Anda di halaman 1dari 14

Jurnal Hortikultura, Tahun 1999, Volume 8, Nomor (4): 1299-1311

STRATEGI PETANI DALAM PENGELOLAAN RESIKO PADA USAHATANI


CABAI
Witono Adiyoga dan T. Agoes Soetiarso
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu no 517, Lembang-Bandung 40391

ABSTRAK. Adiyoga, W. dan T. A. Soetiarso. 1997. Strategi petani dalam pengelolaan resiko pada
usahatani cabai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi petani cabai dalam menghadapi
resiko usahatani dan implikasinya terhadap usaha perbaikan atau perancangan teknologi baru. Survai
dilaksanakan pada bulan Desember 1995 sampai Januari 1996 di sentra produksi cabai Brebes, Jawa Tengah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk mengadopsi pola tanam dominan (bawang merah dan cabai
- bawang merah - padi) serta memilih sistem produksi tumpang gilir (bawang merah dan cabai) merupakan
pencerminan strategi pengelolaan resiko ex ante yang ditempuh petani. Sementara itu, strategi pengelolaan resiko
interactive dilaksanakan melalui penggunaan masukan (pupuk dan pestisida) yang cenderung berlebih, karena
petani menganggap kedua jenis masukan tersebut bersifat mengurangi resiko. Sedangkan jika terjadi kegagalan
yang mengganggu sumber pendapatan keluarga dan keberlanjutan usahatani, petani cenderung memilih menjual
sebagian aset yang dimilikinya sebagai manifestasi strategi pengelolaan resiko ex post. Beberapa implikasi penting
dari penelitian ini adalah: (1) perancangan teknologi harus mempertimbangkan cabai sebagai salah satu komponen
dalam sistem produksi tumpang gilir, (2) perbaikan teknologi harus lebih diarahkan untuk meningkatkan ketahanan
sistem terhadap kejutan yang terjadi pada akhir musim, sekaligus meningkatkan respon sistem terhadap kejutan
pada awal atau pertengahan musim, (3) proses perancangan teknologi harus melibatkan berbagai simulasi agro-
ekosistem (lingkungan produksi) yang dihadapi petani, dan (4) berdasarkan asumsi bahwa petani pada umumnya
penolak resiko, rancangan percobaan yang digunakan dalam pengujian-pengujian teknologi, secara implisit harus
mengandung informasi mengenai variabilitas dan ketidak-simetrisan distribusi probabilitas luaran.

Kata kunci: Cabai; Tumpang gilir; Resiko; Usahatani.

ABSTRACT. Adiyoga, W. and T. A. Soetiarso. 1997. Farmers’ strategy in managing risk on hot pepper
farming. The objective of this study was to identify hot pepper farmers’ risk management strategy and its
implications on the effort for improving and generating new technology. A survey was conducted in Brebes, Central
Java from December 1995 to January 1996. Results show that farmers’ decisions to adopt the existing dominant
cropping pattern (shallot and hot pepper - shallot - rice) and to choose sequential cropping system (shallot and hot
pepper) are part of their ex ante risk management strategy. As the season progresses, farmers employ their
interactive risk management method by using inputs (fertilizers and pesticides) intensively, even tends to be
excessive, since those two input are perceived by farmers as risk reducing. Meanwhile, when their crop fails, the
main ex post risk management method used by farmers is mostly to sell some of their assets. Some important
implications resulted from this study are: (1) new technology should be designed by considering hot pepper as a
crop in sequential cropping system, not as a crop for monoculture, (2) in designing technology, more emphasis
should be placed on increasing system resistance to late season shocks, while increasing system responsiveness
to early and mid-season shocks, so that the technology can provide farmers with greater flexibility, (3) the process
of technology design should involve more simulations on farmer’s circumstances, and (4) assuming that most
farmers are moderately risk averse and most crop yield distributions are asymmetric, design of trials should provide
information for documenting not only the variability, but also the skewness of distributions.

Key words: Hot pepper; Sequential cropping; Risks; Farming.

1
Program pengembangan usahatani cabai merah tidak lagi semata-mata ditujukan untuk
meningkatkan produksi per hektar, tetapi lebih ditekankan kepada pencapaian sasaran peningkatan
pendapatan petani. Pendekatan yang dipilih untuk mencapai sasaran tersebut adalah pengembangan
usahatani yang berorientasi agribisnis (Adiyoga dan Soetiarso, 1994). Salah satu prinsip yang menempati
urutan pertama dalam pengembangan agribisnis adalah ketersediaan teknologi baru tepat guna dan
berkelanjutan. Dalam menerima teknologi baru tersebut, petani sebenarnya dihadapkan kepada ketidak-
pastian yang menyangkut kesesuaian teknologi dengan sumberdaya dan kemampuan manajerial yang
mereka miliki. Antisipasi petani terhadap kegagalan usahatani merupakan faktor penting dalam proses
pengambilan keputusan. Strategi yang ditempuh dalam menghadapi ketidak-pastian ini dapat
mengkondisi-kan perilaku petani jika dihadapkan kepada pilihan atau alternatif baru. Oleh karena itu,
informasi yang menyangkut strategi pengelolaan resiko sangat diperlukan agar teknologi baru yang
dikembangkan dapat berdampak optimal.
Ketidak-mungkinan untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi luaran usahatani
menghadapkan petani kepada resiko atau ketidak-pastian usaha. Di samping itu, karakteristik petani di
Indonesia didominasi oleh skala usaha kecil, struktur non-perusahaan dan kesempatan yang sangat
terbatas untuk melakukan diversifikasi usaha. Sebagai akibat dari struktur yang ada, resiko usahatani
lebih banyak terkonsentrasi di pihak petani kecil secara individual (Barry, 1984). Sementara itu,
rendahnya elastisitas harga dan pendapatan yang dihadapkan kepada ketidak-pastian iklim serta faktor
lain yang tidak dapat dikontrol, dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi tajam untuk harga luaran.
Terlebih lagi, petani secara individu tidak memiliki atau memiliki kapasitas yang sangat terbatas dalam
mempengaruhi harga-harga masukan dan luaran. Kombinasi dari berbagai faktor yang mengandung
ketidak-pastian ini menempatkan petani pada posisi sulit untuk memperbaiki tingkat efisiensi dan
kesejahteraannya (Zavaleta et al., 1984).
Lima sumber utama resiko usaha di sektor pertanian adalah: (a) resiko produksi atau teknis, (b)
resiko pasar atau harga, (c) resiko teknologi, (d) resiko legal atau sosial, dan (e) resiko karena kesalahan
manusia (Sonka dan Patrick, 1984). Kelima sumber resiko tersebut dapat menimbulkan efek jangka
pendek maupun jangka panjang terhadap usahatani. Variabilitas pendapatan tahunan dapat
mengganggu usahatani terutama dikaitkan dengan kemungkinan kekurangan modal tunai untuk musim
tanam tertentu. Dengan demikian, berbagai resiko di atas dapat menimbulkan variabilitas kelayakan
usaha serta ukuran keragaan usahatani jangka panjang lainnya.
Respon petani terhadap resiko dapat dikategorikan menjadi: (a) usaha yang diarahkan untuk
mengendalikan kemungkinan timbulnya resiko, dan (b) tindakan yang ditujukan untuk mengurangi
dampak resiko (Jolly, 1983). Dalam usaha mengontrol sumber resiko, pengambil keputusan harus
memilih himpunan distribusi probabilitas yang paling mungkin dihadapi. Keputusan-keputusan yang
diambil dapat berupa: pemilihan jenis usaha, diversifikasi usaha, pemilihan pasar, keikut-sertaan dalam
program pemerintah dan penentuan skala usaha. Sementara itu, jenis respon yang kedua tidak
berdampak langsung terhadap distribusi probabilitas yang dihadapi pengambil keputusan. Pada
dasarnya, respon tersebut sangat berpengaruh terhadap kapasitas usahatani untuk tetap bertahan
menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan atau untuk memanfaatkan peluang seoptimal mungkin
dalam kondisi yang menguntungkan. Strategi yang ditempuh dapat meliputi pemilihan struktur finansial,
pencadangan dana tunai dan peningkatan produktivitas atau efisiensi unit usahatani.
Respon petani terhadap goncangan/kejutan yang dihadapi usahatani dapat dibedakan menjadi:
(a) respon sebelum terjadi goncangan -- ex ante, (b) respon pada saat terjadi goncangan -- interactive,
dan (c) respon setelah terjadi goncangan -- ex post (Matlon, 1991). Respon yang pertama dirancang
untuk mempersiapkan usahatani agar tidak berada pada posisi yang terlalu rawan pada saat goncangan
terjadi. Respon pada saat terjadi goncangan melibatkan realokasi sumberdaya agar dampak resiko
terhadap produksi dapat diminimalkan. Sedangkan respon setelah goncangan diarahkan untuk
2
meminimalkan dampak berikutnya. Ketiga jenis respon tersebut saling bergantung satu dengan yang
lainnya (respon yang satu merupakan fungsi dari respon yang lain). Dengan demikian, pendekatan sistem
yang dinamis diperlukan agar perilaku petani dalam mengelola resiko dapat tergambarkan secara lebih
lengkap.
Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa petani pada umumnya berperilaku sebagai penghin-
dar/penolak resiko (Binswanger, 1980; Dillon dan Scandizzo, 1978). Perilaku tersebut mengindikasikan
bahwa petani lebih menyukai perencanaan usahatani yang dapat memberikan rasa aman walaupun
harus mengorbankan sebagian pendapatannya. Sampai sejauh mana proposisi tersebut berlaku untuk
petani cabai merah di Indonesia yang masih dikategorikan subsisten dalam penggunaan masukan
(Adiyoga dan Soetiarso, 1994) merupakan topik yang menarik untuk dikaji. Terlebih lagi jika dikaitkan
dengan impli-kasinya terhadap usaha pengembangan teknologi baru. Berdasarkan uraian tersebut,
diduga strategi petani dalam menghadapi resiko dapat dikelompokkan menjadi strategi pengelolaan
resiko yang bersifat ex ante, interaktif dan ex-post dan implementasi strategi ini secara langsung
tercermin pada teknik budidaya cabai yang dilakukan petani.
Penelitian ini bertujuan untuk (a) mengidentifikasi strategi petani cabai dalam menghadapi resiko
usahatani yang berkaitan dengan variabilitas luaran, biaya produksi dan harga luaran, dan (b) mengiden-
tifikasi berbagai implikasi dari faktor resiko dalam usaha pengembangan teknologi baru usahatani cabai.

METODOLOGI PENELITIAN

Pemilihan lokasi dan responden penelitian :

Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan: (a) potensinya sebagai sentra
produksi cabai merah, dan (b) pola pengusahaan yang dilakukan terus menerus dari tahun ke tahun.
Mengacu pada Data Bank (LEHRI dan ATA-395, 1992), kabupaten Brebes, Jawa Tengah ditetapkan
sebagai lokasi penelitian. Kriteria yang sama digunakan untuk memilih unit lokasi penelitian yang lebih
kecil, yaitu kecamatan Wanasari (desa Tegal Gandu dan Cisalam). Penelitian dilaksanakan dari bulan
Desember 1995 sampai dengan Januari 1996. Target populasi dari penelitian ini adalah petani yang
menanam/mengusahakan cabai merah dari tahun ke tahun. Berdasarkan kriteria tersebut, 20 orang
petani responden dipilih secara acak sederhana.

Pengumpulan data :

Data yang diperlukan akan diperoleh melalui penelitian survai. Rancangan survai yang digunakan
adalah rancangan perbandingan grup statis -- static group comparison design (Kidder dan Judd, 1986).
Melalui rancangan ini, penelitian diarahkan untuk memperoleh penjelasan dan interpretasi hubungan
antara berbagai peubah yang diamati. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti tahapan: (a) survai
pendahuluan dan (b) survai utama. Survai pendahuluan mencakup kegiatan: pemilihan lokasi dan
responden, uji coba kuesioner dan pengumpulan data sekunder. Sedangkan survai utama diarahkan
untuk menghimpun data primer melalui wawancara dengan penggunaan kuesioner. Daftar pertanyaan
yang disusun terutama mencakup: (a) karakteristik petani responden, (b) aspek budidaya dan pola
tanam, (c) masukan dan luaran usahatani, dan (d) perilaku petani dalam mengelola resiko. Untuk
memperoleh konfirmasi mengenai data primer yang diperoleh dari petani responden, diskusi kelompok
dengan responden kunci (penyuluh, kontak tani, petani andalan) juga dilaksanakan.

3
Analisis data :

Data yang dihimpun dari pertanyaan-pertanyaan tertutup dianalisis dengan menggunakan


statistika deskriptif (Tukey, 1974). Sementara itu, data yang berasal dari respon pertanyaan-pertanyaan
terbuka diolah dengan menggunakan analisis isi (Scott, 1975).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Beberapa karakteristik responden yang dikumpulkan sengaja dibatasi untuk berbagai karakteristik
yang dianggap paling berpengaruh terhadap strategi pengelolaan resiko yang dilakukan petani. Tabel 1
menunjukkan bahwa pengalaman petani responden dalam mengusahakan cabai cukup bervariasi.
Namun demikian, proporsi petani yang memiliki pengalaman di bawah dan di atas 10 tahun, ternyata
sama. Hal ini memberikan indikasi bahwa cabai sejak lama telah diusahakan dan dipilih oleh petani
secara reguler (setiap tahun) sebagai salah satu sumber pendapatan. Pengalaman tersebut juga
mencerminkan tingkat familiaritas petani yang cukup tinggi dalam mengusahakan cabai, yang sangat
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, cara menghindari resiko dan tingkat adopsi inovasi.
Kisaran luas pengusahaan terendah adalah 0,125-0,475 ha (rata-rata 0,22 ha) dengan proporsi
petani yang lebih tinggi pada kisaran 0,10-0,25 ha. Sementara itu, kisaran luas pengusahaan tertinggi
adalah 0,25-1,00 ha (rata-rata 0,69 ha) dengan proporsi petani yang lebih tinggi pada kisaran 0,51-1,00
ha. Untuk cabai yang merupakan komoditas komersial, kisaran terendah maupun tertinggi di atas
mengindikasikan bahwa petani di lokasi penelitian masih tergolong ke dalam kategori petani kecil.
Hubungan antara luas lahan dengan strategi pengelolaan resiko sebenarnya dipengaruhi juga oleh
faktor-

Tabel 1 Karakteristik Responden Petani Cabai, Kec. Wanasari, Brebes 1996 (Characteristics of hot pepper farmers, Kec.
Wanasari, Brebes 1996)
Karakteristik %
(Characteristics) n = 20
1. Pengalaman mengusahakan cabai (Experience in cultivating hot pepper):
1 - 10 tahun/years 50
11 - 20 tahun/years 35
21 - 30 tahun/years 15
2. Kisaran luas tertinggi pengusahaan cabai (Range of largest size in hot pepper cultivation):
0,25 - 0,50 ha 35
0,51 - 1,00 ha 65
3. Kisaran luas terendah pengusahaan cabai (Range of smallest size in hot pepper cultivation:
0,10 - 0,25 ha 80
0,26 - 0,50 ha 20
4. Status penguasaan lahan (Land tenure status):
milik - owned 50
sewa - rented 15
bagi hasil - sharecropping 10
milik dan sewa - owned and rented 15
sewa dan bagi hasil - rented and sharecropping 10
5. Keikut-sertaan dalam pelatihan budidaya sayuran (Participation in vegetable training):
pernah - yes 35
tidak pernah - never 65
4
faktor lain yang berkaitan dengan produktivitas lahan bersangkutan. Namun demikian, secara umum,
semakin sempit luas lahan, semakin rentan pula posisi petani terhadap dampak resiko. Ketidak-stabilan
pendapatan usahatani, khususnya bagi petani kecil, secara langsung dapat mengancam eksistensi
usahatani sebagai sumber utama pendapatan keluarga. Sesuai dengan Kebede (1988), strategi yang
ditempuh petani cenderung mengarah kepada elemen-elemen pengelolaan yang mencerminkan perilaku
menolak resiko.
Status penguasaan lahan di lokasi penelitian cukup bervariasi, tetapi masih didominasi oleh status
milik. Sementara itu, persentase petani yang melakukan bagi hasil, yaitu status penguasaan yang sering
dianggap sebagai salah satu strategi petani untuk berbagi resiko, ternyata hanya sekitar 10%. Hasil
wawancara menunjukkan bahwa status penguasaan bagi hasil bukannya tidak diminati oleh petani
(walaupun petani mengetahui bahwa status penguasaan bagi hasil ini dapat mengurangi resiko yang
dihadapi), tetapi penawarannya (supply) yang memang relatif rendah. Pemilik tanah (landlord) lebih
tertarik untuk menyewakan tanahnya, karena resiko yang dihadapi lebih kecil. Menghadapi kondisi
demikian, tidak ada pilihan lain bagi petani yang tidak memiliki lahan (landless) selain melakukan sewa
sebagai satu-satunya cara untuk melakukan usahatani.
Keikut-sertaan dalam pelatihan budidaya sayuran memberikan kesempatan bagi petani untuk
lebih banyak menyerap informasi dari luar yang dapat membantu petani dalam mengidentifikasi,
memahami dan mengukur resiko usahatani. Hasil survei menunjukkan bahwa baru 35% responden yang
menyatakan pernah mengikuti pendidikan informal bersifat pelatihan, khususnya dalam budidaya
sayuran, misalnya sekolah lapang pengendalian hama terpadu atau program latihan lainnya yang
dirancang oleh penyuluh. Sebenarnya kaitan antar berbagai program pelatihan di atas dengan strategi
pengendalian resiko masih bersifat tidak langsung, karena tidak satupun program-program tersebut
dirancang untuk memberikan pelatihan mengenai pengambilan keputusan usahatani yang selalu harus
berhadapan dengan faktor ketidak-pastian.

Persepsi Petani Terhadap Resiko Usahatani

Perbedaan pengertian antara resiko dan ketidak-pastian belum pernah terdefinisi dengan jelas,
bahkan dalam penggunaan praktisnya, kedua istilah tersebut cenderung dipakai untuk maksud yang
sama (Heyer, 1972; Kennedy dan Francisco, 1974). Resiko seringkali diartikan sebagai suatu keadaan
dari gambaran kejadian yang bersifat tidak pasti atau derajat ketidak-pastian yang terjadi pada situasi
tertentu. Sedangkan ketidak-pastian diartikan sebagai suatu kisaran keadaan yang memastikan bahwa
probabilitas absolut tidak akan pernah terjadi, seperti halnya pada kasus resiko. Dalam tulisan ini, istilah
yang akan sering digunakan adalah resiko, yang secara terminologis dapat diartikan sebagai
kemungkinan kehilangan atau variabilitas kemungkinan kejadian (Dillon dan Anderson, 1971). Tabel 2
menguraikan pengertian resiko berdasarkan persepsi petani. Berdasarkan analisis isi (Tabel 2), persepsi
petani mengenai resiko (terutama kategori jawaban a, b dan c) secara implisit menyatakan bahwa resiko
adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya ketidak-stabilan produksi dan pendapatan yang
cenderung menimbulkan kerugian. Sebagian kecil petani (15%) berpendapat bahwa resiko atau
kemungkinan mengalami kerugian tersebut dapat dikendalikan secara preventif (pengaturan pola
tanam, waktu tanam dan luas penanaman). Sementara itu, hanya 25% dari responden petani yang
tidak menghubungkan resiko secara langsung dengan kemungkinan kerugian, tetapi menganggapnya
sebagai suatu konsekuensi yang harus diterima (pengeluaran untuk input bibit, tenaga kerja, pestisida
dan pupuk) jika hendak mengusahakan cabai. Dalam kasus ini, sebagian besar petani (55%)
menganggap bahwa resiko berkaitan dengan kemungkinan mengalami kerugian. Dengan demikian,
seperti dinyatakan oleh Bond dan Wonder (1980), pada dasarnya petani menganggap resiko sebagai
penyimpangan atau deviasi dari hasil yang diharapkan (expected outcome).
5
Tabel 2 Persepsi petani mengenai resiko usahatani cabai (Farmers' perceptions regarding risks in hot pepper farming)
No Persepsi Petani (%)
(Farmers’ Perceptions) (n=20)
1. Resiko menurut persepsi petani (Risk as perceived by farmers):
• suatu ukuran penyebab terjadinya penyimpangan dari produksi cabai yang diharapkan (things that may 5
cause the occurrence of unexpected low hot pepper production )
• semua hal yang cenderung menjurus kepada terjadinya kerugian usahatani cabai (everything that may 55
result in the financial loss of hot pepper farming)
• semua hal yang dapat membahayakan usahatani cabai, tetapi dapat dicegah atau dikurangi 15
dampaknya jika diwaspadai sejak awal (everything that may endanger the profitability of hot pepper farming, however
the impacts can be prevented or reduced if farmers are cautious from the beginning)
• konsekuensi yang membebani petani jika hendak berusahatani cabai, misalnya menyediakan modal, 25
sarana produksi dsb. (consequences for farmers in cultivating hot pepper, such as providing capital, making inputs
available, etc.)
2. Usahatani cabai yang dikategorikan gagal menurut persepsi petani (Farming failure as perceived by
farmers):
. • produksi cabai yang dihasilkan relatif rendah (relatively low yield of production) 45
• harga cabai yang diterima relatif rendah (relatively low price of output) 10
• produksi dan harga cabai keduanya relatif rendah (relatively low yield and price of output) 45
3. Tingkat resiko usahatani menurut persepsi petani (Risk of hot pepper farming as perceived by farmers):
• tinggi (high) 35
• sedang (moderate) 40
• rendah (low) 25
4. Meskipun menanam cabai dianggap beresiko, petani masih tetap mengusahakannya karena (Farmers’
reasons for cultivating hot pepper, even though it is very risky):
• dampak resiko tersebut masih dapat dikurangi atau dicegah (risk impacts can be reduced or prevented) 20
• tidak ada pilihan lain, sehingga apapun resikonya cabai tidak dapat ditinggalkan (experience has shown that 45
there is a limited choice)
• pengusahaan tanaman lain mengandung tingkat resiko yang jauh lebih tinggi (cultivating other crops is 35
considered riskier)

Walaupun faktor harga produk juga cukup menentukan, secara dominan petani menganggap
kegagalan produksi (hasil per satuan luas rendah) sebagai kriteria utama untuk mengkategorikan
keberhasilan atau kegagalan usahatani. Dengan kata lain, jika produksi normal atau tinggi, tetapi
harga rendah, petani cenderung tidak mengklasifikasikannya sebagai kegagalan usahatani. Meskipun
dihadapkan kepada berbagai kendala yang bersifat alami, petani menganggap bahwa keberhasilan
produksi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (modal, tenaga kerja, kemampuan
pengelolaan, dsb), yang pada batas-batas tertentu masih mungkin dikendalikan secara individual.
Rendahnya tingkat produksi yang merupakan akibat dari ketidak-berhasilan untuk mengatasi faktor-
faktor internal tersebut dianggap oleh petani sebagai kegagalan usahatani. Sementara itu, harga
produk yang diharapkan seringkali berbeda dengan harga yang terjadi pada saat panen. Untuk petani
skala kecil, harga produk bukanlah faktor yang dianggap paling penting dalam memilih komoditas.
Sejauh kegiatan usahataninya dirasa dapat mencukupi kebutuhan keluarga, maka pemilihan jenis
tanaman atau kombinasi tanaman tidak terlalu tergantung kepada kekuatan pasar/harga (Wolgin,
1985). Terlebih lagi, petani juga cenderung menganggap harga sebagai faktor eksternal yang secara
individual kecil kemungkinannya untuk dikendalikan.
Hanya 25% responden (terutama petani dengan pengalaman mengusahakan cabai antara 11-
20 tahun) menyatakan bahwa tingkat resiko usahatani cabai rendah, sedangkan sebagian besar
responden lainnya cenderung menggolongkan sedang sampai tinggi. Perbedaan persepsi mengenai
tingkat resiko ternyata tidak berpengaruh terhadap keputusan petani untuk mengusahakan cabai.
Sebagian besar petani (45%) menyatakan bahwa apapun resikonya, usahatani cabai tidak dapat
ditinggalkan. Hal ini terutama disebabkan oleh lingkungan produksi yang cocok serta sistem tumpang-
gilir bawang merah dan cabai yang merupakan komponen pola tanam dominan.
6
Persepsi Petani Mengenai Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Resiko Usahatani

Sebagian besar petani responden (90%) menanam cabai satu kali dalam setahun, sedangkan
sebagian kecil lainnya (10%) menanam lebih dari satu kali. Selama tiga tahun terakhir, persentase
rata-rata kejadian petani memperoleh keuntungan, impas dan mengalami kerugian secara berturut-
turut adalah 56,7%, 6,6% dan 36,7%. Dengan kata lain, perbandingan antara kemungkinan
memperoleh keuntungan dengan mengalami kerugian adalah 3:2. Perbandingan ini menggambarkan
bahwa tingkat resiko yang dihadapi petani dalam mengusahakan cabai sangat tinggi, terutama jika
ditinjau secara parsial per komoditas (monokultur/bukan dalam konteks pola tanam setahun).
Beberapa faktor yang menurut petani berperanan penting dalam kaitannya dengan resiko
usahatani dapat diklasifikasikan menjadi: faktor eksternal (iklim, hama penyakit, harga sarana
produksi, harga luaran) dan faktor internal (ketersediaan modal dan pengelolaan). Serangan hama
penyakit dinyatakan sebagai faktor urutan pertama yang paling berpengaruh terhadap resiko usahatani
cabai dan diikuti oleh harga luaran pada urutan kedua. Hal ini tampaknya sejalan dengan persepsi
petani yang lebih cenderung menyatakan bahwa usahatani cabai dikategorikan gagal seandainya hasil
per satuan luas rendah. Lebih jauh lagi, persepsi di atas memberikan penjelasan menyangkut pola
penggunaan pestisida oleh petani yang cenderung berlebihan, dalam mengendalikan hama penyakit.
Sementara itu, dari kedua faktor internal (diasumsikan lebih mudah untuk dikendalikan, sehingga
diduga akan menempati dua urutan terakhir), yaitu ketersediaan modal dan pengelolaan, ternyata
hanya pengelolaan yang urutan kepentingannya dipersepsi petani sejalan dengan dugaan awal.
Sesuai dengan karakteristik petani yang tergolong ke dalam kategori petani skala kecil, hal ini
mengindikasikan bahwa ketersediaan modal ternyata masih merupakan salah satu kendala yang
cukup penting.

Tabel 3 Persepsi petani mengenai urutan kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap resiko (Farmers'
perceptions with regard to the importance of some factors that influence the occurrence of risk)
Persepsi petani menyangkut urutan kepentingan Ranking
Faktor untuk setiap faktor (The rank of importance as total
(Factors) perceived by farmers) (Total rank)
(%) (n=20)
I II III IV V VI
• iklim (climate) 5 15 25 40 15 - IV
• hama penyakit (pests and diseases) 65 30 - 5 - - I
• harga sarana produksi (price of inputs) - - - 5 70 25 V
• harga output (price of output) 25 50 25 - - - II
• ketersediaan modal (funds/capital availability) - 5 45 40 10 - III
• pengelolaan (management) 5 - 5 10 5 75 VI

Strategi Pengelolaan Resiko Ex-ante

Beberapa strategi pengelolaan resiko yang ditempuh petani sebelum terjadinya kejutan (shock)
pada dasarnya ditujukan untuk memperkecil variabilitas penerimaan (net revenue). Tabel 4
menunjukkan bahwa pola tanam: padi - bawang merah dan cabai - bawang merah, diikuti oleh semua
petani responden. Strategi ini ditempuh berdasarkan pengalaman 10 tahun dalam mengusahakan
cabai yang memberikan acuan bahwa pola tanam di atas sampai saat ini masih merupakan pilihan
7
terbaik dan memiliki tingkat resiko terendah. Hal ini juga tercermin dari berbagai alasan yang
dikemukakan petani menyangkut latar belakang pemilihan pola tanam tersebut.
Khusus untuk cabai, sistem produksi yang dipilih oleh semua petani responden adalah sistem
tumpang gilir (sequential cropping) dengan bawang merah. Cabai ditanam setelah bawang merah
berumur satu bulan. Ditinjau dari aspek pengendalian resiko, strategi tersebut memiliki beberapa
keunggulan dibandingkan dengan sistem produksi monokultur. Dari segi fisio-teknis, sistem tumpang
gilir memanfaatkan lahan dan energi sinar matahari secara lebih baik, karena sistem pertanaman akan
menempati lahan dalam waktu yang lebih lama. Secara implisit, hal ini berarti meningkatkan foto-
sintesis serta memperbaiki efisiensi pemanfaatan air dan unsur hara. Di samping itu, instabilitas hasil
yang disebabkan oleh cekaman lingkungan maupun serangan hama penyakit secara keseluruhan
dapat dikurangi oleh karena sistem terdiri dari dua spesies tanaman yang berbeda. Dari segi sosio-

Tabel 4 Strategi pengelolaan resiko ex-ante (Ex-ante risk management strategy)


No Uraian %
(Description) (n=20)
1. Pola tanam setahun (Yearly cropping system): 100
o padi (rice) : bulan (month) 10, 11 atau 12
o bawang merah (shallot) : bulan (month) 2, 3 atau 4
o cabai (hot pepper) : bulan (month) 3, 4 atau 5
o bawang merah (shallot) : bulan (month) 7, 8 atau 9
2. Alasan mengikuti pola tanam di atas secara konsisten dalam lima tahun terakhir (Reasons for
consistently following the existing cropping system in the last five years) :
o rotasi tanaman yang paling menguntungkan (experience has shown that it is the 40
most profitable crop rotation)
o sesuai dengan kondisi iklim setempat (suitable to local climate) 35
o jika berbeda, mengundang serangan hama (if it is different, it may invite pest 25
attack)
3. Sistem produksi cabai yang digunakan (Hot pepper production system):
o monokultur (monocropping) -
o tumpang sari atau tumpang gilir (multiple cropping or sequential cropping) 100
4. Alasan menggunakan sistem produksi di atas (Reasons for adopting the production system):
o secara keseluruhan memberikan pendapatan bersih yang lebih tinggi 20
dibandingkan dengan sistem monokultur (in general, it provides higher net income
as compared to monocropping)
o penggunaan input (terutama lahan dan tenaga kerja) yang lebih efisien 20
(input use, especially land and labor, is more efficient)
o saling menutupi sebagian kerugian jika salah satu tanaman kurang 25
berhasil (crops are compesating to each other, if one of them fails)
o pertanaman cabai menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik (hot pepper 35
grows very well)
5. Jumlah atau jenis varietas cabai yang digunakan (Number of hot pepper varieties used):
o selalu varietas tunggal pada semua lahan yang diusahakan (always single 65
variety in all parcels cultivated)
o lebih dari satu varietas pada lahan/hamparan yang sama (more than one 15
variety in the same parcel cultivated)
o lebih dari satu varietas pada lahan/hamparan yang berbeda (more than one 20
variety in different parcel cultivated)
6. Sumber dari seluruh atau sebagian besar bibit/benih cabai yang digunakan (Source of hot
pepper seeds):
o sendiri (own-produced) 65
o orang lain (buy from others) 35
7. Banyaknya lokasi/persil pertanaman cabai dalam setahun (Number of locations/parcels
cultivated for hot pepper in a year):
o hanya ada di satu lokasi (only one) 45
o ada di beberapa atau lebih dari satu lokasi (more than one) 55
8
ekonomis, sistem tumpang gilir memungkinkan penggunaan tenaga kerja dan modal produksi secara
lebih efisien. Sistem tersebut memungkinkan pengolahan tanah (untuk dua cabang usaha) yang padat
tenaga kerja hanya dilakukan satu kali serta penggunaan input eksternal yang lebih hemat (misalnya
pupuk, kemungkinan pemborosan akibat pencucian/leaching dapat ditekan). Sementara itu, dua
cabang usaha (bawang merah dan cabai) yang menopang sistem tersebut juga dapat saling menutupi
jika salah satu di antaranya mengalami kerugian.
Diversifikasi varietas sebenarnya juga merupakan salah satu metode pengelolaan resiko ex
ante. Namun demikian, tabel 4 memperlihatkan bahwa hanya sebagian kecil petani responden (35%)
yang menggunakan lebih dari satu varietas pada lahan yang sama atau pada lahan yang berbeda. Hal
ini menunjukkan bahwa ketersediaan varietas yang menawarkan karakteristik spesifik (umur panen,
ketahanan terhadap hama penyakit, ketahanan terhadap cekaman lingkungan) jumlahnya sangat
terbatas. Dalam kondisi seperti ini, petani cenderung bertumpu pada varietas tunggal (Tit Super) yang
dominan digunakan, karena secara lokal spesifik telah teruji kelayakannya.
Untuk mengurangi resiko kegagalan, sebagian besar petani (65%) memilih bibit yang diproduksi
sendiri dengan anggapan bahwa di samping kualitasnya lebih terjamin, petani juga dapat menghemat
pengeluaran bibit. Preferensi ini terutama dilatar-belakangi keyakinan akan kualitas bibit yang diseleksi
oleh petani sendiri dari pertanaman sebelumnya. Sementara itu, sebagian petani lain menggunakan
bibit dari luar (membeli), terutama karena pertanaman sebelumnya dianggap kurang berhasil.
Keputusan untuk membeli bibit dari luar pada umumnya diambil jika petani bersangkutan mengetahui
kondisi yang baik dari pertanaman sumber bibit tersebut di lapangan.Walaupun dalam luasan yang
relatif sempit, sebagian responden (55%) mengusahakan cabai pada beberapa (lebih dari satu) lokasi.
Di samping mengusahakan lahan milik sendiri, sepanjang modal produksi dan penawaran lahan sewa
tersedia, petani juga melakukan kegiatan sewa. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu strategi
pengendalian resiko, karena melalui diversifikasi hamparan petani dapat mengurangi kovariasi
hamparan-hasil (plot-yield covariation) dan variabilitas produksi agregat (aggregate production
variability). Demikian pula jika secara spasial lokasi hamparan tersebut tersebar, variabilitas produksi
agregat yang diakibatkan oleh dampak spesifik lokasi (misalnya, serangan hama penyakit dan
kekeringan setempat) dapat dikurangi.

Strategi Pengelolaan Resiko Interactive

Pada awal musim tanam, petani selalu memiliki harapan subyektif (subjective expectation) yang
dikembangkan dari pengalaman di musim sebelumnya. Misalnya, menyangkut perkiraan kejadian, jum-
lah, distribusi dan durasi hujan atau kemungkinan insiden hama penyakit. Sejalan dengan usia tanam-
an, harapan tersebut akan diperbaiki dan secara bertahap petani akan melakukan pengaturan pola
tanam dan cara budidaya, sehubungan dengan adanya kejutan-kejutan dari luar (exogenous shocks).
Ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pengambilan
keputusan petani dalam menentukan waktu tanam. Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar
petani responden (55%) menanam cabai pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan)
dengan pertimbangan bahwa sejak tanam sampai panen tidak akan kekurangan air. Salah satu faktor
yang membedakan waktu tanam (awal, pertengahan, akhir musim kemarau) adalah perbedaan
harapan petani terhadap ketersediaan air. Banyaknya petani yang memutuskan waktu tanam pada
akhir musim kemarau mengindikasikan bahwa walaupun probabilitas jangka panjang terjadinya hujan
meningkat jika menanam lebih lambat, secara intuitif petani menyadari bahwa probabilitas kondisional
dari keberhasilan pertanaman melalui penanaman awal yang diikuti oleh penyulaman bertahap adalah
lebih tinggi dibandingkan dengan penanaman lambat. Resiko yang dihadapi petani berkenaan dengan

9
Tabel 5 Strategi pengelolaan resiko interactive (Interactive risk management strategy)
No Uraian % (n=20)
(Description)
1. Waktu penanaman bawang merah (Time of shallot planting) :
• awal musim kemarau dengan perkiraan ketersediaan air masih mencukupi (at the beginning of dry season with 15
expectation that water availability is still sufficient)
• akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) agar kebutuhan air dapat terjamin (by the end of dry season so that 55
the water is beginning to be available)l
• pertengahan musim kemarau pada saat air masih tersedia (in the middle of dry season when water is still available) 30
2. Bila sebagian tanaman di lapangan ternyata mati, maka (If some plants are not survive):
• dilakukan penyulaman (replanting) 90
• tidak dilakukan penyulaman (no replanting) 10
3. Jarak tanam yang digunakan (Planting distance):
• 20 cm x 20 cm 25
• 20 cm x 30 cm 25
• 20 cm x 40 cm 10
• 25 cm x 25 cm 20
• 25 cm x 30 cm 10
• 25 cm x 40 cm 10
4. Jenis pupuk yang digunakan pada pertanaman bawang merah (Type of fertilizer used):
• pupuk tunggal atau pupuk majemuk (single or compound fertilizer) 25
• pupuk tunggal dan pupuk majemuk (single and compound fertilizer) 75
5. Penggunaan pupuk pada musim kemarau vs. musim penghujan (The use of fertilizer in dry season vs. wet season):
• tidak berbeda jenis maupun volumenya (no different in type and amount) 65
• tidak berbeda jenis, tetapi berbeda volumenya (N pada musim penghujan dikurangi) (no different in type, but the 35
amount of N is reduced)
6. Metode pengendalian hama penyakit yang dilakukan (Pest and disease controlling method):
• preventif (preventive) 80
• kuratif (curative) 5
• preventif dan kuratif (preventive and curative) 15
7. Pencampuran pestisida dalam pengendalian hama penyakit (Mixing pesticidesin controlling pests and diseases):
• ya, sebagai usaha preventif (yes, as a preventive measure) 80
• ya, sebagai usaha kuratif (yes, as a curative measure) 20
8. Alasan melakukan pencampuran pestisida (Reasons for mixing pesticides):
• sekaligus mencegah/mematikan beberapa jenis hama/penyakit (controlling some pests and diseases simultaneously) 40
• menghemat biaya dengan mencampur pestisida mahal dan murah (cost-saving effort by mixing expensive pesticide 10
and the cheap one)
• hasil coba-coba menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibanding pestisida tunggal (trial and error show that the 30
result of mixing pesticides is more effective than the use of single pesticide)
• menghemat waktu dan tenaga (time and labor-saving) 20
9. Tindakan yang dilakukan saat mengalami kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja sewa (Actions taken when there is
labor shortage):
• memanfaatkan tenaga kerja yang tersedia secara bergantian dengan sesama petani (take turn with other farmers in 75
using the available labor)
• mencari tenaga kerja sewa dari luar desa (look for hired labor from outside the village) 25
10. Tindakan yang dilakukan jika mengalami kekurangan atau kesulitan permodalan (Actions taken if there is capital
shortage):
• meminjam dari institusi formal (borrowing from formal institution) 5
• meminjam dari institusi informal (borrowing from informal institution) 75
• menjual sebagian aset (selling some assets) 20

pemilihan waktu tanam adalah matinya tanaman pada saat umur di bawah satu bulan dan kekurangan
air (kejadian di luar harapan awal). Strategi pengelolaan resiko interactive yang dilakukan petani untuk
mengatasi kedua masalah di atas adalah dengan melakukan penyulaman (90%) yang berasal dari
persediaan semaian atau membeli dari petani lain, dan melakukan penyiraman rutin yang pada
umumnya bersumber dari sumur-sumur pantek.
Sebagian besar petani responden (70%) cenderung menggunakan jarak tanam yang relatif
rapat (20cm x 20cm, 20cm x 30cm, 25 cmx 25 cm). Petani juga menyebutkan bahwa jarak tanam
cabai keriting lebih jarang dibandingkan cabai besar. Jarak tanam yang dipilih merupakan strategi
untuk menyiasati harapan kelembaban sesuai dengan zona agroklimat dan jenis tanah, mengantisipasi

10
tingkat kematian bibit, dan menciptakan fleksibilitas jika terpaksa harus mengubah densitas
pertanaman.
Di samping menggunakan pupuk tunggal, sebagian besar responden (75%) juga menggunakan
pupuk majemuk. Walaupun petani mengetahui bahwa unsur yang terdapat dalam pupuk majemuk
sama dengan yang terkandung dalam pupuk tunggal, alasan petani tetap menggunakan keduanya
adalah untuk menambah keyakinannya. Dari sisi efisiensi, penggunaan kedua jenis pupuk tersebut
secara sekaligus dapat dipandang sebagai suatu pemborosan. Namun demikian, jika dipandang dari
aspek pengelolaan resiko, hal ini juga dapat dikategorikan sebagai salah satu metode "interactive",
karena petani dapat mengatur penambahan atau pengurangan pupuk sesuai dengan persepsinya
menyangkut kebutuhan hara tanaman. Sebagian petani (35%) mengurangi penggunaan nitrogen pada
musim penghujan untuk menghemat dan sekaligus membatasi pertumbuhan daun agar tidak
mengundang hama penyakit.
Pada umumnya, petani responden (>80%) menggunakan pestisida sebagai tindakan preventif
dalam mengendalikan hama penyakit. Dengan kata lain, pengambilan keputusan pengendalian
cenderung lebih diarahkan untuk mengantisipasi resiko terjadinya serangan hama penyakit
dibandingkan dengan usaha untuk mengatasi serangan tersebut secara aktual. Produktivitas input
pengendalian hama penyakit sebenarnya tergantung pada kejadian yang bersifat acak (random
events), yaitu adanya serangan hama penyakit. Jika tidak ada serangan, maka input ini tidak akan
berpengaruh terhadap produksi, bahkan mungkin menimbulkan efek sekunder terhadap organisme
yang bermanfaat atau pertumbuhan tanaman (Mumford, 1981). Dengan demikian, produktivitas
pengendalian hama penyakit secara integral berhubungan erat dengan resiko produksi. Berkaitan
dengan strategi pengelolaan resiko interactive, petani sebenarnya memiliki fleksibilitas untuk mengatur
perlu tidaknya penggunaan pestisida selama pertanaman berada di lapangan. Namun demikian, pola
pengendalian kimiawi yang dicirikan dengan penyemprotan preventif serta pencampuran pestisida
(>80%) justru memberikan indikasi adanya penggunaan pestisida yang berlebih. Petani pada
umumnya cenderung memandang pestisida bukan saja sebagai bahan beracun untuk mengendalikan
hama penyakit, tetapi juga sebagai asuransi penangkal kegagalan usahatani.
Tenaga kerja tampaknya masih belum merupakan kendala penting dalam usahatani cabai. Jika
petani mengalami kesulitan tenaga kerja, terutama pada saat pengolahan tanah, pemanfaatan tenaga
kerja tersedia secara bergantian atau menyewa tenaga kerja dari luar desa masih mungkin dilakukan
tanpa mengganggu kelancaran usahatani. Sementara itu, meminjam uang atau sarana produksi dari
institusi informal serta menjual sebagian aset merupakan dua metode utama strategi pengelolaan
resiko interactive jika petani mengalami kesulitan modal pada saat mengusahakan cabai.

Strategi Pengelolaan Resiko Ex-post

Jika terjadi kegagalan panen, walaupun petani telah melaksanakan strategi pengelolaan resiko
ex ante dan interactive, maka pilihan satu-satunya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini
adalah strategi ex post. Namun demikian, tindakan yang dipilih sangat bergantung pada status
usahatani bersangkutan dalam kaitannya dengan sumber pendapatan keluarga. Hanya 30% petani
responden yang menyatakan bahwa sumber penghidupan keluarga sebagian besar bergantung pada
usahatani cabai. Sebagian petani lainnya menyatakan lebih mengandalkan usahatani bawang merah
sebagai sumber pendapatan keluarga. Strategi ex post yang lebih dominan dipilih petani adalah
menjual sebagian aset. Walaupun usahatani cabai pada umumnya dianggap bukan sumber
pendapatan utama, kegagalan panen tidak berarti petani berhenti menanam pada musim selanjutnya.
Petani tetap akan menanam cabai walaupun harus meminjam sarana produksi dari toko/kios saprotan.

11
Tabel 6 Strategi pengelolaan resiko ex post (Ex-post risk management strategy).
No Uraian (Description) % (n=20)
1. Status usahatani cabai dalam menghidupi keluarga (The status of hot pepper farming in supporting
the family):
• sepenuhnya bergantung pada usahatani cabai (fully depends on income from hot pepper farming) -
• sebagian besar bergantung pada usahatani cabai (mostly depends on income from hot pepper farming) 30
• sebagian kecil bergantung pada usahatani cabai (partly depends on income from hot pepper farming 70
• sama sekali tidak bergantung pada usahatani cabai (does not depend on incpme from hot pepper farming) -
2. Jika usahatani cabai mengalami kegagalan, usaha untuk menutupi kekurangan dalam menghidupi
keluarga (If hot pepper farming fails, the effort to support the family will come from):
• meminjam uang dari petani lain atau pihak-pihak lain (borrowing money from other farmers or other 30
sources)
• mencari pekerjaan tambahan (looking for additional job) 25
• menjual sebagian aset (selling some assets) 45
3. Jika mengalami kerugian, tindakan apa atau sumber modal mana yang dipilih untuk pertanaman
berikutnya (If there is a loss in hot pepper farming, actions taken for funding the next planting):
• luas pertanaman berikutnya disesuaikan dengan modal yang tersedia (the size of next planting is 30
adjusted to the available capital)
• menambah modal dengan mengambil sebagian/seluruh uang tabungan (adding capital by using part or 10
all of the saving)
• menambah modal dengan menjual sebagian aset yang dimiliki (adding capital by selling some assets) 15
• menambah modal dengan meminjam uang (adding capital by borrowing money) 5
• meminjam sarana produksi dari toko/kios saprotan (borrowing inputs from shops) 40
4. Tindakan yang dilakukan jika pertanaman cabai dianggap gagal (Actions taken following the failure
of hot pepper farming):
• tidak menanam cabai lagi karena takut kegagalan tersebut terulang (stop cultivating hot pepper -
because of the fear repeating the loss)
• tetap akan menanam cabai lagi dan mencari penyebab kegagalan (keep cultivating hot pepper and 65
trying to look for the cause of failure)
• tetap akan menanam cabai tanpa mencoba mencari penyebab kegagalan (keep cultivating hot pepper 35
and without trying to look for the cause of failure)

Implikasi Terhadap Perbaikan atau Perancangan Teknologi Baru

Perubahan teknologi (adanya teknologi baru) dapat mempengaruhi strategi pengelolaan resiko
petani dalam tiga aspek: (1) meningkatkan ketidak-pastian dan harapan produksi petani pada fase
awal adopsi teknologi baru, (2) menurunkan atau meningkatkan varians hasil, tergantung dari interaksi
antara teknologi baru tersebut dengan cara yang ditempuh petani dalam mengelola lingkungan
produksi, dan (3) mempengaruhi kemampuan petani dalam dalam kaitannya dengan penerapan
metode pengelolaan resiko interactive. Hal ini menunjukkan bahwa setiap usaha untuk memperbaiki/
merancang teknologi baru, harus mempertimbangkan ketiga aspek tersebut.
Beberapa implikasi hasil penelitian untuk perbaikan/perancangan teknologi:
• Perbaikan atau perancangan teknologi baru harus mempertimbangkan cabai tidak saja sebagai
tanaman yang diusahakan secara monokultur, tetapi juga sebagai salah satu komponen dalam
sistem produksi tumpang gilir.
• Perancangan teknologi harus lebih diarahkan untuk meningkatkan resistensi sistem (system
resistence) terhadap kejutan (shock) yang terjadi pada akhir musim, sekaligus meningkatkan
respon sistem (system responsiveness) terhadap kejutan pada awal atau pertengahan musim.
Sebagai contoh, pengembangan varietas cabai yang memiliki umur panen lebih cepat serta tingkat
keseragaman (kematangan) yang lebih serempak, dapat memungkinkan petani untuk melakukan
12
penyulaman secara lebih fleksibel dan sekaligus menghindarkan kekeringan di akhir musim jika
hujan berakhir lebih dini.
• Perbaikan efisiensi penggunaan masukan (pupuk maupun pestisida) sebaiknya dirancang bukan
semata-mata untuk mengubah pola pemberian masukan di tingkat petani yang dianggap
berlebihan. Perlu disadari bahwa pola tersebut sebenarnya juga merupakan salah satu metode
pengelolaan resiko interactive (risk-reducing method). Dengan demikian, proses perancangan
teknologi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan masukan harus melibatkan berbagai simulasi
agroekosistem dan mempertimbangkan kompatibilitasnya dengan strategi pengelolaan resiko yang
dilakukan petani.
• Mengacu pada perilaku petani yang cenderung bersifat menolak/menghindari resiko serta
distribusi probabilitas luaran yang bersifat asimetrik, rancangan percobaan yang digunakan dalam
pengujian-pengujian teknologi, secara implisit harus mengandung informasi yang menyangkut
variabilitas dan ketidak-simetrisan distribusi probabilitas luaran.

KESIMPULAN

1. Probabilitas keuntungan/kerugian selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa usahatani cabai
relatif rentan terhadap resiko. Persepsi petani terhadap kegagalan usahatani cenderung lebih
mengarah pada ketidak-berhasilan mencapai produksi per satuan luas (fisik), bukan kerugian secara
finansial.
2. Keputusan petani untuk mengikuti pola tanam dominan (bawang merah dan cabai - bawang merah -
padi) serta memilih sistem produksi tumpang gilir (bawang merah dan cabai) merupakan
pencerminan strategi pengelolaan resiko ex ante yang dilakukan.
3. Strategi pengelolaan resiko interactive dilaksanakan melalui penggunaan input (pupuk dan pestisida)
yang cenderung berlebih, karena petani menganggap kedua jenis input tersebut bersifat mengurangi
resiko (risk reducing).
4. Jika kegagalan usahatani cabai sampai pada suatu titik yang dianggap mengganggu sumber
pendapatan keluarga dan kelangsungan usahatani, petani cenderung memilih menjual sebagian aset
yang dimiliki sebagai manifestasi strategi pengelolaan resiko ex post.
5. Teknik budidaya cabai yang dilakukan petani bukan hanya semata-mata cara untuk menanam cabai,
tetapi juga mencerminkan strategi pengelolaan resiko yang telah teruji efektivitasnya berdasarkan
pengalaman berhadapan langsung dengan berbagai perubahan lingkungan produksi.

PUSTAKA

Adiyoga, W. dan T. A. Soetiarso. 1994. Aspek agroekonomi cabai. Makalah disampaikan pada Seminar
Agribisnis Cabai, Agribisnis Club. Jakarta.
Barry, P. J. (Ed.). 1984. Risk management in agriculture. Iowa State University Press, Ames, Iowa.
Binswanger, H. P. 1980. Attitudes toward risk : Experimental measurement in rural India. American
Journal of Agricultural Economics (62): 395 - 407.
Bond, G. dan B. Wonder. 1980. Risk attitudes among Australian farmers. Australian Journal of Agricultural
Economics, 24(1): 16-34.

13
Dillon, J. L. and J. R. Anderson. 1971. Allocative efficiency, traditional agriculture and risk. American
Journal of Agricultural Economics (53): 26-32.
Dillon, J. L. and P. P. Scandizzo. 1978. Risk attitudes of subsistence farms in Northeast Brazil : A
sampling approach. American Journal of Agricultural Economics (60): 425 - 435.
Heyer, J. 1974. An analysis of peasant farm production under conditions of uncer-tainty. Journal of
Agricultural Economics 23(2): 135-145.
Jolly, R. W. 1983. Risk management in agricultural production. American Journal of Agricultural
Economics. (76): 1107 - 1113.
Kebede, Y. 1988. Risk behavior and new agricultural technologies: The case of producers in the central
highlands of Ethiopia. Canadian Journal of Agricultural Economics 36(1):269-283.
Kennedy, J. O. S. and E. M. Francisco. 1974. On the formulation of risk constraints for linear
programming. Journal of Agricultural Economics 25(2): 129-145.
Kidder, L. H. and C. M. Judd. 1986. Research methods in social relations. Holt, Reinhart and Winston,
Inc. The Dryden Press, Orlando, Florida, USA.
Matlon, P. J. 1991. Farmer risk management strategies : The case of the West African semi-arid tropics.
In Holden, D., Hazell, P., & Pritchard, A. (Eds.). Risk in agriculture: Proceeding of the Tenth
Agriculture Sector Symposium. The World Bank, Washington, D. C.
Mumford, J. D. 1981. Pest control decision making: Sugar beet in England. Journal of Agricultural
Economics. 32(1): 31-41.
Scott, W. A. 1975. Reliability of content analysis: The case of nominal scale coding. Public Opinion
Quarterly, 19: 321-325.
Sonka, S. T. and G. F. Patrick. 1984. Risk management and decision making in agricultural firms. In P. J.
Barry (Ed.), Risk management in agriculture. Iowa State University Press, Ames, Iowa.
Tukey, W. 1974. Tables of the percentage points of the Chi-distribution. Annals of Mathematical Statistics,
18: 495-513.
Wolgin, J. M. 1985. Resource allocation and risk: A case study of smallholder agriculture in Kenya.
American Journal of Agricultural Economics, 57(4): 314-327.
Zavaleta, L. R., B. Eleveld, M. Kogan, L. Wax, D. Kuhlman & S. M. Lim. 1984. Income and risk associated
with various pest management levels, tillage systems, and crop rotations: An analysis of
experimental data. Agricultural Economics Research Report 3(2): 1-14.

14