Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Di negara berkembang penyebab kematian terbesar adalah penyakit infeksi. Salah satu usaha pencegahan terhadap timbulnya penyakit infeksi adalah dengan melaksanakan imunisasi. Dari segi ekonomi, pencegahan adalah suatu cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati. Oleh karena itu, imunisasi merupakan kemajuan besar dalam usaha imunoprofilaksis. Upaya preventif ini untuk setiap orang dewasa yang menginginkan kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit tertentu. Belajar dari imuniasi anak, kelompok usia dewasa patut mendapat imunisasi. Bahkan, seperti dilansir dalam pertemuan tahunan American Society of Internal Medicine di Atlanta Amerika Serikat, tahun 2001, imunisasi dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat dibanding pada anak. Upaya pencegahan menularnya penyakitpenyakit infeksi melalui imunisasi dewasa dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit di kalangan orang dewasa. World Bank menyatakan imunisasi harus menjadi investasi pertama program kesehatan masyarakat bagi pemerintah di seluruh dunia karena merupakan intervensi kesehatan yang paling menguntungkan dari segi biaya. Dan perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi tidak hanya memberikan pencegahan terhadap orang yang diimunisasi, tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan imunitas secara umum di masyarakat.

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi imunisasi Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.1

2.2. Tujuan imunisasi pada orang dewasa Tujuan imunisasi atau vaksinasi adalah meningkatkan derajat imunitas dan

memberikan proteksi imun dengan menginduksi respons memori terhadap patogen/toksin tertentu dengan menggunakan preparat antigen (zat asing) non-virulen/non-toksik. Antibodi (zat kekebalan) yang diproduksi imunisasi harus efektif terutama terhadap mikroba (kuman) ekstraselular dan produknya. Antibodi akan mencegah efek merusak sel dengan menetralisasi toksin kuman (dipthteria, clostridium). Antibodi jenis IgA berperan pada permukaan mukosa, mencegah virus/bakteri menempel pada mukosa (efek polio oral). Mengingat respons imun baru timbul setelah beberapa minggu, imunisasi aktif biasanya diberikan jauh sebelum pajanan dengan patogen. Pencegahan imunisasi merupakan kemajuan besar dalam usaha imunoprofilaksis. Cacar yang merupakan penyakit yang sangat ditakuti, berkat imunisasi masal, sekarang telah lenyap dari muka dunia ini. Demikan pula dengan polio yang dewasa ini sudah banyak dillenyapkan di banyak negara. Pierce dan Schaffner melaporkan, kurangnya perhatian imunisasi pada usia dewasa disebabkan adanya keraguan masyarakat maupun petugas pelaksana pelayanan kesehatan terhadap keamanan vaksinasi, ganti rugi yang tidak memadai dan belum berkembangnya sistem imunisasi dewasa.2
Referat Imunisasi pada Orang Dewasa Page 2

2.3. Manfaat imunisasi pada orang dewasa Manfaat vaksin yang digunakan pada orang dewasa di Indonesia datanya amat terbatas. Data di negara maju menunjukkan bahwa efektivitas vaksin Hepatitis B dalam mencegah penyakit 80% sampai 95%. Efektivitas ini menurun pada kelompok lanjut usia. Vaksin influenza dapat menurunkan insidens influenza 70% sampai 90%. Sedangkan efektivitas vaksin pnemokok 60% sampai 64%. Pada kelompok usia di atas 65 tahun efektivitas vaksin ini 44% sampai 61%. Vaksin campak akan menimbulkan imunitas yang bertahan lama pada sekitar 95% orang yang divaksin. Jika vaksinasi diulang maka imunitas akan timbul pada 90% nonresponder. Vaksin gondongan akan menurunkan insidens penyakit 75% sampai 95% dan begitu pula rubella efektivitasnya hampir menyamai campak. Vaksin tetanus jika digunakan secara benar dapat mencegah tetanus 100% dan vaksin difteri 85%.2

2.4. Vaksin untuk orang dewasa 2.4.1. Definisi vaksin Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 3

Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit. Pembedaan jenis vaksin dari antigen yang dipergunakan untuk merangsang sistim imunologi/daya pertahanan tubuh membuat zat antibody. Antigen adalah (bagian dari) bakteri atau (bagian dari) virus yang dipergunakan sebagai zat aktif yang dikandung didalam vaksin, dan antigen ini bertujuan untuk merangsang sistim imunologi tubuh atau sistim pertahanan tubuh, untuk membuat zat antibody yang diperlukan untuk melawan dan membasmi bibit penyakit yang invasi masuk dalam tubuh kita. Antigen ini diambil dari (sebagian atau seluruh) bakteri atau virus penyebab penyakit, antigen bibit penyakit ini, yang sebelumnya telah diolah sedemikan rupa, sehingga tidak akan menimbulkan penyakit lagi, bila disuntikkan kembali ke dalam tubuh kita, namun akan merangsang sistim imunologi tubuh untuk memberi reaksi dan membuat zat antibody yang diperlukan untuk melawan dan mematikan bibit penyakit yang sama bila invasi masuk dalam tubuh kita sehingga kita terhindar dari penyakit dan kita menjadi kebal / imun terhadap penyakit tersebut.3 2.4.2. Cara pengelolahan antigen bibit penyakit agar supaya aman untuk dipergunakan dalam vaksin

Ini bisa dengan cara mematikan bibit penyakit tersebut dengan cara pemanasan/heating, penyinaran/radiasi, dengan zat kimia/chemical substant misalnya fenol, alkohol dan lain-lain, proses ini disebut inaktivasi / inactivation, artinya vaksin ini mngandung antigen bakteri atau virus yang telah dimatikan , sehingga tidak bisa menularkan penyakit yang sama lagi bila dipakai sebagai vaksin. Ini yang dikenal sebagai vaksin mati (Killed Vaccine / Inactivated Vaccine).

Atau bisa juga dengan cara mengembang biakkan bakteri atau virus tersebut kedalam medium tertentu yang mirip dengan medium habitat bibit penyakit tersebut, dan pengembangbiakan ini diteruskan hingga mencapai tahapan dimana sifat asli bibit

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 4

penyakit yaitu sifat keganasan hilang, namun secara genetik tetap akan dikenali oleh sistim imunologi tubuh kita sebagai bibit penyebab penyakit tertentu dan akan merangsang tubuh membuat zat antibody untuk bibit penyait tersebut. Ini yang dikenal sebagai vaksin hidup yang dilemahkan (Lived Attenuated Vaccine).3

2.4.3. Pendekatan baru dalam pembuatan vaksin a. Vaksin rekombinan Satu atau lebih gen yang mengkode determinan penting imunitas pada mikroorganisme di insersikan ke vektor. Vektor yang biasa digunakan adalah virus (poxvirus vaccinia, canarypox, adenovirus) dan bakteri (Salmonella), contoh vaksin Hepatitis B. b. Vaksin DNA Berasal dari asam nukleat yang mengkode antigen penting. Masih dalam penelitian dan dikembangkan untuk memproduksi vaksin influenza, HIV dan Herpes simpleks.

2.4.4. Macam vaksin Macam vaksin yang digunakan untuk imunisasi adalah : a) Vaksin yang dilemahkan (attenuated live vaccine) : viabilitas dan daya infeksi kuman atau virus dilemahkan namun mampu menumbuhkan respons imun. Vaksin ini dapat berasal dari keseluruhan organisme atau bagian dari organism, contoh vaksin polio (Sabin), vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin campak, gondongan, dan cacar air (varisela). Sifat vaksin live attenuated vaccine, yaitu :

Vaksin dapat tumbuh dan berkembang biak sampai menimbulkan respon imun sehingga diberikan dalam bentuk dosis kecil antigen

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 5

Respon imun yang diberikan mirip dengan infeksi alamiah, tidak perlu dosis berganda Dipengaruhi oleh circulating antibody sehingga ada efek netralisasi jika waktu pemberiannya tidak tepat. Vaksin virus hidup dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik Dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah Mempunyai kemampuan proteksi jangka panjang dengan keefektifan mencapai 95% Virus yang telah dilemahkan dapat bereplikasi di dalam tubuh, meningkatkan dosisi asli dan berperan sebagai imunisasi ulangan.4

b) Vaksin yang telah dimatikan (bakteri, virus atau riketsia) : berasal dari mikroorganisme yang telah dimatikan. Respons imun yang timbul lebih lemah daripada vaksin hidup sehingga biasanya memerlukan imunisasi ulang, contohnya vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio (Salk), vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid. Sifat vaksin inactivated vaccine, yaitu :

Vaksin tidak dapat hidup sehingga seluruh dosis antigen dapat dimasukkan dalam bentuk antigen Respon imun yang timbul sebagian besar adalah humoral dan hanya sedikit atau tidak menimbulkan imunitas seluler Titer antibodi dapat menurun setelah beberapa waktu sehingga diperlukan dosis ulangan, dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif tetapi hanya memacu dan menyiapkan system imun, respon imunprotektif baru barumuncul setelah dosis kedua dan ketiga

Tidak dipengaruhi oleh circulating antibody Vaksin tidak dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik Tidak dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah

c) Vaksin Subunit : vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA dan vaksin vektor virus. Keuntungan vaksin ini aman diberikan pada anak, menghindari
Referat Imunisasi pada Orang Dewasa Page 6

vaksin yang virulen. Contoh : vaksin hepatitis B, Vaksin hemofilus influenza tipe b (Hib) dan vaksin Influenza. d) Vaksin toksoid : vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid yang mampu merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteri toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya. Contoh : Vaksin Difteri dan Tetanus.
e) Vaksin Rekombinan : vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus

dalam jumlah besar. Gen virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. Dengan teknologi DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA. Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom dari virus vaksinia dan imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik. Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin.4 2.4.5. Keuntungan dan kerugian vaksin hidup dan inaktif Keuntungan vaksin hidup : a. Proteksi lama setelah vaksinasi satu kali. b. Merangsang pembentukan sistem imun secara luas termasuk respon sel T dan respons mukosa IgA. c. Menyebarluaskan imunitas herd (menimbulkan imunitas pada orang yang tidak divaksinasi). Kerugian vaksin hidup :
Referat Imunisasi pada Orang Dewasa Page 7

a. Dapat menimbulkan penyakit pada orang imunkompromais yang tak terdiagnosis. b. Dapat berubah menjadi virulen. c. Tak dapat dilakukan imunisasi pada bayi yang masih mempunyai antibodi ibu. d. Untuk mempertahankan potensi perlu penyimpanan dan transportasi pada suhu 4oC atau yang sangat rendah (contoh : vaksin polio oral harus disimpan pada suhu 20 C). e. Lebih reaktogenik. Keuntungan vaksin inaktif : a. Aman karena tak ada risiko jadi virulen. b. Mudah di produksi dan disimpan. c. Dapat digunakan pada bayi tanpa interferensi dengan antibodi yang berasal dari ibu. d. Toleransi lebih baik Kerugian vaksin inaktif : a. Memerlukan penggunaan berulang untuk mempertahankan proteksi. b. Rangsangan imunitas seluler dan mukosa kurang. Pada keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit karena imbalans respons imun.3

2.4.6. Berdasarkan jumlah antigen dalam satu sediaan vaksin a) Vaksin Monovalent Sediaan vaksin hanya mengandung satu jenis antigen saja, misalnya vaksin Hepatitis A, vaksin Hepatitis B, vaksin Rabies, vaksin Polio inactivated, vaksin influenza, semua contoh vaksin tadi yang dalam satu sediaan vaksin hanya mengandung satu jenis antigen, sehingga bertujuan mencegah hanya satu jenis penyakit saja. Vaksin Monovalent ini adalah sedia vaksin yang pertama kali dibuat oleh pabrik vaksin karena keterbatasan teknologi saat itu, juga karena indikasi pemakaiannya, sehingga vaksin monovalent tetap diperlukan.

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 8

b) Vaksin Polyvalent/vaksin kombinasi Dalam satu sediaan vaksin polyvalent atau vaksin kombinasi terdapat lebih dari 2 jenis antigen bakteri atau virus yang dipergunakan untuk merangsang sistim imunologi tubuh untuk membuat zat antibody. Saat ini vaksin kombinasi yang kita kenal adalah: Vaksin DTwP dan vaksin DTaP > Vaksin bakteri kombinasi untuk penyakit difteri, pertusis dan tetanus (vaksin kombinasi trivallent) Vaksin DTaP HepB Polio > Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT, hepatitis B dan Polio (vaksin kombinasi pentavalent) Vaksin DTaP Hib Polio > Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT, Haemophilus Influenza dan Polio (vaksin kombinasi pentavalent) Vaksin DPaT HepB Hib Polio > Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT, Hib, Hepatitis B dan Polio (vaksin kombinasi hexavalent) Vaksin DPaT Hib > Vaksin bakteri kombinasi untuk penyakit DPT dan Hib (vasin kombinasi tetravalent) Keuntungan vaksin kombinasi atau vaksin polyvalent adalah : - Mengurangi jumlah suntikan yang harus diberikan sejak bayi baru lahir hingga remaja - Meningkatkan kepatuhan jadwal vaksinasi dan imunisasi bayi dan anak juga bagi orang dewasa dan lanjut usia - Efisiensi dan ekonomis bagi orang tua dan juga bagi rumah sakit dan dokter vaksinator - Memudahkan transportasi, rantai dingin (cold chain vaccine) dan ruang penyimpanan /storage vaksin
Referat Imunisasi pada Orang Dewasa Page 9

2.5. Indikasi imunisasi pada orang dewasa Imunisasi untuk orang dewasa dapat diberikan sebagai imunisasi ulangan atau imunisasi pertama. Indikasi penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan kepada riwayat pajanan, risiko penularan, usia lanjut, imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana bepergian. Riwayat pajanan Risiko penularan Usia lanjut Risiko pekerjaan Imunokompromais Rencana bepergian Jemaah haji : tetanus, toksoid : influenza, hepatitis A, tifoid, MMR : pneumokok, influenza : hepatitis B, rabies : pneumokok, influenza, hepatitis B, hemophilus : Japanese B ensefalitis, tifoid, hepatitis A : Meningokok ACYW 135., Influenza

Vaksin kolera yang dulu digunakan untuk perlindungan penularan ke daerah endemis sekarang tidak diajurkan lagi.5

2.6. Jadwal imunisasi dewasa

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 10

Jadwal Imunisasi Dewasa menurut CDC Amerika tahun 2007

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 11

Penjelasan rekomendasi jadwal imunisasi dewasa : 1. Tetanus dan Diphteria (Td)

Seluruh orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus, dengan 2 dosis diberikan paling tidak dengan jarak 4 minggu dan

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 12

dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri, maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.

Macam vaksin: Toksoid Efektivitas: 90% Rute suntikan: i.m.

2. Measles, Mumps, Rubella (MMR)

Orang dewasa yang lahir sebelum 1957 dianggap telah mendapat imunitas secara alamiah. Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau sesudahnya perlu mendapat 1 dosis vaksin MMR. Beberapa kelompok orang dewasa yang berisiko terpapar mungkin memerlukan 2 dosis yang diberikan tidak kurang dari jarak 4 minggu. Misalnya, mereka yang kerja di fasilitas kesehatan dan yang sering melakukan perjalanan.

Macam vaksin: Vaksin hidup Efektivitas: 90-95% Rute suntikan: s.c.

3. Influenza

Vaksinasi influenza dilakukan setiap tahun bagi orang dewasa dengan usia > 50 tahun; penghuni rumah jompo dan penghuni fasilitas-fasilitas lain dalam waktu lama (misalnya biara, asrama dsb); orang muda dengan penyakit jantung, paru kronis, penyakit metabolisme (termasuk diabetes), disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau immunosupresi, HIV, juga untuk anggota rumah tangga, perawat dan petugas-petugas kesehatan di atas. Vaksin ini juga dianjurkan untuk calon jemaah haji karena risiko paparan tinggi. Di Amerika Serikat dan Australia, imunisasi influenza telah dijadikan program sehingga semua orang berumur 65 tahun atau lebih mendapat layanan imunisasi infuenza melalui program pemerintah.

Macam vaksin: Vaksin split dan subunit Efektivitas: 8889% Rute suntikan: i.m.
Page 13

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Catatan: vaksin ini dianjurkan untuk usia > 50 tahun untuk individual, sedangkan untuk program, usia > 65 tahun.

4. Pneumokok

Vaksin polisakarida pneumokok diberikan, pada orang dewasa usia > 65 tahun dan mereka yang berusia < 65 tahun dengan penyakit kardiovaskular kronis, penyakit paru kronis, diabetes melitus, alkoholik chirrosis, kebocoran cairan serebospinal, asplenia anatomik/fungsional, infeksi HIV, leukemia, penyakit limfoma Hodgkins, mieloma berganda, malignansi umum, gagal ginjal kronis, gejala nefrotik, atau mendapat kemoterapi imunosupresif. Vaksinasi ulang secara rutin pada individu imunokompeten yang sebelumnya mendapat vaksinasi Pneumo 23 valensi tidak dianjurkan; tetapi, revaksinasi dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah > 5 tahun dan juga: 1. Umur < 65 th ketika divaksinasi terdahulu dan sekarang > 65 th 2. Merupakan individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pneumokok serius (sesuai deskripsi Advisory Comittee on Immunization Practice, ACIP) 3. Individu dengan tingkat antibodi yang cepat sekali turun

Macam vaksin: Polisakarida Efektivitas: 90% Rute suntikan: i.m. atau s.c.

5. Hepatitis A

Vaksin Hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak 6 hingga 12 bulan pada individu berisiko terjadinya infeksi virus Hepatitis A, seperti penyaji makanan (food handlers) dan mereka yang menginginkan imunitas, populasi berisiko tinggi, mis: individu yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara dengan prevalensi tinggi Hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi Hepatitis A atau peneliti virus Hepatitis A.

Macam vaksin: Antigen virus inaktif Efektivitas: 94-100% Rute suntikan: i.m.
Page 14

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

6. Hepatitis B

Dewasa yang berisiko terinfeksi Hepatitis B: Individu yang terpapar darah atau produk darah dalam kerjanya, klien dan staff institusi pendidikan manusia cacat, pasien hemodialisis, penerima konsentrat faktor VIII atau IX, rumah tangga atau kontak seksual dengan individu yang teridentifikasi positif HBsAg-nya, individu yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat dimana infeksi Hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat injeksi, homoseksual/biseksual aktif, individu heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena PMS, fasilitas penampungan korban narkoba, individu etnis kepulauan pasifik atau imigran/pengungsi baru dimana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan 3 dosis dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respons baik, maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster).

Macam vaksin: Antigen virus inaktif Efektivitas: 75-90% Rute suntikan: i.m.

7. Meningokok

Vaksin meningokok polisakarida tetravalen (A/C/Y/W-135) wajib diberikan pada calon haji. Vaksin ini juga dianjurkan untuk individu defisiensi komponen, pasien asplenia anatomik dan fungsional, dan pelancong ke negara di mana terdapat epidemi penyakit meningokok (misalnya Meningitis belt di sub-Sahara Afrika). Pertimbangkan vaksinasi ulang setelah 3 tahun.

Macam vaksin: Polisakarida inaktif Efektivitas: 90% Rute suntikan: s.c.

8. Varisela

Vaksin varisela diberikan pada individu yang akan kontak dekat dengan pasien berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya petugas kesehatan dan keluarga yang kontak dengan individu imunokompromais). Pertimbangkan vaksinasi bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar virus varisela, seperti mereka yang pekerjaannya berisiko (misalnya guru

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 15

yang mengajar anak-anak, petugas kesehatan, dan residen serta staf di lingkungan institusi), mahasiswa, penghuni serta staf institusi penyadaran (rehabilitasi) anggota militer, wanita usia subur yang belum hamil, dan mereka yang sering melakukan perjalanan kerja/wisata. Vaksinasi terdiri dari 2 dosis yang diberikan dengan jarak 48 minggu.

Macam vaksin: Virus hidup yang dilemahkan Efektivitas: 86% Rute suntikan: s.c.

Selain vaksin di atas, juga digunakan vaksin berikut pada orang dewasa.

9. Demam Tifoid

Dianjurkan penggunaannya pada pekerja jasa boga, wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis. Pemberian vaksin Thypim vi perlu diulang setiap 3 tahun. Macam vaksin: Antigen vi inaktif Efektivitas: 50-80% Rute suntikan: i.m.

10. Yellow Fever

WHO mewajibkan vaksin ini bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Afrika Selatan. Ulangan vaksinasi setiap 10 tahun. Macam vaksin: Virus hidup yang dilemahkan Efektivitas: tinggi Rute suntikan: s.c.

11. Japanese Encephalitis

Untuk wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih dari 30 hari atau akan tinggal lama di sana, terutama jika mereka melakukan aktivitas di pedesaan.

Macam vaksin: Virus inaktif


Page 16

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Efektivitas: 91% Rute suntikan: s.c.

12. Rabies

Bukan merupakan imunisasi rutin. Dianjurkan pada individu berisiko tinggi tertular (dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hewan, pekerja laboratorium), wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis yang berisiko kontak dengan hewan dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies.

Macam vaksin: Virus yang dilemahkan Juga tersedia serum (Rabies Immune Globulin). Efektivitas vaksin: 100% Rute suntikan: i.m. atau s.c.6,7 Intramuskular (im): diberikan pada orang dewasa di daerah deltoid menggunakan jarum A 22-25. Subkutan (s.c) : diberikan pada daerah anterolateral paha atau lengan dengan jarum A2225 yang panjangnya 5/8 atau inci. Intradermal (i.d) : diberikan pada bagian volar lengan. Karena jumlah antigen yang disuntikkan sedikit tehnik penyuntikan harus benar dan setelah penyuntikan terbentuk benjolan.

2.7. Cara penyuntikan

2.8. Efek samping 1. Lokal Reaksi lokal berupa bengkak, nyeri pada tempat suntikan. Reaksi akan hilang dalam 48 jam dan biasanya sering terjadi pada suntikan intradermal.Pada umumnya pemberian vaksin dapat dilanjutkan. 2. Sistemik Reaksi sistemik dapat berupa demam, rasa lemah, nyeri otot dan nyeri kepala. Reaksi ini akan menghilang dalam 48 jam. Reaksi alergi (melalui IgE) dapat terjadi namun jarang. Reaksi ini berupa urtikaria, angioudema, anafilaksis setelah suntikan. Juga dapat terjadi
Referat Imunisasi pada Orang Dewasa Page 17

reaksi imun kompleks meski jarang.Cara mengatasi reaksi sistemik sesuai dengan cara pengatasan reaksi alergi pada umumnya. Vaksin tertentu dapat menimbulkan kejadian ikutan meski jarang : * Polio oral dapat menimbulkan poliomielitis paralitik. * MMR dapat menimbulkan trombositopenia.

2.9. Kontra indikasi


o

Kontraindikasi absolute : anafilaksis terhadap komponen yang terdapat dalam vaksin. Untuk vaksin pertusis ensefalopati yang timbul dalam 7 hari setelah penyuntikan yang tak dapat ditetapkan sebabnya dianggap sebagai kontraindikasi absolut.
o

Pemberian

vaksin

dT

untuk

melengkapi

seri

imunisasi

perlu

dipertimbangkan kecuali memang terjadi anafilaksis nyata terhadap DTP. Kontraindikasi sementara : perempuan yang mendapat vaksinansi MMR harus menghindari kehamilan dalam waktu sedikitnya 3 bulan dan sedangkan untuk vaksin varisela 1 bulan. Imunisasi virus hidup yang secara tidak sengaja diberikan pada perempuan hamil tidak menjadi alasan untuk terminasi kehamilan karena tidak ada data mengenai hubungan imunisasi vaksin hidup dengan kelainan janin. Ibu yang sedang menyusui diperbolehkan mendapat vaksin hidup.6,7

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 18

BAB II KESIMPULAN

Dewasa ini, penyakit infeksi yang menular semakin banyak. Oleh karena itu, imunisasi sangat diperlukan dengan tujuan meningkatkan derajat imunitas dan memberikan proteksi imun. Arti dari imunisasi itu sendiri berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Referat Imunisasi pada Orang Dewasa Page 19

Adapun macam macam vaksin yang biasa digunakan adalah vaksin hidup yang dilemahkan dan vaksin inaktif. Masing masing mempunyai keuntungan dan kerugiannya sendiri. Pada akhirnya, pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Imunisasi untuk orang dewasa dapat diberikan sebagai imunisasi ulangan atau imunisasi pertama. Sebagai indikasi penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan kepada riwayat pajanan, risiko penularan, usia lanjut, imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana bepergian.

DAFTAR PUSTAKA

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 20

1. Arti Definisi/Pengertian Imunisasi, Tujuan, Manfaat, Cara dan Jenis Imunisasi Pada Manusia.

November 2008. Diunduh dari http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-imunisasi-tujuanmanfaat-cara-dan-jenis-imunisasi-pada-manusia. 17 September 2012.


2. Pentingnya

imunisasi

pada

orang

dewasa.

Januari

2011.

Diunduh

dari

http://www.imunisasi.net/Imunisasi%20Dewasa.html. 19 September 2012. 3. Jenis 2012. 4. definisi vaksin. 2012. Diunduh dari http://infoimunisasi.com/vaksin/definisi-vaksin/. 19 September 2012. 5. Budi, Erwanto dan Samsuridjal D. Imunisasi dewasa. Dalam : buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Ed. V. Jakarta : InternaPublishing ; 2009. 6. Recommended September 2012 7. Djauzi S, Koesnoe S, Putra BA. Konsensus Imunisasi Dewasa. Jakarta : Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI; 2008. Adult Immunization Schedule. 2012. Diunduh dari 18 dan macam vaksin. Agustus 2012. Diunduh dari

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/08/22/jenis-dan-macam-vaksin/. 19 September

http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm6104a9.htm?s_cid=mm6104a9_w.

Referat Imunisasi pada Orang Dewasa

Page 21