Anda di halaman 1dari 3

BAB I

TINJAUAN FARMAKOLOGI
I.1

Golongan Obat Berdasarkan Farmakologi Terapi


Tumbuhan kumis kucing memiliki banyak khasiat. Beberapa manfaat

tumbuhan kumis kucing berdasarkan aktivitas farmakologinya antara lain:


Antiinflamasi (Yam et al, 2008; Mauda, 1992), antidiabetes (Sriplang et al, 2006),
antifungi (Hossain, 2008), antipiretik (Yam et al, 2009), hepatoprotektor
(Maheswari et al, 2008. Daun kumis kucing juga dapat memiliki khasiat sebagai
diuretik dimana dari hasil penelitian ekstrak daun kumis kucing terbukti dapat
meningkatkan volume urin dengan peningkatan signifikan pada jumlah ekskresi
ion K+ (Olah et al, 2003; Adam et al, 2009; Arafat et al, 2009)
I.2

Indikasi
a. Terapi irigasi untuk penyakit infeksi bakteri dan inflamasi pada saluran
kemih bagian bawah dan penyakit batu ginjal (The complete German
Commission E Monographs ,1998; ESCOP, 2003)
b. Menurunkan kadar gula darah (Sriplang et al, 2006)
c. Menurunkan asam urat (Olah, 2003; Arafat 2008)
d. Diuretik: Meningkatkan jumlah ekskresi urin (BHMA, 1996; Beaux,
1999; Olah et al, 2003; Adam et al, 2009; Arafat et al, 2009)

I.3

Mekanisme Kerja
Ekstrak daun kumis kucing memiliki aktivitas diuretik dapat dilihat dari

terjadinya peningkatan volume output urin disertai peningkatan jumlah ekskresi


elektrolit dimana salah satu yang paling signifikan yaitu peningkatan ion kalium
(K+) (Olah et al, 2003; Adam et al, 2009; arafat et al, 2009). Peningkatan jumlah
ekskresi ion kalium ini dapat berhubungan efek diuretik yang terjadi, terkait
dengan pompa ion Na K ATPase. Reabsorpsi ion natrium yang tinggi di proksimal
menyebabkan peningkatan penghantaran melewati distal dan peningkatan sekresi
ion kalium ke dalam lumen tubular (Shinkawa et al., 1993).
Peningkatan jumlah ekskresi ion kalium dapat terjadi karena terjadi
peghambatan absorpsi ion kalium oleh ekstrak, atau terjadi perangsangan sekresi

ion kalium, atau keduanya sehingga dapat terjadi retensi ion kalium di tubul ginjal
dan aliran osmotik air. Semakin banyak ion kalium yang tertahan di lumen tubul
ginjal, semakin sedikit air yang diabsorpsi sebagai efek dari aktivitas diuretik
(Kreydiyyeh and Usta, 2002).
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun kumis kucing memiliki
aktivitas diuretik yang dapat ditunjukkan dari afinitasnya yang tinggi terhadap
antagonis reseptor Adenosine A1 (Yuliana et al, 2009). Antagonis reseptor
Adenosine A1 bekerja sebagai penginduksi diuresis dengan peningkatan ekskresi
air dan natrium dengan cara penghambatan reabsorpsi natrium di tubulus
proksimal dan juga memicu terjadinya dilatasi arteriol aferen (Wilcox et al, 1999;
Gottlieb et al, 2002).
I.4

Farmakokinetik
Tidak ditemukan data atau desain penelitian yang dapat menjelaskan

farmakokinetik dari tumbuhan kumis kucing, baik dalam bentuk ekstrak


Orthosiphon stamineus ataupun dalam bentuk isolasi senyawanya (orthosiphol,
staminol, dll).

I.5

Dosis dan Cara Pemberian


Dosis untuk pemberian oral pasien dewasa yakni 2-3 g dalam 150 mL air

dua sampai 3 kali sehari (Phillipson, 2007, PDR for Herbal Medicine). Menurut
monografi ESCOP dosis oral pasien dewasa adalah 6-12 gram simplisia per hari.
Ekstrak etanol 96% O. stamineus yang mengandung senyawa Sinensetin,
3-hydroxy-5, 6, 7, 4-tetramethoxyflavone, dan methylripariocromene A akan
dibuat dalam bentuk sediaan kapsul. Dalam penelitian lain Dengan kandungan
tersebut, sediaan ini diindikasikan untuk terapi diuresis (Phillipson, 2007).
Sediaan yang tersedia untuk herbal O. stamineus adalah kapsul, drop dan tablet
(PDR For Herbal, 2000).
I.6

Kontraindikasi

Pasien disfungsi jantung dan ginjal.

Peringatan dan perhatian khusus dalam penggunaan: Java tea tidak


dianjurkan digunakan pada pasien dengan edema akibat gangguan
fungsi ginjal.Peringatan ini tidak didukung oleh data uji klinik maupun
nonklinik. Namun hal ini tetap merupakan peringatan yang masuk akal
karena intake cairan tidak direkomendasikan pada kasus seperti ini.
(ESCOP Monograph, 2003, The Complate German Commision E
Monograph, 1998, Globinmed, 2015)

Anak-anak.
Penggunaannya tidak direkomendasikan pada anak-anak usia dibawah
18 tahun karena masih minimnya data mengenai penggunaannya pada
usia tersebut. Selama penggunaannya, intake cairan yang tepat
direkomendasikan (Globinmed, 2015)

Hamil dan menyusui.


Tidak ada yang tersedia untuk penggunaan Java tea pada wanita hamil
dan menyusui. Belum ada data mengenai keamanan penggunaannya
selama kehamilan dan menyusui. Oleh karena itu penggunaannya dalam
kondisi terseut tidak direkomendasikan (EMEA, 2005)

I.7

Efek Samping dan Toksisitas


Penelitian yang dilakukan terhadap tikus menunjukkan tidak adanya efek

samping dan gejala toksisitas akut maupun subkronik (Abdullah et al, 2009; Han
et al, 2008; Mohamed et al, 2010).
I.8

Interaksi Obat
Tidak ditemukan data yang menunjukkan adanya interaksi obat terhadap

tumbuhan kumis kucing. Namun perlu diperhatikan potensi aktivitas tumbuhan


kumis kucing yang dapat memengaruhi kerja obat lainnya jika diberikan secara
bersamaan, baik dengan efek yang sama maupun yang berlawanan (Barnes et al,
2007).