Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Mitra
Lokasi mitra terletak di Desa Crepet. Desa Crepet adalah salah satu desa
dari sepuluh desa yang berada di Kecamatan Dau Kabupaten Malang Propinsi
Jawa Timur. Mata pencaharian warga didapatkan dari : pertanian, peternakan,
perikanan dan perkebunan. Yang paling terkenal dari desa ini adalah penghasil
susu sapinya. Mitra penulis beberapa ekor sapi perah. Namun produksi susu
dari sapi tersebut kurang maksimal. Hal ini dikarenakan kesalahan pengolahan
pangan ternak. Mitra penulis juga udah memanfaatkan kotoran sapi menjadi
biogas. Namun biogasnya hanya dimanfaatkan untuk memasak saja.
Keluarga Bapak Poniran sebagai mitra PKM-T adalah keluarga peternak
sapai yang memiliki 5 ekor sapi perah. Sapi sapi keluarga bapak poniran
mampu menghasilkan 10 liter susu perharinya dimana setiap pagi susu susu
ini dikirim ke koperasi untuk dijual dan selanjutnya dibawa ke tempat
pengolahan susu. Sapi-sapi ini biasanya diberi makan rumput gajah atau jenis
daun-daunan tertentu namun rumput pakan ini tidak dicacah sebelumnya.
Dalam sehari sapi sapi ini menghabiskan pakan ternak sebanyak 35-40 kg.
Kandang sapi keluarga Bapak Poniran terletak dibelakang rumahnya. Di
sini juga telah dibuat rekator biogas berkapasitas 4 m 3. Keluarga Bapak
Poniran telah menggunakan biogas sebagai energy untuk kebutuhan sehari
hari terutamanya untuk memasak selama kurang lebih 4 tahun.
1.2 Identifikasi Masalah Mitra
Pemberian pakan sapi perah milik Bapak Poniran dilakukan 2 kali sehari
dengan rumput yang tidak dicacah cacah dulu sebelum menjadi pakan sapi.
Jika harus mencacah rumput pakan maka akan diperlukan waktu lebih lama
dan banyak membuang tenaga. Seperti yang diketahui Bapak Poniran harus
mencacah rumput sebanyak 40 kg perhari untuk pakan sapi, sedangkan bapak
poniran juga memiliki kebun yang harus digarap. Jika bapak poniran memiliki
mesin pencacah rumput maka waktu yang diperlukan menjadi lebih sedikit
dan juga tidak banyak membuang tenaga.
Selain itu rumput rumput hasil cacahan memiliki ukuran yang lebih kecil,
dengan begitu sapi akan lebih mudah memakan pakan rumput. Pakan rumput
yang dimakan oleh sapi pun akan semakin banyak yang imbasnya adalah
peningkatan produksi susu pada ternak sapi Bapak Poniran.
Menurut hasil penelitian kekurangan pakan pada ternak ruminasia,
kuhusnya sapi dapat menurunkan berat badan sekitar 130 sampai 150 gram

per hari tergantung dari jenis kelamin dan umur sapi. Sedangkan kecukupan
pakan dapat meningkatkan beart badan sekitar 430 hingga 510 gram perhari
(anonym, 1992). Bahan pakan ternak yang diberikan oleh bapak poniran
adalah rumput gajah segar dan menurut hasil penelitian rumput ini harus
dicacah sepanjang 2,5 sampai 3 cm agar pengaruh organisme dapat lebih cepat
dan merata. Ukuran pakan yang kecil ini juga akan meudahkan pencapuran
pakan dengan bahan tambah lainnya yang mampu meningkatkan produksi
susu sapi (anonym, 1992).
Jika harus membeli mesin pencacah rumput dipasaran berkisar 2-5 juta
rupiah, diluar mesin penggeraknya. Harga tersebut tidak terjangkau bagi bapak
poniran karena selain membayar harga mesin juga harus membayar biaya
pengiriman. Mesin yang dijual dipasaran umumnya berbahan bakar bensin
atau diesel, hal ini juga tidak terlalu effisien mengingat harga dari bensin atau
solar yang cukup tinggi untuk penggunaan jangka panjang.
Oleh karena itu tim PKM-T membantu Bapak Poniran dalam pembuatan
mesin pencacah rumput dan memodifikasi mesin berbahan bakar bensin
menjadi mesin berbahan bakar biogas.
1.3 Pemecahan Masalah
Untuk mampu menigkatkan produktifitas susu sapi dengan pemanfaatan
energy biogas maka didapat solusi pemecahan masalah sebagai berikut.
1. Merancang mesin pencacah rumput untuk pakan ternak berkapasitas 40
kg perjam
2. Merancang mesin pencacah rumput hasil pemotongan mesin cacah
dibuat berukuran 3 5 cm
3. Memodifikasi mesin berbahan bakar bensin menjadi berbahan bakar
biogas untuk meningkatkan effisiensi biaya.
4. Merancang mesin yang mudah untuk dioperasikan dan dengan
peratawan yang mudah.

BAB II
TARGET LUARAN

Target luaran yang ingin dicapai pada PKMT BICOP ini adalah sebagai berikut.
1. Mengahasilkan suatu desain baru mixer biogas untuk internal combustion
machine.
2. Paten terhadap alat yang telah dibuat.
3. Menciptakan sebuah rancang bangun mesin yang mudah untuk
dioperasikan dan dirawat.
4. Pengembangan energy biogas untuk kebutuhan lainnya diluar memasak
seperti yang telah diaplikasikan di mitra.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Biogas
Menurut Simamora (1989), biogas adalah campuran beberapa gas, tergolong
bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organic dalam
kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metana (CH4) dan gas
karbondioksida (CO2). Widodo dkk. (2005) menyatakan bahwa biogas
memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800 6700 kkal/m3 ,
untuk gas metana murni (100%) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3 . Biogas
sebanyak 1000 ft 3 (=28,32 m3) mempunyai nilai pembakaran yang sama
dengan 6,4 galon (=3,785 liter) butana, atau 5,2 galon gasolin (bensin), atau
4,6 galon minyak diesel.
Kandungan utama biogas adalah gas metana (CH4) dengan konsentrasi
sebesar 50 80 % vol. Kandungan lain dalam biogas yaitu gas karbon
dioksida (CO2), gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2), gas karbon monoksida
(CO) dan gas hidrogen sulfida (H2S). Gas dalam biogas yang dapat berperan
sebagai bahan bakar yaitu gas metana (CH4), gas hidrogen (H2) dan gas CO
(Price dan Cheremisinoff, 1981).
3.2 Komposisi Biogas
Menurut Wellinger and Lindenberg (2000), komposisi biogas yang
dihasilkan sangat tergantung pada jenis bahan baku yang digunakan. Namun
demikian, komposisi biogas yang utama adalah gas metana (CH4) dan gas
karbon dioksida (CO2) dengan sedikit hidrogen sulfida (H2S). Komponen
lainnya yang ditemukan dalam kisaran konsentrasi kecil (trace element) antara
lain senyawa sulfur organik, senyawa hidrokarbon terhalogenasi (Halogenated
hydrocarbons), gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2), gas karbon monoksida
(CO) dan gas oksigen (O2).
Table 3.1 komposisi gas gas pembentuk biogas
No.

Komponen

Gas Methan
(CH4)

Karbon
dioksida
(CO2)

Nitrogen (N2)

Komposisi

Satuan
1

%Vol

50 75

54 70

%Vol

24 40

27 45

%Vol

<2

01

Hidrogen
(H2)

%Vol

Karbon
monoksida (CO)

%Vol

Oksigen (O2)

Hidrogen
sulfida (H2S)

<1

01

0,1

Ppm

<2

0,1

Ppm

<2

Sedikit

3.3 Permasalahan Biogas


Permasalahan yang timbul pada saat biogas baru mengalami proses
produksi adalah komposisi dari biogas itu sendiri dikarenakan dalam biogas
terdapat beberapa kandungan gas lain yang tidak merugikan. Beberapa gas
yang tidak merugikan dalam biogas yaitu :
1

Gas Karbon dioksida (CO2)


Gas CO2 dalam biogas perlu dihilangkan karena gas tersebut
dapat mengurangi nilai kalor pembakaran biogas. Selain itu,
kandungan gas karbon dioksida (CO2) dalam biogas cukup besar
yaitu sekitar 30 45 % sehingga nilai kalor pembakaran biogas akan
berkurang cukup besar. Nilai kalor pembakaran gas metana murni
o
pada tekanan 1 atm dan temperatur 15,5 C yaitu 9100 Kkal /m3
(12.740 Kkal/kg). Sedangkan nilai kalor pembakaran biogas sekitar
4.800 6.900 Kkal/m3 (6.720 9660 Kkal/kg) (Harasimowicz,dkk .
2007)

Gas Hidrogen Sulfida (H2S)


Menurut Lastella dkk. (2002), konsentrasi gas ini dalam biogas
relatif kecil 0,1 2%. Gas ini bersifat korosif sehingga
konsentrasi yang besar dalam biogas dapat menyebabkan korosi pada
ruang pembakaran. Selain itu, gas ini mempunyai bau yang tidak
sedap, bersifat racun dan hasil pembakarannya menghasilkan gas
sulfur dioksida (SO2).

3.4 Pemurnian Biogas

3.4.1 Pemurnian H2S


Metode termudah dan murah untuk melakukan proses pemurnian gas H 2S
adalah dengan meggunakan geram besi hasil proses pembubutan. geram besi
ini sebelum digunakan harus diproses dengan oxygenation untuk
membentuk lapisan iron oxide. Prosesnya dilakukan secara natural dengan
membakar geram besi pada suhu 900 oC dan dibiarkan mendingin secara
perlahan didalam tungku. Rekasinya seperti skema dibawah ini.
Fe + feO
2Fe + 3/2O2 fe2O3
3fe + 2O2 fe3O4
Gas H2S akan terserap oleh oksida besi dengan reaksi dibawah ini
Fe2o3 + 3h2s fe2s3 + 3h2o
Fe3o4 + 4h2s +fes+fe2s3+4h2o
Feo + h2s fes +h2o
Masa gram besi yang digunakan untuk pemurnian biogas adalah 1 kg
dimana geram besi yang telah dioksidasi ini dimasukkan ke dalam pipa PVC
berdiameter 4 inch tinggi 70 cm. Diharapkan efisiensi penurunan kadar
biogas mencapai 70% dengan laju aliran gas 4 m3 biogas.
3.4.2 Pemurnian CO2
Pemurnian gas CO2 dilakukan dengan mengunakan air H2O. air
ditampung pada pipa PVC berdiamter 4 inch tinggi 25 cm. didalam tabung
pipa dimasukkna pipa pvc berdiameter 1 inchi yang mana ssatu pipa sebagai
inlet dan pipa yang kedua sebagai outlet, pipa inlet dan outlet
disekelilingnya telah dilubangi dengan diameter 4 mm. tinggi air yang ada
didalam pipa adalah 18 cm. diharapkan efisiensi penyerapan CO 2 sebesar
25 % dengan laju aliran gas 4 m3.
3.5 Motor Bensin 4 Tak
Motor bensin merupakan suatu motor yang dapat menghasilkan
tenaga dari proses pembakaran bahan bakar (campuran bahan bakar dan
udara) didalam ruang bakar. Karena proses pembakaran bahan bakarnya
terjadi didalam ruang bakar, maka motor bensin ini tergolong kedalam
jenis motor pembakaran dalam (Internal Combustion Engine). Motor
bensin mengubah energi termal bahan bakar menjadi energi mekanik berupa
daya poros pada putaran poros engkol.
Motor bensin (Spark Ignition Engine) menurut prinsip kerjanya, dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motor bensin dua langkah (two stroke)

dan motor bensin empat langkah (four stroke). Motor bensin 2 langkah
memerlukan 2 kali langkah torak untuk 1 kali pembakaran dan 1 kali langkah
kerja dalam 1 kali putaran poros engkol. Sedangkan motor bensin 4 langkah
memerlukan 4 langkah torak untuk 1 kali pembakaran dan 1 kali langkah
kerja dalam 2 kali putaran poros engkol.
3.5.1 Spesifikasi Motor Bakar
Dalam progress PKMT digunakna mesin 4 tak merk Honda gx 120 cc
dengan daya 3,5 HP, spesifikasi motor adalah sebagai berikut.
DIMENSIONS
Length x width x height
Dry weight
ENGINE
Engine type
Displacement (bore x stroke)
Max power
Rated power output
Max torque
Fuel consumption
Cooling system
Ignition system
Pto shaft rotation

320 x 345 x 320 mm


12,0 kg
4-stroke, overhead valve, single cylinder
107 cc ( 60 x 42 mm)
3,5 HP/3600 rpm
2.8 HP/3600 rpm
0,7 kg-m/2800 rpm
1 liter/h @3600 rpm
Forced air
Transistorized magneto
Counterclockwise

3.6 Karburasi
3.6.1 Definisi Karburasi
Proses pembentukan campuran udara-bahan bakar yang mampu bakar dengan
cara mencampurkan bahan bakar dan udara pada takaran yang sesuai sebelum
masuk ke dalam silinder motor dinamakan karburasi dan alat yang melakukan
tugas ini dinamakan karburator. Proses karburasi dipengaruhi oleh beberapa faktor
berikut:

1) Kecepatan motor
2) Karakteristik bahan bakar
3) Temperatur udara masuk

4) Desain karburator.
Motor bakar modern kebanyakan beroperasi pada kecepatan tinggi, dan
menyebabkan waktu yang tersedia untuk proses pembentukan campuran
udara-bahan bakar sangat sedikit. Misalnya, sebuah motor bakar yang
beroperasi pada kecepatan 3000 rpm akan hanya memiliki waktu sekitar 10
ms untuk proses pembentukan campuran. Apabila kecepatannya
ditingkatkan menjadi 6000 rpm, maka waktu yang tersedia tinggal 5 ms.
Oleh karena itu, untuk diperoleh hasil karburasi yang baik maka kecepatan
udara pada titik dimana bahan bakar dicampurkan harus 16 ditingkatkan.
Hal ini diperoleh dengan membuat venturi pada jalur aliran udara. Bahan
bakar dicampurkan tepat pada bagian tersempit dari venturi.
3.6.2. Campuran Udara Bahan bakar
Sebuah motor biasanya beroperasi pada kecepatan dan beban yang
berbeda-beda. Untuk keperluan ini, campuran yang baik antara bahan bakar
dan udara harus disuplai ke dalam silinder. Bahan bakar dan udara
dicampur untuk membentuk tiga jenis campuran, yaitu:
1) Campuran stoikiometrik
2) Campuran kaya
3) Campuran miskin
Campuran yang tepat secara stoikiometrik yaitu campuran yang
memiliki tepat jumlah udara untuk membakar bahan bakar yang ada.
Misalnya, untuk membakar satu kilogram oktana diperlukan 15.12 kg
udara. Sehingga, campuran yang tepat secara stoikiomterik adalah 15.12:1.
Nilai ini akan sedikit bervariasi pada berbagai jenis bahan bakar
hidrokarbon. Campuran yang kaya yaitu campuran yang mengandung lebih
sedikit udara dibanding campuran stoikiometrik, misalnya 10:1 atau 12:1,
sedangkan campuran yang miskin yaitu campuran yang memiliki lebih
banyak udara dibanding campuran stoikiometrik, misalnya 17:1 atau 20:1.
Walaupun demikian, ada batasan tertentu dari nilai ini yang memungkinkan
untuk terjadinya pembakaran di dalam ruang bakar. Di luar nilai itu,
campuran akan terlalu kaya atau terlalu miskin untuk dibakar di dalam
silinder.

BAB IV
RANVANG BANGUN MESIN
4.1 Rancang Bangun Mesin
4.1.1 Skema Mesin Chopper Berbahan Bakar Biogas.

Mesin
chopper
Kran 1

Kran 2

Tando
n
biogas
Mesin
Pemurnia
Pemurnia
Honda gx
n H2S
n CO2
4.2 Metode Perancangan
110 cc
Gambar 4.1 Skema instalasi mesin chopper berbahan bakar biogas

Gambar 4.2 Bagan metode yang dilakukan untuk merancang mesin


chooepr berbahan bakar biogas

4.3 Desain Venturie Mixer


Desain venture mixer didasarkan atas penelitian yang telah dilakukan oleh
S.D Yadav, Dr. Bimlesh Kumar, dan Dr S.S.Thipse dalam journal IJMET
berjudul Development Of Advanced Intake System For Optimum Biogas
Fuelled IC Engine Performances. Perhitungan venture mixer adalah sebagai
berikut
1. Menghitung air flow rate yang dibutuhkan mesin

N
Q= x D2 xLx v x
4
60
Dengan : D = diameter piston = 60 mm 0.06 m
L = stroke motor = 42 mm 0.042 m
v = volumetric effisiensi motor 4 langkah = 70 % 0.7
N = putaran mesin maksimum = 3600 rpm

Sehingga :

Q=

3600
2
x 0.06 x 0.04 x 0.7 x
4
60

Q=0.0049851 m3 /s
2. Menghitung kecepatan udara masuk pada venture. Kecepatan udara masuk
ini dihitung berdasarkan diameter karburator standart 0,952 inch.
D

x ( 1)2
4
Q
V i=

0.952 x0.0254)} ^ {2}}

x
4
0.0049851
V i=

V i=10.86 m/s
3. Menghitung kecepatan pada throat mixer dengan mengasumsikan
discharge co-efficient venture sebesar 0,9, didapat hasil. Diameter thoart
mixer dibuat sama dengan diameter pada karburator standartnya yaiu
0.456 inch
D

C d x x ( 2)2
4
Q
V 2=

0.456 x 0.0254

0.9 x x
4
0.0049851
V 2=

V 2=42.61m/s
Kecepatan pada throat mixer ini masih dibawah kecepatan standart yang
diijinkan yaitu 100 - 150 m/s ( Siripornakarachi, 2007). Jadi desain
memenuhi syarat.
4. Menghitung besarnya tekanan pada throat mixer,
p1 = tekanan udara atmosfer = 10130 kg/m2 ; a =1.204 @ 20oC

P2= p1 +

a 2
(V 1V 22)
2

P2=10130+

1.204
2
(10.8642.61 )
2

P2=9117,90 kg/m2
5. Menghitung kecepatan gas yang melewati throat mixer,

= masa jenis

biogas = 1.2 kg/m3


2
V 2 g=
( P P2 g )
g 1 g
V 2 g=

2
( 101309117,90 )
1.2

V 2 g=41,07 m/s
6. Menghitung aliran kecepatan gas actual yang dibutuhkan mesin. Asumsi
K v = 0.8
aktual V 2 g =K v

2
( P P 2 g )
g 1g

aktual V 2 g =0.8 x 41,07


aktual V 2 g =32,856 m/s

7. Menghitung aliran kecepatan gas maksimum yang dibutuhkan mesin.


BKW
m g=
th x LCV
m g=

2.6
0.3 x 22700

mg=0.00080 kg/ s
Dari hasil perhitungan kecepatan gas actual dan kecepatan gas maksimum
yang dibutuhkan mesin maka total luas penampang jet yang dibutuhkan..
A j=

A j=

mg
g x ( V 2 g ) act

0.000879
1.2 x 32,856

A j=0.00000968 m2

didapat nilai luas penampang jet adalah9.68 mm

Diameter lubang jet didapat, jika jumlah lubang jet yang digunakan hanya
1 lubang.

A j= d 2g
4
2
9.68= d g
4
d g =3.5 mm
Untuk mencapai prestasi mesin optimum maka digunakan diameter lubang
jet 4 mm.
Dari hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan dimensi utama dari
mixer adalah sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
e.

Diameter venture D1
Diameter venture D2
Diameter jet
Jumlah lubang jet
Panjang total mixer

= 0.952 inch
= 0.456 inch
= 4 mm
= 1 lubang
= panjang stock karburator = 80 cm

4.4 Desain Mixer


Desain dari mixer diperlihatkan oleh gambar dibawah ini.

Desain mixer yang digunakan adalah hasil pengembangan dari desain


Gambar 4.3 Gambar desaimixer biogas pada mesin Honda GX 100 cc
desain mixer hasil penelitian sebelumnya, dimana pada mixer ini
menggunakan jarum skep sebagai pengatur debit biogas yang masuk dan skep
sebagai pengatur jumlah udara yang masuk ke ruang bakar. Mixer biogas ini
dibuat dari aluminium yang diproses mesin. Bagian yang palaing penting dari
mixer ini adlah venturinya karena pada bagian ini terjadi percampuran antara
biogas dan udara yang selanjutnya akan masuk kedalam ruang bakar mesin.
Desain dari mixer ini terdiri dari beberapa komponen yaitu
1. Throttle body
2. Tutup skep
3. Pegas skep
4. Skep
5. Adapter mixer
6. Luabng outlet

7. Nipple inlet biogas


8. Mainjet biogas
9. venture
10. jarum skep
11. lubang inlet
Untuk menaikkan putaran mesin maka skep dan jarum skep diangkat untuk
memperbesar luasan aliran udara dan biogas, namun jika akan menurunkan
putaran mesin dilakukan hal sebaliknya.
4.5 Manufaktur Mixer
Mixer dibuat dari bahan aluminium buta, yang didapat dengan mudah
dipasaran. Dipelih bahan aluminium kareana bahan ini memiliki sifat yanga
tahan korosi, ringan, tahan panas dan sangat mudah untuk diproses mesin.
Berat jenis dari aluminium adalah 2,7 kg/m3 sehingga walaupun kekuatannya
rendah tetapi perbadinganya masih lebih tinggi dari pada baja, sehingga
banyak digunakan pada konstruksi yang menuntut sifat ringan seperti alat
alat transporatsi terutama pesawat terbang. Sifat utama yang dicari dari
aluminium adalah sifat ketahanan korosinya, seperti yang diketahui bahwa
salah satu zat penyusun biogas adalah gas H 2S yang memiliki sifat korosif.
Pada aluminium terdapat lapisan oksit yang melekat dengan kuat dan rapat
pada permukaan aluminium serta sifatnya yang sangat stabil.

Gambar 4.4 Mixer biogas dan karburator standart

4.6 Estimasi Konsumsi Biogas Dari Mesin


Diketahui bahwa.
1. Power rating mesin = 3,5 HP = 2.7 kW
2. Fuel consumption at rated power = 1l/h= 0.001 m3/h
3. Konsetrasi CH4 pada biogas = 70 %

4. Lower colorific value at standartcondition = Hu,n = 36000 kJ/m3n


(Mitzlaff, Engines For Biogas. 1988)
Menurut Mitzlaff (1988) konsumsi gas yang dibutuhkan dari mesin adalah
sebagai berikut.
Nilai calorific pada biogas
H u=V CH 4 x CH 4, n x H u ,n
H u=0,70 x 1.2 x 36.000
H u=30240

kj
,n
m3

Dari nilai calorific ini, dapat dicari nilai dari energy yang dibutuhkan
mesinuntuk bekerja optimal, dengan Hu,n pada kondisi standart adalah
25000

kJ
,n
m3

( Mitzlaff, 1988, Engines For Biogas)

E=fuel consuption at rated power x Hu , n


E=0.001

m3
kJ
x 25000 3 ,n
h
m

E=25 kJ /m3
Sehingga konsumsi biogas per jamnya dapat dihitung,
E
36
fc= =
=0.0008267=0.83 l/h
H u 30240
Jadi selama per jam nya konsumsi bahan bakar biogas diperkirkan sekitar 0.83
liter/jam
4.7 Reduksi Kecepatan
Putaran mesin yang ditransmisikan ke mesin chooper direduksi dengan
pemasangan pully 10 inch pada mesin chopper dan pully diameter 2 inch pada
mesin. Besarnya reduksi putaran mesin yang terjadi adalah
N1/N2 = D2/D1
Putaran mesin adalah putaran maksimum pada kondisi standart yaitu 3500
rpm. Jadi putran yang terjadi pada mesin chopper adalah.
N1/N2
= D2/D1
3500/N2 = 10/2
N2
= 3500/5
N2
= 700 rpm
Jadi putaran pada mesin chopper pada kondisi mesin putaran maksimum
adalah 700 rpm. Jika dibuat suatu simulasi dengan putaran terendah pada
mesin dipilih 850 rpm dan putaran maksimum 2650 rpm, dengan asumsi

bahwa pada rentan putaran tersebut mitra lebih sering menggunakannya untuk
pemotongan rumput pada mesin chopper.
Table 4.1 simulasi kecepatan mesin chopper dengan reduksi kecepatan

Putar
85
an
mesin
0
(rpm)
Putar
an
17
mesin
chopp
0
er
(rpm)

10

12

14

16

18

20

22

24

26

50

50

50

50

50

50

50

50

50

21

25

29

33

37

41

45

49

53

Dari hasil simulasi diatas terlihat bahwa putaran pada mesin chopper 170
530 rpm. Putaran optimum yang digunakan untuk pemotongan rumput
diperkirakan 370 410 rpm, jadi pully yang dipilih sudah cukup untuk
mereduksi kecepatan putaran mesin.
4.8 Pemilihan Sabuk V-Belt
Pemilihan sabuk v-belt dari pully mesin ke pully mesin chopper pully
menggunakan Sabuk V Standar. Berdasar data sebelumnya dapat diketahui
data sebagai berikut :
D1=Pulley 10 inch, D2 = Pulley 2 inch

n1=3500 rpm , ( dipilih putaran mesin maksimum pada kondisi

standart)
n 2 = 700 rpm

( dipilih putaran maksimum pada pully mesin chopper

dengan mesin pada kondisi standart)


La ( jarak pulley maksimum )=470 mm

P=Pn Cs ( cs=faktor kerja ) daya mesin 3,5 HP

P=(750 x 3,5)1,5=3914.93 watt

Lebar sabuk (b) dapat dilihat pada tabel TM.4 ukuran sabuk = 13 mm

Maka :
1 ( sudut lilit pulley ) =180 60
1=180 60

d 2d 1
La

( 25,4 10 )(25,4 2)
=174,92
450

Z ( jumlah sabuk ) =

C C 2
P
; C= 1
( C didapat padatabel TM .6 )
P180 C
C3

Berdasar tabel C=
v ( kecepatan sabuk )=

0,989 1
=0,989
1

d n 2 25,4 3500
=
=5,58 m/s
1000 60
1000 60

P180 ( kemampuan transmisi nominal ) =4.2 kW


Z ( jumlah sabuk ) =

3914.93
=0.9896 1 buah
4.0 0,989

Panjang sabuk :
2

( d d )
Lmr=2 La +1,57 ( d 1 +d 2 ) + 2 1
4 La

( 25450.8)2
Lmr=2 470+1,57 ( 254+50.8 )+
=1440.50 mm
4 470
Lir =Lmr 2 b=1440.502 13=1414.50 mm

Li berdasar barang yang ada dipasaran: maka panjang sabuk 1400mm dengan kode A4
Panjang

rata

rata

sabuk

yang

sebenarnya

Lm =Li +2 b=1400+ 26=1426 mm


Jarak renggang S sp 0,03 L m=0,03 1426=42.78 mm
Jarak pasang (pengurangan jarak poros agar sabuk tanpa sambungan
dapat dipasang tanpa tegangan ) S sp 0,015 L m=14000.015=21 mm
4.9 Mesin Chopper
Mesin chopper yang digunakan adalah mesin chopper jadi yang banyak
dijual di toko alat pertanian. Mesin chopper yang dipilih memiliki kapasitas
produksi 40 kg/jam. Mesin chooper ini memiliki 6 buah pisau yang terpasang
melingkar pada rumah pisau. Hasil potongan pakan rumput yang diharapkan
adalah 2 5 cm. Pada mesin chopper digunakan penggerak puli dimana daya
dari mesin yang digunakan untuk menggerakkan mesin cohpper adalah pully
dan v-belt. Pully yang digunakan adalah berdiameter 10 inch mm dan 2 inch.
4.10 Charging Battery dan Dynamo Stater
Untuk memudahkan penyalaan mesin maka silakukna modifikasi pada mesin
yaitu penambahan motor stater. Motor stater ini memperoleh daya dari aki 12
V yang dilengkapi dengan system charging. Skema kelistrikan motor stater
diperlihatkan oleh gambar 4.5 dibawah.

Untuk system charging battery dilakukan secara terpisah dimana terdapat


Gambar
4.6 Skema
kelistrikan
charging
dynamo
peralatan
charging
batteryinstalasi
yang terpasang
terpisah
daridan
mesin.
Charger yang
stateradalah charger iMAX B6 50W. charging battery dilakukan jika
digunakan
tegangan battery dibawah 12.80 volt karena pada tegangan battery yang baik
digunakan untuk statert mesin adalah 14,00 13,00 volt. skema instalasi
charging battery diperlihatkan oleh gamabr dibawah.
4.11 Pengopersian Mesin
4.11.1 Menghidupkan Mesin
Langkah langkah menghidupkan mesin adalah sebagai berikut
1. Membuka keran biogas sebanyak bukaan keran. Biogas akan
mengalir dari tendon ke bagian pemurniaan tingkat 1 ( geram besi)
kemudian mengalir ke bagian pemurnian tingakt 2 ( air). Setelah dari
pemurnian bioas kemudian mengalir ke saluran masuk mixer.
2. Membuka skep pada mixer sebanyak bukaan skep.
3. Menekan saklar pengaman on/off mesin kearah on. Saklar ini
berfungsi untuk memutus dan menyambungkan tegangan listrik dari
aki ke saklar start mesin.
4. Menekan tombol start mesin sampai mesin hidup.
5. Jika mesin belum bias dihidupkan, tambah bukaan kran biogas sedikit
demi sedikit begitu juga dengan skep udara pada mixer.
6. Jika mesin sudah hidup, tambah bukaan kran biogas dan skep udara
sedikit demi sedikit untuk menambah putaran mesin
4.11.2 Mematikan Mesin
Langkah mematikan mesin adalah dengan
1. Menutup keran biogas
2. Mematikan mesin dapat juga menutup skep udara setalah itu menutup
kran biogas
3. Setelah mesin mati, scalar pengaman on/off ditekan kearah off.
4.11.3 Mencharging Battery
Langkah langkah mencharging battery adalah sebagai berikut.

1. Menancapkan klem positif charger pada kutub positif battery


kemudian menancapkan klem negative charger pada kutub negative
battery.
2. Menancapkan plug positif dan negative klem charger ke plug positif
dan negative charger
3. Menancapkan plug adapater charger ke charger
4. Menancapkan plug charger ke stopkontak sumber daya listrik
5. Jika charger sudah hidup, tekan tombol seleksi untuk memilih
charging type PB batrrey
6. Kemudian menekan tombol start untuk memilih besarnya arus yang
digunakan untuk mengcharging, dipilih besarnya arus 2,5 ampere,
arus ini dirasa cukup untuk mencharging battrey karena arus
maksimum yang diijinkan untuk mencharging adalah 4,0 ampere.
7. Kemudian menekan tombol start kembali untuk memindahkan seleksi
ke tegangan batrrety yang akan discharging. Dipilih tegangan 12 volt
karena battery yang digunakan memiliki tegangan 12 Volt.
8. Setelah setting charging selesai, lalu menekan tombol start untuk
beberpa saat sampai ada tulisan dilayar LCD checking battery, dan
setelah itu proses charging dimulai.
4.11.4 Mematikan Proses Charging
1. Jika tegangan battery saat proses charging yang terbaca pada layar LCD
tertera 14,70 volt, artinya batrrey sudah penuh.
2. Jika demikian, plug pada stopkontak catu daya dilepaskan setelah itu
klem charger pada battery juga dilepaskan. Proses charging telah selesai.
4.11.5 Menyetel Posisi Pisau Mesin Chopper
Penyetelan ini dilakukan untuk mengatur panjangnya pakan rumput hasil
potongan atau pencacahan mesin chopper.alngkah penyetelannya adalah
dengan mengendorkan baut pengikat pisau chopper kemudian
menggesernya kearah depan atau belakang. Setelah setelannya dirasa cukup
baut dikencangkan kembali.

BAB V
PENGUJIAN MESIN
5.1 Kelengkapan Mesin Dan Alat Uji
5.1.1 Mesin Dan Accesoris
Mesin yang digunakan Honda GX 110 cc dengan daya 3,5 HP/3600 dan
torsi 0.7 kg.m/2800 rpm ( Honda GX 110 owner manuals). Pada mesin telah
dilakukan beberapa modifikasi seperti.
1. Pemasangan motor stater untuk memudahkan saat penyalaan mesin,
system standart Honda GX adalah masih menggunakan tali yang ditarik
untuk menghidupkan mesin
2. Tangki minyak bahan bakar telah dilepas. Tangki minyak ini tidak
digunakan lagi karena telah menggunakan bahan bakar biogas.
3. Karburator standart mesin diganti dengan karburator modifikasi sesuai
dengan perhitungan pada bab 4. Karburator ini dirangcang khusus untuk
motor bakar berbahan bakar biogas. Karburator modifikasi ini terbuat
dari bahan aluminium dengan panjang yaitu 80 cm, dimensi venture
dirubah untuk mendapatkan daya motor optimal. Ubahan pada venture
untuk diameter sisi masuk adalah 38 mm dan diameter sisi keluar
adalah 14.5 mm.
4. Karena mesin telah dimodifikasi dengan menggunakan motor starter,
maka ditambahkan perangkat pengecasan battery untuk menjaga
tegangan battery stabil 12 volt. Selama penggunaan, tegangan pada
battery akan turun yang berakibat batrrey tidakakan kuat untuk
menngerakkan motor starter, maka dari itu jika tegangan battery sudah
kuran, battery akan discharging.
5. Pada mesin juga telah dipasang panel kelistrikan sehingga tampilan
instalasi kelistrikan mesin lebih rapi.
6. Pada mesin chopper dilakukan modifikasi pada bagian pisau mesin
dimana jumlah nya dikurangi menjadi 3 buah pisau untuk mendapatkan
potongan rumput antara 8 cm sampai 10 cm.

5.1.2 Pemurinian Biogas


Pemurnian biogas pada mesin terdiri dari dua tabung yaitu tabung
yang berisi geram besi yang telah mengalami proses oksidasi (FeO) dan

tabung satunya diisi dengan air ( H2O). Tabung pertama yang berisi
geram besi oksidasi bertujuan untuk mengurangi kadar H 2S pada
biogas. Gas H2S ini memiliki potensi untuk terjadinya korosi pada
mesin Honda GX. Korosi yang terjadi akibat gas ini yang paling mudah
dilihat mata adalah pada bagian knalpot mesin dan bagian kepala
silinder. Korosi juga terjadi pada bagian dalam mesin dan berpotensi
merusak klep, pin poiston,piston, stang piston, ring piston dan
komponen lainnya.
Tabung kedua berisi air ( H2O) yang berfungsi untuk mengurangi
kadar CO2 pada biogas sekaligus mencuci bigas dari zat zat pengotor.
Gas CO2 pada biogas dikurangi untuk meningkatkan nilai kalor pada
biogas karena gas ini berimbas pada mudah tidaknya mesin untuk
dihidupkan.
5.1.3 Tachometer
Tachometer yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran mesin
yang dihasilkan dari bahan bakar biogas yang digunakan pada mesin
Honda gx. Spesifikasi dari tachometer ini adalah sebagai berikut.

5.2 Langkah Pengujian Gambar 5.1 Tachometer Fuji Kogyo


Langkah langkah pengujian mesin pada mitra adalah sebagai berikut.
1. Mengecek seluruh kondisi mesin mulai dari kelistrikan mesin,
pemasangan v-belt, baut dudukan mesin, dan peletakan mesin ditempat
yang cukup datar.
2. Memasang selang gas dari kran biogas ke tabung pemurnian tingkat 1
( tabung yang berisi geram besi oksidasi).
3. Membuka kran gas biogas kira kira bukaan kran.
4. Menghidupkan saklar ke posisi on kemudian menekan tombol start pada
panel kelistrikan untuk menghidupkan mesin.
5. Jika mesin sudah hidup, kran gas diatur bukaannya untuk mengatur
kecepatan putar mesin optimal.

6. Besarnya kecepatan mesin kemudian diukur dengan tachometer mitutoyo.


Dari kecepatan putar mesin ini akan dapat dihitung besarnya daya yang
dihasilkan mesin.
7. Jika mesin sudah hidup normal maka mesin sudah siap untuk melakukan
proses pemotongan rumput pakan sapi.
5.3 Hasil Pengujian
5.3.1 Pengujian Mesin
Dari hasil pengujian didapat hasil sebagai berikut. Pengujian performa
mesin digunakan alat tachometer mitutoyo untuk mengetahui besarnya
putaran mesin yang dihasilkan. Hasil pengujian pada mesin Honda gx 110 cc
didapat putaran mesin sebagai berikut.
Running test 1

Bukaan keran
biogas
1/8
1/4
1/2
3/4
Full

Table 5.1 Hasil putaran mesin pada running test 1


Bukaan skep
Putaran mesin
keterangan
mixer
(rpm)
Mesin hidup
1/8
1750
normal
Mesin hidup
1/8
2010
normal
Mesin hidup
1/8
2050
normal
Mesin hidup
1/8
2090
normal
Mesin hidup
1/8
2055
normal

Dari hasil putaran mesin diatas dapat dihitung nilai power output mesin
yang dihasilkan dari running test 1 adalah sebagai berikut.
a. Torsi mesin : torsi mesin yang digunakan adalah torsi mesin dari tech
spec standart Honda GX 110 cc yatu 0,7 kg.m yang nilainya sama
dengan
T = 0,7 kg.m x 9.8 m/s2 = 6.86 N.m
b. Daya mesin dihitung dengan persamaan
P=

2 x x rpm x T
x 0.746( kW )
6000

Table 5.2 Hasil perhitungan daya mesin pada running test 1

Torsi mesin (N.m)


6.86
6.86
6.86
6.86
6.86

Putaran mesin (rpm)


1750
2010
2050
2090
2055

Daya mesin (HP)


1.684348
1.934594
1.973093
2.011592
1.977905

Running test 2

Bukaan keran
biogas
1/8
1/4
1/2
3/4
Full

Table 5.3 Hasil putaran mesin pada running test 2


Bukaan skep
Putaran mesin
keterangan
mixer
(rpm)
Mesin hidup / putaran
1/4
1610
tidak stabil
Mesin hidup / putaran
1/4
1800
tidak stabil
Mesin hidup / putaran
1/4
1690
tidak stabil
Mesin hidup / putaran
1/4
1650
tidak stabil
1/4
Mesin tidak hidup

Dari hasil putaran mesin diatas dapat dihitung nilai power output mesin yang
dihasilkan dari running test 2 adalah sebagai berikut

Table 5.4 Hasil perhitungan daya mesin pada running test 2


Torsi mesin (N.m)
6.86
6.86
6.86
6.86
6.86

Putaran mesin (rpm)


1610
1800
1690
1650
-

Daya mesin (HP)


1.5496
1.732472
1.626599
1.588099
-

Running test 3

Bukaan keran
biogas
1/8

Table 5.5 Hasil putaran mesin pada running test 3


Bukaan skep
Putaran mesin
keterangan
mixer
(rpm)
1/2
1300
Mesin hidup / putaran

1/4

1/2

1450

1/2
3/4
Full

1/2
1/2
1/2

tidak stabil
Mesin hidup / putaran
tidak stabil
Mesin tidak hidup
Mesin tidak hidup
Mesin tidak hidup

Dari hasil putaran mesin diatas dapat dihitung nilai power output mesin yang
dihasilkan dari running test 3 adalah sebagai berikut
Table 5.6 Hasil perhitungan daya mesin pada running test 3
Torsi mesin (N.m)
Putaran mesin (rpm)
Daya mesin (HP)
6.86
1300
1.25123
6.86
1450
1.395602
6.86
6.86
6.86
-

Running test 4

Bukaan keran
biogas
1/8
1/4
1/2
3/4
Full

Table 5.7 Hasil putaran mesin pada running test 4


Bukaan skep
Putaran mesin
keterangan
mixer
(rpm)
3/4
Mesin tidak hidup
3/4
Mesin tidak hidup
3/4
Mesin tidak hidup
3/4
Mesin tidak hidup
3/4
Mesin tidak hidup

Pada running test 4 mesin sama sekali tidak bisa dihidupkan


Dari hasil running test mesin didapat daya maksimum yaitu sebesar 2.01
Hp pada putaran 2090 rpm. Kemudian mesin dicoba memotong rumput gajah
sepanjang 1.5 m sebanyak 5 batang rumput (3kg), hasilnya mesin mampu
bekerja dengan normal saat pemotongan rumput.
Mesin dibiarkan dingin untuk beberapa saat selama kurang lebih 1 jam
kemudian mesin dihidupkan kembali. Selanjutnya mesin diuji dengan
memotong rumput sebanyak 35 kg, hasilnya pada putaran tersebut knalpot
mesin menjadi merah akibat kepanasan setelah selang waktu kerja 10 menit.
Mesin dimatikan sejenak untuk menurunkan suhu mesin. Diputuskan putaran
mesin hanya dipatok pada kisaran 1700 rpm -1800 rpm dengan daya 1.5 1.6 HP. Setelah cukup dingin mesin dihidupkan kembali dan dicoba

memotong rumput sebanyak 35 kg. mesin mampu bekerja dengan baik


tanpa mengalami pnas berlebih ini terlihat dari knalpot mesin yang tidak
merah membara seprti sebelumnya. Waktu yang dibutuhkan mesin untuk
menyelesaikan pemotongan rumput adalah 22 menit untuk satu kali kerja.
Waktu kerja ini dirasa cukup baik karena kurang dari 30 menit waktu yang
dibutuhkan mesin untuk mencacah rumput seberat 35 kg untuk satu kali
pakan sapi perhari. Jadi selama 1 hari jika sapi diberi pakan 5 kali sehari
waktu kerja mesin adalah 150 menit.
5.3.2 Pengujian Mesin Chopper
Hasil potongan yang didapat adalah berkisar 3 cm - 15 cm. hasil ini cukup
baik untuk pakan sapi dan sesuai dengan keinginan mitra. Jumlah pisau yang
terpasang pada mesin chopper adalah 3 pisau. Saat dilakukan pemotongan
dengan jumlah pisau 6 buah hasil potongan rumput terlalu halus menurut
mitra, jadi lebih dirasa efektif jika menggunakan 3 mata pisau. Kapasitas
pemotongan rumput yang didapat dari hasil uji coba adalah 35 kg rumput
gajah selama 22 menit waktu kerja untuk satu kali pakan sapai dalam 1 hari.

BAB VI
POTENSI HASIL
6.1 Mixer biogas
Mixer biogas yang telah diuji coba menunjukkan mesin mampu bekerja
dengan baik dengan putaran mesin relative stabil. Diketahui dari hasil
pengujian putaran mesin dan daya mesin terbaik dicapai pada bukaan kran gas
biogas 1/4 dan bukaan skep mixer 1/4 sampai 1/2 . Dengan kondisi pengaturan
mixer demikian mesin sudah cukup mampu untuk menggerakkan mesin
chopper.
6.2 Pemurnian Biogas
Unit permurnian biogas yang terdiri dari dua komponen zat pemurni yaitu
geram besi dan air (H2O). Unit permurnian ini dapat memurnikan biogas
dengan baik hal ini ditunjukkan dengan mesin Honda GX yang mampu
bekerja dengan baik walaupun putarannya belum relative stabil, tapi dari hasil
pengujian mesin sudah mampu menggerakkan mesin chopper. Unit permunian
biogas ini memerlukan bebrapa perawatan ringan diantaranya penggantian air
pada permurnian zat CO2 setiap 3 bulan sekali atau jika warna air dirasa telah
berubah dan pengecekan unit permurnian H2S yaitu geram besi yaitu dengan
meyiramnya dengan air kemudian menjemurnya unutk mengaktifkan reaksi
oksidasi ( geram akan menjadi karatan) sehingga karat pada geram besi tetap
terjaga unutk memisahkan unsur H2S dari biogas.
6.3 Daya Mesin

Dari hasil uji coba didapat daya mesin maksimum yang mampu dihasilkan
adalah 2,01 HP daya ini lebih rendah 42,60 % dari daya yang dihasilkan
dengan menggunakna bahan bakar premium. Namun dengan tenagan 2,0 HP
mesin honda GX mampu menggerakkan mesin chopper dengan baik dengan
waktu untuk menmotong rumput gajah seberat 35 kg adalah 22menit.
6.4 Potongan Rumput
Hasil potongan yang didapat adalah berkisar 3 cm - 15 cm. hasil ini cukup
baik untuk pakan sapi dan sesuai dengan keinginan mitra. Jumlah pisau yang
terpasang pada mesin chopper adalah 3 pisau
Kapasitas pemotongan rumput yang didapat dari hasil uji coba adalah 35 kg
rumput gajah selama 22 menit waktu kerja untuk satu kali pakan sapai dalam
1 hari
6.5 Effisiensi Mesin Chopper Biogas
Menghitung effisiensi mesin chopper biogas ini bertujuan untuk
mengetahui seberapa effektif mesin chopper berbahan bakar biogas
disbanding kan jika mengunakan mesin berbahan bakar bensin (premium).
a. Konsumsi bahan bakar standart mesin honda gx 110 menurut manual
booknya adalah 1 liter selama 1 jamnya dengan asumsi motor bekerja
pada putaran penuh (3600rpm pada standart pabrik), tapi pada
kenyataanya tidaklah mungkin mesin berkeja pada putaran setinggi itu
jadi diambil putaran kerja mesin sebesar 1800 rpm setengah dari
putaran maksimum mesin. Sehingga diambil konsumsinya akan
menjadi 0.7 liter selama 1 jamnya dengan tambahan rugi rugi daya saat
mesin bekerja. Diketahui untuk mencacah rumput gajah sebanyak 35
kg dibutuhkan waktu 22 menit, dan sapi sapi diberi makan sebanyak 5
kali dalam sehari jadi mesin bekerja
T kerja = (22 menit x 5 ) / 60 = 1, 83 jam atau 1 jam 50 menit
( pembulatan)
Dengan waktu kerja mesin lebih lama 50 menit itu artinya dengan
putaran 1800 rpm bahan bakar yang diperlukan adalah 0,7 liter x 2 =
1,4 liter bensin. Jika mesin bekerja dalam kondisi waktu kerja selama 1
jam 50 menit sehari dan menghabiskan bensin 1,4 liter biaya bensin
yang ditanggung perharinya adalah
Biaya bensin 1 hari = 1,4 liter x rp 7400 = Rp 10.360
Biaya Rp 10.360 adalah biaya bensin per hari dan selama 1 bulan maka
biayanya menjadi,
Biaya bensin 1 bulan = 1.4 liter x rp 7400 x 30 hari = Rp 310.800
Dan dalam 1 tahun menjadi,

Biaya bensin 1 tahun = 12 X Rp 310.800 = Rp 3.729.600


Jadi biaya yang harus dikeluarkan oleh mitra untuk uang bensin saja
adalah sebesar rp 310.800/ bulan atau rp 3.729.600 /tahun
Jika menggunakan biogas maka mitra sama sekali tidak perlu
mengeluarkan biaya banyak karena biogas sendiri dihasilkan dari
kotoran sapi ternak yang diternakan oleh mitra. Maka pada biogas tidak
memerlukan biaya untuk membelinya.
b.

Untuk biaya perawatan mesin adalah perawatan dan pembersihan


kerak pengotor pada bagain mixer dan penggantian oli yang rutin
dilakukan setiap 2 bulan sekali. Diketahui bahwa mesin bekrja 1 jam
50 menit (1,833 jam) selama sehari maka dalam jangaka waktu 2 bulan
mesin bekerja selama,
T mesin 2 bulan = 1.833 jam x 2 x 30 hari = 109.98 jam
Jadi perawatan mesin dilakukan setiap 110 jam.
Diketahui :
1. Oli mesran super = Rp 26.000
2. Bensin 1 liter = Rp 7.400
3. Air accu = Rp 3.000
Biaya perawatan selama 110 jam adalah,
Biaya perawatan = biaya oli + biaya bensin + air accu
= Rp 26.000 + Rp 7.400 + Rp 3.00 = Rp 36.400
Didapat biaya servis yang dikeluarkan oleh mitra selama 110 jam
kerja atau 2 bulan adalah Rp 36.400 dan juga biaya service tak terduga
misalnya penggantian piston, ring piston atau komponen mesin vital
lainnya sebesar Rp 250.000 untuk jangka waktu 6 bulan sebagai biaya
darurat perawatan mesin. Jadi dalam setahun biaya service yang
dikeluarkan.
Biaya service 1 tahun = biaya service 2 bulan + biaya service 6 bulan
= (12/2 x Rp 36.400) + (2x Rp 250.000)
= Rp 718.400

Dari hasil perhitungan diatas disajikan perbandingan dalam bentuk


table dibawah.
Biaya pembelian bahan
bakar
Biaya perawatan
Biaya pembuatan mesin
Total

Premium (bensin)

Biogas

Rp 3.729.600 /tahun

Tidak beli

Rp 718.400/tahun
Rp 1.500.000
Rp 5.948.000

Rp 718.400
Rp 1.950.000
Rp 2.664.800

Dari table diatas diketahui bahwa biaya termurah didapat dari bahan
bakar biogas yang artinya dengan menggunakan mesin berbahan bakar
biogas ini mitra akan lebih cepat balik modal. Jika pendapatan mitra
minimum mitra sebesar Rp 2.500.000 perbulan maka dengan biaya
pembuatan mesin sebesar Rp 2.664.800, modal mitra akan kembali dalam
jangka waktu 2 bulan dan keuntungan yang diperoleh selama 1 tahun
dengan pendapatan minimum adalah,
Keuntungan = 12 x pendapatan per bulan biaya pembuayan mesin
biaya perawatan
= 12 x Rp 2.500.000 Rp 2.664.800 Rp 718.400
= Rp 26.616.800
Jadi keuntungan pertahun yang didapat mitra sebesar Rp 26.616.800 atau
hampir 90% dari biaya pembuatan mesin.

BAB VII
RENCANA KEGIATAN SELANJUTNYA
Dari hasil pengujian dilokasi mitra, mesin chopper biogas sudah 80 % mampu
bekerja dengan baik walaupun ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki
agar mesin ini dapat bekrja secara maskimal. Untuk mencapai hasil kegiatan 100
%, maka langkah selanjutnya adalah sebagi berikut.
1. Pemasangan unit pendingin berupa blower untuk mendinginkan suhu
mesin. Hal ini diperlukan untuk mengatasi apabila mesin bekerja pada
putara diatas 2000 rpm dan juga untuk menjaga dan memperpanjang umur
pakai komponen mesin honda GX 110 cc.

2. Pemilihan kabel busi dengan resistansi rendah, sehingga pada saat starting
dingin ( mengingat kondisi lingkungan mitra adalah daerah dataran tinggi)
mesin mudah dihidupkan.dan juga pada kondisi tegangan batreey yang
mulai melemah sekalipun ( <12,50 volt).
3. Pemilihan chop busi yang lebih baik untuk meminimalkan adanya loncatan
listrik koil yang bocor dimana hal ini mengakibatkan mesin susah
dihidupkan.
4. Pembuatan tempat atau rumah untuk mesin chopper dimana nantinya alas
dari mesin chopper biogas ini terbuat dari beton kemudian di ikat dengan
baut dan mur, pada bagian pengikatnya diberi peredam karet unutk
meredam getaran mesi ketanah sehingga tidak terlalu menggangu sapi.
Tempat yang dipilih sebagi rumah mesin chopper juga bebas dari tepasan
air hujan disaat musim hujan ( diberi pelindung dari tetesan dan tepisan air
terutama pada bagian panel kelistrikan).