Anda di halaman 1dari 19

BAB I

ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS
Nama

: Tn. FM

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 37 tahun

Alamat

: Jl. Inpres no.14 RT 02 RW 05 Kelapa Dua, Kebon Jeruk.

Agama

: Islam

Suku

: Melayu

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Pendidikan

: Tamat SLTA

Status pernikahan

: Belum menikah

ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 30 Maret 2013 pukul 10.00 di Instalasi Rawat Jalan
lantai 6 selatan ruang 623 RSUP Fatmawati Jakarta.
Keluhan Utama
Nyeri kepala sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan Tambahan
Bicara pelo sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
7 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan adanya nyeri kepala. Nyeri
yang dirasakan terus menerus seperti tertusuk, muncul dengan sendirinya, tidak hilang setelah
pasien mengonsumsi parasetamol dan beristirahat.
4 hari sebelum masuk rumah sakit, menurut pengakuan pasien bicaranya mendadak
pelo. Saat tidak bicara, pasien mengaku melihat ujung bibirnya tertarik ke salah satu sisi saat
berkaca. Nyeri kepala yang dirasakan pasien belum membaik.
3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien berobat ke klinik Wijaya Kusuma di RSUP
Fatmawati. Dikatakan oleh dokter bahwa pasien kemungkinan menderita infeksi pada otak.
Pasien kemudian dirujuk ke spesialis saraf.

1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien berobat ke spesialis saraf di RSUP
Fatmawati. Dikatakan oleh dokter bahwa pasien menderita infeksi otak yang kemungkinan
disebabkan oleh Toxoplasma. Pasien mengaku dianjurkan oleh dokter untuk segera dirawat
inap. Pasien masih merasakan sakit kepala dan bicaranya masih pelo. Pasien mengaku mulai
muncul gejala kelemahan pada sisi tubuh sebelah kiri dan terdapat keluhan mual, muntah,
serta demam
Riwayat Penyakit Dahulu
19 tahun yang lalu pasien mulai menggunakan narkoba jarum suntik. Pasien mengaku
jarum suntik tidak dipakai bersama. Jarum suntik yang digunakan maksimal untuk tiga kali
pakai.
6 tahun yang lalu pasien dipenjara. Disini pasien memiliki riwayat penggunaan jarum
suntik yang dipakai bersama. Pasien mengaku sebuah jarum suntik bisa dipakai untuk
puluhan orang dengan jumlah pemakaian yang tidak terhitung.
4 tahun yang lalu pasien memiliki riwayat TB paru. Saat itu pasien berobat rutin dan
dinyatakan sembuh oleh dokter.
3 tahun yang lalu pasien memeriksakan diri ke dokter untuk melakukan pemeriksaan
HIV/AIDS dan dinyatakan positif menderita HIV/AIDS. Pasien memulai pengobatan ARV
akan tetapi selalu putus obat. Pada bulan Maret 2013 hasil pemeriksaan CD4 pasien adalah
10.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit dengan keluhan yang sama
dengan pasien.
Riwayat Sosial
Pasien pengguna narkoba jenis jarum suntik sejak tahun 1994 namun saat ini telah
berhenti menggunakan narkoba. Pasien telah terdiagnosis sebagai penderita HIV/AIDS. Saat
ini pasien tidak memiliki pekerjaan.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum

: Tampak Sakit Ringan

Kesadaran

: Compos mentis

Tinggi badan

: 172 cm

Berat badan

: 69 kg

BMI

: 23.3 kg/m2

Sikap

: Berbaring

Koooperasi

: Kooperatif

Tanda Vital
Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Frekuensi nadi

: 84x / menit

Frekuensi napas

: 18x / menit

Suhu

: 36,5 C

Status Generalis
Trauma Stigmata

: Vulnus (-), hematom (-)

Pulsasi a.a Carotis

: Regular, isi cukup, simetris kanan dan kiri

Kolumna vertebralis : Lurus ditengah, nyeri tekan (-)


Kepala

: Normosefali, rambut hitam, distribusi merata

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Telinga

: Normotia, nyeri tekan tragus (-)

Hidung

: Deformitas (-), deviasi septum (-)

Mulut

: Oral trush (+)

Leher

: Trakea lurus ditengah, JVP 5-3 cmH2O, Pembesaran KGB (-),


pembesaran kelenjar tiroid (-)

Pemeriksaan jantung :
Inspeksi

: Iktus kordis tidak tampak

Palpasi

: Iktus kordis teraba di ICS V, 3 cm lateral dari linea midclavikula sinistra

Perkusi

:
Batas pinggang Jantung

: ICS III Linea parasternal sinistra

Batas jantung kanan

: ICS IV Linea sternalis dextra

Batas jantung kiri

: ICS V, 3 cm lateral dari linea midclavikula sinistra

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-).

Pemeriksaan paru :
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Palpasi

: Vokal fremitus sama di kedua lapang paru, benjolan (-)

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara napas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Pemeriksaan abdomen :
Inspeksi

: Perut datar, jejas (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) 3x normal

Palpasi

: Supel, nyeri tekan(-), hepatosplenomegali (-)

Perkusi

: Timpani

Pemeriksaan ekstremitas :
Atas

: Akral hangat+/+, edema -/-, CRT <3

Bawah

: Akral hangat+/+, edema -/-, CRT <3

Status Neurologis
GCS : E4M5V6 = 15
Rangsang Selaput Otak
Kaku kuduk

:-

Laseque

: >70/>70

Kerniq

: >135/>135

Brudzinsky I

:-

Brudzinsky II

:-/-

Saraf Kranialis
N.I (Olfaktorius)
N.II (Optikus)
Acies Visus

: Normosmia
: kesan: baik/baik

Visus Campus

: Baik/baik

Lihat warna

: Baik/baik

Funduskopi

: Tidak diperiksa

N. III (oculomotor) ,IV (tokhlearis) dan VI (absusen)


Kedudukkan bola mata
: Ortoposisi
Pergerakkan bola mata
: Baik ke segala arah +/+ (nasal, temporal,
superior, inferior, nasal atas
Exopthalmus
Nystagmus

temporal atas dan bawah)


:-/:-/-

Pupil
Bentuk

: Bulat, isokor, 3mm/3mm

dan bawah,

Reflek cahaya langsung


: +/+
Reflek cahaya tidak langsung : +/+
Reflek akomodasi
: +/+
Reflek konvergensi
: +/+
N. V (trigeminus)
Cabang Motorik

: Baik / baik

Cabang sensorik
Ophtalmikus : Baik /baik
Maksilaris

: Baik /baik

Mandibularis : Baik /baik


N. VII (fasialis)
Motorik orbitofrontalis

: Baik / baik

Motorik orbikularis okuli

: Baik / baik

Motorik orbikularis oris


Pengecapan lidah

: Baik / tidak baik


: Tidak dilakukan

N.VIII (vestobulochoclear)
Vestibular
Vertigo: Nistagmus

:-/-

Koklearis
Rhinne

: +/+

Weber

: Tidak ada lateralisasi

Swabach

: Sama dengaan pemeriksa

N. IX (glosofaringeus), X (vagus)
Motorik

: Uvula ditengah, arcus faring tampak simetris

Sensorik

: Refleks muntah (+)

N. XI (Aksesorius)
Mengangkat bahu

: Baik / baik

Menoleh

: Baik / baik

N. XII (Hipoglosus)
Pergerakkan lidah
Atrofi
Fasikulasi
Tremor
Sistem Motorik

: Tidak ada deviasi


:::-

Ekstremitas atas proksimal distal

: 5555/4455

Ekstremitas bawah proksimal distal

: 5555/4455

Gerakan Involunter
Tremor

:-/-

Chorea

:-/-

Athetose

:-/-

Mioklonik

:-/-

Tics

:-/-

Trofik
Eutrofik
Tonus
Hipotonus/hipotonus
Sistem Sensorik
Propioseptif

: Baik / baik

Eksteroseptif : Baik / baik


Fungsi Serebellar
Ataxia

: tidak dilakukan

Disdiadokokinesia
Jari-jari
Jari-hidung
Tumit-lutut

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

Fungsi Luhur
Astereognosia

:-

Apraksia
Afasia

::-

Fungsi Otonom
Miksi

: Baik

Defekasi

: Baik

Sekresi keringat

: Baik

Refleks Fisiologis
Kornea
Biceps
Triceps
Radius
Dinding perut
Patela
Achiles
Kremaster
Sfingter Ani

: +/+
: +2 / +2
: +2 / +2
: +2 / +2
:+/+
: +2 / +2
: +2 / +2
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

Refleks Patologis
Hoffman Tromer

:-/-

Babinsky
Chaddok
Gordon
Schaefer
Klonus lutut
Klonus tumit

:-/:-/:-/:-/:-/:-/-

Keadaan Psikis
Intelegensia

: baik

Tanda regresi

:-

Demensia

:-

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal 28 Maret 2013
Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
VER/HER/KHER/RDW

Hasil
12.8 g/dl
41 %
4.8 ribu/ul
324 ribu/ul
3.62 juta/ul

Nilai Rujukan
13.2 17.3 g/dl
33-45%
5.0-10.0 ribu/ul
150-440 ribu/ul
3.80-5.20 juta/ul

VER
HER
KHER
RDW
FUNGSI HATI
SGOT
SGPT
FUNGSI GINJAL
Ureum
Creatinin
GLUKOSA DARAH
Gula Darah Sewaktu
ELEKTROLIT DARAH
Natrium
Kalium
Klorida

112.4 fl
35.5 pg
31.4 g/dl
18.9 %

80.0-100.0 fl
26.0-34.0 pg
32.0-36.0 g/dl
11.5-14.5%

55 U/L
60 U/L

0-34 U/I
0-40 U/I

26 mg/dl
0.7 mg/dl

20-40 mg/dl
0.6-1.5 mg/dl

138 mg/dl

70 140 mg/dl

136 mmol/L
3.78 mmol/L
117 mmol/L

135-147 mmol/L
3.10-5.10 mmol/L
95-108 mmol/L

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan CT scan dengan kontras karena pasien menolak.
RESUME
Pasien laki-laki, 37 tahun, datang dengan keluhan nyeri kepala sejak 7 hari yang lalu.
nyeri kepala seperti tertusuk, terus menerus, muncul dengan sendirinya, tidak menghilang
dengan istirahat atau meminum obat-obatan penghilang nyeri. 4 hari SMRS bicara pasien
mendadak pelo dan mulutnya tertarik ke satu sisi. 1 hari SMRS terdapat kelemahan tubuh
bagian kiri disertai keluhan demam, mual, dan muntah. Pasien merupakan pemakai narkoba
jarum suntik sejak 19 tahun yang lalu. 4 tahun yang lalu pasien menderita TB paru namun
telah menjalani pengobatan selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh oleh dokter. 3 tahun yang
lalu pasien dinyatakan positif menderita HIV/AIDS.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien CM tampak sakit ringan dengan TD 100/70
mmHg, FN 84 x/menit, FP 18 x/menit, dan suhu 36,5 C. Pada status generalis didapatkan
oral trush positif, pemeriksaan lainnya dalam batas normal. Pada status neurologis didapatkan
adanya parese nervus VII sinistra sentral dan kelemahan sesisi sebelah kiri.
Tidak didapatkan hasil dari pemeriksaan penunjang karena pasien menolak rencana
dilakukannya CT scan kepala dengan kontras.

DIAGNOSIS
Diagnosis klinis

: Sefalgia

Diagnosis etiologi

: susp. Toxoplasma Ensefalitis

Diagnosis topis

: susp. Antara korteks serebri sampai Medulla Oblongata

TATA LAKSANA
Pirimetamin 2 x 50 mg
Sulfadiazine 4 x 1 g
Asam Mefenamat 3 x 500 mg
Ranitidine 2 x 50 mg
Asam Folat 1 x 10 mg
PROGNOSIS
Ad Vitam

: Dubia

Ad Functionam

: Dubia

Ad Sanationam

: Dubia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Disebut juga toksoplasmosis otak, muncul pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang
tidak diobati. Hal ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa oleh kucing,
burung dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan
kadang pada daging mentah atau kurang matang. Begitu parasit masuk ke dalam sistem
kekebalan, ia menetap di sana, tetapi sistem kekebalan pada orang yang sehat dapat melawan
parasit tersebut hingga mencegah penyakit. Gejala termasuk ensefalitis, demam, sakit kepala
berat yang tidak menanggapi pengobatan, lemah pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan,
kebingungan yang meningkat, masalah penglihatan, pusing, masalah berbicara dan berjalan,
muntah dan perubahan kepribadian. Tidak semua pasien menunjukkan tanda infeksi.
Etiologi

Disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa oleh kucing, burung dan
hewan lainyang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan kadang
pada daging mentah ataukurang matang. Begitu parasit masuk ke dalam sistem kekebalan, ia
menetap di sana, tetapi sistem kekebalan pada orang yang sehat dapat melawan parasit
tersebut hingga tuntas, mencegah penyakit. Transmisi pada manusia terutama terjadi bila
memakan daging babi atau domba yang mentahyang mengandung oocyst (bentuk infektif
dari T.gondii). Bisa juga dari sayur yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan feses
kucing. Selain itu dpat terjadi transmisi lewat transplasental, transfusi darah, dan transplantasi
organ. Infeksi akut pada individu yang immunokompeten biasanya asimptomatik. Pada
manusia dengan imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dari infeksi laten. Yang
akan mengakibatkan timbulnya infeksi opportunistik dengan predileksi di otak.
Daur Hidup
Toxoplasma gondii hidup dalam 3 bentuk: thachyzoite, tissue cyst (yang mengandung
bradyzoites) dan oocyst (yang mengandung sporozoites). Bentuk akhir dari parasit diproduksi
selama siklus seksual pada usus halus dari kucing. Kucing merupakan pejamu definitif dari T
gondii. Siklus hidup aseksual terjadi pada pejamu perantara, (termasuk manusia). Dimulai
dengan tertelannya tissue cyst atau oocyst diikuti oleh terinfeksinya sel epitel usus halus oleh
bradyzoites atau sporozoites secara berturut-turut. Setelah bertransformasi menjadi
tachyzoites ,organisme ini menyebar ke seluruh tubuh lewat peredaran darah atau
limfatik.Parasit ini berubah bentuk menjadi tissue cysts begitu mencapai jaringan perifer.
Bentuk ini dapat bertahan sepanjang hidup pejamu, dan berpredileksi untuk menetap pada
otak, myocardium, paru, otot skeletal dan retina.
Tissue cyst ada dalam daging, tapi dapat dirusak dengan pemanasan sampai 67 oC,
didinginkan sampai -20 oC atau oleh iradiasi gamma. Siklus seksual entero-epithelial dengan
bentuk oocyst hidup pada kucing yang akan menjadi infeksius setelah tertelan daging yang
mengandung tissue cyst. Ekskresi oocysts berakhir selama 7-20 hari dan jarang berulang.
Oocyst menjadi infeksius setelah diekskresikan dan terjadi sporulasi. Lamanya proses ini
tergantung dari kondisi lingkungan, tapi biasanya 2-3 hari setelah diekskresi. Oocysts
menjadi infeksius di lingkungan selama lebih dari 1 tahun.
Transmisi pada manusia terutama terjadi bila makan daging babi atau domba yang
mentah yang mengandung oocyst. Bisa juga dari sayur yang terkontaminasi atau kontak
langsung dengan Feces kucing. Selain itu dapat terjadi transmisi lewat transplasental,
transfusi darah, dan transplantasi organ. Infeksi akut pada individu yang imunokompeten

biasanya asimptomatik. Pada manusia dengan imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi
reaktivasi dari infeksi laten. yang akan mengakibatkan timbulnya infeksi oportunistik dengan
predileksi di otak.
Tissue cyst menjadi ruptur dan melepaskan invasive tropozoit (takizoit). Takisoit ini
akan menghancurkan seldan menyebabkan focus nekrosis.
Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD4 limfosit T dapat menjadi prediktor
kemungkinanan adanya infeksi oportunistik. Pada pasien dengan CD4 < 200 sel/mL
kemungkinan untuk terjadi infeksi oportunistik sangat tinggi. Oportunistik infeksi yang
mungkin terjadi pada penderita dengan CD4 < 200 sel/mL adalah pneumocystiscarinii , CD4
<100 sel/mL adalah toxoplasma gondii , dan CD4 < 50 adalah M. aviumComplex , sehingga
diindikasikan untuk pemberian profilaksis primer. M. tuberculosis dan candida species dapat
menyebabkan infeksi oportunistik pada CD4 > 200 sel/mL.

Patofisiologi
HIV secara signifikan berdampak pada kapasitas fungsional dan kualitas kekebalan
tubuh. HIV mempunyai target sel utama yaitu sel limfosit T4, yang mempunyai reseptor
CD4. Beberapa sel lain yang juga mempunyai reseptor CD4 adalah : sel monosit, sel
makrofag, sel folikular dendritik, sel retina, sel leher rahim, dan sel langerhans. Infeksi
limfosit CD4 oleh HIV dimediasi oleh perlekatan virus kepermukaan sel reseptor CD4, yang
menyebabkan kematian sel dengan meningkatkan tingkat apoptosis pada sel yang terinfeksi.
Selain menyerang sistem kekebalan tubuh, infeksi HIV juga berdampak pada sistem saraf dan
dapat mengakibatkan kelainan pada saraf. Infeksi oportunistik dapat terjadi akibat penurunan
kekebalan tubuh pada penderita HIV/AIDS. Infeksi tersebut dapat menyerang sistem saraf
yang membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf.
Mekanisme bagaimana HIV menginduksi infeksi oportunistik seperti toxoplasmosis
sangat kompleks. Ini meliputi deplesi dari sel T CD4, kegagalan produksi IL-2, IL-12, dan
IFN-gamma, kegagalan aktivitas Limfosit T sitokin. Sel-sel dari pasien yang terinfeksi HIV
menunjukkan penurunan produksi IL-12 dan IFN-gamma secara in vitro dan penurunan

ekspresi dari CD 154 sebagai respon terhadap T gondii. Hal ini memainkan peranan yang
penting dari perkembangan toxoplasmosis dihubungkan dengan infeksi HIV. Ensefalitis
toxolasma biasanya terjadi pada penderita yang terinfeksi virus HIV dengan CD4 T sel <
100/mL. Ensefalitis toxoplasma ditandai dengan onset yang subakut. Manifestasi klinis yang
timbul dapat berupa defisit neurologis fokal (69%), nyeri kepala (55%), bingung / kacau
(52%), dan kejang (29%)9. Pada suatu studi didapatkan adanya tanda ensefalitis global
dengan perubahan status mental pada 75% kasus, adanya defisit neurologis pada 70% kasus,
Nyeri kepala pada 50 % kasus, demam pada 45 % kasus dan kejang pada 30 % kasus.
Defisit neurologis yang biasanya terjadi adalah kelemahan motorik dan gangguan
bicara. Bisa juga terdapat abnormalitas saraf otak, gangguan penglihatan, gangguan sensorik,
disfungsi serebelum, meningismus, movement disorders dan menifestasi neuropsikiatri.
Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD4 limfosit T dapat menjadi prediktor
untuk validasi kemungkinanan adanya infeksi oportunistik. Pada pasien dengan CD4< 200
sel/mL kemungkinan untuk terjadi infeksi oportunistik sangat tinggi.

Gejala Klinis
Gejala termasuk ensefalitis, demam, sakit kepala berat yang tidak respon terhadap
pengobatan, lemah pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan, kebingungan yang meningkat,
masalah penglihatan, pusing, masalah berbicara dan berjalan, muntah dan perubahan
kepribadian. Tidak semua pasien menunjukkan tanda infeksi. Nyeri kepala dan rasa bingung
dapat menunjukkan adanya perkembangan ensefalitis fokal dan terbentuknya abses sebagai
akibat dari terjadinya infeksi toksoplasma. Keadaan ini hampir selalu merupakan suatu
kekambuhan akibat hilangnya kekebalan pada penderita-penderita yang semasa mudanya
telah berhubungan dengan parasit ini. Gejala-gejala fokalnya cepat sekali berkembang dan
penderita mungkin akan mengalami kejang dan penurunan kesadaran.
Diagnosa
a. Pemeriksaan Serologi
Didapatkan seropositif dari anti-T.gondii IgG dan IgM. Deteksi juga dapat dilakukan
dengan indirect fluorescent antibody (IFA), aglutinasi, atau enzyme linked immunosorbent
assay (ELISA). Titer IgG mencapai puncak dalam 1-2 bulan setelah terinfeksi kemudian
bertahan seumur hidup.
b. Pemeriksaan cairan serebrospinal

Menunjukkan adanya pleositosis ringan dari mononuklear predominan dan elevasi


protein.
c. Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)
Digunakan Mendeteksi DNA Toxoplasmosis gondii. PCR untuk T.gondii dapat juga
positif pada cairan bronkoalveolar dan cairan vitreus atau aquos humor dari penderita
toksoplasmosis yang terinfeksi HIV. Adanya PCR yang positif pada jaringan otak tidak
berarti terdapat infeksi aktif karena tissue cyst dapat bertahan lama berada di otak setelah
infeksi akut.11
d. CT scan
Menunjukkan fokal edema dengan bercak-bercak hiperdens multiple disertai dan
biasanya ditemukan lesi berbentuk cincin atau penyengatan homogen dan disertai edema
vasogenik pada jaringan sekitarnya. Ensefalitis toksoplasma jarang muncul dengan lesi
tunggal atau tanpa lesi.

e. Biopsi otak
Untuk diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi otak
Penatalaksanaan
a. Toksoplasmosis otak diobati dengan kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin. Kedua
obat ini dapat melalui sawar-darah otak.
b. Toxoplasma Gondii,membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat
pemerolehan vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat penggunaannya.
c. Kombinasi pirimetamin 50-100 mg perhari yang dikombinasikan dengan sulfadiazin
1-2 g tiap 6 jam.

d. Pasien yang alergi terhadap sulfa dapat diberikan kombinasi pirimetamin 50-100 mg
perhari dengan clindamicin 450-600 mg tiap 6 jam.
e. Pemberian asam folinic 5-10 mg perhari untuk mencegah depresi sumsum tulang.
f. Pasien alergi terhadap sulfa dan clindamicin, dapat diganti dengan Azitromycin 1200
mg/hr, atau claritromicin 1 gram tiap 12 jam, atau atovaquone 750 mg tiap 6 jam.
Terapi ini diberikan selam 4-6 minggu atau 3 minggu setelah perbaikan gejala klinis.
g. Terapi anti retro viral (ARV) diindikasikan pada penderita yang terinfeksi HIV
dengan CD4 kurang dari 200 sel/mL, dengan gejala (AIDS) atau limfosit total
kurang dari 1200. Pada pasien ini, CD4 42, sehingga diberikan ARV.

BAB III
KESIMPULAN
Toksoplasmosis merupakan infeksi oportunistik yang serius. Jika belum terinfeksi
tokso, dapat menghindari risiko terpajan infeksi dengan tidak memakan daging atau ikan
mentah, dan ambil kewaspadaan lebih lanjut jika membersihkan kandang kucing. Dapat
memakai obat anti-HIV yang untuk menahan jumlah CD4. Ini kemungkinan akan mencegah
masalah kesehatan diakibatkan tokso. Dengan diagnosis dan pengobatan dini, tokso dapat
diobati secara efektif. Jika anda mengalami penyakit tokso, sebaiknya terus memakai obat
antitokso untuk mencegah penyakitnya kambuh. Infeksi oportunistik dapat terjadi akibat
penurunan kekebalan tubuh pada penderita HIV/AIDS, akibatnya mudah terkena penyakitpenyakit lain seperti penyakit infeksi disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa dan jamur dan
juga mudah terkena penyakit keganasan. Pengobatan untuk infeksi oportunistik bergantung
pada

penyakit

infeksi

yang

ditimbulkan.

Pengobatan

status

kekebalan

tubuh

denganmenggunakan immune restoring agents, diharapkan dapatmemperbaiki fungsi


sellimfosit, dan menambah jumlah limfosit. Penatalaksanaan HIV/AIDS bersifat menyeluruh
terdiri dari pengobatan, perawatan atau rehabilitasi dan edukasi. Pengobatan pada pengidap
HIV/penderita AIDS ditujukan terhadap: virus HIV (obat ART),infeksi opportunistik, kanker
sekunder, status kekebalan tubuh, simptomatis dan suportif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Jayawardena Suriya, MD. Cerebral Toxoplasmosis in Adult Patients with HIV Infection
Availabel from URL : http://www.turner-white.com/memberfile.php?PubCode=hp_jul08
_toxoplasmosis.pdf. Accessed July, 2008.
2. George Sara Mathew, MD. Cerebral Toxoplasmosis in an HIV Positive Patient: A Case
Report and Review of Pathogenesis and Laboratory Diagnosis. Availabel from URL :
http://www.bahrainmedicalbulletin.com/june_2009/Toxoplasmosis.pdf. Accessed Juny,
2009.
3. Patric Davey. Infeksi HIV dan AIDS. At a Glance Medicine. Jakarta: EMS. 2006.
4. Gilroy J. Basic Neurology. Mc Graw-Hill. 3rd edition. New York. 2000 : 482-90.
5. Aru W. Sudoyo, dkk. HIV/AIDS di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III.
Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006.
6. Sylvia Price dan Lorraine Wilson. Human Immunodeficiency
(HIV)/AcquiredImmunodeficiencySindrome). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Volume 1.Edisi 6. Jakarta: EGC,2006.
7. Profesor.dr.H. Jusf Misbach, dkk. HIV-AIDS Susunan Saraf Pusat. Neurologi. Jakarta :
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2006.
8. Harrington Robert. Opportunistic Infection in HIV Disease. Best Practice Medicine.
Januari 2003.
9. Howard L. Weiner, dkk. AIDS dan system saraf. Buku Saku Neurologi. Jakarta: EGC.
2001.
10. Belman Anita L,Maletic-Savatic Mirjana. Human Immunodeficiency Virus and Acquired
Immunodeficiency Syndrome. In Textbook Clinical Neurology. Goetz. 2003:955 -89.
11.Lamoril J. Detection by PCR of Toxoplasma gondii in blood in the diagnosis of cerebral
toxoplasmosis

in

patients

with

AIDS.

Availabel

from

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1023168/. Accessed July, 1996.

URL