Anda di halaman 1dari 3

Cahaya digunakan oleh tanaman untuk proses fotosintesis.

Semakin baik proses


fotosintesis, semakin baik pula pertumbuhan tanaman (Omon et al. 2007). Selain itu besarnya
intensitas cahaya yang diteruskan ke permukaan lahan akan cenderung menurun seiring
bertambahnya umur suatu tanaman.
Dari bahwa besarnya intensitas cahaya hasil pengukuran pada lokasi penelitian didapatkan
pada hutan rata-rata intensitas cahayanya adalah 968 lux, pada halaman depan lab besarnya
intensitas cahaya adalah 2425 lux, dan pada kebun besarnya intensitas cahaya adalah 1488 lux.
Perbedaan ini terjadi karena adanya penutupan awan dan waktu pengukuran yang berbeda.
Intensitas cahaya pada setiap tempat berbeda karena menurut Handoko (2005), penerimaan
radiasi surya dipermukaan bumi sangat bervariasi menurut tempat dan waktu. Menurut tempat
khususnya disebabkan oleh perbedaan letak lintang serta keadaan atmosfer terutama awan.
Menurut waktu, perbedaan radiasi terjadi dalam sehari (dari pagi sampai sore hari) maupun
secara musiman (dari hari ke hari). Selain faktor di atas, faktor lain yang mempengaruhi
besarnya intensitas cahaya yaitu penutupan tajuk pohon.
Intensitas cahaya yang rendah karena naungan yang terlalu rapat bagi jenis yang memerlukan
cahaya (intoleran) akan menyebabkan etiolasi. Sementara intensitas cahaya yang berlebihan
akan menyebabkan gangguan pada pertumbuhan bahkan kematian bagi tanaman yang toleran
(Herdiana et al. 2008).
Nilai pH tanah tidak sekedar menunjukkan suatu tanah asam atau alkali, tetapi juga
memberikan informasi tentang sifat-sifat tanah yang lain, seperti ketersediaan fosfor, status
kation-kation basa, status kation atau unsur racun, dsb. pH tanah yang diamati pada hutan
rata-rata 6,5, pada halaman depan laboratorium pH rata-rata 6,5, dan pada kebun pH rata-rata
5,7. Menurut Notohadipawiro tanah pada hutan dan halaman depan laboratorium termasuk
tanah agak masam, sedangkan tanah pada kebun termasuk tanah masam. pH ini dipengaruhi
oleh curah hujan, karena curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian
tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah
menjadi rendah). Kelembapan tanah berbanding lurus dengan pH. Semakin tinggi kelembapan
tanah maka pH tanah juga akan semakin tinggi. Hal ini berbanding terbalik antara pH dengan
kelembapan udara. Semakin tinggi kelembapan udara di lingkungan tanah tersebut maka
proses reaksi asam akan semakin menurun, sehingga pH tanah pun menurun.
Respirasi tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikroba tanah.
Pengukuran respirasi (mikroba tanah) merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk
menentukan tingkat aktivitas mikroba tanah. Penetapan respirasi tanah didasarkan pada :
1. Penetapan jumlah CO
2
yang dihasilkan oleh mikroba tanah.
2. Jumlah O
2
yang digunakan oleh mikroba tanah. (Iswandi A. 1989)
Respirasi tanah dilakukan oleh mikroorganisme tanah baik berupa bakteri maupun
cendawan. Interaksi antara mikroba dengan lingkungan fisik di sekitarnya mempengaruhi
kemampuannya dalam respirasi, tumbuh, dan membelah. Salah satu faktor lingkungan fisik
tersebut adalah kelembapan tanah yang berkaitan erat dengan respirasi tanah (Cook & Orchard
2008).
Prinsip kerja yang dilakukan pada percobaan ini adalah dengan menetapkan jumlah
CO
2
yang dihasilkan oleh mikroorganisme tanah sehingga nantinya akan diketahui besarnya
respirasi yang terjadi dan secara tidak langsung juga akan menentukan seberapa banyak
mikroorganisme yang ada di sampel tanah tersebut. Akuades yang diletakkan di dalam toples
berfungsi untuk menyuplai oksigen yang akan digunakan mikroorganisme yang ada di dalam
sampel tanah tersebut untuk berespirasi. Hasil respirasi yang ada yaitu berupa karbondioksida
akan diikat oleh KOH yang juga diletakkan di dalam toples. Larutan KOH inilah yang
nantinya akan dititrasi untuk dapat mengetahui jumlah CO
2
yang diikat di dalamnya (jumlah
CO
2
yang dilepas mikroorganisme). Proses titrasi yang dilakukan pada larutan KOH tersebut
berlangsung selama 2 tahap. Proses pertama yaitu mentitrasi larutan KOH menggunakan
indikator penolptalein. Indikator ini digunakan karena larutan bersifat asam. Reaksi kimia
yang berlangsung adalah :
K
2
CO
3
+ HCl KCl + KHCO
3

Reaksi tersebut menunjukkan adanya pengikatan antara hidrogen dengan K
2
CO
3
menjadi
senyawa yang lebih kompleks. Pada tahap ini kita belum dapat mengetahui jumlah CO
2
yang
terkandung di dalam larutan tersebut sehingga dilanjutkan dengan titrasi berikutnya yaitu
menggunakan indikator metil orange sebagai indikator kelebihan basa. Reaksi kimia yang
berlangsung yaitu :
KHCO
3
+ HCl KCl + H
2
O + CO
2
Hasil yang diperoleh
Laju infiltrasi adalah jumlah (volume) air yang melewati suatu luasan penampang
permukaan tanah per-waktu dengan satuan m
3
/m
2
/ det, atau sama dengan satuan kecepatan =
m/detik. Bila suatu saat air mulai menggenang dipermukaan tanah, berarti laju penambah air
dipermukaan tanah telah melampauilaju infiltrasi tertinggi.
Hasil laju infiltrasi yang diperoleh

Dapus
Repository.usu.ac.id
Omon RM, Adman B. 2007. Pengaruh jarak tanam dan
teknik pemeliharaan terhadap pertumbuhan kenuar
(Shorea johorensis Foxw.) di hutan semak belukat
wanariset Samboja, Kalimantan Timur. J Penelitian
Dipterokarpa Vol. I (1): 47-54
Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. Bogor: Pustaka
Jaya.
Herdiana N, Siahaan H, Rahman TS. 2008. Pengaruh
Arang Kompos dan Intensitas Cahaya terhadap Pertumbuhan Bibit Kayu Bawang. J penelitian
Hutan Tanaman 5(3): 1-7.
Anas, Iswandi. 1989. Biologi Tanah dalam Praktek. IPB, Bogor


Cook VJ, Orchard VA. 2008. Relationships between soil respiration and soil moisture. Soil Biology &
Biochemistry 40: 10131018.