2 Kelp Semua desain yang telah dicoba (Tabel 5). Sedangkan untuk uji ragam antar kelompok pada Gambar 2b.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. ragam yang terbesar adalah desain ke 2. Hasil tipologi terpilih dilakukan pengujian dengan uji ragam dan evaluasi akurasi menggunakan prinsip matrik kesalahan (confusion matrix). Jumlah desa setiap kelompok terpilih (Number of villages for each selected cluster) Desain Jumlah Variabel (Number of variables Design) 2 Variabel – 2 Kelp Kelompok 1 (cluster 1) 249 202 239 235 196 153 195 234 Jumlah Desa (Number of Villages ) Kelompok 2 Kelompok 3 (cluster 2) (cluster 3) 87 99 97 101 80 85 78 102 53 60 61 63 - Kelompok 4 (cluster 4) 37 - 2 Variabel – 3 Kelp 4 Variabel – 2 Kelp PC1234 . Dapat terlihat grafik pada Gambar 2 menunjukkan kedua uji tersebut. Pengujian Hasil Tipologi Hasil tipologi yang telah terbentuk dengan berbagai desain peubah diuji ketepatannya untuk menduga luas rakyat setiap desa.3 Kelp PC1234 .168 Tabel (Table) 6. Juli 2011. hanya 8 desain jumlah variabel yang dapat diterapkan selanjutnya. dan 8.

delapan desain yang dianalisis tiga desain menggunakan peubah asli sedangkan lima desain sudah menggunakan peubah PC yang diubah melalui analisis komponen utama (AKU). 2 Variabel-2 kelompok 63.595 1.706 6 22500. Desain jumlah Variabel Akurasi (Accuracy) ( number of variables design) Rata-Rata Umum Kappa (Overall) (Kappa) 1. Pada Tabel 8 dapat diketahui hasil evaluasi akurasi pada kedelapan desain terpilih.632 12798.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini.393 26. Metode gerombol (clustering analysis) menggunakan asumsi tidak ada multikolinieritas antar peubah yang digunakan. 2 Variabel .940 3.196 1.75 7 2 10971. Berdasarkan variabel yang digunakan maka. Diperoleh nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa terbesar terdapat pada perlakuan desain PC1234 dengan 2 kelompok dengan nilai masing-masing 64% dan 27%. 4 Variabel-2 kelompok 60.988 27. Ragam rata-rata antar kelompok dan dalam kelompok (Average variety of inter and within clusters) Desain Jumlah Variabel (Design of number of variables) Ragam Rata-Rata (Average variant) Antar Kelompok (Betweencluster) (A) Dalam Kelompok (Within cluster) (B) Selisih (differen-ce) (A-B) Rangking 2 Variabel -2 Kelp PC1234 3 Kelp PC123 – 2 Kelp PC123 – 3 Kelp PC123 4Kelp 2 Variabel -3 Kelp 4 Variabel -2 Kelp PC1234 2 Kelp 1.429 17. dan Herry Purnomo 2 kelompok. Tetapi menurut Santoso (2010).846 6.132 8 Tabel (Table) 8.301 19384.179 13.4 kelompok 27.633 5 PC1234-3 kelompok 40.44 4 10967.015 165 .083 6.482 3.476 14.026 4. Tabel (Table ) 7.55 20968. Endang Suhendang.650 7 PC123.271 8 PC123. dan yang ketiga desain dengan mengunakan analisis komponen utama dengan 4 KU yang membagi 2 kelompok. I Nengah Surati Jaya.3 kelompok 40. Dengan menggunakan peubah yang sudah melalui AKU dapat menghilangkan multikolinieritas tersebut. Desain kedua yang terbaik adalah 2 variabel dengan 2 kelompok dengan nilai akuarasi umum sebesar 63% dan akurasi Kappa sebesar 26%.932 6 PC123-2 kelompok 50.05 7 3 19388. PC1234-2 kelompok 63.47 3 1 14097.338 5 22740.714 21.532 3.5.59 0 13170.3 kelompok 46.072 20972. Nilai akurasi rata-rata umum dan akurasi Kappa (Value of overall accuracy and Kappa accuracy) No. menyatakan batas kolinieritas tersebut masih dapat ditolerir untuk nilai korelasi dibawah 0.55 22493.363 2.971 1.920 7 -22739. Ini menandakan bahwa desain tersebut yang paling akurat dalam menduga kelompok desa berdasarkan luas hutan rakyat.17 6 14095.Hardjanto.963 0.98 0 4 13171.24 3 12796.485 3.

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa sebaran yang dihasilkan dengan desain PC1234 terlihat lebih kompak dan sehamparan dibanding sebaran yang dihasilkan desain 2 variabel. (a) Pc1234. Sedangkan berdasarkan desain 2 variabel menduga sebanyak 74% wilayah Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang memiliki potensi pengembangan yang besar. Terdapat kondisi-kondisi yang kurang memungkinkan untuk berkembangnya hutan rakyat Pengembangan lebih mengarah ke bidang di luar hutan rakyat.168 3. Sebaran pengelom-pokan desa berdasarkan desain tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. Untuk membentuk satu unit pengelolaan lebih mudah Tabel (Table ) 9.2 kelompok Gambar (Figure) 3. Bila tetap bertahan untuk kegiatan hutan rakyat sebaiknya perlu penggabungan wilayah yang lebih besar untuk menjadikan 166 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Potensi pengem-bangan hutan rakyat disini dilihat dari besarnya luasan hutan rakyat di dalam suatu desa. Juli 2011. Karakteristik dan Arah Pengembangan Tipologi Pada proses akurasi terdapat dua desain yang memiliki akurasi yang baik. (b) 2 variabel-2 kelompok Pengelompokan berdasarkan desain (a) PC1234 dan (b) 2 variabel (Grouping based on design (a) PC1234 and (b) 2 variable) ketika wilayah yang akan digabungkan berdekatan secara spasial. yaitu desain dengan mengunakan PC1234 dengan nilai akurasi sebesar 64% dan desain dengan 2 variabel (rasio kelerengan dan kerapatan jalan) dengan nilai akurasi sebesar 63%.8 No. Berdasarkan desain PC1234 terlihat dugaan wilayah Kabupaten Ciamis memiliki 70% daerah yang memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang besar. Diharapkan dengan memiliki luas hutan rakyat yang besar merupakan salah suatu peluang untuk mencapai pengelolaan hutan rakyat yang menguntungkan dan efisien. 155 . Tetapi jika unit pengelolaan tersebut berupa desa tentunya dapat berdiri sendiri secara individual ketika potensinya besar .3. Tipologi Wilayah Karakteristik dan arah pengembangan setiap tipologi (Characteristics and direction of development of each typology) Karakteristik (Characteristic) Arah Pengembangan (Development direction) Jumlah Desa (Village numbe) Desain Desain 2 PC1234 Variabel 101 87 I Merupakan wilayah-wilayah desa dimana penggunaan lahannya tidak didominasi hutan rakyat.

Y Nugroho. Faktor-faktor biofisik dan ditambah dengan sosial ekonominya mendukung untuk berkembangnya pengelolaaan hutan rakyat di wilayah ini. Sadiyo. maka disarankan untuk menentukan arah pengembangan pengelolaan hutan rakyat suatu wilayah perlu pertimbangkan variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan potensi hutan rakyat seperti di penelitian ini. lembaga masyarakat dan lainnya.Hardjanto. rasio umur produktif. Desain metode yang digunakan menggunakan desain 4 komponen utama (Pc1234). IV. Endang Suhendang. yaitu tipologi wilayah yang berpotensi untuk berkembangnya hutan rakyat dan wilayah yang tidak berpotensi berkembang hutan rakyat.T Widayanti. KESIMPULAN DAN SARAN A. dan rasio rumah permanen. Awang. S. Kelima variabel lainnya berurutan berdasarkan besarnya korelasi dengan luas hutan rakyat adalah jarak ke hutan negara. dan rasio penggunaan lahan bukan sawah. Perlu dibentuk wadah / unit pengelolaan hutan rakyat agar terjadi sistem yang menjamin kelestarian. I Nengah Surati Jaya. 2. Bogor. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses 167 . Kustomo. Merupakan wilayah-wilayah desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang besar. Jumlah desa berpotensi tinggi hasil dugaan desain penelitian ini lebih besar dari nilai acuan sebenarnya. yaitu akurasi ratarata umum sebesar 64%. 2007.B Wiyono. V. kelompok tani. salah satunya karena secara fakta kondisi biofisik dan sosial ekonomi mendukung untuk berkembangnya hutan rakyat. 2001. dan Herry Purnomo Tabel (Table) 9. Gurat Hutan Rakyat. dan lainnya.A. Jumlah Desa (Village numbe) Desain PC1234 Desain 2 Variabel II 235 249 Desa yang dianggap berpotensi tinggi adalah yang mempunyai nilai lebih besar dari rata-rata luas hutan rakyat di Ciamis. Perlu penanganan yang lebih profesional untuk mengelola potensi hutan rakyat dari berbagai pihak. dan S. yaitu berkisar 58 Ha setiap desa. Debut Press. S.Tipologi Desa Berdasarkan Variabel Penciri Hutan Rakyat Tien Lastini. Agar perencanaan pengelolaan yang diterapkan dapat mewakili karakteristik masing-masing wilayahnya. 1989. Kesimpulan 1. Sapardiono. H Santosa. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. Tipologi yang terbentuk ada dua. Lanjutan (Continued) Tipologi Wilayah Karakteristik (Characteristic) secara biofisik ditambah aspek sosial ekonomi. tiga variabel terbesar adalah rasio kelerengan lahan. S. Selain itu desain kedua yang teruji adalah menggunakan desain 2 variabel. pemerintah. W. Terdapat delapan variabel yang berkorelasi nyata dengan luas hutan rakyat di suatu desa. B. E.A. Konservasi Tanah dan Air. cengkeh. Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perbedaaan ini. kepadatan penduduk. Awang. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. kerapatan jalan. kemampuan lahan. baik petani. tetapi saat ini bisa jadi yang berkembang adalah tanaman non kehutananan seperti kelapa. IPB. Hasil pengujian memiliki keragaman dalam kelompok dan antar kelompok yang baik dan nilai akurasi yang lebih besar dari yang lain. Arah Pengembangan (Development direction) suatu unit pengelolaan yang lestari. yaitu rasio kelerengan lahan dan kerapatan jalan dengan akurasi rata-rata 63%. Yogyakarta.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Davis. 2001. L. 2003. E. and Social Values. Inc. Management and Policy. Bogor. Jakarta Suharjito. Bettinger. New York. Hardjanto. John Wiley & Sons. Review Hasil Penelitian : Hutan Rakyat. S. Statistik Multivariat.E.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. and T. Small-scale Forest Economics. Bogor. P. Mindawati. I. J. Rustaman. 2003. Dillon. Smallholder.. 2003. Studi Kemungkinan Pengembangan Konservasi Lahan melalui Hutan Rakyat. Sustaining Family Forest in Rural Landscapes: Rationale. Multivariate Analysis. Program Pascasarjana. Chalenges. Badan Penelitian dan PengembanganKehutanan. Howard. New York.S. 2006.. Bogor : Program Pascasarjana. Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa. 1984. Fakultas Kehutanan IPB. dan B. A. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa [disertasi]. K. 155 .R dan M. D. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Fourth Edition. 2010. J. PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. H.Widiarti. Juli 2011. 2000. Abidin.N. Santoso.N . Bliss.S. Fakultas Kehutanan UGM. 1991.. 2002. W. Haeruman.S. Rahmadia. 1(1): 1-11. Goldstein. Harrison. Economic. Bogor. Forest Management : To Sustain Ecological. Analisis Citra Digital : Perspektif Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. McGrawHill Companies. Banyumili Art Network bekerjasama dengan Pusat Kajian Hutan Rakyat. USA . 168 . R. Hardjanto. S. Institut Pertanian Bogor. N. Suhendang. Herbohn. Method and Applications. 2006. 2(1): 1-8. Konsep dan aplikasi dengan SPSS.Johnson. and an Illustration from Oregon. Yogyakarta. dan E. Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat Fakultas Kehutanan IPB.3.168 Konstruksi Pengetahuan Lokal. Small-scale and Family Forestry : What's in a Name? Small-scale Forest Economic. Non Industrial.8 No. dan A. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Niskanen. Management and Policy. 2003.C. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-Desa Pesisisr Kota Bandar Lampung. Tesis. Jaya.

fire control organization. HP: +6281210494949. provinsi dan kabupaten/kota. and district levels indicate that a relatively good coordination has been existent among the national level organizations. e-mail: halikodra@wwf. Riau demonstrates a better situation than West Kalimantan in the coordination. Sampai sekarang kebakaran hutan/lahan di Indonesia belum dapat diatasi secara optimal. e-mail: erlyskm@yahoo. Bambang H. dan/and Priyadi Kardono4) 1) 2) 3) Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan. institution ABSTRAK Kebakaran hutan/lahan merupakan salah satu sumber penyebab utama perubahan iklim global.com 4) Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam.kardono@gmail. Hadi S. Hasil analisis menemukan bahwa koordinasi antar organisasi pada tingkat nasional relatif baik. Keywords: Coordination. provincial. The results of study on 42 organizations at national.or. administratif.HUBUNGAN ANTAR ORGANISASI DALAM SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN/LAHAN DI INDONESIA Study on Interorganizational Relationships in the Organizing System of Forest/Land Fire Control in Indonesia Erly Sukrismanto .com Naskah masuk : 3 Januari 2011. Cibinong 16911 HP: +62816731777. IPB. disebabkan salah satunya oleh sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan yang masih lemah. Jl. Gatot Subroto. An analysis method using the three aspects of integrative coordination including service delivery. Koordinasi secara horizontal pada satu tingkatan maupun secara vertikal antar tingkatan di Riau telah terjalin di antara lebih banyak organisasi dibandingkan dengan di Kalimantan Barat. Jakarta 10270. IPB. HP: +628161948064. Alikodra . HP: +62818161166. sedangkan koordinasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota masih lemah.com 2) Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. While at provincial and district levels. e-mail: bhsaharjo@gmail. Bogor. although the coordination in the research sites is still insubstantial. di mana 169 .id 3) Departemen Silvikultur. Raya Jakarta-Bogor KM 46. Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 13. The relationships among Riau's organizations at each of the provincial and district levels and vertically between those levels as well as with the national one have been existent. Bogor. While in West Kalimantan such relationships present in only among a few organizations at the same level and absent in between levels. Bakosurtanal. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antar organisasi di dalam sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan. The study thus provides evidence that the coordination among the organizations involved in forest/land fire control has been inadequate so that management of forest/land fires is still ineffective. Fakultas Kehutanan. Jl. Naskah diterima : 7 Juni 2011 1) ABSTRACT Forest/land fire is one of the main causes of global climate change. administrative and planning is employed. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis jejaring koordinasi dengan kajian terhadap tiga aspek yaitu bantuan layanan. Until recently the management of forest/land fire control in Indonesia is still ineffective due among others to the weakness of its fire control organization system. dan perencanaan pada 42 organisasi tingkat nasional. Saharjo . The coordination among the involved organizations is considered ineffectual. The difference in the basis of departmentation seems to be the reason. e-mail: priyadi. Fakultas Kehutanan. This research aims at finding empirical evidences to prove the opinion.

Colman dan Han. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa belum efektifnya organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan dalam menangani kebakaran hutan/lahan dan faktor-faktor penyebabnya selama ini. 1994. 2004) dan kelembagaan pengendalian kebakarannya (Simorangkir. di tingkat provinsi di Riau dan Kalimantan Barat.96 trilyun yang setara dengan 70% dari nilai PDB sektor Kehutanan tahun 1997. Kelemahan pengorganisasian dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain (1) belum jelasnya peranan dalam pengorganisasian (Wehmeyer et al. 1999). sementara peran masing-masing organisasi/institusi pengendalian kebakaran kurang mendapat perhatian. maupun kabupaten/kota. Juli 2011. dan politik. METODE PENELITIAN A. yakni hubungan antar organisasi. baik di tingkat nasional.8 No. Penelitian ini membuktikan secara empirik bahwa koordinasi antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat keharmonisan hubungan antar para pihak atau institusi dalam upaya merancang model sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia. pengendalian kebakaran. Kajian terhadap aspek sosial politik dan kelembagaan lebih banyak menyoroti lemahnya aturan main dalam pelaksanaan serta penegakan sanksi. provinsi.. 1982. 2001. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap organisasi-organisasi di tingkat nasional di Jakarta dan sekitarnya. sosial. kompetisi. atau perseteruan (Mooi. Mulford dan Klonglan. baik ekologi dan lingkungan maupun ekonomi. Teknik Pengambilan Contoh Hasil identifikasi mendapati sebanyak 42 organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan dari semua tingkatan. Suprayitno dan Syaufina. institusi I. Kata kunci : Koordinasi. Kartodihardjo. Provinsi Kalimantan Barat. Bolland dan Wilson. Malone et al.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol..177 koordinasi secara horizontal maupun secara vertikal belum terjalin. 170 . Selama 10 tahun terakhir jumlah rata-rata titik panas per tahun masih di atas 50 ribu titik. sehingga kebakaran hutan/lahan belum dapat terkelola dengan baik. 2005). II. 2008). 2008). 1982). 2003. PENDAHULUAN Kebakaran hutan/lahan di Indonesia berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek. oksigen. Berbagai studi menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan/lahan di Indonesia tidak hanya bersifat teknis yang berkaitan dengan penyebab fisik di lapangan yang berkaitan dengan ketersediaan unsur-unsur segitiga api (bahan bakar. 2001) dan (3) belum efektifnya organisasi yang terlibat (Young Lee dan Whitford. Hubungan antar organisasi dapat berupa kerja sama. B.. DFID dan World Bank (2007) menyatakan bahwa kebakaran hutan/lahan di Idonesia telah melepaskan sekitar 1400 metrik ton karbon dioksida per tahun. 169 . melainkan juga berkaitan dengan sosial politik (Doscemascolo. Pelibatan di antara pihak-pihak tersebut memerlukan suatu sistem pengorganisasian yang bekerja secara integratif dan harmonis agar efektif dan efisien (Siswanto. Organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan banyak instansi atau organisasi pemerintah. 2009). Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010. Hubungan dalam pengorganisasian kebakaran hutan/lahan di Indonesia adalah kerja sama dalam bentuk koordinasi.3. 2001. Tulisan ini menguraikan hasil studi terhadap faktor kedua.3 milyar atau Rp 5. dan panas) yang berlimpah (Chandrasekharan. dan di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu. 1999. 2006). Data besarnya jumlah akumulasi titik panas (hotspot) merupakan indikator tingginya frekuensi terjadinya kebakaran hutan/lahan (Hiroki dan Prabowo. baik pada satu level maupun antar level pemerintahan. Faerman et al. (2) belum optimalnya hubungan antara organisasi-organisasi yang terlibat (Mulford dan Klonglan. 2001. Wehmeyer et al. Provinsi Riau dan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya.. 2007. Bappenas (1999) mencatat kerugian akibat dari kebakaran hutan/lahan tahun 1997-1998 sekitar US$ 9. jauh di atas emisi dari sektor energi yang hanya sekitar 275 metrik ton.

Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih tingginya frekuensi kebakaran hutan/lahan di daerah tersebut seperti digambarkan oleh jumlah akumulasi titik panas 171 . 2. Kondisi serupa juga terjadi di Kalbar. Saharjo. maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara kedua organisasi tersebut. Ada dua institusi yang memiliki hubungan layanan terkonfirmasi terbanyak yaitu LAPAN dan Bakosurtanal seperti terlihat pada Gambar 2. Jika sedikitnya satu orang dari organisasi tersebut mengenal sedikitnya satu orang dari organisasi lain. Analisis ini menggunakan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh mana organisasi lain telah membantu organisasi responden dalam mencapai tujuan. Pertanyaan angket tersebut berupa: (1) Client referrals (rujukan klien) yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara institusi dalam memberikan dan menerima bantuan layanan. Pengolahan dan analisis data menggunakan prosedur yang diadopsi dari coordination network analysis (Bolland dan Wilson. Di tingkat provinsi. 3. upaya pemadaman masih sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Alikodra. Bantuan Layanan Hasil analisis menunjukkan bahwa organisasi yang saling berhubungan di dalam memberikan bantuan layanan di tingkat nasional hanya 9 organisasi dari 22 organisasi yang terbentuk.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. dan (3) Perkenalan untuk mengetahui hubungan daari aspek perencanaan. Bambang H. Analisis ini menggunakan kombinasi jawaban responden atas pertanyaan apakah organisasinya (a) memberi bantuan layanan kepada dan/atau (b) menerima bantuan layanan dari organisasi lain. Kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi oleh Dishut Provinsi Riau dalam menggalang bantuan dari berbagai pihak. padahal dengan kapasitas organisasi yang masih lemah. Dishut Provinsi Riau yang dalam struktur Pusdalkarhutla memegang peranan penting sebagai koordinator bidang pemadaman justru tidak memiliki hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi dari manapun kecuali dari Dishutbun Kab. Pengumpulan danAnalisis Data Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari tiap organisasi yang diamati berupa dokumen profil organisasi yang berkenaan dengan hubungan dan kerja sama organisasi tersebut dengan organisasiorganisasi lain dan data keterlibatannya dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. III. bahkan di daerah tersebut tidak ada satupun hubungan bantuan layanan yang terkonfirmasi di antara organisasi-organisasi di tingkat provinsi dan juga di tingkat kabupaten/ kota serta antar tingkatan. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan adalah Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutlada). Hadi S. Sebagai contoh. Jumlah responden adalah 282 orang terdiri dari 42 pejabat eselon II. 1994) sebagai berikut: 1. HASIL DAN PEMBAHASAN A. namun bantuan yang diberikan atau diterima tidak terkonfirmasi oleh organisasi lain. 84 pejabat eselon III. Salah satu di antara contoh matrik hubungan bantuan layanan di antara organisasi tertera pada Gambar 1. sedangkan di kabupaten/kota adalah Satuan Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satlakdalkarhutla). dan Priyadi Kardono Pengambilan contoh dilakukan secara purposif di mana responden yang dipilih terdiri dari para pejabat di tingkat eselon IV sampai dengan eselon II yang sering ditugasi atau bidang tugasnya berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan/lahan pada setiap organisasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang diadopsi dan dimodifikasi dari Bolland dan Wilson (1994). (2) Hubungan administrasi yang melibatkan transaksi sumber daya dianalogikan dengan bantuan organisasi lain dalam mencapai tujuan. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Planning. Analisis ini adalah untuk memperoleh sebuah ukuran dari bantuan layanan yang terkonfirmasi. hubungan dalam aspek bantuan layanan masih relatif terbatas. Kedua organisasi tersebut lebih banyak memberikan layanan dalam bentuk informasi. Inhu. Analisis ini melihat kaitan antara orang-orang dari dua organisasi dengan cara meminta responden menuliskan nama orangorang yang ia kenal dari organisasi lain. Walaupun banyak organisasi yang saling berhubungan dalam aspek pelayanan. C. Data primer berupa pendapat responden yang merupakan parameter yang dapat menunjukkan persepsi para pimpinan organisasi/instansi mengenai hubungan antara organisasinya dengan organisasi-organisasi lain. dan 156 pejabat eselon IV. Administratif. Bantuan Layanan.

Menurut konsep tersebut organisasi seharusnya lebih fokus membangun kapabilitasnya sendiri. Gambar (Figure) 2. 1999) harus diperjelas di dalam struktur dan uraian tugas organisasi yang akan dibangun. 0 = hubungan tidak terkonfirmasi (unconfirmed relation) 172 .221 titik/tahun.177 (hotspot) yang masih relatif tinggi. 1999) belum terdefinisikan dengan jelas. 1997) belum diterapkan dengan benar.. Lintan Dit. Di samping itu. PKH Dit. Sistem pengorganisasian yang ada saat ini mengandalkan keterlibatan banyak pihak. 169 . penetapan tugas (Malone et al. Kondisi tersebut membuat kinerja dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan selama ini relatif masih rendah di semua tingkatan. Contoh sebagian matriks hubungan antar organisasi dalam bantuan layanan di tingkat nasional (A part of the matrix indicating the interorganizational relationships in service delivery at National level) No. jumlah hotspot rata-rata per tahun selama 10 tahun terakhir masih 7.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. misalnya. Linbun Asdep PKHL BNPB Bappenas BMKG Basarnas Bakosurtanal LAPAN Depdagri Deplu Depsos Depkes Dephub Depkeu Mabes TNI 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan (Remarks) : Angka 1 = hubungan terkonfirmasi (confirmed relation). Diagram hubungan antar organisasi dari aspek bantuan layanan di Riau (Inter-organizational relationships on the aspect of service delivery in Riau) Gambar (Figure) 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Organisasi Dit. Di Riau. tetapi yang terjadi justru organisasi-organisasi tersebut lebih mengandalkan bantuan sumber daya dari organisasi lain. konsep kerja sama (Mulford dan Klonglan.3. Malone et al.. Juli 2011. Hal ini terjadi karena peranan-peranan dalam koordinasi (Wehmeyer et al. 1982) dan concept of capability (Ulrich. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sistem pengorganisasian yang diterapkan dalam Pusdalkarhutla di mana departementasi didasarkan pada wilayah pemangkuan kawasan. tetapi hubungan perbantuan layanan masih kurang.8 No. 2001..897 titik. sedangkan Kalbar sebanyak 9. Untuk itu.

Administratif Hubungan administratif antar organisasi biasanya melibatkan transaksi sumber daya yang memungkinkan organisasi tersebut lebih efektif dalam mencapai tujuannya (Bolland dan Wilson. PKH Kementerian Kehutanan. dari 22 organisasi yang diamati terdapat 15 organisasi yang saling membantu dalam pencapaian tujuan. sedangkan antara tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota serta di antara organisasi-organisasi di satu tingkatan tidak ada hubungan (Gambar 3). kemudian membagi tugas. Hal ini dapat memberikan jawaban mengenai masih rendahnya kinerja pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/ lahan sampai sekarang. mengidentifikasi sumber daya untuk menjalankan tugas. Bambang H. Dit. 1999) dan transaksi sumber daya (Bolland dan Wilson. Saharjo.PKH memiliki hubungan terbanyak dalam aspek tersebut. Gambar (Figure) 3. Sementara itu. AsdepPKHL dan Dit.. Dengan perkataan lain. Hal ini juga dapat menggambarkan fakta di mana sering terjadi organisasi di tingkat kabupaten/ kota berhubungan langsung dengan organisasi di tingkat nasional tanpa melalui organisasi di tingkat provinsi. Kondisi demikian sebenarnya ditangani dengan melakukan aktivitas tambahan yang disebut coordination mechanisms (Malone dan Crowston. organisasi-organisasi yang diamati telah memiliki hubungan administratif antar tingkatan mulai dari tingkat tingkat kabupaten/ kota sampai dengan tingkat nasional. Dishut Prov dan Dinas yang menangani kehutanan baik di Riau maupun di Kalbar ternyata tidak saling terhubungkan. Hadi S. 1994). penetapan isu (agenda setting) 173 . 1994). mengidentifikasi sumber daya yang harus dimiliki atau disediakan oleh organisasi mana. hubungan administratif dalam satu tingkatan baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota sudah lebih terjalin di Riau daripada di Kalbar. Hal ini berarti dari aspek pertukaran gagasan. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kehutanan yang selama ini dipandang sebagai penanggung jawab atau pengelola kebakaran hutan/lahan ternyata tidak memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi lain baik bantuan layanan maupun administratif. misalnya ketika terjadi kebakaran hutan/lahan atau bencana alam. Pertama adalah menyepakati tujuan bersama. Di Riau. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi yang merupakan pengelolaan saling ketergantungan (Malone et al. Alikodra. Di tingkat nasional. Perencanaan Hasil analisis terhadap aspek perencanaan (planning/agenda setting) menunjukkan bahwa di tingkat nasional hampir seluruh organisasi yang diamati. sedikitnya satu pimpinannya telah saling mengenal. Di daerah. dan prosedur mobilisasinya. Kondisi tersebut menegaskan kembali pengaruh sistem pengorganisasian yang diterapkan di masing-masing daerah tersebut. Hasil analisis pada aspek ini melihat seberapa jauh organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan saling membantu dalam pencapaian tujuan. 1994) untuk mencapai tujuan belum terjalin. di Kalbar hubungan administratif terjadi hanya antara tingkat nasional dengan tingkat provinsi dan tingkat nasional dengan kabupaten/kota. Hubungan administratif antar organisasi antar tingkatan di Kalimantan Barat (Relationships on administrative aspect among levels in West Kalimantan) C. organisasi-organisasi tersebut belum saling mendukung dalam pencapaian tujuan atau masih berjalan sendirisendiri. dan Priyadi Kardono B.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto.

Di tingkat provinsi. yang diindikasikan dengan lebih banyaknya pihak yang saling mengenal daripada yang terjadi di Kalbar. Ketapang. secara umum instansiinstansinya kurang saling mengenal. Pergantian pimpinan yang relatif cepat atau jangka waktunya pendek baik di dalam masing-masing organisasi maupun antar 174 . Hal tersebut tidak terjadi di Kalbar. Di tingkat nasional belum terbentuk secara formal organisasi yang menangani pengendalian kebakaran hutan/lahan. 169 . Kab. yakni Pusdalkarhutnas dan TKN-PKHL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan). Di sisi lain. sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. 2004) juga sulit dibangun karena konsep keterpaduan dan “kemenyeluruhan” (comprehensiveness) belum menjadi acuan. 2005). dan kebakaran hutan/lahan belum menjadi masalah prioritas. 3. para pimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kota di Kota Dumai dan Kab. Anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan berada pada SKPD. sudah tidak berlaku lagi sejak era Reformasi. baik di Kab. yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai jenis bencana. Provinsi Riau telah mengenal para pimpinan organisasi di tingkat provinsi maupun tingkat nasional (Gambar 4). 4. Organisasi yang pernah ada. keterpaduan kebijakan atau policy integration (Meijers dan Stead. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota.177 maupun perencanaan telah terjadi hubungan yang relatif baik. provinsi dan kabupaten/kota di Riau juga relatif lebih baik daripada di Kalbar. hubungan para pihak di Riau relatif lebih baik. organisasi yang menangani kebakaran hutan/lahan (Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutlada) tidak termasuk sebagai SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang menurut UU No. tetapi pada setiap SKPD terjadi pembatasan jumlah jabatan yang mendorong penetapan prioritas masalah yang lebih tajam. 2005). Hubungan antar organisasi dalam perencanaan di Riau (Interorganizational relationships on planning aspect in Riau) Satu lagi hal penting dari kajian terhadap ketiga aspek tersebut di atas yaitu fakta bahwa ternyata tidak ada hubungan yang terjadi antar kabupaten/kota meskipun dalam satu provinsi. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Hubungan antar organisasi antar tingkat nasional. Meskipun hubungan berjalan satu arah. Hasil analisis terhadap ketiga aspek tersebut di atas menunjukkan bahwa koordinasi terpadu (Bolland dan Wilson. Juli 2011. rendahnya tingkat perkenalan di antara organisasi akan menimbulkan kurangnya komunikasi dan keterlibatan secara emosional yang pada dasarnya berdampak pada rendahnya produktivitas organisasi (Janssen. 2. Kota Dumai.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.3. Inhu. Kondisi demikian menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan belum optimal. Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan Undang-undang No. Inhu. 1994) di antara organisasiorganisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan masih relatif kurang erat. Menurut Janssen. Di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/ kota.8 No. sehingga hanya beberapa SKPD yang memasukkan kebakaran hutan/lahan sebagai salah satu jabatan dalam strukturnya atau dalam kegiatannya. 33/2004 tidak dapat mengelola anggaran. Gambar (Figure) 4. Beberapa hal yang menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan adalah: 1. Kubu Raya maupun Kab. belum secara eksplisit mengakomodasikan kepentingan pengendalian kebakaran hutan/ lahan.

. 6. kedua Pergub tersebut tidak menjelaskan mekanisme pendanaan bagi kerja sama tersebut sehingga kerja sama tetap sulit untuk dilaksanakan. Saharjo. Hubungan antar organisasi pada aspek perencanaan juga terjalin baik di tingkat nasional. 1982). 2001). 4. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam Pusdalkarhutlada atau Satlakdalkarhutla lemah karena hampir tidak ada sumber daya untuk berbagi. baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. KESIMPULAN Berdasarkan kajian terhadap hubungan antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan. 103/2009. Pusdalkarhutlada dan Satlakdalkarhutla memang sudah ada. serta anggaran) di setiap organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan berimplikasi besar pada penanganan kebakaran hutan/lahan. Hadi S. Kurangnya komunikasi dan pertemuanpertemuan antar organisasi. Organisasiorganisasi tersebut perlu membentuk jejaring yang kuat dengan peranan-peranan koordinasi (coordination roles) yang jelas (Wehmeyer et al. Berdasarkan kondisi sumber daya yang terbatas tersebut maka perlu adanya kerja sama antar organisasi yang efektif dan efisien. maka dapat disimpulkan: 1.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto. karena sebuah organisasi tunggal tidak dapat mengatasi permasalahan masa kini yang kompleks. sekalipun memiliki sumber daya yang mencukupi (Mulford dan Klonglan. 175 . Komunikasi atau pertemuan biasanya bersifat responsif ketika terjadi situasi darurat kebakaran hutan/lahan. Di samping SDM dan sarpras yang masih sangat kurang. Pusdalkarhutlada maupun Satlakdal-karhutla di lokasi penelitian belum termasuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sehingga tidak dapat memperoleh dan mengelola anggaran dan akibatnya operasionalnya sangat bergantung pada ketersediaan anggaran di instansi-instansi anggotanya. Prosedur kerja sama antar organisasi untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebenarnya juga sudah ada di Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang ditetapkan masing-masing dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Riau No. Bantuan layanan di antara organisasi dalam pengendalian kebakaran belum efektif baik di tingkat nasional. Kondisi inilah yang menyebabkan penanganan kebakaran hutan/lahan menjadi kurang optimal sehingga frekuensi kejadian kebakaran tetap relatif tinggi. Sayangnya. dan salah satu bentuknya adalah berbagi sumber daya (Malone et al. hanya beberapa instansi anggota yang memiliki anggaran untuk kebakaran hutan/lahan dalam jumlah yang relatif sangat kecil. tetapi belum menjadi jejaring yang kuat karena koordinasi yang masih lemah. apalagi untuk digunakan berbagi dengan instansi-instansi lain. IV. D. tetapi masih lemah di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota maupun antar tingkatan. 91/2009 dan Pergub Kalbar No. dana atau anggaran untuk pengendalian kebakaran hutan/lahan juga belum tersedia. hubungan antar organisasi telah terjalin cukup baik di tingkat nasional. Kurang jelasnya uraian tugas dan tidak ditetapkannya pejabat tertentu untuk menangani kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi serta kebiasaan mewakilkan pada staf untuk menghadiri pertemuan antar organisasi membuat penanganan masalah kebakaran hutan/lahan di tiap organisasi tidak fokus dan para pejabat/pimpinan organisasi tidak saling mengenal. Rendahnya tingkat jejaring kerja dan sumber daya (manusia. 5. 2. Penanganan kebakaran hampir tidak mungkin dilakukan sendirian oleh masingmasing organisasi karena masih sangat lemahnya kapasitas organisasi. Implikasi Terhadap Kebakaran Hutan/ Lahan Kondisi hubungan antar organisasi yang masih kurang harmonis baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan tersebut di atas berimplikasi terhadap penanganan kebakaran hutan/lahan.. namun masih lemah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. dan Priyadi Kardono organisasi membuat para pimpinan organisasi kurang berkesempatan untuk saling mengenal dan bersama-sama menyusun dan menyepakati serta memahami tata hubungan kerja atar organisasi. 3. Sementara itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya (manusia dan sarpras) pada instansi-instansi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran pada umumnya tidak tersedia secara memadai. Pada aspek administratif. Alikodra. Bambang H. 1999). sarana dan prasarana. Koordinasi adalah suatu upaya untuk mengelola ketergantungan di antara berbagai pihak. provinsi maupun kabupaten/ kota.

Jakarta: Bappenas. 2007. Hiroki.A.swin.M. www. Juli 2011.. Dalam Health Services Research 1994. 11(1):16-23 Kartodihardjo.au/personal/acolman/pub/ColmanA AAI_FS05. Pemerintahan Daerah di Indonesia. S. 45-3:425-443.P. 2009. H. [DFID] Department for International Development and World Bank. Crowston.pdf. AS: The Graduate Division on the University of Hawaii. Final Report Volume 1. Dellarocas. 1999. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Inter-organizational Cooperation. C. C. Pengaturan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah.R. Han. 2004 Berlin Conference on the Human Dimensions of Global Environmental Change: Greening og Policies . editor). 176 . dan E.A. Diakses tanggal 29 Okt 2010. Refleksi Kerangka Pikir Rimbawan Menguak Masalah Institusi dan Politik Pengelolaan Sumberdaya Hutan.. O'Donnell. T. [Bappenas] National Development Planning Agency. Hawaii. Husaeni EA.M. L. et al. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Malone. Conflict. editor. 12(3):372-388.de/ffu/akumwelt/bc2004/ download/meijers_stead_f. Osborn... Bernstein. Herman. Crowston. Wyner.. dan K. Three Faces of Integrative Coordination: A Model of I n t e ro rg a n i z a t i o n a l R e l a t i o n s i n Communit-Based Heath and Human Services. Proceedings International Cross Sectoral Forum on Forest Fire Management in South East Asia. G. 2001. Organization Science 2001.. 2006. Mooi.pdf. 2004. Evolution of Instutional Rules: An Immune System Perspective. 2010. C. Di dalam: Suratmo F. Organizational Roles and Players.. hlm 259-270 Hoessein. Burning Issues: Control of Fire Management in Central Kalimantan. B. K..177 DAFTAR PUSTAKA Bakry. editor. 2007.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.jstor. Disertasi. Willey Periodicals. E. Http://dare.A. dan D. Policy integration: what does it mean and how can it be achieved? A multi-disciplinary review. dan J. 2003.V. Computing Surveys 26(1):87-119. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. Dalam: Ramses AM.. and Change. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Konteks Pemerintahan Umum. Bolland. Malone. Dalam: Ramses AM. E.W. (Nugroho. Indonesia. Pentland. Klein. Quimby. Bakry L. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Disertasi. Janssen. Working Paper: Indonesia and Climate Change Current Status and Policies. G. rehabilitation and trans-bundary issues. Wilson. Jakarta.8 No. T. hlm 218-222.ict. Vu. A. Stead. Faerman. 2009.S. Diakses tanggal 22 Jan 2009. 2005.3.nl/bitstream/1871/ 12681/5/7725. M. Management Science 1999. McCaffrey dan D. http:// web.. D. Prabowo.peace. J. Vrije Universiteit Amsterdam. control. 1999. Chandrasekharan. The Interdisciplinary Study of Coordination. 29-3:341-366. dan Bakry L. editor. 1994. 169 . A. Tools for Inventing Organizations: Toward a Handbook of Organizational Processes. The Mission on Forest Fire Prevention and Management to Indonesia and Malaysia (Serawak): Tropical forest fire: prevention.W.co. http://www.pdf.ubvu. J. G.. B. dan Surati Jaya N. Edu. M. 1999. Meijers.G.W. J. hlm 264-277.Interlinkages and Policy Integration. Jakarta: Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. Planning for Fire Prevention and Drought Management in Indonesia. Hasil Penggunaan Citra Satelit NOAA-AVHRR dan Himawari untuk deteksi Hot Spot di Stasiun Bumi Satelit NOAA-AVHRR/ Himawari FFPMP. Pemerintahan Daerah di Indonesia. dan J. Slyke. A. Republic of Indonesia/JICA and ITTO. http:// www. 2004. pp 204-282 Colman.org/pss/3086014 [28 Jan 2009].fu-berlin.id [27 Jan 2009] Doscemascolo. Understanding Interorganizational Cooperation: Public-Private Collaboration in Regulating Financial Market Innovation (abstrack). National Development Planning Agency. 1994.. Inc. Diakses tanggal 28 Jan 2009..P. I dan D. Lee.

editor. Applegate G. Hadi S. Pengendalian Kebakaran Hutan. Reimer. Pengantar Manajemen. Syaufina. Alikodra. dan B. dan A. 2001. D. K. C. 2001. dan Bechard R. Tinjauan Singkat Kerangka Hukum dan Kelembagaan dalam Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia.. 2001. Simorangkir. The Organization of the Future. 1982. Goldsmith M. Roles and Trust in Interorganizational Systems.. San Francisco: Jossey-Bass Pusblishers. Permana R. Jakarta: PT.de/ conf/ rseem2001/. Government Effectiveness in Comparative Perspective . Maastricht. http://ssrn. hlm 189-196 Wehmeyer. Saharjo. Creating Coordination Among Organizations:an orientation and planning guide North Central Regional Extension Publication 80. K. dan Priyadi Kardono Mulford.B. The Netherlands. Dalam: Hesselbein F. Klonglan. BumiAksara Suprayitno dan L. [Ames. Http:// www-i5. Ulrich. 2009. H. (editor). Proceedings of the Eight Research Symposium on Emerging Electronic Markets (RSEEM 01). Diakses tanggal 29 Okt 2010. 1997. Bogor: Proyek Penelitian Kebakaran Hutan dan Lahan ICRAF dan CIFOR. Siswanto.E. Bambang H. Prosiding Seminar Sehari Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Aktivitas Sosial Ekonomi dalam Kaitannya dengan Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera.B. 2008. Diakses tanggal 08 Mei 2008.. Whitford. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Korea International Cooperation Agency. Schneider.informatik.Kajian Hubungan antar Organisasi dalam Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan di Indonesia Erly Sukrismanto.. dan Setijono D. and G. D.com/abstract= 1081642. 177 . Iowa State University]. Organizing Around Capabilities. P. S.rwth-aachen.L. Dalam Suyanto S. Young Lee. 1997. 2008.. Iowa : Cooperative Extension Service.

Jumlah klon yang diuji sebanyak 35 klon. The contribution of the genetic component to total variation was relatively low. respectively. Sumbangan variasi genetik terhadap total variasi relatif rendah yaitu 2. Kol. (3) melalui tindakan seleksi akan diperoleh peningkatan genetik. f) at 3 Years Old in KHDTK Kemampo.e. i.49 % untuk karakter tinggi dan 1. The result of the research showed that there were genetic variation among clones. Based on an assumption of using the best five clones.026 (individual) and 0.e. Genetic gain estimation at the age of 3 years was relatively low.02 (individu) dan 0. diameter. 1. because it may done based on just one character.02 (individual) and 0. 1. Po. i.73 % for diameter. These results could be applicable for selection purpose. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi genetik. Penelitian dilakukan pada tanaman umur 3 tahun.306 respectively. Selection index of the best five clones of 24. 0. Dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik. while between diameter and stem form was very high. Keywords: Heritability.67. i. 36.073. di lokasi KHDTK Kemampo. genetic gain.16 %. Pertanaman menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok. (2) Adanya korelasi yang tinggi antar karakter. Burlian KM. clone. and between height and stem form was 0.28 %. Randomized Complete Block Design was applied using 35 clones.15 %. 1. Untuk karakter bentuk batang relatif lebih tinggi yaitu sebesar 9.13 (clone) for diameter. located at KHDTK Kemampo.88. but the variation was relatively low in comparison to other variation sources. 0. diameter and stem form characters.F) UMUR 3 TAHUN DI KHDTK KEMAMPO. Naskah diterima : 13 Juni 2011 ABSTRACT The objective of research were to determine the level of genetic variation. Universitas Gadjah Mada Naskah masuk : 5 Agustus 2010. karena taksiran nilai heritabilitas yang diperoleh relatif rendah yaitu sebesar 0. taksiran perolehan genetik yang dapat dicapai pada umur 3 tahun adalah sebesar 1. dengan 4 blok.49 % for height and 1.43 % and 8. because the heritability value was relatively low.15 %.e. H. respectively. i. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi genetik antar klon.721.13 (klon) untuk karakter diameter.09 dan 0.16 (klon) untuk karakter tinggi. diameter dan bentuk batang.430 and 1. 35 and 11 were 3. namun variasinya relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber variasi lainnya yaitu blok dan interaksi antara klon dengan blok. 14.40 %. i. 9. 3.e. Sumatera Selatan Telp. Taksiran peningkatan genetik pada umur 3 tahun relatif rendah. genetic correlation. 3 treeplot dengan jarak tanam 3 x 3 meter. 1. genetic variation.574. stem form and volume were 1. Genetic correlation between height and diameter was 1. But for stem form were relatively high.5 Puntikayu.16 (clone) for height character and 0.73 % untuk diameter. sebesar 0./Fax. South Sumatera. The research was conducted in 3 years old teak plantation.026 (individu) dan 0.28 % 179 .09 and 0.39.01 (overestimate). diameter. 2. Box 179. 0.e. Palembang.PEROLEHAN GENETIK PADA UJI KLON JATI (Tectona Grandis L. SUMATERA SELATAN Genetic Gains on Clonal Test of Teak (Tectona grandis L.39. Heritabilitas bentuk batang relatif lebih tinggi masing-masing sebesar 0. while the contribution of stem form was relatively higher. heritability and expected genetic gains based on tree height. (0711) 414864 2) Fakultas Kehutanan. taksiran nilai heritabilitas serta peluang perolehan peningkatan genetik dari masing-masing karakter tinggi.e. teak. South Sumaterat Agus Sofyan Mohammad Na'iem Sapto Indrioko 1) 1 2 2 Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. i.e. Hipotesis yang diajukan adalah : (1) Adanya variasi genetik yang nyata antar klon yang diuji. 6. the estimation of expected genetic gain at the age of 3 years for a height. Sumatera Selatan. i. 4 blocks and 3 treeplots in a spacing of 3 × 3 m. block and interaction between clone and block.

Variabel yang diukur adalah sifat atau karakter pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman. hanya 3 dapat dipenuhi sebesar 400 ribu m . 2. 2004). Myanmar. volume kayu serta bentuk batang (Cotterill dan Dean. karakter tinggi dengan bentuk batang sebesar 0. Jarak tanam 3 m x 3 m. heritabilitas.67.574). Wono giri.430) dan 11 (1. Metode Penelitian 1. B. Menurut Na'iem (2000).073). BAHAN DAN METODE A. dengan menggunakan benih atau klon unggul hasil seleksi. di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. masing-masing unit terdiri atas 3 treeplot. serta sifat silvikulturnya secara umum telah dikuasai. 14 (1. 1. sehingga masih terdapat kekurangan pasokan sebesar lebih 3 kurang 2 juta m . sementara potensi sumber daya alam semakin menurun. Bahan dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada pertanaman uji klon jati berumur 3 tahun dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan dalam uji klon jati adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan 4 blok sebagai ulangan. II.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. berturut-turut nomor 24 (3. Juli 2011. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendukung upaya pengembangan perhutanan klon berdaur pendek dengan produktivitas tinggi.01 (overestimate). Menurut Iskak (2005). diameter batang setinggi dada). potensi jenis jati yang dikelola oleh Perum Perhutani juga sudah sangat menurun. terlebih jenis jati yang sangat populer serta risetnya yang sudah sangat maju (Bhat. 1990). Sebagaimana halnya jenis-jenis yang berasal dari hutan alam. Penelitian dilakukan pada bulan Januari . Adapun tujuan khususnya adalah untuk mengetahui variasi genetik antar klon.43 % bentuk batang serta 8. jati merupakan salah satu jenis yang dikembangkan sebagai hutan tanaman yang cukup luas di dunia dan telah ditanam pada lebih dari 36 negara tropis di Asia. 2005). Wonogiri. perolehan genetik. Thailand.3. Kabupaten Banyuasin. 3. Muna dan Thailand). PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan taraf hidup manusia telah menyebabkan peningkatan kebutuhan bahan baku kayu. Cepu. Madiun. begitu banyak negara yang tertarik mengembangkan jati dikarenakan kualitas kayunya yang bagus. Sementara untuk kebutuhan kayu pertukangan maupun mebeler masih mengandalkan hutan alam. Cepu. pembangunan dan pengembangan hutan tanaman sesungguhnya mempunyai prospek yang cerah. korelasi genetik. Hasil perhitungan berdasarkan indeks seleksi menunjukkan 5 nomor klon terbaik. karena seleksi dapat didasarkan atas satu karakter saja yaitu diameter.Desember 2008. Afrika maupun Amerika.88. uji klon. Brazil dan Indonesia (Siregar dan Mansur. 180 . 35 (1. jati. Korelasi genetik antar karakter tinggi dengan diameter adalah sebesar 1.4 juta m . Variabel yang diukur Tanaman diukur pada umur 3 tahun.186 untuk karakter tinggi. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai luasan hutan tanaman jati setelah India (ITTO. dengan jumlah seedlot sebanyak 35 klon yang berasal dari 6 populasi (Gunung Kidul. 2004 dalam Bramasto dan Suita. Kata kunci : Heritabilitas. Madiun. 179 . Dengan tingkat kebutuhan bahan baku kayu yang demikian tinggi. Hasil ini akan memudahkan pekerjaan seleksi. variasi genetik I.40 % untuk volume. India. 2003).306). Ghana. yang dalam perkembangannya lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan industri kertas atau pulp. sementara korelasi genetik antara diameter dengan bentuk batang sangat tinggi yaitu sebesar 0. awet serta bernilai ekonomi tinggi. Sumatera Selatan. Saat ini.7210). kebutuhan kayu 3 jati pada tahun 2005 sebesar 2.8 No. Beberapa negara yang memproduksi kayu jati berdaur pendek adalah Bangladesh. korelasi genetik serta peningkatan genetik masing-masing karakter pertumbuhan. 36 (1.16 % diameter. Nigeria. sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dengan tingkat kebutuhan. Muna dan Thailand). Upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku kayu telah dilakukan pemerintah melalui program pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). telah dikembangkan pengelolaan hutan tanaman dengan daur yang lebih singkat.

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

3.Analisis data Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis varians, dengan model analisis varians (linear model) yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel and Torrie, 1991) : Yijkl = µ +Bi + Pj + Kk(Pj) + BK ik + Eijkl Keterangan : Yijkl = Pengamatan pohon pada blok ke i, Populasi ke j, klon ke k, individual ke l µ = Rerata umum Bi = Efek blok ke i Pj = Efek Populasi ke j Kk(Pj) = Efek klon ke k dalam populasi ke j BK ik = Efek interaksi blok ke i dan klon ke k Eijkl = Random error pada pengamatan ke ijkl Untuk mengetahui parameter genetik dilakukan melalui penaksiran terhadap nilai heritabilitas, perolehan genetik serta korelasi genetik antar sifat pertumbuhan. Nilai heritabilitas yang dihitung adalah nilai heritabilitas individu atau klon, yang ditaksir melalui komponen varians yang diperoleh dari hasil analisis varians. Wright (1976) dan Zobel dan Talbert (1984), menggunakan rumusan taksiran nilai heritabilitas dengan materi vegetatif (klon), sebagai berikut :
2

S = diferensial seleksi i = intensitas seleksi (Becker, 1992) p = standart deviasi phenotipe Analisis korelasi genetik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sifat tinggi dan diameter secara genetis, yang dilakukan deengan menggunakan rumus menurut Zobel and Talbert (1984) : k ( xy )

rG (
2 k(x)

x

2

k ( y)

)

Keterangan : rG = korelasi genetik 2 k(xy) = komponen kovarians untuk sifat x dan y 2 k(x) = komponen varians untuk sifat x 2 k(y) = komponen varians untuk sifat y Selanjutnya besarnya komponen kovarian untuk dua sifat tersebut ( x dan y) dapat dihitung dengan rumus (Fins et, al. 1982) yaitu sebagai berikut : 2 2 2 k(xy) = 0,5 ( k (x+y )kx ky) Keterangan :
2 k (x+y )

= komponen varians untuk sifat x dan y.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Persen Hidup dan Pertumbuhan

h= H2k=

2 i

k 2
2 k

2

k

2

, dan
e

kb

2

k

(

2

kb

/ B)

(

2

e

/ NB )

Keterangan : h2i = Nilai heritabilitas individu (ramet) H2k = Nilai heritabilitas klon 2 k = Komponen varians klon 2 e = Komponen varians error 2 kb = komponen varians interaksi klon-blok B = Jumlah blok N = jumlah ramet per plot Untuk menduga besarnya perolehan genetik digunakan rumus menurut Zobel dan Talbert (1984) : G = H2 x S atau G = H2 x i x Keterangan : G = taksiran perolehan genetik H2 = heritabilitas
p

Daya adaptasi keseluruhan klon pada umur 3 tahun nampak menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini ditandai dengan tingginya nilai rerata persen hidup yaitu sebesar 84,52% serta pertumbuhan tanaman yang sangat baik dibandingkan dengan rerata pertumbuhan pada beberapa uji klon jati lainnya, sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Perbedaan pertumbuhan selain disebabkan oleh perbedaan materi (klon), juga dapat disebabkan oleh perbedaan faktor lingkungan tempat tumbuh (edafis) yang terkait jenis dan kesuburan tanah, intensitas pemeliharaan serta faktor iklim (klimatis) terutama curah hujan. Menurut Sheldbourne (1972) dan Goddart (1979) dalam Zobel dan Talbert (1984), faktor lingkungan edafis memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap pertumbuhan dibanding dengan faktor iklim atau klimatis.

181

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 No.3, Juli 2011, 179 - 186

Tabel (Table) 1. Rerata pertumbuhan uji klon jati di KHDTK Kemampo serta beberapa hasil uji klon pada lokasi lainnya (Average of growth clonal test of teak in KHDTK Kemampo and others location) Pertumbuhan (Growth) Umur (Age) Tinggi Diameter Sumber (Literature) Lokasi (location) Tahun (year) ( Height) (Diameter) (m) (cm) Sofyandan Syaiful Kemampo, Sumsel 3 7,76+1,75 7,41+1,36 (2008) Bojonegoro, Jawa Timur 5 6,20 6,10 Siswamartana dan Ngawi, Jawa Timur 5 6,00 8,60 Wibawa (2005) Ciamis, Jawa Barat 5 8,20 10,10 Cepu, Jawa Tengah 5 6,65 7,05 B. Variasi Genetik Hasil analisis varians, sebagaimana disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada sumber variasi klon, hasil ini mengindikasikan adanya variasi genetik antar klon. Adanya variasi genetik akan memberikan peluang dalam meningkatkan perolehan genetik melalui tindakan seleksi terhadap klon-klon terbaik. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa sumber variasi blok dan interaksi mempunyai pengaruh yang sangat nyata bagi pertumbuhan. Hasil interaksi yang sangat nyata mengindikasikan bahwa hasil pertumbuhan tanaman bukan hasil dari kinerja klon atau genetik semata, namun merupakan hasil dari interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungannya (Kramer & Kozlowski, 1979). Menurut Matheson dan Raymond (1984) penelitian yang menggunakan bahan atau materi vegetatif (klon) seringkali dihasilkan interaksi yang sangat kuat antara klon dengan faktor lingkungannya. Hal tersebut terjadi karena materi klon bersifat sangat reaktif terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh, terutama unsur phosfor, boron dan sulfur (Windsor dan Kelly, 1971 dalam Matheson dan Raymond, 1984). Dengan adanya variasi antar klon, maka terbuka peluang untuk memperoleh peningkatan genetik pada generasi berikutmya. Namun demikian seberapa besar peningkatan yang dapat diperoleh, sangat tergantung pada besarnya proporsi sumbangan variasi faktor genetik terhadap variasi total. Untuk mengetahui besarnya proporsi variasi yang disebabkan oleh faktor genetik serta faktor lainnya, perlu dilakukan analisis komponen varians. Hasil perhitungan taksiran komponen varians selengkapnya disajikan dalam Tabel 3. Besarnya taksiran komponen varians menggambarkan besarnya proporsi sumbangan (kontribusi) setiap sumber variasi terhadap variasi total.

Tabel (Table) 2. Hasil analisis varian pertumbuhan uji klon jati pada umur 3 tahun (analysis of variance for growth on 3 years measurement in clonal test of teak)
Umur (Age) Sumber Variasi (Source of variance) Blok Populasi Klon Klon x Blok Error Derajat Bebas (df) 3 5 29 101 206 Nilai rerata kuadrat tengah (Mean square) Tinggi (Height ) 14,5295** 1,3971ns 2,7896** 2,2789** 1,2016 Diameter (Diameter) 27,3177** 1,4923 ns 2,5148** 2,1296** 1,2969 Volume (Volume) 0,001308** 0,000135** 0,000165** 0,000112 Bentuk Batang (Stem form) 0,7911 ns 3,0574 * 1,7826** 0,8293**

3 Tahun (3 Years)

Keterangan (Remarks) : * = berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Significant at 0,05 level) **= berbeda nyata pada taraf uji 0,01 (Significant at 0,01 level) ns = berbeda tidak nyata (Non-significant)

182

Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo, Sumatera Selatan Agus Sofyan, Mohammad Na'iem, Sapto Indrioko

Tabel (Table) 3. Taksiran komponen varians dan proporsi sumbangan (%) sumber variasi terhadap variasi total pada umur 3 tahun (The estimated of proportion and variance component of source of variance on 3 years)
Sumber Variasi (Source of variance) Umur
2 b 2 p 2 k(sb) 2 kb 2 e 2 total

Karakter tinggi (Height) Tkv 0,1408 -0,0326 0,0448 0,4441 1,2016 1,7988 % 7,83 -1,80 2,49 24,69 66,80 100,00

Karakter diameter (Diameter) Tkv 0,2914 -0,0240 0,0337 0,3435 1,2960 1,9410 % 15,01 -1,24 1,73 17,69 66,79 99,98

Kombinasi tinggi x diameter (Combination of height x diameter) Tkv % 0,8465 -0,1431 0,1577 1,5330 4,1300 6,5238 12,97 -2,19 2,42 23,50 63,30 100,00

Bentuk batang (stem form) Tkv 0,0129 0,0 0,1218 0,3929 0,8293 1,3310 % 0,97 0,0 9,15 29,52 62,30 100,00

Keterangan (Remarks) : Tkv = taksiran komponen varians (variances component estimate), 2 = komponen varian, b = blok (block), p = populasi (population), k = klon (clon), kb = interkasi klon x blok (interaction clon x block), e = error, % = persentase dari total variasi (presntation of variation total)

Hasil analisis pada Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen varians klon (komponen varians genetik) memberikan sumbangan (kontribusi) sangat kecil terhadap variasi total, yaitu masing-masing sebesar 2,49 %, 1,73 % dan 9,15 % untuk karakter tinggi, diameter dan bentuk batang. Hasil ini menggambaran bahwa pada umur 3 tahun, pengaruh faktor genetik terhadap pertumbuhan relatif masih sangat kecil. Sementara komponen varians interaksi masingmasing sebesar 24,69 %, 17,50 % dan 23,50 untuk karakter tinggi, diameter dan kombinasi kedua sifat tersebut. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pada umur 3 tahun pengaruh faktor genetik dalam pertumbuhan tanaman masih relatif sangat kecil. C. Heritabilitas Heritabilitas merupakan parameter yang mengambarkan seberapa besar sifat-sifat induk diwariskan kepada keturunannya dan Tabel (Table) 4.

merupakan suatu hal sangat penting, karena terkait erat dengan perolehan genetik serta strategi pemuliaan pohon dalam memperoleh peningkatan genetik (Zobel dan Talbert, 1984). Heritabilitas yang tinggi menunjukkan adanya peluang perolehan genetik yang besar. Besarnya nilai heritabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai-nilai komponen varians dari masing-masing karakter, selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Dari hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa untuk semua variabel/karekter yang diukur, secara umum dapat dikatakan mepunyai nilai heritabilitas yang relatif rendah, baik heritabilitas individu maupun famili. Menurut Hardiyanto (1994) dalam Leksono (1994) nilai heritabilitas untuk famili (klon) sebesar 0,40 - 0,60 dikategorikan sedang, kurang dari 0,40 adalah rendah dan lebih dari 0,60 termasuk dalam kategori tinggi.

Taksiran nilai heritabilitas untuk semua karakter pada umur 3 tahun (The estimated of heritability of all character's on 3 year's).
Tinggi (Height) h2i h2k 0,03 0,16 Karakter (Character) Diameter Volume (Diameter) (Volume) h2i h2i h2k h2k 0,02 0,13 0,05 0,30 Bentuk batang (Stem form) h2i h2k 0,09 0,39

Umur (Age)

3 Tahun (3 years)

Keterangan (Remarks) : h2i =heritabilitas individu (Individual heritability) 2 h k =heritabilitas klon (Clones heritability)

183

8 No. Sumsel (The estimated of genetic gain on clonal test of teak at KHDTK Kemapo.03 8. Menurut Shelbourne (1972) bahwa pengaruh interaksi yang 2 menghasilkan komponen varians ( kb) yang jauh lebih besar daripada komponen varians genetiknya.764 (m) Jumlah klon (Number of clone) 5 7 10 5 7 10 5 7 10 5 7 10 Perolehan genetik (%) (Genetic gain) 1.84 (m) 7. maka nilai heritabilitas akan semakin besar.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.98 1. Dengan intensitas seleksi tersebut.43 3. Sementara menurut Russel dan Libby (1986).28 %) dan diameter (0.40 %). 1. Hal lain yang dapat menyebabkan rendahnya heritabilitas menurut Kuntiyati (1995) dalam Wibowo (2002) adalah karena sifat-sifat kuantitatif (tinggi. sangat erat kaitannya dengan nilai heritabilitas masingmasing karakter atau sifat. akan diseleksi sebesar 30 % (10 klon).0265 m3/phn 0. Hasil di atas menunjukkan bahwa perolehan genetik untuk karakter tinggi (0.43 %) dan volume (3.49 (cm) 7. dibanding dengan nilai komponen 2 varians interaksi ( kb).527.0271 m3/phn 0. di KHDTK Kemampo.48 (cm) 7.81-1.47 (cm) 4. begitu pula Tabel (Table) 5. antara lain karena rendahnya nilai komponen varians 2 genetik ( k). Hasil penelitian yang dilaporkan Russel dan Libby (1986) menunjukkan bahwa penambahan jumlah unit percobaan pada uji klon Pinus radiata. Dalam penelitian ini perolehan genetik dihitung dengan asumsi bahwa dari 35 klon yang diuji. South Sumatera) Karakter (Character) Tinggi (height) Rerata (Average) 7. Perolehan genetik juga dipengaruhi oleh intensitas seleksi. semakin banyak jumlah unit percobaan dan replikasi. 20 % (7 klon) dan 15 % (5 klon). jika nilai heritabilitasnya rendah.160 sesuai tabel intensitas seleksi menurut Becker (1992).0258 m3/phn Diameter (diameter) 7. maka perolehan genetik juga relatif rendah. lebar) banyak dikendalikan oleh gen minor yang porsi pengaruhnya sangat kecil dan berbeda-beda.00 3.81 3.16 0.14 0. Taksiran perolehan genetik dan peningkatan sifat pada Uji Klon Jati pada umur 36 bulan.043 4.28 1.028 0.55-8. dapat menyebabkan nilai heritabilitasnya menjadi rendah. Seberapa besar perolehan genetik dapat dicapai. karena pada kondisi tersebut nilai heritabilitasnya menjadi sangat rendah. 179 .360 dan 1.89 0. relatif rendah dibanding bentuk batang (3. dengan nilai intensitas seleksi masing-masing sebesar 1. D. diperoleh hasil perhitungan taksiran perolehan genetik sebagaimana disajikan pada Tabel 5. Perolehan Genetik Taksiran perolehan genetik merupakan suatu nilai kuantitatif dari respon populasi atas adanya seleksi pada populasi tersebut.025 m3/phn 184 . yaitu hampir 4 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik (klon) untuk karakter tinggi dan 5 kali lebih besar dibanding nilai komponen varians genetik untuk karakter diameternya (Tabel 3).85 (m) 7. panjang.16 %). Dalam uji klon ini jumlah unit percobaan yang relatif sedikit yaitu 3 treeplot dengan 4 blok sebagai ulangan. Taksiran nilai heritabilitas yang tinggi akan menghasilkan perolehan genetik yang tinggi (besar).55 Peningkatan sifat (Improve of character) 7.981.3.044 4.86 (m) 7. Juli 2011.40 6.03-3.40 3. Hal ini disebabkan karena nilai komponen varians bentuk batang yang cukup besar. telah meningkatkan nilai heritabilitas yang signifikan.91 0. jumlah unit percobaan (ramet per klon) serta jumlah replikasi (blok) juga sangat berpengaruh terhadap nilai heritabilitas.412 (cm) Bentuk batang (stem form) Volume (volume) 3.186 Rendahnya nilai heritabilitas pada uji klon ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. dapat menjadi masalah serius dalam perolehan genetiknya. sehingga sifat-sifat tersebut lebih mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Sementara korelasi antar karakter diameter dengan bentuk batang sebesar 0. 185 . Namun demikian untuk uji klon ini. E. Dari hasil tersebut nampak bahwa dengan nilai komponen varians genetik serta heritabilitas yang lebih besar. baik dari sisi anggaran maupun waktu.67. Hasil perhitungan korelasi genetik antar karakter (diameter dan tinggi) selengkapnya disajikan pada Tabel 6. Hal tersebut sangat penting guna diperolehan peningkatan genetik sebagaimana yang diharapkan. 2. KESIMPULAN 1. Mohammad Na'iem.16 dan 0. Korelasi Genetik Korelasi genetik mempunyai arti yang sangat penting dalam program pemuliaan pohon.15 % untuk karakter bentuk batang.1984 . maka seleksi cukup didasarkan pada satu karakter yaitu diameter. 1.49 %.F) Umur 3 Tahun Di Khdtk Kemampo. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa apabila hendak melakukan seleksi.39 untuk volume. yaitu sebesar 0. maka kemungkinan terjadinya perubahan pada koefisien komponen varians genetik serta heritabilitasnya pada saat umur tanaman bertambah (lebih tua) masih sangat dimungkinkan dapat berubah. Koefisien korelasi genetik menggambarkan seberapa besar sesungguhnya hubungan keeratan antar karakter secara genetik. Sumatera Selatan Agus Sofyan. Korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk bantang menunjukkan hubungan korelasi yang cukup kuat. maka peluang peningkatan genetik yang dapat diperoleh akan menjadi lebih besar.13 (Tabel 4).67 1.01 merupakan nilai yang bersifat overestimate. Tabel (Table) 6. untuk karakter tinggi. namun sumbangan variasinya terhadap total variasi relatif sangat rendah yaitu 2. Isik dan Kleinschmidt. Sapto Indrioko halnya dengan nilai heritabilitasnya yang jauh lebih besar yaitu 0.88 IV. 2005). Korelasi genetik antara karakter tinggi dengan diameter sebesar 1. Korelasi genetik antar sifat pada uji klon jati umur 3 tahun di KHDTK Kemampo.73 % diameter dan 9.01 0. dengan demikian peluang perolehan genetik yang lebih besar tetap bisa diharapkan. terutama untuk mengembangkan dua karakter atau sifat yang berbeda dengan berdasarkan pada penerapan seleksi atas satu karakter. Mengingat bahwa umur tanaman masih relatif sangat muda yaitu 3 tahun. 1984). Dengan demikian pelaksanaan seleksi akan menjadi lebih efisien. saat kinerja genetik tanaman sudah relatif stabil. South Sumatera) Umur (Age) Tinggi (Height) 3 Tahun (3 Years ) Diameter (Diameter) Karakter/sifat (Character) Tinggi (Height) - Bentuk batang (stem form) 0.88. Korelasi genetik antar sifat tinggi dengan diameter sebesar 1. sementara untuk karakter tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0. dengan harapan secara tidak langsung akan dapat memperbaiki karakter yang lainnya (Zobel dan Talbert. hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya rasio antara komponen varians genetik dengan komponen varians interaksinya (Matheson dan Raymond.01 ( overestimate ). Dari 35 klon yang diuji terdapat variasi genetik antar klon. Hasil ini menggambarkan bahwa karakter diameter mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap karakter tinggi maupun bentuk batang. karena dengan hanya memprioritaskan pada karakter diameter sesungguhnya akan diikuti dengan perbaikan karakter tinggi dan bentuk batangnya.Perolehan Genetik Pada Uji Klon Jati (Tectona Grandis L. Peningkatan genetik juga menjadi semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat intensitas seleksi (Tabel 5). maka masih perlu untuk dikaji hubungan korelasinya dalam beberapa tahun ke depan saat umur tanaman relatif lebih tua. Sumatera Selatan (genetic correlation on clonal test of teak at KHDTK Kemampo. dimana pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. karena korelasi genetik yang diperoleh dari tanaman yang masih sangat muda dimana kinerja genetik masih relatif labil (belum cukup stabil).30 untuk bentuk batang dan 0.

J and T. 2008. Vol V. 2005. Jakarta. 2002. Tokyo. A. Steel. dan Kleinschmit.43 % dan 8. K. 1972.Z. The Impact of Genotype x Environment Interactions on Australian Pinus radiata Breeding Program. Wibowo. 1990. 2005. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat ini. 1979. W. Prinsip dan Prosedur Statistika. Cotterill. M. dan Wibawa. Yogjakarta. Yogyakarta. Y.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dan Mansur. Fifth Edition. I.P. Quality Concerns of Sustainable Teak Wood Chain. 1984. 2004. W. Canadian Juornal of Forestry Research. K. 2003. New York. P u s a t L i t b a n g H u t a n Ta n a m a n . Similarties and effectiveness of tes eninvironments in selecting and deploying desirable genotypes. P. 2005. 2004.J. 3. B. Manual of Quantitative Genetics. PT. J.D dan J. Siswamartana. tidak dipublikasikan.J. Evaluasi Uji Klon Jati Pada Umur 15 bulan. A. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Quality Timber Product of Teak From Sustainable Forest Management. IUFRO Genetics-Sabrao Joint Symposia. Proceeding of The International Conference on Quality Timber of Teak From Sustainable Forest Management. 3. Academic Press. 1986. Applied Forest Tree Improvement. Gramedia Pustaka Utama. Talbert. Physiology of Woody Plant. Juli 2011. Genotype-environment Interaction : Its Study and its Implications i n F o re s t r y I m p ro v e m e n t . dan Syaiful. A.28 % dan 1. Taksiran peningkatan genetik yang diperoleh adalah sebesar 1. 16. P. dan Raymond. Posisi Benih Unggul Versus Silvikultur Intensif Dalam Pembangunan Hutan Rakyat Jati. Variasi Genetik Produksi Getah Pinus merkusii Jungh et. masing-masing sebesar 0. 186 . Vol.J. Variasi Pertumbuhan Tanaman Jati dari Berbagai Klon di Kebun Percobaan Rumpin. Matheson. 2000.8 No. A. Tesis. Seperempat Abad Pemuliaan Jati Perum Perhutani.M. C. Buletin Penelitian Pusbanghut. London. M. Makalah disampaikan dalam pertemuan Forum Komunikasi Jati. Iskak. 2005. Dengan IPTEK Membangun Hutan Tanaman Demi Kemakmuran Bangsa dan Terciptanya Kelestarian Lingkungann. Laporan Penelitian. Sofyan. Pusat Pengembangan Sumberdaya Hutan Cepu. 1994. Produktivitas Tegakan Jati JPP Intensif sampai dengan Umur 20 Tahun ke Depan. Perum PERHUTANI. Isik.A. Kramer. C. and. Yogjakarta. Vol 7 (5). Torrie.3. A. Yogjakarta. International Forestry Review. CSIRO Division of Forestry and Forest Product. 2000.Australia.. 1984. Siregar.186 sementara korelasi antar karakter tinggi dengan bentuk batang serta diameter dengan bentuk batang.A. Sanfransisco. 1992. India 2-5 Desember 2003. USA. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. P r o c . E.16 % untuk karakter tinggi dan diameter. R. Prosiding Seminar Nasinal.de Vriese. Wanagama. 2002. J. Clonal Testing Efficiency : The Trade-off Between Clone Tested and Ramet per Clone. Kozlowsky. C. Russell. Pemeliharaan Jati (Tectona grandis) di KHDTK Kemampo. No 03.67 untuk dan 0. 2005.88. Zobel. Bramasto. dengan asumsi menggunakan 5 klon terbaik.H. Leksono.40 % untuk bentuk batang dan volume. J. Balai Penelitian Kehutanan Palembang (tidak dipubikasikan). I. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia. John Wiley and Sons. Early Performance Clonal Test of Teak in Perum Perhutani. B. New York.H. 1986. A. Dean. Theor Appl Genet (2005) 110 : 311-322. Successful Tree Breeding With Index Selection. DAFTAR PUSTAKA Becker. dan Suita. Academic Enterprise. Tema Menjawab Tantangan Pengembangan Jati Rakyat dan Pemasarannya. S. 2005.T. I. Pullman.G. Pusat Pengembangan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani. 179 . Peechi. Na'iem. 1991. dan Libby. Bhat. dan C. Shelbourne.

56% P uptake. Pengamatan dilakukan pada umur semai perepat dan jelutung 14 minggu setelah penyapihan yang meliputi: tinggi. shoot dry weight of 643. 366. number of leaves. diameter 366. diameter. Universitas Tanjungpura Pontianak Jl. Keywords: ex-PLG. Percobaan pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi dengan Glomus sp 3 membuktikan bahwa jeluk muka air tanah terbaik adalah 20 cm. shoot dry weight.Water table.05 %.id *Penulis untuk korespondensi Naskah masuk : 26 Oktober 2010.KAJIAN WATER TABLE PADA SEMAI PEREPAT (Combretocarpus rotundatus Miq dan JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DIINOKULASI Glomus sp 3 DI TANAH GAMBUT Study Of Water Table In Seedlings Of Perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) and Jelutung (Dyera lowii Hook) Inoculated Glomus sp 3 In Peat Soil Burhanuddin .67 %.rotundatus Miq are 324.05% diameter. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung. Glomus sp 3 ABSTRAK Penelitian pengaruh water table (jeluk muka air tanah) terhadap pertumbuhan perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook) dengan inokulasi jamur mikoriza arbuskula (JMA) dan pemupukan SP 36 di tanah gambut dilaksankan di rumah kaca laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universeitas Gadjah Mada Yogyakarta selama 14 minggu. 630. berat kering pucuk 187 . 42.50 % number of leaves. For D.lowii Hook seedlings 14 weeksof age after weaning include: height. A. jumlah daun 42. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* *Kampus UGM Bulak Sumur . Untuk jelutung tinggi 107. dan Sumardi Fakultas Kehutanan. rotundatus Miq and D.rotundatus Miq and D.61 %.86 %. berat kering pucuk 630. Naskah diterima : 31 Mei 2011 1 1* 2 2 3 ABSTRACT A study on the influence of water table on the growth Combretocarpus rotundatus Miq and Dyera lowii Hook inoculation with arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and fertilization SP 36 in peat soils was conducted in greenhouse Soil Sience Laboratory Faculty of Agriculture. 136. Pada jeluk muka air tanah 20 cm peningkatan pertumbuhan untuk perepat tinggi 324. is Gadjah Mada University in Yogyakarta for 14 weeks.80 %.rotundatus Miq and D. peat. fertilized of 100 ppm SP 36 and inoculated with Glomus sp 3 resulted in the best water table is 20 cm in C.00% shoot dry weight and P uptake of 835.80%. P fertilization and inoculation with AMF on the growth of C. diameter 136.00 % dan serapan P 835. Percobaan persemaian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga ulangan.lowii Hook seedlings.01 % number of leaves.61% high.co. Nursery experiments were conducted using Completely Randomized Factorial Design with three replications.86% high.83% and 851.lowii Hook seedlings. It was concluded that inoculation with the AMF type of Glomus sp 3 combined with the provision of P fertilizer dosage of 100 ppm SP 36 and planting on water table level 20 cm and 10 cm can be used widely to improve growth of C.lowii Hook are 107. jumlah daun. Bostang Radjagukguk . Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Jend. Experiments of water table. diameter. In the water table 20 cm increase in growth of C.01 %.Yogyakarta 55281 E-mail : hans_borneo@yahoo. Observations made on C. dan untuk berat kering pucuk dan serapan P tanaman dilakukan setelah panen. Yani Kompleks Untan Benua Melayu Darat Pontianak Selatan 2 Fakultas Pertanian. Siti Kabirun .50 %. jumlah daun 437.67% diameter.rotundatus Miq and D. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta* 3 Fakultas Kehutanan. lowii Hook seedling in the nursery. 437. The goal of research purpose wa to determine the effect of water table. and P uptake of plants after harvest.

008. 2007). Acacia crassicarpa (Pidjath et al. (2) terjadi kekeringan. Cornejo et al. Pembukaan lahan ini disertai dengan pembuatan kanal. Akibat pembuatan kanal dengan total panjang 2. Selanjutnya menurut Ritzema et al. 2007). Garcia & Mendoza. 2004). (2002) memaparkan perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah di blok C ex-PLG.457. Pada tahun 2005 Centre for International Co-operation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangkaraya. dan sungkai (Martin et al. seperti yang terjadi pada bulan Agustus 2005 (sebelum pembendungan pada bulan Nopember 2004 jeluk muka air tanah mencapai 112 cm. setelah pembendungan pada bulan Agustus 2005 jeluk muka air tanah hanya 9 cm).3. 2008. dan Vitex cofassus (Prayudyaningsih & Santoso.196 643. 187 .8 No. (2002) bahwa jenis perepat. Disimpulkan bahwa inokulasi dengan JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan penanaman pada jeluk muka air tanah 20 cm dan 10 cm dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perepat (C. Untuk mengatasi kendalakendala tersebut. kegiatan pemulihan ini akan selalu berhadapan dengan masalah yang disebabkan oleh pembukaan lahan gambut tersebut diantaranya: (1) permukaan air tanah menyusut. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. mangium. rotundatus Miq) dan jelutung (D.50 cm yang seharusnya pada kondisi normal pada musim penghujan bisa tergenang dengan ketinggian 100 cm dari atas permukaan tanah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Cardoso et al. (2008) perubahan yang terjadi pada jeluk muka air tanah sebelum dan sesudah pembendungan kanal di blok C ex-PLG. 2003). 1996. PENDAHULUAN Pada tahun 1995 telah dilakukan pembukaan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG atau Mega Rice ProjectMRP) yang luas totalnya 1. 2007). di musim penghujan saja jeluk muka air tanah bisa mencapai 5 cm . 2008. perlu diusahakan suatu teknologi alternatif yang tepat yaitu dengan pupuk hayati (biofertilizer).7 km dengan berbagai ukuran lebar dan kedalaman. 2009). sedangkan pada musim hujan mencapai 100 cm dari atas permukaan tanah.83 % dan serapan P 851. Water table I. Takahashi et al. Pupuk hayati telah berhasil dikembangkan di negara-negara maju sebagai pupuk yang potensial dan aman bagi lingkungan. Penelitian yang mengungkap peranan JMA dalam meningkatkan pertumbuhan telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman hutan. tetapi pembendungan kanal sangat berperan penting dalam proses rehabilitasi lahan gambut seperti mengurangi subsiden. yaitu pulai.lowii Hook) di persemaian. jati (Faridah. Pada perepat (Combretocarpus rotundatus Miq) dan jelutung (Dyera lowii Hook). mengurangi kebakaran dan dalam jangka panjang dapat memulihkan hutan rawa gambut secara alami. salah satu diantaranya adalah Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) (Gumbira-Said. penelitian JMA ini belum banyak dilakukan. 2007). Namun demikian. pada bulan-bulan tertentu terjadi perubahan jeluk muka air tanah yang meningkat. Menurut Ritzema et al. Shorea balangeran (Turjaman et al. Sebagaimana yang dijelaskan Saito et al. gambut. (2008) meskipun restorasi hidrologi dengan pembendungan kanal tidak menunjukkan perubahan jeluk muka air tanah yang signifikan. telah terjadi kerusakan status hidrologi kawasan secara drastis yaitu terjadi pengatusan sangat berlebihan serta rendahnya retensi air dan jeluk muka air tanah. 2005. (4) miskin unsur hara dan (5) aktivitas mikroorganisme rendah. Kata kunci : ex-PLG. bungur. Perepat adalah salah satu jenis asli hutan rawa gambut yang dapat tumbuh baik pada kondisi terbuka.100 hektar. Menurut Limin et al. bekerjasama dengan masyarakat Uni Eropa melakukan restorasi hidrologi dengan pembuatan dam atau pembendungan kanal-kanal yang mengering di blok C Kelampangan. gerunggang (Cratoxylon arborescen) dan asam- 188 . 2008. Juli 2011. Aquilaria microcarpa (Santoso et al. ramin (Muin. (2008) jeluk muka air tanah gambut pada musim kemarau bisa mencapai 40 cm di bawah permukaan.56 %. Mendoza et al. Leigh et al. maka dipandang sangat penting untuk dilakukan perbaikan melalui suatu upaya konservasi yaitu dengan melakukan pemulihan pada lahan gambut tersebut dengan campur tangan manusia. 1999). mengurangi emisi karbon. Glomus sp 3. (3) pH tanah asam.

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa tanaman perepat yang dipupuk dengan pupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah takaran pupuk terbaik meningkatkan pertumbuhan semai perepat pada media gambut (Buranuddin. benih perepat (C. Data yang dikumpulkan terdiri dari tinggi (cm). Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen murni dengan rancangan perlakuan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok ( 2 x 7 ) dengan perlakuan jenis pohon dan jeluk muka air tanah (water table) dan ulangan sebanyak 3 kali. dan 20 ppm MgSO4.lowii seedling). Hasil analisis keragaman pengaruh faktor perlakuan disajikan dalam Tabel 1. Selanjutnya semai ditanam dalam kantong plastik hitam ukuran 2.7H2O.7H2O. Tahapan PelaksanaanPenelitian Benih perepat dan jelutung dikecambahkan dalam bak kecambah yang berisi media gambut yang sudah steril. Pupuk basal diberikan dalam bentuk larutan yang terdiri dari 70 ppm NH4NO3. 22 ppm CuSO4.5 kg yang telah diisi media gambut steril. Siti Kabirun. pemupukan P dan inokulasi JMA terhadap pertumbuhan semai perepat dan jelutung pada tanah gambut. 70 ppm K2SO4. JMAjenis Glomus sp 3. 35 ppm KH2PO4. dilakukan penyapihan. 70 ppm CaCl2.5H2O. 2001). B. jumlah daun. diameter pangkal batang (mm). yang cocok untuk ditanam pada lahan gambut yang akan dikonservasi. (2010) membuktikan bahwa jenis JMA Glomus sp 3 yang terbaik meningkatakan pertumbuhan semai perepat dari beberapa jenis JMA yang diuji pada media gambut. gerunggang dan asam-asam merupakan jenis cepat tumbuh di hutan rawa gambut (Saito et al. Jeluk muka air tanah (water table) diatur bervariasi dari 0 cm sampai 189 . Tanaman ditumbuhkan selama 14 minggu setelah penyapihan. 2011). rotundatus) dan jelutung (D. berat kering pucuk dan serapan P tanaman. BAHAN DAN METODE 40 cm dengan interval 10 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jeluk muka air tanah. Jelutung juga merupakan jenis asli yang tumbuh di hutan rawa gambut. rotundatus and D. Bostang Radjagukguk. 2. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.7H2O 10 ppm MnSO4. Hasil Pertumbuhan semai perepat dan jelutung dinilai berdasarkan pengamatan terhadap pertumbuhan tinggi. 2002). Analisis Data Data tinggi.33 ppm CoSO4. Selain itu disertakan pula tanah dalam kondisi tergenang air 1 cm tanpa dipupuk dan tidak diinokulasi JMA sebagai kontrol. 3. 0. C. Jelutung hanya akan dimanfaatkan dari hasil ikutannya saja berupa getah jelutung. dan Sumardi asam (Mangifera sp) dapat tumbuh baik pada tempat-tempat terbuka. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jenis perepat. berat kering pucuk (gram). Demikian juga pada tanaman jelutung yang dipupuk dengan batuan fosfat takaran 100 ppm dan diinokulasi Glomus sp 3 adalah yang terbaik meningkatkan pertumbuhan jelutung pada media gambut (Burhanuddin. D. II. lowii) rawa yang berasal dari tegakan alam blok C exPLG Kalampangan Palangkaraya. Pupuk Sp 36 dan c). diameter. A. 0. 5 ppm ZnSO4. dan serapan hara P tanaman. Tabel 1. Bahan Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2009 Agustus 2009. di rumah kaca Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menggunakan. 4 dan 5. jumlah daun (helai). b). jumlah daun.2H2O.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. Jenis ini merupakan jenis pohon dwiguna. diameter. a).20 ppm NaMoO4. HASIL DAN PEMBAHASAN A. III. Tanah dengan berbagai jeluk muka air tanah tersebut dipupuk dengan 100 gram SP 36 dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3.7H2O. berat kering pucuk dan serapan hara P tanaman dianalisis menurut analisis keragaman (ANOVA) rancangan acak kelompok menggunakan metoda SAS X3. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C. Hasil penelitian Burhanuddin et al. Setelah semai berumur satu bulan. tahan kekeringan dan tahan terhadap suhu tanah yang tinggi.

0 cm.61 26 41 15927. 3.36 6 9.0001 0. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for diameter C. perlakuan water table dengan pemberian pupuk SP 36 dan inokulasi jenis JMA mempengaruhi pertumbuhan semai perepat dan jelutung di persemaian.22 Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 18.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 26.0001 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.34 3.59 1623.35 F hitung (F cale) 4. 4 dan 5 memperlihatkan bahwa perlakuan water table dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi dengan jenis JMA mem-berikan pengaruh yang sangat nyata terhadap semua parameter yang diuji yaitu. 187 .05 6 18.60* 45.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 13.8 No. rotundatus and D.3.94* 8. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for hight C.0100 0.2567 0. Tinggi semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 10 cm. rotundatus and D.36 12. tinggi.21 16.53 Kuadrat tengah (Mean Squares) 9.06* Pr > F 0.36 F hitung (F cale) 0. diameter.09 9223.73tn 745.95 6 24.64* 56.19 6 321.18 2 9223.lowii seedling) Sumber keragaman (Source of variance) Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 12.51* 11.4893 0.57* 0.0001 0.17 6 2192. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves C.57 F hitung (F cale) 1.0001 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 2. 2.54* Pr > F 0.14 Kuadrat tengah (Mean Squares) 1. 190 .71 1 270.06 0.36 633. 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.37 1 4172. jumlah daun. Peningkatan tinggi semai perepat pada jeluk muka air tanah 10 cm.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3.92 69.21* 29.0001 0.21 1 98.71 1303. Secara umum.65 1323.43tn 53.25 2 0.0001 0.62 0. Perbedaan tanggap tinggi semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 1.0001 0. 40 cm.36 365.68 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) Tabel (Table) 3. berat kering pucuk dan serapan P tanaman.25 26 41 129.85 2 1303.11* 9.37 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Pada Tabel 1. Juli 2011.47 26 41 4954.37 695.196 Tabel (Table)1.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah (Degrees of (Sum of Squares) (Mean Squares) freedom) 34. rotundatus and D.57 6 220.61* Pr > F 0.

02 52.75 %. 102.67 a b c d cd f e i fgh f fgh hi Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks):Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.22 %.75 2 224. rotundatus and D. 10 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman Tabel (Table) 4. 30 cm.37 224. 182.28 F hitung (F cale) 37.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. Bostang Radjagukguk.86 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. rotundatus and D.13* 8.59 6 2533. 0 cm.93* 5.34 36. 162.35 %.0001 0.61 %.15* Pr > F 0. dan 107. Pengaruh water table.05 6 216.53 1 4392.61 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.08 Keterangan (Remarks) * = Signifikan (Significant) tn = tidak berbeda nyata (Non-significant) Tabel (Table) 5. Peningkatan tinggi semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm. 0 cm.02 1 314. Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake C.26 6 120.0001 0. 237.27 %.62 F hitung (F cale) 2.0001 0.0001 0.85 26 Kuadrat tengah (Mean Squares) 3044. dan 324.40 Sumber keragaman Kuadrat tengah (Mean Squares) 11. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 77.79* Pr > F 0.0001 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total CV = 45. 10 cm.31 26 41 897. SP 36 fertilization and AMF inoculation for height on C.09 422. Siti Kabirun. Tinggi semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. kontrol.83 %. 83.67 %.46tn 48. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap tinggi semai perepat dan jelutung (Effect of water table.lowii seedling) 191 .04 4.rotundatus and D.1052 0.0011 Ulangan Pohon (J) Jeluk (W) J*W Galat Total 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tin gg i s em a i ( cm ) 41 12266.41* 11.lowii seedling) Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 3044. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 132.05) Gambar (Figure) 1.31* 7. Hasil Hasil sidik ragam pengaruh jeluk muka air tanah dengan pemupukan SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (The results of analysis variance of influence of water table with SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight C. 0 cm. dan Sumardi 40 cm.68 6 2295.53 732.lowii seedling) Derajat bebas Jumlah kuadrat (Degrees of (Sum of Squares) freedom) 22.

0 cm30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 2).rotundatus and D. 187 . 20 cm. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap diameter semai perepat dan jelutung (Effect of water table. SP 36 fertilization and AMF inoculation for number of leaves on C. dan 20 cm berturut-turut lebih besar 166.26 % dibandingkan dengan tanaman kontrol.196 Diameter semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 40 cm.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 10 cm. Pengaruh water table.67 %. dan 186.67 %. a ab bc cde ef fg a bcd bc de g gh Kontrol 0 10 Water table Perepat 20 30 40 Jelutung Keterangan (Remarks) : Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. 0 cm.67 % dibandingkan dengan Dia m e te r b at a ng (m m ) 8 7 6 5 4 3 2 1 0 tanaman kontrol. 136. Berat kering pucuk semai perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol. dan 10 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol.76 % dan 630. 188.lowii seedling) Perbedaan tanggap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung terhadap tiap jeluk muka air tanah umur 14 minggu setelah penyapihan disajikan dalam Gambar 4. Pengaruh water table.00 % 192 .05 %.05) Gambar (Figure) 2.33 % dan 366. Diameter semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap jumlah daun semai perepat dan jelutung (Effect of water table. 311.05 %. 0 cm. Juli 2011. 0 cm.3.05) Gambar (Figure) 3. 20 cm. 10 cm. 244. SP 36 fertilization and AMF inoculation 50 40 30 20 10 0 Kontrol 0 10 20 30 40 cdecde bcd cde bc cde cde cde a Jumlah daun (he lai) a b cde Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remarks): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0.13 %. dan 10 cm berturut-turut lebih besar 93.67 %. Peningkatan diameter semai jelutung pada jeluk muka air tanah 30 cm. 136. Peningkatan diameter semai perepat pada jeluk muka air tanah 40 cm. 30 cm. Peningkatan berat kering pucuk semai perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturut-turut lebih besar 534.8 No.

SP 36 fertilization and AMF inoculation for shoot dry weight on C.19 % dan 835.Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. akan tetapi pada jeluk muka air tanah 10 cm cenderung meningkat sebesar 851. Pengaruh water table.05). (2008) jenis JMA endemik 193 . Peningkatan serapan P tanaman perepat pada jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm berturutturut sebesar 761. Gambar (Figure) 5. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap serapan P semai perepa dan jelutung (Effect of water table. Siti Kabirun. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa semai perepat dan jelutung meningkat pertumbuhannya dengan pengatuan water table dan pemupukan SP 36 takaran 100 ppm yang diinokulasi dengan jenis JMA. Peningkatan berat kering pucuk semai jelutung pada jeluk muka air tanah 20 cm sebesar 643. Bostang Radjagukguk.83 20 a 15 10 b 5 0 Kontrol 0 10 Water table Perepat Jelutung 20 30 40 bc c bc bc b bc bc b c a Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. SP 36 fertilization and AMF inoculation for P uptake on C. Pengaruh water table.56 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. Hal ini sesuai dengan pendapat Maki et al.rotundatus and D. Hal ini diduga adanya asosiasi JMA endemik pada tanaman lokal gambut dapat meningkatkan pertumbuhan perepat dan jelutung. Serapan P tanaman jelutung tidak berbeda nyata. dan Sumardi dibandingkan dengan tanaman kontrol.80 % dibandingkan dengan tanaman kontrol. B.05) Gambar (Figure) 4. pupuk SP 36 dan inokulasi JMA terhadap berat kering pucuk semai perepat dan jelutung (Effect of water table.lowii seedling) Serapan P (mg/tan) 60 50 40 30 20 10 0 b bcd bcd cd 0 10 20 30 b bcd bcd bcd bcd 40 b a a Kontrol Water table Perepat Jelutung Keterangan (Remark): Huruf yang sama pada histogram tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda Duncan taraf 5 persen (Bars with the same letter are not significantly different based on Duncan's multiple range test (0. Berat kering pucuk semai jelutung berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 20 cm B e ra t ke rin g p u cu k (g ) dibandingkan dengan tanaman kontrol.rotundatus and D.lowii seedling) Serapan P tanaman perepat berbeda nyata terhadap jeluk muka air tanah 30 cm dan 20 cm dibandingkan dengan tanaman kontrol (Gambar 5).

. kemudian diikuti jeluk muka air tanah 30 cm. Jika lahan gambut akan ditanami dengan tanaman jelutung dapat dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. 2009. lahan gambut ex-PLG bisa ditanami dengan tanaman campuran tanaman pertanian. (1995). Mycorrhizal Dependency of Mangaba Tree under Increaing Phosphorus Levels. Effect of AMF Inoculation on the Growth of Combretocarpus rotundatus Miq on a Peat Soil from Central Kalimantan (For Restoration Ex-Mega Rice Project Central Kalimantan). Burhanuddin. JMA jenis Glomus sp 3 yang dikombinasikan dengan pemberian pupuk P takaran 100 ppm dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm dapat dimanfaatkan secara luas meningkatkan bibit perepat (C. 43(7): 887-892. TMC. Jurnal BELIAN. B. 10 cm.3. JA. Lebih lanjut menurut Shepherd et al.lowii Hook) di persemaian. Hal ini sesuai dengan sifat alami dari tanaman jelutung yang tumbuh baik pada kondisi dibawah naungan dan merupakan jenis yang masuk pada tahap sesudah jenis-jenis dalam kelompok tipe hutan riverine forest (Page et al. rotundatus Miq) dan jelutung (D. 2010. LC. 2. 20 cm.4. tipe hutan transition forest. 2008. karena sifat tanah gambut yang tidak bisa balik (irreversible) akan menyebabkan lapisan atas tanah gambut akan hanyut terbawa air yang menyebabkan cepatnya penurunan tanah gambut (subsidence). Hasil penelitian membuktikan bahwa jika akan memulihkan lahan gambut dengan melakukan penanaman dengan tanaman perepat bisa dilakukan dengan pengaturan jeluk muka air tanah mulai dari 40 cm. Guna pemulihan lahan gambut khususnya EX-PLG Palangkaraya disarankan untuk memanfaatkan pupuk hayati JMA jenis Glomus sp 3 diinokulasikan pada perepat dan ditanam pada jeluk muka air tanah 20 cm atau 30 cm di lapanagn. 30 cm. Hasil pengujian jeluk muka air tanah gambut membuktikan bahwa untuk pemulihan hidrologi dengan melakukan pembendungan kanal tidak harus dengan penggenangan. Radjagukguk. dan 10 cm. VOL. 3. Borie. EEP. 187 . Saran Secara umum dapat disarankan bahwa. Dengan mengetahui jeluk muka air tanah yang sesuai untuk tanaman perepat dan jelutung dapat dimanfaatkan untuk memulihkan tanah gambut dengan jenis-jenis lain yang satu kelompok dengan perepat misalnya Cratoxylon arborescens... dan Gonystylus bancanus (Page et al. Azeon. Cornejo. 7 (2): 166-178. S. Jurnal Biota Vol. 1999). dan yang terbaik pada jeluk muka air tanah 10 cm. 1999). Mycorrhizal Effectiveness on Wheat Nutrient Acquisition in an Acidic Soil from Southern Chile as Affected by 194 . yaitu dengan mengatur jeluk muka air tanah 30 cm untuk penanaman perepat. Kajian Takaran Pupuk SP 36 pada Perepat ( Combretocarpus rotundatus Miq) dengan Inokulasi Mikoriza di Tanah Gambut. KESIMPULAN DAN SARAN A. Campnosperma auriculata. & Sumardi. Hasil penelitian jeluk muka air tanah juga dapat digunakan untuk pemanfaatan lahan gambut ex-PLG secara optimal.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.. DAFTAR PUSTAKA Burhanuddin. Untuk tanaman jelutung disarankan ditanamn pada jeluk muka air tanah mulai dari 20 cm. Kabirun. Shorea teysmanniana. serta yang satu kelompok dengan jelutung isalnya Shorea balangreran. dan Page et al. & Nogueira. & F.. Cardoso. Mycorrhizal Symbioses with Jelutung (Dyera lowii Hook) under Increasing Phosphate Rock Levels in Peat Soil. MA.. VOL...15 (1): 63-71. P. dan tipe hutan tall interior forest. R. 1. namun jeluk muka air tanah terbaik untuk tanaman perepat adalah jeluk muka air tanah 20 cm. Burhanuddin. 2011. dan Palaquium leiocarpum. Kesimpulan Hasil percobaan membuktikan bahwa pengujian jeluk muka air tanah pada semai perepat dan jelutung yang dipupuk SP 36 takaran 100 ppm dan diinokulasi JMA jenis Glomus sp 3 membuktikan jeluk muka air tanah terbaik 20 cm. 10 cm dan tergenang 1 cm di lapangan. C. Juli 2011. 2011. de Lemos. Jurnal VOKASI. B. dos Santos. dan tergenang 1 cm. Pesquisa Agropecuaria Brasileira. R. Caetano.196 setempat dapat memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lokal pada tanah sulfat masam pH 3. (1999) jenis jelutung ada pada tipe hutan mixed swamp forest. 10 (2): 135144. Castillo.. Rubio.8 No.

Setiadi. Faridah. Mangium dan Sungkai di Persemaian. Volume 1. Ex Benth Hasil Sinergi Bio-organik dengan Cendawan Mikoriza Arbuskula di Ultisol. Hal: 260-269. Ritzema. Saline and Sodic Gradients. Garcia.O. Indonesia. J. Indonesia: Blocking Channels. V. 2008. Limin. Plant Yield and P Acquisition by Lotus Tenuis Plants Reflect the Availability of Added P from Different Phosphate Source. 31: 1555-1569. Tullamore.E. Hodge. Malaysia. A. Garcia. R. Bostang Radjagukguk. Arbuscular Mycorrhizal Fungi can Transfer Substantial Amounts of Nitrogen to Their Host Plant from Organic Material. Trans.. Kitso. BPPK DEP Kehutanan. Pengaruh Endomikoriza dan Media Semai terhadap Pertumbuhan Pulai. Plant Growth.1007/s10705-0089245-4. Mendoza. S. Mendoza. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Ritzema & H. KSN. Jurnal Plant Soil.V. C. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Hal: 18885-1897 Pidjath.. O.. How do Soil P Tests. M. 1999. Ezawa. Leigh. New Phytologist. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Lemlit. & Jyrki Jauhiainen. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. A. Page. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing XI .S. Vol 1. 30-36. E. S. Edited by Catherine F and John Feehan..Kajian Water Table Pada Semai Perepat (combretocarpus Rotundatus Miq Dan Jelutung (Dyera lowii Hook) diinokulasi Glomus sp 3 di Tanah Gambut Burhanuddin. Sarawak. J.. Relationships among Soil Properties. 310: 55-65. 10. Kurz) pada Areal Bekas Tebangan dengan Inokulasi CMA dan Pemupukan Fosfat Alam terhadap Bibit di Persemaian. Efektivitas Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Semai Bitti (Vitex cofassus Reinw). H.H. & B.. Peatland Development: Wise Use and Impact Management. dan Sumardi Nitrogen Sources. Maki. Martin. Turjaman. Siti Kabirun. 2005. S. Syaiful. Santoso. 17-21 Juli 2007. Dalam Proceedings of the 13th International Peat Congress: After Wise Use-The Future of Peatlands. & T. Nutr Cycl Agroecosyst. Pertanian dan Perkebunan”. T. Bungur. 2008. Pertanian dan Perkebunan”. 27 (VII). 87-131. Plants Symbiotic Microorganisms in Acid Sulaft Soil: Significance in the Growth of Pioneer Plants. 2007. Hal: 222-225. R. DOI. Bogor. I. London. Royal Soc. S. no 3. 2007. Increasing Livelihoods and Controlling Fires. 2009. Kuching.. Canal Blocking Strategies to Restore Hydrology in Degraded Tropical Peatlands in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan. 181: 199-207. Rieley.I & Teten. Phil. Kualitas Bibit Acacia crassicarpa A. E. Bogor. Prospek Pemanfaatan Bioteknologi untuk Penyediaan Pangan. & R... Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus Miq. H. Dalam Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur 1999. del Carmen. Fitter. “ Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. & I. Gumbira-Said..W. Endomikoriza. Escudero. In FEMS Microbiol Ecol 63: 359-371. 2008. 2008. 2003. Yoshida. Mendoza. Nutrient Acquisition and Mycorrhizal Symbioses of a Waterlogging Tolerant Legume (Lotus glaber Mill) in a Saline-Sodic Soil.E. Limin. From journal of plant Nutrition.E.. In Plant and Soil 275: 305-315. & Wiess. 1996. Shotyk. In Journal compilation. Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Ketahanan terhadap Kekeringan pada Semai Jati. Some Requirement for Restoration of Peatland in the Former Mega Rice Project in Central Kalimantan.H. Hal: 243-247. 2008.O. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. 2004.. (Tidak dipublikasi). Prayudyaningsih. Rieley. Vasander. J. Cunn. 17-21 Juli 2007. LM. E.. Muin. H. 195 . Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. D. R. Santoso. Y. & A. 1999. Ireland. & M.. & I. Garcia. Nomachi.R. Plant Nutrition and Arbuscular Mycorrhizal Fungi-Plant Symbiosis in a Temperate Grassland along Hydrologic. Interdependence of Peat and Vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest.

Santoso. K. Santoso. Limin.. Fire. Susanto. & M.Carbon Pools. Samara publ. J. Y.. Yogyakarta. E.J.3.O and Page.... The Realitionship between Forest Vegetation and Peat Characteristics in the Upper Catchment of Sungai Sebangau.E. Bogor. Shibuya. A. Ectomycorrhizal Fungi Inoculated on Shorea balangeran under Field Condition in Peat-Swamp Forest.E. K. Shepherd. Saito.H. Restoration and Wise Use. Editor: Rieley.A. Rieley.. Segah. Shibuya. S. Tuah. S. & Effect of Tawaraya. Juli 2011. & Limin. Dalam. K 2007. Indonesia. H. Peat and Peatlands. Turjaman. 196 . Of the Int.. M. Jamal. & Page.. Tawaraya. 2002. Tamai. “Percepatan Sosialisasi Teknologi Mikoriza untuk Mendukung Revitalisasi Kehutanan. Environmental Importance of Trop.Y. 1995. Dalam Proceedings of the International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia.. Takahashi.. M. M.H. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. 2007. Bali... 17-21 Juli 2007.196 Saito. Osaki. Indonesia. P. Takahashi...Hal: 7579. A. M. Indry.E. UK. Hal: 191210.G. Sampang.. Symp on Biodiversity. K. S.. Preliminary Selection of Fastgrowing Tree Species with Tolerance to an Open and Dry Peat Land in Central Kalimantan: To Develop a Preceding Planting Method.H. Putir.h. Gunawan.O.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. E. S. 187 ..8 No.. Central Kalimantan. Proc. J.W.. Dalam Proceeding International Symposium and Workshop on Tropical Peatland. Early Colonization of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Tree Producing Gaharu Aquilaria microcarpa seedlings. P. Dalam Prosiding Kongres Nasional Mikoriza II. Carbon-ClimateHuman interaction. Turjaman. S. Mitigation. Pertanian dan Perkebunan”.