Anda di halaman 1dari 14

PRESENTASI KASUS

HERPES ZOSTER

BAB I
PENDAHULUAN
Herpes zoster merupakan salah satu penyakit kulit akibat infeksi virus, yaitu reaktivasi
virus varisela zoster. Insidennya meningkat seiring bertambahnya usia, di mana lebih dari 2/3
kasus terjadi pada usia lebih dari 50 tahun dan kurang dari 10% di bawah 20 tahun. 1 Meingkatnya
insidens herpes zoster pada usia lanjut berkaitan dengan menurunnya respon imun yang dapat
pula terjadi pada pasien imunokompromais seperti pasien HIV-AIDS, pasien dengan keganasan,
dan pasien yang mendapat obat imunosupresi.
Herpes zoster sendiri meskipun bukan penyakit yang mengancam jiwa, namun dapat
menggangu pasien sebab dapat timbul rasa nyeri. Rasa nyeri dapat dialami saat timbul lesi kulit
dan rasa nyeri tersebut dapat bertahan lama, hingga berbulan-bulan sehingga dapat menggangu
kualitas hidup pasien. Prevalensi herpes zoster di Indonesia diprediksi kecil, yakni hanya
mencakup 1%.
Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) yang diterbitkan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia (KKI) pada tahun 2012, tercantum bahwa herpes zoster merupakan daftar
masalah dermatologi yang perlu ditangani oleh dokter. Kompetensi herpes zoster tanpa
komplikasi bagi dokter umum adalah 4A, yang berarti level kompetensi tertinggi yang perlu
dicapai oleh dokter umum, di mana dokter dapat mengenali tanda klinis, mendiagnosis,
menatalaksana hingga tuntas kecuali pada perjalanannya timbul komplikasi.2
Berdasarkan hal tersebut, presentasi kasus ini dimaksudkan untuk menambah pemahaman
klinis dokter muda mengenai penyakit herpes zoster tanpa komplikasi, mulai dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, diagnosis, hingga penatalaksanaan. Setelah pemaparan kasus, diharapkan
dokter muda dapat memiliki informasi yang semakin kaya tentang herpes zoster sehingga dalam
pelayanan primer di masa yang akan datang kompetensi yang disyaratkan dalam SKDI dapat
sepenuhnya tercapai.

BAB II
ILUSTRASI KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
No. Rekam Medik
: 86-31-63
Nama
: An. G
Alamat
: Karangklesem Rt 04/ Rw 06
Tangga Lahir
: 11 Mei 2007 (7 tahun)
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
:Agama
: Islam
Suku
: Jawa

II.

ANAMNESIS
Dilakukan anamnesis pada pasien di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Prof.
Dr. Margono Soekardjo pada tanggal 25 Januari 2014 pukul 11. 00 WIB.
Keluhan Utama :
Terdapat benjolan yang berisi cairan di bagian perut kanan yang disertai nyeri,
gatal, dan panas sejak 2 hari yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Dua hari yang lalu, saat pasien bangun tidur merasakan perut bagian kanan nyeri,
baik saat istirahat maupun saat beraktivitas. Nyeri dirasakan sepanjang waktu, berdenyut,
tapi tidak sampai menggangu aktivitas.
Secara mendadak timbul benjolan kecil-kecil berisi cairan dan kulit menjadi
kemerahan di bagian perut kanan yang pada hari sebelumnya belum muncul. Benjolan
tersebut merupakan sumber dari nyeri yang dirasakan oleh pasien, disertai rasa gatal.
Benjolan tersebut terdapat yang pecah kemudian mengering. Pasien mengaku tidak

mengalami demam, tetapi bonjolan bertambah banyak dan sedikit mual. Pasien
meneluhkan bahwa benjolan terasa nyeri, panas dan perih jika terkena baju.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat
penyakit kulit lainya di sangkal. Riwayat dirawat di rumah sakit sebelumnya disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Saat ini tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien.
Riwayat penyakit kulit lainnya pada keluarga disangkal.
Riwayat Sosial :
Pasien tinggal bersama dengan orang tuanya. Ekonomi keluarga pasien cenderung rendah
dan sekarang pasien sedang menempuh pendidikan di bangku SD.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
-

Kesadaran

: Kompos mentis.

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang.

Vital Signs :

o Nadi

: 80 kali/menit.

o Pernafasan

: 20 kali/menit.

o Suhu

: 360C.

Berat Badan

: 20 Kg.

Status Dermatologis
Pada region abdominal dextra terdapat vesikel multiple bergerombol yang tersebar secara
dermatomal, dengan ukuran lentikular, terletak di atas kulit yang eritematosa. Pada
palpasi teraba kulit hangat, vesikel lunak dengan permukaan yang licin.

Gambar 1 Gambaran Lesi Kulit pada Pasien


IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

V.

RESUME
Pada anak usia 7 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan yang berisi
cairan di bagian perut kanan yang disertai nyeri, gatal dan panas sejak dua hari yang lalu.
Nyeri dirasakan sepanjang waktu, berdenyut. Timbul vesikel multiple yang nyeri, gatal,
dan pecah. Pada status dermatologis ditemukan vesikel multiple bergerombol tersebar
secara dermatomal di regio abdominal dextra, dengan ukuran lenticular yang terletak di
atas kulit yang eritematosa.

VI.

DIAGNOSIS BANDING
-

Herpes Simpleks

Impetigo Bulosa

Varisela Zoster

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Herpes Zoster

VIII. RENCANA TERAPI


-

Non Farmakologis
o Edukasi

Mengurangi sementara aktivitas fisik, tidak menggaruk walaupun terasa gatal,


hindari benjolan atau lenting yang pecah, tidak berdekatan dengan anak-anak atau
orang lain yang belum pernah mengalami cacar air sebelumnya. Mengkonsumsi
obat harus teratur dan tidak boleh ketinggalan atau lewat dari waktunya.
-

Farmakologi

o Fuson Cream 5 gr
o Dexanta Sirup 100 ml
o Parasetamol Sirup 125 mg/5 ml
o Asiklovir Tablet 400 mg.
IX.

PROGNOSIS
-

Ad vitam

: bonam

Ad functionam

: bonam

Ad sanationam

: bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
I.

DEFINISI
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster
yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi varisela zoster laten
dari saraf pusat dorsal atau kranial. Virus varisela zoster bertanggung jawab untuk dua
infeksi klinis utama pada manusia yaitu varisela atau chickenpox (cacar air) dan herpes
zoster. Varisela merupakan infeksi primer yang terjadi pertama kali pada individu yang
berkontak dengan virus varisela zoster. Virus varisela zoster dapat mengalami reaktivasi,
menyebabkan infeksi rekuren yang dikenal dengan nama herpes zoster atau shingles.
Pada usia di bawah 45 tahun, insidens herpes zoster adalah 1 dari 1000, semakin
meningkat pada usia lebih tua.3

II.

PATOGENESIS
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varisela zoster yang laten di dalam
ganglion posterior atau ganglion intrakranial. Virus dibawa ke tepi ganglion spinal atau
ganglion trigeminal, kemudian menjadi laten. Varisela zoster merupakan virus rantai
ganda DNA, anggota famili virus herpes yang tergolong virus neuropatik atau
neurodermatotropik. Reaktivasi virus varisela zoster dapat dipicu oleh berbagai faktor
seperti pembedahan, penyinaran, lanjut usia, dan keadaan tubuh yang lemah meliputi
malnutrisi, seseorang yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka panjang,
atau menderita penyakit sistemik. Jika virus ini menyerang ganglion anterior, maka
menimbulkan gejala gangguan motorik.3,4

III.

GAMBARAN KLINIS
Lesi herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun membran mukosa.
Herpes zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-4 hari, yaitu
sistemik (demam, pusing, malaise), dan lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal). Setelah itu
akan timbul eritema yang berubah menjadi vesikel berkelompok dengan dasar kulit yang
edema dan eritematosa. Vesikel berisi cairan jernih, kemudian menjadi keruh, dapat

menjadi pustul dan krusta. Jika mengandung darah disebut herpes zoster hemoragik. Jika
disertai dengan ulkus dengan sikatriks, menandakan infeksi sekunder.4
Masa tunas dari virus ini sekitar 7-12 hari, masa aktif berupa lesi baru yang tetap
timbul, berlangsung seminggu, dan masa resolusi berlangsung 1-2 minggu. Selain gejala
kulit, kelenjar getah bening regional juga dapat membesar. Penyakit ini lokalisasinya
unilateral dan dermatomal sesuai persarafan. Saraf yang paling sering terkena adalah
nervus trigeminal, fasialis, otikus, C3, T3, T5, L1, dan L2. Jika terkena saraf tepi jarang
timbul kelainan motorik, sedangkan pada saraf pusat sering dapat timbul gangguan
motorik akibat struktur anatomisnya. Gejala khas lainnya adalah hipestesi pada daerah
yang terkena.4,5
IV.

DERMATOM
Dermatom adalah area kulit yang dipersarafi terutama oleh satu saraf spinalis.
Masing-masing saraf menyampaikan rangsangan dari kulit yang dipersarafinya ke otak.
Dermatom pada dada dan perut seperti tumpukan cakram yang dipersarafi oleh saraf
spinal yang berbeda, sedangkan sepanjang lengan dan kaki, dermatom berjalan secara
longitudinal sepanjang anggota badan.
Dermatom sangat bermanfaat dalam bidang neurologi untuk menemukan tempat
kerusakan saraf saraf spinalis. Virus yang menginfeksi saraf tulang belakang seperti
infeksi herpes zoster (shingles), dapat mengungkapkan sumbernya dengan muncul
sebagai lesi pada dermatom tertentu.6

V.

KOMPLIKASI
Postherpetic neuralgia
Postherpetic neuralgia merupakan komplikasi herpes zoster yang paling sering
terjadi. Postherpetic neuralgia terjadi sekitar 10-15 % pada pasien herpes zoster dan
merusak saraf trigeminal. Resiko komplikasi meningkat sejalan dengan usia.
Postherpetic neuralgia didefenisikan sebagai gejala sensoris, biasanya sakit dan mati
rasa. Rasa nyeri akan menetap setelah penyakit sembuh dan dapat terjadi sebagai akibat
penyembuhan yang tidak baik pada penderita usia lanjut. Nyeri ini merupakan nyeri
neuropatik yang dapat berlangsung lama bahkan menetap.4,7

Postherpetic neuralgia merupakan suatu bentuk nyeri neuropatik yang muncul


oleh karena penyakit atau luka pada sistem saraf pusat atau tepi, nyeri menetap dialami
lebih dari 3 bulan setelah penyembuhan herpes zoster.8,9
Postherpetic neuralgia dapat diklasifikasikan menjadi neuralgia herpetik akut (30
hari setelah timbulnya ruam pada kulit), neuralgia herpetik subakut (30-120 hari setelah
timbulnya ruam pada kulit), dan postherpetic neuralgia (di defenisikan sebagai rasa sakit
yang terjadi setidaknya 120 hari setelah timbulnya ruam pada kulit).9
Herpes Zoster Oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus
trigeminus sehingga manifestasinya dapat terjadi pada mata. Jika cabang nasosiliar
bagian luar terlibat, dengan vesikel pada ujung dan tepi hidung (Hutchinsons sign), maka
keterlibatan mata dapat jelas terlihat. Kelainan pada mata yang sering terjadi adalah
uveitis dan keratitis, akan tetapi dapat pula terjadi glaukoma, neuritis optik, ensefalitis,
hemiplegia, dan nekrosis retina akut.4,5
VI.

DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis herpes zoster berdasarkan gambaran klinis.5 Komponen
utama dalam penegakan diagnosis adalah :
1. Gejala prodromal berupa nyeri.
2. Distribusi yang khas dermatomal.
3. Vesikel berkelompok atau dalam beberapa kasus ditemukan papul
4. Beberapa kelompok lesi mengisi dermatom, terutama dimana terdapat nervus
sensorik
5. Tidak ada riwayat ruam serupa pada distribusi yang sama (menyingkirkan herpes
simpleks zosteriformis)
6. Nyeri dan allodinia (nyeri yang timbul dengan stimulus yang secara normal tidak
menimbulkan nyeri) pada daerah ruam.10
Pemeriksaan laboratorium dilakukan bila lesi tampak krusta kronis atau nodul
verukosa dan bila lesi pada area sakral sehingga diragukan patogennya virus varisela
zoster atau herpes simpleks. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah PCR

yang berguna pada lesi krusta, dan kultur virus yang tidak efektif karena membutuhkan
waktu 1-2 minggu.1,10
VII.

DIAGNOSIS BANDING4
Herpes simpleks
Herpes simpleks (bersinonim dengan cold sore, herpes febrilis, herpes labialis,
herpes gladiatorium, scrum pox, herpes genitalis).11 Penyebabnya adalah Virus Hepes
Simpleks, terdapat 2 jenis virus, yaitu HSV-1 yang menyerang bibir dan kornea mata.
HSV-2 yang dapat menyebabkan herpes genitalis. Infeksi herpes simpleks umumnya
melalui kontak langsung kulit dan mukosa, jarang yang menyebar melalui aerosol. Untuk
herpes simpleks sendiri (HSV), bentuknya pada umumnya atipik berbentuk plakat
eritematosa, maupun erosi kecil. Herpes primer umumnya asimptomatik atau gejala yang
tidak khas, berupa vesikel serta limfadenopati regional. Gejala prodromal berupa demam,
sakit kepala, malaise, dan mialgia yang terjadi 3-4 hari setelah lesi timbul, membaik
dalam 3-4 hari.
Varisela
Varisela (cacar air) adalah infeksi akut primer oleh virus varisela zoster yang
menyerang kulit dan mukosa. Penyakit ini didahului gejala prodormal yaitu demam,
malaise, nyeri kepala, mual, anoreksia. Lesi pada varisela diawali pada daerah wajah
kemudian meluas ke dada. Lesi juga dapat dijumpai pada mukosa mulut dan genital. Pada
awalnya timbul makula kecil yang eritematosa pada daerah wajah dan dada, dan berubah
cepat menjadi papul dan menjadi vesikel. Vesikel mempunyai gambaran klasik yaitu
letaknya superfisial dan verdinding tipis seperti tetesan air (tear drop), panjangnya sejajar
dengan lipatan kulit.

Impetigo Bulosa
Impetigo bulosa merupakan suatu bentuk impetigo dengan gejala utama berupa
lepuh-lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tegang, terkadang tampak
hipopion, dan eritema. Impetigo bulosa juga dikenal sebagai impetigo vesikulo-bulosa

atau cacar monyet. Impetigo adalah infeksi pada kulit disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus aureus yang mengenai kulit bagian atas (epidermis superfisial). Dimana
Staphylococcus aureus akan menghasilkan toxin yang dapat menyebabkan adhesi sel
pada lapisan superfisial dari epidermis, memecah lapisan stratum granulare dan
membentuk blister.
VIII. TATALAKSANA
Tujuan penatalaksanaan herpes zoster adalah mempercepat proses penyembuhan,
mengurangi keparahan dan durasi nyeri akut dan kronik, serta mengurangi risiko
komplikasi.1,5 Untuk terapi simtomatik terhadap keluhan nyeri dapat diberikan
analgetik.12 Kemudian untuk infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik. 4 Sedangkan
pemberian antiviral sistemik direkomendasikan untuk pasien sebagai berikut : 13
1. Infeksi menyerang bagian kepala dan leher, terutama mata (herpes zoster oftalmikus).
Bila tidak diterapi dengan baik, pasien dapat mengalami keratitis yang akan
menyebabkan penurunan tajam penglihatan dan komplikasi ocular lainnya.
2. Pasien berusia lebih dari 50 tahun.
3. Herpes zoster diseminata (dermatom yang terlibat multipel) direkomendasikan
pemberian antiviral intravena.
4. Pasien yang imunokompromais seperti pada pasien HIV, pasien kemoterapi, dan
pasca transplantasi organ. Pada pasien HIV, terapi dilanjutkan hingga seluruh krusta
hilang untuk mengurangi risiko relaps
5. Pasien dengan dermatitis atopik berat
Obat antiviral yang dapat diberikan adalah asiklovir. Obat antiviral terbukti efektif
bila diberikan pada tiga hari pertama sejak munculnya lesi. 13 Dosis asiklovir adalah 5 x
800 mg per hari dan umumnya diberikan selama 7-10 hari. Sediaan asiklovir pada
umumnya adalah tablet 200 mg dan tablet 400 mg. 4,10 Obat diberikan terus bila lesi masih
tetap timbul dan dihentikan 2 hari setelah lesi baru tidak timbul lagi.4
Untuk pengobatan topikal, pada lesi vesikular dapat diberikan bedak kalamin
untuk pencegahan pecahnya vesikel. Bila vesikel sudah pecah dapat diberikan antibiotik
topical untuk mencegah infeksi sekunder. Bila lesi bersifat erosif dan basah dapat
dilakukan kompres terbuka.4,12
Sebagai edukasi pasien diingatkan untuk menjaga kebersihan lesi agar tidak
terjadi infeksi sekunder. Edukasi larangan menggaruk karena garukan dapat

10

menyebabkan lesi lebih sulit untuk sembuh atau terbentuk skar jaringan parut, serta
berisiko terjadi infeksi sekunder. Selanjutnya pasien tetap dianjurkan mandi untuk
meredakan gatal.14

BAB IV
PEMBAHASAN
Seorang anak berusia 7 tahun datang ke dokter dengan keluhan terdapat benjolan yang
berisi cairan di bagian perut kanan yang disertai nyeri dan panas sejak 2 hari yang lalu. Pada
11

kulit muncul benjolan yang berkelompok dan tersebar di bagian perut kanan bawah. Dengan
timbulnya keluhan pada pasien, perlu dipikirkan terjadinya kelainan kulit yang manifestasinya
merupakan benjolan berisi cairan disertai dengan nyeri. Dengan melihat lesi, tampak pada regio
abdominalis dextra, terdapat vesikel multipel bergerombol yang tersebar secara dermatomal,
dengan ukuran lentikular, terletak di atas kulit yang eritematosa. Pada palpasi teraba kulit yang
hangat, vesikel teraba lunak dengan permukaan yang licin.
Lesi yang terlihat pada pasien menunjukkan karakteristik dari herpes zoster, yang mana
timbul gejala kulit yang unilateral, bersifat dermatomal sesuai dengan persarafan. Lesi yang
timbul pada pasien sangat khas, yaitu vesikel yang berkelompok di atas kulit yang eritematosa
(kemerahan). Keseluruhan dari penampakan kulit maupun gejala subjektif berupa nyeri sangat
menyokong ke arah herpes zoster, dimana penyakit ini memiliki perjalanan berupa masa tunas 712 hari, dengan masa aktif timbulnya lesi dalam 1 minggu, kemudian masa penyembuhan yang
berlangsung selama 1-2 minggu.
Pada kasus reaktivasi, perlu ditanyakan gejala prodromal. Gejala prodromal berupa
demam disangkal, namum pasien mengeluhkan nausea, gatal dan nyeri pada bagian perut kanan
yang terjadi kurang lebih bersamaan dengan timbulnya lesi pada kulit. Gejala prodromal lainya
berupa pusing dan malaise disangkal oleh pasien. Herpes zoster merupakan suatu reaktivasi
akibat infeksi primer. Selain akibat infeksi primer, reaktivasi dapat terjadi akibat penurunan
sistem imun, seperti yang terjadi pada seseorang yang berusia di atas 50 tahun. Herpes zoster
juga merupakan suatu reaktivasi akibat infeksi primer berupa varisela zoster (cacar air). Pada
anamnesis, orang tua pasien mengatakan bahwa pasien belum pernah mengalami cacar air
sebelumnya. Dalam hal ini, pasien menderita herpes zoster dapat diakibatkan adanya penurunan
sistem imun.
Pada pasien kemudian diberikan pengobatan, berupa edukasi dan medikamentosa.
Benjolan yang berisi cairan diberitahukan untuk tidak digaruk karena dapat menimbulkan infeksi
sekunder. Pasien juga dianjurkan untuk mengurangi aktivitas fisik sementara waktu karena
pasien saat ini menderita nyeri, dalam hal ini aktivitas fisik dapat meningkatkan trauma pada
bagian perut kanan dan pungung kanan pasien yang dapat menyebabkan benjolan pecah. Pada
keterangan yang didapat dari orang tua pasien, saat ini pasien tinggal di rumah dengan orang tua
dan kegiatan sehari-hari pasien adalah belajar di sekolah dan bermain dengan teman sebayanya.
Pasien dan orang tua perlu untuk diedukasi bahwa pada orang yang belum pernah terkena cacar

12

air dapat terjadi penyebaran virus varisela zoster yang dapat menimbulkan infeksi varisela zoster
pada orang lain. Dengan demikian dalam fase penyembuhan ini, sebaiknya pasien tidak bermain
dengan teman-teman sebayanya atau mengikuti kegiatan belajar di sekolah sementara waktu
hingga pasien sembuh.
Terapi medikamentosa yang dapat diberikan berupa tablet asiklovir 5 x 800 mg. Terapi
dapat diberikan secara efektif maksimal 72 jam setelah lesi terakhir muncul, yang pada pasien ini
masih terpenuhi (onset hari ke 2). Di atas 72 jam, asiklovir dikatakan tidak efektif lagi. Sehingga
orang tua pasien dan pasien perlu diingatkam bahwa konsumsi obat haruslah teratur, termasuk
jamnya, sebab pemberian asiklovir sebanyak 5 kali dalam sehari dengan interval 4 jam selama 7
hari. Untuk keluhan nyeri pada pasien dapat diberikan parasetamol sirup 125 mg/5ml 3-4 kali
sehari yang aman bagi lambung pasien yang mengeluhkan nausea. Untuk mengurangi nausea
pada pasien dapat diberikan dexanta 100 ml 3-4 kali sehari. Untuk lesi primer dan sekunder yang
di alami oleh pasien dapat diberikan Fuson Cream 5 gr 3-4 kali sehari selama 7 hari. Pasien
kemudian dianjurkan untuk kontrol selama 7 hari kemudian kepada dokter, untuk melihat
perbaikan pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gnann JW, Whitley RJ. Herpes Zoster. N. Engl. J. Med. 2002.
2. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012. Jakarta;
2012.
3. James WD, Berger T, Elston D. Andrews diseases of the skin. Philadelphia: Elsevier
Saunders; 2011.

13

4. Handoko R. Penyakit virus. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
5. Straus SE, Oxman MN, Schmader KE. Varicella and herpes zoster. In: Wolff K, Goldsmith
LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatricks Dermatol. Gen. Med.
7th ed.
6. Baehr M, Frotscher M. Duus topical diagnosis in neurology. 4th ed. New York: Thieme;
2005.
7. Tunsuriyawong S, Puavilai S. Herpes zoster, clinical course and associated diseases: A 5-year
retrospective study at Tamathibodi Hospital. J. Med. Assoc. Thail. Chotmaihet Thangphaet.
2005.
8. Herr H. Prognostic factors of postherpetic neuralgia. J. Korean Med. Sci. 2002.
9. Oakes SA. Postherpetic Neuralgia Bacgground Monograph. Med Cases Inc; 2004.
10. Dworkin RH, Johnson RW, Breuer J, Gnann JW, Levin MJ, Backonja M, et al.
Recommendations for the management of herpes zoster. Clin. Infect. Dis. Off. Publ. Infect.
Dis. Soc. Am. 2007.
11. Wolff K, Johnson RA. Fitzpatricks color atlas & synposis of clinical dermatology. 6th ed.
New York: McGraw Hill Medical.
12. Daili ESS, Menaldi SL, Wisnu IM, editors. Penyakit kulit yang umum di indonesia: sebuah
panduan bergambar. Jakarta: Medical Multimedia Indonesia.
13. G, Schfer H, Wassilew S, Friese K, Timm A, Guthoff R, et al. Herpes zoster guideline of the
German Dermatology Society (DDG). J. Clin. Virol. Off. Publ. Pan Am. Soc. Clin. Virol.
2003.
14. Federal Bureau of Prisons. Management of varicella zoster virus infections [Internet]. [cited
2013 May 6]. Available from: http://www.bop.gov/news/PDFs/varicella.pdf.
15. Schmader K, Studenski S, MacMillan J, Grufferman S, Cohen HJ. Are stressful life events
risk factors for herpes zoster? J. Am. Geriatr. Soc. 1990.

14