Anda di halaman 1dari 5

ISSN 0216 - 3128

246

Supriyanto C., Samin

UNJUK KERJA METODE FLAME ATOMIC ABSORPTION


SPECTROMETRY (F-AAS) PASCA AKREDITASI
Supriyanto C., Samin
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN

ABSTRAK
UNJUK KERJA METODE FLAME ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY (F-AAS)
PASCA
AKREDITASI. Telah dilakukan pengujian unjuk kerja metode nyala spektrometri serapan atom pada
program uji profisiensi yang diselenggarakan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Program uji
profisiensi dilakukan dengan menentukan kadar unsur Cr, Fe, Pb, dan Mn pada contoh uji yang berasal dari
KAN dengan kode KAN IX AL-A dan KAN IX AL-B. Kalibrasi alat uji AAS dilakukan menggunakan larutan
standar Cu 2 ppm, dengan hasil kepekaan dan presisi 0,019 ppm dan 0,320 %, masing-masing lebih rendah
dari syarat acuan ASTM 0,040 ppm dan 1 %. Validasi metode uji dilakukan dengan uji pungut ulang (uji
rekaveri), dengan hasil % rekaveri masing-masing unsur berkisar 100 %. Berdasar hasil kalibrasi dan
validasi metode uji, menunjukan alat uji AAS dengan metode uji nyala masih layak sebagai alat uji.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan KAN menunjukan perolehan kadar unsur Cr, Fe, Pb, dan Mn dalam
contoh uji KAN IX AL-A dan KAN IX AL-B dengan metode nyala AAS pada kategori berhasil.

ABSTRACT
PERFORMANCE OF ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETER (AAS) AFTER ACCREDITATION. The
performance of flame atomic absorption spectrometry method on the proficiency test done by national
accreditation Committee of Indonesia (KAN) has been tested. The program of proficiency test was
implemented by determining Cr, Fe, Pb, and Mn content in KAN IX AL-A and KAN IX AL-B samples. The
calibration of AAS instrument was done by using standard solution of Cu 2 ppm sensitivity and precision
such as 0,019 ppm and 0,320 % respectively lesthan ASTM reference of 0,040 ppm and 1 %. The validation
of method was done by recovery test with result % recovery of each element around of 100 %. Based on the
results of calibration and validation showed that AAS instrument is still valid as an instrument test. Based
on the evaluation of KAN showed that the content of Cr, Fe, Pb, and Mn in KAN IX AL-A and KAN IX AL-B
samples are within the successful category.

PENDAHULUAN

kreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan


formal berupa pemberian, pemeliharaan,
perpanjangan, dan pencabutan akreditasi lembaga
sertifikasi atau laboratorium uji/ kalibrasi yang
dilakukan oleh lembaga otorisasi independen yang
dalam hal ini adalah Komite Akreditasi Nasional
(KAN). Untuk memperoleh pengakuan formal dari
KAN, suatu laboratorium harus memenuhi beberapa
persyaratan yang ada dalam persyaratan umum
kompetensi laboratorium penguji/kalibrasi (1).
Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi
oleh setiap laboratorium uji yang terakreditasi
adalah laboratorium uji tersebut harus melakukan uji
profisiensi/uji perbandingan. Uji profisiensi adalah
serangkaian kegiatan pengujian untuk melakukan
identifikasi unjuk kerja laboratorium melalui cara
uji banding antar laboratorium. Uji profisiensi
sangat diperlukan karena merupakan salah satu cara
yang dilakukan untuk mengetahui unjuk kerja dari
instrumen pendukung dalam suatu laboratorium uji.
Uji
profisiensi
dilakukan
dengan
cara
membandingkan hasil uji suatu contoh uji yang

dilakukan dengan metode tertentu dalam


laboratorium uji, kemudian data hasil uji yang
diperoleh dibandingkan dengan metode lain dari
berbagai laboratorium uji baik pemerintah maupun
swasta di seluruh Indonesia. Pelaksanaan program
uji profisiensi dilakukan oleh semua laboratoprium
uji yang terakreditasi, sedangkan evaluasi terhadap
hasil uji dari masing-masing laboratorium uji dapat
dilakukan oleh KAN, institusi pemerintah ataupun
oleh laboratorium uji yang telah memperoleh
akreditasi dari KAN(1,2).
Hasil uji profisiensi akan berpengaruh pada
status akreditasi dari laboratorium uji seperti
perpanjangan atau pencabutan akreditasi. Kriteria
keberhasilan uji profisiensi ditunjukkan dengan
besaran Z-score yang diperoleh dari perhitungan
hasil uji suatu laboratorium uji yang dibandingkan
antar laboratorium (akurasi), dan besaran Z-score
yang dibandingkan intra laboratorium (presisi),
dengan urutan criteria memuaskan, diperingatkan,
outlier, dan sangat menyimpang(2).
Demikian juga halnya dengan Laboratorium
Kimia Analitik PTAPB yang wajib mengikuti uji

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007

Supriyanto C., Samin

ISSN 0216 - 3128

247

profisiensi, dilakukan menggunakan alat uji AAS


dengan metode nyala. Contoh uji diperoleh dari
KAN dalam bentuk contoh uji air limbah yang
diperkaya dengan logam Pb, Mn, Fe, Cr, dan anion
nitrat (NO3), NH4, dan diawetkan dalam suasana
HCl (pH < 2). Untuk memperoleh hasil uji
profisiensi yang memenuhi persyaratan yang
ditentukan oleh KAN, diperlukan beberapa
parameter antara lain validasi metode uji dan
validasi alat uji. Validasi metode uji dilakukan
menggunakan Standard Reference Materials (SRM)
sebagai contoh uji, kemudian ditentukan kadar
unsur yang ada dalam SRM tersebut. Metode uji
dikatakan valid apabila kadar unsur hasil analisis
berada dalam rentang kadar yang ada dalam
sertifikat. Validasi metode uji dapat juga dilakukan
dengan uiji pungut ulang atau uji rekaveri. Validasi
alat uji dilakukan dengan melakukan kalibrasi,
ditentukan
harga
kepekaan
dan
presisi,
dibandingkan dengan persyaratan acuan, kemudian
dilakukan verifikasi terhadap unsur yang akan di
analisis. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui kelayakan alat uji AAS,
dan unjuk kerja metode nyala AAS berdasarkan
evaluasi data hasil uji profisiensi yang dilakukan
oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Kepekaan alat uji SAA

TATA KERJA

Penentuan RKT dilakukan dengan membuat


satu deret larutan standar Pb, Mn, Fe, dan Cr dengan
kisaran konsentrasi Cr, Fe dan Pb masing-masing
0,02; 0,2; 0,5; 1, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 15 dan 20 ppm.
Kisaran konsentrasi Mn 0,005; 0,01; 0,02; 0,05;
0,1; 0,2; 0,5; 0,75; 1,0; 2, 5 ppm. Masing-masing
deret larutan standar diukur serapannya pada
kondisi optimum dari masing-masing unsur.
Rentang konsentrasi terpakai masing-masing unsur
diperoleh berdasarkan perhitungan % RCE (relative
concentration equivalent).

Bahan dan ALat


Pada penelitian ini bahan-bahan yang
digunakan meliputi bahan standar Spektrosol Pb,
Mn, Fe, dan Cr masing-masing konsentrasi 1000
ppm buatan BDH, asam nitrat 1 N, akuabides buatan
lab Kimia Analitik PTAPB. Sebagai bahan contoh
uji terdiri dari 2 (dua) macam contoh uji yang
diperoleh dari KAN, masing-masing volume 250
mL. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat
alat spektrometer serapan atom yang dilengkapi
dengan GTA-96 dan PSC-56 buatan Varian,
Techtron Ltd., Australia, pipet effendorf 10 - 100
L, 250 - 1000 L.
Cara kerja
Optimasi kondisi analisis unsur-unsur Pb, Mn,
Fe, dan Cr
Kondisi optimum analisis unsur-unsur Pb,
Mn, Fe, dan Cr diperoleh dengan mengamati
serapan yang maksimum pada panjang gelombang
optimum masing-masing unsur pada setiap
perubahan laju alir contoh uji, arus lampu, laju alir
asetilen, laju alir udara, tinggi dan posisi pembakar.
Larutan standar masing-masing unsur yang diamati
adalah Pb, dan Mn masing-masing 1 ppm,
konsentrasi Cr 5 ppm, dan konsentrasi Fe 2 ppm.

Penentuan kepekaan alat uji SAA dilakukan


dengan membuat 1 buah larutan campuran yang
terdiri dari larutan standar Cu 1000 ppm, HNO3 1 N,
dan akuatrides sedemikian rupa sehingga
konsentrasi
Cu dalam larutan 2 ppm, dan
konsentrasi HNO3 dalam larutan 0,1 N. Larutan
tersebut diukur serapannya dengan 3 kali
pengukuran pada kondisi analisis yang optimum,
dihitung kepekaan yang diperoleh kemudian
dibandingkan dengan persyaratan yang ada.
Presisi alat uji
Penentuan presisi alat uji SAA dilakukan
dengan membuat 1 buah larutan campuran yang
terdiri dari larutan standar Cu 1000 ppm, HNO3 1 N,
dan akuatrides sedemikian rupa sehingga
konsentrasi
Cu dalam larutan 2 ppm, dan
konsentrasi HNO3 dalam larutan 0,1 N. Larutan
tersebut diukur serapannya dengan 6 kali
pengukuran pada kondisi analisis yang optimum,
dihitung simpangan baku yang diperoleh kemudian
dibandingkan dengan persyaratan yang ada.
Penentuan rentang konsentrasi terpakai (RKT)

Validasi Metode
Validasi metode uji unsur Pb dilakukan
menggunakan uji pungut ulang atau uji rekaveri
yaitu dengan menambahkan konsentrasi tertentu
larutan contoh uji ke dalam larutan standar Pb
konsentrasi 1,0 ppm. Diukur serapannya pada
kondisi optimum analisis unsur Pb, diperoleh
konsentrasi unsur Pb dalam contoh uji. Konsentrasi
Pb yang diperoleh dibandingkan dengan konsentrasi
Pb dalam contoh uji yang sesungguhnya. Validasi
metode uji unsure Cr, Fe dan Mn dilakukan dengan
cara kerja yang sama pada unsur Pb, dengan
konsentrasi larutan standar Cr : 1,5 ppm, Fe : 1,5
ppm, dan Mn : 0,6 ppm.
Aplikasi metode analisis.
Aplikasi metode nyala pada analisis logamlogam berat Pb, Mn, Fe, dan Cr dalam contoh uji air

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007

Supriyanto C., Samin

ISSN 0216 - 3128

248

limbah yang berasal dari KAN, dilakukan dengan


teknik kalibrasi standar yaitu dengan mengukur
serapan Pb, Mn, Fe, dan Cr dari contoh uji pada
kondisi optimum masing-masing unsur. Kadar Pb,
Mn, Fe, dan Cr diperoleh dengan cara
mengintrapolasi serapan yang diperoleh dalam
kurva standar masing-masing unsur.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada uji profisiensi (KAN IX/2006) setiap
laboratorium peserta memperoleh 2 (dua) buah
contoh uji (KAN IX AL-A dan KAN IX AL-B),
masing-masing volume 250 mL, ditentukan kadar

unsur Pb, Mn, Fe, dan Cr dengan metode nyala


serapan atom. Untuk memperoleh tampilan data
hasil uji yang memenuhi persyaratan secara
akreditasi seperti validitas hasil uji dan
ketertelusuran hasil uji, beberapa parameter
penelitian perlu diperhatikan, antara lain kondisi
optimum analisis. Kondisi optimum analisis
diperoleh dengan mengamati serapan yang optimum
pada panjang gelombang maksimum masing-masing
unsur Pb, Mn, Fe, dan Cr pada setiap perubahan
arus lampu, lebar celah, laju alir contoh uji, laju alir
asetilen, laju alir udara, dan tinggi pembakar,
seperti disajikan pada Tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1. Kondisi optimum unsur-unsur Cr, Fe, Pb, Mn


No

Parameter

Cr

Fe

Pb

Mn

357,9

248,3

217,0

279,5

1.

Panjang gelombang, nm

2.

Arus lampu, mA

10

3.

Lebar celah, nm

0,2

0,2

1,0

0,2

4.

Laju alir asetilen, l/menit

2,70

2,47

1,70

2,45

5.

Laju alir udara, l/menit

13,5

13,5

13,5

13,5

6.

Laju alir contoh, ml/menit

4,5

4,5

4,5

4,5

7.

Tinggi pembakar, mm

15

14

14

13

Kondisi optimum analisis yang diperoleh


seperti disajikan pada Tabel 1 selanjutnya
digunakan untuk analisis berikutnya. Parameter
yang lain adalah kelayakan alat uji dan validasi
metode uji. Kelayakan alat uji yang digunakan
ditunjukkan dengan tampilan data yang dihasilkan
berupa kepekaan, presisi dan rentang konsentrasi
terpakai (RKT) masing-masing unsur yang akan
ditentukan, sedangkan validasi metode uji dilakukan
dengan uji pungut ulang atau uji rekaveri. Alat uji
yang digunakan adalah layak apabila kepekaan dan
presisi yang dihasilkan memenuhi persyaratan,
demikian juga metode uji yang digunakan dikatakan
valid apabila data hasil uji rekaveri memenuhi
persyaratan.
Pada Tabel 2 disajikan data kepekaan dan
presisi alat uji SSA dengan metode nyala. Harga
kepekaan dan presisi alat uji diperoleh dengan
mengukur serapan larutan standar Cu konsentrasi 2
ppm pada kondisi optimum analisis unsur Cu.
Berdasarkan data serapan yang diperoleh, kemudian
dihitung kepekaan alat uji (S) dengan formula S =
0,0044 (C1 / A1), C1 dan A1 masing-masing adalah
konsentrasi dan serapan larutan standar Cu yang
dipilih. Presisi alat uji (s) dihitung berdasarkan
simpangan baku yang diperoleh pada pengukuran
larutan standar Cu 2 ppm, dengan formula : s = (A-

B) x 0,40 dengan A = nilai serapan tertinggi dan B


= nilai serapan terendah dari 6 nilai serapan yang
diperoleh. Berdasarkan pada Tabel 2, kepekaan alat
uji AAS diperoleh 0,019 ppm, dan presisi 0,32 %
harga kepekaan dan presisi yang diperoleh masingmasing masih berada dibawah batas maksimum
yang diijinkan 0,04 ppm, dan 1 %(3).
Tabel 2. Data kepekaan dan presis alat uji SAA.
No

Parameter

1.

Kepekaan, ppm.

0,019

Syarat acuan, ppm

0,040

presisi
(simpangan
baku relatif), %

0,32

2.

Cu 5 ppm

1,0

Syarat acuan, %
Pada Gambar 1, dan Gambar 2 disajikan
data hubungan antara konsentrasi unsur Cr, Fe, Pb,
dan Mn dengan % relative concentration equivalent
(RCE). Data % RCE diperoleh dengan cara
mengukur serapan dari satu deret larutan standar
Cr, Fe dan Pb masing-masing dengan konsentrasi
0,02; 0,2; 0,5; 1, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 15 dan 20 ppm.
Unsur Mn dengan konsentrasi 0,005; 0,01; 0,02;

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007

Supriyanto C., Samin

ISSN 0216 - 3128

0,05; 0,1; 0,2; 0,5; 0,75; 1,0; 2, 5 ppm. Dari data


serapan yang diperoleh, kemudian dihitung harga
%RCE menggunakan formula(4) :
% RCE =

249

5
4

( C 2 C 1) x ( SA ) x100
( A 2 A 1) ( C 2 )

%
3
R
C
2
E

C1 = konsentrasi larutan standar terdekat yang lebih


rendah ( A1 adalah serapannya )
C2 = konsentrasi larutan standar terdekat yang lebih
tinggi ( A2 adalah serapannya )
SA = simpangan baku untuk A2

Mn

1
0
0

0.2 0.4 0.6 0.8

1.2 1.4 1.6 1.8

2.2 2.4

Konsentrasi Zn (ppm)
16.00

Gambar 2. Hubungan antara konsentrasi Mn


dengan % RCE.

14.00
12.00

%
10.00
R8.00
C6.00
E
4.00

Pb

2.00

0.00
0

10 12

14 16

18 20

Berdasarkan perhitungan % RCE yang


diperoleh dapat ditentukan rentang konsentrasi
terpakai unsur Cr, Fe, Pb, dan Mn yaitu berdasarkan
konsentrasi yang mempunyai harga % RCE < 1 %,
seperti disajikan pada Tabel 3 sebagai berikut :
Tabel 3. Data linieritas konsentrasi unsur-unsur
Cr, Fe, Pb, dan Mn

22

Konsentrasi Fe, Pb dan Cr

No

Unsur

Rentang
konsentrasi
terpakai (ppm)

Batas
deteksi
(ppm)

1.
2.
3.
4.

Cr
Fe
Pb
Mn

1,0 - 15,0
0,5 - 2,0
1,0 - 10,0
0,2 1,0

0,03
0,04
0,18
0,02

Gambar 1. Hubungan antara konsentrasi Fe, Pb


dan Cr dengan % RCE

Tabel 4. Uji rekaveri unsur Cr, Fe, Pb, dan Mn


No

Unsur

Konsentrasi standar (g/g)

Rerata kons.
standar hasil adisi
(g/g)

% Rekaveri

1.

Fe

1,50

1,49

99,87

2.

Cr

1,60

1,59

99,37

3.

Pb

1,00

1,02

102,0

4.

Mn

0,60

0,594

99,0

Validasi metode uji dilakukan dengan uji


pungut ulang atau uji rekaveri pada setiap unsur
yang akan dianalisis. Uji pungut ulang dilakukan
dengan menambahkan konsentrasi tertentu larutan
contoh uji ke dalam larutan standar setiap unsur
yang akan dianalisis, perolehan konsentrasi standar
hasil adisi contoh uji dibandingkan dengan
konsentrasi standar yang ditambahkan, seperti
disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan persyaratan, uji
rekaveri yang dilakukan pada unsur Cr, Fe, Pb, dan

Mn menunjukan hasil rekaveri yang mendekati


100 %.
Aplikasi metode analisis pada contoh uji
dilakukan dengan teknik kalibrasi standar yaitu
dengan mengukur serapan unsur Cr, Fe, Pb, dan Mn
dalam contoh uji air limbah. Serapan masing-masing
unsur yang diperoleh kemudian diintrapolasikan
pada kurva kalibrasi masing-masing standar unsur,
sehingga akan diperoleh konsentrasi unsur, seperti
disajikan pada Tabel 5 sebagai berikut :

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007

Supriyanto C., Samin

ISSN 0216 - 3128

250

Tabel 5. Data hasil analisis unsur unsur Cr, Fe, Pb, dan Mn dalam contoh uji air limbah.
Kode

Unsur

Contoh

Rerata kadar
unsur

Hasil uji profisiensi

(mg/L)

Antar Lab.
Z-Score (akurasi)

Intra Lab.
Z-Score (presisi)

KAN IX ALA

Cr
Pb
Fe
Mn

0,36
0,52
1,86
0,40

memuaskan
memuaskan
memuaskan
memuaskan

memuaskan
memuaskan
memuaskan
memuaskan

KAN IX ALB

Cr
Pb
Fe
Mn

0,34
0,52
1,86
0,40

memuaskan
memuaskan
memuaskan
memuaskan

memuaskan
memuaskan
memuaskan

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh


KAN, laboratorium Kimia Analitik PTAPB dengan
kode lab AL-39, menunjukan hasil kadar unsur Cr,
Pb, Fe, dan Mn pada contoh uji KAN IX AL-A
dan KAN IX AL-B dengan akurasi dan presisi pada
kategori memuaskan.

2.

3.

ANONIM, Uji Profisiensi/Uji Banding Bagi


Labaoratorium
Lingkungan,
Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal),
Jakarta, (1999).
AMERICAN SOCIETY FOR TESTING AND
MATERIALS, ASTM E 663-78, Philladelphia,
(1979).
SUMARDI, Validasi Metode Analisis,
Pelatihan Asesor Laboratorium, Badan
Standardisasi Nasional, Jakarta, (2001).

KESIMPULAN

4.

Spektrometer serapan atom dengan metode


nyala masih layak digunakan sebagai alat uji
berdasarkan harga akurasi berada di bawah batas
acuan maksimum 0,04 mg/L, dana presisi lebih
rendah dari 1 %.

TANYA JAWAB

Dalam 2 macam contoh uji dengan matriks


air limbah yang diperoleh dari KAN terdeteksi
unsur-unsur Fe, Cr, Pb dan Mn dengan kadar Fe
tertinggi dan kadar Cr terendah.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh
KAN menunjukan hasil uji unsur Fe, Cr, Pb dan
Mn dalam 2 (dua) macam contoh uji mempunyai
akurasi dan presisi yang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA
1.

ANONIM, Persyaratan Umum Kompetensi


Laboratorium Penguji dan Laboratorium
Kalibrasi, Badan Standardisasi Nasional
(BSN), Jakarta, (2001).

memuaskan

Pristi Hartati

Mengapa kalibrasi yang dilakukan hanya


dengan Cu 2 ppm, apakah ada unsur lain yang
dapat digunakan ?.

Supriyanto C.
Kalibrasi menggunakan larutan Cu 2 ppm
karena unsur Cu mempunyai potensial ionisasi
yang yang moderat artinya tidak terlalu tinggi
dan juga tidak terlalu rendah, sehingga unsur
Cu tidak mudah terionisasi di dalam nyala.
Selain itu unsur Cu lebih stabil. Unsur lain
dapat juga digunakan untuk kalibrasi seperti Pb.

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007