Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus Ujian

Keratitis Superfisialis

Pembimbing :
dr. AA. Ayu Ratnawati, Sp.M

Disusun oleh :
Monalisa (11.2013.095)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA,
2015

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
UJIAN ILMU PENYAKIT MATA
BAYUKARTA EYE CENTER, KARAWANG
Tandatangan
Nama : Monalisa
Nim : 11-2013-095

............................................

Dr Penguji : dr.AA. Ayu. Ratnawati, Sp. M

.............................................

STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS
Nama

: Tn. YS

Umur

: 24 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Karawang

Tanggal Pemeriksaan : 23 03 2015 jam 14.00


No CM
II.

: 2015008385

ANAMNESIS
Dilakukan Auto anamnesis pada tanggal 23 03 2015, jam 14.00

Keluhan Utama :
Kedua mata terasa mengganjal

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke BKEC Karawang dengan keluhan kedua mata terasa mengganjal
sejak 7 hari. Pasien mengatakan terasa mengganjalnya seperti ada pasir atau debu pada
kedua matanya. Selain itu perasaan mengganjal pada kedua mata juga disertai mata
merah, berair terus-menerus, perih, silau, gatal dan penglihatannya agak kabur. Oleh
karena gatal, pasien sering mengucek-ngucek matanya. Keluhan tersebut tidak disertai
demam dan baru pertama kali dialami pasien. Pasien tidak mengeluh sakit kepala, tidak
ada trauma pada mata sebelumnya, tidak ada kelilipan benda asing, tidak ada riwayat
pemakaian kontak lensa dan kacamata, serta tidak mengeluarkan kotoran pada matanya.
Pasien juga sudah berobat ke dokter umum dan diberi obat tetes mata, tetapi belum ada
perbaikan sama sekali.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat DM (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat infeksi mata sebelumnya (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat DM (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat alergi (-)
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini

Riwayat Penyakit Sosial Ekonomi :


Pasien seorang PNS, biaya pengobatan ditanggung sendiri. Kesan ekonomi cukup.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
- Tensi (T)

120/90 mmHg

Nadi (N)
Suhu (T)
Respiration Rate (RR)
Keadaan Umum
Kesadaran
Status Gizi

:
:
:
:
:
:

80 kali / menit
Afebris, 36,8C
18 x / menit
Tampak sakit ringan
Compos mentis
Cukup

B. STATUS OPTHALMOLOGI

Keterangan : 1. Infiltrat berupa titik-titik pada permukaan kornea


2. Injeksi Siliar
OCULI DEXTRA(OD)
20/50
PH 20/30 F2
Edema (-), hiperemis(-),

PEMERIKSAAN
Visus
Pinhole

nyeri tekan(-),
blefarospasme (+),
lagoftalmus (-),

OCULI SINISTRA(OS)
20/50
PH 20/30 F2
Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-),

Palpebra

blefarospasme (+),
lagoftalmus (-)

ektropion (-),

ektropion (-),

entropion (-)
Edema (-),

entropion (-)
Edema (-),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi siliar (+),

injeksi siliar (+),

infiltrat (-),

Konjungtiva

infiltrat (-),

hiperemis (+),(+) pada

hiperemis (+) pada

konjungtiva tarsal dan

konjungtiva tarsal dan

forniks
Putih
Sedikit keruh, edema (-),

Sklera

forniks
Putih
Sedikit keruh, edema (-),

keratik presipitat(-),

Kornea

keratik presipitat(-),

Arkus senilis (-), sikatriks (-)

Arkus senilis (-), sikatriks (-)

infiltrat (+) berupa titik-

infiltrat (+) berupa titik-

titik pada permukaan

titik pada permukaan

kornea
kedalaman cukup

Camera Oculi

kornea
kedalaman cukup

hipopion (-),

Anterior

hipopion (-),

hifema (-)
Warna coklat,(-), edema(-),

(COA)

hifema (-)
Warna coklat,(-), edema(-),

sinekia anterior (-)


Regular, letak sentral,
3mm, refleks pupil langsung
(+), refleks pupil tidak
langsung (+)
Jernih
Jernih
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
N
lakrimasi (+)
Tidak dilakukan

IV.

Iris

Pupil

Lensa
Vitreus
Fundus Refleks
Retina
TIO Digital
Sistem Lakrimasi
Tes flurosein

sinekia anterior (-)


Regular, letak sentral,
3mm, refleks pupil
langsung (+), refleks pupil
tidak langsung (+)
Jernih
Jernih
Tidak lakukan
Tidak dilakukan
N
lakrimasi (+)
Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Slitlamp :
Tampak kornea kiri terdapat infiltrat berupa titik-titik di permukaan kornea
yang terletak di sekitar central kornea. Juga tampak injeksi siliar, hiperemis
pada konjungtiva tarsal dan forniks, dan lakrimasi pada kedua mata.

V.

RESUME
1. SUBJEKTIF
Pasien laki-laki umur 24 tahun datang dengan keluhan kedua mata terasa

mengganjal sejak 7 hari sebelum pemeriksaan.


Kedua mata terasa mengganjal seperti berpasir, matanya merah, berair terus-

menerus, nyeri, silau, gatal dan penglihatannya kabur.


Sudah diberi obat tetes mata dari dokter, belum ada perbaikan.
2. OBJEKTIF

OCULI DEXTRA(OD)
20/50
PH 20/30 F2
Edema (-), hiperemis(-), nyeri

PEMERIKSAAN
Visus
Pinhole

tekan(-),

nyeri tekan (-),

blefarospasme (+),

Palpebra

lagoftalmus (-),

blefarospasme (+),
lagoftalmus (-)

ektropion (-),

ektropion (-),

entropion (-)
Edema (-),

entropion (-)
Edema (-),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi siliar (+),

Konjungtiva

injeksi siliar (+),

infiltrat (-),

infiltrat (-),

hiperemis (+)
Sedikit keruh, edema (-),

hiperemis (+)
Sedikit keruh, edema (-),

keratik presipitat(-),

keratik presipitat(-),

Arkus senilis (-), sikatriks (-)

Arkus senilis (-), sikatriks (-)

infiltrat (+) berupa titik-titik

Kornea

halus pada permukaan

VI.

OCULI SINISTRA(OS)
20/50
PH 20/30 F2
Edema (-), hiperemis(-),

infiltrat (+) berupa titik-titik


halus pada permukaan

kornea yang tersebar di

kornea yang tersebar di

sekitar sentral kornea


Lakrimasi(+)

sekitar sentral kornea


lakrimasi (+)

Sistem Lakrimasi

DIAGNOSA BANDING
ODS :
1. Keratitis

pungtata

superficialis
2. Keratitis bakterial

3.
4.
5.
6.

Keratitis jamur
Keratitis alergika
Uveitis anterior
Gloukoma akut

7.
DIAGNOSA KERJA
8.
9. ODS Keratitis punctata superficialis

VII.

10.

Dasar diagnosis

11.

Anamnesa :

Terdapat trias keratitis : mata merah, fotofobia disertai lakrimasi, dan

rasa

mengganjal yang disertai blefarospasme.

Juga terdapat keluhan mata perih dan penurunan tajam penglihatan


Onset yang cepat
12.
13.

Pemeriksaan Fisik :

14.

Pada pemeriksaan visus ODS didapatkan visus 20/50 dan dilakukan pinhole

didapatkan visus 20/30 F2. Dan pada pada pemeriksaan slitlamp tampak kornea ODS
terdapat infiltrat berupa titik-titik di permukaan kornea yang terletak di sekitar central
kornea. Juga tampak injeksi siliar, hiperemis pada konjungtiva tarsal dan forniks, dan
lakrimasi.
15.
16.
17.

PENATALAKSANAAN

18. Medikamentosa
POLYNEL (Fluoromeholone + Neomycin sulfate) 2 tetes 4x/hari ODS
LFX (levofloksasin) 2 tetes 4x/hari ODS
HARVIS Salep (Acyclovir 30 mg 3%) 2x/hari ODS
GLUKONS (Azetazolamid) 250 mg 1 x 1/2 tab perhari
-

VIII.

19.
20. Non-medika Mentosa
Kurangi pajanan debu dan sinar matahari
Kompres dingin
21.

PROGNOSIS
22. OKULI DEKSTRA (OD)
23. Quo Ad Visam
:
24. Quo Ad Sanam
25. Quo Ad Kosmetikam :
26. Quo Ad Vitam
:

OKULISINISTRA(OS)
ad bonam
:
ad bonam
ad bonam
ad bonam

ad bonam
ad bonam
ad bonam
ad bonam

27.
IX.

USUL & SARAN

Usul :

Pewarnaan (gram dan giemsa) kerokan kornea


Kultur dan sensitivitas tes kerokan kornea
Fluoresein test
funduskopi
Tes Sensibilitas Kornea menilai nervus trigeminus
28.
Saran :
Rajin memakai obat tetes sesuai instruksi dokter
Menggunakan pelindung / memakai kacamata agar terhindar terkena trauma
debu dan fotofobia
Menjaga kebersihan mata, jangan dikucek-kucek atau dipegang-pegang. Jika
habis memegang mata yang sedang sakit harap cuci tangan.

Banyak istirahat dan konsumsi makanan yang bergizi dengan tujuan untuk
mencegah infeksi sekunder dan membantu proses penyembuhan.TINJAUAN
PUSTAKA
29.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

30.
31.

Kornea (Latin Cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian

mata yang tembus cahaya. Kornea disisipkan ke dalam sklera pada limbus, lekukan
melingkar pada sambungan ini disebut sulcus scleralis. Kornea dewasa rata rata
mempunyai tebal 550 m dipusatnya ( terdapat variasi menurut ras); diameter
horizontalnya sekitar 11,75mm dan vertikalnya 10,6 mm.
32.
Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar ke dalam :
1.
2.
3.
4.
5.
33.

Lapisan epitel (berbatasan dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris)


Membran Bowman
Stroma
Membran Descement
Endotel
Sumber sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh - pembuluh darah

limbus (arteri ciliaris anterior), humor aqueous, dan air mata. Saraf - saraf sensorik
kornea didapat dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus
berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman dan
melepaskan selubung Schwannya.
34.

35.

37.

36.
Transparasi kornea disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskularitas,

dan desturgensinya. Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak
dapat segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera
bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di
limbus dan tampak sebagi injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang
tampak sebagi bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian
dapat terjadi kerusakan epitel dan timbul ulkus kornea yang dapat menyebar ke
permukaan dalam stroma. Pada peradangan yang hebat, toksin dari kornea dapat
menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descemet dan endotel kornea.
Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbullah kekeruhan di cairan
COA, disusul dengan terbentuknya hipopion. Bila peradangan terus mendalam, tetapi
tidak mengenai membran descemet dapat timbul tonjolan membran descement yang
disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan dipermukaan kornea,

penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan parut. Pada peradangan


yang lebih dalam, penyembuhan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut yang dapat
berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih mendalam lagi dapat timbul
perforasi yang dapat mengakibatkan endoftalmitis, panoftalmitis, dan berakhir dengan
ptisis bulbi.
38.

Fungsi dari kornea adalah sebagai media refrakta dan sebagai bagian mata

dengan pembiasan sinar terkuat. 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar yang masuk
dibiaskan oleh kornea
39.

40.

KERATITIS

41.

Keratitis adalah kondisi di mana terjadi proses peradangan pada kornea mata,

yang dapat disebabkan oleh banyak hal. Berbagai jenis infeksi, mata kering, trauma, dan
berbagai macam penyakit medis dapat menyebabkan keratitis. Bahkan pada beberapa
kasus keratitis tidak diketahui penyebabnya.
42.

Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat

dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis.
Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan
parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula, dan leukoma.
43. Adapun gejala umum adalah :

Keluar air mata yang berlebihan

Nyeri

44.

Penurunan

tajam penglihatan
kelopak mata (bengkak, merah)
Mata merah
Sensitif terhadap cahaya
Radang pada

Karena kornea memiliki banyak serabut nyeri sehingga pada keratitis sering

timbul rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit ini diperberat oleh gesekan palpebra (terutama
palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Fotofobia terutama
disebabkan oleh kontraksi iris yang meradang. Selain itu, oleh karena kornea berfungsi
sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang

yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan
terutama apabila lesi terletak sentral dari kornea.
45.

Keratitis dapat diklafikasikan berdasarkan lokasi, derajat penyakit


dan etiologinya
46.

Berdasarkan lokasi yang terkena :


1. Keratitis Epithelial (superficial)
2. Keratitis Subepithelial
3. Keratitis Stroma (Interstitial)
4. Keratitis Endotelial (Profunda)
47.

1.
2.
3.
4.

Berdasarkan derajat penyakitnya :


Ringan
Sedang
Berat
Berhubungan dengan peradangan bagian lain dari mata
Keratokonjungtivitis (kornea dan konjungtiva)
Keratouveitis (kornea dan traktus uveal)
48.
49.
50.

Berdasarkan etiologi:

1. Infektif
- Keratitis Bacterial

o
o
o
o
o
o
o
-

Staphylococcus epidermidis
Staphylococcus aureus
Sterptococcus pneumonia
Koliformis
Pseudomonas
Haemophilus
Enterobacteriaceae (termasuk Klebsiella, Enterobacter, Serratia, dan Proteus)

Keratitis Viral (Herpes simpleks (HSV) tipe 1 dan tipe 2


o

Herpes simpleks (HSV) tipe 1

Herpes simpleks (HSV) tipe 2

Keratitis Jamur
o

Candida

Fusarium

Aspergillus

Penicilium

Cephalosporium

Keratitis parasit (Acanthomoeba spp)

Keratitis Interstisial
o

Sifilis

Tuberkulosa

Lepra

2. Non infektif
Keratitis Pungtata Non- Viral
51.
Disebabkan obat-obatan, alergi, dan lensa kontak
Keratitis Alergi
- Keratokonjungtivitis Flikten
- Keratokonjungtivitis Vernal
52.
53.
Keratitis Paparan

54.

Karena gangguan lubrikasi mata dan proteksi palpebra pada kornea


55.
Terdiri atas:
-

Keratitis Lagoftalmus : akibat kelopak mata tidak dapat menutup

sempurna sehingga terjadi kekeringan pada kornea


Keratitis Neuroparalitik : gangguan pada Nervus Trigeminal sehingga

sensibilitas dan metabolisme kornea terganggu


Keratitis pada keratokonjungtivitis sika : kekeringan permukaan kornea

karena gangguan sekresi air mata


Fotokeratitis
56. Akibat paparan sinar UV dari matahari atau lampu. Dapat
sembuh sendiri setelah 1-2 hari.
57.

58.

59.

60.
61.
Keratitis Superfisialis / Epithelial
62.
Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah:
1. Keratitis punctata superfisialis
63.
Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh
berbagai penyakit infeksi virus antara lain virus herpes simpleks, herpes zoster dan
vaksinia.

2. Keratitis flikten
64.
Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan
untuk menyerang kornea.
3. Keratitis sika
65.
Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar
lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva.
4. Keratitis lepra
66.
Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut
juga keratitis neuroparalitik.
5. Keratitis nummularis
67.
Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan
banyak didapatkan pada petani.
6. Keratitis profunda
68.
Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain:
- Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital
- Keratitis sklerotikans.

69.
70.

KERATITIS PUNCTATA SUPERFISIALIS THYGESON


71.

72.
74.

73.
Keratitis pungtata merupakan keratitis yang terkumpul di daerah membran

Bowman dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus dan bilateral rekuren menahun
yang jarang ditemukan, tanpa pandang jenis kelamin maupun umur. Keratitis ini disebut
juga dengan Thygesons disease karena ditemukan pertama kali oleh dr. Phillip
Thygeson di Amerika. Penyakit ini ditandai kekerutan epitel yang meninggi berbentuk
lonjong dan jelas, yang menampakkan bintik-bintik pada pemulasan dengan fluoresein,
terutama di daerah pupil. Kekeruhan ini tidak tampak dengan mata telanjang, namun
mudah dilihat dengan slit-lamp atau kaca pembesar. Kekeruhan subepitelial dibawah lesi
epitel (lesi hantu) sering terlihat semasa penyembuhan penyakit epitel ini.
75.
76.

77.

78.

Etiologi

79.

Belum ditemukan organisme penyebabnya, namun dicurigai virus. Pada satu

kasus berhasil diisolasi virus varicella-zoster dari kerokan kornea. Penyebab lainnya
dapat terjadi pada moluskulum kontangiosum, acne roasea, blefaritis neuroparalitik,
trakoma, trauma radiasi, lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin dan
bahan pengawet lainnya.
80.

81.

Manifestasi klinis

82.

Pasien dengan keratitis pungtata superfisial biasanya datang dengan keluhan

iritasi ringan, adanya sensasi benda asing, mata berair, penglihatan yang sedikit kabur,
dan silau (fotofobia) . Lesi pungtata pada kornea dapat dimana saja tapi biasanya pada
daerah sentral. Daerah lesi biasanya meninggi dan berisi titik-titik abu-abu yang kecil.
Keratitis epitelial sekunder terhadap blefarokonjungtivitis stafilokokus dapat dibedakan
dari keratitis pungtata superfisial karena mengenai sepertiga kornea bagian bawah.
Keratitis epitelial pada trakoma dapat disingkirkan karena lokasinya dibagian sepertiga
kornea bagian atas dan ada pannus. Banyak diantara keratitis yang mengenai kornea
bagian superfisial bersifat unilateral atau dapat disingkirkan berdasarkan riwayatnya.
83.
Penderita akan mengeluh sakit pada mata karena kornea memiliki banyak
serabut nyeri, sehingga amat sensitif. Kebanyakan lesi kornea superfisialis maupun yang
sudah dalam menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit diperberat oleh kuman
kornea bergesekan dengan palpebra. Karena kornea berfungsi sebagai media untuk
refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang masuk ke mata
maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi
terletak sentral pada kornea.
84.
Fotofobia yang terjadi biasanya terutama disebabkan oleh kontraksi iris yang
meradang. Dilatasi pembuluh darah iris adalah fenomena refleks yang disebabkan iritasi
pada ujung serabut saraf pada kornea. Pasien biasanya juga berair mata namun tidak
disertai dengan pembentukan kotoran mata yang banyak kecuali pada ulkus kornea
yang purulen. KPS ini juga akan memberikan gejala mata merah, silau, merasa kelilipan,
penglihatan kabur.
85.
Dalam mengevaluasi peradangan kornea penting untuk membedakan apakah
tanda yang kita temukan merupakan proses yang masih aktif atau merupakan kerusakan
dari struktur kornea hasil dari proses di waktu yang lampau. Sejumlah tanda dan
pemeriksaan sangat membantu dalam mendiagnosis dan menentukan penyebab dari
suatu peradangan kornea seperti: pemeriksaan sensasi kornea, lokasi dan morfologi

kelainan, pewarnaan dengan fluoresin, neovaskularisasi, derajat defek pada epitel, lokasi
dari infiltrat pada kornea, edema kornea, keratik presipitat, dan keadaan di bilik mata
depan. Tanda-tanda yang ditemukan ini juga berguna dalam mengawasi perkembangan
penyakit dan respon terhadap pengobatan.

86.

Terapi

87.

Pasien diberi air mata buatan, tobramisin tetes mata, dan sikloplegik.

Pemberian tetes kortikosteroid untuk jangka pendek sering kali dapat menghilangkan
kekeruhan dan keluhan subjektif, namun pada umumnya kambuh. Prognosis akhirnya
baik karena tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea. Bila tidak diobati, penyakit
ini berlangsung 1-3 tahun. Pemberian kortikosteroid topikal untuk waktu lama
memperpanjang perjalanan penyakit hingga bertahun-tahun dan berakibat timbulnya
katarak teriduksi steroid dan glaukoma.
88. Gambar:
89.

90.

92.

91.

93.

94.

Diagnosa Banding
95. G

96. K

97. U

98. Gl

ej

er

ou

al

at

ei

ko

iti

tis

bj

ak

ak

ek

ut

ut

ut

tif
99. In
je

100.
+++

101.

102.

++

ks
i
sil
iar
103.

104.

105.

106.

Injeks

++

++

++

i
ko
nj
un

gti
va
107.

108.

Keker

+/+++

109.

110.

+++

uh
an
ko
rn
ea
111.

112.

113.

114.

Kelain

Norm

Miosi

Midri

an

al

as

pu

ir

is

pil

no

io

si

ul

re

ar

ak

115.
Kedal

116.

117.

tif
118.

Dang

ka

an
B
M
D
119.

120.

121.

122.

TIO

Norm

Rend

Tinggi

al

a
h

123.

124.

Sekret

125.

126.

127.
128.
129.

Tanda

130.

Keratit
is / iritis

131.

Konju
ngtiva

132.

Tajam

133.

penglihata

Turun

134.

Norma

nyata

n
135. Silau

136.

Nyata

137.

Tidak

138.

139.

Sakit

140.

ada
Pedes,

Sakit

rasa
141.

Mata

142.

merah
144.

Sekret

Injeksi
siliar

145.

Tidak

kelilipan
143. Injeksi
konjungti
146.

ada
147.

Lengk

148.

et kelopak
150.

Pupil

Tidak

, mukos,
purulen
149. Teruta

ada
151.

Menge
cil

va
Serous

ma pagi
152.

hari
Norma
l

153.

154.
155.
156.
157. Komplikasi

Gangguan refraksi
Jaringan parut permanent
Ulkus kornea
Perforasi kornea
Endoftalmitis
Glaukoma sekunder
Kebutaan
158.

159. Prognosis
160.

Prognosis akhirnya baik karena tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada

kornea. Bila tidak diobati, penyakit ini berlangsung 1-3 tahun dengan meninggalkan
gejala sisa.
161. Meskipun sebagian besar KPS memberikan hasil akhir yang baik namun pada
beberapa pasien dapat berlanjut hingga menjadi ulkus kornea jika lesi pada KPS tersebut
telah melebihi dari epitel dan membran bowman. Hal ini biasanya terjadi jika pengobatan
yang diberikan sebelumnya kurang adekwat, kurangnya kepatuhan pasien dalam

menjalankan terapi yang sudah dianjurkan, terdapat penyakit sistemik lain yang dapat
menghambat proses penyembuhan seperti pada pasien diabetes mellitus, ataupun dapat
juga karena mata pasien tersebut masih terpapar secara berlebihan oleh lingkungan luar,
misalnya karena sinar matahari ataupun debu.
162. Pemberian kortikosteroid topikal untuk waktu lama dapat memperpanjang
perjalanan penyakit hingga bertahun-tahun serta dapat pula mengakibatkan timbulnya
katarak dan glaukoma yang diinduksi oleh steroid.
163.

164.

Daftar Pustaka
165.

1.

American Academy of Ophthalmology. Externa


disease and cornea, San Fransisco 2006-

2.

2007 : 8-12, 157-160

Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi


Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 2000. Hal : 129 142

3.

James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes: Oftalmologi.


Edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga, 2006. Hal: 67-71

4.

Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. FKUI.


Jakarta. 2006

5.

Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-

1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. Hal: 56


http://www.medicinenet.com
166.
167.
6.

168.
169.

170.
171.
172.
173.
174.
175.
176.
177.

Tugas

178.
1. Virus dapat kelapisan stroma atau tidak ?
179. Virus tidak dapat mengenai lapisan stroma. Keratitis
herpetika yang disebabkan oleh herpes simpleks dibagi dalam 2
bentuk yaitu epitelial dan stroma.
180.
Pada yang epitelial kerusakan terjadi akibat
pembelahan virus di dalam sel epitel,yang akan mengakibatkan
kerusakan sel dan membentuk ulkus kornea superfisial.
181.
Sedangkan pada yang stroma diakibatkan reaksi
imunologik tubuh pasien sendiri terhadap virus yang menyerang.
Karena kornea merupakan bangunan yang avaskuler,maka
pertahanan pada waktu peradangan tidak bereaksi dengan
cepat,seperti jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi.
Sehingga badan kornea ,wandering cells dan sel sel lainnya yang
terdapat di dalam stroma kornea akan segera bekerja sebagai
makrofag yang kemudian di susul dengan terjadinya dilatasi dari
pembuluh darah yang terdapat di limbus dan akan tampak sebagai
injeksi perikornea .Kemudian akan mengakibatkan timbulnya
infiltrat.
182.
2. Perbedaan infiltrate dan keratik presipitat ?
183. Infiltrate adalah penetrasi interstitium jaringan atau
bahan.
184. Keratik presipitat adalah timbunan sel di atas endotel
kornea
185.
186.