Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU USAHATANI

Oleh Kelompok VIII :

IRWAN YULIADI (C1G 008 066)

HAERUL (C1G 008 069)

NANDA CLAUDYA ( C1G 008 071)

RIZKIYA ADINDA FITRI (C1G 008 072)

ELI DWI HARYANINGSIH(C1G 008 073)

FENDY SASMITO (C1G 008 074)

RATIH PURWASARI (C1G 008 075)

SITI JUMAENAH(C1G 008 076)

SUCI HANDAYANI(C1G 008 077)

FAKLULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MATARAM

2010
KATA PENGANTAR

Segal puji hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam
semoga selalu tecurahkan untuk Rasulullah, keluarganya, sahabatnya dan
pengikutnya hingga hari kiamat. Laporan praktikum Ilmu Usaha Tani (IUT) sebagai
syarat untuk menyelesaikan mata kuliah tersebut dan sebagai syarat untuk
mengikuti ujian akhirnya.

Kita semua mengetahui bahwa sekarang ini pertanian sangat minim


peminatnya, tetapi dengan melakukan praktikum ini yakni setiap mahasiswa dapat
mengamati secara langsung kondisi uasaha tani di lapangan, menumbuhkan
semangat baru yang menggebu-gebu diantara kami agar dapat membuat pertanian
semakin maju dimasa mendatang. Dan kami menyadari bahwa dalam laporan
praktikum ini masih terdapat banyak kekurangan baik isi maupun penyajiannya.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
dosen dan teman-teman semua.

Akhirnya, menyelesaikan laporan ini menjadi kebahagiaan untuk kami,


secara khusus kami mengucapkan terimakasih kepada dosen dan teman-teman
kelompok delapan (VIII) yang telah rela berpanas-panasan mencari data di
lapangan, kami acungkan jempol terhadap mereka semua, kalian memang Is The
Best.

Semoga laporan praktikum Ilmu Usaha Tani (IUT) bermanfaat bagi diri kami
pribadi dan semua pihak yang membacanya.

Mataram, Januari 2010

Penyusun
Kelompok Delapan,

DAFTAR ISI
PENDAHULUAN

Upaya menyediakan kebutuhan pangan, khususnya beras, serta peningkatan


kesejahteraan petani padi, dapat dilakukan dengan upaya peningkatan produksi dan
produktifitas. Peningkatan produksi usahatani, khususnya padi, dapat dilakukan
dengan pengembangan dan adopsi teknologi baru serta peningkatan efisiensi suatu
usahatani. Efisiensi sendiri menurut Mubyarto (1986) menjelaskan banyaknyak
hasil produksi yang diperoleh dari setiap korbanan input yang digunakan. Lebih
lanjut, Mubyarto menjelaskan adanya tiga tipe efisiensi, yakni efisiensi teknik,
alokatif dan ekonomi. Hubungan ketiga tipe efisiensi ini dijelaskan oleh Farrell
(1957); Ali and Byerlee (1991), dan Battese and Coelli (1995) bahwa efisisensi
ekonomi akan dicapai jika efisiensi secara alokatif dan teknik juga sudah
diperoleh. Efisiensi teknik merefleksikan kemampuan usahatani untuk
menghasilkan output yang maksimum pada tingkat input yang digunakan. Di sisi
lain, efisiensi alokatif menjelaskan kemampuan untuk menggunakan input secara
optimal dan proporsi pada tingkat harga input tertentu.
Dalam mengelola usahatani padinya, petani menggunakan teknologi dimana
salah satuk bentuknya adalah sistem pengairan. Selama ini kebutuhan air yang di
butuhkan oleh lahan sawah dapat diperoleh dari sistem irigasi dan hujan.
Pemenuhan kebutuhan air yang cukup merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi proses tumbuh tanaman dan hasil yang akan diperoleh. Adanya
perbedaan teknologi ini tentunya akan berdampak pada produktivitas yang pada
gilirannya akan berdampak pada penerimaan dan keuntungan yang akan diterima
oleh petani. Seperti umumnya usahatani yang dilakukan oleh petani, jumlah
produksi padi sangat berpengaruh terhadap tingkat penerimaan petani. Petani yang
bersifat komersiil, biasanya telah memperhitungkan biaya dan pendapatan atau
keuntungan. Ini berarti, pengukuran efisiensi ekonomi sangat penting untuk
melihat sampai sejauh mana setiap rupiah korbanan yang dikeluarkan oleh petani
usahatani dapat memberikan penerimaan. Padi tumbuh di berbagai lingkungan
produksi, diantaranya sawah irigasi, lahan kering tadah hujan, pasang surut dan
lebak atau rawa.
Dari berbagai tipologi ini, lahan sawah irigasi (teknis, setengah teknis,
sederhana, desa) mendominasi area produksi padi di Indonesia termasuk Privinsi
Bengkulu. Berangkat dari latar belakang ini dan diskusi di atas, maka suatu
penelitian yang ditujukan untuk mengukur tingkat efisiensi ekonomi usahatani padi
yang dilakukan pada dua tipologi lahan ini perlu dilakukan. Tidak kalah
pentingnya adalah untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat
efisiensi ekonomi yang dicapai oleh petani. Dengan demikian dapat dirumuskan
kebijakan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan petani padi.

b. Tujuan Praktikum

Praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa :

1. Mengamati secara langsung kondisi usahatani dilapangan

2. Terampil melakukan identifikasi aspek-aspek dalam pengelolaan usahatani,


selanjutnya dapat mengklasifikasikan usaha tani menurut bentuk, corak, pola
dan tipe usaha tani.

3. Mahasiswa mampu menerangkan hubungan factor produksi dengan tipe


usaha tani ynag diamatinya.
4. Mahasiswa terampil dalam melakukan analisis biayadan pendapatan usaha
tan, selajutnya dapat mengoreksi pengelolaan usaha tani yang dilakukan oleh
petani dan memberikan saran yang sesuai dengan kondisi lapangan yang
diamati.

TINJAUAN PUSTAKA

Distribusi pupuk untuk usahatani tanaman pangan dimonopoli oleh


pemerintah dengan harga bersubsidi, sedangkan pupuk untuk usaha
perkebunan tanpa subsidipemerintah, sehingga hal ini berdampak pada mis-
alokasi penyaluran pupuk. Kecenderungan mengalirnya pupuk bersubsidi ke
usahatani non pangan membawa implikasi berkurangnyaketersediaan pupuk
untuk usahatani tanaman pangan, dan kerapkali hal ini dikaitkan denganisu
kelangkaan pupuk Dalam upaya menciptakan peningkatan efisiensi dalam
tataniaga pupuk, pemerintah menerapkan paket kebijaksanaan Desember
1998 yang meliputi : (a) menghapus perbedaanharga pupuk yang
dialokasikan untuk tanaman pangan dan perkebunan, (b) menghapus secara
penuh subsidi pupuk, dan (c) menghilangkan monopoli distribusi dan
membuka peluang bagidistributor pendatang baru. Setelah itu, harga pupuk
tidak lagi diatur oleh pemerintah, tetapi sepenuhnya ditentukan oleh
mekanisme pasar. Dengan demikian, pupuk Urea yangdiperdagangkan di
pasar domestik merupakan pasokan dari berbagai industri pupuk
dalamnegeri atau asal impor. Kondisi ini memberi dampak positif bagi petani
: (a) pupuk tersedia dalam jumlahyang cukup di tingkat petani, dan jarang
terjadi kelangkaan pupuk, (b) harga pupuk relatifstabil, dan (c)
berkembangnya kios-kios pengecer pupuk dengan harga kompetitif.
Sedangkan dampak negatif dari kebijakan tersebut : (a) dengan mahalnya
harga pupuk, membawa konsekuensi munculnya pupuk alternatif yang relatif
murah, namun diragukan kualitasnya, dan (b) menurunnya penggunaan
pupuk SP-36, KCL, dan ZA oleh petani. (Rachman, 2002).
Usaha tani: ialah sebuah “perusahaan” yang mengelola input (pengetahuan, peralatan,
bahan, sdm) untuk melakukan produksi pertanian. Pengertian usaha tani lebih luas daripada
industri pertanian (agroindustri), karena konotasi agroindustri ialah usaha tani berukuran besar
yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen baku dalam pengelolaannya. Usahatani pada
hakikatnya adalah proses industri. Karena itu, memberdayakan usahatani tidak ubahnya dengan
memberdayakan industry serta merupakan satu kata yang mengandung arti bisnisnya petani
dengan lahan garapan yang dikelola dengan tanaman dan hewan/ternaknya. Usahatani dekat
dengan pengertian farm dalam bahasa Inggris yang bisa sebagai kata benda maupun kata kerja
yang diberi arti sebidang lahan dengan bisnis tanaman dan hewannya.
(http://ilmuusahatani.blogspot.com )

Sistem usaha tani terintegrasi antara tanaman dan ternak telah lama dilakukan oleh rumah
tangga petani di Indonesia, terutama di pedesaan. Umumnya rumah tangga petani menggunakan
persediaan makanannya untuk mencukupi konsumsi sendiri dan selebihnya dijual. Karakteristik
yang dijumpai pada petani tersebut adalah melakukan usaha tani campuran dalam upaya
mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko. Ada empat model
penerapan sistem usaha tani campuran, yaitu: 1) sistem yang dipraktekkan secara alami dan
turun-temurun oleh petani setempat, 2) sistem usaha tani tanpa melibatkan ternak, 3) sistem
usaha tani ternak, dan 4) system usaha yang berbasis pada sumber daya lahan, tenaga kerja, dan
modal. Masing-masing sistem usaha tani tersebut memiliki risiko dan ketidakpastian usaha di
masa yang akan datang. Beberapa risiko mendasar pada sistem usaha tani adalah risiko produksi,
risiko usaha dan finansial, serta risiko kerusakan. Dari risiko mendasar tersebut, dengan
menggunakan perhitungan sistem fungsional, usaha tani terintegrasi tanaman-ternak mempunyai
peluang risiko yang minimal (Tjeppy D. Soedjana : Jurnal Litbang Pertanian, 26(2), 2007.Pusat Penelitian
dan Pengembangan Peternakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151)
http://www.ilmuuahatani.com/article.php?sid=3804)
Bahasan mengenai pengertian dasar tentang batasan dan tujuan serta ruang
lingkup usaha tani, memahami usaha tani dalam struktur agribisnis dan factor-
faktor yang mempengaruhi pembentukan system usahatani, memahami fungsi-
fungsi dan pengetahuan yang diperlukan dalam pengelolaan usahatani. Menguasai
metode prencanaan dan aalat analisis untuk mengukur ketragaman usahatani dan
menerpakan alternative pemecahan masalah.

Bahwa ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang


mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk
memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.

Ilmu usahatani adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang


berhubungan dengan kegiatan orang melakukan pertanian dan permasalahan yang
di tinjau secara khusus dari kedudukan pengusahanya sendiri atau ilmu usaha tani
yaitu menyelidiki cara-cara seorang petani sebagai pengusaha dalam menyusun,
mengatur dan menjalankan perusahaan itu.

Usaha tani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang
berusaha mengelola unsure-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan
keterampilan dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan
pertanian.

Di Indonesia usaha tani dikategoriakn sebagai usahatani kecil karena mempunyai


cirri-ciri sebagai berikut :

a. Berusaha tani dalam lingkungan tekanan penduduk local yang meningkat

b. Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang


rendah

c. Bergantung seluruhnya tau sebagian kepada produksi yang subsisten

d. Kurang memperoleh pelayanan kesehatan , pendidikan dan pelayanan


lainnya

Struktur usahatani menunjukkan sebagaimana suatu komoditi diusahakan. Cara


pengusahaan dapat dilakukan secara khusus (1 lokasi), tidak khusus (berganti-ganti
lahan atau varietas tanaman ) dan campuran (2 jenis atau lebih varietas tanaman,
missal tumpang sari dan tumpang gilir). Adapula yang disebut dengan “mix
farming” yaitu manakala pilihannya antara dua komoditi yang berbeda polanya,
misalnya hortikultura dan sapi perah.

Pemilihan khusus atau tidak khusus ditentukan oleh :

- Kondisi lahan

- Musim atau iklim setempat


- Pengairan

- Kemiringan lahan

- Kedalaman lahan

Corak usahatani berdasarkan tingkatan hasil pengelolaan usahatani yang


ditentukan oleh berbagia ukuran / criteria , antara lain :

- Nilai umum, sikap dan motivasi

- Tujuan produksi

- Pengambilan keputusan

- Tingkat teknologi

- Derajat komersialisasi dari produksi usahatani

- Derajat komersialisasi dari input usahatani

- Proporsi penggunaan factor produksi dan tingkat keuntungan

- Pendayagunaan lembaga pelayanan pertanian setempat

- Tersedianya sumber yang sudah di gunakan dalam usahatani

- Tingkat keadaaan dan sumbangan pertanian dan keseluruhantingkat


ekonomi

PEMBAHASAN
DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Benny. 2002. Evaluasi Kebijakan Distribusi dan Harga Pupuk di


Tingkat
Puslitbang Sosek Pertanian. Badan Litbang Pertanian.

http://www.ilmuuahatani.com/article.php?sid=3804)
(Tjeppy D. Soedjana : Jurnal Litbang Pertanian, 26(2), 2007.Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor
16151)http://www.ilmuuahatani.com/article.php?
sid=3804)http://www.ilmuuahatani.com/article.php?sid=3804)