Anda di halaman 1dari 10

NAMA: MELLISA RACHMAWATI

NIM : 023144095
FAKTOR-FAKTOR KEGAGALAN SEBUAH BANK
Internal Factors:
1. Management
Rendahnya kualitas perbankan antara lain tercermin dari lemahnya kondisi
internalsektorperbankan,lemahnyamanajemenbank,sertabelumefektifnya
pengawasanyangdilakukanolehBankIndonesia(BI).Kuantitasbankyang
banyakmenciptakanpersainganyangsemakinketatdankinerjabankyang
menjadirendahkarenaketidakmampuanbersaingdipasar,sehinggabanyak
bankyangsebenarnyakurangsehatataubahkantidaksehatsecarafinancial.
Sehat tidaknya suatu perusahaan atau perbankan, dapat dilihat dari kinerja
keuangan terutama kinerja profitabilitasnya dalam suatu perusahaan
perbankantersebut.Dalamindustriperbankanrisikokegagalanyangterjadi
biasanya disebabkan oleh kegagalan dalam menangani portofolio kredit
ataupun kesalahan manajemen perusahaan yang berakibat pada kesulitan
keuanganbahkankegagalanusahaperbankan,sehinggapadaakhirnyadapat
merugikankegiatanperekonomiannasionaldanmerugikanmasyarakatselaku
pemilikdana.Tingkatkinerjaprofitabilitassuatuperusahaandapatdilihatdan
diukurmelaluilaporankeuangandengancaramenganalisisdanmenghitung
rasiorasiodalamkinerjakeuangan.Analisislaporankeuanganmerupakanalat
yang sangat penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan
posisi3keuanganperusahaansertahasilhasilyangtelahdicapaisehubungan
dengan pemilihan strategi perusahaan yang akan diterapkan. Dengan
melakukananalisislaporankeuanganperusahaan,makapimpinanperusahaan
dapatmengetahuikeadaansertaperkembanganfinancialperusahaandengan
hasil hasil yang telah dicapai diwaktu lampau dan diwaktu yang sedang
berjalan. Selain itu, dengan melakukan analisis keuangan diwaktu lampau
makadapatdiketahuikelemahankelemahanperusahaansertahasilhasilyang
dianggap cukup baik dan mengetahui potensi kegagalan suatu perusahaan
tersebut. Dengan diketahuinya kemungkinan kesulitan keuangan yang akan
terjadi sedini mungkin maka pihak manajemen dapat melakukan antisipasi
dengan mengambil langkahlangkah yang perlu dilakukan agar dapat
mengatasinya.
2. Asset Quality
Penyebab utama dari kegagalan bank adalah karena adanya
masalah pada kualitas asset atau yang dikenal dengan
sebutan kredit bermasalah (bad lending atau non performing
loan/NPL). Ekspansi yang berlebihan atau pertumbuhan yang
terlalu cepat untuk mencapai target membawa kearah
pengabaian standar kualitas kredit yang sehat dan
konsekuensi kerugiannya. Kualitas asset yang buruk atau
kredit bermasalah, secara umum dilahirkan oleh hal-hal
sebgai berikut:

Lalai dalam peneraparan standar kredit. Biasanya


pengabaian peneraparan standar kredit disebabkan
karena keinginan untuk melakukan pertumbuhan kredit
yang sangat cepat, dan atau adanya konstrentrasi
pembiayaan yang didominasi pada sector industry yang
spekulatif seperti property dan minyak. Kondisi ini
mengakibatkan 40 % kegagalan bank. Tercatat korban
dari kelalaian dalam penerapan standar kredit adalah
Penn Square Bank, Continental Illinois dan Southeast
Bank.
Pemberian kredit kepada pemilik
atau perusahaan
group sendiri. Kejadian ini tidak hanya di barat saja
tetapi juga di dunia. Akibat dari praktek-praktek seperti
ini mengakibatkan 40 % kegagalan bank. Sebagai
contoh pada tahun 1990 negara di kawasan teluk
memberikan kredit yang melampaui batas maksimum
kepada pemilik atau koleganya yang berbisnis di
industry minyak. Peristiwa ini bisa terjadi pada Negaranegara yang penegakan peraturan perbankan nya
lemah dan adanya crony capitalism seperti Indonesia
(Andromeda Bank), Rusia (Autovasbank) dan bahkan
juga di Amerika Serikat (Enron/Bush).
Kekeliriuan, korupsi, investasi yang tidak sah dan
penipuan. Contoh penipuan atau fraud yang terkait
dengan pemberian kredit adalah kredit yang diberikan
tetapi dokumen kredit
yang seharusnya ada tidak
lengkap atau palsu. Kejadian ini dialami oleh Banque
Arabe et Internationale dInvestissement dan FrancoArab Consortium Bank. Tindakan penjualan jugalah yang
mengakibatkan bank besar seperti BCCI mengalami
kerugian besar dan akhirnya menjadi bankrupt. Dari
pengalaman yang pernah terjadi, penyebab-penyebab
kegagalan bank tersebut tidak selalu berdiri sendiri,
melainkan banyak permasalahan terjadi karena
kombinasi dari factor diatas.
3. Capital Management
Bank pada umumnya adalah lembaga yang didirikan dengan orientasi laba.
Kekuatan aspek permodalan ini memungkinkan terbangunnya kondisi bank
yang dipercaya oleh masyarakat.
Permodalan bagi industri perbankan sangat penting karena berfungsi sebagai
penyangga terhadap kemungkinan terjadinya risiko. Besar kecilnya modal
sangat berpengaruh terhadap kemampuan bank untuk melaksanakan kegiatan
operasinya. Selain itu modal juga berfungsi untuk menjaga kepercayaan
terhadap aktivitas perbankan dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga
intermediasi atas dana yang diterima dari nasabah.
4. Technology
Pergeseran fungsi vital perbankan atau lumpuhnya fungsi vital
perbankan tentu disebabkan oleh berbagai alasan yang

kompleks, salah satunya adalah isu kemajuan teknologi yang


membahayakan bagi pengembangan sektor perbankan.
Dengan kata lain, kemajuan teknologi telah menjadi
bumerang bagi kemajuan sektor perbankan itu sendiri. Dalam
konteks ini, kemunduran pengembangan teknologi bagi
perbankan berkaitan dengan implementasi manajemen resiko
yang menitik beratkan pada analisis komputer berbasis
teknologi informasi, serta kecenderungan untuk melakukkan
transaksi keuangan (investasi dalam instrumen keuangan di
pasar saham, uang atau transaksi derivatif) yang secara
biaya transaksi sangat rendah dengan adanya kemajuan
teknologi.
Kemajuan teknologi juga telah banyak menciptakan efisiensi
dalam sistem pembayaran. Disisi lain, dengan adanya
kemajuan teknologi, perbankan juga semakin dimudahkan
dalam mendukung operasional kerjanya. Menciptaan biaya
transaksi yang semakin murah dalam sistem pembayaran.
Contoh sederhana, tentang biaya transaksi mesin ATM
(Automated Teller Machine) yang mampu menciptakan biaya
transaksi hanya sebesar $ 0.27, jauh lebih murah
dibandingkan dengan biaya transaksi dengan teller/kasir bank
yang mencapai $ 1.07. Selain itu, sistem RTGS (Real Time
Gross and Settlement) yang telah dikembangkan oleh Bank
Indonesia juga menunjukkan bahwa perkembangan terkini
dalam sistem pembayaran tidak lekang dari kemajuan dan
inovasi teknologi.
Teknologi sangat mendukung aktivitas perbankan, mulai dari
pemanfaatan e-banking, risk management hingga evaluasi
kredit (credit scoring). Kemajuan teknologi juga merubah
preferensi dan prilaku perbankan.
Namun disisi lain, kecenderungan pergeseran perilaku
perbankan kearah transaksi yang sifatnya beresiko tentu
harus diantisipasi dengan hati-hati. Hal ini disebabkan karena
transaksi yang dilakukkan oleh perbankan mengarah pada
transaksi yang sebatas Arms-length, yang sangat minim
dengan pertimbangan kualitatif dan hubungan relasional yang
baik
(kepercayaan).
Dalam
hal
ini,
pengembangan
manajemen resiko berbasis komputer atau Arms-length
analisis, merupakan kemunduran dalam core aktivitas
perbankan. Lemahnya implementasi manajemen resiko dalam
arti yang luas ini pada akhirnya akan menjadi sumber
instabilitas baru bagi industri perbankan tanah air dan sistem
keuangan secara makro.
Semakin meningkatnya ketergantungan bank terhadap
teknologi informasi merupakan salah satu sumber utama
risiko operasional.
Kerusakan data bank baik karena sengaja maupun tidak
merupakan penyebab umum kesalahan operasional bank yang
mengakibatkan kerugian yang harus ditanggung bank.

Contoh kasus, salah satu bank yang baru mengganti teknologi


informasi dengan teknologi baru dan belum berjalan lancar
mengakibatkan transfer keluar dibukukan dua kali sehingga
bank yang bersangkutan mengalami kerugian.
Perencanaan infrastruktur teknologi informasi yang tidak
dikelola dengan baik mengakibatkan transaksi bank
terganggu karena off line yang cukup lama, sehingga
mengakibatkan timbulnya risiko reputasi dan potensial
kerugian yang sulit diperkirakan besarnya akibat nasabah
bank pindah ke bank pesaing.
Pembayaran bank kepada nasabah kelebihan ratusan milliar
hanya karena program komputer yang berkaitan dengan
perubahan angka desimal telah ditemukan sebagai akibat
kesalahan testing.
Berbagai Contoh sumber risiko operasional terkait dengan
penggunaan teknologi informasi antara lain adalah:

Permasalahan umum teknologi, seperti kesalahan operasional


terkait dengan teknologi, penggunaan teknologi oleh orang
yang tidak berwenang dan penyalahgunaan teknologi.
Permasalahan hardware, seperti kegagalan perlengkapan dan
ketidakcukupan atau ketidaktersediaan hardware yang
diperlukan.
Permasalahan pengamanan atau security, seperti pembobolan
(hacking), kegagalan firewall dan gangguan eksternal.
Permasalahan software, seperti virus komputer dan bugs
dalam programming.
Permasalahan sistem, seperti kegagalan sistem dan
pemeliharaan sistem.
Permasalahan telekomunikasi, seperti jaringan telepon,
faksimili dan email.

5. Human Resources
Kontrol internal sering kali dijadikan kambing hitam atas
kegagalan suatu proses operasional bank. Namun demikian
apabila ditelusuri, ternyata seringkali penyebab sebenarnya
dari kerugian operasional bank adalah kesalahan manusia.
Kerugian risiko operasional dapat terjadi karena tuntutan
kompensasi pekerja, pelanggaran terhadap ketentuan jaminan
kesehatan dan keamanan, pemogokan dan tuntutan karena
perlakuan diskriminasi.
Risiko operasional yang disebabkan oleh faktor manusia juga
bisa disebabkan oleh pelatihan dan manajemen yang tidak
memadai, kesalahan manusia, pemisahan tugas atau
wewenang yang tidak memadai, ketergantungan terhadap
orang-orang penting tertentu, integritas dan kejujuran yang
rendah.
Risiko-risiko operasional di atas bisa lebih diperburuk oleh
kualitas pelatihan yang tidak memadai, kontrol yang tidak

memadai dan kualitas sumber staf yang buruk atau faktorfaktor lainnya.
Contoh-contoh risiko operasional berikut ini, baik yang
dilakukan secara sengaja ataupun tidak disengaja oleh faktor
manusia dapat menyebabkan
kerugian bank:
Kesalahan manusia seperti kesalahan melaksanakan transaksi
dan prosedur.
Penyelewengan pekerja, seperti fraud dan trading yang tidak
sah atau diluar kewenangan.
Hal-hal lainnya yang terkait dengan pekerja, seperti
perselisihan ketenagakerjaan, kekurangan pekerja, perekrutan
pekerja dan pemutusan hubungan kerja, kecelakaan kerja dan
lain-lain.

6. Institution Operations Infrastructure


Meskipun tidak ada kaitan antara deregulasi dan krisis
keuangan, sistem perbankan di beberapa negara banyak
menghadapi problema setelah pemerintah melancarkan
kebijakan deregulasi, khususnya jika kerangka ketentuan
(regulatory framework) dan perangkat sistem pengawasan
(prudential supervision) tidak mampu mengakomodasi
tuntutan deregulasi. Kedua, belum adanya pemahaman
substansi produk-produk keuangan oleh otoritas pengawasan
bank, padahal perkembangan financial market yang produkproduknya bercirikan inherent risk sangat tinggi. Atau dapat
dikatakan bahwa perkembangan industri keuangan khususnya
perbankan bergerak dalam deret ukur sementara kemampuan
otoritas pengawasan bergerak seperti deret hitung.

Eksternal Factors:
1. Macro Economic Condition
Kondisi perekonomian sangat dipengaruhi oleh berbagai sektor. Sektor
yang sangat berpengaruh adalah sektor keuangan seperti bank.
Deregulasi dan penerapan kebijakan yang tekait dengan
sektor moneter dan sektor riil telah menyebabkansektor
perbankan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan
kinerja ekonomi makro di Indonesia. Pada pertengahan tahun
1997, industri perbankan mengalami kemunduran total akibat
terjadinya krisis moneter dan krisis ekonomi yang melanda
Indonesia. Krisis ekonomi yang melanda di Indonesia sejak
pertengahan tahun 1997 mengakibatkan seluruh potensipotensi ekonomi mengalami kemunduran dan diambang
kebangkrutan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi
kegiatan sektor rill yaitu sektor jasa keuangan (perbankan) di
Indonesia terpaksa ditutup atau dibekukan kegiatannya akibat

ketidakmampuan
bank
tersebut
dalam
mengelola
operasionalnya. pemerintah melakukan liberalisasi di sektor
keuangan tanpa memastikan apakah sistem keuangan
domestik dalam kondisi sehat dan stabil, serta kebijakan
makro ekonomi berjalan secara efektif.
2. Country Risk
Risiko Negara adalah country risk yaitu resiko yang timbul
karena perubahan ekonomi atau politik suatu negara yang
berdampak pada negara lain yang akan berhubungan dengan
negara tersebut; misalnya, kekurangan cadangan devisa
suatu negara akan menyebabkan keterlambatan pembayaran
pinjaman kepada bank kreditur di negara lain.
3. Industry Environment
Perubahan perubahan yang terjadi pada lingkungan sangat
dinamis dan kadang kadang pengaruhnya pada manajemen
tidak dapat diperkirakan terlebih dahulu. Karenanya
manajemen dituntut untuk bersikap tanggap dan adaptif,
selalu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungan. Terdapat kompleksitas dan ketidakmungkinan
untuk diprediksi. Kompleksitas yang mengacu kepada
kekuatan yang mempengaruhi organisasi misalnya jumlah
kompetitor. Ketidakmungkinan diprediksi adalah tingkat
ketidakpastian
kekuatan
yang
dapat
mempengaruhi
organisasi.
Alasan mengapa kita menganalisis lingkungan yaitu untuk
mengetahui dan meramalkan apa yang terjadi besok,
menyadari dan mengantisipasi resiko dari tindakan yang
dilakukan organisasi, untuk menganalisis faktor politik, sosial,
ekonomi dan faktor lainnya. Serta untuk mengatasi keadaan
dengan lingkungan.
Dilihat dari sifat lingkungannya, organisasi harus membaca
dengan cepat kondisi lingkungan, bekerjasama untuk
mengendalikan lingkungan, merespon dan menyiapkan diri
mengahadapi lingkungan melalui pendidikan dan latihan serta
organisasi bersedia membuka diri.
4. International Banking Activities
Permasalahan globalisasi keuangan yang menciptakan efek
yang negatif bagi pengembangan sektor keuangan pada
dasarnya disebabkan oleh kurangnya regulasi dan supervisi di
sector keuangan. Hal ini secara umum telah menyebabkan
pelaku perbankan untuk tidak membatasi resikonya dan
terekspos dalam keterbukaan resiko yang tinggi. Sehingga
pada akhirnya, resiko yang dialami oleh beberapa bank
menyebabkan efek domino dan krisis yang berkepanjangan

bagi pengembangan sektor perbankan itu sendiri, dan sektorsektor lainnya.


Seiring dengan tingginya kemajuan globalisasi dalam
teknologi memberikkan efek yang kompleks terhadap
aktivitas bisnis perbankan. Disatu sisi pengenalan teknologi
telah banyak mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan
efisiensi dalam sistem pembayaran, namun disisi lain
penggunaan teknologi informasi yang semakin tinggi telah
membatasi implementasi manajemen resiko yang terpaku
pada analisis komputer, dan mengurangi hubungan personal
dengan nasabah.
Segala bentuk usaha selalu memiliki competitor, tidak
terkecuali dalam bidang perbankan. Bank-bank dalam negeri
berusaha untuk terus bersaing dengan bank asing yang terus
masuk ke Indonesia. Bank-bank dalam negeri berusaha
menarik simpati para deposan agar tertarik menempatkan
dananya pada bank dalam negeri. Bank asing yang masuk ke
Indonesia antara lain, HSBC (Hongkong and Shanghai Banking
Corporation), CityBank (Amerika), Commonwealth, DBS
(Singapore), RBS (Scotland), ANZ (Australia Newzealand), dan
masih banyak yang lainnya.
Bank asing juga berupaya untuk menarik perhatian dari para
deposan dalam negeri, oleh karena itu bank dalam negeri
harus pandai mengatur strategi yang digunakan agar tidak
kalah dengan bank asing. Kebanyakan bank asing
menerapkan suatu system yang berbeda dengan bank dalam
negeri. Bank asing cenderung pada priority banking, dimana
nasabah yang diambil adalah nasabah pilihan. Jumlah
penimpanan juga memiliki standart minimum sendiri,
tergantung dari kebijakan bank itu sendiri. Bank asing juga
memiliki standart pelayanan yang lebih baik terhadap para
nasabahnya. Dengan memberikan fasilitas lounge, internet
banking, system pemasaran dimana nasabah tidak perlu
dating kekantor tersebut melainkan orang marketing yang
akan mendatangi nasabah untuk membuka rekening, tidak
perlu antri terlalu banyak karena semua dapat dilakukan
secara online.
Selain itu dengan banyaknya program hadiah dan suku bunga
yang cukup menarik yang disertai dengan nama besar bank
tersebut maka bank asing akan lebih mudah mendapatkan
dana dari pihak ke tiga. Ini yang menjadi penghambat dari
bank lokal untuk dapat berkembang. Pemberian fasilitas kartu
kredit kepada para nasabah juga menjadi suatu program yang
dapat diunggulkan oleh para bank asing. Dalam kartu kredit
bank asing juga cenderung lebih banyak menggandeng
merchant-merchant ternama untuk memberikan promo yang
menarik.

5. Development of International Payment System


Dalam neraca pembayaran internasional defisit menimbulkan
beberapa akibat buruk terhadap kegiatan dan kestabilan
ekonomi negara. Defisit terjadi akibat impor yang berlebihan
yang menyebabkan penurunan dalam negeri dengan barang
impor. Ketika harga valuta asing meningkat, maka akan
menyebabkan harga-harga barang impor bertambah mahal.
Kegiatan ekonomi dalam negeri yang menurun dapat
mengurangngi kegairahan perusahaan-perusahaan untuk
melakukan penanaman modal dan membangun kegiatan
usaha baru. Sama halnya dengan masalah pengangguran dan
inflasi, masalah defisit dalam neraca pembayaran dapat
menimbulkan efek yang buruk terhadap prestasi kegiatan
ekonomi jangka pendek dan jangka panjang. Oleh karena itu
setiap negara harus berusaha menghindari berlakunya defisit
dalam neraca pembayaran.
Secara umum apabila kita ingin mengkaji lebih mendalam
terkait pengaruh neraca pembayaran luar negeri bagi
Indonesia, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu
mengenai
proses
penyeimbangan
kembali
neraca
pembayaran, karena pengaruh dari pada neraca pembayaran
terlihat secara jelas pada proses penyeimbangan kembali
neraca pembayaran .Didalam proses penyeimbangan kembali
neraca pembayaran tersebut terdiri dari 3 komponen, yaitu
tingkat harga, tingkat kurs, dan sektor moneter.
1. Tingkat harga
Neraca pembayaran yang surplus dapat menyebabkan
bertambahnya uang yang beredar di masyarakat. Sebaliknya
jika neraca pembayaran defisit akan mengurangi jumlah uang
yang beredar. Pertambahan uang yang beredar menyebabkan
kenaikan harga, dan sebaliknya berkurangnya uang yang
beredar menyebabakan penurunan harga. Surplus neraca
pembayaran akan meningkatakan jumlah uang yang beredar,
harga naik dan inflasi yang akan mengakibatkan daya saing
produsen dalam negeri menurun dibandingkan produsen luar
negeri, hal ini akan meningkatkan impor daripada impor.
Kenaikan impor dan penurunan ekspor keduanya bersamasama mendorong berkurangnya surplus neraca pembayaran
proses penyeimbangan ini akan berjalan terus menerus
dengan surplus neraca pembayaran suatu negara dibarengi
dengan derfisit neraca pembayaran negara asing. Jumlah
uang yang beredar dinegara asing akan berkurang maka
harga akan turun dan terjadi inflasi, berarti daya saing
produsennya meningkat, terjadi peningkatan ekspor dan
penurunan impor negara asing tersebut.
2. Tingkat kurs

Dalam penyeimbangan melalui tingkat kurs ini adalah


devaluasi untuk defisit dan revaluasi untuk surplus.
Keberhasilan
devaluasi
untuk
menghilangkan
atau
mengurangi ketidakseimbangan tergantung pada elastisitas
permintaan dan penawaran valuta asing.
3. Sektor moneter
Pendekatan sektor moneter neraca pembayaran menganggap
bahwa timbulnya ketidakseimbangan neraca pembayaran
karena ketidakseimbangan portopolio yaitu saldo kas yang
terjadi berbeda dengan saldo kas yang diinginkan masyarakat.
Menyamakan saldo kas yang terjadi dengan yang diinginkan
inilah yang menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan
neraca pembayaran dan berfluktuasinya kurs valuta asing.
Ketidakseimbangan neraca pembayaran adalah semata-mata
merupakan gejala moneter, oleh karena itu mengendalikan
jumlah uang yang beredar dalam sistem kurs tetap tidak akan
ada hasilnya. Mempengaruhi jumlah uang secara efektif akan
dapat dilakukan dalam sistem kurs bebas, dalam
penyeimbangan neraca pembayaran. Pengaruh timbal balik
antara kebijaksanaan moneter dinegara-negara lain hanya
akan berpengaruh kepada kurs dan tidak pada neraca
pembayaran.
Neraca pembayaran luar negeri merupakan suatu alat yang
diperuntuhkan untuk mencatat secara sistematis dari semua
transaksi
ekonomi
internasional
yang
mencakup:
perdagangan, investasi, dan pinjaman yang terjadi antara
penduduk dalam negeri pada suatu negara dengan penduduk
luar negeri selama jangka waktu tertentu biasanya satu tahun
dan dinyatakan dalam dolar AS.
Dalam neraca pembayaran internasional defisit menimbulkan
beberapa akibat buruk terhadap kegiatan dan kestabilan
ekonomi negara. Defisit terjadi akibat impor yang berlebihan
yang menyebabkan penurunan dalam negeri dengan barang
impor. Ketika harga valuta asing meningkat, maka akan
menyebabkan harga-harga barang impor bertambah mahal.
Kegiatan ekonomi dalam negeri yang menurun dapat
mengurangngi kegairahan perusahaan-perusahaan untuk
melakukan penanaman modal dan membangun kegiatan
usaha baru. Dengan demikian, sama halnya dengan masalah
pengangguran dan inflasi, masalah defisit dalam neraca
pembayaran dapat menimbulkan efek yang buruk ke atas
prestasi kegiatan ekonomi dalam jangka pendek dan jangka
panjang. Oleh karenanya setiap negara harus berusaha
menghindari berlakunya defisit dalam neraca pembayaran.
6. International Debit Crisis
Permasalahan globalisasi keuangan, dengan hadirnya bankbank asing di negara-negara berkembang, juga masih
menimbulkan pro kontra yang belum menemui titik

konsensus. Pandangan yang pro terhadap masuknya bank


asing di pasar domestik memiliki ide dasar bahwa masuknya
bank asing akan memberikan warna kompetisi yang sehat
sehingga dapat menurunkan biaya dana dan menciptakan
efisiensi pada pasar keuangan domestik.
Masuknya bank asing ke pasar domestik kurang memberikan
akses terhadap kredit mikro dan menengah. Kedua, masuknya
bank asing yang cenderung memiliki biaya operasional yang
rendah mendesak perbankan tanah air untuk melakukkan
merger agar bisa lebih kompetitif. Proses perubahan struktur
inilah yang akan menyebabkan permasalahan baru dimana
stabilitas keuangan akan semakin terancam dengan
bankrutnya bank besar di tanah air. Terakhir, bank asing
cenderung tidak menangung resiko, jika terjadi krisis atau
permasalahan dalam pasar domestik, sehingga menyebabkan
instabilitas bagi sistem keuangan domestik.