Anda di halaman 1dari 34

Buku Digital

Buku Digital

Ilmu Penyakit
Telinga, Hidung Dan Tenggorokan

Sumber : klikdokter.com
CHM file by : dr Abdul Rochman

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/0Buku%20Digital%20THT.htm [12/04/2010 8:53:07]

Benda Asing Pada Esofagus

Benda Asing Pada Esofagus


DEFINISI
Benda asing esophagus adalah benda baik tajam atau tumpul baik berupa zat organik maupun zat
anorganik yang terjepit di esophagus karena tertelan baik disengaja maupun tidak disengaja.
FAKTOR PREDISPOSISI
Lebih sering terjadi pada anak-anak karena, belum tumbuhnya gigi molar anak-anak, koordinasi
menelan yang belum sempurna pada usia 6 bulan hingga 1 tahun, retardasi mental sehingga tidak
mengerti benda-benda yang seharusnya tidak ditelan, gangguan pertumbuhan dan penyakitpenyakit neurologi lainnya yang mendasari. Jika terjadi pada orang dewasa hal ini disebabkan
oleh penyakit-penyakit penyerta pada esophagus yang dapat menyebabkan gangguan menelan
yang lama. Cara mengunyah yang salah jika menggunakan gigi palsu atau pemasangan gigi palsu
yang kurang baik, dalam keadaan mabuk atau kurangnya kesadaran diri.
GEJALA KLINIS
Gejala sumbatan tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya,
komplikasi yang timbul, dan lama tertelan. Mula-mula akan timbul rasa nyeri di daerah
tenggorokan, kemudian timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri punggung.
Terdapat rasa tercekik, rasa tersumbat di tenggorok, batuk, muntah, sulit menelan, berat badan
menurun, demam, sering muntah dan gangguan pernafasan.
Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan foto polos dada dari depan dan
samping, pemeriksaan ini harus dilakukan pada setiap pasien yang dicurigai tertelan benda asing,
pada keadaan tertentu beberapa benda asing akan terlihat sangat nyata pada pemeriksaan ini, bila
benda asing sudah diketahui lokasinya maka pengobatan dapat lebih mudah. Untuk benda-benda
yang tidak dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos, maka dapat dilakukan esofagogram, CT
scan atau MRI, dan endofagoskopi (dapat bersifat diagnostik maupun Terapi)
TATALAKSANA
Pasien dirujuk ke rumah sakit untuk dilakukan ekstraksi benda asing. Pada anak-anak harus
dicurigai benda asing tersangkut di daerah perbatasan antara saluran pencernaan dan saluran
pernafasan. Harus diperhatikan jika terdapat benda asing pada anak-anak sangat dianjurkan bagi
anak-anak dan orang tua supaya tidak banyak bergerak, untuk mencegah pergeseran benda asing
sehingga dapat menutup total saluran pernafasan yang dapat menyebabkan kematian.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Benda%20Asing%20Pada%20Esofagus.htm [12/04/2010 8:53:10]

Disfagia

Disfagia
SULIT MENELAN (DISFAGIA)
DEFINISI
Sulit menelan merupakan suatu gejala atau keluhan yang diakibatkan adanya kelainan di dalam
saluran pencernaan yang paling atas, yakni orofaring dan esophagus. Keluhan ini akan
bermanifestasi bila terdapat gangguan gerakan-gerakan pada otot menelan dan gangguan
transportasi makanan dari mulut ke lambung. Beberapa keluhan lain yang dapat menyertai
keluhan sulit menelan adalah nyeri waktu menelan ( odinofagia), rasa terbakar di leher hingga
dada, rasa mual dan muntah, muntah darah (hematemesis), berak berdarah (melena) batuk dan
berat badan berkurang
Berdasarkan penyebabnya, disfagia dibagi menjadi tiga bagian
Disfagia mekanik, sumbatan rongga esophagus oleh massa, peradangan, penyempitan, atau
penekanan dari luar.
Disfagia motorik, adanya kelainan pada system saraf yang berperan dalam proses menelan
Disfagia karena gangguan emosi
PATOGENESIS / ETIOLOGI
Proses menelan merupakan suatu sistem yang kompleks, adanya gangguan pada salah satu unsur
menelan dapat menyebabkan gangguan menelan, gangguan kordinasi dan juga integrasi pada
unsur-unsur tersebut juga dapat menyebabkan gangguan menelan. Berbagai faktor yang
membantu proses menelan :

Ukuran makanan yang ditelan


Diameter rongga esofagus
Kontraksi peristaltic esofagus
Fungsi sphincter esophagus
Kerja otot-otot rongga mulut dan lidah
GEJALA KLINIS
Dari riwayat penyakit dapat didapatkan beberapa informasi yang dapat membantu penegakan
diagnosis, jenis makanan dapat menjelaskan jenis disfagia yang terjadi. Pada disfagia mekanik,
sulit menelan terjadi pada makanan-makanan yang padat, makanan tersebut kadang perlu dibantu
dengan air untuk menelan, bila keadaan ini terjadi semakin parah, perlu dicurigai adanya
keganasan atau kanker. Sebaliknya pada disfagia motorik keluhan sulit menelan terjadi pada
makanan padat dan makanan cair. Disfagia yang hilang dalam beberapa hari atau seminggu dapat
disebabkan oleh peradangan pada rongga esophagus.
Dari pemeriksaan fisik dapat dilihat adanya massa pada leher atau pembesaran kelenjar limfa
yang dapat menekan esophagus. Pada pemeriksaan rongga mulut, dapat dilihat adanya
peradangan atau pembesaran tonsil (amandel).

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Disfagia.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:10]

Disfagia

Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah foto polos esofatus dengan zat kontras.
Pemeriksaan ini tidak merusak dan tidak merusak. Pemeriksaan yang lain adalah CT-scan, MRI
atau esofagoskopi. Pemeriksaan esofagoskopi adalah pemeriksaan yang melihat langsung
esophagus dan keadaan rongganya.
PENATALAKSANAAN
Terapi terbaik untuk Disfagia adalah terapi langsung pada penyebab disfagia itu sendiri, dapat
diberikan obat seperti pada gangguan disfagia akibat radang pada esophagus. Pada gangguan
menelan akibat massa yang menekan biasanya digunakan terapi bedah.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Disfagia.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:10]

Epitaksis / Perdarahan Hidung

Epitaksis / Perdarahan Hidung


Defenisi
Perdarahan dari hidung. Sering ditemukan sehari-hari, hampir sebagian besar dapat berhenti
sendiri. Harus diingat epitaksis bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari
suatu kelainan.
Etiologi
Seringkali epitaksis timbul spontan tanpa dapat ditelusuri penyebabnya, tetapi terkadang epitaksis
ditimbulkan oleh trauma. Berbagai penyebab epitaksis dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu lokal
dan sistemik. Penyebab lokal yang tersering adalah Trauma, infeksi, neoplasma dan kelainan
kongenital. Penyebab lainnya adalah kelainan sitemik, seperti penyakit jantung, kelainan darah,
infeksi, perubahan tekanan atmosfer dan gangguan endokrin.
Trauma
Perdarahan hidung dapat terjadi setelah trauma ringan, misalnya mengeluarkan ingus secara tibatiba dan kuat, mengorek hidung, dan trauma yang hebat seperti terpukul, jatuh atau kecelakaan.
Selain itu juga dapat disebabkan oleh iritasi gas yang merangsang, benda asing di hidung dan
trauma pada pembedahan.

Infeksi
Infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rhinitis atau sinusitis juga dapat menyebabkan
perdarahan hidung.

Neoplasma
Hemangioma dan karsinoma adalah yang paling sering menimbulkan gejala epitaksis.

Kongenital
Penyakit turunan yang dapat menyebabkan epitaksis adalah telengiaktasis hemoragik herediter

Penyakit kardiovaskular
Hipertensi dan kelainan pada pembuluh darah di hidung seperti arteriosklerosis, sirosis, sifilis
dan penyakit gula dapat menyebabkan terjadinya epitaksis karena pecahnya pembuluh darah.

Kelainan Darah
Trombositopenia, hemophilia, dan leukemia

Infeksi sistemik
Demam berdarah, Demam tifoid, influenza dan sakit morbili

Perubahan tekanan atmosfer

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Epitaksis.htm (1 of 3) [12/04/2010 8:53:11]

Epitaksis / Perdarahan Hidung

Caisson disease (pada penyelam)


Gejala dan Tanda
Perdarahan dari hidung, gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang bersangkutan.
Epitaksis berat, walaupun jarang merupakan kegawatdaruratan yang dapat mengancam
keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal jika tidak cepat ditolong. Sumber
perdarahan dapat berasal dari depan hidung maupun belakang hidung. Epitaksis anterior
(depan) dapat berasal dari pleksus kiesselbach atau dari a. etmoid anterior. Pleksus kieselbach ini
sering menjadi sumber epitaksis terutama pada anak-anak dan biasanya dapat sembuh sendiri.
Epitaksis posterior (belakang) dapat berasal dari a. sfenopalatina dan a etmoid posterior.
Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti sendiri. Sering ditemukan pada pasien dengan
hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit jantung.
Beberapa pemeriksaan yang diperlukan adalah Pemeriksaan darah Lengkap dan Fungsi
Hemostasis
Penatalaksanaan
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epitaksis adalah
Menghentikan perdarahan
Mencegah komplikasi yang timbul akibat perdarahan seperti syok atau infeksi
Mencegah berulangnya epitaksis
Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan
umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri.
Menghentikan perdarahan
Menghentikan perdarahan secara aktif dengan menggunakan kaustik atau tampon jauh lebih
efektif daripada dengan pemberian obat-obat hemostatik dan menunggu darah berhenti dengan
sendirinya. Jika pasien datang dengan perdarahan maka pasien sebaiknay diperiksa dalam
keadaan duduk, jika terlalu lemah pasien dibaringkan dengan meletakan bantal di belakang
punggung pasien.
Sumber perdarahan dicari dengna bantuan alat penghisap untuk membersihkan hidung dari
bekuan darah , kemudian dengan menggunakan tampon kapas yang dibasahi dengan adrenalin 1/
10000 atau lidokain 2 % dimasukan ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan
atau mengurangi nyeri, dapat dibiarkan selama 3 -5 menit

Perdarahan Anterior
Dapat menggunakan alat kaustik nitras argenti 20-30% atau asam triklorasetat 10% atau dengan
elektrokauter. Bila perdarahan masih berlangsung maka dapat digunakan tampon anterior (kapas
dibentuk dan dibasahi dengan adrenalin +Vaseline) tampon ini dapat digunakan sampai 1-2 hari.

Perdarahan Posterior
Perdarahan biasanya lebih hebat dan lebih sukar dicari, dapat dilihat dengan menggunakan

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Epitaksis.htm (2 of 3) [12/04/2010 8:53:11]

Epitaksis / Perdarahan Hidung

pemeriksaan rhinoskopi posterior. Untuk mengurangi perdarahan dapat digunakan tampon


Beelloqk
Mencegah komplikasi, sebagai akibat dari perdarahan yang berlebihan, dapat terjadi syok atau
anemia, turunya tekanan darah yang mendadak dapat menimbulkan infark serebri, insufisiensi
koroner, atau infark miokard, sehingga dapat menyebabkan kematian. Dalam hal ini harus segera
diberi pemasangan infus untuk membantu cairan masuk lebih cepat. Pemberian antibiotika juga
dapat membantu mencegah timbulnya sinusitis, otitis media akibat pemasangan tampon.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Epitaksis.htm (3 of 3) [12/04/2010 8:53:11]

Esofagitis Kronis

Esofagitis Kronis
DEFINISI
Esofagitis kronis aalah peradangan di esophagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat
kimia yang bersifat korosif, misalnya berupa asam kuat, basa kuat dan zat organik. Contohcontoh yang telah disebutkan diatas dapat merusak esofagus jika diminum atau ditelan, dan bila
diserap oleh darah hanya akan menyebabkan keracunan saja.
PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI
Zat-zat kimia berupa asam kuat maupun basa kuat dapat menyebabkan kematian sel pada
permukaan yang dilaluinya, pada kerusakan oleh basa kuat akan menyebabkan sel sel mati dan
mencair, tetapi pada kerusakan oleh asam kuat akan menyebabkan kematian sel yang
menggumpal. Pada kerusakan yang disebabkan oleh asam kuat, maka kerusakan akan dialami
lebih berat pada lambung, hal ini disebabkan oleh asam lambung yang turut memperberat
kerusakan sel-sel pada mukosa, tetapi pada basa kuat yang terjadi adalah sebaliknya, kerusakan
lebih berat pada esophagus.
GEJALA KLINIS
Gejala dan keluhan yang timbul tergantung dari jenis, konsentrasi, jumlah zat korosif, lama
kontak dengan zat korosif, dan apakah zat kembali dimuntahkan atau tidak. Jika dibagi
berdasarkan beratnya luka yang dialami oleh permukaan saluran maka dibagi atas :

Esofagitis Korosif tanpa ulserasi, gejala gangguan menelan ringan dan pada pemeriksaan
esofagoskopi tampak permukaan kemerahan tanpa disertai luka

Esofagitis Korosif dengan ulserasi ringan, keluhan gangguan menelan yang ringan dan
pada pemeriksaan esofagoskopi dapat dilihat luka yang tidak dalam, hanya sebatas
permukaan

Esofagitis Korosif dengan ulserasi sedang, luka sudah mengenai lapisan otot biasanya
ditemukan lebih dari satu

Esofagitis Korosif dengan ulserasi berat tanpa komplikasi, terdapat pengelupasan


permukaan dan kematian sel yang dalam, mengenai hampir seluruh bagian esophagus.

Esofagitis Korosif dengan ulserasi berat dengan komplikasi, komplikasi berupa


peradangan pada jaringan perut.
Komplikasi yang mungkin terjadi : Syok, Koma, Edema laring, peradangan paru dengan
aspirasi, luka tembus pada esophagus, dan kematian

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Esofagitis%20Kronis.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:12]

Esofagitis Kronis

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah, Pemeriksaan foto dada untuk melihat
apakah ada peradangan di tempat lain dan peradangan pada paru, pemeriksaan esofagoskopi
untuk melihat seberapa parah kerusakan pada esophagus.
TATALAKSANA
Pada fase akut dilakukan perawatan umum berupa perbaikan keadaan umum pasien dan menjaga
keseimbangan elektrolit dan jalan napas, jika kejadian terjadi sebelum 6 jam dapat diberikan
netralisasi dengan menggunaakan air susu atau air jeruk untuk basa kuat dan antasida untuk asam
kuat. Untuk mencegah pengecilan saluran esophagus dapat dibantu dengan menggunakan pipa
hidung lambung.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Esofagitis%20Kronis.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:12]

Faringitis Akut

Faringitis Akut
DEFINISI
Infeksi atau iritasi pada saluran faring atau tonsil (amandel) yang biasanya disebabkan oleh
kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridians, dan streptococcus pyogenes
adalah penyebab terbanyak. Dapat juga disebabkan oleh virus.
EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian pada anak anak, rata-rata terdapat 5 kali infeksi saluran pernafasan bagian atas
dan pada orang dewasa hampir separuhnya. Biasanya disebabkan oleh bakteri streptococcus dan
virus adalah adenovirus atau rhinovirus.
PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI
Penularan dapat terjadi melalu udara maupun sentuhan, biasanya terjadi jika droplet dibatukan
atau dibersinkan dari penderita ke orang sehat, atau bisa juga terjadi jika droplet ditularkan
melalui. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid
superficial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.
GEJALA KLINIS
Suhu tubuh meningkat hingga 40 derajat (demam), rasa gatal atau sakit di tenggorokan dirasakan
karena inflamasi akibat peradangan atau infeksi. Setelah bakteri atau virus mencapai sistemik
maka gejala-gejala sistemik akan muncul, seperti lesu dan lemah, nyeri pada sendi-sendi otot,
tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Pada gejala local dapat dilihat faring merah dan tonsil
membengkak, terdapat nyeri tekan pada leher dan jika pembengkakan mencapai laring dapat
disertai dengan gangguan suara atau suara serak.
ika dibutuhkan dapat dilakukan kultur dan uji resistensi pada pemeriksaan tambahan
TATALAKSANA
Dapat diberikan antibiotic golongan penisilin atau sulfomida selama 5 hari, penurun panas, obat
kumur dan obat hisap untuk meredakan gejala local. Bila alergi pada penisilin dapat diberikan
antibiotic eritromisin. Untuk menhindari iritasi lebih lanjut pada saluran faring dan laring, pada
pasien dapat dianjurkan untuk mengurangi makanan yang berminyak dan panas. Pada pasien juga
dianjurkan untuk istirahat sebanyak mungkin agar metabolism lebih dikhususkan untuk
memperbaiki daya tahan tubuh. Jika demam tidak turun dengan pemberian obat dapat dibantu
dengan menggunakan kompres dan intake cairan yang cukup (air putih).

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Faringitis%20Akut.htm [12/04/2010 8:53:12]

Gangguan Bernafas di saat Tidur

Gangguan Bernafas di saat Tidur


Obstructive sleep apnea
Defenisi
Obstructive sleep apnea adalah gangguan pernafasan di saat tidur yang melibatkan penurunan
sebagian atau seluruhnya aliran udara dalam siklus pernafasan.
Epidemiologi
Terjadi kepada hampir 4 % pria dan 2 % wanita, sekitar 24 % pria dan wanita mengalami
Obstructive sleep apnea tetapi tidak mengalami gangguan mengantuk pada siang hari. Sekitar
lebih dari 80% penderita Obstructive sleep apnea tidak terdiagnosis. Dan sekitar 2 persen terdapat
pada anak-anak pre sekolah.
Etiologi
Obstructive sleep apnea terjadi disaat otot-otot pernafasan dalam keadaan relaksasi di saat tidur,
mengakibatkan jaringan-jaringan di belakang tenggorokan menjadi jatuh dan menghambat jalur
pernafasan bagian atas. Jika hal ini terjadi, maka terjadi pengurangan sebagian (hipopneu) atau
penuh (apneu) dalam sirkulasi pernafasan yang dapat terjadi minimal selama 10 detik selama
periode tidur. Biasanya hal ini terjadi antara 10 30 detik, tetapi dapat juga berlangsung hingga 1
menit atau lebih lama. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan saturasi oksigen yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh dan otak sebesar lebih dari 40 % area.
Jika Otak sampai terjadi kekurangan oksigen, maka akan dikirimkan sinyal-sinyal ke tubuh untuk
mengembalikan sirkulasi normal, hal ini berakibatkan pada gangguan pada siklus tidur, sehingga
pada siang harinya penderita akan Nampak sering mengantuk.
Kelompok beresiko tinggi :

Kelompok overweigth dan obesitas

Penderita yang memiliki Leher yang besar > 16 inch

Penderita yang memiliki kelainan autonomi di leher dan kepala

Sindrom down

Penderita dengan amandel dan kelenjar limfe yang besar

Salah satu keluarga menderita OSA.


Gejala

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Gangguan%20Bernafas%20di%20saat%20Tidur.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:13]

Gangguan Bernafas di saat Tidur

Siklus tidur yang sering terganggu atau terbangun pada malam hari.

Mengantuk yang berat saat siang hari

Sakit kepala pada pagi hari

Peningkatan frekeunsi nadi

Gangguan konsentrasi

Emosi yang labil


Tatalaksana
Untuk mendiagnosa OSA sebaiknya dilakukan pemeriksaan polysomnogram didalam sentrasentra (sleep centre).
Beberapa tatalaksana yang dapat digunakan untuk penderita OSA:

Continuous positive airway pressure (CPAP) , merupakan terapi standar untuk penderita
dengan OSA menengah hingga berat. CPAP menyediakan aliran udara yang konstan ke
dalam sirkulasi pernafasan kita di saat tidur, hal ini mencegah penurunan saturasi oksige.

Penggunaan alat di mulut, dengan alat yang telah disediakan maka saluran pernafasan
bagian atas dipertahankan posisinya sebaik mungkin untuk siklus pernafasan yang baik,
alat-alat ini harus disesuaikan dan diukur oleh tenaga ahli kesehatan yang berwenang
(dokter gigi, dokter)

Terapi diet untuk mengurangi berat badan.

Pembedahan, jalan terakhir jika cara-cara diatas tidak ada yang berhasil.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Gangguan%20Bernafas%20di%20saat%20Tidur.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:13]

Kanker Nasofaring

Kanker Nasofaring
KANKER NASOFARING (Karsinoma Nasofaring)
DEFINISI
Tumor ganas pada Nasofaring. Kanker nasofaring merupakan keganasan pada leher dan kepala
yang terbanyak ditemukan di Indonesia (60 persen). Untuk mendiagnosis secara dini sangatlah
sulit, karena tumor ini baru menimbulkan gejala pada stadium-stadium akhir. Gejala-gejala pada
stadium awal penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit lainnya. Dimana letak dari tumor ini
tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di dasar tengkorak, dan sukar sekali
dilihat jika bukan dengan ahlinya. Presentase untuk bertahan hidup dalam 5 tahun juga terlihat
mencolok, hal ini dilihat dari stadium I (76 %), stadium II (50 %), stadium III (38 %) dan
stadium lanjut atau IV (16,4%).
EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini banyak ditemukan pada ras cina terutama yang tinggal di daerah selatan. Ras
mongloid merupakan faktor dominan dalam munculnya kanker nasofaring, sehingga sering
timbul di Negara-negara asia bagian selatan. Penyakit ini juga ditemukan pada orang-orang yang
hidup di daerah iklim dingin, hal ini diduga karena penggunaan pengawet nitrosamine pada
makanan-makanan yang mereka simpan.
PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI
Sudah hampir dipastikan bahwa penyebab dari kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein
Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar antivirus Virus Epstein Barr
didapatkan cukup tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi adalah letak geografis yang sudah
disebutkan diatas, penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki walaupun alasannya belum
dapat dibuktikan hingga saat ini. Faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor lingkungan
seperti iritasi oleh bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet, masakan yang terlalu
panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan seperti orang Eskimo yang
mengawetkan ikannya dengan menggunakan nitrosamine. Tentang faktor keturunan sudah
banyak diteliti tetapi hingga sekarang belum dapat ditarik kesimpulan. Satu hal lagi yang penting
diketahui adalah bahwa penyakit ini seringkali menyerang masyarakat dengan golongan sosial
yang rendah, hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan dan lingkungan hidup di sekitar orangorang tersebut
GEJALA KLINIS
Gejala klinis karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu,

Gejala nasofaring, gejala ini dapat berupa perdarahan melalui hidung yang ringan hingga
berat, atau sumbatan pada hidung
Gejala Telinga, ini merupakan gejala dini yang timbul karena asal tumor dekat sekali
dengan muara tuba eustachius, sehingga pembesaran sedikit pada tumor akan
menyebabkan tersumbatnya saluran ini dan menimbulkan gejala pada telinga seperti,
telinga nyeri, telinga berdenging, rasa tidak nyaman.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Kanker%20Nasofaring.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:14]

Kanker Nasofaring

Gejala Mata, pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di
otak salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda.
Gejala di leher, Metastasis, gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker
nasofaring berupa pembesaran atau benjolan di leher.
Untuk pemeriksaan tambahan, sejak ditemukan CT-scan sangat membantu dalam diagnosis
tumor-tumor di daerah kepala dan leher sehingga tumor primer yang terletak di belakang dan
tersembunyi dapat ditemukan. Pemeriksaan lain seperti serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA
di Indonesia telah menunjukan kemajuan dalam medeteksi karsinoma.
Untuk diagnosis pasti Karsinoma Nasofaring ditegakan dengan melakukan biopsy nasofaring.
Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan dari mulut. 3 bentuk tersering dari
karsinoma nasofaring adalah karsinoma sel squamosa, karsinoma tidak berkeratinisasi dan
karsinoma tidak berdiferensiasi.
PENATALAKSANAAN
Radioterapi hingga sekarang masih merupakan terapi utama dan pengobatan tambahan yang
dapat diberikan berupa bedah diseksi leher, pemberian tetrasiklin, interferon, kemoterapi, dan
vaksin antivirus.
Perhatian terhadap efek samping dari pemberian radioterapi seperti, mulut terasa kering, jamur
pada mulut, rasa kaku di leher, sakit kepala, mual dan muntah kadang-kadang dapat timbul. Oleh
karena itu dapat dianjurkan pada penderita untuk membawa air minum dalam aktivitas dan
berusaha menjaga kebersihan pada mulut dan gigi.
Pemberian vaksin pada penduduk dengan resiko tinggi dapat dilakukan untuk mengurangi angka
kejadian penyakit ini pada daerah tersebut

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Kanker%20Nasofaring.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:14]

Mastoiditis

Mastoiditis
Definisi
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang
temporal. Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa yang sebelumnya telah menderita
infeksi akut pada telinga tengah. Gejala-gejala awal yang timbul adalah gejala-gejala peradangan
pada telinga tengah, seperti demam, nyeri pada telinga, hilangnya sensasi pendengaran, bahkan
kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya)
Epidemiologi
Masih belum diketahui secara pasti , tetapi biasanya terjadi pada pasien-pasien muda dan pasien
dengan gangguan system imu.
Patofisiologi / Etiologi
Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada
mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram
negative dan streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada
infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-keadaan yang menyebabkan
penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi
mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang menderita
mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan
pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae.
Seperti semua penyakit infeksi, beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit
adalah faktor tubuh penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian
anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum baik.
Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan
timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding
bakteri, pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras
dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit.

Gejala
file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Mastoiditis.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:15]

Mastoiditis

Dari keluhan penyakit didapatkan keluarnya cairan dari dalam telinga yang selama lebih dari tiga
minggu, hal ini menandakan bahwa pada infeksi telinga tengah sudah melibatkan organ mastoid.
Gejala demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga tengah sebelumnya
dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Jika demam tetap dirasakan setelah
pemberian antibiotik maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar. Rasa nyeri biasanya
dirasakan dibagian belakang telinga dan dirasakan lebih parah pada malam hari, tetapi hal ini
sulit didapatkan pada pasien-pasien yang masih bayi dan belum dapat berkomunikasi. Hilangnya
pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan
Kemerahan pada kompleks mastoid
Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir (warna bergantung dari bakteri)
Matinya jaringan keras (tulang, tulang rawan)
Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)
Proses peradangan yang tetap melebar ke bagian dan organ lainnya.
Riwayat infeksi pada telinga tengah sebelumnnya.
Pemeriksaan penunjang yang dapat diminta adalah, pemeriksaan kultur mikrobiologi, pengukuran
sel darah merah dan sel darah putih yang menandakan adanya infeksi, pemeriksaan cairan
sumsum untuk menyingkirkan adanya penyebaran ke dalam ruangan di dalam kepala.
Pemeriksaan lainnnya adalah CT-scan kepala, MRI-kepala dan foto polos kepala.
Tatalaksana
Pengobatan dengan obat-obatan seperti antibiotik, anti nyeri, anti peradangan dan lain-lainnya
adalah lini pertama dalam pengobatan mastoiditis. Tetapi pemilihan anti bakteri harus tepat
sesuai dengan hasil test kultur dan hasil resistensi. Pengobatan yang lebih invasif adalah
pembedahan pada mastoid. Bedah yang dilakukan berupa bedah terbuka, hal ini dilakukan jika
dengan pengobatan tidak dapat membantu mengembalikan ke fungsi yang normal.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Mastoiditis.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:15]

Otitis Media Akut

Otitis Media Akut


Otitis Media Akut (peradangan akut telinga tengah)
Definisi
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis
media supuratif dan otitis media non supuratif, yang masing-masing memiliki bentuk yang cepat dan
lambat.
Otitis Media Akut, otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tibatiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi
pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat
mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan bulu-bulu
halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem
pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis
media, pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi
otitis media akut juga semakin sering.
Epidemiologi
Banyak terdapat pada anak-anak
Patogenesis / Etiologi
Beberapa bakteri tersering penyebab otitis media akut adalah bakteri-bakteri saluran pernafasan bagian
atas seperti streptokokus, stafilokokus dan hemofilus influenza.
Beberapa perubahan yang terjadi dalam proses terjadinya Otitis media akut
1. Stadium penyumbatan tuba eustachius, tanda yang khas pada stadium ini adalah penarikan
membran timpani pada telinga ke arah dalam akibat tekanan negatif yang ditimbulkan oleh
sumbatan
2. Stadium Hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timbani atau seluruh
membran timpani.
3. Stadium Supurasi, bengkak yang hebat pada selaput permukaan telinga tengah dan hancurnya selsel di dalam telinga tengah menyebabkan cairan yang kental tertimbun di telinga tengah
4. Stadium Perforasi, pecahnya membrane timpani, dan keluar cairan putih
5. Stadium Resolusi, perlahan-lahan membrane timpani akan menyembuh jika robekan tidak terlalu
lebar, tetapi jika robekan lebar, stadium perforasi dapat menetap dan berubah menjadi Otitis Media
Supuratif Kronik.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Otitis%20Media%20Akut.htm (1 of 3) [12/04/2010 8:53:15]

Otitis Media Akut

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Otitis%20Media%20Akut.htm (2 of 3) [12/04/2010 8:53:15]

Otitis Media Akut

Gejala Klinis / Diagnosis


Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien, pada usia anak anak umumnya
keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas
sebelumnya. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan
telinga terasa penih. Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah dan
sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Otitis Media Akut sangat bergantung pada stadiumnya, pada stadium oklusi pengobatan
bertujuan untuk melebarkan kembali saluran eustachius, dengan pemberian obat tetes hidung berupa
dekongestan, selain itu sumber infeksi harus segera diobati. Pada stadium hiperemis dapat diberikan
antibiotik, anti peradangan, dan anti nyeri. Pemilihan antibiotik lebih ditargetkan pada kuman-kuman
yang sering menjadi penyebab. Pada stadium supurasi disamping pemberian antibiotik dapat dilakukan
miringotomi yakni tindakan perobekan pada sebagian kecil membran timpani sehingga cairan yang kental
dapat keluar sedikit-sedikit dan tidak menimbulkan lubang yang besar, sehingga membrane timpani tidak
dapat menyembuh. Pada stadium perforasi dapat diberikan obat cuci telinga, dan antibiotik yang adekuat.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Otitis%20Media%20Akut.htm (3 of 3) [12/04/2010 8:53:15]

Papiloma Laring

Papiloma Laring
PAPILOMA LARING
Definisi
Papiloma laring adalah tumor jinak yang sering dijumpai pada anak-anak, papiloma laring
biasanya terletak di saluran nafas yang sering kali menimbulkan sumbatan jalan nafas yang dapat
mengakibatkan kematian. Dulu papiloma ini sering dikenal sebagai kutil di tenggorok pada abad
ke 17. Papiloma merupakan tumor laring jinak pada anak tetapi juga sering ditemukan pada
orang dewasa. papiloma laring sering mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah
pengangkatan dan meluas ke jaringan sekitarnya
Epidemiologi
Angka kejadian papiloma laring sering dijumpai anak-anak 80% pada usia kelompok usia di
bawah 7 tahun.
Patogenesis
Etiologi papoiloma laring hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi dari penelitian diduga
bahwa virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma
laring. Diduga adanya hubungan antar infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring
pada anak, hal ini dibuktikan dengan adanya virus HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital,
walaupun penemuan diatas menunjukan peran infeksi virus pada papiloma laring. Tetapi ada
faktor lain yang berperan, mengingat papiloma ini dapat menghilang di saat pubertas.
Teori lainnya yang dikemukakan adalah teori faktor hormonal dan beberapa faktor penyebab
papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan hygene yang buruk. Infeksi saluran nafas kronik
dan kelainan imunologis.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Papiloma%20Laring.htm (1 of 3) [12/04/2010 8:53:16]

Papiloma Laring

Gejala
Pada awalnya gejala-gejala yang ditemukan berupa gangguan fonasi berupa suara yang serak
pada anak, gejala bisa lebih berat sehingga suara tangisan anak dapat terdengar abnormal hingga
anak tidak dapat bersuara sama seakli. Bila papiloma sangat besar dapat menyebabkan gangguan
pada system pernafasan yaitu batuk, sesak, ngorok saat menghirup nafas. Sumbatan pada saluran
nafas dapat dibagi menjadi 4 bagian menurut criteria jakson

Jakson I ditandai dengan sesak, stridor (ngorok) inspirasi ringan, penarikan pada sela iga
Jakson II sesuai dengan gejala jakson I tetapi diperberat dengan retraksi supra dan infra
klavikula, sianosis ringan dan pasien tampak gelisah.
Jakson III sesuai dengan gejala jakson II ditambah dengan retraksi interkostal, epigastrium

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Papiloma%20Laring.htm (2 of 3) [12/04/2010 8:53:16]

Papiloma Laring

dan sianosis lebih berat


Jakson IV, sesuai dengan gejala jakson III ditambah dengan wajah yang tegang dan
terkadang gagal napas.
Tatalaksana
Beberapa penatalaksanaan dalam papiloma laring memiliki prinsip yang sama, yakni
menghilangkan papiloma dan menghindari kejadian berulang , beberapa terapi yang dapat
digunakan pada papiloma laring adalah.
Terapi bedah
Terapi medikamentosa
Pemberian obat seperti anti virus , hormone, steroid, dan podofilin topikal

Imunologis
Supportif dengan menggunakan interferon

Foto dinamik
Menggunakan DHE sebagai agen yang menyebabkan toksik yang secara selektif menghancurkan
sel-sel tertentu

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Papiloma%20Laring.htm (3 of 3) [12/04/2010 8:53:16]

Perforasi Membran Timfani

Perforasi Membran Timfani


PERFORASI MEMBRAN TIMPANI
Definisi
Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membrane timpani yang menyebabkan hilanggnya
sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang
berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan
energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke
otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan
sebelumnya yang diberikan.
Epidemiologi
Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau
Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari
Negara tersebut.
Etiologi
Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga
tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali
berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya
jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani
tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali
menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali.
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah menyebar kedalam kepala sehingga
menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang
tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau
merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang
berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada
saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Perforasi%20Membran%20Timfani.htm (1 of 3) [12/04/2010 8:53:16]

Perforasi Membran Timfani

Gejala Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah
Penurunan pendengaran
Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin
Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus
Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging)
Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita
membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak.
Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran
(swabach, webber, dan rinne)
Tatalaksana
Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga
tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan
anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan
invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Perforasi%20Membran%20Timfani.htm (2 of 3) [12/04/2010 8:53:16]

Perforasi Membran Timfani

atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang
terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun
komplikasi yang timbul.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Perforasi%20Membran%20Timfani.htm (3 of 3) [12/04/2010 8:53:16]

Polip Hidung

Polip Hidung
DEFINISI
Polip nasi atau polip hidung adalah kelainan selaput permukaan hidung berupa massa lunak yang
bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan licin
dan agak bening karena mengandung banyak cairan.
Kelainan pada hidung biasanya timbul karena manifestasi dari penyakit yang lain dan tidak
berdiri sendiri, penyakit ini sering dihubungkan dengan astma, rhinitis alergika, dan sinusitis, di
luar negeri sendiri penyakit ini sering dihubungkan dengan seringnya penggunaan aspirin.
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Etiologi pasti hingga sekarang belum diketahui, tetapi terdapat 3 faktor penting yang berperan di
dalam terjadinya polip, yaitu
1. Peradangan lama dan berulang pada selaput permukaan hidung dan sinus
2. Gangguan keseimbangan Vasomotor
3. Peningkatan tekanan cairan antar ruang sel dan bengkak selaput permukaan hidung
Fenomena bernouli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui celah yang sempit akan
mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya, sehingga jaringan yang lemah akan
terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga menyebabkan polip, fenomena ini dapat menjelaskan
mengapa polip banyak terjadi pada area yang sempit di kompleks osteomatal.
Patogenesis polip pada awalnya ditemukan bengkak selaput permukaan yang kebanyakan
terdapat pada meatus medius, kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga
selaput permukaan yang sembab menjadi berbenjol-benjol. Bila proses terus membesar dan
kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terjadi Polip
GEJALA DAN TANDA
Pada anamnesis kasus polip biasanya timbul keluhan utama adalah hidung tersumbat. sumbatan
ini menetap dan tidak hilang timbul. Semakin lama keluhan dirasakan semakin berat. Pasien
sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. Gejala lain
adalah hiposmia (gangguan penciuman). Gejala lainnya dapat timbul jika teradapat kelainan di
organ sekitarnya seperti post nasal drip (cairan yang mengalir di bagian belakang mulut),
suara bindeng, nyeri muka, telinga terasa penuh, snoring (ngorok), gangguan tidur dan
penurunan kualitas hidup.
Secara pemeriksaan mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan selaput permukaan
hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan subselaput permukaan yang sembab.
Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior biasanya polip sudah dapat dilihat, polip yang masif
seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian luar. Pemeriksaan Rontgen dan CT scan
dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya sinusitis.
PENATALAKSANAAN
Pengobatannya berupa terapi obat-obatan dan operasi. Terapi medikamentosa ditujukan pada
polip yang masih kecil yaitu pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dalam jangka
file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Polip%20Hidung.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:17]

Polip Hidung

waktu singkat, dapat juga diberiksan kortikosteroid hidung atau kombinasi keduanya.
Tindakan pengangkatan polip dapat digunakan menggunakan senar polip dan anestesi lokal.
Untuk polip yang besar dan menyebabkan kelainan pada hidung, memerlukan jenis operasi yang
lebih besar dan anestesi umum

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Polip%20Hidung.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:17]

Rinitis Alergi / Alergi Hidung

Rinitis Alergi / Alergi Hidung


Definisi
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien-pasien
yang memiliki atopi, yang sebelumnya sudah tersensitisasi atau terpapar dengan allergen (zat/
materi yang menyebabkan timbulnya alergi) yang sama serta meliputi mekanisme pelepasan
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen yang serupa (Von Pirquet, 1986)
Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala-gejala bersin-bersin, keluarnya cairan
dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan allergen yang
mekanisme ini diperantarai oleh IgE (WHO ARIA tahun 2001).
Epidemiologi
Di amerika serikat terdapat hampir sekitar 20 % rata-rata angka kejadian penderita rhinitis alergi.
Etiologi / Patofisiologi
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti
oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu
Immediate Phase Allergic Reaction
Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya

Late Phase Allergic Reaction


Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan
dan dapat berlangsung hingga 24 jam.
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas

Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah,
tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur,
coklat, ikan dan udang
Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau
sengatan lebah
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan kosmetik atau perhiasan
Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh kita, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar
Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik
Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system
selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan
maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system
tersebut maka berlanjut ke respon tersier
Respon Tertier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan
Gejala Klinis

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Rinitis%20Alergi.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:18]

Rinitis Alergi / Alergi Hidung

Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulang-ulang terutama pada
pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah debu. Sebenarnya bersin adalah mekanisme
normal dari hidung untuk membersihkan diri dari benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari
lima kali dalam satu kali serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis alergi. Gejala
lainnya adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak. Hidung tersumbat, mata gatal
dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya air mata.
Beberapa gejala lain yang tidak khas adalah
allergic shiner bayangan gelap di bawah mata yang disebut.
allergic salute Gerakan mengosok-gosokan hidung pada anak- anak
allergi crease, timbulnya garis pada bagian depan hidung.
Beberapa pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan adalah
Pemeriksaan nasoendoskopi
Pemeriksaan sitologi hidung
Hitung eosinofil dalam darah tepi
Uji kulit allergen penyebab
Penatalaksanaan

Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebab
Pengobatan, penggunaan obat antihistamin H-1 adalah obat yang sering dipakai sebagai
lini pertama pengobatan rhinitis alergi atau dengan kombinasi dekongestan oral. Obat
Kortikosteroid dipilih jika gejala utama sumbatan hidung akibat repon fase lambat tidak
berhasil diatasi oleh obat lain
Tindakan Operasi (konkotomi) dilakukan jika tidak berhasil dengan cara diatas
Penggunaan Imunoterapi.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Rinitis%20Alergi.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:18]

Sinusitis

Sinusitis
DEFINISI
Sinusitis adalah radang selaput permukaan sinus paranasal, sesuai dengan rongga yang terkena
sinusitis dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusistis frontal dan sinusitis
sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut sebagai multisinusitis sedangkan bila mengenai
semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis
maksila dan sinusitis etmoid,
EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 0.4% dari pasien yang datang ke rumah sakit terdiagnosis
dengan sinusitis.
PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI
Timbulnya Pembengkakan di kompleks osteomeatal, selaput permukaan yang berhadapan akan
segera menyempit hingga bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak untuk mengeluarkan
sekret. Gangguan penyerapan dan aliran udaradi dalam sinus, menyebabkan juga silia menjadi
kurang aktif dan lendir yang diproduksi oleh selaput permukaansinus akan menjadi lebih kental
dan menjadi mudah untuk bakteri timbul dan berkembang biak. Bila sumbatan terus-menerus
berlangsung akan terjadi kurangnya oksigen dan hambatan lendir, hal ini menyebabkan
tumbuhnya bakteri anaerob, selanjutnya terjadi perubahan jaringan Pembengkakan menjadi lebih
hipertrofi hingga pembentukan polip atau kista
Beberapa Faktor predisposisi atau faktor yang memperberat
Obstruksi mekanik, seperti deviasi septum, pembesaran konka, benda asing di hidugn,
polip hingga tumor di hidung
Rhinitis alergika
Lingkungan : polusi, udara dingin dan kering
GEJALA KLINIS
sinusitis diklasifikasikan menjadi Tiga, yakni

Sinusitis akut
Bila gejala berlangsung selama beberapa hari hingga 4 minggu.

Sinusitis subakut
Bila gejala berlangsung selama 4 minggu hingga 3 bulan

Sinusitis Kronis
Bila gejala berlangsung lebih dari 3 bulan
Beberapa gejala subjektif dibagi menjadi gejala sistemik dan gejala lokal, gejala sistemik yang
dimaksud adalah demam dan lesu Gejala lokal yang muncul adalah ingus kental dan berbau,
nyeri di sinus, reffered pain (nyeri yang berasal dari tempat yang lain-), yang bervariasi pada

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Sinusitis.htm (1 of 2) [12/04/2010 8:53:18]

Sinusitis

tiap sinus, seperti sinusitis maksila terdapat nyeri pada kelopak mata dan kadang-kadang
menyebar ke alveolus, sinusitis etmoid, rasa nyeri dirasakaan di pangkal hidung dan kantus
medius, sinusitis frontal, rasa nyeri dirasakan di seluruh kepala, sedangkan sinusitis sphenoid,
nyeri dirasakan di belakang bola mata dan mastoid.
Pada pemeriksaan beberapa gejala obyektif bisa didapatkan:
Pembengkakan di daerah muka
Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior , selaput permukaan konka merah dan Bengkak
Pada rhinoskopi posterior terdapat lendir di nasofaring dan post nasal drip.
Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan adalah pemeriksaan TRANSLUMINASI, sinus yang
terinfeksi akan terlihat lebih suram dan gelap pada pencahayaan tekhnik khusus. Pemeriksaan
lainnya adalah pemeriksaan radiologic WATERS PA DAN LATERAL, akan tampak
perselubungan atau penebalan selaput permukaan dengan batas garis khayalan yang terbentuk
karena beda zat cair dan udara pada sinus yang sakit. Dapat juga dilakukan pemeriksaan
mikrobiologik pada sekret yang diambil, tetapi hinggak kini jarang digunakan.
TATALAKSANA
Dapat diberikan terapi pengobatan Antibiotik selama 10-14 hari meskipun gejala klinis telah
hilang, Antibiotika yang diberikan dapat golongan Penisilin, tetapi untuk lini kedua dapat
digunakan Amoksisilin Klavulanat dan ditambah dengan dekongestan oral.
Terapi pembedahan jarang diperlukan kecuali telah terjadi komplikasi ke organ sekitar sinus.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Sinusitis.htm (2 of 2) [12/04/2010 8:53:18]

Vertigo

Vertigo
VERTIGO (BPPV)
Definisi
Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar) tanpa
sensasi perputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar (vertigo objektif) atau
badan yang berputar (vertigo subjektif). Vertigo berasal dari bahasa latin "vertere"= memutar.
Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening,
sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Vertigo yang paling
sering ditemukan adalah Benign paroxysmal positional Vertigo (BBPV). Menurut penelitian
pasien yang datang dengan keluhan pusing berputar / vertigo, sebanyak 20 % memiliki BPPV,
walaupun begitu BPPV sering salah diagnosa karena BPPV biasanya tidak berdiri sendiri tetapi
diikuti oleh penyakit lainnya seperti telinga atau mulut.
Epidemiologi
Prevalensi vertigo (BPPV) di amerika adalah 64 orang tiap 100.000, dengan wanita lebih banyak
daripada pria. BPPV sering terdapat pada usia yanglebih tua yaitu di atass 50 tahun.
Patofisiologi / Etiologi
BPPV terjadi akibat dari perubahan posisi kepala yang cepat dan tibat-tiba, biasanya akan
dirasakan pusing yang sangat berat, yang berlangsung bervariasi di semua orang, bisa lama atau
hanya beberapa menit sasja. Penderita kadang merasakan lebih baik jika berbaring diam saja.
Vertigo dapat berlangsung selama berhari-hari dan disertai dengan mual muntah. Hasilnya
pendertia akan merasa amat sangat panic dan segera melarikan diri untuk berobat, tak jarang
pasien seperti ini ditemukan di unit gawat darurat. BPPV disebabkan oleh pengendapan kalsium
di dalam salah satu alat penyeimbangan di dalam telinga, tetapi sebagian besar penyebabnya
belum dikethui hingga sekarang. Beberapa dugaan yang dikemukakan oleh para ahli adalah,
trauma pada alat keseimbangan, infeksi, sisa pembedangan telinga, degenerative karena usai dan
kelainan pembuluh darah. Vertigo berbeda dengan dizziness, suatu pengalaman yang mungkin
pernah kita rasakan, yaitu kepala terasa ringan saat akan berdiri. Sedangkan vertigo bisa lebih
berat dari itu, misalnya dapat membuat kita sulit untuk melangkah karena rasa berputar yang
mempengaruhi keseimbangan tubuh. Adanya penyakit vertigo menandakan adanya gangguan
system deteksi seseorang

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Vertigo.htm (1 of 3) [12/04/2010 8:53:19]

Vertigo

Gejala klinis
Pasien BPPV akan mengeluh jika kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan
merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu
sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika
kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang
disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas..Penderita biasanya dapat mengenali
keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang dapat
menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara
aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya
berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat
juga sampai beberapa tahun. Pada BPPV tidak didapatkan gangguan pendengaran.
Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis pemeriksaan THT, uji posisi
dan uji kalori.
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala
dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan
file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Vertigo.htm (2 of 3) [12/04/2010 8:53:19]

Vertigo

berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT
secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal.
Uji posisi dapat membantu mendiagnosa BPPV, yang paling baik adalah dengan melakukan
manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa,
lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan
nistagmus posisi dengan gejala :
1. Mata berputar dan bergerak ke arah telinga yang terganggu dan mereda setelah 5-20 detik.
2. Disertai vertigo berat.
3. Mula gejala didahului periode laten selama beberapa detik (3-10 detik).
4. Pada uji ulangan akan berkurang, terapi juga berguna sebagai cara diagnosis yang tepat.
Tatalaksana
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan, terapi fisik / latihan dan
olah raga. Dan jika keduat terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan
untuk terapi bedah
Obat-obatan yang biasanya digunakan adalah
1. Antikolinergik / parasimpatolik
2. Antihistamin
3. Penenang minor dan Mayor
4. Simpatomimetik
5. Kombinasi tersebut di atas.
Terapi fisik yang dapat digunakan
Berdasarkan hipotesis Kanalolithiasis
Dapat digunakan teknik pley yaitu posisi kepala 45 a menoleh ke arah telinga yang sakit,
kemudian pasien digerakkan dari posisi duduk ke posisi Hallpike dengan telinga sakit di bawah.
Pasien dapat dipertahankan dengan posisi ini selama 3 menit dan kemudian kepala dengan lambat
dirotasikan ke arah berlawanan dan dipertahankan 4 menit lalu pasien didudukkan.

file:///C|/Documents%20and%20Settings/anote/Desktop/tht/Vertigo.htm (3 of 3) [12/04/2010 8:53:19]