Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
BBLR masih merupakan masalah serius yang dihadapi oleh dunia, di
Indonesia kejadian BBLR bervariasi, secara nasional menurut analisa SDKI 20022003 kejadian BBLR sebesar 6%. Kejadian BBLR berdasarkan provinsi bervariasi
dengan rentang 2%-15,1% dimana yang terendah di provinsi Sumatera Utara dan
tertinggi di provinsi Sulawesi Selatan. Di Jawa Barat BBLR merupakan penyebab
kematian bayi (0-1 tahun) nomor 3 pada tahun 1998 (8.5%) dan nomor 4 pada
tahun 1999 (8.71%).
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. BBLR adalah bayi yang lahir dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram (WHO, 1994) dan ditimbang sampai dengan 24
jam setelah kelahiran. Bayi yang lahir dengan berat badan 2000-2499 gram
beresiko 10 kali lebih tinggi untuk meninggal dari pada bayi yang lahir dengan
berat badan 3000-3499.
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negaranegara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan
90% kejadian BBLR didapatkan di Negara berkembang dan angka kematiannya
35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram .
BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan
disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang
terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka kejadian di Indonesia sangat
bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%- 30%,
hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%17,2%.
Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%.
Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program
perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama

: By Nurti I

Tanggal lahir

: 23 April 2013

Umur

: 10 hari

Jenis kelamin

: Wanita

Umur ibu

: 26tahun

Alamat

: Br Buditirta, Siangan

Agama

: Hindu

No RM

: 443783

2.2 Anamnesis (Heteroanamnesis)


Keluhan Utama : BBLR
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien di terima di NICU pada tanggal 23 April 2013 pada jam 13.55 dengan
Apgar skor 7-9. Berat bayi baru lahir 1700 gr. Bayi lahir spontan dan langsung
menangis.
Saat ini pasien dirawat di NICU dan diberikan fototerapi sejak 3 hari yang lalu
dikarenakan pasien kuning. Tanggal 1 Mei 2013 hasil lab bilirubin total berkisar
9,7 mg/dl dengan rentang nilai 0,2 1.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien merupakan anak ke 2 dengan selisih jarak 2 tahun dengan sang kakak.
Antenatal care sudah dilakukan oleh ibu pasien pada trisemester 1 chek up
sebanyak 2x, pada trisemester ke 2 chek up sebanyak 1x dan trisemester k 3
sebanyak 2x. Hari pertama haid terakhir ibu dikatakan pada tanggal 7 juli 2012.
Dan perkiraan lahir 14 april 2013. Diet saat hamil dikatakan mengikuti instruksi
bidan dengan gizi yang cukup. Dan di berikan obat-obatan berupa tablet fe selama
kehamilan. Riwayat intranatal dikatakan tidak pernah mengalami pendarahan saat
mengandung, ketuban pecah disangkal, demam dan keputihan disangkal dan

terdapat nyeri BAK. Riwayat penyakit ibu dikatakan mengalami Hipertensi saat
mengandung. Ibu menambahkan tidak ada masalah saat mengandung ataupun saat
melahirkan. Namun saat trisemester ke 2 ibu baru mengetahui bahwa anak yang
dikandungnya anak kembar.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami Hipertensi dan Penyakit
kronis disangkal
Riwayat Pribadi/Sosial/Lingkungan
Pada saat mengandung ibu tidak bekerja dan tidak ada kegiatan yang
memberatkan kondisi ibu. Dukungan dari keluarga cukup.
2.3 Pemeriksaan Fisik
Status Present (1 Mei 2013)
Keadaan Umum

: Tenang

Nadi

: 146x/menit, reguler, isi cukup

Respirasi

: 40 x/ menit, reguler

Temp Aksila

: 36,9 C

Berat Badan Saat melahirkan : 1700 g


Berat badan Sekarang

: 1400 g

Panjang Badan Sekarang

: 42 cm

Lingkar Kepala Sekarang

: 29 cm

Lingkar Dada Sekarang

: 28 cm

Status General (30 April 2013)


Kepala
: Normocephali, ubun-ubun besar terraba, Sefal hematom
(-), Caput Succedaneum (-)
Mata

: Anemia (-/-), ikterus (-/-), Cowong (-/-)

THT

: Telinga : Sekret (-)


Hidung : Sekret (-)
Mulut : basah, sianosis (-)

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-),

Thorax
Jantung

: Simetris (+), retraksi (-)


: Inspeksi: Iktus cordis tidak tampak, precordial bulging (-)
Palpasi: Iktus cordis teraba di ICS V MCL Sinistra
Auskultasi: S1 S2 normal regular, murmur (-)

Pulmo

: Inspeksi: pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-)


Palpasi: Gerakan dada teraba simetris
Auskultasi: Suara nafas Bronko vesikular +/+, ronki -/-,
wheezing -/-

Abdomen

: Inspeksi: Distensi (-)


Auskultasi: Bising usus normal 11x/menit
Palpasi: Hepar dan lien tidak teraba, turgor kulit <2detik

Ekstremitas

: akral hangat (+)/(+)/(+)/(+), edema (-)/(-)/(-)/(-),


capillary refill time < 2 detik

Kulit

: sianosis (-), Ikterik (29 April 2013)

3.4 Pemeriksaan Penunjang


Darah Lengkap (24 April 2013)
TES
WBC
LYM%
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDW -SD
RDW CV
PLT
MPV
MONO%

HASIL
8,45
42
3,80
13,6
37,3
98,2
35,8
36,5
54,4
16,1
177
10,6
8.0

UNIT
x103/L
%
x106/L
g/dL
%
fL
Pg
g/dL
fL
%
x103/L
Fl
%

NORMAL
3.6 11.00
20.0 50.00
4.40 5.90
11,5 17.3
47.00 50.00
82.00 92.00
27.00 31.00
32.00 37.00
35,0 47,0
11,5-14,5
150.00 440.00
7.2 11.0
0,0-14

KETERANGAN

Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tes Bilirubin (1 Mei 2013)


Tes
Bilirubin Direct
Bilirubin total

Nilai
1,2
9,7

Satuan
Mg/dl
Mg/dl

RN
0,1-0,3
0,2-1

Ket
Tinggi
Tinggi

3.4 Diagnosa Klinis


NKB+SMK+BBLR
3.6 Penatalaksanaan

Observasi Nicu
Hangatkan bayi
Merawat Tali pusat
Pemberian Vit k 1mg IM
Pemberian ASI melalui pipa lambung

3.7 Monitoring
BAB, BAK, Muntah, Kuning,
Tanda vital
Tanda Dehidrasi

BAB III
PEMBAHASAN
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang
5

ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. BBLR adalah bayi yang lahir dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram (WHO, 1994) dan ditimbang sampai dengan 24
jam setelah kelahiran Bayi yang lahir dengan berat badan 200-2499 gram beresiko
10 kali lebih tinggi untuk meninggal dari pada bayi yang lahir dengan berat badan
3000-3499.
Menurut Davanzo (1999) terdapat 3 bentuk BBLR, yaitu:
1. Bayi prematur: pertumbuhan bayi dalam rahim normal, persalinan terjadi
sebelaum masa gestasi berusia 37 minggu.
2. Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK): pertumbuhan dalam Rahim
terhambat yang disebabkan faktor dari bayi sendiri, plasenta ataupun faktor ibu.
3. Bayi prematur dan KMK: bayi prematur yang mempunyai berat badan rendah
untuk masa kehamilan.
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan batasan berat badan dapat
dibagi 3, yaitu:
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir antara 1500
gram sampai dengan 2500 gram.
2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) adalah bayi dengan berat lahir antara
1000 gram sampai kurang dari 1500 gram.
3. Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR) adalah bayi dengan berat
lahir kurang dari 1000 gram.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi BBLR
Sulit untuk menentukan secara pasti penyebab BBLR, namun ada beberapa
faktor risiko yang erat hubungannya dengan kejadian BBLR. Adapaun faktorfaktor risiko tersebut adalah:
a) Umur saat Melahirkan
Menurut Kramer (1987) yang dikutip oleh institut of medicine, secara umum
ibu yang umurnya lebih muda akan mempunyai bayi yang lebih kecil
dibandingkan dengan ibu yang lebih tua. Penelitian menunjukan angka kematian
dan kesakitan ibu akan tinggi bila melahirkan terlalu muda atau terlalu tua, yaitu
usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun Menurut SDKI 1994, proporsi ibu
hamil berusia kurang dari 20 tahun sebesar 25,4% dan usia lebih dari 35 tahun

sebesar 19,5%. Faktor usia pada wanita hamil di negara berkembang perlu
diperhatikan, hal ini dikarenakan perkawinan pada masyarakat di pedesaan sering
terjadi pada usia muda, yaitu sekitar usia menarche.
Di usia ini resiko untuk melahirkan BBLR sekitar 2 kali lipat dari yang hamil
pada usia 2 tahun setelah menarche. Disisi lain pada umur yang tua akan banyak
merugikan perkembangan janin selama periode dalam kandungan, hal ini
disebabkan oleh karena penurunan fungsi fisiologik dan reproduksinya
(Djuharnoko, 1998). Kejadian BBLR berdasarkan umur ibu paling tinggi terjadi
pada ibu yang melahirkan di bawah usia 20 tahun, yaitu 9,8%, kemudian antara
umur 20-34 tahun 6,5%, dan yang berumur lebih dari 35 tahun yaitu 4,1%.
b) Usia Kehamilan Saat Melahirkan
Kehamilan yang kurang dari 37 minggu merupakan penyebab utama
terjadinya BBLR (Nutrition Policy Paper No.18 september 200). Semakin pendek
usia kehamilan maka pertumbuhan janin semakin belum sempurna, baik itu organ
reproduksi dan organ pernafasan oleh karena itu ia mengalami kesulitan untuk
hidup diluar uterus ibunya.
c)Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan faktor yang bepengaruh secara tidak langsung
terhadap kejadian BBLR namun bisa dijelaskan secara sederhana bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin banyak pula informasi yang
bisa dia dapatkan mengenai BBLR sehingga secara otomatis semakin banyak pula
pengetahuannya mengenai langkah-langkah dalam pencegahan BBLR. Secara
konsisten penelitian menunjukan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki ibu
mempunyai pengaruh kuat pada perilaku reproduksi, kelahiran, kematian anak dan
bayi, kesakitan, dan sikap serta kesadaran atas kesehatan keluarga. Latar belakang
pendidikan ibu mempengaruhi sikapnya dalam memilih pelayanan kesehatan dan
pola konsumsi makan yang berhubungan juga dengan peningkatan berat badan ibu
semasa hamil yang pada saatnya akan mempengaruhi kejadian BBLR. Ibu yang
berpendidikan rendah sulit untuk menerima inovasi dan sebagian besar kurang
mengetahui pentingnya perawatan pra kelahiran. Disamping itu juga mempunyai
keterbatasan mendapatkan pelayanan antenatal yang adekuat, keterbatasan
mengkonsumsi makanan yang bergizi selama hamil. Kesemuanya ini akan

mengganggu kesehatan ibu dan janin, bahkan sering mengalami keguguran atau
lahir mati
d) Jenis Kelamin
Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa jenis kelamin bayi berpengaruh
terhadap kejadian BBLR, seperti di Srilanka perbedaan berat badan bayi sebesar
58 gr antara bayi laki laki dan perempuan dimana berat badan bayi laki laki
lebih berat di bandingkan dengan bayi perempuan (WHO, 1996). Proporsi
kejadian BBLR bayi laki laki adalah lebih sedikit (46,44%) di bandingkan
dengan bayi BBLR perempuan (53, 56%) dan resiko melahirkan bayi laki laki
dengan BBLR ialah 0,82 kali lebih kecil dibandingkan dengan melahirkan bayi
perempuan BBLR. Bayi laki-laki saat lahir memiliki rata-rata berat lahir 150 gram
lebih berat daripada bayi perempuan, perbedaan ini paling nyata pada umur
kehamilan 28 minggu. Diduga hal ini akibat stimulasi hormone androgenik atau
karena kromosom Y memuat materi genetik yang dapat meningkatkan
pertumbuhan janin laki-laki. Pada umur kehamilan yang sama, janin dengan jenis
kelamin laki-laki lebih berat 5% dan lebih panjang 1% dibanding dengan janin
jenis kelamin perempuan dan yang mempengaruhi keadaan ini adalah hormon
seks laki-laki dan kromosom Y yang dimiliki laki-laki. Hal ini mulai tampak pada
kehamilan 24 minggu.
Pada Pasien ini BBLR bisa disebabkan karena faktor gemeli yang menyebakan
asupan nutrisi yang diberikan oleh ibu terbagi sehingga menyebabkan BBLR.
Penatalaksanaan BBLR
Konsekuensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matang menyebabkan bayi
BBLR cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi
dan dikelola pada masa neonatal. Penatalaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk
mengurangi stress fisik maupun psikologis. Adapun penatalaksanaan BBLR,
meliputi:
a. Dukungan respirasi
Tujuan primer dalam asuhan bayi resiko tinggi adalah mencapai dan
mempertahankan respirasi. Banyak bayi memerlukan oksigen suplemen dan
bantuan ventilasi. Bayi dengan atau tanpa penanganan suportif ini diposisikan

untuk memaksimalkan oksigenasi karena pada BBLR beresiko mengalami


defisiensi surfaktan dan periadik apneu. Dalam kondisi seperti ini diperlukan
pembersihan jalan nafas, merangsang pernafasan, diposisikan miring untuk
mencegah aspirasi, posisikan tertelungkup jika mungkin karena posisi ini
menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, terapi oksigen diberikan berdasarkan
kebutuhan dan penyakit bayi. Pemberian oksigen 100% dapat memberikan efek
edema paru dan retinopathy of prematurity.
b. Termoregulasi
Kebutuhan yang paling krusial pada BBLR setelah tercapainya respirasi adalah
pemberian kehangatan eksternal. Pencegahan kehilangan panas pada bayi distress
sangat dibutuhkan karena produksi panas merupakan proses kompleks yang
melibatkan sistem kardiovaskular, neurologis, dan metabolik. Bayi harus dirawat
dalam suhu lingkungan yang netral yaitu suhu yang diperlukan untuk konsumsi
oksigen dan pengeluaran kalori minimal.
Menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukan
melalui beberapa cara, yaitu:
1) Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan
ibunya. Jika ibu tidak ada dapat dilakukan oleh orang lain sebagai penggantinya.
2) Pemancar pemanas
3) Ruangan yang hangat
4) Inkubator
Suhu inkubator yang direkomendasikan menurut umur dan berat
Berat Bayi

< 1500 gr

Suhu inkubator (C) menurut umur


35C
34C
33C

32C

1-10 hari

>5 minggu

11

hari

3 3-5 Minggu

1500-2000 gr

minggu
1-10 hari

11

2100-2500 gr

1-2 hari

minggu
3 hari-3 minggu

>3 minggu

1-2 hari

>2 hari

hari-4 >4 minggu

Kebutuhan Nutrisi
Pada masa neonatus, nutrisi BBLR merupakan kebutuhan paling besar
dibandingkan kebutuhan pada masa manapun dalam kehidupan; untuk mencapai
tumbuh kembang optimal. Pertumbuhan BBLR yang direfleksikan per kilogram
berat badan hampir dua kali lipat bayi cukup bulan, sehingga BBLR
membutuhkan dukungan nutrisi khusus dan optimal untuk memenuhi kebutuhan
tersebut. Pada umumnya BBLR dengan berat lahir kurang dari 1500 g,
memerlukan nutrisi parenteral segera sesudah lahir. Belum ada standar kebutuhan
nutrien yang disusun secara tepat untuk BBLR, sebanding dengan air susu ibu
(ASI). Rekomendasi yang ada ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrien yang
mendekati kecepatan tumbuh dan komposisi tubuh janin normal sesuai masa
gestasi serta mempertahankan kadar normal nutrien dalam darah dan jaringan
tubuh
Energi
Kebutuhan energi yang dihitung berdasarkan ekspenditur, pertumbuhan/sintesis,
cadangan dan ekskresi, diperkirakan sebesar 90-120 kkal/kgbb/hari. Adanya
variasi individual, anjuran asupan energi untuk nutrisi enteral sebesar 105-130
kkal/kgbb/hari agaknya mampu untuk BBLR mencapai pertumbuhan yang
memuaskan.
Protein
Masukan protein sebesar 2.25-4.0 g/kgbb/hari dinilai adekuat dan tidak toksik.
Kebutuhan yang diperkirakan berdasarkan untuk penambahan berat badan janin
adalah 3.5-4.0 g/kgbb/hari. Pada umumnya bayi yang mendapat formula
predominant whey menunjukkan indeks metabolik dan komposisi asam amino
plasma mendekati bayi yang mendapat ASI. Bayi dengan asupan protein sebesar
2.8-3.1 g/kgbb/ hari dengan 110-120 kkal/kgbb/hari menunjukkan pertumbuhan
yang paling menyerupai pertumbuhan janin.
Lemak
Lemak merupakan sumber energi terbesar (40-50%) yang setara dengan masukan
sebesar 5-7 g/kgbb/hari. Lemak ASI lebih mudah diserap karena komposisi asam
lemak serta asam palmitat dalam posisi di samping adanya lipase pada ASI.

10

Lemak pada formula untuk bayi prematur mengandung campuran lemak rantai
sedang (MCT) medium chain triglyevide dan lemak tumbuhan yang kaya akan
lemak tidak jenuh rantai ganda serta trigliserida rantai panjang. Campuran ini
mengandung cukup asam lemak esensial paling sedikit 3% dan energi berupa
asam linoleat dengan sedikit tambahan asam -linolenat. Terdapat laporan yang
tidak menganjurkan konsentrasi MCT sebesar 40-50% karena hal ini mungkin
melebihi kapasitas -oksidasi pada mitokondria.6 ASI mengandung AA dan DHA
merupakan nutrien yang bersifat esensial kondisional, sehingga kini formula
prematur juga disuplernentasi dengan kedua zat tersebut.
Karbohidrat
Karbohidrat memasok energi sebesar 40-50% dari kebutuhan per hari atau setara
dengan 10-14 g/kgbb/ hari. Kemampuan BBLR untuk mencerna Iaktosa pada
beberapa waktu setelah lahir rendah karena rendahnya aktivitas enzim laktase;
sehingga dapat terjadi keadaan intoleransi laktosa, walaupun secara di klinik
jarang menjadi masalah dan ASI umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Enzim
glukosidase untuk glukosa polimer sudah aktif pada BBLR sehingga pemberian
glukosa polimer ditoleransi dengan baik. Selain itu glukosa polimer tidak
menyebabkan beban osmotik pada mukosa usus, sehingga memungkinkan
digunakan pada formula bayi dengan osmolalitas kurang dari 300 mOsm/kg.air.
Formula prematur umumnya mengandung 50% laktosa dan 50% glukosa polimer,
rasio yang tidak menyebabkan gangguan penyerapan mineral di usus.
Densitas kalori dan kebutuhan cairan
Densitas kalori ASI baik ASI-matur maupun ASI premature adalah 67 kkal/100 ml
pada 21 hari pertama laktasi. Formula dengan densitas sama dapat digunakan
untuk BBLR, tetapi formula dengan konsentrasi lebih tinggi yaitu 81 kkal/100 ml
(24 kkal/fI.oz) seringkali lebih disukai. Formula ini memungkinkan pemberian
kalori lebih banyak dengan volume lebih kecil, menguntungkan bila kapasitas
lambung terbatas atau bayi memerlukan restriksi cairan. Juga mensuplai cukup air
untuk ekskresi metabolit dan elektrolit dari formula.
Pemilihan jenis nutrisi
Pemilihan jenis nutrisi yang akan diberikan pada awal minggu-minggu pertama
kehidupan sangat penting mengingat kemampuan toleransi bayi terutama juga

11

untuk dampak jangka panjang. Merupakan kesepakatan global bahwa ASI adalah
pilihan utama karena berbagai keunggulannya. Apabila ASI tidak ada, maka
formula merupakan pilihan berikutnya. Beberapa pusat melakukan pengenceran
pada awal pemberian, tetapi hal ini dikatakan tidak rasional dan tidak terbukti
manfaatnya bahwa formula yang diencerkan tidak memacu maturasi motilitas
usus. Formula prematur kini terus disempurnakan agar makin menyerupai
komposisi nutrien ASI, misalnya dengan menambahkan glutamat (mengurangi
kejadian sepsis) dan nukleotida (perbaikan pertumbuhan linear dan lingkar
kepala). Yang perlu diperhatikan dan dicegah pada penambahan berbagai nutrien
ini adalah terjadinya hiperosmolaritas yang dapat memicu terjadinya NEC.
Cara pemberian nutrisi enteral
Cara pemberian nutrisi tergantung dari beberapa faktor seperti keadaan klinis,
masa gestasi dan juga keterampilan dan pengalaman petugas di tempat perawatan
bayi. Walaupun bayi mendapat nutrisi parenteral, harus diusahakan pemberian
nutrisi enteral walaupun hanya sedikit sebagai trophic feeding yang jumlahnya
ditingkatkan sesuai kondisi klinis bayi. Diharapkan pada awal minggu kedua
nutrisi enteral penuh sudah tercapai. Bila ada ASI, dapat diberikan langsung
ataupun dipompa tergantung keadaan bayi dan pemberian tambahan human milk
fortifier (HMF) diperlukan. Pemberian formula dapat dengan botol/ dot, sonde
lambung (nasogastrik / orogastrik), transpilorik atau gastrostomi dengan berbagai
pertimbangan. Pemberian secara bolus ataupun drip (continueous infusion)
hasilnya masih tetap kontroversial. Jumlah dan frekwensi formula yang diberikan
berlainan tergantung dari berbagai hal. Salah satu faktor terpenting pada
pemberian nutrisi enteral pada BBLR adalah kecepatan penambahan formula yang
dikaitkan dengan tenjadinya enterokolitis nekrotikans. Pada buku Pediatric
Nutrition Handbook dianjurkan untuk menaikkan volume tidak melebihi 20
ml/kgbb/hari, sedangkan peneliti lain menganjurkan antara 24-30 ml/kgbb/hari.
Pedoman yang lebih lengkap dan rinci berupa regimen pemberian nutrisi pada
BBLR terdapat pada table dibawah ini:
Berat (g)

Interval

Awal

volume Volume

(cc/kg/d)

Waktu

Increments

diperlukan

(cc4cg/d)

(hari)

yang

12

<1.000
1.0001.500

tiap 2 jam
tiap 23 jam

10

10

16

1020

1520

107

1.5011.800 sakit tiap 3 jam

1020

2030

75

1.5011.800 sehat tiap 3 jam

2040

3050

53

>1.800 sakit*

2040

3075

52

tiap 3 jam

Keterangan
- Data diberikan dari pedoman yang digunakan The Children Hospital Medical
University of South California. Perbaikan atau kemajuan terjadi jika bayi
menunjukkan toleransi yang baik dalam pemberian enteral.
- Pemberian makan dapat dihentikan atau ditunda jika terjadi intoleransi atau bayi
sakit. Formula prematur yang dapat diberikan mulai dari 20 kkal/oz. Setelah
mencapai 120-150 ml/kg dapat ditambahkan fortifier, dan formula prematur
diubah menjadi 24 kkal/oz. Suplemen Fe diberikan 2-4 mg/kg pada formula
tersebut.
- Full feedings ialah bila telah mencapai 120/kg susu formula prematur 24
kkal/.oz
- Sakit jika terdapat gejala medis atau kondisi yang memerlukan tindakan bedah,
bukan komplikasi prematuritas.
- Sehat ialah bayi cukup bulan atau prematur tanpa gejala medis atau kondisi yang
memerlukan tindakan bedah.
- Dikutip dari The Childrens Hospital. Medical University af South Carolina.

13