Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH

KIMIA MEDISINAL
ANALGETIK NON NARKOTIK

Nama

: Dewi Magistasari

NIM

: 10/301474/FA/08572

Kelas

: B 2010

FAKULTAS FARMASI UGM


YOGYAKARTA
2011

TUGAS KIMIA MEDISINAL


ANALGETIK NON NARKOTIK
Nyeri atau rasa sakit sebenarnya berfungsi sebagai tanda adanya
penyakit atau kelainan dalam tubuh dan merupakan bagian dari proses
penyembuhan (inflamasi). Nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu
aktifitas tubuh. Analgetik merupakan obat yang digunakan untuk
menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Priyanto &
Batubara, 2010).
Ada dua jenis analgetik, yaitu analgetik narkotik dan analgetik non
narkotik. Selain berdasarkan struktur kimianya, pembagian di atas juga
didasarkan pada nyeri yang dapat dihilangkan. Analgetik narkotik dapat
menghilangkan nyeri dari derajat sedang sampai hebat (berat), seperti
karena infark jantung, operasi (terpotong), viseral (organ), dan nyeri
karena kanker (Priyanto & Batubara, 2010). Analgetik non narkotik
menghilangkan nyeri ringan sampai sedang. Beberapa sifat analgetik non
narkotik yang membedakannya dengan analgetik narkotik diantaranya
struktur kimianya tidak mirip dengan morfin, bahkan masing-masing
golongannya tidak mirip; tidak efektif untuk nyeri hebat, nyeri viseral dan
nyeri terpotong; bekerja secara sentral dan atau perifer; tidak
menimbulkan toleransi dan addiksi atau ketergantungan (Priyanto &
Batubara,2010).
Analgetik non-narkotik digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang
ringan sampai moderat, sehingga sering disebut analgetik ringan.
Analgetik non-narkotik bekerja menghambat enzim siklooksigenase dalam
rangka menekan sintesis prostaglandin yang berperan dalam stimulus
nyeri dan demam. Karena itu kebanyakan analgetik non-narkotik juga
bekerja antipiretik (Sabrina, 2010).
Efek terapi obat analgetik non narkotik ini sebagian besar
tergantung dari penghambatan biosintesis prostaglandin. Selain itu,
secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui
ikut berperan dalam inflamasi. Golongan obat ini menghambat enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG 2
terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase dengan cara yang
berbeda. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis prostaglandin hanya
terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid seperti di hipothalamus.
Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak mengandung peroksid
yang banyak dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek
antiinflamasi parasetamol praktis tidak ada. Aspirin sendiri menghambat
dengan dengan mengasetilasi gugus aktif serin dari enzim ini. Dan
trombosit sangat rentan terhadap penghambatan ini karena sel tidak
mampu mengadakan regenerasi enzimnya. Sehingga dosis tunggal aspirin

40 mg sehari telah cukup untuk menghambat siklooksigenase trombosit


manusia selama masa hidup trombosit, yaitu 8-11 hari (Ganiswara, 2003).

Trauma pada sel


Gangguan pada membran sel
Fosfolipid
Dihambat kortikosteroid
fosfolipase

Enzim

Asam Arakhidonat
Enzim
lipoksigenase

Enzim
sikloooksigenase
dihambat obat
analgetik non
narkotik

Hidroperoksid
Endoperoksid
PGG2/PGH
Leukotrien
PGE2, PGF2, PGD2
Prostasiklin
Tromboksan A2
(Ganiswara, 2003)

Beberapa golongan analgetik non-narkotik antara lain sebagai


berikut.
1. Turunan Anilin dan Para-aminofenol. Contoh : asetaminofen
(analgetik dan antipiretik)
2. Turunan 5-pirazolon. Contoh : metamizol (analgetik dan
antipiretik)
3. Turunan Asam Salisilat. Contoh : asetosal (analgetik, antipiretik,
antiradang)
4. Turunan 5-pirazolidindion. Contoh : fenilbutazon (analgetik dan
antiradang)
5. Turunan Asam N-arilantranilat. Contoh : asam mefenamat
(analgetik dan antiradang)

6. Turunan Asam Arilasetat. Contoh : ibuprofen dan diklofenak


(analgetik, antipiretik, antiradang)
7. Turunan Oksikam. Contoh : piroksikam (analgetik, antipiretik,
antiradang)
(Sabrina, 2010)
DERIVAT ASAM SALISILAT
Meliputi diantaranya : aspirin atau asetosal, benorilat, diflunisal, salsalat,
dll.
Meskipun telah diperkenalkan banyak obat baru, namun aspirin masih
menjadi agen analgetik, anti inflamasi dan anti piretik yang paling banyak
dipergunakan secara luas. Selain itu juga masih menjadi standar untuk
perbandingan dan evaluasi analgetik lainnya (Goodman & Gilman, 2006).
Struktur Kimia

Asam salisilat

Benorilat

Asetil salisilat (Aspirin)

Diflunisal

Salsalat
Asam salisilat (asam o-hidroksi benzoat) bersifat sangat iritan
sehingga hanya dapat digunakan secara eksternal. Oleh karena itu
banyak derivat dari senyawa ini yang disintesis untuk penggunaan
sistemik. Derivat tersebut meliputi dua kelas besar, yaitu ester dari asam
salisilat yang dihasilkan dari substitusi pada gugus karboksil dan ester

salisilat dari asam organik dimana gugus karboksil tetap dan substitusi
terjadi pada gugus hidroksil (Goodman & Gilman, 2006).
Hubungan Struktur dan Aktivitas
Aspirin adalah asam organik lemah yang unik dalam asetilasi
siklooksigenase irreversibel. Analgetik non narkotik lain, termasuk
salisilat, semuanya penghambat siklooksigenase reversibel. Aspirin cepat
dideasetilasi oleh esterase dalam tubuh, menghasilkan salisilat yang
memiliki efek analgetik, anti inflamasi, dan antipiretik (Ganiswara, 2003).
Gugus asetil yang
ditransfer menjadi
siklooksigenase

aspirin (asam asetil salisilat)


H2O
Diasetilasi normal
Oleh esterase

asetat

Siklooksigenase
(aktif)
Siklooksigenase
tersetilasi(tidak aktif)

Asam salisilat
(salisilat)

Turunan salisilat umumnya memberikan efek karena terdapatnya


konten asam salisilat pada struktur senyawa tersebut, walaupun beberapa
efek unik dari aspirin disebabkan oleh kemampuannya dalam asetilasi
protein seperti yang dijelaskan di atas. Substitusi gugus karboksilat dan
hidroksil mengobah potensi dan toksisitas dari salisilat. Posisi orto dari
gugus hidroksil merupakan ciri penting dalam aksi dari salisilat dan
turunannya (Goodman & Gilman, 2006).
Mekanisme Kerja
Efek antipiretik dan antiinflamasi salisilat terjadi karena penghambatan
sintesis prostaglandin di pusat pengatur panas dalam hipothalamus dan
perifer di daerah target. Lebih lanjut, dengan menurunkan sintesis
prostaglandin, salisilat juga mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit
terhadap rangsangan mekanik dan kimiawi. Aspirin juga menekan

rangsang nyeri
pada
daerah
hipotalamus(Mycek, Mary J., 2001).

subkortikal

yaitu

talamus

dan

Efek
Salisilat dan derivatnya termasuk aspirin, mempunyai tiga efek terapi
utama, yaitu mengurangi inflamasi (anti-inflamasi), rasa sakit (analgesia)
dan demam (antipireksia). Namun, tidak semua obat analgetik non
narkotik mempunyai potensi yang sama pada setiap efek ini.
a. Efek anti inflamasi
Karena aspirin menghambat aktivitas siklooksigenase, maka aspirin
mengurangi pembentukan prostaglandin dan juga memodulasi
beberapa aspek inflamasi dan prostaglandin sebagai mediator. Aspirin
menghambat inflamasi pada artritis, tetapi tidak menghentikan
progresivitas penyakit ataupun menginduksi remisi.
b. Efek analgesik
Prostaglandin E2 (PGE2) diduga mensentisisasi ujung saraf terhadap
efek bradikinin, histamin dan mediator kimiawi lainnya yang
dilepaskan secara lokal oleh proses inflamasi. Jadi, dengan
menurunkan sintesis PGE2, aspirin dan turunannya dapat menekan
sensasi rasa sakit. Salisilat digunakan terutama untuk menanggulangi
rasa sakit intensitas ringan sampai sedang yang timbul dari struktur
integumen daripada yang berasal dari visera. Obat-obat analgetik non
narkotik lebih superior daripada opioid dalam menanggulangi rasa
sakit yang melibatkan inflamasi.
c. Efek antipiretik
Demam terjadi jika set point pada pusat pengatur panas di
hipotalamus anterior meningkat. Hal ini dapat disebabkan oleh sintesis
PGE2 yang dirangsang bila suatu zat menghasilkan endogen (pirogen)
seperti sitokin dilepaskan dari sel darah putih yang diaktivasi oleh
infeksi, hipersensitivitas, keganasan atau inflamasi. Salisilat
menurunkan suhu tubuh penderita demam dengan meningkatkan
pengeluaran panas sebagai akibat vasodilatasi perifer dan berkerigat.
Aspirin tidak mempunyai efek pada suhu tubuh normal.
d. Efek terhadap pernapasan
Pada dosis terapi, aspirin meningkatkan ventilasi alveoli. Aspirin
melepaskan oksidator yang menyebabkan peningkatan CO 2 dan
meningkatkan
pernapasan.
Dosis
yang
lebih
tinggi
dapat
mengakibatkan hiperventilasi dan respirasi dan respirasi alkalosis yang
biasanya dikompensasi secara adekuat oleh ginjal. Pada kadar toksik,
terjadi paralisis pusat pernapasan dan respirasi asidosis yang
disebabkan oleh produksi CO2 kontinu.
e. Efek terhadap saluran cerna
Secara normal, prostasiklin (PGI2) menghambat sekresi asam lambung,
sedangkan PGE2 dan PGF2 merangsang sintesis mukus protektif dalam

lambung dan usus kecil. Dengan adanya aspirin, prostanoid-prostanoid


ini tidak terbentuk, yang mengakibatkan sekresi asam lambung
meningkat dan mukus protektif berkurang. Hal ini dapat
mengakibatkan distres epigastrium, ulkus dan/atau pendarahan.
f. Efek terhadap trombosit
TXA2
meningkatkan
agregasi
trombosit,
sedangkan
PGI 2
menurunkannya. Dosis rendah (60-80 mg per hari) aspirin dapat
menghambat
produksi
tromboksan
dalam
trombosit
secara
irreversibel. Akibat penurunan TXA2, agregasi trombosit berkurang,
yang menghasilkan efek antikoagulan dengan perpanjangan waktu
perdarahan.
g. Efek terhadap ginjal
Penghambat siklooksigenase mencegah sintesis prostaglandin PGE 2
dan PGI2 yang bertanggung jawab memelihara aliran darah ginjal.
Penurunan sintesis prostaglandin dapat menyebabkan retensi natrium
dan air, edema dan hiperkalemia pada beberapa penderita.
Penggunaan Klinik
a. Antipiretik dan analgesik
Na-salisilat, kolin salisilat, kolin magnesium salisilat dan aspirin
digunakan pada pengobatan gout, demam rematik, dan artritis
rematoid.
b. Penggunaan eksternal
Asam salisilat digunakan secara topikal untuk mengobati kutil, kalus
dan epidermofitosis. Metilsalisilat (minyak wintergreen) sebagai obat
luar atau kutan sebagai obat gosok.
c. Penggunaan kardiovaskular
Salisilat digunakan untuk menghambat agregasi trombosit. Aspirin
dosis rendah sbagai profilaksis untuk menurunkan insiden serangan
iskemia selintas dan angina tak stabil pada laki-laki, sama seperti pada
trombosis arteri koronaria.
d. Kanker kolon
Terdapat bukti bahwa penggunaan kronik aspirin mengurangi insidens
kanker kolorektal.
Dosis
Pada dosis rendah, salisilat menunjukkan aktifitas analgesik; hanya pada
dosis lebih tinggi obat-obat ini menunjukkan aktifitas antiinflamasi.
Efek Samping
a. Saluran cerna
Distres epigastrium, mual, muntah. Peradarahan mikroskopik hampir
umum terjadi pada penderita yang mendapat pengobatan salisilat.
Aspirin adalah asam. Pada pH lambung, aspirin tidak dibebaskan;
akibatnya mudah menebus mukosa dan mengalami ionisasi dan
terperangkap, jadi berpotensimenyebabkan kerusakan sel secara
langsung. Aspirin seharusnya diberi bersama makanan dan cairan

b.

c.

d.

e.

f.

volume besar untuk mengurangi gangguan saluran cerna atau dapat


juga diberikan bersama misoprostol.
Darah
Aspirin dapat menyebabkan agregasi trombosit seperti yang telah
dijelaskan, sehingga seharusnya jangan diberikan paling tidak 1
minggu sebelum pembedahan.
Pernapasan
Pada dosis toksik, salisilat menimbulkan depresi pernapasan dan
asidosis metabolik.
Proses metabolik
Dosis besar salisilat dapat menyebabkan pelepasan fosforilasi oksidatif
dimana energi yang digunakan untuk menghasilkan ATP secara normal
dikeluarkan sebagai panas dan mengakibatkan hipertermia.
Hipersensitivitas
Sekitar 15% pasien yang minum aspirin mengalami reaksi
hipersensitivitas
dengan
gejala
alergi
seperti
urtikaria,
bronkokonstriksi, atau edema angioneurotik.
Sindrom Reye
Aspirin yang diberikan selama infeksi virus ada hubungannya dengan
peningkatan insiden sindrom Reye, seringkali fatal, menimbulkan
hepatitis dengan edema serebral terutama terjadi pada anak-anak.
(Mycek, Mary J., 2001)

Daftar Pustaka
Ganiswara, Sulistia G., 2003, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi
FK UI, Jakarta.
Goodman, Louis Sanford et al., 2006, Goodman and Gilmans The
Pharmacologycal Basis of Therapeutics, McGraw-Hill Company, USA.
Mycek, Mary J., 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar, Widya Medika,
Jakarta.
Priyanto, & Batubara, Lilian, 2010, Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa
Farmasi dan Keperawatan, Penerbit Leskonfi, Depok.
Sabrina,
2010,
Analgetik
Kuat
dan
Lemah,
http://lovechopin.wordpress.com/2010/03/15/analgetik-kuat-danlemah/ diakses pada 18:36 WIB.