Anda di halaman 1dari 35

Bayi X diare Informasi 1 By X, perempuan, umur 11 bulan, datang ke IGD dengan diare 3 hari, disertai muntah-muntah dan panas.

Diare kurang lebih 6-8 kali perhari, konsistensi cair, ampas kadang (+) kadang (-), lendir (-), darah (-). Muntah kurang lebih 3-4 kali perhari, tidak nyemprot. Nafsu makan menurun, tetapi By X nampak selalu haus dan selalu ingin minum. By X tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya. Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita sakit seperti ini.

Informasi 2 Pemeriksaan fisik : KU Kesadaran VS : Gelisah, rewel, tampak haus : Kompos mentis : N : 36x/menit regular, isi dan tegangan cukup, RR : 36x/menit, t : 38,8C BB PB Kepala Mata Mulut Thorak Abdomen : 9 kg, : 68 cm : Ubun-ubun besar sulit dinilai : Kelopak mata cekung (++), air mata (-) : Mukosa mulut kering (+) : Paru dan jantung dalam batas normal : Cembung, supel, hipertimpani, bising usus (+) meningkat, hepar dan lien tidak membesar Turgor kulit Ekstremitas Informasi 3 Pemeriksaan Penunjang : (+) menurun (kembali lebih dari 1 detik) : Akral dingin (-)

Darah rutin Hb Ht Leukosit Diff count Trombosit Eritrosit Urin rutin Makroskopis Mikroskopis Feses rutin Makroskopis (-) Mikroskopis Informasi 4 Diagnosis Informasi 5 Terapi : : Diare akut dehidrasi ringan/sedang e.c virus : Leukosit (++), eritrosit, (-) : 12,5 g/dl : 40% : 6.000/mm : 0/1/3/41/50/5 : 300.000/mm : 4 jt/mm : : Warna kekuningan, jernih : Leukosit (-), eritrosit (-), bakteri (+1) : : Cair lebih banyak dari ampas, kekuningan, darah (-), lendir

Medikamententosa Rehidrasi oralit 75ml/kg BB selama 3-4 jam -> jika dimuntahkan NGT atau infus RL Zinc 1x20 mg ( 10 hari ) Non medikamentosa Pemberian makanan terutama ASI Higienitas

A. Klarifikasi Istilah 1. Muntah Muntah adalah mekanisme gastrointestinal dalam membersihkan dirinya sendiri dan isinya ketika hampir semua bagian atas traktus gastrointestinal teriritasi secara luas sangat mengembang lalu terangsang (Depkes RI, 2011). 2. Diare Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam (Simadibrata K, 2009). Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari (Depkes RI, 2011). B. Batasan Masalah Punya keke

C. Analisis Masalah 1. Bagaimana mekanisme demam? Infeksi / peradangan

Neutrofil

Mengeluarkan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF )

Prostaglandin

Merubah set point di hipotalamus

Peningkatan set point termostat di hipotalamus

Peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan panas 3 Peningkatan suhu ke set point yang baru

2.

Mekanisme Mual dan muntah. Rangsang kuat muntah (distensi / iritasi berlebih dari duodenum)

Gerakan peristaltic ke arah atas traktus pencernaan

Gerakan antiperistaltik bergerak mundur naik ke usus halus dengan kecepatan 2-3 cm / detik

Mendorong isi usus halus bagian bawah kembali ke duodenum dan lambung dalam waktu 3-5 menit

Duodenum sangat teregang

AKSI MUAL

Inspirasi dalam

Naiknya tulang lidah dan laring untuk menarik sfingter esophagus bagian atas supaya terbuka

Menutup glottis untuk mencegah aliran muntah masuk paru

Pengangkatan palatum molle untuk menutup nares posterior

Kontraksindiafragma yang kuat dan kontraksi otot dinding abdomen

Tekanan intragastrik meningkat

Sfingter esophagus bawah terelaksasi secara lengkap (sfingter gastroesofageal)

Pengeluaran isi lambung ke atas lewat esophagus

AKSI MUNTAH (Price, 2006)

Muntah terjadi setelah adanya rangsangan yang diberikan kepada pusat muntah (vomiting center) atau zona pemicu kemoreceptor yang berada di system syaraf pusat. Pada sistem digesti, ujung saraf-saraf yang ada didalam saluran pencernaan merupakan penstimulir muntah jika terjadi iritasi saluran pencernaan, kembung dan tertundanya pengosongan lambung. Ketika pusat muntah distimulasi, maka motor dari cascade akan bereaksi menyebabkan muntah. Kontraksi non peristaltic di dalam usus harus akan meningkat, gallbladder berkonstraksi dan sebagian isi dari duodenum masuk ke dalam lambung. Kondisi ini diikuti dengan melambatnya gerakan peristaltic yang akan mendorong masuknya isi duodenum dan sekresi pankreas ke dalam lambung dan menekan aktivitas lambung. Sementara itu, otot-otot pernafasan akan berkontraksi untuk melawan celah suara yang tertutup, sehingga terjadi pembesaran kerongkongan. Pada saat otot abdomen berkonstraksi, isi lambung akan didorong masuk ke dalam kerongkongan dan terjadilah muntah (Murray, 1998).

3. Mekanisme dehidrasi sampai BB menurun

(Price, 2006)

4. Derajat dehidrasi? Derajat Dehidrasi menurut WHO (1995):

Tanda/Gejala

Tidak Dehidrasi

Dehidrasi Berat

Tidak Dehidrasi Berat

1. Keadaan Umum 2. Nafsu Minum 3. Mata Cekung 4. Air Mata 5. Mulut Kering 6. Turgor Kulit Kehilangan Cairan

Baik/biasa Biasa (+) (+) (-) < 1 detik < 5% BB

Gelisah Tampak haus (++) (-) (+) 1-2 detik 5-10% BB

Jelek/Tidak sadar Tidak mampu (+++) (-) (++) >2 detik >10% BB

Derajat dehidrasi berdasarkan kehilangan berat badan (Noerasid et al, 2003) : a. b. c. d. Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2 % Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan berat badan 2 - 5 % Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan berat badan 5-10 % Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan berat badan 10 %

Cara membaca tabel untuk menentukan kesimpulan derajat dehidrasi : a. Baca tabel penilaian derajat dehidrasi dari kolom kanan ke kiri ( C ke A) b. Kesimpulan derajat dehidrasi penderita ditentukan dari adanya 1 gejala kunci ( yang diberi tanda bintang ) ditambah minimal 1 gejala yang lain ( minimal 1 gejala ) pada kolom yang sama. Dengan menggunakan tabel penilaian derajat dehidrasi, lihatlah : 1) Bagaimana keadaan umum anak tersebut ? a) Apakah dia baik dan sadar ? b) Apakah dia gelisah atau rewel ? 2) Apakah dia mengantuk , lesu, lunglai atau tidak sadar ? 3) Apakah anak mengeluarkan air mata waktu menangis? 4) Apakah matanya normal cekung atau sangat cekung dan kering ? 5) Apakah mulut dan lidahnya basah , kering atau sangat kering ? ( raba lidah dan bagian dalam mulut dengan jari yang basih dan kering untuk mengetahui keadaan mulut dan lidah anak ) 6) Saat Saudara memberikan minum , apakah anak : a) Minum biasa atau tampak tidak haus ? b) Minun banyak dan tampak haus ? c) Minum sedikit atau tampak tidak bisa minum ?

7) Periksalah Sewaktu kulit perut dicubit apakah kembali dengan cepat, lambat atau sangat lambat ( lebih lama dari 2 detik ) Catatan : Hati-hati dalam mengartikan cubitan kulit karena : a) Pada penderita yang gizinya buruk , kulitnya mungkin saja kembali dengan lambat walaupun dia tidak dehidrasi. b) Pada pemderita yang obesitas ( terlalu gemuk ) , kulitnya mungkin saja kembali dengan cepat walaupun penderita mengalami dehidrasi. D. Deferensial diagnosis? a. Diare akut et causa ETEC

b. Diare akut et causa cholera c. Diare akut et causa bakteri salmonella dan shigella

d. Diare akut et causa rotavirus Perbedaan diare akut karena bakteri dan virus Simptom dan Gejala Mual dan muntah Panas Sakit Dari permulaa n + Tenesmus Gejala lain Distensi abdomen Kadang + tenesmus, kolik Hipotensi + Tenesmus, kolik, pusing Bakterimia/tok semia sistemik + Tenesmus, kolik, pusing Kejang Kolik + Jarang Jarang Rotavirus ETEC EIEC Salmonella Shigella Virus cholerae

Sifat tinja: Volume Sedang

Banyak

Sedikit

Sedikit

Sedikit

Sangat banyak

Sering Frekuensi Sampai 10x atau lebih Konsisten si Jarang Berair + Berair

Sering

Sering

Sering sekali

Hampir terus menerus

Kental

Berlendir

Kental Air

+ +

+ Kadang

Sering Sering flacks

Mukus Darah Bau

Bau tinja

Tidak spesifik

Bau telur busuk

Tidak berbau Anyir Hijau

Tidak Hijau, berwarna -

hijau Hijau +

Warna

kuning -

Leukosit Sifat lain

Tinja seperti air cucian beras

Tabel 1. Simptom dan Gejala Diare Berdasarkan Etiologinya

E. Sasaran Belajar 1. Anatomi dan fisiologi a. Sistem anatomi dan mekanisme fisiologi yang terlibat dalam proses terjadinya diare: Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan (organ aksesoris) yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

Gambar 1: Organ Sistem Pencernaan Sumber Martini, 2009 1) Mulut Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzimenzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

10

Gambar 2 : Anatomi Mulut Sumber Putz, 2006 2) Tenggorokan ( Faring) Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk

Gambar 3 :Skema melintang mulut, hidung, faring, dan laring Sumber Putz, 2006 Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak

11

berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium Tekak terdiri dari; Bagian superior adalah bagian yang sangat tinggi dengan hidung, bagian media adalah bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior adalah bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang

telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.

3) Kerongkongan (Esofagus)

Gambar 4 : Esophagus Sumber www.missinglink.ucsf.edu diakses tanggal 23 Mei 2012

Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan

menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: i, oeso membawa, dan , phagus memakan). Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi. Esofagus dibagi menjadi tiga bagian: a) bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka) b) bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)

12

c) bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).

4) Lambung Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu a) Kardia. b) Fundus. c) Antrum. d) Pylorus. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Selsel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting : a. Lendir Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada

terbentuknya tukak lambung. b. Asam klorida (HCl) Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. c. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

13

Gambar 5 : Anatomi Lambung Sumber Putz, 2006 5) Usus halus (usus kecil) Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M sirkuler ), lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah Luar ).

14

Gambar 6 : Antomi Usus Sumber Putz, 2006 Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). 6) Usus dua belas jari (Duodenum) Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Usus dua belas jari (duodenum)

15

Gambar 7 : Usus dua belas jari (duodenum) Sumber Putz, 2006 7) Usus Kosong (jejenum) Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis. Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti lapar dalam bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti kosong. 8) Usus Penyerapan (illeum) Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

16

9) Usus Besar (Kolon) Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari : a) Kolon asendens (kanan) b) Kolon transversum c) Kolon desendens (kiri) d) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

Gambar 8 : Anatomi Usus Besar Sumber Putz, 2006 10) Usus Buntu (sekum) Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, buta) dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan 17

karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing. 11) Umbai Cacing (Appendix) Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum. Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik. Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi. 12) Rektum dan anus Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB.

18

Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

Gambar 9 : Anatomi Rektum & Anus Sumber www.missinglink.ucsf.edu diakses tanggal 23 Mei 2012 13) Pankreas Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu : a) Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan b) Pulau pankreas, menghasilkan hormon Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.

19

14) Hati Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah. Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.

Gambar 12 : Hati Sumber Putz, 2006 15) Kandung empedu Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7-10 cm dan berwarna hijau

20

gelap, bukan karena warna jaringannya, melainkan karena warna cairan empedu yang dikandungnya. Organ ini terhubungkan dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu. Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu: a) Membantu pencernaan dan penyerapan lemak b) Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol. 2. Histologi Terdiri atas saluran panjang dari rongga mulut sampai anus. Mulai dari rongga mulut, esophagus, lambung, usus halus, usus besar, rectum, dan liang anus. a. Rongga Mulut Dilapisi epitel squamosa kompleks non keratin sebagai pelindung yang juga melapisi permukaan dalam bibir. 1) Bibir terdiri atas: Pars Cutanea (Kulit bibir) dilapisi: a) epidermis, terdiri atas epitel squamosa kompleks berkeratin, dibawahnya terdapat dermis. b) dermis, dengan folikel rambut, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, m. erector pili, berkas neurovaskuler pada tepi bibir. Letak pars kutanea di bagian luar penampang bibir Pars Mukosa Dilapisi: epitel squamosa kompleks nonkeratin, diikuti lamina propia (jaringan ikat padanan dari epidermis dan dermis), dibawahnya submukosa, terdapat kelenjar labialis (sekretnya membasahi mukosa mulut). Letak di penampang bibir berhadapan dengan gigi dan rongga mulut. Pars Intermedia (mukokutaneus) Dilapisi: epitel squamosa kompleks nonkeratin. Banyak kapiler darah. Letak bagian atas penampang bibir yang saling berhadapan (bibir atas dan bawah) 2) Lidah Epitel permukaan dorsal lidah sangat tidak teratur (epitel squamosa kompleks) dan ditutupi tonjolan (papilla) yang berindentasi pada jaringan ikat lamina propia (mengandung

21

jaringan limfoid difus). Terdiri papilla filiformis, fungiformis, sirkumvalata, dan foliata. Papilla lidah ditutupi epitel squamosa kompleks yang sebagian bertanduk. Bagian pusat lidah terdiri atas berkas-berkas otot rangka, pembuluh darah dan saraf. Strukur umum saluran pencernaan. Lapisan saluran

pencernaan secara umum dari luar ke dalam: Tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa/adventisia. Adventisia

merupakan jaringan ikat pada retroperitoneal. b. Tunika mukosa Terdiri dari epitel pembatas, lamina propia (jaringan ikat longgar, pembuluh darah dan pembuluh limfe, kelenjar pencernaan, jaringan limfoid) dan Tunika muskularis mukosa (lapisan otot polos pemisah tunika mukosa dan submukosa). c) Tunika submukosa Terdiri dari jaringan ikat longgar, pembuluh darah dan pembuluh limfe, jaringan limfoid, kelenjar pencernaan, pleksus submukosa meissner d) Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Diantara lapisan tersebut terdapat pembuluh darah dan limfe, pleksus mienterikus auerbach. e) Tunika Serosa Jaringan ikat longgar yang dipenuhi pembuluh darah dan selsel adipose. Epitel squamosa simpleks. 3) Esophagus Panjang 10 inc. Meluas dari faring sampai lambung dibelakang trakea, sebagian besar dl rongga thoraks dan menembus diafragma masuk rongga abdomen. Terdiri atas: a) Tunika Mukosa Epitel squamosa kompleks non keratin, lamina propia, muskularis mukosa. b) Tunika Submukosa Jaringan ikat longgar mengandung sel lemak, pembuluh darah, dan kelenjar esophageal propia. c) Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Diantara otot tersebut sedikit dipisah jaringan

22

ikat.

Pada bagian tengah

atas

esophagus otot

terdiri dan

otot otot

rangka, bagian

terdiri

polos

rangka, bagian bawah dibentuk otot polos. d) Tunika Adventisia Terdapat pembuluh darah, saraf, jaringan lemak. Adventisia merupakan lapisan terluar dari esophagus bagian atas sedangkan serosa merupakan bawah 4) Gaster a) Tunika Mukosa Merupakan epitel kolumner simpleks, tidak terdapat vili intestinalis dan sel goblet. Terdapat faveola gastrika/pit gaster yang dibentuk epitel, lamina propia dan muskularis mukosa. Seluruh gaster terdapat rugae (lipatan mukosa dan lapisan esophagus bagian

submukosa) yang bersifat sementara dan menghilang saat gaster distensi oleh cairan dan material padat. Faveola tersebut terdapat sel mukosa yang menyekresi mucus terutama terdiri dari: 1. Sel neck: Menghasilkan secret mukosa asam seperti glikosaminoglikan 2. Sel parietal: Menghasilkan HCl dan faktor intrinsic. 3. Sel chief: Mengahasilkan pepsin b) Tunika submukosa Jaringan ikat longgar banyak mengandung pembuluh darah dan saraf pleksus meissner c) Tunika muskularis Terdiri atas otot oblik (dekat lumen),otot sirkular (bagian tengah) dan otot longitudinal (bagian luar). Diantara otot sirkuler dan longitudinal tersebut sedikit dipisah pleksus saraf mienterikus auerbach d) Tunika Serosa Peritoneum visceral dengan epitel squamosa simpleks, yang diisi pembuluh darah dan sel-sel lemak. 5) Usus halus Panjang 5 m. Ciri khas terdapat plika sirkularis kerckring, vili intestinalis, dan mikrovili. Plika sirkularis kerckring merupakan lipatan mukosa (dengan inti submukosa) permanen. Vili

23

intestinales merupakan tonjolan permanen mirip jari pada lamina propia ke arah lumen diisi lakteal (pembuluh limfe sentral). Mikrovili merupakan juluran sitoplasma (striated brush border). Pada lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn, didasarnya terdapat sel paneth (penghasil lisozim-enzim antibakteri pencerna dinding bakteri tertentu dan mengendalikan mikroba usus halus) dan sel enteroendokrin (penghasil hormone-gastric

inhibitory peptide, sekretin dan kolesistokinin/pankreozimin). a) Duodenum 1) Tunika Mukosa Epitel kolumner simpleks dengan mikrovili, terdapat vili intestinalis dan sel goblet. Pada lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn. 2) Tunika Submukosa Jaringan ikat longgar. Terdapat kelenjar duodenal Brunner (ciri utama pada duodenum yang menghasilkan mucus dan ion bikarbonat). Trdapat plak payeri (nodulus lymphaticus agregatia/ gundukan sel limfosit) 3) Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach. 4) Tunika Serosa Merupakan peritoneum visceral dengan epitel squamosa simpleks, yang diisi pembuluh darah dan sel-sel lemak. b) Jejunum dan Ileum Secara histologis sama dengan duodenum,

perkecualiannya tidak ada kelenjar duodenal brunner. Dan juga salah satu ciri khas dari ileum yang berbeda dengan jejunum yaitu terdapatnya Plaques Peyeri di lamina propria Ileum. c) Appendiks Secara struktur mirip kolon. Ada banyak kesamaan dengan kolon seperti epitel pelapis dengan sel goblet. Lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn (tapi kurang

berkembang, lebih pendek, letak sering berjauhan) dan jaringan limfoid difus sangat banyak. Terdapat pula

Muskularis mukosa.

24

1) Tunika Mukosa Terdiri dari epitel kolumner simplek. Tetapi appendiks tidak memiliki vili intestinal. 2) Tunika Submukosa sangat vascular. 3) Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach. 4) Tunika Serosa d) Usus Besar (Kolon) Terdapat sekum; kolon asendens, tranversal, desendens, sigmoid; rectum serta anus. 1) Tunika Mukosa Terdiri epitel kolumner simpleks, mempunyai sel goblet (lebih banyak dibanding usus halus) tapi tidak mempunyai plika sirkularis maupun vili intestinalis. Pada lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn yang lebih banyak dan nodulus limpatikus. Tidak terdapat sel paneth tapi terdapat sel enteroendokrin. Dibawah lamina terdapat muskularis mukosa 2) Tunika Submukosa Jaringan ikat longgar banyak mengandung pembuluh darah, sel lemak dan saraf pleksus meissner 3) Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Otot sirkular berbentuk utuh tapi otot longitudinal terbagi tiga untaian besar (taenia koli). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach. 4) Tunika Serosa Merupakan peritoneum visceral dengan epitel

squamosa simpleks, yang diisi pembuluh darah dan sel-sel lemak. Kolon tranversum dan sigmoid melekat ke dinding tubuh melalui mesenterium, sehingga tunika serosa menjadi lapisan terluar bagian kolon ini. Sedangkan adventisia membungkus kolon ascendens dan descendens Karena ketaknya peritoneal. e) Rectum

25

1) Tunika Mukosa Terdiri epitel kolumner simpleks, mempunyai sel goblet dan mikrovili, tapi tidak mempunyai plika sirkularis maupun vili intestinalis. Pada lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn, sel lemak, dan nodulus limpatikus. Dibawah lamina terdapat muskularis mukosa. 2) Tunika Submukosa Jaringan ikat longgar banyak mengandung pembuluh darah, sel lemak dan saraf pleksus meissner 3) Tunika Muskularis Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian luar). Otot sirkular berbentuk utuh tapi otot longitudinal terbagi tiga untaian besar (taenia koli). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach. 4) Adventisia Merupakan jaringan ikat longgar yang menutupi rectum, sisanya ditutupi serosa. f) Anus 1) Tunika Mukosa Terdiri epitel squamosa non keratin, lamina propia tapi tidak ada terdapat muskularis mukosa. 2) Tunika Submukosa Menyatu dengan lamina propia. Jaringan ikat longgar andung pembuluh darah, saraf pleksus hemorroidalis dan glandula sirkum analis. 3) Tunika Muskularis Bertambah tebal. Terdiri atas sfingter ani interna (otot polos, perubahan otot sirkuler), sfingter ani eksterna (otot rangka) lalu diluarnya m. levator ani. Otot sirkular berbentuk utuh tapi otot longitudinal terbagi tiga untaian besar (taenia koli). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach. 4) Adventisia Terdiri jaringan ikat longgar 3. Definifi

26

Diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten (Ganong, 2003). Diare akut adakah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari 1 minggu (Subagyo B, 2011).

4. Etiologi Selain factor lingkungan dan higenitas dari bayi, status gizi yang dimiliki bayi juga dapat dijadikan etiologi penyebab diare. Status gizi yang paling penting adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif. Hal ini terbukti pada penelitian pada sepuluh rumah sakit di Indonesia yang menunjukan bahwa bayi diare yang diberi ASI ekslusif selama 4-6 bulan lebih cepat menglami recovery ketimbang bayi tanpa ASI ekslusif. Jadi ASI eksklusif memberikan pertahanan imunitas yang lebih pada bayi (Sunarto, 2010).

5. Epidemiologi Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu

penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia di bawah lima tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta anak menunggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang, Sebagai gambaran 17% kematian anak di dunia disebabkan oleh diare sedangkan di Indonesia, hasil Riskesdas 2007 diperoleh diare masih merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% disbanding pneumonia 24%, untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena diare 25,2% disbanding pneumonia 15,5% (Subagyo B , 2011).

6. Klasifikasi Diare Diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya, yaitu

27

a. Diare Akut Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari. Etiologinya : Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain yang dapat menimbulkan diare akut adalah toksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kondisi lain (Mansjoer, 2000). b. Diare Kronik Diare kronik ditetapkan berdasarkan kesepakatan, yaitu diare yang berlansung lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa, sedangkan pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu dua minggu (Mansjoer, 2000) Diare kronik dibagi menjadi tiga (Mansjoer, 2000), yaitu : 1) Diare Osmotik Dijelaskan dengan adanya faktor malabsorbsi akibat adanya gangguan absorbsi karbohidrat, lemak atau protein, dan tersering adalah malabsorbsi lemak. Feses berbentuk steatore. 2) Diare Sekretorik Terdapat gangguan transport akibat adanya perbedaan osmotik intralumen dengan mukosa yang besar sehingga terjadi penarikan cairan elektrolit ke dalam lumen usus dalam jumlah besar. Feses akan seperti air. 3) Diare Inflamasi Diare dengan kerusakan dan kematian eritrosit disertai peradangan. Feses berdarah.

7. Tanda dan gejala a. Cengeng b. Gelisah c. Suhu tubuh naik d. Nafsu makan turun e. Tinja cair, dengan atau tanpa lender dan darah f. Anus lecet/kemerahan g. Dehidrasi (Abdoerrachman, 2007).

28

8. Patogenesis Rotavirus Virus sekresi enterotoksin

Mukosa lambung

Mukosa duodenum

Mukosa GI tract di bawah duodenum

Rangsang ujung saraf N. X Muntah

Virus menginvasi vili intestinum


Masa inkubasi 48 jam, kemudian bermultiplikasi Rusak mikrovili dan enterosit

Enterosit rusak sekresi mukus

Vili memendek

Gangguan sekresi enzim disakaridase Proses digesti tidak lengkap Penarikan cairan menuju intraluminal

absorpsi

Gangguan absorpsi gas yang dihasilkan bakteri-bakteri usus

Diare dengan banyak gas


(Sumber: Sudoyo, dkk., 2009; Sherwood, 2011)

29

9. Patofisiologi

Diare dengan banyak gas

cairan dan elektrolit tubuh

Volume plasma Volume darah

frekuensi BAB Gangguan integritas kulit

Tekanan darah Mekanisme kompensasi

urin

Rasa haus

Heart rate

Vasokonstriksi pembuluh darah perifer

cap refill

Hipoperfusi jaringan

CO2 Asidosis Metabolik

Akral pucat

metabolisme tubuh ATP

Akral dingin

Lemas

Dehidrasi Berat
(Sumber: Sudoyo, dkk., 2009; Sherwood, 2011).

10. Penegakan Diagnosis Anamnesis Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung

30

kurang dari 15 hari. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, bisa air, malabsorptif, atau berdarah tergantung dari bakteri pathogen yang spesifik (Daldiyono, 2009). Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas akrena nausea dan muntah, terutama pada anak kecil dan lannjut usia. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus yang meningkat, berkurangnya jumlah buang air kecil dengan warna urine gelap, tidak mampu berkeringat, dan perubahan ortostatik. Pada keadaan berat, dapat mengarah ke gagal ginjal akut (Daldiyono, 2009). Menurut Daldiyono (2009), Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi atas 3 tingkatan: 1. Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB) Gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak (vox cholerica), pasien belum jatuh dalam presyok 2. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8% BB) Turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam 3. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% BB) Tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot- otot kaku, sianosis

Pemeriksaan Fisik Kelainan- kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab diare. Status volume di nilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperature tubuh dan tanda toksisitas (Daldiyono, 2009). Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentuan etiologi (Daldiyono, 2009). Untuk menentukan derajat dehidrasi kita dapat menggunakan Skor Penilaian Klinis Dehidrasi Daldiyono

Klinis

Skor

31

Rasa haus/ muntah Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Tekanan darah sistolik < 60 mmHg Frekuensi nadi > 120 x/menit Kesadaran apatis Kesadaran somnolen, spoor, atau koma Frekuensi napas > 30 x/menit Facies cholerica Vox cholerica Turgor kulit menurun Washers womans hand Ekstremitas dingin Sianosis Umur 50- 60 tahun Umur > 60 tahun Tabel . Skor Daldiyono (Daldiyono, 2009)

1 1 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 -1 -2

Pemeriksaan Penunjang Pasien dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis leukosit yang normal atau limfositosis pada pemeriksaan darah lengkap. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk memeriksa adanya kekurangan volume cairan dan mineral tubuh. Pemeriksaan tinja dilakukan untuk melihat konsistensi tinja. Diare yang disebabkan oleh virus biasanya konsistensinya cair (Daldiyono, 2009).

11. Penatalaksanaan Pada diare yang disertai dengan dehidrasi (tubuh kekurangan cairan dan elektrolit) dasar pengobatannya adalah (Irwanto, 2007): a. Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang dengan cairan rehidrasi. Rehidrasi adalah mengganti cairan dan elektrolit yang keluar dari tubuh. Jumlah, jenis, dan cara memberikan cairan rehidrasi disesuaikan dengan derajat dehidrasi. b. Teruskan pemberian ASI dan makaann untuk mencegah kekurangan gizi.

32

Selama diare dapat terjadi penurunan penyerapan nutrisi sampai 30%, akibat kerusakan epitel saluran cerna. Di lain pihak, pada saat diare terdapat peningkatan kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme yang bertambah, memperbaiki epitel saluran cerna yang rusak, dan mengganti zat gizi yang keluar melalui lapisan dinding saluran cerna yang rusak. ASI, harus diteruskan pemberiannya, selain ditolenrasi dengan baik, ASI mengandung IgA sekretori yang berfungsi dalam mekanisme pertahanan saluran cerna. Pengenceran susu formula, menyebabkan asupan nutrisi berkurang. Padahal, saat diare kebutuhan nutrisi justru meningkat,yang diperlukan selain untuk mengganti zat nutrisi yang hilang, juga untuk proses

penyembuhan. Puasa, membatasi pemberian makan selama diare, hanya akan memperlambat proses perbaikan kerusakan epitel saluran cerna dan memperlama diare. Makanan tetap diberikan atau minimal segera setelah rehidrasi tercapai. c. Pemberian zinc elemental. Zink dapat mencegah infeksi saluran cerna, mempercepat penyembuhan, dan mencegah kekambuhan diare. Zink diberikan 20mg/hari, sekali sehari untuk anak berusia di atas 6 bulan dan 10mg/hari sekali sehari, untuk anak berusia di bawah atau sama dengan 6 bulan. Zink diberikan selama 10-14 hari. d. Antibiotika diberikan selektif, karena sebagian besar diare pada anak disebakan oleh virus. e. Edukasi kepada orangtua. Bila kehilangan cairan telah terganti, maka keadaan umum anak menjadi lebih baik, dan dapat dipulangkan. Oralit tetap diberikan dirumah sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap BAB masih cair, untuk mencegah berulangnya dehidrasi (Irwanto, 2007).

12. Komplikasi a. Dehidrasi Dehidrasi terjadi bila cairan yang dikeluarkan lebih banyak daripada yang masuk. Hal ini disebabkan oleh berak yang berlebihan, muntah, dan penguapan karena demam. Pengeluaran cairan tubuh sangat dipengaruhi oleh jumlah, frekuensi, dan komposisi elektrolit tinja.

33

Dehidrasi merupakan keadaan yang berbahaya karena menyebabkan penurunan volume darah, kolaps kardiovaskuler, dan kematian bila tak ditangani dengan tepat. Salah satu gejala dehidrasi adalah sindroma syok (syok hipovolemi), kegagalan sirkulasi darah yang berlangsung lama dan menyebabkan gangguan sirkulasi perifer, dimana kegagalan ini akan mempengaruhi metabolisme sel sehingga akan timbul kenaikan sisa-sisa asam metabolik dan akan

menimbulkan asidosis metabolik yang ditandai dengan adanya nafas kussmaul (IDAI, 2004). b. Imbalance Elektrolit Karena terjadi pergeseran cairan intraseluler ke ruang interstisial, maka terjadi pergeseran ion K+ dari dalam sel ke ruang interstitial pula. Penurunan kadar ion K+ ini menyebabkan tonus sel dan jaringan menurun. Keadaaan hipokalemia yang sangat berat dapat

menimbulkan gejala ileus paralitikus atau arritmia kordis Kadangkadang, keadaan hipokalemia ini timbul pada proses rehidrasi, hal ini kadang disebabkan oleh pemberian cairan yang terlalu cepat, sehingga sebagian ion K+ akan terdesak keluar sel, sehingga timbul keadaan hipokalemia sehingga perut menjadi kembung dan bunyi usus berkurang atau menghilang (IDAI, 2004). c. Asidosis metabolic Pada saat diare, sejumlah besar bicarbonat dapat hilang melalui tinja. Pengeluaran bicarbonat bersama-sama tinja, akan menaikkan

konsentrasi ion H+ sehingga menyebabkan pH turun (IDAI, 2004).

13. Prognosis Prognosis diare sebaiknya jangan ditentukan pada hari-hari pertama. Pengalaman membuktikan bahwa penderita pada hari pertama

digolongkan ringan, namun pada hari-hari berikutnya dapat saja terjadi asidosis. Sebaliknya, dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia (Umar, 2004). Infeksi rotavirus bersifat self-limited disease yang terjadi setelah 3-9 hari gejala muncul. Namun pada kasus ini dapat terjadi dehidrasi berat yang pada

34

akhirnya dapat menyebabkan kematian. Dengan rehidrasi yang tepat akan dapat mencegah komplikasi yang serius (IDAI, 2004).

35