Anda di halaman 1dari 14

Ca Esophagus

Ida Bagus Indrayana 10.2009.119 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Appucrawler@yahoo.com

Latar Belakang Esophagus merupakan organ dengan bentuk tabuung muscular yang berfungsi dalam transport bahan makanan yang ditelan. Dengan panjang 24 cm, menghubungkan faring dan oesophagastritic junction. Mukosa esophagus terdiri dari epitel berlapis gepeng, lamina propia berupa jaringan ikat longgar yang langsung berada di bawah epitel dan lamina muskularis mukosa. Di bawah mukosa terdapat lapisan submukosa yang terdiri dari jaringan ikat elastic dan kolagen. Lapisan muscular tersusun atas 60% otot polos pada bagian bawah esophagus, sedangkan pada bagian 5% proksimal tersusun atas otot skelet, dan sisanya campuran.1

Pembahasan a. Anamnesis Untuk menentukan kelainan/penyakit yang diderita seseorang akibat gangguan saluran pencernaan perlu dilakukan anamnesis, baik auto maupun allo anamnesis yang teliti dan sistematis, sesuai dengan kronologis kejadian. Anamnesi dimulai dengan keluhan utama, yakni keluhan yang diderita seseorang, membawa dia untuk meminta pertolongan/ pengobatan kepada dokter. Gejala klinis gangguan sistem pencernaan dapat berupa nyeri epigastrium, mual muntah, kembung, diare, dll. Anamnesis untuk kelainan sistem pencernaan secara garis besar dapat dibagi atas 3 bagian, yaitu: 1. Gangguan asupan 2. Gangguan penyerapan 3. Gangguan struktur lainnya

1. Gangguan asupan dapat disebabkan oleh kelainan pada sistem pencernaan itu sendiri ataupun yang berasal dari luar sistem pencernaan. Gangguan pada sistem pencernaan misalnya: Adanya gangguan menelan. Gangguan menelan, dapat akibat adanya kelainan pada orofaring, contoh: faringitis tonsillitis, tumor gangguan pada esofagus meliputi esofagitis, striktur esofagus, atresia esofagus, khalasia, tumor dan lain-lain. Kelainan pada lambung juga akan mengakibatkan makanan yang sudah ditelan kembali dikeluarkan akibat mual dan muntah. 2. Gangguan penyerapan dapat terjadi, baik disebabkan oleh kelainan pada system pencernaan bagian atas, maupun kelainan pada sistem pencernaan bagian bawah. Gangguan pada sistem pencernaan bagian atas misalnya: gastritis kronik, gangguan sekresi enzim pankreas, gangguan sekresi bilirubin ke usus halus, infeksi pada usus halus, penyakit celiac. Gangguan pada sistem pencernaan bagian, bawah meliputi infeksi pada colon, toksin bakteri, penyakit otoimun pada sistem pencernaan, tumor dan lain-lain. Gangguan penyerapan akibat kelainan diluar sistem pencernaan, misalnya penderita dengan hipertiroid, gangguan elektrolit,dll. 3. Gangguan lainnya yang ditemukan pada sistem pencernaan, meliputi perdarahan pada sistem pencernaan, baik yang bersumber dari sistem pencernaan bagian atas, maupun dari system pencernaan bagian bawah, tumor sistem pencernaan, primer ataupun sekunder, hemorhoid, kelainan kongenital, misalnya atresia ani dan lain-lain.2

b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis esofagus. Tidak ada tanda fisik yang spesifik, kelainan biasanya akibat sumbatan esofagus atau infiltrasi ke nervus laryngeus rekurens yang menyebabkan suara serak. Dapat ditemukan pula tanda-tanda metastasis,seperti pembesaran kelenjar limfe cervicalis atau supraclavicularis, efusi pleura, acites, hepatomegaly dan nyeri tulang. Pada kasus yang kronis dapat terjadi penurunan berat badan yang drastis.

c. Pemeriksaan Penunjang 1. Barium swallow Barium swallow dilakukan sebelum melakukan scan dengan sinar x ray hal ini bertujuan agar tampak gambaran filling defect yang irreguluar atau striktur yang ulseratif yang mana merupakan gambaran khas untuk karsinoma esofagus. Adanya deviasi dan angulasi dari barium dalam esofagus merupakan tanda lain dari keganasan esofagus. Dapat pula ditentukan panjang lesi, luasnya jaringan yang terlibat, dan derajat obstruksi.3 2. Endoskopi Dengan esofagoskopi dapat dilihat secara langsung besar dan letak tumor sekaligus dilakukan biopsi untuk menentukan jenis tumor secara histologis. 3 3. CT scan Computer Tomography (CT) merupakan alat diagnostik radiologi yang menggunakan komputer untuk melakukan rekonstruksi data dari daya serap suatu jaringan atau organ tubuh tertentu yang telah ditembus oleh sinar X sehingga terbentuk gambar. Gambaran yang didapat menunjukan detail dari organ, tulang and jaringan lain. Prosedurnya sering disebut sebagai CT scan atau dengan nama lain Computerized Aaxial Tomography (CAT). Dengan CT scan dapat diketahui tumor primernya, penyebaran local tumor, penyebaran ke struktur mediastinum, keterlibatan limfonodi supraklavikula, mediastinum dan abdomen bagian atas. 3 4. Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan Sama seperti CT scan, MRI scan membantu melihat adanya penyebaran tumor atau tidak. Selain itu MRI menggunakan gelombang radio dan magnet yang kuat dibandingkan dengan x ray. 3 5. Positron emission tomography (PET) scan Pasein disuntik dengan fluorodeoxyglucose atau FDG pada saluran darah. Sel kanker yang ada ditubuh berkembang dengan cepat sehingga sel-sel tersebut akan banyak menyerap FDG. Setelah 1 jam, baru baru dimasukan ke PET scan. Hasil dari PET scan tidak setajam MRI scan dan CT scan. Tes ini baru dilakukan untuk mengetahui area penyebaran kanker jika tidak ditemukan dengan tes yang lain. 3

d. Diagnosis Banding 1. Akalasia Akalasia adalah kegagalan relaksasi serat-serat otot polos saluran cerna pada persimpangan bagian yang satu dengan yang lainnya khususnya kegagalan sfingter esofagosgaster untuk mengendurkan pada waktu menelan akibat degenerasi sel-sel ganglion pada organ tersebut. Penyebab penyakit ini tidak diketahui sampai sekarang. Namun secara histologik pada penyakit akalasia ini ditemukan penyebab berupa degenerasi sel ganglion plexus auerbach di sepanjang esophagus parstorakal yang menyebabkan control neurologis dan sebagai akibatnya gelombang peristaltic primer tidak mencapai sfingter esophagus bawah. Gejala akalasia adalah : Disfagia merupakan keluhan utama dari penderita Akalasia. Disfagia dapat terjadi secara tiba-tiba setelah menelan atau bila ada gangguan emosi. Disfagia dapat berlangsung sementara atau progresif lambat. Biasanya cairan lebih sukar ditelan dari pada makanan padat.

Regurgitasi dapat timbul setelah makan atau pada saat berbaring. Sering regurgitasi terjadi pada malam hari pada saat penderita tidur, sehingga dapat menimbulkan pneumonia aspirasi dan abses paru

Rasa terbakar dan Nyeri Substernal dapat dirasakan pada stadium permulaan. Pada stadium lanjut akan timbul rasa nyeri hebat di daerah epigastrium dan rasa nyeri ini dapat menyerupai serangan angina pektoris.

Penyakit ini jarang diderita perbandingannya 1 berbanding 100.000 orang dengan umur 25 tahun sampai 60 tahun.4,5 2. Stenosis esofagus Stenosis esofagus merupakan salah satu keluhan disfagia. Keluhan disfagia ini bervariasi mulai dari ketidak mampuan menelan (orofangial disfagia) sampai adanya sensasi terhambatnya makanan melewati esofagus sampai ke lambung ( esophageal disfagia ). Berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua kategori yaitu striktur komplek

dan striktur simple. Striktur komplek adalah struktur yang asimetris, irregular dan berdiameter < 12 mm sedangkan striktur simple adalah striktur yang simetris atau konsentrik dengan diameter kurang lebih 12 mm. Striktur komplek sering terjadi akibat keganasan, zat kaustik, pasca radiasi, pasca anastomosis esofagus dan GERD yang berat. Sedangkan striktur simple diakibatkan GERD yang ringan. Striktur esofagus merupakan penyempitan lumen esofagus karena terbentuknya fibrosis pada dinding esofagus, biasanya terjadi akibat inflamasi dan nekrosis karena berbagai penyebab. Stenosis esofagus adalah penyempitan lumen esofagus karena tumor atau penyebab lain. Striktur esofagus yang didapat terbagi menjadi dua yaitu striktur esofagus benigna dan maligna. Penyebab striktur esofagus benigna yang tersering adalah peptic esophageal striktur (70-80%) sedangkan striktur maligna paling sering disebabkan oleh keganasan esofagus terutama Squamous sel karsinoma dan adenokarsinoma. Disfagia merupakan gejala yang utama dari striktur esofagus. Pada umumnya pasien mengeluhkan kesulitan menelan makanan padat. Lamanya disfagia, progresivitasnya dan ada atau tidaknya keluhan yang menyertainya seperti penurunan berat badan dan perdarahan, harus turut dievaluasi. Lamanya disfagia juga dapat digunakan sebagai parameter klinik dalam membedakan striktur maligna dan benigna, dimana pada striktur maligna disfagia biasanya terjadi akut, progresif dan disertai dengan penurunan berat badan sedangkan pada striktur benigna disfagia terjadi kronik, intermiten dan tidak progresif. Selain disfagia, juga ditemukan keluhan heartburn pada 75% penderita peptic stricture. Selain itu juga ditemukan odinofagia, impaksi makanan dan nyeri dada. 6,7,8

3. GERD ( Gastroesophageal Reflux Disease ) Gastroesophageal Reflux Disease adalah suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam esophagus, dengan berbagai gejala yang timbul akibat dari keterlibatan esophagus, faring, laring, dan saluran nafas. Penyakit gastroesofageal refluks bersifat multifaktorial. Hal ini dapat terjadi oleh karena perubahan yang sifatnya sementara ataupun permanen pada barrier diantara esophagus dan lambung. Selain itu juga, dapat disebabkan oleh karena sfingter esophagus bagian bawah yang inkompeten, relaksasi dari sfingter esophagus bagian bawah yang bersifat sementara, terganggunya ekspulsi dari refluks lambung dari esophagus, ataupun hernia hiatus. Gejala klinik yang khas dari GERD adalah nyeri/rasa tidak enak di epigastrium atau retrosternal bagian bawah. Rasa nyeri biasanya dideskripsikan sebagai rasa terbakar (heartburn), kadang-

kadang bercampur dengan gejala disfagia (kesulitan menelan makanan), mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. Walau demikian, derajat berat ringannya keluhan heartburn ternyata tidak berkorelasi dengan temuan endoskopik. Kadang-kadang timbul rasa tidak enak retrosternal yang mirip dengan keluhan pada serangan angina pectoris. Disfagia yang timbul saat makan makanan padat mungkin terjadi karena striktur atau keganasan yang berkembang dari Barretts esophagus. Odinofagia (rasa sakit saat menelan makanan) bisa timbul jika sudah terjadi ulserasi esophagus yang berat. GERD dapat juga menimbulkan manifestasi gejala ekstra esophageal yang atipik dan sangat bervariasi mulai dari nyeri dada non-kardiak (non-cardiac chest pain/NCCP), suara serak, laryngitis, batuk karena aspirasi sampai timbulnya bronkiektasis atau asma. Di lain pihak, beberapa penyakit paru dapat menjadi faktor predisposisi untuk timbulnya GERD karena timbulnya perubahan anatomis di daerah gastroesophageal high pressure zone akibat penggunaan obat-obatan yang menurunkan tonus LES (misalnya teofilin). Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan, sangat jarang terjadi akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa. Oleh sebab itu, umumnya pasien dengan GERD memerlukan penatalaksanaan secara medik.9.10

4. Kanker Esofagus Penyebab pasti dari Adenokarsinoma esofagus belum jelas. Kanker esofagus adalah penyakit yang predileksi jumlah kematiannya termasuk tinggi diakibatkan telatnya penanganan. Penyakit ini paling banyak diderita pria berumur 50 tahun keatas dan berada di Negara berkembang. Kanker esofagus ada 2 jenis, yaitu Adenokarsinoma esofagus dan karsinoma sel skuamosa . Sektiar 90% diseluruh dunia adalah karsinoma sel skuamosa. Adenokarsinoma esofagus lebih sering menyerang ras kulit putih. Sedangkan karsinoma sel skuamosa lebih sering pada ras kulit hitam. Untuk Adenokarsinoma, Esofagus Barret merupakan satu-satunya prekussor adenokarsinoma esofagus yang diketahui. Gejala klinis menurut elizabeth yaitu:
11,12

1. Disfagia (kesulitan menelan) merupakan gejala yang sering di keluhkan pasien 2. Anoreksia dan diikuti dengan penurunan berat badan

3. Nyeri akibat metastase ketulang sering menjadi gejala pertama yang mendorong individu mencari pertolongan

e. Diagnosis kerja Kanker esofagus Di amerika serikat, karsinoma esofagus terjadi dua kali lebih sering pada pria juga pada wanita.ini lebih sering terlihat pada orang Afrika-amerika daripada orang Kaukasia dan biasanya terjadi pada dekade kelima kehidupan. Kanker esofagus mempunyai insiden cukup tinggi pada belahan dunia lain, termasuk cina dan iran bagian utara. Iritasi kronis dipertimbangkan berisiko tinggi menyebabkan kanker esofagus. Di amerika serikat, kanker esofagus telah dihubungkan dengan salah cerna alkohol dan penggunaan tembakau. Di belahan dunia lain, kanker esofagus telah dihubungkan dengan penggunaan pipa opium, mencerna minuman panas berlebihan, dan defisiensi nutrisi-khususnya kurang buah dan sayuran. Buah dan sayuran dianggap dapat meningkatkan perbaikan jaringan yang teriritasi.13 Pada stadium awal kanker ini tidak menimbulkan gejala, sedangkan biasanya keluhan muncul pada saat sudah terjadi metastasis atau penyebaran. Biasanya keluhan pasien yang sifatnya samar-samar, dan tidak progresif biasanya mengakibatkan terlambatnya diagnosis. Gejala yang paling sering ditemukan adalah disfagia, esophagus sangat mudah berdistensi sehingga pasien akan menyadarinya jika separuh diameter esophagus sudah terkena . ada beberapa macam cara mengatasi disfagia yang dilakukan oleh pasien: 1. Sering minum pada saat makan 2. Makan makanan yang lebih cair 3. Makan secara lambat. Biasanya disfagia bersifat progresif. Pada awalnya pasien tidak bisa menelan makanan berkonsistensi padat, kemudian tidak dapat menelan makanan cair termasuk saliva yang

meleleh keluar dari mulut. Berat badan yang selalu menurun akan sering ditemukan hingga anoreksia yang merupakan tanda prognostic negatif.1 Kanker esofagus dibagi berdasarkan jenis sel yang terlibat. Jenis kanker esofagus antara lain: Adenokarsinoma. Adenokarsinoma dimulai dari sel kelenjar penghasil lendir di dalam esofagus. Adenokarsinoma terjadi paling sering pada bagian bawah esofagus. Skuamosa sel karsinoma. Kanker ini rata dan tipis di permukaan esofagus. Skuamosa sel karsinoma sering terjadi di bagian tengah esofagus. Skuamosa sel karsinoma adalah kanker esofagus yang umum di seluruh dunia. Jenis langka lainnya. Kanker esofagus langka antara lain choriocarcinoma, lymphoma, melanoma, sarcoma dan kanker sel kecil. Keganasan pada esofagus stadium awal biasanya asimptomatik. Gejala utama karsinoma esofagus ialah disfagia progresif yang berangsur-angsur menjadi berat. Keluhan ini dapat berlangsung beberapa minggu sampai berbulan-buan. Mula-mula disfagia timbul bila makan makanan padat, sampai akhirnya makanan cair ataupun air liur sangat mengaganggu. Ada empat stadium kanker esophagus yaitu: 1. Stadium I. Kanker ditemukan hanya pada lapisan-lapisan atas dari sel-sel yang melapisi esophagus. 2. Stadium II. Kanker melibatkan lapisan-lapisan yang lebih dalam dari lapisan esophagus, atau ia telah menyebar ke nodus-nodus limfa yang berdekatan. Kanker masih belum menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. 3. Stadium III. Kanker telah menyerang lebih dalam kedalam dinding esophagus atau telah menyebar ke jaringan-jaringan atau nodus-nodus limfa dekat esophagus. Ia masih belum menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. 4. Stadium IV. Kanker telah menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Kanker esophagus dapat menyebar hampir kemana saja dalam tubuh, termasuk hati, paru-paru, otak, dan tulang-tulang.

f. Etiologi Penyebab pasti kanker esofagus tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yamg dapat menjadi predisposisi yang diperkirakan berperan dalam pathogenesis kanker. Predisposisi penyebab kanker esofagus biasanya berhubungan dengan terpajannya mukosa esofagus dari agen berbahaya atau stimulus toksik, yang kemudian menghasilkan terbentuknya dysplasia yang bisa menjadi karsinoma. 3 Beberapa faktor juga dapat memberikan kontribusi terbentuknya karsinoma sel skuamosa, seperti berikut ini : 1. Defisiensi vitamin dan mineral. Menurut beberapa studi kekurangan riboflavin pada ras china memberikan kontribusi besar terbentuknya kanker esofagus. 2. Pada faktor merokok sigaret dan penggunaan alcohol secara kronik merupakan faktor penting yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker esofagus. 3. Infeksi papilomavirus pada manusia dan Helicobacter pylory disepakati menjadi faktor yang memberi kontribusi peningkatan risiko kanker esofagus. Penyakit refluks gastroesofageal menjadi faktor predisposisi utama terjadinya Adenokarsinoma pada esofagus. Faktor iritasi dari bahan refluks asam dan garam empedu didapatkan menjadi penyebab. Sekitar 10 15 % pasien yang dilakukan pemeriksaan endoskopik mengalami dysplasia yang menuju ke kondisi adenokarsinoma. Pasien dengan iritasi refluks gastroesofageal sering berhubungan dengan penyakit Barret esofagus yang berisiko menjadi keganasan Sedangkan Skuamosa sel karsinoma umumnya terdapat pada perokok berat dan pengkonsumsi alcohol yang berlebihan. 14

g. Epidemiologi Penyakit ini umumnya diderita oleh pria berumur 50 tahun keatas. Sektiar 90% diseluruh dunia adalah karsinoma sel skuamosa. Adenokarsinoma esofagus lebih sering menyerang ras kulit putih. Sedangkan karsinoma sel skuamosa lebih sering pada ras kulit hitam. Insidens karsinoma esofagus sangat bervariasi diberbagai negara, banyak ditemukan di China dan Iran. Di negara-negara barat seperti Amerika dan Inggris jarang ditemukan karsinoma esofagus. Banyak ditemukan pada perokok lama dan peminum alcohol serta pada golongan sosial ekonomi rendah dengan defisiensi gizi yang kronis. 13,14

h. Patofisiologi Secara fisiologis jaringan esofagus oleh epitel nonkeratin skuamosa. Karsinoma sel skuamosa yang maningkat dari epitel terjadi akibat stimulus iritasi kronik agen iritan. Alkohol, tembakau, dan beberapa komponen nitrogen diidentifikasi sebagai karsinoma iritan. Penggunaan alkohol dan tembakau secara prrinsip menjadi faktor risiko utama terbentuknya karsinoma sel skuamosa. American Cancer Society mencatat bahwa kombinasi yang lama antara minum alkohol dan tembakau akan meningkatkan pembentukan substansi faktor risiko yang lebih tinggi. Nitrosamina dan komponen lain nitrosil di dalam acar (asinan), daging bakar, atau makanan ikan yang diasinkan memberikan kontribusi peningkatan karsinoma sel skuamosa pada esofagus Pendapat lain menyebutkan adanya hubungan antara peningkatan kejadian karsinoma sel skuamosa pada esofagus dengan konsumsi kronik air hangat, konsumsi sirih, asbestos, polusi udara, dan diet tinggi buah dan sayur-sayuran justru menjadi faktor protektif untuk terjadinya karsinoma sel skuamosa Beberapa kondisi medis yang dipercaya meningkatkan karsinoma sel skuamosa seperti akalasia, striktur, tumor kepala dan leher, penyakit plummer-vinson syndrome, serta terpajan dari radiasi. Karsinoma sel skuamosa meningkat pada akalasia setelah periode 20 tahun kemudian. Hal ini dipercaya akibat iritasi yang lama dari material lambung. Pada pasien striktur, akibat kondisi kontak dengan cairan alkali akan meningkatkan sekitar 3 % karsinoma sel skuamosa setelah 20-40 tahun. Tumor kepala dan leher di hubungkan dengan karsinoma sel skuamosa yang disebabkan oleh faktor penggunaan alkohol dan tembakau penyakit plummer-vinson syndrome akan mengalami disfagia, anemia defisiensi besi, dan web esofagus. Kondisi ini akan meningkatkan insiden kejadian karsinoma sel skuamosa postkrikoid Adenokarsinoma esofagus sering terjadi pada bagian tengah dan bagian bawah esofagus. Peningkatan abnormal mukosa esofageal sering dihubungkan dengan refluks gastroesofageal kronik. Metaplasia pada stratifikasi normal epitelium skuamosa bagian distal akan terjadi dan menghasilkan epitelium glandular yang berisi sel-sel goblet yang disebut epitel barret. Perubahan genetik pada epitelium meningkatkan kondisi dysplasia dan secara progresif membentuk adenokarsinoma pada esofagus

Penyakit refluks gastroesofageal merupakan faktor penting terbentuknya epitel barret pada pasien dengan penyakit refluks gastroesofageal., sekitar 10 % menghadirkan epitel barret dan pada pasien dengan adanya epitel barret sekitar 1 % akan terbentuk adenokarsinoma esofagus. Oleh karena itu diperlukan untuk dilakukan biopsi endoskopik untuk menurunkan risiko keganasan pada esofagus Adanya kanker esofagus bisa menghasilkan metastasis ke jaringan sekitar akibat invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor. Selain itu, komplikasi dapat timbul Karena terapi terhadap tumor. Invasi oleh tumor sering terjadi ke struktur di sekitar medistinum. Invasi ke aorta mengakibatkan perdarahan masif, innvasi ke perikardium terjadi tamponade jantung atau sindrom vena cava superior, invasi ke serabut saraf menyebabkan suara serak atau disfagia, invasi ke saluran napas mengakibatkan fistula trakeoesofageal dan esofagopulmonal, yang merupakan komplikasi serius dan progresif mempercepat kematian. Sering terjadi obstruksi esofagus dan komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia aspirasi yang pada gilirannya akan menyebabkan abses paru dan empiema. Selain itu, juga dapat terjadi gagal napas yang disebabkan oleh obstruksi mekanik atau perdarahan. Perdarahan yang terjadi pada tumornya sendiri dapat menyebabkan anemia defisiensi besi sampai perdarahan akut masif. Pasien sering tampak malnutrisi, lemah, emasiasi dan gangguan sistem imun yang kemudian akan menyulitkan terapi

i. Tatalaksana Penatalaksanaan medis disesuaikan dengan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor. Penatalaksanaan yang lazim dilakukan adalah intervensi nonoperasi dan intervensi operasi. 1. Intervensi nonoperasi. a. Radiasi. Karsinoma esofagus bersifat radiosensitif. Pada kebanyakan pasien, radiasi eksternal memberikan efek penyusutan tumor. Komplikasi akibat efek radiasi sering berupa striktura, fistula dan perdarahan, selain itu, terkadang juga dijumpai komplikasi kardiopulmonal.3

b. Kemoterapi. Kemoterapi dapat diberikan sebagai pelengkap terapi operasi dan terpi radiasi. Biasanya digunakan kemoterapi kombinasi sisplatin bersama paclitaxel da 5 fluorouracil dimana memberikan respon sempurna pada 37% pasien. 3 c. Terapi laser (Nd:YAG laser) Pemberian intervensi terapi laser neodymium: yttrium-aluminum-

garnet (Nd:YAG laser) dapat membantu menurunkan secara sementara kondisi disfagia pada 70% pasien kanker esofagus. Pelaksanaan secara multipel yang dibagi pada beberapa sesi dapat meningkatkan kepatenan lumen esofagus. Tetapi kadang-kadang kanker kembali tumbuh setelah dilaser. Sehingga prosedur harus dilakukan tiap bulan.3 d. Photodynamic therapy (PDT). PDT dilakukan pada pasien dengan keganasan jaringan displastik. Fotosintesis mentransfer energi ke substrat kimia pada jaringan abnormal. Beberapa studi PDT atau terapi laser dengan kombinasi penghambat asam jangka panjang (long term acid inhibition) menghasilkan terapi endoskopi yang efektif pada displasia mukosa Barret dan mengeleminasi mukosa Barret.3

2. Intervensi bedah. Esofagotomi dilakukan melalui insisi abdominal dan serviks melewati hiatus esofagus/THE (transhiatal esophagectomy) atau dengan cara insisi abdominal dan toraks kanan/TTE (transthoracic esophagectomy). Pada transhiatal esophagectomy rongga dada tidak dibuka. Ahli bedah melukan manuver transhiatal dengan mengangkat esofagus secara manual dari rongga toraks. Pada transthoracic esophagectomy bagian tengah dan bawah esofgus diangkat melalui rongga toraks yang dibuka. Pembukaan abdomen dilakukan agar dapat memobilisasi lambung untuk memudahkan reseksi. 3

j. Komplikasi Komplikasi terjadi akibat invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor. Selain itu, komplikasi dapat timbul karena terapi terhadap tumor. Invasi oleh tumor sering terjadi ke struktur di sekitar mediastinum. Invasi ke aorta mengakibatkan pendarahan masif, ke

perikardium terjadi tamponade jantung, atau sindrom vena kava superior. Invasi ke serabut saraf menyebabkan suara serak atau disfagia. Invasi ke saluran napas mengakibatkan fistula trakeoesofageal dan esofagopulmonal, yang merupakan komplikasi serius dan progresif mempercepat kematian. Sering terjadi obstruksi esofagus dan menimbulkan komplikasi yang paling sering terjadi yaitu pneumonia aspirasi yang pada gilirannya menyebabkan abses paru dan empiema. Selain itu, juga dapat terjadi gagal napas yang disebabkan oleh obstruksi mekanik atau perdarahan.1 k. Prognosis Prognosis kanker esofagus adalah buruk, ketahanan hidup 5 tahun 2% untuk laki-laki dan 6% untuk wanita. Sesudah reseksi, ketahanan hidup 2 tahun 20% dan ketahanan hidup 5 tahun 14%. Dengan prognosis yang kurang menggembirakan maka pasien dengan resiko kematian yang rendah lebih cepat dilakukan reseksi, sedangkan pasien dengan resiko kematian yang tinggi akan dilakukan kemoterapi dan operasi dilakukan pada penderita yang paling memungkinkan.3,13,14

KESIMPULAN Berdasarkan scenario bahwa laki-laki tersebut mempunyai kanker esophagus diagnosis dapat ditegakan dengan bantuan anamnesis dan gejala yang muncul seperti anoreksia dan disfagia, serta dari konsistensi makanan yang tidak bisa ditelan dari padat hingga bahan makanan yang cair.

DAFTAR PUSTAKA 1. Aru W. Sudoyo, Bambang S, Idrus A, Marcellus simadibrata, Siti S editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III edisi V. Pusat informasi dan Penerbitan bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta; 2009 : 497-500. 2. Tim Pelaksana skill lab UNAD. Penuntun Skill Lab: Gangguan Sistem Pencernaan. Diunduh dari http://fk.unand.ac.id/images/skills_lab_blok_2.6.pdf. tanggal 19 Mei 2013. 3. American Cancer Society. Esophagus cancer. Diunduh dari

http://www.cancer.org/cancer/esophaguscancer/detailedguide/esophagus-cancerdiagnosis tanggal 19 mei 2013 4. Stuart J Spechler, MD. Achalasia ( Beyond the basic ). Diunduh dari http://www.uptodate.com/contents/achalasia-beyond-the-basics tanggal 19 mei 2013 5. Marco Ettore Allaix, MD, PhD . Achalasia. Diunduh dari

http://reference.medscape.com/article/169974-overview#showall tanggal 19 mei 2013 6. Sandeep Mukherjee, MB, BCh, MPH, FRCPC. Esophagial Stricture. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/175098-overview#showall tanggal 19 mei 2013 7. Thomas GR, Raynor T. Complete esophageal stenosis secondary to Peptic Stricture in the cervical esofagus : case report. ENT-Ear,Nose & Throat Journal 2006, 85(3): 187-9 8. Mazzadi SA, Garcia AO, Salis GB et al. Peptic esophageal stricture : a report from Argentina. Disease of the Esofagus 2004, 17: 63-6 9. Marco G Patti. Gastroesophageal reflux disease. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/176595-overview#showall tanggal 21 mei 2013 10. Christian Nordqvist. What Is GERD? What Causes GERD?. Diunduh dari http://www.medicalnewstoday.com/articles/14085.php tanggal 21 mei 2013 11. Robert J Fingerote, MD, MSc, BSc. Cancer of Esophagus. Diunduh dari http://www.emedicinehealth.com/cancer_of_the_esophagus/page4_em.htm tanggal 21 mei 2013 12. Corwin, Elizabeth J. 2009. BukuSakuPatofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC.h.613 13. A.D.A.M. Medical Encyclopedia. Esophageal Cancer. Diunduh dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001328/ tanggal 21 mei 2013 14. Keith M Baldwin. Esophageal Cancer. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/277930-overview tanggal 21 mei 2013