Anda di halaman 1dari 145

UNIVERSITAS INDONESIA

PENYISIHAN AMONIA DARI AIR LIMBAH


MENGGUNAKAN GABUNGAN PROSES MEMBRAN
DAN OKSIDASI LANJUT DALAM REAKTOR HIBRIDA
OZON-PLASMA MENGGUNAKAN LARUTAN PENYERAP
ASAM SULFAT

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Teknik

SILVIA RAHMI EKASARI


1106029805

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
DEPOK
JANUARI 2013

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: Silvia Rahmi Ekasari

NPM

: 1106029805

Tanda Tangan

Tanggal

: Januari 2013

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

HALAMAN PENGESAHAN

Tesis ini diajukan oleh


Nama
NPM
Program Studi
Judul Tesis

:
:
:
:

Silvia Rahmi Ekasari


1106029805
Teknik Kimia
Penyisihan Amonia Dari Air Limbah Menggunakan
Gabungan Proses Membran dan Oksidasi Lanjut
dalam Reaktor Hibrida Ozon-Plasma Menggunakan
Larutan Penyerap Asam Sulfat

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Magister pada Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas
Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I

: Prof.Ir.Sutrasno Kartohardjono, MSc.PhD (

Pembimbing II

: Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA

Penguji I

: Dr. Ir. Nelson Saksono, M. T.

Penguji II

: Dr. Ing. Donni Adinata, S. T. M. Eng. Sc.

Penguji III

: Ir. Amien Raharjo, M. T.

Ditetapkan di : Depok
Tanggal
: Januari 2013

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul Penyisihan Amonia
Dari Air Limbah Menggunakan Gabungan Proses Membran dan Oksidasi Lanjut
dalam Reaktor Hibrida Ozon-Plasma Menggunakan Larutan Penyerap Asam
Sulfat. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk mencapai gelar Master Teknik Jurusan Teknik Kimia pada Fakultas Teknik
Universitas Indonesia.
Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, sangatlah sulit
bagi penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, penilis mengucapkan
terima kasih kepada :
(1) Bapak Prof. Ir. Sutrasno Kartohardjono, M.Sc. Ph.D dan Prof.Dr. Ir. Setijo
Bismo, DEA selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu,
tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan tesis ini;
(2) Bapak Ir. Mahmud Sudibandriyo, MSc. PhD selaku dosen pembimbing
akademik selama masa perkuliahan dan Prof. Dr. Ir. Widodo W.
Purwanto, DEA selaku Ketua Departemen Teknik Kimia FTUI serta
Dr.Ir. Nelson Saksono,MT. dan I Dr.Ing. Donni Adinata, ST., M.Eng.,
Sc. dan Ir. Amien Raharjo, M. T. yang telah memberikan banyak
masukan;
(3) Taufan Azwar Zamzami suami tercinta, kedua orang tua Sjaroni,
MPdI dan Dra. Fasichatus Saniyah serta adik saya M. Hilmi Khoirul
Umam yang telah memberikan dukungan baik secara moral maupun
material;
(4) Rekan satu penelitian saya, Fanny Rahmalia teman satu bimbingan
Samantha Juliana, Hutama Prastika, dan teman-teman S2 Teknik Kimia
angkatan 2011 yang telah bersedia berdiskusi dan saling mendukung
satu sama lain selama proses kuliah dan penyelesaian tesis ini;
(5) Mbak Tiwi, Mang Ijal, Kang Jajat, Mas Heri dan Mas Taufik atas
bantuannya pada saat penulis melakukan penelitian.
Penulis menyadari bahwa dalam proposal tesis ini masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun sehingga dapat menyempurnakan proposal tesis ini dan
melaksanakan perbaikan di masa yang akan datang. Semoga tulisan ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan bagi dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Depok, Januari 2013
Penulis

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akedemik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:
Nama
NPM
Program Studi
Departemen
Fakultas
Jenis Karya

: Silvia Rahmi Ekasari


: 1106029805
: Teknik Kimia
: Teknik Kimia
: Teknik
: Tesis

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusif RoyaltyFree Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Penyisihan Amonia Dari Air Limbah Menggunakan
Gabungan Proses Membran dan Oksidasi Lanjut
dalam Reaktor Hibrida Ozon-Plasma Menggunakan
Larutan Penyerap Asam Sulfat

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih media/
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Ditetapkan di : Depok
Tanggal: Januari 2013
Yang Menyatakan

(Silvia Rahmi Ekasari)

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

ABSTRAK

Nama
: Silvia Rahmi Ekasari
Program Studi : Teknik Kimia
Judul
: Penyisihan Amonia Dari Air Limbah Menggunakan
Gabungan Proses Membran dan Oksidasi Lanjut
dalam Reaktor Hibrida Ozon-Plasma Menggunakan
Larutan Penyerap Asam Sulfat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas penyisihan


amonia dengan kombinasi proses absorbsi dalam membran dan oksidasi lanjut
menggunakan reaktor hibridaozon plasma. Serta mengetahui pengaruh
penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon plasma terhadap
proses penyisihan amonia dalam kontaktor membran menggunakan larutan
penyerap asam sulfat (H 2 SO 4 ). Variabel proses pada proses penyisihan amonia
menggunakan membran adalah laju alir umpan (3, 4, 5 LPM), pH larutan umpan
(10, 11, 12), temperatur umpan (20, 30, 40oC) dan jumlah serat membran (50, 60,
70 serat). Penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon plasma
dapat meningkatkan jumlah amonia yang akan disisihkan oleh kontaktor
membran. Konfigurasi gabungan absorbsi dalam membran dan proses oksidasi
lanjut dalam RHOP dapat meningkatkan penyisihan amonia menjadi 81,3%
dengan konsentrasi amonia tersisa 149.568 ppm sedangkan pada proses tunggal
membran yang hanya dapat menyisihkan amonia sebesar 63,9 %. Kodisi operasi
optimum dalam penelitian ini diperoleh pada temperatur 400C, pH 11 dan jumlah
serat membran 70.

Kata kunci: amonia,larutan penyerap asam sulfat, membran, oksidasi


lanjut, ozon, danreaktor hibrida ozon-plasma

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

ABSTRACT

Name
Study Programme
Title

: Silvia Rahmi Ekasari


: Chemical Engineering
: Ammonia Removal from Wastewater Through a
Combination of Membrane Process and Advanced
Oxidation Process in a Ozone-Plasma Hybrid Reactor
with Sulfuric Acid Solution as Absorbent.

In this experiment liquid waste ammonia will be removedby combination


of the absorption process in the membrane and advanced oxidation using RHOP
(ozone-plasma hybrid reactor). The effect addition of advanced oxidation
processes in RHOP for ammonia removal process in the membrane contactor
using absorbent solution of sulfuric acid (H 2 SO 4 ). Process variables on ammonia
removal process using membranes is feed flow rate (3, 4, 5 LPM), the pH of feed
solution (10, 11, 12), feed temperature (20, 30, 40 C) and the amount of fiber
membrane (50, 60, 70 fibers). The addition of advanced oxidation processes in a
hybrid ozone plasma reactor can increasing the amount of ammonia that will be
set aside by the membrane contactor. Configuring the combined absorption in the
membrane and advanced oxidation processes in RHOP can increase ammonia
removal to 81.3 % with concentrations149.568 ppm, compared with the single
membrane process that can only be set aside ammonia by 63,9 %. Optimum
operation in this study were obtained at a temperature of 400C, pH 11, and the
number of fibers 70.

Keywords : absorbent solution of sulfuric acid, amonia, membrane, advanced


oxidation, ozone, and ozone-plasma hybrid reactor

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................................. iii


KATA PENGANTAR .......................................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR.. .......... v
ABSTRAK ............................................................................................................................. vi
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xi
DAFTAR TABEL ................................................................................................................. xiii
BAB I

PENDAHULUAN ..................................................................................................

1.1

Latar Belakang................................................................................................

1.2

Rumusan Masalah ..........................................................................................

1.3

Tujuan Penelitian ............................................................................................

1.4

Batasan Masalah ............................................................................................

1.5

Sistematika Penulisan ....................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................

2.1

2.2

Amonia ...........................................................................................................

2.1.1 Sifat Amonia ..........................................................................................

2.1.2 Kesetimbangan Amonia dan Ammonium dalam Air.............................

Kontaktor Membran .......................................................................................

2.2.1 Kontaktor Membran Serat Berongga .....................................................

2.2.2 Membran Polivinil Klorida.................................................................... 11


2.2.3 Pelarut Asam Sulfat. 12
2.2.4 Aplikasi Penggunaan Membran Serat Berongga untuk Penyisihan
Amonia dengan Pelarut Asam Sulfat.. 13
2.3

Advanced Oxidation Process .......................................................................... 14


2.3.1 Teknologi Plasma .................................................................................. 15
2.3.2 Ozon ...................................................................................................... 18

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.3.3 Aplikasi Penggunaan Reaktor Hibrida Ozon-Plasma untuk Penyisihan


Amonia.............. 20
2.4

Penelitian yang Sudah Dilakukan ................................................................... 21

BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................................... 27


3.1

Sasaran Penelitian .......................................................................................... 27

3.2

Tahapan Penelitian ........................................................................................ 27

3.3 Set up Peralatan dan Bahan Penelitian ........................................................... 28


3.3.1 Peralatan yang Digunakan ..................................................................... 28
3.3.2 Bahan yang Digunakan .......................................................................... 29
3.4

Prosedur Penelitian ......................................................................................... 30


3.4.1 Uji Plasma dan Ozon ............................................................................. 30
3.4.1.1 Rangkaian Peralatan Reaktor Hibrida Plasma Ozon ................. 30
3.4.1.2 Uji Kinerja Reaktor Hibrida Plasma Ozon ................................ 31
3.4.2 Uji Perpindahan Massa .......................................................................... 33
3.4.2.1 Proses Membran ........................................................................ 33
3.4.2.2 Proses Hibrida Plasma dan Ozon............................................... 34
3.4.2.3 Proses Gabungan Reaktor Hibrida Plasma Ozon dan Membran ....... 35

3.5

Pengolahan dan Analisis Data ........................................................................ 36


3.5.1 Persen Penyisihan Ammonia (% R) ...................................................... 37
3.5.2 Menghitung Koefisien Perpindahan Massa ........................................... 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 39


4.1

Penyisihan Amonia Terlarut dalam Limbah Sitetis........................................ 39


4.1.1 Proses Penyisihan dalam RHOP......... 39
4.1.2 Proses Penyisihan dalam RHOP-Ozon .................................................. 41
4.1.3 Proses Penyisihan dalam Membran ....................................................... 43
4.1.3.1 Pengaruh Laju Alir Umpan ....................................................... 43
4.1.3.2 Pengaruh Temperatur Umpan .................................................... 44
4.1.4 Proses Penyisihan dalam Membran-RHOP dan Gabungan MembranRHOP-Ozon ......................................................................................... 45
4.1.4.1 Pengaruh Temperatur Umpan .................................................... 45
4.1.4.2 Pengaruh pH Umpan ................................................................. 47
4.1.4.3 Pengaruh Serat Membran .......................................................... 49

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.1.5 Perbandingan dengan Referensi ............................................................ 51


4.2

Studi Perpindahan Massa ............................................................................... 52


4.2.1 Pengaruh Temperatur Umpan terhadap Perpindahan Massa ................. 53
4.2.2 Pengaruh pH Umpan terhadap Perpindahan Massa .............................. 55
4.2.3 Pengaruh Laju Alir Umpan dan Jumlah Serat Membran terhadap
Perpindahan Massa ................................................................................ 58

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ..................................................................................... 63


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... xiv
LAMPIRAN 1 DATA PENGAMATAN
LAMPIRAN 2 PENGOLAHAN DATA
LAMPIRAN 3 GAMBAR ALAT

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Struktur Kimia Amonia .................................................................................

Gambar 2.2

Pengaruh pH pada Distribusi Amonia dan Ammonium Dalam Air ..............

Gambar 2.3

Membran Serat Berongga ............................................................................... 10

Gambar 2.4

Foto SEM Membran Serat Berongga PVC .................................................... 12

Gambar 2.5

Representasi Skematis dari Transportasi selama Pemisahan NH 3 dari Air ... 13

Gambar 2.6

Mekanisme Penyisihan Amonia dalam Membran .......................................... 14

Gambar 2.7

Transisi Perubahan Fasa ................................................................................. 16

Gambar 3.1

Bagan Alir Penelitian ..................................................................................... 28

Gambar 3.2

Rangkaian Alat Peralatan Reaktor Hibrida Plasma Ozon .............................. 31

Gambar 3.3

Skema Uji Produktivitas Ozonator ................................................................. 32

Gambar 3.4

Skema Peralatan Proses Membran ................................................................ 34

Gambar 3.5

Skema Peralatan Proses Plasma .................................................................... 35

Gambar 3.6

Skema Peralatan Proses Gabungan Reaktor Hibrida Plasma Ozon dan Membran.... 35

Gambar 3.7

Skema Peralatan Proses Membran untuk Penurunan Rumus Koefisien


Perpindahan Massa. ......................................................................................... 36

Gambar 4.1

Persen Penyisihan Amonia dengan RHOP ..................................................... 41

Gambar 4.2

Persen Penyisihan Amonia dengan RHOP-Ozon ............................................ 42

Gambar 4.3

Persen Penyisihan Amonia dengan Membran Variasi Laju Alir Umpan ....... 43

Gambar 4.4

Persen Penyisihan Amonia dengan Membran Variasi Temperatur


Umpan........ 44

Gambar 4.5

Mekanisme Penyisihan Amonia dalam Membran-RHOP-Ozon .................... 45

Gambar 4.6

Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi Temperatur 46

Gambar 4.7

Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP-Ozon Variasi Temperatur


Umpan 47

Gambar 4.8

Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi pH Umpan 48

Gambar 4.9

Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP-Ozon Variasi pH


Umpan

48

Gambar 4.10 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi Serat Membran49
Gambar 4.11 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP-Ozon Variasi Serat
Membran 50

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.12 Nilai %R pada berbagai Macam Proses Selama Selang Waktu 2 Jam.50
Gambar 4.13 Perbandingan Penurunan Konsentrasi Hasil Penelitian dengan Referensi51
Gambar 4.14 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Proses Membran..54
Gambar 4.15 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP Variasi Temperatur. .. 54
Gambar 4.16 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP-Ozon Variasi Temperatur.. 55
Gambar 4.17 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP Variasi pH.. 57
Gambar 4.18 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP-Ozon Variasi pH 57
Gambar 4.19 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Proses Membran..58
Gambar 4.20 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP Variasi Serat Membran.. 59
Gambar 4.21 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP-Ozon Variasi Serat Membran.... 60
Gambar 4.22 Koefisien Perpindahan Massa pada (a) Proses Membran Variasi Laju Alir
(b)Proses Gabungan Membran-RHOP dan (c)Proses Gabungan MembranRHOP-Ozon Variasi Jumlah Serat. 61
Gambar 4.23. Perbandingan Konfigurasi Proses Membran, Membran-RHOP dan MembranRHOP-Ozon pada kondisi operasi suhu 300C dan pada kondisi operasi suhu
400C 62

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Sifat-sifat Fisik Amonia ...................................................................................... 6

Tabel 2.2

Potensial Oksidasi Oksidan Pengolahan Air ....................................................... 14

Tabel 2.3

Penelitian yang Telah Dilakukan terkait Penggunaan Membran untuk Proses


Penyisihan Amonia. 21

Tabel 2.4

Penelitian yang Telah Dilakukan terkait Proses Oksidasi Lanjut

Tabel 3.1

Rincian Alat yang Digunakan dalam Penelitian29

Tabel 3.2

Bahan yang Digunakan dalam Penelitian ..29

Tabel 4.1

Kondisi Operasi antara Hasil Penelitian dan Referensi.51

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

24

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan yang timbul akibat proses industrialisasi adalah meningkatnya
limbah pencemar yang berbahaya bagi lingkungan. Salah satu senyawa yang
dihasilkan proses industri yang dapat menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan
adalah amonia (El-Bourawi dkk., 2007). Kadar amonia dalam effluent limbah harus
diminimalisir karena sangat beracun untuk spesies ikan dan oleh lingkungan amonia
akan dibio-dioksidasi oleh mikroorganisme nitrifikasi menjadi nitrit dan nitrat yang
berbahaya bagi manusia. Limbah dengan kadar amonia yang tinggi biasanya hadir
terdapat dalam air limbah industri penyamakan kulit, tekstil, lindi TPA, pupuk
(Hasanouglu, Romero dkk., 2010), pengolahan minyak bumi, farmasi dan industri
katalis (Ashrafizadeh dkk., 2010). Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang tepat
dan efektif untuk pengolahan limbah yang mengandung amonia agar kualitas limbah
tersebut memenuhi baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan serta tidak berbahaya
terhadap lingkungan yaitu melalui proses separasi.
Proses separasi dilakukan untuk memisahkan amonia dari limbah cair yang
dihasilkan dari suatu produksi. Proses separasi yang selama ini digunakan untuk
menghilangkan amonia dapat berupa amonia stripping, biological nitrificationdenitrification, ion exchange, chemical precipitation, breakpoint klorinasi

dan

biological treatment (Li Huang, 2008). Aplikasi proses pemisahan amonia tergantung
dari beberapa faktor yaitu tingkat kontaminasi, keamanan sistem, ketersediaan sumber
pemanas dan bahan kimia (Xie, Duong dkk., 2009). Masing-masing teknologi
konvensional ini memiliki kekurangan dan membutuhkan biaya yang mahal (Bonmati
dkk., 2003).
Disamping metode konvensional tersebut, terdapat cara baru yang sedang
dikembangkan yang memiliki kelebihan dibandingkan cara separasi biasa adalah
dengan menggunakan teknologi membran, karena dengan menggunakan teknologi
membran terdapat luas permukaan yang lebih luas untuk kontak antara larutan umpan
dan larutan penyerap sehingga hanya membutuhkan energi yang lebih kecil untuk
setiap mol amonia yang terserap (Hasanouglu dkk., 2010). Membran disini berfungsi

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

sebagai kontaktor yang merupakan media tempat berkontak antara larutan penyerap
dengan amonia. Dalam penelitian ini pelarut yang digunakan adalah asam sulfat
karena asam sulfat merupakan senyawa asam yang bersifat reaktif terhadap amonia
yang bersifat basa, sehingga diharapkan amonia yang terpisahkan dari selongsong
akan bereaksi dengan asam sulfat yang berada dalam serat membran membentuk
ammonium sulfat yang dapat digunakan sebagai pereaksi bahan kimia atau
penggunaan lainnya. Dalam proses pemisahan amonia dari air melalui membran,
perbedaan konsentrasi dan tekanan parsial antara kedua fasa cair memberikan gaya
penggerak untuk perpindahan secara difusi melalui membran tersebut (Gabelman,
1999).
Selanjutnya yang menjadi permasalahan dalam penggunaan kontaktor
membran adalah amonia dalam larutan air limbah berada dalam dua kondisi yaitu
molekul ammonia yang mudah menguap NH 3 dan kation NH 4 + (Tan dkk., 2006;
Hasanouglu dkk., 2010). Hanya molekul amonia yang mudah menguap NH 3 yang
dapat terdifusi dan akan terserap dalam larutan penyerap sehingga harus ditemukan
metode untuk memperbesar jumlah komponen molekul amonia yang mudah menguap
(El-Bourawi dkk., 2007).
Salah satu proses untuk tujuan tersebut adalah menggabungkan dengan proses
oksidasi lanjut. Proses oksidasi yang selama ini dikembangkan adalah dengan non
thermal plasma (NTP) menggunakan tegangan tinggi di serat seperti elektroda untuk
akan menyebabkan ionisasi gas menghasilkan sebuah jet plasma yang dapat
menghasilkan sinar UV, ozon, dan radikal hidroksil (Locke, 2006). NTP dianggap
sangat efisien karena sedikit energi yang hilang dalam pemanasan cairan sekitarnya,
yang memungkinkan energi akan difokuskan pada eksitasi elektron (Gerrity dkk.,
2009). Proses oksidasi lanjut yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
gabungan teknologi plasma dengan proses ozonasi pada fasa liquid.
Penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon plasma dapat
menghasilkan ion OH- yang dapat menggeser reaksi kesetimbangan atau menghasilkan
radikal OH yang dapat membantu proses degradasi amonia. Reaktor hibrida ozon
plasma yang digunakan untuk proses oksidasi lanjut dirancang untuk menghasilkan
plasma berbentuk shell and tube yang terbuat dari kaca borosilikat dan diluarnya
diselubungi dengan elektroda yang terbuat dari stainless steel berbentuk batang dan
kasa.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Dari beberapa latar belakang diatas, keunggulan dari perancangan sistem


pengolahan limbah yang akan dilakukan adalah meningkatkan efektivitas penyisihan
amonia dalam membran dengan proses oksidasi lanjut menggunakan reaktor hibrida
ozon plasma, serta mengetahui pengaruh penambahan proses oksidasi lanjut dalam
reaktor hibrida ozon plasma terhadap proses penyisihan amonia dalam kontaktor
membran. Metode ini belum pernah dilakukan sebelumnya, untuk itu diperlukan
penelitian lebih lanjut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kemampuan pelarut asam sulfat dalam penyisihan amonia dari
air limbah dengan menggunakan teknologi membran.
2. Bagaimana pengaruh penambahan proses oksidasi lanjut dalam reaktor
hibrida ozon plasma terhadap proses penyisihan amonia dalam kontaktor
membran.
3. Bagaimana kombinasi teknologi proses absorbsi dalam membran dan proses
oksidasi lanjut menggunakan reaktor hibrida ozon plasma untuk
menghilangkan amonia dalam air limbah serta bagaimana efektivitasnya.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan menganalisis
efektivitas kombinasi proses absorbsi dalam membran dan oksidasi lanjut
menggunakan reaktor hibrida ozon plasma. Serta mengetahui pengaruh penambahan
proses oksidasi lanjut dalam reaktor hibrida ozon plasma terhadap proses penyisihan
amonia dalam kontaktor membran menggunakan larutan penyerap asam sulfat
(H 2 SO 4 ).
1.4 Batasan Masalah
Penelitian ini merupakan suatu usaha untuk meningkatkan efektivitas penyisihan
amonia dalam membran dengan penggabungan proses oksidasi lanjut dalam reaktor
hibrida ozon plasma. Dengan penambahan proses oksidasi lanjut, diharapkan proses
penyisihan amonia lebih sempurna dan menghasilkan produk yang ramah lingkungan
dan aman. Dalam penelitian ini, pembahasan dilakukan dengan batasan-batasan
sebagai berikut:

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

1. Air limbah yang digunakan sebagai umpan adalah air limbah sintetik amonia
800 ppm yang bebas partikel pengotor.
2. Membran yang digunakan adalah membran serat berongga dari polimer
polivinil chlorida (PVC) yang bersifat hidrofobik.
3. Larutan penyerap yang digunakan adalah larutan H 2 SO 4 .
4. Reaktor hibrida ozon plasma yang digunakan merupakan hasil rancang bangun
peneliti di Laboratorium Intensifikasi Proses dengan tegangan 9300 V.
5. Variabel tetap yang digunakan adalah peralatan yang sama untuk membran,
plasma, dan ozonator.
6. Variabel yang divariasikan adalah temperatur, pH larutan umpan, laju alir
umpan dan jumlah serat membran.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tesis ini terdiri dari lima bab, yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, batasan
masalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab Tinjauan Pustaka merupakan bagian yang memuat landasan teori dan yang
menjadi acuan penulis untuk melakukan penelitian dan pembahasan mengenai
hasil penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Menampilkan tahapan penelitian yang akan dilakukan, diagram alir

prosedur

penelitian, skema rangkaian alat, tahapan operasi dan studi perpindahan massa.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi analisis dan pembahasan dari hasil penelitian berupa data yang diperoleh.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan dari analisis dan pembahasan dari hasil penelitian
yang dilakukan.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada tinjauan pustaka ini berisi landasan teori umum yang digunakan untuk
menjelaskan masalah yang akan dibahas penulis untuk melakukan penelitian
diantaranya, teori tentang amonia meliputi baku mutu limbah amonia serta
kesetimbangan amonia dalam air, penyisihan amonia dengan teknologi membran,
pelarut asam sulfat, definisi proses oksidasi lanjut menggunakan plasma dan ozon,
serta kelebihan teknologi penyisihan amonia dengan menggunakan proses absorbsi
dalam membran dan proses oksidasi lanjut menggunakan reaktor hibrida plasma-ozon.
2.1 Amonia
Amonia (NH 3 ) adalah gas atau cairan tak berwarna yang memiliki bau yang
berbeda. Amonia merupakan kontaminan yang umum di tanah maupun air limbah.
Konsentrasi NH 3 -N dapat bervariasi dari 5 sampai 1000mg / L dalam air limbah
industri kokas, pupuk kimia, gasifikasi batubara, pemurnian minyak bumi, farmasi dan
industri katalis (AtkinsJr dkk., 1997). Amonia hadir dalam konsentrasi rendah dan
jumlah debit mungkin rendah. Namun, amonia yang terlarut dalam air limbah tidak
dapat diuapkan karena gas amonia akan menyebabkan masalah lingkungan yang serius
(Bhattacharya, 2011).
2.1.1 Sifat Amonia
Dalam keadaan terlarut, amonia ada dalam dua bentuk. Salah satunya adalah
gas beracun amonia (NH 3 ) dan yang lainnya adalah ion amonium kurang berbahaya
(NH 4 +). Komposisi tersebut konstituen tergantung pada pH dan temperatur. Amonia
beracun berbahaya bagi kehidupan air , dalam konsentrasi terendah 0,01 ppm memiliki
efek negatif pada ikan, sedangkan 0,1 ppm dapat mematikan bagi beberapa spesies
lain (Bhattacharya, 2011). Gas amonia sedikit lebih ringan dari udara dan amonia
dalam amonium hidroksida sangat mungkin menjadi udara. Kisaran ambang batas bau
adalah 5-17 ppm.
Amonia dalam bentuk cairan atau gas dapat menyebabkan iritasi parah
dan/atau luka bakar pada mata, hidung, tenggorokan dan kulit. Amonia memiliki
ambang batas bau dari 5 -17 ppm (yang lebih rendah dari batas eksposur). Amonia

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan cedera permanen pada mata, kerusakan
yang luas pada tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atas, dan dapat
mempengaruhi kerja jantung. Gas amonia anhidrat mudah meledak pada konsentrasi
16-25 % volume di udara. Selain itu amonia juga bersifat korosif.

.
Gambar 2.1 Struktur kimia Amonia

Dari OR-OSHA diketahui Permissible Exposure Limit (PEL) untuk NH 3


adalah 25 ppm selama delapan jam untuk Time Weighted Average (TWA). Sedngkan
The American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH)
merekomendasikan delapan jam TWA dengan konsentrasi 25 ppm, batasan ambang
batas ini untuk mengendalikan potensi bahaya amonia terhadap kesehatan. ACGIH
juga merekomendasikan Short Term Exposure Limit (STEL) 35 ppm selama rata-rata
15 menit.
Tabel 2.1. Sifat-Sifat Amonia (Putri , 2010)

Sifat Fisika Amonia

Nilai

Massa jenis dan fase

0,6942 g/L, gas

Kelarutan dalam air

89,9 g/100 ml pada 0C

Titik lebur

-77,73 C (195,42 K)

Temperatur autosolutan

651C

Titik didih

-33,34 C (239,81 K)

Keasaman (PKa)

9,25

Kebasaan (PKb)

4,75

The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) juga telah
menetapkan Recommended Exposure Limit (REL) 25 ppm dengan waktu paparan 10
jam selama seminggu (dengan jam kerja 40 jam per minggu). Mereka juga
menyarankan konsentrasi amonia yang terpapar tidak lebih dari 35 ppm STEL (OR-

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

OSHA, 2009). Sedangkan berdasarkan peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup


nomor 19 tahun 2010 adalah sebesar 10 mg/l. Amonia memiliki sifat-sifat seperti yang
tertera pada tabel 2.1.
2.1.2 Kesetimbangan Amonia dan Amonium dalam Air
Amonia tidak terionisasi dan memiliki rumus kimia NH 3 , sedangkan
ammonium terionisasi dengan rumus kimia NH 4 +. Faktor utama untuk menentukan
perbandingan ammonium dan amonia dalam air adalah pH. Aktivitas amonia dalam air
dipengaruhi oleh Temperatur dan kekuatan ion. Amonia sangat beracun untuk
organisme yang hidup didalam air. Sedangkan ammonium tidak terlalu berbahaya.
Pada suhu dan tekanan yang normal, ion NH 4 + dan NH 3 membentuk suatu
kesetimbangan dengan reaksi sebagai berikut (El-Bourawi, 2007):
(2.1)
Distribusi NH 3 dan NH 4 + dalam air dipengaruhi oleh pH dan temperatur.
Pengaruh pH dan temperatur pada distribusi NH 3 dan NH 4 + dalam air ditunjukkan
pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Pengaruh pH dan Temperatur pada Distribusi Amonia dan Ammonium dalam
Air (Viljoen, 2001)

Dari gambar 2.2 dapat diketahui persentase gas terlarut akan naik seiring
dengan bertambahnya pH dan suhu. Dimana suhu dan pH merupakan salah satu faktor
penting dalam penghilangan amonia.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.2 Teknologi Membran


Sejak tahun 1990-an, proses berbasis membran telah diakui sebagai proses
separasi yang baik untuk perbedaan konsentrasi sangat tinggi antar-fase dan
memberikan kemudahan untuk mengontrol kondisi operasi. Studi tentang membran,
banyak dikembangkan terutama untuk penghapusan komponen volatile dari air atau air
limbah. Komponen yang ingin dihilangkan dari modul membran dengan cara menyapu
gas, atau menggunakan beberapa pelarut, yang dapat bereaksi sangat cepat dengan
komponen yang ingin dihilangkan (Ding dkk.,2006).
Teknologi membran tidak menawarkan selektivitas untuk spesies tertentu,
tetapi hanya bertindak sebagai penghalang antara fasa yang terlibat, dengan
memungkinkan kontak di antara mereka. Dua fasa terpisah oleh membran, dimana
tidak ada pencampuran dari mereka dan tidak ada fenomena dispersi. Spesies
ditransfer dari satu fasa ke fasa lain hanya dengan difusi saja. Membran yang
digunakan biasanya mikroporous dan simetris, baik hidrofobik maupun hidrofilik
(Drioli dkk., 2006).
Aplikasi teknologi membran tidak meningkatkan transfer massa melainkan
meningkatkan luas area per volume seperti dapat ditemukan dalam serat berongga dan
modulus kapiler, oleh karena itu proses ini menjadi lebih menarik daripada kontaktor
fasa terdispersi konvensional. Sebagai contoh packed and tray coloumn memiliki luas
area per volume sekitar 30-300 m2/m3, tetapi dengan kontaktor membran, luas area per
volumenya dapat mencapai 1600-6600 m2/m3. Pada kontaktor membran G-L satu fasa
adalah gas atau uap dan fasa lainnya adalah cairan sedangkan pada kontaktor L-L
kedua fasanya adalah cairan. Kontaktor G-L dapat membagi proses dimana gas atau
uap yang dipindahkan dari fasa gas ke fasa cair dan uap atau gas yang dipindahkan
dari fasa cair ke fasa gas (Mulder, 2000).
Aspek-aspek positif kontaktor membran adalah sebagai berikut antara lain
daerah interfasial yang tinggi pada volume yang kecil, tidak ada dispersi antara fasafasa, tidak perlu bekerja dengan cairan yang berbeda densitas, tidak ada flooding,
loading, dan foaming, laju alir operasi dengan rentang yang luas, temperatur operasi
yang lebih rendah jika dibandingkan dengan proses distilasi, campuran azeotropik
dapat lebih mudah dipisahkan daripada dalam unit konvensional, reaksi dan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

pemisahan berlangsung serentak. fleksibel, mudah dalam scale-up, kontrol dan


otomatisasi.
Sedangkan aspek-aspek negatif membran kontaktor adalah seperti di bawah ini
umur hidup membran terbatas, adanya fouling membran sehingga diperlukan
pretreatment, stabilitas pelarut, umur hidup, dan selektivitas carrier dalam mendukung
membran cair terbatas (Drioli dkk., 2009).
Perpindahan massa antar fasa pada kontaktor membran didorong oleh adanya
perbedaan konsentrasi komponen antar fasa dan penurunan tekanan yang diperlukan
untuk menahan interfasa antar fluida yang sangat kecil. Pada proses kontak antar
fluida melalui membran, langkah-langkah yang terjadi adalah (Kartohardjono dkk.,
2010):
1.

Perpindahan massa komponen dari fluida umpan ke membran.

2.

Difusi massa tersebut melewati membran.

3.

Perpindahan massa dari membran ke fluida lainnya.

2.2.1 Kontaktor Membran Serat Berongga (Hollow Fiber Membrane ContactorHMFC)


Serat berongga telah digunakan sejak tahun 1960-an dalam berbagai macam
aplikasi seperti reverse osmosis, ultrafiltrasi, pemisahan gas membran, organ buatan,
dan tujuan medis lainnya (Khulbe, 2008). Fungsi utama membran dalam kontaktor
membran serat berongga adalah untuk menciptakan luas permukaan kontak yang
sangat besar di dalam modul sehingga proses perpindahan massa yang terjadi akan
lebih efisien. Selain itu membran serat berongga juga digunakan untuk membuat fasa
kontak gas cair pada pori membran tidak bergerak dengan kombinasi efek tegangan
permukaan dan perbedaan tekanan pada tiap fasa.
Perbedaan antara modul kapiler dan modul serat berongga adalah dalam
masalah dimensi, sedangkan konsep modulnya sama. Modul serat berongga
berkonfigurasi dengan densitas packing yang paling tinggi, yang dapat mencapai nilai
30.000 m2/m3. Modul ini digunakan jika aliran umpan relatif bersih, seperti dalam
pemisahan gas dan pervaporasi. Selain itu juga digunakan dalam desalinasi air laut,
dan aliran umpan yang relatif bersih lainnya (Mulder, 2000).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 2.3. Membran Serat Berongga (Gabelman and Hwang, 1999)

Modul serat berongga memiliki karakteristik yang berbeda dari modul tubular,
diantaranya yaitu:

Modul serat berongga direkomendasikan untuk beroperasi dengan bilangan


Reynolds pada rentang 500-3000, kebanyakan berjalan pada wilayah aliran
laminer, level tekanan rendah dengan nilai maksimum 2,5 bar.

Karena kombinasi aliran silang dengan laju alir yang rendah dan penurunan
tekanan rendah, modul serat berongga adalah salah satu modul yang lebih
ekonomis dalam hal konsumsi energi.

Modul serat berongga memiliki rasio area permukaan terhadap volume yang
paling tinggi dibandingkan dengan tiga konfigurasi modul lainnya yaitu modul
tubular, modul lembaran datar, dan modul spiral.

Kelemahan modul serat berongga adalah serat tipis mereka rentan untuk
diblokir oleh umpan dengan partikel besar, jika mereka beroperasi dalam mode
inside-out. Oleh karena itu pretreatment untuk mengurangi ukuran partikel
menjadi 100 m biasanya diperlukan untuk modul ini (Cui, 2010).
Serat berongga juga menghasilkan fleksibilitas dalam desain modulus dan

alternatif umpan dan geometri aliran produk. Umpan dan permeate dapat mengalir
dengan mudah dalam orientasi co-current, counter current, atau crossflow
sebagaimana yang diinginkan untuk aplikasi tertentu (Peinemann, 2006).
2.2.2

Membran Serat Polivinil Klorida


Polivinil klorida (CH 2 =CHCl) biasa disingkat menjadi PVC adalah polimer

termoplastik dimana pada suhu tinggi akan meleleh tetapi akan mengeras kembali jika

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

didinginkan. Jika ditinjau dari segi kestabilan, senyawa ini sangat stabil karena
berbentuk polimer sehingga fasanya berbentuk padatan yang keras sehingga
hampir tidak berpengaruh (tidak bereaksi) terhadap kehadiran oksidator kuat.
Dari segi keamanan, senyawa ini hampir tidak berbahaya dan mengganggu
lingkungan karena tidak berpotensi mencemari udara, air maupun tanah (Irawan,
2010).
PVC merupakan bahan membran yang terkemuka karena biaya yang rendah,
sifat fisik dan kimia serta sifat mekaniknya yang sangat baik (Xu and Xu 2002).
Gambar struktur membran serat berongga PVC dapat dilihat pada gambar di bawah
ini:

(a)

(c)

(b)

(d)

Gambar 2.4 Foto SEM Membran Serat Berongga PVC (a) pembesaran 70X (b) pembesaran
200 X (c) pembesaran 800X (d) pembesaran 10000X

PVC dipilih sebagai bahan serat membran karena memiliki struktur asimetris
ganda, yang berarti bahwa serat berongga memiliki permukaan bagian dalam dan
luar. Struktur asimetris ganda ini memberikan sebuah stabilitas mekanik yang
lebih tinggi pada serat dibandingkan dengan membran serat berongga anisotropik
konvensional. Keunggulan selanjutnya adalah tidak ada resiko penyumbatan pori

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

membran ketika dilakukan backwashing dengan tekanan yang lebih tinggi dari sisi
permeat (Guo 2009). Selain itu PVC juga tahan terhadap asam, basa, dan hampir
semua bahan kimia anorganik. Meskipun PVC larut dalam hidrokarbon aromatik,
keton, dan eter siklik, PVC sulit untuk larut dalam pelarut organik lainnya (Vinyl
dkk., 2012).
2.2.3

Pelarut Asam Sulfat


Pelarut yang digunakan dalam proses pemisahan amonia ini adalah asam sulfat

karena asam sulfat merupakan senyawa asam yang bersifat reaktif terhadap amonia
yang bersifat basa, sehingga diharapkan amonia yang terpisahkan dari selongsong
akan bereaksi dengan asam sulfat yang berada dalam serat membran membentuk
ammonium sulfat yang dapat digunakan sebagai pereaksi bahan kimia atau
penggunaan lainnya. Di samping itu asam sulfat merupakan asam kuat yang dalam air
akan terionisasi sempurna sehingga tidak akan melewati membran dan berpindah ke
selongsong yang mengandung amonia. Di samping itu asam sulfat lebih cocok
digunakan dengan membran PVC dibandingkan asam lainnya karena tidak bersifat
oksidator kuat yang dapat merusak membran PVC.
Pada proses absorbsi pemilihan larutan penyerap akan mempengaruhi proses
absorbsi. dipengaruhi oleh konsentrasi larutan penyerap asam sulfat yang digunakan
(Jiahui,dkk., 2008) pada kondisi laju alir dan jumlah serat yang sama, efisiensi pemisahan
ammonia dapat ditingkatkan dengan meningkatkan konsentrasi larutan penyerap asam
sulfat yang digunakan.

2.2.4

Aplikasi Penggunaan Membran Serat Berongga untuk Penyisihan


Amonia dengan Pelarut Asam Sulfat
Gambar. 2.5 adalah representasi skematis dari transportasi selama pemisahan

NH 3 dari air. Larutan umpan yang mengandung NH 3 diasumsikan mengalir melalui


shell HFMC dan larutan asam sulfat (H 2 SO 4 ) mengalir secara counter-current di sisi
lumen dan digunakan sebagai larutan penyerap. Kedua larutan akan disirkulasikan
kembali ke wadah masing-masing. Seperti digambarkan dalam gambar, molekul NH 3
mendesorpsi dari air di pori antarmuka air dan larut ke dalam matriks polimer. selama
difusi dalam pori-pori membran, molekul teradsorpsi oleh dinding pori. Selanjutnya,

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

mereka mendesorpsi di sisi shell dan terserap dan bereaksi oleh penyerap tersebut
(Bhattacharya dkk., 2012).

Gambar 2.5 Representasi Skematis dari Transportasi selama Pemisahan NH 3 dari Air

(Bhattacharya dkk., 2012)


Proses absorbsi amonia dalam membran kontaktor,ditransfer oleh proses
konveksi dan difusi dari umpan terhadap antarmuka umpan-membran. Pada serat
dinding (jari-jari dalam serat berongga), amonia volatile akan melewati pori-pori
membran yang diisi oleh gas. Amonia kemudian berdifusi pori-pori HFMC, dan
ditransfer ke dalam larutan penyerap. Pada antarmuka shell-membran, amonia segera
bereaksi dengan larutan penyerap dan membentuk senyawa nonvolatil. Di sisi lain, air
tidak dapat melalui serat hidrofobik dari HFMC. Prinsip penyisihan amonia melalui
HFMC dapat ditunjukkan pada Gambar 2.6. (Ashrafizadeh dkk., 2012)

Gambar 2.6 Mekanisme Penyisihan Amonia dalam Membran (Ashrafizadeh dkk., 2012)

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.3 Advance Oxidation Processes (AOPs)


Proses oksidasi lanjut merupakan suatu proses yang digunakan untuk
mengoksidasi senyawa organik dalam air. Proses ini dapat digunakan untuk
menyisihkan senyawa organik yang berkonsentrasi rendah sampai tinggi dari sumber
yang beragam seperti air tanah, limbah rumah tangga dan industri, destruksi sludge,
dan pengendalian senyawa organik yang mudah menguap. (M. B. Ray,2007).
AOPs dapat dilakukan dalam beberapa kondisi yang berbeda, yaitu ozon/UV,
ozon/H 2 O 2 , ozon/UV/H 2 O 2 , H 2 O 2 /UV dan ozon pada pH tinggi. Fotolisis UV yang
dikombinasikan dengan hidrogen peroksida merupakan salah satu teknologi terbaik
dan yang paling mungkin dilakukan untuk mendegradasi dan menghilangkan organik
berbahaya dari air, hal ini. Oksidasi terjadi melalui tiga proses, yaitu : (1)Abstraksi
hidrogen; (2) Transfer elektron; dan (3) Pembentukan radikal (Masten and Davies,
1994).
Tabel 2.2. Potensial Oksidasi Oksidan Pengolahan Air (Lukes, 2005)

Spesi aktif

Potensial oksidasi

OH
O
O3
H2O2
O 2 H
Cl 2

2.80
2.42
2.07
1.78
1.70
1.36

Proses oksidasi pada kondisi ringan oleh spesi reaktif seperti radikal hidroksil
yang dihasilkan oleh radiasi ultra violet (UV) dalam reaksi antara oksidan yang ada
yaitu ozon dan hidrogen peroksida, hal ini yang kemudian disebut sebagai Advanced
Oxidation Processes (AOPs).

AOPs merupakan teknologi alternatif yang sangat

menarik untuk dipelajari dalam penghancuran kontaminan-kontaminan organik yang


berbahaya (Alnaizy and Akgerman, 2000).
Banyaknya reaksi fisika dan kimia yang dihasilkan oleh proses oksidasi,
membuat teknologi ini dapat menjadi solusi beberapa proses yang dibutuhkan dalam
pengolahan air limbah. Dan yang paling penting dalam proses oksidasi lanjut adalah
banyak dihasilkan spesies aktif seperti OH , O , H , dan H 2 O 2 yang beberapa

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

oksidan kuat yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa organik sekaligus


membunuh bakteri.
2.3.1

Teknologi Plasma
Plasma merupakan keadaan gas kompleks suatu zat, terdiri dari radikal bebas,

elektron, foton, ion, dan lain-lain. Plasma dapat dihasilkan oleh debit listrik yang terus
menerus baik dalam gas inert atau gas reaktif. Untuk aplikasi membran, plasma dapat
digunakan untuk meningkatkan karakteristik membran berpori dan polimer film untuk
pemisahan gas (Peinemann, 2006).
Teknologi yang kemudian diperkenalkan untuk mengatasi limbah cair setelah
teknologi ozon adalah teknologi plasma. Sebenarnya ozon itu sendiri dapat dibuat
dengan menggunakan teknologi plasma. Jadi, secara tidak langsung teknologi ozon
adalah pemanfaatan dari teknologi plasma itu sendiri.

Gambar 2.7. Transisi Perubahan Fasa (Rohman, 2009)

Plasma terbentuk karena adanya ionisasi fluida yang ada di sekitar elektroda dan
adanya perbedaan tegangan yang sangat tinggi antara kedua elektroda. Mekanisme
pembentukkan plasma adalah sebagai berikut:

Atom netral atau molekul dalam media pada perbedaan tegangan yang sangat
tinggi akan terionisasi menghasilkan ion positif dan elektron bebas.

Elektroda akan memisahkan dan mencegah penggabungan ion positif dan elektron
serta menggerakkan elektron menuju elektroda positif.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Elektron yang mengumpul pada elektroda akan bergerak dengan kecepatan yang
sangat tinggi dan energi yang sangat besar dan menumbuk atom netral sehingga
terjadi proses ionisasi, disosiasi, dan eksitasi.
Elektron dengan energi yang tinggi ini akan menumbuk dengan cara ionisasi,

disosiasi, dan eksitasi yang kemudian menghasilkan elektron bebas dan akhirnya
terjadi loncatan elektron (avalanche electron) yang disebut dengan streamer
discharge. Elektron bebas (avalanche electron) mempunyai energi 10-15 eV (Gaffar
dkk.,2000)
Ionisasi didefinisikan sebagai proses terlepasnya elektron suatu atom atau
molekul dari ikatannya. Energi yang dibutuhkan untuk melepas satu atau lebih
elektron dari orbitnya pada sebuah atom atau molekul dapat didefinisikan sebagai
energi ionisasi E . Besarnya energi ionisasi dinyatakan dalam satuan elektron-volt
i

(eV) (Krane,1992 dalam Nur, 2006).


Reaksi ionisasi menurut Ghaffar (2000), adalah:
e-* + O 2 O+ + 2e-

(2.2)

Pada proses tumbukan antara elektron dengan partikel-partikel gas tidak hanya
proses ionisasi yang terjadi melainkan juga menyebabkan peristiwa-peristiwa yang
lainnya. Diantaranya yaitu proses rekombinasi, dissosiasi dan eksitasi (Chapman, 1990
dalam Nur, 2006).
Kebalikan dari proses ionisasi adalah proses rekombinasi. Rekombinasi terjadi
dengan cara pengikatan elektron oleh ion dan pengikatan antar atom menjadi molekul
sehingga menjadi spesies netral atau ion negatif yang disertai pemancaran foton
(Chapman, 1990 dalam Nur, 2006).
Dissosiasi adalah pemisahan molekul menjadi atom-atom penyusunnya.
Partikel gas yang terdissosiasi ini dapat pula terionisasi menjadi ion-ion positif dan
negatif. Reaksi dissosiasi menurut Ghaffar (2000), adalah:
e-* + N 2 N + N + e-

(2.3)

e-* + O 2 O + O + e-

(2.4)

e * + H 2 O OH + H + e-

(2.5)

Eksitasi adalah peristiwa dimana elektron yang berada di tingkat energi yang
lebih rendah berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi dengan menyerap energi

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

tumbukannya dengan elektron. Peristiwa kebalikan dari eksitasi tersebut disebut


relaksasi atau deeksitasi dan peristiwa ini disertai pemancaran foton. Reaksi eksitasi
menurut Ghaffar (2000), adalah:
e-* + N 2 N2*+ e-

(2.6)

Deeksitasi memerlukan waktu 10-8 s untuk kembali ke tempat semula yang


disertai dengan pemancaran foton. Energi foton dipengaruhi oleh besarnya frekuensi
yang digunakan oleh pembangkit tegangan. Energi foton ini akan menghasilkan
radiasi berbagai macam sinar seperti sinar kosmik, sinar X, microwaves, infra merah,
visible, dan sinar uv. Sinar-sinar ini dapat diketahui dari panjang gelombang yang
dikeluarkan (Beiser dalam Aryanto, 2007).
Reaksi pembentukan spesies aktif menurut (Munter, 2001), adalah sebagai
berikut:
H 2 O + e OH + H + e
O + e O + O + e

(2.7)
(2.8)

H + O 3 OH + O 2
O3 + O O + O + O2
H O + hv OH + OH

(2.10)

H + H 2 O 2 H 2 O + OH
3 O + OH- + H- 2 OH + 4 O

(2.12)

(2.9)

(2.11)

(2.13)

H 2 O 2 HO 2 - + H+
HO 2 - + O 3 HO 2 + O 3
2 O 3 + H 2 O 2 2 OH + 3 O 2

(2.14)

O 3 + hv O 2 + O(1D)

(2.17)

O(1D) + H 2 O H 2 O 2 2OH

(2.15)
(2.16)

(2.18)

Ozon pada pH basa:


O 3 + 2OH- OH + O 2 + HO 2

(2.19)

Ozon pada pH asam:


O3 + O2- O3- + O2
O 3 - H+ HO 3
HO OH + O
3

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

(2.20)
(2.21)
(2.22)

Menurut Bismo dkk (2008), Teknologi plasma memiliki beberapa keuntungan


dalam pengolahan limbah cair. Berikut keuntungan pengolahan limbah cair dengan
menggunakan teknologi plasma, yaitu :
a.

Teknologi plasma ramah lingkungan.

b.

Teknologi plasma mudah digunakan.

c.

Biaya pengolahan limbah cair dengan teknologi plasma relatif murah.

d.

Teknologi plasma dapat digunakan berulang-ulang.

e.

Waktu yang dibutuhkan relatif singkat.

2.3.2

Ozon
Ozon merupakan sebuah molekul gas yang terdiri dari tiga buah atom oksigen.

Ozon merupakan gas yang hampir tidak larut dalam air (0,03 mg/100 mL) pada suhu
20 C, berdekomposisi menjadi oksigen dalam waktu singkat, dan efektif dalam
pendispersian untuk aktivitas anti mikroba. Ozon merupakan disinfektan dan oksidan
yang kuat, biasanya digunakan oleh industri untuk proses penghilangan warna
(decoloration) , penghilangan bau (deodorizaton), dan untuk memproduksi perubahan
struktur senyawa organik.
Ozon terbentuk dari molekul-molekul oksigen yang berada dalam paparan
medan listrik (di atas 10.000 volt). Ozon ini jah lebih reaktif dan selektif melakukan
reaksi oksidasi dibandingkan dengan molekul oksigen asalnya (Bismo S. 2010). Ozon
dapat bereaksi secara langsung maupun tidak langsung dalam air. Reaksi tidak
langsung oleh ozon akan menghasilkan radikal hidroksil yang dapat bereaksi dengan
mikropolutan organik maupun anorganik. Di dalam larutan, ozon terdekomposisi
melalui suatu mekanisme inisiasi yang kompleks, yang akan bereaksi dengan ion
hidroksil dan diikuti oleh pembentukan spesi radikal pengoksidasi, misal HO, HO2
dan HO3 (Rodriguez, A. Et al, 2009).
Dekomposisi ozon dalam air diawali dengan reaksi ozon dengan ion OH- yang
diikuti pembentukan beberapa spesies radikal lainnya seperti OH, HO 2 , dan HO 3
(Rodrguez A. 2008). Reaksi perubahan ozon membentuk spesies radikal melalui tiga
tahap yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:
Inisiasi :
O 3 + OH- O 2 - + HO 2

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

(2.23)

Propagasi :
HO 2

O 2 - + H+

O3 + O2

(2.24)

O3 + O2

O 3 - + H+

(2.25)

HO 3

(2.26)

HO 3 HO + O 2

O 3 + HO HO 4

(2.27)

(2.28)

HO 4 HO 2 + O 2
-

HO 2 + H

(2.29)
(2.30)

H2O

HO + H 2 O 2 HO 2 + H 2 O

(2.31)

HO + HO 2 - HO 2 + HO-

(2.32)

Terminasi :
HO + O 3 O 3 + HO-

(2.33)

HO 4 + HO 4 H 2 O 2 + 2O 3

HO 4 + HO 3 H 2 O 2 + O 2 + O 3

2.3.3

(2.34)
(2.35)
(Li Huang, 2008)

Aplikasi Penggunaan Reaktor Hibrida Ozon-Plasma untuk Penyisihan


Amonia
Dalam penelitian ini akan dilakukan kombinasi proses oksidasi lanjut dengan

mengkombinasikan reaktor plasma dengan ozonasi pada fasa liquid. Pengolahan


limbah cair dari hasil proses industri yang mengandung polutan organik lain yang
tidak berbahaya di dalam suatu instalasi pengolahan limbah pada dasarnya dilakukan
di dalam suatu sistem pemroses yang disebut dengan reaktor.
Reaktor Hibrida Ozon-Plasma berbentuk tabung gelas yang memiliki lubang
tempat diinjeksikan udara atau campuran ozon-gas O 2 ke dalamnya sedemikian rupa
sehingga akan terjadi kontak langsung dengan aliran limbah di dalamnya. Di harapkan
aliran limbah dengan debit yang telah ditentukan tersebut akan bercampur homogen
dengan gas oksigen. Ozonator tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
menggunakan oksigen sebagai gas reaktan dan sekaligus digunakan pula sebagai
media pendingin.
Reaktor Hibrida Ozon-Plasma berbentuk tabung dengan pemasangan
elektroda, media dielektrik, dan elektroda tegangan tinggi yang disusun berada pada
satu sumbu dan searah aliran gas reaktan dan limbah hasil. Ozonator tersebut

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan gas Oksigen sebagai reaktan
atau umpan. Aliran umpan melewati ruangan elektroda tegangan tinggi untuk
selanjutnya berbalik arah melewati bagian dalam media dielektrik dan akan keluar
pada lubang keluaran (output). Di dalam ruangan elektroda terjadi proses plasmanisasi
yaitu proses pemaparan gas umpan dalam medan listrik tegangan tinggi yang
kemudian akan mengalami pembentukan ozon dimana terjadi pembentukan ozon,
radikal OH dan ion OH-yang akan mendegradasi limbah.
Dalam suasana asam, ozon akan langsung bereaksi dengan amonia
membentuk nitrat mengikuti reaksi di bawah ini:
(2.20)

4O 3 + NH 3 NO 3 - + H+ + H 2 O + 4O 2

Reaksi NH 3 /NH 4 + dengan ozon berlangsung sangat lambat, diperkirakan


kostanta kecepatan reaksinya dengan ozon sekitar 20 M-1S-1 dengan t1/2 = 96 jam,
tingkat penyisihan amonia oleh ozon masih kurang efektif dengan tingkat penyisihan
paling tinggi adalah 5.86% (Hikmawan,2009) Dari beberapa tahapan reaksi di atas,
dapat diketahui bahwa selain membentuk radikal OH, dalam kondisi basa
dekomposisi ozon juga menghasilkan ion hidroksil

(OH-). Radikal OH yang

terbentuk kemudian menyerang amonia berdasarkan reaksi berikut ini:


HO + NH 3 NH 2 + H 2 O

(2.21)

NH 2 + H 2 O 2 NHOH + H 2 O

(2.22)

NH 2 + HO NH 2 OH

(2.23)
(Li Huang, 2008)

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.4

Penelitian yang Telah Dilakukan


Beberapa penelitian yang terkait dengan penggunaan membran untuk proses

penyisihan amonia adalah sebagai berikut


Tabel 2.3. Penelitian yang Telah Dilakukan Terkait Penggunaan Membran untuk Proses Penyisihan
Amonia

Tahun 2006, Xiaoyao Tan dkk melakukan penelitian dalam pemisahan


kandungan amonia terlarut dari air, dengan menggunakan membran serat berongga
PVDF (polyvinilidene fluoride). Penelitian tersebut menunjukan bahwa reaksi
membran dengan ethanol berguna dalam meningkatkan hydrophobility dan efektifitas
permukaan porositas. Dalam pemindahan amonia menggunakan PVDF
modul membran serabut berlobang, meningkatnya pH dapat meningkatkan
perpindahan amonia, tetapi hanya sampai pH 10, setelah yang ini tidak memberikan
pengaruh. Pemisahan amonia meningkat dengan meningkatkan laju umpan, tetapi
hanya sampai 0,59 m/s atau Re > 0,32 dan jika kecepatan ditingkatkan tidak akan
memberikan pengaruh, ini mengindikasikan bahwa efek tahanan lebih dominan (Tan,
2006).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

M.S. EL-Bourawi dkk., (2007) melakukan penelitian dengan menggunakan


destilasi membran vakum untuk menghilangkan amonia, konsentrasi dan perbedaan
suhu merupakan gaya gerak komponen yang berpindah. Dari data penelitian diketahui
bahwa walaupun daya larut amonia cukup tinggi, amonia dalam larutan mempunyai
bentuk yang tidak stabil sehingga dapat menyebabkan pemidahan amonia menjadi
sulit. Penambahan NaOH kepada larutan umpan akan meningkatkan pH larutan,
sehingga akan meningkatkan amonia yang terbentuk dan efisiensi akan meningkat,
kecepatan dan tekanan juga akan mempengaruhi efisiensi pemindahan (Bourawi,
2007).
Hasanouglu (2010) melakukan penelitian penyisihan amonia dari aliran air
limbah melalui kontaktor membran: analisis eksperimental dan teoritis parameter
operasi dan konfigurasi. Dalam penelitian ini digunakan larutan penyerap asam sulfat
encer menerima untuk mempercepat penyisihan amonia dengan bereaksi menjadi
amonium sulfat (NH 4)2 SO

4,

yang dapat dipulihkan sebagai produk. Dengan

menggunakan serat berongga dan konfigurasi operasi yang berbeda, suhu dan kondisi
hidrodinamik dapat memperoleh persentase ekstraksi amonia sampai dengan 99,83%.
Konfigurasi sirkulasi larutan sangat berpengaruh pada efisiensi proses. Jadi,
konfigurasi sirkulasi terbaik dari larutan untuk kontaktor serat berongga adalah dengan
mengalirkan larutan umpan dalam shellside dan larutan penyerap dalam lumenside
membrane (Hasanouglu, 2010).
Ashrafizadeh (2010) melakukan penelitian untuk memisahkan amonia terlarut
dari air dengan menggunakan membran serat berongga, pada penelitian tersebut
digunakan asam sulfat sebagai larutan penyerap. Dari penelitian ini diketahui
membran serat berongga dengan bahan polypropylene ditemukan sangat efektif dalam
memisahkan amonia dari air limbah, dengan kondisi yang tepat dapat memisahkan
amonia sebesar 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi awal dan
kecepatan aliran amonia dan larutan asam sulfat merupakan variabel yang berpengaruh
terhadap pemisahan amonia. Menaikkan pH larutan amonia umpan hingga 10 dapat
meningkatkan pemisahan amonia secara signifikan sementara dengan meningkatkan
pH ke nilai yang lebih tinggi dari 10 tidak menghasilkan peningkatan signifikan
(Ashrafizadeh, 2010).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Pada tahun 2012 penelitian mengenai penyisihan amonia sudah berkembang


kearah studi permodelan penyisihan amonia dalam serat berongga. Simulasi dilakukan
untuk menghilangkan amonia dari air melalui kontaktor membran. Kontaktor terdapat
larutan NH3 dan penyerap asam sulfat dalam lumen dan sisi shell. Persamaan model
yang dikembangkan mempertimbangkan difusi radial dan aksial dan konveksi dalam
lumen. Hasilnya menunjukkan penurunan konsentrasi sepanjang arah radial dan aksial.
radial difusi dan konveksi di sisi lumen mungkin telah menyebabkan efek ini.Difusi
aksial ditemukan menjadi diabaikan dibandingkan dengan difusi radial. Kenaikan pH
hingga 10,5 meningkatkan persen penyisihan secara signifikan, bila pH dinaikkan lagi
hanya memberikan efek yang tidak signifikan. Radius lumen yang lebih besar,
panjang, dan jumlah serat membrane juga memberikan persen penyisihan yang lebih
tinggi (Bhattacharya dkk., 2012).
Sebuah model matematika 2D dikembangkan untuk mempelajari penghapusan
amonia dari larutan dengan menggunakan yang membran kontaktor (HFMC). Model
memprediksi perubahan konsentrasi amonia dalam kontaktor membran serta tangki
umpan dengan memecahkan persamaan konservasi termasuk kontinuitas dan
momentum. Model ini dikembangkan dengan mempertimbangkan membran
hidrofobik yang tidak dibasahi oleh air umpan. Kedua difusi aksial dan radial dalam
lumen dan membran sangat mempengaruhi. (Ashrafizadeh dkk., 2012).
Pengaruh parameter efektif pada perpindahan massa dan hidrodinamika dari
penyisihan amonia telah diteliti oleh Marjani. Hasil simulasi menunjukkan bahwa
fluks total penurunan amonia terjadi sangat tajam di daerah dekat inlet membran.
Penyelidikan hidrodinamik juga mengungkapkan bahwa terjadi velocity reached fully
developed pada jarak yang dekat dengan inlet reaktor. Hasil dari penelitian
menunjukkan kecepatan pelarut dan kecepatan larutan umpan adalah parameter yang
paling penting dalam penyisihan amonia (Marjani, 2012).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Sedangkan penelitian mengenai proses oksidasi lanjut adalah sebagai berikut :


Tabel 2.4. Penelitian yang Telah Dilakukan Terkait Proses Oksidasi Lanjut

Locke (2006) melakukan penelitian dengan menggunakan electronic discharge


dan plasma non thermal untuk pengolahan limbah. Dalam penelitian ini dianalisa
penggunaan tegangan tinggi

untuk proses discharge. Menggabungkan

proses

oksidasi lanjut dengan menggunakan plasma non thermal dengan metode lain seperti
proses biologi sangat dianjukan untuk proses yang efektif dan murah. Hal ini
dikarenakan dengan proses oksidasi lanjut dapat mendegradasi atau merubah target
organik menjadi komponen yang lebih murah untuk diolah. Non thermal plasma
(NTP) menggunakan tegangan tinggi di serat seperti elektroda untuk akan
menyebabkan ionisasi gas menghasilkan sebuah jet plasma yang dapat menghasilkan
sinar UV, ozon, dan radikal hidroksil (Locke, 2006).
Li Huang (2008) melakukan penelitian penambahan radikal OH untuk
menghilangkan amonia dalam fasa cair. Pemisahan amonia dengan penambahan
radikal OH dilakukan air H 2 O sebagai perkusor. Dari penelitian ini didapatkan dengan
photolysis H 2 O dengan menghasilkan ion radikal OH akan mengoksidasi amonia
menjadi NO. Proses Pemisahan ini sangat dipengaruhi oleh pH dan konsentrasi awal
amonia dalam air limbah (L i Huang, 2008).
M Kang (2008) melakukan penelitian penyisihan amonia pada fasa gasnya
menggunakan sistem hibrid dielectric discharge plasma V-TiO2 fotokatalitik.
Reaktor yang digunakan bertegangan tinggi 10 kV arus AC. Katalis yang
digunakan sebanyak 0,5 gram dan konsentrasi NH3 1000 ppm (M Kang dkk., 2008).
Daniel Gerrity (2009) melakukan penelitian dengan menggunakan plasma non
thermal untuk mendegradasi komponen organik. Dalam penelitian ini Non Thermal

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Plasma (NTP) digunakan sebagai proses oksidasi lanjut dalam degradasi komponen
organic dalam limbah industri farmasi. Hasil penelitian menunjukkan NTP merupakan
alternatif untuk dijadikan alternatif proses untuk oksidasi lanjut karena energi yang
lebih efisien dan tidak perlu penambahan bahan kimia lain (Gerrity dkk., 2009).
Penelitian mengenai penyisihan amonia menggunakan membran yang telah
dilakukan di laboratorium Intensifikasi Proses Departemen Teknik Kimia Universitas
Indonesia diantara adalah Teguh Hikmawan (2009) melakukan penelitian pengolahan
air yang mengandung tembaga, timbal, dan

amonia

dengan proses ozonasi

gelembung mikro dan filtrasi membran, membran yang digunakan adalah membran
keramik. Pada penelitian ini penyisihan untuk senyawa amonia (tanpa campuran
kedua logam lainnya) dengan proses tersebut didapat kesimpulan bahwa persentase
penyisihan amonia sangat kecil dibandingkan pemisahan kedua logam lainnya, yaitu
sekitar 17,07%. Hal ini dikarenakan sifat amonia yang kurang reaktif terhadap ozon,
sehingga masih banyak sekali jumlah amonia yang tersisa, dan proses oksida lanjut
terhadap senyawa

amonia

kurang efektif digunakan pada senyawa amonia

(Hikmawan, 2010).
Diana Beauty (2010) melakukan penelitian pemisahan amonia dari limbah cair
dengan menggunakan membran serat berongga dan absorben pelarut bahan alam yaitu
Air Ciater. Pada penelitian ini, didapat kesimpulan, dengan membandingkan pelarut
asam sulfat dan pelarut bahan alam, yang memiliki nilai pemisahan yang terbaik
adalah dengan pelarut bahan alam, yaitu sekitar 35%. Hal ini dimungkinkan karena
masih terkadungnya ion-ion negatif yang dapat mengurangi tahanan perpindahan
massa pada fasa larutan penyerap. Dan didapatkan pH absorben optimum untuk
pemisahan amonia yaitu pada pH 0,7 (Beauty, 2010).
Milasari Herdiana (2011) melakukan penelitian dengan mengkombinasikan
proses ozonasi dan membran terhadap penghilangan ammonia dari air limbah. Pada
penelitian ini diperoleh efektivitas penyisihan amonia dengan proses hibrid tergolong
baik, bila dibandingkan dengan proses tunggal seperti dengan proses membran atau
ozonasi saja, proses hibrid mampu menyisihkan amonia sebesar 91% pada pH
absorben 0,7. Semakin rendah pH absorben, efektivitas penyisihan amonia dari air
limbah semakin meningkat (Herdiana, 2011).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Candrika Ajeng (2012) juga melakukan penelitian dengan mengkombinasikan


proses ozonasi dan membran terhadap penghilangan amonia dari air limbah, dengan
variasi laju sirkulasi umpan 3, 4, dan 5 Lpm. Proses hibrid mampu menyisihkan
amonia sebesar 89% dari konsentrasi awal menggunakan kontaktor serat berongga 22
serat, pada pH absorben 1, pH limbah sintetis 11, dan laju alir umpan 5 Lpm. Semakin
meningkatnya laju alir maka koefisien perpindahan massa akan semakin meningkat
karena terjadinya turbulensi aliran (Ajeng, 2012).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Sasaran Penelitian


Tujuan proses pemisahan amonia terlarut dari air adalah untuk menurunkan
kadar amonia dalam air. Penelitian ini dilakukan untuk memisahkan amonia yang
terkandung dalam air dengan cara kombinasi proses absorbsi dalam membran serat
berongga dengan fasa cair absorben larutan asam sulfat, dan proses oksidasi lanjut
menggunakan kombinasi reaktor plasma dan ozonasi. Penelitian yang akan dilakukan
adalah penelitian kuantitatif dengan melakukan penelitian di laboratorium untuk
mengetahui efektivitas masing-masing proses serta kombinasi proses membran dan
reaktor hibrida plasma-ozon.
Dalam studi ini akan dipelajari perpindahan massa yang terjadi pada membran
serat berongga dalam kontaktor membran serta efektivitas proses oksidasi lanjut dalam
reaktor hibrida plasma-ozon. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Intensifikasi
Proses Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia.
3.2 Tahapan Penelitian
Penelitian ini secara garis besar akan dilakukan menjadi enam tahapan yaitu
studi literatur, set up peralatan, uji perpindahan massa, pengolahan dan analisis data,
serta penulisan laporan. Penjabaran tahapan yang dilakukan pada penelitian ini dapat
dilihat pada Gambar 3.1. di bawah ini:

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 3.1. Bagan Alir Penelitian

3.3

Set up Peralatan dan Bahan Penelitian


Set up peralatan dilakukan perancangan dan penyusunan alat yang digunakan

yaitu kontaktor membran serat berongga, reaktor hibrida plasma-ozon. Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pelarut asam sulfat sebagai absorben dan
limbah amonia sintetis dengan konsentrasi amonia sebesar 800 ppm.
3.3.1 Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1.
dengan gambar alat yang terdapat pada lampiran 3.
Tabel 3.1. Rincian Alat yang Digunakan dalam Penelitian
Peralatan
Kaca Arloji dan Timbangan
Beaker glass
Statif
Erlenmeyer
Buret 50 cc
Sarung tangan, masker HEPA, dan

Fungsi
Alat untuk menimbang massa bahan yang
diperlukan
Peralatan untuk mengukur laju produktivitas
ozonator
Peralatan keamanan bekerja di laboratorium

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

jas lab
Stopwatch
Membran Serat Berongga
Reaktor Hibrida Ozon Plasma
Kompresor
Reaktor ozon
Thermo-circulator
Amoniameter

3.3.2

Alat untuk menghitung waktu tiap pekerjaan


Rangkaian alat untuk proses absorbsi amonia
Rangkaian reaktor untuk proses oksidasi lanjut
Sumber udara
Sumber ozon
Alat untuk menjaga suhu umpan
Alat untuk mengukur konsentrasi amonia

Bahan Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel

3.2. berikut ini.


Tabel 3.2. Bahan yang Digunakan dalam Penelitian

Nama Bahan

Keterangan

Ammonium sulfat
((NH 4 ) 2 SO 4 )

Bahan untuk pembuatan limbah


sintetik amonia 800 ppm yang bebas
pengotor.
Bahan untuk menyesuaikan pH
limbah sintetik
Pelarut untuk pembuatan limbah
sintetik dan larutan penyerap asam
sulfat
Bahan untuk pembuatan larutan
penyerap asam sulfat
Bahan untuk mengukur konsentrasi
amonia

Natrium hidroksida
(NaOH)
Aquadest (H 2 O)

H 2 SO 4 2 N
(Asam Sulfat)
Reagen 1 dan Reagen 2
Amoniameter
Larutan KI 0,1 N
Na 2 S 2 O 3 .5H 2 O 0,005
N
H 2 SO 4 2 N
Indikator kanji
(amilum)
3.4

Bahan untuk menguji laju


produktivitas ozonator

Prosedur Penelitian
Pada prosedur penelitian, dilakukan uji produktivitas plasma dan ozon, dan

uji perpindahan massa.


3.4.1 Uji Reaktor Hibrida Ozon Plasma
Proses oksidasi lanjut dalam penelitian ini adalah penggabungan teknologi
hibrida antara teknologi plasma dan ozon dalam reaktor dielectric barrier discharge
atau DBD cair (Reaktor Hibrida Ozon-Plasma) yang merupakan sistem reaktor hibrida
Ozon-Plasma hasil rancangan Prof. Dr. Ir. Setijo Bismo, DEA.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Reaktor plasma ini dihubungkan dengan injektor yang memiliki lubang


tempat diinjeksikan gas oksigen atau ozon kedalamnya yang mana akan terjadi kontak
langsung dengan aliran limbah yang melaluinya. Diharapkan aliran limbah dengan
debit yang telah ditentukan tersebut akan bercampur homogen dengan gas oksigen
atau ozon. Injeksi udara tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga dapat
menggunakan oksigen sebagai gas reaktan dan sekaligus digunakan pula sebagai
media pendingin.
Reaktor hibrida ozon plasma berbentuk tabung dengan pemasangan elektroda,
media dielektrik, dan elektroda tegangan tinggi yang disusun berada pada satu sumbu
dan searah aliran gas reaktan dan limbah hasil. Aliran umpan melewati ruangan
elektroda tegangan tinggi untuk selanjutnya berbalik arah melewati bagian dalam
media dielektrik dan akan keluar pada lubang keluaran (output). Di dalam ruangan
elektroda terjadi proses plasmanisasi yaitu proses pemaparan gas dan larutan umpan
dalam medan listrik tegangan tinggi yang kemudian akan mengalami pembentukan
pembentukan radikal-radikal OH.
3.4.1.1 Rangkaian Peralatan Reaktor Hibrida Ozon Plasma
Rangkaian peralatan yang digunakan dalam reaktor hibrida ozon plasma pada
penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Flowmeter udara

Kompresor/
udara

Injektor / Mixer

Flowmeter
Air

A
V
Power supply

Pompa
RHOP

Transformer
Step-Up

Tangki Penampung

Gambar 3.2 Rangkaian Peralatan Reaktor Hibrida Ozon Plasma (Bismo, 2012)

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

3.4.1.2 Uji Kinerja Reaktor Hibrida Plasma-Ozon


Uji kinerja reaktor hibrida ozon plasma ini menggunakan metode
iodometri.

Metode iodometri ini berdasarkan reaktivitas ozon terhadap larutan KI.

Penggunaan metode iodometri dilakukan untuk menentukan kadar ozon dalam


bentuk gas, dimana ion iodida akan teroksidasi menjadi iodium. oleh ozon dalam
larutan buffer kalium iodida. pH larutan tersebut menjadi 2 dengan dengan pelarut
asam sulfat dan pembebasan iodium dititrasi dengan natrium tiosulfat.

Reaksi

ozonasi kalium iodida adalah sebagai berikut (Day dan Underwood, 1991):
O3 + 2I - + H2 O I2 + O2 + 2OH-

(3.1)

I2 + 2Na2 S2O3 2NaI + Na2 S4 O6

(3.2)

Pembebasan iodium (I2) dititrasi dengan natrium tiosulfat:

Gambar 3.3. Skema Uji Produktifitas Ozon

Prosedur untuk melakukan analisa untuk uji produktivitas ozonator dan


reaktor hibrida ozon plasma adalah sebagai berikut.
1. Disiapkan 2 buah erlenmeyer 500 mL dan gas washing bubbler
(bubbler) yang terdiri dari hulu dan hilir. Ditambahkan 200 mL KI 2%
ke dalam masing-masing erlenmeyer
washing

tersebut. Tutup

dengan

gas

bubbler (bubbler) dan disambungkan dengan selang ke bagian

ozonator.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2. Dinyalakan ozonator dan stopwatch, kemudian diamati sampai larutan


mangasilkan warna kuning baik di hulu maupun hilir.
3. Apabila sudah terbentuk warna kuning, selanjutnya mematikan ozonator
dan stopwatch. Catat waktu yang dibutuhkan sampai terjadinya perubahan
warna menjadi kuning.
4. Kemudian

larutan

tersebut

ditambahkan

dengan

H2SO4

2N

dan

dititrasi dengan Na2S2O3 0,005 N. Titrasi dilakukan sampai warna larutan


kuning menjadi sedikit kuning muda.

Kemudian ditambahkan dengan

indikator amilum sehingga larutan menjadi warna biru, lanjutkan titrasi


sampai larutan tidak berwarna. Titrasi dilakukan untuk sampel hulu dan hilir.
5. Dicatat volume titrasi yang diperoleh kemudian lakukan perhitungan.
3.4.2 Uji Perpindahan Massa
Variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel tetap adalah peralatan modul membran ( diameter serat, jenis polimer
yang digunakan) , peralatan modul plasma dan ozon ( tegangan yang dialirkan,
jenis elektroda yang digunakan) dan konsentrasi amonia dalam larutan umpan.
2. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
- pH larutan umpan dengan variasi pH 10, 11 dan 12
- Temperatur umpan 20 oC, 30 oC, dan 40 oC
- Jumlah serat membran berongga dengan variasi 50, 60, dan 70
- Laju sirkulasi air limbah dengan variasi 3 LPM, 4 LPM, dan 5 LPM.
3. Variabel terikat adalah konsentrasi amonia yang terdegradasi oleh masingmasing proses serta kombinasi proses membran dengan proses oksidasi lanjut
dalam reaktor hibrida ozon plasma yang menunjukkan efektivitas proses
terhadap proses degradasi amonia.
3.4.2.1 Proses Membran
Pada proses tunggal penyisihan amonia menggunakan membran hal pertama
yang dilakukan adalah dengan mengalirkan larutan amonia yang ke dalam selongsong
acrylic. Kemudian langkah selanjutnya adalah mengalirkan larutan absorben (larutan
asam sulfat) ke dalam serat membran PVC. Membran PVC bersifat hidrofobik dan
mempunyai pori sehingga dengan adanya perbedaan konsentrasi gas amonia pada

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

membran dan selongsong akan menyebabkan gas amonia yang berada di dalam
selongsong bergerak menuju pori-pori dan masuk ke bagian dalam serat membran
yang kemudian diserap oleh larutan absorben.. Amonia yang akan digunakan adalah
dengan konsentrasi inlet 800 ppm. Kemudian amonia ini dipompakan ke dalam shell
yang laju alirnya diatur menggunakan valve sesuai variabel yang dapat dilihat pada
alat flowmeter. Larutan amonia yang keluar dari selongsong akan kembali ke dalam
bak penampung dan kemudian akan dialirkan lagi ke dalam selongsong, proses ini
terjadi berulang. Larutan amonia yang telah mengalami siklus dan berada pada
reservoir penampung, akan diukur konsentrasinya dengan menggunakan amonia meter
setiap selang waktu 30 menit selama sirkulasi 2 jam.
Untuk menentukan jumlah amonia terlarut digunakan alat amonia meter. Studi
perpindahan massa dilakukan dengan menghitung nilai koefisien perpindahan massa
dengan menggunakan data perubahan konsentrasi amonia.

Amonia Meter

Kontaktor Membran

Pompa peristaltik
Pompa

Valve

Flowmeter
Air

Absorben
(out)

Tangki Umpan

Absorben
(in)

Gambar 3.4. Skema Peralatan Proses Membran

3.4.2.2 Proses Hibrida Plasma dan Ozon


Pada proses penyisihan amonia dengan proses oksidasi lanjut menggunakan
Reaktor hibrida ozon plasma , dilakukan dengan mengalirkan limbah sintetik yang
mengandung ammonia dengan konsentrasi 800 ppm dan pH sesuai varibel yang
digunakan. Larutan umpan dipompakan menuju plasma dengan mengatur laju alir
sesuai variabel yang ditentukan dengan menggunakan valve. Sebelumnya tegangan
regulator diatur sesuai dengan keperluan (+ 175 V). Amonia yang keluar dari plasma
outlet dari plasma akan dialirkan ke dalam reservoir dan akan diukur kembali

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

konsentrasinya dengan menggunakan amonia meter setiap selang waktu 30 menit


selama sirkulasi 2 jam. Selain itu dalam Reaktor hibrida ozon plasma juga akan
divariasikan injeksi udara yang diberikan yaitu injeksi dengan ozon atau injeksi udara
tanpa menggunakan ozon.

Reaktor
Hibrida
Ozon dan
Plasma

Amonia Meter

InjektorMixer
Flowmeter
Air

Ozonator

Pompa
Valve
Tangki Umpan
Kompresor

Flowmeter
Udara

Gambar 3.5. Skema Peralatan Proses Plasma

3.4.2.3 Proses Gabungan Reaktor hibrida ozon plasma dan Membran


Prosedur yang akan dilakukan pada penyisihan amonia dengan gabungan
Reaktor hibrida ozon plasma dan membran adalah sama dengan proses penyisihan
amonia dengan Reaktor hibrida ozon plasma saja atau dengan membran saja, namun
pada proses ini dilakukan penggabungan dua proses tersebut. Larutan amonia yang
telah keluar dari selongsong kemudian disirkulasikan ke reaktor hibrida, outlet dari
reaktor hibrida ozon plasma akan dialirkan kembali ke membran dan akan diukur
kembali konsentrasinya dengan menggunakan amonia meter setiap selang waktu 30
menit selama waktu sirkulasi selama 2 jam.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Thermo
sirkulator

P-40

E-13

Ozonator

Reaktor Hibrida
Ozon dan Plasma

Amonia
Meter

I-3

E-14

Flowmeter
Udara

Kompresor

Injektor-Mixer
Pompa
Peristaltik
Flowmeter
Air

Pompa

P-38

Kontaktor Membran

I-1

Valve
Absorben
(out)

Absorben
(in)

Gambar 3.6. Skema Peralatan Proses Reaktor Hibrida Ozon Plasma dan Membran

3.5

Pengolahan dan Analisis Data


Langkah selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data untuk

mengetahui efektivitas proses penyisihan amonia yang dapat dilihat dari konversi
amonia yang dihitung dengan mengukur jumlah amonia yang terkonversi (ppm) dan
Amonia yang terlarut dalam larutan umpan (ppm) dan studi hidrodinamika.
Dalam penelitian ini akan dilakukan tiga macam cara untuk menyisihkan
amonia yaitu penyisihan amonia dengan menggunakan membran serat berongga,
penyisihan amonia dengan proses tunggal dalam Reaktor hibrida ozon plasma, serta
penyisihan amonia dengan proses gabungan membran serat berongga dengan
kombinasi Reaktor hibrida ozon plasma.
3.5.1 Persen Penyisihan Amonia (% R)
Efisiensi penyisihan amonia dari limbah dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut ini:

(3.3)
dimana:
C 0 = Konsentrasi awal amonia (ppm)
C t = Konsentrasi amonia pada saat t (ppm)

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

3.5.2 Menghitung Koefisien Perpindahan Massa


Gambar di bawah ini adalah skema alir penyisihan amonia melalui kontaktor
membran serat berongga.
C2
Kontaktor Membran
Pompa
Peristaltik

L, a, C*

C1
Q
Flowmeter
VL
CL

Pompa
Valve
V-1
Absorben (out)

Tangki Umpan

Absorben (in)

Gambar 3.7. Skema Peralatan Proses Membran untuk Penurunan Rumus Koefisien
Perpindahan Massa

Perpindahan amonia melewati tiap satuan serat membran dapat ditulis sebagai
berikut:
dC
VL L
dz

*
= K a (CL C )

(3.4)

Tekanan amonia pada fasa gas sama dengan tekanan amonia pada serat
sehingga konsentrasi amonia pada fasa interface (C*) cenderung konstan, sangat kecil
dan dapat diabaikan. Pada laju alir gas yang sangat kecil di dalam serat, penurunan
tekanan sepanjang serat dapat diabaikan dan diasumsikan tekanan konstan. Jika
pengaruh konsentrasi amonia terlarut (C L ) konstan maka batas kondisi C L =C 1 pada
Z=0 dan C L =C 2 pada Z=L diaplikasikan, dan integrasi persarmaan akan menghasilkan
persamaan berikut ini:
z=
L K a
dCL
=
dz
*

CL =
C1 pada z =
z=
0 (C C )
0
VL
L

CL =
C2 pada z =
L

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

C2
z=L K a L
ln CL C * =

C1 z =0
VL

C C* K a L
ln 1
=
*
VL
C2 C
C2 C *
K a L
ln
=
*
VL
C1 C
C2 C *
K a L
exp
=

*
VL
C1 C

K a L
C2 C * = C1 C * exp

VL

K a L
C2 =C * + C1 C * exp

VL

(3.5)
Luas permukaan spesifik (a) telah diketahui nilainya dalarn modul serat
berongga dan siap dihitung dari jumlah dan ukuran serat serta dimensi rnodul. Apabila
reservoir air dicampur dengan baik maka neraca massa pada reservoir adalah:
dC
V 1 =QC1 QC2
dt

(3.6)

Subtitusi C 2 dari persamaan di atas dan pengaturan ulang menghasilkan


persamaan berikut:

K a L
dC1 Q *
*
=
C + C1 C exp
(C1 )
dt V
VL

K a L
dC1 Q
*
*
=
C1 C exp
(C1 C )
dt V
VL

K a L
dC1
Q
=
exp

1 dt
V
VL
C1 C *

(3.7)
Integrasi pada batas kondisi t=0, C 1 =0 dan t=t, C 1 =C memberikan hubungan
konsentrasi terhadap waktu.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

CL =
C padat =
t

dCL
=
CL =
C0 padat =
0
CL C *

K a L
Q
exp

1 dt
t=
0V
V
L

t=
t

C C* Q
K a L
= exp
ln
1 t
*

VL


C0 C V

(3.8)

Dari persamaan ini, koefisien perpindahan massa kesekuruhan (K) dapat dicari
dengan memplotkan ln[C*/ C*- C 1 ] vs t, kemudian slope (kemiringan) garis dapat
dihitung, dengan demikian nilai K dapat diketahui dengan persamaan 3.9.

K a L
Q
slope = exp
1
V
VL


=
K

VL V slope
ln
+ 1
aL
Q

dimana K adalah

(3.9)

koefisien perpindahan massa keseluruhan, Q adalah debit alir

(cm3/det), V adalah volume tangki (cm3), a adalah luas permukaan membran (cm2) dan
L adalah panjang serat (cm).
Dua asumsi penting yang diterapkan dalam dua persamaan di atas adalah:
1. Waktu respon perhitungan amonia cukup cepat untuk mengawasi laju
perubahan amonia secara akurat.
2. Asumsi umpan konstan yang masuk ke dalam modul harus realistis dengan
konsentrasi amonia dalam tangki yang berubah secara perlahan-lahan jika
dibandingkan dengan perubahan konsentrasi di dalam modul.
Kedua asumsi di atas akan memuaskan jika tangki air dengan volume besar digunakan
pada desain eksperimen.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini penyisihan amonia dari air limbah dilakukan dengan
beberapa variasi konfigurasi proses penyisihan yaitu:

proses

membran,

proses

dalam reaktor hibrida ozon plasma (RHOP), gabungan RHOP dan ozonator,
gabungan membran dan RHOP, serta gabungan membran, RHOP dan ozonator.
Untuk mengetahui efektivitas penyisihan amonia terlarut dari semua variasi
konfigurasi proses tersebut dapat diketahui dari persen penyisihan amonia (%R)
dan koefisien perpindahan massa. Pada studi perpindahan massa akan dipelajari
pengaruh laju alir umpan, pH larutan umpan, temperatur umpan dan jumlah serat
membran terhadap perpindahan massa, serta perbandingan perbandingan konfigurasi
proses terhadap perpindahan massa.
Sampel amonia dalam larutan umpan limbah diukur dengan menggunakan
amonia meter Mi 405 produk Martini Instrument untuk mengetahui konsentrasi
(ppm) yang tertinggal dalam larutan umpan, analisa ini dilakukan dengan rentang
waktu 20 menit selama waktu sirkulasi 2 jam.
4.1 Penyisihan Amonia Terlarut dalam Air Limbah Sintetis
Persen penyisihan (%R) menunjukkan kemampuan dari larutan penyerap
dalam mengabsorpsi amonia, semakin tinggi nilai %R, semakin baik pula
performa kinerja proses. %R amonia terlarut dihitung dengan perubahan konsentrasi
amonia di dalam umpan selama selang waktu tertentu.
4.1.1 Proses Penyisihan dalam Reaktor Hibrida Ozon Plasma (RHOP)
Proses oksidasi lanjut yang akan digabungkan dengan absorbsi dalam membran
adalah dengan menggunakan Reaktor Hibrida Ozon Plasma (RHOP). Untuk
mengetahui kemampuan RHOP untuk menyisihkan amonia dalam penelitian ini juga
dilakukan proses tunggal menggunakan RHOP . Dari Gambar 4.1 dapat diketahui
pengaruh pH umpan terhadap penyisihan amonia dalam RHOP, dari gambar tersebut
dapat diketahui kenaikan pH akan berbanding lurus dengan penyisihan amonia. Hasil
dari %R penyisihan amonia tertinggi menggunakan RHOP yaitu sebesar 11,7 %, pada
pH umpan 12. Efisiensi yang rendah dikarenakan reaktor plasma menggunakan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

tegangan yang cukup rendah 175 Volt, sehingga produktivitas ozon dan radikal OH
dengan jumlah yang belum cukup untuk menyisihkan amonia di dalam air limbah.
Dalam RHOP, reaksi yang terjadi adalah proses oksidasi lanjut. Proses oksidasi
lanjut adalah suatu metode yang memanfaatkan keberadaan radikal dan spesi aktif
sebagai oksidator yang sangat kuat untuk menguraikan suatu senyawa yang tidak dapat
dioksidasi dengan oksidator konvensional. Oksidasi lanjut dalam RHOP akan
menghasilkan spesi aktif ozon dan radikal OH. Ozon terbentuk karena terjadinya
dekomposisi atom oksigen dalam reaktor RHOP. Selanjutnya dalam kondisi basa ozon
akan terdekomposisi menjadi radikal OH yang sangat reaktif sehingga dapat
menyerang atom atau molekul lainnya menjadi senyawa baru.
Dekomposisi ozon dalam air diawali dengan reaksi ozon dengan ion OH- yang
diikuti pembentukan beberapa spesies radikal lainnya seperti OH, HO 2 , dan HO 3
(Rodrguez A. 2008). Reaksi perubahan ozon membentuk spesies radikal melalui tiga
tahap yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Reaksinya adalah sebagai berikut:
Inisiasi :
O 3 + OH- O 2 - + HO 2

(4.1)

Propagasi :
HO 2

O 2 - + H+

(4.2)

O 3 + O 2 - O 3 - + O 2

(4.3)

O 3 - + H+

(4.4)

HO 3

HO 3 HO + O 2

O 3 + HO HO 4

(4.5)

HO 4 HO 2 + O 2
-

HO 2 + H+

H2O

(4.6)
(4.7)
(4. 8)

HO + H 2 O 2 HO 2 + H 2 O

(4.9)

HO + HO 2 - HO 2 + HO-

(4.10)

Terminasi :
HO + O 3 O 3 + HO-

(4.11)

HO 4 + HO 4 H 2 O 2 + 2O 3

(4.12)

HO 4 + HO 3 H 2 O 2 + O 2 + O 3

(4.13)

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Radikal OH yang terbentuk kemudian menyerang amonia membentuk hidroksil amin


yang merupakan basa lemah berdasarkan reaksi berikut ini:
HO + NH 3 NH 2 + H 2 O

(4.14)
(4.15)
(4.16)

NH 2 + H 2 O 2 NHOH + H 2 O
NH 2 + HO NH 2 OH

(Li Huang, 2008)


Untuk mempercepat dekomposisi ozon menjadi radikal OH dapat dilakukan
dengan meningkatkan pH (Enjarlis, 2006). Dengan pH umpan yang semakin tinggi
maka akan memberikan persen penyisihan amonia yang lebih baik (Zhu dkk., 2005).
Radikal ozon yang hanya memiliki potensial oksidasi sebesar 2,07 eV sedangkan
radikal OH memiliki potensial oksidasi lebih besar yaitu 2,80 eV (Ikehata K. dkk.
2006). Dalam larutan asam, mekanisme reaksi yang mendominasi adalah serangan
langsung dari ozon pada molekul lainnya, sedangkan pada kondisi basa mekanisme
yang dominan adalah serangan radikal bebas (misalnya radikal OH, radikal H0 2 )
(Channing, 1979).

Gambar 4.1 Persen Penyisihan Amonia dengan RHOP

4.1.2 Proses Penyisihan dalam RHOP-Ozon


Penggabungan RHOP dan Ozon dilakukan untuk meningkatkan poduktiftas
RHOP. Dalam proses ini, yaitu udara yang berasal dari kompresor sebelum masuk
dalam RHOP dialirkan menuju ozonator, dalam ozonator udara akan dikonversi
menjadi ozon yang kemudian diinjeksikan ke dalam injektor-mixer. Ozon akan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

bercampur dengan air limbah dalam injektor-mixer dan kemudian mengalir ke dalam
reaktor hibrida ozon plasma. .
Ozon tidak reaktif terhadap amonia, hal ini dikarenakan molekul amonia
memiliki sepasang elektron bebas yang cenderung menolak ozon. Berikut ini
merupakan reaksi antara amonia dengan ozon yang akan membentu ammonium nitrat :
2NH 3 + 4O 3 NH 4 NO 3 + 4O 2 + H 2 O

(4.17)

Pada pH basa, lifetime ozon semakin menurun dan ozon akan terdekomposisi
menjadi radikal OH. Penambahan injeksi ozon ini diharapkan dapat meningkatkan
pembentukan radikal OH, sehingga proses oksidasi lanjut dalam RHOP semakin
efektif. Oleh karena itu peningkatan pH dan penambahan ozonator akan secara
simultan meningkatkan persen penyisihan amonia.
Dari Gambar 4.2 dapat diketahui terjadi peningkatan %R bila dibandingkan
dengan proses RHOP. Hasil dari %R penyisihan amonia tertinggi menggunakan
RHOP yaitu sebesar 11,7 % sedangkan pada gabungan proses RHOP-ozon sebesar
18,3 % terjadi kenaikan sebesar +7 %, pada pH umpan 12. Gabungan proses RHOP
dan ozon meningkatkan jumlah spesi aktif ozon dan radikal OH serta dapat
membantu memperlama life radikal OH yang akan mengoksidasi NH 3 dan ion
hidroksil (OH-) yang menggeser kesetimbangan amonia sehingga penyisihan amonia
menggunakan proses gabungan RHOP, dan ozon berlangsung lebih efektif.

Gambar 4.2 Persen Penyisihan Amonia dengan RHOP-Ozon

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.1.3 Proses Penyisihan dalam Membran


Modul serat berongga yang digunakan bersifat hidrofobik dimana tidak
terbasahi baik oleh larutan amonia maupun larutan penyerap. Amonia dalam fasa gas
NH 3 berdifusi melewati pori-pori membran dan kemudian bereaksi dengan larutan
penyerap sehingga konsentrasi amonia dalam air limbah berkurang seiring dengan
berjalannya waktu. Dalam penelitian ini akan dipelajari pengaruh variasi laju alir dan
temperatur terhadap proses penyisihan amonia.
4.1.3.1 Pengaruh Laju Alir Umpan
Pengaruh laju alir umpan dapat dilihat pada gambar 4.3 bahwa pada proses
penyisihan amonia dalam membran dengan variasi laju alir 3, 4, 5 LPM, persen
penyisihan amonia (%R) berbanding lurus dengan meningkatnya laju alir. Peningkatan
laju alir umpan akan meningkatkan turbulensi aliran, sehingga %R akan bertambah
(Xie dkk., 2009). Mekanisme perpindahan massa memiliki kecenderungan suatu
komponen yang berada dalam suatu campuran untuk bergerak dari daerah yang
berkonsentrasi tinggi ke daerah yang berkonsentrasi rendah. Dengan naiknya
turbulensi aliran maka akan memudahkan molekul amonia volatil NH 3 (amonia bebas)
terdorong untuk berdifusi ke permukaan membran dan kemudian berpindah dan
diserap oleh larutan penyerap.
Berdasarkan Gambar 4.3 dapat diketahui bahwa pada proses penyisihan amonia
dengan menggunakan membran, efisiensi penyisihan tertinggi didapatkan pada variasi
variabel proses jumlah serat 70 dengan laju alir umpan 5 LPM yaitu sebesar 63,9 %.

Gambar 4.3 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran Variasi Laju Alir Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.1.3.2 Pengaruh Temperatur Umpan


Dari Gambar 4.4 dapat diketahui pegaruh temperatur terhadap penyisihan
amonia, Peningkatan temperatur umpan berbanding lurus dengan persen penyisihan
amonia. Pada penyisihan dengan membran, dengan menaikkan temperatur hingga
40oC, dapat memberikan penyisihan hingga 66,7%.
Kesetimbangan amonia dalam air menyebabkan adanya molekul amonia volatil
NH 3 (amonia bebas) dan ion NH 4 +.

Hanya molekul amonia volatil yang dapat

disisihkan melalui membran, sedangkan ion amonia NH 4 + tertahan dalam membran


(Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010). Dari grafik kesetimbangan amonia dapat
diketahui peningkatan temperatur akan meningkatkan jumlah molekul NH 3 yang
terkandung dalam air limbah sehingga semakin tinggi temperatur, proses penyisihan
akan semakin efektif. Kenaikan temperatur akan menyebabkan terjadinya kenaikan
secara eksponensial tekanan uap larutan umpan yang akan meningkatkan gaya
penggerak. Dalam penelitian sebelumnya diperoleh penyisihan amonia hingga 97 %
pada suhu 75 oC (Xie dkk, 2009). Sedangkan dalam penelitian ini persen penyisihan
hanya hingga 66,7 %. Beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya efisiensi ini
antara lain, perbedaan kondisi operasi suhu., pada percobaan ini variasi suhunya
adalah 20,30 dan 40

C. Kenaikan temperatur dapat meningkatkan prosentase

penyisihan karena selain meningkatkan gaya penggerak juga dapat meningkatkan


difusivitas (Hasanoaglu dkk., 2010).

Gambar 4.4 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran Variasi Temperatur Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.1.4

Proses Penyisihan dalam Membran-RHOP dan Gabungan Membran-

RHOP-Ozon
Dalam penelitian sebelumya diketahui bahwa dalam membran hanya molekul
amonia volatil yang dapat disisihkan melalui membran, sedangkan ion amonia NH 4 +
tertahan dalam membran (Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010) (Hasanoaglu dkk.,
2010). Untuk meningkatkan persen penyisihan amonia dilakukan penggabungan
proses membran dengan proses oksidasi lanjut dalam RHOP dan RHOP-Ozon.
Mekanisme penyisihan amonia dalam air limbah menggunakan gabungan membran
dan RHOP serta ozon dapat dilihat pada gambar 4.5. Dalam penelitian ini akan
dipelajari pengaruh variasi temperatur larutan umpan, pH larutan umpan dan serat
membran terhadap proses penyisihan amonia.

Gambar 4.5 Mekanisme Penyisihan Amonia dalam Membran-RHOP-Ozon

4.1.4.1 PengaruhTemperatur Umpan


Pada Gambar 4.5 dan 4.6 dapat diketahui bahwa kenaikan temperatur akan
umpan akan berbanding lurus dengan persen penyisihan amonia. Dari kedua gambar
tersebut terlihat bahwa pada temperatur 40

C menunjukkan penurunan nilai

konsentrasi amonia yang paling signifikan pada kedua proses. Dengan menggunakan
konfigurasi proses gabungan Membran dan RHOP diperoleh persen penyisihan sebesar
75,3% dan untuk gabungan proses Membran, RHOP dan Ozon diperoleh persen
penyisihan sebesar 81,3 %.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Kenaikan temperatur akan menaikkan molekul amonia volatil (NH 3 ) dalam


larutan umpan sehingga akan menaikkan kinerja penyisihan dalam membran (Xie
dkk., 2009). Peningkatan suhu umpan dapat menyebabkan meningkatnya uap air yang
terbentuk. Fasa uap air ini akan lebih mudah untuk dipecah melalui mekanisme plasma
dibanding ketika air masih dlam bentuk cairan. Dengan terbentuknya gas, ruang dan
jarak antar molekul air menjadi lebih renggang sehingga memudahkan terjadinya
tumbukan elektron. Selain itu suhu yang tinggi juga mengakibatkan laju difusi
hidrogen ke fasa gas semakin tinggi, sehingga memudahkan plasma terbentuk.
Terjadinya plasma akan mempengaruhi terbentuknya ozon, radikal hidroksil dan ion
OH- yang berperan dalam proses penyisihan amonia. Sehingga penggabungan proses
membran, RHOP dan Ozonator serta kenaikan suhu akan secara simultan berpengaruh
terhadap peningkatan penyisihan amonia.

Gambar 4.6 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi Temperatur

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.7 Persen Penyisihan dengan Membran-RHOP-Ozon Variasi Temperatur

4.1.4.2 Pengaruh pH Umpan


Kenaikan pH akan berbanding lurus dengan persen penyisihan amonia, seperti
yang terlihat pada gambar 4.7 dan 4.8. Dari kedua gambar tersebut terlihat bahwa pada
pH 12 menunjukkan persen penyisihan amonia yang paling signifikan pada kedua
proses. Dengan menggunakan konfigurasi proses gabungan Membran dan RHOP
diperoleh persen penyisihan sebesar 73,9 % dan untuk gabungan proses Membran,
RHOP dan Ozon diperoleh persen penyisihan sebesar 80,2%.
Kenaikan pH akan berpengaruh pada penyisihan amonia dalam membran. Hal
ini dipengaruhi oleh reaksi kesetimbangan amonia dalam air. Kandungan amonia
volatil (NH 3 ) dalam larutan dipengaruhi oleh konstanta keseimbangan amonia ini
sendiri. Reaksi kesetimbangan amonia dalam air adalah:
k1

NH 4 + ( aq ) + OH ( aq )
NH 3( g ) + H 2O(l )

k2

(4.19)

Konstanta kesetimbangan reksi kesetimbangan ini adalah K 1 sebesar 1,8x10-5


dan K 2 sebesar 5,6x10-10, K 2 lebih besar dibandingkan dengan K 1 sehingga reaksi
pembentukan ion amonium (NH4+) dan ion hidroksida (OH-) jauh lebih besar
32.142,86 kali dari reaksi pembentukan NH 3 dan H 2 O. Salah satu cara untuk
meningkatkan reaktan di sebelah kanan yaitu ion hidroksida adalah dengan
menambahkan NaOH (Natrium Hidroksida) pada air limbah yang akan diolah.
Bertambahnya jumlah ion OH- akan menggeser kesetimbangan ke arah kiri sehingga

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

jumlah amonia dalam larutan yang akan dipisahkan melalui kontaktor membran akan
meningkat (El-Bourawi M.S. 2007).
Pada kedua gambar 4.7 dan 4.8 kenaikan pH pada pH 12 tidak berpengaruh
signifikan terhadap proses pemisahan hal ini disebabkan karena pada pH 12 kenaikan
jumlah amonia volatil (NH 3 ) juga tidak terlalu signifikan sesuai dengan grafik
pengaruh pH pada distribusi amonia dan amonium dalam air (Frensenius, 1987).
Peningkatan pH larutan umpan amonia hingga 11 dapat meningkatkan efisiensi
penghapusan amonia secara signifikan, sementara peningkatan pH yang lebih tinggi
tidak menghasilkan peningkatan yang signifikan (Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010).

Gambar 4.8 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi pH Umpan

Gambar 4.9 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP-Ozon Variasi pH Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.1.4.3 Pengaruh Serat Membran


Peningkatan jumlah serat membran berbanding lurus dengan persen penyisihan
amonia, seperti yang terlihat pada gambar 4.9 dan 4.10. Jumlah serat membran yang
bertambah akan meningkatkan luas permukaan serat sehingga kontak langsung antara
amonia dan penyerap akan meningkat dan amonia yang dapat terserap dalam larutan
penyerap juga semakin besar.
Dari Gambar 4.9 proses gabungan membran-RHOP dengan serat membran 70
memiliki nilai %R yaitu sebesar 72,8 % dan pada Gambar 4.10 proses gabungan
membran-RHOP-ozon dengan serat membran 70 memiliki nilai %R yaitu sebesar
80,1%.
Dari keseluruhan konfigurasi proses yang divariasikan dalam penelitian ini
dapat dilihat pada Gambar 4.11 dari Gambar tersebut dapat diketahui bahwa proses
penyisihan yang paling berpengaruh adalah proses penyisihan dengan menggunakan
membran. Proses oksidasi lanjut dengan menggunakan RHOP tunggal yang digunakan
tidak berpengaruh signifikan terhadap penyisihan amonia. Karakteristik kontaktor
membran yang memang dirancang untuk menyisihkan amonia dalam jumlah yang
cukup besar, sedangkan RHOP dan ozon yang digunakan pada penelitian ini hanya
dapat digunakan untuk menyisihkan amonia dalam jumlah tertentu.

Gambar 4.10 Persen Penyisihan Amonia dengan Membran-RHOP Variasi Serat Membran

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.11 Variasi serat membran terhadap penyisihan Amonia dengan Gabungan
Membran-RHOP

Penggabungan proses absorbsi dalam membran dan proses oksidasi lanjut


menggunakan RHOP dan ozonator meningkatkan persen penyisihan menjadi 80,1 %
bila dibandingkan dengan proses membran tunggal yang hanya dapat menyisihkan
amonia sebesar 63,9 %. Proses absorbsi dalam membran dan proses oksidasi lanjut
dalam RHOP dan ozonator merupakan gabungan proses yang efisien dan dapat
digunakan

untuk

penyisihan

amonia

dalam

kapasitas

yang

besar

dengan

meminimalkan energi yang dibutuhkan dibandingkan penggunaan proses RHOP


tunggal.

Gambar 4.12 Nilai %R pada berbagai Macam Proses Selama Selang Waktu 2 Jam.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.1.5 Perbandingan dengan Referensi


Hasil penyisihan amonia untuk masing-masing konfigurasi proses kemudian
dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ashrafizadeh dan Khorasani pada
tahun 2010 dapat dilihat pada Gambar 4.12. diperoleh performa penyisihan tertinggi
hampir 100 %, sedangkan penelitian yang dilakukan hanya 63,9 % pada proses
membran, 72,8 % pada proses membran-RHOP dan 80,1 % pada proses gabungan
membran-RHOP-ozonator.

Gambar 4.13 Perbandingan Penurunan Konsentrasi Hasil Penelitian dengan Referensi


Tabel 4.1 Kondisi Operasi antara Hasil Penelitian Sekarang dengan Referensi
Kondisi Operasi

Penelitian

Penelitian oleh Ashrafizadeh

Sekarang

dan Khorasani

pH limbah

11

11

Konsentrasi awal limbah

800

800

Laju alir limbah (m/s)

0,00139

0,053

Bahan membran

PVC

Polipropilen/Polietilen

Luas permukaan membran

0,0703

1,4

(ppm)

(m2)

Dari tabel 4.1 dapat kita dua faktor yang sangat berbeda dari kondisi operasi
referensi dangan kondisi operasi penelitian adalah laju alir limbah dan luas permukaan.
Laju alir umpan yang digunakan pada penelitian ini yaitu 5 LPM (0,00139 m/s) 38 kali

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

lebih rendah jika dibandingkan dengan laju alir umpan yang digunakan pada referensi
yaitu sebesar 0,053 m/s. Semakin besar laju alir limbah maka akan meningkatkan
turbulensi, sehingga akan meningkatkan laju difusi amonia ke dalam serat membran
yang pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi penyisihan.
Pada percobaan ini total luas permukaan membran terbesar yang digunakan
hanya 0,073 m2 sedangkan total luas permukaan membran yang digunakan pada
referensi jauh lebih tinggi yaitu 1,4 m2. Luas permukaan membran yang digunakan
pada referensi 20 kali lebih besar dibandingkan dengan luas permukaan membran yang
digunakan pada percobaan ini. Perbedaan luas permukaan membran yang cukup
signifikan ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi penyisihan amonia
yang diperoleh. Semakin besar luas permukaan membran yang digunakan, maka
semakin luas permukaan kontak antara molekul amonia dengan membran sehingga
semakin banyak amonia yang dapat disisihkan, yang pada akhirnya meningkatkan
efisiensi penyisihan.
4.2 Studi Perpindahan Massa
Proses separasi dalam membran sangat dipengaruhi oleh koefisien perpindahan
massa dalam membran. Laju perpindahan massa merupakan faktor penting dalam
optimasi proses aerasi dalam pengolahan limbah cair. Sedangkan koefisien
perpindahan massa merupakan faktor yang menentukan laju perpindahan massa.
Untuk mempelajari efektifitas penyisihan amonia dilakukan studi perpindahan massa.
Studi perpindahan massa dilakukan dengan mencari nilai koefisien perpindahan massa
pada

proses

membran,

gabungan

membran

dan

RHOP

serta

gabungan

membran,RHOP dan ozon untuk masing-masing variasi kondisi operasi.


Secara sigkat mekanisme pemisahan dalam jenis membran kontaktor
didasarkan pada perpindahan massa antara dua fase, amonia menguap dari larutan
umpan, berdifusi melalui pori-pori membran , dan bereaksi dengan larutan penyerap
asam sulfat (Ashrafizadeh dkk, 2012). Permukaan (interface) fluida/fluida terbentuk
pada mulut pori membran, dan perpindahan massa akan terjadi melalui difusi pada
permukaan fluida di dalam pori membran (Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4.2.1 Pengaruh Temperatur Umpan terhadap Perpindahan Massa


Pada proses membran, gabungan membran dan RHOP serta gabungan
membran, RHOP dan ozonator kenaikan temperatur akan berbanding lurus dangan
besarnya koefisen perpindahan massa seperti pada Gambar 4.13, 4.14 dan 4.15. Dalam
larutan umpan kenaikan temperatur akan berpengaruh terhadap keberadaan molekul
amonia yang mudah menguap NH 3 . Reaksi kesetimbangan amonia dalam air bersifat
eksotermis, sehingga untuk menggeser kesetimbangan kearah pembentukan amonia,
dibutuhkan kenaikkan temperatur air limbah. Meningkatnya jumlah molekul amonia
dalam air limbah sebanding dengan meningkatnya nilai koefisien perpindahan massa
dalam membran. Suhu atau temperatur berpengaruh kepada koefisien difusi dan
viskositas, dimana dengan meningkatnya temperatur, koefisien difusi akan meningkat
dan sebaliknya viskositas akan menurun dengan meningkatnya temperatur.
Kecenderungan koefisien perpindahan massa semakin meningkat seiring
dengan bertambahnya temperatur umpan. Hal ini disebabkan semakin tinggi
temperatur umpan yang digunakan maka jumlah molekul amonia NH 3 yang
terkandung di dalam umpan akan semakin tinggi (Viljoen, 2001) dan difusivitas yang
lebih besar akan diperoleh pada temperatur yang lebih tinggi. Dalam teori difusivitas
Knudsen yakni

, dimana T adalah temperatur, dp adalah diameter

partikel dan M adalah berat molekul, Sehingga semakin tinggi temperatur akan
meningkatkan koefisien difusivitas. Semakin tinggi koefisien difusivitas maka akan
meningkatkan koefisien perpindahan massa.
Pada proses gabungan membran dan RHOP serta gabungan proses membran,
RHOP dan Ozon nilai koefisien perpindahan massa semakin tinggi bila dibandingkan
dengan proses membran tunggal. Hal ini disebabkan karena pada proses oksidasi lanjut
dalam RHOP dan atau ozon dapat mengurangi beban membran karena dalam proses
oksidasi lanjut terbentuk spesi aktif ozon dan radikal OH yang dapat mendegradasi
amonia serta ion OH- yang dapat menggeser reaksi kesetimbangan amonia dalam air.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.14 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Proses Membran

Gambar 4.15 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan MembranRHOP

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.16 Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP-Ozon

4.2.2 Pengaruh pH Umpan terhadap Perpindahan Massa


Dalam penelitian terdahulu Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010; Bhattacharya
dkk, 2012 dapat diketahui bahwa pH umpan merupakan variabel paling berpengaruh
dalam proses penyisihan amonia. Dalam larutan umpan terdapat gas amonia (NH 3 )
dan atau ion amonium (NH 4 +). Perpindahan massa amonia yang terjadi melalui
membran sangat dipengaruhi oleh reaksi kesetimbangan tersebut. Hanya molekul
amonia NH 3 yang dapat langsung disisihkan, sedangkan ion amonium (NH 4 +) harus
bereaksi terlebih dahulu dengan ion hidroksida membentuk amonia untuk kemudian
dapat disisihkan.
Seperti pembahasan sebelumnya, untuk mengoptimalkan penyisihan amonia
dalam membran dapat dilakukan dengan meningkatkan pH limbah penambahan
natrium hidroksida (NaOH) 10 M dengan volume tertentu. Kenaikan pH pada pH 12
tidak berpengaruh signifikan terhadap proses pemisahan hal ini disebabkan karena
pada pH 12 kenaikan jumlah amonia volatil (NH 3 ) juga tidak terlalu signifikan sesuai
dengan grafik pengaruh pH pada distribusi amonia dan amonium dalam air (Viljoen,
2001). Dengan meningkatnya pH larutan limbah maka akan meningkatkan jumlah
amonia dalam air limbah, sehingga larutan kaya akan molekul amonia yang pada
akhirnya akan meningkatkan efisiensi penyisihan amonia (El-Bourawi M.S. 2007) .

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Hal ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa
peningkatan pH larutan umpan amonia hingga 11 dapat meningkatkan koefisien
perpindahan massa secara signifikan, sementara peningkatan pH yang lebih tinggi
tidak menghasilkan peningkatan yang signifikan (Ashrafizadeh dan Khorasani, 2010 ;
Bhattacharya dkk, 2012).
Sedangkan pengaruh pH terhadap proses oksidasi lanjut dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Pada pH rendah (<7), ozon bereaksi sebagai molekul O 3 dengan reaksi
yang lambat dan hanya dapat mengoksidasi senyawa-senyawa tertentu
dalam air, melalui reaksi elektrofilik, nukleofilik, atau reaksi tambahan
dipolar (reaksi langsung oleh ozon) lebih mendominasi.
2. Pada pH yang tinggi (>8) secara cepat ozon akan terdekomposisi menjadi
radikal bebas hidroksil (radikal OH) yang dapat bereaksi dengan
mikropolutan organik maupun anorganik (reaksi tidak langsung oleh
radikal hidroksil). Sehingga reaksi tidak langsung oleh radikal hidroksil
lebih banyak terjadi. (Bader 1978)
Penelitian ini dilakukan pada kondisi basa sehingga terdapat dua mekanisme
reaksi yang terjadi pada oksidasi senyawa amonia, yaitu reaksi dengan molekul ozon
itu sendiri dan yang kedua adalah reaksi radikal hidroksil dengan senyawa fenol.
Radikal OH mampu memecahkan amonia di dalam liquida di karenakan mempunyai
potensial oksidasi yang cukup tinggi. Dengan adanya konsentrasi radikal yang tinggi,
maka degradasi senyawa amonia akan semakin cepat. Dalam proses oksidasi lanjut
selain terbentuk ozon dan radikal OH, pada proses selanjutnya juga akan terbentuk
ion OH- yang akan mampu menggeser reaksi kesetimbangan. Sehingga dapat
disimpulkan Reaktor Hibrida Ozon Plasma akan lebih efektif untuk mendegradasi
amonia pada pH basa.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.17 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan MembranRHOP

Gambar 4.18 Koefisien Perpindahan Massa Penyisihan Amonia pada Gabungan MembranRHOP-Ozon

Untuk mengetahui pengaruh pH umpan terhadap nilai koefisien perpindahan


massa, digunakan data proses penyisihan amonia melalui proses membran-RHOP dan
proses gabungan membran-RHOP-ozonator, dapat dilihat pada Gambar 4.17 dan 4.18.
Dari kedua gambar tersebut dapat diketahui kenaikan pH secara simultan akan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

meningkatkan koefisien perpindahan massa dalam gabungan proses absorbsi dalam


membran dan proses oksidasi lanjut dalam RHOP dan atau ozonator. Nilai koefisien
perpindahan massa pada proses gabungan membran, RHOP dan ozon lebih besar
dibandingkan dengan proses gabungan membran dan RHOP. Fenomena ini telah
dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa penambahan ozon yang diinjeksikan
kedalam RHOP akan meningkatkan pembentukan radikal OH, sehingga proses
pemisahan juga menjadi semakin efektif.
4.2.3 Pengaruh Laju Alir dan Jumlah Serat Membran terhadap Perpindahan
Massa
Pada proses penyisihan amonia menggunakan membran, nilai koefisien
perpindahan massa akan meningkatkan seiring dengan meningkatnya laju alir umpan
seperti yang ditampilkan pada Gambar 4.19. Laju alir dalam membran serat berongga
akan meningkatkan derajat turbulensi yang selanjutnya akan berpengaruh pada
koefisien perpindahan massa dan ketebalan lapisan film. Dengan naiknya derajat
turbulensi juga akan menurunkan atau menipiskan lapisan film yang merupakan salah
satu hambatan dalam proses perpindahan massa sehingga terjadi peningkatan koefisien
perpindahan massa (Bird,1960).

Gambar 4.19 Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran

Pengaruh variasi jumlah serat terhadap proses perpindahan massa dapat dilihat
dari nilai koefisien perpindahan massa yang didapat. Pada Gambar 4.20 dan 4.21

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

diperlihatkan pengaruh jumlah serat membran terhadap nilai koefisien perpindahan


massa (k).

Dari kedua gambar tersebut dapat diketahui jumlah serat berbanding

terbalik dengan koefisien perpindahan massa. Koefisien perpindahan massa turun


dengan bertambahnya jumlah serat yang terdapat di dalam kontaktor pada laju alir
umpan dan pelarut yang sama. Secara matematis koefisien perpindahan massa
berbanding terbalik dengan luas permukaan membran (Am) yang merupakan fungsi
dari jumlah serat membran dan berbanding lurus dengan diameter penampang
membran. Semakin banyak jumlah serat membran maka luas penampang membran
akan meningkat dan koefisien perpindahan massa akan menurun.

Gambar 4.20 Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran-RHOP

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 4.21 Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Gabungan
Membran-RHOP-Ozon

Jumlah serat berpengaruh terhadap nilai fraksi kekosongan, dimana jumlah


serat

berbanding

terbalik

dengan

fraksi

kekosongan

().

Fraksi

Menurunnya nilai koefisien perpindahan massa ini disebabkan semakin tinggi fraksi
kekosongan () atau semakin sedikit jumlah serat di dalam kontaktor semakin baik
kontak yang terjadi antara serat dengan air karena pergerakan serat di dalam kontaktor
juga semakin dinamis. Efek ini dikenal sebagai renewal effect yang dapat
menyebabkan peningkatan koefisien perpindahan massa di dalam kontaktor membran
serat berongga (Lipnizki dan Field, 2001). Dari sudut pandang yang lain,
ketergantungan geometri dari profil lapisan interfasa dapat juga meningkatkan
koefisien perpindahan massa dari kontaktor dengan fraksi kepadatan membran yang
lebih rendah. Kenaikan ini berbanding langsung dengan kondisi lapisan perpindahan
massa dimana lapisan tahanan perpindahan massanya jadi semakin tipis dengan
naiknya derajat kurvatur, semisal turunnya diameter luar serat dengan kondisi lainnya
yang tetap. Lebih jauh lagi efek ini deperkuat dengan serat yang bergerak di dalam
kontaktor untuk menciptakan lapisan perpindahan massa yang baru. Dengan demikian
berdasarkan teori ini koefiien perpindahan massa naik dengan turunnya fraksi
kepadatan membran di dalam kontaktor, khususnya pada laju alir air yang besar.
Berdasarkan gambar 4.22, dapat dijelaskan bahwa koefisien perpindahan massa
naik dengan naiknya laju alir umpan, dan turun dengan naiknya jumlah serat di dalam

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

kontaktor. Sehingga dapat disimpulkan adanya ketergantungan koefisien perpindahan


massa terhadap tingkat kepadatan serat di dalam kontaktor membran () dan laju alir
cairan di dalam kontaktor (Re) (Hasanoglu dkk., 2010).

(a)

(b)

(c)
Gambar 4.22 Koefisien Perpindahan Massa pada (a) Proses Membran Variasi Laju Alir
(b)Proses Gabungan Membran-RHOP dan (c)Proses Gabungan Membran-RHOP-Ozon Variasi
Jumlah Serat

Dari grafik 4.23 dapat diketahui dengan penggabungan proses membran dan
RHOP serta ozon dapat meningkatkan koefisien perpindahan massa Nilai koefisien

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

perpindahan massa pada proses gabungan membran, RHOP dan ozon lebih besar
dibandingkan dengan proses gabungan membran dan RHOP. Fenomena ini telah
dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa penambahan ozon yang diinjeksikan
kedalam RHOP akan meningkatkan pembentukan radikal OH, sehingga proses
pemisahan juga menjadi semakin efektif.
Selain itu juga dapat dilihat bahwa pengaruh kenaikan suhu lebih signifikan
pada konfigurasi proses gabungan membran dan RHOP, serta gabungan membran,
RHOP dan ozonator dibandingkan dengan proses tunggal membran. Hal ini seperti
dijelaskan pada penjelasan sebelumnya kenaikan suhu akan meningkatkan jumlah
NH 3 dalam umpan dan memudahkan terjadinya tumbukan elektron, sehingga
memudahkan plasma terbentuk. Terjadinya plasma akan mempengaruhi terbentuknya
ozon, radikal OH dan ion OH- yang berperan dalam proses penyisihan amonia.
Sehingga penggabungan proses membran, RHOP dan Ozonator serta kenaikan suhu
akan secara simultan berpengaruh terhadap peningkatan penyisihan amonia.

Gambar 4.23. Perbandingan Konfigurasi Proses Membran, Membran-RHOP dan MembranRHOP-Ozon pada kondisi operasi suhu 300C dan pada kondisi operasi suhu 400C

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat diperoleh


beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Penyisihan amonia dengan proses tunggal membran menggunakan larutan penyerap
asam sulfat dapat menyisihkan amonia sebesar 63,9 %.
2. Konfigurasi gabungan absorbsi dalam membran dan proses oksidasi lanjut dalam
RHOP dapat meningkatkan penyisihan amonia menjadi 81,3 %, dengan kondisi
operasi optimum dalam penelitian ini diperoleh pada temperatur 400C, pH 11 dan
jumlah serat 70.
3. Sistem RHOP yang telah dirancang terbukti dapat meningkatkan penyisihan
amonia dalam membran dengan waktu sirkulasi tertentu meskipun masih
membutuhkan beberapa penyempurnaan.
Adapun saran untuk penelitian selanjutnya untuk meningkatkan efektivitas
penyisihan amonia menggunakan proses gabungan membran-RHOP-ozonator dapat
dilakukan dengan cara:
1. Mengunakan reaktor plasma yang memiliki kapasitas lebih besar dan membran
serat berongga dengan jumlah serat yang semakin banyak.
2. Memperpanjang waktu sirkulasi yaitu lebih dari 2 jam.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

DAFTAR PUSTAKA
Ashrafizadeh, S.N. Khorasani, Z. (2010), Ammonia removal from aqueous solutions
using hollow-fiber membrane contactors', Chemical Engineering Journal,
162 (1), 242-49.
Ashrafizadeh, S.N. Mashallah Rezakazemi, Saeed Shirazian (2012), Simulation of
ammonia removal from industrial wastewater streams by means of a hollowfiber membrane contactor, Desalination Journal 285, 383-392
Alnaizy and Akgerman (2000), Advanced Oxidation of Phenolic Coumpound.
Ban Ji-Young, Hyun II Kim, Sui-Jin Choung, Harim Jeong, Misook Kang (2008),
NH 3 removal using the dielectric barrier discharge plasma V-TiO 2
photocatalytic hybrid system, Korean J. Chem. Eng, 25 (4), 780-860.
Beauty, D., (2010 ), Pengaruh pH pada Proses Penyisihan Amonia dari Air Limbah
melalui Kontaktor Membran Serat Berongga menggunakan Larutan Penyerap
Bahan Alami . Depok
Bhattacharya, Prashant K. dkk., (2012) Model prediction and experimental studies on
the removal of dissolved NH3 from water applying hollow fiber membrane
contactor, Journal of Membrane Science, 390 391.
Bonmatati, August dan Flotats, Xavier (2003), Air stripping of ammonia from pig
slurry: characterisation and feasibility as a pre- or post-treatment to
mesophilic anaerobic digestion, Waste Management, 23(3), 261-272.
Chandra, D. (ed.) (2009), Ammonia removal from aqueous solutions using hollow fiber
membrane using natural hot spring water (Departement of Chemical
Engineering University of Indonesia).
Cui, Z.F. Muralidhara, H.S. (2010), Membrane Technology: A Practical Guide to
Membrane Technology and Applications in Food and Bioprocessing
(Burlington: Elsevier).
Ding, Z., Liu, Liying Li, Zhaoman, Ma, Runyu, Yang, Zurong, (2006), Experimental
study of ammonia removal from water by membrane distillation (MD): The
comparison of three configurations, Journal of Membrane Science, 286(1-2),
93-103.
Drioli, E., Criscuoli, A., and Curcio, E. (2006), Membrane Contactors:
Fundamentals, Applications, and Potentialities (11; Weinheim: WileyVCH).

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

El-Bourawi, M. S., Khayet, dkk., (2007), Application of vacuum membrane


distillation for ammonia removal, Journal of Membrane Science, 301 (1-2),
200-209.
Frensenius , W.,et.al.(1987). Water Analysis. Deutsche Gessellschaft Fur Eschborn.
F. Lipnizki, R.W. Field, (2001),Mass transfer performance for hollow fibre modules
with shell-side axial feed flow: using an engineering approach to develop a
framework, Journal of Membrane Science 193, hal 195-208
Gabelman, A. and S.-T. Hwang., (1999), Hollow fiber membrane contactors, Journal of
Membrane Science, 159 (1-2), 61-106.
Gerrity, D., B. S. Stanford, dkk., (2009), An evaluation of a pilot-scale nonthermal
plasma advanced oxidation process for trace organic compound degradation,
Water Research, 30, 1-12.
Guo, X., Zhang, Z.,Fang, L.,Su, L. (2009), Study on ultrafiltration for surface water
by a polyvinylchloride hollow fiber membrane, Desalination, 238 (13), 18391.
Hasanouglu, A., Romero, J., Perez, B., Plaza, A., (2010), Ammonia removal from
wastewater streams through membrane contactors: experimental and
theoretical analysis of operation parameters and configurations, Chemical
Engineering Journal, 160(2), 530-537.
Hikmawan, Teguh.,(2009) Proses Pengolahan Air yang Mengandung Tembaga,
Timbal dan Amonia dengan Proses Ozonasi Gelembung Mikro dan Filtrasi
Membran, Skripsi (52-55), Departemen Teknik Kimia, Universitas
Indonesia. Indonesia
Horan, N.J. (ed.), (1990), Biological treatment systems theory and operation
(England: John Wiley and soons).
H. Huang, L. Tang., (2007), Treatment of organic waste using thermal plasma pyrolysis
technology, Energy Conversion and Management, 48, 1331-1337.
Irawan, F., (2010). Makalah Pengetahuan Bahan Polivinil Klorida.
J. Mallevialle, P. E. O., M. R. Wiesner. (1996). Water Treatment Membrane Process.
Kartohardjono, Sutrasno.(2008). Penggunaan Kontaktor Membran Serat Berlubang
untuk Proses Penyerapan Gas CO 2 oleh Pelarut Air dan Larutan Encer
NaOH. Journal Teknologi, 2.
Kartohardjono, S., Putri, M. N., dan Bismo, S., (2011), Combination of ozonation and
absorption through membrane processes to remove ammonia form

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

wastewater, In The International Seminar on Chemical Engineering Soehadi


Reksowardojo (Bandung: Departement of Chemical Engineering Universitas
Indonesia).
Khulbe, K.C. Feng, C.Y. Matsuura, T. (2008), Synthetic Polymeric Membranes
Characterization by Atomic Force Microscopy (London: Springer Verlag
Berlin Heidelberg).
Krupta, S. V., (2003), Effects of atmospheric ammonia (NH 3 ) on terrestrial
vegetation: a review, Enviromental Pollution, 124, 179-221.
L, Xia.,Li Huang , Xiaohong Shu, dkk. (2008), Removal of Ammonia from gas
streams with dielectric barrier discharge plasmas, Journal of Hazardous
Materials 152, 113-119.
Li Huang., Liang Li.,Wenbo Dong.,Yan Liu.,Huiqi Hou., (2008), Removal of
ammonia by OH radical in aqueous phase, Environ. Sci. Technol. 42, 8070
8075.
Locke, B. R., M. Sato, P. Sunka, et.al., (2006), Electrohydraulic Discharge and
Nonthermal Plasma for Water Treatment, Ind. Eng. Chem. Res., 45, 882905.
Lukes,Petr.,& Locke, Bruce.,R (2005), Plasmachemical oxidation processes in a
hybrid gasliquid electrical discharge reactor, J. Phys. D: Appl. Phys.
Putri, M. H., (2011 ), Proses Hibrid Ozonasi dan Membran untuk Penyisihan Amonia
dari Air Limbah . Depok
Metcalf and Eddy, (1991), Wastewater engineering treatment, disposal,and reuse
3th, (Singapore: McGraw-Hill,Inc).
Moustakas, dkk (2005), Demontration plasma gasification-vitrification system for
effective hazardous waste treatment, Journal of Hazardous Materials, 123,
120-126.
Mulder, M. (ed.), (2000), Basic principles of membrane technology, (Netherland:
Kluwer Academic Publisher).
Munter, Rein, (2001), Advanced Oxidation Processes Current Status And
Prospects. Department Of Chemical Engineering: Tallinn Technical
University.
Norddahl, B., Horn, V. G., Larsson, M., du Preez, J. H.,Christensen, K., (2006),
A Membrane Contactor for Ammonia Stripping, Pilot Scale Experience and
Modeling. Desalination, 199 (1-3), 172-174.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

OR-OSHA (2009), Industrial Hygiene Ammonia (NH 3 ), (SS-416; Salem: SAIF


Corporation).
Peinemann, K-V. Nunes, S.P. (2006), Membrane Technology in the Chemical
Industry (2 edn.; Weinheim: Wiley-VCH).
Roth, J.R. (ed.), (2001), Aplications to Nonthermal Plasma Processing, (Industrial
Plasma Engineering 2: IOP Publish Philadelphia).
Semmens, M. J., D. M. Foster, dkk. (1990), Ammonia removal from water using
microporous hollow fibers Journal of Membrane Science, 51 (1-2), 127140.
Schlichter B., M. V., Chemiel H. (2003), Comparative characterisation of different
commercial UF membranes for dringking water production, Journal Water
Supply Res. Technology.
Treybal, Robert. E. (1981). Mass-Transfer Operations. 3rd edition. Penerbit McGrawHill inc. Singapore.

Viljoen, Hendrik J. dkk., (2001), Removal of Ammonia from Aqueous Systems in a


Semibatch Reactor, Department of Chemical Engineering, University of
Nebraska, 3361-3368,
Wu, J., dan Chen, V., (2000), Shell-side mass transfer performance of randomly packed
hollow fiber modules, Journal of Membrane Science 172, 59-74.
Xie, Z., Duong, Tuan, Hoang, Manh, Nguyen, Cuong, Bolto, & Brian., (2009),
Ammonia removal by sweep gas membrane distillation, Water Research, 43
(6), 1693-1699.
Xu, J and Xu, Z-L (2002), Poly(vinyl chloride) (PVC) hollow fiber ultrafiltration
membranes prepared from PVC/additives/solvent, Journal of Membrane
Science, 208 (12), 203-12.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

LAMPIRAN 1
DATA PENGAMATAN

1.1 Preparasi Larutan Amonium Sulfat


Larutan amonia 800 ppm sebagai larutan umpan dibuat dari amonium
sulfat sebanyak 5 liter, dengan perhitungan sebagai berikut:
Berat molekul amonia : 17
Berat molekul amonium sulfat : 132
Gram (NH 4 ) 2 SO 4 =
Gram (NH 4 ) 2 SO 4 =
Gram (NH 4 ) 2 SO 4 = 15,5294 gram
Larutan ammonium sulfat dibuat dengan melarutkan 15,5294 gram
(NH 4 ) 2 SO 4 dalam 5 liter aquades. Larutan ini memiliki pH 6, untuk mencapai
pH basa 11 perlu ditambahkan larutan NaOH 10 M, sekitar 0,5 ml (10-11 tetes).
Beberapa asumsi yang digunakan:
Volume (NH 4 ) 2 SO 4 tidak signifikan terhadap keseluruhan volume.
Penentuan pH awal sebesar 6 menggunakan pH meter, pH meter
dianggap dianggap telah mendeteksi seluruh ion H+ dalam larutan.
NaOH yang digunakan adalah 100% murni.
Reaksi yang berlangsung adalah reaksi volumetrik, tidak terjadi
penyusutan ataupun ekspansi volume akibat pengaruh intermolecular
forces.
1.2 Preparasi Larutan Penyerap Asam Sulfat
Air aquades dengan volume sebesar 3 liter memiliki pH

6,8. Air

aquades ditambahkan dengan asam sulfat (H 2 SO 4 ) 18 M (96% v/v). Untuk


membuat pH larutan penyerap sesuai dengan variabel percobaan pH 1 adalah
dengan cara :
1. pH dari air aquades diperoleh dari observasi menggunakan pH meter,
larutan asam sulfat ditambahkan ke dalam aquades hingga mencapai pH

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

yang diinginkan artinya pH meter sudah mendeteksi total mol asam dalam
volume larutan.
2. Reaksi yang terjadi adalah reaksi volumetrik, tidak terjadi penyusutan
ataupun ekspansi volume akibat pengaruh intermolecular forces.
3. Untuk membuat larutan asam sulfat pH 1 ditambahkan larutan asam sulfat
+ 30 tetes. Jika menggunakan pipet tetes yang baik, 1 mL = 20 tetes.
1.3 Data Penyisihan Amonia
Data pengamatan perubahan konsentrasi amonia diperoleh dari proses
penyisihan amonia menggunakan berbagai variasi proses, yaitu: proses
membran, RHOP, RHOP-ozon, membran-RHOP, membran-RHOP-ozon.
Data pengamatan perubahan konsentrasi dari proses penyisihan amonia
diperoleh dengan , sebagai berikut:
- Laju sirkulasi air limbah dengan variasi 3 Lpm, 4 Lpm, dan 5 Lpm.
- Jumlah serat membran berongga dengan variasi 50, 60, dan 70.
- Temperatur umpan 20oC, 30oC, dan 40oC.
- pH larutan umpan (amonia) dengan variasi pH 10, 11, dan 12.
1.3.1

Data Penyisihan Amonia dengan Membran

1.3.1.1 Variasi Laju Alir Umpan


a) Variasi Laju Alir Umpan 3 Lpm
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15, 5294 gram

pH umpan setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,04

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah Serat Membran

= 70

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.54
5.82
5.13
4.59
4.06
3.65
3.18

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
795.264
1.216
100
707.712
1.216
100
623.808
1.216
100
558.144
1.216
100
493.696
1.216
100
443.84
1.216
100
386.688

b) Variasi Laju Alir Umpan 4 Lpm


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15, 5294 gram

pH umpan setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah Serat Membran

= 70

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.63
4.85
4.22
3.59
3.12
2.79

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
684.608
1.216
100
589.76
1.216
100
513.152
1.216
100
436.544
1.216
100
379.392
1.216
100
339.264

c) Variasi Laju Alir Umpan 5 Lpm


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15, 5294 gram

pH umpan setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah Serat Membran

= 70

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.48
4.63
3.92
3.32
2.76
2.37

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
666.368
1.216
100
563.008
1.216
100
476.672
1.216
100
403.712
1.216
100
335.616
1.216
100
288.192

1.3.1.2 Variasi Temperatur Umpan


a) Variasi Suhu Umpan 20oC
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15, 5294 gram

pH umpan setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Laju Alir umpan

= 5 Lpm

Jumlah Serat Membran


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.62
4.95
4.28
3.89
3.49
2.78

= 70
Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
683.392
1.216
100
601.92
1.216
100
520.448
1.216
100
473.024
1.216
100
424.384
1.216
100
338.048

b) Variasi Suhu Umpan 30oC


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15, 5294 gram

pH umpan setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,05

Laju Alir umpan

= 5 Lpm

Jumlah Serat Membran

= 70

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.48
4.63
3.92
3.32
2.76
2.37

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
666.368
1.216
100
563.008
1.216
100
476.672
1.216
100
403.712
1.216
100
335.616
1.216
100
288.192

c) Variasi Suhu Umpan 40oC


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang
pH umpan setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Laju Alir umpan

= 5 Lpm

Jumlah Serat Membran

= 70

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

1.3.2

= 15, 5294 gram

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.55
5.39
4.55
3.91
3.22
2.62
2.18

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
796.48
1.216
100
655.424
1.216
100
553.28
1.216
100
475.456
1.216
100
391.552
1.216
100
318.592
1.216
100
265.088

Data Penyisihan Amonia dengan RHOP

a) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 10
= 15,5296 gram

Temperatur

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca (ppm)
6.56
6.3
6.24
6.19
6.11
6.06
5.93

Larutan Umpan
faktor
faktor
koreksi pengenceran
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100

b) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

Konsentrasi
aktual (ppm)
797.696
766.08
758.784
752.704
742.976
736.896
721.088

= 11
= 15,5296 gram

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca (ppm)
6.54
6.24
6.18
6.1
6.05
5.98
5.82

Larutan Umpan
faktor
faktor
koreksi pengenceran
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100

c) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

Konsentrasi
aktual (ppm)
795.264
758.784
751.488
741.76
735.68
727.168
707.712

= 12
= 15,5296 gram

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

1.3.3

Konsentrasi
terbaca (ppm)
6.58
6.21
6.18
6.11
6.05
5.95
5.81

Larutan Umpan
faktor
faktor
koreksi pengenceran
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100

Konsentrasi
aktual (ppm)
800.128
755.136
751.488
742.976
735.68
723.52
706.496

Data Penyisihan Amonia dengan Gabungan RHOP & Ozon

a) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 10
= 15,5296 gram

Temperatur umpan

= 30oC

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Tegangan plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca (ppm)
6.57
6.28
6.14
6.06
5.88
5.75
5.53

Larutan Umpan
faktor
faktor
koreksi pengenceran
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100

a) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang
Temperatur umpan

Konsentrasi
aktual (ppm)
798.912
763.648
746.624
736.896
715.008
699.2
672.448

= 11
= 15,5296 gram
= 30oC

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,04

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Tegangan plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca (ppm)
6.6
6.29
6.15
5.99
5.82
5.68
5.47

Larutan Umpan
faktor
faktor
koreksi pengenceran
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100

b) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

Konsentrasi
aktual (ppm)
802.56
764.864
747.84
728.384
707.712
690.688
665.152

= 12
= 15,5296 gram

Temperatur umpan

= 30oC

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Laju alir umpan

= 5 Lpm

Tegangan plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

1.3.4

Konsentrasi
terbaca (ppm)
6.57
6.21
6.07
5.91
5.76
5.53
5.37

Larutan Umpan
faktor
faktor
koreksi pengenceran
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100
1.216
100

Konsentrasi
aktual (ppm)
798.912
755.136
738.112
718.656
700.416
672.448
652.992

Data Penyisihan Amonia dengan Gabungan Membran & RHOP

1.3.4.1 Variasi Temperatur Umpan Amonia


a) Temperatur umpan 20oC
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.44
4.68
3.72
3.27
2.85
2.13

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
661.504
1.216
100
569.088
1.216
100
452.352
1.216
100
397.632
1.216
100
346.56
1.216
100
259.008

b) Temperatur umpan 30oC


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang
pH limbah setelah penambahan NaOH

= 15,5296 gram
= 11

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.29
4.26
3.43
2.76
2.22
1.79

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
643.264
1.216
100
518.016
1.216
100
417.088
1.216
100
335.616
1.216
100
269.952
1.216
100
217.664

c) Temperatur umpan 40oC


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

= 225 mA

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.18
3.98
3.14
2.37
1.97
1.62

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
629.888
1.216
100
483.968
1.216
100
381.824
1.216
100
288.192
1.216
100
239.552
1.216
100
196.992

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

1.3.4.2 Variasi pH umpan Amonia


a) pH limbah setelah penambahan NaOH

= 10

Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah serat membran

= 70 serat

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.58
4.86
3.84
3.32
2.86
2.25

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
678.528
1.216
100
590.976
1.216
100
466.944
1.216
100
403.712
1.216
100
347.776
1.216
100
273.6

b) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 11
= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,00

Temperatur

= 30oC

Jumlah serat membran

= 70 serat

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

c)

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.29
4.26
3.43
2.76
2.22
1.79

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
643.264
1.216
100
518.016
1.216
100
417.088
1.216
100
335.616
1.216
100
269.952
1.216
100
217.664

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 12

Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Temperatur

= 30oC

Jumlah serat membran

= 70 serat

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.58
5.31
4.37
3.32
2.64
2.19
1.72

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
800.128
1.216
100
645.696
1.216
100
531.392
1.216
100
403.712
1.216
100
321.024
1.216
100
266.304
1.216
100
209.152

1.3.4.3 Variasi Serat Membran


a) Variasi Serat Membran 50
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,04

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.62
4.81
4.11
3.52
3.01
2.58

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
683.392
1.216
100
584.896
1.216
100
499.776
1.216
100
428.032
1.216
100
366.016
1.216
100
313.728

b) Variasi Serat Membran 60


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.58
5.46
4.53
3.76
3.12
2.59
2.15

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
800.128
1.216
100
663.936
1.216
100
550.848
1.216
100
457.216
1.216
100
379.392
1.216
100
314.944
1.216
100
261.44

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

c) Variasi Serat Membran 70


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.29
4.26
3.43
2.76
2.22
1.79

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
643.264
1.216
100
518.016
1.216
100
417.088
1.216
100
335.616
1.216
100
269.952
1.216
100
217.664

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

1.3.5

Data Penyisihan Amonia dengan Gabungan Kontaktor Membran


dengan RHOP & Ozonator

1.3.5.1 Variasi Temperatur Umpan Amonia


a) Temperatur umpan 20oC
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.29
4.12
3.39
2.82
2.17
1.56

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
643.264
1.216
100
500.992
1.216
100
412.224
1.216
100
342.912
1.216
100
263.872
1.216
100
189.696

b) Temperatur umpan 30oC


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.58
5.04
3.96
3.13
2.41
1.89
1.31

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
800.128
1.216
100
612.864
1.216
100
481.536
1.216
100
380.608
1.216
100
293.056
1.216
100
229.824
1.216
100
159.296

c) Temperatur umpan 40oC


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

=1

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.07
3.83
2.98
2.19
1.71
1.23

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
616.512
1.216
100
465.728
1.216
100
362.368
1.216
100
266.304
1.216
100
207.936
1.216
100
149.568

1.3.5.2 Variasi pH Umpan Amonia


a) pH limbah setelah penambahan NaOH
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 10
= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,03

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.36
4.27
3.54
2.99
2.63
1.88

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
651.776
1.216
100
519.232
1.216
100
430.464
1.216
100
363.584
1.216
100
319.808
1.216
100
228.608

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 11
= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.58
5.04
3.96
3.13
2.41
1.89
1.31

= 150 L/h
Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
800.128
1.216
100
612.864
1.216
100
481.536
1.216
100
380.608
1.216
100
293.056
1.216
100
229.824
1.216
100
159.296

c) pH limbah setelah penambahan NaOH


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 12
= 15,5296 gram

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,04

Temperatur umpan

= 30oC

Jumlah serat membran

= 70

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.58
5.01
3.83
2.92
2.27
1.88
1.3

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
800.128
1.216
100
609.216
1.216
100
465.728
1.216
100
355.072
1.216
100
276.032
1.216
100
228.608
1.216
100
158.08

1.3.5.3 Variasi Serat Membran


a) Variasi Serat Membran 50
Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,02

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.57
5.33
4.26
3.61
2.95
2.59
2.01

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
798.912
1.216
100
648.128
1.216
100
518.016
1.216
100
438.976
1.216
100
358.72
1.216
100
314.944
1.216
100
244.416

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b) Variasi Serat Membran 60


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

=1

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.56
5.15
4.04
3.31
2.62
2.25
1.65

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
797.696
1.216
100
626.24
1.216
100
491.264
1.216
100
402.496
1.216
100
318.592
1.216
100
273.6
1.216
100
200.64

c) Variasi Serat Membran 70


Berat (NH 4 ) 2 SO 4 tertimbang

= 15,5296 gram

pH limbah setelah penambahan NaOH

= 11

pH larutan penyerap asam sulfat

= 1,04

Temperatur umpan

= 30oC

Laju alir umpan

= 0,2 Gpm

Laju alir udara

= 12,5 Lpm

Tegangan Plasma

= 9300 V

Arus Plasma

= 225 mA

Tegangan Ozon

= 10100 V

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Arus Ozon

= 400 mA

Laju Alir Ozon

= 150 L/h

Konsentrasi
terbaca
(ppm)
6.58
5.04
3.96
3.13
2.41
1.89
1.31

t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

1.3.6

Larutan Umpan
faktor
faktor

Konsentrasi
aktual
koreksi pengenceran
(ppm)
1.216
100
800.128
1.216
100
612.864
1.216
100
481.536
1.216
100
380.608
1.216
100
293.056
1.216
100
229.824
1.216
100
159.296

Uji Produktivitas Ozon


Reaktor hibrida ozon-plasma dan ozonator yang digunakan perlu dihitung

produktivitasnya agar diketahui besarnya ozon yang dihasilkan.


1.3.6.1 Preparasi

Bahan-bahan

yang

Dibutuhkan

untuk

Pengujian

Produktivitas Ozonator
Proses pembuatan bahan-bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
a. Buat larutan KI 0,1 N dengan cara melarutkan 20 g KI ke dalam 1000
mL aquades
b. Larutkan 0,62 g Na 2 S 2 O 3 .5H 2 O ke dalam 1000 mL aquades sehingga
didapat larutan Na 2 S 2 O 3 .5H 2 O 0,005 N
c. Encerkan larutan H 2 SO 4 pekat (18 N) sebanyak 14 mL ke dalam aquades
sampai didapat larutan H 2 SO 4 2 N sebanyak 250 mL
d. Larutkan 1 g padatan starch ke dalam aquades hingga 100 mL, panaskan
hingga mendidih, lalu dinginkan sehingga didapat larutan amilum 1 %

1.3.6.2 Pengukuran konsentrasi ozon yang dihasilkan oleh ozonator


menggunakan metode Iodometri.
Metode ini berdasarkan reaktivitas ozon terhadap larutan KI, dengan
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Disiapkan 2 buah erlenmeyer 500 mL dan gas washing bubbler
(bubbler) yang terdiri dari hulu dan hilir. Ditambahkan 200 mL KI

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2% ke dalam masing-masing erlenmeyer tersebut. Tutup dengan gas


washing bubbler (bubbler) dan disambungkan dengan selang ke bagian
ozonator.
2. Dinyalakan ozonator dan stopwatch, kemudian diamati sampai larutan
manghasilkan warna kuning baik di hulu maupun hilir.
3. Apabila sudah terbentuk warna kuning, selanjutnya mematikan
ozonator dan stopwatch.

Catat waktu yang dibutuhkan sampai

terjadinya perubahan warna menjadi kuning.


4. Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan H2SO4 2N dan
dititrasi dengan Na2S2O3 0,005 N.

Titrasi dilakukan sampai warna

larutan kuning menjadi sedikit kuning muda.

Kemudian ditambahkan

dengan indikator amilum sehingga larutan menjadi warna biru,


lanjutkan titrasi sampai larutan tidak berwarna. Titrasi dilakukan untuk
sampel hulu dan hilir.
5. Dicatat volume titrasi yang diperoleh kemudian lakukan perhitungan.
Pengujian ini dilakukan duplo pada tegangan regulator 9300 Volt
dengan
laju udara 150 L/jam.
Reaksi antara ozon dengan KI :
(1)
Pembebasan Iod oleh Na 2 S 2 O 3 .5H 2 O :
(2)

(3)

Dari reaksi di atas dapat kita hitung produktivitas ozon pada plasma dan pada
reaktor hibrida plasma-ozon. Berikut ini uraian perhitungan produktivitas ozon:

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

1.3.6.3 Uji Produktivitas Ozon pada RHOP


t = 1 jam 2 menit = 3720 detik
volume larutan Natrium Tio Sulfat
mol ozon

= 0,3 mL

= x mol Na2S2O3.5H2O
= x (0,005 mol x 0,0003 L)
= 7,5 x 10-7 mol

WO 3

= mol O 3 x BM O 3
= 7,5 x 10-7 mol x 48 gr/mol
= 3,6 x 10-5 gram = 3x 10-2 mg

Produktivitas ozon

=
=
= 0,029 mg/hr

1.3.6.4 Uji Produktivitas Ozon pada RHOP digabung dengan Ozonator


t= 6 detik
volume larutan Natrium Tio Sulfat
mol ozon

= 0,8 mL

= x mol Na2S2O3.5H2O
= x (0,005 mol x 0,0008 L)
= 2 x 10-6 mol

WO 3

= mol O 3 x BM O 3
= 2 x 10-6mol x 48 gr/mol
= 9,6 x 10-5 gram = 9,6 x 10-2 mg

Produktivitas ozon

=
=
= 0,0576 mg/hr

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

1.3.6.5 Perhitungan Energi dan Biaya Listrik Skala Laboratorium


a. Seperangkat Membran
Pompa umpan membran
Daya (kW)

Waktu sirkulasi (jam)

Energi (kWh)

0,023

0,046

Pompa peristaltik untuk larutan penyerap


Daya (kW)

Waktu sirkulasi (jam)

Energi (kWh)

0,008

0,016

b. Seperangkat Reaktor Hibrida Ozon Plasma (RHOP)


Pompa RHOP
Daya (kW)

Waktu sirkulasi (jam)

Energi (kWh)

0,008

0,016

Reaktor Hibrida Ozon Plasma (RHOP)


Daya (kW)

Waktu sirkulasi (jam)

Energi (kWh)

0,021

0,042

Daya (kW)

Waktu sirkulasi (jam)

Energi (kWh)

0,421

0,5 (untuk kebutuhan


sirkulasi 2 jam, pengisian
kompressor digunakan
dalam waktu 30 menit)

0,211

Daya (kW)

Waktu sirkulasi (jam)

Energi (kWh)

0,046

0,092

Kompresor

Ozon

Jadi total energi yang dibutuhkan untuk keseluruhan proses dengan waktu
sirkulasi 2 jam adalah 0,423 kWh. Biaya listrik dihitung berdasarkan tarif dasar
listrik untuk industri adalah sebesar Rp 796,- per kWh, maka:
Biaya listrik total = Rp 796,-

0,423 = Rp 337,-

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

LAMPIRAN 2
PENGOLAHAN DATA
2.1 Perhitungan Efisiensi Penyisihan Amonia (%R)
Efisiensi penyisihan amonia dinyatakan oleh nilai % rejeksi (%R) yang
ditentukan menggunakan persamaan:

Dimana,
C0

= konsentrasi awal amonia pada larutan umpan (mg/L)

Ct

= konsentrasi amonia pada waktu t

Contoh perhitungan efisiensi penyisihan amonia menggunakan membran serat 40


dengan laju alir 3 Lpm pada selama 7200 detik:

2.1.1 Efisiensi Penyisihan Amonia Menggunakan Proses Membran


2.1.1.1 Variasi Laju Alir Umpan
a) Laju Alir Umpan 3 Lpm
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
795.264
707.712
623.808
558.144
493.696
443.84
386.688

%R
0
0.110091743
0.21559633
0.298165138
0.379204893
0.441896024
0.513761468

b) Laju Alir Umpan 4 Lpm


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
684.608
589.76
513.152
436.544
379.392
339.264

%R
0
0.143074581
0.261796043
0.357686454
0.453576865
0.525114155
0.575342466

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

c) Laju Alir Umpan 5 Lpm


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
666.368
563.008
476.672
403.712
335.616
288.192

%R
0
0.164634146
0.294207317
0.402439024
0.493902439
0.579268293
0.638719512

Gambar 1. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran dengan
Vaariasi Laju Alir Umpan

2.1.1.2 Variasi Temperatur Umpan


a) Temperatur 200C
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
683.392
601.92
520.448
473.024
424.384
338.048

%R
0
0.143292683
0.245426829
0.347560976
0.407012195
0.467987805
0.576219512

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b) Temperatur 300C
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
666.368
563.008
476.672
403.712
335.616
288.192

%R
0
0.164634146
0.294207317
0.402439024
0.493902439
0.579268293
0.638719512

Konsentrasi
NH3 (ppm)
796.48
655.424
553.28
475.456
391.552
318.592
265.088

%R
0
0.177099237
0.305343511
0.403053435
0.508396947
0.6
0.667175573

c) Temperatur 400C
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Gambar 2. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran dengan
Variasi Temperatur Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.1.2 Efisiensi Penyisihan Amonia Menggunakan Proses RHOP


a) pH Umpan 10
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
766.080
758.784
752.704
742.976
736.896
721.088

%R
0
0.040
0.049
0.056
0.069
0.076
0.096

Konsentrasi
NH3 (ppm)
795.264
758.784
751.488
741.760
735.680
727.168
707.712

%R
0
0.046
0.055
0.067
0.075
0.086
0.110

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
755.136
751.488
742.976
735.68
723.52
706.496

%R
0.000
0.056
0.061
0.071
0.081
0.096
0.117

b) pH Umpan 11
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

c) pH Umpan 12
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 3. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan RHOP

2.1.3 Efisiensi Penyisihan Amonia Menggunakan Proses RHOP-Ozon


a) pH Umpan 10
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
763.648
746.624
736.896
715.008
699.200
672.448

%R
0.0000
0.0441
0.0654
0.0776
0.1050
0.1248
0.1583

Konsentrasi
NH3 (ppm)
802.560
764.864
747.840
728.384
707.712
690.688
665.152

%R
0.0000
0.0470
0.0682
0.0924
0.1182
0.1394
0.1712

b) pH Umpan 11
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

c) pH Umpan 12
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
755.136
738.112
718.656
700.416
672.448
652.992

%R
0.0000
0.0548
0.0761
0.1005
0.1233
0.1583
0.1826

Gambar 4. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan RHOP-Ozon

2.1.4 Efisiensi Penyisihan Amonia Menggunakan Proses Membran-RHOP


2.1.4.1 Variasi Temperatur Umpan
a) Temperatur 20oC
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
661.504
569.088
452.352
397.632
346.56
259.008

%R
0
0.170731707
0.286585366
0.432926829
0.50152439
0.56554878
0.675304878

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b) Temperatur 30oC
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
643.264
518.016
417.088
335.616
269.952
217.664

%R
0
0.194824962
0.351598174
0.477929985
0.579908676
0.662100457
0.727549467

c) Temperatur 40oC
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
629.888
483.968
381.824
288.192
239.552
196.992

%R
0
0.210365854
0.393292683
0.521341463
0.638719512
0.699695122
0.75304878

Gambar 5. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran RHOP
dengan Variasi Temperatur

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.1.4.2 Variasi pH Umpan


a) pH Umpan 10
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
678.528
590.976
466.944
403.712
347.776
273.6

%R
0
0.150684932
0.260273973
0.415525114
0.494672755
0.564687976
0.657534247

b) pH Umpan 11
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
643.264
518.016
417.088
335.616
269.952
217.664

%R
0
0.194824962
0.351598174
0.477929985
0.579908676
0.662100457
0.727549467

c) pH Umpan 12
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
645.696
531.392
403.712
321.024
266.304
209.152

%R
0
0.193009119
0.335866261
0.495440729
0.598784195
0.667173252
0.738601824

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 6. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran RHOP
dengan Variasi pH

2.1.4.3 Variasi Jumlah Serat Membran


a) Variasi Serat Membran 50
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
683.392
584.896
499.776
428.032
366.016
313.728

%R
0
0.144596651
0.267884323
0.374429224
0.464231355
0.541856925
0.607305936

b) Variasi Serat Membran 60


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
663.936
550.848
457.216
379.392
314.944
261.44

%R
0
0.170212766
0.311550152
0.428571429
0.525835866
0.606382979
0.67325228

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

c) Variasi Serat Membran 70


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
643.264
518.016
417.088
335.616
269.952
217.664

%R
0
0.194824962
0.351598174
0.477929985
0.579908676
0.662100457
0.727549467

Gambar 7. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran RHOP
dengan Variasi Serat Membran

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.1.5 Efisiensi Penyisihan Amonia Menggunakan Proses Membran-RHOPOzon


2.1.5.1 Variasi Temperatur Umpan
a) Temperatur 20oC
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
643.264
500.992
412.224
342.912
263.872
189.696

%R
0
0.193597561
0.37195122
0.483231707
0.570121951
0.669207317
0.762195122

b) Temperatur 30oC
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
612.864
481.536
380.608
293.056
229.824
159.296

%R
0
0.234042553
0.398176292
0.524316109
0.633738602
0.712765957
0.800911854

c) Temperatur 40oC
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
616.512
465.728
362.368
266.304
207.936
149.568

%R
0
0.227134146
0.416158537
0.545731707
0.666158537
0.739329268
0.8125

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 8. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran RHOP
Ozon dengan Variasi Temperatur

2.1.5.2 Variasi pH Umpan


a) pH Umpan 10
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
651.776
519.232
430.464
363.584
319.808
228.608

%R
0
0.182926829
0.349085366
0.460365854
0.544207317
0.599085366
0.713414634

b) pH Umpan 11
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
612.864
481.536
380.608
293.056
229.824
159.296

%R
0
0.234042553
0.398176292
0.524316109
0.633738602
0.712765957
0.800911854

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

c) pH Umpan 12
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
609.216
465.728
355.072
276.032
228.608
158.08

%R
0
0.238601824
0.417933131
0.556231003
0.655015198
0.714285714
0.802431611

Gambar 9. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran RHOP
Ozon dengan Variasi pH

2.1.5.3 Variasi Jumlah Serat Membran


a) Variasi Serat Membran 50
t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
798.912
648.128
518.016
438.976
358.72
314.944
244.416

%R
0
0.188736682
0.351598174
0.450532725
0.550989346
0.605783866
0.694063927

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b) Variasi Serat Membran 60


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
797.696
626.24
491.264
402.496
318.592
273.6
200.64

%R
0
0.214939024
0.384146341
0.495426829
0.600609756
0.657012195
0.74847561

c) Variasi Serat Membran 70


t
(detik)
0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

Konsentrasi
NH3 (ppm)
800.128
612.864
481.536
380.608
293.056
229.824
159.296

%R
0
0.234042553
0.398176292
0.524316109
0.633738602
0.712765957
0.800911854

Gambar 10. Persen Penyisihan pada Proses Penyisihan Amonia dengan Membran RHOP
Ozon dengan Variasi Serat Membran

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.2 Perhitungan Koefisien Perpindahan Massa


Untuk menghitung koefisien perpindahan massa (k), diperlukan slope dari
perubahan konsentrasi amonia terhadap waktu. Slope ini diperoleh dengan
memplot grafik ln C 0 /C terhadap waktu.

Berikut adalah tabel data hasil

perhitungan ln C 0 /C, serta grafik hubungan ln C 0 /C vs t. Penentuan koefisien


perpindahan massa (k) tiap interval waktu dihitung menggunakan rumus berikut:

Dimana:
k

= koefisien perpindahan massa (m/s)

= Volume amonium sulfat (m3)

Am = luas permukaan membran (m2)


t

= waktu (detik)

C0

= konsentrasi limbah awal (mg/l)

Ct

= konsentrasi limbah pada waktu (mg/l)

Contoh perhitungan koefisien perpindahan massa pada variasi serat 70 laju alir 3
Lpm pada t = 1200 detik.
Luas permukaan membran (Am) =
= 0,070336 m2
= 0,005 m3

Volume limbah

2.2.1 Koefisien Perpindahan Massa pada Proses Penyishan dengan Membran


2.2.1.1 Variasi Laju Alir Umpan
a) Laju alir 3 Lpm
t
(detik)

Laju Alir 3 Lpm


C 0 (ppm)

C t (ppm)

Ln C 0 /C t

k (m/s)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

795.264
795.264
795.264
795.264
795.264
795.264
795.264

795.264
707.712
623.808
558.144
493.696
443.84
386.688

0
0.116636904
0.242831506
0.354057141
0.476754192
0.583209998
0.721055969

0
6.90951E-06
7.1926E-06
6.99138E-06
7.06067E-06
6.90981E-06
7.11916E-06

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b) Laju alir 4 Lpm


t
(detik)

Laju Alir 4 Lpm


C 0 (ppm)

C t (ppm)

Ln C 0 /C t

k (m/s)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

798.912
684.608
589.76
513.152
436.544
379.392
339.264

0
0.15440439
0.303535128
0.442678704
0.60436163
0.744680831
0.856472237

0
9.14683E-06
8.99063E-06
8.74135E-06
8.95051E-06
8.8229E-06
8.45616E-06

c) Laju alir 5 Lpm


Laju Alir 5 Lpm

t
(detik)

C 0 (ppm)

C t (ppm)

Ln C 0 /C t

k (m/s)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

797.696
666.368
563.008
476.672
403.712
335.616
288.192

0
0.179885502
0.348433735
0.514898949
0.68102582
0.865759923
1.018100648

0
1.06563E-05
1.03205E-05
1.01674E-05
1.00859E-05
1.02574E-05
1.0052E-05

Gambar 11. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
Variasi Laju Alir Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.2.1.2 Variasi Temperatur Umpan


a) Temperatur 200C
t
(detik)

Laju Alir 3 Lpm


C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

C t (ppm)

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

797.696
683.392
601.92
520.448
473.024
424.384
338.048

Ln C 0 /C t
0
0.154658939
0.281603026
0.427037593
0.522581445
0.631088867
0.858539675

k (m/s)
0
9.16191E-06
8.34101E-06
8.43249E-06
7.73936E-06
7.47707E-06
8.47657E-06

b) Temperatur 300C
t
(detik)

Laju Alir 4 Lpm


C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

C t (ppm)

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

797.696
666.368
563.008
476.672
403.712
335.616
288.192

Ln C 0 /C t
0.00152323
0.181408732
0.349956964
0.516422179
0.68254905
0.867283153
1.019623877

k (m/s)
0
1.07466E-05
1.03656E-05
1.01975E-05
1.01085E-05
1.02755E-05
1.0067E-05

c) Temperatur 400C
Laju Alir 5 Lpm

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

796.48
796.48
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
796.48
655.424
553.28
475.456
391.552
318.592
265.088

Ln C 0 /C t
0
0.194919665
0.36586337
0.517453229
0.711609243
0.917816285
1.101665726

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.15469E-05
1.08368E-05
1.02179E-05
1.05388E-05
1.08742E-05
1.0877E-05

Gambar 12. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
Variasi Temperatur Umpan

2.2.2 Koefisien Perpindahan Massa pada Proses Penyisihan dengan


Membran-RHOP
2.2.2.1 Variasi Temperatur Umpan
a) Temperatur 200C
t
(detik)

Suhu 20
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
797.696
661.504
569.088
452.352
397.632
346.56
259.008

Ln C 0 /C t
0
0.187211542
0.337692493
0.567266935
0.696200618
0.833671609
1.124868623

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.10903E-05
1.00024E-05
1.12015E-05
1.03106E-05
9.87725E-06
1.11061E-05

b) Temperatur 300C
t
(detik)

Suhu 30
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

C t (ppm)
798.912
643.264
518.016
417.088
335.616
269.952
217.664

Ln C 0 /C t
0
0.216695587
0.433244672
0.649953571
0.867283153
1.085006637
1.300298213

k (m/s)
0
1.28369E-05
1.28326E-05
1.28343E-05
1.28443E-05
1.2855E-05
1.28382E-05

c) Temperatur 400C
Suhu 40

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
797.696
629.888
483.968
381.824
288.192
239.552
196.992

Ln C 0 /C t
0
0.236185547
0.499708784
0.736767803
1.018100648
1.20295706
1.398564454

k (m/s)
0
1.39915E-05
1.48012E-05
1.45486E-05
1.50779E-05
1.42525E-05
1.38084E-05

Gambar 13. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
RHOP Variasi Temperatur Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.2.2.2 Variasi pH Umpan


a) pH 10
t
(detik)

pH 10
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

C t (ppm)
798.912
678.528
590.976
466.944
403.712
347.776
273.6

Ln C 0 /C t
0
0.163325056
0.301475395
0.537041466
0.68254905
0.831692208
1.071583616

k (m/s)
0
9.67529E-06
8.92962E-06
1.06047E-05
1.01085E-05
9.8538E-06
1.058E-05

b) pH 11
t
(detik)

pH 11
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

C t (ppm)
798.912
643.264
518.016
417.088
335.616
269.952
217.664

Ln C 0 /C t
0
0.216695587
0.433244672
0.649953571
0.867283153
1.085006637
1.300298213

k (m/s)
0
1.28369E-05
1.28326E-05
1.28343E-05
1.28443E-05
1.2855E-05
1.28382E-05

c) pH 12
pH 12

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

800.128
800.128
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
800.128
645.696
531.392
403.712
321.024
266.304
209.152

Ln C 0 /C t
0
0.21444291
0.406227594
0.68102582
0.910211686
1.097089059
1.338666312

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.27035E-05
1.20324E-05
1.34479E-05
1.34801E-05
1.29982E-05
1.3217E-05

Gambar 14. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
RHOP Variasi pH Umpan

2.2.2.3 Variasi Serat Membran


a) Serat 50
t
(detik)

Serat 50
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

C t (ppm)
798.912
683.392
584.896
499.776
428.032
366.016
313.728

Ln C 0 /C t
0
0.156182169
0.311816748
0.469090804
0.624052843
0.780573754
0.934724434

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.2953E-05
1.29303E-05
1.29681E-05
1.2939E-05
1.29474E-05
1.29203E-05

b) Serat 60
t
(detik)

Serat 60
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128

C t (ppm)
800.128
663.936
550.848
457.216
379.392
314.944
261.44

Ln C 0 /C t
0
0.186585956
0.373312806
0.559615788
0.746201744
0.93237687
1.118566903

k (m/s)
0
1.28955E-05
1.29003E-05
1.28922E-05
1.2893E-05
1.28878E-05
1.28845E-05

c) Serat 70
Serat 70

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

C t (ppm)
798.912
643.264
518.016
417.088
335.616
269.952
217.664

Ln C 0 /C t
0
0.216695587
0.433244672
0.649953571
0.867283153
1.085006637
1.300298213

k (m/s)
0
1.28369E-05
1.28326E-05
1.28343E-05
1.28443E-05
1.2855E-05
1.28382E-05

Gambar 15. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
RHOP Variasi Serat Membran

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.2.3 Koefisien Perpindahan Massa pada Proses Penyisihan dengan


Membran-RHOP-Ozon
2.2.3.1 Variasi Temperatur Umpan
a) Temperatur 200C
t
(detik)

Suhu 20
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
797.696
643.264
500.992
412.224
342.912
263.872
189.696

Ln C 0 /C t
0
0.215172357
0.46513744
0.660160682
0.844253718
1.106263435
1.436304782

k (m/s)
0
1.27467E-05
1.37772E-05
1.30359E-05
1.25033E-05
1.31069E-05
1.4181E-05

b) Temperatur 300C
t
(detik)

Suhu 30
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128

C t (ppm)
800.128
612.864
481.536
380.608
293.056
229.824
159.296

Ln C 0 /C t
0
0.266628663
0.50779072
0.743001741
1.004407998
1.247457916
1.614007608

k (m/s)
0
1.57949E-05
1.50406E-05
1.46717E-05
1.48751E-05
1.47797E-05
1.59355E-05

c) Temperatur 400C
Suhu 40

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
797.696
616.512
465.728
362.368
266.304
207.936
149.568

Ln C 0 /C t
0
0.257649785
0.5381258
0.789067302
1.097089059
1.344497232
1.673976434

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.5263E-05
1.59391E-05
1.55813E-05
1.62477E-05
1.59295E-05
1.65276E-05

Gambar 16. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
RHOP Ozon Variasi Temperatur Umpan

2.2.3.2 Variasi pH Umpan


a) pH 10
t
(detik)

pH 10
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
797.696
651.776
519.232
430.464
363.584
319.808
228.608

Ln C 0 /C t
0
0.202026628
0.429376776
0.616863876
0.785717216
0.914006757
1.249718826

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.19679E-05
1.2718E-05
1.21809E-05
1.16364E-05
1.08291E-05
1.23388E-05

b) pH 11
t
(detik)

pH 11
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128

C t (ppm)
800.128
612.864
481.536
380.608
293.056
229.824
159.296

Ln C 0 /C t
0
0.266628663
0.50779072
0.743001741
1.004407998
1.247457916
1.614007608

k (m/s)
0
1.57949E-05
1.50406E-05
1.46717E-05
1.48751E-05
1.47797E-05
1.59355E-05

c) pH 12
pH 12

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

800.128
800.128
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
800.128
609.216
465.728
355.072
276.032
228.608
158.08

Ln C 0 /C t
0
0.27259883
0.5381258
0.809406987
1.061210771
1.249718826
1.618626338

k (m/s)
0
1.61486E-05
1.59391E-05
1.59829E-05
1.57164E-05
1.48065E-05
1.59811E-05

Gambar 17. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
RHOP Ozon Variasi pH Umpan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

2.2.3.3 Variasi Serat Membran


a) Serat 50
t
(detik)

Serat 50
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912
798.912

C t (ppm)
798.912
648.128
518.016
438.976
358.72
314.944
244.416

Ln C 0 /C t
0
0.209162594
0.433244672
0.59880606
0.800708662
0.930855957
1.18437911

k (m/s)
0
1.7347E-05
1.79656E-05
1.6554E-05
1.66017E-05
1.54402E-05
1.63711E-05

b) Serat 60
t
(detik)

Serat 60
C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696
797.696

C t (ppm)
797.696
626.24
491.264
402.496
318.592
273.6
200.64

Ln C 0 /C t
0
0.241993888
0.484745911
0.684042414
0.917816285
1.070060387
1.380215315

k (m/s)
0
1.67249E-05
1.67511E-05
1.57587E-05
1.58582E-05
1.4791E-05
1.58984E-05

c) Serat 70
Serat 70

t
(detik)

C 0 (ppm)

0
1200
2400
3600
4800
6000
7200

800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128
800.128

C t (ppm)
800.128
612.864
481.536
380.608
293.056
229.824
159.296

Ln C 0 /C t
0
0.266628663
0.50779072
0.743001741
1.004407998
1.247457916
1.614007608

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

k (m/s)
0
1.57949E-05
1.50406E-05
1.46717E-05
1.48751E-05
1.47797E-05
1.59355E-05

Gambar 18. Koefisien Perpindahan Massa pada Penyisihan Amonia pada Membran
RHOP Ozon Variasi Serat Membran

2.2.4

Koefisien Difusivitas Knudsen untuk Variasi Temperatur Umpan


Dalam teori difusivitas Knudsen yakni

dimana T adalah temperatur,


dp adalah diameter partikel amonia = 0,025 m,
M adalah berat molekul amonia = 17,
R = 8,314 kJ/kmol.K..
Dengan variasi temperatur diperoleh perhitungan sebagai berikut :
T (0C)
20
30
40

DKn
2.82149E-07
2.86923E-07
2.91619E-07

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 19. Koefisien Difusivitas Knudsen untuk Variasi Temperatur Umpan

Dari gambar 19 dapat kita ketahui semakin tinggi temperatur akan


meningkatkan koefisien difusivitas. Semakin tinggi koefisien difusivitas maka
akan meningkatkan koefisien perpindahan massa.

2.2.5

Perbandingan Koefisien Perpindahan Massa Literatur dan Hasil


Penelitian dangan Variasi pH Umpan

Dari data literatur dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh


Ashrafizadeh dan Khorasani pada tahun 2010 dengan hasil penelitian diperoleh
data koefisien perpindahan massa sebagai berikut :
pH

k L Literatur

10
11
12

0.000013
0.0000145
0.0000147

kL
Perhitungan
0.0000127
0.0000159
0.0000160

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar 20. Perbandingan Koefisien Perpindahan Massa Literatur dan Hasil


Percobaan dengan Variasi pH Umpan.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

LAMPIRAN 3
GAMBAR ALAT

Pada lampiran ini akan dijelaskan mengenai spesifikasi peralatan yang


digunakan dalam penelitian ini. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
1. Membran Serat Berongga
a. Modul membran
Modul membran serat berongga yang digunakan dalam penelitian ini
adalah membran serat berongga dengan material polivinil klorida, gambar
membran serat berongga dapat dilihat pada gambar I.1., dengan ukuran
modul sebagai berikut:

Selongsong
Diameter luar : 3 cm
Diameter dalam : 2,4 cm
Panjang : 40 cm

Serat
Diameter luar : 1,5 mm
Diameter dalam : 0,8 mm
Ketebalan : 0,35 mm
Jumlah serat : 50,60 dan 70

Gambar III.1 Membran Serat Berongga

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

b. Pompa

Pompa peristaltik, digunakan untuk mengalirkan larutan penyerap dari


reservoir menuju modul membran.

Pompa air digunakan untuk

mengalirkan limbah dari reservoar menuju modul membran dengan


spesifikasi:

Produk : aquila P 3900


H max : 2,5 m

Gambar III.2 Pompa Peristaltik dan Pompa Air

2. Reaktor Hibrida Plasma-Ozon


Reaktor hibrida plasma-ozon ini didesain oleh Prof. Dr. Ir. Setijo
Bismo, DEA, rangkaian peralatannya terdiri dari :
a. Media Dielektrik (selubung dielektrik)
Reaktor Hibrida Ozon Plasma merupakan reaktor DBD (Dielectric Barier
Discharge) . Media dielektrik yang digunakan berbentuk pipa selongsong
yang terbuat dari bahan gelas borosilikat. Kedua ujungnya dilengkapi
dengan tutup berulir (screw cap) sebagai penyangga elektroda tegangan
tinggi. Pada jarak 3 cm dari ujung bagian atas diberi lubang kecil
berdiameter 3 mm yang digunakan sebagai keluaran (output) aliran limbah
setelah proses. Spesifikasi dielektrik adalah sebagai berikut :

Panjang

: 24 cm

Diameter

: 2 cm

Tebal

: 1 mm

Media dielektrik dapat dilihat pada Gambar I.3.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Liquida + gas O2
masuk

Dielektrik

Elektroda massa
(Kassa)

Elektroda
Tegangan Tinggi

Gambar III.3. Media dielektrik


b. Elektroda Tegangan Tinggi
Elektroda yang digunakan berbentuk pipa berbahan Stainless Steel tipe SS-316
dengan diameter 3/8 dimana salah satu ujungnya disumbat dan diberi lubang
sebagai keluaran aliran limbah, sedangkan ujung yang lainnya dibiatkan terbuka
yang akan dihubungkan dengan source limbah. Spesifikasi elektroda tegangan
tinggi adalah sebagai berikut :

Panjang

Diameter dalam : 0,7 cm

Diameter luar

: 36 cm

: 1 cm

Elektroda tegangan tinggi dapat dilihat pada Gambar I.4.

Gambar III.4. Elektroda tegangan tinggi


c. Elektroda Massa (Elektroda Kassa)
Elektroda kassa terbuat dari bahan Stainless Steel tipe SS-316 yang dililitkan
pada dinding reaktor bagian luar yang berfungsi sebagai elektroda.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Elektroda kassa dapat dilihat pada Gambar I.5.

Gambar III.5. Kawat Kasa SS-316


d. Transformer Step-Up
Transformer Step-Up, berfungsi untuk menaikkan tegangan sehingga akan
menghasilkan energi yang cukup untuk menghasilkan corona discharge.
Plasmatron dapat dilihat pada Gambar I.6.

Gambar III.6. Transformer Step-Up


e. Voltmeter
Voltmeter bermerek Heles yang digunakan untuk mengukur besar tegangan
bolak balik (AC) yang dialirkan ke NST untuk pembangkitan plasma dalam
reaktor dipasang secara paralel. Voltmeter dapat dilihat pada Gambar I.7.

Gambar III.7. Voltmeter


f. Amperemeter
Amperemeter digunakan untuk mengukur besar arus yang mengalir ke dalam
rangkaian. Amperemeter dipasang seri pada rangkaian dengan NST (pembangkit
plasma. Amperemeter dapat dilihat pada Gambar I.8.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar III.8. Amperemeter


g. Flow meter
Flowmeter digunakan terdiri dari dua macam, yaitu :
Flowmeter gas/ udara
Flowmeter udara digunakan untuk mengetahui laju alir udara yang mengalir
yang ditentukan sesuai dengan variabel. Voltmeter dapat dilihat pada Gambar
I.9(a).

Gambar III.9(a). Flowmeter gas


Flowmeter air
Flowmeter air digunakan untuk mengetahui debit limbah (umpan) yang
mengalir dalam rektor hybrid plasma ozon yang ditentukan sesuai dengan
variabel. Voltmeter dapat dilihat pada Gambar I.9(b).

Gambar III.9 (b). Flowmeter air

h. Auto Transformator
Regulator tegangan berfungsi sebagai pengatur tegangan keluaran untuk NST
sesuai dengan yang diinginkan agar terjadi pelepasan korona, dapat dilihat pada
Gambar I.10. Spesifikasi Regulator yang kita gunakan adalah sebagai berikut :

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Kapasitas

: 0,5 kVA

Range

: Input 220V
Output 0-250V

Gambar III.10. Auto Transformator

i. Injektor-mixer
Injektor yang digunakan berfungsi sebagai tempat berkontaknya udara dan
aliran fluida, sehingga terjadi proses pencampuran dan akan terbentuk
gelembung-gelembung di dalam fluida. Gelembung-gelembung ini
merupakan hasil diinjeksikan udara ke dalam aliran fluida agar fluida kaya
oksigen untuk proses ozonasi. Injektor dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.

Gambar III.11. Injektor/ Mixer

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

3. Ozonator
Spesifikasi selongsong:

Satu CD-Chamber

Panjang

Diameter selongsong : 4,53 cm

Tebal

: 43 cm

: 0,47 cm

Spesifikasi elektroda tegangan tinggi (bahan SS-304):

Panjang

: 40 cm

Diameter dalam

: 0,78 cm

Diameter luar

: 0,975 cm

Ozonator berfungsi sebagai alat yang menghasilkan ozon. Alat ini dapat
dilihat pada Gambar I.12.

Gambar III.12. Ozonator

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

4. Thermo-circulator, sebagai pengatur suhu dengan spesifikasi:

Model

Serial No: 02050901

Volts

: LCB-R08

: 220 VAC, 50 Hz

Gambar III.13. Thermo-circulator

5. Kompresor, adalah suatu alat untuk melayani udara bertekanan yaitu dengan
cara mengisap udara luar dan mengkompreskannya ke dalam ozonator atau
reaktor RHOP.

Gambar III.14. Kompresor

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

6. Amonia Meter, gambar alat amonia meter dapat dilihat pada gambar I.15
digunakan untuk mengukur konsentrasi amonia dengan spesifikasi:

Tipe : MI - 405

Produk : Martini USA

Range : 0.00 to 9.99 mg/L

Range temperatur : 0 50 oC

Gambar III.15. Amonia meter

7. pH meter, merk thermo electron corporation.


8. Rotameter, untuk mengatur laju alir pelarut.
9. Pipa PVC, sebagai tempat mengalirnya pelarut dan menghubungkan antara
tangki reservoar pelarut dengan kontaktor membran serat berongga.
10. Selang, berfungsi sebagai penghubung antara satu alat dengan alat lainnya.
Selang yang digunakan terdiri dari tiga macam, yaitu :
Selang berbahan Polivinyl Chloride (PVC) yang digunakan untuk aliran
gas berwarna agak buram dan kaku.
Selang berbahan silikon yang digunakan untuk aliran limbah berwarna
putih dan lentur.
Selang berbahan polikarbonat yang digunakan untuk aliran liquida
berwarna putih dan kaku.
Selang dapat dilihat pada Gambar I.16.

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013

Gambar III.16. Selang

11. Nipple, Elbow, Mur, Baut


Nipple berfungsi sebagai masukan umpan, terbuat dari bahan plastik dan
Stainless Steel, dan berukuran 1/4 inci dan 3/8 inci. Elbow berfungsi sebagai
penghubung antara media dielektrik dan selang, terbuat dari bahan plastik dan
dan berukuran 1/4 inci dan 3/8 inci. Mur dan baut digunakan sebagai alat
kontak dan juga sebagai alat penguat pada papan penyangga, terbuat dari
bahan besi berukuran 2 mm dan 3 mm.

Gambar III.17. Nipple, Elbow, Mur, Baut

12. Wadah reservoir, sebagai tempat untuk larutan ammonia dan larutan
penyerap. Wadah reservoir dapat dilihat pada Gambar I.18.

Gambar III.18. Tangki penampungan

Penyisihan amonia..., Silvia Rahmi Ekasari, FT UI, 2013