Anda di halaman 1dari 7

Perhitungan Panjang Runway (Landasan Pacu)

Oleh : I Made Utarka

I. Perhitungan Kebutuhan Panjang Landas Pacu (Runway)


Kebutuhan panjang landas pacu (runway) dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :
1. Karakteristik pesawat kritis (critical aircraft) yang akan beroperasi baik untuk keperluan
lepas landas (take-off) maupun mendarat (landing).
2. Kondisi Cuaca, baik angin maupun temperatur
3. Kondisi landas pacu (runway) seperti kekasaran permukaan runway maupun kemiringan
(slope) permukaan.
4. Lokasi Bandar udara yaitu ketinggian atau elevasi dari permukaan laut yang akan
berpengaruh terhadap tekanan udara.

Kriteria perhitungan panjang runway yang digunakan adalah sebagai berikut :


1. Operating Empty Weight (OEW) pesawat kritis yang akan beroperasi
2. Pay Load untuk penerbangan dengan jarak terjauh.
3. Landing Weight pada Bandar Udara tujuan tidak boleh melebihi maximum structural
landing weight yang diijinkan pesawat tersebut.
4. Kebutuhan bahan bakar selama perjalanan untuk keperluan climb, cruise dan descent.
5. Take-off weight pesawat dihitung dengan menjumlahkan berat bahan bakar yang
diperlukan dengan OEW, atau menggunakan grafik Payload/Range dari Boeing. Berat takeoff tidak boleh melebihi Maksimum Take-off Weight (MTOW) yang diijinkan untuk pesawat
tersebut.
Contoh Data-data Critical Aircraft untuk Bandara Internasional yang akan mengoperasikan
pesawat berbadan lebar (wide body aircraft) sejenis Boeing B-747-400 adalah sebagai berikut
:
1. Critical Aircraft adalah : Boeing B747-400
2. Aircraft Dimension/characteristic (sumber Boeing) adalah sebagai berikut :
Wing Span : 64,92 m
Length : 70,67 m

Tail Height : 19,51 m


Typical Seating capacity : Upper Deck ; 42 buisness class
Lower deck : 24 first; 32 Buisness and 302 economy
Total : 402 seats
MTOW : 396.894 Kg.
Max. Design Landing Weight : 285.764 kg
Spec Operating Empty Weight (OEW) : 178.756 kg.
Max. Structural Pay Load : 67.319 kg.
Usable Fuel capacity : 215.991 ltr.= 173.426 kg
OEW + Max. Payload : 246.075 kg

I.1 Perhitungan Kebutuhan Panjang Lepas Landas (Take-off.)


Kebutuhan panjang landas pacu untuk keperluan take-off, dengan beban 336,00 ton (contoh
untuk jarak tempuh sekitar 3.410 NM= 6.310 km), dengan menggunakan Grafik yang
dikeluarkan oleh Boeing (zero wind), maka diperoleh panjang landas pacu (runway), untuk
sea level adalah 2.250 m.
Koreksi karena elevasi
Panjang runway bertambah sebesar 7 % setiap kenaikan 1000 feet (304,8 m) diatas Mean Sea
Level (MSL).
Fc = 1 + (0,07 x El/304,8.) dimana : Fc Faktor koreksi karena elevasi
El. = elevasi Bandar udara (m)

Fc = 1 + (0,07 x 19,161/304.8) = 1,0044

Koreksi akibat temperatur :


Panjang runway bertambah 1 % setiap kenaikan 1C dari Airport Reference Temperature
(ART). Setiap kenaikan 1000m dari elevasi muka air laut (MSL), maka temperature turun 6.5

C.
Ft = 1 + (0.01 x (T- (15-0.0065E)
Dimana : Ft = factor koreksi akibat temperature
T = Airport Reference Teperature (C.)=30 C (Data PT. AP-II)
E = Elevasi runway = 19,161 m (contoh)
Jadi :
Ft = 1+ (0,01x (30- (15-0,0065x19,161)
= 1,151

Koreksi terhadap kemiringan (slope) centerline runway :


Panjang runway akan dikoreksi sebesar 10 % untuk setiap 1 % perbedaan slope runway.
Fg = 1 + (0,1 x G)
Dimana : Fg = factor koreksi akibat kemiringan runway (m)
G = slope rata-rata (%) = 0,9 % (data dari PT. AP-II)
Fg = 1 + (0,1 x 0,9) = 1,09
Dengan demikian panjang runway untuk keperluan take-off adalah :
L = 2250 x 1.151 x 1.0044x1.09 = 2. 835 m. dibulatkan menjadi 2850 m
Perhitungan kebutuhan panjang take-off diatas menggunakan grafik dengan asumsi tidak ada
angin (zero wind), jadi kalau ada head wind akan mengurangi kebutuhan panjang take-off.

I.2 Perhitungan Kebutuhan Panjang Pendaratan (landing)


Dengan menggunakan Grafik dari Boeing untuk FAR Landing Runway Length Requirements
FLAPS 30 terlampir, dengan menggunakan data MDLW = 260.362 kg diperoleh panjang
runway untuk landing adalah 2000 m.
Grafik tersebut adalah pada kondisi dry condition (permukaan kering), sehingga perlu

dikoreksi kalau runway dalam kondisi basah (slippery) sebesar 15 %, sehingga panjang
runway untuk landing menjadi : L = 2000 + (0,15 x 2000) = 2300 m.

Runway extension from length 2500 m to


3000 m, for future operation of wide body aircraft Boeing B-747-400. as shown on the
picture
runway extension is under construction,
using flexible pavement with cement treated base
and asphalt concrete. This extension of the existing runway, afected to relocation of many
utilities like
Approach Lighting System Category I,
Threshold light, and also Navigation system
PAPI, Midle Marker and Glide Path + DME
February 13, 2013

Perencanaan Bandar Udara (2)


Pada kesempatan sebelumnya saya menyampaikan seputar perencanaan sisi darat yang
mengambil contoh untuk terminal penumpang. Pada bagian ini saya coba berbagi untuk
perencanaan sisi udara.
1. Fasilitas Sisi Udara
Untuk merencanakan sisi udara, sebaiknya kita mulai dengan memahami apa saja yang
termasuk kategori sisi udara. Bagi Anda yang sering bepergian dengan pesawat udara maka
saya yakin sudah punya gambaran tentang fasilitas tersebut. Ya, yang paling kelihatan di sisi
udara adalah landasan pacu (runway), landasan hubung (taxiway) dan landasan parkir
(apron). Apakah ada fasilitas lain yang terletak di sisi udara? ya tentu masih banyak
diantaranya adalah holding bay, runway strip, runway end safety area, stopway, clearway,
marka & rambu, taman meteo dan peralatan bantu pendaratan (alat-alat navigasi).
Berikut ini adalah definisi dari beberapa fasilitas tersebut:
Runway: Faslitas yang berupa suatu perkerasan yang disiapkan untuk pesawat melakukan
kegiatan pendaratan dan tinggal landas.

Runway Strips : suatu bidang persegi panjang yang diratakan bersih tanpa benda-benda yang
mengganggu, diberi dilengkapi drainase dan mencakup landasan pacu, daerah henti dan
dipergunakan untuk mendukung peralatan pemeliharaan serta dalam keadaan darurat harus
mampu mendukung pesawat udara bila keluar dari landasan pacu.
Runway end safety area (RESA): Suatu bidang persegi panjang yang diratakan, bebas dari
rintangan yang membentang dari ujung strip landasan pacu dan simetris terhadap
perpanjangan garis tengah landasan pacu, dan dipersiapkan guna mengurangi bahaya
kerusakan pesawat udara yang tergelincir keluar (over shooting) dari landasan serta untuk
pergerakan kendaraan pemadam kebakaran.
Stopway: Suatu bidang persegi panjang yang terletak pada ujung landasan pacu yang
disediakan sebagai tempat yang aman untuk berhenti bagi pesawat yang gagal lepas landas.
Clearway: Suatu bidang persegi panjang yang membentang dari ujung landasan pacu dan
simetris terhadap perpanjangan garis tengah landasan pacu, bebas dari rintangan tetap.
Taxiway: Suatu bidang tertentu di dalam lokasi bandar udara yang menghubungkan antara
landasan pacu dengan apron di daerah bangunan terminal atau runway dengan apron di
daerah hanggar pemeliharaan.
Apron: Suatu bidang tertentu di dalam bandar udara yang dipergunakan untuk
menaikan/menurunkan penumpang ke/dari pesawat udara, bongkar muat barang atau pos,
pengisian bahan bakar, parkir dan pemeliharaan pesawat udara;
Holding bay: Suatu bidang tertentu berbentuk apron kecil yang ditempatkan dekat ujung
landasan pacu yang berfungsi sebagai suatu tempet pesawat udara menunda lepas landas,
tanpa menyebabkan tertundanya pesawat udara lain yang ada di belakangnya dan sebagai
tempat pemeriksaan terakhir sebelum lepas landas bagi pesawat bermesin piston dan bagi
semua jenis pesawat udara untuk menunggu izin lepas landas.
Rambu: Simbol atau sekelompok simbol yang diletakkan atau dipasang di daerah pergerakan
pesawat udara yang bertujuan memberikan informasi penerbangan.
2. Landasan Hubung (Runway)
Perencanaan runway yang paling umum adalah menentukan orientasi arah runway dan
menentukan panjang runway. Arah runway dapat ditentukan dengan beberapa pertimbangan
sebagai berikut:
a) Data angin diperoleh dari BMKG di area bandar udara dengan rentang waktu minimum
5 tahun terakhir dan untuk kalibrasi dilakukan dengan pengadaan data primer yang dilakukan
dengan survei sesaat minimum satu bulan pada lokasi bandar udara.
b) Data angin meliputi arah, kecepatan, frekuensi angin harian, bulanan, tahunan yang
tercatat dari statistik 5 tahunan. Pada tahun terakhir data disampaikan per tiga jam baik untuk
arah, kecepatan, dan frekuensi angin.

c) Data angin dianalisis berdasarkan katagori arah angin berdasarkan 16 penjuru angin dan
prosentase kecepatan angin dengan kelompok kecepatan angin sebagai berikut : 4-15 mph,
15-31 mph, 31-47 mph dan angin katagori tenang (calms) antara 0-4 mph.
d) Berdasarkan kelompok kecepatan angin dapat digambarkan windrose dan dari
pembacaan windrose diperoleh arah angin dengan prosentasi terbesar yang dipakai sebagai
arah landasan pacu.
e) ICAO menentukan bahwa landasan pacu harus diorientasi sehingga pesawat udara dapat
mendarat dengan usability factor minimum 95%. Kecepatan angin samping (cross wind)
maksimum 23 mil/jam (20 knot) untuk panjang landasan pacu 1.500 m atau lebih; 15 mil/jam
(13 knot) untuk panjang landasan pacu antara 1.200 dan 1.500 m dan 11,5 mil/jam (10 knot)
untuk panjang landasan pacu kurang dari 1.200 m.
Adapun untuk menentukan panjang runway, cara yang paling sederhana adalah dengan
menggunakan data-data ARFL (Aeroplane Reference Field Length) yang dikoreksi terhadap
elevasi, suhu dan slope runway. Berikut ini adalah uraian penentuan panjang runway tersebut.
a) Penentuan panjang
Penentuan panjang aktual dilakukan dengan mengkoreksi panjang ARFL. ARFL adalah
panjang landasan minimum bagi pesawat
untuk take off pada keadaan standar yaitu pada keadaan beban lepas landas maksimum atau
Maximum Take Off Weight / MTOW,
ketinggian/ elevasi bandara nol (0) terhadap permukaan air laut, kondisi atmosfer standar,
keadaan tanpa angin, dan kemiringan
landasan pacu nol (0). ARFL tersebut dikoreksi terhadap elevasi landasan pacu, temperatur
dan kemiringan memanjang landas
pacu. Berikut ini adalah uraian perhitungan panjang landasan pacu dimaksud.
b) Koreksi terhadap elevasi landasan pacu (Fe)
Setelah ditetapkan bahwa panjang landasan pacu dasar harus ditingkatkan sebesar 7% setiap
kenaikan elevasi 300 m dari
permukaan air laut rata-rata.
Fe = 0,007 x (h/300)
Dimana Fe adalah faktor koreksi terhadap elevasi dan h adalah elevasi landasan pacu
(dinyatakan dalam +m di atas permukaan laut
atau dpl).
c) Koreksi terhadap suhu (Ft)

Untuk setiap pertambahan suhu 1C dari suhu standar, panjang landasan pacu ditingkatkan
1%. Standar suhu di permukaan laut
adalah 15C. Untuk ketinggian (h) meter di atas permukaan laut, faktor koreksi dapat dicari
dengan rumus
Ft = 0,01 x (T-0,0065 h)
Dimana Ft adalah faktor koreksi panjang landasan pacu terhadap suhu di lokasi, h adalah
elevasi landasan pacu dan T adalah suhu di
sekitar bandar udara.
c) Koreksi terhadap kemiringan landasan pacu (Fs)
Untuk setiap kemiringan 1 % panjang landasan pacu ditambah 10 %.
Fs = 0,1 x S
Dimana Fe adalah faktor koreksi panjang landasan pacu terhadap kemiringan dan S adalah
kemiringan landas pacu
d) Panjang koreksi
Ketiga faktor koreksi di atas yaitu elevasi bandar udara, suhu udara, kemiringan landasan
pacu digunakan untuk menentukan
panjang landasan pacu untuk kebutuhan lepas landas pesawat yaitu:
Panjang landasan pacu yang dibutuhkan (terkoreksi)=ARFL x Fe x Ft x Fs
Sedangkan untuk kebutuhan pendaratan pesawat, panjang landasan pacu hanya memerlukan
koreksi terhadap elevasi.
Perencanaan runway yang lebih rinci meliputi perencanaan perkerasan runway (flexible atau
rigid), perencanaan drainase runway
(surface atau sub surface) hingga penempatan marka dan peralatan navigasi di sekitarnya.
Untuk fasilitas-fasilitas lain umumnya direncanakan menggunakan standar-standar dari ICAO
dan disesuaikan dengan rencana
konsep bandar udara yang akan dibangun. Jika teman2 ingin memperdalam terkait fasilitasfasilitas sisi udara yang lain dapat
menghubungi via email saya . . .:)