Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Hati merupakan organ lintas pertama dari obat yang diabsorbsi dari mukosa lambung dan mukosa usus
halus sebelum mancapai bagian tubuh lainnya. Obat akan mengalami biotransformasi oleh hati. Fungsi
tersebut akan mengakibatkan hati mempunyai resiko tinggi untuk mengalami intoksikasi oleh obat-
obatan.
Biotransformasi mempunyai dua tahap, pertama disebut tahap aktivasi dan kedua disebut tahap
detoksifikasi. Obat-obat hepatotoksik pada proses keseimbangan ini sangat kritis sehingga
penggunaannya harus hati-hati.
Sherlock (1993) melaporkan sekitar 2% dari semua kasus ikterus yang dirawat adalah disebabkan oleh
penggunaan obat. Sekitar seperempat kasus kegagalan hati fulminan di Amerika Serikat berhubungan
dengan pemakaian obat serta 4 dari 23 kasus hepatitis kronis aktif.
Pasien dengan penyakit hati perlu ditelusuri riwayat pemakaian obat-obatan sejak tiga bulan terakhir
termasuk dosis, rute pemberian, lama, serta kombinasi dari obat tersebut. Kerusakan hati yang
ditimbulkan oleh obat-obat hepatotoksik secara histopatologi beraneka ragam, namun ada 2 bentuk
ysng sering, yaitu bentuk hepatitik dan bentuk kholestatik. Kedua bentuk ini dapat terjadi bersamaan
pada satu jenis obat pada orang yang sama.

Metabolisme obat di Hati
Metabolisme obat oleh hati atau biotransformasi terjadi dalam mikrosom sel melalui system enzim yang
sangat kompleks. Perubahan ini terjadi melalui 2 tahap, yaitu aktivasi dan detoksifikasi. Tahap pertama
terjadi oksidasi, reduksi, dan penambahan gugus hidroksil. Pada tahap I metabolism obat hepatotoksik
disamping dapat menjadi bahan aktif juga dapat berubah menjadi bahan kimia lain yang selanjutnya
merupakan bahan toksik.
Sedangkan pada tahap kedua atau tahap konjugasi terjadi metabolisme bahan yang menjadi lebih polar
sehingga mudah lebih larut dalam air yang kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui traktus urinarius
dan system bilier.
Dikatakan ada beberapa factor yang mempengaruhi metabolisme obat di mikrosom hati, antara lain:
1. Penurunan aktivitas sesuai dengan pertambahan umur
2. Kurang gizi
3. Terjadinya kompetisi dalam metabolism obat pada penggunaan obat kombinasi
4. Pada penderita penyakit hati


Mekanisme Kerusakan Hati
Mekanisme terjadinya nekrosis sel hati yang disebabkan oleh obat-obatan hepatotoksik tidak diketahui
secara pasti, namun ada 7 dasar terjadinya kerusakan hati tersebut:
1. Berhubungan langsung atau proses metabolism di hati (kolestasis)
2. Kerusakan sel hati oleh efek toksik obat (nekrosis)
3. Kerusakan sel hati akibat reaksi imunologi
4. Karsinogenik/ mutagenik
5. Berhubungan dengan lairan darah ke hati
6. Transmisi oleh infeksi
7. Penyakit hati sebelumnya
Menurut Roberts (1991) setiap obat berbeda mekanismenya, sedangkan menurut Colon (1990)
kerusakan hati oleh obat hepatotoksik pada dosis terapi kemungkinan besar disebabkan factor kepekaan
terhadap obat (idiosinkrasi).
Mekanisme ini dapat diklasifikasikan atas 2 tipe, yaitu:
1. Yang dapat diramalkan (biasanya tergantung dosis)
2. Yang tidak bisa diramalkan atau idiosinkrasi (biasanya tidak tergantung dosis)
Kelainan idiosinkrasi terjadi akibat reaksi imunologis dengan gejala dan tanda yang tampak di
luar hati seperti ruam, nyeri sendi, dan eosinofilia.

Secara histopatologis kerusakan yang terjadi pada bentuk hepatitik sulit dibedakan dengan hepatitis
virus. Kerusakan tersebut dapat berupa nekrosis fokal atau massif dari sel hati. Hal ini tergantung pada
petogenesis (toksik/idiosinkrasi) masing-masing obat.
Pada kasus toksik biasanya kerusakan pada satu wilayah, namun pada idiosinkrasi nekrosis yang terjadi
merata di beberapa wilayah (massif). Gambaran nekrosis pada kasus toksik yang lebih utama adalah
neutrofil dan sedikit eosinofil. Pada nekrosis massif yang disebabkan factor idiosinkrasi yang terlihat
adalah sel mononuclear dan ditandai dengan meningkatnya eosinofil.

Gejala yang timbul adalah:
- Ikterus
- Lelah
- Nafsu makan turun
- Nausea
- Vomitus
- Abdominal pain
- Diare
- Urin seperti teh
- Hepatomegali
Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan peningkatan tes fungsi hati.
Obat-obat yang menyebabkan kelainan hati :
ASPIRIN
Hepatotoksik bergantung dengan dosis dan biasanya terjadi pada pemberian dosis tinggi. Roberts (1991)
melaporkan 10 % kasus anak dengan demam rematik akut yang mendapat aspirin. Pada anak
perempuan lebih sering daripada laki-laki.
Hepatotoksik karena aspirin ditandai oleh kadar aspirin dalam serum yang melebihi 25 mg/dl dan sering
meningkatkan kadar serum transaminasi. Kadar aspartat aminotransferase dan atau alanin
aminotransferase meningkat dan timbul eosinofilia. Adanya bentuk kelainan seperti hepatitis; anoreksia,
mual, muntah, dan nyeri perut dan hepatomegali. Pada kasus overdosis dan progresif terjadi ikterus dan
pada biopsy terlihat infiltrasi sel mononuclear dan sel-sel nekrosis. Dengan mikroskop electron terlihat
mitokondria edem.

Asetaminofen
Asetaminofen (parasetamol) merupakan deriva