Anda di halaman 1dari 8

Lo 1, by; - HASAN CHAMRAN BAIQUNI - LINAWATY - RABEL RELIANTA ZAGOTO

OBESITAS
Obesitas ialah akumulasi jaringan lemak dibawah kulit yang berlebihan dan terdapat di seluruh tubuh. Sering dihubungkan dengan overweight (kelebihan berat badan), walaupun tidak selalu identik, oleh karena obesitas mempunyai ciri-ciri tersendiri.

Penyebab
Umumnya disebabkan oleh masukan energi yang lebih dari yang dibutuhkan oleh tubuh untuk metabolisme basal, specific dynamic action terhadap berbagai makanan yang dimakan, pengeluaran ekskreta, pertumbuhan dan perkembangan dan berbagai kegiatan jasmani. Bila kelebihan energi tersebut berlangsung terus-menerus, misalnya 500 kalori setiap hari, maka dalam waktu seminggu akan terjadi kenaikan berat badan kira-kira 500 gram. Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan

antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas. Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:

Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa memengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.

OBESITAS

Page 1

Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial. Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari). Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.

Faktor kesehatan. Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya: Hipotiroidisme Sindroma Cushing Sindroma Prader-Willi Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

Obat-obatan. Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

Faktor perkembangan. Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

Aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.

Patogenesis
Kelebihan energi oleh tubuh akan diubah menjadi zat lemak yang kemudian disimpan sebagai jaringan lemak dibawah kulit dan juga pada organ-organ lain. Kelebihan

OBESITAS

Page 2

energi dapat terjadi sebagai akibat masukan energi yang berlebihan, penggunaan energy yang kurang atau kombinasi dari kedua hal tersebut. Masukan energy yang berlebihan terdapat pada keadaan sebagai berikut: 1. Gangguan emosionil Dalam hal ini makanan merupakan pengganti untuk mencapai kepuasan dalam memperoleh kasih sayang, ketenangan dan ketentraman jiwa yang tidak diperoleh penderita. 2. Kelainan pada otak hipotalamus atau hipofisis yang mengakibatkan gangguan pada pusat rasa kenyang 3. Kelebihan insulin

Penggunaan kalori yang kurang dapat terjadi karena: 1. Merendahnya nilai untuk metabolisme basal, specific dynamic action dan energi expenditure untuk berbagai kegiatan jasmani. 2. Endokrinopatia, misalnya hipotiroidea, sindrom adreno-genital dan sebagainya. 3. Aktifitas jasmani kurang.

Epidemiologi
Di Negara dengan keadaan sosial ekonomi yang sudah maju, obesitas merupakan penyakit gizi yang penting. Di Indonesia hanya terdapat pada anak beberapa keluarga yang biasanya tergolong mampu, sehingga belum merupakan masalah gizi yang penting. Obsitas pada anak lebih sering ditemukan pada keluarga dengan kedua orang tua atau salah seorang (terutama ibu) yang juga menderita obesitas. Bila obesitas yang mulai timbul pada masa anak kemudian berlanjut sampai dewasa, biasanya lebih sukar diatasi. Mungkin karena factor penyebab yang telah menahun dan sel-sel lemak yang telah bertambah banyak disamping bertambah besar. Obesitas mebahayakan kesehatan karena

mempermudah terjadinya penyakit lain dan juga mempersulit penyembuhan penyakit seperti arthritis, hipertensi dan sebagainya.

beberapa

Gejala klinis
Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapii pada anak biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja, terutama anak wanita. Selain berat badan meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata jika diperiksa usia tulangnya) sehingga pada akhirnya anak yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relatif rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya.

OBESITAS

Page 3

Bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas: 1. Raut Muka Hidung dan mulut tampak relatif kecil dengan dagu yang berbentuk ganda. 2. Dada dan payudara Bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah tumbuh. Pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan. 3. Abdomen Membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng (pendulum) kadang-kadang terdapat stria putih atau ungu. 4. Genitalia luar Pada pria seakan-akan terpendam dalam jaringan lemak mons pubis, sehingga tampak kecil dari bagian yang tersembul keluar. 5. Anggota badan Lengan atas dan paha tampak besar, terutama pada bagian proksimal, tangan relative kecil dengan jari-jari yang berbentuk runcing. Terdapat kelainan berupa koksa vara dengan genu valgum pada tungkai. 6. Kelainan emosi Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan penyebab atau akibat keadaan obesitas.

Pemeriksaan antropometrik
Keadaan gizi penderita dapat dinilai dengan melakukan beberapa pengukuran antropometrik, yaitu yang terpenting: 1. Pengukuran berat badan 2. Pengukuran panjang badan 3. Pengukuran lingkaran lengan atas 4. Pengukuran tebal lipatan kulit yang dilakukan pada lengan atas kanan bagian belakang tengah, diatas otot triseps.

Pengukuran berat badan menurut WHO ( 2010) dapat dilakukan dengan membagi berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Hal ini dinamakan dengan Indeks Masa Tubuh ( IMT) Atau Body Mass Index (BMI).

Tabel berat badan-tinggi badan ini telah digunakan sejak lama untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan. Tabel biasanya memiliki suatu kisaran berat badan untuk tinggi badan tertentu. OBESITAS Page 4

Permasalahan yang timbul adalah bahwa kita tidak tahu mana tabel yang terbaik yang harus digunakan. Banyak tabel yang bisa digunakan, dengan berbagai kisaran berat badan yang berbeda. Beberapa tabel menyertakan ukuran kerangka, umur dan jenis kelamin, tabel yang lainnya tidak. Kekurangan dari tabel ini adalah tabel tidak membedakan antara kelebihan lemak dan kelebihan otot. Dilihat dari tabel, seseorang yang sangat berotot bisa tampak gemuk, padahal sesungguhnya tidak. BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan (membandingkan) berat badan dengan tinggi badan. Walaupun dinamakan "indeks", BMI sebenarnya adalah rasio atau nisbah yang dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI sebesar 30 atau lebih. Rumus: Satuan Metrik menurut sistem satuan internasional : BMI = kilogram / meter2 Rumus : BMI = b / t2 dimana b adalah berat badan dalam satuan metrik kilogram dan t adalah tinggi badan dalam meter.

Tabel Indeks Massa Tubuh, ITM (Body Mass Index, BMI)

Klasifikasi IMT BB kurang (underweight) Normal BB lebih (overweight) Obesitas, kelas I Obesitas, kelas II Obesitas ekstrim, kelas III

(kg/m2) <18,5 18,5-24,9 25,0-29,9 30,0-34,9 35,0-39,9 >40

Diagnosis Membuat diagnosis obesitas tidak selalu mudah. Yang terpenting ialah

ditemukannya gejala klinis obesitas yang disokong oleh pemeriksaan antropometrik. OBESITAS Page 5

Diagonosis diabuat bila terdapat data antropometris untuk perbandingan berat dan tinggi, lingkaran lengan dan tebalnya kulit, paling sedikit 10% di atas normal dengan gejala klinis obesitas. Pengobatan 1. Memperbaiki faktor penyebab, baik berupa kelainan organis maupun psikologis. 2. Motivasi penderita tentang perlunya menguruskan tubuh 3. Memberikan diet untuk menguruskan tubuh, kemudian membimbing pengaturan makanan yang sesuai untuk mempertahankan keadaan gizi yang ideal sesuai dengan pertumbuhan. 4. Menganjurkan (merangsang) penderita untuk melakukan olah raga yang teratur. Memberikan diet untuk menguruskan Diet yang digunakan hendaknya cukup nutrien, kecuali kalori perlu dikurangi untuk mendapatkan pengurangan berat badan yang cukup banyak akan tetapi tidak menggangu aktifitas anak dan pertumbuhannya. Mungkin diperlukan waktu berbulan-bulan bila kelebihan berat cukup besar. Proses pengurusan yang terlalu capat berbahaya, karena anak dapat menjadi lemah, pusing dan mungkin menjadi sakit. Juga obesitas dapat kambuh lagi karena anak tidak sempat menyesuaikan diri dengan pengaturan makanan diet dengan seterusnya. Dalam minggu-minggu pertama masa diet, biasanya berat badan akan turun dengan cepat kira-kira 2 kg pada anak. Yang terutama disebabkan oleh pengeluaran air. Selanjutnya penurunan berat badan tidak berlangsung cepat, bahkan kadang-kadang tidak tampak, oleh karena terjadi peristiwa adaptasi didalam tubuh yang mengakibatkan retensi air kembali. Anak yang sedang diet tersebut perlu diberikan pengertian dan dibujuk terus agar lanjutkan dietnya. Sementaraa itu dianjurkanuntuk melakukan olah raga secara teratur dan jika dapat lebih giat lagi. Untuk penderita yang masih kecil, pengaturan diet tersebut hendaknya dengan menu untuk seluruh keluarga, sehingga seolah-olah seluruh keluarga turut serta dalam pengurusan tersebut. Obat yang dapat digunakan untuk menguruskan obat yang termasuk dalam golongan anoreksogenik, misalnya amfetamin, mirapront, aspisate, apetinil dan

sebagainya.obat yang meningkatkan metabolism, misalnya yang mengandung hormon tiroid hanya mempunyai peranan terbatas.

Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. Harus dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat. OBESITAS Page 6

Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan risiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI. Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI :

Resiko rendah : BMI < 27 Resiko menengah : BMI 27-30 Resiko tinggi : BMI 30-35 Resiko sangat tinggi : BMI 35-40 Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih.

Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbedabeda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan penderita.

Penderita dengan risiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (1200-1500 kalori/hari untuk wanita, 1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olah raga

Penderita dengan risiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai olah raga

Penderita dengan risiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi, mendapatkan obat antiobesitas disertai diet rendah kalori dan olah raga.

Memilih program penurunan berat badan yang aman dan berhasil. Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih suatu program penurunan berat badan :

Diet

harus

aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang

dianjurkan

(vitamin, mineral dan protein). Diet untuk menurunkan berat badan harus rendah kalori.

Program penurunan berat badan harus diarahkan kepada penurunan berat badan secara perlahan dan stabil.

Sebelum sebuah program penurunan berat badan dimulai, dilakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

Program yang diikuti harus meliputi pemeliharaan berat badan setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan. Program yang dipilih harus meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen, untuk merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat badan. Program ini harus menyelenggarakan perubahan perilaku, termasuk pendidikan dalam kebiasaan makan yang sehat dan rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah berat badan.

OBESITAS

Page 7

DAFTAR PUSTAKA:
Buku: Staf pengajar ilmu kesehatan anak FK-UI 1985. Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:UI http://id.wikipedia.org/wiki/Obesitas http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21688/4/Chapter%20II.pdf

OBESITAS

Page 8