Anda di halaman 1dari 24

Jurnal Hortikultura, Tahun 2000, Volume 9, Nomor (4): 331-352

SISTEM PRODUKSI SAYURAN URBAN DAN PERI-URBAN DI


KOTAMADYA DAN KABUPATEN BANDUNG
Witono Adiyoga, Mieke Ameriana, Rachman Suherman, Thomas Agoes Soetiarso, Bagus Kukuh
Udiarto dan Ineu Sulastrini
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang, Bandung - 40391

ABSTRAK. Adiyoga, W., M. Ameriana, R. Suherman, T. A. Soetiarso, B. K. Udiarto dan I. Sulastrini. 1998.
Sistem produksi sayuran urban dan peri-urban di Kotamadya dan Kabupaten Bandung. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Desember 1997 sampai Februari 1998 di daerah urban dan peri-urban Bandung serta
melibatkan 53 orang petani yang dipilih secara acak. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan karakterisasi sistem
produksi sayuran urban dan peri-urban Bandung. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pola tanam antar
ekosistem (dataran rendah: pola tanam berbasis padi; dataran medium: sayuran-sayuran-palawija, sayuran-palawija-
sayuran, dan sayuran-palawija-palawija; dataran tinggi: sayuran-sayuran-sayuran). Pengamatan petani menyangkut
dinamika lingkungan produksi bio-fisik selama lima tahun terakhir mengindikasikan terjadinya (a) pergeseran waktu
tanam, (b) perubahan komoditas andalan, dan (c) peningkatan resiko usahatani. Penurunan kesuburan tanah
diindikasikan oleh semakin menurunnya produksi rata-rata dan semakin meningkatnya kebutuhan input. Kendala
ketersediaan lahan tercermin dari sebagian responden (>25%) yang lahan garapannya semakin sempit dalam tiga
tahun terakhir. Penyemprotan rutin dan pencampuran yang mengarah pada penggunaan pestisida berlebih pada
dasarnya dilakukan sebagai tindakan preventif untuk memperkecil resiko produksi. Analisis residu juga menunjukkan
adanya residu pestisida yang melewati ambang toleransi. Berdasarkan urutan kepentingannya, tiga kendala utama
produksi menurut persepsi petani adalah ketersediaan modal, fluktuasi harga dan insiden hama penyakit. Sementara
itu, ketersediaan informasi teknis serta kesuburan tanah dipersepsi sebagai kendala produksi prioritas rendah. Secara
spesifik, petani mengusulkan bahwa topik perbaikan budidaya sayuran yang paling dibutuhkan adalah pengendalian
hama penyakit.

Kata kunci: Karakterisasi; Sistem produksi; Peri-urban; Analisis residu.

ABSTRACT. Adiyoga, W., M. Ameriana, R. Suherman, T. A. Soetiarso, B. K. Udiarto and I. Sulastrini. 1998.
Urban and peri-urban vegetable production system in Kotamadya and Kabupaten Bandung. This study was
conducted on December 1997 until February 1998 in Bandung urban and peri-urban areas, involving randomly
selected 53 farmers. The objective of this study was to characterize vegetable production system in Bandung urban
and peri-urban areas. Results show that cropping pattern varies among different ecosystems (low-land: rice based
cropping system; medium-land: vegetables-vegetables-secondary crops, vegetables-secondary crops-vegetables,
vegetables-secondary crops-secondary crops; high-land: vegetables-vegetables-vegetables. Farmers observe that the
dynamics of bio-physical production environment in the last five years have caused (a) shifts in planting time, (b)
changes in priority commodity, and (c) an increase in production risks. In the last five years, some farmers also
observe a decrease in soil fertility as reflected by a decreasing yield and an increasing need of inputs. Limitation in
land availability is indicated from the data showing that land size cultivated by some farmers (> 25%) is getting smaller
in the last three years. Routine spraying and pesticide mixing are commonly practiced as preventive measures to
minimize production risks. Pesticide use in highland areas is much more intensive than in lowland areas, and it even
tends to be excessive. This is supported by the results from residue analysis for some vegetable crops that are above
tolerable threshold. Three problems considered as the main production constraints as perceived by farmers, based on
their ranks of importance are funds/capital availability, price fluctuation and pest and disease incidence. Meanwhile,
technical information and soil fertility are perceived as low priority constraints. Specifically, farmers in both ecosystems
suggest that controlling pest and disease is the most needed technology for improving vegetable production system.

Key words: Characterization; Production system; Peri-urban; Residue analysis.

1
Data estimasi Bank Dunia menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan di
Indonesia akan meningkat rata-rata 3,9% per tahun selama periode 1995-2010 (Pasandaran dan
Hadi, 1994). Pengeluaran konsumsi sayuran per kapita penduduk perkotaan diperkirakan empat kali
lebih tinggi dibandingkan dengan pengeluaran penduduk pedesaan (van Lieshout, 1992). Bank
Dunia juga memproyeksikan bahwa pada tahun 2005, jumlah penduduk perkotaan akan meningkat
menjadi 37%. Berbagai indikator tersebut menggambarkan bahwa peningkatan permintaan sayuran
dari penduduk perkotaan akan berlangsung lebih cepat dan signifikan (MacMillan et al., 1972).
Kebutuhan sayuran bagi penduduk kota besar sebagian besar dipasok oleh sentra-sentra
produksi yang lokasinya relatif jauh. Sementara itu, untuk jenis sayuran tertentu, misalnya sayuran
daun, sebagian besar dipasok oleh kantung-kantung produksi di daerah urban dan peri-urban.
Peranan kawasan tersebut dalam memenuhi kebutuhan sayuran sangat penting, terutama me-
nyangkut kontinuitas pasokan yang berlangsung sepanjang tahun. Secara implisit, kondisi ini
menggambarkan keunggulan komparatif daerah urban dan peri-urban dalam memproduksi jenis-
jenis sayuran tertentu dibandingkan dengan sentra-sentra produksi lainnya (Kleer, 1987). Namun
demikian, peran serta potensi daerah urban dan peri-urban seringkali kurang mendapat perhatian
karena informasi kualitatif dan data kuantitatif yang menjelaskan kontribusinya tidak tersedia
(Gutman, 1987; Jansen et al., 1994).
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan perkembangan
pasar, permintaan sayuran terutama di daerah perkotaan dipastikan akan semakin meningkat (Price
et al., 1980). Tingginya konsentrasi penduduk di daerah perkotaan yang pemenuhan kebutuhan
pangannya sangat tergantung pada pasokan dari luar, secara implisit menjanjikan pasar yang baik
bagi produk sayuran. Kondisi ini mendorong petani untuk mengusahakan lahannya secara lebih
intensif, sehingga cenderung mengarah kepada tipe pengusahaan padat-input (Saran, 1993).
Sistem produksi sayuran diduga juga memberikan andil cukup besar terhadap timbulnya gangguan
kestabilan ekologis. Ketergantungan terhadap penggunaan input kimiawi dan manipulasi sumber-
daya alam yang cenderung semakin meningkat merupakan dua hal penting yang mendorong
ketidak-stabilan sistem produksi (Waibel & Setboonsarng, 1993).
Bandung merupakan salah satu kota besar yang sebagian kebutuhan sayurannya sangat
bergantung pada pasokan dari daerah urban dan peri-urban. Pertumbuhan permintaan yang relatif
cepat menimbulkan tekanan terhadap kemampuan kawasan tersebut untuk menyediakan pasokan
sayuran secara kontinyu. Respon produsen sayuran terhadap tekanan ini merupakan isu penting
untuk diteliti. Produksi intensif dan penawaran sayuran sepanjang tahun dari kantung-kantung
produksi sekitar perkotaan, selain dihadapkan pada masalah konversi lahan produktif yang berjalan
cepat, juga menghadapi masalah-masalah lain meliputi polusi air tanah, penurunan produktivitas
lahan, tingginya tingkat residu, rendahnya kualitas produk dan tingginya kehilangan hasil (Jansen et
al., 1994). Berbagai masalah ini pada dasarnya merupakan indikasi bahwa sistem usahatani
sayuran urban/peri-urban diduga semakin menjauhi alur model pengembangan berkelanjutan.
Usaha pertanian yang bertumpu pada penggunaan input moderen diakui dapat mening-
katkan ketersediaan pangan, namun tidak selalu menunjukkan kontribusi yang nyata terhadap
usaha menghapuskan kemiskinan, malahan menimbulkan polusi dan degradasi lingkungan (Lynam
& Herdt, 1989). Dengan demikian, kebijakan yang mempromosikan penggunaan input moderen
untuk mencapai swa sembada, perlu dikaji kembali dan lebih diarahkan pada kebijakan untuk
mencapai keamanan pangan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan (Lightfoot et al.,
1993). Mengacu pada berbagai pertimbangan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkarakteri-
sasi sistem produksi sayuran di daerah urban dan peri-urban Bandung dan mengidentifikasi ken-
dala bio-fisik, sosial ekonomi dan kelembagaan yang berkaitan erat dengan pengembangan sistem
produksi sayuran di daerah urban dan peri-urban Bandung.

2
BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 1997 sampai Februari 1998. Lokasi
penelitian dikonsentrasikan untuk daerah urban dan peri-urban yang memasok sayuran untuk
Bandung dan sekitarnya. Pemilihan lokasi didasarkan pada kriteria: (1) kedekatan geografis
terhadap pusat konsumsi Bandung, (2) produksi dan penawaran/pasokan sayuran sepanjang tahun,
dan (3) jenis sayuran dataran tinggi dan sayuran dataran rendah. Berdasarkan kriteria tersebut, tiga
kecamatan yang terletak di wilayah Kotamadya Bandung dan dua kecamatan di Kabupaten
Bandung dipilih secara sengaja sebagai lokasi penelitian. Kelima kecamatan tersebut adalah:
Kec. Margacinta dan Bandung Kidul (ekosistem dataran rendah -- ketinggian < 400m) serta Kec.
Cibiru, Parongpong dan Cisarua (ekosistem dataran medium /tinggi -- ketinggian > 700 m). Jarak
ke pusat kota Bandung bervariasi antara 5-25 km dan dilengkapi dengan fasilitas tranportasi yang
memberikan jaminan akses ke pasar. Petani responden dipilih secara acak, sehingga diperoleh 14
orang responden untuk ekosistem dataran rendah dan 39 orang responden untuk ekosistem dataran
tinggi.

Cisarua
Cibiru
Parongpong

Kodya Bandung

Bandung Kidul
Margacinta

Kabupaten Bandung

Penelitian ini memberikan penekanan pada kegiatan karakterisasi, sehingga cakupan data yang
dihimpun cukup ekstensif dan komprehensif. Melalui penggunaan kuesioner, wawancara dengan
petani diarahkan untuk menghimpun informasi menyangkut:
• karakteristik petani responden (usia, pendidikan, pengalaman, luas lahan garapan dan status
penguasaan lahan)
• jenis sayuran, pola tanam dan sistem penanaman
• indikator efisiensi finansial usahatani sayuran
• lingkungan produksi bio-fisik (iklim, curah hujan, persepsi kesuburan lahan)
• lingkungan produksi sosial ekonomi (ketersediaan sumberdaya, pemasaran dan kelembagaan)
• pengelolaan hara dan metode pengendalian hama penyakit
• kendala sistem produksi
Beberapa contoh tanaman juga dikumpulkan pada saat survai dan selanjutnya dianalisis residu
pestisidanya dengan menggunakan metode bio-assay.

3
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Petani Responden

Struktur usia di atas 45 tahun (> 60%) ternyata mendominasi usia petani responden, baik
pada ekosistem dataran rendah maupun dataran tinggi. Sebagian besar petani responden
(> 70%) memiliki latar belakang pendidikan tidak tamat SD dan SD. Relatif rendahnya latar
belakang pendidikan formal ini diimbangi oleh pengalaman berusahatani yang dimiliki sebagian
besar responden (> 10 tahun). Luasan lahan sebagian besar petani responden dataran rendah
adalah < 0,25 hektar, sedangkan persentase petani yang menggarap lahan > 0,25 hektar tampak
lebih tinggi di ekosistem dataran tinggi. Sementara itu, persentase responden yang berstatus
sebagai pemilik penggarap ternyata relatif kecil baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Khusus di dataran rendah, status “lainnya” (menggarap lahan milik orang lain sebelum dibangun,
tanpa ikatan tertentu) bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan status sewa.

Tabel 1 Karakteristik responden (Respondents’ characteristics)


No Karakteristik Dataran Rendah Dataran Tinggi
(Characteristics) (Lowland) (Highland)
n=14 (%) n=39 (%)
1. Usia (Age) 25 - 35 tahun (years) 14,3 12,8
36 - 45 tahun (years) 14,3 17,9
46 - 55 tahun (years) 42,8 43,6
> 55 tahun (years) 28,6 25,7
2. Pendidikan < SD (< elementary school) 42,8 25,6
(Education) SD (elementary school) 28,6 69,2
SLTP (middle school) 7,1 5,2
SLTA (high school) 21,5 -
3. Pengalaman 3 - 10 tahun (years) 35,7 23,1
(Experience) 11 - 20 tahun (years) 35,7 30,7
21 - 30 tahun (years) 14,3 38,5
31 - 40 tahun (years) 14,3 7,7
4. Luas Lahan Garapan < 2 500 m2 50,0 35,9
(Farm size) 2 501 - 5 000 m2 21,5 35,9
5 001 - 7 500 m2 21,5 7,6
7 500 - 10 000 m2 - 15,4
> 10 000 m2 7,0 5,2
5. Status Penguasaan milik (owned) 7,1 28,2
Lahan (Land tenure) sewa (rented) 28,6 58,9
bagi hasil (sharecropped) 21,5 2,6
lainnya (others) 42,8 10,3

4.3. Jenis Sayuran dan Pola Tanam

Jenis sayuran yang diusahakan pada ekosistem dataran rendah (kangkung, tomat,
mentimun, kacang merah, kacang panjang, kacang kapri, buncis, caisin, paria, cabai, terung) dan
dataran tinggi (tomat, cabai, bawang merah, kacang merah, kacang panjang, buncis, kubis
bunga, bawang daun, terung, caisin, kubis) cukup beragam. Beberapa jenis sayuran dapat
beradaptasi dan tumbuh baik di ke dua ekosistem, walaupun varietasnya berlainan. Disamping

4
itu, ada pula jenis sayuran yang hanya diusahakan pada ekosistem tertentu, misalnya kangkung
di dataran rendah serta kubis dan kubis bunga di dataran tinggi.

Dataran rendah (Lowland):


Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

padi ikan tomat


(rice) (fish) (tomatoes)

ikan padi tomat, mentimun, kacang merah ikan


(fish) (rice) (tomatoes, cucumber, kidney bean) (fish)

kangkung padi ikan


(kangkong) (rice) (fish)

Dataran medium/tinggi (Medium land / Highland):


Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

bera jagung cabai


(fallow) (corn) (hot pepper)

cabai & b. merah tomat bera cabai dan bawang merah


(hot pepper & shallot) (tomatoes) (fallow) (hot pepper & shallot)

kemangi/kapri/terung kacang panjang/buncis/paria wortel/tomat/kacang panjang/ kubis bunga/tomat b daun


(kemangi/peas/egg- (yardlong bean/kidney jagung (carrot/tomato/yardlong (cauliflower/tomato) (bunc
plant) bean/paria) bean/corn) onion)

Gambar 1. Alternatif pola tanam dominan di dataran rendah dan medium/tinggi (Cropping pattern alternatives in
lowland and medium-land/highland)

Pola tanam di ekosistem dataran rendah pada dasarnya merupakan pola tanam berbasis
padi. Dari setiap alternatif pola tanam setahun yang dominan dilakukan oleh petani, padi dan/atau
ikan selalu diusahakan minimal masing-masing satu kali. Dalam kaitan ini, komoditas sayuran
hanya merupakan salah satu komponen pola tanam secara keseluruhan. Sistem produksi sayur-
an pada ekosistem dataran rendah ternyata masih banyak yang bersifat monokultur. Sehubungan
dengan keterbatasan ketersediaan lahan, sistem tersebut masih memberikan peluang pengem-
bangan yang diarahkan untuk meningkatkan nisbah kesetaraan tanah.
Sementara itu, pola tanam pada ekosistem dataran medium dan tinggi menunjukkan
tingkat keragaman yang lebih tinggi. Di dataran medium, terutama pada lahan kering datar
sampai bergelombang, pola tanam yang sering dilaksanakan petani adalah: (1) sayuran-sayuran-
palawija, (2) sayuran-palawija-sayuran, dan (3) sayuran-palawija-palawija. Pada ekosistem
dataran tinggi, pola tanam dominan adalah sayuran-sayuran-sayuran. Sistem pergiliran tanaman
dan kombinasi tanaman dalam sistem produksi tumpang sari juga menunjukkan keragaman yang
tinggi. Perbandingan pola tanam antara dua ekosistem ini memberikan indikasi bahwa
penggunaan lahan di dataran tinggi cenderung lebih intensif.
Pada umumnya petani memilih sistem produksi monokultur berdasarkan pertimbangan
bahwa sistem ini memungkinkan tanaman utama untuk tumbuh lebih baik. Sementara itu, alasan
penting yang melatar-belakangi pemilihan sistem produksi tumpangsari adalah (a) efisiensi biaya,
dan (b) mengurangi resiko usahatani.

5
Tabel 2 Sistem produksi dan alasan pemilihannya (Production system and the reason for choosing it)
Dataran Rendah Dataran Tinggi
(Lowland) n=14 (%) (Highland) n=39 (%)

Sistem monokultur (Mono-cropping system) 71,4 51,3


Sistem tumpangsari (Multiple-cropping system) 28,6 48,7
Alasan monokultur (Reasons for mono-cropping)
pengelolaan lebih mudah (easier management) 10,0 20,0
produksi lebih baik (better/higher yield) 90,0 65,0
kebiasaan (habit) - 15,0
Alasan tumpangsari (Reasons for multiple-cropping)
efisiensi penggunaan lahan (land-use efficiency) 25,0 26,3
efisiensi penggunaan biaya (cost efficiency) 25,0 52,6
mengurangi resiko kegagalan (reducing risks) 50,0 21,1

Pada ekosistem dataran rendah, secara konsisten petani menganggap bahwa tomat me-
rupakan komoditas yang paling dikuasai teknik budidayanya serta paling menguntungkan. Na-
mun demikian, pengusahaannya membutuhkan biaya paling tinggi dan sekaligus dianggap paling
beresiko dibandingkan dengan jenis komoditas sayuran lainnya. Pada ekosistem dataran tinggi,
komoditas yang paling dikuasai teknik budidayanya berturut-turut adalah kubis bunga, cabai,
tomat dan buncis. Jenis sayuran yang seringkali menjadi andalan petani adalah tomat dan cabai.
Pada ekosistem ini, petani juga menganggap tomat sebagai komoditas yang memerlukan biaya
paling tinggi serta memiliki tingkat resiko kegagalan yang tinggi.

Tabel 3 Persepsi petani menyangkut beberapa aspek pengusahaan sayuran selama lima tahun terakhir (Cultivating
particular vegetables in the last five years as perceived by farmers)
budidaya paling paling me- resiko paling biaya produksi
dikuasai nguntungkan tinggi paling tinggi
(most (most profitable) (highest risk) (highest cost)
manageable)
(%) (%) (%) (%)
Dataran rendah (Lowland): n=14
buncis (kidney bean) 7,1 7,1 - -
tomat (tomato) 50,0 57,2 50,0 50,0
mentimun (cucumber) 7,1 - - -
kangkung (kangkong) 14,3 21,5 21,5 -
kacang merah (french bean) 21,5 7,1 21,4 -
kacang panjang (yardlong bean) - 7,1 - -
cabai (hot pepper) - - - 28,6
bawang merah (shallot) - - 7,1 21,4

Dataran tinggi (Highland): n=39


kubis bunga (cauliflower) 23,1 15,3 5,1 5,1
tomat (tomato) 17,9 25,6 64,1 61,5
bawang daun (bunching onion) 2,6 2,6 - -
kacang panjang (yardlong bean) 12,8 10,3 2,6 2,6
buncis (kidney bean) 17,9 12,8 2,6 5,1
terung (eggplant) 2,6 2,6 - -
selada air - 2,6 - -
caisin (chinese cabbage) - - 2,6 -
cabai (hot pepper) 20,5 23,1 15,3 23,1
bawang merah (shallot) 2,6 5,1 7,7 2,6
6
4.4. Indikator Efisiensi Finansial Usahatani Sayuran

Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur efisiensi finansial usahatani
adalah besaran rasio antara nilai output dengan nilai input. Tabel 4 memperlihatkan indikator
efisiensi finansial dari usahatani beberapa jenis komoditas sayuran di Kotamadya dan Kabupaten
Bandung. Informasi yang diperoleh pada saat penelitian menunjukkan bahwa tidak satupun
pengusahaan komoditas sayuran mengalami kerugian. Indikasi ini harus diinterpretasikan secara
hati-hati karena jika terjadi perubahan harga output, maka besaran rasio antara nilai output
dengan nilai input juga akan berubah. Analisis usahatani juga menghitung biaya produksi per unit
atau titik impas harga untuk setiap jenis sayuran yang diusahakan. Fluktuasi harga sayuran yang
tajam seringkali menghadapkan petani pada tingkat harga yang berada di bawah titik impas.
Kemungkinan ini dapat terjadi untuk semua jenis sayuran, sehingga peluang mengalami kerugian
yang secara eksplisit tidak tergambarkan pada Tabel 4 sebenarnya juga cukup tinggi. Besarnya

Tabel 4 Indikator efisiensi finansial usahatani sayuran, 1996 (Indicators of financial efficiency in vegetable cultivation)
Komoditas Produksi Harga Jual Pendapatan Biaya Pendapatan Biaya Nisbah
(Commodity) (Yield) (Selling Kotor (Gross Produksi Bersih per Unit Pendapatan
Price) Revenue) (Cost of (Net (Unit Cost) Biaya
Production) Revenue) (Revenue-
Cost Ratio)
kg/ha Rp./kg 000 Rp. 000 Rp. 000 Rp. Rp/kg

Cabai 15 750 500 7 875 4 405,9 3 469,1 279,7 1,78


(Hot pepper)
Mentimun 58 000 100 5 800 3 058,3 2 741,7 52,7 1,89
(Cucumber)
Tomat 30 000 200 6 000 3 842,1 2 157,9 128,2 1,56
(Tomato)
Kubis 30 000 200 6 000 4 545,0 1 455,0 151,5 1,32
(Cabbage)
Terung 15 000 300 4 500 1 854,0 2 646,0 123,6 2,42
(Eggplant)
Kacang panjang 5 000 700 3 500 1 819,0 1 681,0 363,8 1,92
(Yardlong bean)
Kentang 14 750 650 9 587,5 6 312,5 3 275,0 427,9 1,52
(Potato)
Bawang merah 5 300 1 000 5 300 4 232,1 1 067,9 798,5 1,25
(Shallot)
Wortel 8 772 400 3 508,8 1 492,2 2 016,6 170,1 2,35
(Carrot)
Kubis bunga 28 700 300 8 610 4 576,2 4 033,8 159,4 1,88
(Cauliflower)
Kangkung 40 000 75 3 000 1 580,0 1 420,0 39,5 1,90
(Kangkong)

biaya produksi ternyata tidak selalu merupakan faktor utama yang menentukan pemilihan
komoditas., khususnya di dataran rendah. Hal ini tampaknya berkaitan erat dengan lebih
terbatasnya alternatif pilihan komoditas sayuran di dataran rendah (dibandingkan dengan di
dataran tinggi), terutama dikaitkan dengan kesesuaiannya sebagai salah satu komponen dalam
pola tanam berbasis padi.
Pada saat kegiatan penelitian ini dilaksanakan, salah satu fenomena penting yang
sedang terjadi di lapangan adalah kenaikan harga sarana produksi, terutama pupuk dan
pestisida. Harga pupuk buatan meningkat 30-60%, sedangkan harga pestisida meningkat antara
100-200%. Konsekuensi dari kenaikan harga dua jenis input ini adalah meningkatnya biaya
produksi secara keseluruhan. Namun demikian, sebagaian besar petani responden di kedua
ekosistem cenderung berkeinginan untuk tetap mempertahankan volume dari komposisi input
yang digunakan. Petani pada umumnya beranggapan bahwa pengurangan volume input akan
7
menurunkan produksi dan meningkatkan resiko kegagalan usahatani (Tabel 5). Berkenaan
dengan kenaikan harga pestisida, jika teknologi pengendalian hama terpadu dapat menawarkan
kompensasi terhadap resiko yang mungkin timbul dari pengurangan penggunaan pestisida, maka
teknologi tersebut berpeluang untuk diadopsi secara lebih cepat oleh petani.

Tabel 5 Persepsi petani menyangkut biaya produksi usahatani (Farmers’ perception regarding production costs)

No Uraian Dat. Rendah Dat. Tinggi


(Description) (Lowland) (Highland)
1. Respon petani terhadap biaya produksi yang semakin meningkat
(Farmers’ response to the increasing cost of production)
• tetap mempertahankan volume komposisi input yang digunakan
57,1 71,8
(keep maintaining the volume of input composition currently used)
• melakukan penghematan dengan mengurangi volume input yang
digunakan (cost-saving by reducing the volume of inputs used) 42,9 28,2
2. Biaya produksi menentukan pilihan petani untuk mengusahakan
komoditas tertentu (the amount of production cost influences farmers’
choice in cultivating a particular commodity)
• selalu (always)
21,4 53,8
• tidak selalu (not always)
78,6 46,2

4.5. Lingkungan Produksi Bio Fisik

Disatu sisi, berbagai faktor biofisik merupakan pendukung sistem produksi, namun dilain
sisi sekaligus sering juga merupakan kendala yang harus selalu dicermati. Petani mengelola
lingkungan biofisik yang dihadapi sesuai dengan suatu pola atau perhitungan yang dikembangkan
berdasarkan pengalaman berusahatani. Seringkali pola/perhitungan ini bersifat kualitatif, tetapi
sangat fleksibel dalam merespon dinamika lingkungan produksi biofisik.
Data hujan selama empat tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan curah hujan
yang cukup signifikan. Disamping itu, musim kemarau panjang dalam dua tahun terakhir ini
menghadapkan petani pada masalah kekurangan air. Sebagian besar petani responden dikedua
ekosistem menyatakan bahwa kondisi iklim dan curah hujan selama lima tahun terakhir semakin
sukar diramalkan, sehingga perhitungan musim yang biasa dilakukan dalam perencanaan
usahatani sering meleset. Petani responden juga mengindikasikan bahwa dinamika lingkungan
produksi biofisik selama lima tahun terakhir secara berturut-turut menyebabkan terjadinya (a)
pergeseran waktu tanam, (b) perubahan jenis komoditas andalan, dan (c) peningkatan resiko
usahatani. Selama lima tahun terakhir, sebagian besar petani responden di ekosistem dataran
rendah dan dataran tinggi juga mengamati adanya penurunan kesuburan tanah. Dua hal utama
yang menurut petani memberikan indikasi adanya penurunan kesuburan tanah adalah (a)
semakin menurunnya produksi rata-rata yang dicapai, dan (b) semakin meningkatnya kebutuhan
input.

8
Tabel 6 Persepsi petani menyangkut dinamika lingkungan produksi biofisik (Farmers’ perceptions with regard to the
dynamic of biophysical production circumstances)

No Uraian Dataran Dataran


(Description) Rendah Tinggi
(Lowland) (Highland)
1. Persepsi petani berkenaan dengan kondisi iklim dan curah hujan selama lima
tahun terakhir (Farmers’ perceptions with regard to climate and rainfall condition in the last five
years)
• masih dapat diramalkan sesuai dengan perhitungan musim yang biasa 35,7 12,8
dilakukan dalam perencanaan usahatani (it still can be pre-dicted according to the
calculation being made in the planning stage)
• semakin sukar diramalkan sehingga perhitungan musim yang biasa 64,3 87,2
dilakukan dalam perencanaan usahatani sering meleset (getting more difficult to
be predicted by the calculation being made in the planning stage)
2. Persepsi petani berkenaan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada
usahatani sejalan dengan perkembangan iklim dan curah hujan selama lima
tahun terakhir (Farmers’ perceptions with regard to changes in the vegetable production system
as a consequence of changes in climate and rainfall in the last five years)
• terjadi perubahan jenis komoditas andalan yang diusahakan (there are changes 21,4 28,2
in the main commodity being cultivated)
• terjadi perubahan atau pergeseran waktu tanam (there are changes or shifts in the 42,8 35,9
time of planting)
• terjadi perubahan tingkat resiko usahatani yang cenderung semakin tinggi 21,4 20,5
(there are changes in the farming risks that tend to be higher)
• terjadi penurunan produksi sayuran dari daerah sekitar (there is a decrease in 14,4 15,4
vegetable production in the neighboring areas)
3. Persepsi petani menyangkut terjadinya penurunan kesuburan selama lima tahun
terakhir pada lahan yang sama (Farmers’ perceptions with regard to land fertility degradation
in the last five years)
ya, (yes) tercermin dari (as reflected by): 71,4 79,5
• produksi rata-rata yang semakin menurun (a decrease in the average of 70,0 77,4
production)
• kebutuhan input yang semakin meningkat (an increase in inputs requirement) 30,0 22,6
tidak, (no) tercermin dari (as reflected by):
28,6 20,5
• produksi rata-rata relatif tetap (the average of production is relatively stable) 75,0 87,5
• pola tanam tidak berubah (there is no significant change in cropping pattern) 25,0 12,5

4.6. Lingkungan Produksi Sosial Ekonomi

Salah satu kendala pengembangan sistem produksi sayuran di daerah urban dan peri-
urban adalah keterbatasan ketersediaan lahan. Keterbatasan ini semakin terasa sejalan dengan
cepatnya konversi lahan yang awalnya merupakan lahan pertanian produktif menjadi lahan non-
pertanian. Kecenderungan ini tampaknya tidak dapat dihindarkan karena merupakan konsekuensi
langsung dari perkembangan daerah perkotaan. Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar
petani di ekosistem dataran rendah dan dataran tinggi memberikan konfirmasi mengenai ke-
terbatasan lahan ini melalui kenyataan semakin sukarnya memperoleh lahan sewa atau sakap
dalam tiga tahun terakhir. Hal ini juga diperjelas dengan relatif tetapnya luas lahan yang digarap
oleh sebagian besar responden di kedua ekosistem. Sebagian responden (> 25%) bahkan
menyatakan bahwa lahan garapannya semakin sempit dalam tiga terakhir ini. Sebagian besar
petani responden (> 50%) pada ekosistem dataran rendah dan dataran tinggi menggunakan
tenaga kerja keluarga (2 orang anggota keluarga/suami dan isteri) dalam mengelola usahatani.
Disamping tenaga kerja keluarga, sebagian besar responden (> 75%) juga menggunakan tenaga
kerja luar keluarga mulai dari aktivitas pengolahan lahan sampai panen.
9
Tabel 7 Lahan , tenaga kerja, modal dan ketersediaan sarana produksi (Land, labor, capital and production inputs
availability)
No Uraian Dataran Rendah Dataran Tinggi
(Description) (Lowland) (Highland)

1. Kecenderungan memperoleh lahan sewa atau sakap dalam tiga tahun terakhir
(Trend in obtaining rented or sharecropped land in the last three years)
• tetap mudah (still easy) 35,7 43,6
• makin sukar (getting more difficult) 64,3 56,4
2. Perkembangan luas lahan garapan (milik/sewa/bagi hasil) dalam tiga tahun
terakhir (The size of cultivated land -- owned, rented, sharecropped -- in the
last three years)
• makin luas (getting larger) - 5,1
• makin sempit (getting smaller) 35,7 25,6
• relatif tetap (relatively unchanged) 64,3 69,3
3. Anggota keluarga yang terlibat langsung dalam pengelolaan usahatani
(Member of the family directly involved in farm management)
• satu orang (one person) 28,6 5,1
• dua orang (two persons) 64,3 53,8
• lebih dari dua orang (more than two persons) 7,1 41,1
4. Menggunakan tenaga kerja luar keluarga/sewa (Using hired labor)
• ya (yes) 78,6 87,2
• tidak (no) 21,4 12,8
5. Kecenderungan memperoleh tenaga kerja luar keluarga dalam tiga tahun
terakhir (Trend in obtaining hired labor in the last three years)
• tetap mudah (still easy) 57,1 82,1
• semakin sukar (getting more difficult) 42,9 17,9
6. Menggunakan dana pinjaman sebagai modal utama atau tambahan untuk
usahatani (Using loan for farming activities)
• ya (yes) 35,7 38,5
• tidak (no) 64,3 61,5
7. Sumber dana pinjaman (Loan sources)
• keluarga (family) 60,0 26,7
• pedagang (traders 40,0 46,7
• koperasi (cooperative unit - 6,6
• bank (bank) - 20,0
8. Pasar sarana produksi dapat memenuhi semua jenis input yang dibutuhkan
(Market can provide all kind of inputs needed)
• ya (yes) 85,7 92,3
• tidak (no) 14,3 7,7
9. Masalah yang dihadapi menyangkut sarana produksi (Problems confronted
regarding production inputs)
• tidak tersedianya sarana produksi tertentu (particular inputs are not 21,4 5,1
available)
• kualitas sarana produksi yang kurang baik (quality of production inputs is 21,4 5,1
less appropriate)
• harga sarana produksi yang mahal (price of production input is 57,2 89,8
expensive)

Selama tiga tahun terakhir, petani responden (> 50%) berpendapat masih tetap mudah untuk
memperoleh tenaga kerja luar keluarga. Namun demikian, proporsi petani yang menyatakan
semakin sukar untuk mendapatkan tenaga kerja luar keluarga ternyata lebih tinggi di ekosistem
dataran rendah dibandingkan dengan ekosistem dataran tinggi. Hal ini mencerminkan lebih
terbatasnya ketersediaan tenaga kerja luar keluarga untuk sektor pertanian di daerah urban
dibandingkan dengan daerah peri-urban.
Persentase petani responden yang menggunakan dana pinjaman sebagai modal utama
atau tambahan ternyata lebih kecil dibandingkan dengan petani yang menggunakan dana sendiri.
Sumber dana pinjaman bagi petani di ekosistem dataran rendah sebagian besar adalah keluarga,
sedangkan bagi petani di dataran tinggi kebutuhan modal produksi banyak ditawarkan oleh
pedagang. Khusus untuk pinjaman modal dari pedagang, petani sebenarnya juga menyadari
bahwa skim tersebut melemahkan posisi tawar menawarnya. Namun demikian, tidak dapat di-
10
pungkiri bahwa skim ini juga memberikan kemudahan bagi petani ditinjau dari sisi prosedural
serta pemasaran produk. Sumber pinjaman dari bank tampaknya hanya dimanfaatkan oleh petani
di ekosistem dataran tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh kemampuan yang lebih tinggi dari
petani di ekosistem tersebut untuk menyediakan jaminan serta penilaian dari pihak bank yang
lebih baik ditinjau dari sisi kelayakan usaha.
Pada umumnya, petani responden di ekosistem dataran rendah dan dataran tinggi me-
rasa tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dari pasar di sekitar
lokasi usahatani. Jenis sarana produksi yang seringkali harus dipenuhi dari luar lokasi adalah
benih/bibit dan pupuk kandang. Sementara itu, masalah yang dirasakan oleh sebagian besar
petani responden adalah semakin meningkatnya harga sarana produksi, terutama pestisida.
Selama tiga tahun terakhir, sebagian besar petani mengamati adanya peningkatan ter-
hadap permintaan sayuran (Tabel 8). Namun demikian, petani berpendapat bahwa peningkatan
permintaan tersebut belum terasa dampaknya terhadap peningkatan pendapatan usahatani.
Menurut petani, peningkatan permintaan sayuran masih belum dapat mengurangi resiko kerugian
usahatani yang diakibatkan oleh fluktuasi harga. Tampaknya peningkatan permintaan telah
memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi sayuran, tetapi belum diimbangi
dengan perbaikan infrastruktur dan kelembagaan di sisi pemasaran.

Tabel 8 Cara penjualan, sistem pembayaran dan pemasaran (Selling method, payment system, and marketing)
No Uraian Dataran Dataran
(Description) Rendah Tinggi
(Lowland) (Highland)
1. Persepsi petani mengenai permintaan sayuran dalam 3 tahun terakhir (Farmers’
perceptions of the demand for vegetables in the last three years)
• semakin meningkat (increasing) 50,0 71,8
• semakin menurun (decreasing) 7,1 12,8
• relatif tetap (relatively stable) 42,9 15,4
2. Cara penjualan produk dan alasannya (Selling method and its reasoning)

ditebas, dengan alasan (directly sold in the field, since): 64,3 76,9
• dapat menerima sejumlah uang sekaligus (a significant amount of money can be 22,2 26,7
received simultaneously)
• harga pada saat transaksi sedang relatif baik atau sudah menguntungkan 33,3 26,7
(price at the time of transaction is relatively high)
• lebih praktis, tidak perlu mengeluarkan biaya tenaga kerja panen (more 44,5 46,6
practical, farmers do not have to spend money for harvesting)

ditimbang, dengan alasan (product is weighed, since) :


35,7 23,1
• volume penjualan tidak terlalu besar (selling volume is not too high) 40,0 -
• peluang memperoleh keuntungan lebih tinggi (there is an opportunity to get higher 60,0 77,7
profit)
• agar besaran produksi dapat diketahui secara lebih jelas (to get an accurate
magnitude of the actual yield) - 22,3
3. Produk pada umumnya dijual ke (Products are commonly sold to)
• pedagang perantara/pengumpul/bandar (assembly traders) 71,4 92,3
• langsung ke pasar (directoly to the market) 28,6 7,7
4. Sistem pembayaran yang dominan digunakan (Payment system used)
• tunai (cash) 71,4 56,4
• kemudian (paid later) 28,6 43,6
5. Cakupan wilayah pemasaran produk (Region covered in marketing)
• Bandung dan sekitarnya (Bandung and its periphery) 92,8 23,1
• Bandung dan luar Bandung (Bandung and outer Bandung) 7,2 76,9

11
Tebasan merupakan sistem penjualan produk yang dipilih oleh sebagian besar petani
responden (> 60%) di dataran rendah maupun dataran tinggi. Petani memilih tebasan karena
dianggap lebih praktis, cukup menguntungkan dan dapat menerima uang penjualan secara
sekaligus. Sementara itu, sebagian petani yang menggunakan sistem ditimbang menyatakan
bahwa sistem ini memberikan peluang untuk memperoleh keuntungan lebih tinggi karena petani
dapat menentukan kapan dan kepada siapa menjual produknya.
Pemasaran produk kepada pedagang perantara/pengumpul/bandar merupakan pilihan
sebagian besar petani responden (> 70%). Persentase petani yang menjual produknya langsung
ke pasar di ekosistem dataran rendah ternyata lebih besar dibandingkan dengan di ekosistem
dataran tinggi. Hal ini terutama dimungkinkan karena jarak ke pasar yang lebih dekat. Sistem
pembayaran tunai ternyata ditempuh oleh sebagian besar petani responden. Namun demikian,
persentase petani yang menggunakan sistem pembayaran kemudian juga cukup tinggi di eko-
sistem dataran tinggi. Petani di ekosistem dataran rendah lebih banyak memasarkan produknya
ke daerah Bandung dan sekitarnya, sedangkan petani di dataran tinggi tidak saja memasarkan
produknya ke daerah Bandung, tetapi juga ke luar Bandung (Bogor, Jakarta, Semarang).
Hanya sebagian kecil petani responden (< 15%) di ekosistem dataran rendah maupun
tinggi yang pernah mendapatkan penyuluhan khusus mengenai sayuran (Tabel 9). Petugas
penyuluh merasa bahwa salah satu faktor penting yang menyebabkan rendahnya penyuluhan
sayuran ini belum atau kurang lengkapnya pengetahuan petugas menyangkut budidaya sayuran.
Disisi lain, program pelatihan yang ditawarkan kepada penyuluh, khususnya mengenai budidaya
atau pengembangan sayuran, juga sangat terbatas. Sementara itu, program penyuluhan
menyangkut topik budidaya sayuran secara umum, justru merupakan usulan permintaan semua
petani responden. Rendahnya intensitas penyuluhan ini juga tidak ditunjang oleh perkembangan
kelompok tani yang sebenarnya dapat membantu

Tabel 9 Penyuluhan, kelompok tani dan koperasi (Extension, farmer-group, and cooperative unit)

No Uraian Dataran Dataran


(Description) Rendah Tinggi
(Lowland) (Highland)
1. Pernah mendapatkan penyuluhan khusus untuk budidaya sayuran (Receiving a
special extension program on vegetable cultural practices)
• ya (yes) 14,28 12,82
• tidak (no) 85,72 87,18
2. Usulan topik untuk penyuluhan sayuran (Topics proposed for vegetable extension program)
• budidaya komoditas sayuran (cultural practices) 100,0 100,0
• pasca panen dan pemasaran sayuran (postharvest and marketing) - -
• pembinaan kelompok tani sayuran (empowerment of farmer-group) - -
3. Keanggotaan dalam kelompok tani (Member of a farmer-group)
• ya (yes) - 7,6
• tidak (no) 100,0 92,4
4. Keanggotaan dalam koperasi (Member of a cooperative unit)
• ya (yes) 7,1 33,3
• tidak (no) 92,9 66,7

diseminasi pengetahuan antar petani. Keterlibatan petani dalam koperasi sebagai salah satu
kelembagaan penunjang juga sangat terbatas. Proporsi petani responden yang menjadi anggota
koperasi (terutama koperasi susu) ternyata lebih besar di ekosistem dataran tinggi.

12
4.7. Pengelolaan Hara dan Metode Pengendalian Hama Penyakit

Penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan di ekosistem dataran rendah maupun
dataran tinggi sangat beragam. Keragaman ini tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi juga
jenis pupuk yang digunakan. Konsekuensi dari keragaman penggunaan pupuk ini adalah
terjadinya perbedaan produktivitas antar usahatani. Tabel 10 dan 11 menunjukkan adanya
perbedaan intensitas penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan yang diindikasikan oleh
lebarnya kisaran penggunaan, baik secara individual maupun total. Ditinjau dari penggunaan
pupuk, pengusahaan komoditas sayuran di dataran tinggi cenderung dilakukan secara lebih
intensif dibandingkan dengan di dataran rendah. Informasi kuantitatif pada kedua tabel tersebut
juga mengindikasikan adanya penggunaan pupuk yang cenderung berlebihan. Disamping
menggunakan pupuk tunggal (Urea, TSP, ZA, KCl), kebanyakan petani juga menggunakan pupuk
majemuk (NPK).

Tabel 10 Kisaran penggunaan pupuk organik dan anorganik di dataran rendah dan tinggi (Range of organic and
inorganic fertilizers use in lowland and highland)
Ekosistem Komoditas Pupuk Organik/Anorganik Kisaran (kg/ha)
(Ecosystem) (Commodity) (Org/Inorg. Fertilizer) (Range)

Dataran Rendah Tomat Ayam (Chicken) 1 428, 57 - 14 285, 70


(Lowland) (Tomato) Kambing (Goat) 2 142, 86 - 8 928, 57
Urea 71, 43 - 171, 43
ZA 39, 68 - 428, 57
TSP 42, 86 - 71, 43
KCl 42, 86 - 71, 43
NPK 42, 86 - 196, 43

Kangkung Ayam (Chicken) 178, 57 - 2 700, 00


(Kangkong) Kambing (Goat) 2 300, 00 - 4 761, 90
Urea 178, 57 - 1 000, 00
NPK 50, 00 - 2 500, 00

Kacang Merah Ayam (Chicken) 2 142, 86 - 3 571, 43


(French Bean) Urea 428, 57 - 1 190, 48
NPK 57, 14 - 2 380, 95

Dataran Tinggi Cabai Ayam (Chicken) 1 071, 43 - 7 142, 86


(Highland) (Hot pepper) Sapi (Cow) 5 714, 29 - 28 571, 43
Urea 71, 43 - 476, 19
ZA 71, 43 - 952, 38
TSP 85, 71 - 1 178, 57
KCl 214, 29 - 285, 71
NPK 107, 14 - 690, 48

Cabai + Tomat Ayam (Chicken) 1 428, 57 - 4 464, 29


(Hot pepper + Tomato) NPK 133, 93 - 238, 10
ZA 238, 10 - 357, 14
TSP 178, 57 - 238, 10
KCl 178, 57 - 238, 10

Kubis Bunga Ayam (Chicken) 2 142, 86 - 5 357, 14


(Cauliflower) Sapi (Cow) 17 857, 14 - 35 714, 29
NPK 214, 29 - 1 071, 43
ZA 238, 10 - 1 071, 43
TSP 214, 29 - 1 071, 43
Urea 238, 10 - 535, 71

Tomat Sapi (Cow) 19 047, 62 - 47 619, 05


(Tomato) NPK 178, 57 - 595, 24
Urea 223, 21 - 1 190, 48
ZA 357, 14 - 1 190, 48
TSP 267, 86 - 1 309, 52

13
Kacang Panjang Kambing (Goat) 10 714, 29 - 25 714, 29
(Yardlong bean) TSP 47, 62 - 510, 20
Urea 95, 24 - 964, 29
ZA 142, 86 - 428, 57
NPK 107, 14 - 200, 00

Buncis Ayam (Chicken) 2 857, 14 - 8 571, 43


(Kidney bean) Kambing (Goat) 7 827, 79 - 10 714, 29
TSP 178, 57 - 535, 71
Urea 142, 86 - 391, 39
NPK 107, 14 - 750, 00
ZA 342, 47 - 785, 71

Tabel 11 Kombinasi dominan penggunaan pupuk anorganik di dataran rendah dan tinggi (Combination of inorganic
fertilizer mostly used in lowland and highland)
Ekosistem Komoditas Kombinasi Dominan Kisaran Total Penggunaan
(Ecosystem) (Commodity) (Dominant Combination) (Range of Total Fertilizer
Used) (kg/ha)

Dataran Rendah (Lowland) Tomat Urea, ZA, NPK 277, 78 - 750, 00


(Tomato)
Kangkung Urea, NPK 178, 57 - 550, 00
(Kangkong)
Kacang Merah Urea, NPK 485, 71 - 761, 49
(French bean)
Dataran Tinggi (Highland) Cabai Urea, ZA, TSP, NPK 714, 29 - 1 190, 59
(Hot pepper)
ZA, TSP, KCl, NPK 1 071, 43 - 2 142, 86

ZA, TSP, NPK 857, 13 - 2 857, 14

Cabai + Tomat ZA, TSP, KCl, NPK 848, 21 - 952, 40


(Hot pepper +
Tomato)
Kubis bunga Urea, ZA, TSP, NPK 1 000, 10 - 2 892, 86
(Cauliflower)
ZA, TSP, NPK 964, 29 - 2 142, 85

Tomat Urea, ZA, TSP, NPK 1 214, 28 - 4 285, 72


(Tomato)
Kacang Panjang Urea, ZA, TSP, NPK 785, 71 - 1 214, 28
(Yardlong bean)
Urea, ZA, TSP 571, 43 - 1 678, 58

Buncis Urea, ZA, TSP, NPK 839, 28 - 2 392, 85


(Kidney bean)

Sebagian besar petani responden di ekosistem dataran rendah menggunakan pupuk kan-
dang dengan memberikannya secara setempat di dekat/sekitar tanaman (Tabel 12). Di ekosistem
dataran tinggi, petani cenderung menggunakan pupuk kandang dengan menebarkannya pada
lahan yang akan ditanami. Perbedaan cara pemberian juga ternyata berlaku untuk penggunaan
pupuk buatan. Petani di dataran rendah membenamkan pupuk buatan di sekitar tanaman,
sedangkan petani di dataran tinggi menghamparkannya pada garitan, kemudian ditimbuni tanah.
14
Sementara itu, terlepas dari data kuantitatif yang dikemukakan sebelumnya, sebagian besar
petani responden menyatakan bahwa penggunaan pupuk masih berada pada tingkat yang wajar,
sesuai dengan kebutuhan tanaman. Persentase petani yang menganggap bahwa penggunaan
pupuk cenderung berlebihan bahkan lebih rendah dibandingkan dengan persentase petani yang
menyatakan bahwa penggunaan pupuk masih di bawah standar. Terlebih lagi, sebagian besar
petani juga menyatakan tidak akan mengurangi dosis pupuk walaupun harga naik.

Tabel 12 Cara penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan di dataran rendah dan tinggi (Application method of
organic and inorganic fertilizers in lowland and highland)
No Uraian Dataran Dataran
(Description) Rendah Tinggi
(Lowland) (Highland)

1. Cara penggunaan pupuk kandang (Application method of organic fertilizer)


• dihamparkan pada garitan (spread out along the ditch) 7,1 10,2
• diberikan secara setempat (locally placed) 92,9 2,6
• ditebar pada lahan yang akan ditanami (spread out all over the cultivated land) - 87,2
2. Cara pemberian pupuk buatan (Application method of inorganic fertilizer)
• disebar (spread out) 21,4 10,2
• dibenamkan sekitar tanaman (burried around the plant) 71,4 2,6
• dihampar pada garitan (spread out along the ditch) 7,2 87,2
3. Persepsi petani menyangkut tingkat penggunaan pupuk di tingkat petani pada
umumnya (Farmers’ perception with regard to the level of fertilizer use)
• cenderung di bawah standar (tend to be below standard) 28,6 17,9
• sesuai dengan kebutuhan tanaman (in accordance with the plants requirement) 64,3 76,9
• cenderung berlebihan (tend to be excessive) 7,1 5,2
4. Tindakan yang dilakukan jika harga pupuk naik (Actions taken when there is an increase
in the price of fertizer)
• dosis tidak akan berubah (no change in dosage ) 64,3 79,5
• dosis dikurangi (dosage is reduced) 21,4 17,9
• frekuensi pemberian dikurangi (frequency is reduced) 14,3 2,6
• jenis pupuk diganti dengan yang lebih murah (fertilizer is replaced by the cheaper - -
one)

Petani di ekosistem dataran rendah dan tinggi biasa melakukan pengamatan rutin di
lapangan sebelum memutuskan pengendalian hama penyakit. Kegiatan utama yang dilakukan
pada saat pengamatan adalah mencermati gejala serangan. Keputusan yang diambil oleh
sebagian besar petani responden setelah melakukan pengamatan adalah menentukan saat/waktu
penyemprotan. Tabel 13 menunjukkan bahwa walaupun petani juga melakukan pengendalian
secara mekanis (mematikan/membuang ulat atau telur, mencabut tanaman layu), pengendalian
hama penyakit tampaknya lebih didominasi oleh pendekatan pengendalian kimiawi. Informasi
yang dihimpun lebih lanjut pada Tabel 14 memberikan indikasi bahwa penggunaan pestisida
cenderung lebih intensif di ekosistem dataran tinggi. Hal ini tercermin dari lebih tingginya
persentase petani yang melakukan penyemprotan rutin di dataran tinggi. Penyemprotan rutin ini
pada dasarnya dilakukan sebagai tindakan preventif untuk memperkecil resiko kegagalan panen.
Hal ini sebenarnya agak bertentangan dengan pernyataan petani bahwa penyemprotan pertama
dilakukan tergantung keadaan serangan. Elaborasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk menda-
patkan konfirmasi menyangkut pola penggunaan pestisida ini.
Petani pada umumnya menyatakan pernah mengalami hasil yang tidak memuaskan
setelah melakukan penyemprotan pestisida. Persepsi petani mengenai penyebab ketidak-
berhasilan penyemprotan tersebut cukup beragam, bahkan cenderung bersifat kontradiktif.
15
Tabel 13 Pengamatan serta keputusan yang diambil petani dalam pengendalian hama penyakit (Monitoring and
decisions made by farmers in controlling pests and diseases)
No Uraian Dataran Dataran
(Descriptions) Rendah Tinggi
(Lowland) (Highland)
1. Melakukan pengamatan rutin sebelum pengendalian hama penyakit (Conducting
routine monitoring before controlling pests and diseases)
• ya (yes) 78,5 87,1
• tidak (no) 21,5 12,9
2. Hal-hal yang dilakukan pada saat pengamatan (Actions taken during monitoring)
• mengamati gejala serangan (observing symptom) 92,9 100,0
• menghitung populasi ulat/ngengat (counting larvae) - -
• menghitung tanaman layu (counting wilted plants) 7,1 -
3. Keputusan yang diambil setelah melakukan pengamatan (Decisions made after
monitoring)
• menentukan saat/waktu penyemprotan (Determining time to spray) 64,3 48,7
• menentukan jenis pestisida yang digunakan (Determining tipe of pesticides to 14,3 28,2
spray)
• menentukan volume/konsentrasi/dosis (Determining 21,4 23,1
volume/concentration/dosage to spray)
4. Melakukan pengendalian mekanis (Conducting mechanical control)
• ya (yes) 42,9 76,9
• tidak (no) 57,1 23,1
5. Jenis pengendalian mekanis yang dilakukan (Method of mechanical controls)
• mematikan dengan tangan (eliminating the pest by hand-picking 83,3 80,0
• membuang telur (getting rid off the eggs) - -
• membuang ulat (getting rid off the larvae) 16,7 16,7
• mencabut tanaman (pulling up the sick plants) - 3,3

Disatu pihak, sebagian petani menyadari bahwa penyemprotan yang kurang berhasil disebabkan
oleh resistensi dari hama dan/atau penyakit. Hal ini tercermin dari persepsi sebagian petani yang
menganggap bahwa jenis pestisida yang digunakan sudah tidak tepat atau tidak efektif lagi.
Sementara itu, dilain pihak petani juga menyatakan bahwa hasil pengendalian yang tidak
memuaskan pada dasarnya disebabkan oleh konsentrasi penggunaan pestisida yang terlalu
rendah. Persepsi ini menjadi kontradiktif jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa salah satu
penyebab utama timbulnya resistensi hama penyakit sasaran justru sebagai akibat dari
penggunaan pestisida yang berlebih.
Sebagian besar petani, terutama di ekosistem dataran tinggi, melakukan pencampuran
pestisida dalam mengendalikan hama penyakit. Beberapa alasan yang dikemukakan petani
sehubungan dengan tindakan tersebut adalah agar dapat mengendalikan berbagai jenis hama/
penyakit secara sekaligus serta menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk pestisida
maupun tenaga kerja penyemprotan. Berbagai informasi kualitatif yang dihimpun di atas
memberikan indikasi tingginya ketergantungan petani terhadap cara pengendalian kimiawi dan
adanya penggunaan pestisida yang cenderung berlebihan.
Indikasi tersebut perlu dikonfirmasi melalui pengkajian lebih teliti mengenai pola
pengendalian yang dilakukan petani. Hal ini merupakan aspek penting yang harus dicermati
sebelum mengklasifikasikan petani sebagai pengguna pestisida yang tidak efisien, sebab pada
kenyataannya petani memang menghadapi berbagai hama penyakit yang sangat beragam untuk
setiap komoditas yang diusahakan.

16
Tabel 14 Pengendalian hama penyakit secara kimiawi di dataran rendah dan tinggi (Controlling pests and diseases by
chemical method in lowland and highland areas)
No Uraian Dataran Rendah Dataran Tinggi
(Descriptions) (Lowland) (Highland)
% %
1. Melakukan penyemprotan secara rutin (Conducting routine spraying)
• ya (yes) 42,9 79,5
• tidak (no) 57,1 20,5
2. Jika ya, alasannya (If yes, the reasons are:)
• mencegah serangan hama penyakit (prevent pest and disease 50,0 38,7
incidence)
• memperkecil resiko kegagalan panen (minimize the risk of haevest 37,5 38,7
failure)
• serangan hama penyakit yang berat (confront a heavy pest and - 9,7
disease incidence)
• kebiasaan (follow habitual practices) 12,5 12,9
• meniru petani lain (immitate other farmers) - -
3. Jika tidak, alasannya (If no, the reasons are:)
• berdasarkan beratnya serangan (depend on the heaviness of pest 46,1 87,5
and disease incidence)
• tergantung ketersediaan dana (depend on the funds availability) 53,9 -
• kebiasaan (follow habitual practices) - 12,5
• meniru petani lain (immitate other farmers) - -
4. Penyemprotan pertama dilakukan pada saat (First spray is conducted
at)
• segera setelah tanam (immediately after planting) - 17,9
• 7 hst (7 days after planting) 21,4 23,1
• 14 hst (14 days after planting) 14,3 25,6
• tergantung keadaan serangan (depend on the heaviness of pest and 64,3 33,4
disease incidence)
5. Penyemprotan terakhir dilakukan (Last spray is conducted at)
• < seminggu sebelum panen (less than a week before harvest) - 14,6
• seminggu sebelum panen (a week before harvest) 27,3 8,8
• dua minggu sebelum panen (two weeks before harvest) 72,7 36,6
6. Melakukan pencampuran pestisida (Mixing pesticides)
• ya (yes) 76,9 100,0
• tidak (no) 23,1 -
7. Alasan mencampur pestisida (Reasons for mixing pesticides)
• agar lebih manjur/cepat (quicker/time-saving) 38,9 19,1
• menghemat biaya pest dan tenaga kerja (cost and labor-saving) 22,2 34,9
• mengendalikan penyakit & hama sekaligus (control pests and 33,3 30,1
diseases simultaneously)
• mencegah serangan h & p lain (prevent other pests and diseases) 5,6 14,3
• meniru petani lain (immitate other farmers) - 1,6

Tabel 15 dan 16 menunjukkan jenis hama dan penyakit, jenis pestisida yang digunakan serta
perkiraan kisaran persentase kerusakan yang diakibatkan oleh hama penyakit tersebut, menurut
pengamatan dan pengalaman petani. Beragamnya jenis hama penyakit mencerminkan tingkat
resiko kegagalan panen tinggi yang dihadapi petani. Resiko tinggi tersebut menyebabkan petani
memilih metode pengendalian, khususnya kimiawi yang bersifat preventif. Pengendalian preventif
ini pada gilirannya mendorong penggunaan pestisida yang berlebih.

17
Tabel 15 Hama penyakit, pestisida yang digunakan serta kisaran persentase kerusakan menurut petani di ekosistem
dataran rendah (Pests and diseases, pesticides used, and damage percentage as perceived by farmers in
lowland areas)
No Jenis Sayuran Hama Pestisida Keru- Penyakit Pestisida Keru-
(Vegetable) (Pests) (Pesticides) sakan (Diseases) (Pesticides) sakan
(Damage) (Dama-
% ge) %

1 Tomat Agrotis epsilon (Ulat tanah) Decis 10-40 Pseudomonas Antracol 15-50
(Tomato) Helicoverpa almigera (Ulat solanacearum (Layu) dan
hijau) Decis 5-30 Phytophtora infestans Dithane 10-25
Impoasca sp. (Wereng) - - (Busuk daun/btng) -

2 Kangkung Torsoglocis semicauda (Ulat Curacron 10-30 Albugo condida (Bintik hijau Antracol 5-30
(Kangkong) keket) di daun)
Epilachna sp. (Lembing) - 5-10
Spodoptera sp. (Ulat hijau) Decis 20-30
Impoasca sp. (Wereng) Curacron 10-20

3 Kacang Merah Aphis crosifora (Wereng) Thiodan 20-60 Colletotrichum & Cercospora - -
(French bean) Helicoverpa armigera (Ulat (Busuk buah dan daun)
hijau) Tamaron -

4 Mentimun Aphis sp dan Myzus Curacron 20-75


(Cucumber) persicae (Bereng)
Dacus sp. (Belatung) Decis 20-75

Tabel 16 Hama penyakit, pestisida yang digunakan serta kisaran persentase kerusakan menurut petani di dataran
tinggi (Pests and diseases, pesticides, and damage percentage as perceived by farmers in highland)
No Sayuran Hama Pestisida Keru- Penyakit Pestisida Keru-
(Vegetable) (Pests) (Pesticides) sakan (Diseases) (Pesticides) sakan
(Dama- (Dama-
ge) % ge) %

1 Cabai Aphis gosipii (Bereng) Decis, Curacron 5-40 Colletotricum sp. (Patek) Ridomil, 5-25
(Hot pepper) Decis, Curacron Pseudomonas Antracol
Plusia sp. (Ulat jengkal) Curacron 15-25 solanacearum (Rayut) Polyram, 5-25
Cercospora sp. (Batang Antracol
Thrips parvisipinus (Bereng) Curacron, 10-40 hitam) Polyram 5-25
Spodoptera litura (Ulat) Dursban,
Basudin, Decis 5-75

Dacus sp. (Busuk buah) Basudin 10-25

- -
2 Bw. Merah Spodoptera exigua (Hama Decis 10-45 Altenaria sp (Trotol)
(Shallot) pucuk)

3 Kubis Bunga Plutella xylostela (Ulat Dursban, 15-50 Plasmodiopora brasicae - 20-90
(Cauliflower) ramat) Orthane, (Akar gada)
Curacron, Erwinia sp. (Daun busuk) Antracol 20-75
Regent Xanthomonas sp. (Busuk Antracol, 25-50
Crocidolomia binotalis (Ulat Argolin 5-25 pelep daun) Dithane
hijau)
Agrotis epsilon (Ulat tanah) - 2- 5
Myzus persicae (Bereng) Orthane, 5-25
Curacron,
Tamaron

18
4 Kubis Plutella xylostela (Ulat Orthane, Dipel, - Plasmodiopora brasicae - 20-90
(Cabbage) ramat) Supracide (Akar gada)
- Erwinia sp. (Daun busuk) Antracol 20-75
Crocidolomia binotalis (Ulat - Xanthomonas sp. (Busuk
hijau) - pelep daun) Antracol, 25-50
Myzus persicae (Bereng) - Daconil

5 Tomat Helicoverpa armigera (Ulat Curacron, 5-10 Phytophtora infestans Antracol, 10-50
(Tomato) hijau) Orthane (Busuk daun) Dithane,
Agrotis epsilon (Ulat tanah) Curacron, 5-10 Daconil
Plusia sp. (Ulat jengkal) Orthane Altenaria sp. (Busuk buah) Antracol, 15-50
Curacron, 5-25 Dithane,
Tralet, Dursban Daconil
Pseudomonas Antracol 5-10
solanacearum (Layu)
Cladosporium sp. Antracol 10-25
(Penyakit tembaga)

6 Bawang daun Thrips tabaci (Bereng) Dursban 20-60 Altenaria sp. (Trotol) Antracol 20-60
Spodoptera exigua (Ulat) Dursban 5-20

7 Terung Epilachna sparsa (Cacantal) Orthane, 10-50 Phomopsis sp. (Busuk Antracol 10-20
Plusia sp. (Ulat) Dursban buah)
Orthane, 5-10 Pseudomonas - 5-10
Dursban solanacearum (Layu)

8 Kc. panjang Aphis gosipii (Bereng) Demicron, 5-40 Cercospora sp. (Bercak - -
Dursban, daun)
Sumithion,
Elsan, Sumialfa
Decis, Orthane
Maruca testuralis (Ulat Furadan 10-60
buah) Decis, Orthane
Coleoptura sp. (Kuuk) 10-40
Helicoverpa armigera (Ulat 5-30
hijau)

9 Buncis Plusia sp. (Ulat jengkal) Decis 5-10 Virus mosaik (Daun Antracol 25-50
Coleoptura sp. (Kuuk) Furadan 15-30 kuning)
Agrotis epsilon (Ulat tanah) Decis, Orthane 5-10 Cercospora sp. (Bercak Tralet, 25-50
Maruca testuralis (Ulat Decis, Orthane daun) Dursban
buah) Decis, Curacron 5-10
Helicoverpa armigera (Ulat Tralet, Dursban 5-10
hijau)
Ophiomya phaseoli (Lalat) 10-75

Salah satu upaya untuk mendapatkan informasi pendukung berkaitan dengan dugaan
adanya penggunaan pestisida berlebih, ditempuh melalui analisis cepat residu (bio-assay) pada
beberapa jenis sayuran. Walaupun ketelitian metode analisis ini agak terbatas (tidak dapat
mengungkapkan residu pestisida ditinjau dari bahan aktifnya secara spesifik), hasil analisis masih
dapat digunakan sebagai peringatan awal tingkat keamanan produk untuk dikonsumsi. Hasil
analisis pada Tabel 17 menunjukkan bahwa residu insektisida pada beberapa jenis sayuran
sudah melampaui ambang toleransi (25%), tetapi residu fungisidanya ternyata masih di bawah
ambang toleransi (50%). Residu fungisida yang di bawah ambang kemungkinan disebabkan oleh
relatif rendahnya penggunaan fungisida pada musim kemarau (sayuran yang dianalisis adalah
tanaman musim kemarau). Jika diamati, beberapa jenis sayuran (kangkung, tomat, kacang
panjang) yang residu insektisidanya sudah melewati batas ambang, bahkan seringkali dikonsumsi
segar.
19
Tabel 17 Hasil analisis residu pestisida pada beberapa jenis sayuran (Results of pesticide residue analysis on some
vegetable crops)
No Lokasi Sayuran Residu Residu Keterangan Keterangan
(Location) (Vegetable) Insektisida Fungisida Status Status
(Insecticide (Fungicide Residu Residu
Residue) Residue) Insektisida Fungisida
(%) (%) (Remarks on the (Remarks on the
Status of Status of
Insecticide Fungicide
Residue) Residue)

1 Margacinta Kc. Merah (French bean) 2,56 0 aman aman


(dataran rendah = Kangkung (Kangkong) 68,23 0 tidak aman aman
lowland) Tomat (Tomato) 0 15,23 aman aman
Cabai (Hot pepper) 26,75 0 tidak aman aman

2 Cibiru Cabai (Hot pepper) 69,88 0 tidak aman aman


(dataran medium = Bw. Merah (Shallot) 0 0 aman aman
medium land) Tomat (Tomato) 19,51 26,23 aman aman

3 Cisarua Kubis bunga (Cauliflower) 60,21 0 tidak aman aman


(dataran tinggi = Labu siam 22,53 0 aman aman
highland) Buncis (Kidney bean) 9,75 29,56 aman aman
Tomat (Tomato) 36,35 32,52 tidak aman aman

4 Parongpong Caisin (Chinese cabbage) 56,67 0 tidak aman aman


(dataran tinggi = Kemangi 1,56 0 aman aman
highland) Kc. panjang (Yardlong bean) 58,04 25,12 tidak aman aman
Buncis (Kidney bean) 10,21 19,67 aman aman
Tomat (Tomato) 52,75 36,29 tidak aman aman

Keterangan (Remarks): aman (save); tidak aman (unsave)

Berkaitan dengan residu pestisida, khususnya untuk Kotamadya Bandung, pemerintah


daerah telah mengeluarkan Perda no. 09 tahun 1994. Perda ini ditujukan untuk (a) menjamin
kualitas pasokan hasil pertanian atau tanaman pangan bagi konsumen (kesehatan, selera,
kualitas), (b) memberikan pelayanan informasi harga bagi pemasok, pedagang, produsen dan
konsumen, dan (c) meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Secara operasional, pengujian mutu
hasil pertanian ini dilakukan mulai tahun anggaran 1995/1996 secara bertahap, dimulai dari Pasar
Induk Caringin dan Pasar Induk Gedebage. Pencapaian program ini ternyata lebih banyak diukur
dari target retribusi atau kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah. Target inipun tidak
pernah tercapai selama tiga tahun terakhir. Berbagai kendala yang meyebabkan tidak tercapainya
target tersebut adalah (a) pemasyarakatan Perda belum dapat menjangkau obyek pengujian mutu
secara keseluruhan, (b) kuantitas peralatan pengujian mutu masih terbatas, dan (c) tingkat
produktivitas tenaga lapangan yang masih rendah. Namun demikian, kekurangan lain yang
bersifat lebih substantif dari Perda ini adalah semakin kurang diperhatikannya tujuan pertama
(kualitas) dan tujuan kedua (informasi harga) di dalam pelaksanaannya. Konsekuensinya, dampak
langsung Perda tersebut terhadap kualitas sayuran dan dampak tidak langsungnya terhadap
pengurangan penggunaan pestisida di tingkat petani menjadi tidak tercapai.

4.8. Kendala Sistem Produksi

Petani responden secara individual diminta untuk menyusun peringkat atau urutan
kepentingan dari berbagai hal yang dianggap menjadi kendala dalam melakukan usahatani.
Respon dari seluruh responden dianalisis dengan menggunakan method based on rank orders.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan modal dan fluktuasi harga secara berkebalikan
20
merupakan dua kendala terpenting yang dirasakan oleh petani di dataran rendah dan tinggi.
Kendala modal merupakan pencerminan dari belum baiknya akses petani untuk memperoleh mo-
dal produksi yang relatif tinggi pada usahatani sayuran. Persepsi petani mengenai kendala modal
yang berada pada peringkat satu/dua tampaknya juga dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di
pasar input (kenaikan harga pestisida dan pupuk) pada saat survai/wawancara dilaksanakan.
Harga merupakan faktor eksternal usahatani ditinjau dari sangat kecilnya peranan petani secara
individual dalam mengendalikannya (price taker). Informasi mengenai perkembangan dan
determinasi harga di pasar yang dimiliki petani relatif sangat terbatas. Dengan demikian, posisi
tawar menawar yang lemah serta fluktuasi harga yang tajam masih dirasakan sebagai salah satu
kendala utama usahatani sayuran. Petani responden di dataran rendah dan tinggi menganggap
insiden hama penyakit sebagai kendala yang ditempatkan pada urutan kepentingan ketiga.
Persepsi ini memberikan penjelasan menyangkut pola penggunaan pestisida yang cenderung
berlebihan dalam mengendalikan hama penyakit. Menarik untuk diperhatikan bahwa ketersediaan
informasi teknis dipersepsi petani sebagai kendala yang memiliki peringkat relatif rendah.
Persepsi ini kemungkinan merupakan percerminan penguasaan teknis petani menyangkut
budidaya sayuran (secara teknis petani merasa tidak mengalami kesulitan) atau justru karena
langkanya ketersediaan informasi teknis yang dapat diakses petani. Sementara itu, petani di
dataran rendah dan tinggi mempersepsi kesuburan tanah sebagai kendala produksi dengan
urutan kepentingan terendah. Petani menganggap bahwa kesuburan tanah yang rendah atau
menurun dapat diatasi dengan pemberian pupuk kandang dan buatan.

Tabel 18 Persepsi petani menyangkut peringkat kendala sistem produksi di dataran rendah dan tinggi (Farmers’
perceptions with regard to the rank of production system constraints in lowland and higland areas)
No Kendala atau Masalah Peringkat
(Constraints or Problems) (Rank of Importance)
Dataran Dataran
Rendah Tinggi
(Lowland) (Highland)
1. Insiden hama dan penyakit (Pest and disease incidence) III III

2. Ketersediaan modal (Capital/funds availability) II I

3. Ketersediaan lahan (Land availability) IV IV

4. Ketersediaan tenaga kerja (Labor availability) VIII VI

5. Ketersediaan pupuk dan pestisida (Fertilizer and pesticide availability) V V

6. Ketersediaan air/pengairan (Water/irrigation availability) VI VII

7. Erosi tanah/kesuburan tanah (Soil erosion/fertility) IX IX

8. Fluktuasi harga (Price fluctuation) I II

9 Ketersediaan informasi teknis (Technical information availability) VII VIII

4.9. Saran Perbaikan Teknologi Budidaya

Pada sub-bab sebelumnya, petani mempersepsi informasi teknis sebagai kendala


produksi berperingkat rendah. Namun demikian, elaborasi lebih lanjut pada Tabel 19
menunjukkan bahwa sebagian petani (> 25%) masih membutuhkan perbaikan teknologi budidaya
21
sayuran secara umum. Secara lebih spesifik, petani di dataran rendah dan tinggi bahkan
mengemukakan perlunya perbaikan teknologi pengendalian hama penyakit sebagai prioritas
utama yang diusulkan.

Tabel 19 Usulan topik perbaikan budidaya sayuran di dataran rendah dan tinggi (Topics proposed by farmers for
improving lowland and highland vegetable cultivation)
No Topik yang memerlukan perbaikan Dataran Rendah Dataran Tinggi
(Topics need improvements) (Lowland) (Highland)
n=14 (%) n=39 (%)

1. budidaya sayuran 28, 6 25, 6


(vegetable cultural practices)
2. pengendalian hama penyakit 50,0 38, 5
(controlling pests and diseases)
3. pengendalian bengkak akar - 10, 3
(controlling club root)
4. pengendalian hama bereng - 5, 1
(controlling aphids)
5. pengendalian penyakit layu 21,4 20, 5
(controlling wilt)

KESIMPULAN

• Pola tanam di dataran rendah pada dasarnya adalah pola tanam berbasis padi. Sayuran
umumnya diusahakan satu kali setahun dengan sistem pertanaman monokultur. Di dataran
medium, pola tanam cukup bervariasi, meliputi sayuran-sayuran-palawija, sayuran-palawija-
sayuran, dan sayuran-palawija-palawija. Sementara itu, pola tanam dominan di ekosistem
dataran tinggi adalah sayuran-sayuran-sayuran, dengan sistem pertanaman tumpang-sari/
tumpang-gilir.
• Dari berbagai jenis sayuran yang beradaptasi baik di dataran rendah, petani mempersepsi
tomat sebagai komoditas yang paling dikuasai teknik budidayanya, paling menguntungkan,
membutuhkan biaya paling tinggi dan dianggap paling beresiko. Pada ekosistem dataran
tinggi, petani beranggapan bahwa komoditas yang paling dikuasai teknik budidayanya secara
berturut-turut adalah kubis bunga, cabai, tomat dan buncis. Jenis sayuran yang dianggap
paling menguntungkan adalah tomat dan cabai. Sementara itu, tomat dianggap sebagai
komoditas yang memerlukan biaya paling tinggi dan sekaligus paling beresiko.
• Pengamatan petani menunjukkan bahwa dinamika lingkungan produksi biofisik selama lima
tahun terakhir telah menyebabkan terjadinya (a) pergeseran waktu tanam, (b) perubahan
jenis komoditas andalan, dan (c) peningkatan resiko usahatani. Dalam lima tahun terakhir,
sebagian petani juga mengamati terjadinya penurunan kesuburan tanah yang diindikasikan
oleh semakin menurunnya produksi rata-rata yang dicapai dan semakin meningkatnya
kebutuhan input. Berkaitan dengan kenaikan harga input, resiko penurunan produktivitas
dianggap akan menimbulkan kerugian yang lebih besar dibandingkan dengan tambahan
biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan volume input yang biasa digunakan.
• Kendala ketersediaan lahan tercermin dari pendapat sebagian responden (>25%) yang
menyatakan bahwa lahan garapannya semakin sempit dalam tiga tahun terakhir ini. Ditinjau
dari sisi ketersediaannya, tenaga kerja dan sarana produksi tidak menjadi kendala bagi

22
usahatani sayuran. Namun demikian, petani merasakan adanya kenaikan upah maupun
harga input yang jauh lebih cepat dan tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga produk
sayuran. Sementara itu, akses untuk memperoleh pinjaman modal atau modal tambahan dari
lembaga keuangan formal juga dirasakan masih terbatas.
• Produk sayuran pada umumnya dijual melalui pedagang perantara/pengumpul/ bandar
dengan sistem pembayaran tunai. Sistem penjualan tebasan banyak pula dipilih petani
karena dianggap lebih praktis (menerima uang sekaligus dan tidak perlu mengeluarkan biaya
tenaga kerja panen. Cakupan wilayah pemasaran sayuran dari dataran rendah sebagian
besar adalah Bandung, sedangkan sayuran dari dataran tinggi juga ke luar Bandung.
• Volume penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan sangat beragam, sehingga terjadi
perbedaan produktivitas antar usahatani (salah satu indikator in-efisiensi). Intensitas peng-
gunaan pupuk di dataran tinggi jauh lebih tinggi dibandingkan di dataran rendah, bahkan
cenderung berlebihan. Pola pengendalian hama penyakit menunjukkan ketergantungan pe-
tani terhadap penggunaan pestisida. Penyemprotan rutin dan pencampuran pestisida pada
dasarnya dilakukan sebagai tindakan preventif untuk memperkecil resiko kegagalan panen.
Penggunaan pestisida di dataran tinggi jauh lebih intensif dibandingkan di dataran rendah,
bahkan cenderung berlebihan. Dugaan ini juga ditunjang oleh analisis residu pada beberapa
sayuran yang menunjukkan adanya residu pestisida yang sudah melewati ambang toleransi.
• Masalah yang dipersepsi petani sebagai tiga kendala utama produksi berdasarkan urutan
kepentingannya adalah ketersediaan modal, fluktuasi harga dan insiden hama penyakit.
Sementara itu, ketersediaan informasi teknis serta ke-suburan tanah dipersepsi petani
sebagai kendala produksi yang memiliki prioritas rendah. Secara spesifik petani di dataran
rendah maupun tinggi mengusulkan bahwa topik perbaikan budidaya sayuran yang paling
dibutuhkan adalah topik pengendalian hama penyakit.
• Karakterisasi sistem produksi sayuran di daerah urban dan peri-urban Bandung ini perlu
diikuti dengan kajian teknis (analisis tanah dan analisis ekosistem) yang lebih teliti untuk
memperoleh konfirmasi berkaitan dengan beberapa dugaan menyangkut in-efisiensi
penggunaan sumberdaya (kecenderungan penggunaan pupuk dan pestisida yang berle-
bihan). Dengan demikian akan diperoleh informasi yang lebih akurat untuk penyusunan
program perbaikan sistem produksi sayuran, khususnya menyangkut pengelolaan hara dan
pengendalian hama penyakit, yang berkaitan erat dengan keberlanjutan usahatani.
• Dari sisi kelembagaan, perlu diprioritaskan revitalisasi fungsi dan dinamika kelompok tani
sayuran. Hal ini perlu diperhatikan karena efektivitas komponen-komponen teknologi
(pengelolaan hara maupun pengendalian hama penyakit) seringkali dipengaruhi oleh
kebersamaan suatu komunitas untuk menyepakati sistem pengelolaan yang terkoordinasi.

DAFTAR PUSTAKA

Gutman, P. 1987. Urban agriculture: The potentials and limitations of an urban self-reliance
strategy. Food and Nutrition Bulletin, 9(2): 37-42.
Jansen, H. G., D. Poudel, D. J. Midmore, R. K. Raut, P. R. Pokhrel, P. Bhurtyal & R. K. Shrestha.
1994. Sustainable peri-urban vegetable production and natural resources management in
Nepal: Results of a diagnostic survey. Working Paper no. 8. AVRDC, Taiwan.

23
Kleer, J. 1987. Small-scale agricultural production in urban areas in Poland. Food and Nutrition
Bulletin, 9 (2): 24-28.
Lightfoot, C., J. P. Dalsgaard, M. Bimbao & F. Fermin. 1993. Farmer participatory procedures for
managing and monitoring sustainable farming systems. Journal of the Asian Farming
Systems Association, 2(1): 67-87.
Lynam, J. K. & R. W. Herdt. 1989. Sense and sustainability: Sustainability as an objective in
international agricultural research. Agricultural Economics, 3(4): 381-398.
MacMillan, J.A., F.L. Chung, and R.M.A. Loyns. 1972. Differences in regional household
consumption patterns by urbanization: A cross-sectional analysis. Journal of Regional
Science, 22: 417-424.
Pasandaran, E. & Hadi, P. U. 1994. Prospek komoditi hortikultura di Indonesia dalam kerangka
pembangunan ekonomi. Makalah pada Penyusunan Prioritas dan Desain Penelitian
Hortikultura, Solok, 17-19 November 1994.
Price, D.W., D.Z. Price and D.A. West. 1980. Traditional and non-traditional determinants of
household expenditures on selected fruits and vegetables. Western Journal of Agricultural
Economics, 5: 21-36.
Saran, S. 1993. Integrated farming systems methodology for high-risk ecological zones. Journal of
the Asian Farming Systems Asso., 1(4): 463-477.
van Lieshout, O. 1992. Consumption of fresh vegetables in Indonesia. Internal Communication no.
48. Project ATA-395/LEHRI.
Waibel, H. and S. Setboonsarng. 1993. Resource degradation due to chemical inputs in
vegetable-based farming systems in Thailand. Journal of the Asian Farming Systems
Association, 2(1): 107-120.

24