Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TUGAS

LAPANGAN TERBANG
KARAKTERISTIK FASILITAS PESAWAT TERBANG

OLEH:
KELOMPOK 2
ASEP SETYO BUDIANTO

L2A009018

MAULIN DWI SEPTYANI

21010110120076

ADINA PERMATASARI

21010111130077

ADITHYA WILDA NOVA

21010111130117

ALDI SETIADI PUTRA

21010111130126

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Umum
Bandar udara merupakan salah satu infrastruktur penting yang diharapkan
dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Bandar udara berfungsi
sebagai simpul pergerakan penumpang atau barang dari transportasi udara ke
transportasi darat atau sebaliknya.
Meningkatkan pergerakan penumpang dan barang diharapkan dapat
menciptakan peningkatan perekonomian. Pertumbuhan lalu-lintas udara secara
langsung berpengaruh menunjang laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan
meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi yang dapat menjangkau daerahdaerah yang jauh atau sulit terjangkau oleh transportasi darat.
Untuk meningkatkan pelayanan transportasi udara, maka perlu dibangun
bandar udara yang mempunyai kualitas baik secara struktural maupun fungsional.
Membangun bandar udara baru maupun peningkatan yang diperlukan sehubungan
dengan penambahan kapasitas penerbangan, tentu akan memerlukan metode efektif
dalam perencanaan agar diperoleh hasil yang terbaik dan ekonomis, memenuhi
unsur keselamatan pengguna dan tidak menggangu ekosistem, seperti perencanaan
landasan pacu yang baik dan pembatasan kebisingan pada suatu bandar udara.

1.2 Latar Belakang


Landasan pacu (Runway) merupakan titik perpindahan pergerakan transportasi
udara dan transportasi darat sehingga dapat dikatakan bahwa landasan pacu
merupakan elemen kunci infrastruktur bandar udara. Oleh karena itu perlu dilakukan
perencanaan yang matang untuk mempertahankan fungsi dari fasilitas bandara
tersebut selama umur rencananya.
Dalam perencanaan landasan pacu pada bandar udara, dibutuhkan data-data
mengenai karakteristik suatu pesawat yang akan beroperasi di bandar udara itu, data
pergerakan lalu-lintas pesawat dan kondisi alam serta geografis lokasi bandar udara.
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan
dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan
manusia dan kenyamanan lingkungan. Untuk itu perlu pembatasan kebisingan di
suatu bandara, terutama yang letaknya dekat dengan permukiman.

1.3 Maksud dan Tujuan

Tugas ini bermaksud untuk mendapatkan gambaran tentang perencanaan


runway yang baik dan benar serta pembatasan kebisingan di suatu bandar udara. Di
dalamnya juga ditulis beberapa istilah- istilah penting dalam kedirgantaraan.

BAB II
ISI
2.1 Landasan Pacu
Landas pacu (bahasa Inggris: Runway) adalah suatu daerah persegi
panjang yang ditentukan pada bandar udara di daratan atau perairan yang
dipergunakan untuk pendaratandan lepas landas pesawat udara.
Kebutuhan panjang landas pacu (runway) dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain:
1. Karakteristik pesawat kritis (critical aircraft) yang akan beroperasi baik
untuk keperluan lepas landas (take-off) maupun mendarat (landing).
2. Kondisi Cuaca, baik angin maupun temperatur
3. Kondisi landas pacu (runway) seperti kekasaran permukaan runway
maupun kemiringan (slope) permukaan.
4. Lokasi Bandar udara yaitu ketinggian atau elevasi dari permukaan laut
yang akan berpengaruh terhadap tekanan udara.
Berdasarkan referensi yang tertuang dalam Airport Design Manual (dokumen
standar yang dikeluarkan oleh ICAO), panjang landas pacu sebuah bandar udara
ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
1.

Kinerja (Performance) Jenis Pesawat Rencana


Setiap jenis pesawat mempunyai karakteristik dan kinerja yang spesifik
sesuai dengan kriteria desain pada pasawat tersebut. Selain itu, berat
pesawat juga mempunyai mempunyai pengaruh terhadap kebutuhan
panjang landasan pacu untuk tinggal landas (take-off) maupun pendaratan
(landing). Karena itu karakteristik dan kinerja pesawat udara menjadi
dasar utama dalam penentuan kebutuhan panjang ladas pacu bandar udara.

2. Suhu Udara
Suhu udara di permukaan landasan pacu suatu bandar udara berpengaruh
terhadap kebutuhan panjang landas pacu. Berdasarkan standar ISA
(International Standard Atmospheric Conditions), suhu standar yang
ditetapkan untuk perhitungan panjang landas pacu adalah sebesar 15C
(27F). Artinya, kinerja dan karakteristik kebutuhan panjang dasar untuk
masing-masing jenis pesawat udara ditetapkan pada suhu tersebut. Panjang
dasar kebutuhan panjang untuk masing-masing jenis pesawat udara disebut
sebagai ARFL (aeroplane reference field of length). Adapun faktor koreksi
terhadap suhu yang terjadi pada sebuah bandar udara adalah bahwa setiap
perbedaan 1C panjang landas pacu ditambah sebanyak 0,50 1,00 % dari

kebutuhan panjang landasan pacu untuk take-off. Sedangkan untuk


pendaratan, suhu udara di bandar udara tidak banyak mempunyai pengaruh
terhadap kebutuhan panjang landasan pacu.
3. Keadaan Angin
Untuk keperluan perencanaan, faktor angin baik itu berupa angin sakal
(head-wind) ataupun angin buritan (tail-wind) perlu dipertimbangkan.
Dalam perhitungan kebutuhan panjang landas pacu, keadaan angin pada
umumnya diasumsikan dalam kondisi calm sehingga diabaikan.
4. Kemiringan Memanjang (Longitudinal Slope)
Faktor kemiringan memanjang landas pacu akan mempengaruhi kebutuhan
panjang landas pacu cukup dominan dibandingkan dengan landas pacu
horisontal atau rata. Kemiringan 1% akan menyebabkan kebutuhan
panjang landas pacu bertambah sekitar 5% tergantung dari jenis pesawat
yang beroperasi.
5. Permukaan Landas Pacu
Struktur permukaan landas pacu disyaratkan sedemikian rupa sehingga
efek gesekan roda pesawat tidak banyak berpengaruh terhadap kebutuhan
panjang landas pacu.
6. Elevasi Permukaan Landas Pacu
Elevasi atau ketinggian permukaan landas pacu di atas permukaan air laut
rata-rata (Mean Sea Level MSL) akan berpengaruh langsung terhadap
kebutuhan panjang landas pacu. Semakin tinggi permukaan landas pacu,
maka semakin besar kebutuhan panjang landasan pacu. Dalam
perencanaan bandar udara pada umumnya dipergunakan ketinggian fisik
terhadap MSL.
Komponen-komponen pada landasan pacu yang diperlukan untuk
mengakomodasi kebutuhan proses operasional pesawat terbang secara aman adalah :
1.

Take off Distance (TOD) merupakan jarak yang direncanakan bagi


pesawat terbang untuk melakukan lepas landas secara normal. Ukuran
panjang take off distance adalah 115% dari jalur landasan pacu dengan
perincian 100% yaitu panjang jalur landasan pacu itu sendiri dan 15%
berupa jarak tambahan yang direncanakan untuk mengatasi
kemungkinan overshoot take-off dari pesawat terbang.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Landing Distance (LD) merupakan jarak yang diperlukan pesawat


terbang untuk melakukan pendaratan secara sempurna dengan fine
approach landing yakni sepanjang 100% dari landasan pacu.
Stop Distance (SD) merupakan jarak yang direncanakan bagi pesawat
terbang untuk berhenti setelah melakukan pendaratan secara normal
pada jalur landasan pacu.
Ukuran panjang stop distance adalah 60% dari jarak pendaratan
(landing distance / LD) dan stop distance direncanakan menggunakan
perkerasan dengan kekuatan penuh (full-strength hardening pavement).
Clearway (CW) merupakan daerah bebas yang terletak di ujung jalur
landasan pacu dan simetris terhadap perpanjangan garis tengah
(centerline) jalur landasan pacu dan tidak boleh terdapat benda-benda
yang menyilang kecuali penempatan lampu-lampu dari landasan pacu
pada sepanjang sisi samping landasan pacu. Clearway ini berfungsi
sebagai daerah aman yang diperlukan bagi pesawat terbang untuk
kondisi : overshoot take-off, dan overshoot landing.
Stopway (SW) merupakan daerah yang terletak di luar jalur landasan
pacu termasuk pada bagian dari clearway dan simetris terhadap
perpanjangan garis tengah (centerline) jalur landasan pacu. Stopway ini
berfungsi sebagai jalur landasan untuk memperlambat laju pesawat
terbang jika terjadi kegagalan dalam lepas landas (take-off failure) dan
untuk pendaratan darurat (emergency landing).
Take-Off Run (TOR) merupakan jarak yang diperlukan oleh pesawat
terbang untuk melakukan lepas landas secara normal maupun dengan
kemungkinan kegagalan mesin. Ukuran panjang take-off run ini adalah
sepanjang jalur landasan pacu. Take-Off Run direncanakan
menggunakan perkerasan dengan kekuatan penuh (full-strength
hardening pavement).
Lift-Off Distance (LOD) merupakan jarak yang diperlukan oleh
pesawat terbang dengan karakteristik tertentu untuk melakukan
pengangkatan setelah kecepatan pesawat terbang terpenuhi dari titik
awal pergerakan.

Komponen- komponen padad landasan pacu

Perencanaan jalur landasan pacu dan komponen-komponennya


dipertimbangkan terhadap keadaan dari pesawat terbang sebagai berikut :

harus

a. pesawat terbang melakukan lepas landas dengan kondisi normal :


Untuk operasional lepas landas (take-off):

Take-Off Distance Available / Take-Off Distance (TODA/


TOD) =
1,15 x panjang landasan pacu dasar rencana (basic length of runway
design) dari pesawat terbang rencana
Take-Off Run Available / Take-Off Run (TORA/ TOR) = panjang
landasan pacu dasar rencana (basic length of runway design)
Lift-Off Distance Available / Lift-Off Distance (LODA/ LOD) = 0,55 x
Take-Off Distance

Kebutuhan landasan pacu untuk operasional pesawat terbang normal (lepas landas)

Untuk operasional pendaratan (landing):

Landing Distance (LD) = Take-Off Distance


Stop Distance (SD) = 0,6 x LD
Clearway (CW) = 0,5 .(TOD LOD)
Stopway = 0,05 x LD

Panjang total dari jalur landasan pacu dengan perkerasan penuh (full strength
hardening) yang dibutuhkan adalah :
Field Length (FL)

= Take-Off Run (dengan Full Strength Hardening)


+ Clearway
= Take-Off Run + ( 0,5 .(TOD LOD))

Kebutuhan landasan pacu untuk operasional pesawat terbang normal (pendaratan)


b. Pesawat terbang melakukan lepas landas dengan kondisi overshoot take-off :

Landing Distance (LD) = Take-Off Distance


Lift-Off Distance (LOD) = 0,75 x TOD
Clearway (CW) = 0,5 .(TOD LOD)
Stopway (SW) = 0,05 x LD

c. Pesawat terbang melakukan lepas landas dengan kondisi kegagalan mesin :

Landing Distance (LD) = Take-Off Distance


Stop Distance (SD) = 0,6 x Landing Distance
Clearway (CW) = 0,15 x Landing Distance
Stopway (SW) = 0,05 x Landing Distance
Untuk kondisi kegagalan mesin panjang jalur landasan
dibutuhkan :

pacu yang

Accelerate-Stop Distance (ASD) = Field Length


Field Length (FL) = Take-off Run + Stopway

Kebutuhan landasan pacu untuk operasional pesawat terbang kegagalan mesin


(lepas landas)
d. pesawat terbang melakukan pendaratan (landing) dengan kondisi poorapproaches landing:

Landing Distance (LD) = Take-Off Distance


Stop Distance (SD) = 0,6 x LD
Clearway (CW) = 0,15 x LD
Stopway (SW) = 0,05 x LD

Kebutuhan landasan pacu untuk operasional pesawat terbang dengan kondisi poor
approaches landing

2.2 Pembatasan Kebisingan


Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam
tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia
dan kenyamanan lingkungan (Kep. MenLH. N0. 48 Tahun 1996), atau semua suara
yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat- alat proses produksi dan atau alat
alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Kep.
MenNaker. No. 51 Tahun 1999).
Menurut Sasongko (2000) Kebisingan adalah produk samping yang tidak
diinginkan dari sebuah lingkungan Bandara yang disebabkan oleh kegiatan
operasional Bandara yaitu bunyi suara mesin pesawat terbang yang menimbulkan
kebisingan yang tidak hanya mempengaruhi aktifitas 21 Jurnal Ilmiah Teknik
Lingkungan Vol. 4 No. 1 karyawan bandara (Ground Handling) dan penduduk
yang tinggal di sekitar Bandara. Peningkatan tingkat kebisingan yang terus
menerus dari berbagai aktifitas pada lingkungan Bandara dapat berujung kepada
gangguan kebisingan, efek yang ditimbulkan kebisingan (Chaeran,2008)
diantaranya :
1. Efek psikologis pada manusia
Kebisingan dapat membuat kaget, mengganggu dan mengacaukan
konsentrasi, menginterferensi komunikasi dalam percakapan dan akan
menginterferensi hasil pekerjaan dan keselamatan kerja.
2. Efek fisis kebisingan dapat mengakibatkan penurunan kemampuan
pendengaran dan rasa sakit pada tingkat yang sangat tinggi. Secara umum
upaya pengendalian kebisingan dilakukan melalui pengurangan dan
pengendalian tingkat bising menjadi 3 aspek yaitu :
1. Pengendalian pada sumber. Pengendalian kebisingan pada sumber
meliputi:
a. Perlindungan pada peralatan, struktur, dan pekerja dari dampak
bising.
b. Pembatasan tingkat bising yang boleh dipancarkan sumber.
c. Reduksi kebisingan pada sumber biasanya memerlukan modifikasi
atau mereduksi gaya-gaya penyebab getaran sebagai sumber
kebisingan
dan
mereduksi
komponenkomponen
peralatan.Pengendalian kebisingan pada sumber relatif lebih efisien
dan praktis dibandingkan dengan pengendalian pada
lintasan/rambatan dan penerima.
2. Pengendalian pada media rambatan.
Pengendalian pada media rambatan dilakukan diantara sumber dan
penerima kebisingan.Prinsip pengendaliannya adalah melemahkan
intensitas kebisingan yang merambat dari sumber kepenerima dengan
cara membuat hambatan- hambatan.Ada dua cara pengendalian

kebisingan pada media rambatan yaitu outdoor noise control dan


indoor noise control.
3. Pengendalian kebisingan pada manusia. Pengendalian kebisingan pada
manusia dilakukan untuk mereduksi tingkat kebisingan yang diterima
setiap hari. Pengendalian ini terutama ditujukan pada orang yang setiap
harinya menerima kebisingan, seperti operator pesawat terbang dan
orang lain yang menerima kebisingan. Pada manusia kerusakan akibat
kebisingan diterima oleh pendengaran (telinga bagian dalam) sehingga
metode pengendaliannya memanfaatkan alat bantu yang bisa
mereduksi tingkat kebisingan yang masuk ke telinga. (Chaeran,2008)
Jenis pesawat yang beroperasi di Bandara sangat berpengaruh dalam
pengendalian kebisingan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
supaya pengendalian kebisingan di Bandara lebih efektif adalah
sebagai berikut :
Cara mengidentifikasi masalah kebisingan di Bandara antara lain:
1. Menentukan tingkat kebisingan yang diterima oleh karyawan dan
penduduk sekitar Bandara.
2. Menentukan sumber bising. Data yang ada ditempuh langkah penyesuaian
kondisi operasional atau melakukan perawatan atau pemeliharan engine
pesawat terbang sehingga suara yang timbul dapat dikurangi. Usaha lain
dalam pengendalian dapat dilakukan dengan menambahkan bahan- bahan
penyerap suara, atau penghalang suara lainnya tergantung situasi dan
kondisi area bising. Pengaruh Kebisingan Dari Aktifitas Bandara
Internasional Juanda (Ninda R. dan Rudy Laksmono) 22
Jika semua usaha pengendalian secara teknis belum berhasil menurunkan
tingkat bising maka alternatif lain adalah pengendalian secara administratif yaitu
dengan cara pengaturan pola kerja pada pekerja dikaitkan dengan penerimaan
tingkat kebisingan. (Chaeran,2008). Kebisingan sebagai suara yang tidak
dikehendaki harus kendalikan agar tidak mengganggu kenyamanan dan kesehatan
manusia. Getaran yang dibangkitkan secara terus menerus (kontinyu) akan
mengakibatkan stress, mual, atau pusing tergantung frequensi yang dibangkitkan.
Tingkat kebisingan pada suatu titik yang berasosiasi dengan sumber peruntukan
lingkungan yang tertentu disebut kebisingan ambien. Kontrol kebisingan dilakukan
sebagai upaya pengendalian kebisingan ambien untuk mereduksi tingkat
kebisingan sampai taraf yang ditentukan oleh baku tingkat kebisingan untuk
lingkungan dengan peruntukan tertentu. Secara umum kontrol kebisingan
diklasifikasikan atas tiga kategori yaitu ;
1. Kontrol kebisingan pada sumber kebisingan.
2. Kontrol kebisingan pada lintasan (medium perambatan suara)
3. Kontrol kebisingan pada penerima (manusia).

2.3 Istilah Istilah Penting Dalam Kedirgantaraan


Berikut

beberapa istilah- istilah penting dalam kedirgantaraan

Istilah
Aeronautic
Alternate
Aerodrome
Apron
Arrival
Aviation
Baggage
Boarding
Cabin Attendant
Cabin Crew
Climbing

Keterangan
Ilmu penerbangan atau informasi tentang penerbangan.
Bandara alternatip yaitu bandara lain yang akan dipilih jika tdk bisa
mendarat di bandara tujuan
Tempat parkir pesawat
Bagian kedatangan
Institusi atau suatu lembaga penerbangan
Bagasi yaitu barang barang bawaan
Naik ke pesawat
Penjaga Kabin atau lebih dikenal dengan Pramugari atau Pramugara
Pramugari atau Pramugara
Saat pesawat sedang terbang naik
Pergantian pesawat lain atau menggunakan airline lain biasanya saat
Connecting Flight
transit
Crash
Kecelakaan
Cruising
Pesawat sedang terbang datar
Barang-barang yang termasuk dalam daftar membahayakan keselamatan
Dangerous Good
penerbangan
Departure
Bagiang Keberangkatan
Descending
Pesawat sedang terbang turun
Destination
Tujuan akhir suatu penerbangan
Ditching
Mendarat darurat di air
Divert
Mendarat di bandara yang bukan tujuan dialihkan ke bandara lain
Emergency
Pendaratan darurat yang dilakukan di bandara
Landing
Flight
Penerbangan (adjective)
Force Landing
Pendaratan dilakukan di luar Bandara
Tempat pesawat menunggu di udara, dengan cara berputar-putar biasanya
Holding Area
menunggu antrian untuk landing
Tempat pesawat menunggu di darat biasanya menunggu antrian untuk
Holding Bay
takeoff
Leaving for
Akan berangkat ke
Pax (Passenger) Penumpang pesawat udara
RON (Remain
Pesawat tinggal untuk bermalam
Over Night)
Tempat pesawat mengambil ancang-ancang dalam takeoff atau juga
Runway
sebagai tempat landing
Taxi (Taxiing)

Sedang jalan didarat, dari / ke runway

Taxi way

Jalan penghubung antara Apron dengan Runway


Posisi yang ditentukan tempat pesawat udara yang sedang taxi dan
Taxi-holding
kendaraan dapat diminta berhenti agar berada pada jarak yang cukup
position
kepada suatu runway
Melewati bandara lain sebelum bandara tujuan. Dalam transit tidak ganti
Transit
pesawat atau bisa juga ganti pesawat
ADC
Arodrome Controll Control yang berada di tower
APP
Approach Controll Control sesudah/sebelum ADC
Kespen
Keselamatan Penerbangan
KNKT
Komite Nasional Kecelakaan Transportasi
RNAV
Area Navigation
TCA
Terminal Control Area
RVSM
Reduced Vertical Separate Minima
Air Space
Ruang udara
Control Air Space Ruang udara yang dikendalikan
FIR
Flight Information Region
UIR
Upper Information Region
MATS
Makassar Advanced Air Traffic System
Route
Jalur penerbangan di dalam ruang udara (A576, W13, W53, dll.)
Instruments Landing System, peralatan elektronik yang dipakai untuk
ILS
membantu pesawat melakukan pendaratan
Sistem dalam pesawat udara berdasarkan sinyal radar pengamat sekunder,
Slstem untuk
yang beroperasi independen lepas dari peralatan yang di darat untuk
menghindari
pemberian petunjuk bagi penerbang adanya potensi konflik dengan
tabrakan udara
pesawat udara yang menggunakan transponder SSR.
Radio Detection and Ranging, suatu alat pendeteksi pancaran radio yang
Radar
memberikan informasi tentang jarak, azimut dan/atau elevasi suatu objek.
Secondary Surveillance Radar, sistem radar apabila sinyal radio yang
SSR
dipancarkan dari stasiun radar mengawali pancaran sinyal radio dari
stasiun lain.
Primary Surveillance Radar, sistem radar yang memakai sinyal radio yang
PSR
direfleksikan.
Suatu istilah umum yang arlinya bervasiasi, pelayanan informasi
Pelayanan Lalu
penerbangan pelayanan kesiagaan pelayanan petunjuk/saran bagi lalu
Lintas Udara
lintas udara, pelayanan pemanduan LLU (pelayanan pemanduan ruang
(LLU)
udara jelajah, pelayanan pemanduan) ruang udara pendekatan
Notice to Airmen, pemberitahuan yang dibagikan menggunakan
telekomunikasi berisi informasi berhubungan dengan pembuatan kondisi
NOTAM
atau perubahan fasilitas, pelayanan, prosedur atau hal berbahaya,
pengetahuan secara tepat waktu diperlukan para personil terkait dengan
operasional

SESI PERTANYAAN
1. Berapa panjang ideal landasan pacu untuk pesawat dual wheel tandem?
Untuk penentuan panjang landasan pacu tidak hanya ditentukan olehn jenis
pesawatnya saja tetapi juga ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu performance jenis
pesawat, suhu udara, keadaan angin, kemiringan memanjang, permukaan landasan
pacu, dan lainnya. Namun biasanya untuk pesawat besar atau dual wheel tandem
digunakan panjang landasan sepanjang 3500 meter.
2. Berapa jarak ideal bandara ke permukiman
Ditinjau dari kebisingan yang diakibatkan oleh mesin pesawat, jarak permukiman
sekurang-kurangnya radius 2 km dari bandara. Tetapi
3. Bagian apa yang dilapisi perkerasan kaku pada bandara?
Perkerasan kaku pada bandara hanya pada tempat pesawat berhenti atau dalam
keadaan lambat seperti di apron dan taxiway.
4. Adakah pengaruh lokasi terhadap panjang runway?
Lokasi bandara sangat berpengaruh pada penentuan panjang landasan. Semakin
tinggi permukaan landas pacu, maka semakin besar kebutuhan panjang landasan
pacu. Karena semakin tinggi permukaan landas pacu, angin akan semakin kecil
padahan angin sangat membantu dalam proses take off sehingga membutuhkan
landasan pacu yanglebih pendek.
5. Apakah pesawat kritis masih berlaku dalam penentuan panjang landasan?
Pesawat yang digunakan dalam penentuan panjang landasan adalah pesawat
terbesar yang melewati atau menggunakan landasan pacu tersebut.
6. Dalam presentasi yang telah dilakukan, disebutkan clearway dalam landasan pacu,
apakah arti dari clearway tersebut?
Clearway merupakan daerah bebas yang terletak di ujung jalur landasan pacu dan
simetris terhadap perpanjangan garis tengah (centerline) jalur landasan pacu dan
tidak boleh terdapat benda-benda yang menyilang kecuali penempatan lampu-lampu
dari landasan pacu pada sepanjang sisi samping landasan pacu. Clearway ini
berfungsi sebagai daerah aman yang diperlukan bagi pesawat terbang untuk kondisi :
overshoot take-off, dan overshoot landing.
7. Apa yang dimaksud pesawat terbang melakukan lepas landas dengan kondisi
overshoot take-off?
Seperti yang telah dijelaskan tadi, kondisi overshoot take-off adalah kondisi dimana
pesawat lepas landas (35ft diatas landasan) pada daerah clearway atau melewati
daerah Take-Off Run.

8. Apa yang dimaksud pesawat terbang melakukan pendaratan dengan kondisi poorapproaches landing?
Poor-approaches landing adalah keadaan dimana pesawat landing pada daerah
dekat dengan stopway.
9. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kebisingan di dalam bandara itu
sendiri?
Dapat dilakukan dengan berbagai cara, contohnya pada dinding- dinding gedung
bandara dilapisi bahan kedap suara sehingga suara bising yang disebabkan oleh
pesawat tidak masuk atau mengganggu calon penumpang yang sedang berada di
dalam bandara atau ruang tunggu.