Anda di halaman 1dari 12

1

PRESENTASI KASUS

PARKINSONS DISEASE

Pembimbing
dr.Hastari Sp.S


Penyusun
MOHD SHAFID BIN HAMZAB
030.06.315





Kepaniteraan Klinik Neurologi
Rumah Sakit Umum Pemerintah Fatmawati
Periode 23 Mei 2011 25 Juni 2011
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta

2

STATUS NEUROLOGIS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. B
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 58 tahun
Pekerjaan : Pensiunan
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Jl. Pondok Pinang III
Pendidikan : Tamat SMA
Masuk RS : 25 Mei 2011
Pengambilan Data : 25 Mei 2011

II. ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 25 Mei 2011.
a. KELUHAN UTAMA
Tangan gemetaran sejak 3 bulan SMRS.
b. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke Poli RSUP Fatmawati dengan keluhan kedua
tangan sering gemetaran sejak 3 bulan belakangan. Pasien menyadari hal
ini awalnya waktu dia membaca koran pada waktu pagi, dirasakan korang
yang dipegang bergetar, setalah diamati tangan kanannya yang gemataran.
Beberapa bulan kemudian tangan kiri dirasakan ikut gemetaran. Umumnya
gemetaran terjadi saat dia tidak mengerjakan apa-apa dan bertambah berat
saat pasien gelisah atau emosi. Keadaan ini berlanjut memburuk sehingga
dirasakan tulisan tangannya semakin jelek tidak seperti biasanya..1 bulan
3

belakangan dirasakan gemataran ditangan semakin memburuk
sehinggakan handphone yang dipegang sering terjatuh.
Pasien kelihatan agak bungkuk, selepas ditanya, pasien baru
menyadari yang badannya sedikit membungkuk. Pengakuannya pustur
badannya tidak seperti ini sebelumnya, dan mengaku tidak pernah sakit
pinggang, sakit tulang belakang atau terjatuh. Pasien juga menyadari
akhir-akhir ini jalannya agak kaku dan agak lamban. Pasien juga sering
merasa sepoyongan kalau berjalan dan terpaksa langkah kecil-kecil untuk
mengelakkan terjatuh. Pasien menyangkal rasa sepoyongannya akibat sakit
kepala atau pusing. Setiap bangun pagi pasien sering mengeluh sendi-
sendinya kaku dan berkurang setelah menjalankan aktivitas. Pasien sering
disalah tangapin dari teman dan keluarga yang mengatakan pasien sering
kelihatan murung dan mengelamun padahal sebenarnya tidak. Pasien
mengaku kadang-kadang dia merasakan mukanya agak berat dan kaku
sehingga susah untuk tersenyum.
BAK dan BAB tidak ada masalah. tersedak dan sulit menelan (-)
Pengunaan obat-obat neurolepti/antipsikotik disangkal pasien. Demam (-)
Kejang (-), penurunan kesadaran (-), Benjolan dileher disangkal, rasa
berdebar-debar (-), berkeringat berlebihan tidak ada dan cepat kelelahan
disangkal.

c. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat hipertensi sejak 10 yang lalu dan sering kontrol di
pukesmas dan minum captopril 25mg 2 x 1 hari. Riwayat DM, Jantung,
stroke, keganasan dan trauma disangkal.



4

d. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada keluarga menderita keluhan yang sama. 2 kakak pasien
menderita hipertensi, Riwayat penyakit gula, jantung, ginjal di sangkal dalam
keluarga
f. RIWAYAT KEBIASAAN
Merokok lebih 20 tahun kira-kira 1 bungkus 1 hari, Alkohol (-)
Jarang olahraga.

III. PEMERIKSAAN FISIK (pada tanggal 25 Mei 2011)
a. Status generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Sikap : Berjalan aktif dan duduk aftif
Koperasi : Kooperatif
Keadaan Gizi : Cukup ( BMI = 23.87)
Tekanan Darah : kanan 140/90 mmHg, kiri 140/90 mmHg
Nadi : 80x/mnt
Suhu : 37,0
0
C
Pernafasan : 20x/mnt
b. Keadaan Lokal
Trauma Stigmata : (-)
Pulsasi A.Carotis : Teraba, kanan = kiri, reguler
Perdarahan Perifer : capilary refil < 2 detik
KGB : tidak teraba membesar
Columna Vertebralis : letak ditengah, skoliosis (-), lordosis (-)
Pemeriksaan Jantung
Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terlihat
5

Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V 2cm ke medial
dari linea midclavcula sinistra
Perkusi :
Batas atas : ICS III linea parasternalis sinistra
Batas kanan : ICS IV linea parasternalis dextra
Batas kiri : ICS V 2 cm medial garis
midklavikularis sinistra
Auskultasi : S1-S2 reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Pemeriksaan Paru
Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : Vokal fremitus sama di kedua lapang paru
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara napas vesikular +/+; Ronki -/-; Wheezing -/-
.
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-)
Perkusi : Timpani di seluruh lapangan abdomen
Auskultasi : Bising Usus (+) normal
Pemeriksaan Ekstremitas
Atas : akral hangat, edema (-)
Bawah : akral hangat, edema (-)

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
A. Rangsang Selaput Otak Kanan Kiri
Kaku Kuduk : (-) (-)
Laseque : > 70 > 70
Laseque Menyilang : (-) (-)
Kernig : > 135 > 135
Brudzinski I : (-) (-)
Brudzinski II : (-) (-)
B. Peningkatan Tekanan Intrakranial
6

Nyeri kepala : (-)
Muntah proyektil : (-)
Penurunan kesadaran : (-)
C. Saraf-saraf Kranialis
N. I : Normosmia kanan dan kiri


N.II Kanan Kiri
Acies Visus : Baik Baik
Visus Campus : Baik Baik
Melihat Warna : Baik Baik
Funduskopi : Tidak dilakukan


N. III, IV, VI Kanan Kiri
Kedudukan Bola Mata : Ortoposisi Ortoposisi
Pergerakan Bola Mata
Ke Nasal : Baik Baik
Ke Temporal : Baik Baik
Ke Nasal Atas : Baik Baik
Ke Nasal Bawah : Baik Baik
Ke Temporal Atas : Baik Baik
Ke Temporal Bawah : Baik Baik
Eksopthalmus : (-) (-)
Nistagmus : (-) (-)
Pupil : Isokhor Isokhor
Bentuk : Bulat, 3mm Bulat, 3mm
Refleks Cahaya Langsung : (+) (+)
RCTL : (+) (+)
Akomodasi : Baik Baik
Konvergensi : ` Baik Baik

7

N. V Kanan Kiri
Cabang Motorik : Baik Baik
Cabang Sensorik
Optahalmik : Baik Baik
Maxilla : Baik Baik
Mandibularis : Baik Baik
N. VII Kanan Kiri
Motorik Orbitofrontal : Baik Baik
Motorik Orbicularis : Baik Baik
Pengecap Lidah : Baik Baik
N. VIII
Vestibular
Vertigo : (-)
Nistagmus : (-)
Cochlear
Tes Rinne (+), Weber tidak ada lateralisasi, Schwabach sama dengan
pemeriksa
Tuli Konduktif : (-)
Tuli Perspeptif : (-)

N. IX - X
Motorik : Baik
Sensorik : Baik

N. XI Kanan Kiri
Mengangkat bahu : Baik Baik
Menoleh : Baik Baik
N. XII
Pergerakan Lidah : Deviasi (-)
Atrofi : (-)
Fasikulasi : (-)
Tremor : (-)
8

D. Sistem Motorik
Ekstremitas Atas Proksimal Distal : 5 5 5 5 5 5 5 5
Ekstremitas Bawah Proksimal Distal : 5 5 5 5 5 5 5 5
E. Gerakan Involunter
Tremor : (+)
Chorea : (-)
Atetose : (-)
Mioklonik : (-)
Tics : (-)
F. Trofik : Normotrofik
G. Tonus : Normotonus
H. Sistem Sensorik
Proprioseptif : Baik
Eksteroseptif : Baik

I. Fungsi Luhur
Astereognosia : (-)
Apraksia : (-)
Afasia : (-)
J. Fungsi Otonom
Miksi : Baik
Defekasi : Baik
Sekresi Keringat : Baik
Ereksi : Tidak diperiksa
K. Refleks-refleks Fisiologis Kanan Kiri
Kornea : (+) (+)
Bisep : (+2) (+2)
Trisep : (+2) (+2)
Radius : (+2) (+2)
Lutut : (+2) (+2)
Tumit : (+2) (+2)
Cremaster : Tidak diperiksa
9

Sfingter Ani : Tidak diperiksa
L. Refleks-refleks Patologis Kanan Kiri
Hoffman Tromner : (-) (-)
Babinsky : (-) (-)
Chaddock : (-) (-)
Gordon : (-) (-)
Gonda : (-) (-)
Schaeffer : (-) (-)
Klonus Lutut : (-) (-)
Klonus Tumit : (-) (-)
M. Keadaan Psikis
Intelegensia : Baik
Tanda regresi : (-)
Demensi : (-)


V. RESUME
Pasien, laki-laki 58 tahun datang dengan keluhan tangan gemetaran
sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan timbul perlahan-lahan dan semakin
memburuk dimulai dari tangan kanan kemudian berlanjut ke tangan kiri.
Keluhan sering timbul saat istirehat dan memburuk saat pasien emosi atau
cemas. Kaki terasa kaku waktu berjalan (+) langkah kecil dan jalan agak
lamban. Tubuh bungkuk (+), wajah kurang expresi (+). Riwayat hipertensi
lebih 10 tahun terkontol. Riwayat hipertensi dalam keluarga (+). Merokok (+)
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis
dengan tampak sakit sedang. Tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 80x,
penafasan 20x dan suhu afebris. Didapatkan tremor pada kedua tangan saat
istirehat.

10


VI. DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis klinis :Tremor, rigiditas ekstrimitas, bradikinesia,
Diagnosis etiologi : penyakit parkinson
Diagnosis topik : Substansia nigra
VII. PENATALAKSANAAN
1- Medikamentosa
Levodopa 3 x 1 tab
Pramipexole (agonis dopamine) 3 x 0 ,0125 mg tab
Triheksifenidil (antikolinergik) 2 x 1 tab
2- Non-Medikamentosa
Fisioterapi Latihan Gerak

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : ad bonam








11

TINJAUAN PUSTAKA

PATOGENESIS

Patologi utama dari penyakit Parkinson adalah degenerasi progresif dari
neuron-neuron dopaminergik di substantia nigra, yang terproyeksi di jalur
nigrostriatal ke corpus striatum (Gb. 6.1). Dengan demikian aktivitas
dopaminergik yang bersifat menghambat di jalur nigrostriatal menjadi jauh
berkurang (hingga 20-40%) pada pasien penderita Parkinson.
Pengurangan aktivitas dopaminergik yang bersifat menghambat di jalur
nigrostriatal mengakibatkan hiperaktivitas neuron kolinergik dari corpus striatum
yang tidak terbendung, yang menimbulkan ciri-ciri patologis dari parkinsonisme.
Gejala Frank di dalam parkinsonisme tampaknya hanya terjadi ketika lebih dari
80% neuron dopaminergik di substantia nigra telah mengalami degenerasi.
Penyakit Parkinson adalah bersifat progresif, dengan neuron dopaminergik yang
kian berkurang di substantia nigra, yang sangat terkait dengan memburuknya
gejala-gejala klinis.Parkinson yang tidak teratasi akan dapat menjurus pada
dementia dan kematian

CARA PENGOBATAN

Penderita Parkinson dengan gejala yang sudah jelas tidak perlu dirawat di rumah
sakit. Banyak terapi yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit Parkinson.

Terapi obat
1. Levodopa ( L-dopa )
Banyak dokter menunda pengobatan simtomatis dengan levodopa sampai
memang dibutuhkan. Bila gejala pasien masih ringan dan tidak mengganggu,
sebaiknya terapi dengan levodopa jangan dilakukan. Hal ini mengingat bahwa
efektifitas levodopa berkaitan dengan lama waktu pemakaiannya.Levodopa
melintasi sawar-darah-otak dan memasuki susunan saraf pusat. Disini ia
mengalami perubahan ensimatik menjadi dopamine. Dopamin menghambat
aktifitas neuron di ganglia basal.

2. Inhibitor dopa dekarboksilasi dan levodopa
Untuk mencegah agar levodopa tidak diubah menjadi dopamin di luar otak, maka
levodopa dikombinasikan dengan inhibitor enzim dopa dekarboksilase.Untuk
maksud ini dapat digunakan karbidopa atau benserazide (madopar ).
Dopamin dan karbidopa tidak dapat menembus sawar-otak-darah. Dengan
demikian lebih banyak levodopa yang dapat menembus sawar-otak-darah, untuk
kemudian dikonversi menjadi dopamine di otak.
Efek sampingnya umunya hamper sama dengan efek samping yang ditimbulkan
oleh levodopa.

3. Bromokriptin
12

Bromokriptin adalah agonis dopamine, obat yang langsung menstimulasi reseptor
dopamine, diciptakan untuk mengatasi beberapa kekurangan levodopa. Efek
samping dari bromokriptin sama dengan efek samping levodopa.
Obat ini diindikasikan jika terapi dengan levodopa atau karbidopa tidak atau
kurang berhasil, atau bila terjadi diskinesia atau on-off.


4. Obat antikolinergik
Obat ini akan menghambat sistem kolinergik di ganglia basal. Berkurangnya input
inhibisi mengakibatkan aktifitas yang berlebihan pada system kolinergik.


5. Antihistamin
Cara kerja obat antihistamin pada penyakit Parkinson belum terungkap. Sebagian
besar dari obat ini mempunyai sifat antikolinergik ringan yang mungkin
mendasari kasiatnya pada Parkinson. Antihistamin berguna untuk mengontrol
tremor.

6. Amantadin
Amantadin barangkali membebaskan sisa dopamine dari simpanan presinaptik di
jalur nigrostriatal. Obat ini dapat memberikan perbaikan lebih lanjut pada
penderita yang tidak dapat mentolerasi dosis levodopa atau bromokriptin yang
tinggi.

7. Selegiline ( suatu inhibitor MAO jenis B )
Inhibitor MAO diduga berguna pada penyakit Parkinson karena neuotransmisi
dopamine dapat ditingkatkan dengan mencegah perusakannya. Selegiline dapat
pula memperlambat memburuknya sindrom Parkinson,

Terapi Fisik
Sebagian terbesar penderita Parkinson akan merasa efek baik dari terapi fisik.
Pasien akan termotifasi sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah, dengan
diberikan petunjuk atau latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi fisik
pada penyakit Parkinson merupakan program jangka panjang dan jenis terapi
disesuaikan dengan perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan
pada rigiditas, tremor dan hambatan lainnya.