P. 1
Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

|Views: 5,945|Likes:
Dipublikasikan oleh Parjoko MD
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.

More info:

Published by: Parjoko MD on Sep 28, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Sections

1/5/2009

1

KEMENTERIAN KOORDINATOR
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA

KEDEPUTIAN BIDANG KOORDINASI
PEMBERDAYAANPEREMPUAN DAN
KESEJAHTERAAN ANAK
Jakarta, 2008

PENGANTAR

omitmen Indonesia untuk melaksanakan Beijing Platform for Action 1995 yang terurai
dalam 12 Bidang Kritis Program Aksi, serta upaya pembangunan yang terencana guna
mencapai Millenium Development Goals 2000, telah membawa posisi perempuan ke arah
yang lebih baik dalam kehidupan bangsa Indonesia. Namun, perkembangannya masih relatif
lambat sehingga masih perlu upaya lebih keras agar kesejahteraan dalam kesetaraan dan
keadilan gender dapat segera terwujud.
Berbagai upaya telah kita lakukan dalam rangka meningkatkan kesetaraan dan
keadilan jender. Namun, kita masih dihadapkan pada rendahnya kualitas hidup perempuan
yang dicirikan dengan masih tingginya angka kematian ibu, rendahnya tingkat pendidikan
perempuan dan belum optimalnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. Sehingga
upaya pemberdayaan perempuan harus dilaksanakan secara sinergis, terkoordinasi dengan
baik dan berkelanjutan. Penyusunan Profil Perempuan dan Anak Indonesia dengan data
terpilah, secara periodik dan bersifat time series, sangat penting dilakukan guna mengevaluasi
dan menyusun kebijakan, program dan kegiatan yang akan datang di dalam rangka
pemberdayaan perempuan, baik pada tataran nasional, provinsi, maupun tingkat
kabupaten/kota sampai ke perdesaan.
Di samping perempuan yang masih perlu ditempatkan pada posisi yang lebih baik,
anak juga perlu mendapatkan perhatian. Permasalahan anak yang dapat dikategorikan ke
dalam tiga hal yakni perlakuan salah terhadap anak, penelantaran anak, dan eksploitasi anak
juga masih memerlukan berbagai upaya penanggulangan oleh berbagai pihak terkait.
Disadari bahwa Buku Profil Perempuan dan Anak Tahun 2007 ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu, diharapkan masukan yang konstruktif sehingga dapat dijadikan bahan
guna penyempurnaan buku ini. Akhirnya, ucapan terima kasih disampaikan kepada lembaga
pemerintah terkait, LSM dalam dan luar negeri, organisasi masyarakat dan perguruan tinggi
serta individu yang secara langsung atau tidak langsung telah membantu tersusunnya buku
ini.

Jakarta, Desember 2008
Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan
Kesejahteraan Anak,

Dra. Maswita Djaja, MSc

K

ii

DAFTAR ISI

Hal

PENGANTAR…………………………………………………………………………………

i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………..

ii

DAFTAR TABEL ……………………………………………………………………………..

iii

DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………………......

iv

TIM PENYUSUN……………………………………………………………………………..

vii

PENDAHULUAN…………………………………………………………………………….

1

PEREMPUAN INDONESIA……………………………………………………………….
1. Perempuan dan Bonus Demografi ………………………………………………….
2. Jumlah Penduduk Indonesia ………………………………………………………...
3. Kualitas Bangsa Indonesia …..………………………………………………………
4. Mobilitas Penduduk Indonesia ………………………………………………………

3
3
5
8
13

KUALITAS HIDUP PEREMPUAN DAN ANAK............................................................
1. Kemiskinan .........................................................................................................
2. Kesehatan ..........................................................................................................
3. Pendidikan dan Pelatihan ...................................................................................
4. Kekerasan Terhadap Perempuan ......................................................................
5. Perempuan dan Konflik Bersenjata ....................................................................
6. Ekonomi .............................................................................................................
7. Perempuan sebagai Pemegang Kekuasan dan Pengambilan Keputusan .........
8. Mekanisme Institusional Pemajuan Perempuan ................................................
9. Hak Azasi Perempuan ........................................................................................
10. Perempuan dan Media Massa ...........................................................................
11. Perempuan dan Lingkungan ..............................................................................
12. Anak-Anak Perempuan ......................................................................................
13. Kemitraan ...........................................................................................................

18
18
19
35
43
52
56
62
67
73
76
78
81
89

PENUTUP ...................................................................................................................

93

PENGERTIAN..............................................................................................................

95

REFERENSI................................................................................................................

98

iii

DAFTAR TABEL

No.

Judul Tabel

Hal

1. Perkembangan Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia,
Tahun 1945 – 2007 .........................................................................................

5

2. Jumlah dan Prosentase Penduduk Usia kerja, Angkatan Kerja Indonesia dan
Pengangguran Terbuka 1980 – 2000 .......................................................

6

3. Jumlah dan Prosentase Penduduk Usia kerja, Angkatan Kerja Indonesia dan
Pengangguran Terbuka 2004 – 2007........................................................

7

4. Jumlah dan Prosentase Angkatan kerja Indonesia Berdasarkan Tingkat
Pendidikan, 1990 – 2007..................................................................................

7

5. Perkembangan HDI dan GDI Indonesia, Tahun 1975 – 2005 .........................

8

6. Perkembangan Ranking HDI dan GDI Negara Negara ASEAN,
Tahun 1999 – 2005 .........................................................................................

9

7. Perkembangan PDB Indonesia, 1950 – 2007..................................................

11

8. Jumlah Migrasi Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri,
Tahun 2001 – 2007...........................................................................................

14

9. Penerimaan Devisa Tenaga Kerja Indonesia dari Luar Negeri,
Tahun 2001 – 2007...........................................................................................

16

10. Jumlah Penduduk Miskin Indonesia, Tahun 1976 s/d 2007.............................

19

11. Perkembangan Status Gizi Balita Tahun 1990 s/d 2006 .................................

20

12. Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia, Tahun 1971 – 2007...........................

25

13. Jumlah Kasus HIV/AIDs Di Indonesia, Tahun 1971 – 2007.............................

32

14. Jumlah Penderita AIDs terkait Injecting Drug Use (IDU’s),
Tahun 2001 – 2007 (Desember)…………………………………………………...

33

15. Jumlah Kasus Narkoba Indonesia, Tahun 2001 – 2007...................................

33

16. Jumlah Tahanan/Nara Pidana Narkoba, Tahun 2002 – 2006..........................

34

17. Jumlah Korban Penyalahgunaan Narkoba Di Rumah Sakit Ketergantungan
Obat (RSKO) Jakarta, Tahun 2001 – 2007......................................................

35

18. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah Anak Usia 7 – 18,
Tahun 1971 – 2007...........................................................................................

36

19. Perkembangan Jumlah Peserta Didik di Indonesia, Tahun 2004 – 2006.........

37

20. Jumlah Siswa Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan,
Tahun 1971 – 2007...........................................................................................

38

21. Persentase Siswa Putus sekolah, Usia 7-18 Tahun Menurut kelompok Umur
dan Jenis Kelamin, Tahun 2001 – 2007...........................................................

39

22. Perkembangan Prestasi Siswa Tahun Kedelapan (SLTP) Di Beberapa
Negara ASEAN, 1995 – 2003 ..........................................................................

40

23. Perkembangan Prestasi Siswa Usia 15 Tahun Ke-atas (SLTA) Di Beberapa
Negara ASEAN, 2000, 2003, dan 2005............................................................

40

24. Perkembangan Prestasi Internasioal Ilmu Fisika Siswa SLTA Indonesia,
Tahun 2000 – 2006...........................................................................................

41

25. Perkembangan Prestasi Internasioal Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Siswa
SMP Indonesia, Tahun 2000 – 2007................................................................

41

iv

26. Perkembangan Prestasi Internasioal Siswa SD Indonesia,
Tahun 2000 – 2008...........................................................................................

41

27. Prosentase Penduduk Berusia 10 Tahun Ke-atas yang Buta Huruf,
Tahun 1961 – 2007..........................................................................................

42

28. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke-atas menurut Ijazah/STTB Terakhir
yang dimiliki,Tahun 1975 – 2007......................................................................

43

29. Jumlah Kasus KDRT di LBH APIK Jakarta, Tahun 1998 – 2007.....................

46

30. Jumlah Kasus Perdagangan Orang Di Indonesia, Tahun 1999 – 2007...........

49

31. Jumlah Kasus dan Korban Perdagangan Orang Di Indonesia, 2002 – 2007...

49

32. Perkembangan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Orang (Trafficking)
Di Indonesia, Tahun 2004 – 2005.....................................................................

50

33. Jumlah Putusan Kasus Perdagangan Orang Di Indonesia,
Tahun 2003 – 2006...........................................................................................

50

34. Jumlah Korban Perdagangan Orang Yang Di Pulangkan,
Tahun 2005 – 2007...........................................................................................

51

35. Jumlah Pendampingan Korban Perdagangan Orang, Tahun 2005 – 2007......

52

36. Jumlah Pengungsi Menurut Provinsi Di Indonesia, Tahun 2001 – 2005..........

54

37. Jumlah Pengungsi Akibat bencana Alam Menurut Provinsi Di Indonesia,
Tahun 2002 – 2007...........................................................................................

55

38. Jumlah Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan,
Tahun 1986 – 2002..........................................................................................

57

39. Jumlah Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan,
Tahun 2003 – 2007...........................................................................................

58

40. Jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia Menurut jenis Kelamin,
Tahun 1980 – 2000...........................................................................................

58

41. Jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia Menurut Jenis Kelamin,
Tahun 2004 – 2007...........................................................................................

59

42. Tingkat Pendidikan Pengangguran Terbuka Di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 2000 - 2003 ....................................................

60

43. Tingkat Pendidikan Pengangguran Terbuka Di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 2004 – 2007....................................................

60

44. Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri,
Tahun 2004 – 2006..........................................................................................

61

45. Perkembangan Promosi TKI ke Luar Negeri....................................................

62

46. Jumlah dan Prosentase Anggota DPR, DPRD, dan MPR
Periode 1992-1999, 1999-2004, 2004-2009.....................................................

63

47. Jumlah dan Prosentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997 – 2007....................................................

64

48. Jumlah dan Prosentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia
Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin, Tahun 2005 – 2007.........................

64

49. Jumlah dan Prosentase Jabatan Struktural Pegawai Negeri Sipil (PNS) di
Indonesia Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997 – 2007...................................

65

50. Jumlah dan Prosentase Profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997 – 2007....................................................

66

v

51. Jumlah dan Prosentase Pejabat (Hakim) di Institusi Peradilan
Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1997 – 2007....................................................

67

52. Institusi Pemberdayaan Perempuan Menurut Eselonisasi Provinsi
di Indonesia, Tahun 2007.................................................................................

68

53. Jumlah Pusat Studi Wanita Menurut Provinsi di Indonesia, Tahun 2005.........

70

54. Peraturan Perundang-undangan Terkait HAM, Tahun 2007............................

73

55. Jumlah Kasus Pornografi di Indonesia, Tahun 1999 – 2006............................

77

56. Konsumsi Per Bulan dan Prosentase Rumah Tangga yang Menggunakan
Minyak Tanah, Gas/LPG dan Kayu Bakar, Tahun 2003 dan Tahun 2004.......

79

57. Prosentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum,
Tahun 2003, 2004, 2005, dan 2007..................................................................

80

58. Prosentase Rumah Tangga Dengan Fasilitas Tempat Buang Air Besar,
Tahun 2003, 2004, 2005, dan 2007..................................................................

80

59. Jumlah Anak Jalanan di Indonesia dan Beberapa Kota Besar,
Tahun 1996 – 2006...........................................................................................

82

60. Jumlah Anak Cacat dan Jenis Kecacatan Indonesia, Tahun 2000 – 2006......

84

61. Jumlah Pekerja Anak Menurut Perdesaan dan Perkotaan,
Tahun 2000 – 2006...........................................................................................

86

62. Jumlah dan Jenis Permasalahan Sosial Anak, Tahun 2000 – 2007................

87

63. Jumlah dan Jenis Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak,
Periode 2002 s/d 2005.....................................................................................

88

64. Jumlah dan Jenis Permasalahan Sosial Anak Tahun, 2000 s/d 2007 .............

88

65. Jumlah dan Jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Rakyat Korban
Bencana, Tahun 2000 s/d 2007........................................................................

89

66. Jumlah dan Jenis Permasalahan Sosial Anak, Tahun 2000 s/d 2007..............

89

67. Jumlah Sambungan Telpon dan Personal Computer di Indonesia dan
Beberapa Negara Tetangga, Tahun 2002........................................................

90

68. Pertumbuhan Information and Communication Technology Opportunity
Index (ICT-OI) Negara-negara ASEAN, Tahun 2006……………………………

91

vi

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul Gambar

Hal

1. Window of Opportunity ....................................................................................

3

2. Angka Harapan Hidup Penduduk Indonesia, Tahun 1971 – 2006...................

10

3. Angka Kelahiran Total (TFR), Tahun 1971 – 2007..........................................

11

4. Jumlah TKI yang Bekerja di Sektor Formal dan Informal di Luar Negeri,
Tahun 2007......................................................................................................

15

5. Prosentase Prevalensi Resiko Perempuan Menderita KEK,
Tahun 1999 – 2005.........................................................................................

22

6. Angka Kematian Balita, 2000 – 2005..............................................................

23

7. Persentase Wanita Pernah Kawin denag Usia Kawin Pertama < 16 Tahun
(di Perdesaan)..................................................................................................

28

8. Persentase Wanita Pernah Kawin denag Usia Kawin Pertama < 16 Tahun
(di Perkotaan)...................................................................................................

28

9. Persentase Wanita Pernah Kawin denag Usia Kawin Pertama < 16 Tahun
(di Perdesaan dan Perkotaan).........................................................................

28

10. Prosentase Kunjungan/Informasi KB Wanita Remaja......................................

29

11. Situasi Epidemi : Kasus AIDs Kumulatif s/d maret 2008..................................

31

12. Prosentase Penduduk Buta Huruf Uisa > 10 Tahun 2001 – 2007...................

42

13. Pelaporan Kasus KDRT Sebelum UU – KDRT................................................

45

14. Pelaporan Kasus KDRT Sesudah UU – KDRT................................................

45

15. Prosentase Rumah Tangga Dengan fasilitas Buang Air Besar,
Tahun 2003, 2004, 2005, dan 2007.................................................................

80

16. Jumlah Panti, Tahun 2002 – 2007...................................................................

85

17. Jumlah Anak Asuh, Tahun 2002 – 2007..........................................................

85

vii

TIM PENYUSUN

Pengarah : Dra. Maswita Djaja, MSc

Penanggung Jawab: Dra. Detty Rosita, MPd

Koordinator dan Editor:

1. Dra. Eka Yulianti, MSc.
2. Ir. Parjoko, MAppSc.
3. Dra. Byarlina Gyarmirti, MSc.

Analisa dan Pengumpul Data:

1. Ir. Wahyuni Tri Indarty.
2. Johan Arifin Milono.
3. DR. Ir. Moon Cahyani.
4. Ir. Tri Rahayu, MM.
5. Drs. Wagiran, MM.
6. Drs. Made Agustina.
7. Drs. Rudoro Susanto E, Msi.

Administrasi dan Pengolahan Data:

1. Rr. Puji Astuti, S Sos.
2. Budi Rahayu, SE.
3. Rini Rahmawati.
4. Endang Susilowati.

Kontributor Data:

1. Dewi Sartika (BKN).
2. Grace Ginting (KPAN).
3. GRM. Suryo Darsono (Dep. Sosial RI).
4. Irma Hadjamuddin (Dep. Luar Negeri RI).
5. Ismaya H. Wardanie (Kejaksaan Agung RI).
6. Puji Hartanto (Deputi Operasional POLRI).
7. Purim (BKKBN).
8. R. Pribudhian (Ditjen. PNFI Dep. DIKNAS).
9. Sapari (BNN).
10. Siwi Lestari (Meneg. Pemberdayaan Perempuan).
11. Sri Wahyu F. Firman (PPN).
12. Supiyati Dimas (Dep. Luar Negeri RI).
13. Togi Siahaan (BPS).
14. Wiwik Arumwati (BPS).

Design Cover:

Ir. Alvita Niken Arumdati, MArch.

1

PENDAHULUAN________________________

ejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, penduduk Indonesia berkembang
dengan cepat. Ketika itu, jumlah penduduk Indonesia mencapai kisaran 73,3 juta,
tetapi 62 tahun kemudian yakni pada tahun 2007 meningkat hampir tiga kali lipat
menjadi 225,18 juta. Dari jumlah tersebut 50,08 persen berjenis kelamin perempuan, dan 82,16
juta (36,49 %) anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Dalam rangka pemenuhan dan perlindungan hak-hak perempuan, pada tahun 1904
Indonesia meratifikasi Convention on the Elimination of Discrimination Against Women
(CEDAW) melalui Undang-undang No. 7 Tahun 1984, dan pada tahun 1985 ikut
menandatangani Beijing Declaration and Platform for Action (BPfA). Kemudian pada tahun
1999, Indonesia mengeluarkan Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi
Manusia (HAM), dan pada tahun 2000 berkomitmen terhadap Millenium Development Goals
(MDGs).

Selain itu, dari tahun 1999 - 2002 Indonesia telah mengamandemen UUD 1945 empat
kali, diantaranya dengan memasukkan masalah HAM pada Pasal 28. Selanjutnya pada tahun
2005, Indonesia meratifikasi International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
melalui Undang-undang No. 11 Tahun 2005, dan International Covenant on Civil and Poltical
Rights melalui Undang-undang No. 12 Tahun 2005.
Terkait dengan pemenuhan hak-hak anak, pada tahun 1979 Indonesia mengesahkan
Undang-undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Kemudian pada tahun 1990,
melalui Keputusan Presiden RI No. 36 Tahun 1990 meratifikasi Convention on the Right of the
Child (CRC). Pada tahun 1997 mengeluarkan Undang-undang No. 4 Tahun 1997 tentang
Penyandang Cacat.

Untuk melindungi perempuan dan anak Indonesia, ditetapkan Undang-undang No. 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang diikuti dengan Undang-undang No. 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-undang No. 12 Tahun
2006 tentang Kewarganegaraan, Undang-undang No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban, Undang-undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan,
dan Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang.

Dalam Pasal 45 dan Pasal 52 (2) Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM
dinyatakan bahwa hak perempuan dan hak anak adalah hak asasi manusia, sementara Pasal
3 Undang-undang No. 11 Tahun 2005 dan Pasal 3 Undang-undang No. 12 Tahun 2005
menyatakan bahwa negara menjamin hak-hak yang sederajat antara laki-laki dan perempuan
untuk menikmati semua hak ekonomi, sosial dan budaya serta hak sipil dan politik.
Selanjutnya, sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 28 (4) dan Pasal 8 Undang-
undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, dinyatakan bahwa “Perlindungan, pemajuan,
penegakan dan pemenuhan HAM adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah”.
Sementara dalam Pasal 71 Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dijelaskan
bahwa: “Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan
memajukan HAM yang diatur dalam undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain,

S

2

dan hukum internasional tentang HAM yang diterima oleh negara Republik Indonesia”. Pada
Pasal 72 dinyatakan bahwa, “Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah tersebut meliputi
langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya,
pertahanan keamanan negara, dan bidang lain”.
Selama 62 tahun Indonesia merdeka, berbagai upaya pemberdayaan perempuan dan
anak dilakukan dan telah berhasil meningkatkan kualitas perempuan dan anak Indonesia.
Walaupun upaya pemberdayaan tersebut masih relatif belum cukup menjadikan perempuan
dan anak yang cerdas dan sejahtera jika dibandingkan dengan laki-laki ataupun perempuan
dan anak-anak di belahan dunia lain. Masalah kecerdasan dan kesejahteraan perempuan
menjadi sangat penting karena berbagai persyaratan untuk mewujudkan bonus demografi
“window of opportunity” bagi Bangsa Indonesia yang mulai terjadi dan diperkirakan akan
mencapai pucaknya pada beberapa dekade ke depan. Bonus demografi ini akan sangat
dipengaruhi oleh peran penting perempuan, yakni terkait dengan kelangsungan penurunan
angka kelahiran, terjaganya kesehatan keluarga, dan keamanan lingkungan. Perempuan juga
sangat berperan dalam membentuk kecerdasan dan meningkatkan kesejahteraan anak-anak
sebagai generasi penerus Bangsa Indonesia.
Indikasi keberhasilan pemenuhan, penegakan, pemajuan dan perlindungan hak-hak
perempuan dan anak sebagaimana dikehendaki oleh undang-undang telah mulai
menampakkan hasilnya. Untuk itu, dengan berbagai keterbatasan data yang ada, maka
gambaran/profil perempuan dan anak secara nasional ini disusun dan diupayakan dapat
disajikan secara terpilah baik laki-laki maupun perempuan dalam bentuk time-series. Profil
perempuan dan anak ini, memberi gambaran bahwa pembangunan nasional secara bertahap
telah menghasilkan berbagai kemajuan dalam rangka menempatkan perempuan dan anak
sebagai obyek sekaligus subyek pembangunan.
Dalam tataran implementasi, indikator yang terdapat dalam profil perempuan dan anak
ini sebenarnya lebih diperlukan pada tingkat akar rumput untuk dijadikan sebagai bahan
perumusan kebijakan, perencanaan program dan merancang kegiatan pemberdayaan
perempuan dan anak sebagai bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
(PNPM) Mandiri.

Pemanfaatan data terpilah, mutakhir dan lengkap di tingkat perdesaan akan
menghasilkan program dan kegiatan yang lebih mengakar di tingkat lapangan, tepat sasaran
dan mendatangkan manfaat yang optimal bagi semua pihak, utamanya perempuan dan anak.
Sehingga pada akhirnya, keseluruhan program dan kegiatan di perdesaan tersebut secara
sinergis akan mampu memberikan kontribusi dan mengantarkan perempuan Indonesia menjadi
sosok yang cantik dan menawan, sederhana, cerdas, serta mampu mengantarkan anak-anak
Indonesia menjadi kalifah dijamannya.

3

PEREMPUAN INDONESIA__________________

1. Perempuan dan Bonus Demografi

Indonesia selama 13 - 23 tahun mendatang mempunyai peluang mendapatkan bonus
demografi “window of opportunity” sebagai akibat menurunnya rasio ketergantungan
(dependency ratio) yakni perbandingan antara jumlah penduduk usia non-produktif di bawah 15
tahun dan di atas 65 tahun, terhadap penduduk usia produktif 15-64 tahun. Menurut Yayasan
Indonesia Forum (2007), sampai dengan tahun 2018 Indonesia telah menikmati “Bonus
Demografi Pertama” sebagai akibat penurunan angka kelahiran yang berarti akan mengurangi
proporsi konsumsi dalam pendapatan, sehingga meningkatkan jumlah tabungan keluarga dan
masyarakat. Setelah tahun 2018, Indonesia akan mendapatkan “Bonus Demografi Kedua”
yang disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup manusia Indonesia, yang berarti
memperpanjang usia produktif dan memungkinkan arus pendapatan tidak terhenti sehingga
potensi tabungan masyarakat tetap terus berlanjut.
Program Nasional Keluarga Berencana dengan Norma Keluarga Kecil, Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS), sejauh ini telah berhasil menurunkan tingkat kelahiran yang ditandai
dengan : (i) menurunnya proporsi penduduk non-produktif di bawah usia 15 tahun, (ii)
mempercepat peningkatan proporsi penduduk usia kerja, dan (iii) melambatnya peningkatan
proporsi penduduk lanjut usia.

Pada tahun 1971, rasio ketergantungan penduduk Indonesia mencapai 86 per seratus,
artinya bahwa dalam setiap 100 penduduk usia kerja mempunyai tanggungan 86 orang
penduduk non-produktif dan hampir 93 persen terdiri dari anak-anak di bawah usia 15 tahun,
sedang yang 7 persen adalah penduduk lansia, dengan jumlah yang relatif masih sedikit
karena usia harapan hidup masih di bawah 65 tahun. Pada tahun 2000, rasio ketergantungan
penduduk Indonesia menurun menjadi 54 per seratus, dan diperkirakan akan terus menurun
mencapai angka terendah pada tahun 2020, 2025 dan 2030, di mana rasio ketergantungan
pada periode itu berkisar 44 per seratus. Pada periode 2020-2030 inilah the window of
opportuntiy untuk Indonesia terjadi, karena sesudahnya angka ketergantungan akan meningkat
kembali yaitu sebagai akibat bertambahnya penduduk lansia. Namun jika penduduk lansia
tersebut berada dalam keadaan sehat, berpendidikan dan produktif justru akan menambah
potensi tabungan masyarakat.

4

Gambar 1.

Namun, bonus demografi tersebut tidak datang dengan sendirinya karena diperlukan
berbagai persyaratan, seperti tingkat fertilitas harus terus menurun menjadi 1,86 per wanita
dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 18,9 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2030.
Pemenuhan persyaratan tersebut memerlukan peran penting perempuan.
Peranan perempuan dalam ber-KB selama ini telah menjadikan mereka “pahlawan
kependudukan” karena partisipasinya tersebut (57,43% dibanding pria yang hanya 1,5 %) telah
mampu menggeser struktur penduduk pada proporsi penduduk usia produktif yang lebih besar.
Selain itu, dengan melakukan KB telah memberikan waktu dan kebebasan bagi perempuan
untuk lebih banyak mengaktualisasikan dirinya, dimana sebelumnya banyak tersita untuk
urusan melahirkan dan merawat anak. Ketersediaan waktu dipergunakan untuk meningkatkan
pendidikan, atau masuk ke pasar kerja yang banyak tersedia karena perkembangan industri
manufaktur. Perempuan Indonesia kini telah berubah pandangannya, banyak yang menunda
perkawinan, masuk ke pasar kerja, dan jika berkeluarga cukup mempunyai anak dua atau tiga.
Dengan pola hidup yang lebih maju, perempuan menjadi lebih mementingkan kualitas
dari pada jumlah anak dan tidak segan-segan menginvestasikan pendapatan untuk
memelihara kesehatan dan memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi anak-anaknya,
sehingga menjadi sumberdaya pembangunan yang berkualitas dan sejahtera.
Investasi pemerintah di bidang pendidikan telah menghasilkan generasi yang lebih baik.
Generasi kelahiran tahun 1980 -1985 dikenal dengan era KB, dan telah menamatkan
pendidikan dasar sebesar 90 persen, 60 persen tamat SLTP, dan sekitar 30-40 persen tamat
SLTA. Untuk generasi kelahiran tahun 1985-2010, adalah generasi yang dilahirkan oleh ibu
yang berpendidikan, dalam keluarga yang kecil, memperoleh akses pelayanan kesehatan dan
pendidikan, tumbuh di era pertumbuhan ekonomi tinggi (1980-1997, Oil Boom), serta

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

1950

1960

1970

1980

1990

2000

2010

2020

2030

2040

2050

Tahun

Persen

Pddk usia muda (0-14 th)

Pddk usia lanjut (+65 th)

Total

Total

5

menikmati nilai-nilai kehidupan modern yang ditandai dengan kemajuan di bidang teknologi
informasi dan komunikasi. Generasi ini nantinya akan menjadi angkatan kerja pada masa
window of opportunity tahun 2020-2030 yang memiliki kualitas dan daya saing.
Agar hal tersebut benar terjadi, diperlukan kebijakan human capital deepening untuk
menyiapkan generasi berkualitas untuk menjadi modal sosial yang kuat bagi pembangunan
nasional. Namun, kebijakan ini juga harus menyentuh angkatan kerja yang sudah terlanjur
berpendidikan rendah dan berada di pasar kerja sekarang ini. Untuk itu, tenggang waktu 13-23
tahun mendatang harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

2. Jumlah Perempuan Indonesia

Untuk negara berkembang yang sedang berupaya menanggulangi kemiskinan,
peningkatan pendidikan guna meningkatkan kualitas penduduk akan sangat diuntungkan
apabila angka pertumbuhan penduduk dapat diturunkan. Namun, apabila pertumbuhan
penduduk tidak dapat diturunkan, maka kuantitas dan kualitas sumberdaya alam akan
mengalami penurunan seiring dengan tingginya angka pertumbuhan penduduk.
Pada periode tahun 60-an sampai dengan 80-an laju pertumbuhan penduduk Indonesia
meningkat tajam tetapi pada periode tahun 2000-2007 telah berhasil diturunkan menjadi 1,34
persen meskipun secara absolut tetap tinggi. Pengendalian laju pertumbuhan penduduk
tersebut tidak lepas dari partisipasi perempuan dalam keluarga berencana.

Tabel 1. Perkembangan Jumlah dan Laju Pertumbuhan
Penduduk Indonesia, Tahun1945-2007

Jumlah Penduduk (ribuan orang)

Tahun

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Laju Pertumbuhan
Penduduk (%)

1945

Dta

Dta

73.300

1950

Dta

Dta

77.200

1,0

1961

Dta

Dta

97.100

2,1

1971

58.338,6

60.029,2

119.208,2

2,1

1980

72.951,7

73.825,1

147.490,2

2,3

1990

89.375,7

89.872,1

179.378,9

2,0

1995

96.929,9

97.824,8

194.754,8

1,7

2000

101.814,4

101.641,6

203.456,0

1,5

2004

108.876,0

108.196,2

217.072,3

2005

109.801,7

109.403,0

219.204,7

2006

111.560,8

111.174,6

222.735,4

1,34

2007

112.409,9

112.770,1

225.180,0

Dta: Data tidak ada
Sumber: Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka, 2005.
SDKI 2007 ( laporan pendahuluan )

6

Mencermati tabel di atas, ada kecenderungan apabila laju pertumbuhan penduduk tidak
dikendalikan maka partisipasi angkatan kerja Indonesia akan terus meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah angkatan kerja. Angka pengangguran, walaupun mengalami
peningkatan yang relatif lambat, akan tetapi tingkat pengangguran terbuka akan cenderung
naik. Artinya, bahwa jumlah kesempatan kerja yang tersedia belum mampu menampung
bertambahnya angkatan kerja. Tabel di bawah ini menggambarkan situasi ketenagakerjaan di
Indonesia pada periode 1980 s/d 2007.

Tabel 2. Jumlah dan Prosentase Penduduk Usia Kerja,
Angkatan Kerja Indonesia dan Pengangguran Terbuka,
1980-2000.

1980

1990

2000

Kategori

Jumlah (ribu)

%

Jumlah (ribu)

%

Jumlah (ribu)

%

Angkatan Kerja

50.434,7

58,1

71.676,8 63,1

95.650,9 67,8

• Bekerja

49.627,2

57,2

69.524,8 61,2

89.837,7 63,7

• Cari Kerja

807,5

0,9

2.152,0

1,9

5.813,2

4,1

Bukan Angkatan Kerja

36.298,8

41,9

41.880,7 36,9

45.519,9 32,2

• Sekolah

5.487,0

6,4

8.685,1

7,6

10.763,5

7,6

• Rumah tangga

21.604,0

24,9

24.786,6 21,8

25.275,2 17,9

• Lainnya

9.207,8

10,6

8.407,0

7,4

9.481,2

6,7

Penduduk Usia Kerja

86.733,5

100

113.557,5

100

141.170,8

100

• TPAK

58,1

63,1

67,8

• TPTerbuka

1,6

3,0

6,1

Sumber: BPS, SP 1980, 1990, Sakerrnas 2000.

7

Tabel 3. Jumlah dan Prosentase Penduduk Usia Kerja,
Angkatan Kerja Indonesia dan Pengangguran Terbuka,
2004-2007.

2004

2005

2006

2007

KATEGORI

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Jumlah
(ribu)

%

Angkatan
Kerja

103.973,3

67,5

105.257,6

66,4

106.281,8

66,7

108.131.0

66,6

• Bekerja

93.722,0

60,8

93.958,4

59,3

95.177,1

59,8

97.583,1

60,1

• Cari Kerja

10.251,3

6,7

11.899,3

7,5

11.104,7

7,0

10.547,9

6,5

Bukan
Angkatan
Kerja

49.950,2

32,5

52.633,7

33,2

52.975,9

33,3

54.220,9

33,4

• Sekolah

11.577,2

7,6

13.581,9

8,6

13.978,3

8,8

14.320,4

8,8

• Rumah
tangga

30.877,2

20,0

30.619,5

19,3

30.806,0

19,3

31.133,0

19,2

• Lainnya

7.495,7

4,9

9.432.3

6,0

8.191,6

5,1

8.767,4

5,4

Penduduk
Usia Kerja

153.923,6

100

158.491,4

100

159.257,7

100

162.352,0

100

• TPAK

67,5

66,79

66,74

66,60

• PTerbuka

9,9

11,2

10,5

9,7

Sumber: BPS, Sakernas 2004, 2005, 2006, Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia 2007

Dilihat dari sisi pendidikan angkatan kerja Indonesia, nampak menunjukkan
kecenderungan membaik dari tahun ke tahun, walaupun relatif masih rendah, akan tetapi sejak
tahun 1990 – 2007 terus mengalami peningkatan, baik jenjang pendidikan SD, SLTP, SLTA
maupun pendidikan tinggi. Secara rinci diuraikan pada tabel berikut :

Tabel 4. Jumlah dan Prosentase Angkatan Kerja Indonesia
Berdasarkan Tingkat Pendidikan,1990-2007.

1990

1998

2005

2006

2007

PENDI-
DIKAN

Jml
(000)

%

Jml
(000)

%

Jml
(000)

%

Jml
(000)

%

Jml
(000)

%

Tidak
tamat
SD

31.914,4

44,5

24.846,8 26,8

16.979,8

16,0

17.569,5

16,5

16.874,3

15,6

Tamat
SD

22.243,1

31,0

33.772,6 36,4

38.749,4

36,6

38.900,4

36,6

39.725,8

36,7

Tamat
SLTP

6.760,8

9,4

13.182,4 14,2

21.239,4

20,0

21.903,6

20,6

22.434,8

20,7

Tamat
SLTA

9.006,2

12,6

17.023,8 18,4

21.760,0

20,5

21.932,7

20,7

22.347,0

20,7

Diploma

886,2

1,3

1.827,7

2,0

2.444,6

2,4

2.444,6

2,3

2.763,4

2,6

Sarjana

886,1

1,2

2.081,6

2,2

3.531,0

3,2

3,531,0

3,3

3.885.6

3,6

Jumlah

71.675,8

100

92.734,9

100 105.802,3

100 106.281,7

100

108.131,6

100

Sumber: BPS, SP 1990, Sakernas 1998, 2005, 2006. Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia 2007

8

3. Kualitas Bangsa Indonesia

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dimaksudkan untuk meningkatkan
ketahanan penduduk, produktivitas, dan kemandirian agar menjadi sumberdaya manusia yang
berdaya saing tinggi. Apabila hal ini terwujud, penduduk akan berubah dari kondisi yang kurang
menguntungkan dan menjadi beban pembangunan ke arah penduduk yang memiliki kualitas
dan kekuatan pembangunan yang mampu bersaing di era globalisasi.

Berbagai indikator untuk mengukur peningkatan kualitas sumberdaya manusia,
diantaranya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks
(HDI), Gender-related Development Index (GDI), dan Gender Empowerment Measure (GEM).
Pada periode 1975-2005, kualitas bangsa Indonesia telah mengalami perbaikan, hal ini terlihat
dari HDI, GDI, dan GEM yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun meskipun masih
relatif tertinggal apabila dibandingkan dengan negara lain.

Tabel 5. Perkembangan HDI dan GDI Indonesia, Tahun 1975-2005.

No.

Tahun

HDI

GDI

GEM

1.

1975

0,467

-

-

2.

1980

0,529

-

-

3.

1985

0,582

-

-

4.

1990

0,623

-

-

5.

1995

0,662

-

-

6.

1996

-

-

58,8 *)

7.

1998

0,670

0,664

-

8.

1999

0,677

0,671

49,5 *)

9.

2000

0,684

0,678

-

10.

2001

0,682

0,677

-

11.

2002

0,692

0,685

54,6 *)

12.

2003

0,697

0,691

-

13.

2004

0,711

0,704

-

14.

2005

0,728

0,721

- **)

Sumber: UN Human Dev. Report 2002, 2003, 2004, 2005, 2006,2007/2008
*) Data BPS, Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun 2005.
**) GEM diukur hanya ranking 1 – 93 dari 177 negara yang diukur.

Dari tabel di atas terlihat, bahwa HDI dan GDI Indonesia terus mengalami peningkatan,
namun apabila dibandingkan dengan negara-negara lain pencapaian tersebut masih tergolong
rendah karena bangsa Indonesia relatif masih belum menunjukkan tingkat kecerdasan,
kesehatan dan kesejahteraan yang cukup. Menurut UN Human Development Report 2007,
Indonesia masih berada pada urutan 107, lebih rendah dari Singapura (25), Brunei Darussalam
(30), Malaysia (63), Thailand (78), dan Filipina (90), Vietnam (105), tetapi lebih baik dari
Kamboja (131), Myanmar (132), Laos (131).

9

Tabel 6. Perkembangan Ranking HDI dan GDI Negara-negara
ASEAN, Tahun 1999-2005.

Sumber: UN Human Dev. Report 2000-2007/2008

HDI adalah suatu indeks komposit yang dihitung dari: (1) Angka Harapan Hidup (AHH)
yang mencerminkan kesehatan (2) tingkat melek huruf dewasa (literate) dan angka partisipasi
kasar yang mencerminkan penguasaan pengetahuan (3) dan Produk Domestik Bruto (PDB)
yang mengindikasikan kelayakan hidup. Sedang GDI dihitung berdasarkan kesetaraan
distribusi komponen HDI dari penduduk laki-laki dan perempuan. Selisih yang semakin kecil
antara GDI dan HDI mengindikasikan semakin kecilnya kesenjangan gender. Menurut UN
Human Development Report 2006, dari 157 negara yang disurvey ranking GDI Indonesia
masih berada pada urutan 81, lebih rendah dari Vietnam (80), Filipina (66), Thailand (58),
Malaysia (51), namun Indonesia lebih baik dibandingkan Kamboja (97). Menurut UN Human
Development Report 2007/2008, ranking GDI Indonesia menurun berada pada urutan 94, lebih
rendah dari Vietnam (91), Filipina (77), Thailand (71), Malaysia (58), Brunei (31), namun
Indonesia lebih baik dibandingkan Kamboja (114) dan Laos (115)
Untuk mengindikasikan peran perempuan dalam bidang ekonomi, politik, dan
pengambilan keputusan, digunakan Gender Empowerment Measures (GEM), yang jika nilainya
semakin besar berarti semakin besar partisipasi perempuan (HDR, 2005). Menurut Data BPS,
Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun 2005, nilai GEM Indonesia pada tahun 1996
adalah 0,588 menurun menjadi 0,495 pada tahun 1999, kemudian meningkat sedikit menjadi
0,546 tahun 2002. Menurut HDR 2007/2008 Indonesia tidak dilakukan penilaian GEM (hanya
negara yang HDI nya ranking 1 sd 93 yang diukur GEMnya)
Dari sisi Angka Harapan Hidup (AHH) terus mengalami peningkatan, artinya pada tahun
1971 AHH penduduk Indonesia hanya mencapai 45, 7 tahun dan pada tahun 2005 meningkat

RANKING HDI DAN GDI

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

No NEGARA

HDI GDI HDI GDI HDI GDI HDI GDI HDI GDI HDI GDI HDI GDI

1. Singapura

26

26

25

24

28

28

25

28

25

-

25

-

25 -

2. Brunei

32

30

32

31

31

31

33

-

33

-

34

-

30 31

3. Malaysia

56

55

59

54

58

53

59

52

61

50

61

51

63 58

4. Thailand

66

58

70

60

74

61

76

61

73

57

74

58

78 71

5. Filipina

70

62

77

63

85

66

83

66

84

63

84

66

90 77

6. Indonesia

102

92 110

91 112

91 111

90 110

87 108

81 107 94

7. Vietnam

101

89 109

89 109

89 112

87 108

83 109

80 105 91

8. Kamboja

121 109 130 109 130 105 130 105 130

99 129

97 131 114

9. Myanmar

118 107 127 106 131

- 132

- 129

- 131

- 132 -

10 Laos

131 119 143 118 135 109 135 107 133 102 133 100 130 115

10

menjadi 69 tahun, perempuan (71,1 tahun) lebih tinggi dari pada laki-laki (67,1 tahun). Pada
tahun 2006 menurut perhitungan BPS 2000-2025 Angka Harapan Hidup telah meningkat lagi
menjadi 69,4 tahun, dengan AHH perempuan (71,5 tahun) lebih tinggi dari pada laki-laki (67,5
tahun).

Gambar 2.

Fertilitas perempuan Indonesia berhasil diturunkan dari waktu ke waktu. Menurut SDKI
2007, TFR Indonesia 2,6 kelahiran per perempuan pada tahun 2007 (perdesaan: 2,8 dan
perkotaan: 2,3). TFR ini tidak berubah dibandingkan dengan tahun 2002. Menurut SDKI 2002-
2003, TFR Indonesia 2,6 lebih rendah dari Laos (4,7), Kambodja (4,0), Filipina (3,7), Malaysia
(2,9), dan Myanmar (2,8), tetapi masih lebih tinggi dari pada Brunei (2,5), Vietnam (1,9),
Thailand (1,7) dan Singapura (1,4). TFR Indonesia tersebut masih lebih besar dari angka
replacement fertility, yang oleh PBB ditetapkan 2,1 yaitu dalam rangka mencapai kondisi
penduduk tumbuh seimbang. Menurut beberapa sumber TFR periode 1967 – 2007 adalah
sebagai berikut :

ANGKA HARAPAN HIDUP PENDUDUK INDONESIA 1971-2006

4
5
.7

5
2
.2

5
9
.8

6
6
.4

6
9

6
9
.4

4
4
.2

5
0
.6

5
8
.1

6
3
.4

6
7
.1

6
7
.5

4
7
.2

5
3
.7

6
2
.5

6
7
.3

7
1
.1

7
1
.5

0

10

20

30

40

50

60

70

80

1971

1980

1990

2000

2005

2006*)

Sumber : Statistik Indonesia Merdeka 2005, HDR 2007/2008, Proyeksi
Penduduk 2000-2005

Indonesia
Laki-Laki
Perempuan

11

Gambar 3.

Angka Kelahiran Total (TFR) 1971 -2007

5,605

5,200

4,680

4,055

3,326

3,222

2,802

2,780
2,340
2,600
2,600

10,320

SP 1971

Supas 1976

SP 1980

Supas 1985

SP 1990

SDKI 1991

Supas 1995

SDKI 1997

SP 2000

SDKI '02-'03

SDKI 2007

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada
tahun 1950 PDB Indonesia hanya Rp 84 milyar, pada tahun 2004 meningkat menjadi Rp 2.296
trilyun atau Rp 10,64 juta per kapita atau US$ 1.185,6 per kapita. Pada tahun 2005 meningkat
menjadi Rp 2.785 trilyun, tahun 2006 mencapai Rp 3.338 trilyun dan pada tahun 2007
meningkat lagi menjadi Rp. 3.957 trilyun, dengan pertumbuhan 6,3 persen.

Tabel 7. Perkembangan PDB Indonesia, 1950-2007.

No.

Tahun

PDB Harga Berlaku
(Rp milyar)

PDB Harga Konstan
(Rp milyar)

Pertum-
buhan (%)

1.

1950

84

-

-

2.

1990

210.866,2

-

-

3.

1995

454.514,1

-

-

4.

2000

1.389.769,5

1.389.770,30

-

5.

2001

1.684.280,5

1.442.984,60

3,83

6.

2002

1.897.799,9

1.504.380,60

4,25

7.

2003

2.045.853,2

1.579.559,30

5,00

8.

2004

2.295.862,2

1.656.516,80

4,87

9.

2005

2.784.960,4

1.750.656,10

5,68

10.

2006

3.338.195,7

1.846.665,90

5,48

11.

2007

3.957.400,0

1.964.000,00

6,30

Sumber : BPS, Statistik Indonesia 2007, Berita Resmi Statistik (15 Febr 2008)

12

Kualitas penduduk Indonesia juga diindikasikan dari indeks kualitas hidup, daya saing,

dan tingkat korupsi.
1. Indeks Kualitas Hidup (Quality-of-Life Index, QOLI) Indonesia menurut The Economist
Intelligence Unit yang disusun berdasarkan penilaian atas komponen biaya hidup, waktu
luang dan kebudayaan, ekonomi, lingkungan, kebebasan, kesehatan, infrastruktur, resiko
dan keamanan, serta masalah iklim, pada tahun 2005 berada pada urutan 106 dengan
skor 55, di bawah Singapura (ranking 58, skor 63), dan Thailand (ranking 61, skor 62),
tetapi masih di atas Malaysia (ranking 108, skor 54), Filipina (ranking 110, skor 54),
Brunei (ranking 119, skor 52), Vietnam (ranking 145, skor 49), Kamboja (ranking 147,
skor 48), Myanmar (ranking 167, skor 44) dan Laos (ranking 168, skor 44).
Pada tahun 2006, QOLI Indonesia menurun ke urutan 138 dengan skor 52, di bawah
Singapura (ranking 61, skor 65), Malaysia (ranking 70, skor 62), Thailand (ranking 71,
skor 62), Filipina (ranking 124, skor 54), Brunei (ranking 126, skor 53), dan Kamboja
(ranking 132, skor 52), namun masih di atas Myanmar (ranking 167, skor 47), Vietnam
(ranking 177, skor 45) dan Laos (ranking 185, skor 43).
2. Daya saing bisnis Indonesia selama tiga tahun terakhir (2004-2006) masih berada di
tataran yang rendah. Menurut The International Institute for Management Development
(IMD) World Competitiveness Yearbook (2005, 2006). Tahun 2005 Indonesia berada
pada ranking 59, di bawah Singapura (3), Thailand (27), Malaysia (28), dan Filipina (49).
Tahun 2006, Indonesia mengalami penurunan dan menduduki ranking 60 (setingkat di
atas Venezuela), dan di bawah Malaysia (23), Thailand (32), serta Filipina (29). Pada
periode tahun 2006-2007, daya saing di beberapa negara Asean mengalami fluktuasi,
Indonesia menempati ranking 54, berada dibawah Singapura (8), Malaysia (19), Thailand
( 28), namun lebih baik dibanding Philipina (75), Vietnam ( 64), dan Kamboja ( 106).
Demikian halnya pada periode tahun 2007 – 2008, ranking Indonesia (ranking 54, skor
4,24 ) berada di bawah Singapura (ranking 7, skor 5,45, Kamboja (ranking 11, skore
3,48), Malaysia ( ranking 21, skor 5,10, Thailand (ranking 28, skor 4,70) namun lebih baik
dibandingkan Vietnam (ranking 68, skor 4,04) dan Philipina (ranking 71, skor 3,99)
3. Tingkat korupsi di Indonesia dinilai Transparency International Corruption Perceptions
Index (CPI) selama dua tahun terakhir (2005-2006) mengalami penurunan. Tahun 2005
mencapai skor CPI 2,2 dan berada di ranking 140. Tahun 2006, menempatkan Indonesia
pada ranking 130 dengan skor CPI 2,4. Menurut Transparency International, Skor CPI
bernilai nol yang berarti sangat korup dan nilai 10 berarti sangat bersih.
Pada tahun 2005, persepsi tingkat korupsi di Indonesia lebih parah daripada Kamboja
(ranking 131, skor 2,3), Filipina (ranking 124, skor 2,5), Vietnam (ranking 114, skor 2,6),
Thailand (ranking 60, skor 3,8), Malaysia (ranking 39, skor 5,1), Singapura (ranking 5,
skor 9,4), namun lebih baik dari Myanmar (ranking 156, skor 1,8).
Selanjutnya pada tahun 2006, tingkat korupsi Indonesia mengalami penurunan dan
berada pada ranking 130 sama dengan Papua New Guinea, namun lebih rendah apabila
dibandingkan dengan Filipina (ranking 121, skor 2,5), Vietnam dan Timor Leste (ranking
111, skor 2,6), Thailand (ranking 63, skor 3,6), Malaysia (ranking 44, skor 5,0) dan
Singapura (ranking 5, skor 9,4). Meskipun demikian, Indonesia lebih baik dari Kamboja
(ranking 151, skor 2,1), dan Myanmar (ranking 160, skor 1,9).

13

4. Indeks Kerapuhan Negara (Failed States Index/FSI) yang dikembangkan oleh The Fund
for Peace (organisasi riset independen) yang menggunakan 12 indikator sosial, ekonomi,
politik, dan militer. Organisasi ini membuat ranking sejumlah negara berdasarkan tingkat
kerapuhannya dalam menghadapi kekerasan konflik internal dan memburuknya
hubungan sosial. Semakin besar nilai indeksnya, maka semakin rapuh negara yang
bersangkutan dan semakin kecil urutan rankingnya.
Sepanjang tahun 2005, skor FSI Indonesia sebesar 87 dan berada di ranking 47,
kemudian pada tahun 2006 skor Indonesia menjadi 89,2 dan berada di ranking 32. Tahun
2007, skor Indonesia menjadi 84,4 dan berada di ranking 55, dan ranking ini lebih baik
daripada Myanmar (ranking 14 skor 97) dan Kamboja (ranking 48 skor 85,7). Namun,
tetapi lebih rapuh dibandingkan dengan Filipina (ranking 56 skor 83,2), Vietnam (ranking
79 skor 77,8), Thailand (ranking 86 skor 76), Brunei (ranking 109 skor 71,2), dan Malaysia
(ranking 120 skor 65,9).

4. Mobilitas Perempuan Indonesia

Persoalan jumlah penduduk di Indonesia sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari
masalah distribusi penduduk yang tidak merata antar pulau, penduduk masih terkonsentrasi di
Pulau Jawa yang sudah terjadi sejak zaman Belanda Kondisi ini dipicu oleh adanya
kesenjangan pembangunan antar Jawa dan Luar Jawa, sehingga Pulau Jawa masih relatif
menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk mengadu nasib. Namun, akhir-kahir ini ada
kecenderungan meningkatnya migrasi internasional ke berbagai negara.

Hasil Supas pada tahun 1995, tingkat urbanisasi atau peningkatan penduduk urban di
Indonesia adalah 35,91 persen, artinya bahwa 35,91 persen penduduk Indonesia tinggal di
daerah perkotaan. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan urbanisasi pada
tahun 1980 yang baru mencapai 22,4 persen. Kemudian terus mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun, pada tahun 1998 mencapai 40,5 persen dan dalam kurun waktu 7 tahun
angka tersebut meningkat menjadi 48,3 persen (2005). Meningkatnya urbanisasi sejalan
dengan terjadinya konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan,
sebagaimana yang terjadi di kawasan pantai utara Jawa yang mencapai sekitar 20 persen.
Selain itu, dengan menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian ikut mendorong
terjadinya migrasi penduduk perdesaan ke perkotaan.
Faktor migrasi desa-kota memegang peranan sangat penting dalam mempertinggi
angka urbanisasi, bahkan ada kecenderungan aktivitas perekonomian akan terpusat pada
suatu area yang memiliki konsentrasi penduduk cukup tinggi. Hubungan positif antara
konsentrasi penduduk dengan aktivitas kegiatan ekonomi akan menyebabkan semakin
membesarnya area konsentrasi penduduk sehingga menimbulkan daerah perkotaan. Dengan
demikian, urbanisasi sebenarnya merupakan suatu proses perubahan yang wajar, sebagai
upaya masyarakat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun, proses urbanisasi tetap
harus dikendalikan atau diarahkan, karena apabila tidak dikendalikan dan diarahkan maka
dapat menimbulkan berbagai masalah sosial yang menyertainya.

14

Dari sisi migrasi internasional, oleh karena peluang dan kesempatan kerja di Indonesia
relatif sempit, sehingga banyak warga negara Indonesia yang memiliki skill terbatas
berbondong-bondong menjadi tenaga kerja di luar negeri, dan dari tahun ke tahun jumlahnya
semakin meningkat. Tabel di bawah ini menunjukkan kecenderungan migrasi tenaga kerja
Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Tabel 8. Jumlah Migrasi Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri,
Tahun 2001-2007

Tahun/Negara Tujuan

Laki- laki

Perempuan

Jumlah

2001

66.564

272.428

338.992

• Asia Pasifik

56.024

161.531

217.555

• Timur Tengah & Afrika

10.291

110.889

12.180

• Amerika

225

3

228

• Eropa

24

5

29

2002

116.779

363.614

480.393

• Asia Pasifik

97.940

140.384

238.324

• Timur Tengah & Afrika

18.771

223.190

241.961

• Amerika

33

7

40

• Eropa

35

33

68

2003

79.987

213.782

293.709

• Asia Pasifik

65.255

44.497

109.752

• Timur Tengah & Afrika

14.513

169.257

183.770

• Amerika

144

27

171

• Eropa

15

1

16

2004

84.078

296.612

380.690

• Asia Pasifik

68.519

92.451

160.970

• Timur Tengah & Afrika

15.539

204.160

219.699

• Amerika

17

-

17

• Eropa

3

1

4

2005

149.265

325.134

474.399

• Asia Pasifik

137.292

159.999

297.291

• Timur Tengah & Afrika

11.973

165.135

177.108

• Amerika

-

-

-

• Eropa

Dta

Dta

Dta

2006

138.292

541.708

680.000

• Asia Pasifik

114.355

212.456

326.811

• Timur Tengah & Afrika

13.937

329.525

353.189

15

Tahun/Negara Tujuan

Laki- laki

Perempuan

Jumlah

• Amerika

Dta

Dta

Dta

• Eropa

Dta

Dta

Dta

2007

152.887

543.887

696.746

• Asia Pasifik

123.365

227.335

350.703

• Timur Tengah & Afrika

27.129

316.358

343.487

• Amerika

1.191

72

1.263

• Eropa dan Australia

1.199

94

1.293

Dta : Data tidak ada
Sumber : Depnakertrans, Desember 2007

Gambar 4.

Jumlah TKI yang Bekerja Di sektor Formal dan Informal di Luar Negeri, Tahun 2007

1
2
1
,0
0
7

6
2
,3
1
4

1
8
3
,1
3
1

2
,3
6
1

1
6
5
,0
2
3

1
6
7
,3
8
4

9,358

958

1,253

333,171

17,771

35,400

10,316

1,191

1,253

1
,1
1
9

1
,2
9
3

9
4

0

50,000

100,000

150,000

200,000

250,000

300,000

350,000

Asia Pasifik

Timur Tengah & Afrika

Amerika

Eropa dan Australia

Sumber : BNP2TKI, Desember 2007

Data tahun 2007 menunjukkan, bahwa tenaga kerja perempuan yang bekerja di luar
negeri lebih banyak di sektor informal dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki, baik di luar
Asia maupun Timur Tengah. Sedangkan untuk tenaga kerja formal pada tahun 2007, jumlah
tenaga kerja laki-laki lebih besar dibandingkan tenaga kerja perempuan, baik untuk kawasan
Asia, Timur Tengah, Amerika maupun Eropa dan Australia. Tenaga kerja informal ini memiliki
tingkat kerentanan yang tinggi terhadap praktek diskriminasi dan kekerasan.

16

Tabel 9. Penerimaan Devisa Tenaga Kerja Indonesia dari Luar Negeri,
Tahun 2001-2007.

Tahun/Negara Tujuan

TKI (Orang)

Devisa US$

2001

338.992

537.654.777

• Asia Pasifik

217.555

355.088.125

• Timur Tengah & Afrika

29

180.839.612

• Amerika

121.180

1.532.160

• Eropa

228

194.880

2002

480.393

2.198.019.604

• Asia Pasifik

238.324

1.812.660.673

• Timur Tengah & Afrika

68

443.520

• Amerika

241.961

384.693.651

• Eropa

40

221.760

2003

293.694

75.639.513

• Asia Pasifik

109.722

23.088.764

• Timur Tengah & Afrika

183.770

34.713.101

• Amerika

171

5.945.882

• Eropa

31

11.891.765

2004 *)

244.624

170.869.287

• Asia Pasifik

67.817

60.263.238

• Timur Tengah & Afrika

176.788

110.362.494

• Amerika

16

119.724

• Eropa

3

123.831

2005 **)

474.399

2.709.534.159

• Asia Pasifik

297.291

979.056.157

• Timur Tengah & Afrika

177.108

1.729.757.906

• Amerika

-

598.547

• Eropa

-

121.549

2006

• Asia Pasifik

326.811

1.884.827.180

• Timur Tengah & Afrika

353.189

1.529.748.517

• Amerika

-

1.724.423

• Eropa

-

-

17

Tahun/Negara Tujuan

TKI (Orang)

Devisa US$

2007

696.746

6.006.623.553

• Asia Pasifik

350.703

3.823.585.214

• Timur Tengah & Afrika

343.487

2.104.220.971

• Amerika

1.263

59.881.206

• Eropa dan Australia

1.293

13.936.162

Sumber: Depnakertrans, 2005, 2006,2007 ; BNP2TKI, Desember 2007
*) Januari - September 2004.
**) Januari – Nopember 2005.

Tabel di atas menggambarkan, bahwa sebagian besar TKI adalah kaum perempuan
(77,65 %), dan hampir 70 % bekerja di sektor informal yang rentan dengan ketidakpastian
mengenai upah, pendapatan, dan jaminan sosial. Umumnya tidak dilengkapi dengan dokumen
dan overstay sehingga TKI tersebut diidentifikasi sebagai pendatang asing tanpa ijin (PATI)
dan dianggap sebagai penyandang masalah sosial. Pada tahun 2004 ketika Pemerintah
Malaysia mengambil kebijakan untuk memulangkan PATI ke negara asal masing-masing,
diperkirakan sebanyak 960 ribu orang berasal dari Indonesia. Sampai akhir tahun 2005, Ditjen.
Imigrasi Indonesia melaporkan, bahwa 526.841 orang TKI Bermasalah telah dipulangkan dari
Malaysia melalui sebelas entry point di Indonesia. Kemudian pada tahun 2006, TKI
Bermasalah yang dideportasi dari Malaysia mencapai 30.604 orang, setelah dipenjara dan
mendapat hukuman cambuk. Tahun 2007, tercatat 35.233 TKI Bermasalah dideportasi dari
Malaysia, dan 40.000 WNI overstayer juga akan dideportasi.
Selain masalah dokumen dan overstay, banyak TKI yang mendapatkan perlakuan tidak
manusiawi dari majikannya. Sekretariat Nasional Kopbumi (2006) melaporkan bahwa selama
tahun 2004 -2005, terdapat 911 kasus buruh migran Indonesia yang hilang kontak, gaji tindak
dibayar, penyiksaan, penipuan dan gagal berangkat, bahkan meninggal dunia. Kasus tersebut
melibatkan 183 PJTKI, belum termasuk dengan deportasi dari Malaysia, Arab Saudi dan
Kuwait.

18

KUALITAS HIDUP PEREMPUAN DAN ANAK______

1. Kemiskinan

Kemiskinan sebagai suatu gejala ekonomi akan berbeda dengan kemiskinan sebagai
gejala sosial. Gejala kemiskinan akan mudah dikenali yang ditandai dengan kekurangan gizi,
buta huruf, rentan terhadap penyakit, lingkungan yang kumuh, kematian bayi yang tinggi dan
rendahnya angka harapan hidup. Namun, bukan suatu hal yang mudah untuk merumuskan
dan mengukur angka kemiskianan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur kemiskinan didasarkan pada indikator
pengeluaran, dan untuk menentukan garis kemiskinan sebagai batas tingkat pengeluaran
minimum yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non-pangan per
kapita per bulan, yaitu untuk membiayai konsumsi 2.100 kalori pangan per kapita per hari
ditambah dengan pemenuhan kebutuhan minimal non-pangan: sandang, papan, kesehatan,
pendidikan, jasa, bahan bakar angkutan dan lain sebagainya.
BPS pada tahun 2006 mencatat, bahwa jumlah penduduk Indonesia yang berada di
bawah garis kemiskinan naik dari 35,1 juta (15,97%) pada Februari 2005 menjadi 39,05 juta
(17,75%) pada Maret 2006, dan kemudian menunjukkan kecenderungan menurun pada Maret
2007 menjadi 37,17 juta (16,58 %), dan Maret 2008 jumlah penduduk miskin menurun lagi
menjadi 34,96 juta (15,42 % ) dari total penduduk Indonesia.

Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), menuntut
ditiadakannya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh hak-haknya
di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pekerjaan, perkawinan, kewarganegaraan,
hukum, dan politik, serta hak-haknya untuk terbebas dari kekerasan, perdagangan
perempuan dan eksploitasi pelacuran. Kurang dipenuhinya hak-hak tersebut, menyebabkan
terjadinya kemiskinan tidak saja kemiskinan dari segi pendapatan (ekonomi), tetapi juga
kemiskinan insani (human poverty) dan kemiskinan martabat (voicelessness,
powerlessness, dan vulnerability
).
Landasan Aksi Beijing dalam rangka mengurangi kemiskinan bagi perempuan adalah:
(a) Menelaah, menetapkan dan memberlakukan kebijakan-kebijakan ekonomi makro dan
strategi pembangunan yang diarahkan untuk menangani kebutuhan dan upaya-upaya
perempuan yang hidup dalam kemiskinan (b) Memperbaiki perundang-undangan dan
praktek-praktek administrasi untuk menjamin persamaan hak dan akses perempuan untuk
memperoleh sumberdaya-sumberdaya ekonomi (c) Menyediakan kesempatan bagi
Perempuan untuk menabung serta memanfaatkan mekanisme dan lembaga-lembaga kredit
lainnya (d) Mengembangkan metodologi-metodologi berdasar gender dan melakukan
penelitian untuk menangani peningkatan kemiskinan di kalangan perempuan.
Millenium Development Goals (MDGs) yang berkaitan dengan penanggulangan
kemiskinan dan kelaparan, mempunyai indikator capaian: (1) proporsi penduduk yang
hidup di bawah garis kemiskinan nasional (2) proporsi penduduk dengan tingkat
pendapatan kurang dari satu dollar per hari (3) kontribusi quantil pertama penduduk
berpendapatan terendah terhadap konsumsi nasional (4) prevalensi balita kurang gizi (5)
proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum 2.100 kkal per kapita
per hari.

19

Tabel 10. Jumlah Penduduk Miskin Indonesia,
Tahun 1976 s/d 2008

Tahun

Laki-laki (juta)

Perempuan
(juta)

Jumlah (juta)

%

1976

Dta

Dta

54,2

40,08

1980

Dta

Dta

42,3

28,56

1984

Dta

Dta

35,0

21,64

1990

Dta

Dta

27,2

15,08

1996

Dta

Dta

22,5

11,34

1998

Dta

Dta

49,5

24,23

1999

Dta

Dta

37,5

17,17

2000

18,77

18,49

37,26

18,95

2001

18,56

18,55

37,11

18,40

2002

17,76

17,92

35,68

17,60

2003

18,81

18,53

37,34

17,42

2004

18,07

18,08

36,15

16,66

2005

18,47

18,33

36,80

16,69

2006

19,82

19,48

39,30

17,75

2007

18,60

18,67

37,17

16,58

2008

Dta

Dta

34,96

15,42

Dta: Data tidak ada
Sumber: Baknas 2002; BPS 2003, 2004, 2005, 2006, 2007. Maret 2008

2. Kesehatan

Unsur penting di dalam pembangunan manusia adalah kesehatan, dan salah satu
indikator kesehatan adalah angka kematian bayi (IMR). Kematian bayi (anak) secara langsung
disebabkan oleh kesakitan bayi (anak) dalam pengertian luas, yang pada gilirannya
dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab tidak langsung dan salah satunya adalah
kekurangan gizi.

Indikasi mengenai balita kurang gizi, berdasarkan SDKI 2002-2003, prevalensi gizi
kurang (underweight) pada anak balita (0-59 bulan) adalah sebesar 25,8 persen. Berbeda
dengan angka hasil Survei Garam Yodium 2005, yang mencatat bahwa prevalensi gizi kurang
meningkat menjadi 28,0 persen terdiri balita gizi buruk 8,8 persen dan balita dengan gizi
kurang 19,2 persen. Selain kurang gizi, juga banyak balita yang menderita anemia, tahun 1995
prevalensi balita yang menderita anemia sebesar 40,5 persen, tahun 1997 turun menjadi 40
persen dan kembali meningkat menjadi 48,1 persen pada tahun 2001 (Depkes 2004). Pada
tahun 2005, terdapat 8,1 juta (48,0 %) balita yang menderita anemia (Depkes, 2007).

20

Perkembangan status gizi Balita periode 1989 sampai dengan 2006 dapat dilihat pada tabel
berikut :

Tabel 11. Perkembangan Status Gizi Balita Tahun 1990 s/d 2006

Sumber : BPS 2005, SDKI 2007, MDGs 2007, Depkes 2007.
Catatan : Gizi Buruk 8,8 % dan Gizi Kurang 19,25 % Tahun2005

Menurut Komnas Perlindungan Anak Indonesia (2006), anak-anak yang menderita
malnutrisi pada tahun 2005 berjumlah 744.698 anak dengan rincian sebanyak 55,9 persen
menderita kurang gizi diantaranya 42,7 persen menderita gizi buruk, dan 1,3 persen menderita
busung lapar. Anak-anak juga banyak terserang berbagai penyakit, dimana terdapat 13.441
anak terserang berbagai penyakit seperti diare (5.645 anak, meninggal 112 anak), demam
berdarah (penderita 5.127 anak, meninggal 129 anak), polio (324 anak), lumpuh layu (451
anak), campak (1.652 anak, meninggal 23 anak), flu burung (43 anak, meninggal 10 anak).
Hasil Survey Garam Yodium tahun 2005, persentase wanita usia subur (15–49 tahun) di
Indonesia yang mengalami atau menderita Kurang Energi Kronis (KEK) sebesar 16,24 persen.
Kondisi ini semakin membaik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Keadaan Gizi Buruk/Kurang (%)

No.

Tahun

Laki-laki

Perempuan

Laki-laki +
Perempuan (%)

1.

1989

-

-

43,80

2.

1990

-

-

41,80

3.

1992

-

-

33,57

4.

1995

-

-

53,20

5.

1998

-

-

40,00

6.

1999

-

-

34,50

7.

2000

-

-

24,66

8

2001

-

-

32,40

9

2002

28,20

27,50

24,10

10

2003

30,80

26,12

26,17

11

2005

29,99

26,01

28,04

12

2006

-

-

28,05

22

Gambar 5.

41.29

30.2

23.1

34.3

27

19.2

35.8

23.7

16

35.7

23.7

14.7

35.1

21.4

13.8

32.5

27.7

14.5

0

5

10

15

20

25

30

35

40

45

1999

2000

2001

2002

2003

2005

Sumber : Depkes 2007

Prosentase Prevalensi Resiko Perempuan Menderita KEK
1999 -2005

15-19
20-24
25-29

Selain itu, pembangunan kesehatan juga harus dipandang sebagai suatu investasi
untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Dan kondisi pembangunan kesehatan
secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat, yaitu angka kematian
balita, angka kematian bayi, kematian ibu melahirkan, prevalensi gizi kurang dan angka
harapan hidup (umur).

Angka kematian balita (AKBA) Indonesia berhasil diturunkan dari 111 kematian per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 1986, menjadi 81 tahun 1994, dan menjadi 79 selama
periode 1988-1992, dan terus menurun menjadi 46 per seribu kelahiran hidup pada periode
1998-2002 (SDKI 2002-2003). Dan menurut UNICEF (2007), kematian anak di bawah lima
tahun di seluruh dunia semakin menurun, di bawah 10 juta jiwa. Angka terakhir kematian Balita
(2006) tercatat 44 per 1000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Grafik berikut, menggambarkan
perkembangan AKBA periode Thun 2000 sampai dengan tahun 2005.

23

Gambar 6.

Dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, pada tahun 2003, AKBA
Indonesia relatif cukup menggembirakan. Myanmar dan Kamboja berturut-turut merupakan
negara dengan AKBA tertinggi di antara negara-negara di ASEAN, berdasarkan laporan
UNICEF dalam The State of World's Children 2005. AKBA di kedua negara tersebut berada di
atas 100, yakni 140 untuk Kamboja dan 107 untuk Myanmar, sedangkan Laos menduduki
urutan ketiga dengan AKBA sebesar 91 kematian untuk setiap 1.000 kelahiran hidup.
Indonesia, Philipina, Thailand dan Vietnam berturut-turut menduduki peringkat ke 4, 5, 6 dan 7
dengan AKBA sebesar 41, 36, 26 dan 23 kematian untuk setiap 1.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Balita 2000 - 2005

0

10

20

30

40

50

60

Laki-Laki

Perempuan

Lk + Prp

Sumber : BPS 2008

2000
2002
2003
2004
2005
2001

24

Sementara itu, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam merupakan negara-negara
dengan AKBA terendah masing-masing sebesar 3, 6 dan 7 kematian untuk setiap 1.000
kelahiran hidup.

Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia juga telah mengalami penurunan, yakni dari 145
kematian bayi per seribu kelahiran hidup pada tahun 1971,menjadi 57 pada tahun 1994,
kemudian 46 pada tahun 1997, dan terus menurun menjadi 35 per seribu kelahiran hidup pada
tahun 2002 (SDKI 2002-2003). Dan pada tahun 2006, angka kematian bayi turun mencadi 34
per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2007)
Berdasarkan laporan UNICEF (2005), AKB tertinggi di Asean pada tahun 2003 terjadi di
Kamboja dan diikuti oleh Laos dan Myanmar yang mencapai angka 97, 82 dan 76 per seribu
kelahiran hidup. AKB terendah terjadi di Singapura (3 per seribu kelahiran hidup), diikuti oleh
Brunei Darussalam dan Malaysia dengan angka 5 dan 7 kematian per seribu kelahiran hidup.
Sedangkan Vietnam, Thailand, Filipina dan Indonesia berada ditengah-tengah dengan AKB
berturut-turut 19, 23, 27 dan 31 kematian untuk setiap seribu kelahiran hidup (Profil Kesehatan
Indonesia 2004). Pada awal tahun 2008 UNICEF mengeluarkan laporan berjudul Countdown to
2015 Maternal, New Born and Child Survival : Tracking Progress in Maternal, New Born and
Child Survival. Unicef melaporkan ada 68 negara yang memiliki permasalahan berat dalam
pencapaian MDGs 4 dan 5. Tiga puluh empat dari 68 negara tersebut harus benar-benar
mendapat perhatian karena memiliki anak-anak dalam kondisi kekurangan gizi yang sangat
tinggi. Enam diantara 10 negara yang hadir dalam pertemuan Sherpa di Jakarta yaitu Brazil,

Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan CEDAW, Pasal 12 mewajibkan
negara untuk meniadakan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan di bidang
pemeliharaan dan pelayanan kesehatan, dan keluarga berencana. Negara juga wajib
menjamin pelayanan yang layak kepada perempuan berkaitan dengan kehamilan,
persalinan dan pasca persalinan, dengan memberikan makanan bergizi yang cukup selama
kehamilan dan masa menyusui.
Landasan Aksi Beijing berkaitan dengan perempuan dan kesehatan adalah: (a)
Meningkatkan akses perempuan sepanjang umurnya pada pelayanan kesehatan yang
memadai, terjangkau dan berkualitas, informasi dan pelayanan terkait (b) Memperkuat
program-program pencegahan terhadap penyakit yang memajukan kesehatan perempuan
(c) Mengambil prakarsa-prakarsa yang peka gender guna menanggulangi penularan
penyakit-penyakit kelamin, HIV/AIDS dan permasalahan kesehatan seksual dan reproduksi
(d) Memajukan penelitian dan menyebarluaskan informasi mengenai kesehatan perempuan
(e) Memperbesar sumber-sumber dan memantau tindak lanjutan bagi kesehatan
perempuan.

Masalah kesehatan ini menjadi tujuan keempat, kelima dan keenam MDGs. Tujuan
keempat MDGs adalah “menurunkan angka kematian anak” yang diindikasikan dari (a)
Angka kematian balita (b) angka kematian bayi (c) persentase anak di bawah satu tahun
yang diimunisasi campak. Tujuan kelima MDGs adalah “meningkatkan kesehatan ibu” yang
diindikasikan dari (a) angka kematian ibu (b) proporsi pertolongan persalinan yang
ditangani oleh tenaga persalinan terlatih (c) angka pemakaian kontrasepsi. Sedang tujuan
keenam MDGs adalah “memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular
lainnya” yang diindikasikan dari (a) prevalensi HIV di kalangan ibu hamil yang berusia
antara 15-24 tahun (b) penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi (c)
penggunaan kondom pada pemakai kontrasepsi (d) persentase anak muda usia 15-24
tahun yang mempunyai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS (e) prevalensi
malaria dan angka kematiannya (f) persentase penduduk yang menggunakan cara
pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria (g) persentase penduduk yang
mendapat penanganan malaria secara efektif (h) prevalensi TBC dan angka kematian
penderita TBC dengan sebab apapun selama pengobatan OAT (i) angka penemuan
penderita TBC BTA positif baru (j) angka kesembuhan penderita TBC.

25

Indonesia, Liberia, Mozambik, Senegal dan Tanzania termasuk dalam 68 negara tersebut.
Brazil akan mampu mencapai sasaran MDGs 4, Indonesia diperkirakan akan dapat mencapai
tujuan MDGs 4 beberapa tahun terlambat (2018) sedangkan empat negara lainnya
menghadapai permasalahan yang serius. Keenam negara terlihat tidak dapat mencapai tujuan
MDGs tepat pada waktunya. Indonesia diperkirakan mencapai MDGs 5 (MMR = 102) pada
tahun 2025. Menurut laporan UNICEF 2008 AKB tertinggi diantara 10 negara yang hadir
tersebut Indonesia AKB nya 34 per 1000 kelahiran hidup lebih rendah dibandingkan ke 4
negara lainnya yaitu Liberia (143) dikuti Mozambique (108); Tanzania (78); Senegal (69),
namun lebih tinggi dibandingkan Brasilia, Chile, United Kingdom, Netherlands dan Norway
berturut-turut 27; 8; 5;5 dan 4 per 1000 kelahiran hidup (Inisiatif pertemuan Jakarta, 2008).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->