Anda di halaman 1dari 30

RADITIA KURNIAWAN

102011219
F-5
ANAMNESIS
Keluhan nyeri pada mata kanan.
Dialami akibat terkena serpihan padi pada saat sedang memanen
padi.
Mata merah (+), nyeri (+), sulit membuka mata (+), air mata berlebih
(+), kelilipan (+), silau (+), rasa berpasir.

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan tanda vital (TD, RR, Nadi, Suhu), keadaan
umum, gizi, kulit, BB, TB, IMT
2. Tingkat kesadaran:
3. Jantung: -
4. Paru: -
5. Ekstremitas: edema?


Pemeriksaan Oftamologi
PEMERIKSAAN OD OS
Palpebra Edema (-) Edema (-)
Apparatus lakrimalis Hiperlakrimasi (+) hiperlakrimasi (-)
Silia Sekret (+) Normal
Konjungtiva
Hiperemis (+), injeksi
konjungtiva (+), injeksi
perikorneal (+)
Hiperemis(-)
Bola mata Normal Normal
Kornea Keruh Jernih
Bilik Mata Depan Sulit dievaluasi Normal
Iris Sulit dievaluasi Coklat, kripte (+)
Pupil Sulit dievaluasi Bulat, sentral
Lensa Sulit dievaluasi Jernih
Mekanisme Muskular Ke segala arah Ke segala arah
Light perception
+
+
+ +
+


+
+ +
+


Palpasi
PEMERIKSAAN OD OS
Nyeri Tekan (+) (-)
Massa Tumor (-) (-)
Glandula Preaurikuler Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran
Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan
Visus
VOD : 3/60 LP

VOS : 6/6 LP
Campus visual : Tidak dilakukan pemeriksaan
Color sense : Tidak dilakukan pemeriksaan
Light sense : Tidak dilakukan pemeriksaan
Penyinaran oblik :
No Pemeriksaan Oculus Dextra Oculus Sinistra
1


2

3

4
5

6
Konjungtiva


Kornea

Bilik Mata
Depan
Iris
Pupil

Lensa
Hiperemis (+),
Injeksi konjungtiva (+)
injeksi perikornea (+).
Kornea keruh, hampir
diseluruh permukaan.
Sulit dievaluasi

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Sulit dievaluasi
Hiperemis (-)


Jernih

Normal

Cokelat, kripte (+)
Bulat, sentral, refleks cahaya
(+)
Jernih
Tes Fluoresensi: (+) tampak keruh diseluruh permukaan
kornea


Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10% (+)
ditemukan hifa :

Diagnosis Kerja
Keratitis Jamur
Suatu infeksi kornea yang disebabkan oleh jamur. Biasanya dimulai
dengan suatu ruda paksa pada kornea oleh ranting pohon dan bagian
tumbuh-tumbuhan.
Pada masa sekarang infeksi jamur bertambah dengan pesat dan
dianggap sebagai akibat sampingan pemakaian antibiotik dan
kortikosteroid yang tidak tepat.
Predisposisi utama adalah para petani yang menggunakan alat pemotong
rumput atau sejenisnya dilapangan berumput tanpa memakai pelindung
mata.
Kortikosteroid merupakan faktor utama lainnya yang mengaktivasi jamur
dan meningkatkan virulensi jamur dengan mengurangi resistensi kornea
terhadap infeksi.
Diagnosis Banding
Etiologi
Etiologi keratitis fungal secara ringkas dapat dibedakan:
Jamur berfilamen (filamentous fungi); bersifat multiseluler dengan
cabang-cabang hifa.
Jamur bersepta: Fusarium spp, Acremonium spp, Aspergillus spp,
Cladosporium spp, Penicillium spp, Paecilomyces spp, Phialophora
spp, Curvularia spp, Altenaria spp.
Jamur tidak bersepta: Mucor spp, Rhizopus spp, Absidia spp.
Jamur ragi (yeast)
Jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas: Candida albicans,
Cryptococcus spp, Rodotolura spp.
Jamur difasik
Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang pada media
perbiakan membentuk miselium: Blastomices spp,
Coccidiodidies spp, Histoplasma spp, Sporothrix spp.
Keratitis fungal lebih jarang dibanding keratitis bakterial,
secara umum gambarannya kurang dari 5%-10% infeksi
kornea yang dilaporkan di klinik dari amerika serikat.


Epidemiologi
Di Asia keratomikosis khususnya, merupakan antara kausa
mayor kebutaan. Di China, insidens keratomikosis terus
meningkat sejak 8 dekade yang lalu. Manakala di daerah
bersuhu rendah seperti di Inggris dan Amerika Serikat
Utara masih jarang terjadi keratitis akibat infeksi jamur,
umumnya kurang dari 5%-10% .

Tipe Aspergillus merupakan tipe jamur penyebab
keratomikosis tersering ditemukan di seluruh dunia. Dari
suatu studi di India, Aspergillus ditemukan terbanyak
dengan persentase 27-64%, diikuti Fusarium (6-32%) dan
spesis Penicillium (2-29%). Keratomikosis lebih sering
terjadi pada laki-laki dibanding wanita dan pada pasien
dengan riwayat trauma okuler
Anatomi Kornea
Rongga orbita adalah rongga
yang berisi bola mata dan
terdapat tujuh tulang yang
membentuk dinding orbita
yaitu: lakrimal, etmoid,
sphenoid, frontal, dan dasar
orbita yang terutama terdiri
atas tulang maksilla, bersama-
sama tulang palatinum dan
zigomatikus.
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24
milimeter. Bola mata bagian depan depan (kornea) memiliki
kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk
dengan 2 kelengkungan yang berbeda.
Kornea (latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening
mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan
lapisan jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Kornea
ini disisipkan ke sklera di limbus, lekuk melingkar pada
persambungan ini disebut sulkus skleralis.
Kornea memiliki tiga fungsi utama:


Sebagai media refraksi cahaya terutama antara udara dengan lapisan
airmata prekornea.
Transmisi cahaya dengan minimal distorsi, penghamburan dan absorbsi.
Sebagai struktur penyokong dan proteksi bola mata tanpa mengganggu
penampilan optikal.
Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang terdiri atas:
epitel, membran bowman, stroma, membran descement, endotel.
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem
pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi
edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.



Fisiologi Kornea
Transplantasi kornea dimungkinkan oleh sifatnya yang
avaskuler, memiliki struktur yang bersifat deturgescence.
Deturgescence, atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea,
dipertahankan oleh pompa aktif bikarbonat dari endothelium
dan fungsi penghalang dari epitel dan endotel.
Endotelium lebih penting daripada epitel dalam mekanisme
dehidrasi dan kimia atau kerusakan fisik pada endotelium ini
jauh lebih serius daripada kerusakan epitel.

Penghancuran sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan
hilangnya transparansi. Di sisi lain, kerusakan epitel hanya
bersifat sementara, edema lokal dari stroma kornea yang
membersihkan ketika sel-sel epitel beregenerasi.
Kornea menerima suplai sensoris dari bagian oftalmik nervus
trigeminus. Sensasi taktil yang terkecil pun dapat menyebabkan
refleks penutupan mata.
Trias yang terdiri atas penutupan mata involunter
(blepharospasme), refleks lakrimasi (epiphora) dan nyeri selalu
mengarahkan kepada kemungkinan adanya cedera kornea.
Patofisiologi
Keratomikosis dapat terjadi setelah memprena paparan bahan
tanaman ke dalam mata,biasanya Aspergillus fusarium dan
spesies Cephalosporium. Pada pasien lemah atau pasien
imunosupresi, infeksi jamur cenderung lebih disebabkan oleh
Candida dan ragi lainnya. Trauma dengan bahan-bahan dari
tanaman atau tumbuhan faktor resiko yang penting dari keratitis
fungal.
Kortikosteroid topikal adalah faktor resiko mayor lainnya,
Kortikosteroid topikal mengaktivasi dan meningkatkan virulensi
jamur dengan mengurangi resistensi kornea terhadap infeksi.


Jamur mencapai kedalam stroma kornea melalui kerusakan
pada epithelium, kemudian memperbanyak diri dan
menyebabkan nekrosis pada jaringan dan menyebabkan
reaksi inflamasi. Kerusakan pada epitelium biasanya
disebabkan dari trauma (contohnya, penggunaan kontak
lensa, benda asing, operasi kornea).
Organisme dapat menembus kedalam membran descment
yang intak dan mencapai bagian anterior atau segmen
posterior. Mikotoksin dan enzim proteolitik menambah
kerusakan jaringan yang ada.
Keratitis fungal juga dapat terjadi sekunder dari
endophthalmitis fungal. Pada kasus ini, organisme jamur
dari segmen posterior menembus membran Descemet dan
masuk kedalam stroma kornea. Akumulasi ini dapat
dilihatdalam bentuk klinis dan dapat ditemukan pus atau
pembentukan abses.
Organisme dan respon host berkontribusi terhadap
kerusakan kornea, termasuk ulserasi.
Gejala Klinik
Gejala dari ulkus kornea yaitu nyeri yang ekstrim oleh karena
paparan terhadap nervus, oleh karena kornea memiliki
banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea menimbulkan
rasa sakit dan fotopobia.
Rasa sakit ini diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama
palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai
sembuh.
Fotopobia pada penyakit kornea adalah akibat kontraksi iris
beradang yang sakit.

Tanda penting ulkus kornea yaitu penipisan kornea dengan
defek pada epitel yang nampak pada pewarnaan fluoresen.
Biasanya juga terdapat tanda-tanda uveitis anterior seperti
miosis, aqueus flare (protein pada humor aqueus) dan
kemerahan pada mata.
Pemeriksaan terhadap bola mata biasanya eritema, dan
tanda-tanda inflamasi pada kelopak mata dan konjungtiva,
injeksi siliaris biasanya juga ada.


Penatalaksanaan
Terapi Topikal
Natacen 5% ED 6x1 gtt OD
Cendo Hyalub 6x1 gtt OD
Timolol Maleate ED 2x1 gtt OD

Terapi oral
Ketokonazole 100 mg 1x1




Prognosis
1 .Quo ad vitam : Bonam
2. Quo ad sanactionam : Dubia
3. Quo ad functionam : Dubia
4. Quo ad cosmeticum : Dubia

Komplikasi
Ulkus kornea dapat berkomplikasi dengan terjadinya
perforasi kornea walaupun jarang.
Hal ini dikarenakan lapisan kornea semakin tipis
dibanding dengan normal sehingga peningkatan tekanan
intraokuler dapat mencetuskan terjadinya ulkus kornea.
Pembentukan jaringan parut kornea menghasilkan
kehilangan penglihatan parsial maupun kompleks.
Terjadinya neovaskularisasi dan astigmatisme ireguler,
penipisan kornea, sinekia anterior, sinekia posterior,
glaucoma, dan katarak juga bisa terjadi
Keratitis fungal dapat berperan utama untuk infeksi berat
yang melibatkan setiap struktur intraokular dan dapat
membuat hilangnya penglihatan atau kehilangan mata.
Kesimpulan
Keratomikosis merupakan suatu infeksi kornea yang
disebabkan oleh jamur. Biasanya dimulai dengan suatu ruda
paksa pada kornea oleh ranting pohon dan bagian tumbuh-
tumbuhan.
Predisposisi utama adalah para petani yang menggunakan alat
pemotong rumput atau sejenisnya dilapangan berumput tanpa
memakai pelindung mata.
Penatalaksanaan tidak perlu sampai semua lesi di kornea
hilang, tetapi penanganan dilaksanakan hanya hingga pasien
dapat mencapai titik kenyamanan.