Anda di halaman 1dari 3

MEMBANGUN BANGSA BERMENTAL TUAN

Ada pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika saya berkunjung ke


beberapa negara di dunia, terutama negara-negara yang sering dijadikan
oleh para TKI dan TKW, untuk tujuan mencari kerja, yaitu Malaysia dan
Saudi Arabia. Ketika saya studi banding ke beberapa perguruan tinggi di
Malaysia, saya bertemu dengan beberapa mahasiswa di sana, yang
kebetulan masih alumni UIN Maliki Malang. Mereka bercerita kepada saya
bahwa tanggapan orang malaysia terhadap bangsa Indonesia itu sangat
miring, apalagi kepada para TKI dan TKW. Kata mereka, bangsa Malaysia
menganggap orang-orang Indonesia itu miskin, bodoh dan rendah. Mereka
menyebut orang Indonesia itu dengan sebutan Indon. Menurut mereka
kata “Indon” itu berkonotasi sangat negatif, yaitu sebutan orang-orang
Indonesia yang menjadi budak di sana. Mereka sering diperlakukan
secara kasar dan semena-mana oleh bangsa Malaysia, apalagi yang
datang kesana secara ilegal.

Tetangga saya sendiri, sebut saja bernama supri dan dakir, pernah juga
mengalami hal yang mengenaskan ketika bekerja di Malaysia. Menurut
Supri, dia ke Malaysia melalui jalur penyalur tenaga kerja yang resmi dan
berangkat dengan membayar uang tertentu. Katanya, pemberangkatan
dilakukan melalui darat dan laut, yaitu lewat Sumatra dan dari Sumatra
baru nyebrang ke Malaysia. Tetapi, ketika hampir sampai di Malaysia,
perahu yang membawa para calon TKI dan TKW itu, tidak mendarat lewat
palabuhan, melainkan justru mencari tempat yang sepi untuk pendaratan,
yaitu di daerah semacam hutan bakau. Di dalam kapal itu ada beberapa
algojo yang memaksa para TKW dan TKI itu, untuk masuk ke dalam laut,
yang masih berjarak agak jauh dari daratan. Kalau tidak mau, mereka
memaksa dan menceburkan para TKI dan TKW ke dalam laut. Katanya,
ada sebagian orang yang tidak bisa berenang tenggelam di laut dan
sebagian besar lainnya bisa mendarat, tetapi harus melalui hutan bakau
tersebut. Di atas pantai, telah ditunggu oleh beberapa cukong penyalur
tenaga kerja di Malaysia. Bagi yang selamat, mereka disuruh masuk ke
dalam mobil truk untuk ditampung di sebuah penampungan tenaga kerja
ilegal. Malangnya, di tengah-tengah perjalanan, mereka terkena razia
polisi Malaysia, sehingga mereka semua dimasukkan dalam sell dan
diperlakukan secara semena-mena di dalam sel tersebut. Katanya, baju
tidak pernah ganti, makan hanya nasi putih dan setiap hari dipukul oleh
para sipir yang sok jagoan. Hampir dua bulan dia menjalani rutinitas
penyiksaan seperti itu, hingga akhirnya dia dipulangkan secara paksa
tanpa diberi pesangon. Mereka hanya menitipkan kepada kapal malaysia
yang berangkat ke Indonesia dan diturunkan di pulau Sumatra. Karena
tidak punya uang, akhirnya dia nginep di masjid beberapa hari sambil
kerja menjadi kuli bangunan di sana. Setelah mendapatkan upah, akhirnya
dia baru bisa pulang ke kampung halamannya dengan tidak membawa
hasil apa-apa kecuali duka lara.

Adapun si Dakir, dia tidak tertangkap polisi, tetapi sampai di tempat


penampungan kerja ilegal, yang letaknya di tengah hutan. Setiap hari dia
bekerja sebagai kuli bangunan. Karena ilegal, gajinya dipotong oleh
cukongnya 50% dan kalau tidak mau dia diberhentikan dari kerjanya.
Karena tidak ada cara lain, akhirnya dia terima kenyataan itu. Mereka
bukannya tidur di kos-kosan atau gedung yang layak, melainkan tinggal di
dalam hutan secara berpindah-pindah karena takut terjaring razia polisi.
Setiap malam dijadikan santapan lezat nyamuk-nyamuk hutan yang ganas
dan besar. Mau kembali ke Indonesia sangat sulit, karena jika tertangkap
polisi, dia dan ribuan lagi teman-temannya dari Indonesia yang senasib,
pasti dipenjara dan akan mendapatkan siksaan yang menyakitkan seperti
yang dialami oleh Supri.

Sudah sedemikian rendahkah martabat bangsa ini? Mengapa jutaan orang


dari bangsa ini, rela diperbudak oleh bangsa lain, yang notabennya jauh
lebih kecil dan lebih muda dari bangsa kita sendiri?

Saya melihat, sebenarnya permasalahan yang dihadapi oleh bangsa


Indonesia, hingga mereka menjadi seperti itu, bukan sekedar masalah
ekonomi, tetapi terkait dengan masalah mental, yaitu mental budak.
Mungkin salah satu sebabnya adalah karena bangsa Indonesia terlalu
lama dijajah oleh Portugis, Belanda, dan Jepang hingga ratusan tahun,
hingga mereka lupa bahwa sebenarnya mereka adalah bangsa yang
merdeka. Meskipun secara yuridis mereka telah merdeka, pada
hakikatnya dalam diri mereka, kemerdekaan itu masih belum ada. Mental
mereka masih terselimuti kabut mental budak yang telah mendarah
daging dalam jiwa dan sanubari mereka, sehingga mereka lebih senang
diperintah daripada memerintah, lebih senang melakukan sesuatu setelah
disuruh daripada berkreasi sendiri mencari hal-hal baru yang lebih baik.
Paling maksimal, mereka hanya bisa meniru orang lain tatkala ada orang
lain berhasil melakukan sesuatu. Jika ada satu orang berhasil dalam
budidaya lele misalnya, maka orang sekampung akan melakukan
budidaya lele, sehingga harga lele anjlok dan akhirnya mereka gulung
tikar semua. Begitulah saya kira, mental masyarakat kita pada saat ini.

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun mental bangsa ini menjadi


bangsa yang bermental tuan? Saya kira pertanyaan ini tidak mudah untuk
dijawab, karena mental budak yang dimiliki bangsa ini, telah bersemayam
sekian lama dalam jiwa dan sanubari mereka dan mental itu diwariskan
kepada anak cucu mereka secara turun-temurun. Mungkin salah satu
caranya adalah melalui jalur pendidikan. Alhamdulillah, pemerintah kita
telah menganggarkan kurang lebih 20% dari APBN untuk dunia
pendidikan. Dari sini, wajib belajar 9 tahun diharapkan bisa segera tuntas.
Tapi sayangnya, sekolah gratis yang dicanangkan oleh pemerintah,
terutama pada tingkat dasar dan menengah, sampai sekarang masih
belum bisa tercapai. Pada kenyataannya, sekolah-sekolah itu, bukannya
menggratiskan siswanya dalam belajar, tetapi justru berlomba-lomba
untuk menarik dana dari masyarakat, melalui pintu yang bermacam-
macam, seperti Forum Orangtua Murid, Sumbangan Pendidikan dan
sebagainya, sehingga bukannya pendidikan gratis yang ditawarkan, tetapi
justru pendidikan yang mahal dan lebih mahal dari sebelumnya.

Belum lagi bila berbicara tentang konten pendidikan yang diajarkan


kepada siswa dan mahasiswa kita. Sudahkan materi yang kita ajarkan
kepada bangsa Indonesia melalui pendidikan di sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi itu, mampu melahirkan bangsa Indonesia yang
bermental tuan? Mengapa setelah selesai sekolah atau kuliah mereka
justru berbondong-bondong ingin menjadi TKI atau TKW? Bukankah itu
berarti kita masih membangun mental budak dan bukan mental tuan?
Untuk menjawab masalah ini, marilah kita diskusikan bersama-sama
dalam forum ini. Sumbangsih para pembaca sangat kami harapkan,
semoga bangsa ini bisa terlepas dari “mental budak” yang telah lama
menjajah bangsa ini dan mental mereka bisa segera berubah menjadi
mental tuan. Wallahu a’lam bi shawab.