Anda di halaman 1dari 14

Contoh Kasus

Eluana Englaro (38) telah terbaring koma selama 17 tahun setelah kecelakaan mobil ketika
hendak menjenguk seorang temannya yang mengalami koma. Eluana telah berada dalam
kondisi koma vegetative state sejak kecelakaan mobil pada tahun 1992 silam. Ayahnya berjuang
keras agar bisa membebaskan putrinya dari koma dengan membiarkannya meninggal. Namun
Vatikan dan pemerintah Italia menentang keras hal itu. Ayah Eluana tetap bersikeras, sehingga
dia memindahkan putrinya itu ke klinik swasta yang akan melepaskan mesin-mesin penunjang
kehidupan Eluana sehingga wanita itu bisa meninggal.
Eluana telah dibawa dengan ambulans ke sebuah klinik di Kota Udine, Italia utara. Klinik itu
merupakan satu-satunya rumah sakit di Italia yang setuju untuk mencabut tube makanan dan
minuman yang dihubungkan ke tubuh Eluana.
Ayah Eluana, Beppino Englaro, telah memperjuangkan kasusnya melalui pengadilan Italia
selama lebih dari 10 tahun. Tujuannya cuma satu, agar putrinya yang koma berkepanjangan itu
diizinkan meninggal. Mahkamah Agung Italia mengabulkan permohonan seorang pria untuk
mencabut selang makanan yang dihubungkan ke tubuh anak perempuannya yang terbaring
koma berkepanjangan. Pria tersebut akhirnya dibolehkan untuk membiarkan putrinya
meninggal setelah 16 tahun berada dalam kondisi koma.
Menurut para pakar medis, begitu tube makanan dicabut dari tubuh Eluana, bisa makan waktu
sekitar 2 pekan sebelum akhirnya dia meninggal.

Pembahasan :
Menurut Glasgow Outcome Scale (GOS) yang dikemukakan oleh Jennett dan Bond
(1975), Vegetative state adalah keadaan dimana pasien tidak memberikan respon dan tidak
bisa berbicara untuk beberapa waktu kedepan. Penderita mungkin dapat membuka mata
dan menunjukkan siklus tidur dan bangun tetapi fungsi dari korteks serebral tidak ada.
Dokter perlu memerhatikan pendapat keluarga pasien. Persetujuan rencana
pengobatan dari pihak keluarga sangat diperlukan mengingat tingkat ketidakpastian relatif
tinggi. Apakah pasien akan diobati secara agresif (artinya penekanan pada upaya kuratif,
menyetujui pemakaian seluruh sarana dan prasarana pengobatan yang ada dalam ilmu
kedokteran) atau dilakukan pengobatan paliatif (artinya penekanan pada aspek perawatan).

14

Sampai kapankah pengobatan atau perawatan ini dilakukan? Siapa yang mengambil
keputusan mengenai perawatan pasien PVS? Kumpulan pertanyaan ini harus dijawab oleh
tim dokter dan keluarga pasien
Suasana yang penuh dengan ketidakpastian dan perbedaan antara yang sisi dokter
maupun di sisi keluarga pasien dikomunikasikan dengan baik dan sabar sehingga tidak timbul
salah pengertian. Di Indonesia, faktor-faktor inilah yang paling sering membawa
masalah sehingga merusak hubungan keluarga pasien-dokter dan memunculkan masalah
yang bersifat sangat kompleks.

Menurut kaidah dasar beneficience dokter wajib berbuat baik, menghormati martabat
manusia, dan harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap dalam kondisi sehat. Dengan kata
lain, dokter harus mengupayakan semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien. H al
t er s e b t j ug a h ar us s es ua i de ng an i z in d an p er mi n t aa n da ri p as ie n, a pa b i la
p as ie n s ud ah d ia ng g ap k o mp e t en s ec ar a hu ku m. seseorang dikatakan kompeten
secara hukum untuk melakukan informed concent jika ia telah dewasa, sadar dan berada
dalam keadaan mental yang baik. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun
atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten
adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat
keputusan menjadi terganggu.
Namun, seorang

pasien dengan vegetative state tidak mampu berfikir secara

logis dan membuat keputusan sendiri, dikarenakan hilangnya fungsi kognitif, sehingga
keluargalah yang lebih banyak memutuskan apa yang akan di lakukan selanjutnya karena di
sini keluargalah kompeten menentukan keputusan. Dengan demikian hak memberikan
persetujuan diberikan kepada keluarga.
Hal ini terkadang yang menjadi polemik dalam penyelesaian kasus semacam ini.
Dalam mengambil keputusan kita juga harus memperhatikan keadaan keluarga, tentunya
dengan tidak membeda-bedakan namun tetap melihat sisi terbaik dengan meninjau semua
aspek yang berkaitan. Jangan sampai ada kelompok yang dirugikan atas keputusan yang
diambil. Jika keluarga memutuskan untuk menjalani euthanasia maka hal tersebut harus
disetujui oleh pengadilan

15

Dunia memang tidak seluruhnya sependapat dengan euthanasia, dan setidaknya sikap
moral yang menang pada kasus tersebut telah menantang sikap moral membela kehidupan
yang selama ini dianut dunia kedokteran. Sebagian para ahli etik yang pro-putusan
pengadilan mencari alasan pembenaran dari segi moral, sedangkan mereka yang kontra
mengemukakan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan
Hal yang masih dipermasalahkan adalah apakan tindakan pemberian makanan atrificia
adalah tndakan medis atau hanya sekedar asuhan? Jika pemberian makanan atrificial dapat
menyadarkan dan memulihkan pasien kembali maka tindakan ini harus dilakukan guna
memberikan usaha terbaik untuk menyembuhkan seorang pasien. Namun jika tndakan ini tidak
memperbaiki status kesehatan seseorang, seperti kasus diatas. Setelah 16 tahun tetap tidak ada
perbaikan pada Euliana maka tindakan pemberian makan atrificial dapat dikatakan sebagai
asuhan biasa.
Jalan keluar untuk permasalahan ini dicari dengan menngetahui kemauan pasien
sendiri. Yang pertama , jika pasien pernah menyatakan bahwa ia tidak mau kehidupannya
diperpanjang dengan makanan artifisial seperti itu, hal itu merupakan alasan yang cukup
untuk menghentikan prosedur itu, asal keluarga mendukung. Yang kedua, bila pasien
meninggalkan surat wasiat dimana ia menyatakan tidak ingin kehidupannya diperpanjang
terus bila suatu saat mengalami keadaan vegetatif tetap atau ia telah menunjuk seseorang
untuk mengambil keputusan terbaik atas namanya bila suatu saat ia mengalami keadaan
vegetatif tetap.

Namun, bila tidak diketahui kemauan pasien, Situasi seperti itu yang membingungkan
dari segi etika, karena jika perawatan itu harus dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional,
beban finansial juga akan terasa sangat berat, khususnya dalam negara-negara berkembang,
memberikan beban psikis berkepanjangan pula untuk keluarganya. Namun, dilain sisi
permintaan euthanasia ini dianggap berlawanan dengan sisi kemanusiaan .Jadi, menurut kami
jalan keluar yang paling baik adalah keputusan terakhir diberikan oleh pengadilan, seperti
sekarang sudah dipraktekkan di beberapa negara.
Jika unit keluarga mengalami disfungsi/ anggota keluarga sakit akan berdampak pada
anggota keluarga, salah satunya peningkatan tingkat stress. oleh karena itu dokter dan
perawat harus memberikan pelayanan yang holistic tidak hanya pada individu yang sakit tapi

juga pada keluarganya. Struktur dikeluarga harus dimodifikasi untuk adapatasi terhadap
hilangnya fungsi salah satu anggota keluarga yang menderita sakit

Stress adalah respon dari suatu ketegangan yang diproduksi oleh stressor baik
secara aktual ataupun kebutuhan yang lama tidak dikelola dengan baik. Stressor pada
keluarga adalah suatu akumulasi dari perkembangan dan situasi yang terjadi dalam hubungan
antar anggota keluarga. Beberapa kejadian yang dapat menjadi stressor bagi keluarga yaitu :
kehilangan baik karena kematian ataupun perceraian, ketegangan dalam pernikahan
(perselingkuhan), kekerasan dalam keluarga, sakit dan perawatan yang lama, ketegangan
intrafamily, hamil dan kelahiran, transisi pekerjaan, keuangan dan fase transisi setelah baru
menikah.

Menurut Hickey (2003), penyakit neurologis yang serius, konsekuensinya tidak


hanya pada pasien tetapi juga pada keluarga. Struktur keluarga, hubungan, mekanisme koping
terhadap stress dan krisis menjadi pertimbangan yang sangat penting. Anggota keluarga akan
bereaksi terhadap penyakit keluarganya, respon yang ditimbulkan adalah kecemasan,
penolakan, depresi, marah, dan ketakutan. Pada kondisi vegetative state, terjadi
ketidakmampuan yang progresif dan permanen sehingga membuat pasien sangat tergantung
dengan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Beberapa respon emosional yang muncul pada keluarga ketika terjadi perubahan
status kesehatan anggota keluarganya dan keluarga maladaptif terhadap perubahan tersebut,
yaitu :

Kecemasan, cemas adalah perasaan tidak nyaman, khawatir, ataupun takut yang
berhubungan dengan ketidakmampuan mengenali sumber bahaya. Hal ini biasanya
disebabkan karena adanya konflik atau frustasi dalam hidup. Terjadi perubahan
fisiologis seperti denyut nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat, diare, dan
terasa tegang pada abdomen.

Frustasi, adalah perasaan yang terjadi ketika tindakan yang dilakukan gagal mencapai
tujuan ataupun tidak ada kesimpulan yang pasti terhadap masalah yang ada.

Ketakutan, adalah perasaan khawatir yang ekstrim terhadap potensi pasien dapat
membaik. Ketakutan sangat berhubungan dengan ketidaktauan, ketidakmauan, dan
kehilangan kontrol. Manifestasi perilaku: melakukan tindakan irasional.

Depresi, adalah perasaan sedih dan rendah diri disertai kesulitan dalam berpikir,
melakukan aktivitas dan tanggung jawab sehari hari, energi lemah dan merenungi
diri, tidak mampu mengekspresikan perasaan. Karakteristik perilakunya yaitu : sedih,
afek datar, wajah tanpa ekspresi, menangis, putus harapan, dan tidak tertarik dengan
lingkungan sekitar. Seseorang yang depresi tidak lagi mampu melihat kemungkinan
resolusi dan masalahnya.

Menolak, penolakan adalah mekanisme defensif, dimana seseorang menolak untuk


mengetahui kenyataan yang ada. Kenyataan yang ada sangat menyakitkan baginya
sehingga sulit untuk berdamai. Menolak adalah metode temporer untuk berdamai
dengan sumber stress dan masalah yang dihadapi.

Perasaan bersalah, perasaan dimana seseorang merasa melakukan kesalahan yang


secara langsung bertanggung jawab terhadap hasil yang negatif dari tujuan yang ingin
dicapai. Manifestasi perilaku yang timbul : perasaan menyesal, harga diri rendah dan
membenci diri sendiri. (Hickey, 2003)

Pada kondisi krisis dalam keluarga, terjadi perubahan gaya hidup yang negatif.
Berdasarkan penelitian Lui, et al, 2005, menyatakan bahwa kerja di perubahan pada aspek
fisik, emosional, ataupun sosial pada keluarga yang mengalami krisis.

Dari aspek fisik, keluarga merasa kelelahan, istirahat yang tidak cukup, tidur
tidak teratur, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi akibat tuntutan perawatan. Dari
aspek emosional, keluarga merasa depresi, stress, takut, cemas, dan merasa bersalah akibat
ketidakpastian kondisi pasien, perubahan peran dan fungsi, keluarga merasa memiliki waktu

yang sangat terbatas untuk mendapat skill yang dibutuhkan untuk peran barunya, dan kurang
penjelasan dari petugas medis.
Dari aspek sosial, keluarga merasa terisolasi dari kehidupan sosial, tidak mampu
lagi untuk liburan, kurang kontak dengan teman.
Namun ada hal positif yang didapatkan keluarga dalam merawat pasien
vegetative state, meningkatkan hubungan dan memperkuat ikatan antara keluarga dan pasien.
Faktor faktor yang mempengaruhi pengalaman keluarga dalam merawat pasien vegetative
state yaitu : umur, gender, pendidikan, status pekerjaan, hubungannya dengan pasien,
lamanya perawatan, jumlah keluarga yang merawat. (Tang & Chen, 2002).
Sehingga dari ulasan kami diatas. Kami menyutujui tindakan
yang dilakukan oleh ayan eulana , melihat dr aspek psikologis yang diserita
keluarga

13

Proses Adaptasi Keluarga

Stress adalah respon dari suatu ketegangan yang diproduksi oleh stressor baik
secara aktual ataupun kebutuhan yang lama tidak dikelola dengan baik. Stressor pada
keluarga adalah suatu akumulasi dari perkembangan dan situasi yang terjadi dalam hubungan
antar anggota keluarga. Beberapa kejadian yang dapat menjadi stressor bagi keluarga yaitu :
kehilangan baik karena kematian ataupun perceraian, ketegangan dalam pernikahan
(perselingkuhan), kekerasan dalam keluarga, sakit dan perawatan yang lama, ketegangan
intrafamily, hamil dan kelahiran, transisi pekerjaan, keuangan dan fase transisi setelah baru
menikah.
Menurut Hickey (2003), penyakit neurologis yang serius, konsekuensinya tidak
hanya pada pasien tetapi juga pada keluarga. Struktur keluarga, hubungan, mekanisme koping
terhadap stress dan krisis menjadi pertimbangan yang sangat penting. Anggota keluarga akan
bereaksi terhadap penyakit keluarganya, respon yang ditimbulkan adalah kecemasan,
penolakan, depresi, marah, dan ketakutan. Pada kondisi vegetative state, terjadi
ketidakmampuan yang progresif dan permanen sehingga membuat pasien sangat tergantung
dengan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Stress pada kondisi penyakit neurologis yang diderita pasien sangat signifikan
dan membutuhkan perhatikan dan dukungan petugas kesehatan pada keluarga untuk membuat
pemikiran/pendapat yang realistis. Kemampuan keluarga untuk menerima situasi dan

14

beradaptasi secara langsung akan mempengaruhhi kondisi emosional yang baik bagi tiap
anggota dalam unit keluarga termasuk pasien.
Untuk menangani stress dalam keluarga dibutuhkan strategi koping yang positif.
Strategi koping adalah perilaku atau proses keluarga yang digunakan untuk beradaptasi
terhadap stress. Strategi keluarga dalam menghadapi stress, ada beberapa hal yaitu : strategi
kognitif, menggunakan pengetahuan dengan memahami kondisi antar anggota keluarga;
strategi komunikasi, terbuka dan jujur mendengarkan satu dengan yang lain; strategi
emosional, mengekspresikan perasaan dan berdamai dengan perasaan negatif; strategi
hubungan, meningkatkan kebersamaan, kerjasama dan kepercayaan; strategi spiritual,
melaksanakan aktivitas keagamaan dan kepercayaan terhadap Tuhan; strategi lingkungan,
mencari bantuan dari komunitas; strategi perkembangan individu, meningkatkan kemampuan
diri dan mengembangkan bakat.

Keluarga yang dapat mengembangkan strategi koping yang positif akan mampu
adaptif terhadap perubahan perubahan yang ada dalam keluarga. Namun jika maladaptive,
keluarga akan menolak masalahnya, tanpa solusi berkepanjangan sehingga pada akhirnya
akan terjadi kekerasan / penyalahgunaan dalam keluarga (Friedman, 1999)

Beberapa respon emosional yang muncul pada keluarga ketika terjadi perubahan
status kesehatan anggota keluarganya dan keluarga maladaptif terhadap perubahan tersebut,
yaitu :
a

Kecemasan, cemas adalah perasaan tidak nyaman, khawatir, ataupun takut yang
berhubungan dengan ketidakmampuan mengenali sumber bahaya. Hal ini biasanya
disebabkan karena adanya konflik atau frustasi dalam hidup. Terjadi perubahan
fisiologis seperti denyut nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat, diare, dan
terasa tegang pada abdomen.

Frustasi, adalah perasaan yang terjadi ketika tindakan yang dilakukan gagal mencapai
tujuan ataupun tidak ada kesimpulan yang pasti terhadap masalah yang ada.

Ketakutan, adalah perasaan khawatir yang ekstrim terhadap potensi pasien dapat
membaik. Ketakutan sangat berhubungan dengan ketidaktauan, ketidakmauan, dan
kehilangan kontrol. Manifestasi perilaku: melakukan tindakan irasional.

Depresi, adalah perasaan sedih dan rendah diri disertai kesulitan dalam berpikir,
melakukan aktivitas dan tanggung jawab sehari hari, energi lemah dan merenungi
diri, tidak mampu mengekspresikan perasaan. Karakteristik perilakunya yaitu : sedih,
afek datar, wajah tanpa ekspresi, menangis, putus harapan, dan tidak tertarik dengan
lingkungan sekitar. Seseorang yang depresi tidak lagi mampu melihat kemungkinan
resolusi dan masalahnya.

Menolak, penolakan adalah mekanisme defensif, dimana seseorang menolak untuk


mengetahui kenyataan yang ada. Kenyataan yang ada sangat menyakitkan baginya
sehingga sulit untuk berdamai. Menolak adalah metode temporer untuk berdamai
dengan sumber stress dan masalah yang dihadapi.

Perasaan bersalah, perasaan dimana seseorang merasa melakukan kesalahan yang


secara langsung bertanggung jawab terhadap hasil yang negatif dari tujuan yang ingin
dicapai. Manifestasi perilaku yang timbul : perasaan menyesal, harga diri rendah dan
membenci diri sendiri. (Hickey, 2003)
Pada kondisi krisis dalam keluarga, terjadi perubahan gaya hidup yang negatif.

Berdasarkan penelitian Lui, et al, 2005, menyatakan bahwa kerja di perubahan pada aspek
fisik, emosional, ataupun sosial pada keluarga yang mengalami krisis.
Dari aspek fisik, keluarga merasa kelelahan, istirahat yang tidak cukup, tidur
tidak teratur, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi akibat tuntutan perawatan. Dari
aspek emosional, keluarga merasa depresi, stress, takut, cemas, dan merasa bersalah akibat
ketidakpastian kondisi pasien, perubahan peran dan fungsi, keluarga merasa memiliki waktu
yang sangat terbatas untuk mendapat skill yang dibutuhkan untuk peran barunya, dan kurang
penjelasan dari petugas medis.
Dari aspek sosial, keluarga merasa terisolasi dari kehidupan sosial, tidak mampu
lagi untuk liburan, kurang kontak dengan teman.

Dan dari aspek keuangan keluarga menghabiskan banyak uang untuk pengobatan
sehingga beban bertambah berat.

Pada kondisi pasien tidak sadar, hal yang memperanguhi kondisi psikologis
adalah keluarga mengalami beban yang sulit untuk membuat keputusan dan pilihan terapi.
Hal tersebut di ungkapkan oleh McAdam & Puntillo (2009).
Namun ada hal positif yang didapatkan keluarga dalam merawat pasien
vegetative state, meningkatkan hubungan dan memperkuat ikatan antara keluarga dan pasien.
Faktor faktor yang mempengaruhi pengalaman keluarga dalam merawat pasien vegetative
state yaitu : umur, gender, pendidikan, status pekerjaan, hubungannya dengan pasien,
lamanya perawatan, jumlah keluarga yang merawat. (Tang & Chen, 2002)
Dalam dimensi sistem keluarga ada empat proses yang terjadi sesuai dengan
target yang akan dicapai yaitu : system maintenance, system change, coherence, dan
individuation. Tujuan dari keempat proses tersebut adalah memberikan dukungan antar
anggota keluarga jika terjadi perubahan system, menemukan solusi bersama untuk
mempertahankan stabilitas system keluarga, dapat beradaptasi terhadap perubahan yang
terjadi dalam system keluarga.
System maintenance meliputi perilaku yang berakar dan menjadi tradisi pada
struktur dan proses keluarga, dan berhubungan dengan pengelolaan masalah keluarga.
Pertahanan system meliputi peran, pola aturan dalam system, ritual, pengambilan keputusan,
struktur kekuasaan, pembagian kerja, stabilitas dan target kontrol. Target kontrol berfokus
pada fungsi regulasi keluarga, bagaimana mengatur efek perubahan yang ada, sedangkan
target stabilitas berfokus pada tradisi, nilai, dan budaya yang diyakini keluarga.
System change adalah adanya perubahan besar yang terjadi pada keluarga
khususnya pada system nilai keluarga, kerjasama, dan persetujuan semua anggota keluarga,
target pada proses ini adalah target perkembangan yang bertujuan untuk memahami dan
mencoba nilai / tradisi yang baru. Coherence berfokus pada ikatan emosional dan kepedulian
antar anggota keluarga, targetnya adalah stabilitas dan spiritual dalam keluarga, adanya
hubungan yang saling menerima dan saling memiliki mengikuti ritme yang terjadi dalam
sistem.
Individuation, keluarga meningkatkan pengetahuan, belajar dan merubah
perilaku, berbagi pendapat dengan yang lainnya, tergetnya adalah perkembangan dan
spiritual. Untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan yang ada, diperlukan keseimbangan

dari keempat dimensi tersebut secara berkelanjutan dalam kehidupan keluarga


sehari hari.

Jika unit keluarga mengalami disfungsi/ anggota keluarga sakit akan berdampak
pada anggota keluarga, oleh karena itu dokter dan perawat harus memberikan pelayanan
yang holistic tidak hanya pada individu yang sakit tapi juga pada keluarganya. Struktur
dikeluarga harus dimodifikasi untuk adapatasi terhadap hilangnya fungsi salah satu anggota
keluarga yang menderita sakit
Dampak yang dialami keluarga Eluana adalah, pertama kelelelahan yang
berkepanjangan akibat selama 16 tahun harus selalu mengurus eulana dirumah sakit.
Kedua, keputus assan yang dirasakan pihak keluarga akibat tidak adanya kemajuan atau
perbaikan kondisi kesehatan eulana. Menurut kami permintaan ayah Eluana menjadi
tampak wajar akibat beban yang ia terima selama 16 tahun.

Anda mungkin juga menyukai