Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN KETERGANTUNGAN OBAT PSIKOTROPIKA

Andri, ekal dan Monic

Penatalaksanaan pada pasien ketergantungan obat psikotropika terdiri dari: A. Kondisi Gawat Darurat 1. Tindakan terfokus pada masalah penyelamatan hidup melalui prosedur ABC dan menjaga tanda-tanda vital. 2. Bila memungkinkan, hindari pemberian obat-obatan karena dikhawatirkan adanya interaksi dengan zat yang digunakan pasien. Apabila zat yang digunakan pasien sudah diketahui, maka obat diberikan dengan dosis adekuat. 3. Mencari tahu riwayat penggunaan zat sebelumnya baik melalui auto maupun alloanamnesa. Bila pasien tidak sadar, perhatikan alat-alat yang ada pada pasien. 4. Sikap dan tata cara petugas kesehatan membawakan diri merupakan hal penting khususnya berhadapan dengan pasien panik, kebingungan atau psikotik. 5. Penting dalam menentukan masalah penggunaan zat pasien berdasarkan kategori dibawah ini: a. Pasien dengan penggunaan zat dalam jumlah banyak dan tanda vital yang membahayakan berkaitan dengan kondisi intoksikasi. Kemungkinan disertai dengan gejala halusinasi, waham dan kebingungan. Akan tetapi, kondisi ini akan kembali normal setelah gejala intoksikasi mereda. b. Tanda vital pasien pada dasarnya stabil tetapi ada gejala putus zat yang diperlihatkan pasien seperti kebingungan atau psikotik. c. Pasien dengan tanda vital stabil dan tidak memperlihatkan gejala putus zat yang jelas tetapi secara klinis menunjukkan gejala kebingungan pada kondisi delirium atau demensia. d. Bilamana tanda vital pasien stabil dan secara klinis tidak ada gejala kebingungan atau putus zat, tetapi menunjukkan halusinasi atau waham dan tidak memiliki insight maka pasien menderita psikosis. Penatalaksanaan kondisi gawat darurat penggunaan obat ini dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Amfetamin a. Simtomatik tergantung kondisi klinis, untuk penggunaan oral; merangsang muntah dengan activated charcoal atau kuras lambung adalah penting. b. Antipsikotik; Haloperidol 2-5 mg per kali pemberian atau Chlorpromazine 1 mg/KgBB oral setiap 4-6 jam. c. Antihipertensi bila perlu, TD diatas 140/100 mmHg. d. Kontrol temperatur dengan selimut dingin atau Chlorpromazine untuk mencegah temperatur tubuh meningkat. e. Aritmia kordis, lakukan Cardiac monitoring; diberikan Propanolol 20-80 mg/hari (perhatikan kontraindikasinya). f. Bila ada gejala ansietas, berikan ansiolitik golongan Benzodiazepin; Diazepam 3x5 mg atau Chlordiazepoxide 3x25 mg. g. Asamkan urin dengan Amonium Klorida 2.75 mEq/Kg atau Ascorbic Acid 8 mg/hari sampai pH urin < 5 akan mempercepat ekskresi zat.

2. Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin) a) Mengurangi efek Sedatif-Hipnotik : Untuk tingkat serum sedatif-hipnotik yang tingginya ekstrim dan gejala-gejala sangat berat, pikirkan untuk haimoperfusion dengan Charcoal resin/Norit. Cara ini juga berguna bila ada intoksikasi berat barbiturat yang short acting. Tindakan suportif termasuk: - pertahankan jalan nafas, pernafasan buatan bila diperlukan - perbaiki gangguan asam basa Alkalinisasi urin sampai pH 8 untuk memperbaiki pengeluaran obat dan untuk diuresis berikan Furosemide 20-40 mg atau Manitol 12,5-25mg. b) Mengurangi absorbsi lebih lanjut: Rangsang muntah, bila baru terjadi pemakaian. Kalau tidak, pikirkan Activated Charcoal, Selama perawatan pasien harus diperhatikan supaya tidak terjadi aspirasi. c) Mencegah komplikasi: Perhatikan tanda-tanda vital dan depresi pernafasan, aspirasi dan edema paru. Bila sudah terjadi aspirasi, berikan antibiotic Bila pasien berusaha bunuh diri, maka dia harus ditempatkan di tempat khusus dengan pengawasan perawat. B. Rawat Inap Tidak semua pasien memerlukan rawat inap. Rawat inap diperuntukkan bagi pasien yang kondisi fisik maupun psikologisnya sulit untuk diatasi dengan rawat jalan seperti : kondisi putus NAPZA berat, putus NAPZA yang memerlukan tapering off pengobatan (Benzodiazepin) atau adanya penyulit baik secara fisik maupun mental.

Pada pasien ketergantungan obat psikotropika ini juga perlu dilakukan: 1. Detoksifikasi Merupakan suatu langkah awal dalam proses pemulihan yang bertujuan untuk mengatasi kondisi putus NAPZA Tidak semua pasien memerlukan perawatan detoksifikasi dengan rawat inap, hanya pada kondisi putus NAPZA berat untuk heroin, benzodiazepin dan alkohol atau adanya komplikasi fisik maupun psikologis Detoksifikasi biasanya dilakukan dengan standar minimal dengan simptomatis, apabila memungkinkan dikembangkan untuk detokisifikasi dengan zat substitusi atau UROD (Ultra Rapid Opioid Detoxification) Beberapa jenis detoksifikasi yang dapat diberikan untuk beberapa jenis NAPZA akan dijelaskan dibawah ini: a) Putus Amfetamin Observasi 24 jam untuk menilai kondisi fisik dan psikiatrik Rawat inap diperlukan apabila gejala psikotik berat. gejala depresi berat atau kecenderungan bunuh diri.

Terapi : Antipsikotik (Haloperidol 3 x 1,5mg, Risperidon 2 x 1,5-3 mg), Anti ansietas (Alprazolam 2 X 0,25-0,5 mg, Diazepam 3 x 5-10 mg, Clobazam 2 x 10 mg) atau Antidepresi golongan SSRI atau Trisiklik/Tetrasiklik sesuai kondisi klinis b) Putus Sedatif-Hipnotik - Abrupt withdrawal ( pelepasan mendadak ) dapat berakibat fatal karena itu tidak dianjurkan. - Gradual withdrawal (pelepasan bertahap) dianggap lebih rasional, dimulai dengan memastikan dosis toleransi, disusul dengan pemberian suatu sedatif: Benzodiazepin atau Barbiturat ( Pentotal, Luminal) dalam jumlah cukup banyak sampai terjadi gejalagejala intoksikasi ringan, atau sampai kondisi pasien tenang. Lalu diteruskan selama beberapa hari sampai keadaan pasien stabil, kemudian baru dimulai dengan penurunan dengan kecepatan maksimal 10 % per 24 jam sampai dosis sedatif nol. Bila penurunan dosis menyebabkan pasien gelisah / insomnia/ agitatif atau kejang, ditunda sampai keadaan pasien stabil, setelah itu penurunan dosis dilanjutkan. Penatalaksanaan dengan tapering off Benzodiazepin Berikan salah satu Benzodiazepin (Diazepam,Klobazam,Lorazepam) dalam jumlah cukup. Lakukan penurunan dosis (kira-kira 5 mg) setiap 2 har Berikan hipnotika malam saja (misalnya ; Clozapine 25 mg, Estazolam 1-2 mg Berikan vitamin B complex. Injeksi Diazepam intramuskuler/intravena 1 ampul (10 mg) bila pasien kejang/agitasi, dapat diulangi beberapa kali dengan selang waktu 30-60 menit. 2. Rehabilitasi Rehabilitasi diperlukan pada pasien agar tidak kembali menggunakan obat tersebut. Rehabilitasi ini dapat dilakukan dengan adanya konseling

REFERENSI: http://www.rsstroke.com/files/peraturan/BUK/RegulasiNapza/Kepmen-kes_No420.pdf