Anda di halaman 1dari 45

Gangguan Tidur dan Irama

Sirkardian pada Skizofrenia


Pembimbing : dr. Bagus Sulistyo Budhi, Sp. KJ,
M.Kes
Oleh : Kara Lisrita Soedarmono (07120090080)
Mutiara Insan Sangaji
(07120090082)

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN


KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT
SOEBROTO
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

Tidur
Keadaan organisme yang teratur, berulang dan
mudah dibalikkan yang ditandai oleh relatif tidak
bergerak dan peningkatan besar ambang respons
terhadap stimuli eksternal relatif dari keadaan
terjaga.

Kaplan-Saddock

Kebutuhan Tidur
Tidur memiliki fungsi restoratif dan homeostatik
yang penting untuk thermoregulasi dan cadangan
energi normal.
Short sleeper seseorang yang memerlukan
tidur kurang dari enam jam setiap malam
untuk berfungsi secara adekuat
Long sleeper seseorang yang tidur lebih dari
sembilan jam setiap malamnya untuk dapat
berfungsi secara adekuat
Petidur lama memiliki lebih banyak periode REM
dan lebih banyak gerakan mata cepat dalam
masing-masing periode (densitas REM)
dibandingkan dengan petidur singkat.
PPDGJ III

Fisiologi Tidur
Tidur terdiri dari dua keadaan fisologis:
- Gerakan mata tidak cepat (NREM; nonrapid eye
movement)
Terdiri dari stadium 1 sampai 4
- Gerakan mata cepat (REM; rapid eye movement)

Tahaptahap
tidur

STADIUM TERJAGA
(STADIUM W)
-

Tidak ditemukan
adanya Kumparan
Tidurdan Kompleks K
Biasanya gerakan
mata berkurang
Kadang-kadang tonus
otot meninggi

STADIUM III
-

Ditandai dengan
terjadinya gelombang
delta yang
berfrekuensi sekitar 1 3,5 Hz di sela-sela
gelombang teta
Volume gelombang
delta berkisar sekitar
20 - 50% saja

STADIUM II

STADIUM I

Peralihan dari keadaan


jaga
Berangsur-angsur
kepekaan otak
terhadap rangsang dari
lingkungan berkurang
Dengan rangsangan,
mudah kembali ke
keadaan jaga
Gelombang EEG
berupa gelombang teta
dengan frekuensi
sekitar 3 - 7 Hz
Berlangsung
sekitar
STADIUM
IV 10
menit sebelum ke tidur
tahap
II
Perbedaan
antara tidur
tahap III dan tahap IV
tidak jelas, hanya pada
tahap IV volume
gelombang delta
mencapai >50%
Tidur tahap IV
merupakan tidur yang
paling penting dan
efisien untuk
terjadinya pemulihan
Setelah sekitar 90
menit dari permulaan

Pada tidur tahap II ini,


gelombang, EEG relatif
kurang teratur,
mengandung
gelombang teta, sleep
spindle dan kompleks
K
Tidur tahap II
mengambil sebagian
besar waktu tidur
Setelah sekitar 15
menit dalam tidur
tahap II, orang akan
masuk
ke tidurREM
tahap
STADIUM
III
Terjadi gerakan bola
mata yang cepat EEG
mengalami
desinkronisasi
Terjadi atonia otot,
kecuali otot mata, otot
pernapasan, dan otot
telinga tengah
Aktivitas genital
Mimpi
Gambaran EEG pada
tidur REM
menunjukkan terjadinya

Fisiologi Tidur
Pada kondisi normal, seorang dewasa memasuki
stadium tidur ringan (stadium 1 dan 2) dengan
cepat dan mempunyai stadium tidur dalam
(stadium 3 dan 4) yang berkisar antara 70 - 100
menit. Setelah itu timbul-lah stadium REM.
Kejadian atau siklus ini berulang dengan interval
waktu 90 menit.
Semakin mendekat ke pagi hari, tidur yang
dalam semakin berkurang dan tidur REM
semakin bertambah.

Fisiologi Tidur
Dalam kondsi normal, terjadi 46 kali periode
tidur REM
Secara keseluruhan periode tidur REM
meliputi 25% dari keseluruhan tidur
Tidur yang terbaik adalah tidur yang
mengalami perpaduan tepat antara
mengalami REM dan non-REM.

Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur dapat diterangkan melalui
gambaran aktivitas sel-sel otak selama tidur
yang dapat direkam dengan EEG.
Untuk merekam tidur, cara yang dipakai
adalah dengan EEG Polygraphy.
Dengan cara ini kita tidak saja merekam
gambaran aktivitas sel otak (EEG), tetapi juga
merekam gerak bola mata (EOG) dan tonus
otot (EMG)

GELOMBANG ALFA
-

Frekuensi 8 - 12 Hz
Amplitude gelombang 10 15 mV
Gambaran terjelas didapat
pada daerah oksipital atau
parietal
Muncul pada keadaan
mata tertutup

GELOMBANG BETA
-

Frekuensi 14 Hz atau
lebih
Amplitude gelombang
rata-rata 25 mV
Gambaran terjelas
didapat pada daerah
frontal
Muncul pada keadaan
terjaga terutama bila
mata terbuka dan pada
keadaan tidur REM

GELOMBANG TETA
-

GELOMBANG DELTA
-

Frekuensi antara 0 - 3 Hz
Amplitudo serta lokalisasi
bervariasi
Muncul pada keadaan
tidur (stadium 2, 3, 4)

Frekuensi antara 4 7 Hz
Amplitudo
gelombang
bervariasi dan
lokalisasi juga
bervariasi
Muncul pada
keadaan tidur
(stadium 1, 2,3, 4).

Irama Sirkadian
(Irama Tidur-Bangun)
Pengaruh faktor eksternal seperti siklus
terang-gelap, rutinitas harian, periode makan
dan penyelaras eksternal lainnya,
membentuk seseorang menjadi siklus 24 jam.
Irama tersebut tidak terdapat saat lahir tetapi
berkembang dalam dua tahun pertama
kehidupan.
Irama sirkadian mempengaruhi
kecenderungan memiliki tidur REM.
Gangguan dari berbagai irama dapat
menyebabkan berbagai masalah. Contoh
yang paling dikenal adalah jet lag.

Gangguan Tidur
dan Irama Sirkadian
Terdapat empat gejala utama yang menandai
sebagian besar gangguan tidur adalah:
A. Insomnia
B. Hipersomnia
C. Parasomnia
D. Gangguan Jadwal Tidur-Bangun

Insomnia
Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau
mempertahankan tidur
Faktor etiologik dari insomnia dapat diuraikan
sebagai berikut:
- Faktor biologik dan psikologik
- Faktor penyalahgunaan zat/obat adiktif atau
intoksikasi
- Faktor lingkungan atau kebiasaan yang kurang
baik
- Pengkondisian negatif (negative conditioning).
Insomnia mungkin transien atau persisten

Hipersomnia
Hipersmonia adalah jumlah tidur yang berlebihan
dan mengantuk (somnolensi) yang berlebihan di
siang hari.
Ditandai oleh serangan tidur yang jelas atau tidur
yang tidak dapat dihindari, ditandai oleh kelelahan
atau jatuh tertidur lebih cepat dibandingkan
biasanya dan kesulitan bangun di pagi hari.
Kondisi tersering yang berhubungan dengan
hipersomnia yang cukup parah adalah apnea tidur
(sleep apnea) dan narkolepsi. Insomnia mungkin
transien atau persisten

Parasomnia
Parasomnia adalah fenomena yang tidak
umum dan tidak diinginkan yang tampak
secara tiba-tiba selama tidur atau yang
terjadi pada ambang antara terjaga dan
tertidur.
Terjadi pada stadium 3 dan 4.

Gangguan Jadwal Tidur-Bangun


Gangguan jadwal tidur-bangun melibatkan
pergesaran tidur dari periode sirkadiannya
yang diharapkan.
Ditandai dengan keluhan tidak dapat terjaga
penuh saat penderita ingin terjaga penuh,
namun penderita mampu untuk terjaga pada
waktu yang lain.
Gangguan jadwal tidur-bangun dapat dianggap
suatu ketidaksejajaran (misalignment) antara
perilaku tidur dan bangun

Insomnia Berhubungan dengan


Gangguan Aksis I dan Aksis II
Insomnia yang terjadi sekurangnya satu bulan
dan yang jelas berhubungan dengan gejala
psikologis dan perilaku dari gangguan mental
yang dikenal secara klinis.
Gangguan tidur biasanya tidak selalu adalah
kesulitan untuk tertidur dan adalah sekunder
akibat kecemasan yang merupakan bagian dari
salah satu berbagai gangguan mental yang ada.
Pada skizofrenia, lama tidur total dan tidur
gelombang lambat adalah menurun.

SKIZOFRENIA

Skizofrenia
Suatu deskripsi sindrom dengan variasi
penyebab (yang tidak diketahui) dan
perjalan penyakit yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada
perimbangan pengaruh genetik, fisik,
dan budaya

Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

Skizofrenia
Ditandai oleh
Penyimpangan yang fundamental dan
karakteristik dari pikiran dan persepsi,
afek yang tidak wajar (inappropriate)
atau tumpul (blunted).
Kesadarannya jernih,
kemampuan intelektual tetap terpelihara,
kemunduran kognitif berkembang
kemudian
Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

Faktor Penyebab
Penyebab pasti belum diketahui
Faktor faktor yang diduga sebagai
penyebab :
Faktor keturunan
Faktor lingkungan

Kaplan, Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher, 2010.

Faktor Penyebab
Faktor keturunan
Belum diketahui secara pasti Gen yang
terlibat pada Skizofrenia
Angka kejadian Skizofrenia lebih tinggi
pada penderita yang mempunya riwayat
penderita Skizofrenia dalam
keluarganya

Kaplan, Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher, 2010.

Faktor Penyebab
Faktor Lingkungan
Faktor dalam kandungan
Selama proses persalinan
Setelah lahir
Hubungan interpersonal yang kurang wajar
Contoh :
Hubungan Anak Ibu yang Buruk
Frustasi
Kelelahan Emosional
Kaplan, Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher, 2010.

SKIZOFREN
IA
Paranoid

Disorganisa
si

Katatonik

Undifferentiat
ed

Residual

DIAGNOSIS DSM IV
1. Gejala karakteristik (dua atau lebih) :

2.
3.
4.
5.
6.

Waham
Halusinasi
Bicara terdisorganisasi
Perilaku terdisorganisasi / katatonik yang jelas
Gejala negatif

Disfungsi sosial / pekerjaan


Durasi (6bulan)
Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gang. Mood
Penyingkiran zat/ kondisi medis umum
Hub dengan gangguan perkembangan

Kaplan, Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher, 2010.

SUBTIPE SKIZOFRENIA DSM


IV
Skizofrenia Tipe
Paranoid

Skizofrenia
Terdisorganisasi
(hebrefenik)

Preokupasi dengan
Gejala berikut ini
waham / halusinasi
menonjol :
dengar
Bicara
Tidak ada gejala :
terdisorganisasi
Bicara yg
Perilaku
terdisorganisasi
terdisorganisasi
Perilaku
Afek datar / tidak
terdisorganisasi /
sesuai
katatonik
Tidak memenuhi kriteria
Afek datar yang tidak
untuk katatonik
sesuai
Penampilan pribadi dan
Waham persekutorik
perilaku sosial rusak
(waham kejar) atau
Respon emosional tidak
Kaplan, Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis.
Tangerang: Binarupa
Aksara Publisher, 2010.
sesuai
waham
kebesaran

SUBTIPE SKIZOFRENIA DSM


IV
Skizofrenia Tipe
Katatonik

Tipe Tidak
Tergolongkan

Tidak memenuhi kriteria A,


Imobilitas motorik
tetapi tidak memenuhi
katalepsi
kriteria untuk paranoid
Aktivitas motorik yang
Kriteria A yang dimaksud
berlebihan yang tidak
adalah :
ada tujuan dan tidak

Waham
dipengaruhi oleh

Halusinasi

Bicara terdisorganisasi
stimulasi eksternal

Perilaku
Negativisme yang
terdisorganisasi
ekstrem atau mutisme
/katatonik yang jelas
Gerakan volunter yang

Gejala negatif
aneh, gerakan

Atau semua kriteria untuk


streotipik, manerisme,
skizofrenia paranoid,
disorgansasi,
katatonik
seringai
Kaplan,
Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri:
Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher, 2010.
terpenuhi
Ekolalia / ekopraksia

SUBTIPE SKIZOFRENIA DSM


IV
Skizofrenia Tipe
Residual
Tidak adanya waham,
halusinasi, bicara
terdisorganisasi, dan
perilaku katatonik
terdisorgansisai atau
katatonik yang menonjol
Gangguan tetap ada namun
dalam bentuk yang lebih
lemah

Kaplan, Harold I., Benjamin J. Saddock, and Jack A. Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher, 2010.

Manifestasi Klinis
Gangguan
Pikiran

Proses
Pikir
Isi Pikir

Gangguan
Penampilan
dan Perilaku
Umum

Gangguan
Persepsi

Gangguan
motivasi

Gangguan
Emosi

Gangguan
neurokognitif

Manifestasi Klinis
1.a. GANGGUAN PROSES PIKIR
Asosiasi longgar
Gang. Arus pikir dengan ide yang berpindah dari satu subjek ke
subjek lain yang tidak berhubungan

Inkoherensi
Pikiran atau kata keluar bersama tanpa hubungan yang logis

Tangensial
Ketidakmampuan untuk mencapai tujuan secara langsung dan
sering kali pada akhirnya tidak mencapai point atau tujuan
yang diharapkan

Streotipik verbal
Pengulangan yang di luar konteks dari kata-kata, frasa, atau
ide, berulang-ulang menceritakan sesuatu ide, pikiran, atau
tema secara berlebihan
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
1.a. GANGGUAN PROSES PIKIR
Neologisme
Terhambat (blocking)
Jalan pikiran yang tiba-tiba berhenti atau
terhenti di tengah sebuah kalimat

Mutisme
Ketidakmampuan untuk bicara

Asosiasi bunyi (clang association)


Mengucapkan perkataan yang mempunyai
persamaan bunyi
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
1.a. GANGGUAN PROSES PIKIR
Ekolalia
Langsung mengulangi atau meniru apa yang
dikatakan orang lain

Konkretiasi
Alogia
Kemiskinan pembicaraan

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
1.b. GANGGUAN ISI PIKIR
Waham kejar
Komplotan yang khayali, dokter dan keluarga pasien dicurigai
bersama-sama berkomplot untuk merugikan, merusak,
mencederai, atau menghancurkan dirinya

Waham kebesaran
Bahwa dirinya adalah orang yang sangat kuat, berkuasa, atau
sangat besar.

Waham dikendalikan
Keinginan, pikiran, atau perasaanya dikendalikan oleh kekuatan
dari luar

Waham nihilistik
Perasaan yang keliru bahwa diri dan lingkungannya atau dunia
tidak ada atau menuju kiamat
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
1.b. GANGGUAN ISI PIKIR
Waham cemburu
Cemburu patologis tentang pasangan yang tidak setia

Erotomania
Keyakinan keliriu, biasanya pada wanita, merasa
yakin bahwa seseorang sangat mencitainya

Waham somatik
Keyakinan yang keliru yang melibatkan fungsi tubuh

Waham rujukan
Tingkah laku orang lain itu pasti akan memfitnah,
membahayakan, atau akan menjahati dirinya
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
1.b. GANGGUAN ISI PIKIR
Waham penyiaran pikiran
Waham bahwa pikirannya dapat diketahui
oelh orang lain

Waham penyisipan pikiran


Waham bahwa pikirannya disisipi oleh orang
lain atau kekuatan lain

Pada kelompok predominan gejala


negatif alogia, miskin ide
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
2. Gangguan Persepsi
Halusinasi
Ilusi dan Depersonalisasi

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
3. Gangguan emosi
Afek tumpul / datar
tatapan mata kosong, irama surara monoton,
bahasa tubuh yang sangat kurang

Afek tak serasi


emosi tidak cocok dengan suasana yang dihayati

Afek labil
perubahan irama perasaan yang cepat dan tibatiba yang tidak ada stimulus ekstenal

Kedangkalan respon emosi sampai anhedonia


Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
4. Gangguan Penampilan dan perilaku
Penalantaran penampilan
umum

Menarik diri secara sosial


Gerakan tubuh yang aneh dan wajah
menyeringai
Perilaku ritual
Sangat ketolol-tololan
Agresif
Perilaku seksual yang tidak pantas
Gejala katatonik (stupor / gaduh gelisah)
Fleksibilitas serea
Katalepsi
Perhimpunan
Dokter Spesialis
Kedokteran
Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan
Streotopi
dan
mannerism
Skizofrenia

Gangguan

Manifestasi Klinis
5. Gangguan Motivasi
Kehilangan kehendak
Disorganisasi
Tidak berkegiatan

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Manifestasi Klinis
6. Gangguan Neurokognitif
Defisit dalam atensi dan performa
Menurunnya kemampuan untuk
menyelesaikan masalah
Gangguan dalam memori termasuk
spasial dan verbal
Fungsi eksekutif

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

KESIMPULAN

Kesimpulan
Gangguan tidur dan Irama Sirkardian adalah
suatu keadaan dimana seseorang tidak
dapat tidur seperti yang diharapkan / suatu
ketidakmampuan yang patologik untuk tidur
Pada skizofrenia memiliki manifestasi klinis
terhadap kecemasan, depresi dan gangguan
emosi yang dapat mempengaruhi pola tidur
sehingga mengganggu kualitas tidur pada
orang dengan skizofrenia.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Kesimpulan
Pola tidur seseorang dengan depresi
pada skizofrenia menunjukkan :
Total waktu tidur yang berkurang,
Tidur tidak nyenyak
Tidur REM yang terjadi lebih awal di
malam hari,
Bangun lebih sering pada malam hari
dan bangun lebih awal di pagi hari dan
tidak dapat kembali tidur
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Kesimpulan
Tidak semua penderita gangguan
skizofrenik mengalami insomnia.
Insomnia sering terjadi pada
Tipe furor katatonik,
Gangguan skizofreniform (episode
skizofrenik akut) atau
Pada skizofrenika tipe paranoid dengan
waham kejar dan halusinasi berupa
kejaran
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2011 : Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia

Tidur adalah keadaan organisme yang teratur, berulang, dan mudah dibalikkan yang ditandai oleh relatif
tidak bergerak dan peningkatan besar ambang respon terhadap stimuli eksternal relatifdari keadaan
terjaga.Tidur diperlukanuntuk penghematanenergi. Tidur terdiri dari dua keadaan fisologis: tidur dengan
gerakan mata tidak cepat (NREM; non rapideye movement) dan tidur dengan gerakan mata cepat (REM;
rapid eye movement). Tidur NREM terdiri dari stadium 1 sampai 4. Dibandingkan dengan keadaan terjaga,
sebagian besar fungsi fisiologis adalah jelas menurun pada keadaan tidur NREM. Stadium REM, merupakan
suatu dimensi tersendiri dimana individu mengalami peristiwa mimpi dengan intensitas yang tinggi.
Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansi substansia
ventrikulo-retikularis medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur.
Gangguan tidur dan irama bangun-tidur adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak dapat tidur seperti
yang ia harapkan atau suatu ketidakmampuan yang patologik untuk tidur. Gangguan tidur dan irama
bangun-tidur biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya, seperti kecemasan
dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia. Pada skizofrenia memiliki
manifestasi klinis terhadap kecemasan, depresi dan gangguan emosi yang dapat mempengaruhi pola tidur
sehingga mengganggu kualitas tidur pada orang dengan skizofrenia.
Pola tidur seseorang dengan depresi pada skizofrenia menunjukkan waktu tidur total yang berkurang,
sedikitnya jumlah tidur yang nyenyak atau tidak sama sekali, tidur REM yang terjadi lebih awal di malam
hari, bangun lebih sering pada malam hari dan bangun lebih awal di pagi hari dan tidak dapat kembali
tidur, bahkan jika merasa sangat lelah.
Tidak semua penderita gangguan skizofrenik mengalami insomnia. Pada tipe furor katatonik, gangguan
skizofreniform (episode skizofrenik akut) atau pada skizofrenika tipe paranoid dengan waham kejar dan
halusinasi berupa kejaran dapat terjadi insomnia.