Anda di halaman 1dari 20

Jurnal Hortikultura, Tahun 1999, Volume 9, Nomor (1): 67-83

STUDI LINI DASAR PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN


HAMA TERPADU PADA TANAMAN CABAI DI JAWA BARAT
Witono Adiyoga, Rofik Sinung B., Yusdar Hilman dan Bagus K. Udiarto
Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Bandung 40391

ABSTRAK. Adiyoga, W., Basuki, R.S., Hilman, Y. dan Udiarto, B.K. 1997. Studi lini dasar pengembangan
teknologi pengendalian hama terpadu pada tanaman cabai di Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan
Oktober 1995 sampai Pebruari 1996 untuk memperoleh data dasar bagi pengembangan teknologi pengendalian
hama terpadu (PHT) pada tanaman cabai di Jawa Barat. Hasil penelitian menyarankan agar perbaikan teknologi
usahatani cabai lebih diarahkan untuk memperbaiki sistem produksi cabai tumpangsari (misalnya dengan bawang
merah). Ketergantungan terhadap cara pengendalian kimiawi tercermin dari penyemprotan rutin yang dilakukan
oleh petani dengan frekuensi penyemprotan dan konsentrasi yang tinggi. Disamping itu, pencampuran 2 - 6 jenis
pestisida juga merupakan hal yang biasa dilakukan oleh sebagian besar petani. Pertimbangan resiko merupakan
alasan utama yang melatar-belakangi pola penggunaan pestisida tersebut. Oleh karena itu, faktor resiko perlu
dipertimbangkan sebagai salah satu kriteria dalam melakukan evaluasi kelayakan komponen teknologi. Berdasar-
kan pertimbangan bahwa efektivitas komponen-komponen teknologi PHT sangat dipengaruhi oleh kebersamaan
suatu komunitas untuk menyepakati sistem pengelolaan yang terkoordinasi, penelitian ini juga menyarankan
pembinaan dini kelompok tani.

Kata kunci: Penelitian; Pengendalian hama terpadu; Tumpangsari; Resiko; Usahatani.

ABSTRACT. Adiyoga, W., Basuki, R. S., Hilman, Y. and Udiarto, B. K. 1997. Baseline study for developing
integrated pest management (IPM) technology on hot pepper in West Java. This study was aimed to obtain a
database for the development of IPM on hot pepper in West Java and conducted from October 1995 to February
1996. The findings of this study suggested that research geared to improve hot pepper farming should put more
emphasis on intercropping system. High dependency on the use of pesticides as the main pests and diseases
controlling method was reflected from routine spraying carried out by farmers. In addition, mixing 2 - 6 kinds of
pesticide was also quite common among farmers. Production risks were considered by farmers as the main reason
for practicing such pattern of pesticide use. Therefore, risk factor should be used as an important criterion for
assessing the feasibility of IPM components. Considering the IPM system that is mostly effective if members of a
community agree to coordinate their practices, this study also suggested to strengthen the existing farmer groups
prior to the dissemination of various IPM components.

Key words: Research; Integrated pest management; Intercropping; Farming; Risk.

1
Potensi dan peluang ekonomi komoditas cabai memotivasi petani untuk mengusahakan
komoditas tersebut secara lebih intensif. Kendala sumberdaya lahan yang tercermin dari sempitnya luas
lahan garapan cenderung mendorong petani menggunakan masukan berlebih untuk memacu
produktivitas usahatani (Adiyoga dan Soetiarso, 1994). Khusus untuk penggunaan pestisida, pengeluaran
yang dialokasikan oleh petani cabai merah di daerah Kemurang Kulon (Brebes) dapat mencapai 51% dari
total biaya produksi (Basuki, 1988). Sebagian besar petani di daerah Brebes dan Tegal juga
mencampurkan 3 atau 5 macam pestisida dengan konsentrasi penggunaan 2 atau 3 kali lipat dari
rekomendasi. Volume penyemprotan yang tinggi (600-1900 l/ha) disertai pula dengan interval
penyemprotan 2 atau 3 hari sekali (Sastrosiswoyo dan Suhardi, 1988). Sementara itu, penggunaan
pestisida berlebih diduga dapat menimbulkan resistensi hama sasaran dan resurgensi hama sasaran.
Petani pada umumnya memiliki pengetahuan yang tidak sempurna (imperfect knowledge) pada
saat mengambil keputusan mengenai kapan dan bagaimana menggunakan pestisida (Norgaard, 1976).
Persepsi yang kurang tepat mengenai perkembangan harga masukan dan luaran, harapan/ramalan yang
meleset mengenai hasil panen serta pemahaman yang kurang baik tentang teknologi budidaya adalah
sebagian faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ketidak-efisienan penggunaan pestisida. Konse-
kuensi dari keterbatasan pengetahuan tersebut adalah timbulnya kecenderungan penggunaan pestisida
oleh petani yang semata-mata ditujukan untuk kepentingan asuransi (Mumford, 1981; Carlson, 1970).
Menyadari dampak negatif kecenderungan ini terhadap aspek ekologis maupun ekonomis, pemasyara-
katan program pengendalian hama terpadu sayuran dataran rendah di tingkat petani dirasakan sangat
mendesak untuk segera ditangani.
Filosofi pengendalian hama terpadu telah diterima secara luas di kalangan para peneliti dan
pengambil kebijakan, namun demikian penerapannya di tingkat petani masih tergolong rendah (Norton,
1982). Program pengendalian hama terpadu di Indonesia memberikan penekanan pada peranan kunci
yang dipegang oleh petani (Baharsjah dan Rasahan, 1994). Agar kapasitas sistem PHT selalu dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi/situasi serta peningkatan kompleksitas ekonomis,
agronomis dan ekologis, maka pengembangannya harus selalu mempertimbangkan perkembangan
pengetahuan dan ketrampilan petani. Oleh karena itu, penerapan konsep PHT perlu diawali dengan
menghimpun informasi mendalam tentang lingkungan produksi usahatani.
Lingkungan produksi usahatani tidak saja berpengaruh terhadap keputusan petani dalam
menentukan teknologi yang sekarang sedang digunakan, tetapi juga berkaitan erat respon petani
terhadap perubahan-perubahan teknologi. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan produksi alami,
ekonomi eskternal, ketersediaan sumberdaya, sasaran petani, interaksi sistem usahatani, deskripsi
teknologi budidaya dan identifikasi faktor-faktor kendala. Informasi dasar ini perlu dihimpun dan dikaji
sebagai langkah awal upaya penerapan PHT beserta komponen teknologi pendukungnya di tingkat
petani. Pada dasarnya, usaha untuk mengadaptasikan teknologi tertentu dalam suatu sistem usahatani
(farming system) yang kompleks merupakan langkah yang lebih bijaksana dan lebih mudah ditempuh,
dibandingkan dengan meminta kesediaan petani untuk mengubah sistem usahataninya agar dapat
mengakomodasi suatu teknologi baru (Rhoades, 1984). Berkaitan dengan kebutuhan pengembangan
teknologi pengendalian hama terpadu, diduga cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yang
diusahakan secara intensif (high cost input) dan menekankan penggunaan metode kimiawi dalam
mengendalikan hama penyakit.
Penelitian ini diarahkan untuk menghimpun informasi dasar usahatani cabai dan mengidentifikasi
potensi serta kendala pengembangan sistem PHT.

2
METODE PENELITIAN

Pemilihan lokasi dan responden penelitian :


Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan: (a) potensinya sebagai
sentra produksi cabai merah, dan (b) pola pengusahaan yang dilakukan terus menerus dari tahun ke
tahun. Kabupaten Cirebon dan Majalengka terpilih mewakili ekosistem dataran rendah, sedangkan
kabupaten Garut mewakili ekosisten dataran tinggi. Target populasi penelitian ini adalah petani yang
menanam cabai dari tahun ke tahun. Petani responden dipilih secara acak dan ukuran contoh ditetapkan
dengan formula Krejcie dan Morgan (1970), sehingga diperoleh responden sebanyak 60 orang untuk
setiap lokasi. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 1995 sampai bulan Pebruari 1996.

Pengumpulan data :
Data yang diperlukan diperoleh melalui survai multidisiplin. Pendekatan ini dipilih untuk
memperoleh gambaran kualitatif dan kuantitatif mengenai lingkungan, pelaku dan keragaan usahatani
cabai. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti tahapan: (a) survai pendahuluan -- penjelesaian
perijinan, pemilihan lokasi dan responden, uji coba kuesioner dan pengumpulan data sekunder, serta (b)
survai utama -- menghimpun data primer melalui penggunaan kuesioner. Daftar pertanyaan yang disusun
terutama mencakup: (a) karakteristik petani responden, (b) aspek budidaya dan pola tanam, (c) masukan
dan luaran usahatani, (d) struktur biaya pendapatan, (e) lingkungan produksi alami, (f) lingkungan
produksi ekonomi, (g) ketersediaan sumberdaya, (h) kelembagaan dan (i) kendala sistem produksi.
Untuk memperoleh konfirmasi data primer yang diperoleh dari petani responden, diskusi kelompok
dengan orang kunci (penyuluh, kontak tani, dsb) juga dilaksanakan.

Analisis data :
Data yang dihimpun dari pertanyaan-pertanyaan tertutup dianalisis secara deskriptif (tabulasi).
Sementara itu, data yang berasal dari respon pertanyaan-pertanyaan terbuka diolah dengan mengguna-
kan analisis isi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Petani Responden

Kisaran usia 41-60 tahun ternyata mendominasi struktur umur petani responden (> 50%) di
ketiga lokasi penelitian. Di lain pihak, struktur umur muda (20-30 tahun) menunjukkan persentase yang
rendah (< 15%). Penelitian terdahulu menunjukkan adanya inkonsistensi mengenai hubungan antara usia
dengan tingkat adopsi. Sebagai contoh, Jamison dan Lau (1982) menemukan adanya hubungan positif
antara usia dengan probabilitas adopsi, sedangkan Chinnappa (1980) membuktikan tidak adanya
pengaruh peubah usia terhadap tingkat adopsi. Walaupun demikian, usia sasaran perubahan (petani)
tampaknya masih perlu diperhatikan dalam merakit atau menyebarkan teknologi baru, terutama kemung-
kinan interaksinya dengan peubah-peubah lainnya.
Di ketiga lokasi penelitian, pendidikan formal dominan yang dimiliki petani responden adalah
sekolah dasar (> 75%). Bahkan persentase petani responden yang tidak selesai sekolah dasar ternyata
juga cukup tinggi (> 15%). Salah satu generalisasi yang diungkapkan oleh Rogers (1962) menyatakan
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin cepat pula yang bersangkutan menerima

3
Tabel 1 Karakteristik petani responden usahatani cabai (Characteristics of hot pepper farmers).
Karakteristik Cirebon Majalengka Garut
(Characteristics) % % %
Usia (Age):
20 - 30 tahun (years) 13,3 11,7 13,8
31 - 40 tahun (years) 10,0 26,7 36,2
41 - 50 tahun (years) 51,7 40,0 34,5
51 - 60 tahun (years) 20,0 15,0 12,1
> 60 tahun (years) 5,0 6,6 3,4
Pendidikan (Education):
(-) SD (no formal school) 6,7 1,7 -
SD (-) (does not graduate ES) 25,0 23,3 17,2
SD (elementary school) 60,0 71,7 58,6
SLTP (middle school) 6,7 3,3 6,9
SLTA (high school) 1,6 - 12,1
PT (college) - - 5,2
Penguasaan lahan (Land tenure):
Milik (Owned) 21,7 61,7 56,9
Sewa (Rented) 78,3 38,3 37,9
Bagi hasil (Sharecropping) - - 5,2
Pengalaman bertani cabai (Experience in cultivating
hot pepper) :
1 - 5 tahun (years) 26,7 40,0 51,7
6 - 10 tahun (years) 20,0 25,0 25,9
11 - 15 tahun (years) 18,3 6,7 10,3
16 - 20 tahun (years) 16,7 8,3 6,9
> 20 tahun (years) 18,2 20,0 5,2
Luas minimal usaha (Minimum farm size):
hektar (hectare)
0,020 - 0,071 51,7 48,4 39,7
0,072 - 0,143 30,0 43,3 37,9
0,144 - 0,286 15,0 8,3 20,7
0,287 - 0,357 3,3 - 1,7
Luas maksimal usaha (Maximum farm size):
hektar (hectare)
0,043 - 0,071 5,0 16,7 5,2
0,072 - 0,143 46,6 45,0 37,9
0,144 - 0,286 25,0 26,6 31,0
0,287 - 0,429 6,7 6,7 5,2
0,430 - 0,571 15,0 3,3 13,8
0,572 - 0,714 1,7 1,7 6,9

inovasi. Hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan tingkat adopsi, secara empiris dibuktikan
signifikansinya oleh beberapa penelitian yang membahas implikasi teknologi baru (Gibbons et al., 1980;
Jameson dan Lau, 1982). Dalam konteks pengembangan PHT, faktor tersebut akan sangat
berpengaruh, terutama dikaitkan dengan pemilihan strategi pendekatan difusi.

4
Status penguasaan lahan sebagian besar petani responden adalah status milik (Majalengka dan
Garut), penyewa (Cirebon), sedangkan status bagi hasil persentasenya sangat kecil (Garut). Secara
umum, bukti empiris mengenai pengaruh langsung status penguasaan lahan terhadap adopsi teknologi
tidak banyak ditemukan. Namun demikian, status penguasaan lahan kemungkinan besar merupakan
peubah perantara (intervening variable), misalnya perbedaan kemudahan untuk memperoleh kredit
produksi atau pembiayaan masukan, yang penting dalam proses adopsi.
Informasi mengenai pengalaman responden melakukan usahatani cabai memberikan konfirmasi
bahwa pengusahaan cabai di ekosistem dataran rendah telah lebih dahulu memasyarakat dibandingkan
dengan di ekosistem dataran tinggi. Interaksi antara pengalaman dengan tingkat pendidikan dapat
dijadikan sebagai cerminan kemampuan pengelolaan usahatani (Adiyoga, 1994). Kemampuan
pengelolaan sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak
teknologi baru.
Luas lahan minimal (0,02-0,14 ha) dan luas lahan maksimal (0,07-0,28 ha) yang pernah digarap,
memberikan indikasi bahwa sebagian besar responden mengusahakan lahan garapan yang relatif
sempit. Hubungan antara luas lahan dengan adopsi teknologi juga digeneralisasikan oleh Rogers (1962)
yang menunjukkan bahwa semakin luas lahan garapan seseorang, maka semakin cepat yang
bersangkutan mengadopsi teknologi baru. Walaupun demikian, berdasarkan penelitian-penelitian empiris
yang telah dilakukan di negara berkembang, tidak diperoleh indikasi adanya pola konsisten yang
menunjukkan bahwa luas lahan garapan merupakan kendala adopsi teknologi. Ruttan (1977) juga
menunjukkan bahwa seandainya terdapat perbedaan waktu (time lag) dalam mengadopsi teknologi baru,
petani yang berlahan lebih sempit akan mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang tidak lama.

Budidaya Cabai di Tingkat Petani

Pola Tanam
Keragaman pola tanam yang paling tinggi terdapat di kabupaten Garut. Pertanaman cabai di
Cirebon hampir selalu ditumpang-sarikan/ditumpang-gilirkan dengan bawang merah dan menunjukkan
bahwa cabai pada dasarnya ditanam sepanjang tahun. Tanaman lain yang biasa diusahakan di
antaranya adalah padi, mentimun, kacang panjang, jagung, tebu dan terung. Pola tanam di Majalengka
lebih didominasi oleh sistem pertanaman monokultur. Ketersediaan air merupakan kendala utama di

Cirebon
Bulan (Month)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

mentimun kacang panjang bawang merah, cabai merah


(cucumber) (yardlong bean) (shallot, hot pepper)

bawang merah, cabai merah padi


(shallot, hot pepper) (rice)

bawang merah, cabai merah kacang panjang jagung


(shallot, hot pepper) (yardlong bean) (corn)

padi bawang merah, cabai merah


(rice) (shallot, hot pepper)

5
Majalengka
Bulan (Month)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

kacang tanah cabai merah


(peanut) (hot pepper)

kedelai cabai merah


(soybean) (hot pepper)

kc. tanah/kc. merah bawang merah, cabai merah


(peanut//french bean) (shallot, hot pepper)

Garut
Bulan (Month)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

jagung cabai merah, petsai/kubis kentang


(corn) (hot pepper, chinese cabbage/cabbage) (potato)

kubis tomat cabai , petsai (hot pepper,


(cabbage) (tomato) chinese cabbage)

cabai merah, petsai, buncis jagung kentang


(hot pepper, chinese cabbage, kidney bean) (corn) (potato)

petsai kacang jogo kentang jagung cabai merah (hot


(chinese cabbage) (beans) (potato) (corn) pepper)

musim kemarau, sehingga banyak lahan yang terpaksa diberakan. Berdasarkan pengamatan pola tanam
di daerah tersebut, ternyata cabai pada umumnya ditanam pada bulan Oktober dan November.
Tanaman palawija (kacang tanah dan kedelai) merupakan komoditas yang biasa diusahakan untuk
pergiliran tanaman. Sistem pertanaman tumpangsari di daerah Garut seringkali melibatkan lebih dari dua
jenis tanaman. Tanaman lain yang diusahakan setelah atau sebelum cabai merah merupakan jenis
tanaman yang memerlukan biaya input tinggi (kentang, tomat, kubis). Sistem pergiliran tanaman di
daerah ini menunjukkan bahwa cabai biasa ditanam pada bulan April/Mei dan Oktober/November.
Sebagian besar petani responden (> 75%) di ketiga lokasi penelitian menanam cabai satu kali
dalam setahun. Beberapa orang responden, terutama di Cirebon, menanam cabai dua kali setahun
karena pengairan lahan yang memungkinkan. Kecuali di Majalengka, sistem pertanaman yang dilakukan
oleh sebagian besar petani responden adalah tumpangsari. Alasan utama yang dikemukakan petani
Majalengka untuk memilih sistem monokultur adalah adanya anggapan bahwa jika ditumpangsarikan,
pertumbuhan cabai akan terganggu (kompetisi unsur hara dan sinar matahari). Sistem tumpangsari di
Cirebon pada umumnya adalah antara cabai dengan bawang merah. Bawang merah ditanam kurang
lebih sebulan sebelum cabai dipindahkan ke lapangan. Sementara itu, tanaman yang ditumpangsarikan

6
Tabel 2 Sistem pertanaman dan alasan yang melatar-belakangi pemilihannya (Cropping systems and reasons for chosing
them)
Uraian Cirebon Majalengka Garut
(Description) % % %
Dalam setahun menanam cabai (Cultivating hot pepper in a year):
satu kali (once) 78,3 98,3 93,1
dua kali (twice) 21,7 1,7 6,9
Sistim pertanaman (Cropping system):
monokultur (monocropping) 26,7 61,6 3,4
tumpang sari (multiple cropping) 73,3 38,4 96,6
Alasan monokultur (Reasons for mono-cropping):
tanaman pokok tidak terganggu (main crop is not disturbed) 38,4 67,6 100,0
memudahkan pemeliharaan (relatively easier to handle) 15,4 10,8 -
kebiasaan (habit) 46,2 21,6 -
Alasan tumpang sari (Reasons for multiple cropping):
efisiensi penggunaan lahan (land efficiency) 11,4 - 14,3
efisiensi biaya pemeliharaan (cost efficiency) 18,2 - 10,7
mengurangi resiko kerugian (reducing risk) - 8,7 7,1
memperoleh pendapatan tambahan (increasing income) 6,8 34,7 48,2
kebiasaan (habit) 63,6 56,6 19,7

dengan cabai di Garut, jenisnya lebih beragam. Pada umumnya petani melakukan tumpangsari antara
cabai dengan sayuran daun (kubis atau petsai) atau kacang-kacangan (buncis, kacang merah, kacang
jogo). Petani melakukan tumpangsari dengan alasan kebiasaan, efisiensi lahan dan biaya, serta
memanfaatkan umur cabai yang relatif panjang untuk memperoleh tambahan pendapatan.
Sistem pertanaman tumpangsari sebenarnya bukan fenomena baru. Sistem ini banyak berkem-
bang di kalangan petani kecil yang umumnya menghadapi keterbatasan sumberdaya, terutama lahan
dan modal. Sementara itu, penelitian-penelitian selama ini cenderung lebih diarahkan untuk pengem-
bangan sistem pertanaman monokultur. Kenyataan di tingkat petani menunjukkan bahwa perakitan
komponen teknologi yang ditujukan untuk pengembangan sistem pertanaman tumpangsari perlu
mendapat perhatian lebih besar. Hal ini juga harus dipertimbangkan dalam merancang komponen-
komponen teknologi PHT.

Benih/bibit dan Persemaian


Berdasarkan tipe buahnya, cabai besar banyak diusahakan di kabupaten Cirebon dan
Majalengka, sedangkan cabai keriting ditanam oleh sebagian besar petani responden di kabupaten
Garut. Kultivar cabai yang digunakan oleh petani ternyata sangat beragam (beberapa diantaranya
diidentifikasi berdasarkan sebutan lokal): Cirebon (Prembun, Jatiroto, Semarang, Tit Super, Tit Paris, Tit
Bagal, Tit Randu, Papak), Majalengka (Papak, Ambon, Sungu), Garut (Keriting Medan, Keriting Lokal,
Keriting Selektani). Secara umum, pertimbangan kesesuaian kultivar dengan iklim/lingkungan setempat
serta hasil yang lebih tinggi tampaknya menempati prioritas lebih penting dibandingkan dengan
pertimbangan lainnya (Tabel 3). Walaupun demikian, informasi tentatif ini memerlukan penelitian lebih
lanjut, terutama kaitannya dengan preferensi petani terhadap kultivar yang tersedia.

7
Tabel 3 Urutan pertimbangan petani dalam memilih kultivar yang digunakan (The rank of criteria used by farmers in selecting
a particular cultivar)

Kriteria Kering Keriting Papak Prembun Tit Sema- Tit Paris


(Criterion) Medan Lokal Super rang

hasil lebih tinggi (higher yield) 1 2 4 4 1 3 2


kualitas lebih baik (better quality) 4 5 - 5 4 - 1
lebih cocok dengan iklim/lingkungan 2 1 3 1 2 4 3
setempat (more suitable to local conditions)
lebih mudah diperoleh (easier to get) 3 3 2 3 3 2 -
kebiasaan (habit) 5 4 1 2 5 1 -

Sebelum disemai sebagian petani responden merendam benih cabai dalam air hangat atau air
dingin untuk mempercepat perkecambahan. Petani responden, terutama di Cirebon dan Garut, juga
mencampurkan pestisida dengan benih yang telah ditiriskan. Jenis pestisida yang digunakan diantaranya
adalah Dithane, Preficur, Ridomil, Antracol dan Marshall. Penggunaan pupuk kandang sebagai campuran
media persemaian telah dilakukan oleh sebagian besar responden di Majalengka dan Garut. Sebagian
kecil petani di kedua daerah tersebut juga mencampurkan Furadan ke dalam media persemaian. Pupuk
kandang yang dominan digunakan adalah kambing/domba (Cirebon dan Majalengka) dan ayam (Garut).
Secara umum, petani responden berpendapat bahwa umur bibit yang ideal adalah setelah 26-45 hari di
persemaian. Sebagian kecil petani responden di Cirebon langsung menanam benih cabai di lapangan,
tanpa disemai terlebih dahulu. Biji cabai (3-9 biji) langsung ditanam di antara tanaman bawang dan
setelah berumur 30 hari dilakukan penjarangan. Petani menimbang bahwa hal ini lebih praktis, karena
lahan yang telah mendapat perlakuan pada saat petani menanam bawang merah, dianggap dapat
berfungsi seperti persemaian.

Tabel 4 Media persemaian, perlakuan bibit dan umur bibit (Transplanting media, seed treatment, and seed age)
Uraian Cirebon Majalengka Garut
(Description) % % %
Perlakuan terhadap benih (Seed treatment)
direndam air hangat (soaked in warm water) 41,7 5,0 17,2
direndam air dingin (soaked in cold water) 3,3 23,3 6,9
dijemur (solar dried) 15,0 3,3 -
diberi pestisida (added pesticide) 20,0 5,0 22,4
Media persemaian (Transplanting media)
menggunakan pupuk kandang (adding manure) 40,0 85,0 82,8
menggunakan pestisida (adding pesticide) - 8,3 8,6
Umur bibit (Seed age)
15 - 25 hari (days) 11,7 6,7 3,4
26 - 35 hari (days) 80,0 48,3 43,2
36 - 45 hari (days) 8,3 33,3 50,0
46 - 55 hari (days) - - -
56 - 65 hari (days) - 10,0 3,4
> 65 hari (days) - 1,7 -

8
Pengolahan Tanah dan Jarak Tanam

Pengolahan tanah masih didominasi oleh tenaga manusia. Hanya sebagian kecil responden
(3%) di Garut yang menggunakan traktor untuk persiapan lahan. Sebagian besar petani responden (80%
-95%) menggunakan sistem bedengan (lebih dari satu baris tanaman). Tinggi bedengan atau guludan
bervariasi antara 20 cm - 75 cm, tergantung dari keadaan lahan yang dikaitkan dengan sistem drainase-
nya. Sementara itu, jarak tanam yang digunakan juga sangat beragam mulai 15 cm x 20 cm sampai
dengan 50 cm x 80 cm.

Pemupukan

Jenis pupuk kandang yang dominan digunakan di daerah ekosistem dataran rendah (Cirebon
dan Majalengka) adalah pupuk kandang kambing/domba, sedangkan di daerah ekosistem dataran tinggi
(Garut) adalah pupuk kandang ayam. Pupuk kandang umumnya digunakan sebagai pupuk dasar 7 - 14
hari sebelum tanam, dengan cara (a) dihamparkan sepanjang garitan atau (b) diletakkan pada lubang
tanaman/diantara dua/empat tanaman.
Sebagian besar petani responden melakukan pemupukan minimal sampai lima kali dan hanya
sebagian kecil yang melakukan pemupukan keenam atau ketujuh. Selang waktu pemupukan bervariasi
antara 10-25 hari. Pemberian pupuk buatan dilakukan dengan berbagai cara: (a) membenamkannya
dalam lubang berjarak 5-10 cm dari pokok tanaman, (b) meletakkan pupuk pada lubang di antara 2-4
tanaman, dan (c) melarutkan dalam air, kemudian menyiramkan di sekitar pangkal tanaman. Penelitian
terdahulu di daerah Cirebon dan Majalengka mengklasifikasikan bahwa: (a) penggunaan N - rendah
sampai tinggi, (b) penggunaan P - sedang sampai tinggi, dan (c) penggunaan K - rendah sampai sedang,
jika dibandingkan dengan dosis anjuran. Penelitian ini juga memberikan indikasi adanya ketidak-
seimbangan penggunaan pupuk yang berkaitan dengan kurangnya pengetahuan dasar petani tentang
nutrisi tanaman. Kesimpulan yang ditarik dari survai eksplorasi seperti di atas perlu ditunjang oleh
penelitian teknis spesifik lokasi di lahan petani yang memberikan penekanan pada pengkajian respon
tanaman cabai terhadap pemupukan.

Penggunaan herbisida dan mulsa

Hanya sebagian kecil responden (8,3 %) di Cirebon yang menggunakan herbisida (Goal II E)
untuk menanggulangi gulma. Responden pada umumnya tidak menganggap gulma sebagai masalah
serius, sehingga pengendaliannya cukup secara mekanis. Sementara itu, penggunaan mulsa plastik
hitam (Majalengka 1,7 % dan Garut 3,4 %) dan jerami (Cirebon 6,6 % dan Majalengka 8,3 %) hanya
dilakukan oleh sebagian kecil petani.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Secara umum, petani menetapkan ulat grayak dan trips sebagai dua hama pengganggu utama
pada musim kemarau. Sedangkan pada musim penghujan sebagian besar responden menyebutkan
busuk buah, virus dan trips sebagai penyakit dan hama utama. Oleh karena urutan kepentingan tersebut
masih bersifat sangat tentatif, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh konfirmasi.

9
Tabel 5 Persepsi petani mengenai urutan kepentingan hama dan penyakit cabai pada musim kemarau dan penghujan
(Farmers’ perceptions with regard to the rank of importance of pests and diseases during dry and wet season).
Hama dan Penyakit Cirebon Majalengka Garut
(Pest and Diseases)
musim musim hujan musim musim hujan musim musim hujan
kemarau (dry (wet season) kemarau (dry (wet season) kemarau (dry (wet season)
season) season) season)

Ulat grayak 1 5 2 6 1 4
(Spodopthera litura)
Kutu daun - 7 - - - -
(Myzus persicae)
Trips 2 2 1 3 2 2
(Thrips parvispinus)
Lalat buah 6 4 5 4 6 5
(Dacus dorsalis)
Busuk buah 5 1 6 1 4 1
(Colletotrichum capsici)
Layu 4 6 3 5 3 6
(Fusarium oxysporum)
Virus 3 3 4 2 5 3

Persentase responden yang mengetahui adanya musuh alami (terutama sejenis burung
pemakan ulat) untuk hama cabai berkisar antara 31,6% - 65,0%. Sebagian besar responden melakukan
pengendalian hama penyakit secara mekanis, terutama untuk ulat dan layu. Cara mekanis dilakukan
dengan mematikan telur/larva dan ulat, memusnahkan buah yang busuk karena terserang antraknos atau
lalat buah dan mencabut tanaman muda yang terserang penyakit layu atau virus kemudian disulam
dengan tanaman sehat. Pertimbangan utama untuk melakukan pengendalian mekanis adalah: (a) secara
dini mencegah penyebaran hama dan penyakit cabai dan (b) menghemat penggunaan pestisida. Hal ini
cukup membantu jika dilakukan pada saat yang tepat. Namun demikian, cara pengendalian tersebut
menjadi tidak efektif pada saat intensitas serangan meningkat.

Tabel 6 Pengendalian mekanis hama dan penyakit cabai (Mechanical pest and disease control on hot pepper)
Perlakuan Cirebon % Majalengka% Garut%
(Treatment)
Melakukan pengendalian secara mekanis (Carry out mechanical control)
ya (yes) 88,3 91,7 56,9
tidak (no) 11,7 8,3 43,1
Tindakan yang dilakukan (Practices done)
mematikan telur (get rid off the egg) 81,1 78,2 12,1
mematikan ulat (kill the larvae) 43,4 25,5 42,4
membuang daun/cabang/buah (get rid off leaves/branches/fruits) 41,5 40,0 48,5
mencabut tanaman (get rid off the whole plant) 49,1 52,7 45,5

Penyemprotan pestisida dilakukan secara rutin oleh sebagian besar petani responden
berdasarkan alasan pencegahan. Resiko kegagalan panen, terutama di ekosistem dataran tinggi adalah
pertimbangan kedua terpenting yang mendorong petani melakukan penyemprotan rutin. Sementara itu,

10
beratnya serangan hama penyakit yang seharusnya secara logis mendorong petani untuk meningkatkan
penggunaan pestisida, justru merupakan alasan penting terakhir yang melatar-belakangi penyemprotan
rutin. Menarik untuk dicatat adalah pernyataan petani bahwa penyemprotan rutin dilakukan agar dapat
mengimbangi petani tetangganya. Menurut petani, seandainya penyemprotan rutin tidak dilakukan, maka
resiko terserang hama dan penyakit yang merupakan pindahan dari petani tetangga menjadi sangat
tinggi. Di samping ketersediaan dana, kecenderungan untuk melihat gejala serangan sebelum
memutuskan melakukan pengendalian merupakan alasan utama sebagian kecil responden yang tidak
melakukan penyemprotan rutin.

Tabel 7 Pengendalian secara kimiawi dan alasannya (Chemical pest and disease control and underlying reason of its use)
Metode pengendalian dan alasannya Cirebon Majalengka Garut
(Control method and its reasons) (%) % (%)
Penyemprotan pestisida secara rutin (Routine spraying)
ya (yes) 88,3 68,3 93,1
tidak (no) 11,7 31,7 6,9
Alasan penyemprotan rutin (Reasons for routine spraying)
mencegah serangan (preventive) 90,6 82,9 83,3
memperkecil risiko (minimize the risk) 22,6 36,6 64,8
serangan berat (heavy attack) 13,2 19,5 1,9
mengimbangi petani lain (equalize other farmers) 24,5 14,6 22,2
Alasan penyemprotan tidak rutin (Reasons for not conducting routine spraying)
berdasarkan gejala (based on symptom) 71,4 68,4 75,0
ketersediaan dana (availability of fund) 57,1 15,8 50,0
penghematan biaya (saving the costs) 28,6 42,1 -

Pengamatan lapangan secara teratur, terutama untuk mencermati gejala serangan dan melaku-
kan penaksiran intensitas serangan, telah dilaksanakan oleh sebagian besar responden. Walaupun
demikian, aktivitas tersebut ternyata cenderung diikuti oleh pengambilan keputusan yang lebih menitik-
beratkan pada pengendalian secara kimiawi.

Tabel 8 Pengamatan lapang dan keputusan/tindakan yang diambil (Field observation and control decision making by farmers)
Pengamatan dan pengambilan keputusan Cirebon Majalengka Garut
(Observation and decision making) (%) (%) (%)
Melakukan pengamatan lapang secara teratur (Conducting routine field observation)
ya (yes) 51,6 80,0 55,2
tidak (no) 48,4 20,0 44,8
Macam pengamatan yang dilakukan (Actions taken during observation)
mengamati gejala serangan (observe the symptom) 96,7 91,6 93,8
memperkirakan intensitas serangan (predict the intensity of incidence) 35,5 16,7 18,8
menghitung tanaman layu (count the wilted plant) 25,8 4,2 6,3
Keputusan yang diambil setelah pengamatan (Decisions taken after observation)
menentukan waktu penyemprotan (decide the time to spray) 51,6 56,3 37,5
menentukan jenis pestisida (decide the kind of pesticide) 64,5 46,9 46,9
menentukan dosis pestisida (decide the dosage) 45,2 14,6 53,1
mencabut tanaman layu (get rid off the wilted plants) - 6,3 -

11
Penyemprotan awal dilakukan oleh responden segera setelah benih cabai dipindahkan ke
lapangan atau paling lambat 7-14 hari setelah tanam. Penyemprotan rutin yang dilakukan setiap 3-7 hari
menyebabkan tingginya total volume semprot. Penggunaan pestisida juga semakin bertambah dengan
adanya kecenderungan pemberian dosis yang melebihi rekomendasi. Sebagian besar petani responden
masih melakukan penyemprotan menjelang cabai dipanen. Sampai sejauh mana pola penggunaan
pestisida ini meninggalkan residu bahan beracun pada buah cabai masih belum banyak diketahui.
Penelitian lengkap serta monitoring reguler yang menyangkut residu pestisida pada cabai atau komo-
ditas sayuran secara umum tampaknya semakin mendesak untuk mendapat perhatian lebih besar lagi.
Informasi ini sangat diperlukan oleh konsumen yang cenderung semakin menyadari bahaya bahan
beracun tersebut. Bagi petani sendiri, bahaya yang mungkin timbul dari cara penyemprotan pestisida
tampaknya juga belum sepenuhnya disadari. Hal ini tercermin dari masih banyaknya petani responden
yang tidak memperhatikan penggunaan alat pelindung pada saat melakukan penyemprotan.

Tabel 9 Penyemprotan awal dan akhir, waktu penyemprotan dan penggunaan alat pelindung (First and last spraying, time to
spray and the use of protection equipments)
Uraian Cirebon Majalengka Garut
(Description) (%) (%) (%)
Penyemprotan pertama (First spraying)
1 - 7 hari setelah tanam (days after planting) 56,7 40,0 69,0
8 - 14 hari setelah tanam (days after planting) 30,0 51,7 17,2
15 - 21 hari setelah tanam (days after planting) 8,3 5,0 13,8
> 21 hari setelah tanam (days after planting) 5,0 3,3 -
Penyemprotan terakhir (Last spraying)
1 - 7 hari sebelum panen (days before harvest) 71,7 53,3 72,4
8 - 14 hari sebelum panen (days before harvest) 25,0 40,0 10,4
15 - 21 hari sebelum panen (days before harvest) 3,3 6,7 17,2
Waktu penyemprotan (Time of spraying)
pagi hari (morning) 96,7 91,7 100,0
siang hari (noon) 5,0 8,3 1,7
sore hari (after noon) 18,3 10,0 3,4
Penggunaan alat pelindung (The use of protection equipments)
ya (yes) 50,0 46,5 6,9
tidak (no) 50,0 53,5 93,1

Hampir seluruh responden menyatakan pernah mengalami hasil yang tidak memuaskan dari
penggunaan pestisida. Persepsi petani mengenai penyebab hasil penyemprotan yang tidak memuaskan
tersebut ternyata cukup beragam, bahkan cenderung kontradiktif. Di satu pihak, petani telah menyadari
bahwa hasil penyemprotan yang tidak efektif disebabkan terutama oleh adanya resistensi dari hama dan
penyakit. Hal ini tercermin dari persepsi sebagian petani yang menganggap bahwa jenis pestisida yang
digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit sasaran sudah tidak tepat atau tidak efektif lagi. Di
lain pihak petani juga menyatakan bahwa penyebab kekurang-berhasilan cara pengendalian adalah
karena konsentrasi penggunaan pestisida yang terlalu rendah. Persepsi petani tersebut tampaknya men-
jadi kontradiktif jika dihubungkan dengan kenyataan bahwa salah satu penyebab utama timbulnya resis-
tensi hama dan penyakit sasaran, justru sebagai akibat dari adanya penggunaan pestisida yang berlebih.

12
Tabel 10 Hasil pengendalian kimiawi yang tidak memuaskan, perkiraan penyebab dan tindakan selan jutnya (Unsatisfied result
of chemical pest control, perceived causes of ineffectiveness, and further actions)
Uraian Cirebon Majalengka Garut
(Description) (%) (%) (%)
Menyemprot dan hasilnya tidak memuaskan (Spraying with unsatisfied result)
ya (yes) 98,3 86,7 82,8
tidak ( never) 1,7 13,3 17,2
Penyebab tidak memuaskan menurut persepsi petani (Perceived causes of spray
ineffectiveness)
jenis pestisida kurang tepat (inappropriate selection of pesticides) 15,3 15,3 29,2
konsentrasi terlalu rendah (concentration is too low) 32,2 15,3 39,6
frekuensi penyemprotan kurang (frequency of spraying is too low) - 1,9 16,7
hama/penyakit sudah kebal (pests/diseases are immune) 64,4 46,2 31,3
tidak tahu (do not know) - 15,4 12,5
Tindakan selanjutnya yang dilakukan (Further actions taken)
mengganti atau menambah jenis pestisida (change or add the kind of pesticides) 20,3 30,8 52,1
meningkatkan konsentrasi (increase concentration) 47,5 25,0 62,5
meningkatkan frekuensi (increase frequency of spray) 10,2 17,3 29,2
mencampur pestisida (mix pesticides) 1,7 5,8 4,2
pengendalian mekanis (mechanical control) 15,3 28,8 2,1
tidak ada perubahan (no changes) 15,3 13,5 -

Pada dasarnya, persepsi yang saling berlawanan ini menggambarkan tingginya ketergantungan petani
terhadap cara pengendalian kimiawi. Ketergantungan tersebut direfleksikan dengan tindak lanjut petani
yang cenderung mendorong peningkatan penggunaan pestisida. Walaupun demikian, kemungkinan un-
tuk mengurangi ketergantungan ini tampaknya masih cukup terbuka. Hal ini ditunjukkan oleh sebagian
petani di Cirebon dan Majalengka yang memilih cara mekanis sebagai tindak lanjut pengendalian. Aspek
tersebut perlu lebih dielaborasi dalam rangka pengembangan alternatif pengendalian yang lebih aman.

Tabel 11 Pencampuran pestisida, cara, macam dan alasannya (Pesticide mixing, method, number of pesticides mixed and its
underlying reason)
Uraian Cirebon Majalengka Garut
(Description) (%) (%) (%)
Melakukan pencampuran pestisida (Mixing pesticides)
selalu (always) 61,7 63,3 81,1
kadang-kadang (sometimes) 35,0 8,3 15,5
tidak pernah (never) 3,3 28,4 3,4
Alasan mencampur pestisida (Reasons for mixing pesticides)
agar lebih manjur (more effective) 29,3 27,9 57,1
menghemat tenaga kerja (labor-saving) 34,5 60,5 37,5
mengendalikan bbrp jenis hapen sekaligus (kill some pests/diseases simultaneously) 51,7 58,1 44,6
mencegah hapen lain timbul (prevent damage from other pests/diseases) 18,9 18,6 14,3
Cara pencampuran pestisida (Method of pesticides mixing)
di dalam tangki - semprot (inside the tank - sprayed) 100,0 81,4 76,8
di luar tangki - semprotkan seluruhnya (outside the tank - sprayed entirely) - 9,3 23,2
di luar tangki - sebagian disemprotkan dan sisanya disimpan (outside the tank - sprayed partly - 9,3 -
and the rest is kept for next spraying)
Macam pestisida yang dicampur (Number of pesticides mixed)
2 macam (two kinds) 39,7 51,2 21,4
3 macam (three kinds) 25,8 30,2 25,0
4 macam (four kinds) 22,4 18,6 32,2
> 4 macam (more than four kinds) 12,1 - 21,4

13
Tingginya persentase responden, terutama di Cirebon dan Garut, yang melakukan pencampuran
pestisida dalam mengendalikan hama dan penyakit menunjukkan bahwa hal ini tampaknya semakin
berkembang dikalangan petani. Petani mencampurkan 2 - 6 jenis pestisida, baik di luar maupun di dalam
tangki sebelum disemprotkan. Sebagian responden bahkan menyimpan campuran pestisida tersebut
sebagai persediaan untuk jadual pengobatan berikutnya. Sebagian besar petani beranggapan bahwa
pencampuran pestisida perlu dilakukan untuk mengendalikan beberapa jenis hama/penyakit secara
sekaligus. Penghematan biaya tenaga kerja untuk penyemprotan juga salah satu alasan penting yang
dikemukakan petani berkenaan dengan pencampuran pestisida. Beberapa petani bahkan menyatakan
bahwa pencampuran antara pestisida yang mahal harganya dengan pestisida murah dianggap lebih
ekonomis. Secara umum, tindakan pencampuran pestisida ini tampaknya banyak dipengaruhi oleh
pertimbangan preventif, sehubungan dengan tingginya tingkat resiko kegagalan usahatani cabai.

Panen
Tanaman cabai di Cirebon dan Majalengka (ekosistem dataran rendah) mulai dipanen pada
umur 60 - 80 hari. Sedangkan di Garut (ekosistem dataran tinggi) umur panen cabai agak lebih panjang,
yaitu 100 - 120 hari. Petani responden menyatakan bahwa tanaman cabai dapat dipanen sebanyak 4-15
kali (minimal) atau 10-25 kali (maksimal). Pada umumnya, tanaman cabai dipanen merah oleh petani
responden. Walaupun demikian, jika harga cabai hijau sedang baik, petani juga melakukan panen hijau.

Biaya Produksi dan Pendapatan

Biaya produksi dan pendapatan di ketiga lokasi penelitian menunjukkan variasi yang disebabkan
tidak saja oleh keragaman penggunaan input, tetapi juga adanya perbedaan harga input dan output.
Komponen biaya terbesar pada usahatani cabai ini adalah biaya tenaga kerja. Data yang diperoleh me-
nunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk tenaga kerja di ekosistem dataran rendah hampir
dua kali lipat dari biaya di ekosistem dataran tinggi. Komponen biaya kedua terbesar adalah pengeluaran
untuk pestisida. Walaupun persentase biaya untuk pestisida di Garut merupakan yang tertinggi,

Tabel 12 Biaya produksi, pendapatan kotor dan pendapatan bersih usahatani cabai (Production cost, gross revenue, and net
revenue of hot pepper cultivation)

Cirebon Majalengka Garut


Benih/bibit (Seed) (Rp/ha) 115 430,40 1,8% 49 591,87 1,5% 144 440,52 2,7%
Pupuk buatan (Fertilizer) (Rp/ha) 948 228,46 5,2% 407 899,47 12,6% 792 630,92 15,1%
Pupuk kandang (Manure) (Rp/ha) 24 209,96 0,4% 60 483,96 1,9% 577 320,70 11,1%
Pupuk daun (Foliar fert.) (Rp/ha) 137 820,58 2,2% 55 326,48 1,7% 94 692,27 1,8%
Pestisida (Pesticide) (Rp/ha) 1 415 070,43 22,6% 717 625,82 22,2% 1 339 593,73 25,6%
Tenaga kerja (Labor) (Rp/ha) 2 856 328,11 45,7% 1 415 542,81 43,7% 1 481 544,14 28,3%

Sewa tanah (Land rent) (Rp/ha) 759 040,64 12,1% 532 049,46 16,4% 809 513,81 15,4%

Total biaya (Total cost) (Rp/ha) 6 256 128,58 3 238 529,87 5 239 736,09

Produksi (Yield) (kg/ha) 7 986,61 4 351,88 6 290,63

Pendapatan kotor (Gross income) (Rp/ha) 11 248 957,88 5 034 254,78 8 606 241,96

Pendapatan bersih (Net income) (Rp/ha) 4 992 829,30 1 795 724,91 3 366 505,87

14
tetapi ternyata tidak terpaut jauh dengan Cirebon dan Majalengka. Sementara itu, komponen biaya yang
menunjukkan perbedaan mencolok diantara ketiga lokasi penelitian adalah pengeluaran untuk pupuk
kandang. Penggunaan pupuk kandang (kuantitasnya) untuk usahatani cabai di ekosistem dataran tinggi
terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di ekosistem dataran rendah. Perbandingan biaya produksi
dan hasil per hektar memberikan gambaran tentatif bahwa usahatani cabai di Cirebon dilakukan secara
lebih intensif dibandingkan dengan Majalengka dan Garut.

Lingkungan Produksi Sosial Ekonomi

Penguasaan lahan
Penguasaan lahan pada usahatani cabai di ketiga lokasi penelitian pada umumnya adalah milik
dan sewa. Persentase status milik lebih dominan di Majalengka dan Garut, sedangkan persentase status
sewa lebih dominan di Cirebon. Sementara itu, dalam persentase yang relatif kecil, status bagi hasil
hanya ditemui di Garut. Selama tiga tahun terakhir, sebagian besar responden tidak menemui kesulitan
untuk memperoleh lahan sewa. Kendala utama yang dihadapi adalah nilai sewa yang semakin
meningkat. Luas lahan sebagian besar responden garapan selama tiga tahun terkhir relatif tidak
mengalami perubahan. Persentase petani responden yang lahan garapannya semakin luas ternyata lebih
tinggi dibandingkan dengan responden yang lahan garapannya semakin sempit.

Tabel 13 Penguasaan lahan dan sumberdaya lahan (Land tenure and land resources)

Uraian Cirebon Majalengka Garut


(Description) (%) (%) (%)
Penguasaan lahan (Land tenure):
milik (owned) 21,7 61,7 56,9
sewa (rented) 78,3 38,3 37,9
bagi hasil (cropsharing) - - 5,2
Mencari lahan sewa tiga tahun terakhir (Looking for rented land in the last three years)
mudah (easy) 85,0 71,7 41,4
sukar (difficult) 11,7 13,3 31,1
tidak tahu (do not know) 3,3 15,0 27,5
Luas lahan garapan tiga tahun terakhir (Size of cultivated land in the last three years)
makin luas (getting larger) 13,3 10,0 37,9
makin sempit (getting smaller) 5,0 8,3 12,1
tetap (unchanged) 81,7 81,7 50,0

Sistem bagi hasil dan penggunaan tenaga kerja luar keluarga


Sistem bagi hasil yang berlaku pada dasarnya tergantung pada kesepakatan antara pemilik
lahan dan penggarap. Beberapa sistem bagi hasil yang ditemui: (a) biaya produksi total dibagi dua, (b)
pemilik lahan - bibit dan pupuk buatan; penggarap - tenaga kerja, pupuk kandang dan pestisida, (c)
pemilik lahan - tenaga kerja dan pestisida; penggarap - bibit, pupuk kandang dan pupuk buatan.
Sebagian kecil petani responden yang tidak menggunakan tenaga sewa pada umumnya menggarap
lahan yang relatif sempit, yaitu antara 0,02 - 0,07 hektar, sehingga semua pekerjaan masih dapat

15
ditangani oleh tenaga kerja keluarga. Tenaga kerja luar keluarga yang disewa oleh sebagian besar
responden umumnya terlibat hampir disemua jenis pekerjaan. Kesulitan memperoleh tenaga kerja sewa
biasanya terjadi pada awal musim hujan.

Pasar masukan dan luaran


Toko atau kios sarana produksi merupakan sumber utama petani untuk mendapatkan sarana
produksi. Kontribusi koperasi dalam kepentingan ini ternyata masih relatif rendah. Salah satu jenis
masukan yang dikeluhkan sering sukar diperoleh di Cirebon dan Majalengka, adalah pupuk kandang.
Sebagian besar responden menyatakan bahwa selama tiga tahun terakhir, permintaan cabai
cenderung terus meningkat. Sebagian petani responden di Garut menjual cabai secara tebasan karena:
(a) membutuhkan uang segera, (b) menginginkan hasil usahataninya secara sekaligus, dan (c) menanam
cabai dalam jumlah kecil. Pada umumnya, petani memasarkan hasil panennya kepada pedagang
perantara dengan pembayaran tunai.

Tabel 14 Permintaan dan pemasaran cabai (Demand and marketing of hot pepper)

Uraian Cirebon Majalengka Garut


(Description) (%) (%) (%)
Permintaan selama tiga tahun terakhir (Demand for hot pepper in the last three years):
meningkat (increasing) 93,3 86,7 77,6
menurun (decreasing) 5,0 3,3 -
tetap (constant) 1,7 10,0 22,4
Cara menjual (Selling method):
ditimbang (weighed) 100,0 100,0 70,7
ditebas (sell the whole harvest in the field) - - 29,3
Memasarkan ke (Selling to):
pedagang perantara (middleman/assembly trader) 71,7 68,3 91,7
pasar (bring directly to the market) 28,3 31,7 8,3
Cara pembayaran (Payment method):
tunai (cash) 88,3 91,7 98,3
kemudian (paid later) 11,7 8,3 1,7

Permodalan
Secara umum, hanya sebagian kecil responden yang memanfaatkan bantuan pinjaman dari luar
untuk membiayai usahataninya. Pinjaman dapat berbentuk uang atau sarana produksi tergantung
kesepakatan dengan sumber pinjaman. Persentase peminjam terbanyak adalah petani responden di
Cirebon. Petani dapat memperoleh pinjaman dari pedagang perantara dengan syarat hasil panen harus
dijual ke pedagang tersebut. Secara tidak langsung, pedagang terlibat dalam proses produksi, termasuk
menanggung resiko bersama petani. Namun demikian, pedagang memiliki peluang untuk mendapatkan
keuntungan dan menanggung resiko lebih kecil karena sangat menentukan dalam proses determinasi
harga. Sementara itu, kios saprotan memberikan pinjaman dalam bentuk sarana produksi yang dapat
dibayar kemudian setelah panen.

16
Tabel 15 Permodalan dan sumber modal pinjaman (Capital and source of capital)

Uraian Cirebon Majalengka Garut


(Description) (%) (%) (%)
Meminjam modal (Borrowing money):
ya (yes) 38,3 13,2 26,7
tidak (no) 61,7 86,8 73,3
Sumber (Source):
keluarga/tetangga (family/neighbour) 30,4 54,5 37,5
pedagang perantara (assembly trader) 13,1 - 31,2
kios saprotan (production input kiosk) 34,8 - -
koperasi (cooperative) - 45,5 6,3
bank (bank) 21,7 - 25,0

Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan di ketiga lokasi penelitian tampaknya cukup intensif dan melibatkan cukup
banyak petani responden. Khususnya di ekosistem dataran rendah, responden menyatakan bahwa
kegiatan penyuluhan masih lebih banyak berhubungan dengan usahatani padi dan palawija. Sementara
itu, di ekosistem dataran tinggi penekanan terhadap penyuluhan sayuran lebih dominan dan mencakup
aspek budidaya serta pengendalian hama penyakit. Walaupun demikian, materi penyuluhan masih perlu
terus disempurnakan, terutama dikaitkan dengan keluhan sebagian kecil petani yang menyatakan bahwa
informasi yang diterima terkadang tidak sesuai dengan praktek di lapangan.

Tabel 16 Penyuluhan usahatani sayuran (Extension for vegetable cultivation)

Uraian Cirebon Majalengka Garut


(Description) (%) (%) (%)
Penyuluhan dalam setahun terakhir (Receive extension in the last one year)
ya (yes) 46,7 60,0 67,2
tidak (no) 53,3 40,0 32,8
Bertemu penyuluh setahun terakhir (Meet extension worker in the last one year)
satu kali (once) 21,4 19,4 7,7
lebih dari satu kali (more than once) 78,6 80,6 92,3
Informasi dirasakan membantu (Extension program is beneficial)
ya (yes) 92,9 80,5 92,3
tidak (no) 7,1 19,5 7,7

Kelompok tani dan koperasi


Kelompok tani yang terbentuk di Cirebon dan Majalengka pada umumnya lebih diarahkan untuk
program pengembangan padi, palawija dan tebu. Sementara itu, kelompok tani di Garut, tidak saja
dirasakan responden sangat bermanfaat dalam membantu memecahkan masalah usahatani sayuran

17
yang dihadapi, tetapi juga merupakan wadah untuk kegiatan-kegiatan sosial. Responden yang menjadi
anggota koperasi di ketiga lokasi penelitian ternyata persentasenya masih relatif kecil. Walaupun
demikian, persentase anggota koperasi yang mendapatkan bantuan kredit (kredit usahatani padi di
Cirebon dan Majalengka serta kredit peternakan di Garut) ternyata cukup tinggi. Bantuan kredit untuk
usahatani sayuran tampaknya relatif belum banyak diperoleh petani.

Tabel 17 Keterlibatan di kelompok tani dan koperasi (Involvement in farmer group and cooperative)

Uraian Cirebon Majalengka Garut


(%)
(Description) (%) (%)
Anggota kelompok tani (Member of a farmer group):
53,4
ya (yes) 26,7 65,0
46,6
tidak (no) 73,3 35,0
Menghadiri pertemuan kelompok (Atttending group meeting)
19,4
satu kali (once) 6,3 7,7
80,6
lebih dari satu kali (more than once) 93,7 92,3
Anggota KUD (Member of Village Cooperative Unit)
15,5
ya (yes) 21,7 26,7
84,5
tidak (no) 78,3 73,3
Memperoleh kredit dari KUD setahun terakhir (Get credit from VCU in the last one year)
33,3
ya (yes) 69,2 62,5
66,7
tidak (no) 30,8 37,5

IMPLIKASI HASIL PENELITIAN


TERHADAP PENGEMBANGAN PHT

Mengacu pada sistem produksi cabai di tingkat petani, penelitian yang berorientasi sistem per-
tanaman tumpang-sari/tumpang-gilir perlu mendapat perhatian yang lebih besar lagi dalam merancang
komponen teknologi PHT cabai. Akselerasi penelitian pemuliaan cabai yang diarahkan untuk perbaikan
varietas (resisten terhadap hama penyakit) maupun teknologi produksi benih perlu lebih ditingkatkan
untuk mendukung pengembangan PHT. Pertimbangan resiko yang secara dominan melatar-belakangi
pola penggunaan pestisida perlu diadaptasikan ke dalam proses perakitan komponen teknologi PHT.
Dengan kata lain, faktor resiko perlu dimasukkan sebagai salah satu parameter dalam evaluasi kela-
yakan komponen teknologi PHT. Berbeda dengan varietas baru yang dapat diadopsi petani secara
individual, efektivitas komponen-komponen teknologi PHT sangat dipengaruhi oleh kebersamaan suatu
komunitas untuk menyepakati sistem pengelolaan yang terkoordinasi. Dalam konteks pengembangan
PHT, fungsi dan dinamika kelompok tani yang ada di lokasi sasaran perlu diteliti lebih dini sebelum
komponen teknologi diperkenalkan.

18
KESIMPULAN

• Sebagian besar petani cabai baik di ekosistem dataran rendah maupun dataran tinggi, menanam
cabai secara tumpang-sari/tumpang-gilir. Di samping pertimbangan efisiensi lahan dan biaya, sistem
pertanaman ini dipilih karena umur cabai yang relatif panjang.
• Cabai besar dominan ditanam di dataran rendah, sedangkan cabai keriting lebih dominan di dataran
tinggi. Dari bermacam jenis kultivar cabai yang ditanam, hanya satu kultivar, yaitu Tit Super yang
dikategorikan petani tahan terhadap penyakit busuk buah..
• Penggunaan pupuk kandang di dataran tinggi jauh lebih intensif dibandingkan dengan di dataran
rendah. Sementara itu, aplikasi pupuk buatan dapat mencapai 5-7 kali dan secara umum ternyata
sudah jauh melebihi dosis anjuran.
• Berdasarkan urutan kepentingannya, petani menempatkan ulat grayak dan trips sebagai organisme
pengganggu utama pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan adalah antraknos dan
virus.
• Ketergantungan terhadap cara pengendalian kimiawi tercermin dari penyemprotan rutin yang
dilakukan oleh petani. Pencegahan dan resiko kegagalan panen merupakan pertimbangan utama
yang mendorong petani melakukan penyemprotan rutin. Sementara itu, pencampuran 2 - 6 jenis
pestisida juga merupakan hal yang biasa dilakukan oleh sebagian besar petani.

PUSTAKA

Adiyoga, W. dan Soetiarso, T. A. 1994. Aspek agroekonomi cabai. Makalah disampaikan pada Seminar
Agribisnis Cabai, Agribusiness Club. Jakarta.
Adiyoga, W. 1994. An index for management for potato farms in Wonosobo, Central Java. Buletin
Penelitian Hortikultura, 26(4): 57-62.
Baharsjah, S. dan Rasahan, C. A. 1994. IPM training in Indonesia: A moving towards the second
generation of green revolution. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Dampak Sosial
Ekonomi Program PHT. Bogor.
Basuki, R. S. 1988. Analisis biaya dan pendapatan usahatani cabai merah di Kemurang Kulon, Brebes.
Buletin Penelitian Hortikultura, 26(2): 115-121.
Carlson, G. A. 1970. A decision theoretic approach to crop disease predict-ion and control. American
Journal of Agricultural Economics, 52: 216-223.
Chinnappa, B. N. 1980. Adoption of the new technology in North Arcot District. Dalam B. H. Farmer (Ed.).
Green revolution?: Technology and change in rice-growing areas of Tamil Nadu and Sri Lanka.
The Macmillan Press Ltd. Hongkong.
Gibbons, D. S., De Koninck, R. & Hasan, I. 1980. Agricultural modernization, poverty, and inequality: The
distributional impact of the Green Revolution in regions of Malaysia and Indonesia. Journal of
Southeast Asian Studies, (2): 100-114.
Jamison, D. and Lau, L. 1982. Farmer education and farm efficiency. American Journal of Agricultural
Economics, 64: 116-123.

19
Krejcie, R. V. and Morgan, D. W. 1970. Determining sample size for research activities. Educational and
Psychological Measurement, 30: 607-610.
Mumford, J. D. 1981. Pest control decision making: Sugar beet in England. Journal of Agricultural
Economics, 32(1): 31-41.
Norgaard, R. B. 1976. The economics of improving pesticide use. Annual Rev. of Entomology, 21: 45-60.
Norton, G. A. 1982. A decision analysis approach to integrated control. Crop Protection, 1(2): 147-164.
Rhoades, R. E. 1984. Understanding small-scale farmers in developing countries: Sociocultural
perspectives on agronomic farm trials. Journal of Agronomic Education, 13: 64-68.
Rogers, E. M. 1962. Predicting inovativeness. Sociological Inquiry Journal, 32: 34-42.
Ruttan, V. 1977. The green revolution: Seven generalization. Internat. Development Review, 19: 55-64.
Sastrosiswoyo, S. dan Suhardi. 1988. Penggunaan pestisida pada tanaman bawang merah dan cabai di
kabupaten Brebes, Tegal dan Demak, Propinsi Jawa Tengah. Tidak dipublikasikan.

20