Anda di halaman 1dari 27

ENDOMETRIOSIS

Induksi Sentol-Obs 2016


SOGC 2010

DEFINISI
Endometriosis didefinisikan sebagai
adanya jaringan endometrium di luar
uterus, yang dapat menginduksi
reaksi inflamasi yang kronis.

Keadaan ini juga


menggambarkan terjadinya
proliferasi endometrium di
tempat lain selain mukosa
uterus.

EPIDEMIOLOGI

Insiden dan prevalensi wanita usia


reproduktif (5%-10%). semua etnis dan
kelompok sosial

Angka insidennya adalah sekitar 1-50%,


1-2% di antaranya terjadi pada populasi
pada umumnya, dan 30-50% diantaranya
terjadi pada wanita yang infertile.

KLASIFIKASI
Penggolongan endometriosis
berdasarkan lokasinya:
1 Pelvis
Uterus (50%)
Disebut juga adenomyosis, yang didefinisikan
sebagai suatu kondisi dimana kelenjar dan
stroma endometrium dapat ditemukan di
dalam myometrium.
Endometriosis pada uterus sering terjadi pada
wanita berusia lebih dari 40 tahun, multipara,
dengan tingkat sosioekonomi yang rendah.

Ekstra uterus
Berbeda dengan adenomyosis, endometriosis di luar uterus
sering ditemukan pada wanita berusia 30 tahun, nullipara,
dengan tingkat sesioekonomi yang tinggi.
Ovarium (30%)
Disebut juga endometrioma. Tipe ini dibentuk oleh invaginasi
korteks ovarium setelah terjadinya akumulasi debris
menstruasi
Peritoneum pelvis (10%)
Tuba Falopii
Vagina
Vesika urinaria dan rectum
Colon pelvis
Ligamen

2 Ekstra pelvis
Umbilicus
Paru-paru dan pleura
Lain-lain

Penggolongan endometriosis berdasarkan stadium atau


perjalanan penyakitnya berdasar pada Sistem AFS.
Penentuan stadium penyakit bergantung pada lokasi,
ukuran, kedalaman endometriosis, dan tingkat keparahan
adhesinya.

Jumlah poin yang didapat dijumlahkan dan


dimasukkan ke dalam kategori berikut ini:
Stadium I

minimal

Stadium II

ringan

Stadium III

sedang

Stadium IV

berat

1-5 poin
6-15 poin
16-40 poin
> 40 poin

ETIOLOGI
Teori Sampson dengan teori retrograde menstruasi,
dimana refluks jaringan menstruasi melalui tuba
falopi dan tertanam pada struktur panggul. Teori
ini tidak menjelaskan pengamatan bahwa refluks
menstruasi terjadi pada kebanyakan wanita tetapi
penyakit ini hanya 5% sampai 10% dari populasi
wanita.
Teori ceolomic-metaplasia lesi endometriosis
berkembang ketika sel-sel mesothelial ceolomic
dari peritoneum mengalami metaplasia. Teori lain
mendalilkan tion circula- dan implantasi jaringan
menstruasi ektopik melalui vena atau sistem
limfatik, atau keduanya.

Faktor genetik
Sering pada wanita dengan riwayat
keluarga yang sama. diturunkan menurut
garis keturunan maternal, dan 7 kali lipat
lebih sering terjadi pada keluarga dekat
daripada populasi umumnya.
Di masa depan, evaluasi polimorfisme DNA
akan dapat mengidentifikasi gen spesifik
yang terlibat dalam perkembangan
endometriosis.

Teori imunologis
Endometriosis terjadi karena hilangnya kontrol terhadap
keseimbangan imunologis dan perubahan pada imunitas
selular dan humoral

peningkatan jumlah makrofag, sehingga terjadi rilis IL-1, IL6, TNF, EGF, dan FGF yang

proliferasi dan aktivasi limfosit T dan limfosit B, aktivitas


killer cell (sel NK dan sel T) menurun, ekspresi CAM (cell
adhesion molecule)

abnormal, dan antibody anti-endometrium diproduksi dalam


jumlah besar.

GEJALA
Painfulmenstruation(dysmenorrhea)
Painfulintercourse(dyspareunia)
Painfulmicturition(dysuria)
Painfuldefecation(dyschezia)
Lowerbackorabdominaldiscomfort
Chronic pelvic pain (non-cyclic abdominal
and pelvic pain of at least 6 months
duration)

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan pelvis, dapat ditemukan:
Uterus dalam posisi retroversi yang terfiksasi
Nodularitas pada kavum Douglas dan ligament uterosakral
Ovarium dapat membesar dan terasa nyeri. Dapat juga ditemukan
kista ovarium.

Lokasi terbanyak adalah pada ovarium (kista coklat), cul-desac dari kantung Douglas di rektovaginal peritoneum, ligament
uterosakral, dan colon sigmoid.
Sementara lokasi yang lebih jarang adalah pada serviks,
system perkemihan, umbilicus, apendiks, dan bekas luka
laparotomi. Perkembangan dari penyakit ini dapat hanya
berupa beberapa lesi kecil pada organ di luar pelvis hingga
kista endometriotik di ovarium yang besar (endometrioma).
Dapat terjadi fibrosis yang luas pada beberapa struktur seperti
ligament uterosakral dan terjadinya adhesi sehingga
menyebabkan distorsi anatomi pelvis yang normal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laparoskopi
Pada pemeriksaan ini, endometriosis akan tampak
berwarna coklat, hitam, atau bahkan jernih
(atipikal).

Cystoskopi dan proktosigmoidoskopi


Pemeriksaan histopatologis
Serum Ca-125
IL-8 dan CEA
MRI

DIAGNOSIS
Diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan Pemeriksaan penunjang yang dapat
digunakan adalah laparoskopi,
ultrasonografi (ultrasound tipe B),
pemeriksaan CA-125, dan antibody antiendometrium.
Laparoskopi merupakan teknik yang paling
optimal untuk menegakkan diagnosis
endometriosis pelvis,(Gold Standart)

DIAGNOSIS BANDING
Kista ovarium
Penyakit inflamatori pelvis
Nodul pada kavum Douglas (peritonitis
tuberculosis atau metastase dari kanker
ovarium)
Penyebab lain dari hematuria, perdarahan
per rectum, dan nyeri abdomen akut;
apabila pasien dating dengan gejala ini.
Pembesaran uterus yang asimetris.

PENATALAKSANAAN
Perlu dipertimbangkan usia pasien, gejalagejala yang dialami, stadium penyakit, dan
status infertilitasnya.
Tujuan umum dari penatalaksanaan ini adalah
untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri
yang dialami oleh pasien dan mempertahankan
atau mengembalikan status fertilitas ke
keadaan semula.
perlu menginformasikan kepada pasien bahwa
penyakit ini dapat berjalan kronis dan mungkn
tidak dapat sembuh total.

Terapi hormonal
Terapi media dapat mengurangi nyeri yang
dirasakan pasien, namun tidak memperbaiki
tingkat fertilitasnya. Tujuan dari terapi hormonal
adalah untuk menimbulkan keadaan:
1. Kehamilan semu (pseudo pregnancy),
dengan menggunakan:
Kombinasi pil kontrasepsi dosis rendah (6-18
bulan) untuk menghambat ovulasi dan
menstruasi.
Progestin dengan dosis 150 mg setiap 1-3 bulan,
melalui injeksi intramuscular.

2. Menopause semu (pseudo menopause)


Danazol
Androgen yang lemah (isoxazole derivative dari 16alfa etinil testosteron) yang menekan LH/FSH
sehingga terjadi regresi atau atrofi endometrium (400800 mg / hari per oral) hingga 6-9 bulan.
Efek samping yang dapat ditimbulkan adalah BB
meningkat, maskulinisasi, dan perubahan vocal.
Analog GnRH
merangsang rilis dari FSH/LH. Tingkat kesuksesan
jangka panjangnya bervariasi tiap individu.
Penggunaannya terbatas karena efek hipoestrogenik
yang timbul. Obat ini dapat dikombinasikan dengan
preparat E2/progesterone. Kombinasi ini akan
mengurangi efek obat terhadap kepadatan mineral
tulang dan mengurangi gejala rasa panas pada wajah.

Gestrinone
Merupakan sintetis dari 19 nor steroid, obat ini
memiliki efek progesterogenik, anti-estrogenik,
androgenic ringan, dan antigonadotropik.
Efek endokrin dari obat ini mirip dengan efek dari
Danazol yaitu penghambatan steroidogenesis
ovarium.(2.5-5 mg per oral), dua kali seminggu.
Gossypol
Gossypol merupakan campuran fenolik yang
diekstraksi dari benih, batang, dan akar dari
tanaman kapas.
Menekan kadar FSH dan LH, sehingga terjadi atrofi
endometrium pada 50% pasien setelah 3 bulan
penggunaan. (20 mg per hari selama 2 bulan, lalu
dilanjutkan dengan 25 mg 2x seminggu untuk
mempertahankan efeknya)
Efek samping yang dapat timbul meliputi: gangguan
elektrolit, terutama hipokalemia dan gangguan

Pembedahan
Dapat dipertimbangkan pada keadaan dengan massa
adnexa yang besar, kegagalan terapi hormonal,
infertilitas, dan endometriosis yang berat.
Pada mayoritas kasus, pembedahan dapat mengurangi
nyeri dan mengurangi resiko infertilitas. Pendekatan yang
dapat dilakukan adalah trans-abdominal dan laparoskopik.
Berdasarkan tujuan terapinya, pembedahan digolongkan
menjadi upaya konservatif untuk mempertahankan
fertilitas dan fungsi ovarium, dan upaya definitive yaitu
histerektomi dan salphingo-ooforektomi.

Laparoskopi/Laparotomi
Terapi ini merupakan pilihan pertama pada wanita
yang masih ingin memiliki anak. Beberapa jenis
operasi yang dapat dilakukan sebagai terapi dari
endometriosis adalah:

Eksisi
Reseksi endometrioma
Lisis adhesi, rekonstruksi cul-de-sac
Ablasio nervus uterosakral
Neurotomi pre-sakral
Appendektomi
Suspense uterus
Histerektomi dengan atau tanpa BSO

PROGNOSIS
Dengan pengobatan yang tepat, prognosis dari
endometriosis cukup bagus, dimana nyeri dapat
hilang sepenuhnya dan tingkat fertilitas dapat
meningkat.
Pada mayoritas kasus, terapi hormonal hanya
dapat mengontrol gejala dan menghambat
pertumbuhan jaringan sementara dan kurang
efektif dalam memperbaiki fertilitas daripada
terapi pembedahan.
Tingkat rekurensi dari endometriosis sangat tinggi.
Oleh karena itu, pengambilan organ pelvis
merupakan terapi definitive pada kasus ini.

TERIMA KASIH