Anda di halaman 1dari 7

Kontrasepsi pada Keluarga Berencana

A. Pengertian Keluarga Berencana


Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu komponen untuk
meningkatkan sumber daya manusia dengan pesan yang sesederhana mungkin, yaitu dengan
membudayakan pengertian Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) dalam
arti memahami makna keluarga kecil yang bermanfaat, hidup sejahtera dan bahagia bagi
setiap keluarga (Prawirohardjo, 2005). KB juga merupakan program pemerintah dalam upaya
mengontrol pertumbuhan jumlah penduduk. Di Indonesia program KB yang digalakkan
adalah dengan motto dua anak lebih baik atau dua anak cukup, dengan maksud agar para
pasangan suami istri memrogram jumlah anak dan mengontrol kelahiran dengan hal-hal yang
harus dipertimbangkan oleh pasutri.
Diseluruh dunia 45% wanita usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi, meskipun
demikian terdapat variasi yang bermakna dari daerah ke daerah, sebagai contoh di Asia Timur
69% dan 11% di Afrika (Sperof, 2003). Secara keseluruhan 21% peserta KB menghentikan
pemakaian kontrasepsi dalam 12 bulan sejak mulai penggunaan. Ketidaklangsungan tertinggi
adalah kondom (39%), pil (32%)dan kontrasepsi suntik (18%). Ketidaklangsungan pemakaian
oleh karena kegagalan metode kontrasepsi terutama terjadi pada kondom (Prawirohardjo,
2005). Kontrasepsi adalah menggunakan ilmu pengetahuan dan metode untuk mencegah
terjadinya konsepsi (kehamilan) sebagai kontrol kelahiran (Masland, 2006).
Pemilihan dan penggunaan alat kontrasepsi harus sesuai dengan kebutuhan akseptor
(pengguna). Metode kontrasepsi efektif terpilih merupakan penggunaan alat dan atau cara
mencegah terjadinya kehamilan untuk jangka panjang, terutama dianjurkan bagi pasangan
yang tidak menginginkan anak lagi. Efektifitas tinggi (95%) apabila dipakai dengan baik dan
teratur. Yang termasuk dalam golongan ini adalah Intra Uterine Device (IUD), Metode
Operasi Wanita (tubektomi), dan Implant.
Sebagian ibu mempersepsikan bahwa IUD termasuk salah satu cara kontrasepsi efektif
dan praktis khususnya bagi pasangan yang tidak memerlukan kepatuhan seperti halnya
dengan pemakaian kontrasepsi cara lain (Prawirohardjo, 2005). Sampai Maret 2001 pasangan
usia subur (PUS) yang dibina menjadi peserta KB aktif mencapai 25 juta peserta dengan
berbagai metode kontrasepsi. Suntikan (37,53%), Pil KB (27,65%), IUD (17,53%), Implant
(10,67%), tubektomi (5,2%) dan Kondom (0,83%) (Arjoso, 2007). Menurut SDKI 2002-2003,
tingkat pemakaian kontrasepsi menurut pencapaian kontrasepsi nasional adalah sbb: pil

23,2%, IUD 11,0%, suntikan 49,1%, implant 7,6%, tubektomi6,5%, Metode Operasi Pria
(vasektomi) 0,77%, Metode Amenorea Laktasi (MAL) 0,2% (SDKI 2002-2003).
Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2005tingkat II
langkat peserta KB aktif pada Agustus 2005 antara lain IUD 8,52%, vasektomi 1,1%,
tubektomi 7,9%, implant 6,24%, suntik 32,4%, pil 49,3%, Kondom 13,11%. Pemakaian
metode kontrasepsi efektif terpilih cenderung menurun dari waktu ke waktu, masih banyak
pengguna kontrasepsi yang kurang efektif dan efisien untuk menjarangkan kelahiran atau
tidak menginginkan anak lagi.

B. Metode Kontrasepsi
1. Sterilisasi
Sterilisasi merupakan metode permanen kontrasepsi. Ada tiga jenis kontrasepsi sterilisasi:
a. Vasektomi
Vasektomi adalah metode permanen kontrasepsi pada laki-laki meliputi
pemotongan dan pengikatan atau penghambatan vas deferens yang membawa sperma
dari testikel ke penis. Vasektomi dilaksanakan melalui sayatan kecil pada skrotum atau
metode tanpa skalpe dan biasanya hanya membutuhkan anestasi lokal. Vasektomi
dapat dilakukan selama sehari di ruang operasi atau ditempat praktek dokter spesialis.
Vasektomi tidak mempunyai efek pada dorongna seksual, ereksi ataupun ejakulasi. Efek
samping vasektomi antara lain terjadinya memar dan rasa tidak nyaman selama
beberapa hari setelah pelaksanaan operasi (Khokhar, 2014).
b. Tubektomi
Tubektomi adalah metode permanen kontrasepsi pada perempuan meliputi
pemotongan, pembakaran, menjepit atau memasang cincin pada saluran tuba falopi.
Vasektomi tidak mempunyai efek pada dorongna seksual dan siklus menstruasi.
Tubektomi mempunyai resiko berkaitan dengan anestesi dan pembedahan. Tubektomi
paling umum dilakukan dengan bantuan laparoskop dan bius total. Laparoskop adalah
suatu instrumen yang memungkinkan bagian dalam abdomen terlihat disisipkan melalui
satu sayatan. Untuk keperluan tubektomi dibutuhkan satu sampai tiga sayatan kecil di
dekat pusar, lalu abdomen diisi dengan gas dan laparoskop (Khokhar, 2014). Metode ini
hanya dilakukan pada wanita yang tidak ingin melahirkan anak,karena metode ini
adalah metode yang permanen untuk mencegah kehamilan.

c. Hystrectomi (angkat rahim)


Hystrectomiberarti mengangkat rahim. Hystrectomi ringan tetap mempetahankan
ovarium dan tuba falopi, sedangkan Hystrectomilengkap adalah mengangkat seluruh
organ reproduksi. Sebagian besar pembedahan dilakukan dengan menyisakan ovarium
karena ovarium merupakan organ kelamin primer (kelenjar gonad) yang sangat berperan
dalam menghasilkan hormon perempuan (Masland, 2006).
2. Essure
Prosedur ini meliputi menyisipkan sutu alat berukuran kecil yang disebut
microinsert yang dimasukkan dalam setiap tuba falopi yang menyebabkan terbentuknya
jaringan parut, menutup saluran. Prosedur essure tidak membutuhkan sayatan (dimasukkan
melalui vagina lalu cervix) dan biasanya dapat dilakukna dengan bius lokal (Khokhar,
2014).
3. Pil kontrasepsi oral kombinasi
Pil kontrasepsi oral kombinasi terdiri atas kombinasi hormon estrogen dan
progesteron yang penting untuk mengatur terjadinya siklus menstruasi. Pil ini bekerja
dengan mengacaukan hormon pituitary yang merangsang hormon FSH (follicle Stimulating
Hormone) yang merangsang ovulasi dari ovarium. Pil ini biasanya diminum selama 21 hari
kemudian dihentikan selama masa menstruasi. Pil ini eketif setelah pengguna menelan pil
selngkap selama 21 hari berturut-turut. Pil ini aman digunakan, terutama pada pengguna
yang tidak merokok dan tidak mengalami gangguan kesehatan yang serius(Masland, 2006).
Efek samping penggunaan pil kontrasepsi oral kombinasi ini antara lain menstruasi yang
tidak teraturkarena tidak terjadinya ovulasi, pembesaran payudara, nyeri payudara, mual
dan resiko kanker payudara(Khokhar, 2014).
4. Pil progesteron
Pil progesteron berisi hormon progesteron sintesis dalam dosis rendah. Kontrasepsi
ini adalah pilihan yang baik untuk perempuan yang sudah tua karena keefektifan sebanding
dengan penggunaan pada perempuan yang masih muda. Pil progesteron harus diminum
pada jam yang sama setiap hari, dan dianggap terlewatkan jika telah terlambat minum
dalam waktu 3 jam. Efek samping penggunaan pil ini antara lain menstruasi tidak teratur,
sakit kepala, nyeri payudara, dan terkadang disertai gangguan bercak (Khokhar, 2014).
5. Kondom
Kondom adalah sarung lateks tipis yang dibentuk seperti jari dari sarung karet yang
pas untuk penis yang ereksi. Kondom dilengkapi dengan kantong kecil pada ujungnya
untuk menampung semen yang keluar. Kondom digunkan dengan cara menggulung secara

hati-hati kedalam penis yang ereksi dan memberi sedikit rongga pada ujungnya untuk
menahan semen. Kehati-hatian juga dilakukan saat mencopot sehingga tidak ada semen
yang keluar.
Kondom efektif jika digunakan secara tepat dan konsisten, dapat melindungi diri dari
penyakit kelamin. Kondom yang dilumasi dapat membantu perempuan yang mengalami
kekeringna vaginal. Namun beberapa pasangan merasa sensasi seksual saat berhubungan
menjadi menurun karena penggunaan kondom, dan terkadang perempuan alergi terhadap
bahan kondom maupun pelumas yang digunakan saat pengaplikasian kondom (Khokhar,
2014). Kondom juga disebut juga dengan prophylatics karena dapat sekaligus mencegah
kehamilan sebaik mungkin dan melindungi penularan penyakit menular seksual selama
melakukan hubungan intim (Masland, 2006).
6. Spermisida
Spermisida atau zat pembunuh sperma adalah jelli, busa atau krim yang dimasukkan
ke dalam vagina sesaat sebelum dilakukan hubungan intim. Spermisida dikemas dalam
kapsul yang disebut dengan (suppositoria), lapisan suppositoria akan mencair di dalam
vagina sehingga spermisida dapat melapisi dinding vagina dan serviks. Spermisida
berwarna bening dan lembut dan melapisi bagian dalam vagina. Spermisida biasanya
digunakan bersama dengan penggunaan kondom dan diafragma (Masland, 2006).
7. IUD (intrauterin device)
IUD adalah benda kecil yang secara khusus dirancang oleh dokter untuk dipasangkan
di dalam rahim untuk mencegah terjadinya konsepsi. IUD berbentuk bengkok atau
berkelok-kelok dan dibuat dariplastik dan metal yang elastis. IUD disisipkan ke dalam
uterus melalui cerviks. IUD diharapkan unuk mencegah pembuahan dan implantasi zygot
pada endometrium uterus dan berkembang menajdi bayi (Masland, 2006). Penggunaan
IUD dapat menyebabkan efek ekspulsi yaitu keadaan dimana IUD terdorong keluar dari
uterus. IUD dapat digunakan dalam uterus selama sekitar 5 tahun tanpa penggantian.Efek
samping penggunaan IUD antara lain pendarahan tidak teratur (amenorhoea), periode
menstruasi yang lebih berat sakit dan lebih lama, nyeri payudara, sakit kepala, jerawat dan
perubahan suasana hati(Khokhar, 2014).
8. Diafragma
Diafragma adalah tutup karet lembut yang dipasang melintang pada vagina, menutup
servix untuk menghalangi sperma masuk ke dalam uterus sehingga tidak terjadi
pembuahan. Alat ini dipasang sebelum melakukan hubungna seksual dan dibiarkan tetap
terpasang sampai lebih dari 6 jam setelah melakukan hubungna seksula yang terakhir.

Diafragma seringkali digunakan dengan konjungsi dengan spermisida. Spermisida adalah


suatu zat pembunuh sperma(Khokhar, 2014).
Pengguna harus belajar cara penggunaan diafragma dengan arahan dokter karena
mungkin akan mengalami kendala saat pemasangan. Beberapa perempuan mengalami
alergi pada karet dan atau spermisida. Penggunaan diafrgama dapat meningkatkan resiko
infeksi saluran kencing dan tidak cocok untuk perempuan dengan kelemahan pangkal
tulang panggul (prolaps genital) (Khokhar, 2014). Diafragma juga berguna untuk menahan
spermisida krim, jelly atau busa masuk serviks. Penggunaan alat ini tidak akan mengurangi
kenikmatan hubungan seksual dan tidak mengganggu(Masland, 2006).
9. Spons Vaginal
Spons Vaginal adalah potongan-potongan lembut menyerupai spons penyapu bedak
dan biasanya berisi spermasida. Ketika dimasukkan dalam vagina, spons membunuh
sperma, menyerap sperma dan cairan seminal, serta mencegah masuk dalam serviks.
Penggunaan spons kurang efektif karena dapat menyebabkan infeksi pada vagina, sehingga
tidak disarankan untuk perempuan muda (Masland, 2006).
10. Implan dan injeksi progesteron
Medroksiprogesteron asetat (DMPA) adalah metode kontrasepsi berbasis progesteron
yang diberikan kepada para perempuan sebagai injeksi setiap 12 minggu. Implan
progesteron berupa batang kecil (4 cm, 2mm) yang disisipkan dibawah kulit lengan atas
oleh praktisi medis ahli. Susuk implan melepaskan progesteron secara tetap dalam dosis
rendah selama 3 tahun(Khokhar, 2014).
Kembalinya fertilitas normal ditunda rata-rata 10 minggu seteah injeksi terakhir.
Penggunaan DMPA dapat menaikkan resiko berkurangnya densitas tulang dalam jumlah
sedikit yang bersifat reversible, dapat kembali setelah injeksi dihentikan. 50% perempuan
pengguna DMPA mengalami amenorhoea setelah menggunakan selama 1 tahun. Sebagian
besar pengguna DMPA mengalami kejarangan menstruasi atau bahkan tidak mengalami
menstruasi beberapa periode, namun 30% pengguna mengalami mentruasi berlebih
dibandingkan saat tidak menggunakan DMPA. Penggunaan DMPA juga dapat
meningkatkan berat badan, kehilangna libido dan perbedaan suasana hati(Khokhar, 2014).
11. Metode penarikan
Metode penarikan adalah menarik penis seluruhnya dari vagina sebelum tetrjadinya
ejakulasi pada puncak orgasme. Sekalipun penis ditarik tepat pada waktunya seringkali
sudah keluar cairan pra-ejakulasi yang mungkin mengandung sperma. Kefektifan metode
ini berkisar antara 81-96%, lebih besar dibandingkan tidak menggunakan alat kontrasepsi

apapun. Meskipun banyak pasangan akan gagal, namun juga terdapat pasangan yang
dengan nyaman menerima resiko ini (Khokhar, 2014).
12. Metode perencanaa kelurga secara alamiah (irama)
Metode irama meliputi enghentikan aktivitas seksual selama masa ovulasi. Ovulasi
biasanya terjadi pada hari ke-13 dan hari ke-17 dari siklus menstrausi. Paling aman jika
menghindari hubungan intim pada hari ke-10 sampai hari ke-20 (Masland, 2006).
Meskipun metode alami dapat efektif pada perempuan muda, metode ini bermasalah pada
wanita usia diatas 40 tahun. Siklus yang tidak teratur dan fluktuasi hormonal pada
perempuan membuat perhitungan hari aman menjadi lebih sulit (Khokhar, 2014).
Walaupun direncakan dengan hati-hati dan latihan pengendalian oleh pasangan suami istri,
angka statistik menunjukkan bahwa keberhasilan metode ini <50%(Masland, 2006).
13. Kontrasepsi darurat
Jika kontrasepsi gagal atau terlewatkan, kontrasepsi darurat dapat digunakan sebagai
metode cadangan yaitu dengan IUD dan pil kontrasepsi darurat. Jika disisipkan 5 hari
setelah melakukan hubungan seks yang tidak terlindungi, IUD akan mencegah kehamilan
dan memberikan kontrasepsi yang terus menerus pada perempuan yang cocok. Pil KB
darurat dapat diminum dalah 72 jam setelah hubungan seks tanpa pengaman. Pil ini terdiri
dari tablet progesteron dalam dosis dua kali lipat lebih tinggi dengan selang 12 jam
(Khokhar, 2014).

Daftar Pustaka

Masland, Robert. 2006. Apa Yang Ingin Diketahui Remaja Tentang Seks (terjemah oleh Mira
T Windy). Jakarta: Bumi Aksara.
Khokhar, Anita. 2014. Women Over Forty (terjemah oleh Indah Sri Utami). Yogyakarta:
Kanisius.
Prawirohardjo, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sperof, 2003. Pedoman Klinis Kontrasepsi. Jakarta: EGC
Arjoso, 2007. Atur Kelahiran. Http:// www.bkkbn.com. Diakses pada 27 Oktober 2014.
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI).2002-2003. Jakarta
BKKBN. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Balai
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.