Anda di halaman 1dari 29

TAKHRIJ AL-HADITS

DAN PENELITIAN SANAD


Oleh:
H. Ridwan Hasan,M.Th.,Ph.D

Tahrij Al-Hadits
Makna istilah TAHRIJ AL-HADITS
1. Menyampaikan hadits lengkap dg sanad
2. Menyampaikan hadis dari kitab tertentu
dengan sanad sendiri
3.Menunjukkan letak asal usul hadits lengkap
dg sanadnya dan menjelaskan kaadaan sanad,
baik dari sisi jumlah /kualitasnya

Tujuan Tahrij al-hadits


Mengetahui asal usul riwayat hadits
Mengetahui jumlah sanad hadits

Mengetahui jumlah perawi yg terlibat


Mengetahui ada tidaknya syahid dan

muttabi sanad hadits


Mengetahui kualitas sanad

Metode Tahrij
KITAB YG DIPERLUKAN UTK
MACAM METODE
Tahrij bil lafdzi
Tahrij bil maudlu

MELACAK HADITS
Kitab-kitab hadits
Kamus hadits:
a.
b.

c.Kitab-2 athraf

Cara Melacak Hadis:


Dengan perawi teratas/tertinggi
Mengetahui lafaz awal matan
Mengetahu salah satu kata/kalimat dari
matan
Mengetahui konten/judul Hadis: Bab
Solat, Zakat, Puasa, Haji dll.
Mengetahui sifat-sifat sanad & Matan
Banyak Hafal Hadis

> Sumber Lacakan: Mujam al-Fahares,


Athraf, Mausuah, CD-ROM, dll)

Kitab-Kitab yg diperlukan
melakukan Tahrij hadits
1. Kamus Hadits
2. Kitab-Kitab Hadits
3. Kitab Sejarah Para Perawi
4. Kitab Ilmu Dirayah/Musthalah
Hadits

Langkah-2 Tahrij &Penl. Sanad


1. Konsultasi Ke Kamus Hadits
2. Melacak Hadits pd kitab Hadits
3. Menulis hadits yg ditemukan lengkap dg sanad
4. Melakukan itibar
5. Menyusun skema sanad
6. Meneliti sejarah para perawi
7. Analisa kuantitas dan kualitas sanad
8. Menyimpulkan hasil takhrij dan penelitian
9. Penutup

Contohnya

. Hadits

ini dilacak melalui

pendekatan lafadz. Melalui lafadz > >


>ditemukan pada kitab Sunan Abu Dawud Jus II hal.
141,terdapat empat hadits.
> Ditemukan pula pada kitab Sunan al-Turmudzi juz
II hal. 463 terdapat dua hadits.
>Ditemukan juga pada kitab Sunan Ibnu Majah juz
II, hal 927, terdapat dua hadits. Sebagai
berikut;

.
Contoh
.Hadits Abu Dawud
- 1


Abu Dawud, Sulaiman bin Asyas, Sunan Abi Dawud,
( Barut : Dar al-Fikr, tth), juz II, h. 140

-



Ibid. h. 141
-

* Ibid

2
- 1
Hadits al-Turmudzi.



-



(
)

*
Al-Tirmudzi, Abi Isa Muhammad bin Isa, al-Jami al-Shahih Sunan al-Turmudzi.

(Mathbaah al-Babi al-Halabi, 1937), juz II, h. 463

-

Ibid * -

Hadits Ibnu Majah .3

-

*
Ibnu Majah, Abu Abdillah bin Muhammad al-Qazwani, Sunan Ibnu Majah, ( Kairo:
Dar al-Fikr, tth), juz II, h. 927

-

*
.Ibid

Nabi SAW
Abu Said

Abu Hurairah

Sholih

Abihi/kaisan
Said

Al-Amasy

Waki &Abu
Muawiyah
Hanad

Isman
bn Abi
Saibah

AlNifaili

Malik bn
Anas
Bisr

Usman

Ibn
Wahab

Nafi
Ubaidillah

Suhail

Al-Laits
bn.Saad

Jarir

Abdull
ah

Ibnu Umar

Yusuf bn
Musa

Qutaibah
bn Said

Abu Dawud

Yahya bn
Said

Ahmad

Nabi Saw
Abu Hurairah

Abu Said al-Hudri

Abihi/Kaisan

Abu Sholih

Said bn Abi Said

Al-Amasy

Malik bn Anas

Abu Muawiyah

Bisr bn Umar

Ahmad bn Mani

Al-Hasan bn Ali

Al-Turmudzi

Dari pernyataan yang dinyatakan hadits-hadits tersebut


di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Rasulullah melarang perempuan melakukan
pepergian tanpa disertai muhrimnya. Kata melarang
perempuan di sini sengaja dicetak miring dengan
tanda kutip, karena redaksi yang dipilih oleh haditshadits di atas beragam; Redaksi larangan Rasul itu ada
yang menggunakan ungkapan , yang berarti
tidak halal, dan ada yang menggunakan ungkapan
fiil nahi , yang artinya jangan melakukan

perpergian.

Jika larangan ini menggunakan ungkapan ,


maka pasangannya selalu berupa , , isim mufrad
Dalam
bentuk nakirah. Yang artinya menunjuk kepada
satu orang perempuan yang masih bersifat umum.
Sedangkan jika larangan ini menggunakan ungkapan
, maka pasangannya selalu berupa kata ,
isim mufrad dalam bentuh marifat, yang artinya
menunjuk kepada jenis orang

2. Larangan pepergian di atas berlaku bagi suatu perjalanan

yang menghabiskan waktu minimal selama sehari/


semalam. Radaksi lama pepergian yang digunakan hadits
di atas juga beragam; ada yang menggunakan ungkapan
atau dan ada yang diungkapkan dengan
redaksi . serta . Disamping itu ada
redaksi yang menunjuk selama minimal tiga hari .
Ungkapan kata yang digunakan ada yang dan
ada yang diungkapkan dalam redaksi . Perbedaan
redaksi ini bisa menimbulkan multi interpretasi (tafsir) dalam
memahami hadits tersebut.
Misalnya antara ungkapan
dengan . Kedua kata ini bisa memberikan
pemahaman yang berbeda

Melalui kata sehari semalam, makna hadits di


atas bisa dipahami bahwa orang perempuan dilarang
pepergian selama 24 jam, walaupun jarak tempuh
tempat yang dikunjungi tidak memerlukanwaktu
selama 24 jam. Sedangkan melalui kata ,
haditsdi atas bisa memberi pemahaman bahwa
orang perempuan dilarang melakukan pepergian
yang jeraknya dan waktu tempuhnya memerlukan
24 jam perjalanan.

Format Penulisan Sejarah Perawi


========================
1.Nama lengkap perawi
2.Tahun lahir dan wafat (jika keduanya ada)
3. Tempat tinggal (jika ada)
4. Nama guru dan murid-muridnya
5. Komentar ulama tentang keadilannya

Contoh Penelitian Sejarah


Perawi
17Abi Shalih
Nama lengkapnya Dzakwan Abi Shalih al-Saman al-Ziyad
al-Madini. Wafat pada tahun 101 H. Meriwayatkan hadits dari
Abu Hurairah, Abu Darda, Abi Said al-Khudzri, Uqail dan
sebagainya. Orang yang meriwayatkan dari padanya antara
lain anaknya, Abdullah, Atha bin Abi Rabah, Abdullah bin
Dinar, al-Amasy, Zaid bin Aslam dan lain-lain.
Menurut Abdullah bin Ahmad, dia tsiqat. Menurut Ibnu
Saad, Abu Shalih ini tsiqat dan haditsnya dapat digunakan
sebagai hujjah..
40

Abu Said al-Khudhri


Nama lengkapnya Saad bin Malik bin Sanan bin
Ubed bin Tsalabah bin Abjar, Khudhrah bin Auf bin
Haris bin al-Khazraj al-Anshari Abu Said alKhudhri. Wafat tahun 74 H. Meriwayatkan hadits
dari Nabi saw, dari ayahnya, dari saudaranya, Abu
Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit dll.
Sedangkan yang meriwayatkan dari padanya antara
lain. Anaknya (Abdurrahman), Istrinya, Ibnu Abbas,
Abi Rabah dan sebagainya.
Dia seorang sahabat Nabi saw yang adil dan tsiqat

Contoh Analisisi Kaadaan Sanad


A. Analisa Kuantitas Sanad
Sebagaimana dipaparkan pada bab tersebut di atas bahwa hadits
tentang pendampingan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, alTurmudzi dan Ibnu Majah ini -secara keseluruhan mulai perawi
pertama kalangan shahabat Nabi - sampai para Mukharrij ,
melibatkan sekitar 35 orang perawai. Pada thabaqat shabat terdapat
tiga orang perawi yaitu Abu Hurairah, Abdullah bin Umar bin alKhatthab dan Abu Said al-Khudzri. Dari jumlah perawi pada
thabaqat pertama ini saja dapat disimpulkan bahwa dari banyak
sedikitnya perawi atau sanad, hadits bersangkutan dapat
dikategorikan sebagai hadits ahad masyhur.
Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang seorang,
atau dua orang atau lebih, teapi belum cukup syarat untuk
dikategorikan sebagai hadits mutawatir..

Pada tabaqat tabiin senior terdapat tiga orang perawi yaitu


Nafi, Kisan, dan Abu Shalih. Demikian pula pada tabaqat
tabiin generasi pertengahan, terdapat al-Amasy, Said dan
Ubaidillah. Dengan demikian , maka sejak perawi pertama
sampai dengan perawi generasi ke tiga , masing-masing
diriwayatkan tiga orang.. Kemudian pada generasi berikutnya
hadits bersangkutan diriwayatkan oleh lebih dari tujuh orang
perawi. Dengan demikian, maka secara kuantitas, hadits yang
sedang dibahas ini memiliki sanad yang masyhur.. Para
ulama berbeda pendapat dalam menilai dan mengapresiasi
kehujjahan hadits masyhur . Sebagian menempatkan hadits
masyhur berada di antara hadits mutawatir dan hadits ahad.
Bahkan ada kecenderungan lebih dekat dengan hadits
mutawatir di banding hadits ahad..

B. Analisa KualitasSanad
untuk menganalisis kualitas sanad maka diperlukan penjelasan rinci
mengenai sanad masing-masing sebagai beriku:
Pertama, adalah hadits-hadits riwayat Abu Dawud yang terdapat
pada empat tempat yang tersusun dengan sanad di bawah ini :
1.

Hadits pada nomor ( a ) diterima dari


Qutaibah bin Said, (150 240 H )

dari al-Laits bin Saad, ( 95 175 H )


dari Said bin Abi Said, ( w. 123 H )
dari ayahnya (Abi Said/Kisan), ( w. 125 H )
dari Abu Hurairah, ( w. 57 H )
dari Nabi saw. ( w. 11 H )

Dari sisi persambungan sanad , hadits yang diriwayatkan


melalui rangkaian perawi di atas dapat disimpulkan sebagai
muttashil. Hal ini dapat dibuktikan bahwa masing-masing
perawi dengan perawi terdekat sebelumnya pernah hidup satu
generasi dan terbukti ada pertemuan, karena mereka memiliki
hubungan guru dan murid.[1]
Sedangkan dari sisi keadilan dan kedlabitan (tsiqat), terbukti
memenuhi persyaratan dan keriteria sebagaimana yang
ditetapkan dalam persyaratan hadits yang shahih. Qutaibah
adalah seorang yang sangat jujur dan dapat dipercaya.
Demikian pula al-Laits bin Saad, Said bin Abi Said dan
ayahnya sendiri, Abu Said Kisan al-Maqburi.
Kesimpulan sanad Abi Dawud pada hadits nomor / a di atas
adalah shahih lidzatihi.

Format Laporan Tahrij


1. Pendahuluan
2. Matan hadits lengkap dg sanad
3. Perbandingan redaksi matan
4. Skema sanad per Mukharrij
5. Skema keseluruhan sanad
6. Kesimpulan kuantitas sanad
7. Biografi perawi hadits
8. Kesimpulan kualitas sanad yg diteliti
9. Penutup

TERIMA KASIH