Anda di halaman 1dari 13

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (1)

Dari Ngintip Dada hingga Menggesek


Alat Kelamin
Senin, 17 Mei 2010 - 10:19 wib

Hen Hen - Okezone

Penumpang KRL (Foto: Ist)

JAKARTA - Pelecehan seksual bisa terjadi di mana pun dan kapan pun, tidak
mengenal waktu dan tempat, juga status sosial. Asal ada kesempatan dan niat
dari si pelaku, maka terjadilan kejahatan yang umumnya kaum Hawa sebaga
objeknya.

Pelecehan seksual merupakan dua kata yang tak asing lagi di telinga kita. Saban
hari tersiar dalam berita di media massa, atau secera langsung dan tidak
langsung menyaksikan tindakan yang berhubungan dengan organ intim dari
manusia ini.

Terkadang praktik pelecehan seks ini menjadi kabur batasannya, sebab terjadi
karena kondisi yang mau tidak mau antara lawan jenis terjadi kontak fisik tanpa
disengaja dan disadari. Atau boleh jadi untuk sebagian kasus memang ada pihak-
pihak yang sengaja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Kasus pelecehan seks yang kerap mejadi perdebatan tanpa ujung ini, sebenarnya
bermula dari masih buruknya fasilitas dan layanan transportasi massal, terutama
kereta api dan bus yang menjadi moda andalan masyarakat perkotaan. Salah
satunya KRL Jabodetabek.

Sekedar menangkap adanya praktik pelecehan sekssual yang sebenarnya sudah


lama terjadi ini, okezone mencoba menyusuri dari naik turunnya penumpang
KRL. Sengaja dipilih KRL Ekonomi jurusan Kota-Bogor yang paling padat, bahkan
super padat penumpangnya. Sebab pada jam-jam berangkat atau pulang kantor,
penumpangnya bukan hanya berjubel di dalam kereta melainkan meluber ke kiri-
kanan pintu hingga atap kereta.

Ketika itu, okezone memulai perjalanan sekira pukul 16.00 WIB dari arah Stasiun
Kota menju Bogor. Sejak awal berangkat, KRL sudah penuh dengan
penumpangnya. Saat berhenti di Stasiun Sawah Besar, segerembolan orang
masuk berebutan dengan penumpang lainnya. Susana dalam gerbong kereta
kelas bawah ini sudah ramai.

Dari dalam gerbong yang mengharuskan para penumpang baik pria wanita saling
berhimpitan ini, okezone mengamati gerak-gerik dari pengguna tranportasi
murah tersebut. Entah sengaja atau tidak, seorang laki-laki terlihat menyentuh
pantat (maaf) wanita ketika hendak masuk ke dalam kereta. Lantaran berjubel,
memang tidak terlalu jelas tetapi wanita itu berpakaian seperti karyawan
kantoran.

Sesaat kemudian, tidak terlihat aksi dari tangan-tangan jahil yang memanfaatkan
situasi. Justru tertangkap aksi copet yang bekerja secara komplotan. Baru ketika
KRL berhenti di Stasiun Manggarai, terlihat pria paruh baya yang berpakaian kaos
ketiduran sehingga tak pelak menempel di bokong siswi SMA. Namun pelajar ini
sepertinya tidak merasakan apa pun sehingga tak bereaksi karena mengangap
hal itu biasa saat kereta penuh sesak penumpang yang umumnya terpaksa
berdiri.

Pemandangan lainnya, seorang pemuda seperti pengamen karena membawa


gitar, berdiri tepat di belakang wanita kantoran. Ketika diperhatikan, seperti
sedang menggesek-gesekkan alat kelamin ke pantat wanita itu. Lagi-lagi, wanita
itu tidak sadar cuma sesekali menengok ke arah belakang.

Kereta pun kembali berhenti di Stasiun Tebet, okezone sempat menangkap


seorang pria yang berpakaian cukup rapih sengaja mendorongkan badannya ke
arah bokong pelajar SMA, saat turun dari KRL.

Peristiwa serupa terjadi ketika kereta kembali meneruskan perjalanannya menuju


Stasiun Cawang. Kali ini aksi seorang bapak-bapak bertopi merah tepat berdiri di
hadapan dua penumpang wanita. Pria cabul yang satu ini memanfaatkan kondisi
penumpang yang berdempet-dempetan skadar melepas syahwatnya. Tanpa ragu,
dia lantas menggesek-gesekan alat kelaminnya ke arah dua wanita ini secara
bergantian.
Pemandangan lainnya, mungkin paling banyak terjadi di mana wanita yang
berpakaian minim, ketat atau sedikit terbuka pada bagian -bagian sensitif tak
pelak menjadi "rezeki" bagi kaum Adam. Wanita ini menjadi risih karena menjadi
objek pandangan dari pria hidung belang. Pasalnya, seorang pria dengan tatapan
tajam memperhatikan belahan dadanya yang terlihat dari balik baju kaos yang
agak melorot.

Dari beberapa ilustrasi kejadian di atas, umumnya korban di atas KRL tidak
menyadari jika dirinya menjadi objek pelecehan seksual. Meski sebagian
menyadari ada tindakan yang tidak etis, terpaksa pasrah dengan kondisi kereta
yang menjadikan lawan jenis bukan muhrim ini harus berdempet-dempetan
seperti ikan pindang dalam wajan.

(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (2)

Oh, Wanita Itu Terpaksa "Diam"


Digerayangi
Senin, 17 Mei 2010 - 12:06 wib

Hen Hen - Okezone

Penupang KRL (Ist)

JAKARTA - Pelecehan seksual yang terjadi di atas KRL seakan menjadi bagian
dari pemandangan biasa sehari-hari dari padatanya aktivitas warga kota besar,
pengguna transportasi massal tersebut.

Umumnya, mereka yang menjadi korban pelecehan seks tidak bisa berbuat
banyak. Hanya pasrah dengan keadaan, meski perlakuan yang sama setiap saat
terus mengancam. KLR Ekonomi merupakan moda favorit bagi kelas menengah
ke bawah, lantaran tiket murah dan
cepat meski aspek keamanan, kenyamanan dan keselamatan terbaikan.

Menurut Nurdin, pengguna KRL Ekonomi jurusan Kota-Bogor yang juga mengais
rezeki dengan berjualan koran, pelecehan seksual di kereta sudah biasa terjadi.

"Memang benar bang, kalau di KRL banyak pelecehan seks. Rata-rata pada
nongolin anunya dan korbannya nggak sadar. Kalau ada yang sadar juga nggak
berani gapa-ngapain," tuturnya kepada okezone.

Sayangnya, kata Nudin, sampai saat ini tidak ada dari penumpang KRL yang
menjadi korban pelecehan seksual melaporkan peristiwa tidak senonoh yang
menimpanya. Wanita yang menjadi korban pelecehan seksual terpaksa diam
karena malu.

"Kalau pun ada yang ngelapor, nggak ditanggepin. Sedangkan di sini sekuritinya
juga banyak yang begitu (tangan usil)," ungkap Noodin.

Pedagang koran yang sudah beberapa tahun hidup di kereta ini memaparkan
sejumlah jalur kereta yang kerap terjadi kasus pelecehan seks. Semuanya
merupakan jalur kereta yang padat penumpang.

"Kalau mau pelajarin, naik kereta jurusan Rangkasbitung, Patas Purwakarta,


Serayu (jurusan
Bandung). Kalau Jakarta, KRL Bogor- Tebet-Manggarai, Depok," bebernya.

Menurut Nurdin, tidak hanya orang yang kebetulan memanfaatkan padatnya


penumpang dengan membiarkan tangan dan mata jahilnya berbuat cabul. Namun
ada juga penumpang yang sengaja mencari sasaran eksploitasi seksualnya
dengan mondar-mandir naik kereta saat sesak penumpang, yakni jam berangkat
dan pulang kantor atau pagi dan sore menjelang malam.

"Ada orang-orang yang memang sengaja naik kereta hanya untuk itu doang
(cabul)," ungkap Nurdin yang menyebutkan marakanya pelecehan seksual di atas
KRL mulai tahun 1996 ketika banyak warga yang bekerja di kota-kota besar
seperti Jakarta dan sekitarnya.

Sementara itu, Yani, seorang karyawan swasta di Jakarta dan tinggal di Depok
mengaku sempat menjadi korban pelecehan seksual saat menumpang KRL
Ekonomi. "Saya terpaksa naik KRK Ekonomi dari Depok karena terlambat,"
ujarnya yang biasa naik KRL Patas AC dari
Statsiun Depok Baru.

Penumpang KRL Ekonomi Depok-Kota sejak awal berangkat dari Stasiun Depok
Lama sudah penuh penumpang karena jam berangkat kantor. "Tas saya sempat
ada yang narik-narik, malahan ada tangan yang megang-megang pinggang dan
paha," tutur Yani mengenai pengalaman pahitnya.

Bahkan, ungkap dia, temannya sempat menerima perlakuan tak sonoh dari
penumpang KRL, gara-gara berdesak-desak dalam gerbong kereta yang
sebenarnya sudah tidak manusiawi lagi saking padatnya. "Ada penumpang cowok
kayaknya lagi mabuk dan sentuh bagian dadanya. Dia sempet marah dan
membentak pelaku," cerita Yani yang mengaku kapok naik KRL Ekonomi.

Hal senada dikemukakan Andini, seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi


ternama. Menurut dia, banyak tangan usil di atas kereta. Namun sampai saat ini,
Andini bersyukur belum mengalami hal yang tidak menyenangkan tersebut.

"Untungnya sih belum, jangan sampai deh. Tapi kalau denger dari temen sih
pernah mas, kayak dicolek-colek gituh," cerita dia.

Andini punya kiat sendiri sehingga bagian tubuh sensitifnya luput dari jamahan
tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. "Intinya sih kita harus bisa jaga
diri. Jangan sampai kita dilecehin dan diem aja. Teriak kek, atau kita omelin aja
kalau liat orangnya," tandas Andini seraya mengimbau PT KAI agar memperketat
penjagaan dan pengawasan di dalam kereta.

Tambah dia, PT KAI juga harus peduli dengan kondisi kereta yang over kapasitas
dan menertibkan pedagang, pengamen, serta pengemis. "Kalau bisa sih jumlah
penumpang dibatasi biar aman dan nyaman. Masalahnya kadang-kadang
pengamen dan pedagang juga suka reseh.
Tapi kalau saya liat di Semarang, stasiunnya sudah agak rapih dan teratur. Ya,
seharusnya di Jakarta bisa juga kayak gitu," harapnya.

(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (3)

Dianggap Wajar Pelaku Pun Leluasa


Beraksi
Senin, 17 Mei 2010 - 14:24 wib

Hen Hen - Okezone


Penumpang KRL (Foto: Ist)

JAKARTA - Pelecehan seksual di sarana transportasi massal terutama kereta dan


bus ibarat fenomena gunung es yang tak pernah selesai.

Muncul ke permukaan hanya sebagian kecil yang akhirya dimaklumi sebagai


peristiwa lumrah, menjadi pemandangan biasa sehari-hari di antara riuhnya
kehidupan kota besar. Pihak PT KAI sebagai pengelola angkutan kereta api dan
KRL menyatakan tidak pernah mendapat keluhan dan pengaduan akan maraknya
pelecehan seksual di atas KRL.

PT KAI berdalih selama ini nyaris tidak ada pihak yang melapor karena menjadi
korban tindakan cabul tersebut. "Saya nggak pernah dengar (kasus pelecehan
seks), laporan dari sekuriti juga nggak ada. Belum pernah dengar sama sekali,"
kata Kepala Stasiun Kota Edy Kuswoyo saat dimintai okezone konfirmasinya.

Menurut dia, kejahatan seperti itu bisa terjadi karena sikap dari penumpangnya
itu sendiri. Berpenampilan menarik perhatian, seperti berpakaian ketat atau
transparan. "Bagaimana pintar-pintar memposisikan diri? Cuma kan karena
ribuan penumpang, bagaimana ngaturnya? Susah karena sekuriti lapornya juga
cuma kriminal. Kalau pelecehan seperti pegang-pegang itu nggak ada
laporannya," ungkap Edy.

Dia mengira kemungkinan korban malu untuk melapor, selain itu sulit untuk
membuktikannya. "Korbannya malu sehingga tidak melapor. Seandainya
dilaporkan juga harus ada barang buktinya, jadi sulit," jelasnya.

Hal senada dikemukakan Santoso, dari satuan Polisi Khusus Kereta Api. Untuk
membuktikan adanya pelecehan seksual terhadap penumpang perempuan sulit
dilakukan. "Kalau masalah seperti itu untuk membuktikannya susah. Biasanya
jadwal kereta kan suka terlambat, jadi
penumpang ada yang duduk dan ada yang berdiri, akhirnya dari situ bisa terjadi
pelecehan seksual. Itu juga sebenarnya terjadi spontan karena ada kesempatan
dan di depannya ada wanita," beber Santoso.
Dia mengakui selama ini tidak ada data tentang kasus pelecehan seksual yang
terjadi di KRL. "Mungkin dianggapnya sudah biasa atau apalah, malu juga bisa.
Kemungkinan-kemungkinan seperti itu yang membuat korban tidak mau melapor.
Lantaran tidak ada yang melapor jadi nggak ada data sehingga tidak ada yang di
tangkap," terang Santoso.

Kasus pelecehan seks, kata dia, biasanya terjadi pada KRL yang penuh
penumpang, seperti KRL jurusan Jakarta-Bogor, terutama kelas ekonomi. "Tapi
kalau di kereta-kereta yang kosong ya nggak ada," imbunya.

Sejauh ini Polsuska berusaha semaksimal mungkin mengantisipasi hal-hal yang


tidak diinginkan. "Kalau ada laporan ya kita tindak. Nah, ini sama sekali belum
ada laporan. Itu perlu kerja sama antara korban dan aparat. Kalau nggak ada
yang melapor kita juga susah
kerjanya," aku Santoso.

Saat disinggung soal pengamanan dan pengawasan di dalam KRL, Santoso


mengatakan persoalannya cukup pelik. "Kita keliling terus, tapi nggak pernah
menemukan kejadian gitu. Kan terjadi di belakang petugas, nggak terang-
terangan. Di dalam gerbong pun kita patroli cuma memang padat penumpang
jadi agak sulit," jelas dia.

(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (4)

Pelecehan Seks di Kereta Sulit


Dihilangkan
Senin, 17 Mei 2010 - 15:16 wib

Ulan Pebriyanah - Okezone

KRL Jabodetabek (Ist)

JAKARTA - Kasus pelecehan seksual di atas kereta atau KRL menjadi satu
keprihatinan tersendiri. Masalah ini bisa dikatakan luput dari perhatian dan nyaris
tak tersentuh.

Hanya dianggap pengalaman pahit yang begitu saja berlalu dan dilupakan.
Sebatas buah pembicaraan di antara para pengguna jasa di sela menunggu KRL
yang mengantarkannya saban hari saat berangkat dan pulang beraktivitas di
kota.

Padahal, setiap saat korban terus berjatuhan. Tak ayal, korban-korban


selanjutnya pun di posisikan dalam ancaman tangan-tangan jahil yang
menggerayangi. Mengenai masalah ini, Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat
Komnas Perempuan, Ratna Fitriani mengaku sulit untuk memberantas kejahatan
terhadap perempuan di atas kereta ini.

"Kalau untuk menghapuskan sama sekali sepertinya tidak akan bisa. Kita harus
lebih banyak melakukan pencegahan-pencehan dengan tidak memakai pakaian
yang terlalu minim, atau berdandan tidak berlebihan. Menurut saya, itu juga akan
mencegah," paparnya kepada okezone.

Selain itu, Komnas Perempuan juga terus memberikan pemahaman kepada


masyarakat, terkait kasus kejahatan yang sering terjadi di atas kereta.
"Pelecehan seksual atau kejahatan semacam itu adalah tindak kriminal dan diatur
dalam undang-undang," papar Ranta.

Pemahaman masyarakat yang menganggap pelecehan bukan suatu tindakan


kekerasan justru harus segera diubah. "Kita (perempuan) sebenarnya tidak ingin
hal ini terjadi. Tapi terkadang kita juga kalau melapor malah jadi repot sendiri
bahkan ujungnya yang dipersalahkan," tuturya.

Kata Ratna, tidak hanya wanita yang berpakaian terbuka dan sedikit mengundang
libido pria yang dilecehkan. Bahkan mereka yang berbaju sopan pun seperti
pakian kantor dan berkerudung tak luput dari sasaran.

Alumni Univesitas Indonesia ini menuturkan pelecehan seksual di kereta


sebenarnya kasus lama yang seolah-olah penanganannya sangat lamban dari
pihak terkait. "PT KAI juga harus memperbaiki kinerja dan memperhatikan apa
saja keluhan masyarakat," desak dia.

Apabila tidak segera ditangani, ungkap aktivis perempuan ini, bisa jadi
masyarakat akan meninggalkan kereta. "Tapi menurut saya sangat sulit
mengingat kereta adalah sarana transportasi yang murah dan banyak dipakai
oleh masyarakat," jelas Ratna.

Sebab itu, dia menyarankan PT KAI perlu menambah gerbong pada jalur-jalur
padat sehingga penumpang tidak berjubel. "PT KAI harus memberikan pelayanan
yang lebih dengan ditambahkannya jadwal kereta terutama pada jam-jam pergi
dan pulang kantor," tandas dia.

Sementara itu, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)


Tulus Abadi mengatakan, perlu ada penanganan lebih lanjut dari tindak kejahatan
yang terjadi di atas kereta api.

"Ya kalau dari YLKI sudah mengetahui permasalahannya dari dulu. Tapi kalau ada
laporan dari masyarakat kami akan tindak lanjuti. Menurut kami harus ada
perbaikan dari PT KAI-nya dulu dimulai dengan mengcek gerbong-gerbong yang
masih layak atau tidak," paparnya.

Dari kajian YLKI, masih banyak warga Ibu Kota yang memanfaatkan sarana
kereta sebagai angkutan umum, meski kondisinya sudah tidak nyaman dan
aman. Tulus juga mengatakan, pelecehan seksual di atas KRL mencerminkan
tidak berjalan kinerja dari PT KAI.

"PT KAI membiarkan masyarakat berdesak-desakan saat masuk yang di dalam


gerbong pun sudah membludak. Ini juga mencerminkan situasi di mana penegak
hukum sudah tidak berjalan dengan baik. Karena bukan tidak mungkin banyak
masyarakat yang mengadu namun tidak didengar," ungkap Tulus.

Lebih lanjut dia memaparkan, sebenarnya bukan hanya kejahatan pelecehan


seksual yang terjadi di dalam kereta api. Banyak tindakan kriminal yang tidak
terekspos oleh masyarakat. "Dari penjambretan hingga pasangan selingkuh,"
imbuhnya yang menyarankan korban pelecehan seksual harus melapor sekaligus
untuk menguji ketegasan aparat penengak hukum, sedangkan untuk pihak PT
KAI perlu menambah gerbong agar penumpang tidak berdesakan.

(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (5)

Gerbong Khusus Wanita Pernah Disediakan PT KAI

Senin, 17 Mei 2010 - 16:03 wib

Ulan Pebriyanah - Okezone


Penumpang wanita terjepit (Ist)

<

JAKARTA - PT KAI sebenarnya pernah meluncurkan gerbong khusus penumpang


perempuan untuk mencegah kejahatan seperti pelecehan seksual. Namun
implementasi gerbong bagi kaum hawa yang dimaksudkan agar tidak ada
pencampuran dengan penumpang pria ternyata tidak
efektif.

Menurut Wakil Kepala Stasiun Manggarai Dwi purwanto, gerbong khusus


perempuan ini sempat dioperasikan oleh Pihak PT KAI beberapa tahun yang lalu.
Namun saat ini sudah tidak diberlakukan lagi, karena beberapa kendala teknis.
"Memang ada, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah lama, kalau tidak salah
hampir beberapa tahun," ungkapnya kepada okezone.

Dwi menjelaskan, salah satu kendalanya ketika penumpang datang bersama


sejumlah anggota
keluarganya. "Kalau satu keluarga itu yang naik kan ada yang cowonya, jadi
nggak mungkin mereka mau dipisah. Juga ada yang barengan sama temannya,
mana mau mereka dipisahkan gerbongnya," ujar Dwi.

Padahal, kata dia, awal digagas gerbong khusus perempuan ini untuk
menghindari tindakan yang tidak diinginkan terhadap penumpang perempuan,
seperti pelecehan seks. Meski sudah disosialisasikan baik secara lisan maupun
tulisan, penumpang tetap susah diatur.

Pada akhirnya, gerbong khusus ini tetap saja bercampur karena penumpang tidak
mengindahkan pemberitahuan tersebut. "Karena orang kan kalau naik kereta yah
naik aja, nggak merhatiin tulisan-tulisan yang sudah kita tempel bahwa itu
khusus untuk penumpang wanita," imbuh Dwi.

Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan Ratna Fitriani


mengatakan, wacana pengadaan gerbong khusus perempuan dinilai langkah yang
tidak efektif mencegah pelecehan seksual. "Saya pikir itu tidak efektif. Bagaimana
dengan para perempuan yang
pergi bersama keluarganya, masa harus dipisahkan?"

Gerbong khusus untuk wanita, dulu sempat ada tapi tidak efektif. Justru
penumpangnya harus
berdesak-desakan karena hanya tersedia satu gerbong dalam satu rangkaian
kereta. Kendati demikian, ide gerbong khusus wanita ini perlu diakomodasi oleh
PT KAI dengan melakukan evaluasi dari kelemahan sebelumnya.

"Di sini lain adalah bagaimana cara meningkatkan pemahaman dari masyarakat
untuk saling menghormati satu sama lain. Kereta juga harus punya daya
tampung yang memadai sehingga penumpang tidak berjubel," ujar Ratna.

Menurut Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus


Abadi menjelaskan, wacana untuk mengkhususkan gerbong khusus perempuan
memang sudah ada. "Bahkan sekarang pun masih ada, tapi tulisannya saja.
Karena kalau nggak salah itu cuma berjalan beberapa hari setelah itu kembali ke
posisi awal," ujarnya.

Keberadaan gerbong khusus ini dinilai tidak efektif untuk mencegah tindakan
pelecehan seksual. "Menurut saya sangat tidak efektif untuk memisahkan
gerbong perempuan dengan lainnya," kata Tulus. Jauh lebih baik, kata dia, PT
KAI memperbaiki fasilitas dan layanan.

"Ya diperbaiki saja deh segala sesuatunya. Banyak keluhan dari masyarakat
seperti toiletnya nggak bersih, lampunya mati. Kayaknya masih banyak PR buat
PT KAI untuk memperbaiki sarana dan prasarana kereta api," saran YLKI.

(ram)

Jejak-Jejak Tangan Jahil di KRL (6)

Perbaikan Sarana Cegah Pelecehan Seks


di Kereta
Senin, 17 Mei 2010 - 18:12 wib

Dadan Muhammad Ramdan - Okezone


Penumpang KRL (Foto: Ist)

JAKARTA - Sarana transportasi kereta api menyumbang kontribusi yang tidak


kecil dalam menyokong aktivitas masyarakat.

Kereta api menjadi salah satu moda andalan bagi masyarakat khususnya yang
berada di wilayah, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)
karena petimbangan tiket murah dan bebas macet.

Namun sayangnya, kereta api atau KRL komuter Jabodetabek belum tergarap
maksimal dalam layanannya, sehingga aspek keamanan dan kenyamanan masih
bermasalah di sana-sini.

Padahal KRL ini menjadi moda favorit masyarakat menengah kebawah di


Jabodetabek. Data PT KAI menunjukkan setiap tahunnya pengguna KRL Jakarta
dan sekitarnya terus mengalami peningkatan.

Misalnya pada 2004, penumpang Jabodetabek sebanyak 100.403.936 orang,


sedangkan pada 2005 sebanyak 100.960.700 orang dan 2006 104.424.720
orang. Jumlah penumpang terus melonjak sampai pada 2009 dan 2010. Bahkan
PT KA Divisi Jabodetabek berani menargetkan peningkatan jumlah penumpang
mencapai tiga juta per hari pada 2014.

Selain masalah klise yakni keterlambatan jadwal pemberangkatan, KRL terutama


ekonomi menjadi ladang pelecehan seksual bagi penumpang perempuan. Hal ini
akibat bercampur dan berdesak-desakannya penumpang wanita dengan pria.

Anggota Komisi Transortasi di DPR Yudi Widiana Adia membenarkan masih


banyaknya kasus pelecehan seks di atas KRL, dan tindak kriminal lainnya.
Menurut anggota DPR dari Daerah Pemilihan IV Jawa Barat ini, keterbatasan
gerbong menjadi pemicu berjubelnya penumpang di KRL ekonomi, sehingga
peristiwa pelecehan seks sulit diantisipasi.

"Memang keterbatasan gerbong satu problem tersendiri. Ke depan PT KAI mau


tidak mau harus mengandeng pihak swasta untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Selama belum ada, akan terus menjadi beban APBN," terangnya.

Megenai gerbong khusus wanita, Yudi mengatakan perlu ada hitungan-hitungan


bisnis juga. Sebab, penyediaan gerbong membutuhkan investasi yang tidak
sedikit, sementara di sisi lain PT KAI masih dihadapkan pada terbatasnya
anggaran. Kendati demikian, tetap harus diakomodasi terhadap kepentingan dan
keluhan kaum Hawa ini.

"Minimal yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah meningkatkan pengawasan
keamanan. Selain itu, PT KAI mempermudah dan memperbanyak saluran
pengaduan dan keluhan masyarakat terhadap layanan KRL," saran Yudi.

Lebih jauh legislator PKS ini menjabarkan perlunya grand design menyeluruh dari
sistem transpotrasi nasional tidak hanya kereta api. "Paling tidak ada semacam
gerakan mempercepat lahirnya regulasi yang ramah terhadap investasi di bidang
transportasi," ujarnya.

Yudi memaparkan untuk meningkatkan mutu layanan dibutuhkan investasi yang


tidak sedikit untuk penambahan gerbong baru dan mengganti KRL lama yang
kondisinya sudah tua. Dengan penambahan gerbong khususnya di kelas ekonomi,
setidaknya dapat menekan kasus pelecehan seks karena penumpang terhindar
dari berdempetan.

Dia menambahkan sarana kereta bila dioptimalkan lebih jauh sebenarnya mampu
memgurangi tingkat kemacetan di jalan raya yang kondisinya kini semakin
memprihatinkan. "Misalnya, PT KAI dapat menarik keuntungan dengan
memindahkan angkutan kargo dari jalan raya. Ini tentunya butuh regulasi yang
jelas juga. Artinya, ke depan perlu dibangun iklim yang dapat mengembangkan
perkeretaapian di Indonesia sebagai salah satu transportasi unggulan,"
imbuhnya.

(ram)