Anda di halaman 1dari 43

PENYULUHAN PERTANIAN UTS Take Home Mengenai Penyuluhan di Wilayah Kabupaten Ciamis

Dosen Pemimbing : Yayat Sukayat, Ir.,M.Si.

Disusun Oleh : Sandro Lesmana Hafifi Aida Ghaisani Elfhat Patriot Rahman 150610090096 150610090103 150610090112 150610090159

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

2012

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena karunia-Nya penulisan makalah ini dapat selesai secara tepat waktu. Penulisan makalah dengan judul Penyuluhan di Wilayah Kabupaten Ciamis ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Penyuluhan Pertanian. Banyak pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan praktikum ini. Ucapan terima kasih pun penulis haturkan kepada :
1. Tim dosen mata kuliah Penyuluhan Pertanian yang telah menyusun tugas ini

sedemikian rupa demi membantu para mahasiswa, terutama kepada Yayat Sukayat, Ir.,M.Si.selaku dosen kelas Agribisnis C
2. Ayahanda dan Ibunda, yang senantiasa mendukung penulis dalam

menjalankan tugasnya. 3. serta pihak-pihak yang membantu secara moriil dan materiil. Penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik sangat diperlukan sehingga proses ke depannya menjadi lebih baik lagi bagi penulis. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan rekanrekan sekalian. Atas perhatian Saudara/i penulis ucapkan terima kasih.

Jatinangor,15 April 2012

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................... Daftar Isi...... Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ........ 1.2 Tujuan Penulisan...... Bab II Permasalahan 2.1 Soal Pertanyaan............................................................................ Bab III Kajian Pustaka 3.1 Definisi Model dan Etika Penyuluhan..................................... 3.2 Definisi Metode Penyuluhan..................................................... 3.3 Peran Penyuluh......................................................................... Bab IV Pembahasan

1 2 3 4 5 6 9 10

4.1 Identifikasi dan Analisis Model dan Etika Penyuluhan di Era Otonomi Daerah Pada Kabupaten Ciamis................................................................. Kabupatern Ciamis.....................................................................
4.3 Peran Penyuluh Di Lahan Basah/Pesawahan........................... 4.4 Peran Penyuluh Di Lahan Kering........................................

11 19 22 24 25 32 34 41 42

4.2 Identifikasi dan Analisis Metode Penyuluhan Era Otonomi Daerah Pada

4.5 Strategi Pengembangan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Di Era Otonomi

Daerah................................................................................
4.6 Peningkatan Kapasitas Penyuluh.......................................

4.7 Kebijakan penyuluhan, Pembiayaan penyuluhan, Pengorganisasian penyuluh,

Perencanaan program......................................................... Kesimpulan............................................................................. Daftar Pustaka .............................................................................

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah adalah suatu usaha menyusun sistematis dan tearah saling keterkaitan antara sektor pembangunan dan antar daerah untuk memperhatikan fakta dan potensi daerah. Kemampuan setiap sektro pembangunan dalam meningkatkan produksi sangat menentukan besarnya tingkat pendapatan daerah. Setiap daerah mempunyai perbedaan dalam karakteristik sumberdaya alam, tingkat sosial dan sumber daya manusia, yang mengakibatkan perbedaan dalam pertumbuhan ekonomi dari pengembangasn daerah. Sektor pertanian merupakan sektor yang dapat diandalkan dalam menghadapi krisi ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu sektor pertanian harus mampu menghadapi tantangan dan berusaha untuk tetap konsisten dengan kedudukannya yang berada diantara pertumbuhan sektor industri. Peranan sektor pertanian dalam pembangunan daerah dapat ditingkatkan apabila sumberdaya dikelola dengan dukungan sarana dan prasarana serta dukungan kebijakan pemerintah. Keterkaitan dalam pelaksanaan otonomi daerah, yaitu dengan adanya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 92 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4660); tujuan penyuluhan pertanian adalah dalam rangka menghasilkan SDM pelaku pembangunan pertanian yang kompeten sehingga mampu mengembangkan usaha pertanian yang tangguh, bertani lebih baik (better farming), berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera (better living) dan lingkungan lebih menggerakkan sehat. Penyuluhan pertanian memberdayakan dituntut agar mampu masyarakat, petani-nelayan, pengusaha
4

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

pertanian dan pedagang pertanian, serta mendampingi petani untuk: (1) Membantu menganalisis situasi-situasi yang sedang mereka hadapi dan melakukan perkiraan ke depan; (2) Membantu mereka menemukan masalah; (3) Membantu mereka memperoleh pengetahuan/informasi guna memecahkan masalah; (4) Membantu mereka mengambil keputusan, dan (5) Membantu mereka menghitung besarnya risiko atas keputusan yang diambilnya.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Mengetahui model dan metode penyuluhan yang dilakukan pada era otonomi daerah di Kabupaten Ciamis. 2. Mengetahui peran penyuluh dan strategi kelembagaan penyuluh pertanian pada era otonomi daerah di Kabupaten Ciamis. 3. Mengetahui kebijakan penyuluhan, pembiayaan penyuluhan, pengorganisasian penyuluh dan perencanaan program penyuluhan pada era otonomi daerah di Kabupaten Ciamis.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

BAB II SOAL PERTANYAAN 2.1 Soal UTS Penyuluhan Judul : Peran Penyuluh dan Penyuluhan di Era Otonomi Daerah
1. Identifikasi dan analisis model dan etika penyuluhan di era otonomi

daerah (kasus di propinsi jawa barat/kabupaten) 2. Identifikasi dan analisis metode penyuluhan yang banyak digunakan dalam pembangunan pertanian di era otonomi daerah. 3. Peran penyuluh di era otonomi daerah (kasus di lahan basah/pesawahan) 4. Peran penyuluh di era otonomi daerah (kasus di lahan kering) 5. Strategi pengembangan kelembagaan penyuluhan pertanian di era otonomi daerah 6. Peningkatan kapasitas penyuluh
7. Cari :

Kebijakan penyuluhan Pembiayaan penyuluhan Pengorganisasian penyuluh Perencanaan program.

Keterangan : Kasus otonomi daerah di ambil di wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

BAB III KAJIAN PUSTAKA

3.1 Definisi Model dan Etika Penyuluhan 3.1.1 Model Proses Penyusunan Program Penyuluhan Menurut Passon (1966): Model ini dibedakan ke dalam dua area kegiatan, yaitu area perencanaan program, yang terdiri atas empat tahap kegiatan, yakni (1) pengumpulan fakta, (2) analisis situasi, (3) identifikasi masalah, dan (4) penetapan tujuan. Dalam pada itu area pelaksanaan program, meliputi (5) penyusunan rencana kerja, (6) pelaksanaan rencana kerja, dan (7) .penentuan kemajuan. Kegiatan (8) rekonsiderasi merupakan tahap antara yang menghubungkan area kegiatan perencanaan dan area kegiatan pelaksanaan program. Secara singkat, tahap-tahap perencanaan dari Model Pesson tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Pengumpulan data Pengumpulan data merupakan kegiatan pengumpulan data-data dasar atau fakta yang diperlukan untuk menentukan masalah, tujuan, dan cara mencapai tujuan atau kegiatan yang akan direncanakan, Data-data tersebut meliputi: sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, sarana dan prasarana yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, teknologi yang telah digunakan, dan peraturan yang ada. (2) Analisis keadaan Tahap ini merupakan tahap penganalisisan data yang diperoleh dari lapangan, termasuk di dalamnya menganalisis sumber daya yang

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

potensial untuk dikembangkan, perilaku masyarakat sasaran, keadaan yang ingin dicapai dan yang sudah dicapai, dan sebagainya (3) Identifikasi masalah tidak tercapainya tujuan yang dikehendaki.

Tahap ini m erupakan upaya merum uskan faktor-faktor yang menyebabkan Identifikasi ini dapat dilakukan dengan menganalisis kesenjangan antara data potensial dengan data aktual, antara keadaan. yang ingin dicapai dengan yang sudah dicapai, dan sebagainya. Kesenjangankesenjangan ini kemudian diinventarisir dan disusun berdasarkan prioritas. (4) Perumusan tujuan Dalam tahap perumusan tujuan yang harus diperhatikan adalah realistisnya tujuan yang hendak dicapai, ditinjau dari kemampuan sumber daya (biaya, jumlah dan kualitas tenaga) maupun waktu yang tersedia. (5) Penyusunan rencana kegiatan Tahap ini merupakan penyusunan rencana kerja yang meliputi penjadwalan, metoda yang digunakan, pihak-pihak yang terlibat, lokasi kegiatan, bahan dan peralatan yang dibutuhkan, pembiayan dan sebagainya. (6) Pelaksanaan rencana kegiatan Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari rencana kerja yang telah disusun. Masalah utama yang harus diperhatikan dalam tahap ini adalah partisipasi masyarakat sasaran. Oleh karenanya perlu dipilih waktu yang tepat, lokasi yang tepat, agar masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan. (7) Menentukan kemajuan kegiatan Tahap ini merupakan kegiatan monitoring pelaksanaan kegiatan yang dilakukan, untuk melihat sejauh mana tujuan telah dicapai. (8) Rekonsiderasi Rekonsiderasi dimaksudkan untuk meninjau kembali rumusan
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 8

program, termasuk kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Pada tahap ini dilihat hal-hal yang menjadi kendala atau sebaliknya keberhasilan yang dicapai, dalam rangka menyusun program berikutnya.
3.1.2 Etika Penyuluhan

Pengertian tentang Etika, senantiasa merujuk kepada tata pergaulan yang khas atau ciri-ciri perilaku yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengasosiasikan diri, dan dapat merupakan sumber motivasi untuk berkarya dan ber-prestasi bagi kelompok tertentu yang memilikinya. Etika bukanlah peraturan, tetapi lebih dekat kepada nilai-nilai moral untuk membangkitkan kesadaran untuk beriktikad baik dan jika dilupakan atau dilanggar akan ber-akibat kepada tercemarnya pribadi yang bersangkutan, kelompoknya, dan anggota kelompok yang lainnya (Kartono Muhamad, 1987). Sehubungan dengan itu, Herman Soewardi meng-ingatkan bahwa penyuluh harus mampu berperilaku agar masyarakat selalu memberikan dukungan yang tulus ikhlas terhadap kepentingan nasional. Tentang hal ini, Salmon Padmanegara (1987) mengemukakan beberapa perilaku yang perlu ditunjukkan atau diragakan oleh setiap penyuluh (pertanian), yang meliputi: 1. Perilaku sebagai manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, dan disiplin. 2. Perilaku sebagai anggota masyarakat, yaitu mau meng-hormati adat/kebiasaan masyarakatnya, menghormati petani dan keluarganya (apapun keadaan dan status sosial ekonominya), dan menghormati sesama penyuluh. 3. Perilaku yang menunjukkan penampilannyaa sebagai penyuluh yang andal, yaitu: berkeyakinan kuat atas man-faat tugasnya, memiliki tanggungjawab yang besar untuk melaksanakan pekerjaannya,

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

memiliki jiwa kerjasama yang tinggi, dan berkemampuan untuk bekerja teratur. 4. Perilaku yang mencerminkan dinamika, yaitu ulet, daya mental dan semangat kerja yang tinggi, selalu berusaha mencerdaskaan diri, dan selalu berusaha meningkatkan kemampuannya.

3.2 Definisi Metode Penyuluhan 3.2.1 Metode Penyuluhan Metode Penyuluhan Pertanian adalah cara penyampaian materi (isi pesan) penyuluhan pertanian oleh penyuluh pertanian kepada petani beserta anggota keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung agar mereka tahu, mau dan mampu menggunakan inovasi baru. Umumnya pesan terdiri dari sejumlah simbol dan isi pesan inilah yang memperoleh perlakuan. Adapun berikut beberapa metode penyuluhan : Metode Perorangan Metode dan teknik penyuluhan pertanian merupakan cara dan prosedur yang dilakukan oleh seorang pembaharu/penyuluh di bidang pertanian, yang bertujuan untuk membantu mengubah perilaku petani ke arah yang lebih baik. Metode dan teknik penyuluhan pertanian akan efektif apabila digunakan atau diterapkan secara tepat. A. Metode Kelompok Metode ini cukup efektif karena sasaran dibimbing dan diarahkan untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama. Salah satu cara efektif dalam metode pendekatan kelompok adalah dengan metode ceramah. Dalam pendekatan kelompok banyak manfaat yang dapat diambil seperti transfer informasi, tukar pendapat, umpan balik, dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

10

Metode Partisipatif Penyuluhan pertanian partisipatif adalah pendidikan luar sekolah (non formal) bagi petani beserta keluarganya serta anggota masyarakat pertanian lainnya melalui upaya pemberdayaan dan pengembangan kemampuan untuk memecahkan masalah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayahnya 3.3 Peran Penyuluh Mosher (1997) menguraikan tentang peran penyuluh pertanian, yaitu: sebagai guru, penganalisa, penasehat, sebagai organisator, sebagai pengembang kebutuhan perubahan, penggerak perubahan, dan pemantap hubungan masyarakat petani.Kartasapoetra (1994) juga menjelaskan tentang peran penyuluh yang sangat penting bagi terwujudnya pembangunan pertanian moderen yaitu pembangunan pertanian berbasis rakyat. Peran penyuluh tersebut adalah: 1. Sebagai peneliti; mencari masukan terkait dengan ilmu dan teknologi, penyuluh menyampaikan, mendorong, mengarahkan dan membimbing petani mengubah kegiatan usahataninya dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi. 2. Sebagai pendidik; meningkatkan pengetahuan untuk memberikan informasi kepada petani, penyuluh harus menimbulkan semangat dan kegairahan kerja para petani agar dapat mengelola usahataninya secara lebih efektif, efisien, dan ekonomis. 3. Sebagai penyuluh; menimbulkan sikap keterbukaan bukan paksaan, penyuluh berperan serta dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan hidup para petani beserta keluarganya.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

11

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi dan Analisis Model dan Etika Penyuluhan di Era Otonomi Daerah Pada Kabupaten Ciamis Dalam menghadapi perkembangan keadaan dan tantangan persaingan global serta tuntutan reformasi ini, diperlukan perubahan mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia yaitu sentralisasi pemerintahan kini bergeser ke desentralisasi dengan pemberian otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Dalam hal ini perlu adanya penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah serta proposional sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pembangunan memasuki pada era otonomi daerah ini, peranan pemerintrah daerah sangatlah penting dalammenentukan keberhasilan di daerahnya. Hal ini mudah dipahami sebab, pemerintah daerahlah yang benarbenar mengelola secara langsung berbagai potensi yang dimiliki oleh daerah baik itu dari aspek SDA (Sumber Daya Alam), maupun SDM (Sumber Daya Manusia) yang keseluruhan aspek/potensi tersebut akan dipersatukan menjadi sebuah kekayaan tersendiri bagi daerahnya dalam membangun dan

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

12

mengembangkan daerahnya, tentunya dalam mengusung kemandirian dan kemajuan pada era otonomi daerah ini. Pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 18 ayat 2 berbunyi : Pemerintahan daerah propinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asa ekonomi dan tugas pembantuan. Berdasarkan bunyi pasal diatas, terlihat jelas bahwa UUD 1945 adalah dasar hukum yang paling kuat dalam penyelenggaraan otonomi di daerah yang memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah. Dalam pelaksanaannya, penyelenggaraan otonomi daerah harus dilakukan secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan SDM (Sumber Daya Manusia) serta pertimbangan keuangan pusat dengan daerah dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta potensi dan keanekaragaman dalam keranga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab dalam hal ini pemerintah daerah dituntu untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas dan kewajibannya yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat semakin baik, pengembangan kehidupan yang demokratis, keadilan dan pemerataan. Dalam kebisajak dan strategi otonomi daerah dan langkahlangkah pemerintah daerah salah satunya adalah pengembangan SDM. Salah satu program pengembangan SDM yaitu dengan program peningkatan produktivitas sektor pertanian yang dibantu dan dibimbing oleh penyuluh pertanian. A. Gambaran Umum Kabupaten Ciamis Kabupaten Ciamis terletak di 108o20-108o40 BT dan antara 7o41 207o41 20 LS, luas keseluruhan Kabupaten Ciamis ini sekitar 2.556,75 km2. Daerah ini berbatasan langsung dengan : Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Timur : Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan : Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya : Kota Banjar dan Provinsi Jawa Tengah
13

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

Sebelah Selatan

: Samudera Hindia

Keadaan alam Ciamis cukup potensial untuk pariwisata karena merupakan jalur transportasi antar kota maupun antar provinsi. Beberapa Kecamatan di Kabupaten Ciamis yang potensial untuk pariwisata diantaranya adalah Kecamatan Pangandaran,panjalu,Kalipucang, Cijulang, dan Cimerak. Potensialnya Kabupaten Ciamis untuk pariwisata tersebut tentunya mampu menggerakkan lapangan usaha lain seperti pertanian. Kegiatan penyuluhan pertanian, adalah kegiatan terencana dan berkelanjutan yang harus diorganisasikan dengan baik, Pengorganisaian penyuluhan pertanian, dilakukan dengan tujuan efisiensi pelaksanaan kewenangan, tugas dan fungsi manajemen serta pengelolaan sumberdaya, organisasi atau kelembagaan penyuluhan pertanian, terdiri dari kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan, pemerintah, petani dan swasta Khusus di Kecamatan Sukamantri Kab.Ciamis Kelembagaan yang menangani penyuluhan di tingkat kecamatan ini telah mengalami beberapa perubahan namun kelembagaan penyuluhan pertanian, di Kec.Sukamantri sejak awal eksisnya lebih dirasakan masyarakat, terutama sejak tanggal 16 desember 2004 dengan perda No.24 tahun 2004 tentang pemekaran kecamatan yaitu dari kec.panjalu menjadi Kec. Panjalu dan Kec. Sukamantri. Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan peran dan fungsi Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Model Kec.Sukamantri, Maka perlu dilakukan pengkajian , pembinaan dan pengembangan tupoksi BP3K melalui standar yang jelas dan teratur. B. Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Tujuan : Adapun tujuan standarisasi pembinaan kelembagaan BP3K Kecamatan Sukamantri Kab. Ciamis antara lain: 1. Tersusunnya pedoman/acuan dlam pembinaan terhadap 64 kelompok tani di 5 desa se Kec.Sukamantri
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 14

2. Tersusunnya pola pembinaan yaitu agar BP3K memahami aktivita apa yang mutlak harus dilaksanakan sehingga lembaga penyuluhan dapat berperan dalam pembangunan sektor pertanian , perikanan, kehutanan dan perkebunan. 3. Untuk mengetahui dengan pasti tentang pencapaian hasil kemajuan dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan BP3K, maka perlu dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program/kegiatan dimasa yang akan datang. Visi Misi Visi misi BP3K model Sukamantri Kab.Ciamis antara lain ; Visi : Sebagai system penyuluhan yang mantap dalam mewujudkan agribisnis termaju di Kab. Ciamis tahun 2014 untuk mencapai tersebut,maka di tetapkan misi penyuluhan pertanian , perikanan , dan kehutanan di BP3K model Sukamantri sebagai berikut: 1. Mengembangkan kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan 2. Meningkatkan kualitas ketenagaan penyuluhan pertanian , perikanan dan kehutanan 3. Mengembangkan penyelengaraan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan 4. Mengembangkan pendekatan metodologi dan model penyuluhan partisipatif. 5. Mengembangkan organisasi petani menjadi organisasi sosial ekonomi yang tangguh. 6. Mengembangkan hubungan kelembagaan antara pelaku utama, pelaku usaha penyuluh dan peneliti Strategi Untuk mewujudkan penyelengaraan pertanian yang produktif, efektif dan efisien ditetapkan strategi sebagai berikut: Petani belajar dari petani dengan metode pendidikan orang dewasa.
15

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

Menjadikan penyuluh pertanian ,perikanan dan kehutanan di BP3K model Sukamantri sebagai gerakan masayarakat. Meningkatkan peran penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan swakarsa dan swasta Menumbuhkembangkan dinamika organisasi dan kepemimpinan petani serta pelaku usaha pertanian lainnya. Memberdayakan wanita tani dan pemuda tani dalam pembangunan pertanian yang responsive gender . Meningkatkan kapasitas kelembagaan pendidikan dan pelatihan untuk memepersiapkan calon petani dan pelaku usaha pertanian lainnya yang benar-benar tangguh.

C. Pengembangan Sikap, Moral dan Etika Tabel 1. Sikap dan Kreatif Inovatif Niat Amanah Jujur Berahlak Mulia Bermental kuat Pekerja keras Ulet Disiplin Produktif Tanggung jawab Efektif dan efisien Kreatif dan inovatif Dinamis Konsisten Konsekwen Responsif Empati Integritas Mandiri Obsesi Intropeksi Doa

D. Inovasi dan Pelayanan Unggulan di UKPP BP3K Sukamantri Pemberdayaan pemuda putus sekolah Pemberdayaan wanita/gender Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan Pengenalan varitas tanaman baru yang bernilai ekonomis tinggi Layanan konsultasi agribisnis

E. Bidang Peranian dan Ketahanan Pangan


UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 16

1. Penerapan kebijakan dan pedoman penyuluhan Pertanian 2. Pembinaan penyelenggaraan penyuluhan pertanian 3. Penetapan kelembagaan penyuluhan pertanian sesuai norma dan standarPenerapan persyaratan , sertfikasi dan akreditasi 4. Penerepan standard an prosedur sistem kerja penyuluhan pertanian 5. Perencanaan penyuluhan pertanian di tingkat desa kecamatan dan kabupaten 6. Penyelenggaraan penyuluhan pertanian di tingkat daerah F. Indikator Keberhasilan Penyuluhan Pertanian 1. Tersusunnya Program penyuluhan pertanian 2. Tersusunnya rencana kerja tahunan 3. Tersusunnya data peta wilayah untuk teknologi spesifik lokasi 4. Terdiseminasi informasi teknologi pertanian secara merata 5. Tumbuh kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama dan pelaku usaha 6. Terwujudnya kemitraan usaha pelaku utama dan pelaku usaha 7. Terwujudnya akses pelaku utama dan pelaku usaha ke lembaga keuangan, informasi, sarana produksi 8. Meningkatnya wilayahnya 9. Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan pelau utama Analisis Model danEtika Komunikasi pembangunan merupakan proses penyebaran informasi, penerangan, pendidikan dan keterampilan, rekayasa sosial, dan perubahan perilaku (Dila 2007). Salahsatu kegiatan penting dalam komunikasi pembangunan komunikasi adalah inovasi merancang yang dikenal program sebagai komunikasi, kegiatan termasuk penyuluhan produktivitas agribisnis komoditas unggulan di

pembangunan (extension). Bentuk dan jenis program komunikasi pembangunan sangat beragam terkait dengan jenis pesan yang disampaikan (pendidikan, keagamaan, kesehatan, pertanian, ekonomi dan politik) dengan berbagai
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 17

media sebagai saluran untuk penyampaian pesan baik tercetak maupun elektronik, serta audien yang dituju. Menurut Mangkuprawira (2008), supaya program komunikasi pembangunan dapat memberikan dampak yang sesuai dengan harapan, makakegiatan tersebut harus dikelola dengan optimal melalui perencanaan secara matang, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, dan evaluasi. Bagian terpenting dari perencanaan meliputi: menganalisis apa yang menjadi masalah dan kebutuhan audien yang berkait dengan pembangunan perdesaan dan juga masalah pelaksanaan komunikasi di lapangan. Analisis masalah ini penting karena instansi media pembangunan perdesaan dapat membatasi lingkup dan materi informasi atau pesan yang akan disampaikan, merumuskan tujuan penyiaran, anggaran, menetapkan metode dan media penyiarannya. Pentingnya Media Untuk Mendukung Suatu Penyuluhan Media adalah maknamakna. Media dapat digunakan untuk menumbuhkan emansipasi. Pesanpesan media dipengaruhi oleh (tetapi tidak secara mekanis merefleksikannya) minat terhadap pesan yang dapat mereka kontrol melalui saluransaluran. Pada BP3K media informasi yang digunakan adalah BP3kmodelsukamantri.blogspot.com yang dimana waah berinteraksi antar masyarakat Kabupaten Ciamis dan menyebarkan informasi kepada warga luar Kabupaten Ciamis hal ini juga akan mempermudah akses dalam mendapatkan wawasan yang capat untuk bidang di Pertanian Uraian di atas menyarikan bahwa pergeseran perilaku komunikasi petani dan masyarakat perdesaan pada umumnya yang semakin memanfaatkan media massa, perlu disikapi dengan arif agar media mampu mendukung partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Model Pada Penyuluhan Model komunikasi partisipatif membentuk keterbukaan dan merupakan komunikasi tanpa instruksi. Komunikasi secara langsung ketika digunakan oleh proyek pembangunan pemerintah, lembaga pemasaran
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 18

komersial dan lainnya untuk membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Partisipasi secara langsung dalam perancangan pesan, produksi pesan, dan konsumsi pesan adalah usaha memanipulasi audien untuk menemukan seseorang yang lain. Pada BP3K model yang diterapkan adalah Komunikasi banyak tahap. Komunikasi dilakukan melalui berbagai pihak dan bisa saling silang informasi Karena semua saling terlibat dalam pelaku utama maupun pelaku usaha

Etika Pada Penyuluhan Etika berasala dari bahasa Yunani, ethos (tunggal) atau ta etha (jamak) yang berarti watak kebiasaan dan adat istiadat . Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada masyarakat yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lain. Pada BP3K menerapkan sikap Etika dan Moral yang baik adapun sebagai berikut : Niat,Amanah, Jujur, Berakhlak Mulia, Bermental Kuat, Pekerja Keras, Ulet, Disiplin, Produktif, Tanggung Jawab, Efektif, Efisien, Kreatif, Inovatif, Dinamis, Konsisten, Konsekuen, Responsif, Empati, Intefritas, Mandiri, Intropeksi, Obsesi dan Doa.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

19

4.2 Identifikasi dan Analisis Metode Penyuluhan Era Otonomi Daerah Pada Kabupatern Ciamis Kabupaten Ciamis memiliki 36 kecamatan dengan potensi agribisnis, peternakan, perikanan dan pertanian dengan komoditas unggulan kelapa di wilayah Ciamis. BP4K Kabupaten Ciamis memiliki 256 penyuluh pertanian, 54 penyuluh kehutanan dan 23 penyuluh perikanan. Sosiometri merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan penyuluh. Sosiometri adalah alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok individu dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial dan status sosial dari masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan. Salah satu contoh penyuluhan yang berhasil adalah di Kecamatan Sukamatri dengan kepala BP3K Sukamantri yang menjadi Penyuluh Berprestasi tingkat Nasional. Sukamantri adalah sebuah kecamatan paling utara di Kabupaten Ciamis yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Kec. Sukamantri, Kab Ciamis memiliki 5 desa berada di ketinggian 600-900 meter dpl dan topografi datar berbukit . Luas wilayahnya terdiri dari lahan sawah 482,245 ha dan tadah hujan 373,254 ha,kemudian lahan kering yang terdiri dari pekarangan 175,500 ha, lading/tegalan seluas 1.182,249 ha, pengangonan 50 ha, kolam.tambak 41,180 ha, perkebunan seluas 285,000 ha, hutan rakyat 761,000 ha dan hutan Negara seluas 2.178.817 ha. Komoditas unggulan masing-masing desa di Kec. Sukamatri, yaitu : Desa Sukamantri Desa Cibereum Desa Sindanglaya Desa Mekarwangi : tanaman teh dan kambing : tanaman cabe : tanaman ganyong : tanaman kopi

Desa Tenggerraharja : tanaman jagung dan ternak sapi potong Kelembagaaan yang ada di wilayak kerja BP3K Sukamatri terdiri dari

kelompok tani sebanyak 69 kelompok, koperas 2 buah, jumlah TPS/TPK 7


UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 20

buah, jumlah kelompok tani yang sudah menjadi TPS/TPK sebanyak 17 kelompok, pengurus kelompok tani yang menjadi pengurus kelompok tani 8 orang, pengurus kelompok tani yang menjadi anggota kelompok tani 17 orang, anggota kelompok tani yang menjadi penurus kelompok tani 4 orang dan anggota kelompok tani yang menjadi anggota kelompok tani 33 orang. Adapun jumlah unit usaha otonom sebanak 3 buah dengan komoditas yang ditangani yakti cabe, ganyong dan padi. Potensi penyuluh yang ada di Sukamantri adalah penyuluh pertanian, penyuluh kehutanan dan penyuluh perikanan. Jumalh penyuluh pertanian dapat 265 orang, penyuluh kehutanan terdapat 54 orang dan penyuluh perikanan hanya 23 orang, jumlah ini masih sangat kurang jika dibandingkan dengan target produksi. Otonomi daerah berkaitan dengan penyuluh pertanian bergantung kepada daerah masing-masing dapat meningkatkan atau menurun. Badan Penyuluh Ciamis sudah ada pada tahun 1984 berarti direspon dengan baik oleh pemerintah, dan mendapat tiga penghargaan berturut-turut dari presiden. Analisis : Banyak pihak menilai bahwa pembangunan sumber daya manusia pertanian, termasuk pembangunan kelembagaan penyuluhan dan peningkatan kegiatan penyuluhan pertanian, adalah faktor yang memberikan kontribusi besar terhadap cerita keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia. Khususnya dalam upaya pencapaian swasembada beras pada tahun 1984 dan penurunan jumlah penduduk miskin perdesaan. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa investasi di bidang penyuluhan pertanian memberikan tingkat pengembalian internal yang tinggi. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan pertanian merupakan komponen industrialisasi penting berlangsung, dalam anggaran keseluruhan pemerintah untuk aspek mendukung pembangunan pertanian. Namun, ketika proses transformasi ekonomi menuju ke pembangunan sektor pertanian, termasuk penyuluhan pertanian, mengalami penurunan yang signifikan.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

21

Di samping harus menghadapi keterbatasan alokasi anggaran, sejak akhir 1980-an kegiatan penyuluhan pertanian mengalami beberapa persoalan, antara lain: a) Kelembagaan penyuluhan pertanian sering berubah-ubah,sehingga kegiatannya sering mengalami masa transisi. Kondisi ini menyebabkan penyuluhan pertanian di lapangan sering terkatung-katung dan kurang berfungsi. Semangat kerja para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), yang status kepegawaiannya tidak pasti, juga menurun. b) Dibandingkan dengan kebutuhan, jumlah PPL yang ada kurang mencukupi, demikian pula kualitas dan kapasitasnya. Umumnya pendidikan mereka hanya setingkat SLTA sehingga kurang mampu mendukung petani dalam menghadapi persoalan pertanian yang semakin kompleks. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah memang telah meningkatkan kemampuan mereka melalui berbagai pelatihan, namun frekuensi kegiatan semacam ini cenderung masih kurang memadai. Namun dilihat dari kasus penyuluh pertanian di Kec.Sukamantri, Kab. Ciamis diatas, terlihat jelas sudah berjalan suksenya penyuluhan. Hal ini di dukung kuat dengan adanya fakta bahwa Badan penyuluh Ciamis sudah mendapat tiga penghargaan berturut-turut dari presiden. Metode penyuluhan yang diterapkan yaitu Metode Partisipatif. Penyuluhan pertanian partisipatif adalah pendidikan luar sekolah ( non formal) bagi petani beserta keluarganya serta anggota masyarakat pertanian lainnya melalui upaya pemberdayaan dan pengembangan kemampuan untuk memecahkan masalah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayahnya. Prinsip penyuluhan partisipatif itu sendiri yaitu : a) Partisipasi Memberikan penyuluhan partisipasif melibatkan petani beserta keluarganya mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring sampai evaluasi. Wujud keterlibatan tersebut adalah kesadaran dan kemauan mereka untuk datang, mendengar, berkomunikasi searah, berkomunikasi dua arah, membangun
22

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama, membuat keputusan, berbagi resiko, bermitra, sampai mampu mengelola sendiri b) Demokrasi Memberi landasan bahwa dalam penyuluhan pertanian partisipatif seluruh kegiatan mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring, sampai evaluasi diselenggarakan dari petani oleh petani dan untuk petani. c) Keterbukaan Memberikan landasan bahwa dalam penyuluhan partisipatif seluruh kegiatan mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring sampai evaluasi diselenggarakan secara terbuka. Setiap petani mempunyai akses yang sama untuk mendapatkan informasi sehingga timbul rasa saling percaya dan kepedulian besar d) Desentralisasi Memberi landasan bahwa penyuluhan partisipatif mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring sampai evaluasi dititikberatkan pada daerah kabupaten / kota dengan melaksanakan otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab. Penyuluh harus bersifat partisipatif yang dapat menjadi dokter sekaligus apoteker bagi petani uang mendeteksi masalah serta menyediakan solusi untuk permasalahan petani itu sendiri. 4.3 Peran Penyuluh Di Lahan Basah/Pesawahan Studi Kasus di Lahan Basah : KOMPAS.com- Di tengah gencarnya modernisasi sektor pertanian, masih ada petani yang menggunakan kerbau untuk mengolah sawah di Desa Ciparay, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis (22/11). Petani di Ciamis memulai masa tanam setelah hujan turun dengan intens.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

23

Gambar 1. Analisis :

Membajak dengan Kerbau

Memang tidak ada yang salah dengan membajak sawah dengan kerbau atau dengan kata lain masih menggunakan system pertanian tradisional. Namun bagaimana menghadapi tantangan jaman yang semakin kompleks dengan berbagai permasalahan pertanian sekarang ini. Pada awalnya pertanian hanya mengandalkan keadaan alam saja tanpa melakukan suatu inovasi untuk meningkatkan produktivitas.Namun sejalan dengan menurunya kemampuan lahan pertanian dalam memenuhi kebutuhan sementara jumlah penduduk yang semakin meningkat yang menyebabkan kebutuhan akan pangan pun meningkat di samping terjadinya penyempitan lahan pertanian dengan adanya alih fungsi lahan. Tetapi modernisasi juga memiliki dampak negatif salah satunya adalah dapat mengurangi lahan pekerjaan bagi petani karena digantikan dengan alat-alat mesin pertanian dan sebagainya. Tujuan dari modernisasi antara lain adalah meningkatkan produktivitas hasil pertanian, maka dari itu peran penyuluh dalam kasus ini adalah bagaimana cara untuk meningkatkan produksi pertanian baik dengan system tradisional maupun dengan menerapkan system modernisasi. Penyuluh disini harus mampu menjadi professional dalam menjalankan tugasnya, harus memperhitungkan damapkdampak apa saja yang mungkin terjadi.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

24

4.4 Peran Penyuluh Di Lahan Kering

Studi Kasus di Lahan Kering : SBY: Perketat Perizinan Lahan Ciamis, Rabu - Laju pembangunan yang semakin meningkat di Indonesia, mau tak mau menggerus sejumlah lokasi pertanian, termasuk sawah. Tidak ingin lahan persawahan menghilang habis, Presiden Yudhoyono mendesak Kepala Daerah agar memperhatikan perizinan penggunaan lahan yang menyangkut lahan pertanian. "Saya meminta gubernur, bupati, walikota, dan semua ketika memberikan perizinan bagi usaha-usaha ekonomi, jangan sampai mengancam kebutuhan kita akan lahan yang cukup bagi pertanian, khususnya padi," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan pidato pada acara panen raya padi hibrida beras prima Rabu (12/11). Menurut Presiden Yudhoyono, ketersediaan lahan pertanian ini dimaksudkan untuk menggapai swasembada pangan dalam menghadapi ancaman krisis ketahanan pangan dunia seiring perubahan iklim dunia. "Lahan untuk pertanian, sawah, ladang jumlahnya harus cukup. Tidak boleh karena pembangunan di negeri ini dilakukan secara intensif lantas mengganggu atau mengurangi bahkan mengancam ketersediaan lahan," ujarnya. Selain memperhatikan ketersediaan lahan, Kepala Negara juga mengkehendaki keperluan air dan irigasi di Tanah Air di masa mendatang lebih baik sehingga banyak sawah petani yang dialiri air. "Kita tingkatkan pembangunan infrastruktur, termasuk irigrasi untuk persawahan," janji SBY dihadapan kelompok tani di Ciamis. Lebih lanjut Presiden Yudhoyono juga mendorong semua pihak terkait untuk menciptakan benih padi handal, ketersediaan pupuk dan penggunaan teknologi dalam memberhangus hama. Analisis : Menurut kami peran penyuluh dalam kasus ini adalah memikirkan saja bagaimana produktivitas pertanian yang semakin baik. Mengingat permasalahan yang terjadi adalah krisis ketahanan pangan di Indonesia yang terus memburuk.
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 25

Di era otonomi dareah ini semua urusan penyelenggaraan penyuluhan pertanian diserahkan kepada pemerintah Daerah Otonom. Maka dari itu tergantung dari pemerintah daerah itu sendiri mampu tidak untuk menjalankan tugasnya seperti yang di sampaikan SBY dalam Perketat Perizinan Lahan. Tujuan dari perketatan perizinan lahan ini adalah untuk mengurangi alih fungsi lahan yang sedang marak terjadi ini. Apabila perketatan perizinan lahan berjalan dengan baik tentu selanjutnya menindak lanjuti oleh penyuluh di masing-masing daerah tersebut untuk meningkatkan produktivitas pertanian 4.5 Strategi Pengembangan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Di Era Otonomi Daerah Di era otonomi daerah penyelenggaraan penyuluhan pertanian menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah, oleh karena itu Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan penyuluhan pertanian dengan baik agar mampu memenuhi hak azasi bagian terbesar penduduk Indonesia. Melalui penyuluhan pertanian masyarakat tani ditingkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilannya serta integritas moralnya untuk meningkatkan kesejahteraannya dan meningkat derajadnya diantara masyarakat-masyarakat lainnya. Pada masa desentralisasi peran masyarakat diharapkan menjadi dominan. Pemerintah Daerah akan menjadi fasilitator dan motivator pembangunan pertanian. Masyarakatlah yang akan berperan menggerakkan pembangunan, semua perencanaan, inisiatip, strategi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh masyarakat yang didampingi dan difasilitasi oleh pemerintah. Jadi masyarakatlah yang berperan menentukan terhadap berhasil dan tidaknya, maju dan mundurnya pembangunan khususnya pembangunan pertanian. Sektor pertanian hingga kini masih tetap memiliki peranan yang strategis dalam pembangunan nasional, baik bagi pertumbuhan ekonomi maupun pemerataan pembangunan. Peranan strategis sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi antara lain ditunjukkan oleh kedudukan sektor pertanian sebagai kontributor penting dalam : a) Pembentukan Produk Domestik Brutto;
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 26

b) Penyediaan dan peningkatan devisa negara melalui eksport hasil pertanian; c) Penyediaan bahan baku industri. Adapun stretegi pengembangan penyuluhan di kabupaten Ciamis dalam upaya meningkatkan daya beli masyarakat yaitu
1. pembangunan PPI Cikidang, 2. pembentukan Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh) pada 2012 se Jabar,

dan
3. peningkatan kesejahteraan untuk kalangan pertanian dan perikanan dan

Kehutanan se kabupaten Ciamis Berkaitan dengan peranan sektor pertanian tersebut, pemerintah telah menetapkan agenda pembangunan ekonomi yang didasarkan kepada sektor pertanian melalui pencanangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) pada tanggal 11 Juni 2005 oleh Presiden. Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan merupakan salah satu dari Triple Track Strategy Kabinet Indonesia Bersatu dalam rangka pengurangan kemiskinan dan pengangguran, serta peningkatan daya saing ekonomi nasional. Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut, Departemen Pertanian telah menetapkan Visi Pembangunan Pertanian sebagai berikut : Terwujudnya Pertanian Tangguh untuk Pemantapan Ketahanan Pangan, Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk Pertanian serta Peningkatan Kesejahteraan Petani. Pembangunan pertanian hingga saat ini mempunyai peran sentral sebagai tulang punggung pembangunan perekonomian, baik secara nasional maupun regional. Pencanangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian (RPP) telah ditindaklanjuti dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K).

A. Prinsip Prinsip Penyelenggaraan Penyuluahan di Kabupaten Ciamis Penyelenggaraan penyuluhan diera reformasi dan otonomi dasarkan pada : a) Prinsip otonomi dan desentralisasi
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 27

Memberikan

kewenangan

kepada

kelembagaan

penyuluhan

pertanian untuk menetapkan sendiri penyelenggaraan penyuluhan pertanian sesuai dengan kondisinya masing-masing, dan membawa kebijaksanaan penyelenggaraan penyuluhan pertanian didasarkan atas kebutuhan spesifik lokalita serta dalam penyelenggaraannya menjadi wewenang daerah otonom. b) Prinsip kemitrasejajaran Memberikan diselenggarakan landasan bahwa penyuluhan pertanian berdasarkan atas kesetaraan kedududkan antara

Penyuluh Pertanian dengan petani, Penyuluh Pertanian dengan pelaku agribisnis lainnya, dan petani dengan pelaku agribisnis lainnya. c) Prinsip demokrasi Memberikan landasan bahwa penyuluhan pertanian diselenggarakan dengan menghargai dan mengakomodasi berbagai pendapat dan aspirasi semua pihak yang terlibat dalam penyuluhan pertanian. d) Prinsip keterbukaan Memberikan landasan bahwa dalam penyuluhan pertanian semua pihak yang terlibat memiliki akses yang sama untuk mendapatkan informasi yang diperlukan guna tumbuhnya rasa saling percaya dan kepedulian yang besar. e) Prinsip keswadayaan Memberikan landasan bahwa penyelenggaraan penyuluhan pertanian diselenggarakan atas dasar kemampuan menggali potensi diri sendiri baik dalam bentuk tenaga, dana maupun material yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan.

f) Prinsip akuntabilitas Memberikan pertanian landasan bahwa penyelenggaraan penyuluhan dapat dipertanggung jawabkan kepada petani, pelaku

agribisnis lainnya dan masyarakat.


UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 28

g) Prinsip integrasi Memberikan landasan bahwa penyelenggaraan penyuluhan pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembangunanlainnya, yang secara sinergi diselenngarakan untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian yang telah ditetapkan. h) Prinsip keberpihakan Memberikan landasan bahwa penyelenggaraan penyuluhan pertanian memperjuangkan dan berpihak kepada kepentingan serta aspirasi petani. B. Kelembagaan Penyuluhan Ciamis 1) Kelembagaan tingkat Kabupaten Eksistensi suatu Kelembagaan Penyuluhan Pertanian di daerah otonom yang dapat menfasilitasi sistem penyuluhan pertanian agar petani dan pelaku usaha lainnya dapat bekerjasama secara produktif dengan fasilitasi dan pendampingan oleh penyuluh dipandang sangat penting. Kelembagaan ini berfungsi sebagai home base dan unit yang melakukan pembinaan karier penyuluh pertanian, serta unit menejemen yang menjamin berlangsungnya proses penyuluhan pertanian terpadu yang effisien, efektif, produktif dan bersifat sinergi dengan program pengembangan komoditas pertanian sesuai potensi daerah. Kelembagaan penyuluhan pertanian di kabupaten / kota ditetapkan oleh pemerintah daerah berdasarkan perda dengan mempertimbangkan tugas pokok dan fungsi pelayanan serta tugas fungsi penyuluhan. Sebagai pertimbangan dalam membentuk kelembagaan penyuluhan pertanian di daerah otonom kabupaten / kota adalah : a. Terselenggaranya fungsi penyediaan dan penyebaran informasi teknologi bagi petani dan pelaku agribisnis lainnya. b. Terselenggaranya administrasi dan pembinaan profesionalisme penyuluhan apertanian c. Terselenggaranya kegiatan partisipatif dalam pengkajian, pengembangan dan penerapan teknologi spesifik lokasi.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

29

d. Tersedianya

fasilitas

pertemuan

dan

forum-forum

kegiatan

kelompok tani-nelayan. e. Terjaminnya kepastian status organisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Macam dan ragam bentuk kelembagaan penyuluhan pertanian yang di Kabupaten Ciamis sekarang ini ada adalah : Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian Badan Informasi dan Penyuluhan Pertanian Kantor Informasi dan Penyuluhan Pertanian UPTD Penyuluhan Pertanian Sub Dinas Penyuluhan pada Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebuinan dan Perikanan Seksi Penyuluhan Jabatan pada Diasn Peternakan, pada Dinas Perikanan, Peternakan, Perkebunan dan Pertanian Kelompok Fungsional Perkebunan, Pertanian dan Perikanan Seiring dengan keluarnya kebijakan pemerintah yang termuat dalam UU No. 32 tahun 2004 semua urusan pemerintah dibidang pertanian termasuk didalamnya penyuluhan pertanian merupakan ketenagaan yang bersifat opsional dan perlu diwujudkan dalam tata hubungan yang serasi dan sinergis antara pengambil kebijakan nasional berada di pusat dan pemerintah daerah. Dengan demikian diharapkan nantinya para petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dapat mengelola usaha mereka dalam suasana yang kondusif dan dapat berperan serta secara optimal dalam upaya peningkatan ketahanan pangan sekaligus pendapatan, kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

2) Kelembagaan Tingkat Kecamatan Kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat kecamatan adalah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) atau lembaga sejenis lainnya yang mempunyai tugas dan fungsi yang sama dan ditetapkan dengan SK
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 30

Bupati/Walikota -

atau

telah

diperdakan.

Sebagai

pertimbangan

pembentukan BPP adalah : Tersedianya fasilitas untuk tersusunnya programa penyuluhan pertanian yang tertib. Tersedianya fasilitas penyebaran informasi teknoli dan pasar. Terselenggaranya kerjasama antara peneliti pertanian, penyuluh pertanian dan kontak tani nelayan andalan. Tersedianya fasilitas untuk kegiatan belajar dan foruym-forum pertemuan petani. Tersedianya fasilitas untuk percontohan usaha tani (model farm) dan kemitraan agribisnis. 3) Kelembagaan Tingkat Desa/kelurahan Kelembagaan tingkat Desa/kelurahan adalah organisasi-organisasi non formal berupa kelompok tani, koperasi tani, asosiasi petani dan pelaku agribisnis lainnya. Bentuk kelembagaan ini bisa dalam cakupan hamparan atau dalam kelompok komoditas. C. Strategi Penyuluhan Di Kabuapten Ciamis Strategi penyuluhan adalah sebagai berikut : 1. membentuk dan mengembangkan Forum dialog/komunikasi penyuluhan antara pemerintah daerah dengan masyarakat pertanian, perikanan dan kehutanan di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa / kelurahan; 2. mendayagunakan dan memfungsikan Balai Penyuluhan agar mampu memberikan pelayanan penyuluhan dengan melakukan standarisasi Balai Penyuluhan sesuai spesifikasi wilayah; 3. melakukan sertifikasi, standard kompetensi dan kualifikasi serta meningkatkan

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

31

peran penyuluh swadaya dan penyuluh swasta serta akreditasi bagi penyuluh PNS; 4. mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kapasitas bagi penyuluh PNS, penyuluh swadaya, penyuluh swasta dan kalangan pelaku utama maupun pelaku usaha yang terkait dengan pembangunan ekonomi rakyat di perdesaan; 5. mengembangkan pengelolaan sarana prasarana dan alat bantu penyuluhan; 6. melakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi lintas sektor, optimalisasi partisipasi, advokasi masyarakat dengan melibatkan unsur pakar, dunia usaha, institusi terkait, perguruan tinggi dan sasaran penyuluhan; 7. membentuk dan mengembangkan kelembagaan penyuluhan tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa sesuai peraturan perundang-undangan; 8. mengembangkan dan memantapkan kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha dalam penyelenggaraan penyuluhan 9. meningkatkan kuantitas, kualitas dan profesionalisme SDM penyuluhan; 10. mengembangkan sistem, metoda dan materi dalam penyelenggaraan penyuluhan Strategi kelembagaan penyuluhan adalah sebagai berikut : 1. Pengembangan kelembagaan penyuluhan pertanian yang mandiri di Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. 2. Pemberdayaan BPP sebagai homebase dan basis peningkatan profesionalisme penyuluh pertanian di Kecamatan dan Desa.
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 32

sistem

standarisasi

pendayagunaan

dan

3. Pembentukan dan pengembangan Tim Verifikasi Programa Penyuluhan Pertanian di Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. 4. Pembentukan dan pengembangan forum koordinasi penyuluhan pertanian di Kecamatan,Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. 5. Peningkatan kuantitas tenaga penyuluh pertanian dengan menempatkan satu desa satu penyuluh pertanian. 6. Peningkatan kualitas dan spesialisasi tenaga penyuluh pertanian dengan mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan penjenjangan tenaga fungsional penyuluh pertanian. 7. Penataan kembali penyuluhan pertanian berbasis pada kebutuhan petani. 8. Penataan jenjang karir serta sistem penghargaan dan sanksi bagi penyuluh pertanian. 9. Penataan kembali pembiayaan operasional penyelenggaraan penyuluhan pertanian dengan mendorong peranserta Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat. 10. Peningkatan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian. 4.6 Peningkatan Kapasitas Penyuluh Bidang Peningkatan Kapasitas Penyuluh dipimpin Kepala Bidang yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan, mempunyai tugas pokok membantu Kepala Badan dalam merencanakan dan merumuskan serta mengkoordinasikan kebijakan Teknis dalam rangka peningkatan kapasitas serta sarana dan prasarana Penyuluhan Pertanian pertanian, perikanan dan kehutanan. Dalam melaksanakan tugas pokok, Bidang Peningkatan Kapasitas Penyuluh mempunyai fungsi: Merumuskan kebijakan teknis dalam rangka peningkatan kapasitas, sarana dan prasarana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. - Merencanakan program dan kegiatan dalam rangka peningkatan kapasitas, sarana dan prasarana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. - Merumuskan dan menetapkan pedoman dalam rangka peningkatan kapasitas, sarana dan prasarana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 33

- Melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam rangka peningkatan kapasitas, sarana dan prasarana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas, sarana dan

prasarana kepada pimpinan. - Melaksanakan tugas lain yang diberikan pimpinan. Tujuan dengan adanya kegiatan ini untuk meningkatkan SDM penyuluh, serta turut mensukseskan peningkatan produksi pada sektor Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, khususnya di kabupaten/kota. Materi yang diberikan selama pelatihan antara lain: (1) pembangunan hutan tanaman pola agroforestry dalam usaha agribisnis; (2) perencanaan peningkatan pola usaha agribisnis; (3) pengembangan rumput laut mendukung usaha minapolitan; (4) peran penyuluh dalam manajemen agribisnis kelompok tani; peran penyuluh dalam aplikasi teknologi dan peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai; (5) peranan komisi penyuluhan kabupaten kota dalam kinerja penyuluh; (6) manajemen agribisnis usaha tani; serta diakhiri dengan forum terbuka dan diskusi.

4.7 Kebijakan penyuluhan, Pembiayaan penyuluhan, Pengorganisasian

penyuluh, Perencanaan program. A. Kebijakan Penyuluhan Peran dan Kebijakan Penyuluhan dalam era otonomi daerah Sejalan dengan diberlakukannya UU No 22 Tahun 1999 yang disempurnakan lagi dengan UU No 32 Tahun 2004, maka telah terjadi perubahan yang cukup mendasar dalam kelembagaan penyuluhan pertanian, sehingga masing-masing kabupaten mempunyai versi dan kebijakan yang berbeda, dalam hal ini menangani para penyuluh pertanian dan kelembagaannnya. Terjadinya perubahan dan keragaman bentuk kelembagaan penyuluhan pertanian tersebut, merupakan gambaran respon pemerintah
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 34

kabupaten/kota dalam menerjemahkan UU nomor 22 tahun 1999 dan UU nomor 32 tahun 2004, khususnya yang diatur dalam PP Nomor 25 tahun 2000 dan PP Nomor 8 tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. Penafsiran yang berbeda terhadap peraturan tersebut melahirkan kebijakan berbeda-beda disetiap kabupaten/kota. Dengan berlakunya peraturan yang berkaitan dengan otonomi daerah maka semua urusan penyelenggaraan penyuluhan pertanian diserahkan kepada pemerintah Daerah Otonom. Penyelenggaraan penyuluhan pertanian menyangkut aspek-aspek perencanaan, kelembagaan ketenagaan, program, menejemen, kerjasama dan anggaran. Penggunaan wewenang ini oleh Pemerintah Daerah di lapangan ternyata banyak variasi dan pernik-perniknya. Kebijakan yang diambil pemerintah kabupaten / kota terhadap kelembagaan penyuluhan di era otonomi daerah saat ini ada yang berdiri sendiri bahkan dimekarkan kewenanngannya dan ada yang menggabungkan Balai Informasi Penyuluhan Pertanian ke dalam Dinas Lingkup Pertanian dalam berbagai bentuk seperti Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian, UPTD, Sub Din dll. Dengan adanya variasi kelembagaan ini, maka bentuk kelembagaan penyuluhan dan peran penyuluh juga mengalami sedikit perubahan, namun masih dalam kerangka menunjang kegiatan penyuluhan pertanian yang merupakan sitem pendidikan luar sekolah dibidang pertanian untuk petani dan nelayan beserta keluarganya serta anggota masyarakat pertanian, agar dinamika dan kemampuannya dalam memperbaiki kehidupan dan penghidupannya dengan kekuatan sendiri dapat berkembang, sehingga dapat meningkatkan peranan dan peran sertanya dalam pembangunan pertanian Di era otonomi daerah penyelenggaraan penyuluhan pertanian menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah, oleh karena itu Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan penyuluhan pertanian dengan baik agar mampu memenuhi hak azasi bagian terbesar penduduk Indonesia. Melalui penyuluhan pertanian masyarakat tani
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 35

ditingkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilannya serta integritas moralnya untuk meningkatkan kesejahteraannya dan meningkat derajadnya diantara masyarakat-masyarakat lainnya. Pada masa desentralisasi peran masyarakat diharapkan menjadi dominan. Pemerintah Daerah akan menjadi fasilitator dan motivator pembangunan pertanian. Masyarakatlah yang akan berperan menggerakkan pembangunan, semua perencanaan, inisiatip, strategi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh masyarakat yang didampingi dan difasilitasi oleh pemerintah. Jadi masyarakatlah yang berperan menentukan terhadap berhasil dan tidaknya, maju dan mundurnya pembangunan khususnya pembangunan pertanian.

Dampak Positif dan negatif Penerapan Desentralisasi Pada Penyuluhan Pertanian Salah satu isu utama dalam penyuluhan adalah desentralisasi. Searah dengan semangat desentralisasi, kebijakan nasional telah memberikan ruang gerak desentralisasi melalui kebijakan otonomi daerah. Desentralisasi dipandang penting karena membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat sipil dalam memantau kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan pemerintah. Akhmadi (2004) menyatakan bahwa kewenangan di bidang penyuluhan pertanian sejak tahun 2001 dilimpahkan kepada pemerintah daerah agar daerah mampu meningkatkan kinerja penyuluhan pertanian. Melalui otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan kinerja penyuluhan pertanian. Saragih (2005) berpendapat bahwa dengan adanya otonomi daerah, telah diberikan kebebasan kepada regional agricultural services untuk

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

36

mengambil inisiatif dalam mendesain kebijakan spesifik lokal, sementara itu pemerintah pusat melalui Menteri Pertanian bertanggungjawab hanya pada penyusunan dan manajemen strategi, kebijakan nasional dan standar-standar. Dengan dukungan anggaran belanja daerah, pemerintah lokal memiliki lebih banyak sumber daya serta kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kebijakan yang spesifik sesuai dengan keadaan daerah tersebut dan pengembangan teknologi lokal melalui kajian/penelitian di lembaga penelitian yang ada di daerah masingmasing. Dengan otonomi daerah ini, tangung jawab pembangunan pertanian dalam kendali kepala daerah bukan lagi pegawai/dinas pertanian. Selain dampak positif yang dirasakan dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian melalui kebijakan otonomi daerah, terdapat juga beberapa kendala atau dampak negatif akibat dari desentralisasi ini. Mawardi (2004) mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh penyuluhan pertanian era otonomai daerah: 1. Adanya perbedaan pandangan antara pemerintah daerah dan anggota DPRD dalam memahami penyuluhan pertanian dan perannya dalam pembangunan pertanian. 2. Kecilnya alokasi anggaran pemerintah daerah untuk kegiatan penyuluhan pertanian. 3. Ketersediaan dan dukungan informasi pertanian sangat terbatas. 4. Makin merosotnya kemampuan manajerial penyuluh. Dampak-dampak ini sangat mungkin terjadi karena perbedaan kepentingan dari kalangan bawah tentang apa yang dibuuthkan dengan kepentingan dengan pihak atas yang terkait dengan masalah penyuluhan pertanian. Untuk dapat menyelenggarakan penyuluhan pertanian yang sesuai dengan arah pengembangan pertanian, maka dirumuskan kebijakan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan Kabupaten Ciamis antara lain:
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 37

Penyelenggaraan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan dilakukan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten, pelaku utama dan pelaku usaha pertanian lainnya.

Penyelenggaraan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan didasarkan suatu program yang disusun bersama antara penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan dan petani.

Hubungan kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan pemerintah provinsi dan kebupaten/kota, petani dan swasta merupakan hubungan fungsional yang bersifat terbuka, saling ketergantungan, demokratis dan terintegrasi dengan sektor lain.

Pembiayaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah provinsi, kebupaten/kota, petani serta swasta.

Penyelenggaraan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Strateginya yaitu : Untuk mewujudkan penyelenggaraan pertanian yang produktif, efektif dan efesien ditetapkan strategi sebagai berikut: Petani belajar dari petani dengan metode pendidikan orang dewasa. Menjadikan penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan di BP3K Model Sukamantri sebagai gerakan masyarakat. Meningnkatkan peran penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan swakarsa dan swasta. Menumbuhkembangkan dinamika organisasi dan kepemimpinan petani serta pelaku usaha pertanian lainnya. Memberdayakan wanita tani dan pemuda tani dalam pembangunan pertanian yang responsive gender. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan calon petani dan pelaku usaha pertanian lainnya yang benar-benar tangguh. B. Pembiayaan Penyuluhan
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 38

Pembiyaan Penyuluh Pertanian Kab Ciamis : 1. Penyuluh pertanian PNS biasanya di biayai oleh pemerintah daerah, karena penyuluh ini sudah berstatus PNS dan penyuluh pun berhak mendapat fasilitas dari pemerintah daerah seperti kendaraan bermotor ini bertujuan agar para penyuluh lebih biasa menjakau daerah daerah terpencil di pelosok desa 2. Penyuluh Pertanian swadaya, Bekerja atas dasar sukarela dan tidak menerima gaji/honorarium sebagaimana Penyuluh Pertanian PNS maupun penyuluh pertanian swasta karena penyuluh pertanian swadaya adalah petani, pekebun, dan peternak yang telah maju dalam bidang agribisnis, dan penyuluh pertanian sawadaya juga

mendapat pengakuan resmi dari pemerintah dan mengikuti Dapat memanfaatkan sarana dan prasarana penyuluhan Dimungkinkan dapat menerima bantuan biaya apabila

pelatihan bidang penyuluhan pertanian pertanian yang dimiliki oleh Pemerintah dan pemerintah daerah mengikuti kegiatan penyuluhan sepanjang tersedia anggaran Pemerintah dan pemerintah daerah mencukupi

Mendapat

penghargaan

atas

tugas

pengabdian

dan

prestasinya Dapat mengikuti berbagai kegiatan penyuluhan pertanian yang difasilitasi oleh Pemerintah dan atau pemerintah daerah 3. Penyuluh pertanian swasta mendapat biaya atau tunjangan dari Ketua perusahaan swasta di bidang pertanian dan perusahaan itupun memproduksi bahan bahan untuk pertanian yang dijual oleh penyuluh pertanian swasta kepada petani dengan kata lain penyuluh pertanian Bendahara swasta memberikan ilmu kepada petani sekaligus menjual Sekertaris produk produk perusahaan yang menaungi penyuluh pertanian swasta C. Pengorganisasian Penyuluh Seksi - Seksi Pengorganisasian pada model BP3K Kabupaten Ciamis

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

39

Anggota

D. Perencanaan Program Penyuluhan Sosialisasi Program PUAP Di Kabupaten Ciamis PUAP Merupakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan yang telah digulirkan sejak tahun 2008 di seluruh Indonesia. Setiap tahun tidak kirang dari 10000 desa dan 10000. Gapoktan yang menerima BLM-PUAP 1. Tahun 2008 telah disalurkan dana BLM PUAP kepada 10.542 Gabungan Kelompok Tani /Gapoktan (Rp. 1,053 triliun), di 33 Provinsi, 389 Kab/Kota, dan tahun 2009 telah disalurkan kepada 9.884 Gapoktan (Rp 988,4 milyar) di 417 Kab/kota. 2. Untuk Propinsi Sulawesi Selatan 2008: 457 Gapoktan; 2009: 493 Gapoktan, di 20 Kab/Kota. 3. Tujuan PUAP adalah mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan usaha agribisnis di perdesaan sesuai potensi wilayah. 4. Untuk mewujudkannya diperlukan pembinaan yang berkelanjutan terhadap program PUAP.
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 40

Di Kabupaten Ciamis pada minggu yang lalu telah telah dilakukan kegiatan sosialisasi kepada anggota Gapoktan yang akan menerima BLM-PUAP Tahun 2010. Oleh tim teknis PUAP Kabupaten yang di d mpingi oleh PMT dan Penyuluh pendamping serta Kepala BP3K. Dari tanggapan yang disampaikan oleh petani, nampaknya bahwa petani masih belum banyak mengetahui peruntukan dan prosedur yang harus di tempuh oleh calon penerima, begitu juga pengurus walaupun sudah di latih namun masih banyak yang belum di pahaminya. Hal ini karena pelaksanaan pelatihan pengurus Gapoktan waktunya sangat terbatas dan singkat

KESIMPULAN Pengorganiasian penyuluhan pertanian pada masa ini, dibanding dengan masa sesudahnya dapat dinilai telah menempatkan penyuluhan menjadi kondusif sebagai faktor pelancar pembangunan pertanian. Telah terjadi perubahan yang nyata pada perilaku petani, dari tidak menerapkan teknologi maju menjadi terbiasa menerapkan. Pendekatan penyuluhan pada masa itu terwujud karena adanya peran penyuluh demi kemandirian petani, karen inovasi yang diterpakan oleh petani cenderung dianjurkan oleh penyuluh, sehingga menghasilkan petani yang tergantung pada aparat dalam pengelolaan usaha taninya. Dalam kondisi seperti ini, kinerja penyuluh dan komponen penyuluh lainnya menjadi sangat menentukan kinerja pertanian. Pada era otonomi daerah sudah diberlakukannya peran penyuluh dalan memajukan pertanian. Hal ini terbukti pada Kabupaten Ciamis yang sudah mempunyai Badan Penyuluh Ciamis yang sudah ada pada tahun 1984, dan mendapatkan tiga penghargaan atas apresiasinya.

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

41

Hal yang juga perlu diperhatikan bagi penyuluh adalah penyuluh harus tahuu apakah peran mereka bagi masyarakat dan bagaimana strategi agar para masyarakat mau mendengarkan dan melaksanakan materi yang penyuluh berikan. Salah satu triknya yaitu dengan mencotoh turun langsung ke lapangan. Sehingga mereka dapat memprtaktekannya secara langsung. Singkatnya, peran penyuluh sangat berati bagi para petani. Hal ini dimaksudkan untuk memajukan produktivitas mereka serta pengetahuan mereka akan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Lembaga Balai Penyuluhan Pertanian. 2011 (http://www.scribd.com/doc/58779291/BAHWA-Lembaga-BalaiPenyuluhan-Pertanian diakses pada 15 April 2012 pukul 18.00 WIB) Anonim. Pasal Bupati.2009 (http://www.temanggungkab.go.id/files/prod_hukum/PERBUP %20No.31%20thn%202009%20Kebij.dan%20Strategi%20Penyul.pdf diakses pada 15 April 2012 pukul 15.40 WIB) Anonim. Peran Penyuluhan Dalam Era Otonomi Daerah.2009 (http://cybex.deptan.go.id/node/1730/undefined diakses pada 15 April 2012 pukul 16.10 WIB) Anonim. SDM Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Dilatih. 2011. (http://dkp.sulteng.go.id/index.php? option=com_content&task=view&id=471 diakses pada 15 April 2012 pukul 16.30 WIB)
UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis 42

Anonim. Tujuan penyuluhan. 2009 (http://www.deptan.go.id/bpsdm/penyuluhan/Renstra/TUJUAN.htm diakses pada 15 April 2012 pukul 16.00 WIB) Astuti,Susilo. Hak dan Kewajiban Penyuluhan Pertanian Swadaya. 2009 (http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/hak-dan-kewajiban-penyuluhpertanian-swadaya diakses pada 15 April 2012 pukul 17.00 WIB) Handoko, Agustinus. Membajak Dengan Kerbau.2009 (http://nasional.kompas.com/read/2009/11/22/18291460/foto.membajak.den gan.kerbau diakses pada tanggal 15 April 2012 pukul 15.00 WIB) Mayasanto, Ade. SBY: perketat perizinan lahan. 2008 (http://nasional.kompas.com/read/2008/11/12/13470741/sby.perketat.perizin an.lahan diakses pada 15 April 2012 pukul 15.20 WIB)

UTS Take Home Penyuluhan Pertanian |Penyuluhan Pada Era Otonomi Daerah Kabupaten Ciamis

43