Anda di halaman 1dari 6

PEMBESARAN KELENJAR PAROTIROID Oleh Adhe William FanggidaE 102007122 FakultasKedokteran Universitas Kristen KridaWacana Jl. TerusanArjuna no.

6, Jakarta Barat e-mail :adhewilliam@gmail.com DEFINISI Penyakit akut, menular dengan gejala khas pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis. Penyakit parotis atau gondongan ini disebabkan oleh infeksi paramyxovirus dan penyebarannya terjadi melalui droplet, dengan masa inkubasi selama 14 - 25 hari dengan gejala khas seperti anoreksia, myalgia, malaise, nyeri kepala, dan demam, yang kemudian timbul pembengkakan kelenjar parotis unilateral atau bilateral. Penyakit ini sering terjadi pada anak usia 5 - 9 tahun. PEMERIKSAAN Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik seperti biasa pada anak adalah pengukuran tinggi badan, berat badan, tebal kulit dan lingkar lengan, pengukuran lingkar kepala untuk menilai status gizi anak. Dan juga untuk elemen fisiologis dilakukan pengukuran suhu, nadi dan pernapasan. Dan

pemerikaan keadaan umum anak dilakukan dengan cepat dengan memperhatikan status kesadaran, ekspresi, dan selanjutnya pemeriksan ada tidaknya demam, nyeri tekan dan nyeri kepala, penilaian turgor kulit ada tidaknya eritema, ada tidaknya pembengkakan

Pemeriksaan Laboratorium Jumlah leukosit normal atau terdapat leukopenia dengan limfositosis relative sebagai pemeriksaan tambahan dapat dilakukan complement-fixing antibody test, neutralization test, isolasi virus, uji intradermal dan pengukuran kadar amylase dalam serum. Neutralization test dilakukan dengan mencampurkan serum penderita dengan medium untuk biakan fibroblast embrio anak ayam dan kemudian di uji apakah terdapat hemadsorpsi. Pengenceran serum yang mencegah terjadinya hemadsorpsi dinyatakan oleh titer antibody parotis epidemika .Periksaan ini digunakan untuk menentukan imunitas terhadap parotis epidemika. Isolasi virusd dilakukan dengan membuat biakan. Biakan dinyatakan positif bila terdapat hemadsorpsi dalam biakan yang diberi cairan fosfat-NaCl dan tidak ada pada biakan yang diberi serum hiperimun Uji intradermal dialakukanmemberikan 0,1 ml cairan yang mengandung virus parotis epidemika yang mati secara intarakutan pada bagian volar lenganbawahdandibaca 24 - 48 jam kemudian. Pemeriksaan dinyatakan positif bila terdapat eritema dan indurasi lebih besar dari 15 mm. pemeriksaan ini masih diragukan kegunaan dalam penilaian imunitas terhadap parotis epidemika. ETIOLOGI Penyakit ini disebabkan oleh virus. Terutama virus RNA untai negativ, berselubung dari family paramiksovirus. Manusia adalah satu-satunya hospes yang diketahui. EPIDEMIOLOGI Mumps terjadi diseluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemic. Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah mungkin urin.
2

Virus ini dapat disolasi dari faring 2 hari sebelum sampai 6 hari setelah terjadi pembearan kelenjar parotis.Pada penderita parotis epidemika tanpa pembesaran kelenjar parotis, virus dapat pula diisolasi dari faring. Virus dapat ditemukan dalam urin dari hari pertama sampai hari ke 14 setelah terjadi pembesaran kenlenjar. Baik infeksi klinis maupun subklinis menyebabkan imunitas seumur hidup. Bayi sampai umur 6-8 bulan tidak dapat terjangkit penyakit parotis epidemika Karena dilindungi oleh antibody yang dialirkan secara trasplasental dari ibunya. PATOLOGI Virus mumps didapat melalui sekresi pernapasan terinfeksi, bereplikasi dalam saluran napas atas dan limfatik regional, serta menyebar secara sistemik melalui viremia primer. Virus ini mempunyai tropisme untuk kelenjar ludah, tempat ia menyebabkan infiltrasi limfosit dan edema. Infeksi SSP juga terjadi melalui penyebaran sepanjang jaras neuronal. Pada kelenjar parotis terutama pada saluran ludah terdapat kelainan berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran dan penyumbatan saluran.

GEJALA KLINIS 30 40% kasus infeksi bersifat subklinis, tetapi bila gejala terjadi, onsetnya ditandai dengan demam, nyeri otot, nyeri kepala, malaise, dan nyeri tekan serta pembengkakan kelenjar parotis yang berlangsung 3 7 hari. Pembengkakan mengaburkan sudut mandibular dan mendorong cuping telinga keatas dan keluar.nyeri ditimbulkan oleh palpasi kelenjar dan juga agen seperti jus sitrus, yang meransang aliran ludah. Pembengkakan dan eritem juga mengelilingi duktus stensen. Pembengkakan juga dapat timbul pada faring dan laring serta di atas manubrium dan dada atas (mungkin akibat robsturksi limfatik). Pembengkakan kelenjar

mandibula dapat menyertai pembengkakan karotis, dan pada 10 15% kasus kelenjar ini mungkin merupakan satu-satunya kelenjar yang terkena. Kelenjar sublingual jarangterkena. Masa tunas 14 -24 hari. Dimulai dengan stadium prodromal, lamanya 1 2 jari dengan gejala demam, anoreksia, sakit kepala, muntah, dan nyeri otot. Suhu tubuh biasanya 38.5c - 39.5c, kemudian timbul pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral tetapi kemudian dapat menjadi bilateral. Pembengkakan tersebut terasa nyeri baik spontan maupun pada perabaan terlebih-lebih bila penderita makan atau minum sesuatu yang asam; ini merupakan gejala khas untuk penyakit parotis epidemika. Di daerah parotis, kulit tampak berwarna merah kecoklatan, nyeri pada tekanan, bagian bawah daun telinga terangkat ke atas.Kadang-kadang disertai trismus dan disfagia. Di rongga mulut pada muara duktus stenson tampak kemerahan dan edema. Pembengkakan kelenjar berlangsung 3 hari dan kemudian mengempis. Kadang-kadang kelenjar submadibularis dan sublingualis juga dapat terkena DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan secara klinis peningkatan amylase serum khas dan onsetnya paralel dengan pembengkakan parotis. Diagnosis spesifik dapat dipastikan dengan isolasi virus dari saliva, urin, CSS, atau darah melalui biakan virus rutin. Peningkatan antibody serum terhadap mumps juga bersifat diagnostic.

KOMPLIKASI Meningo-ensefalitis Dapat terjadi sebelum, sesudah atau tanpa pembengkakan kelenjar parotis.Penderita mulamula menunjukkan gejala nyeri kepala ringan, yang kemudian disusul olehmuntah-muntah,
4

gelisah dan suhu tubuh tinggi (hiperpireksia).Diperkirakan bahwa parotis dapat menyebabkan stenosis akuaduktus dan mengakibatkan hidrosefalus pada anak. Pemeriksaan pungsi lumbal menujukkan tekanan yang tinggi, pemeriksaan none dan pandy positif, jumlah sel terutama leukosit meninggkat, kadar protein meninggi, glukosa dan klorida normal. Pengobatan seperti pada ensefalitis lainya. Biasanya prognosis meningo-ensefalitis parotis epidemika baik; tidak terdapat gejala tersisa.

Epididimo-orkitis Jarang terjadi sebelum pubertas. Dapat timbul pada minggu pertama. Penderita menunjukkan suhu badan yang tinggi, kadang-kadang menggigil dan menderita nyeri tekan di daerah testis kanan atau kiri. Kemandulan total jarang terjadi, tetapi mungkin didapatkan perubahan fertilisasi. Pengobatan dengan memberikan kompres dinging dengan penunjangan testis. Komplikasi lainya jarang terjadi ialah ooporitis, pankreatitis, artritis, nefritis, mastitis, dan kelainan pada mata antara lain dakrioadenitis serta tiroiditis dan miokarditis. Pada masa akil balik dan pada orang dewasa terdapat kelainan pada Elektrokardiogram (EKG) dan rasa nyeri di daerah precordial serta bradikardia.

PENGOBATAN Tidak ada terapi yang spesifik tersedia kecuali perawatan suporatif seperti istirahat ditempat tidur selama masa panas dan pembengkakan kelenjar parotis. Simtomatik di berikan kompres

panas atau dingin dan juga di beriakan analgesic. Diet makanan cair atau lunak. Kortikosteroid selama 2 4 hari dan globulin gama diperkirakan dapat mencegah orkikis. PROGNOSIS Baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, buruk jika keadaan umum memburuk, atau yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada komplikasi

PENCEGAHAN Vaksin parotis hidup yang dilemahkan secara nyata menghilangkan insiden mumps dan harus diberikan pada anak 12 15 bulan sebagai bagian dari vaksin campak, parotis dan rubella. Parotis dan meningo ensefalitis merupakan komplikasi yang jarang dari vaksinasi mumps yang sangat protektif

DAFTAR PUSTAKA 1. Glance J. At a Glance. Anamnesis dan pemeriksaan fisik.EMS. 2005. Jakarta 2. Maryunani A. Ilmu kesehatan anak dalam kebidanan. TIM 2007. Jakarta 3. Ilmu kesehatan anak jilid II. Parotis Epidemika. FKUI. Jakarta 4. Behman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson textbook of pediatrics, ed 16.EGC.2004 5. Pembesaran kelenjar paratiroid. Medicastore.com di unduh tanggal 17 november 2012