Anda di halaman 1dari 24

Konjungtivitis Vernalis

Verawaty
102010051
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Kristen Krida Wacana,
Jalan Arjuna Utara 6 Jakarta Barat,
E-mail: vera.waty93@yahoo.com

Pendahuluan
Mata merah merupakan keluhan penderita yang sering kita temui maupun kita dengar. Mata
terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan
mata akut misalnya pada keratitis, iritis, glaucoma akut, dan konjungtivitis. Mata merah yang
disebabkan akibat adanya infeksi atau tanpa infeksi, tanpa adanya gangguan pada visus
disebut konjungtivitis.
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam
kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia),
alergi, iritasi bahan-bahan kimia. Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2-75%.
Data lain menunjukkan bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat
kedua (9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%).. oleh karena itu pembuatan makalah ini
bertujuan agar masyarakat semakin mengetahui konjungtivitis dan bagaimana menanganinya
dengan harapan peradangan tersebut tidak meluas ke kornea.

Anamnesis
Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan utama - merupakan keluhan yang dirasakan pasien, sehingga menjadi alasan pasien
datang ke rumah sakit : Nyeri, ada pasir dalam mata, gatal, panas dan kemerahan disekitar
mata, epipora mata dan sekret.
Sifat keluhan - kronologis dari penyakit yang diderita saat ini mulai awal hingga di bawa ke
RS secara lengkap meliputi :

P = Provoking atau Paliatif


Apa penyebab gejala?; Apa yang dapat mengurangi dan memperberat penyakit?; Apa
yang dilakukan pada saat gejala mulai dirasakan?
Q = Quality and Quantity
Seberapa tingkat keparahan yang dirasakan klien
R = Regio or Radiation
Pada area mana gejala dirasakan? Sejauh mana penyebarannya?
S = Severity
Tingkat/skala keparahan, Semakin membaik atau memburuk?
T = Time
Kapan gejala mulai muncul?; Seberapa sering dirasakan?; Apakah timbul tiba-tiba
atau bertahap?
Riwayat Kesehatan Lalu.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat Sosio-Ekonomi1

Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan keadaan umum : GCS
Di dapatkan pada kasus kesadaran compos mentis
2. Pemeriksaan tanda-tanda vital :
a) Suhu : subfebris
b) Tekanan darah : (N=120/80 mmHg)
c) Denyut nadi : (N= 80-100 kali/menit)
d) Frekuensi napas : (N=12-18 kali/menit)
3. Inspeksi dan palpasi pada wajah : pada kasus didapatkan limfadenopati preaurikular
4. Pemeriksaan mata dasar
1) Pemeriksaan visus
a. Pasien dapat melihat snellen chart
- Meminta pasien duduk pada jarak 5 atau 6 meter dari Snellen Chart
- Meminta pasien untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan.
-

Pemeriksaan dimulai dari mata kanan


Meminta pasien untuk melihat ke depan dengan santai tanpa melirik
Meminta pasien menyebutkan angka/huruf/symbol yang ditunjuk, dari yang

besar sampai yang terkecil


Menyebutkan hasil pemeriksaan

Bila visus pasien tidak normal (6/6 atau 20/20), dilakukan pin hole untuk
melihat adanya perbaikan visus (kelainan pada media refraksi) atau tidak

(kelainan organic). Lihat gambar 1


Ulangi pemeriksaan pada mata sebelahnya.2

Gambar 1. Snellen chart


b. Pemeriksaan Gerak Bola mata
- Pemeriksa berdiri di depan pasien
- Cek pergerakan kedua bola mata ke 8 arah
c. Pemeriksaan Mata External
- Palpebra : kedua palpebra edema
- Conjunctiva : injeksi konjungtiva reaksi folikel, perdarahan subkonjungtiva,
d.
e.
-

pseudomembran pada konjungtiva palpebra


Kornea
COA
Iris/Pupil
Lensa
Pemeriksaan Tekanan Bola Mata (Tonometri)
Pasien diminta menutup mata dan melihat ke bawah
Pemeriksa meraba rasakan/palpasi bagian sklera atas dengan benar
Pemeriksa membandingkan dengan penekanan skleranya sendiri
Pemeriksaan Lapang pandang (Tes Konforontasi I)
Pemeriksa dan pasien duduk/ berdiri berhadapan dengan posisi mata sama tinggi
Menerangkan apa yang akan dilakukan pemeriksa
Pasien diinstrusikan menutup mata kiri, pemeriksa menutup mata kanan
Pemeriksa menggerakan jari telunjuk/ benda dari perifer ke tengah
Instruksikan pesien untuk memberitahu bila telah melihat jari/benda tersebut.
Catatan : pertahankan eye contact antara pasien dengan pemeriksa sepanjang

test ini. Mata tidak boleh melirik ke benda/jari yang digerakkan.


f. Funduskopi
- Lakukan di ruangan gelap dan setengah gelap
- Atur oftalmoskop pada posisi normal. Sesuaikan ukuran lensa oftalmoskop
kurang lebih sama dengan keadaan refraksi pasien.

Peganglah oftalmoskop dengan cara menggenggam bagian pegangannya,


sedangkan jari telunjuk berada pada panel pengatur ukuran lensa. Pemeriksa
memegang oftalmoskop dengan tangan kanan, dan melihat melalui oftalmoskop

dengan mata kanan, demikian sebaliknya


Pasien duduk tenang, pandangan di fiksasi pada 1 titik jauh. Tempatkan
oftalmoskop mulai jarak 15-30 cm di depan mata penderita. Cahaya
oftalmoskop diarahkan ke dalam pupil pasien sambil pemeriksa terus mendekat

kea rah pasien.2


- Periksa Funduskopi :
Reflex fundus
Vitreus = jernih/tidak
Papil = warna, bentuk,batas

Rasio arteri : vena


Macula lutea
Retina = eksudat, perdarahan, ablasio

Pemeriksaan penunjang
1. Biopsi
Biopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak berespon pada
terapi. Oleh karena mata tersebut mungkin mengandung keganasan, biopsi langsung dapat
menyelamatkan penglihatan dan juga menyelamatkan hidup. Pada kasus dicurigai
karsinoma glandula sebasea, biopsi palpebra seluruh ketebalan diindikasikan. Saat
merencanakan biopsi, konsultasi preoperatif dengan ahli patologi dianjurkan untuk
meyakinkan penanganan dan pewarnaan spesimen yang tepat.
2. Tes darah
Paparan bahan kimiawi langsung terhadap mata dapat mengindikasikan konjungtivitis
toksik/kimiawi. Pada kasus yang dicurigai luka percikan bahan kimia, pH okuler harus
dites dan irigasi mata terus dilakukan hingga pH mencapai 7. Konjungtivitis juga dapat
disebabkan penggunaan lensa kontak atau iritasi mekanikal dari kelopak mata.
3. Tes diagnostik klamidial
Kasus yang dicurigai konjungtivitis klamidial pada dewasa dan neonatus dapat dipastikan
dengan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik yang berdasarkan imunologikal telah
tersedia, meliputi tes antibodi imunofloresens langsung dan enzyme-linked imunosorbent
assay. Tes ini telah secara luas digantikan oleh PCR untuk spesimen genital, dan, karena
itu, ketersediaannya untuk spesimen konjungtival lebih terbatas. Ketersedian PCR untuk
mengetes sampel okuler beragam. Meskipun spesimen dari mata telah digunakan dengan
performa yang memuaskan, penggunaannya belum diperjelas oleh FDA.
4. Smear/sitologi

Smear untuk sitologi dan pewarnaan khusus (misal gram, giemsa) direkomendasikan pada
kasus dicurigai konjungtivitis infeksi pada neonatus, konjungtivitis kronik atau berulang,
dan pada kasus dicurigai konjungtivitis gonoccocal pada semua grup usia. Pada
konjungtivitis bakteri dengan pewarnaan giemsa ditemukan sel polimorfonuklear.
Sedangkan pada konjungtivitis virus didapatkan sel mononuclear dan limfosit.
5. Kultur virus
Bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk menetapkan diagnosa. Tes imunodiagnostik
yang cepat dan dilakukan dalam ruangan menggunakan antigen sudah tersedia untuk
konjungtivitis adenovirus. Tes ini mempunyai sensitifitas 88% sampai 89% dan spesifikasi
91% sampai 94%. Tes imunodiagnostik mungkin tersedia untuk virus lain, tapi tidak
diakui untuk spesimen dari okuler. PCR dapat digunakan untuk mendeteksi DNA virus.
Ketersediannya akan beragam tergantung dari kebijakan laboratorium.1,2,3

Diagnosis kerja
Konjungtivitis alergi
Bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat
seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi
terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi antibodi humoral terhadap alergen.
Biasanya dengan riwayat atopi.
Semua gejala pada konjungtiva akibat konjungtiva bersifat rentan terhadap benda asing.
Gejala utama penyakit alergi ini adalah radang (merah, sakit, bengkak, dan panas), gatal,
silau berulang dan menahun. Tanda karakteristik lainnya adalah terdapatnya papil besar pada
koniungtiva, datang bermusim, yang dapat mengganggu penglihatan. Walaupun penyakit
alergi konjungtiva sering sembuh sendiri akan tetapi dapat memberikan keluhan yang
memerlukan pengobatan. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan sei eosinofii, sel plasma,
limfosit dan basofil.3
Pengobatan terutama dengan menghindarkan penyebab pencetus penyakit dan memberikan
astringen, sodium kromolin, steroid topikal dosis rendah yang kemudian disusul dengan
kompres dingin untuk menghilangkan edemanya. Pada kasus yang berat dapat diberikan
antihistamin dan steroid sistemik.

Dikenal beberapa macam bentuk konjungtivitis alergi seperti Konjungtivitis flikten,


konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopi, konjungtivitis bakteri, konjungtivitis alergi akut,
konjungtivitis alergi kronik, sindrom Stevens Johnson, pemfigoid okuli, dan sindrom
Syogren.
a. Konjungtivitis vernal
Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe l) yang mengenai kedua mata dan
bersifat rekuren. Pada mata ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada
konjungtiva tarsal, dengan rasa gatal berat, sekret gelatin yang berisi eosonofil atau
granula eosinofil, pada kornea terdapat keratitis, neovaskularisasi, dan tukak indolen.
Pada tipe limbal terlihat benjolan di daerah limbus, dengan bercak Horner Trantas yang
berwarna keputihan yang terdapat didalam benjolan. (gambar 2)
Secara histologik penonjolan ini adalah suatu hiperplasi dan hialinisasi jaringan ikat
disertai proliferasi sel epitei dan sebukan sel limfosit, sel piasma dan sel eosinofil.
Merupakan penyakit yang dapat rekuren dan bilateral terutama pada musim panas.
Mengenai pasien usia muda antara 3-25 tahun dan kedua jenis kelamin sama. Biasanya
pada laki-laki mulai pada usia di bawah 10 tahun. Penderita konjungtivitis vernal sering
menunjukkan gejala-gejala alergi terhadap tepung sari rumput-rumputan. Dua bentuk
utama (yang dapat berjalan bersama) :
- Bentuk palpebra. Pada tipe palpebra terutama mengenai konjungtiva tarsal superior.
Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Coble stone) yang diliputi sekret yang
mukoid. Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih
berat dibanding bentuk limbal. Secara klinik papil besar initampak sebaga tonjolan
-

bersegi banyak dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler di tengahnya.
Bentuk limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan
hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau
eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit
eosinofil.3

Antihistamin dan desensitisasi mempunyai efek yang ringan. Vasokonstriktor, kromolin


topikal dapat mengurangi pemakaian steroid, siklosporin dapat bermanfaat. Obat anti
inflamasi nonsteroid lainnya tidak banyak manfaat. Pengobatan dengan steroid
topikaltetes dan salep akan dapat menyembuhkan. Hati-hati pemakaian steroid lama. Bila
tidak ada hasil dapat diberikan radiasi, atau dilakukan pengangkatan giant papil.

Penyakit ini biasanya sembuh sendiritanpa diobati. Dapat diberi obat kompres dingin,
natrium karbonat dan obat vasokonstriktor. Kelainan komea dan konjungtiva dapat
diobati dengan natrium cromolyn topikal. Bila terdapat tukak maka diberi antibiotik untuk
mencegah infeksi sekunder disertai dengan sikloplegik.3
b. Konjungtivitis flikten
Merupakan konjungtivitis nodular yang disebabkan alergi terhadap bakteri atau antigen
tertentu. Konjungtivitis flikten disebabkan oleh karena alergi (hipersensitivitas tipe lV)
terhadap tuberkuloprotein, stafilokok, limfogranuloma venerea, leismaniasis, infeksi
parasit, dan infeksi ditempat lain dalam tubuh.
Kelainan ini lebih sering ditemukan pada anak-anak di daerah padat, yang biasanya
dengan gizi kurang atau sering mendapat radang saluran napas. Secara histopatologik
terlihat kumpulan sel leukosit neutrofil dikelilingi sel limfosit, makrofag, dan kadangkadang sel datia berinti banyak. Flikten merupakan infiltrasi selular subepitel yang
terutama terdiri atas sel monokular limfosit. Biasanya konjungtivitis flikten terlihat
unilateral dan kadangkadang mengenai kedua mata. Pada konjungtiva terlihat sebagai
bintik putih yang dikelilingi daerah hiperemi. Pada pasien akan terlihat kumpulan
pembuluh darah yang mengelilingi suatu tonjolan bulat dengan warna kuning kelabu
seperti suatu mikroabses yang biasanya terletak di dekat limbus. Biasanya abses ini
menjalar ke arah sentral atau kornea dan terdapat tidak hanya satu. Gejala konjungtivitis
flikten adalah mata berair, iritasi dengan rasa sakit, fotofobia dapat ringan hingga berat.
Bila kornea ikut terkena selain daripada rasa sakit, pasien juga akan merasa silau disertai
blefarospasme. Dapat sembuh sendiri dalam 2 minggu, dengan kemungkinan terjadi
kekambuhan. Keadaan akan lebih berat bila terkena kornea.
Diagnosis banding adalah pinguekula iritan (lokalisasi pada fisura palpebra), ulkus
kornea, okular rosazea, dan keratitis herpes simpleks. Pengobatan pada konjungtivitis
flikten adalah dengan diberi steroid topikal, midriatika bila terjadi penyulit pada kornea,
diberi kacamata hitam karena adanya rasa silau yang sakit. Diperhatikan higiene mata dan
diberi antibiotika salep mata waktu tidur, dan air mata buatan. Sebaiknya dicari
penyebabnya seperti adanya tuberkulosis, blefaritis stafilokokus kronik dan lainnya.
Karena sering terdapat pada anak dengan gizi kurang maka sebaiknya diberikan vitamin
dan makanan tambahan. Penyulit yang dapat ditimbulkan adalah menyebarnya flikten ke
dalam kornea atau terjadinya infeksi sekunder sehingga timbul abses.3
c. Konjungtivitis iatrogenik

Konjungtivitis akibat pengobatan yang diberikan dokter. Berbagai obat dapat memberikan
efek samping pada tubuh, demikian pula pada mata yang dapat terjadi dalam bentuk
konjungtivitis.3
d. Sindrom Steven Johnson
Sindrom Steven Johnson adalah suatu penyakit eritema multiform yang berat (mayor).
penyakit ini sering ditemukan pada orang muda usia sekitar 35 tahun. Penyebabnya
diduga suatu reaksi alergi pada orang yang mempunyai predisposisi alergi terhadap obatobat sulfonamid, barbiturat, salisilat. Ada yang beranggapan bahwa penyakit ini idiopatik
dan sering ditemukan sesudah suatu infeksi herpes simpleks. Kelainan ditandai dengan
lesi pada kulit dan mukosa Kelainan pada kulit berupa lesi eritema yang dapat timbul
mendadak dan tersebar secara simetris. Mata merah dengan demam dan kelemahan umum
dan sakit pada sendi merupakah keluhan penderita dengar sindrom Steven Johnson ini.
sindrom ini disertai dengan gejala vesikel pada kulit, bula, dan stomatitis ulseratif. Pada
mata terdapat vaskularisasi kornea parut konjungtiva, konjungtiva kering, simblefaron,
tukak dan perforasi kornea dan dapat mermberikan penyulit endoftalmitis. Kelainan
mukosa dapat berupa korjungtivitis Pseudomembran Pada keadaan lanjut dapat terjadi
kelainan, yang sangat menurunka daya Penglihatan. Pengobatan bersifat simtomatik
dengan pengobatan umur berupa kortikosteroid sistemik dan infus cairan antibiotik.
Pengobatar lokal pada mata berupa pembersihan sekret yang timbul midriatika steroid
topikal dan mencegah simblefaron. Pemberian kortikostero: harus hati-hati terhaciap
adanya infeksi herpes simpleks.3
e. Konjungtivitis atopik
Reaksi alergi selaput lendir mata atau konjungtiva terhadap polen disertai dengan demam.
Memberikan tanda mata berair, bengkak, dan belek berisi eosinofil.3

Gambar 2. Konjungtivitis vernal

Diagnosis banding

Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri, misalnya akibat infeksi gonokokok,
meningokok, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Hemophilus influenza dan
Escherischia coli. Memberikan gejala secret mukopurulen dan purulen, kemosis konjungtiva,
edema kelopak, kadang kadang disertai keratitis dan blefaritis. Konjungtivitis bakteri ini
mudah menular pada satu mata ke mata sebelahnya dan menyebar ke orang lain melalui
benda yang dapat menyebarkan kuman. Terdapat 2 bentuk konjungtivitis akut (dapat sembuh
kurang lebih dalam 14 hari) dan biasanya sekunder terhadap penyakit palpebra / obstruksi
duktus nasolakrimalis. 3

Konjuntivitis Bakteri Akut


Konjungtivitis bakteri akut disebabkan oleh Streptokokus, Corynebacterium diphterica,
Pseudomonas, Neisseria dan Hemophilus. Gambaran klinin berupa konjungtivitis
mukopurulen dan konjungtivitis purulen. Perjalanan penyakit akut yang dapat berjalan kronis.
Dengan tanda hiperemi konjungtiva, edema kelopak, papil dan dengan kornea yang jernih.
Pengobatan kadang kadang diberikan sebelum pemeriksaan mikrobiologik dengan antibiotic
tunggal seperti Neosporin, basitrasin, gentamisin, kloramfenicol, tobramisin, eritromisin dan
sulfa. Bila pengobatan tidak memberikan hasil yang baik dengan antisioti setelah 3 5 hari
maka pengobatan dihentikan dan tunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Bila terjadi
penyulit pada kornea maka diberikan sikloplegik. Pada konjungtivitis bakteri sebaiknya
dimintakan pemeriksaan sediaan langsung dan bila ditemukan kumannya, maka pengobatan
disesuaikan. Apabila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, maka diberikan
antibiotic spectrum luas dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4 sampai 5 kali
sehari. Apabila dipakai tetes mata, sebaiknya sebelum yidur diberikan salep mata
(sulfasetamid 10-15% atau kloramfenicol ). Apabila tidak sembuh dalam satu minggu, bila
mungkin dilakukan pemeriksaan resistensi, kemungkinan defisiensi air mata atau
kemungkinan obstruksi duktus nasolakrimal. 3

Konjungtivitis Gonore

Konjungtivitis gonore merupakan radang konjuntiva akut dan hebat disertai dengan secret
purulen. Gonokok merupakan kuman yang sangat pathogen, virulen dan bersifat invasive
sehingga reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat. Penyakit kelamin yang disebabkan
oleh gonore merupakan penyakit yang tersebar di seluruh dunia secara endemic.
Pada neonatus, infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sedang pada
bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut. Pada dewasa
penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin sendiri. Di klinik kita akan melihat
penyakit ini dalam bentuk oftalmia neonatorum (bayi berusia 1 3 hari), konjuntivitis gonore
infantum (usia lebih dari 10 hari) dan konjungtivitis gonore adultorum. Terutama mengenai
golongan muda dan bayi yang ditularkan ibunya, merupakan penyebab utama oftalmia
neonatorum.
Memberikan secret purulen padat dengan masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari, disertai
perdarahan subkonjungtiva dan konjungtivitis kemotik.

Pada orang dewasa terdapat 3

stadium penyakit infiltrative, supuratif dan penyembuhan.

Pada stadium infiltrative,

ditemukan kelopak dan konjungtiva yang kaku disertai rasa sakit pada perabaan. Kelopak
mata membengkak dan kaku sehingga sukar dibuka. Terdapat pseudomembran pada
konjungtiva tarsal superior sedangkan konjungtiva bulbi merah, kemotik dan menebal. Pada
dewasa, selaput konjuntiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran spesifik
gonore dewasa. Pada dewasa terdapat rasa sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda
tanda infeksi umum. Pada umumnya menyerang satu mata terlebih dahulu dan biasanya
kelainan ini pada laki laki didahului mata kanannya.3
Pada stadium supuratif terdapat secret yang kental. Pada bayi biasanya mengenai kedua mata
dengan secret kuning kental. Kadang kadang bila sangat dini secret dapat sereus yang
kemudian menjadi kental dan purulen. Berbeda dengan oftalmia neonatorum, pada dewasa
secret tidak kental sekali. Terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada
permukaan konjungtiva. Pada dewasa penyakit ini berlangsung selama 7 minggu dan tidak
jarang ditemukan pembesaran disertai rasa sakit kelenjar preaurikul. Diagnosis pasti penyakit
ini adalah pemeriksaan secret dengan pewarnaan metilen biru dimana akan terlihat diplokok
didalam sel leukosit. Dengan pewarnaan gram akan terdapat sel intraseluler atau ekstraseluler
dengan sifat gram negative. Pemeriksaan sensitivitas dilakukan pada agar darah dan coklat.
Pengobatan segera dimulai bila pada pewarnaan gram positif diplokok batang intraseluler dan
sangat dicurigai konjungtovitis gonore. Pasien dirawat dan diberikan pengobatan dengan

penisilin salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50000 U/kgBB selama 7 hari. Secret
dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau dengan garam fisiologik
setiap jam. Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10000
20000 unit/ ml setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5 menit
sampai 30 menit. Disusul pemberian salep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok. Pada stadium
penyembuhan smua gejala sangat berjurang. Pengobatan dihentikan bila pada pemeriksaan
mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut turut negative. Pengobatan
biasanya dengan perawatan di Rumah Sakit dengan terisolasi, dibersihkan dengan garam
fisiologik, pensilin sodium G 100000 unit/ml, eritromisin topical dan penislin 4,8 juta unit
dibagi 2 kali sistemik.
Cara yang lebih aman ialah mebersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan larutan borisi
dan memberikan salep kloranfenicol. Konjungtivitus purulen pada bayi sebaiknya dibedakan
dengan oftalmia neonatorum lainnya seperti klamidia konjungtivitis (inclusion blenore),
infeksi diberikan bakteri lain, virus dan jamur. Saat terlihat penyakit, gambaran klonis serta
hasil pemeriksaan hapus akan membantu untuk menentukan kausa. Pemeriksaan laboratorium
akan memberikan gambaran yang khusus untuk jenis infeksi, yang akan memperlihatkan
tanda tanda infeksi virus, jamur dan bakteri pada pemeriksaan sitologik.3

Oftalmia Neonatorum
Merupakan konjungtivitis purulen hiperakutyang terjadi pada bayi dibawah usia 1 bulan,
disebabkan oleh penularan di jalan lahir dari secret vagina dapat disebabkan oleh berbagai
sebab yaitu
1. Non infeksi
Iritasi akibat nitras argenti dapat mengakibatkan konjungtivitis kimia terjadi 24 jam. Saat
ini nitras argenti tidak dipergunakan lagi dan diganti dengan neomycin dan kloramfenikol
tetes mata
2. Infeksi
Bakteri, stafilokok, masa inkubasi lebih dari 5 hari
Klimidia masa inkuasi 5 10 hari
Neiseria gonore, 2 5 hari (blenore)
Herpes simpleks

Gejalanya antara lain bola mata sakit dan pegal, mata mengeluarkan belek atau kotoran dalam
bentuk purulen, mukoid dan muko purulen tergantung penyebabnya. Konjungtiva hyperemia
dan kemotok. Kelopak biasanya bengkan. Dan kornea dapat terkena juga pada herpes
simpleks.3
Konjungtivitus Angular
Konjungtivitis angular terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra, disertai ekskoriasi
kulit di sekitar daerah yang meradang. Konjuntivitis angular disebabkan oleh basil Moraxella
axenfeld. Pada konjuntivitis angular tedapat secret mukopurulen dan pasien sering mengedip.
Pengobatan yang sering diberikan adalah tetrasiklin atau basitrasin. Dapat juga diberi sulfas
zinc yang bekerja mencegah proteolisis. Dapat memberikan penyulit blefaritis.

Konjuntivitis Mukopurulen
Merupakan konjuntivitis dengan gejala umum konjuntivitis kataral mukoid. Penyebabnya
adalah Streptococcus pneumonia atau basil kataral mukoid. Penyakit ini ditandai dengan
hyperemia konjuntiva dengan secret mukopurulen yang mengakibtkan kedua kelopak
melekat terutama pada waktu bangun pagi. Sering ada keluhan seperti adanya halo (gambaran
pelangi yang sebaiknya dibedakan dengan halo pada glaucoma). Gejala penyakit terberat
terjadi pada hari ketiga dan bila tidak diobati akan berjalan kronis. Dapat timbul adalah ulkus
kataral margina pada kornea atau keratitis superficial. Pengobatan dengan membersihkan
konjungtiva dan antibiotic yang sesuai. 3

Konjungtivitis virus akut


Demam faringokonjungtiva
Konjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan
memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau
kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 3 dan 7, terutama mengenai remaja, yang
disebarkan melalui droplet atau kolam renang. Masa inkubasi 5-12hari, yang menularkan
selama 12hari, dan bersifat epidernik. Mengenai satu mata yang akan mengenai mata lainnya
dalam minggu berikutnya. Berjalan akut dengan gejala penyakit hiperemia konjungtiva,

folikel pada konjungtiva, sekret serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan pseudomembnan.
Pada kornea dapat terjadi keratitis superfisial, dan atau subepitel dengan pembesaran kelenjar
limfe preurikel. Pengobatannya hanya suportif karena dapat sembuh sendiri. Diberikan
kompres, astringen, lubrikasi, pada kasus yang berat dapat diberikan antibiotik dengan steroid
topikal. Pengobatan biasanya simtomatik dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.3

Keratokonjungtivitis epidemi
Keratokonjungtivitis epidemi disebabkan adenovirus 8 dan 19. Mudah menular dengan masa
inkubasi B-9 hari dan masa infeksius 14 hari. Mata berair berat, seperti kelilipan, perdarahan
subkonjungtiva,

folikel

terutama

konjungtiva

bawah,

kadang-kadang

terdapat

pseudomembran. Kelenjar preurikel membesar. Biasanya ge.iala akan menurun dalam waktu
7-15 hari. Pengobatan dengan antivirus dan alfa interferon tidak umum untuk konjungtivitis
adenovirus. Astringen diberikan untuk mengurangi gejala dan hiperemia. Pemberian
antibiotik adalah untuk mencegah infeksi sekunder. Steroid dapat diberikan bila terlihat
adanya membran dan infiltrasi subepitel.3

Konjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpetik dapat merupakan manifestasi primer herpes dan terdapat pada anakanak yang mendapat infeksi dari pembawa virus. Pada konjungtivitis herpetik ini akan
terdapat limfadenopati preurikel dan vesikel pada kornea yang dapat meluas membentuk
gambaran dendrit.
Perjalanan penyakit biasanya akut dengan folikel yang besar disertai terbentuknya jaringan
parut besar pada kornea.
a. Konjungtivitis herpes simpleks
Konjungtivitis herpes simpleks merupakan infeksi berulang pada mata. Sering disertai
infeksi herpes pada kulit dengan pembesaran kelenjar pre urikel. Pengobatan dengan obat
antivirus.
b. Konjungtivitis varisela-zoster
Herpes Zoster disebut juga shingle, zona, atau posterior ganglionitis akut. Virus herpes
zoster dapat memberikan infeksi pada ganglion Gaseri saraf trigeminus. Bila yang terkena
ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada rnata.

Herpes Zoster dapat mengenai semua umur dan umurnnya pada usia lebih dari 50 tahun.
Kelainan yang terladi akibat herpes zoster tidak akan melampaui garis median kepala,
Herpes zoster dan varisela memberikan gambaran yang sama pada konjungtivitis seperti
mata hiperemia, vesikel dan pseudomembran pada konjungtiva, papil, dengan
pembesaran kelenjar preurikel. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan ditemukannya sel
raksasa pada pewarnaan Giemsa, kultur virus, dan sel inklusi intranuklear.
Pengobatan dengan kompres dingin. Pada saat ini asiklovir 400 mg/hari untuk selama 5
hari merupakan pengobatan umum. Walaupun diduga steroid mengurangkan penyulit
akan tetapi dapat mengakibatkan penyebaran sistemik. Pada 2 minggu pertama dapat
diberi analgetika untuk menghilangkan rasa sakit. Pada kelainan permukaan dapat
diberikan salep tetrasiklin. Steroig tetes dekasametason 0.1% diberikan bila terdapat
episkleritis, skleritis, dan iritis. Glaukoma yang terjadi akibat iritis diberi preparat steroid
dan antiglaukoma. Penyulit yang dapat terjadi berupa parut pada kelopak, neuralgia,
katarak, glaukoma, kelumpuhan saraf lll, lV, Vl, atrofi saraf optik, dan kebutaan.3

Konjungtivitis inklusi
Konjungtivitis inklusi merupakan penyakit okulogenital disebabkan oleh infeksi klamidia,
yang merupakan penyakit kelamin (uretra, prostat, serviks dan epitel rektum), dengan masa
inkubasi 5-10 hari. Klamidia menetap di dalam jaringan uretra, prostat serviks dan epitel
rektum untuk beberapa tahun sehingga mudah terjadi infeksi ulang. Penyakit ini dapat
bersifat epidemik karena merupakan swimming pool konjungtivitis.
Konjungtivitis okulogenital pada bayi timbul 3-5 hari setelah lahir Pada bayi dapat
memberikan gambaran konjungtivitis purulen sedang pada orang dewasa dapat dalam
beberapa bentuk, konjungtiva hiperemik kemotik, pseudomembran, folikel yang nyata
terutama pada kelopak bawah dan tidak jarang memberikan gambaran seperti hipertrofi papil
disertai pembesaran kelenjar Preurikel. Pengobatan dengan tetrasiklin atau sulfisoksasol
topikal dan sistemik.3

Konjungtivitis New Castle


Konjungtivitis New Castle disebabkan virus New Castle, dengan gambaran klinis sama
dengan demam faringo-konjungtiva. Penyakit ini biasanya terdapat pada pekerja peternakan

unggas yang ditulari virus New Castle yang terdapat pada unggas. Umumnya penyaki: ini
bersifat unilateral walaupun dapat juga bilateral. Konjungtivitis ini memberikan gejala
influensa dengan demam ringar sakit kepala dan nyeri sendi. Konjungtivitis New Castle akan
memberikar keluhan rasa sakit pada mata, gatal, mata berair, penglihatan kabur dan fotofobia.
Penyakit ini sembuh dalam jangka waktu kurang dari 1 minggu. Pada mata akan terlihat
edema palpebra ringan, kemosis dan sekresi yang sedikit, dan folikel-folikel yang terutama
ditemukan pada konjungtiva tarsa bagian bawah. Pada komea ditemukan keratitis epitelial
atau keratitis subepitel Pembesaran kelenjar getah beninE preaurikel yang tidak nyeri tekan.
Pengobatan yang khas sampai saat ini tidak ada, dan dapat diberikar antibiotik untuk
mencegah infeksi sekunder disertai obat-obat simtomatik.3

Konjungtivitis hemoragik epidemik akut


Konjungtivitis hemoragik epidemik akut merupakan konjungtivitis disertaimtimbulnya
perdarahan konjungtiva. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Ghana Afrika pada tahun
1969 yang menjadi pandemik. Konjungtivitis yang disebabkan infeksivirus pikorna, atau
enterovirus 70. Masa inkubasi 24-48 jam, dengan tanda-tanda kedua rnata iritatif, serperti
kelilipan, dan sakit periorbita. Ederna kelopak, kemosis konjungtira, sekret seromukos,
fotofobia disertai lakrimasi. Terdapat gejala akut dimana ditemukan adanya konjungtiva
folikular ringan, sakit periorbita, keratitis, adenopati preurikel, dan yang terpenting adanya
perdarahan subkonjungtiva yang dimulai dengan ptekia. Pada tarsus konjungtiva terdapat
hipertrofi folikular dan keratitis epitelial yang berkurang spontan dalam 3-4 hari. Penyakit ini
dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simtomatik. Pengobatan antibiotika
spektrum luas, sulfasetamid dapat dipergunakan untuk mencegah infeksi sekunder.
Pencegahan adalah dengan mengatur kebersihan untuk mencapai penularan.3

Konjungtivitis menahun
Konjungtivitis Folikularis Kronis
Merupakan koniungtivitis yang sering ditemukan pada anak-anak, dan tidak pemah terlihat
pada bayi baru lahir kecuali bila usia sudah beberapa bulan. Konjungtivitis foiikularis kronis
ditandai dengan terdapatnya tanda khusus berupa benjolan kecil berwarna kemerah-merahan

pada lipatan retrotarsal. Folikel yang terjadi merupakan reaksi konjungtiva terhadap virus dan
alergen toksik seperti iododioksiuridin, fisostigmin, dan klamidia. Folikel terlihat sebagai
benjolan kecil mengkilat dengan pembuluh darah kecil diatasnya, yang pada pemeriksaan
histologik berupa sel limfoid. Setiap folikel ini nrerupakan pusat germinatif tunggal limfoid.
Folikel ini bila diakibatkan trakoma akan berdegenerasi yang akan membentuk jaringan
parut. Folikel yang didapatkan pada tarsus inferior anak dan orang dewasa sering dapat
dianggap normal.
Konjungtivitis akut terdapat pada penyakit epidemik keratokonjungtiviitis folikularis
(adenovirus 8), demam faringokonjungtiva (adenovirus 3), herpes simpleks, konjungtivitis
hemoragika akut (adenovirus 90), konjungtivitis inklusi, trakoma akut, penyakit New Castle,
influenza, herpes zoster. Kionjungtivitis kronis terdapat pada trakoma, toksis obat (kosmetik),
bakteri, keratokonjuntivitis Thygeson, moluskum kontagiosum, dan Parinaud konjungtivitis.3

Trakoma
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat mengenai segala umur tapi lebih banyak
ditemukan orang muda dan anak-anak.Daerah yang banyak terkena adalah di Semenanjung
Baikan.Ras yang banyak terkena ditemukan pada ras Yahudi, penduduk asli Australia dan
Indian Amerika atau daerah dengan hygiene yang kurang.
Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dengan secret penderita trakoma atau melalui
alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti handuk, alat-alat kecantikan dan lain-lain. Masa
inkubasi rata-rata 7 hari ( berkisar 5 sampai 14 hari)
Keluhan pasien menyerupai konjungtivitis bakteri adalah fotofobia, gatal, berair, eksudat,
edema palpebral, kemosis konjungtiva bulbaris, hipertrofi papil. Pengobatan trakoma dengan
tetrasiklin 1-1,5 gr/hari peroral diberikan dalam 4 dosis selama 3-4 minggu, doxucyclin 100
mg peroral2x sehari selama 3 minggu atau eritromisin 1 gr/ hari peroral dibagi dalam 4 dosis
selama 3- 4 minggu. Pencegahan dilakukan dengan hygiene yang baik, makanan yang
bergizi, penyakit ini sembuh atau bertambah ringan. Komplikasi dari trakoma adalah
entropion, trikiasis, simblefaron, kekeruhan kornea dan xerosis atau keratitis sika .3

Konjungtivitis Dry Eyes


Keratokonjungitvitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva
yang diakibatkan berkurangnya fungsi air mata.
1. Defisiensi komponen lemak air mata misalnya blefaritis menahun, distikiasis, dan
akibat pembedahan kelopak mata.
2. Defisiensi kelenjar air mata: sindrom Sjogren, Sindrom Riley Day, alakrimal
kongenital, aplasia kongenital saraf trigeminus, sarkoidosis, limfoma kelenjar air
mata, obat-obatan diuretic, atropine dan usia tua
3. Defisiensi komponen musim : benign ocular pempigoid
4. Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neuroparalitik, hidup di
gurun pasir, keratitis lagoftalamus
5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili pada kornea
Pasien akan mengeluh gatal, mata seperti berpasir, silau dan penglihatan kabur. Mata akan
memberikan gejala sekresi mucus yang berlebihan, sukar menggerakan kelopak mata,
mata tampak kering dan terdapat erosi kornea. Konjungtiba bulbi edema, hiperemik
menebal dan kusam.Kadang-kadang terdapat benang mucus kekuning-kuningan pada
forniks konjungtiva bagian bawah. Sebaiknya dilakukan beberapa pemeriksaan seperti uji
Schiemer dimana resapan air mata pada kertas Schiemer kurang dari 5 menit dianggap
normal. Pengobatan tergantung pada penyebabnya dan air mata buatan yang diberikan
selamanya. Komplikasi yang dapat terjadi adalah ulkus kornea, infeksi sekunder oleh
bakteri dan parut kornea dan neovaskularisasi kornea.3

Toksik konjungtivitis folikular


Konjungtivitis folikular dapat terjadi akut dan kronik dimana gejala utama adalah
terbentuknya folikel pada konjungtiva tarsal superior atau inferior.

Hipersensitivitas terhadap obat


Gejala dapat terjadi akut setelah beberapa kali sensitisasi yang akan memperlihatkan
kelainan kulit dan kelopak diikuti pembentukan parut. Seringkali, terjadi akibat
pemberian jangka panjang dipiverfrin, miotik, idoxuridine, neomycin dan obat lain
dengan bahan pengawet yang toksik atau yang menimbulkan iritasi.

Tanda hipersensitif obat adalah hyperemia terutama pada tarsus bawah, eosinophil dengan
perwarnaan Giemsa. Pada kerokan konjungtiva terdapat sel-sel berkeratin, sel PMN.
Menghentikan penyebab, pemakaian tetesan yang ringan atau sama sekali tanpa tetesan. 3

Penyakit konjungtiva etiologi tidak jelas


Eritema multiform atau lupus eritematosis. Lupus eritematosis adalah suatu penyakit
autoimun yang mengenai seluruh sistem dalam tubuh, ditandai dengan kenaikan antibody
yang bersirkulasi, dimana kelainan patologik pada jaringan sebagian besar merupakan
penimbunan kompleks imun pada pembukuh darah kecil. Pada pemeriksaan sediaan
hapus darah tepi dapat ditemui sel LE yaitu sel makrofag yang memakan inti sel leukosit
yang rusak. Terutama ditemukan pada wanita usia muda sampai usia pre menopause dan
pada kelainan retina kira-kira terdapat 25 % penderita
Pada lupus eritematosis, ditemukan kelainan mata dapat berupa: kelainan palpebral
inferior dapat merupakan bagian daripada erupsi kulit yang tak jarang mengenai pipi dan
hidung. Pada permulaannya konjungtiva menunjukkan sedikit secret yang mukoid yang
disusul dengan hiperemi yang intensif dan edema membrane mukosa.Reaksi ini dapat
local atau difus.Reaksi konjungtiva yang berat dapat menyebabkan pengerutan
konjungtiva.Kornea dapat menunjukkan erosi kornea pungtata.Kelainan ini dapat
menyatu, menjadi tukak kornea yang dalam atau merupakan keratits discoid.Tukak
marginal dan infiltrate local tetapi berat, dengan vaskularisasi dapat demikian berat
sehingga menyebabkan kekeruhan pada kornea.Pada sclera dapat ditemukan skleritis
anterior yang difus atau nodular yang makin lama makin sering kambuh dan setiap kali
kambuh keadaannya bertambah berat.Dengan berkembangnya penyakit skleritis berubah
menjadi skleritis nekrotik yang melanjut dari tempat lesi semula ke segala jurusan sampai
dihentikan dengan pengobatan.3

Keratokonjungtivitis Limbus Superior


Keratokonjungtivitis limbus superior merupakan peradangan konjungtiva bulbi dan
konjungtiva tarsus superior yang tidak diketahui sebabnya , disertai kelainan-kelainan
pada limbus bagian atas.

Penyakit ini biasanya bilateral, simetris, terletak pada limbus sekitar jam 12. Dapat juga
unilateral.Lebih sering terdapat pada wanita dewasa 20-70 tahun.Kelainan ini bersifat
menahun, disertai remisi dan eksaserbasi dan diduga ada hubungan dengan hipertiroid.
Umumnya baik dan pada kasus-kasus yang telah sembuh biasanya tidak dijumpai
gangguan penglihatan dan gejala sisa.
Pada keadaan yang ringan terdapat rasa tidak enak pada mata sedangkan pada keadaan
yang berat dapat sampai terjadi blefarospasme dan rasa seperti ada benda asing.Pada
keadaan ringan ditemukan peradangan papiler dan hipertrofi papil pada bagian tengah
konjungtiva tarsus superior.Konjungtiva tarsus inferior tak ada kelainan.Injeksi
konjungtiva dan episklera ditemukan pada konjungtiva bulbi.Pada konjungtiva bulbi yang
terkena terdapat bendungan, penebalan dan hipertrofi daerah limbus.Pada keadaan yang
berat terlihat seolah-olah ada pembentukan lengkung limbus yang baru. Dapat dijumpai
perwarnaan pungtata kornea pada pemeriksaan zat warna dan dapat ditemukan filamentfilamen pada kornea( 1/3 bagian atas). Dapat terjadi remisi spontan dan keadaan
patologik yang terjadi dapat menghilang dalam satu hari.
Pengobatan yang tepay belum ada, karena penyebabnya belum jelas. Dapat diberika
pengobatan secara simtomatik berupa tetes dekongestan, zinc sulfat, meril selulosa,
polivinil alcohol, kortikosteroid atau antibiotic. Dapat diberikan AgNO 3 0,5% yang
diusapkan pada konjungtiva tarsus superior.3

Konjungtiva membranosa
Konjungtivitis membranosa merupakan konjungtivitis dengan pembentukan membrane
yang menempel erat pada jaringan di bawah konjungtiva. Pengangkatan membrane ini
akan mengakibatkan pendarahan. Differia, pneumokok, stafilokok dan infeksi adenovirus
selain dari pada disebabkan penyakit Steven Johnson. Biasanya konjungtivitis
membranosa ditemukan pada anak yang tidak mendapat imunisasi
Bila ringan akan didapatkan secret yang mukopurulen dan kelopak bengkak sedangkan
pada yang berat dapat terjadi nekrosis ataupun konjungtiva yang biasanya terjadi pada
hari keenam. Pada hari ke 6-10 dapat terjadi penyulit tukak pada kornea akibat infeksi
sekunder dan lepasnya secret yang banyak.Dapat juga terjadi perlekatan antara

konjungtiva atau simblefaron.Sangat jarang terjadi paralisis pasca difteri seperti gangguan
akomodasi.
Diobati sebagai difteria berupa penisilin, serum antidifteria.3

Etiologi
-

Sistem imun

Epidemiologi
-

Terjadi pada musim semi atau musiman


Alergi bilateral
Biasanya mulai pada tahun pubertas dan berlangsung selama 5-10tahun
Laki-laki > perempuan
Penyakit ini lebih jarang pada beriklim sedang dari pada beriklim hangat, dan hampir

tidak pernah di daerah dingin.


Paling banyak ditemukan di Afrika sib-sahara dan timur tengah

Patofisiologi
Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang interstitial yang
banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I. Pada konjungtiva akan dijumpai
hiperemi dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat
proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali.
Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga
terbentuklah gambaran cobblestone.
Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga
konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva
tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva
tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik
Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertofi yang
menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering

menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun


kuantitas stem cells.
Tahap awall konjungtivitis vernalis ini ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan
tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis
sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta pseudomembran milky
white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel- sel PMN,
eosinofil, basofil dan sel mast.4
Tahap berikutnya akan dijumpai sel- sel mononuclear lerta limfosit makrofag. Sel mast dan
eosinofil yang dijumpai dalam jumlah besar dan terletak superficial. Dalam hal ini hampir
80% sel mast dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam membuktikan
peran sentral sel mast terhadap konjungtivitis vernalis. Keberadaan eosinofil dan basofil,
khususnya dalam konjungtiva sudah cukup menandai adanya abnormalitas jaringan.
Fase vascular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase,
peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan.
Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit
stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasi jaringan ikat meluas ke
atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Horner- Trantas
dots yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri dari eosinofil, debris selular yang
terdeskuamasi, namun masih ada sel PMN dan limfosit.4

Manifestasi klinis
-

Sangat gatal dengan kotoran mata berserat-serat


Biasanya terdapat riwayat alergi di keluarga
Konjungtiva tampak putih ussu, dan terdapat banyak papila halus di konjungtiva

tarsalih inferior.
Konjungtiva palpebralis superior sering menampilkan papila raksasa bentuk poligonal

mirip batu kali


Mungkin terdapat kotoran mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda

maxwell-lyos)
Pembengkakan gelatinosa (papillae)
Ditemukan bintik tranta dan sediaan hapus eksudat konjungtiva yang terpulas
Giemsa.5

Medika mentosa
Karena koretokonjungtivitis vernal adalah penyakit yang sembuh sendiri, perlu diingat bahwa
medikasi yang dipakai untuk meredakan gejala dapat memberi perbaikan dalam waktu
singkat, tetapi dapat memberi kerugian jangka panjang. Steroid topikal atau sistemik, yang
mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengaruhi penyakit kornea ini. , dan efek
sampingnya (glaukoma, katarak, dan komplikasi lian) dapat sangat merugikan. Kombinasi
antihistamin penstabil sel mast yang lebih batu bermanfaat sebagai agen profilaktik dan
terapeutik pada kasus sedang hingga berat. Vasokonstriktor kompres dingin, dan kompres es
ada manfaatnya, tidur di ruang sejuk ber AC membuat pasien nyaman, kemungkinan besar
pemuliahan terbaik dicapai dengna pndah ketempak beriklim sejuk dan lembab. Pasien yang
melakukan ini setidaknya membaik bila tidak sembuh total.
Gejala akut pada seorang pasien yang sangat fitifoik hingga tidak dapat berbuat apa-apa
sering kali diatasi dengna steroid sistemik atau topikal jangka pendek, didikuti dengan
vasokonstriktor, kompres dingin dan pemakaian tetas mata yang memblok histamin. Obatobat antiinflamasi non steroid yang lebih bru, seperti ketorolac dan lodoxamide cukup
bermanfaat untuk mengurangi gejala sebelumnya, penggunaan steroid berkepanjangan harus
dihindari. Studi kliis baru-baru ini menunjukan bahwa tetes mata tipikal cyclosporine 2%
efektif untuk kasus-kasus berat yang tidak responsif. Penyuntikan dopotkortikosteroid
supratarsal dengan atau tanpa eksisi papilaraksasa terbukti efektif untuk ulkus perisai
vernal.5
Densitas terhasap tepung sari rumput dan antigen lain belum membuahkan hasil. Blefaritis
dan konjungtivitis stafilokok adalah komplikasi yang sering dan harus ditangani.
Kekambuhan pasti terjadi, khususnya pada musim semi dan musim panas; tetapi setelah
sejumlah kekambuhan, papillae akan menghilansempurna tanpa meninggalkan jaringan
parut.5

Komplikasi
-

Keratitis
Keratokonjungtivitis
Jaringan sikatrik

Ulkus kornea superfisial..4,5,6

Prognosis
Kondisi ini dapat berlanjut dari waktu ke waktu dan dapat memburuk di musim-musim
tertentu.4,5,6

Edukasi
-

tinggal diruagan ber Ac


jika gatal jangan digaruk
Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan tertentu), dan

hindari mengucek-ngucek mata.


Mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak (jabat tangan,
berpegangan, dll) dengan penderita konjungtivitis.3,4,6

Kesimpulan
Konjugtivitis vernal adalah peradangan konjungtiva bilateral dan berulang yang khas, dan
merupakan suatu reaksi alergi. Konjungtivitis vernal terjadi akobat teaksi hipersensitivitas
tipe I yang mengenai kedua mata. Perjalanan penyakit ini sangat menahun. Penyakit ini
sering menimbulkan kekambuhan terutama di musim panas. Penyakit ini biasanya sembuh
sendiri tanpa diobati. Dapat diberi obat kompres dingin, natrium karbonat dan
obatvasokonstriktor. Kelainan kornea dan konjungtiva dapat diobati dengan natrium
cromolym topikal. Bila terdapat tikak maka diberi antibiotik untuk mencegah infeksi
sekunder disertai dengan siklopegik. Lebih baik penderita pindah ketempat beriklim sejuk
dan lembab.

Daftar pustaka
1. Gleadle. At a galance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : penerbit Erlangga;
2005.h.48-50
2. Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Edisi ke-8.
Jakarta: EGC; 2009.h.147-157
3. Vaughan DG, Asbury T. Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta: Widya Medika;
2010.h.97-115
4. Ilyas S, Yulianti S R.ilmu penyakit mata. Edisi 4.Jakarta: FKUI; 2011.h.121-31
5. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2009.h.121-145
6. Hollwich F. Buku panduan oftalmologi. Edisi 2. Jakarta: Binarupa Aksara; 2009.p.5781.