P. 1
Jejak-Jejak Tangan Jahil Di KRL

Jejak-Jejak Tangan Jahil Di KRL

|Views: 252|Likes:
Dipublikasikan oleh cahPamulang
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: cahPamulang on Aug 08, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2011

pdf

text

original

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (1

)

Dari Ngintip Dada hingga Menggesek Alat Kelamin
Senin, 17 Mei 2010 - 10:19 wib Hen Hen - Okezone

Penumpang KRL (Foto: Ist) JAKARTA - Pelecehan seksual bisa terjadi di mana pun dan kapan pun, tidak mengenal waktu dan tempat, juga status sosial. Asal ada kesempatan dan niat dari si pelaku, maka terjadilan kejahatan yang umumnya kaum Hawa sebaga objeknya. Pelecehan seksual merupakan dua kata yang tak asing lagi di telinga kita. Saban hari tersiar dalam berita di media massa, atau secera langsung dan tidak langsung menyaksikan tindakan yang berhubungan dengan organ intim dari manusia ini. Terkadang praktik pelecehan seks ini menjadi kabur batasannya, sebab terjadi karena kondisi yang mau tidak mau antara lawan jenis terjadi kontak fisik tanpa disengaja dan disadari. Atau boleh jadi untuk sebagian kasus memang ada pihakpihak yang sengaja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kasus pelecehan seks yang kerap mejadi perdebatan tanpa ujung ini, sebenarnya bermula dari masih buruknya fasilitas dan layanan transportasi massal, terutama

kereta api dan bus yang menjadi moda andalan masyarakat perkotaan. Salah satunya KRL Jabodetabek. Sekedar menangkap adanya praktik pelecehan sekssual yang sebenarnya sudah lama terjadi ini, okezone mencoba menyusuri dari naik turunnya penumpang KRL. Sengaja dipilih KRL Ekonomi jurusan Kota-Bogor yang paling padat, bahkan super padat penumpangnya. Sebab pada jam-jam berangkat atau pulang kantor, penumpangnya bukan hanya berjubel di dalam kereta melainkan meluber ke kirikanan pintu hingga atap kereta. Ketika itu, okezone memulai perjalanan sekira pukul 16.00 WIB dari arah Stasiun Kota menju Bogor. Sejak awal berangkat, KRL sudah penuh dengan penumpangnya. Saat berhenti di Stasiun Sawah Besar, segerembolan orang masuk berebutan dengan penumpang lainnya. Susana dalam gerbong kereta kelas bawah ini sudah ramai. Dari dalam gerbong yang mengharuskan para penumpang baik pria wanita saling berhimpitan ini, okezone mengamati gerak-gerik dari pengguna tranportasi murah tersebut. Entah sengaja atau tidak, seorang laki-laki terlihat menyentuh pantat (maaf) wanita ketika hendak masuk ke dalam kereta. Lantaran berjubel, memang tidak terlalu jelas tetapi wanita itu berpakaian seperti karyawan kantoran. Sesaat kemudian, tidak terlihat aksi dari tangan-tangan jahil yang memanfaatkan situasi. Justru tertangkap aksi copet yang bekerja secara komplotan. Baru ketika KRL berhenti di Stasiun Manggarai, terlihat pria paruh baya yang berpakaian kaos ketiduran sehingga tak pelak menempel di bokong siswi SMA. Namun pelajar ini sepertinya tidak merasakan apa pun sehingga tak bereaksi karena mengangap hal itu biasa saat kereta penuh sesak penumpang yang umumnya terpaksa berdiri. Pemandangan lainnya, seorang pemuda seperti pengamen karena membawa gitar, berdiri tepat di belakang wanita kantoran. Ketika diperhatikan, seperti sedang menggesek-gesekkan alat kelamin ke pantat wanita itu. Lagi-lagi, wanita itu tidak sadar cuma sesekali menengok ke arah belakang. Kereta pun kembali berhenti di Stasiun Tebet, okezone sempat menangkap seorang pria yang berpakaian cukup rapih sengaja mendorongkan badannya ke arah bokong pelajar SMA, saat turun dari KRL. Peristiwa serupa terjadi ketika kereta kembali meneruskan perjalanannya menuju Stasiun Cawang. Kali ini aksi seorang bapak-bapak bertopi merah tepat berdiri di hadapan dua penumpang wanita. Pria cabul yang satu ini memanfaatkan kondisi penumpang yang berdempet-dempetan skadar melepas syahwatnya. Tanpa ragu, dia lantas menggesek-gesekan alat kelaminnya ke arah dua wanita ini secara bergantian.

Pemandangan lainnya, mungkin paling banyak terjadi di mana wanita yang berpakaian minim, ketat atau sedikit terbuka pada bagian -bagian sensitif tak pelak menjadi "rezeki" bagi kaum Adam. Wanita ini menjadi risih karena menjadi objek pandangan dari pria hidung belang. Pasalnya, seorang pria dengan tatapan tajam memperhatikan belahan dadanya yang terlihat dari balik baju kaos yang agak melorot. Dari beberapa ilustrasi kejadian di atas, umumnya korban di atas KRL tidak menyadari jika dirinya menjadi objek pelecehan seksual. Meski sebagian menyadari ada tindakan yang tidak etis, terpaksa pasrah dengan kondisi kereta yang menjadikan lawan jenis bukan muhrim ini harus berdempet-dempetan seperti ikan pindang dalam wajan.
(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (2)

Oh, Wanita Itu Terpaksa "Diam" Digerayangi
Senin, 17 Mei 2010 - 12:06 wib Hen Hen - Okezone

Penupang KRL (Ist) JAKARTA - Pelecehan seksual yang terjadi di atas KRL seakan menjadi bagian dari pemandangan biasa sehari-hari dari padatanya aktivitas warga kota besar, pengguna transportasi massal tersebut. Umumnya, mereka yang menjadi korban pelecehan seks tidak bisa berbuat

banyak. Hanya pasrah dengan keadaan, meski perlakuan yang sama setiap saat terus mengancam. KLR Ekonomi merupakan moda favorit bagi kelas menengah ke bawah, lantaran tiket murah dan cepat meski aspek keamanan, kenyamanan dan keselamatan terbaikan. Menurut Nurdin, pengguna KRL Ekonomi jurusan Kota-Bogor yang juga mengais rezeki dengan berjualan koran, pelecehan seksual di kereta sudah biasa terjadi. "Memang benar bang, kalau di KRL banyak pelecehan seks. Rata-rata pada nongolin anunya dan korbannya nggak sadar. Kalau ada yang sadar juga nggak berani gapa-ngapain," tuturnya kepada okezone. Sayangnya, kata Nudin, sampai saat ini tidak ada dari penumpang KRL yang menjadi korban pelecehan seksual melaporkan peristiwa tidak senonoh yang menimpanya. Wanita yang menjadi korban pelecehan seksual terpaksa diam karena malu. "Kalau pun ada yang ngelapor, nggak ditanggepin. Sedangkan di sini sekuritinya juga banyak yang begitu (tangan usil)," ungkap Noodin. Pedagang koran yang sudah beberapa tahun hidup di kereta ini memaparkan sejumlah jalur kereta yang kerap terjadi kasus pelecehan seks. Semuanya merupakan jalur kereta yang padat penumpang. "Kalau mau pelajarin, naik kereta jurusan Rangkasbitung, Patas Purwakarta, Serayu (jurusan Bandung). Kalau Jakarta, KRL Bogor- Tebet-Manggarai, Depok," bebernya. Menurut Nurdin, tidak hanya orang yang kebetulan memanfaatkan padatnya penumpang dengan membiarkan tangan dan mata jahilnya berbuat cabul. Namun ada juga penumpang yang sengaja mencari sasaran eksploitasi seksualnya dengan mondar-mandir naik kereta saat sesak penumpang, yakni jam berangkat dan pulang kantor atau pagi dan sore menjelang malam. "Ada orang-orang yang memang sengaja naik kereta hanya untuk itu doang (cabul)," ungkap Nurdin yang menyebutkan marakanya pelecehan seksual di atas KRL mulai tahun 1996 ketika banyak warga yang bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Sementara itu, Yani, seorang karyawan swasta di Jakarta dan tinggal di Depok mengaku sempat menjadi korban pelecehan seksual saat menumpang KRL Ekonomi. "Saya terpaksa naik KRK Ekonomi dari Depok karena terlambat," ujarnya yang biasa naik KRL Patas AC dari Statsiun Depok Baru. Penumpang KRL Ekonomi Depok-Kota sejak awal berangkat dari Stasiun Depok

Lama sudah penuh penumpang karena jam berangkat kantor. "Tas saya sempat ada yang narik-narik, malahan ada tangan yang megang-megang pinggang dan paha," tutur Yani mengenai pengalaman pahitnya. Bahkan, ungkap dia, temannya sempat menerima perlakuan tak sonoh dari penumpang KRL, gara-gara berdesak-desak dalam gerbong kereta yang sebenarnya sudah tidak manusiawi lagi saking padatnya. "Ada penumpang cowok kayaknya lagi mabuk dan sentuh bagian dadanya. Dia sempet marah dan membentak pelaku," cerita Yani yang mengaku kapok naik KRL Ekonomi. Hal senada dikemukakan Andini, seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi ternama. Menurut dia, banyak tangan usil di atas kereta. Namun sampai saat ini, Andini bersyukur belum mengalami hal yang tidak menyenangkan tersebut. "Untungnya sih belum, jangan sampai deh. Tapi kalau denger dari temen sih pernah mas, kayak dicolek-colek gituh," cerita dia. Andini punya kiat sendiri sehingga bagian tubuh sensitifnya luput dari jamahan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. "Intinya sih kita harus bisa jaga diri. Jangan sampai kita dilecehin dan diem aja. Teriak kek, atau kita omelin aja kalau liat orangnya," tandas Andini seraya mengimbau PT KAI agar memperketat penjagaan dan pengawasan di dalam kereta. Tambah dia, PT KAI juga harus peduli dengan kondisi kereta yang over kapasitas dan menertibkan pedagang, pengamen, serta pengemis. "Kalau bisa sih jumlah penumpang dibatasi biar aman dan nyaman. Masalahnya kadang-kadang pengamen dan pedagang juga suka reseh. Tapi kalau saya liat di Semarang, stasiunnya sudah agak rapih dan teratur. Ya, seharusnya di Jakarta bisa juga kayak gitu," harapnya.
(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (3)

Dianggap Wajar Pelaku Pun Leluasa Beraksi
Senin, 17 Mei 2010 - 14:24 wib Hen Hen - Okezone

Penumpang KRL (Foto: Ist) JAKARTA - Pelecehan seksual di sarana transportasi massal terutama kereta dan bus ibarat fenomena gunung es yang tak pernah selesai. Muncul ke permukaan hanya sebagian kecil yang akhirya dimaklumi sebagai peristiwa lumrah, menjadi pemandangan biasa sehari-hari di antara riuhnya kehidupan kota besar. Pihak PT KAI sebagai pengelola angkutan kereta api dan KRL menyatakan tidak pernah mendapat keluhan dan pengaduan akan maraknya pelecehan seksual di atas KRL. PT KAI berdalih selama ini nyaris tidak ada pihak yang melapor karena menjadi korban tindakan cabul tersebut. "Saya nggak pernah dengar (kasus pelecehan seks), laporan dari sekuriti juga nggak ada. Belum pernah dengar sama sekali," kata Kepala Stasiun Kota Edy Kuswoyo saat dimintai okezone konfirmasinya. Menurut dia, kejahatan seperti itu bisa terjadi karena sikap dari penumpangnya itu sendiri. Berpenampilan menarik perhatian, seperti berpakaian ketat atau transparan. "Bagaimana pintar-pintar memposisikan diri? Cuma kan karena ribuan penumpang, bagaimana ngaturnya? Susah karena sekuriti lapornya juga cuma kriminal. Kalau pelecehan seperti pegang-pegang itu nggak ada laporannya," ungkap Edy. Dia mengira kemungkinan korban malu untuk melapor, selain itu sulit untuk membuktikannya. "Korbannya malu sehingga tidak melapor. Seandainya dilaporkan juga harus ada barang buktinya, jadi sulit," jelasnya. Hal senada dikemukakan Santoso, dari satuan Polisi Khusus Kereta Api. Untuk membuktikan adanya pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan sulit dilakukan. "Kalau masalah seperti itu untuk membuktikannya susah. Biasanya jadwal kereta kan suka terlambat, jadi penumpang ada yang duduk dan ada yang berdiri, akhirnya dari situ bisa terjadi pelecehan seksual. Itu juga sebenarnya terjadi spontan karena ada kesempatan dan di depannya ada wanita," beber Santoso.

Dia mengakui selama ini tidak ada data tentang kasus pelecehan seksual yang terjadi di KRL. "Mungkin dianggapnya sudah biasa atau apalah, malu juga bisa. Kemungkinan-kemungkinan seperti itu yang membuat korban tidak mau melapor. Lantaran tidak ada yang melapor jadi nggak ada data sehingga tidak ada yang di tangkap," terang Santoso. Kasus pelecehan seks, kata dia, biasanya terjadi pada KRL yang penuh penumpang, seperti KRL jurusan Jakarta-Bogor, terutama kelas ekonomi. "Tapi kalau di kereta-kereta yang kosong ya nggak ada," imbunya. Sejauh ini Polsuska berusaha semaksimal mungkin mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. "Kalau ada laporan ya kita tindak. Nah, ini sama sekali belum ada laporan. Itu perlu kerja sama antara korban dan aparat. Kalau nggak ada yang melapor kita juga susah kerjanya," aku Santoso. Saat disinggung soal pengamanan dan pengawasan di dalam KRL, Santoso mengatakan persoalannya cukup pelik. "Kita keliling terus, tapi nggak pernah menemukan kejadian gitu. Kan terjadi di belakang petugas, nggak terangterangan. Di dalam gerbong pun kita patroli cuma memang padat penumpang jadi agak sulit," jelas dia.
(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (4)

Pelecehan Seks di Kereta Sulit Dihilangkan
Senin, 17 Mei 2010 - 15:16 wib Ulan Pebriyanah - Okezone

KRL Jabodetabek (Ist) JAKARTA - Kasus pelecehan seksual di atas kereta atau KRL menjadi satu keprihatinan tersendiri. Masalah ini bisa dikatakan luput dari perhatian dan nyaris tak tersentuh. Hanya dianggap pengalaman pahit yang begitu saja berlalu dan dilupakan.

Sebatas buah pembicaraan di antara para pengguna jasa di sela menunggu KRL yang mengantarkannya saban hari saat berangkat dan pulang beraktivitas di kota. Padahal, setiap saat korban terus berjatuhan. Tak ayal, korban-korban selanjutnya pun di posisikan dalam ancaman tangan-tangan jahil yang menggerayangi. Mengenai masalah ini, Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, Ratna Fitriani mengaku sulit untuk memberantas kejahatan terhadap perempuan di atas kereta ini. "Kalau untuk menghapuskan sama sekali sepertinya tidak akan bisa. Kita harus lebih banyak melakukan pencegahan-pencehan dengan tidak memakai pakaian yang terlalu minim, atau berdandan tidak berlebihan. Menurut saya, itu juga akan mencegah," paparnya kepada okezone. Selain itu, Komnas Perempuan juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat, terkait kasus kejahatan yang sering terjadi di atas kereta. "Pelecehan seksual atau kejahatan semacam itu adalah tindak kriminal dan diatur dalam undang-undang," papar Ranta. Pemahaman masyarakat yang menganggap pelecehan bukan suatu tindakan kekerasan justru harus segera diubah. "Kita (perempuan) sebenarnya tidak ingin hal ini terjadi. Tapi terkadang kita juga kalau melapor malah jadi repot sendiri bahkan ujungnya yang dipersalahkan," tuturya. Kata Ratna, tidak hanya wanita yang berpakaian terbuka dan sedikit mengundang libido pria yang dilecehkan. Bahkan mereka yang berbaju sopan pun seperti pakian kantor dan berkerudung tak luput dari sasaran. Alumni Univesitas Indonesia ini menuturkan pelecehan seksual di kereta sebenarnya kasus lama yang seolah-olah penanganannya sangat lamban dari pihak terkait. "PT KAI juga harus memperbaiki kinerja dan memperhatikan apa saja keluhan masyarakat," desak dia. Apabila tidak segera ditangani, ungkap aktivis perempuan ini, bisa jadi masyarakat akan meninggalkan kereta. "Tapi menurut saya sangat sulit mengingat kereta adalah sarana transportasi yang murah dan banyak dipakai oleh masyarakat," jelas Ratna. Sebab itu, dia menyarankan PT KAI perlu menambah gerbong pada jalur-jalur padat sehingga penumpang tidak berjubel. "PT KAI harus memberikan pelayanan yang lebih dengan ditambahkannya jadwal kereta terutama pada jam-jam pergi dan pulang kantor," tandas dia. Sementara itu, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, perlu ada penanganan lebih lanjut dari tindak kejahatan

yang terjadi di atas kereta api. "Ya kalau dari YLKI sudah mengetahui permasalahannya dari dulu. Tapi kalau ada laporan dari masyarakat kami akan tindak lanjuti. Menurut kami harus ada perbaikan dari PT KAI-nya dulu dimulai dengan mengcek gerbong-gerbong yang masih layak atau tidak," paparnya. Dari kajian YLKI, masih banyak warga Ibu Kota yang memanfaatkan sarana kereta sebagai angkutan umum, meski kondisinya sudah tidak nyaman dan aman. Tulus juga mengatakan, pelecehan seksual di atas KRL mencerminkan tidak berjalan kinerja dari PT KAI. "PT KAI membiarkan masyarakat berdesak-desakan saat masuk yang di dalam gerbong pun sudah membludak. Ini juga mencerminkan situasi di mana penegak hukum sudah tidak berjalan dengan baik. Karena bukan tidak mungkin banyak masyarakat yang mengadu namun tidak didengar," ungkap Tulus. Lebih lanjut dia memaparkan, sebenarnya bukan hanya kejahatan pelecehan seksual yang terjadi di dalam kereta api. Banyak tindakan kriminal yang tidak terekspos oleh masyarakat. "Dari penjambretan hingga pasangan selingkuh," imbuhnya yang menyarankan korban pelecehan seksual harus melapor sekaligus untuk menguji ketegasan aparat penengak hukum, sedangkan untuk pihak PT KAI perlu menambah gerbong agar penumpang tidak berdesakan.
(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (5) Gerbong Khusus Wanita Pernah Disediakan PT KAI Senin, 17 Mei 2010 - 16:03 wib Ulan Pebriyanah - Okezone

Penumpang wanita terjepit (Ist) < JAKARTA - PT KAI sebenarnya pernah meluncurkan gerbong khusus penumpang perempuan untuk mencegah kejahatan seperti pelecehan seksual. Namun implementasi gerbong bagi kaum hawa yang dimaksudkan agar tidak ada pencampuran dengan penumpang pria ternyata tidak efektif. Menurut Wakil Kepala Stasiun Manggarai Dwi purwanto, gerbong khusus perempuan ini sempat dioperasikan oleh Pihak PT KAI beberapa tahun yang lalu. Namun saat ini sudah tidak diberlakukan lagi, karena beberapa kendala teknis. "Memang ada, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah lama, kalau tidak salah hampir beberapa tahun," ungkapnya kepada okezone. Dwi menjelaskan, salah satu kendalanya ketika penumpang datang bersama sejumlah anggota keluarganya. "Kalau satu keluarga itu yang naik kan ada yang cowonya, jadi nggak mungkin mereka mau dipisah. Juga ada yang barengan sama temannya, mana mau mereka dipisahkan gerbongnya," ujar Dwi. Padahal, kata dia, awal digagas gerbong khusus perempuan ini untuk menghindari tindakan yang tidak diinginkan terhadap penumpang perempuan, seperti pelecehan seks. Meski sudah disosialisasikan baik secara lisan maupun tulisan, penumpang tetap susah diatur. Pada akhirnya, gerbong khusus ini tetap saja bercampur karena penumpang tidak mengindahkan pemberitahuan tersebut. "Karena orang kan kalau naik kereta yah naik aja, nggak merhatiin tulisan-tulisan yang sudah kita tempel bahwa itu

khusus untuk penumpang wanita," imbuh Dwi. Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan Ratna Fitriani mengatakan, wacana pengadaan gerbong khusus perempuan dinilai langkah yang tidak efektif mencegah pelecehan seksual. "Saya pikir itu tidak efektif. Bagaimana dengan para perempuan yang pergi bersama keluarganya, masa harus dipisahkan?" Gerbong khusus untuk wanita, dulu sempat ada tapi tidak efektif. Justru penumpangnya harus berdesak-desakan karena hanya tersedia satu gerbong dalam satu rangkaian kereta. Kendati demikian, ide gerbong khusus wanita ini perlu diakomodasi oleh PT KAI dengan melakukan evaluasi dari kelemahan sebelumnya. "Di sini lain adalah bagaimana cara meningkatkan pemahaman dari masyarakat untuk saling menghormati satu sama lain. Kereta juga harus punya daya tampung yang memadai sehingga penumpang tidak berjubel," ujar Ratna. Menurut Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menjelaskan, wacana untuk mengkhususkan gerbong khusus perempuan memang sudah ada. "Bahkan sekarang pun masih ada, tapi tulisannya saja. Karena kalau nggak salah itu cuma berjalan beberapa hari setelah itu kembali ke posisi awal," ujarnya. Keberadaan gerbong khusus ini dinilai tidak efektif untuk mencegah tindakan pelecehan seksual. "Menurut saya sangat tidak efektif untuk memisahkan gerbong perempuan dengan lainnya," kata Tulus. Jauh lebih baik, kata dia, PT KAI memperbaiki fasilitas dan layanan. "Ya diperbaiki saja deh segala sesuatunya. Banyak keluhan dari masyarakat seperti toiletnya nggak bersih, lampunya mati. Kayaknya masih banyak PR buat PT KAI untuk memperbaiki sarana dan prasarana kereta api," saran YLKI.
(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (6)

Perbaikan Sarana Cegah Pelecehan Seks di Kereta
Senin, 17 Mei 2010 - 18:12 wib Dadan Muhammad Ramdan - Okezone

Penumpang KRL (Foto: Ist) JAKARTA - Sarana transportasi kereta api menyumbang kontribusi yang tidak kecil dalam menyokong aktivitas masyarakat. Kereta api menjadi salah satu moda andalan bagi masyarakat khususnya yang berada di wilayah, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) karena petimbangan tiket murah dan bebas macet. Namun sayangnya, kereta api atau KRL komuter Jabodetabek belum tergarap maksimal dalam layanannya, sehingga aspek keamanan dan kenyamanan masih bermasalah di sana-sini. Padahal KRL ini menjadi moda favorit masyarakat menengah kebawah di Jabodetabek. Data PT KAI menunjukkan setiap tahunnya pengguna KRL Jakarta dan sekitarnya terus mengalami peningkatan. Misalnya pada 2004, penumpang Jabodetabek sebanyak 100.403.936 orang, sedangkan pada 2005 sebanyak 100.960.700 orang dan 2006 104.424.720 orang. Jumlah penumpang terus melonjak sampai pada 2009 dan 2010. Bahkan PT KA Divisi Jabodetabek berani menargetkan peningkatan jumlah penumpang mencapai tiga juta per hari pada 2014. Selain masalah klise yakni keterlambatan jadwal pemberangkatan, KRL terutama ekonomi menjadi ladang pelecehan seksual bagi penumpang perempuan. Hal ini akibat bercampur dan berdesak-desakannya penumpang wanita dengan pria. Anggota Komisi Transortasi di DPR Yudi Widiana Adia membenarkan masih banyaknya kasus pelecehan seks di atas KRL, dan tindak kriminal lainnya. Menurut anggota DPR dari Daerah Pemilihan IV Jawa Barat ini, keterbatasan

gerbong menjadi pemicu berjubelnya penumpang di KRL ekonomi, sehingga peristiwa pelecehan seks sulit diantisipasi. "Memang keterbatasan gerbong satu problem tersendiri. Ke depan PT KAI mau tidak mau harus mengandeng pihak swasta untuk meningkatkan mutu pelayanan. Selama belum ada, akan terus menjadi beban APBN," terangnya. Megenai gerbong khusus wanita, Yudi mengatakan perlu ada hitungan-hitungan bisnis juga. Sebab, penyediaan gerbong membutuhkan investasi yang tidak sedikit, sementara di sisi lain PT KAI masih dihadapkan pada terbatasnya anggaran. Kendati demikian, tetap harus diakomodasi terhadap kepentingan dan keluhan kaum Hawa ini. "Minimal yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah meningkatkan pengawasan keamanan. Selain itu, PT KAI mempermudah dan memperbanyak saluran pengaduan dan keluhan masyarakat terhadap layanan KRL," saran Yudi. Lebih jauh legislator PKS ini menjabarkan perlunya grand design menyeluruh dari sistem transpotrasi nasional tidak hanya kereta api. "Paling tidak ada semacam gerakan mempercepat lahirnya regulasi yang ramah terhadap investasi di bidang transportasi," ujarnya. Yudi memaparkan untuk meningkatkan mutu layanan dibutuhkan investasi yang tidak sedikit untuk penambahan gerbong baru dan mengganti KRL lama yang kondisinya sudah tua. Dengan penambahan gerbong khususnya di kelas ekonomi, setidaknya dapat menekan kasus pelecehan seks karena penumpang terhindar dari berdempetan. Dia menambahkan sarana kereta bila dioptimalkan lebih jauh sebenarnya mampu memgurangi tingkat kemacetan di jalan raya yang kondisinya kini semakin memprihatinkan. "Misalnya, PT KAI dapat menarik keuntungan dengan memindahkan angkutan kargo dari jalan raya. Ini tentunya butuh regulasi yang jelas juga. Artinya, ke depan perlu dibangun iklim yang dapat mengembangkan perkeretaapian di Indonesia sebagai salah satu transportasi unggulan," imbuhnya.
(ram)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->