Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN ILEUS PARALITIK

A. Definisi Ileus Paralitik
Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal/ tidak
mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. Ileus
merupakan kondisi dimana terjadi kegagalan neurogenik atau hilangnya
peristaltic usus tanpa adanya obstruksi mekanik.
B. Anatomi Usus
Usus

halus

merupakan

tabung

yang

kompleks,

berlipat-lipat

yang

membentang dari pilorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup panjang usus
halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver akibat relaksasi). Usus ini mengisi
bagian tengah dan bawah abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar
3,8 cm, tetapi semakin kebawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai
menjadi sekitar 2,5 cm.
Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum, dan ileum. Pembagian ini agak
tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan struktur, dan yang relatif lebih
penting berdasarkan perbedaan fungsi. Duodenum panjangnya sekitar 25 cm,
mulai dari pilorus sampai kepada jejenum. Pemisahan duodenum dan jejunum
ditandai oleh ligamentum treitz, suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada
krus dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio pada perbatasan
duodenum dan jejenum. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum
suspensorium (penggantung). Kira-kira duaperlima dari sisa usus halus adalah
jejenum, dan tiga perlima terminalnya adalah ileum.. Jejenum terletak di region
abdominalis media sebelah kiri, sedangkan ileum cenderung terletak di region
abdominalis bawah kanan. Jejunum mulai pada junctura denojejunalis dan ileum
berakhir pada junctura ileocaecalis.
Lekukan-lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior abdomen
dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang dikenal
sebagai messenterium usus halus. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri
sebagai peritoneum parietal pada dinding posterior abdomen sepanjang garis

berjalan ke bawah dan ke kanan dari kiri vertebra lumbalis kedua ke daerah
articulatio sacroiliaca kanan. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan
masuknya cabang-cabang arteri vena mesenterica superior antara kedua lapisan
peritoneum yang memgbentuk messenterium.
Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5
kaki (sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter
usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inci
(sekitar 6,5 cm), tetapi makin dekat anus semakin kecil.
Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Pada sekum terdapat
katup ileocaecaal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum
menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileocaecaal
mengontrol aliran kimus dari ileum ke sekum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon
asendens, transversum, desendens dan sigmoid. Kolon ascendens berjalan ke atas
dari sekum ke permukaan inferior lobus kanan hati, menduduki regio iliaca dan
lumbalis kanan. Setelah mencapai hati, kolon ascendens membelok ke kiri,
membentuk fleksura koli dekstra (fleksura hepatik). Kolon transversum
menyilang abdomen pada regio umbilikalis dari fleksura koli dekstra sampai
fleksura koli sinistra. Kolon transversum, waktu mencapai daerah limpa,
membengkok ke bawah, membentuk fleksura koli sinistra (fleksura lienalis)
untuk kemudian menjadi kolon descendens. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas
panggul. Kolon sigmoid merupakan lanjutan kolon descendens. Ia tergantung ke
bawah dalam rongga pelvis dalam bentuk lengkungan. Kolon sigmoid bersatu
dengan rektum di depan sakrum. Rektum menduduki bagian posterior rongga
pelvis. Rektum ke atas dilanjutkan oleh kolon sigmoid dan berjalan turun di
depan sekum, meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis. Disisni
rektum melanjutkan diri sebagai anus dalan perineum.

Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh limfe. Yang terakhir membentuk massa dinding usus. Tela Submucosa. Tela submucosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa. . Tunica Serosa. hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica. 3. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum circulare. tempat lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus. Sistem saluran pencernaan. yang terletak di bawah mukosa. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke arah distal. Tunica Muscularis. kekecualian pada sebagian kecil.Gambar 1. Di samping itu. 2. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis usus halus. di sini ditemukan neuroplexus meissner. C. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot. Histologi Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan: 1. tak lengkap di atas duodenum. Tunica serosa atau lapisan peritoneum.

Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan tampak sebagai brush border pada mikroskop cahaya. tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. Akan tetapi. kecuali pars superior duodenum. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus halus dan tidak .4. Tunica mucosa usus halus. Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya: 1. Tunica Mucosa. Villi panjangnya 0. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna. ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram.. Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau 5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat pertengahan ileum. Valvula koniventes. dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap. villi. Bila lapisan permukaan usus halus ini rata. Panjang taenia lebih pendek daripada usus. hal ini menyebabkan usus tertarik dan berkerut membentuk kantongkantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di sepanjang taenia. Masing-masing lipatan ini ditutup dengan tonjolan. 3. 2. vili dan mikrovili bersama-sama menambah luas permukaan absorpsi sampai 2 juta cm².5 sampai 1 mm (dapat dilihat dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru. Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 μ pada permukaan luar setiap villus. yaitu menigkat seribu kali lipat.00 cm². Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan valvula koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3 ampai 10 mm. Taenia bersatu pada sigmoid distal. Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. maka luas permukaannya hanyalah sekitar 2. tersusun dalam lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa.

melalui nodi lymphatici pancreoticoduodenalis ke nodi lyphatici mesentericus superior sekitar pangkal arteri mesenterica superior. (3) kolika media. dan bagian proksimal rektum) : (1) kolika sinistra. (2) sigmoidalis. suatu cabang arteri gastroduoodenalis. Pembuluh limfe jejenum dan ileum berjalan melalui banyak nodi lymphatici mesentericus dan akhirnya mencapai nodi lymphatici mesentericus suprior. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang sebagian atas duodenum adalah arteri pancreotico duodenalis superior. (3) rektalis superior. E.mengandung villi atau rugae. dan arteria mesenterika inferior memperdarahi bagian kiri (sepertiga distal kolon transversum. (2) kolika dekstra. arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (sekum. Sedangkan separoh bawah duodenum diperdarahi oleh arteri pancreoticoduodenalis inferior. dan dua pertiga proksimal kolon transversum) : (1) ileokolika. D. Bagian ileum yang terbawah juga diperdarahi oleh arteri ileocolica. Pembuluh-pembuluh darah yang memperdarahi jejenum dan ileum ini beranastomosis satu sama lain untuk membentuk serangkaian arkade. arteri mesentericus superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri seliaka. Pembuluh limfe sekum . Vaskularisasi Pada usus halus. yang terletak sekitar pangkal arteri mesentericus superior. Darah dikembalikan lewat vena messentericus superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta. kolon descendens dan sigmoid. Kriptus lieberkūn (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus. suatu cabang arteri mesenterica superior. Pembuluh Limfe Pembuluh limfe duodenum mengikuti arteri dan mengalirkan cairan limfe ke atas melalui nodi lymphatici pancreoticoduodenalis ke nodi lymphatici gastroduodenalis dan kemudian ke nodi lymphatici coeliacus: dan ke bawah. kolon ascendens. Pada usus besar.

berjalan melewati banyak nodi lymphatici mesentericus dan akhirnya mencapai nodi lymphatici mesentericus superior. berjalan melalui pleksus Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis. sedangkan rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. sedangkan serabut-serabut parasimpatis mengatur refleks usus. dan pleksus Meissner di lapisan submukosa. . Suplai saraf intrinsik. Pada kolon transversum dipersarafi oleh saraf simpatis nervus vagus dan saraf parasimpatis nervus pelvikus. Serabut-serabut nervus vagus hanya mempersarafi dua pertiga proksimal kolon transversum. Rangsangan parasimpatis merangasang aktivitas sekresi dan pergerakan. F. Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dibawah kontrol voluntar. Serabut-serabut sensorik sistem simpatis menghantarkan nyeri. Sekum. Sedangkan saraf untuk jejenum dan ileum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari pleksus mesentericus superior. sedangkan yang berasal dari sepertiga distal kolon transversum dan kolon descendens akan masuk ke nodi limphatici mesentericus inferior. appendiks dan kolon ascendens dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan parasimpatis nervus vagus dari pleksus saraf mesentericus superior. yang menimbulkan fungsi motorik. Persarafan Usus Saraf-saraf duodenum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (vagus) dari pleksus mesentericus superior dan pleksus coeliacus. Serabut simpatis berjalan dari pleksus mesentericus superior dan inferior. Untuk kolon ascendens dan dua pertiga dari kolon transversum cairan limfenya akan masuk ke nodi limphatici mesentericus superior. Pembuluh limfe untuk kolon mengalirkan cairan limfe ke kelenjar limfe yang terletak di sepanjang perjalanan arteri vena kolika. sepertiga distal dipersarafi oleh saraf parasimpatis nervus pelvikus. Sedangkan pada kolon descendens dipersarafi serabut-serabut simpatis dari pleksus saraf mesentericus inferior dan saraf parasimpatis nervus pelvikus.

Sistem enterik terutama terdiri atas dua pleksus. Ujung-ujung saraf simpatis yang berasal dari epithelium gastrointestinal atau dinding usus dan kemudian mengirimkan serat-serat afferent ke kedua sistem enterik juga ke ganglia prevertebral dari sistem saraf simpatis. yang terletak di dalam submukosa. Jumlah neuron pada sistem enterik ini sekitar 100 juta. beberapa berjalan melalui saraf simpatis ke medulla spinalis dan yang lainnya berjalan melalui saraf vagus ke batang otak. Walaupun sistem saraf enterik dapat berfungsi dengan sendirinya. Kedua pleksus tersebut berhubungan dengan serat-serat simpatis dan parasimpatis. hampir sama dengan jumlah keseluruhan pada medulla spinalis. Pleksus Mienterikus terutama mengatur pergerakan gastrointestinal dan pleksus submukosa terutama mengatur sekresi gastrointestinal dan aliran darah lokal. satu pleksus bagian luar yang terletak diantara lapisan otot longitudinal dan sirkular.Perangsangan simpatis menyebabkan penghambatan sekresi dan kontraksi. disebut pleksus submukosa atau pleksus Meissner. sedangkan perangsangan parasimpatis mempunyai efek berlawanan. tidak bergantung pada saraf-saraf ekstrinsik ini. hal ini menunjukkan pentingnya sistem enterik untuk mengatur fungsi gastrointestinal. Saraf-saraf sensoris ini mengadakan refleks-refleks local di dalam usus itu sendiri dan refleks-refleks lain yang disiarkan kembali ke usus baik dari ganglia prevertebral maupun dari daerah basal sistem saraf pusat. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus. . Kontrol saraf terhadap fungsi gastrointestinal Sistem gastrointestinal memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf enterik. mulai dari esophagus dan memanjang sampai ke anus. perangsangan oleh sistem parasimpatis dan simpatis dapat mengaktifakan atau menghambat fungsi gastrointestinal lebih lanjut. disebut pleksus Mienterikus atau pleksus auerbach. serta perangsangan sfingter rektum. G. dan pleksus bagian dalam.

Ujung-ujung saraf simpatis mensekresikan norepineprin. Refleks-refleks dari usus ke ganglia simpatis prevertebral dan kemudian kembali ke traktus gastrointestinal. Kecuali untuk beberapa serat parasimpatis di regio mulut dan faring dari saluran pencernaan. peristaltic. Refleks ini mengirim sinyal untuk jarak yang jauh dalam traktus gastrointestinal. Persarafan simpatis. kontraksi campuran. ketiga dan keempat dari medulla spinalis serta berjalan melalui saraf pelvis ke separuh bagian distal usus besar. sinyal dari kolon dan usus halus untuk menghambat motilitas lambung dan sekresi lambung . 2. rectum dan anus dari usus besar diperkirakan mendapat persarafan parasimpatis yang lebih baik daripada bagian usus yang lain. Refleks-refleks gastrointestinal 1. seperti ganglion seliakus dan berbagai ganglion mesenterikus. Pengaturan otonom traktus gastrointestinal Persarafan parasimpatis. memasuki rantai simpatis dan berjalan melalui rantai ke ganglia yang letaknya jauh. menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. sesudah meninggalkan medulla . Sebagian besar preganglionik yang mempersarafi usus. Refleks-refleks tersebut mengatur sekresi gastrointestinal. lambung pankreas dan sedikit ke usus sampai separuh pertama bagian usus besar. Persarafan parasimpatis ke usus dibagi atas divisi cranial dan divisi sacral. I. Refleks-refleks yang seluruhnya terjadi di dalam sistem saraf enterik. seperti sinyal dari lambung untuk menyebabkan pengosongan kolon (refleks gastrokolik).H. Area sigmoid. perangsangan sistem saraf simpatis menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal. Pada umunya. Parasimpatis sacral berasal dari segmen sacral medulla spinalis kedua. efek penghambatan local dan sebagainya. parasimpatis divisi cranial hampir seluruhnya berasal dari saraf vagus. Serat-serat simpatis yang berjalan ke traktus gastrointestinal berasal dari medulla spinalis antara segmen T-5 dan L-2. Saraf ini member inervasi yang luas pada esophagus.

hepatobiliar. Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil diabsorpsi. yaitu segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon. refleks nyeri yang menimbulkan hambatan umum pada seluruh traktus gastrointestinal dan refleks defekasi.(refleks enterogastrik) dan refleks dari kolon untuk menghambat pengosongan isi ileum ke dalam kolon (refleks kolonoileal). Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumnlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus). Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan lebih luas bagi kerja lipase pankreas. contohnya gerakan . dimana gerakan ini pada setiap segmen akan berbeda tingkat kecepatannya sesuai dengan fungsi dari regio saluran pencernaan. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat. J. Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin. Meliputi refleks mengatur aktifitas motorik dan sekresi lambung. lemak. Gerakan propulsif yaitu gerakan mendorong atau memajukan isi saluran pencernaan sehingga berpindah tempat ke segmen berikutnya. Fisiologi Usus Usus halus mempunyai dua fungsi utama : pencernaan dan absorpsi bahanbahan nutrisi dan air. asam klorida. Isi usus digerakkan oleh peristalsis yang terdiri atas dua jenis gerakan. 3. dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. dan pepsin terhadap makanan masuk. Dalam proses motilitas terjadi dua gerakan yaitu: 1. dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu isi lambung. dan sekresi usus. Refleks-refleks dari usus ke medulla spinalis atau batang otak dan kemudian kembali ke traktus gastrointestinal.

5 gram hilang setiap hari. Protein oleh asam lambung di denaturasi. Kemudian . yang merupakan disakarida. lemak dan protein (gula sederhana. Dari kumpulan 5 gram garam empedu yang memasuki kantung empedu. Sel kemudian membentuk kembali trigliserida dan digabungkan dengan kolesterol. asam-asam lemak dan asa-asam amino) melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sesl-sel tubuh. menghasilkan asam amino dan 2 sampai 6 residu peptida. Misel kemudian memasuki membran sel secara pasif dengan difusif. hasilnya bergabung dengan garam empedu membentuk misel. melepaskan garam empedu yang kembali ke dalam lumen usus dan asam lemak serta monogliserida ke dalam sel. Gerakan mencampur. kemudian mengalami disagregasi. dan endopeptidase. sekitar 0. elektrolit dan vitamin juga diabsorpsi. Karbohidrat.propulsif yang mendorong makanan melalui esofagus berlangsung cepat tapi sebaliknya di usus halus tempat utama berlangsungnya pencernaan dan penyerapan makanan bergerak sangat lambat. Asam lemak kecil dapat memasuki kapiler dan secara langsung menuju ke vena porta. Selain itu air. Garam empedu diabsorpsi ke dalam sirkulasi enterohepatik dalam ileum distalis. Transport aktif membawa dipeptida dan tripeptida ke dalam sel untuk diabsorpsi. kumpulan ini bersirkulasi ulang 6 kali dalam 24 jam. Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat. pepsin memulai proses proteolisis. yang keluar dari sel dan memasuki lakteal. metabolisme awalnya dimulai dengan menghidrolisis pati menjadi maltosa (atau isomaltosa). eksopeptidase) melanjutkan proses pencernaan protein. Enzim protease pankreas (tripsinogen yang diaktifkan oleh enterokinase menjadi tripsin. Absoprpsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan pasif yang sebagian kurang dimengerti. 2. Lemak dalam bentuk trigliserida dihidrodrolisa oleh enzim lipase pankreas . dan apoprotein untuk membentuk kilomikron. fosfolipid. gerakan ini mempunyai 2 fungsi yaitu mencampur makanan dengan getah pencernaan dan mempermudah penyerapan pada usus.

Menerima 900-1500 ml/hari. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. mengisolasi segmen pendek dari kolon. Kolon mengabsorpsi air. Disakarida ini dicerna menjadi monosakarida sewaktu berkontak dengan mikrovili ini atau sewaktu mereka berdifusi ke dalam mikrovili. dan asam lemak rantai pendek serta mengeluarkan kalium dan bikarbonat. yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Air secara osmotik dan secara hidrostatik diabsorpsi atau melalui difusi pasif. semua. Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon kanan. monosakarida. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum. cairan lambung. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan air dan elektrolit dan mencegah dehidrasi. Kalsium diabsorpsi melalui transport aktif dalam duodenum dan jejenum. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit.disakarida ini. Gerakan massa merupakan pola yang kurang umum. dan cairan duodenum menyokong sekitar 8-10 L/hari cairan tubuh. natrium. bersama dengan disakarida utama lain. dihidrolisis menjadi monosakarida glukosa. Kapasitas sekitar 5 liter/hari. kontraksi ini menurun oleh antikolinergik. kecuali 100-200 ml diabsorpsi. Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. kebanyakan diabsorpsi. dipercepat oleh hormon parathormon (PTH) dan vitamin D. paling banyak di proksimal. Bikarbonat diabsorpsi secara pertukaran natrium/hidrogen. dan isimaltase untuk pemecahan disakarida terletak di dalam mikrovili ’brush border’ sel epitel. laktosa dan sukrosa. saliva. meningkatkan absorpsi. glukosa. Enzim laktase. Produk pencernaan. galaktosa. dan fruktosa. kemudian segera disbsorpsi ke dalam darah porta. kolinergik. galaktosa. pendorong antegrad melibatkan segmen panjang 0. meningkat oleh makanan. dan fruktosa. cairan empedu. khlorida. Natrium dan khlorida diabsorpsi dengan pemasangan zat telarut organik atau secara transport aktif. sukrase. Air dan elektrolit.5- . maltase. Kalium diabsorpsi secara difusi pasif.

Sepertiga berat feses kering adalah bakterri. saraf otonom. Yang mana-mana gelombang lambat dari usus . Sumber penting vitamin K. terjadi dengan defekasi. pleksus ini berisi neuron yang bertanggung jawab atas motilitas gastrointestinal dan regulasi output enzimatik dari organ-organ yang berdekatan. Anaerob > aerob. terdiri dari sekitar 100 juta neuron dibagi dalam dua pleksus ganglion (Gambar 22-2). ENS berhubungan langsung dengan usus sel otot polos. Bakteroides paling umum. Nitrogen. Kontraksi yang terjadi sepanjang saluran pencernaan dikendalikan oleh myogenic. 2. Pleksus submukosa yang lebih kecil disebut sebagai pleksus Meissner's. Myogenic mekanisme kontrol termasuk faktor yang terlibat dalam mengatur aktivitas listrik yang dihasilkan oleh sel otot polos pada saluran pencernaan. 20-30 detik panjang. oksigen.1. tekanan 100-200 mmHg. Normalnya 600 ml/hari. Kekacauan mekanisme yang mengatur fungsi motorik pencernaan ini dapat menyebabkan motilitas usus berubah. juga dikenal sebagai pleksus Auerbach. Bakteri membentuk hidrogen dan metan dari protein dan karbohidrat yang tidak tercerna. 1. Gas kolon berasal dari udara yang ditelan. Pleksus myenteric yang lebih besar. Fungsi motorik pada saluran pencernaan tergantung pada kontraksi sel otot polos dan integrasi dan modulasi oleh saraf enterik dan ekstrinsik. metan. ICC membentuk sistem alat pacu jantung nonneural terletak di antara lapisan otot sirkuler dan longitudinal dari usus kecil. ENS merupakan cabang bebas dari sistem saraf perifer. Modulator motilitas gastrointestinal meliputi sistem saraf pusat (SSP). mekanisme saraf dan kimia. Sebuah komponen penting dari sistem kontrol myogenic adalah kegiatan pacu listrik yang berasal dari sel-sel interstisial dari Cajal (ICC). Escherichia coli berikutnya. terletak di antara lapisan otot longitudinal dan sirkular dari externa muskularis. hidrogen. tiga sampai empat kali sehari. produksi intralumen.0 cm/detik. Neurogenik. karbon dioksida. 10¹¹-10¹²/gram. difusi dari darah. tetapi juga memainkan peran penting dalam fungsi aferen visceral. dan sistem saraf enterik (ENS).

diikuti lambung (24-48 jam) dan kolon (48-72 jam). 3. dan (3) obat-obatan yang mempengaruhi motilitas usus (opioid. antikolinergik. perdarahan). mesenterika superior. uremia. hipomagnesemia. dibetes ketoasidosis. ICC tampaknya berfungsi sebagai perantara antara neurogenik (ENS) dan myogenic sistem kontrol karena mereka secara luas dipersarafi dan berada di dekat sel otot polos gastrointestinal. Saraf kranial terutama melalui saraf vagus. The celiac prevertebral. Etiologi Ileus Paralitik Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada: (1) proses intraabdominal seperti pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari peritoneal (peritonitis. pankreatitis. gangguan pernafasan yang memerlukan intubasi. Jarak terjadinya kontraksi tergantung dari banyaknya panjang dari segmen yang menunjukkan aktivitas kontrol listrik dan panjang segmen neurokimia bersebelahan yang diaktifkan 4.kecil. biasanya disebut sebagai aktivitas kontrol listrik (ECA) dan potensi perintis (PP). Kimia kontrol mengacu pada pengamatan kontraksi otot polos gastrointestinal selama periode depolarisasi dari membran potensial. Setelah pembedahan. Selain menghasilkan alat pacu jantung kegiatan. kontrol saraf ekstrinsik dari fungsi motorik gastrointestinal dapat dibagi lagi menjadi aliran parasimpatis kranial dan sakral dan pasokan torakolumbalis simpatik. (2) sakit berat seperti pneumonia. hanya terjadi jika ada neurotransmiter seperti asetilkolin. sepsis atau infeksi berat. berasal dari jaringan ICC berhubungan dengan pleksus Auerbach. Pasokan serat simpatis ke perut dan usus kecil muncul dari tingkat T5 sampai T10 dari kolom intermediolateral sumsum tulang belakang. hipofosfatemia). dan mesenterika inferior ganglia simpatis memainkan peran penting dalam integrasi impuls aferen antara usus dan SSP. usus halus biasanya pertama kali yang kembali normal (beberapa jam). fenotiazine). . dan ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia. hiperkalsemia. K. yang mempersarafi saluran pencernaan dari lambung ke usus besar kanan dan terdiri dari serat preganglionik kolinergik yang bersinaps dengan ENS.

Kurangnya tindakan pendorong terkoordinasi menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus. Ileus yang berlangsung selama lebih dari 3 hari setelah operasi dapat disebut ileus adynamic atau ileus paralitik pascaoperasi. keadaan pascaoperasi adalah keadaan yang paling umum untuk terjadinya ileus. ileus terjadi setelah operasi intraperitoneal. Durasi terpanjang dari ileus tercatat terjadi setelah pembedahan kolon. Pasien dengan ileus merasa tidak nyaman dan sakit. Beberapa penyebab terjadinya ileus:  Trauma abdomen  Pembedahan perut (laparatomy)  Serum elektrolit abnormalitas 1. Diduga. otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus.Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya obstruksi usus mekanik. Secara keseluruhan. Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam. tetapi mungkin juga terjadi setelah pembedahan retroperitoneal dan extra-abdominal. Meskipun ileus disebabkan banyak faktor. ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena memperpanjang rawat inap di rumah sakit. Fisiologisnya ileus kembali normal spontan dalam 2-3 hari. dan akan meningkatkan risiko komplikasi paru. Memang. Sering. ileus merupakan konsekuensi yang diharapkan dari pembedahan perut. setelah motilitas sigmoid kembali normal. Ileus juga meningkatkan katabolisme karena gizi buruk. Hipokalemia . Laparoskopi reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang lebih singkat daripada reseksi kolon ileus terbuka.

Pankreatitis f. Hipomagnesemia 4. Mesenterika emboli. Pneumonia b. Rongga perut a. Hiponatremia 3. Perforasi ulkus duodenum  Iskemia usus 1. inflamasi atau iritasi (empedu. Lower lobus tulang rusuk patah c. trombosis iskemia  Cedera tulang . Hipermagensemia  Infeksi. Nefrolisiasis d. Kolesistitis e. darah) 1. Radang usus buntu b.2. Intrapelvic (misalnya penyakit radang panggul ) 3. Infark miokard 2. Divertikulitis c. Intrathorak a.

. Obat Anticholinergic L. perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal. Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik akan menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastrointestinal. Jadi. menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. ujung seratnya mensekresikan suatu transmitter inhibitor.1. Fenotiazin 3. Patah tulang rusuk 2. dan (2) pada tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf enterik. namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis bersifat eksitatorik. dimana ia merangsangnya). Vertebral Retak (misalnya kompresi lumbalis Retak )  Pengobatan 1. Patofisiologi Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal. Clozapine 5. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung norepineprin pada otot polos (kecuali muskularis mukosa. beberapa neuron bersifat inhibitorik. Diltiazem atau verapamil 4. Narkotika 2. kemungkinan peptide intestinal vasoaktif dan beberapa peptide lainnya.

Pasca operasi. empiema. Refleks inhibisi dari saraf efferent: menghambat pelepasan neurotransmitter asetilkolin. antikolinergik. e. Gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia). b. Secara anatomis. Metabolik. refleks pendek yang melibatkan ganglia prevertebral. sklerosis multiple c. Obat-obatan. Kolesistokinin mempunyai efek yang kuat dalam meningkatkan kontraktilitas kandung empedu. Refleks panjang yang paling signifikan. jadi mengeluarkan empedu kedalam usus halus dimana empedu kemudian memainkan peranan penting dalam mengemulsikan substansi lemak sehingga mudah dicerna dan diabsorpsi. kerusakan medulla spinalis. peritonitis.(8)  Hormonal Kolesistokinin. Kolesistokinin juga menghambat motilitas lambung secara sedang. pankreatitis. 3 refleks berbeda yang terlibat: ultrashort refleks terbatas pada dinding usus. keracunan timbal. komplikasi DM. iritasi persarafan splanknikus. penyakit sistemik seperti SLE. Iskemia Usus. dan refleks panjang melibatkan sumsum tulang belakang. antihistamin. ileus pasca operasi dimediasi melalui aktivasi hambat busur refleks tulang belakang. asam lemak dan monogliserida di dalam usus. Oleh karena itu disaat . katekolamin.  Neurogenik .Menurut beberapa hipotesis. Respon stres bedah mengarah ke generasi sistemik endokrin dan mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus. fenotiazin. d. Pneumonia. Neurogenik. infeksi sistemik berat lainnya. Narkotik. Penyakit/ keadaan yang menimbulkan ileus paralitik dapat diklasifikasikan seperti yang tercantum dibawah ini: Kausa Ileus Paralitik a. Infeksi/ inflamasi. disekresi oleh sel I dalam mukosa duodenum dan jejunum terutama sebagai respons terhadap adanya pemecahan produk lemak. uremia. kolik ureter.Refleks inhibisi dari saraf afferent: incisi pada kulit dan usus pada - operasi abdominal.

Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. mungkin pula tidak ada. Pada palpasi. Sangat umum. pasien hanya menyatakan perasaan tidak enak pada . perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali.Opioid: efek inhibitor. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen. mual dan obstipasi. hormon ini juga menghambat pengosongan makanan dari lambung untuk memberi waktu yang adekuat supaya terjadi pencernaan lemak di traktus gastrointestinal bagian atas. Muntah mungkin ada.Makrofag: melepaskan proinflammatory cytokines (NO). Manifestasi Klinik Ileus adinamik (ileus inhibisi) ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang disebabkan oleh penghambatan neuromuscular dengan aktifitas simpatik yang berlebihan. Selain itu. .prostaglandin inhibisi kontraksi otot polos usus. tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal. gerakan usus akan kembali normal pada: usus kecil 24 jam.  Farmakologi Opioid menurunkan aktivitas dari neuron eksitatorik dan inhibisi dari pleksus mienterikus. opioid juga meningkatkan tonus otot polos usus dan menghambat gerak peristaltik terkoordianasi yang diperlukan untuk gerakan propulsi.bersamaan dimana hormon ini menyebabkan pengosongan kandung empedu. Hormon lainnya seperti sekretin dan peptide penghambat asam lambung juga memiliki fungsi yang sama seperti kolesistokinin namun sekretin berperan sebagai respons dari getah asam lambung dan petida penghambat asam lambung sebagai respons terhadap asam lemak dan asam amino. anoreksia. terjadi setelah semua prosedur abdomen.  Inflamasi . M. Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung ( abdominal distention). . kolon 3-5 hari. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung. blockade excitatory neurons yang mempersarafi otot polos usus. lambung 48 jam.

manifestasi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis. hernia dan massa abdomen. yang mencakup ‘defence muscular’ involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal untuk mengetahui - penyebab ileus. Pemeriksaan fisik - Inspeksi Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi. - Pada pasien yang kurus tidak terlihat gerakan peristaltik. Perkusi Hipertimpani Auskultasi Bising usus lemah atau tidak ada sama sekali (silent abdomen) dan borborigmi Pemeriksaan penunjang . N. yang mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Palpasi Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan. Pasien kadang juga mengeluhkan tidak bisa BAB ataupun flatus. rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri.perutnya. Apabila penyakit primernya peritonitis. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar. parut abdomen. rasa mual dan dapat disertai muntah. Anamnesa Pada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus. Diagnosa Pada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). Pada abdomen harus dilihat adanya distensi.

Pemberian cairan. usus halus dan usus besar. glukosa darah dan amylase. Pada ileus paralitik akan ditemukan distensi lambung. Pemeriksaan yang penting untuk dimintakan adalah leukosit darah. Beberapa obat-obatan jenis penyekat simpatik (simpatolitik) atau parasimpatomimetik pernah dicoba. Apabila dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan. Air fluid level ditemukan berupa suatu gambaran line up (segaris). Untuk dekompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik (bila perlu dipasang juga rectal tube). mengobati kausa dan penyakit primer dan pemberiaan nutrisi yang adekuat. Hal ini berbeda dengan air fluid level pada ileus obstruktif yang memberikan gambaran stepladder (seperti anak tangga). Beberapa obat yang dapat dicoba yaitu metoklopramid bermanfaat untuk gastroparesis. ureum. 1.  Penderita dipuasakan . koreksi gangguan elektrolit dan nutrisi parenteral hendaknya diberikan sesuai dengan kebutuhan dan prinsipprinsip pemberian nutrisi parenteral. Konservatif  Penderita dirawat di rumah sakit. Penatalaksanaan Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. dan klonidin dilaporkan bermanfaat untuk mengatasi ileus paralitik karena obat-obatan.Pemeriksaan laboratorium mungkin dapat membantu mencari kausa penyakit. Prognosis biasanya baik. dapat dilakukan foto abdomen dengan mempergunakan kontras. menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Tindakannya berupa dekompresi. Neostigmin juga efektif dalam kasus ileus kolon yang tidak berespon setelah pengobatan konservatif. keberhasilan dekompresi kolon dari ileus telah dicapai oleh kolonoskopi berulang. sisaprid bermanfaat untuk ileus paralitik pascaoperasi. kadar elektrolit. Foto polos abdomen sangat membantu untuk menegakkan diagnosis. O. ternyata hasilnya tidak konsisten.

2.  Analgesik apabila nyeri. kolostomi. cisapride  Parasimpatis stimulasi: bethanecol.  Intravenous fluids and electrolyte  Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.  Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder atau rupture usus. neostigmin  Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagonis 3. Farmakologis  Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.  Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi. breathing and circulation.  Dekompresi dengan nasogastric tube.  Pintas usus : ileostomi.  Prokinetik: Metaklopromide. Operatif  Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan peritonitis. Kontrol status airway.  Reseksi usus dengan anastomosis .

miopati viseral. namun pasien bisa juga mempunyai gejala mirip obstruksi. Namun. semua hal ini bermanifestai klinik sebagai obstruksi usus kecil. Pseudo-obstruksi ini jelas terbatas pada usus besar saja. Bentuk kronis dari pseudo-obstruksi melibatkan dismotilitas baik dari usus besar dan kecil. itu terjadi didefinisikan karena tidak adanya gangguan mekanik. Seperti ileus. Agen farmakologis. atau neuropati. Diagnosis banding Masalah lain yang perlu dipertimbangkan Umum untuk ileus adalah pseudo-obstruksi. sepsis. dan obstruksi usus mekanik. Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi. Radiografi dari . ditanda dengan distensii dari usus besar. yang biasanya terjadi pada pasien yang terbaring lama di tempat tidur dengan gambaran penyakit ekstraintestinal serius atau pada pasien trauma. Pemeriksaan fisik biasanya menunjukkan tanda perut kembung tanpa rasa sakit. Beberapa teks dan artikel cenderung menggunakan ileus sinonim dengan pseudo-obstruksi. juga disebut sebagai sindrom Ogilvie. kedua kondisi itu adalah hal yang berbeda. sedangkan ileus melibatkan baik usus kecil dan usus besar. Kondisi kronis pada pseudo-obstruksi usus juga diamati pada pasien dengan penyakit kolagen-vaskular. dan perbedaan elektrolit juga dapat berkontribusi untuk kondisi ini. aerophagia. Usus besar kanan terlibat dalam klasik pseudo-obstruksi. Pseudo-obstruction Pseudo-obstruksi Pseudo-obstruksi didefinisikan sebagai penyakit akut. P. Dismotilitas ini disebabkan hilangnya kompleks motorik yang berpindah dan bakteri berlebih.

terutama kolon kanan dan sekum. Dekompresi melalui kolonoskopi cukup efektif dalam mengurangi pseudoobstruksi. menghasilkan perbaikan pseudo-obstruksi dalam waktu 10-30 menit. Pemeriksaan fisik ditemukan borborygmi bertepatan . intususepsi .5 mg dari neostigmine diinfuskan perlahan-lahan selama 3 menit dengan pengawasan jantung untuk mengamati efek bradikardi. dan pencitraan kontras membedakan ini dari obstruksi mekanik. terutama jika diameter caecum melebihi 12 cm. pemasangan NGT dan rectal tube. Ogilvie pseudo-obstruksi pada pasien dengan infeksi . Dosis 2. benda asing. Neostigmine intravena mungkin juga efektif. Perhatikan besar dilatasi kolon. Jika terjadi bradikardia. Laparotomi dan reseksi usus untuk peritonitis dan iskemia merupakan jalan terakhir. Tingkat kematian untuk pseudo-obstruksi adalah 50% jika pasien berkembang menjadi nekrosis iskemik dan perforasi. Distensi kolon dapat mengakibatkan perforasi caecum. koreksi ketidakseimbangan elektrolit. dan penghentian obat yang menghambat motilitas usus. Obstruksi Mekanik Obstruksi mekanik usus dapat disebabkan oleh adhesi.foto polos abdomen mengungkapkan adanya keadaan yang terisolasi. Pasien datang dengan nyeri kram perut berat yang paroksismal. dilatasi usus proksimal yang membesar. volvulus . hernia. atropin harus diberikan. Perawatan awal meliputi hidrasi. seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. atau neoplasma.

denting suara bersamaan dengan aliran peristaltic. Jika obstruksi total. Pada pasien yang kurus.dengan kram perut. . konstipasi. Perhatikan tidak adanya gas usus sepanjang usus besar Tabel berikut menyajikan perbedaan antara ileus. pseudo-obstruksi. Obstruksi mekanik usus disebabkan oleh karsinoma kolon kiri. Tanda peritoneal terlihat nyata jika pasien mengalami strangulasi dan perforasi. dan obstruksi mekanis. Muntah mungkin terjadi tapi bisa juga tidak jika katup ileocecal kompeten dalam mencegah refluks. nyeri kram perut. Menegakkan diagnosis dari obstruksi usus mekanik dapat dibantu dengan pencitraan endoskopi menggunakan kontras. dan Mekanik Sumbatan. Tabel. Karakteristik ileus. konstipasi. gelombang peristaltik dapat divisualisasikan. Pseudo-obstruksi. Mekanikal Obstruksi nyeri kram perut. Ileus Gejala sakit Pseudo-obstruksi perut. pasien mengeluhkan tidak bisa BAB. Dengan auskultasi dapat terdengar suara bernada tinggi.

Pemeriksaan abdomen. mual. mual. peristaltik. berkurangnya gas kolon besar. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus Macam Nyeri Usus ileus Distens Muntah i borborigm Bising usus Keteganga n abdomen i Obstruksi ++ + +++ Meningkat - +++ + Meningkat - Tak tentu + simple tinggi (kolik) Obstruksi +++ simple rendah (Kolik) Lambat. nyeri terlokalisasi yang Bow-shaped loops in ladder dan terlokalisir. nyeri terlokalisasi Gambaran dilatasi usus dilatasi Radiografi kecil timpani. usus besar timpani. timpani distensi. distensi. diafragma air fluid level.kembung. muntah. diafragma meninggi pattern. obstipasi. gelombang peristaltik. obstipasi. di distal. Temuan konstipasi Silent Borborygmi. anoreksia muntah. diafragma agak tinggi. fekal Obstruksi bising ++++ ++ +++ . anoreksia mual. bising gelombang Fisik kembung. meninggi Tabel. muntah. usus hiperaktif atau hipoaktif. Borborygmi. usus hiperaktif ayau hipoaktif.

strangulasi (terus- biasanya menerus. operasi menjadi perlu untuk menghapus jaringan nekrotik. . Prognosis Prognosis dari ileus bervariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri. kondisi ini biasanya bersifat sementara dan berlangsung sekitar 24-72 jam. Bila penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih baik. meningkat terlokalisir) Paralitik + ++++ + Menurun - Oklusi +++++ +++ +++ Menurun + vaskuler Q. Bila ileus hasil dari operasi perut. Prognosis memburuk pada kasus-kasus tetentu dimana kematian jaringan usus terjadi.