Anda di halaman 1dari 4

HATI BERSIH, PIKIRAN JERNIH

Kita sering mendengar dalam pengajian seorang ustad berwasiat agar para jamaah membersihkan hati. Namun, ketika kita dihadapkan dengan realita betapa kriminalitas terus meluas, pornografi menjadi-jadi, korupsi tak berhenti, kita jadi bertanya, apa ada yang salah? Tanggal 15 September lalu saya bersama sejumlah tokoh ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) berilaturahmi dengan Jaksa Agung Abdurrahman Saleh, SH. FUI melayangkan surat kepada Jaksa Agung berkaitan dengan fatwa MUI tentang Ahmadiyah, agar Pemerintah mem-follow upnya, khususnya menyinggung wewenang Jagung untuk melarang aliran yang menyimpang dari agama asalnya sesuai Penpres No. 1 tahun 1965. Bang Hussein Umar, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah yang menjadi juru bicara FUI menyampaikan bahwa Pemerintah jangan raguragu dalam mengambil keputusan melarang Ahmadiyah. Dunia Islam internasional juga telah melarangnya. Namun, dengan tenang Jaksa Agung mengatakan bahwa pemerintah dalam posisi tidak bisa melarang, Penpres No. 1 tahun 1965 tersebut saat ini tidak populer, dianggap melanggar HAM. Jadi, pemerintah menyarankan FUI menempuh jalur hukum. Inilah yang aneh. Pemerintah tidak berani

menggunakan kewenangannya saat harus melindungi Islam dan umatnya dari penodaan oleh kelompok Ahmadiyah. Bahkan ketika saya mengikuti audiensi di komisi 8 DPR, mayoritas anggota komisi tersebut tampak tidak terlalu peduli dengan fatwa MUI yang mendesak Pemerintah membubarkan Ahmadiyah dan menyeru para pengikutnya untuk kembali pada kebenaran (ruj' il al-haq). Menurut hukum syariah, penyimpangan terhadap agama Islam tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Menurut syariah, siapa saja yang murtad (keluar dari agama Islam), tidak bisa dibiarkan begitu saja, melainkan harus diminta bertobat (istitbah) dan dijelaskan kepada yang bersangkutan tentang bahaya kemurtadannya bagi dirinya (Lihat: QS alBaqarah [2]: 217). Jika mentok maka yang bersangkutan ditahan dan diberi tempo untuk merenungkan keputusannya selama tiga hari. Jika dia bertobat, dia dilepas. Jika meneruskan kemurtadannya, maka dia dihukum mati. Ini berlaku jika pelakunya individu. Jika pelakunya kelompok, maka mereka diperangi, sebagaimana Rasul dan Khalifah Abu Bakar memerangi nabi palsu dan orang-orang murtad. Dalam kebijakan menaikkan harga BBM sampai rata-rata 126% yang sangat memberatkan umat, juga banyak yang aneh; mulai dari

prosentase kenaikan minyak tanah yang justru paling tinggi (185%), ketidaktrasparanan Pemerintah tentang surplus hasil migas dibandingkan dengan subsidinya akibat kenaikan harga minyak mentah internasional, indikasi bakal masuknya pengusaha SPBU asing pada bulan November 2005, sampai tidak maunya Pemerintah mengambil solusi menunda bayaran cicilan utang dan minta penghapusan bunga utang ribawi. Asal tahu saja, Argentina pernah mendapatkan penghapusan sampai 70% utangnya dengan nilai penghapusan sebesar USD 72 miliar (lebih dari 720 tiriun rupiah). Dalam hadis dikatakan bahwa ada sekitar 60 pintu dosa riba, salah satunya seperti berzina dengan ibu sendiri. Dalam suatu riwayat lain dikatakan dosa riba satu dirham sama dengan berzina dengan 30 pelacur. Padahal konon tahun ini Pemerintah membayar riba sekitar 59.7 triliun atau setara dengan dosa berzina dengan 59.7 miliar pelacur. Na'udzubillh! Jadi, keputusan Pemerintah sungguh sangat mengerikan, tetap setia membayar riba yang dosanya luar biasa, dan mencekik leher masyarakat dengan kenaikan harga BBM yang gila-gilaan yang dampaknya jelas sangat signifikan: harga beras naik, harga gula naik, harga minyak naik, ongkos angkot naik, dll.

Lebih parah lagi, kalangan wakil rakyat menyetujuinya. Depkominfo lalu menjadikan Aa Gym, Kurtubi, Chatib Basri, dan sejumlah orang lain menjadi bintang iklan baru untuk meredam kegelisahan dan kemarahan rakyat. Bahkan ada rumor, seorang bos tv swasta melarang wartawannya menyiarkan demo-demo yang menentang kenaikan harga BBM. Astaghfirullh! Dari berbagai paparan di atas jelaslah bagi kita, bahwa tidak cukup pembinaan hati agar menjadi bersih dengan materimateri sentuhan qalbu. Sebab, hati sifatnya relatif; bisa baik, bisa buruk. Nabi saw. pernah bersabda, "Ketahuilah, bahwa di dalam jasad seseorang ada segumpal daging, jika daging itu bagus, maka baguslah seluruh jasadnya. Namun, jika daging itu rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah daging itu adalah qalbu." Pertanyaannya, apa yang menyebabkan qalbu bisa bagus atau rusak? Jawabannya tentulah apa yang diikat oleh qalbu itu, itulah akidah! Jika qalbu itu mengikat akidah yang selamat ('aqdah salmah), yakni akidah Islam, maka insya Allah qalbunya akan bagus. Seabaliknya, jika yang diikat qalbu adalah akidah kekufuran, maka rusaklah qalbu itu. Akidah Islam yang selamat itu adalah akidah Islam yang murni, yang menjadi landasan berpikir (q'idah fikriyyah) bagi seorang

Muslim dalam seluruh perkara yang akan dipecahkannya. Akidah Islam melahirkan hukum syariah, yakni untuk mengatur hubungan dirinya dengan AlKhliq, hubungannya dengan dirinya sendiri, maupun hubungannya dengan manusia lainnya. Dengan demikian, dengan pikiran yang jernihlah hati seorang akan bersih. Dengan pikiran jernih pula dia akan mempertanyakan bagaimana mengelola BBM menurut syariat Islam. Dia akan menemukan dalam syariah bahwa BBM adalah harta milik umum yang haram diswastanisasi. Dia akan bisa secara jernih bahwa UU Migas tahun 2001 yang meliberalisasikan migas jelas bertentangan dengan syariah, yang karenanya harus dianulir. Perjanjian-perjanjian yang menunjukkan swastanisasi pengelolaan migas juga harus dibatalkan, sekalipun itu perjanjian internasional. Fakta sudah menunjukkan, dengan pengelolaan oleh swasta selama ini, bukan saja sumberdaya alam kita habis, tetapi utang kita ternyata terus bertambah, melilit seluruh tubuh bangsa ini. Ada orang yang tidak jernih berpikir mengatakan, bahwa perjanjian dengan asing tidak boleh dibatalkan, kita tidak boleh melanggar kesepakartan internasional. Orang yang berpikir jernih akan mudah menemukan hadis Nabi saw., "Setiap syarat yang tidak sesuai

dengan Kitabullah adalah batal (demi hukum Allah), sekalipun ada 100 syarat." Kalau kita berpikir jernih, kita akan tahu, pemberlakuan UU migas 2001 ini berkaitan erat dengan kebijakan menaikkan harga BBM baru-baru ini. Walhasil, tidak cukup hati dibersihkan, pikiran juga harus dijernihkan. []