Anda di halaman 1dari 24

55

BAB III
TUGAS KHUSUS
3.1 Judul
Evaluasi kinerja Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU di PT. Pertamina
(Persero) RU III Plaju - Sungai Gerong.
3.2 Latar Belakang
Dalam suatu industri perminyakan, banyak ditemukan alat-alat penukar
panas seperti Furnace, Heat Exchanger, Reboiler, Condensor dll. Semua peralatan
tersebut mempunyai fungsi dan kemampuan masing- masing, peralatan-peralatan
tersebut dalam pengoperasiannya memerlukan panas. Agar tidak terjadi
pemborosan energi yang digunakan maka diperlukan adanya suatu manajemen
energi, agar energi yang digunakan efisien, tanpa adanya pengurangan kualitas
dan kuantitas produk yang diperoleh.
Pada proses pengolahan minyak, fungsi dan peranan alat perpindahan
panas sangat penting. Proses perpindahan panas merupakan proses yang banyak
dipakai dalam industri perminyakan, salah satunya seperti Reboiler LS-E6 yang
dipakai bottom kolom de-propanizer pada Unit Stabilizer III di Sungai Gerong
Refinery Unit III Plaju Palembang.
Reboiler LS E-6 ini merupakan heat exchanger jenis sheel and tube yang
berfungsi untuk mengubah fase dari bottom kolom de-propanizer yang berupa
fase cair menjadi fase uap sebagai refluk dengan memanfaatkan steam sebagai
fluida panas.
Reboiler berfungsi untuk memanaskan fluida atau feed gas yang masuk ke
dalam kolom distilasi sehingga fungsi reboiler disini sangatlah penting untuk
memanaskan kembali fluida tersebut sampai fluida tersebut mencapai titik
didihnya sehingga dapat dipisahkan menjadi berbagai komponen.
Untuk mengetahui kemampuan alat perpindahan panas ini, perlu di
lakukan dengan cara perhitungan, sehingga kemampuan kerja dari alat
perpindahan panas dapat diketahui.

56

Oleh karena itu penyusun mengambil judul Menghitung evaluasi


effisiensi kinerja Reboiler LS-E6 pada Unit Stabilizer III (RFCCU) di PT.
Pertamina (Persero) RU III Plaju-Sei. Gerong.
3.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini adalah :
1. Untuk mengetahui efisiensi alat Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU di
PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju-Sei. Gerong.
2. Membandingkan data desain dan data aktual Reboiler LS-E6 pada Unit
RFCCU di PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju-Sei. Gerong
menggunakan Metode Kern.
3.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan laporan ini adalah:
1. Memberikan informasi serta masukan kepada Industri mengenai kondisi

kinerja alat Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU di PT. Pertamina (Persero)
RU III Plaju-Sei. Gerong yang dilakukan dengan perhitungan manual
berdasarkan data kondisi design dan aktual dengan menggunakan metode
Kern.
2. Mengaplikasikan ilmu yang didapat selama proses pembelajaran di bangku

kuliah dalam skala Industri, khusunya pada unit RFCCU di PT.


PERTAMINA RU III.
3.5 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
1. Evaluasi efisiensi Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU di PT. Pertamina
(Persero) RU III Plaju - Sungai Gerong.
2. Perbandingan data aktual dan data design berdasarkan perhitungan dengan
Metode Kern.

3.6 Tinjauan Pustaka


3.6.1 Pengertian Perpindahan Panas

57

Proses perpindahan panas yang terjadi pada suatu fluida proses merupakan
bagian terpenting dalam proses industri kimia. Mekanisme perpindahan panas ini
disebabkan beda temperature antara fluida yang satu dengan fluida yang lain, baik
perpindahannya secara konduksi, konveksi maupun radiasi. Sifat perpindahan
panas adalah bila dua buah benda mempunyai suhu yang berbeda mengalami
kontak baik secara langsung maupun tidak langsung, maka panas akan mengalir
dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah.
3.6.2 Macam macam Proses Perpindahan Panas

Proses perpindahan panas yang terjadi di dalam proses-proses kimia dapat


berlangsung dengan tiga cara yaitu :
3.6.2.1 Perpindahan Panas Secara Konduksi
Perpindahan panas secara konduksi adalah perpindahan panas antar
molekul-molekul yang saling berdekatan antara satu sama lain dan tidak diikuti
oleh perpindahan molekul-molekul secara fisis. Perpindahan secara konduksi ini
dapat berlangsung pada benda padat. Contoh perpindahan panas secara konduksi
adalah perpindahan panas dalam zat padat yang tidak tembus cahaya, seperti
dinding bata pada tungku atau dinding logam pada tabung.
3.6.2.2 Perpindahan Panas secara Konveksi
Perpindahan panas secara konveksi adalah perpindahan panas yang terjadi
dari suatu tempat ke tempat lain dengan gerakan partikel secara fisis. Perpindahan
panas secara konveksi menurut terjadinya ada dua macam yaitu:
1. Konveksi bebas natural convection

Adalah proses perpindahan panas yang berlangsung secara alamiah,


dimana perpindahan panas molekul-molekul dalam zat yang dipanaskan
terjadi dengan sendirinya tanpa adanya tenaga dari luar.

2. Konveksi paksa forced convection

58

Adalah proses perpindahan panas yang terjadi karena adanya tenaga dari
luar, misalnya pengadukan. Jika dalam suatu alat dikehendaki pertukaran
panas, maka perpindahan panas terjadi secara konveksi paksa karena laju
panas yang dipindahkan naik dengan adanya aliran atau pengadukan.
3.6.2.3 Perpindahan Panas secara Radiasi
Radiasi adalah istilah yang digunakan untuk perpindahan energi panas
melalui ruang oleh gelombang elektromagnetik. Perambatan gelombang
elektromagnetik dapat berlangsung baik dalam suatu medium maupun dalam
ruang hampa (vacuum).
Jika radiasi berlangsung melalui ruang hampa, maka partikel partikel
tidak ditransformasikan menjadi kalor atau bentuk lain dari energi, dan tidak pula
terbelok dari lintasannya. Tetapi sebaliknya, apabila terdapat zat pada
lintasannya, maka radiasi akan terjadi transmisi, refleksi, dan absorpsi.
3.6.3 Pengertian Heat Exchanger
Heat Exchanger adalah suatu alat penukar panas yang digunakan untuk
memanfaatkan atau mengambil panas dari suatu fluida yang dipindahkan lainnya
melalui proses yang disebut proses perpindahan panas. Proses perpindahan panas
ini dapat terjadi pada fase cair ke fase uap atau fase uap ke fase cair secara
langsung dimana .
3.6.4 Jenis jenis Heat Exchanger
3.6.4.1 Jenis-jenis Heat Exchanger Berdasarkan Bentuknya
1. Preheater
Alat ini digunakan untuk mentransfer panas dari fluida bersuhu tinggi ke
fluida yang bersuhu rendah yang bertujuan untuk dimanfaatkan oleh fluida yang
bersuhu rendah sebelum masuk ke furnace agar kerja furnace lebih ringan.

59

Gambar 8. Skema Preheater


2. Condensor
Alat ini digunakan untuk menurunkan suhu dari uap atau vapour sampai
mencapai titk pengembunan atau kondensasi ke suhu cair, dengan mentransfer
panasnya ke fluida lain, biasanya air, dapat air tawar ataupun air laut.
3. Reboiler
Alat ini digunakan untuk memproduksi uap dari liquid, dimana liquid
tersebut dipanaskan dengan melewatkan uap air yang ada pada tube bundle.yang
mana media pemanas biasa digunakan adalah steam. Perpidahan panas yang
terjadi juga disertai perubahan fase, tetapi dari bentuk liquid menjadi vapour
dengan sumber panas dari fluida proses maupun sistem.

Gambar 9. Reboiler
4. Cooler
Alat ini digunakan untuk mendinginkan liquid yang panas sampai
mencapai suhu tertentu yang dikehendaki. Peristiwa perpindahan panas yang
terjadi tanpa perubahan fasa.

60

Gambar 10. Cooler


5. Chiller
Alat ini digunakan untuk mendinginkan fluida pada suhu yang lebih
rendah. Dimana media pendingin biasanya dapat digunakan berupa air, propane,
freon, ataupun ammonia.

Gambar 11. Chiller


6. Evaporator
Alat ini digunakan untuk menguapkan fluida cair dengan

menggunakan

suatu media pemanas (steam) atau media pemanas lainnya.


7. Cooling tower
Alat ini digunakan untuk mendinginkan fluida dengan menggunakan
hembusan udara.
8. Furnace
Alat ini digunakan bertujuan untuk menaikan suhu feed sampai temperatur
tertentu sebelum diproses dikolom CDU, HVU, dan RFFU.

3.6.4.2

Klasifikasi Heat Exchanger Berdasarkan Bentuk

61

1. Double Pipe Exchanger


Heat Exchanger ini adalah jenis yang paling sederhana yang hanya terdiri
atas pipa besar dan kecil yang disusun secara konsentris. Jenis ini biasanya
digunakan untuk mendinginkan atau memanaskan fluida proses.
2. Shell and Tube Exchanger
STHE merupakan Heat Exchanger yang terdiri dari suatu pipa besar yang
berisi sejumlah tube yang lebih kecil. Jenis ini dapat dugunakan untuk
mendinginkan atau memanaskan fluida proses.
3. Flate and Fram Exchanger
Merupakan Heat Exchanger yang terdiri atas plate-plate yang dipasang
sebagai penyekat antara fluida dingin dan fluida panas.
4. Air Cooled Exchanger
Alat ini digunakan untuk mendinginkan suatu cairan dengan udara sebagai
fluida pendinginnya. Cairan disalurkan kedalam pipa dan udara dialirkan kebagian
luar pipa tersebut.
5. Box Cooler
Merupakan alat pendingin yang terdiri dari suatu coil pipa yang direndam
dalam sebuah tangki terbuka (segi empat).
3.6.5 Tipe Penukar Panas
3.6.5.1 Direct
Pada peralatan tipe direct, kedua fluida yang akan dipertukarkan panasnya
bercampur menjadi satu.
3.6.5.2 Indirect
Pada peralatan tipe indirect, kedua fluida yang akan dipertukarkan
panasnya tidak bersentuhan langsung sehingga perpindahan panasnya terjadi
melalui dinding pemisah.
3.6.6

Jenis-jenis Aliran

62

Berdasarkan konfigurasi arah aliran, maka alat penukar panas dapat


dikategorikan pada tiga jenis konfigurasi aliran yaitu :
3.6.6.1 Aliran Sejajar (Co current flow)
Kedua jenis fluida masuk dari satu sisi secara bersamaan, mengalir pada
arah yang sama dan keluar dari sisi lainnya yang sama.

Gambar 12. Co Current Flow


Keterangan :
To = Fluida panas yang keluar (0C)
Ti = Fluida panas yang masuk (0C)
to = Fluida dingin yang keluar (0C)
ti = Fluida dingin yang masuk (0C)
3.6.6.2 Aliran berlawanan arah (Counter current flow)
Dua jenis fluida masuk dari arah yang berlawanan dan keluar dari sisi
yang berlawanan pula.

Gambar 13. Counter current flow

Keterangan :
To = Fluida panas yang keluar (0C)
Ti = Fluida panas yang masuk (0C)

63

to = Fluida dingin yang keluar (0C)


ti = Fluida dingin yang masuk (0C)

3.6.6.3 Aliran kombinasi (gabungan)


Satu fluida masuk dari satu sisi kemudian berbagi arah ke arah sisi masuk,
sedangkan fluida lainnya masuk dan keluar dari sisi yang berlainan.

Gambar 14. Aliran kombinasi


Keterangan :
T1 = Fluida panas yang masuk (0C)
T2 = Fluida panas yang keluar (0C)
t1 = Fluida dingin yang masuk (0C)
t2

= Fluida dingin yang keluar (0C)

Shell and Tube Exchanger sejauh ini paling umum digunakan untuk proses
perpindahan panas di industri kimia. Keuntungan yang diperoleh dari heat
exchanger jenis ini adalah :
a) Konfigurasinya memberikan luas permukaan yang besar dengan volume
yang kecil
b) Secara mekanis, bentuknya cocok untuk proses bertekanan
c) Teknik pembuatannya lebih mudah
d) Lebih mudah dibersihkan
e) Prosedur perancangannya mudah
f)

Dapat digunakan untuk berbagai jenis bahan proses

g) Dapat dibuat dari berbagai jenis bahan

64

3.6.7 Komponen-komponen Utama Shell and Tube Heat Exchanger


3.6.7.1 Shell
Shell merupakan cangkang atau pembungkus berkas pembuluh.
3.6.7.2 Tube
Komponen alat yang dialiri fluida lainnya, yang dindingnya merupakan
lintas pertukaran panas. Berkas tube, dirangkum oleh Tube sheet, dan tersusun
dalam pola segitiga (triangular), pola bunjur sungkar (square) atau pola diagonal
(diagonal square).
1. Susunan Tube
Komponen untuk melepas atau menerima panas suatu alat penukar panas
dipengaruhi oleh besarnya luas permukaan (heating surface) dimana besarnya luas
permukaan tergantung dari panjang, ukuran dan jumlah tube. Susunan tube
mempengaruhi besarnya penurunan tekanan aliran fluida dalam shell.
a. Tube dengan susunan bujur sangkar (square pitch)

Gambar 15. Tube dengan susunan bujur sangkar (square pitch)

b. Tube dengan susunan segitiga (trianguler pitch)

65

Gambar 16. Tube dengan susunan segitiga (trianguler pitch)


c. Tube dengan susunan belah ketupat atau bentuk bujur sangkar yang
diputar 450 (square pitch rotate)

Gambar 17. Tube dengan susunan belah ketupat diputar 45o

d. Tube susunan segitiga dengan garis pembersih (triangular pitch with


cleaning liners)

Gambar 18. Tube (trianguler pitch with cleaning lines)


2.

Macam macam Pengaturan Tube di dalam Shell


a. Inline Square Pitch

66

Baik untuk kondisi perbedaan tekanan yang rendah

Koefisien perpindahan panas lebih rendah daripada triangular


pitch
b. Diamond Square Pitch

Digunakan untuk perbedaan tekanan rendah, tetapi tidak serendah


inline square pitch

Mempunyai koefisien perpindahan panas yang lebih sebanding


inline square pitch

c. Inline Triangular Pitch

Tidak banyak digunakan seperti triangular pitch

Koefisien perpindahan panasnya lebih baik dibanding square pitch

Perbedaan tekanan medium cukup tinggi

Baik untuk fluida yang mudah fouling

d. Triangular Pitch

Sangat umum digunakan untuk iron fouling ataupun fouling service

Perbedaan tekanan medium tinggi

Mempunyai koefisien perpindahan panas yang paling baik

3.6.7.3 Baffle
Komponen ini merupakan lempengan logam yang dipasang tegak lurus
poros shell dan berfungsi mengatur pola aliran fluida dalam shell, dengan
tujuan untuk memperbaiki kontak antara fluida dalam shell dengan tube nya,
sehingga pertukaran panas dapat berlangsung lebih sempurna.
3.6.7.4 Channel
Komponen alat ini berfungsi untuk membalikan arah aliran fluida dalam
tube pada jenis fixed tube exchanger. Pada konstruksi lain disebut juga channel
cover, shell cover dan head cover.
3.6.7.5 Nozzle

67

Komponen alat ini merupakan saluran masuk dan keluar fluida kedalam
shell dan kedalam tube.
3.6.8 Dasar Pertimbangan Fluida yang Mengalir di bagian Shell dan Tube
1. Fluida yang kotor selalu melalui bagian yang mudah dibersihkan, yaitu
melalui tube, terutama jika tube bundle bisa diambil. Tapi dapat melalui
shell, bila kotorannya mengandung banyak coke, maka harus melalui shell
karena lebih mudah dibersihkan.
2. Fluida yang cepat memberikan kotoran, tekanan tinggi, korosif dan air
selalu melalui tube tahan terhadap tekanan tinggi dan biaya pemeliharaan
tube lebih mudah dibersihkan.
3. Fluida dalam bentuk campuran non condensable gas melalui Tube agar
non condensable gas tidak terjebak.
Fouling factor (Rd)
Fouling factor adalah suatu angka yang menunjukkan hambatan akibat
adanya kotoran yang terbawa oleh fluida yang mengalir dalam heat exchanger,
yang melapisi bagian dalam dan luar Tube. Fouling factor berpengaruh terhadap
proses perpindahan panas, karena pergerakannya terhambat oleh deposit. Fouling
factor ditentukan berdasarkan harga koefisien perpindahan panas menyeluruh
untuk kondisi bersih m kotor pada alat penukar panas yang digunakan.
Nilai fouling factor didapat dari perhitungan dan desain yang dapat dilihat
dari Tabel 12 Kern. Apabila nilai fouling factor hasil perhitungan lebih besar dari
nilai fouling factor desain maka perpindahan panas yang terjadi di dalam alat
tidak memenuhi kebutuhan prosesnya adan harus segera dibersihkan. Nilai
fouling factor dijaga agar tidak melebihi nilai fouling factor desainnya agar alat
heat exchanger dapat mentransfer panas lebih besar untuk keperluan prosesnya.
Perhitungan fouling factor berguna dalam mengetahui apakah terdapat kotoran di
dalam alat dan kapan harus dilakukan pencucian.
Fouling dapat terjadi dikarenakan adanya :

68

1. Pengotor berat hard deposit, yaitu kerak keras yang berasal dari hasil
korosi atau coke keras.
2. Pengotor berpori porous deposit, yaitu kerak lunak yang berasal dari
dekomposisi kerak.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya fouling pada alat heat
exchanger adalah :
1. Kecepatan aliran fluida
2. Temperatur fluida
3. Temperatur permukaan dinding Tube
4. Fluida yang mengalir di dalam dinding Tube
Pencegahan fouling dapat dilakukan dengan tindakan tindakan sebagai
berikut :
1. Menggunakan bahan konstruksi yang tahan terhadap korosi.
2. Menekan potensi fouling, misalnya dengan melakukan penyaringan.
3.7 Pemecahan Masalah
Heat Exchanger Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU merupakan suatu alat
penukar panas yang digunakan untuk memanaskan fluida pada bottom Stabilizer
III dengan pemanas steam.
Untuk menghitung nilai fouling factor, pressure drop dan effisiensi HE
Reboiler LS-E6 pada Unit

RFCCU dilakukan dengan beberapa tahap

penyelesaian. Adapun tahap-tahap yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :


3.7.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data-data yang dibutuhkan untuk perhitungan dilakukan
dengan meninjau kondisi operasi Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU di ruang
kontrol PT. Pertamina RU III di bagian CD&L. Adapun data-data fluida yang
diambil sebagai berikut :
a.

Temperatur masuk fluida panas (T1) dan fluida dingin (t1)

b.

Temperatur keluar fluida panas (T2) dan fluida dingin (t2)

69

c.

Laju alir fluida panas (W) dan fluida dingin (w)

d.

Spesifik gravity fluida panas dan fluida dingin

3.7.2 Metode Perhitungan


Mengerjakan perhitungan dengan Metode Kern panas sebagai berikut:
a.

Perhitungan Neraca Panas (Heat Ballance)


Panas yang diberikan oleh Steam:
Q

= m . Cp . t (D.Q. Kern)

...................... (1)

Panas yang diterima oleh Butane-butylene:


Q

= m . h

........................................... (2)

b. Perhitungan Log Mean Temperature Different, LMTD


Untuk alat penukar panas aliran counterflow, beda temperatur rata-rata
dihitung dengan beda temperatur rata-rata logaritmik.

LMTD =

T1 t 2 T2 t1
T t
ln 1 2
T2 t1

c. Perhitungan Temperatur Kalorik (Tc dan tc)


Temperatur caloric ditafsirkan sebagai temperatur rata-rata fluida yang
terlibat dalam pertukaran panas.
Tc = T2 + Fc (T1 T2)
tc = T1 + Fc (t2 t1)
Dari Fig.17 Kern, 1965 didapat harga Kc dan Fc dengan perbandingan
t c
T t1
2
Tc
T1 t 2

d. Perhitungan Flow Area


Flow area merupakan luas penampang yang tegak lurus arah aliran.

70

Shell Side
as = ID x C x B / (144 x PT)
Dimana :
ID = Inside Diameter (in)
C = Jarak antara Tube (in)
B = Jarak Baffle (in)
PT = Tube pitch (in)

Tube side
at = NT x at / (144 x n)
Dimana :
NT = Jumlah Tube
at = Internal area (Table 10 Kern)
n

= jumlah Tube passes

e. Perhitungan Mass Velocity


Kecepatan massa merupakan perbandingan laju alir dengan flow area

Shell side
Gs = W / as
Dimana :
Gs = Mass Velocity fluida pada Shell side
W = Laju alir
Tube side

Gt = W / at
Dimana :
Gt = Mass Velocity fluida pada Tube side
W = Laju alir fluida dingin (lb/hr)

71

f. Perhitungan Reynold Number


Reynold number menunjukkan tipe aliran fluida di dalam pipa
Shell side
Res
= De x Gs/
Dimana :
De
= Equivalent diameter (ft) (Fig. 28 Kern)
Gs

= Mass Velocity (lb/hr.ft2)


= Viskositas fluida pada suhu tc

Tube side
Ret

= D x Gt /

Dimana :
D

= Inside diameter (ft) (Tabel 10 Kern)

Gt

= Mass velocity (lb/hr ft2)

= Viskositas fluida pada suhu tc

g. Perhitungan Heat Transfer Factor (JH)


Shell side

Nilai JH untuk sisi Shell dapat diketahui dari Fig. 28 Kern


Tube side

Nilai JH untuk sisi Tube dapat diketahui dari Fig. 24 Kern


h. Menentukan Thermal Function
untuk menentukan thermal function (K(c x / k)1/3) menggunakan fig.16
Kern hal.826, dengan melihat hubungan viskositas (cp) dengan oAPI.
i. Menentukan nilai Outside Film Coefficient (ho) dan Inside Film
Coefficient (hi)

Shell side

hio
x(Tc tc )
hio ho

Tw =

Mencari hv pada nilai max (300) dan Hs (fig.15.11 kern hal.830)


ho

q
(qv / hc ) (qs / hs )

72

Tube side
hi

hio

Dimana :
ho

= Outside film coefficient (Btu/hr.ft 0F)

hio

= Inside film coefficient (Btu/hr.ft 0F)

j. Menentukan Tube wall Temperature, tw


Temperatur dinding rata-rata Tube dapat dihitung dengan temperature
kalorik, jika diketahui nilai koefisien perpindahan panas fluida Shell dan
Tube pada kondisi operasi sedang berlangsung.
tw

= tc +

ho / s
x Tc t c
hio / t ho / s

Dimana : tw = temperatur dinding Tube (0F)


k. Perhitungan Clean Overall Coefficient, Uc
Uc merupakan overall heat transfer coefficient jika tidak terjadi
fouling/kerak.
UC

hio x ho
hio ho

Dimana :
UC = Overall heat transfer coefficient (Btu/hr.ft2 oF)
l. Perhitungan Dirty Overall Coefficient, UD
UD merupakan overall heat transfer coefficient jika terjadi fouling/kerak.
A

= NT x a x L

Dimana :
A

= Heat transfer surface (ft2)

73

NT

= Jumlah tube

= luas area (ft2/lin ft), Tabel 10 Kern

= Panjang tube

Maka :
UD

Q
A x t

Dimana : UD = Overall heat transfer coefficient (Btu/hr.ft2 oF)


m. Perhitungan Dirt Factor, Rd
Rd

UC U D
UC x U D

Dimana :

= Fouling Factor (hr.ft2.oF/ Btu)

Rd

n. Perhitungan Pressure Drop


Shell side
2

f x Gs x Ds x N 1
Ps =
5,22 x1010 De x s x s
Dimana :
Ps

= Total Pressure drop pada Shell (psi)

= Friction factor Shell (ft2/in2) (Fig.29,Kern)

Gs

= Mass velocity (lb/hr.ft2)

= Spec.Gravity

N + 1 = jumlah lintasan aliran melalui baffle


Tube side
2

f x Gt x L x n
Pt =
5,22 x 1010 D x s x t
Dimana :
Pt

= Pressure drop pada tube (psi)

= Friction factor tube (ft2/in2) (Fig.26, Kern)

Gt

= Mass velocity (lb/hr.ft2)

74

Spgr

= Spec.Gravity

= Inside diameter (ft)

= jumlah pass Tube

Pr =

4xn V2
x
s
2g

Dimana :
Pr = Return pressure drop pada tube (psi)
V2
2g

= Velocity head (psi)


= Spec.Gravity

Maka :
PT

= Pt + Pr

Dimana :
PT

= Total Pressure Drop pada Tube (psi)

o. Perhitungan Effisiensi
Q shell

Effisiensi () = Q tube x 100%

3.8 Hasil dan Pembahasan


3.8.1 Data Hasil Perhitungan Reboiler LS-E6

75

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata dari beberapa data yang diperoleh


dari tanggal 14 Juli-19 Juli 2014 dengan metode Kern, diperoleh hasil perhitungan
efisiensi kinerja Reboiler LS-E6 yang dapat dilihat pada tabel 23.
Tabel 23. Data Hasil Perhitungan Reboiler LS-E6 di unit RFCCU
Shell Side
(Butanebutylene)
12.083,4
230,5
257,3
84,20
664.463,46

Perhitungan
Flow Rate (lb/hr)
Temp. Inlet (oF)
Temp. Outlet (oF)
API
Total Duty (Btu/hr)
LMTD
Caloric Temperature (oF)

Tube Side
(Steam)
34.2751,1719
446,7
324,9
17,11
853.619,7096
127,8

267,752
2 o

Clean Overall Coefficient(Btu/hr.ft . F)

52,9485

2 o

Design Overall Coefficient(Btu.hr.ft . F)


Fouling Factor (hr.ft2.F/Btu)
Pressure Drop (Kg/cm2)

372,402

0,00596

Effisiensi (%)

11,2647
0,06
0,00334
77,84

Data Rata-rata Heat Exchanger Reboiler LS-E6 tanggal 14 19 Juli 2014

3.8.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan Reboiler LS-E6 dengan metode Kern
terhadap data aktual selama 6 hari, maka diperoleh beberapa nilai yang berkaitan
dengan kinerja Heat exchanger Reboiler LS-E6 seperti: Heat Loss, Fouling factor,
Overall heat coefficient, pressure drop, dan effisiensi.

76

Reboiler LS-E6 pada Stab III unit RFCCU berfungsi untuk mengubah fase
dari bottom kolom de-propanizer yang berupa fase cair menjadi fase uap sebagai
refluk dengan memanfaatkan steam sebagai fluida panas. Reboiler sangat penting
untuk memanaskan kembali fluida tersebut sampai fluida mencapai titik didihnya,
sehingga dapat dipisahkan menjadi berbagai komponen.
Dari perhitungan data aktual, rata rata harga fouling faktor (Rd) di atas
desain, hal ini menunjukkan bahwa reboiler tersebut banyak mengandung
tumpukan coke dan kotoran yang berasal dari long residue bersuhu tinggi yang
berhubungan langsung dengan perpindahan panas di dalam heat exchanger.
Tumpukan coke ini dapat memperkecil ID sehingga menghambat proses
perpindahan panas antara butane-butylene dan steam sehingga mempengaruhi
efisiensi kerja Reboiler. Efisiensi alat Reboiler LS-E6 dari tanggal 14 Juli-19 Juli
mengalami penurunan dimana dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Efisiensi kerja alat Reboilerl-E6 dari tanggal 14 Juli - 19 Juli 2014


mengalami penurunan, hal ini terjadi karena operasi yang berlangsung secara terus
menerus sehingga menyebabkan tumpukan coke semakin banyak yang
menyebabkan proses perpindahan panas tidak berjalan dengan baik. Adanya
tumpukan coke akan berbanding lurus terhadap fouling factor atau faktor

77

pengotornya. Sehingga semakin besar fouling factor maka efisiensi kinerja alat
akan semakin menurun.
Harga Pressure Drop yang diperoeh baik di shell maupun di tube hasil
perhitungan tidak jauh berada di bawah desain, hal ini menunjukkan bahwa hilang
tekan pada saat proses berlangsung tidak begitu besar sehingga heat exchanger
tersebut dinyatakan masih layak dioperasikan.

3.9 Kesimpulan dan Saran


3.9.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa dan perhitungan terhadap kinerja dari Reboiler LS-E6
di unit RFCCU, dapat diperoleh beberapa kesimpulan berupa :
1. Semakin besar nilai fouling factor maka kemampuan transfer panas akan
melemah. Fouling factor yang didapatkan semakin lama semakin banyak yang
menyebabkan ID semakin kecil sehingga menghambat proses perpindahan
panas antara butane-butylene dan steam.
2. Semakin tinggi Pressure Drop mengindikasikan banyak terjadinya fouling dan
hal ini membuat laju alir fluida yang mengalir pada tube atau shell akan
menurun dari kondisi desain dan sebaliknya. Pressure Drop yang terjadi tidak
begitu besar sehingga heat exchanger tersebut dinyatakan masih layak
dioperasikan.
3. Efisiensi Reboiler LS-E6 yang didapat terus mengalami penurunan yaitu dari
79% menjadi 75%. Hal ini diakibatkan penumpukan coke yang terbentuk
semakin hari semakin meningkat sehingga mempengaruhi efisiensi.

3.9.2 Saran
Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada Heat Exchanger Reboiler LSE6, penulis dapat memberikan saran sebagai berikut :

1.

Nilai fouling factor harus tetap dijaga agar tidak


melebihi nilai desain sehingga perpindahan panas dari reboiler dapat bekerja
lebih optimal.

78

2.

Pada Reboiler LS-E6 ini kondisinya masih sangat


baik, namun sebaiknya hingga T.A (Turn Arround) mendatang perlu dilakukan
pembersihan lebih rutin agar operasi Reboiler LS-E6 dapat bekerja dengan
baik dan mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan spesifikasi yang telah
di tentukan.