Anda di halaman 1dari 34

Buku Digital

Buku Digital

Ilmu Penyakit Telinga, Hidung Dan Tenggorokan

Buku Digital Ilmu Penyakit Telinga, Hidung Dan Tenggorokan Sumber : klikdokter.com CHM file by : dr

Sumber : klikdokter.com CHM file by : dr Abdul Rochman

Benda Asing Pada Esofagus

Benda Asing Pada Esofagus

DEFINISI Benda asing esophagus adalah benda baik tajam atau tumpul baik berupa zat organik maupun zat anorganik yang terjepit di esophagus karena tertelan baik disengaja maupun tidak disengaja.

FAKTOR PREDISPOSISI Lebih sering terjadi pada anak-anak karena, belum tumbuhnya gigi molar anak-anak, koordinasi menelan yang belum sempurna pada usia 6 bulan hingga 1 tahun, retardasi mental sehingga tidak mengerti benda-benda yang seharusnya tidak ditelan, gangguan pertumbuhan dan penyakit- penyakit neurologi lainnya yang mendasari. Jika terjadi pada orang dewasa hal ini disebabkan oleh penyakit-penyakit penyerta pada esophagus yang dapat menyebabkan gangguan menelan yang lama. Cara mengunyah yang salah jika menggunakan gigi palsu atau pemasangan gigi palsu yang kurang baik, dalam keadaan mabuk atau kurangnya kesadaran diri. GEJALA KLINIS Gejala sumbatan tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya, komplikasi yang timbul, dan lama tertelan. Mula-mula akan timbul rasa nyeri di daerah tenggorokan, kemudian timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri punggung. Terdapat rasa tercekik, rasa tersumbat di tenggorok, batuk, muntah, sulit menelan, berat badan menurun, demam, sering muntah dan gangguan pernafasan. Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan foto polos dada dari depan dan samping, pemeriksaan ini harus dilakukan pada setiap pasien yang dicurigai tertelan benda asing, pada keadaan tertentu beberapa benda asing akan terlihat sangat nyata pada pemeriksaan ini, bila benda asing sudah diketahui lokasinya maka pengobatan dapat lebih mudah. Untuk benda-benda yang tidak dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos, maka dapat dilakukan esofagogram, CT scan atau MRI, dan endofagoskopi (dapat bersifat diagnostik maupun Terapi) TATALAKSANA Pasien dirujuk ke rumah sakit untuk dilakukan ekstraksi benda asing. Pada anak-anak harus dicurigai benda asing tersangkut di daerah perbatasan antara saluran pencernaan dan saluran pernafasan. Harus diperhatikan jika terdapat benda asing pada anak-anak sangat dianjurkan bagi anak-anak dan orang tua supaya tidak banyak bergerak, untuk mencegah pergeseran benda asing sehingga dapat menutup total saluran pernafasan yang dapat menyebabkan kematian.

Disfagia

Disfagia

SULIT MENELAN (DISFAGIA)

DEFINISI Sulit menelan merupakan suatu gejala atau keluhan yang diakibatkan adanya kelainan di dalam saluran pencernaan yang paling atas, yakni orofaring dan esophagus. Keluhan ini akan bermanifestasi bila terdapat gangguan gerakan-gerakan pada otot menelan dan gangguan transportasi makanan dari mulut ke lambung. Beberapa keluhan lain yang dapat menyertai keluhan sulit menelan adalah nyeri waktu menelan ( odinofagia), rasa terbakar di leher hingga dada, rasa mual dan muntah, muntah darah (hematemesis), berak berdarah (melena) batuk dan berat badan berkurang Berdasarkan penyebabnya, disfagia dibagi menjadi tiga bagian

Disfagia mekanik, sumbatan rongga esophagus oleh massa, peradangan, penyempitan, atau penekanan dari luar.

Disfagia motorik, adanya kelainan pada system saraf yang berperan dalam proses menelan

Disfagia karena gangguan emosi PATOGENESIS / ETIOLOGI Proses menelan merupakan suatu sistem yang kompleks, adanya gangguan pada salah satu unsur menelan dapat menyebabkan gangguan menelan, gangguan kordinasi dan juga integrasi pada unsur-unsur tersebut juga dapat menyebabkan gangguan menelan. Berbagai faktor yang membantu proses menelan :

Ukuran makanan yang ditelan

Diameter rongga esofagus

Kontraksi peristaltic esofagus

Fungsi sphincter esophagus

Kerja otot-otot rongga mulut dan lidah GEJALA KLINIS Dari riwayat penyakit dapat didapatkan beberapa informasi yang dapat membantu penegakan diagnosis, jenis makanan dapat menjelaskan jenis disfagia yang terjadi. Pada disfagia mekanik, sulit menelan terjadi pada makanan-makanan yang padat, makanan tersebut kadang perlu dibantu dengan air untuk menelan, bila keadaan ini terjadi semakin parah, perlu dicurigai adanya keganasan atau kanker. Sebaliknya pada disfagia motorik keluhan sulit menelan terjadi pada makanan padat dan makanan cair. Disfagia yang hilang dalam beberapa hari atau seminggu dapat disebabkan oleh peradangan pada rongga esophagus. Dari pemeriksaan fisik dapat dilihat adanya massa pada leher atau pembesaran kelenjar limfa yang dapat menekan esophagus. Pada pemeriksaan rongga mulut, dapat dilihat adanya peradangan atau pembesaran tonsil (amandel).

Disfagia

Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah foto polos esofatus dengan zat kontras. Pemeriksaan ini tidak merusak dan tidak merusak. Pemeriksaan yang lain adalah CT-scan, MRI atau esofagoskopi. Pemeriksaan esofagoskopi adalah pemeriksaan yang melihat langsung esophagus dan keadaan rongganya. PENATALAKSANAAN Terapi terbaik untuk Disfagia adalah terapi langsung pada penyebab disfagia itu sendiri, dapat diberikan obat seperti pada gangguan disfagia akibat radang pada esophagus. Pada gangguan menelan akibat massa yang menekan biasanya digunakan terapi bedah.

Epitaksis / Perdarahan Hidung

Epitaksis / Perdarahan Hidung

Defenisi Perdarahan dari hidung. Sering ditemukan sehari-hari, hampir sebagian besar dapat berhenti sendiri. Harus diingat epitaksis bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari suatu kelainan. Etiologi Seringkali epitaksis timbul spontan tanpa dapat ditelusuri penyebabnya, tetapi terkadang epitaksis ditimbulkan oleh trauma. Berbagai penyebab epitaksis dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu lokal dan sistemik. Penyebab lokal yang tersering adalah Trauma, infeksi, neoplasma dan kelainan kongenital. Penyebab lainnya adalah kelainan sitemik, seperti penyakit jantung, kelainan darah, infeksi, perubahan tekanan atmosfer dan gangguan endokrin.

Trauma Perdarahan hidung dapat terjadi setelah trauma ringan, misalnya mengeluarkan ingus secara tiba- tiba dan kuat, mengorek hidung, dan trauma yang hebat seperti terpukul, jatuh atau kecelakaan. Selain itu juga dapat disebabkan oleh iritasi gas yang merangsang, benda asing di hidung dan trauma pada pembedahan.

Infeksi Infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rhinitis atau sinusitis juga dapat menyebabkan perdarahan hidung.

Neoplasma Hemangioma dan karsinoma adalah yang paling sering menimbulkan gejala epitaksis.

Kongenital Penyakit turunan yang dapat menyebabkan epitaksis adalah telengiaktasis hemoragik herediter

Penyakit kardiovaskular Hipertensi dan kelainan pada pembuluh darah di hidung seperti arteriosklerosis, sirosis, sifilis dan penyakit gula dapat menyebabkan terjadinya epitaksis karena pecahnya pembuluh darah.

Kelainan Darah Trombositopenia, hemophilia, dan leukemia

Infeksi sistemik Demam berdarah, Demam tifoid, influenza dan sakit morbili

Perubahan tekanan atmosfer

Epitaksis / Perdarahan Hidung

Caisson disease (pada penyelam) Gejala dan Tanda Perdarahan dari hidung, gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang bersangkutan.

Epitaksis berat, walaupun jarang merupakan kegawatdaruratan yang dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal jika tidak cepat ditolong. Sumber perdarahan dapat berasal dari depan hidung maupun belakang hidung. Epitaksis anterior (depan) dapat berasal dari pleksus kiesselbach atau dari a. etmoid anterior. Pleksus kieselbach ini sering menjadi sumber epitaksis terutama pada anak-anak dan biasanya dapat sembuh sendiri. Epitaksis posterior (belakang) dapat berasal dari a. sfenopalatina dan a etmoid posterior. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti sendiri. Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit jantung. Beberapa pemeriksaan yang diperlukan adalah Pemeriksaan darah Lengkap dan Fungsi Hemostasis Penatalaksanaan Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epitaksis adalah

Menghentikan perdarahan

Mencegah komplikasi yang timbul akibat perdarahan seperti syok atau infeksi

Mencegah berulangnya epitaksis Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri. Menghentikan perdarahan Menghentikan perdarahan secara aktif dengan menggunakan kaustik atau tampon jauh lebih efektif daripada dengan pemberian obat-obat hemostatik dan menunggu darah berhenti dengan sendirinya. Jika pasien datang dengan perdarahan maka pasien sebaiknay diperiksa dalam keadaan duduk, jika terlalu lemah pasien dibaringkan dengan meletakan bantal di belakang punggung pasien. Sumber perdarahan dicari dengna bantuan alat penghisap untuk membersihkan hidung dari bekuan darah , kemudian dengan menggunakan tampon kapas yang dibasahi dengan adrenalin 1/ 10000 atau lidokain 2 % dimasukan ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan atau mengurangi nyeri, dapat dibiarkan selama 3 -5 menit

Perdarahan Anterior Dapat menggunakan alat kaustik nitras argenti 20-30% atau asam triklorasetat 10% atau dengan elektrokauter. Bila perdarahan masih berlangsung maka dapat digunakan tampon anterior (kapas dibentuk dan dibasahi dengan adrenalin +Vaseline) tampon ini dapat digunakan sampai 1-2 hari.

Perdarahan Posterior Perdarahan biasanya lebih hebat dan lebih sukar dicari, dapat dilihat dengan menggunakan

Epitaksis / Perdarahan Hidung

pemeriksaan rhinoskopi posterior. Untuk mengurangi perdarahan dapat digunakan tampon Beelloqk Mencegah komplikasi, sebagai akibat dari perdarahan yang berlebihan, dapat terjadi syok atau anemia, turunya tekanan darah yang mendadak dapat menimbulkan infark serebri, insufisiensi koroner, atau infark miokard, sehingga dapat menyebabkan kematian. Dalam hal ini harus segera diberi pemasangan infus untuk membantu cairan masuk lebih cepat. Pemberian antibiotika juga dapat membantu mencegah timbulnya sinusitis, otitis media akibat pemasangan tampon.

Esofagitis Kronis

Esofagitis Kronis

DEFINISI Esofagitis kronis aalah peradangan di esophagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat kimia yang bersifat korosif, misalnya berupa asam kuat, basa kuat dan zat organik. Contoh- contoh yang telah disebutkan diatas dapat merusak esofagus jika diminum atau ditelan, dan bila diserap oleh darah hanya akan menyebabkan keracunan saja. PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI Zat-zat kimia berupa asam kuat maupun basa kuat dapat menyebabkan kematian sel pada permukaan yang dilaluinya, pada kerusakan oleh basa kuat akan menyebabkan sel sel mati dan mencair, tetapi pada kerusakan oleh asam kuat akan menyebabkan kematian sel yang menggumpal. Pada kerusakan yang disebabkan oleh asam kuat, maka kerusakan akan dialami lebih berat pada lambung, hal ini disebabkan oleh asam lambung yang turut memperberat kerusakan sel-sel pada mukosa, tetapi pada basa kuat yang terjadi adalah sebaliknya, kerusakan lebih berat pada esophagus. GEJALA KLINIS Gejala dan keluhan yang timbul tergantung dari jenis, konsentrasi, jumlah zat korosif, lama kontak dengan zat korosif, dan apakah zat kembali dimuntahkan atau tidak. Jika dibagi berdasarkan beratnya luka yang dialami oleh permukaan saluran maka dibagi atas :

Esofagitis Korosif tanpa ulserasi, gejala gangguan menelan ringan dan pada pemeriksaan esofagoskopi tampak permukaan kemerahan tanpa disertai luka

Esofagitis Korosif dengan ulserasi ringan, keluhan gangguan menelan yang ringan dan pada pemeriksaan esofagoskopi dapat dilihat luka yang tidak dalam, hanya sebatas permukaan

Esofagitis Korosif dengan ulserasi sedang, luka sudah mengenai lapisan otot biasanya ditemukan lebih dari satu

Esofagitis Korosif dengan ulserasi berat tanpa komplikasi, terdapat pengelupasan permukaan dan kematian sel yang dalam, mengenai hampir seluruh bagian esophagus.

Esofagitis Korosif dengan ulserasi berat dengan komplikasi, komplikasi berupa peradangan pada jaringan perut. Komplikasi yang mungkin terjadi : Syok, Koma, Edema laring, peradangan paru dengan aspirasi, luka tembus pada esophagus, dan kematian

Esofagitis Kronis

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah, Pemeriksaan foto dada untuk melihat apakah ada peradangan di tempat lain dan peradangan pada paru, pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat seberapa parah kerusakan pada esophagus. TATALAKSANA Pada fase akut dilakukan perawatan umum berupa perbaikan keadaan umum pasien dan menjaga keseimbangan elektrolit dan jalan napas, jika kejadian terjadi sebelum 6 jam dapat diberikan netralisasi dengan menggunaakan air susu atau air jeruk untuk basa kuat dan antasida untuk asam kuat. Untuk mencegah pengecilan saluran esophagus dapat dibantu dengan menggunakan pipa hidung lambung.

Faringitis Akut

Faringitis Akut

DEFINISI Infeksi atau iritasi pada saluran faring atau tonsil (amandel) yang biasanya disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridians, dan streptococcus pyogenes adalah penyebab terbanyak. Dapat juga disebabkan oleh virus.

EPIDEMIOLOGI Angka kejadian pada anak anak, rata-rata terdapat 5 kali infeksi saluran pernafasan bagian atas dan pada orang dewasa hampir separuhnya. Biasanya disebabkan oleh bakteri streptococcus dan virus adalah adenovirus atau rhinovirus. PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI Penularan dapat terjadi melalu udara maupun sentuhan, biasanya terjadi jika droplet dibatukan atau dibersinkan dari penderita ke orang sehat, atau bisa juga terjadi jika droplet ditularkan melalui. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. GEJALA KLINIS Suhu tubuh meningkat hingga 40 derajat (demam), rasa gatal atau sakit di tenggorokan dirasakan karena inflamasi akibat peradangan atau infeksi. Setelah bakteri atau virus mencapai sistemik maka gejala-gejala sistemik akan muncul, seperti lesu dan lemah, nyeri pada sendi-sendi otot, tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Pada gejala local dapat dilihat faring merah dan tonsil membengkak, terdapat nyeri tekan pada leher dan jika pembengkakan mencapai laring dapat disertai dengan gangguan suara atau suara serak. ika dibutuhkan dapat dilakukan kultur dan uji resistensi pada pemeriksaan tambahan TATALAKSANA Dapat diberikan antibiotic golongan penisilin atau sulfomida selama 5 hari, penurun panas, obat kumur dan obat hisap untuk meredakan gejala local. Bila alergi pada penisilin dapat diberikan antibiotic eritromisin. Untuk menhindari iritasi lebih lanjut pada saluran faring dan laring, pada pasien dapat dianjurkan untuk mengurangi makanan yang berminyak dan panas. Pada pasien juga dianjurkan untuk istirahat sebanyak mungkin agar metabolism lebih dikhususkan untuk memperbaiki daya tahan tubuh. Jika demam tidak turun dengan pemberian obat dapat dibantu dengan menggunakan kompres dan intake cairan yang cukup (air putih).

Gangguan Bernafas di saat Tidur

Gangguan Bernafas di saat Tidur

Obstructive sleep apnea

Defenisi Obstructive sleep apnea adalah gangguan pernafasan di saat tidur yang melibatkan penurunan sebagian atau seluruhnya aliran udara dalam siklus pernafasan.

Epidemiologi Terjadi kepada hampir 4 % pria dan 2 % wanita, sekitar 24 % pria dan wanita mengalami Obstructive sleep apnea tetapi tidak mengalami gangguan mengantuk pada siang hari. Sekitar lebih dari 80% penderita Obstructive sleep apnea tidak terdiagnosis. Dan sekitar 2 persen terdapat pada anak-anak pre sekolah.

Etiologi Obstructive sleep apnea terjadi disaat otot-otot pernafasan dalam keadaan relaksasi di saat tidur, mengakibatkan jaringan-jaringan di belakang tenggorokan menjadi jatuh dan menghambat jalur pernafasan bagian atas. Jika hal ini terjadi, maka terjadi pengurangan sebagian (hipopneu) atau penuh (apneu) dalam sirkulasi pernafasan yang dapat terjadi minimal selama 10 detik selama periode tidur. Biasanya hal ini terjadi antara 10 30 detik, tetapi dapat juga berlangsung hingga 1 menit atau lebih lama. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan saturasi oksigen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dan otak sebesar lebih dari 40 % area.

Jika Otak sampai terjadi kekurangan oksigen, maka akan dikirimkan sinyal-sinyal ke tubuh untuk mengembalikan sirkulasi normal, hal ini berakibatkan pada gangguan pada siklus tidur, sehingga pada siang harinya penderita akan Nampak sering mengantuk.

Kelompok beresiko tinggi :

Kelompok overweigth dan obesitas

Penderita yang memiliki Leher yang besar > 16 inch

Penderita yang memiliki kelainan autonomi di leher dan kepala

Sindrom down

Penderita dengan amandel dan kelenjar limfe yang besar

Salah satu keluarga menderita OSA. Gejala

Gangguan Bernafas di saat Tidur

Siklus tidur yang sering terganggu atau terbangun pada malam hari.

Mengantuk yang berat saat siang hari

Sakit kepala pada pagi hari

Peningkatan frekeunsi nadi

Gangguan konsentrasi

Emosi yang labil Tatalaksana Untuk mendiagnosa OSA sebaiknya dilakukan pemeriksaan polysomnogram didalam sentra- sentra (sleep centre). Beberapa tatalaksana yang dapat digunakan untuk penderita OSA:

Continuous positive airway pressure (CPAP) , merupakan terapi standar untuk penderita dengan OSA menengah hingga berat. CPAP menyediakan aliran udara yang konstan ke dalam sirkulasi pernafasan kita di saat tidur, hal ini mencegah penurunan saturasi oksige.

Penggunaan alat di mulut, dengan alat yang telah disediakan maka saluran pernafasan bagian atas dipertahankan posisinya sebaik mungkin untuk siklus pernafasan yang baik, alat-alat ini harus disesuaikan dan diukur oleh tenaga ahli kesehatan yang berwenang (dokter gigi, dokter)

Terapi diet untuk mengurangi berat badan.

Pembedahan, jalan terakhir jika cara-cara diatas tidak ada yang berhasil.

Kanker Nasofaring

Kanker Nasofaring

KANKER NASOFARING (Karsinoma Nasofaring) DEFINISI Tumor ganas pada Nasofaring. Kanker nasofaring merupakan keganasan pada leher dan kepala yang terbanyak ditemukan di Indonesia (60 persen). Untuk mendiagnosis secara dini sangatlah sulit, karena tumor ini baru menimbulkan gejala pada stadium-stadium akhir. Gejala-gejala pada stadium awal penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit lainnya. Dimana letak dari tumor ini tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di dasar tengkorak, dan sukar sekali dilihat jika bukan dengan ahlinya. Presentase untuk bertahan hidup dalam 5 tahun juga terlihat mencolok, hal ini dilihat dari stadium I (76 %), stadium II (50 %), stadium III (38 %) dan stadium lanjut atau IV (16,4%). EPIDEMIOLOGI Penyakit ini banyak ditemukan pada ras cina terutama yang tinggal di daerah selatan. Ras mongloid merupakan faktor dominan dalam munculnya kanker nasofaring, sehingga sering timbul di Negara-negara asia bagian selatan. Penyakit ini juga ditemukan pada orang-orang yang hidup di daerah iklim dingin, hal ini diduga karena penggunaan pengawet nitrosamine pada makanan-makanan yang mereka simpan. PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI Sudah hampir dipastikan bahwa penyebab dari kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar antivirus Virus Epstein Barr didapatkan cukup tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi adalah letak geografis yang sudah disebutkan diatas, penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki walaupun alasannya belum dapat dibuktikan hingga saat ini. Faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet, masakan yang terlalu panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan seperti orang Eskimo yang mengawetkan ikannya dengan menggunakan nitrosamine. Tentang faktor keturunan sudah banyak diteliti tetapi hingga sekarang belum dapat ditarik kesimpulan. Satu hal lagi yang penting diketahui adalah bahwa penyakit ini seringkali menyerang masyarakat dengan golongan sosial yang rendah, hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan dan lingkungan hidup di sekitar orang- orang tersebut GEJALA KLINIS Gejala klinis karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu,

Gejala nasofaring, gejala ini dapat berupa perdarahan melalui hidung yang ringan hingga berat, atau sumbatan pada hidung

Gejala Telinga, ini merupakan gejala dini yang timbul karena asal tumor dekat sekali dengan muara tuba eustachius, sehingga pembesaran sedikit pada tumor akan menyebabkan tersumbatnya saluran ini dan menimbulkan gejala pada telinga seperti, telinga nyeri, telinga berdenging, rasa tidak nyaman.

Kanker Nasofaring

Gejala Mata, pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di otak salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda.

Gejala di leher, Metastasis, gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker nasofaring berupa pembesaran atau benjolan di leher. Untuk pemeriksaan tambahan, sejak ditemukan CT-scan sangat membantu dalam diagnosis tumor-tumor di daerah kepala dan leher sehingga tumor primer yang terletak di belakang dan tersembunyi dapat ditemukan. Pemeriksaan lain seperti serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA di Indonesia telah menunjukan kemajuan dalam medeteksi karsinoma. Untuk diagnosis pasti Karsinoma Nasofaring ditegakan dengan melakukan biopsy nasofaring. Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan dari mulut. 3 bentuk tersering dari karsinoma nasofaring adalah karsinoma sel squamosa, karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma tidak berdiferensiasi. PENATALAKSANAAN Radioterapi hingga sekarang masih merupakan terapi utama dan pengobatan tambahan yang dapat diberikan berupa bedah diseksi leher, pemberian tetrasiklin, interferon, kemoterapi, dan vaksin antivirus. Perhatian terhadap efek samping dari pemberian radioterapi seperti, mulut terasa kering, jamur pada mulut, rasa kaku di leher, sakit kepala, mual dan muntah kadang-kadang dapat timbul. Oleh karena itu dapat dianjurkan pada penderita untuk membawa air minum dalam aktivitas dan berusaha menjaga kebersihan pada mulut dan gigi. Pemberian vaksin pada penduduk dengan resiko tinggi dapat dilakukan untuk mengurangi angka kejadian penyakit ini pada daerah tersebut

Mastoiditis

Mastoiditis

Definisi Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa yang sebelumnya telah menderita infeksi akut pada telinga tengah. Gejala-gejala awal yang timbul adalah gejala-gejala peradangan pada telinga tengah, seperti demam, nyeri pada telinga, hilangnya sensasi pendengaran, bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya) Epidemiologi Masih belum diketahui secara pasti , tetapi biasanya terjadi pada pasien-pasien muda dan pasien dengan gangguan system imu. Patofisiologi / Etiologi Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram negative dan streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae. Seperti semua penyakit infeksi, beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit adalah faktor tubuh penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding bakteri, pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit.

dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit. Gejala

Gejala

Mastoiditis

Dari keluhan penyakit didapatkan keluarnya cairan dari dalam telinga yang selama lebih dari tiga minggu, hal ini menandakan bahwa pada infeksi telinga tengah sudah melibatkan organ mastoid. Gejala demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga tengah sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Jika demam tetap dirasakan setelah pemberian antibiotik maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar. Rasa nyeri biasanya dirasakan dibagian belakang telinga dan dirasakan lebih parah pada malam hari, tetapi hal ini sulit didapatkan pada pasien-pasien yang masih bayi dan belum dapat berkomunikasi. Hilangnya pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi. Dari pemeriksaan fisik didapatkan

Kemerahan pada kompleks mastoid

Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir (warna bergantung dari bakteri)

Matinya jaringan keras (tulang, tulang rawan)

Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)

Proses peradangan yang tetap melebar ke bagian dan organ lainnya.

Riwayat infeksi pada telinga tengah sebelumnnya. Pemeriksaan penunjang yang dapat diminta adalah, pemeriksaan kultur mikrobiologi, pengukuran sel darah merah dan sel darah putih yang menandakan adanya infeksi, pemeriksaan cairan sumsum untuk menyingkirkan adanya penyebaran ke dalam ruangan di dalam kepala. Pemeriksaan lainnnya adalah CT-scan kepala, MRI-kepala dan foto polos kepala. Tatalaksana Pengobatan dengan obat-obatan seperti antibiotik, anti nyeri, anti peradangan dan lain-lainnya adalah lini pertama dalam pengobatan mastoiditis. Tetapi pemilihan anti bakteri harus tepat sesuai dengan hasil test kultur dan hasil resistensi. Pengobatan yang lebih invasif adalah pembedahan pada mastoid. Bedah yang dilakukan berupa bedah terbuka, hal ini dilakukan jika dengan pengobatan tidak dapat membantu mengembalikan ke fungsi yang normal.

Otitis Media Akut

Otitis Media Akut

Otitis Media Akut (peradangan akut telinga tengah) Definisi Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif, yang masing-masing memiliki bentuk yang cepat dan lambat. Otitis Media Akut, otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tiba- tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media, pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering. Epidemiologi Banyak terdapat pada anak-anak Patogenesis / Etiologi Beberapa bakteri tersering penyebab otitis media akut adalah bakteri-bakteri saluran pernafasan bagian atas seperti streptokokus, stafilokokus dan hemofilus influenza. Beberapa perubahan yang terjadi dalam proses terjadinya Otitis media akut

1. Stadium penyumbatan tuba eustachius, tanda yang khas pada stadium ini adalah penarikan membran timpani pada telinga ke arah dalam akibat tekanan negatif yang ditimbulkan oleh sumbatan

2. Stadium Hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timbani atau seluruh membran timpani.

3. Stadium Supurasi, bengkak yang hebat pada selaput permukaan telinga tengah dan hancurnya sel- sel di dalam telinga tengah menyebabkan cairan yang kental tertimbun di telinga tengah

4. Stadium Perforasi, pecahnya membrane timpani, dan keluar cairan putih

5. Stadium Resolusi, perlahan-lahan membrane timpani akan menyembuh jika robekan tidak terlalu lebar, tetapi jika robekan lebar, stadium perforasi dapat menetap dan berubah menjadi Otitis Media Supuratif Kronik.

Otitis Media Akut

Otitis Media Akut file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Otitis%20Media%20Akut.htm (2 of 3) [12/04/2010

Otitis Media Akut

Gejala Klinis / Diagnosis Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia anak anak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penih. Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit. Penatalaksanaan Penatalaksanaan Otitis Media Akut sangat bergantung pada stadiumnya, pada stadium oklusi pengobatan bertujuan untuk melebarkan kembali saluran eustachius, dengan pemberian obat tetes hidung berupa dekongestan, selain itu sumber infeksi harus segera diobati. Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, anti peradangan, dan anti nyeri. Pemilihan antibiotik lebih ditargetkan pada kuman-kuman yang sering menjadi penyebab. Pada stadium supurasi disamping pemberian antibiotik dapat dilakukan miringotomi yakni tindakan perobekan pada sebagian kecil membran timpani sehingga cairan yang kental dapat keluar sedikit-sedikit dan tidak menimbulkan lubang yang besar, sehingga membrane timpani tidak dapat menyembuh. Pada stadium perforasi dapat diberikan obat cuci telinga, dan antibiotik yang adekuat.

Papiloma Laring

Papiloma Laring

PAPILOMA LARING

Definisi Papiloma laring adalah tumor jinak yang sering dijumpai pada anak-anak, papiloma laring biasanya terletak di saluran nafas yang sering kali menimbulkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Dulu papiloma ini sering dikenal sebagai kutil di tenggorok pada abad ke 17. Papiloma merupakan tumor laring jinak pada anak tetapi juga sering ditemukan pada orang dewasa. papiloma laring sering mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke jaringan sekitarnya Epidemiologi Angka kejadian papiloma laring sering dijumpai anak-anak 80% pada usia kelompok usia di bawah 7 tahun. Patogenesis Etiologi papoiloma laring hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi dari penelitian diduga bahwa virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. Diduga adanya hubungan antar infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak, hal ini dibuktikan dengan adanya virus HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital, walaupun penemuan diatas menunjukan peran infeksi virus pada papiloma laring. Tetapi ada faktor lain yang berperan, mengingat papiloma ini dapat menghilang di saat pubertas. Teori lainnya yang dikemukakan adalah teori faktor hormonal dan beberapa faktor penyebab papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan hygene yang buruk. Infeksi saluran nafas kronik dan kelainan imunologis.

Papiloma Laring

Papiloma Laring Gejala Pada awalnya gejala-gejala yang ditemukan berupa gangguan fonasi berupa suara yang serak pada

Gejala Pada awalnya gejala-gejala yang ditemukan berupa gangguan fonasi berupa suara yang serak pada anak, gejala bisa lebih berat sehingga suara tangisan anak dapat terdengar abnormal hingga anak tidak dapat bersuara sama seakli. Bila papiloma sangat besar dapat menyebabkan gangguan pada system pernafasan yaitu batuk, sesak, ngorok saat menghirup nafas. Sumbatan pada saluran nafas dapat dibagi menjadi 4 bagian menurut criteria jakson

Jakson I ditandai dengan sesak, stridor (ngorok) inspirasi ringan, penarikan pada sela iga

Jakson II sesuai dengan gejala jakson I tetapi diperberat dengan retraksi supra dan infra klavikula, sianosis ringan dan pasien tampak gelisah.

Jakson III sesuai dengan gejala jakson II ditambah dengan retraksi interkostal, epigastrium

Papiloma Laring

dan sianosis lebih berat

Jakson IV, sesuai dengan gejala jakson III ditambah dengan wajah yang tegang dan terkadang gagal napas. Tatalaksana Beberapa penatalaksanaan dalam papiloma laring memiliki prinsip yang sama, yakni menghilangkan papiloma dan menghindari kejadian berulang , beberapa terapi yang dapat digunakan pada papiloma laring adalah.

Terapi bedah

Terapi medikamentosa Pemberian obat seperti anti virus , hormone, steroid, dan podofilin topikal

Imunologis Supportif dengan menggunakan interferon

Foto dinamik Menggunakan DHE sebagai agen yang menyebabkan toksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel tertentu

Perforasi Membran Timfani

Perforasi Membran Timfani

PERFORASI MEMBRAN TIMPANI

Definisi Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membrane timpani yang menyebabkan hilanggnya sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan sebelumnya yang diberikan. Epidemiologi Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari Negara tersebut. Etiologi Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah menyebar kedalam kepala sehingga menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

Perforasi Membran Timfani

Perforasi Membran Timfani Gejala Klinis Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah ●

Gejala Klinis Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah

Penurunan pendengaran

Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin

Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus

Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging)

Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran (swabach, webber, dan rinne) Tatalaksana Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak

Perforasi Membran Timfani

atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun komplikasi yang timbul.

Polip Hidung

Polip Hidung

DEFINISI Polip nasi atau polip hidung adalah kelainan selaput permukaan hidung berupa massa lunak yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Kelainan pada hidung biasanya timbul karena manifestasi dari penyakit yang lain dan tidak berdiri sendiri, penyakit ini sering dihubungkan dengan astma, rhinitis alergika, dan sinusitis, di luar negeri sendiri penyakit ini sering dihubungkan dengan seringnya penggunaan aspirin. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS Etiologi pasti hingga sekarang belum diketahui, tetapi terdapat 3 faktor penting yang berperan di dalam terjadinya polip, yaitu

1. Peradangan lama dan berulang pada selaput permukaan hidung dan sinus

2. Gangguan keseimbangan Vasomotor

3. Peningkatan tekanan cairan antar ruang sel dan bengkak selaput permukaan hidung

Fenomena bernouli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui celah yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya, sehingga jaringan yang lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga menyebabkan polip, fenomena ini dapat menjelaskan mengapa polip banyak terjadi pada area yang sempit di kompleks osteomatal. Patogenesis polip pada awalnya ditemukan bengkak selaput permukaan yang kebanyakan terdapat pada meatus medius, kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga selaput permukaan yang sembab menjadi berbenjol-benjol. Bila proses terus membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terjadi Polip

GEJALA DAN TANDA Pada anamnesis kasus polip biasanya timbul keluhan utama adalah hidung tersumbat. sumbatan ini menetap dan tidak hilang timbul. Semakin lama keluhan dirasakan semakin berat. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. Gejala lain adalah hiposmia (gangguan penciuman). Gejala lainnya dapat timbul jika teradapat kelainan di organ sekitarnya seperti post nasal drip (cairan yang mengalir di bagian belakang mulut), suara bindeng, nyeri muka, telinga terasa penuh, snoring (ngorok), gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Secara pemeriksaan mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan selaput permukaan hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan subselaput permukaan yang sembab. Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior biasanya polip sudah dapat dilihat, polip yang masif seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian luar. Pemeriksaan Rontgen dan CT scan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya sinusitis. PENATALAKSANAAN Pengobatannya berupa terapi obat-obatan dan operasi. Terapi medikamentosa ditujukan pada polip yang masih kecil yaitu pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dalam jangka

Polip Hidung

waktu singkat, dapat juga diberiksan kortikosteroid hidung atau kombinasi keduanya. Tindakan pengangkatan polip dapat digunakan menggunakan senar polip dan anestesi lokal. Untuk polip yang besar dan menyebabkan kelainan pada hidung, memerlukan jenis operasi yang lebih besar dan anestesi umum

Rinitis Alergi / Alergi Hidung

Rinitis Alergi / Alergi Hidung

Definisi Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien-pasien yang memiliki atopi, yang sebelumnya sudah tersensitisasi atau terpapar dengan allergen (zat/ materi yang menyebabkan timbulnya alergi) yang sama serta meliputi mekanisme pelepasan mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen yang serupa (Von Pirquet, 1986) Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala-gejala bersin-bersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan allergen yang mekanisme ini diperantarai oleh IgE (WHO ARIA tahun 2001). Epidemiologi Di amerika serikat terdapat hampir sekitar 20 % rata-rata angka kejadian penderita rhinitis alergi. Etiologi / Patofisiologi Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu

Immediate Phase Allergic Reaction Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya

Late Phase Allergic Reaction Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam. Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas

Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur

Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang

Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah

Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh kita, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier Respon Tertier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan Gejala Klinis

Rinitis Alergi / Alergi Hidung

Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulang-ulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah debu. Sebenarnya bersin adalah mekanisme normal dari hidung untuk membersihkan diri dari benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari lima kali dalam satu kali serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis alergi. Gejala lainnya adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak. Hidung tersumbat, mata gatal dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya air mata. Beberapa gejala lain yang tidak khas adalah allergic shiner bayangan gelap di bawah mata yang disebut. allergic salute Gerakan mengosok-gosokan hidung pada anak- anak allergi crease, timbulnya garis pada bagian depan hidung. Beberapa pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan adalah

Pemeriksaan nasoendoskopi

Pemeriksaan sitologi hidung

Hitung eosinofil dalam darah tepi

Uji kulit allergen penyebab Penatalaksanaan

Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebab

Pengobatan, penggunaan obat antihistamin H-1 adalah obat yang sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi atau dengan kombinasi dekongestan oral. Obat Kortikosteroid dipilih jika gejala utama sumbatan hidung akibat repon fase lambat tidak berhasil diatasi oleh obat lain

Tindakan Operasi (konkotomi) dilakukan jika tidak berhasil dengan cara diatas

Penggunaan Imunoterapi.

Sinusitis

Sinusitis

DEFINISI Sinusitis adalah radang selaput permukaan sinus paranasal, sesuai dengan rongga yang terkena sinusitis dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusistis frontal dan sinusitis sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut sebagai multisinusitis sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid, EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 0.4% dari pasien yang datang ke rumah sakit terdiagnosis dengan sinusitis. PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI Timbulnya Pembengkakan di kompleks osteomeatal, selaput permukaan yang berhadapan akan segera menyempit hingga bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak untuk mengeluarkan sekret. Gangguan penyerapan dan aliran udaradi dalam sinus, menyebabkan juga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi oleh selaput permukaansinus akan menjadi lebih kental dan menjadi mudah untuk bakteri timbul dan berkembang biak. Bila sumbatan terus-menerus berlangsung akan terjadi kurangnya oksigen dan hambatan lendir, hal ini menyebabkan tumbuhnya bakteri anaerob, selanjutnya terjadi perubahan jaringan Pembengkakan menjadi lebih hipertrofi hingga pembentukan polip atau kista Beberapa Faktor predisposisi atau faktor yang memperberat

Obstruksi mekanik, seperti deviasi septum, pembesaran konka, benda asing di hidugn, polip hingga tumor di hidung

Rhinitis alergika

Lingkungan : polusi, udara dingin dan kering GEJALA KLINIS sinusitis diklasifikasikan menjadi Tiga, yakni

Sinusitis akut Bila gejala berlangsung selama beberapa hari hingga 4 minggu.

Sinusitis subakut Bila gejala berlangsung selama 4 minggu hingga 3 bulan

Sinusitis Kronis Bila gejala berlangsung lebih dari 3 bulan Beberapa gejala subjektif dibagi menjadi gejala sistemik dan gejala lokal, gejala sistemik yang dimaksud adalah demam dan lesu Gejala lokal yang muncul adalah ingus kental dan berbau, nyeri di sinus, reffered pain (nyeri yang berasal dari tempat yang lain-), yang bervariasi pada

Sinusitis

tiap sinus, seperti sinusitis maksila terdapat nyeri pada kelopak mata dan kadang-kadang menyebar ke alveolus, sinusitis etmoid, rasa nyeri dirasakaan di pangkal hidung dan kantus medius, sinusitis frontal, rasa nyeri dirasakan di seluruh kepala, sedangkan sinusitis sphenoid, nyeri dirasakan di belakang bola mata dan mastoid. Pada pemeriksaan beberapa gejala obyektif bisa didapatkan:

Pembengkakan di daerah muka

Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior , selaput permukaan konka merah dan Bengkak

Pada rhinoskopi posterior terdapat lendir di nasofaring dan post nasal drip. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan adalah pemeriksaan TRANSLUMINASI, sinus yang terinfeksi akan terlihat lebih suram dan gelap pada pencahayaan tekhnik khusus. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan radiologic WATERS PA DAN LATERAL, akan tampak perselubungan atau penebalan selaput permukaan dengan batas garis khayalan yang terbentuk karena beda zat cair dan udara pada sinus yang sakit. Dapat juga dilakukan pemeriksaan mikrobiologik pada sekret yang diambil, tetapi hinggak kini jarang digunakan. TATALAKSANA Dapat diberikan terapi pengobatan Antibiotik selama 10-14 hari meskipun gejala klinis telah hilang, Antibiotika yang diberikan dapat golongan Penisilin, tetapi untuk lini kedua dapat digunakan Amoksisilin Klavulanat dan ditambah dengan dekongestan oral. Terapi pembedahan jarang diperlukan kecuali telah terjadi komplikasi ke organ sekitar sinus.

Vertigo

Vertigo

VERTIGO (BPPV)

Definisi Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar) tanpa sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar (vertigo objektif) atau badan yang berputar (vertigo subjektif). Vertigo berasal dari bahasa latin "vertere"= memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Vertigo yang paling sering ditemukan adalah Benign paroxysmal positional Vertigo (BBPV). Menurut penelitian pasien yang datang dengan keluhan pusing berputar / vertigo, sebanyak 20 % memiliki BPPV, walaupun begitu BPPV sering salah diagnosa karena BPPV biasanya tidak berdiri sendiri tetapi diikuti oleh penyakit lainnya seperti telinga atau mulut. Epidemiologi Prevalensi vertigo (BPPV) di amerika adalah 64 orang tiap 100.000, dengan wanita lebih banyak daripada pria. BPPV sering terdapat pada usia yanglebih tua yaitu di atass 50 tahun. Patofisiologi / Etiologi BPPV terjadi akibat dari perubahan posisi kepala yang cepat dan tibat-tiba, biasanya akan dirasakan pusing yang sangat berat, yang berlangsung bervariasi di semua orang, bisa lama atau hanya beberapa menit sasja. Penderita kadang merasakan lebih baik jika berbaring diam saja. Vertigo dapat berlangsung selama berhari-hari dan disertai dengan mual muntah. Hasilnya pendertia akan merasa amat sangat panic dan segera melarikan diri untuk berobat, tak jarang pasien seperti ini ditemukan di unit gawat darurat. BPPV disebabkan oleh pengendapan kalsium di dalam salah satu alat penyeimbangan di dalam telinga, tetapi sebagian besar penyebabnya belum dikethui hingga sekarang. Beberapa dugaan yang dikemukakan oleh para ahli adalah, trauma pada alat keseimbangan, infeksi, sisa pembedangan telinga, degenerative karena usai dan kelainan pembuluh darah. Vertigo berbeda dengan dizziness, suatu pengalaman yang mungkin pernah kita rasakan, yaitu kepala terasa ringan saat akan berdiri. Sedangkan vertigo bisa lebih berat dari itu, misalnya dapat membuat kita sulit untuk melangkah karena rasa berputar yang mempengaruhi keseimbangan tubuh. Adanya penyakit vertigo menandakan adanya gangguan system deteksi seseorang

Vertigo

Vertigo Gejala klinis Pasien BPPV akan mengeluh jika kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan

Gejala klinis Pasien BPPV akan mengeluh jika kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu

sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang

disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas

Penderita

biasanya dapat mengenali

keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun. Pada BPPV tidak didapatkan gangguan pendengaran. Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis pemeriksaan THT, uji posisi dan uji kalori. Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan

Vertigo

berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal. Uji posisi dapat membantu mendiagnosa BPPV, yang paling baik adalah dengan melakukan manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan nistagmus posisi dengan gejala :

1. Mata berputar dan bergerak ke arah telinga yang terganggu dan mereda setelah 5-20 detik.

2. Disertai vertigo berat.

3. Mula gejala didahului periode laten selama beberapa detik (3-10 detik).

4. Pada uji ulangan akan berkurang, terapi juga berguna sebagai cara diagnosis yang tepat.

Tatalaksana Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan, terapi fisik / latihan dan olah raga. Dan jika keduat terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah Obat-obatan yang biasanya digunakan adalah

1. Antikolinergik / parasimpatolik

2. Antihistamin

3. Penenang minor dan Mayor

4. Simpatomimetik

5. Kombinasi tersebut di atas.

Terapi fisik yang dapat digunakan Berdasarkan hipotesis Kanalolithiasis Dapat digunakan teknik pley yaitu posisi kepala 45 a menoleh ke arah telinga yang sakit, kemudian pasien digerakkan dari posisi duduk ke posisi Hallpike dengan telinga sakit di bawah. Pasien dapat dipertahankan dengan posisi ini selama 3 menit dan kemudian kepala dengan lambat dirotasikan ke arah berlawanan dan dipertahankan 4 menit lalu pasien didudukkan.