Anda di halaman 1dari 4

Pencegahan sinar yang masuk ke tubuh.

Teknologi

pemindaian

sinar-X

(rontgen)

memungkinkan

dokter

dan

profesional kesehatan lainnya mendapatkan gambar tubuh bagian dalam melalui


radiasi elektromagnetik. Dokter menggunakan sinar-X untuk mendiagnosa tumor,
patah tulang, infeksi, masalah paru-paru, dan masalah saluran pencernaan.
Meskipun bisa membantu mendiagnosa dan mengobati berbagai kondisi kesehatan,
pemindaian sinar-X juga berpotensi meningkatkan risiko perkembangan kanker.
Untuk itu, diperlukan pemantauan dosis radiasi dan radioaktivitas. Keselamatan
radiasi dimaksudkan sebagai usaha untuk melindungi seseorang, keturunannya,
dan juga anggota masyarakat secara keseluruhan terhadap kemungkinan terjadinya
efek biologi yang merugikan akibat paparan radiasi. Tujuan keselamatan radiasi
adalah :

a) Membatasi peluang terjadinya efek stokastik


b) Mencegah terjadinya efek non-stokastik
Prinsip dasar keselamatan radiasi perlu ditetapkan dengan sistem pembatasan dosis sebagai
berikut:
a) Setiap pemanfaatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya hanya didasarkan pada
azas manfaat dan harus lebih dulu memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Tenaga
Nuklir (Prinsip Justifikasi)
b) Dosis yang diterima oleh seseorang tidak boleh melampaui Nilai Batas Dosis yang
ditetapkan dalam ketentuan yang berlaku (Prinsip Limitasi)
c) Penyinaran yang berasal dari pemanfaatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya
harus diusahakan serendah-rendahnya (as low as reasonably achievable-ALARA),
dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial (Prinsip Optimasi). ALARA
merupakan prinsip keselamatan radiasi dengan meminimalkan dosis radiasi dan
pelepasan bahan radioaktif dengan menggunakan semua metode yang wajar.
Terdapat 3 prinsip untuk memenuhi dosis sinar-X sesuai ALARA, yaitu:

1. Waktu
Meminimalkan waktu paparan langsung untuk mengurangi dosis radiasi. Pemaparan
dapat diatur dengan waktu melalui berbagai jalan:
- Membatasi waktu generator dihidupkan.
- Pembatasan waktu berkas diarahkan ke ruang tertentu.
- Pembatasan waktu ruang yang dipakai.
2. Jarak
Membuat jarak dua kali lipat antara tubuh dengan sumber radiasi akan mengurangi
paparan radiasi. Ternyata cara ini efektif karena intensitas radiasi dipengaruhi oleh
hukum kuadrat terbalik.
3. Penggunaan perisai pelindung
Penggunaan perisai pelindung yang mengandung bahan penyerap seperti kaca untuk
partikel beta merupakan cara yang efektif untuk mengurangi paparan radiasi. Terdapat 2
jenis perisai, yaitu: perisai primer, memberi proteksi terhadap radiasi primer (berkas sinar
guna).Tempat tabung sinarx dan kaca timbal pada tabir flouoroskopi merupakan perisai
primer Perisai sekunder, memberi proteksi terhadap radiasi sekunder (sinar bocor dan
hambur).
Selain itu, pencegahan paparan radiasi juga diperlukan bagi seorang pekerja radiasi. Berikut
ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meminimalkan efek negatif dari paparan radiasi
sinar x bagi para pekerjanya.
A. Pemantauan
Untuk mengetahui telah dipenuhinya ketentuan keselamatan kerja terhadap radiasi
dan mengetahui besar dosis yang diterima oleh pekerja maka pemantauan dosis
radiasi harus dilakukan secara terus menerus dengan cara sebagai berikut :
a) Pemantauan perorangan dengan jalan memantau radiasi eksternal, dengan
menggunakan dosimeter saku dan film bagde/TLD

b) Pemantauan daerah kerja, meliputi penentuan tingkat radiasi/kontaminasi


dengan cara mengukur menggunakan alat ukur radiasi/kontaminasi
B. Pengawasan Dosis Radiasi Sebelum Masa Kerja
Catatan dosis radiasi yang pernah diterima oleh calon pekerja radiasi seharusnya
tersedia apabila calon pekerja radiasi tersebut pernah bekerja di medan radiasi.
C. Pengawasan Dosis Radiasi Selama Masa Kerja
PPR berkewajiban melakukan pengukuran dosis radiasi secara periodik selama masa
kerja dan apabila seseorang menerima dosis sama atau melebihi Nilai Batas Dosis
yang telah ditentukan maka petugas segera menyelidiki sebab-sebabnya serta
melakukan tindakan koreksi. PPR berkewajiban mencatat dosis radiasi yang diterima
setiap bulannya oleh pekerja radiasi. Nilai dosis tersebut dicatat secara periodik di
dalam kartu dosis. Setiap pekerja radiasi harus memiliki kartu dosis tersendiri.
D. Pengawasan Dosis Radiasi Setelah Masa kerja
Jika petugas radiasi memutuskan hubungan kerja atau pindah ke bagian lain, ia
berhak memperoleh catatan dosis radiasi yang pernah diterima selama bekerja
sebagai pekerja radiasi.
E. Pencatatan Dosis Radiasi
Dokumen ini harus disimpan dalam arsip oleh Petugas Proteksi Radiasi untuk jangka
waktu paling sedikit 30 tahun :
a) Hasil pemonitoran radiasi daerah kerja yang digunakan untuk menentukan
dosis perorangan
b) Catatan dosis radiasi perorangan
c) Dalam hal penyinaran akibat kecelakaan atau keadaan darurat, laporan
mengenai keadaan kecelakaan tersebut dan tindakan yang diambil.
Masa 30 tahun untuk huruf b) dan c) dihitung sejak pekerja radiasi berhenti bekerja
di medan radiasi.
F. Kecelakaan Radiasi

Jika terjadi kecelakaan radiasi, petugas proteksi radiasi harus segera melakukan
penilaian penerimaan dosis radiasi dari para pekerja yang terlibat dan segera
melakukan

penanggulangan

kecelakaan

tersebut.

Laporan

kecelakaan

dan

penanggulangannya harus segera dilaporkan kepada BAPETEN. Kartu dosis dan


kartu kesehatan yang berkaitan dengan kecelakaan radiasi harus disimpan secara
terpisah dengan dokumen yang sama pada keadaan normal.
Contoh Kecelakaan Radiasi: Panel on/off mengalami gangguan sehingga x-ray tube
terus memaparkan radiasi.
G. Kartu Dosis
Setiap pekerja radiasi harus memiliki kartu dosis masing-masing yang berisi data
dosis yang diterima selama bekerja di medan radiasi. Kartu dosis disimpan selama
30 tahun dihitung sejak pekerja radiasi berhenti bekerja di medan radiasi.