Anda di halaman 1dari 6

F4.

UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


PENGUKURAN STATUS GIZI PADA BALITA PESERTA POSYANDU
PASINRINGI
DESA/KELURAHAN MACANRE KECAMATAN LILIRILAU
KABUPATEN SOPPENG
I.

LATAR BELAKANG
Persoalan gizi dalam pembangunan kependudukan masih merupakan
perosalan yang dianggap menjadi masalah utama dalam tatanan kependudukan
dunia. Oleh karena itu, persoalan ini menjadi salah satu butir penting yang
menjadi kesepakatan global dalam Millenium Development Goals (MDGs).
Setiap negara secara bertahap harus mampu mengurangi jumlah balita yang
bergizi buruk atau gizi kurang sehingga mencapai 15% pada tahun 2015.
Di Indonesia, persoalan gizi ini juga merupakan salah satu persoalan
utama dalam pembangunan manusia. Sebagai salah satu negara dengan
kompleksitas

kependudukan

yang

sangat

beraneka

ragam,

Indonesia

dihadapikan dengan dinamika persoalan gizi buruk. Mengutip data Riskesdas


2013, prevalensi gizi kurang pada balita (BB/U<-2SD) memberikan gambaran
yang fluktuatif dari 31% pada tahun 1990, 18,4 persen pada tahun 2007
kemudian menurun menjadi 17,9 persen (2010) dan kini meningkat lagi
menjadi 19,6 persen (tahun 2013).
Menurut Sihad, dkk (2001) anak balita gizi buruk jika tidak segera
mendapat penanganan yang serius akan memberikan dampak yang cukup fatal.
Hasil penelitian pada awal usia 6-9 tahun yang sewaktu balita menderita gizi
buruk memiliki rata-rata IQ yang lebih rendah 13,7 poin dibandingkan dengan
anak yang tidak pernah mengalami gangguan gizi.
Berdasarkan estimasi diatas, serta melihat realitas di Indonesia terkait
permasalahan gizi pada anak-anak ini, maka usaha deteksi dini penting dan
mendesak untuk dilakukan. Kita mengenal alat ukur yang digunakan untuk

keperluan ini antara lain dengan pengukuran status gizi melalui kegiatan
Posyandu dengan kartu menuju sehat (KMS).
II.

PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Banyak faktor yang menyebabkan gizi kurang pada balita, yaitu: status
sosial ekonomi keluarga dan pola asuh ibu. Status sosial ekonomi keluarga
meliputi pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu.
Pendapatan

keluarga

mempengaruhi

ketahanan

pangan

keluarga.

Ketahanan pangan yang tidak memadai pada keluarga dapat mengakibatkan


gizi kurang. Tingkat pendidikan dalam keluarga khususnya ibu dapat menjadi
faktor yang mempengaruhi status gizi anak dalam keluarga. Semakin tinggi
pendidikan orang tua maka pengetahuan gizinya akan lebih baik dari yang
berpendidikan rendah. Ibu ibu yang bekerja dari pagi hingga sore tidak
memiliki waktu yang cukup bagi anak dan keluarga. Ibu ibu yang bekerja tidak
mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan makanan anak yang sesuai
dengan kebutuhan dan kecukupan serta kurang perhatian dan pengasuhan
kepada anak (Berg,1986). Seorang ibu memegang peranan penting dalam
pengasuhan anaknya. Pendidikan ibu yang rendah masih sering ditemui, semua
hal tersebut sering menyebabkan penyimpangan terhadap keadaan tumbuh
kembang dan status gizi anak terutama pada usia balita.
III.

PEMILIHAN INTERVENSI
Dalam mengatasi masalah gizi buruk dan pengaruhnya terhadap
pertumbuhan harus dilakukan secara komprehensif serta menyeluruh. Cara dan
strategi yang dapat dilakukan berupa deteksi dini di posyandu dengan
melakukan penimbangan balita serta melalui KMS (Kartu Menuju Sehat)
sehingga bisa diketahui grafik pertumbuhannya. Upaya pemulihan gizi dengan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu terutama dalam memberi
asupan gizi kepada anak. Selain hal tersebut, pemberian edukasi atau
penyuluhan gizi kepada ibu bayi juga sangat penting untuk dilakukan.
2

IV.

PELAKSANAAN
Pengukuran status gizi balita peserta Posyandu dilaksanakan pada tanggal
5 Juni 2015 di Posyandu Pasinringi, Kelurahan Macanre dengan jumlah peserta
28 orang balita. Setiap peserta ditimbang berat badannya dengan menggunakan
timbangan dacin.
V.

EVALUASI

1. Evaluasi Struktur
Persiapan kegiatan berupa timbangan (dacin) untuk mengukur berat
badan dan dilakukan pencatatan umur kemudian dicocokan dengan tabel
standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) untuk menentukan status gizi
berdasarkan kategori dan ambang batas status gizi anak.

2. Evaluasi Proses
Balita yang ditimbang berat badannya sebanyak 28 balita, 14 balita
laki-laki dan 14 balita perempuan.
3. Evaluasi Hasil
Hasil pengukuran Posyandu:
No

Nama

Umur

BB

Z-score

Status

1.
2.

Andi Nurlaeli
Dini Kartika

(bulan)/JK
44 /
46 /

(kg)
15,6
12,3

Gizi
Median
Baik
-2 sampai Baik

3.

Nabila

45 /

14

-1 SD
-1SD

Baik
3

sampai
4.

Andi Muh. Ikhsan 43 /

12

median
-3 sampai Kurang

5.
6.

Rahmat Mubarak
Mutmah Innah

9,5
15,5

-2 SD
< -3 SD
Buruk
-1
SD Baik

41 /
52 /

sampai
7.

Nabila Putri

8.

Andi

43 /
Siti 38/

14

Median
-1 sampai Baik

13,2

median
-1
SD Baik

Rumairah
9.

Sari Nursanti

sampai
36/

11,2

median
-2
SD Baik
sampai

10.

Raodatul Aditia

37/

12

SD
-2
sampai

11.

Muh. Fahri

59/

15,5

SD
-2
sampai

12.

Muh Fiki

32/

11,7

SD
-2
sampai

13.

Nasrul

25/

11,5

SD
-1

-1
SD Baik
-1
SD Baik
-1
SD Baik
-1
SD Baik

sampai
14.

Muhammad

25/

11

Median
-1 SD

15.

Safrullah
Ahmad Dapid

23

10,3

-2SD

Baik
Baik

sampai
16.

Andi Bunga

21/

14,5

-1SD
2SD

Lebih
4

sampai
17.

Fikram

21/

12,3

3SD
Median

Baik

sampai
18.
19.

Naela Ramadhan
Noor Fadillah

21/
21/

8,6
8,9

1SD
-2SD
-2SD

Baik
Baik

sampai
20.

Gifa

15/

-1SD
-1SD

Baik

sampai
21.

Mustang Hilman

14

8,7

Median
-2SD

Baik

menjadi
22.

Andi Muhammad 12

7,7

-1SD
-2SD

23.
24.

Reski
Arifah
Andi Alfian

10
8,6

Median
-1SD

17/
10/

Baik
Baik
Baik

sampai
25.

Muh Refqy

9/

Median
Median
sampai

26.

Talita

10/

6,9

SD
-2SD

Baik
1
Baik

sampai
27.

28.

Muhammad

9/

7,9

-1SD
-1SD

Veinul

sampai

Andi Nurfadillah

Median
Median

12/

Baik

Baik

sampai
1SD

Kesimpulan:
Status Gizi
Gizi buruk
Gizi kurang
Gizi baik
Gizi lebih

Jumlah
1
1
25
1

25
20
15

Gizi buruk

Gizi kurang

Gizi baik

Gizi lebih

10
5
0
Jumlah

Berdasarkan hasil pengukuran status gizi yang telah dilakukan didapatkan


bahwa 1 balita (3,57 %) termasuk dalam kategori gizi buruk, 1 balita (3,57%)
termasuk dalam kategori gizi kurang, 25 balita (89,26%) termaksud dalam
kategori gizi baik, dan 1 balita (3,57%) termaksud dalam gizi lebih.

PESERTA

dr. Nur Sepdyanti

PENDAMPING

dr. Hj. Markani Daharu